Anda di halaman 1dari 47

I. KONSEP TEORI KETUBAN PECAH DINI (KPD) A.

Pengertian KPD Ada beberapa pengertian dari ketuban pecah dini (KPD) antara lain: 1. Ketuban Pecah Dini adalah ketuban yang pecah sebelum awitan persalinan. 2. Ketuban Pecah Dini (KPD) atau spontaneous/early/premature

ruptured of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multi kurang dari 5 cm.(Mochtar, Rustam. 1998) 3. Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan mulai, dan di tunggu 1 jam belum dimulainya tanda persalinan. (Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998) 4. Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001) 5. Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. (Saifudin,2002) 6. Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.ketuban pecah dini di sebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uteri atau kedua factor tersebut.berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina servik (Sarwono Prawiroharjop,2002).

B. Etiologi KPD 1. Serviks inkompeten. 2. Ketengan rahim berlebihan (overdistensi) seperti pada kehamilan ganda, hindramnion, gemeli, ataupun tumor. 3. Kelainan letak janin dalam rahim seperti letak sungsang, letak lintang. 4. Kemungkinan kesempitan panggul seperti perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP (pintu atas panggul). 5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban. 6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah. 7. Sefalopelvik disproporsi. 8. Gemeli. 9. Kehamilan preterm. 10.Trauma (misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam / VT, maupun amnosintesis) 11.Riwayat KPD pada kehamilan sebelumnya. C. Manifestasi Klinis / Tanda Dan Gejala 1. Keluar air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning, hijau, atau kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak. 2. Janin mudah diraba. 3. Pada saat VT selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering. 4. Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaup ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering. 5. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

D. Patofisiologi KPD Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut : 1. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi. 2. Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. E. Komplikasi KPD 1. Pada Ibu a. Persalinan Prematur b. Infeksi intrapartal/dalam persalinan misalnya, Korioamnionitis, Endometritis. ka terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas c. Infeksi puerperalis/ masa nifas d. Dry labour/Partus lama e. Perdarahan post partum f. Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC) g. Morbiditas dan mortalitas maternal 2. Pada Janin a. Infeksi: Septikemia, Pneumonia, Omfalitis, Meningitis. b. Gawat janin: Hipoksia Dan Asfiksia akibat dari oligohidramnion yang menekan tali pusat. Hipoksia dan Asfiksia sekunder (kekurangan Mengakibatkan oksigen kompresi tali pusat, pada prolaps uteri, bayi) dry

labour/pertus lama, apgar score rendah, ensefalopaty, cerebral palsy, perdarahan intrakranial, renal failure, respiratory distress. c. Distosia ( partus Kering). Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau persalinan kering d. Sindroma Deformitas Janin. Terjadi akibat oligohidramnion. Diantaranya terjadi hipoplasia paru, deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT) e. Tali pusat menumbung (prolaps tali pusat). f. Prematuritas. Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah respiratory distress sindrome, hypothermia, neonatal feeding problem, retinopathy of premturity, intraventricular hemorrhage, necrotizing enterocolitis, brain disorder (and risk of cerebral palsy), hyperbilirubinemia, anemia, sepsis. g. Morbiditas dan mortalitas perinatal. F. Penatalaksanaan KPD 1. Konservatif a. Rawat rumah sakit dengan tirah baring. b. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. c. Umur kehamilan kurang 37 minggu. d. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari. e. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin. f. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tandatanda persalinan.

2. E. Pengertian Secsio sesarea adalah pebedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. Aktif Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. h. Gant) . Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. 1999) Kelahiran sesarea adalah alternatif dari kelahiran vagina bila keamanan ibu atau janin terganggu. (Marilyn. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan. Doengoes) Persalinan sesarea adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histrotomi) (Cunningham. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan. b. (Kapita selekta. infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.g. Salah satu teknik pembedahan secsio sesarea adalah secsio sesarea transperitonialis profunda yaitu pembedahan dengan melakukan insisi pada segmen bawah rahim. Induksi atau akselerasi persalinan. Apabila pelepasan air berlangsung terus. a. Bila ditemukan tanda tanda inpartu. Donald. II. Mc. c. KONSEP TEORI SECSIO SESAREA TRANSPERITONIAL PROFUNDA A. lakukan terminasi kehamilan.

