Anda di halaman 1dari 22

PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA MELALUI PENDIDIKAN PESANTREN Oleh: M. Dawam Rahardjo.

Sebelum tahun 1979-an, pesantren mengandung citra sebagai lembaga pendidikan dan komunitas tradisional dalam pengertian Daniel Lehner yang dilawankan dengan modernitas, bahkan dianggap sebagai penghalang demokratisasi. Sungguhpun demikian, dalam Polemik Kebudayaan 1935-1939, pesantren diwacanakan oleh tokoh kebangsaan, Dr.Soetomo, pendiri Boedi Oetomo, 1908 yang menandai kebangkitan nasional itu, sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia yang perlu dijadikan acuan dalam pengembangan pendidikan nasional di masa Indonesia merdeka. Pemikiran Dr.Soetomo itu mengawali gagasan idealisasi pesantren sebagai lembaga pendidikan maupun komunitas. Dari sudut pemikiran Islam, oleh Deliar Noer dalam bukunya “The Modernist Movement”, tradisionalisme yang dilambangkan oleh pesantren didikotomikan dengan modernisme Islam yang mulai berkembang di awal Abad 20. Dalam konteks organisasi pergerakan Islam di Indonesia, modernism tampil terlebih dahulu dalam ruang publik melalui organisasi Muhammadiyah 1912. Sedangkan tradisionalisme dilembagakan dalam organisasi Nahdhatul Ulama (NU) yang baru didirikan kemudian pada tahun 1926. Terkesan
1

dalam peristiwa itu, bahwa NU yang didukung oleh jaringan lembaga pesantren itu adalah gerakan counter-cultur atau gerakan resistensi terhadap modernisme Islam. Namun sejak tahun 1970-an, muncul lagi perhatian terhadap pesantren yang ditandai dengan sebuah contour-study yang dilakukan oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Sosial Ekonomi) bersama dengan Majalah Tempo yang menghasilkan rekomendasi tentang pengembangan pesantren, tetapi bukan dalam konteks modernisme-tradisionalisme, melainkan melihat pesantren sebagai lembaga civil society, dalam kategori lembaga keagamaan di tingkat akar rumput. Sungguhpun begitu, pada waktu itu belum lahir wacana civil society yang baru muncul kemudian pada dasawarsa ’90-an setelah runtuhnya komunisme Rusia. Karena itu maka program pengembangan pesantren yang dilakukan oleh LP3ES dan kemudian Depertemen Agama, sebenarnya dilakukan dalam konteks modernisasi yang menjadi agenda Pemerintah Orde Baru pada waktu itu. Ketika LP3ES sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) melakukan konsultasi dengan Deperteman Agama, maka Menteri Agama pada waktu itu, Prof.Dr. A. Mukti Ali, memperingatkan agar program pengembangan pesantren menyentuh atau menampilkan agenda
2

M. Karena itu ia mengajurkan pula bahwa pendidikan pesantren hendaknya dilengkapi dengan pendidikan untuk menyiapkan sumberdaya manusia atau memberikan modal kemampuan bagi 3 . karyawan atau pegawai pemerintah. Tokoh pesantren dari Pondok Tebuireng pada waktu itu. yang dalam perkiraannya hanya mencakup 5% saja. Yusuf Hasyim mengemukakan dua pandangan. Menteri Agama menganjurkan dilakukannya program kemasyarakatan yang berarti melihat pesantren bukan sebagai lembaga pendidikan. ia mengingatkan agar program pengembangan pesantren tidak mengarah kepada“perubahan kelamin” pesantren. ia juga mengemukakan bahwa lulusan pesantren itu tidak semuanya menjadi kyai atau ustad. Dengan perkataan lain.“pembaharuan pemikiran Islam” yang dicanangkan oleh Nurcholish Madjid dan agenda perubahan kurikulum pendidikan. Pertama. maksudnya jangan merubah pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Dua agenda itu dinilai Menteri Agama sebagai sensitif yang bisa mengganggu stabilitas-politik yang ingin ditegakkan oleh Pemerintah Orde Baru pada waktu itu. petani. Program Departemen Agama sendiri adalah pendidikan ketrampilan. Namun kedua. pengusaha. melainkan sebagai komunitas atau lembaga kemasyarakatan. sedangkan selebihnya kembali menjadi.

