Anda di halaman 1dari 53

Page 1

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring bertambahnya waktu, perkembangan penduduk di muka bumi
ini akan mengalami perkembangan. Perkembangan penduduk yang sangat
pesat mengakibatkan kebutuhan air bersih juga turut meningkat. Selain
jumlah penduduk yang tinggi, ada faktor lain yang ikut mempengaruhi
kebutuhan air naik, yaitu :
 Taraf Hidup
Dengan makin tingginya taraf hidup, kebutuhan air bersih juga
semakin tinggi. Karena air bersih bukan hanya digunakan sebagai air
minum, tetapi juga untuk kebutuhan lainnya seperti mencuci,
memasak, dll.
 Kondisi Iklim
Di Indonesia, kebutuhan air minum akan berbeda pada saat musim
kemarau dan musim penghujan. Pada musim penghujan, pemakaian air
besih relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan pada musim
kemarau.
 Kebiasaan Hidup
Beragamnya kebiasaan hidup yang diikuti oleh perkembangan alat
plambing baru turut mempengaruhi jumlah beban air bersih pada tiap
unitnya.
 Pertumbuhan Industri
Dunia industri juga banyak menggunakan air bersih baik untuk
kebutuhan pekerja maupun dalam proses produksinya

Air di bumi ini memiliki jumlah yang tetap dan bergerak membentuk
suatu siklus yang disebut dengan siklus hidrologi. Walaupun jumlahnya tetap
tetapi terjadi permasalahan yaitu tidak meratanya sumber air atau letak air
tersebut sehingga di satu sisi sebuah daerah mengalami surplus air tetapi
daerah lainnya mengalami kekurangan air. Di samping tidak meratanya
persediaan air, juga timbul permasalahan lain yaitu menurunnya kualitas air

Page 2

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
yang ada. Penurunan kualitas ini disebabkan oleh berbagai hal baik itu dari
ulah manusia maupun dari alam itu sendiri. Adanya perubahan kualitas ini
mengakibatkan terjadinya perubahan peruntukan atau fungsi dari air tersebut
misalnya untuk air minum atau digunakan untuk pertanian.
Sumber air di dunia ini dapat berasal dari air permukaan maupun air
tanah. Contoh dari air permukaan antara lain danau, waduk, sungai dan
sebagainya. Sedangkan sumber air yang berasal dari air tanah dapat berasal
dari air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Dari sumber – sumber air
tersebut, masing – masing memiliki ciri – ciri tersendiri yang merupakan ciri
khas dari air tersebut. Seperti air tanah memiliki kandungan Fe dan Mn yang
tinggi, air permukaan memiliki kekeruhan yang tinggi sedangkan air pada lahan
gambut memiliki kadar asam yang tinggi.
Supaya air tersebut dapat digunakan untuk air minum atau sebagai air
bersih, maka harus dilakukan suatu upaya pengolahan. Pengolahan air
merupakan suatu upaya untuk menghilangkan polutan atau pencemar yang ada
di air sehingga air tersebut sesuai dengan baku mutu air untuk air minum. Pada
pengolahan air, metode yang digunakan berbeda – beda sesuai dengan jenis
pencemar yang ada di air tersebut.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari tugas perencanaan bangunan pengolahan air minum
ini adalah :
a. Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami proses pengolahan air
baku dari air sungai menjadi air yang layak untuk diminum
b. Mahasiswa dapat mengerti aspek – aspek yang harus diperhatikan dalam
mendesain bangunan pengolahan air minum dan dapat mendesain suatu
bangunan pengolahan sesuai kualitas air baku yang ada.
c. Sebagai syarat dari kelulusan mata kuliah perencanaan bangunan
pengolahan air minum.

1.3 Ruang Lingkup
Dalam tugas ini, ruang lingkup yang akan dibahas meliputi :

Page 3

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
a. Pendahuluan (deskripsi wilayah perencanaan)
b. Perencanaan awal (3 alternatif pengolahan)
c. Perencanaan detail tiap unit pengolahan dari alternatif yang dipilih,
meliputi gambar skets dan perhitungan (nota desain)
d. Layout dan profil hidrolis
e. Volume pekerjaan (bill of quantity)
f. Lampiran berupa:
f.1 Gambar-gambar detail rencana yang terdiri dari:
- Gambar denah
- Gambar tampak
- Gambar potongan (minimal 2)
- Gambar detail (minimal 2)
f.2 Daftar harga satuan bahan dan pekerjaan (terbaru)

1.4 Gambaran Umum Wilayah Perencanaan
1.4.1 Luas Wilayah
Kota Blitar dengan luas wilayah sekitar 3.257,83 Ha (32,58 km
2
) yang
terletak pada koordinat 112
0
14’–112
0
28’ Bujur Timur dan 8
0
2’–8
o
8’ Lintang
Selatan terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Sukorejo dengan luas
9,93 km
2
, Kecamatan Kepanjenkidul 10,50 km
2
, dan kecamatan Sananwetan
12,15 km
2
. Dari 3 kecamatan tersebut habis terbagi 21 kelurahan yaitu
Kecamatan Sukorejo sebanyak 7 kelurahan, Kecamatan Kepanjenkidul dan
Kecamatan Sananwetan masing-masing 7 kelurahan . Pembagian wilayah
tersebut adalah disajikan dalam tabel 1.1 berikut :




Page 4

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701

Kecamatan Kelurahan
Luas
Wilayah(km
2
)
Sukorejo
Tlumpu 1,0153
Karangsari 0,8824
Turi 0,5086
Blitar 1,33205
Sukorejo 1,4662
Pakunden 4,72005
Tanjungsari 4,72005
Kepanjenkidul
Kepanjenkidul 0,86703
Kepanjenlor 0,61328
Kauman 0,68033
Bendo 1,5185
Tanggung 2,23
Sentul 2,683
Ngadirejo 1,9102
Sananwetan
Rembang 0,84425
Klampok 1,5307
Plosokarep 1,2481
Karangtengah 1,7954
Sananwetan 2,1279
Bendogerit 1,9552
Gedog 2,65
Jumlah 32,57849
Tabel 1.1 Luas Wilayah Dirinci Menurut Kelurahan

Page 5

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Di bawah ini adalah gambar 1.1 yang menunjukkan peta Blitar
Gambar 1.1 peta blitar

Page 6

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
1.4.2 Keadaan Geografi
Kota Blitar terletak sekitar 160 km sebelah Selatan Ibukota Propinsi
Jawa Timur yaitu Kota Surabaya. Kota Blitar terletak ditengah-tengah
Kabupaten Blitar, dan merupakan kota terkecil ketiga di Jawa Timur setelah
Kota Batu dan Kota Blitar. Kota Blitar berada di lereng Gunung Kelud dan
dikelilingi oleh Kabupaten Blitar dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kec.Nglegok dan Kec.Garum, Kab.Blitar
Sebelah Timur : Kec.Garum dan Kec.Kanigoro, Kab.Blitar
Sebelah Selatan : Kec.Kanigoro dan Kec.Sanankulon, Kab.Blitar
Sebelah Barat : Kec.Sanankulon dan Kec.Nglegok, Kab.Blitar
Rata-rata ketinggian Kota Blitar dari permukaan air laut adalah 156 m.
Ketinggian Kota Blitar di bagian utara adalah sekitar 245 m dengan tingkat
kemiringan 2-15

derajat, bagian tengah sekitar 175 m, dan bagian selatan
sekitar 140 m dari permukaan air laut dengan tingkat kemiringan masing-
masing 0-2 derajat. Perbedaan ketinggian antara bagian utara, tengah, dan
selatan yang berkisar antara 25 sampai 50 m tersebut menunjukkan bahwa
secara topografi, wilayah Kota Blitar masih termasuk kategori daerah datar
(dataran rendah). Keadaan tanah di wilayah kota Blitar berupa tanah Regusol
dan tanah Litusol. Jenis tanah Regusol berasal dari pasir Gunung Kelud serta
batuan endapan berkapur, dimana tanah Regusol yang ada berasosiasi dengan
tanah Litusol yang berasal dari batuan beku lapis yang terletak didaerah lereng
bukit. Jenis tanah Litusol mempunyai konsistensi gembur, korositas tinggi, dan
tahan terhadap erosi.
Lokasi wilayah Kota Blitar berada di sebelah Selatan Garis Khatulistiwa
dan mempunyai tipe iklim C-3 dengan kisaran suhu 24
0
-34
0
C (suhu rata-rata
29
0
C). Berdasarkan pemantauan dari 4 stasiun didaerah Bendogerit, Ngadirejo,
Kepanjenlor, dan Rembang, tercatat bahwa curah hujan selama tahun 2004
terjadi antara bulan Januari sampai Juli dan bulan September sampai
Desember. Sementara itu selama bulan Agustus tidak terjadi hujan sama sekali.

Page 7

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Satu-satunya sungai yang mengalir di Kota Blitar adalah Sungai Lahar
dengan panjang ± 7,84 km. Sungai tersebut mengalir dari arah Utara yang
bermuara di Gunung Kelud menuju ke Selatan menyatu dengan Sungai Brantas.




