2.Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. Ketidakmampuan ibu mengejan 12. Kelainan letak janin 6. Disproporsi chepalopelvik atau kelainan panggul. b. Plasenta previa 3. Letak lintang 1) Bila ada kesempitan panggul maka secsio sesarea adalah cara yang terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.. Partus lama (prolonged labor) 9. Malpresentasi janin a. Indikasi 1. 3) Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara-cara lain. Pernah seksio sesarea sebelumnya 5. Rupture uteri mengancam 8. Partus tak maju (obstructed labor) 10. 2) Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan secsio sesarea walau tidak ada perkiraan panggul sempit. Letak bokong . Hipertensi 7. Distosia serviks 11. (Mochtar. R. Gawat janin 4. 1998) B.

Apabila janin terbukti menderita cacat seperti hidrosepalus. Ringan : Dengan kenaikan suhu beberapa hari saja b. 2002) D. oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa. anensepalus dan lain-lain. disertai dehidrasi atau perut sedikit kembung . Sedang : Dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi. bila reposisi tidak berhasil. Presentasi rangkap. apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus atau apabila terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. (Hanifa wiknjosastro. e. dianjurkan secsio sesarea bila 1) Janin pertama letak lintang atau presentasi bahu 2) Bila terjadi interlock 3) Distosia oleh karena tumor 4) Gawat janin (Mochtar. Kontraindikasi Perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun untuk kepentingan anak. Infeksi puerpuralis (nifas) a. d. 1998) C. Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dan caracara lain tidak berhasil.Secsio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada: 1) Panggul sempit 2) Primigravida 3) Janin besar dan berharga c. R. Komplikasi 1. Gemelli.

kemungkinan rupture uteri spontan kurang atau lebih kecil 2. uterine putus. 2.c. dan bawah. 4. Luka kandung kemih. Berat : Dengan peritonitis. . E. Kekurangan a) Luka dapat melebar ke kirim. sepsis dan ileus paralitik. b) Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi. emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi. sehingga dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak. kanan. Perdarahan. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama. Kelebihan Dan Kekurangan Seksio Sesarea Transperitonialis Profunda 1. Kelebihan a) Penjahitan luka lebih mudah b) Penutupan luka dengan repetonialisasi yang baik c) Tumbang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum d) Perdarahan kurang e) Dibandingkan dengan cara korporal. disebabkan karena: a) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka b) Atonia uteri c) Perdarahan pada placenta bed 3. Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan mendatang. sehingga dapat menyebabkan a.

posisi uterus diperiksa dahulu dengan memperhatikan ligamenta rocundo kanan dan kiri. Jika dialami ksulitan untuk melahirkan kepala janin dengan tangan. Diusahakan lahirnya kepala melalui lubang insisi. Uterina dibuka dan insisi diteruskan melintang jauh ke lateral. Diberikan suntikan 10 satuan oksitosin dalam dinding uterus/ intravena. Diadakan insisi pada dinding perut pada garis tengah dari simfisis sampai beberapa cm di bawah pusat. Kemudian kandung kencing depan uterus didorong ke bawah dengan jari.F. Teknik Secsio Sesarea Transperitonialis Profunda Teknik Secsio Sesarea Transperitonealis Profunda Daver Catheter di pasang dan wanita berbaring dalam letak tredelenburg ringan. dapat dipasang dengan cunan boerma. Karena uterus dalam kehamilan tidak jarang memutar ke kanan. sebelum membuat insisi. kemudian luka yang terakhir ini dilebarkan dengan gunting berujung tumpul mengikuti sayatan yang telah dibuat terlebih dahulu. Peritoneum pada dinding uterus depan dan bawah dipegang dengan pinset. Sesudah kepala janin badan terus dilahirkan muka dan mulut terus dibersihkan. pinggir luka insisi dipegang . dipasang spekulum perut dan lapangan operasi dipisahkan dari rongga perut dengan satu kasa panjang atau lebih. Kemudian spekulum perut diangkat dan lengan dimasukkan ke dalam uterus di belakang kepala janin dan dengan memegang kepala dari belakang dengan jari-jari tangan penolong. Sekarang ketuban dipecahkan dan air ketuban yang keluar dihisap. Setelah peritorium dibuka. plikovesitas. di tengah-tengah insisi diteruskan sampai dinding uterus terbuka dan ketuban tampak. Jika dialami kesulitan untuk melahirkan kepala janin lubang insisi. Pada segmen bawah uterus yang sudah tidak ditutup lagi oleh peritoneum serta kandung kencing yang biasanya sudah menipis. diadakan insisi melintang selebar 10 cm dengan ujung kanan dan kiri agak melengkung ke atas untuk menghindari terbukanya cabang-cabang arteria uterine. Tali pusat dipotong dan bayi diserahkan pada orang lain untuk diurus.