yang mengajurkan pengabdosian nilai-nilai sentral Barat.para lulusan pesentren dalam memasuki dunia kerja di luar lembaga pesantren. Soetomo terabaikan. swadaya dan gotong royong. sebagai lembaga pendidikan yang mengandung dua nilai. Pandangan-pandangan mengenai program pengembangan pesantren itu. mengenai pembangunan masyarakat baru Indonesia lewat pendidikan. untuk memasuki dunia kerja apapun. materialisme dan intelektualisme yang mula-mula ditentang oleh Sanusi Pane yang mengajurkan sebaliknya. Namun visi kedua Dr. sehingga lulusan pesantren. Soetomo pada waktu itu dikemukakan dalam konteks mencari sistem pendidikan Indonesia dalam rangka menyangkal pandangan Sutan Takdir Alisyahbana. yaitu persepsi bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengutamakan budi pekerti atau al ahlaq al karimah. Pandangan Dr. Sebenarnya pendapat kedua Yusuf Hasjim itu mengandung implikasi pembaharuan kurikulum. sebenarnya mengacu kepada persepsi Dr. Soetomo tentang pesantren. masih tetap mengembangkan misi dakwah Islam. Namun intinya adalah tetap mempartahankan pesantren sebagai lembaga pendidikan agama. yaitu 4 . yaitu individualisme. Kedua sebagai lembaga pendidikan rakyat yang mengikuti pola hidup sederhana. Pertama kehidupan kekeluargaan dalam komunitas pesantren.

Visi Dr. Tapi Dr. Dengan perkataan lain. timbul pandangan ketiga. Tapi pandangan Natsir itu adalah cerminan dari pandangan kebudayaan Islam modernis yang bisa 5 . visi Dr. dalam rangka mencapai Indonesia Mulia. Di tengahtengah kontroversi itu. Purbacaraka dan Dr. Rivai. yaitu menawarkan pengembangan budaya Nusantara. Sebenarnya. yang mensintesakan budaya Timur dan Barat. khususnya Jawa. Soetomo itu kemudian melahirkan konsep pendidikan budi pekarti yang cocok untuk dikembangkan melalui sistem pesantren atau ashram yang membentuk pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus komunitas. dikemukakan pula pandangan kebudayaan lain yang berada di luar Polemik Kebudayaan yang direkam oleh Achdiyat Kartamihardja itu. Soetomo yang menantang pandangan Takdir mengemukakan pandangan lain. Padangan kebudayaan itu ditulis oleh Mohammad Natsir yang menulis artikel pada tahun 1935 berjudul :Kebudayaan Islam”.pengembangan nilai-nilai budaya Timur. sebagaimana dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantoro. Konsep Indonesia Mulia itu kemudian diwacanakan sebagai pembangunan manusia sebagai makluk yang dimuliakan oleh Tuhan. Soetomo mengarah kepada konsep pendidikan sebagai pembangunan kebudayaan atau pembangunan manusia dengan pengembangan budi pekarti luhur.

pengembangan 6 . matarialisme dan intelektualisme dan kedua. Namun pada dasarnya pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional berbasis agama. Karena itu menurut LP3ES. Dari tulisan Natsir itulah maka Takdir Alisjahbana berpandangan bahwa Islam itu tergolong sebagai “agama Barat” yang rasional yang intinya adalah nilai ilmu pengetahuan dan nilai ekonomi. aliran kebudayaan Islam. Pertama adalah pendidikan Barat yang berdasarkan nilai-nilai individualisme. maka polemik kebudayaan itu mengandung empat aliran. aliran tradisional Indonesia. Pandangan itu didasarkan pada hasil survey terhadap berbagai pesantren di Indonesia. yaitu pertama. Temuannya adalah bahwa konsep atau model pendidikan itu ternyata tidak bersifat tunggal. LP3ES pada waktu itu memiliki pandangan lain mengenai pengembangan pesantren. Kedua. aliran Barat. melainkan plural. aliran itu mengerucut ke dalam dua model. aliran Timur yang bersumber pada budaya Asia. khususnya India dan Cina. adalah model pendidikan pesantren yang sebenarnya bersifat pluralistis itu. khususnya Jawa dan keempat. yaitu Islam. ketiga.diterima oleh Takdir Alisyahbana yang intinya adalah bahwa nilai-nilai budaya modern itu terkandung dalam ajaran dan filsafat Islam. Dengan demikian. Dalam proses pengembangan konsep sistem pendidikan dewasa ini.

