Anda di halaman 1dari 3
EKONOMI Hutan merupakan ciptaan Tuhan yang tiada nilainya. Setiap ciptaan Tuhan pasti ada manfaatnya, terutama manfaat bagi kehidupan. Baik itu manfaat bagi manusia maupun manfaat bagi zat hidup lainnya sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Selain bermanfaat bagi kehidupan, hutan juga mempunyai fungsi pokok yaitu sosio - ekonomi, hidro - orologi dan estetika. Fungsi sosio - ekonomi menempatkan hutan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan jalan memanfaatkan hutan dengan sebaik-baiknya. Pemanfaatan hutan dengan menggunakan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku menjadikan hutan akan lebih lestari (sustainable) dan akan bermanfaat bagi kepentingan generasi yang akan dating. Fungsi hidro – orologi menempatkan hutan sebagai tonggak dan penopang pengaturan tata air dan perlindungan tanah, yang pada prinsipnya merupakan bagian yang terpenting dan tidak dapat dipisahkan bagi kehidupan. Fungsi estetika menempatkan hutan sebagai pelindung alam dan lingkungan dan menjadikan hutan sebagai paru-paru dunia. Namun demikian dalam era globalisasi sekarang ini, kecenderungan masyarakat untuk memanfaatkan hutan, lebih dititik beratkan pada kepentingan sosio – ekonomi dengan mengabaikan fungsi hidro – orologi maupun fungsi estetika. Pemanfaatan hutan yang cenderung lebih dititik beratkan pada kepentingan sosio - ekonomi telah banyak memberikan dampak yang negatif bagi fungsi hutan itu sendiri maupun bagi kehidupan. Penebangan – penebangan yang dilakukan tanpa menggunakan kaidah – kaidah dan norma – norma yang berlaku, yang sering disebut sebagai penebangan liar atau illegal - logging, menjadikan hutan kehilangan fungsi pokoknya. Akibat lebih lanjut dari hilangnya fungsi hutan ini adalah banyak terjadi banjir, tanah longsor, turunnya mutu tanah, perambahan hutan yang berakibat PengaruhnyaTerhadapDuniaIndustri Harga barang yang tercipta di pasar tidak akan terlepas dari komponen biaya angkut dan distribusi. Dalam pendistribusian tersebut arus distribusi barang justru lebih banyak yang menggunakan kendaraan yang bahan bakarnya adalah solar. Dalam hal ini dunia usaha juga tidak akan serta merta menurunkan harga produknya. Ada margin keuntungan dunia usaha yang sebelumnya hilang ketika pemerintah menaikkan harga BBM di Bulan Mei lalu. Sehingga pada saat BBM itu diturunkan, kalangan dunia usaha lebih dulu akan berusaha mengembalikan margin keuntungan sebelum menurunkan harga produknya. Yang jelas, industri baru akan merasakan pengaruh penurunannya ketika solar diturunkan hingga 30 persen. Sebagai contoh untuk kasus penurunan premium, dengan besaran yang tidak terlalu signifikan, pengusaha angkutan pun enggan menurunkan tarif. Nelayan, pelaku bisnis sektor usaha kecil dan menengah (UKM), pengusaha angkutan umum, adalah kelompok masyarakat yang menagih janji pemerintah untuk selalu menyesuaikan harga BBM domestik dengan harga jual minyak mentah dunia. Pemerintah harus jeli memanfaatkan momen turunnya harga minyak dunia untuk bisa menggerakkan sektor riil, meningkatkan daya beli masyarakat, dan memperkuat daya saing produk kita di pasaran internasional. Saat ini tiga hal itulah yang begitu terancam oleh krisis global. Berbicara mengenai menggerakkan sektor riil, memulihkan daya beli, dan memperkuat daya saing produk kita, maka penurunan harga solar jauh lebih berdampak kongkret daripada penurunan harga premium. Meski saat ini keduanya masih belum mencapai tingkat keekonomian, tetapi kita yakin pemerintah dapat melihat arti strategis solar dibanding premium sehingga dalam waktu tidak terlalu lama, harga solar akan segera dikoreksi. Baik solar untuk angkutan umum, maupun solar industri. Bagaimanapun juga penurunan harga premium mengikuti turunnya harga mintak mentah merupakan langkah positif, walaupun pemberlakuannya terlalu lama. Hanya saja sekali lagi angka penurunan ini harus dihitung kembali hingga pada angka yang tepat, karena adanya kenyataan harga minyak dunia makin turun. Penurunan yang signifikan juga harus dilakukan terhadap harga solar. Diharapkan daya beli masyarakat akan naik dan pada gilirannya meningkatkan sektor riil. Karena solar lebih bermanfaat dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat pengguna angkutan umum, dan para nelayan. Dampak indusri minyak kayu putih terhadap kehidupan social Apa yang biasu diburu di pulau buru? Pulau yang identik sebagai tempat pembunagan tahanan politik pemerintahan Soeharto itu, menyisakan banyak hal yang biasa dieksplorasi. Kekhasan pulau buru adalah produksi minyak kayu putih tradisionalnya. Tentang minyak kayu putih ini, bisa menjadi sebuah tujuan wisata pedesaan yang sangat menarik. Daun kayu putih disuling secara tradisional menjadi kayu putih banyak dikerjakan oleh warga Kabupaten Buru. Rata-rata setiap ketel (tungku) penyulingan, dikelola oleh dua atau tiga keluarga secara bergiliran dengan sisti bagi hasil. Tradisi pengolahan itu tetap dilakukan secara turun temurun dan minyak kayu putih menjadi komiditas andalan. Tradisi yang sudah turun temurun selama ratusan tahun tersebut, ternyata tidak hanya menggambarkan sebuah teknologi statis sederhana untuk mendapatkan minyak kayu putih tetapi juga menggambarkan hubungan dalam ”sebuah keluarga” Menurut Laweci (50) seorang penyulingan, dua tungku bersama ketel dan tempat pengeluaran minyak hasil suling, mempunyai arti sendiri yang belakangan di lupakan sebagaian besar produsen minyak kayu putih. ”Membuat minyak kayu putih ini tidak hanya menyuling tetapi mempunyai arti kehidupan. Kalau dalam rumah tangga ada bapak ibu dan anak, demikian juga dengan sepasang tungku dan tangki penyulingan tersebut. Ketika kami masih kecil proses penyulingan ini tidak bisa dilihat secara bebas” tutur Laweci. Hal itu karena proses penyulingan itu, bisa diibaratkan sebagai proses tungku dan ketel penyulingan hubungan dipinggiran kota Namlea dengan suami-istri teta onal. Hingga kita, Lwaeci dan beberapa temannya secara bergelirian mengunakan sebuah Hanya saja belakangan, minyak kayu putih diproduksi secara masal dengan menjalankan teknologi industri terkini. Ini pula yang menyebabkan beberapa produk minyak kayu putih mempunyai kwalitas yang berbeda. Kendati demikian, orang buru memiliki cara sendiri menakar kadar kmurnian minyak kayu putih. Ada yang mengocok botolnya dan melihat hasil busanya, ada yang membuka dan memasang matanya tepat dimulut botol untuk mengetahui tingkat kepedasannya. Ini juga bisa dilakukan dengan melihat tingkat kepedasan dari jenis ketel penyulingan yang digunakan untuk menghasilkan minyakh