Page 8

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
B BA AB B 2 2
P PE ER RE EN NC CA AN NA AA AN N P PE EN NG GO OL LA AH HA AN N A AI IR R B BA AK KU U

2.1 Air Baku
Air baku merupakan air beserta senyawa lain yang terlarut dan tersedia dalam
jumlah besar dan mempunyai fungsi tertentu. Air baku dapat diambil dari
sumber-sumber air baku yang memenuhi syarat baku mutu yang ada.
2.1.1 Sumber Air Baku
Perencanaan bangunan pengolahan air minum bertujuan untuk mengolah air
baku yang belum memenuhi standart tertentu dalam beberapa parameter untuk
dijadikan air minum dengan kualitas yang memenuhi syarat fisik, kimia, dan
biologis sehingga dapat didistribusikan dengan aman kepada konsumen.
Adapun sumber air yang dapat digunakan sebagai air minum adalah:
 Air permukaan : air sungai, air danau, air waduk, air laut dsb.
 Air angkasa : air hujan
 Air tanah : air tanah dangkal, air tanah dalam, mata air,
artesis, dsb.
2.1.1.1 Air Permukaan
Adapun air permukaan berpotensi terkontaminasi dan harus dilakukan
pengolahan terlebih dahulu. Kontaminan yang terdapat di dalamnya
mengandung bahan organik dan anorganik, gas dan mikroorganisme. Air
permukaan bisa dipergunakan untuk berbagai peruntukan. Sebagai sumber air
baku untuk air minum, maka air permukaan harus memenuhi kualitas oksigen
yang terlarut, pH yang sesuai, kandungan zat padat, kandungan bakteri,
kehadiran zat beracun, temperatur dan parameter lainnya. Air permukaan
biasanya dijadikan alternatif bila kuantitas atau kualitas air tanah tidak
memenuhi syarat sebagai bahan baku air minum. (Al Layla, 1978). pH yang
diinginkan pada air permukaan adalah antara 6.5 sampai 8.5 untuk menjaga

Page 9

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
kelangsungan kehidupan air. Kualitas air permukaan dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan sekitar. Adapun berbagai sumber air permukaan adalah sebagai
berikut:
2.1.1.2 Air sungai
Air dapat berasal dari sungai yang mengalir secara kontinyu, air hujan yang
tertampung dan atau berasal dari banjir yang tersimpan. Air yang berasal dari
sungai harus terlebih dahulu melalui proses pengolahan sebelum disuplai ke
konsumen.
2.1.1.3 Danau
Danau atau tampungan air dalam luas area yang besar dapat dijadikan sebagai
sumber air baku untuk air minum. Air yang berasal dari danau ini mempunyai
kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan air sungai. Air bisa diambil dari
lapisan bawah dan jauh dari permukaan, dimana temperaturnya lebih rendah
dan tidak tedapat plankton.
Apabila kondisi lingkungan sekitar tercemar oleh berbagai sumber, seperti
adanya industri atau pertanian, maka sebelum dijadikan sumber air baku untuk
air minum harus benar-benar diketahui kualitas air baku untuk dapat diolah
dengan unit pengolahan yangs sesuai.
2.1.1.4 Air Angkasa
Dalam penyediaan air minum untuk pemukiman atau perkotaan, air hujan
jarang digunakan secara langsung. Pada area khusus dengan penduduk yang
sedikit dimana tidak terdapat sumber air baku yang lain, air hujan bisa
dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Air hujan yang berasal dari atap
bangunan ditampung dalam suatu penampungan air. Reservoir dalam area luas
dapat menampung air hujan dalam jumlah besar, namun terkadang kualitas air
hujan berubah dan tidak murni lagi. Berkaitan dengan ketidakadaan beberapa
mineral, air hujan dapat bereaksi dengan gas di atmosfer dan menyebabkan
korosi.

Page 10

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
2.1.1.5 Air Tanah
Pada perencanaan bangunan pengolahan air minum ini berasal dari air tanah.
Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah, di antara butiran
tanah atau di sela batuan. Muka air tanah dapat berfluktuasi. Perubahan muka
air tanah ini disebabkan antara lain oleh:
 Pemompaaan
 Proses pengaliran
 Evapotranspirasi
 Adanya tekanan beban luar
 Pasang surut air laut
 Kecepatan aliran air tanah dipengaruhi oleh:
 Gaya gravitasi
 Friksi atau gesekan
2.1.2 Syarat Air Baku
Secara jelas, persyaratan yang harus dipenuhi oleh air baku untuk air minum
adalah sebagai berikut:
a) Syarat kualitas
Air minum harus memenuhi syarat-syarat kualitas yang telah ditetapkan
yaitu:
 Syarat fisik : suhu, rasa, bau, warna, kekeruhan, dan zat padat
terlarut
 Syarat kimia : pH, zat organik dan anorganik serta kadar mineral
yang seimbang
 Syarat biologis : bebas dari bakteri patogen dan mikroorganisme
pengganggu lainnya
b) Syarat kontinuitas
Keberadaan dan ketersediaan air minum harus terjamin setiap saat
c) Syarat kuantitas

Page 11

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Air minum yang diproduksi oleh instalasi air minum harus mampu
memenuhi jumlah permintaan dan kebutuhan
Kualitas air baku sangat penting untuk diketahui dalam menentukan jenis
pengolahan yang diperlukan. Disamping pengamanan dari segi kesehatan juga
perlu diperhatikan pengamanan terhadap sistem transmisi dan distribusi air
minum dari pengolahan sampai ke konsumen.
Alasan-alasan teknis dan kesehatan mendasari penyusunan standar kualitas air
minum yang aman dikonsumsi. Untuk lebih jelasnya, beberapa parameter di
atas yang umumnya perlu diketahui kadarnya untuk pengolahan air minum
dapat dilihat pada baku mutu yang berlaku.
2.1.3 Pemilihan Sumber Air Baku
Dalam pemilihan sumber air baku, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Kualitas air baku
b) Kuantitas air baku
c) Kondisi iklim di daerah sumber air baku
d) Lokasi sumber air baku harus tetap, tidak mengalami kemungkinan
pindah atau tertutup
e) Konstruksi intake yang memenuhi syarat dan kesulitan yang kecil
f) Kemungkinan perluasan intake dimasa yang akan dating
g) Elevasi muka air yang cukup
h) Kemungkinan timbulnya pencemar dimasa yang akan dating
i) Fasilitas, biaya operasi dan biaya perawatan yang relatif murah
(Al Layla, 1978 dan Kawamura,
1991)
Pendekatan yang paling efektif untuk menentukan apakah suatu sumber air
memenuhi persyaratan sebagai sumber air baku air minum adalah memilih
sumber dengan kualitas yang baik (Sanks, 1982).

Page 12

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Kualitas dari sumber air baku harus diperhatikan, karena berpotensial
mengandung berbagai macam polutan. Untuk air tanah misalnya, sebaiknya
lokasi sumur tidak terlalu dekat dengan lokasi dari industri atau kolam
pembuangan limbah. Kalaupun lokasi sumur berdekatan, harus dicermati jarak
yang memenuhi persyaratan agar tidak tercemar. Air permukaan yang tercemar
oleh aliran balik dari irigasi persawahan misalnya, dapat membawa sejumlah
kandungan pestisida dan nitrat. Bila air tanah juga memerlukan pengolahan
lengkap, sedangkan demikian juga dengan air permukaan, tidak berarti bahwa
lebih mudah untuk menentukan sumber air yang dipilih. Selain faktor
kemurniannya, faktor lain juga harus dipertimbangkan. Dalam segi
karakteristik dasar yang dimiliki oleh kedua sumber ini, dapat digambarkan
sebagai berikut :
Tabel 0.1 Karakteristik Air Permukaan dan Air Tanah
Karakteristik
yang
dipertimbangkan
Air Permukaan Air Tanah
Temperatur
Bervariasi tergantung
musim
Relatif konstan
Kekeruhan (SS) Bervariasi Rendah atau tidak ada
Kandungan
mineral
Terpengaruh hujan,
efluen industri atau
tanah
Konstan & cenderung
tinggi dibanding air
permukaan
Fe & Mangan
divalen
Biasanya tidak ada,
kecuali di dasar danau
dalam proses eutrofikasi
Ada
CO2 agresif Biasanya tidak ada Ada dalam jumlah besar
Oksigen terlarut
Berada pada level
saturasi
Biasanya tidak ada atau
sedikit
Amonia
Ditemukan pada air yang
terkontaminasi
Biasanya ada tanpa
menunjukkan bahwa air
terkontaminasi

Page 13

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Hidrogen sulfida Tidak ada Biasanya ada
Silika Komposisi sedang Kadang tinggi
Nitrat Rendah Tinggi dan berisiko
Organisme
Bakteri (patogen), virus,
plankton
Methamoglobinaemia,
bakteri fero
Sumber : Degremont, 1979
2.2 Air Minum
Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air
minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika,
mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif.
2.2.1 Standar Kualitas Air Minum
Perencanaan bangunan pengolahan air minum bertujuan untuk mengolah air
baku agar layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Karena itu, terlebih
dahulu harus diketahui standar kualitas air minum untuk menentukan sampai
batas mana parameter yang ada pada air baku harus diolah. Adapun sumber-
sumber air yang dapat digunakan sebagai air minum adalah sebagai berikut :
 Air permukaan, yaitu air sungai, danau, air waduk
 Air tanah
 Air laut
 Air hujan
Dari berbagai sumber tersebut, secara umum air yang digunakan harus
memenuhi persyaratan, antara lain :
a) Persyaratan fisik
b) Persyaratan Kimiawi
c) Persyaratan Bakteriologis