Namun pada dasarnya tetap bersifat plural. termasuk terorisme yang menimbulkan fitnah itu. kondisi pasantren tidak ramah lingkungan dan tidak ramah anak. Ketiga. adalah pola hidup yang patrimonial yang terpusat pada otoritas ulama pemimpin pesantren. kebutuhan dan kepentingan setiap pesantren yang bersangkutan. Chumaidi Syarif Romas menulis sebuah buku yang berjudul provokatif “Kekerasan di Kerajaan Surgawi”. Belakangan. Melalui bantuan material umpamanya. Namun keragaman yang luas itu bisa dikelompokkan. Dalam temuan itu. pesantren 7 . proses pendidikan tidak bersifat partisipatif yang menjadikan santri sebagai obyek pendidikan dan bukan sebagai peserta didik. Tapi LP3ES sebenarnya juga memperoleh temuan lain dalam perspektif modernitas. Kelima. dominasi sistem patriarki yang berlawanan dengan prinsip kesetaraan gender. Kedua. modernisasi di pesantren mengandung beberapa masalah. Karena itu maka citra pesantren sebagai al dar al salam atau wilayah damai terdistorsi menjala lembaga yang melahirkan aksi-aksi kekerasan. pesantren sebenarnya memiliki kemandirian yang lemah yang menghambat pengembangan pesantren dan karena itu pesantren itu tidak cukup otonom dan rawan intervensi dan kooptasi. Pertama.pesantren harus didasarkan pada aspirasi. Keempat.

Karena itu maka dewasa ini timbul berbagai gagasan yang dilaksanakan melalui model pesantren sebagai lembaga civil society yang mengandung beberapa unsur hipotesis. Ketiga. tetapi sifatnya hipotesis. Dengan rumusan lain. yaitu motode pembelajaran partisipatif antara lain yang diperkenalkan oleh Paulo Freire. program andragogi.Temuan-temuan itu membuyarkan persepsi bahwa pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang ideal. Kebenaran inti itu adalah bahwa pesantren adalah suatu lembaga civil society yang dijadikan basis kebudayaan dalam pembangunan bangsa. Tapi temuan itu bisa menjadi dasar ontologis bagi pengembangan pesantren. partai politik atau perusahaan.bisa dikooptasi secara politis oleh pemerintah. Karena itu. Namun idealisasi itu tetap mengandung pembenaran. maka yang terjadi dibalik program pengembangan pesantren itu adalah idealisasi pesantren. Kedua. program ramah lingkungan yang didasarkan pada lingkungan fisik. Pertama adalah program demokratisasi manajeman pesantren yang mengarah kepada pembangunan kapasitas (capacity building) kelembagaan pesantren dan program emansipatif. program pengarus utamaan gender (gender main-streaming) atau program kesetaraan gender. Dari temuan itu lahir beberapa gagasan program. 8 . Keempat.

