Anda di halaman 1dari 28

Tugas Kelompok : Hukum Internasional

Disusun Oleh :

I NENGAH AGUS TRIPAYANA (1014041063) I KOMANG KABEH (1014041039) NI WAYAN WERDIANI (1014041045) I WAYAN GUSTAMA (1014041037) ADELIA HANDINI (1014041060) NI PUTU DEWI SRINAYANI (1014041057)

PRINSIP KEKUASAAN KEHAKIMAN DALAM MEWUJUDKAN KEADILAN HUKUM

Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian, tugas,tanggung jawab dan prinsip kekuasaan hakim ? 2. Lembaga apa sajakah yang memiliki wewenang untuk melaksanakan kekuasaan kehakiman?

Pengertian Hakim

Pasal 1 butir 8 KUHAP yang menyebutkan bahwa Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili.

Pasal 31 Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman, dalam disebutkan bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam undangundang

Kekuasaan Kehakiman

Pasal 24 dan Pasal 25 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu bahwa Kekuasaan Kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh dan campur tangan kekuasaan pemerintah. Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Kekuasaan Kehakiman,: Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Hakim tidak memihak berarti juga bahwa hakim itu tidak menjalankan perintah dari pemerintah., menurut hukum hakim dapat memutuskan menghukum pemerintah, misalnya tentang keharusan ganti kerugian yang tercantum dalam

Tugas dan Kewajiban Hakim


Bab IV Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman : bahwa kewajiban hakim yaitu : 1) Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang No.4 Tahun 2004) 2) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang vbaik dan jahat dari terdakwa (Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No.4 Tahun 2004) 3) Seorang hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah dan semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami atau istri mesipun telah bercerai, dengan ketua, salah seorang hakim anggota, jaksa, advokat, atau panitera (Pasal 29 ayat (3) UndangUndang No.4 Tahun 2004)

4) Ketua majelis, hakim anggota, wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah dan semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami atau istri mesipun telah bercerai, dengan pihak yang diadili atau advokat (Pasal 29 ayat (4) Undang-Undang No.4 Tahun 2004) 5) Seorang hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila ia mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara yang sedang diperiksa, baik atas kehendaknya sendiri maupun atas permintaan pihak yang berperkara (Pasal 29 ayat (5) Undang-Undang No.4 Tahun 2004)

6) Sebelum memangku jabatannya, hakim untuk masing-masing lingkungan peradilan wajib mengucapkan sumpah atau janjinya menurut agamanya (Pasal 30 ayat (1) UndangUndang No.4 Tahun 2004)

Tanggung jawab Hakim


1) Tanggung jawab moral adalah tanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai dan normanorma yang berlaku dalam lingkungan kehidupan profesi yang bersangkutan (hakim), baik bersifat pribadi maupun bersifat kelembagaan bagi suatu lembaga yang merupakan wadah para hakim bersangkutan. Adapun tanggungjawab moral itu yaitu: A. etika profesi The Four Commandments for Judges dari Socrates. Kode etik hakim tersebut terdiri dari empat butir di bawah ini. : 1. To hear corteously (mendengar dengan sopan dan beradab). 2. To answer wisely (menjawab dengan arif dan bijaksana). 3. To consider soberly (mempertimbangkan tanpa terpengaruh apapun). 4. To decide impartially (memutus tidak berat sebelah).

B. Panca Dharma Hakim, yaitu: 1. Kartika, melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa; 2. Cakra, berarti seorang hakim dituntut untuk bersikap adil; 3. Candra, berarti hakim harus bersikap bijaksana atau berwibawa; 4. Sari, berarti hakim haruslah berbudi luhur atau tidak tercela; dan 5. Tirta, berarti seorang hakim harus jujur.

C. Sikap Hakim Dalam Persidangan 1. bersikap dan bertindak menurut garis-garis yang ditentukan dalam hukum acara yang berlaku; 2. tidak dibenarkan bersikap yang menunjukkan memihak atau bersimpati atau antipati terhadap pihak-piha yang berperkara; 3. harus bersikap sopan, tegas, dan bijaksana dalam memimpin sidang, baik dalam ucapan maupun perbuatan; 4. harus menjaga kewibawaan dan kekhidmatan persidangan

2. Tanggung jawab hukum adalah tanggung jawab yang menjadi beban hakim untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan tidak melanggar rambu-rambu hukum.
a. bahwa hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (Pasal 28 ayat (1)); b. bahwa dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa (Pasal 28 ayat (2)); dan c. bahwa hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikathubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami isteri meskipun telah bercerai, dengan ketua, salah seorang Hakim Anggota, Jaksa, Advokat, atau Panitera (Pasal 29 ayat

3. Tanggung Jawab Profesi adalah merupakan tuntutan bagi hakim untuk melaksanakan
tugasnya secara profesional sesuai dengan kriteria teknis yang berlaku dalam bidang profesi yang bersangkutan, baik bersifat umum maupun ketentuan khusus dalam lembaganya -UU No 5 Th 2004 tentang Mahkamah Agung :

A. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa Hakim Agung tidak bolehmerangkap menjadi: - pelaksana putusan Mahkamah Agung; - wali, pengampu, dan pejabat yang berkaitan dengan suatu perkara yang akan atau sedang diperiksa olehnya; - penasehat hukum; dan - pengusaha.