Page 14

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Selain itu, beberapa standart kualitas air baku yang akan dijadikan air minum
harus diperhatikan antara lain :
1) Suhu
Suhu yang diinginkan adalah antara 20
o
C sampai 30
o
C. Seiring dengan
masuknya aliran air limbah yang masuk ke suatu badan air, maka suhu
mengalamifluktuasi. Apabila fluktuasi rendah maka efisiensi klorinasi
dan koagulasi dengan alum akan rendah sehingga beban filter menjadi
tinggi. Sedangkan apabila fluktuasi suhu tinggi maka akan terjadi
biodegradasi bahan organik dan perubahan kehidupan tumbuhan dan
hewan.
2) Bau dan Rasa
Bau dan rasa yang terkandung di dalam air baku berasal dari
pembusukan tumbuhan, air buangan domestik atau industri, bakteri dan
protozoa. Bau dapat berupa asam, manis, pahit, terbakar atau busuk.
Sedangkan rasa dapat berupa rasa manis, asam, asin dan pahit.
Umumnya penentuan bau dan rasa ini melalui metode secara langsung.
3) Warna
Warna dalam air dapat disebabkan oleh adanya ion-ion metal alam (besi
dan mangan), humus, plankton, tanaman pengganggu air, buangan
domestik, pembusukan bahan organik, pemisahan lignin dan buangan
industri. Warna dalam air dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu warna
sejati (true color) dan warna semu (apparent color). Warna sejati adalah
warna dari air yang sebenarnya tanpa adanya kekeruhan. Warna ini
biasanya disebabkan adanya senyawa-senyawa organik yang mudah larut
dan beberapa ion logam. Warna semu bukan hanya disebabkan oleh
adanya zat-zat tersebut di atas, tetapi juga disebabkan bahan
tersuspensi. Warna harus dihilangkan karena:
 Estetika
 Konsentrasi warna yang banyak akan mengganggu kehidupan biota
air. Penetrasi sinar matahari akan berkurang, fotosintesis akan
menurun dan zone efektif O2 akan berkurang

Page 15

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
 Biaya penghilangan warna yang tinggi
Bila warna alami tinggi, dan disinfeksi dengan klorin tinggi, maka akan
membentuk Trihalomethane yang karsinogenik.
4) Kekeruhan
Pengukuran kekeruhan dalam air berdasarkan intensitas cahaya yang
dipendarkan oleh suspensi dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya
zat tersuspensi seperti lempung, Lumpur, zat organik, plankton dan zat-
zat halus lainnya. Kekeruhan merupakan sifat optik dari suatu larutan
yaitu absorbsi dan pantulan cahaya yang melaluinya. Tidak dapat
dihubungkan secara langsung antara kekeruhan dengan kadar zat
tersuspensi, karena tergantung pada ukuran dan bentuk butir. Metode
yang digunakan untuk mengukur kekeruhan adalah dengan metode
Hellige Turbidimetri (unit kekeruhan silica), turbidimetri dan
spektrofotometer.
Metode pengolahan kekeruhan antara lain filtrasi. Filtrasi dari berbagai
sumber air baku adalah keharusan dan akan meningkatkan kualitas air
seiring dengan tahap proses yang ada. Sebelum merencanakan unit
filtrasi, penelitian tentang kekeruhan dari suatu sumber air baku harus
dilakukan secara menyeluruh dan mewakili berbagai kondisi sumber. Hal
ini akan menentukan apakah filtrasi yang dilakukan secara langsung
(direct filtration) atau unit filtrasi lengkap.
Secara umum, kekeruhan tidak berbahaya langsung kepada konsumen
namun harus dihilangkan karena:
 Estetika
 Kemampuan filter akan berkurang dan biaya akan tinggi
 Apabila sudah sampai ke tahap disinfeksi kekeruhan masih tinggi,
maka efektifitas desinfeksi menjadi rendah

Page 16

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Metode untuk mengukur kekeruhan ini adalah dengan menggunakan
nilai NTU (Nephelometrik) yaitu perbandingan intensitas cahaya yang
dihamburkan dari sampel air dengan yang dihamburkan dari larutan
standar. Aplikasi data kekeruhan ini dapat digunakan untuk:
a) Menentukan jenis pengolahan yang digunakan
b) Menentukan jenis filtrasi (filter cepat atau lambat)
c) Menentukan dosis koagulan
d) Menentukan dosis disinfeksi
5) Padatan Terlarut
Dalam air alam ditemukan dua kelompok zat, yaitu zat terlarut seperti
garam dan molekul organik, zat padat tersuspensi (koloidal) seperti tanah
liat dan pasir kuarsa. Perbedaan antara dua kelompok zat yang ada
dalam air alam cukup jelas namun terkadang sulit dibedakan secara
definitif. Dalam kenyataannya, suatu molekul organik polimer tetap
bersifat sebagai zat terlarut, walaupun panjangnya lebih dari 10
mikrometer, sedangkan beberapa jenis zat koloid mempunyai sifat
bereaksi seperti zat-zat terlarut.
Analisa zat padat dalam air sangatlah penting bagi penentuan
komponen-komponen air secara lengkap, juga untuk merencanakan serta
pengawasan proses pengolahan air minum.
6) pH
pH menunjukkan kadar asam atau basa suatu larutan, melalui
konsentrasi ion hidrogen H
+
. Ion hidrogen merupakan faktor utama
untuk menentukan reaksi kimiawi karena:
 H
+
ada dalam keseimbangan dinamis dalam air yang membentuk
suasana untuk reaksi kimiawi yang berkaitan dengan pencemaran air
 H
+
tersusun juga oleh banyak unsure lain
Prinsip analisa pH adalah:

Page 17

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
a) Kalorimeter dengan mengggunakan indikator, kalau keadaan
indikator berubah maka keadaan dapat dirubah
b) Potensiometri tegangan yang diukur oleh pH meter
c) Titrasi asam basa untuk menentukan normalitas asam basa

7) Zat Organik
Beberapa organisme yang berpotensi menyebabkan timbulnya penyakit
berasal dari buangan organik manusia dan individu yang terinfeksi.
Kandungan zat organik ini juga bisa berasal dari berbagai bahan kimia
organik yang mungkin berasal dari buangan pupuk pertanian atau
limbah domestik. Karena tidak mungkin untukmengontrol setiap
tindakan manusia, maka perlu adanya penanganan tertentu untuk
menanganinya, dalam hal ini berkaitan dengan penyediaan air minum.
Alternatif yang umum digunakan ialah dengan disinfeksi. Bila
kandungan zat organik cukup tinggi, maka kebutuhan klor juga akan
banyak. Sedangkan bila dosis klor tinggi dan bereaksi dengan zat organik
akan berpotensi membentuk Trihalomethane yang karsinogenik. Selain
itu konsumsi klor yang tinggi akan menyebabkan bau dan rasa pada air
hasil pengolahan. Pemilihan dari disinfeksi yang akan digunakan
tergantung dari kualitas dan kuantitas air baku yang akan diolah. Bila
warna alami pada air tinggi, maka perlu alternatif lain selain disinfeksi.
Misalnya adalah dengan membran filtrasi dan filter karbon aktif, yang
dilanjutkan dengan ozon atau ultraviolet.
8) Kesadahan
Kesadahan dalam air terutama disebabkan oleh ion-ion Ca
2+
dan Mg
2+
,
juga oleh Fe
2+
, Mn
2+
dan semua kation yang bermuatan dua. Air dengan
kesadahan tinggi biasanya terdapat di daerah yang bersifat kapur.
Air sadah mengakibatkan konsumsi sabun lebih tinggi, karena adanya
hubungan kimiawi antara ion kesadahan dengan molekul sabun yang
menyebabkan sifat detergen sabun hilang. Kelebihan ion Ca
2+
serta ion
CO
3-
2 (salah satu ion alkalinity) mengakibatkan terbentuknya kerak pada

Page 18

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
dinding pipa yang disebabkan endapan kalsium karbonat. Kerak ini akan
mengurangi penampang basah pipa dan menyulitkan pemanasan air
dalam ketel.
Kesadahan total adalah jumlah ion-ion Ca
2+
dan Mg
2+
yang dapat
ditentukan melalui titrasi dengan EDTA sebagai titran dan
menggunakan indikator yang peka terhadap semua kation tersebut.
9) Besi dan Mangan
Besi adalah salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemukan di hampir
setiap tempat di bumi, pada lapisan geologis dan semua badan air. Pada
umumnya, besi yang terdapat dalam air dapat bersifat:
 Terlarur sebagai Fe
2+
dan Fe
3+

 Tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter < 1 mikrometer) atau
lebih besar, seperti Fe2O3, FeO, Fe(OH)2, Fe(OH)3 dsb.
 Tergabung dengan zat organik atau zat padat yang anorganik (misal
tanah liat)
Pada air permukaan jarang ditemukan kadar Fe lebih dari 1mg/l, tetapi
dalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi. Konsentrasi Fe yang
tinggi ini dapat dirasakan dan menodai beberapa pakaian atau peralatan
dapur. Pada air yang tidak mengandung oksigen, besi terdapat sebagai
Fe
2+
yang cukup dapat terlarut. Sedangkan pada air sungai yang
mengalir dan terjadi aerasi, Fe
2+
teroksidasi menjadi Fe
3+.
Fe
3+
ini susah
larut pada pH 6 sampai 8, bahkan dapat menjadi ferihidroksida fe(OH)3
atau salah satu jenis oksida yang merupakan zat padat dan bisa
mengendap. Demikian dalam air sungai, besi berada sebagai Fe
2+
, Fe
3+

terlarut dan Fe
3+
dalam bentuk senyawa organik berupa koloid.
Mangan tidak terbentuk secara alami, tetapi dapat bersama-sama dengan
garam dan mineral. Mangan biasanya berbentuk mangandioksida yang
sangat tidak larut. Begitu juga dengan pyrolusite, mangan karbonat dan
mangan silikat.