hubungan seks bebas dan hilangnya sopan-santun dalam pergaulan keluarga dan masyarakat. Keenam. tetapi pengajaran agama itu hanyalah pengajaran pengetahuan agama dan bukan 9 . semacam Pesantren Ngruki Solo. Akhir-akhir ini setelah timbul penilaian bahwa pendidikan nasional yang dilaksanakan melalui sistem sekolah itu berat sebelah dan hanya menekankan aspek intelektualisme yang mengakibatkan kelemahan moral. Dengan terjadinya terorisme yang diduga bersumber dari pesantren. Program ini sudah dilaksanakan di berbagai pesantren yang mengambil dua bentuk. sebagaimana nampak dalam peristiwa tawuran antar pelajar. Dilain pihak dilihat dari lingkungan sosial-budaya timbul gagasan untuk mengembangkan budaya perdamaian yang dilaksanakan pendidikan nilai-nilai yang dihayati (living value education). pengembangan ekonomi masyarakat di lingkungan pesantren yang menjalin kerjasama antara pesantren dan masyarakat. timbul gagasan program deradikalisasi. padahal di sekolah-sekolah umum telah diajarkan pula agama.dikembangkan program pengembangan lingkungam hidup fisik. yaitu pengembangan unit ekonomi milik pesantren dan kedua. untuk menegakkan kemandirian pesantren timbul gagasan untuk mengembangkan ekonomi pesantren.

tetapi tarekat atau tasauf yang memiliki 10 . Ronggowarsito. Tetapi di pesantren ajaran makrifat digali langsung dari ilmu tasauf Timur Tengah. Namun budi pekerti yang dimaksud bukan pendidikan moral agama. misalnya dan terutama Al Gazali yang namanya bukan ma’rifat. apakah pendidikan moral dan etika itu dimaksudkan untuk menggantikan agama. ajaran tasauf telah ditransformasikan menjadi ajaran para pujangga. Jika pendidikan budi pekerti itu merupakan bagian dari pendidikan pesantren. Jalaludin Rahmat telah menyusun sebuah buku tentang Islam sebagai akhlaq yang merupakan alternatif dari Islam sebagai ilmu syari’at. Budi pekerti itu juga dimaksudkan untuk diajarkan di sekolah-sekolah agama yang menimbulkan masalah. misalnya Yosodipuro. maka timbul gagasan untuk mengembangkan pendidikan budi pekerti.pendidikan moral agama. melainkan ajaran agama Islam. Dalam konteks Indonesia. Sumber dari akhlaq itu adalah ilmu tasauf yang dikembangkan melaui metode irfani yang digali dan dikembangkan berdasarkan pengalaman pribadi. melainkan moral dan etika umum yang merupakan bagian sari ilmu filsafat. maka sumbernya bukan filsafat. Dalam kaitan ini. Sosrokartono dan Suryo Mataram yang disebut sebagai ajaran ma’rifat Jawa.

misalnya Naqsabandiyah atau al Maturidiyah yang merupakan aliran tertentu. Dalam gagasan pendidikan budi pekerti sebagai pendidikan karakter bangsa di lingkungan pesantren. Tapi jika yang dimaksud adalah pendidikan karakter bangsa. maka berbagai ilmu keislaman itu perlu terlebih dahulu dikembangkan. Karena itu pesantren pada umumnya tidak mengenal ajaran ma’rifat Jawa. seperti Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga. sehingga ajaran-ajaran itu perlu ditransformasi menjadi teori etika. di lingkungan pesantren perlu dikembangkan 11 . Ajaran ini berbeda dengan etika sebagai cabang filsafat. sumber-sumber ilmu itu menjadi persoalan. Di lingkungan kebudayaan jawa dikenal juga wayang sebagai sumber ajaran moral. Ajaran moral wayang ini. tetapi dewasa ini tidak dikenal di lingkungan pesantren. Di lingkungan pesantren. Misalnya di lingkungan pesantren dibentuk lembaga kajian tentang ilmu ma’rifat Jawa atau filsafat wayang yang kini sedang dikembangkan oleh ahli pewayangan Solihin. tetapi juga ajaran tasauf umum ajaran Imam al Ghazali atau al Busthomi atau al Hallaj. walaupun mulanya dikembangkan oleh para wali. perlu dikembangkan kesenian gamelan dan tembang-tembang Jawa klasik yang mengandung ajaran kema’rifatan Jawa. Dalam pewayangan.banyak aliran. Demikian pula. ajaran moral disisipkan ke dalam episode-episode cerita.

