Anda di halaman 1dari 28

Created by ;

PIANIKE WIDIAWATI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN

•Perubahan Aliran Darah Ginjal Pada Lanjut Usia

.

.

Penurunan fungsi ginjal mulai terjadi pada saat seseorang mulai memasuki usia 30 tahun dan 60 tahun. . fungsi ginjal menurun sampai 50% yang diakibatkan karena berkurangnya jumlah nefron dan tidak adanya kemampuan untuk regenerasi.

1. 4. Renal Plasma Flow (RPF) dan Glomerular Filtration Rate (GFR) menurun sejak usia 30 tahun. 2. Kreatinin darah normal karena produksi yang menurun serta massa otot yang berkurang. Maka yang paling tepat untuk menilai faal ginjal pada lanjut usia adalah dengan memeriksa Creatinine Clearance. . Keseimbangan elektrolit dan asam basa lebih mudah terganggu bila dibandingkan dengan usia muda. Fungsi konsentrasi dan pengenceran menurun. 3. Ureum darah normal karena masukan protein terbatas dan produksi ureum yang menurun.

Hal ini dapat disebabkan karena total aliran darah ginjal dan pengurangan dari ukuran dan jumlah glomerulus.Pada usia lanjut terjadi penurunan GFR. menunjukkan bahwa GFR tetap stabil setelah usia remaja hingga usia 30-35 tahun. kemudian menurun hingga 8-10 ml/menit/1.73 m2/dekade. . Pada beberapa penelitian yang menggunakan bermacam-macam metode.

.

.

.Aliran plasma ginjal yang efektif (terutama tes eksresi PAH) menurun sejalan dari usia 40 ke 90-an. Umumnya filtrasi tetap ada pada usia muda. Transpor maksimal tubulus untuk tes ekskresi PAH (paraaminohipurat) menurun progresif sejalan dengan peningkatan usia dan penurunan GFR. 80 dan 90 tahunan. kemudian berkurang tetapi tidak terlalu banyak pada usia 70.

Pusat-pusat yang mengatur perasaan haus timbul terletak pada daerah yang menghasilkan ADH di hypothalamus. . untuk mensekresi sejumlah urin atau kehilangan air dapat meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler dan menyebabkan penurunan volume yang mengakibatkan timbulnya rasa haus subjektif.Pada lanjut usia.

.

Inkontinensia Urine. Inkontinensia Fekal dan Konstipasi .

depresi. infeksi. stres. saluran kemih berulang.pengeluaran urine secara tak terkendali dan atau tidak pada tempatnya sehingga menyebabkan timbulnya masalah sosial dan higiene . dan tak kalah pentingnya biaya perawatan yang tinggi. .yang pada akhirnya mengakibatkan isolasi sosial. luka lecet.

atau hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui spingter akibat kerusakan sfingter.keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal mengalami proses pengeluaran feses tak disadari. .

biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar .Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar.

Inkontinensia Urine Inkontinensia Fekal .

retensi urin. poliuri dan obat-obatan.Biasanya berkaitan dengan sakit yang sedang diderita atau masalah obat-obatan yang digunakan (iatrogenik). retriksi mobilitas. infeksi.  .  Macam penyebab : delirium.

 .  Biasanya berlangsung lama.Tidak berkaitan dengan penyakit-penyakit akut ataupun obat-obatan.

dan gangguan kontraksi kandung kemih akibat gangguan persyarafan dan faktor obat-obatan. kistokel. bersin. Tipe Stres (Tekanan)  pengeluaran urine akibat meningkatnya tekanan intraabdominal. Tipe Urgensi  ketidakmampuan menunda berkemih terdapat gangguan pengaturan rangsang dan instabilitas dari otot-otot detrusor kandung kemih.   penyebab tersering pada lansia < 75 tahun.  4. faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan untuk pergi ke kamar mandi dan faktor psikologik.  penyebab tersering antara lain demensia berat. berolahraga. seperti saat batuk.1. 3.dll umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul. Tipe Luapan (Overflow)  karena desakan mekanik akibat kandung kemih yang sudah sangat teregang. 2. Tipe Fungsional  keluarnya urine secara dini karena gangguan diluar saluran kemih.  . sering melahirkan. faktor predisposisi : estrogen ↓. masalah muskuloskletal yang berat.  penyebab : pembesaran prostat.

3. proktitis. karcinoma kolon/rektum). Th/ : sesuai penyebab. Inkontinensia alvi akibat konstipasi (paling sering) Inkontinensia alvi simtomatik. divertikulitis.1. 4. yang berkaitan dengan penyakit pada usus besar (GE. kolitis-iskemik. dan apabila tetap tidak dapat teratasi maka diusahakan dikontrol dengan obat yang menyebabkan obstipasi. kolitis ulceratif. Inkontinensia alvi karena hilangnya refleks anal. Inkontinensia alvi akibat gangguan kontrol persarafan dari proses defekasi (inkontinensia neurogenik). 2. disertai kelemahan otot seran-lintang. .

2. penurunan kekuatan dan tonus otot. 2. penumpukan sensasi saraf.Banyak lansia mengalami konstipasi sebagai akibat dari : 1. penurunan motilitas. tidak sempurnanya pengosongan usus. kurang aktivitas. atau kegagalan dalam menanggapi sinyal untuk defekasi.  Konstipasi merupakan masalah umum yang disebabkan oleh : 1. 3. • .

.

Inkontinensia Fekal dan Konstipasi .Inkontinensia Urine.

4. latihan otot dasar panggul. Tehnik (intervensi) perilaku al: bladder training. kateter luar. kateter menetap. 3.1. Pengobatan farmakologis obat yang digunakan tersebut untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dan memudahkan pengosongan lambung dan dipilih sesuai dengan jenis inkontinensia urin itu sendiri. kateter intermiten. . penile clamps.dll 2. Pembedahan berguna pada inkontinensia urin tipe stres dan overflow dan pasien dengan kelainan saluran kemih bawah. Modalitas lain : pembalut serat. habit training. prompt voiding. pessaries.

dan pelembut tinja) serta mengawasi kondisi medis yang ada.1.  Spesifik : berupa konstipating agent (loperamide. Tindakan pengobatan: pengelolaan secara klinis. 2. Tindakan pencegahan  Umum : berupa bulks agent dan cairan. stimulasi elektrik dan tindakan bedah. . terapi biofedback. laksatif. serta pemograman kebiasaan defekasi rutin.

Non-Farmakologi a) Cairan b) Serat c) Bowel training d) Latihan jasmani e) Evaluasi penggunaan obat 2. Farmakologi a) Pencahar pembentuk tinja (pencahar bulk/bulk laxative) b) Pelembut tinja c) Pencahar stimulan d) Pencahar hiperosmolar e) Enema .1.