Page 19

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Sumber masuknya besi dan mangan ini berasal dari buangan sampah
organik pada tanah di sekitar sumber air, sehingga akan mengalami
infiltrasi dan menyebabkan kondisi anareob. Mn
4+
dan Fe
3+
stabil dalam
air yang mengandung oksigen. Bentuk tersebut dapat direduksi dalam
kondisi aerob.
Adapun cara-cara mereduksi besi dan mangan antara lain:
a) Oksidasi dengan menggunakan oksigen, klor atau potasium
permanganate
b) Pelunakan air (lime softening), mengurangi Fe dan Mn sekaligus
mengurangi kesadahan
c) Pertukaran ion (ion exchange)
d) Mangan zeolit, pertukaran dengan ion lain sehingga Fe dan Mn dapat
mengendap
e) Kerugian yang ditimbulkan dengan adanya Fe dan Mn dalam air:
f) Fe dan Mn yang mengendap dalam air akan membentuk warna
kuning, coklat dan hitam
g) Pakaian yang dicuci dengan air yang mengandung Fe dan Mn akan
menjadi kuning
h) Korosi pada alat-alat plumbing yang kontak dengan air yang
mengandung Fe dan Mn mendukung petumbuhan mikroorganisme
(iron bacteria), yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pipa,
valve dan timbul bau dan rasa
10) Klorida
Klorida terjadi secara alami dengan berbagai konsentrasi. Pada daerah
dataran tinggi, konsentrasi klorida kecil. Sedangkan secara umum,
konsentrasi klorida meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi
mineral.
Faktor yang menyebabkan klorida dapat masuk ke sumber air ialah
adanya intrusi air laut untuk daerah yang dekat dengan laut. Atau juga
dapat berasal dari buangan tinja manusia dan iar buangan industri.

Page 20

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Reaksi pengendapan telah digunakan secara luas dalam kimia analitis,
titrasi, gravimetri dan memisahkan sampel menjadi komponen-
komponen. Perhitungan kesetimbangan didasarkan pada ketetapan hasil
kelarutan. Indikator titrasi pengendapan untuk larutan pH 6-10 adalah
ion kromat yang membentuk endapan AgCrO4 merah bata.
Standar kualitas air minum untuk klorida adalah 250 mg/l. Bila lebih
dari itu maka akan timbul rasa asin dan apabila berbentuk dalam klor
bebas akan bereaksi dengan zat organik membentuk kloramin.
11) Sulfat
Sulfat terdapat di badan air dengan konsentrasi yang bervariasi antara
beberapa hingga ribuan mg/l. Konsentrasi yang amat tinggi dijumpai
pada air laut yang kaya akan mineral dan badan air yang terkena
pengaruh intrusi air laut. Sulfat merupakan anion utama dala air. Kadar
sulfat yang tinggi dapat juga dideteksi di perairan yang sangat tercemar
oleh bahan organik, dimana terdapat suasana yang miskin oksigen.
Selain itu, limbah cair industri dapat mengkontribusikan ion sulfat pada
badan air.
Dalam teknik gravimetri, ion sulfat diendapkan sebagai garam barium
sulfat dengan penambahan barium klorida dalam suasana asam. Selain
itu, limbah cair industri dapat megontribusikan ion sulfat ke badan air.
Pada kondisi kekurangan oksigen terlarut dan nitrat, sulfat berperan
sebagai sumber oksigen atau akseptor O2 untuk oksidasi biokimia oleh
bakteri anaerobik. Ion sulfat tereduksi menjadi ion sulfat dan membentuk
H2S pada pH 8 atau lebih. Apabila pH lebih asam, maka H2S lebih
banyak dan bau busuk akan terjadi.
Pada saluran air limbah domestik maupun industri yang mempunyai
temperatur tinggi, waktu detensi besar dan mengandung konsentrasi
sulfat yang besar maka akan menyebabkan korosi mahkota “crown
corrosion” pada dinding saluran.

Page 21

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
12) Nitrat
Nitrat NO
-
3 adalah bentuk senyawa nitrogen yang merupakan senyawa
yang stabil. Nitrat merupakan salah satu unsur penting dalam sintesa
protein tumbuh-tumbuhan dan hewan, akan tetapi nitrat pada
konsentrasi tinggi akan menstimulasi pertumbuhan ganggang yang tak
terbatas (bila persyaratan lain terpenuhi, seperti phospat), sehingga air
akan kekurangan oksigen terlarut dan menyebabkab kematian ikan.
Nitrat bisa berasal dari buangan industri bahan peledak, piroteknik,
pupuk, cat dsb. Kadar nitrat secara alami biasanya rendah, namun dapat
tinggi sekali pada air tanah di daerah-daerah yang diber pupuk yang
mengandung nitrat.
13) Nitrit
Nitrit adalah bentuk nitrogen yang teroksidasi, dengan tingkat oksidasi
masing-masing +3 dan +5. Nitrit biasanya tidak bertahan lama dan
merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amonia dengan
nitrat yang dapat terjadi pada instalasi pengolahan air buangan, air
sungai, sistem drainase dll.
Nitrit yang ditemui pada air minum dapat berasal dari bahan inhibitor
korosi yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari sistem
pengolahan air minum. Nitrit sendiri membahayakan kesehatan karena
dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak
dapat mengikat oksigen. Disamping itu nitrit juga menimbulkan
nitrosomin pada air buangan tertentu yang menyebabkan kanker.
2.3 Proses Pengolahan
2.3.1 Pengolahan Air Minum
Air minum sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam proses pengolahan
air baku menjadi air minum, diperlukan pengolahan yang memenuhi syarat,
agar air yang dihasilkan berkualitas tinggi dan tidak membahayakan kesehatan
manusia.

Page 22

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Proses pengolahan air minum yang dilakukan tergantung dari kualitas air baku.
Air baku air minum biasanya diambil dari air permukaan (sungai, danau) dan
air tanah. Menurut PP No. 20 / 1990, air adalah semua air yang berasal dari
sumber air dan terdapat di atas permukaan tanah, tidak termasuk dalam
pengertian ini adalah air yang terdapat di bawah permukaan tanah dan air
laut.
Baku mutu air adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau
komponen lain yang dan atau harus ada dan atau unsur pencemar yang
ditenggang adanya di dalam air pada sumber air tertentu sesuai dengan
peruntukannya. Misal air untuk mandi, air minum, air untuk cuci, dsb, (Bab I,
Pasal 7,Ayat 4). Penggolongan air berdasarkan PP No. 18 tahun 2001 yaitu :
 Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
secara langsung tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu
 Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai bahan baku air minum
 Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan
 Golongan D : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan
dapat digunakan untuk usaha perkotaan, industri, pembangkit listrik
tenaga air, dan lain sebagainya.
2.3.2 Rumus – Rumus Dan Reaksi Kimia Dalam Proses Pengolahan Air Minum
Berikut ini adalah rumus-rumus dan reaksi kimia dalam tiap-tiap pengolahan
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya :
Tabel 0.2 Rumus dan Reaksi Kimia dalam Pengolahan Air Minum
PROSES REAKSI KIMIA DAN RUMUS
FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
Aerasi
Removal H2S
Karakteristik volatil material yang
akan diremoval
H2 + ½ O2 → H2O + S Temperatur
Removal CO2 Gas transfer resisten
CO2 + ½ CO2 → CO3 Partial pressure gas

Page 23

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Oksidasi Mn Turbulensi di fase gas dan liquid
Mn + O2 → MnO2 Area : volume ratio
Oksidasi Fe Time of exposure
Fe
2+
+ ½ O2 + 5 H2O → Fe(OH)3 +
4H
+

Cek konsentrasi
V = Cv (2gh)
1/2
dimana :
Q = Cd.A.(2gh)
1/2
h : total head di nozzle
t = 2.Cv.Sinθ.(2h/g)
1/2
A : luas bukaan

Cv : koefisien dari velocity
Cd : koefisien dari discharge
θ : sudut antara vekor initial
velocity dan horisontal
t : waktu exposure

Koagulasi
dan Flokulasi
Al2(SO4)3.14,3H2O + Ca(HCO3)2 →
Al(OH)3↓ + 3CaSO4 + 14,3H2O +
6CO2
Konsentrasi koloidal kontaminan


Tipe dan dosis koagulan

Karakteristik kimia dari air (pH,
temperatur, dan karakter ion)


Kecepatan pengadukan
P = Penggunaan jenis koagulan

P = Q.ρ.g.h → μ = υ. Ρ dimana :
G : gradien kecepatan (detik)
P : power
C : volume tank/reaktor
μ : viskositas dinamis (gr/cm.dt)

υ : viskositas kinematis (m
2
/dt)
ρ : densitas cairan
Cd : koefisien drag
A : cross sectional of paddle
V : relatif velocity between paddle

H : headloss

Filtrasi

Vv =
Kecepatan aliran
Ukuran media
Porositas media
C
P
. µ
Vp Np. .
1
(
¸
(

¸

÷ c
c
g d
q L Cd
. . .
. .
4
2
c ¢
2
. . .
3
V P A Cd

Page 24

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
H = 1,067 .
Tekanan air selama operasi
Panjang bak
H’ = pH, temperature

Backwash dimana :
L.A.(1- ε) ρp = LE.A.(1- εE) ρp Vv : total volume rongga


ε : porositas media
Np : jumlah partikel
Vp : volume partikel media
H : kehilangan tekanan 1 media

H’ : kehilangan tekanan satu
ukuran media
Cd : koefisien drag
L : panjang limpahan
Q : debit (luas area)
ψ : faktor kebulatan
d : diameter partikel
g : percepatan gravitasi
υ : viskositas kinematis
L : kedalaman media

LE : tinggi eksponen media

εE : porositas saat terekspansi

A : luas permukaan bak

ρp : densitas partikel

VB : kecepatan upflow backwash
Vs : kecepatan mengendap

Desinfeksi
(klorinasi)
Gas klor
Jumlah konsentrasi klor yang
dibubuhkan
Cl2 + H2O ↔ H
+
+ Cl
-
+ HOCl pH
Kaporit Waktu kontak
Ca(OCl)2 + 2H2O ↔ 2HOCl +
Ca(OH)2