B. Pasal 12 ayat (1) menyatakan bahwa Hakim Anggota Mahkamah Agung dapat diberhentikan tidak dengan hormat dengan alasan: - dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5(lima) tahun atau lebih; - melakukan perbuatan tercela; - terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya; - melanggar sumpah atau janji jabatan; dan - melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10

C. Pasal 41 ayat (1) menyatakan bahwa hakim wajib mengundurkan diri dari suatu persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami atau isteri meskipun telah bercerai dengan salah seorang Hakim Anggota atau Panitera pada majelis hakim. D. Pasal 41 ayat (4) menyatakan jika seorang hakim yang memutus perkara dalam tingkat pertama atau tingkat banding, kemudian telah menjadi Hakim Agung, maka Hakim Agung tersebut dilarang memeriksa perkara yang sama. E. Pasal 42 ayat (1) menyatakan bahwa seorang hakim tidak diperkenankan mengadili suatu perkara yang ia sendiri berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung

Prinsip Pelaksanaan Kekuasaan Kehakiman


1. Independensi (Independence principle) Independensi hakim dan pengadilan terwujud dalam kemandirian dan kemerdekaan hakim, baik secara personal maupun institusi, dari berbagai pengaruh dari luar diri hakim berupe intervensi 2. Ketidakberpihakan (Impartiality principle) Ketidakberpihakan mencakup sikap netral, menjaga jarak yang sama dengan semua pihak yang terkait dengan perkara, dan tidak mengutamakan salah satu pihak manapun 3. Integritas (Integrity principle) Integritas hakim merupakan sikap batin yang mencerminkan keutuhan dan keseimbangan kepribadian setiap hakim sebagai pribadi dan sebagai pejabat negara dalam menjalankan tugas jabatannya

4. Kepantasan dan Kesopanan (Propriety principle) Kepantasan tercermin dalam penampilan dan perilaku pribadi yang berhubungan dengan kemampuan menempatkan diri dengan tepat, baik mengenai tempat, waktu, tata busana, tata suara, atau kegiatan tertentu 5. Kesetaraan (Equality principle) Prinsip kesetaraan ini secara esensial melekat dalam sikap setiap hakim untuk memperlakukan setiap pihak dalm persidangan atau pihak-pihak lain terkait dengan perkara. 6. Kecakapan dan Keseksamaan (Competence and Diligence principle) Kecakapan tercermin dalam kemampuan profesional hakim yang diperoleh dari pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman dalam menjalankan tugas

Lembaga-lembaga yang memiliki wewenang menjalankan kekuasaan kehakiman


Lembaga-lembaga tersebut yaitu : Mahkamah Agung Makamah Konstitusi Komisi Yudisial

1. Mahkamah Agung

Mahkamah Agung (disingkat MA) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung membawahi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara.

Lembaga- lembaga dibawah MA yaitu :

Peradilan Umum pada tingkat pertama dilakukan oleh Pengadilan


Negeri, pada tingkat banding dilakukan oleh Pengadilan Tinggi dan pada tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Peradilan Agama pada tingkat pertama dilakukan oleh Pengadilan


Agama, pada tingkat banding dilakukan oleh Pengadilan Tinggi Agama dan pada tingkat kasasi dilakukan ole Mahkamah Agung.

Peradilan Militer pada tingkat pertama dilakukan oleh Pengadilan


Militer, pada tingkat banding dilakukan oleh Pengadilan Tinggi Militer dan pada tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Peradilan Tata Usaha negara pada tingkat pertama dilakukan oleh


Pengadilan Tata Usaha negara, pada tingkat banding dilakukan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dan pada tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung

Kewajiban dan wewenang MA


Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kewajiban dan wewenang MA adalah: Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah UndangUndang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-Undang. Mengajukan 3 orang anggota Hakim Konstitusi Memberikan pertimbangan dalam hal Presiden member grasi dan rehabilitasi

Susunan Mahkamah Agung

Ketua
Mahkamah Agung dipimpin oleh seorang ketua. Ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung, dan diangkat oleh Presiden. Hakim Agung Pada Mahkamah Agung terdapat Hakim Agung sebanyak maksimal 60 orang. Hakim Agung dapat berasal dari sistem karier (hakim), atau tidak berdasarkan sistem karier dari kalangan profesi atau akademisi. Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat, untuk kemudian mendapat persetujuan dan ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden.

2. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi (disingkat MK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersamasama dengan Mahkamah Agung.

Kewajiban dan wewenang MK


Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kewajiban dan wewenang MK adalah: Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji UndangUndang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945

Susunan lembaga MK

Ketua Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim Konstitusi untuk masa jabatan 3 tahun. Masa jabatan Ketua MK selama 3 tahun yang diatur dalam UU 24/2003 ini sedikit aneh, karena masa jabatan Hakim Konstitusi sendiri adalah 5 tahun, sehingga berarti untuk masa jabatan kedua Ketua MK dalam satu masa jabatan Hakim Konstitusi berakhir sebelum waktunya (hanya 2 tahun).

3. Komisi Yudisial

Komisi Yudisial (KY), yang dibentuk melalui UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, merupakan lembaga negara yang oleh Pasal 24B UUD 1945 diamanatkan memiliki beberapa wewenang, yaitu: (i) mengusulkan pengangkatan hakim agung; dan (ii) menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.46 Ketentuan dalam konstitusi tersebut menegaskan bahwa Komisi Yudisial dibentuk untuk melakukan dua fungsi, yaitu pengusulan pengangkatan hakim agung

pengawasan terhadap pelaksanaan pedoman perilaku hakim. Peran yang terbatas tersebut juga tercantum dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Dengan demikian, jelaslah bahwa kewenangan Komisi Yudisal tidak lebih dari apa yang diatur oleh UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Mengenai pengawasan perilaku hakim, Pasal 22 undang-undang tersebut menguraikan tugas Komisi Yudisial dalam melaksanakan tanggung jawab ini, yaitu dengan menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim, dan melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran hakim, serta membuat laporan pemeriksaan dan rekomendasi yang disampaikan kepada Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, dengan tembusan pada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

SELESAI