Anda di halaman 1dari 13

Intrauterin Intrapartum Laktasi HIV TIDAK MENULAR MELALUI BARIER PLASENTA .

dan defisiensi vitamin A ◦ Masa kehamilan. dan cara persalinan   Pemberian profilaksis obat antiretroviral Pemberian ASI . lamanya ketuban pecah. Usia kehamilan   Beban virus di dalam darah Kondisi kesehatan ibu ◦ Transmisi terbesar terjadi saat ibu hamil tua dan waktu persalinan  Faktor yang berhubungan dengan persalinan ◦ Kebiasaan merokok. penggunaan obat-obatan terlarang.

selama persalinan. rahasia. Pencegahan PRIMER ◦ Pencegahan pada wanita usia subur ◦ Mendeteksi pengidap HIV secara dini dengan konseling sukarela. dan pemeriksaan darah  Pencegahan SEKUNDER ◦ Pemberian antiretroviral secara profilaksis  1994  pemberian obat tunggal zidovudine sekal UK 14 minggu. dilanjutkan 6 minggu kepada bayi  Saat ini  satu kali Nevirapine pada saat persalinan kepada ibu dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian satu kali pada bayi pada usia 48-72 jam setelah lahir dapat lebih efektif daripada pemberian dengan zidovudine .

◦ Pertolongan persalinan oleh petugas terampil universal precaution ◦ Pembersihan jalan lahir  Meminimalkan prosedur invasif dan menerapkan  Pembersihan jalan lahir dengan menggunakan chlorhexidine dengan konsentrasi cukup pada saat intrapartum diusulkan sebagai salah satu cara yang dapat menurunkan insidens transmisi HIV intrapartum antara ibu ke anak. Kombinasi dua obat antiretroviral atau lebih ternyata sangat mengurangi transmisi vertikal apalagi bila dikombinasi dengan persalinan secara SC serta tidak memberikan ASI. tindakan membersihkan jalan lahir ini dapat menurunkan morbiditasibu dan bayi serta mortilitas bayi . Selain menurunkan transmisi vertikal HIV.

◦ Persalinan dengan seksio seksarea  Persalinan seksio seksarea yang dilakukan sebelum ketuban pecah mempunyai kejadian transmisi vertikal jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan kelahiran per vaginam.8%. Bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea mempunyai risiko transmisi hanya 1. . sedangkan yang dilahirkan per vaginam adalah 10.6%.

1. . Pemberian ARV sebaiknya dimulai sejak UK 14 minggu atau sesegera mungkin bila ibu datang terlambat atau sudah mendekati masa persalinan. Semua wanita hamil yang terinfeksi HIV yang tidak membutuhkan ARV untuk dirinya sendiri membutuhkan ARV untuk mencegah transmisi HIV ke bayinya.

sd-NVP pada awal persalinan*. (Rekomendasi kuat. AZT + 3TC selama masa persalinan*. Untuk ibu: Untuk semua wanita hamil yang terinfeksi HIV. profilaksis ARV opsi A tdd:     AZT setiap hari masa antepartum. namun bukti minimal) * sd-NVP dan AZT+3TC intra.2. AZT 2x1 + 3TC selama 7 hari postpartum*.dan post-partum dapat diabaikan jika ibu mendapatkan lebih dari 4 minggu terapi AZT selama kehamilan .

bukti mendukung) (Rekomendasi kondisional. profilaksis ARV maternal sebaiknya disertai dengan sd-NVP saat kelahiran dan pemberian NVP or AZT harian mulai saat lahir sampai usia 4-6 minggu. bukti minimal) . ◦ Pada bayi yang tidak menyusu.Untuk bayi: ◦ Untuk bayi yang menyusu. profilaksis ARV maternal sebaiknya disertai dengan sd-NVP saat kelahiran dan kemudian pemberian NVP setiap hari kepada bayi mulai saat lahir sampai seminggu setelah berhenti menyusu. (Rekomendasi kuat.

profilaksis ARV opsi B berisi tiga kombinasi obat ARV yang ditujukan untuk wanita hamil mulai UK 14 minggu sampai satu minggu setelah laktasi dihentikan. Untuk ibu: Untuk semua ibu hamil yang terinfeksi HIV yang tidak memungkinkan untuk pemberian ART. bukti mendukung) . Rekomendasi regimen meliputi:     AZT AZT AZT TDF + + + + 3TC 3TC 3TC 3TC + LPV/r 3 + ABC4 + EFV (atau FTC) + EFV (Rekomendasi kuat.3.

(Rekomendasi kondisional. bukti minimal) Pada bayi yang tidak menyusu. profilaksis triple ARV maternal sebaiknya disertai dengan pemberian AZT atau NVP setiap hari mulai lahir sampai usia 4-6 minggu. bukti sangat minimal) . profilaksis triple ARV maternal sebaiknya disertai dengan pemberian AZT atau NVP setiap hari sejak lahir sampai usia 4-6 minggu.For the infant Pada bayi yang menyusu. (Rekomendasi kuat.