HOCl ↔ H
+
+ Cl
-

Removal NH3
NH3 + HOCl ↔ NH2Cl + H2O
pH ≥ 7
( )
L
d
q
g
k
.
.
6 1
. . .
2
3
2
|
|
.
|

\
| ÷
¢ c
c
u
| |
22 , 0
) / ( 1
) 1 (
S B
V V
L
÷
÷ c

Page 25

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
NH2Cl + HOCl ↔ NHCl2 + H2O
4 ≤ pH ≤ 6
NHCl2 + HOCl ↔ NCl3 + H2O
pH < 3
Kelebihan klor
2NH2Cl2 + HOCl ↔ N2 + 3HCl +
H2O


Screening
Headloss pada kisi Besar/ukuran screen


Kecepatan aliran melewati screen
Letak (sudut kemiringan)
dimana :
β : faktor kisi
W : lebar saluran
b : jarak antar kisi

hV : tekanan kecepatan
θ : sudut kisi

2.3.3 Metode Perencanaan
Dalam merencanakan bangunan pengolahan air minum, perlu memperhatikan
alur perencanaan untuk mempermudah mengerjakannya. Secara umum alur
perencanaan bangunan pengolahan air minum adalah seperti pada Gambar 2.1
berikut :
u | Sin h
b
W
V
. . .
3 / 4
(
¸
(

¸

Page 26

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701

Gambar 0.1 Diagram alir perencanaan pengolahan air minum
Adapun tahap-tahap perencanaan yang menjadi acuan adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui komponen dan standart kualitas air minum, antara lain:
Fisik = bau, TDS, kekeruhan, rasa, suhu, warna.
Kimia = kimia organik dan anorganik
Mikrobiologi = koliform tinja, total koliform
Radioaktifitas = radiasi α dan β.
2. Mengetahui kualitas air baku yang digunakan dan kondisi lokasi sumber
air.
3. Menentukan parameter yang perlu diperbaiki dengan sistem bangunan
pengolahan air minum.
4. Menentukan alternatif pengolahan yang mungkin dilakukan.
5. Memilih alternatif pengolahan dengan mempertimbangkan :
a. Aspek ekonomi
- Diusahakan pembangunan instalasi dapat memenuhi kualitas air
minum dengan biaya seekonomis mungkin.
- Tersedianya bahan-bahan kimia atau peralatan dan kemudahan
pengangkutannya ke lokasi pengolahan.
- Kemudahan pengoperasiannya.

Page 27

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
- Target yang hendak dicapai.
- Efisiensi pengolahan.
b. Aspek teknis
Dari segi konstruksi, teknis pelaksanaan, material dan instalasi
bangunan pengolahan.
6. Melakukan perhitungan rekayasa konstruksi dimensi bangunan pengolahan
air minum yang diharapkan dapat memenuhi standart kualitas, kuantitas
dan kontinyuitas yang diinginkan.

















Page 28

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
BAB 3
PERENCANAAN AWAL
3.1 Karakteristik Air Baku
Pada perencanaan bangunan pengolahan air minum Kota Blitar, air baku
yang diolah berasal dari air sungai Kota Blitar dengan karakteristik sebagai
berikut:
 Kekeruhan = 600 NTU
 Zat organik = 600 mg/l
 Debit = 458 l/s
Pada perencanaan PBPAM Kota Blitar, bangunan penyediaan air minum
akan di bangun dengan jarak lokasi IPA 400 m dari sungai dengan dilakukan
secara gravitasi. Dalam perencanaan tersebut, data hasil pemeriksaan kualitas
air baku digunakan sebagai dasar untuk perencanaaan. Kondisi air baku yang
tidak stabil pada waktu-waktu tertentu juga perlu diperhatikan agar bangunan
pengolah air minum mampu bekerja secara efektif dan efesien pada keadaan
tersebut. Oleh karena itu, bangunan pengolah air minum direncanakan
berdasarkan kondisi yang paling ekstrem atau kualitas air bakunya (air sungai)
paling buruk.

3.2 Alternatif Pengolahan

Berdasarkan karakteristik air baku, maka alternatif pengolahan disesuaikan
dengan karakteristiknya. Sebelum menentukan alternatif pengolahan,
hendaknya ditentukan terlebih dahulu jenis pengolahan yang dapat dilakukan
berdasarkan karakteristik air baku. Tabel 3.1 di bawah ini merupakan jenis
pengolahan yang dapat dilakukan :


Page 29

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Tabel 3.1 Jenis Pengolahan Berdasarkan Parameter
No. Parameter Jenis Pengolahan
1 Kekeruhan - Koagulasi dan
flokulasi
- Prasedimentasi
- Sedimentasi
- Filter
2 Zat organik - Koagulasi dan
flokulasi
- Prasedimentasi
- Sedimentasi
- Filter
Sumber : Fair, Geyer, Okun, “Water & Wastewater Engineering,” Vol. III
Rangkaian alternatif pengolahan yang dibuat berdasarkan karakteristik dari air
baku itu sendiri. Untuk itu, perlu dilakukan pemilihan jenis pengolahan.
Pemilihan jenis pengolahan dilakukan atas dasar jenis pengolahan yang mampu
menghasilkan effluent yang paling optimal dengan berbagai pertimbangan baik
itu secara ekonomis maupun teknis.
Secara umum proses pengolahan air minum dibedakan atas pengolahan lengkap
dan tidak lengkap. Adapun bangunan pengolahan yang diperlukan dalam
pengolahan lengkap antara lain :
Intake (bangunan penangkap air)
Bangunan ini berfungsi sebagai bangunan penyadap air baku dari
badan air (baik sungai, danau, maupun air tanah) sesuai dengan
debit yang diperlukan bagi pengolahan air minum. bangunan ini
dilengkapi dengan strainer agar dapat melindungi perpipaan dari
kerusakan atau penyumbatan yang diakibatkan oleh adanya
material-material yang mungkin terbawa oleh aliran.
Screening

Page 30

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Berfungsi untuk menyaring bahan-bahan yang mengapung dan
berukuran besar yang terdapat pada sumber air baku
Grit Chamber
Berfungsi untuk meremoval partikel diskrit yang terbawa oleh aliran
air
Bak Penenang
Berfungsi untuk menenangkan fluktuasi air baku jika menggunakan
pemompaan pada intake.
Bak Pembagi
Berfungsi untuk membagi air jika digunakan lebih dari satu unit
bangunan di dalam perencanaan
Prasedimentasi
Berfungsi untuk :
 Tempat pengendapan partikel diskrit dan material-material kasar
lainnya yang mempunyai spesific gravity 1,2 dan diameter 0,05
mm yang bisa mengendap secara gravitasi.
 Mengurangi beban pada unit pengolahan selanjutnya.
Aerasi
Berfungsi untuk meremoval kandungan zat organik, Fe, Mn, rasa,
bau, dan mensuplai kebutuhan oksigen.
Pengaduk Cepat (flash mix/koagulasi)
Berfungsi untuk melakukan pengadukan atau pencampuran bahan-
bahan kimia (misalnya koagulan) sehingga merata dalam air baku
dan dimaksudkan untuk mengurangi gaya tolak-menolak antara
partikel-partikel koloid yang mempunyai muatan sama.
Pengaduk Lambat (slow mix/flokulasi)
Berfungsi untuk mengikat kumpulan koloid sehingga membentuk
flok-flok yang lebih besar dan dapat dengan mudah mengendap
dalam bak pengendap selanjutnya.
Sedimentasi
Berfungsi untuk memisahkan flok-flok yang terbentuk dalam
pengaduk lambat, yaitu yang dapat mengendap secara gravitasi

Page 31

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Filtrasi
Berfungsi untuk memisahkan atau menyaring flok-flok yang tidak
terendapkan pada bak sedimentasi dengan media penyaring tertentu.
Bangunan Pembubuh Bahan Kimia/Desinfektan
Berfungsi untuk melarutkan dan membubuhkan bahan kimia ke
dalam unit pengolahan agar dapat membunuh bakteri-bakteri
patogen yang terdapat dalam air minum atau bakteri-bakteri yang
masuk melalui jaringan pipa distribusi
Reservoir Instalasi
Berfungsi untuk mensuplai semua kebutuhan instalasi dan
memberikan tinggi tekan yang cukup untuk pencucian filter.
Reservoir Distribusi
Berfungsi, antara lain :
 Untuk menampung air yang sudah memenuhi syarat hasil dari
pengolahan.
 Sebagai bak kontak dengan adanya inlet untuk memasukkan
kaporit dan kapur.
 Sebagai equalizing storage untuk pemakaian air ke resevoir
instalasi dan konsumen
Dengan memperhatikan karakteristik air baku serta mempelajari alternatif
pengolahan yang ada, maka dapat ditentukan unit pengolahan yang diperlukan
pada perencanaan ini. Untuk perencanaan yang tidak menggunakan seluruh
instalasi pengolahan atau hanya menggunakan bangunan yang diperlukan saja,
dapat disebut bangunan tidak lengkap.
Dari karakteristik air baku yang ada, maka dapat diperoleh beberapa macam
rangkaian proses pengolahan pada gambar berikut ini :




Page 32

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Alternatif Pengolahan 1



Badan
Air

Intake
Roughing
Filter
Aerasi
Koagulasi
(Flash
Mix)


Distribusi

Reservoir

Filter Sedimentasi
Flokulasi
(Slow
Mix)

Alternatif Pengolahan 2

Badan
Air

Intake Presedimentasi
Roughing
Filter
Aerasi
Koagulasi
(Flash Mix)