bebas dari ketentuan Kementerian P&K.ilmu pedalangan dan ilmu pewayangan yang menghasilkan dalang-dalang yang bisa mementaskan wayang. maka pesantren memerlukan pembaharuan kurikulum. seni lukis. baik wayang kulit maupun wayang orang. seperti kesusasteraan. Bergandengan dengan pendidikan kesenian. yang membawakan dakwah Islam. pesantren yang merupakan lembaga pendidikan otonom. Disini. seni rupa dan seni teater. tafsir. memiliki peluang untuk menjadi lembaga pendidikan universal. dewasa ini Institut Agama Islam Negeri (IAIN) telah banyak diganti dengan Universitas Islam Negeri (UIN) yang menyelenggarakan pendidikan universal? Dengan demikian. mengingat sistem pendidikan berasrama yang diselenggarakan. Namun yang perlu diperhatikan pula adalah. sehingga kurikulumnya bisa lebih lengkap dari 12 . Dalam pesantren dapat pula dikembangkan berbagai pendidikan kesenian modern yang mencakup liberal art Barat. jika ingin menjadi lembaga pendidikan universal. seperti kalam. dalam pesantren perlu pula dikembnagkan olah raga yang mengembangkan bibit-bibit atlet. hadist fiqih yang menghasilkan bibit-bibit sarjana agama? Sementara itu. apakah pesantren tetap dijaga menjadi lembaga pendidikan agama yang mengajarkan hanya ilmuilmu keislaman tradisional.

berbeda dengan sekolah atau madrasah. Kedua. ukhuwah dan amar ma’ruf. ciri kepemimpinan adalah. Dalam al Qur’an. Masalahnya adalah. Lebih dari itu. nahi munkar. Tapi lebih-lebih lagi. Soetomo. musyawarah. Dengan argumen itu. maka pesantren punya potensi besar untuk menjadi sebuah lembaga pendidikan universal dan pendidikan hidup yang membentuk karakter bangsa. ta’aruf. Konsep kepemimpinan Islam itu merupakan suatu konsep 13 . Dan jika memiliki. bersangkutan dengan masalah krisis kepemimpinan dan gejala negara gagal. dalam sebuah komunitas kekeluargaan. adalah akhlaq yang mulia (al khuluq al adhim atau al akhlaq al karimah. Karena itu maka salah satu unsur karakter bangsa adalah kepemimpinan.lembaga sekolah dan madrasah. amanah. apa ciri-cirinya ? Pendidikan karakter yang dewasa ini berada dalam ruang wacana. seperti yang dipahami oleh Dr. yang menggabungkan sistem pengajian kitab dan klasikal. pasantren mampu mengakomodasi pendidikan hidup. Dan ketiga. apakah yang dimaksud dengan “karakter bangsa”? Apakah bangsa Indonesia itu memiliki karakter yang khas. pertama memiliki nilai-nilai keutamaan seperti khilafah. pesantren juga masih tetap bisa dipertahankan menjadi lembaga pendidikan agama Islam tradisional. keteladanan ( al uswah al hasanah).

Pendidikan moral Pancasila itu didasarkan pada tafsir Pancasila yang dilakukan oleh suatu lembaga yang bernama Badan Pendidikan. Dan di pasantren. Dengan demikian. tetapi hanya memiliki potensi yang paling besar. Namun demikian. Jika itu yang dimaksud. maka pada zaman Orde Baru pernah dilaksanakan pendidikan moral Pancasila. Tapi pendidikan Pancasila atau pendidikan moral Pancasila itu kemudian dihapus. maupun kursus-kursus. karena dinilai sebagai program indoktrinasi politik Pemerintah Orde Baru yang otoriter opresif. Pengembangan dan Pengamalan Pancasila (BP4). konsep kepemimpinan Islam itu sendiri belum dirumuskan. maka dalam pesantren dewasa ini belum ada pendidikan karakter. isu karakter bangsa itu berkaitan dengan nilai-nilai kepribadian bangsa yang mengacu kepada pandangan hidup dan ideologi bangsa. dibanding dengan pendidikan sekolah dan madrasah klasikal tanpa sistem asrama. baik melalui sekolah. yaitu Pancasila.dasar yang paripurna dalam pendidikan karakter bangsa. Pendidikan melalui indoktrinasi itu 14 . Bahkan kurikulum pendidikan kepemimpinan sui-genaris itu sendiri belum ada rumusannya. Karena itu ada yang menafsirkan karakter bangsa itu adalah kepribadian Pancasila. belum ada pendidikan kepemimpinan secara formal maupun informal. Namun demikian.