Distribusi

Reservoir

Filter

Sedimentasi
Flokulasi
(Slow Mix)

Setelah membuat alternatif-alternatif pengolahan berdasarkan karakteristik air
baku, maka selanjutnya perlu dilakukan pemilihan alternatif proses untuk
mengetahui alternatif mana yang lebih efektif dan efisien melalui perhitungan.
Perhitungan ini didasarkan atas prosentase removal masing-masing unit-unit

Page 33

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
pengolahan terhadap karakteristik air baku yang ada. Tabel 2.3 di bawah ini
adalah prosentase removal karakteristik air baku pada tiap unit bangunan
pengolahan:
Tabel 0.2 Prosentase Removal Tiap Parameter Air Baku
No. Proses Pengolahan
Prosentase Removal (%)
Turbidity Zat Organik
1 Prasedimentasi 80 40
2
Flash Mix –
Clarifier 70 35
3 Filter 67 99
4 Aerasi 15 -
5 Desinfeksi - -
6 Roughing Filter 90 80
Sumber : Fair, Geyer, Okun, “Water & Wastewater Engineering,”
Vol. II
Dengan memakai tabel di atas, maka dapat dihasilkan hasil perhitungan tiap-
tiap alternatif. Tabel 4.3 di bawah ini menyajikan hasil removal tiap parameter
di tiap bangunan :
Tabel 0.3 Prosentase Removal Tiap Parameter Air Baku
Alternatif Parameter
Influent
(mg/L)
Effluent (mg/L)
Pra
Sedimentasi
Roughing
Filter
Aerasi
Flash
mix Filtrasi Cl2
Slow mix
I
Kekeruhan
(NTU)
600 120 12 - 1,2 0,396 0,396
COD (mg/lt) 400 240 48 - 31,2 0,312 0,312
II
Kekeruhan
(NTU)
600 120 12 10,2 1,02 0,337 0,3366
COD (mg/lt) 400 240 48 48 31,2 0,312 0,312
Sumber : Hasil Perhitungan

Page 34

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Setelah diperoleh hasil perhitungan masing – masing jenis pengolahan, hasil
yang didapat dibandingkan antara alternatif pengolahan satu dengan lainnya
yang kemudian dibandingkan dengan standar kualitas air minum yang berlaku.
Tabel 2.8 berikut ini menyajikan perbandingan tiap alternatif pengolahan:
Tabel 0.4 Perbandingan hasil tiap alternatif pengolahan dengan standar
kualitas air minum
Parameter
Karakteristik
Air Baku
(mg/L)
Standar
Kualitas Air
Baku (mg/L)
Alternatif Pengolahan
(mg/L)
I II
Kekeruhan (NTU) 600 5 0,396 0,3366
Zat Organik
(mg/L) 400 10 0,312 0,312
Sumber : Hasil Perhitungan
Dari Tabel hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa alternatif
pengolahan kedua merupakan alternatif pengolahan yang paling baik diantara
kedua alternatif yang lain. Tetapi dari segi keekonomisannya, alternatif
pengolahan kedua lebih mahal dibandingkan alternatif pertama karena adanya
bangunan Aerator yang bisa berdampak bertambah tingginya biaya pengolahan
air minum. Hal tersebut masih belum termasuk dengan biaya pengoperasian
dan pemeliharaannya. Untuk itu, pada perencanaan ini digunakan alternatif
pengolahan yang pertama karena adanya pertimbangan sebagai berikut:
 Hasil effluen yang dihasilkan diperkirakan sudah memenuhi standar
kualitas air minum yang ada.
 Dari segi ekonomis, alternatif pengolahan pertama jauh lebih ekonomis
daripada alternatif pengolahan yang kedua karena tidak membutuhkan
biaya lebih besar untuk membangun Aerator sehingga biaya operasi dan
pemeliharaannya dapat diminimalkan.
 Pengoperasiannya tidak terlalu sulit sehingga tidak memerlukan tenaga
kerja yang mempunyai skill khusus.

Page 35

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Berikut ini adalah diagram alir pengolahan alternatif pertama yang akan
digunakan pada perencanaan :

Gambar 0.1 Perencanaan Diagram Alir Pengolahan













Page 36

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
BAB 4
DETAIL ENGINEERING DESIGN UNIT INTAKE
4.1 Gambaran Umum Intake
Bangunan intake berfungsi sebagai penyadap atau penangkap air baku yang
berasal dari sumbernya, dalam hal ini sungai. Sungai mempunyai parameter
yang sangat kompleks yang menjadi dasar desain intake. Pada Perencanaan ini
dibuat 4 buah bangunan intake dengan 4 buah sumur pengumpul dan setiap
intake digunakan 2 pipa sadap yang diletakkan pada AWL (Average Water
Level) dan LWL (Low Water Level) serta 2 buah pompa yang digunakan secara
bergantian (tahap I). Untuk pembangunan tahap II dilakukan penambahan 1
unit bangunan intake dengan dimensi dan detail bangunan yang sama serta
penambahan 2 buah pompa. Maka setelah tahap pembangunan selesai akan
terdapat 5 unit bangunan intake dengan 5 buah sumur pengumpul, 5 buah
pompa utama dan 5 buah pompa cadangan yang digunakan secara bergantian.
Adapun faktor - faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan intake,
adalah (Razif,1986):
 Dipilih aliran yang tidak deras karena dapat menyebabkan terputusnya
aliran air baku untuk air minum.
 Tanah disekitar intake diusahakan cukup stabil sehingga tidak mudah
tererosi.
 Dipilih aliran air yang bebas dari hambatan dan gangguan.
 Terletak cukup jauh dari sumber kontaminan.
 Sebaiknya diletakkan dibagian hulu.
 Intake sebaiknya dibawah permukaan sungai (untuk mencegah
masuknya benda-benda terapung) dan sebaiknya inlet juga terletak
cukup di atas dari dasar air (untuk mencegah masuknya suspended
matter/lumpur yang ada di dasar).
 Untuk muka air yang berfluktuasi, inlet yang ke sumur pengumpul
sebaiknya dibuat beberapa level.

Page 37

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
 Sebaiknya dilengkapi dengan screen dan ujung pipa pengambil air yang
berhubungan dengan pompa sebaiknya diberi saringan (strainer).
 Jika fluktuasi muka air antara musim hujan dan musim kemarau besar,
maka air dapat ditampung dengan membuat weir kecil memotong sungai
untuk menghadapi musim kemarau.
- Jika permukaan air sungai selalu konstan dan tebing sungai terendam,
maka intake dapat dibuat di dekat sungai. Pada keadaan ini air dialirkan
dari sungai melalui pipa yang diletakkan secara horizontal
Bangunan intake memiliki tipe yang bermacam-macam, di antaranya adalah:
1. Intake Langsung (Direct Intake)
Digunakan untuk sumber air yang dalam seperti sungai atau danau dengan
kedalaman yang cukup tinggi. Intake jenis ini memungkinkan terjadinya
erosi pada dinding dan pengendapan di bagian dasarnya.

Gambar 4.1 Direct Intake
2. Indirect Intake
a) River Intake
Menggunakan pipa penyadap dalam bentuk sumur pengumpul. Intake
ini lebih ekonomis untuk air sungai yang mempunyai perbedaan level
muka air pada musim hujan dan musim kemarau yang cukup tinggi.

Page 38

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701

Gambar 4.2 River Intake
b) Canal Intake
Digunakan untuk air yang berasal dari kanal. Dinding chamber
sebagian terbuka ke arah kanal dan dilengkapi dengan pipa pengolahan
selanjutnya


Page 39

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Gambar 4.3 Canal Intake
c) Reservoir Intake
Digunakan untuk air yang berasal dari dam dan dengan mudah
menggunakan menara intake. Menara intake dengan dam dibuat
terpisah dan diletakkan di bagian hulu. Untuk mengatasi fluktuasi level
muka air, maka inlet dengan beberapa level diletakkan pada menara.
3. Spring Intake
Digunakan untuk air baku dari mata air/air tanah.
4. Intake Tower
Digunakan untuk air permukaan dimana kedalaman air berada diatas level
tertentu.
5. Gate Intake
Berfungsi sebagai screen dan merupakan pintu air pada prasedimentasi.
4.2 Komponen Intake
Beberapa hal dibawah ini merupakan komponen dari suatu intake, yaitu :
a) Bangunan sadap, yang berfungsi untuk mengefektifkan air masuk
menuju sumur pengumpul.
b) Sumur pengumpul (Sump well)
c) Waktu detensi pada sumur pengumpul setidaknya 20 menit atau luas
area yang cukup untuk pembersihan. Dasar sumur minimal 1 m dibawah
dasar sungai atau tergantung pada kondisi geologis wilayah perencanaan.
Konstruksi sumur disesuaikan dengan kondisi sungai dan setidaknya
terbuat dari beton dengan ketebalan minimal 20 cm atau lebih tebal.
d) Screen
Screen terdapat pada inlet sumur pengumpul, berfungsi untuk menyaring
padatan atau bentuk lainnya yang terkandung dalam air baku. Adapun
dari jenis-jenis screen dibagi menjadi dua tipe berdasarkan perbedaan
bukaan atau jarak antar bar, yaitu :
e) Saringan kasar (coarse screen)

Page 40

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Digunakan untuk menjaga alat-alat dan biasanya digunakan pada
pengolahan pertama. Tipenya secara umum adalah bar rack (bar screen),
coarse weir, screen, dan kominutor.
f) Saringan halus (fine screen)
Bukaan berkisar antara 2,3–6 mm, bahkan untuk instalasi tertentu bisa
lebih kecil dari 2,3 mm. Biasanya digunakan untuk primary treatment
atau pre treatment.
Pembersihannya dapat dilakukan secara manual untuk coarse screen dan
mekanis untuk fine screen. Berikut ini dapat dilihat faktor-faktor
perencanaan bar screen:
 Jumlah batang (n)
1
1
tan
+
+
=
g ba
screen
w
L
n

 Jumlah jarak antar batang (N)
N = (n + 1)
 Jarak antar tengah batang ( L screen):
L screen = b + (0,5 x w )x 2
 Lebar bersih
Lebar bersih = L – (n x w)
 Jarak bersih antar kisi
Jarak bersih antar kisi =



 Kecepatan melalui screen (v screen)
v screen =

 Headloss melalui screen (Hf screen)
Hf screen =
o u | sin .
3 / 4
× × |
.
|

\
|
× h
b
w

Keterangan:
w = tebal batang (cm)
b = jarak antar batang (cm)
β = faktor bentuk batang
Q = debit (m
3
/detik)

Page 41

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
L = lebar intake, m
n = jumlah batang
N = jumlah jarak antar batang
α = sudut bar terhadap horizontal

Sumber : Fair, Geyer dan Okun, 1968
Tabel 4.1 Faktor Bentuk Batang
Bentuk Bar Faktor Bentuk (β)
Shape edge rectangular 2,42
Rectangular with semicircular
up stream face circular
1,83
Circular 1,79
Rectangular with semicircular
up stream and down stream face
1,67
Tear shape 0,76
Sumber: Qosim, 1985
4.3 Pompa Intake
Faktor-faktor yang perlu diketahui dalam pemilihan pompa intake, adalah
(Razif, 1986):
 Fluktuasi level air, berguna dalam pemilihan jenis pompa, jumlah
pompa, penempatan pompa.
 Kandungan padatan air sungai, berguna untuk menentukan tindakan
preventif dalam mencegah tersumbatnya pompa, terutama pada
musim hujan.
 Besarya arus air, berguna untuk menentukan penempatan pompa
pada lokasi dan ketinggian yang sesuai.
 Kondisi fisik sungai, berguna untuk penempatan rumah pompa dan
pompa agar tidak terpengaruh gangguan. Contoh : Tidak

Page 42

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
dibenarkannya penempatan rumah pompa pada daerah belokan
sungai.
Bagian-bagian dari pompa intake antara lain adalah sebagai berikut:
1. Strainer
Untuk menyaring benda-benda yang terkandung dalam air baku, bila
perlu direncanakan strainer pada ujung pipa suction pompa intake.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
 Kecepatan melalui lubang strainer = 0,15–0,3 m/detik, dan dianjurkan
untuk berada pada batas rendah untuk mencegah masuknya padatan
dari dasar badan air.
 Bukaan pada lubang strainer antara 6–12 mm.
 Luas area strainer adalah 2 kali dari luas total lubang.
Berikut ini dapat dilihat faktor-faktor perencanaan dari strainer:
 Diameter strainer (D)
D = 1,5 – 2 x Dsuction
 Jarak strainer dari dasar intake (s)
s = ½ Dstrainer
 Jarak ujung strainer ke permukaan air (S)
S = 1,5 x Dstrainer
 Jarak strainer ke dinding intake (x)
x = ¼ Dstrainer
Sumber: Prosser, 1980.
2. Pipa Suction dan Discharge
Kecepatan pada pipa suction antara 1 – 1,5 m/detik.
3. Valve
Valve harus dipasang pada perpipaan pompa agar mudah dalam
pengontrolan aliran, penggantian, perbaikan, dan perawatannya.
Adapun alternatif pemilihan jenis pompa intake adalah:

Page 43

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
1. Pompa Sentrifugal (tidak terendam air)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
 NPSH yang tersedia pada sistem. Hal ini berhubungan dengan level
air. Pada saat level air maksimum, maka NPSH sistem yang tersedia
cukup besar daripada saat level air minimum. Hal ini mempengaruhi
penempatan pompa karena static suction head system harus lebih
kecil dari static head maksimum hasil perhitungan NPSH.
 Static suction head yang berubah-ubah akibat adanya perubahan
permukaan air sungai akan mempengaruhi karakteristik sistem yang
ada. Hal ini mempengaruhi kapasitas yang dialirkan.
 Rumah pompa yang kedap air diperlukan terutama untuk daerah
yang rawan banjir, karena motor akan terbakar jika terendam air.
2. Pompa Submersible
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
 NPSH tidak terlalu menjadi masalah, karena pompa dan motor
terendam air.
 Pompa submersible harus terendam air hingga ketinggian tertentu
dari level air sungai minimum. Hal ini dilakukan untuk mencegah
terjadinya pusaran air pada permukaan air sungai jika ketinggiannya
melebihi batas yang diisyaratkan. Pusaran air dapat menyebabkan
masuknya udara ke dalam pompa dan terjadi kavitasi. Jika pompa
tidak terendam air, maka pompa bisa terbakar.
 Level air yang berubah-ubah menyebabkan perubahan pada
karakteristik pompa.
 Harga pompa submersible lebih mahal daripada pompa sentrifugal
biasa.
3. Pompa Non Clogging
Digunakan jika kandungan padatan tersuspensi air sungai sangat tinggi
dan harus diperhatikan bahwa harga pompa jenis ini mahal.
4.4 Kriteria Desain
1. Bell Mouth Strainer

Page 44

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Kecepatan melalui lubang strainer 0,15 – 0,3 m/detik
Diameter lubang strainer 6–12 mm
Luas total permukaan strainer = 2 x luas efektif
2. Cylindrical Strainer
Kriteria desain sama dengan bell mouth strainer.
Harus digunakan pada saat head air cukup tinggi di atas strainer.
Strainer sebaiknya terletak 0,6 – 1 m dibawah level air terendah (jika
tidak mempunyai lubang di bagian atas), sedangkan untuk strainer yang
memiliki lubang sebaiknya 1 m dibawah level air terendah.
3. Pipa gravitasi air baku
Kecepatan aliran 0,6 – 1,5 m/detik untuk mencegah erosi dan
sedimentasi.
Ukuran pipa disesuaikan agar V pada LWL > 0,6 m/detik dan pada HWL
< 1,5 m/detik. Dengan mengetahui head dan kecepatan maka diameter
pipa dapat ditentukan.
4. Suction Well (Intake Well)
Untuk mempermudah pemeliharaan sebaiknya sumur ada 2 atau lebih.
Waktu detensi sekitar 20 menit atau sebaiknya sumur cukup besar guna
menjaga kebersihan air.
Dasar sumur ± 1 m dibawah dasar sungai atau 1,5 m dibawah LWL.
Sumur berkonstruksi beton dengan tebal dinding 20–30 cm dan bersifat
rapat air.
5. Pipa Suction untuk pemompaan
V pipa berkisar antara 1 – 1,5 m/detik
Perbedaan LWL dengan pompa tidak boleh lebih dari 3,7 m
Jika permukaan pompa lebih tinggi dari LWL, jarak suction sebaiknya
kurang dari 4 m.
Rumus-rumus yang digunakan untuk perhitungan intake antara lain adalah
sebagai berikut:
 Rumus umum kecepatan (V)
V = Q / A

Page 45

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Keterangan :
V = kecepatan (m/detik)
Q = debit (m
3
/detik)
A = luas penampang (m
2
)
 Headloss akibat k
 ecepatan (Hv)
Hv = V
2
/ 2g
Keterangan:
Hv = minor losses (m)
V = kecepatan (m/detik)
g = pecepatan gravitasi (m
2
/detik)
 Minor Losses (Hm)
Hm = k.
|
|
.
|

\
|
g
V
2
2

Keterangan:
Hm = minor losses (m)
k = koefisien kehilangan tinggi energi
V = kecepatan (m/detik)
G = pecepatan gravitasi (m
2
/detik)
Tabel 4.2 Nilai k untuk Macam-macam Sambungan
Jenis Sambungan Nilai k
Standard Elbow 0,9
Standard Tee 1,8
Standard Valve 2,5
Standard Valve 0,19
Sambungan antara pipa dan
reservoir
0,01 –
1

 Mayor Losses dalam pipa menurut Hazen-William (Hf)
Hf =
85 , 1 63 , 2
85 , 1
) . . 0015 , 0 (
.
D C
Q L

Keterangan:
Hf = mayor losses (m)
L = panjang pipa (m)

Page 46

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Q = debit (L/detik)
C = koefisien kekasaran pipa (C = 130 untuk pipa baru)
D = diameter pipa (cm)
 Luas penampang pipa (A)
A = ¼ . π . d
2
Keterangan:
A = luas penampang pipa (m
2
)
d = diameter pipa (m)
4.5 Perencanaan Bangunan Intake
Dalam perencanaan ini menggunakan air sungai sebagai air bakunya, maka
terjadinya fluktuasi terhadap badan air sangatlah mungkin terjadi, apalagi pada
musim hujan dan musim kemarau. Hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja
dari IPAM (Instalasi Pengolahan Air Minum) sehingga dikhawatirkan IPAM
tidak mampu bekerja secara optimal. Untuk itu digunakan Intake dengan 2 pipa
sadap yang diletakkan di AWL (Average Water Level) dan LWL (Low Water
Level) guna mengantisipasi perubahan muka air yang terjadi sehingga air baku
tetap dapat diambil dan terjamin kontinuitasnya.
4.5.1 Pipa Sadap Air Baku
Dalam pengambilan air baku dari sungai, diperlukan pipa sadap untuk
mengalirkan air ke sumur pengumpul. Untuk menjaga kontinyuitas suplai air
baku, pipa sadap harus direncanakan sebaik mungkin. Pada perencanaan ini
digunakan 2 pipa sadap untuk intake yang diletakkan pada AWL (Average
Water Level) dan LWL (Low Water Level) agar bekerja secara optimal.
Direncanakan terdapat 1 buah sumur pengumpul dan memiliki 2 buah pipa
penyadap.
Direncanakan:
 Q = 1000 L/s = 1 m
3
/s
 v rencana = 1,25 m/ s
 jumlah intake = 1 unit
 jumlah pipa sadap tiap intake = 2 unit
 panjang pipa sadap = 2 m
Perhitungan:
 Q tiap pipa sadap = Q air baku = 1000 L/s
(pemakaian pipa normal hanya 1 unit secara bergantian)