15 . Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika yang sudah menjadi konsensus kebangsaan. berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. yaitu berdaulat di bidang politik. Demikian pula ada yang menafsirkan bahwa pendidikan karakter bangsa itu itu sebenarnya sama dengan pendidikan kewarga-negaraan (civic education)untuk membentuk warganegara yang tahu dan sadar atas hak dan kewajibannya. yaitu Pancasila. UUD ’45. Pengertian alternatif yang lain adalah. bahwa pendidikan karakter bangsa itu merupakan satu dari dua komponen pembangunan. Pendidikan karakter bangsa ini juga berkaitan dengan konsep Trisakti. Karena itu yang dimaksud dengan pendidikan karakter dewasa ini adalah pendidikan yang membebaskan (libarative education). Disini yang menjadi orientasi adalah UUD dan sekarang ini mengandung 4 komponen. yaitu merupakan disatu kesatuan konsep yang terintegrasi yang setiap komponennya mendukung. yaitu pembangunan bangsa (nation building) dan pendidikan kepribadian (charakter-building) yang dikemukakan oleh Bung Karno pada dasawarsa ’50-an.dinilai justru sebagai represi mental yang tidak mengembangkan kepribadian atau karakter yang sifatnya harus membebaskan.

Ketiga nilai suigeneris itu dikembangkan melalui proses dialaktis Hegelian. Namun demikian. Di Barat. Pancasila sebenarnya mirip dengan gagasan Revolusi Prancis itu. hingga 67 tahun Indonesia merdeka. Kedua pengembangan konsep “masyarakat baik” (Good society). Pancasila sebagai falsafah atau pandangan hidup bahgsa Di Amerika Serikat(AS). misalnya idealisme dan Pragmatisme.Jika konsep terakhir itu yang dimaksud dengan karakter bangsa. Untuk memgembangkan dan merumuskan konsep itu. Inti dari konsep good society adalah prinsip kebebasan. Partama konsep Amerikanisme atau filsafat Amerika. dikembangkan dua konsep. Kedua. Hal ini disebabkan karena tidak kuatnya 16 . Pancasila sebagai gagasan filsafat yang menghasilkan filsafat Pancasila sebagai filsafat sosial. egalite dan fraternite. Pertama. maka hingga kini konsep itu belum kongkret dan baru merupakan visi atau citacita atau idealitas. masih diperlukan dua pengembangan pemikiran. dan pluralisme yang didasarkan pada realitas masyarakat AS sebagai masyarakat majemuk (plural society). lima sila atau nilai sui-generis itu belum dikembangkan secara signifikan seperti halnya gagasan Revolusi di Barat. yaitu liberte. filsafat sosial dikembangkan berdasarkan tiga gagasan Revolusi Prancis.