Page 47

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
 A tiap pipa sadap = Q/v
= 1 m³/s / 1,25 m/s = 0,8 m²
 Diameter pipa =

4 x A
π
= √
4 x 0,8
π
=1,01 m 1000 mm
 V cek = Q/A
= 1 m
3
/s / (1/4 π 1²)
= 1 m
3
/s / (1/4 π 1²) = 1,27 m/s
(memenuhi)
 Hf pipa sadap (galvanis) = [
Q
0,00155 . C . D
2,63
]
1,85
x L
= [
1000
0,00155 . 110 . 100
2,63
]
1,85
x 6,7 = 0,0035 m
 Penanaman pipa
Direncanakan :
 Slope pipa = 0,001
 Panjang pipa = 2 m
Perhitungan :
 beda tinggi pipa = slope x L pipa = 0,001 x 2 =
0,002 m
4.5.2 Pintu Air
Direncanakan :
 Masing – masing pipa penyadap terdapat pintu air
 Diameter pipa penyadap = 1000 mm
 Letak pipa penyadap tidak sejajar
 Pintu air berbentuk persegi
Perhitungan :
Karena 2 pipa penyadap disusun sejajar ke bawah, maka dimensi pintu air :
 Panjang = (2 x diameter pipa sadap) + (2 x jarak antar
pipa sadap)
= (2 x 1 m) + (2 x 0,2 m) = 2,4 m
 Lebar = (1 x diameter pipa sadap) + (2 x jarak tepi
pipa sadap)
= (1 x 1 m) + (2 x 0,05 m) = 1,1 m

Page 48

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
4.5.3 Sumur Pengumpul
Untuk mengantisipasi fluktuasi air sungai, maka diperlukan suatu unit yang
berfungsi untuk mengumpulkan air terlebih dahulu sebelum masuk ke IPAM.
Unit tersebut disebut sumur pengumpul. Sumur pengumpul ini sangatlah
penting dalam mengatasi terjadinya fluktuasi pada air sungai, yaitu sebagai unit
penyesuaian debit yang masuk ke IPAM. Karena itu, dalam perencanaan ini
jenis Intake yang digunakan adalah River Intake. Gambar 5.4 di bawah ini
menunjukkan lokasi intake terhadap IPAM.
5 m
280 m

Gambar 4.4 Lokasi Intake terhadap IPAM
Direncanakan :
 Q air = 1000 L/s = 1 m³/s
 Jumlah sumur pengumpul = 1 unit
 H free board = 1 m
 N kekasaran = 0,015
 Tebal dinding = 0,25 m
 Td (waktu detensi) = 10 menit = 600 s
 HWL = 3 m
 LWL = 1 m
 Sumur berbentuk persegi sehingga panjang = lebar
Perhitungan :

Page 49

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
 Volume sumur = Q x td
= 1 m³/s x 600 s = 600 m³
 H efektif = HWL + 1 m = 3 m + 1 m = 4
m
 Luas (A) sumur = Volume/H efektif
= 600 m³/4 m = 150 m²
 Dimensi sumur pengumpul
Luas (A) = panjang x lebar = b x b
150 m² = b ²
b (lebar) = 12,25 m
l (panjang) = 12,25 m
kedalaman = 4 m
kedalaman + freeboard = 4 m + 1 m = 5 m
panjang + tebal dinding = 12,25 + (2 x 0,25) = 12,75 m
lebar + tebal dinding = 12,25 + (2 x 0,25) = 12,75 m
4.5.4 Bar Screen
Untuk menghindari adanya sampah yang masuk ke pipa suction pompa maka
didalam sumur pengumpul diberi screen atau penyaring, sehingga sampah tidak
akan masuk dan menyumbat pipa dan tidak menurunkan efektifitas dan
efisiensi unit. Dalam hal ini, screen yang direncanakan adalah berbentuk batang
atau bar screen yang dimensinya sama dengan dimensi sumur pengumpul.
Direncanakan :
- Q = 1000 L/s = 1 m
3
/s
- Lebar bar screen = lebar sumur pengumpul = 12,25 m
- Pembersihan dilakukan secara manual
- Bentuk bar persegi panjang dengan keempat ujungnya melingkar /
tumpul
- Slope screen = 45°
- Jarak antar batang (b) = 50 mm = 0,05 m
- Kecepatan melalui celah = 0,3 – 0,6 m/s
- Lebar bar (w) = 5 mm = 0,005 m
- kedalaman bar (D) = kedalaman sumur = 4 m
Perhitungan :
- Jumlah bar (n) :

Page 50

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Lebar saluran (B) = ( n x w ) + ((n + 1) x b)
12,25 m = ( n x 0,005 ) + ((n + 1) x 0,05 m)
1 = 0,005 n + 0,05 n + 0,05
Jumlah bar (n) = 221,77 bar 222 bar
- Jumlah bukaan antar bar (s) :
Jumlah bukaan antar bar (s) = n + 1
= 222 + 1 = 223 bukaan

- Lebar bukaan antar bar total (Lt) :
Lebar bukaan antar bar total (Lt) = b x ( n + 1 )
= 0,05 x 223 = 11,15 m
- Panjang kisi yang terendam air (Ls) :
Ls =
h
sinα
=
4
0,7
= 5,7 m
- Koefisien efisiensi (ɳ) =
Lt
B
x 100 =
11,15
12,25
x 100= 91
- Kecepatan aliran saat melalui kisi pada saat bersih :
Vs =
Q
Lt x Ls
=
1
11,15 x 5,7
= 0,02 m/s
- Headloss normal ( saat bersih ) :
hL normal = β x [
w x n
b (n+1)
]
4
3
x [
vs
2
2g
] xsinα

=1,67 x [
0,005 x 222
0,05 (222+1)
]
4
3
x [
0,02
2
2.9,81
] xsin45=0,000006 m
- Headloss saat clogging :
Clogging berarti 50 % bar screen tersumbat
Lebar bukaan antar bar total (Lt) = 50% x 11,15 =
5,575 m
- Kecepatan aliran melalui kisi (vs) = 50% x 0,02 = 0,01 m/s

4.5.5 Pompa
Pompa mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kelancaran proses
pengolahan antara lain dapat menaikkan level muka air ke daerah yang lebih
tinggi. Untuk itu agar proses pengolahan dapat berjalan dengan baik, pompa
harus direncanakan dengan sebaik – baiknya.
Direncanakan:

Page 51

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
 Jumlah pompa = 4 buah ( 2 ready, 2 cadangan)
 V air pada pipa = 1,5 m/s
 Q tiap pipa = 500 L/s = 0,5 m³/s
Perhitungan:
Pipa suction dan pipa discharge
 Luas(A) tiap pipa = Q/V
= 0,5 m³/s/1,5 m/s = 0,33 m²
 Diameter pipa =

4 x A
π
= √
4 x 0,33
π
=0,652 m 600 mm
 V cek = Q/A
= 0,5 m
3
/s / (1/4 π 0,6²)
= 1 m
3
/s / (1/4 π 0,6²) = 1,77 m/s (memenuhi)
Headloss pompa
 Head statis = 4,5 m
 Panjang pipa suction (Lsuc) = 4,5 m + 10 m + 10 m = 24,5 m
 Panjang pipa discharge (Ldis) = 300 m – 10 m – 10 m = 280 m
 Diameter pipa suction = diameter pipa discharge = 600 mm
 Mayor Losses
Hf suction = [
Q
0,00155 . C . D
2,63
]
1,85
x L
= [
500
0,00155 . 110 . 60
2,63
]
1,85
x 24,5 = 0,14 m
Hf discharge = [
Q
0,00155 . C . D
2,63
]
1,85
x L
= [
500
0,00155 . 110 . 60
2,63
]
1,85
x 280 = 0,000005 m
Hf mayor losses = 0,14 m + 0,000005 m = 0,142 m
 Minor Losses
Head velocity =

= 1,77² / (2 x 9,81) = 0,160 m
Hfm belokan (4 buah, k = 0,4) =

= 4 x 0,4 x 0,160 m = 0,255 m

Page 52

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701
Hfm valve (1 buah, k = 0,3) =

= 1 x 0,3 x 0,160 m = 0,048 m
Hf minor losses = 0,225 m + 0,048 m = 0,303 m
Hf total = Head statis + Hf mayor + Hf minor + Head
velocity
= 4,5 m+ 0,142 m + 0,303 m + 0,160 m =
5,1 m
Untuk pemilihan tipe pompa, head dan debit di plotkan pada grafik di bawah ini.
Head pompa yang dibutuhkan minimal sebesar 5,1 m dan debitnya adalah 500
L/detik atau 0,5 m
3
/detik atau 30 m
3
/menit. Dari gambar 5.5 diperoleh tipe
pompa 600 – O10 – 550 dengan diameter pipa suction 600 mm dan diameter
discharge 550 mm.

Gambar 4.5 Grafik Pompa Torishima
Berikut ini adalah gambar detail enggineering desain bangunan intake :


Page 53

Pekerjaan Detail Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Kota Blitar tahun 2022

Muhimmatul Khoiroh 3310 100 701