yaitu Tan Malaka. tetapi hanya menyangkut anggota Badan Penyelidik Usaha persiapan Kemerdakaan Indonesia (BPU-PKI) yang menghasilkan konsep Pancasila dan UUD 1945. dengan konsekuensi pengembangan pemikiran mengenai konsep pendidikan karakter bangsa dengan ciri. 17 . Kedua melakukan langkah pro-aktif dengan mengembangkan pemikiran itu sendiri di pesantren. Tapi filsafat Nusantara yang dimaksud itu. Tapi ada dua pilihan yang bisa dilakukan oleh pasantren.tradisi filsafat di Indonesia. Hatta dan Sjahrir. Karena itu maka gagasan Romo Muji Sutrisno lebih historis-inklusif. sebagaimana ditulis oleh Romo Muji Sutrisno adalah kajian pemikiran yang digagas oleh para tokoh pendiri bangsa. maka pendidikan karakter bangsa di pesantren. Atas dasar observasi itu. Pertama menunggu sambil mengikuti perkembangan pemikiran mengenai karakter bangsa. timbul gagasan untuk mengembangkan filsafat Nusantara sebagai filsafat social. Sjahrir. Intelektual muda. Sukarno. Yudi Latief juga telah menulis buku yang menggali Pancasila dari para pendiri bangsa. karena tidak masuk sebagai anggota BPU-PKI. Namun baru-baru ini. Dalam kelompok itu tidak termasuk gagasan Tan Malaka dan St. masih belum bisa segera dilaksanakan. memberikan kontribusi filsafat etika Islam tentang kepribadian.

Dari pemiir Islam muncul tafsir Pancasila yang intinya adalah sistem nilai yang bersumber dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Pencarian ini umumnya mengacu kepada pemikiran Bung Karno sebagai “penggali Pancasila”. yaitu Sosionasionalisme. Karena itu usaha itu perlu dilanjutkan dengan kajian mengenai pandangan Nurcholish Madjid mengenai setiap sila. Sedangkan Hatta menafsirkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar moral yang menjiwai sila-sila yang lain. 1945. Kajian ini memberi sumbangan terhadap wacana filsafat Pancasila. Sosio demokrasi dan Monoteisme. yaitu menganggap Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sumber nilai.Dalam pemikiran mengenai tafsir Pancasila sebagai filsafat sosial mula-mula dicoba ditemukan inti ajaran Pancasila. Dan Tri Sila itu masih bisa diperas lagi menjaidi Eka Sila. yaitu Gotong Royong. melalui pidatonya pada tanggal 1 Juni. Pancasila bisa diperas menjadi Tri Sila. seorang sarjana UIN menulis sebuah buku yang membahas pemikiran Nurcholish Madjid mengenai Kemanusiaan (humanisme) dalam sila kedua Pancasila. Kemudian Nurcholish Madjid. Tokoh pembaharu 18 . sebagai konsep persatuan yang dinamis. seorang cendekiawan Muslim membuat tafsar Pancasila yang tersendiri.Tapi baru-baru ini. Dari pandangan Bung Karno. tetapi tujuannya adalah keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.

maka kalangan cendekiawan Muslim maupun non-Muslim perlu melakukan kajian tentang pemikiran Nurcholish Madjid di sekitar filsafat Pancasila. Karena itui. Dalam rangka memberikan sumbangan terhadap kajian filsafat Pancasila ditinjau dari ajaran Islam. Dari penafsiran Djohan Effendi dalam bukunya “Pesan-pesan al Qur’an” itu. demokrasi dan keadilan. konsekuansi ibadah. Tapi dari pemikiran Kristen tauhid sosial itu dapat ditafsirkan sebagai konsekuensi sosial dari ajaran tauhid.pemikiran Islam itu memang telah menulis berbagai artikel yang menyangkut gagasan tauhid. sebagai bagian dari filsafat Nusantara. gagasan tauhid sosial bisa dimulai dengan tafsir surat al Ma’un. Pertama konsep hubungan antara kayakinan agama dengan tindakan sosial. surat al Ma’un berisikan konsep keberagaman yang terdiri dari spiritualitas dan sosialitas. Dan ketiga keberagaman yang menimbulkan inovasi untuk menemukan dan menciptakan barang-barang yang berguna atau keberagaman dalam perspektif Utilitarianisme 19 . Inti surat al Ma’un itu mengandung tiga konsep. Amien Rais pernah mengemukakan gagasan yang bertajuk “Tauhid Sosial”. Tapi gagasan itu belum jelas. Menurut Djohan Effendi. kebangsaan. perikemanusiaan. Kedua. khususnya sholat dengan perilaku manusia atau akhlaq. M.

Dalam pemikiran filsafat Islam. sebagaimana penafsiran Djohan Effendi yang menfasirkan surat al Ma’un sebagai mangandung dua komponen tunggal. Pemikiran tentang tauhid sosial bisa memberikan sumbangan Islam dalam pembentukan karakter bangsa.yang merumuskan kebenaran sebagai penciptaan hal-hal yang memberi manfaat yang sebesarbesarnya bagi sebanyak mungkin manusia. yaitu yang memiliki tiga karakter. pertama. yaitu spiritualitas dan sosialitas. Karena itu dalam perspektif Islam. Sementara konsep manfaat dalam perspektif Unitarianisme hanya bersifat matarial dalam pengertian al ma’un bersifat material dan spiritual. karakter bangsa dalam perspektif Islam adalah manusia yang bertaqwa. dapat dicatat konsep al Farabi tentang masyarakat utama ( al madinah al fadhilah) Dalam konsep Al Farabi. Surat al Ma’un itu. Dalam al Qur’an disebutkan bahwa manusia yang paling mulia disisi Tuhan adalah mereka yang bertaqwa. dalam pokok pikiran yang ketiga itu dapat dipahami sebagai tafsir keberagamaan dalam perspektif Unitarianisme yang menafsirkan kebenaran sebagai manfaat atau kebahagiaan manusia. cerdas atau berpendidikan. kedua produktif atau trampil dan 20 . kualitas suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas warganya. Al Farabi mengemukakan gagasan mengenai konsep warga yang baik.

maka karakter bangsa terletak pada kecerdasan. Sedangkan kebebasan yang dimaksud mencakup kebebasan dalam proses (well-being freedom) dan kebebasan sebagai kesempatan (agency freedom). pembangunan dimaknai sebagai perluasan kebebasan (development as freedom). Sedangkan dalam pengertian kedua. Pertama menciptakan suasana kebebasan dan demokrasi dalam komunitas pesantren. Karena itu dalam perspektif pemikiran Al Farabi. Kedua 21 . Dalam pengertian pertama. harus dilakukan pertama dengan menciptakan lingkungan yang bebas atau demokratis. Karakter bangsa itu merupakan bagian terpenting atau sentral dalam struktur kemasyarakatan. Jika bagian itu jelek. Dan dalam lingkungan yang bebas atau demokratis itu. kebebasan ditentukan oleh kapabilitas manusia itu. Karena itu maka perluasan kebebasan sebagai pembangunan. Dalam pemkiran Amartya Kumar Sen. maka akan baik pula masyarakat. Dan jika baik bagian itu. produktivitas dan ketaqwaan.ketiga bertaqwa. maka akan jelek pula masyarakat itu. pemenang Hadiah Nobel tahun 1998. Mengikuti pandangan Amartya K. maka kapabilitas manusia bisa dibangun.Sen maka pendidikan karakter bangsa dilingkungan pesantren dapat dilakukan melalui dua jalur. kebebasan itu dibatasi bahkan ditentukan oleh lingkungan.

pembangunan manusia. Pertama pengembangan lingkungan pesantren baik lingkungan fisik maupun sosial. produktif dan bertaqwa. yaitu cerdas. Hasilnya sudah dapat diperkirakan. hakekat dari Sudah tentu sebelum menarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter bangsa bisa dilakukan melalui pesantren atau dalam model pesantren. menurut pengertian Abdurrahman Wahid. yaitu terdapatnya kesenjangan antara idealitas dan realitas. maka perlu dilakukan kajian evaluatif Pertama mengenai komunitas pesantren sebagai subculture. Menghadapi fakta itu maka pendidikan karakter bangsa melalui pesantren masih harus dipersiapkan dan dikembangkan. Kedua evaluasi tentang hasil pendidikan pesantren dalam pembentukan manusia menurut al Farabi. 22 . Kedua menyempurnakan sistem pendidikan pesantren dari sistem pendidikan agama tradisional menjadi sistem pendidikan universal yang sangat dimungkinkan dalam model pesantren itu. langkah itu mencakup dua jalur. sebagai pembangunan karakter bangsa. Dalam perspektif Sen. Namun yang diperlukan adalah langkah-langkah pragmatis.