Anestesia . lapisan kedua terdiri atas jahitan menerus sehingga luka pada miomtrium tertutup rapi. Keuntungan pembedahan ini: a. Tangan untuk sementara dimasukkan ke dalam rongga uterus untuk mempermudah jahitan luka. Pada umumnya keuntungan lebih besar dari kerugian. Perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak b.dengan beberapa Cunam ovum dan plasenta serta selaput ketuban dikeluarkan secara manual. b. G. Kerugiannya adalah karena persalinan belum dimulai. Parut pada uterus umumnya kuat. karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami konraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna. Bahaya peritonitis tidak besar c. tangan ini diangkat sebelum luka uterus ditutup sama sekali. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatiakan Dalam SC a. segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan dan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan perarahan karena uterus belum mulai dengan kontraksinya. Secsio sesarea efektif Secsio searea ini direncanakan lebih dahulu karena sudah diketahui bahwa kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan itu. sehingga bahaya ruptura uteri dikemudian hari tidak besar. Keuntungannya adalah bahwa waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan segala persiapan dapat dilakukan dengan baik. Jahitan otot uterus dilakukan dalam dua lapisan yaitu lapisan pertama terdiri atas kahitan simpul dengan cagut dan dimulai dari ujung yang satu ke ujung yang lain (jangan mengikutsertakan desidua).

Transfusi darah Pada umumnya perdarahan pada seksio sesarea lebih banyak dari pada persalinan pervagina. intraoperative phase dan post operative phase. Sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan apnea yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Perdarahan tersebut disebabkan oleh insisi pada uterus. c. III. ketika pelepasan plasenta. Anestesia spinal aman buat janin. Akan tetapi selalu ada kemungkinan bahwa tekanan darah penderita menurun dengan akibat yang buruk bagi ibu dan janin. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan yaitu preoperative phase. Pemutusan untuk dilakukan anestesi total setelah anestesi spina. KEPERAWATAN PREOPERATIF . akan tetapi tidak selalu akan dapat dilakukan berhubungan dengan sikap mental penderita. selain itu ada pengaruh terhadap tonus uterus sehingga kadangkadang timbul perdarahan post partum karena atonia uteri. A.Anestesia umumnya mempunyai pengaruh positif degresif pada pusat pernafasan janin. Apabila dosis terlalu tinggi diberikan dapat menyebabkan sesak nafas (sulit bernafas) sehingga langsung diputuskan untuk anestesi total. Di lihat rentang dari injeksi: tunggu 10-15 menit apakah klien merasa sakit atau tidak. KONSEP PERIOPERATIF Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. mungkin juga karena terjadinya atonia uteri post partum. Berhubung dengan itu pada tiap-tiap secsio sesarea perlu diadakan persediaan darah. Cara yang paling aman adalah anestesia lokal.

Preoperatif adalah merupakan masa sebelum dilakukannya tindakan pembedahan yang dimulai sejak ditentukannya persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien berada di meja bedah. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi. antara lain status hemodinamika. Status Nutrisi Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan. lipat kulit trisep. Status kesehatan fisik secara umum Sebelum dilakukan pembedahan. meliputi identitas klien. riwayat kesehatan keluarga. PERSIAPAN FISIK 1. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. status kardiovaskuler. karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup. demam dan penyembuhan luka yang lama. pemeriksaan fisik lengkap. Pada kondisi yang serius .  PERSIAPAN KLIEN DI UNIT PERAWATAN A. fungsi endokrin. dan lainlain. status pernafasan. fungsi imunologi. fungsi ginjal dan hepatik. dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu). penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum. riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu. tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi. tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal 2. lingkar lengan atas.

Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik. kadar kalium serum (normal : 3.70 .pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian 3. Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.1.5 mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0. nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa. Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum (normal : 135 -145 mmol/l).50 mg/dl). Maka .5 . Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri/anuria.00 WIB). Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement. Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal. Khusus pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera). Keseimbangan cairan dan elektrolit Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. 4. insufisiensi renal akut. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Kebersihan lambung dan kolon Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas.

pembedahan. misalnya pada pasien luka incisi pada lengan. Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. hemmoroidektomi. Pencukuran daerah operasi Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan . Misalnya Selain : apendiktomi. daerah herniotomi. 5. terkait pencukuran pada lengan juga dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan. Daerah yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi. uretrolithiasis. Personal Hygine Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. 6.pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso gastric tube). Sering kali pasien di berikan kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman. operasi pemasangan plate pada fraktur femur. Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak memerlukan pencukuran sebelum operasi.

batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi. seperti : nyeri daerah operasi.personal hygiene secara mandiri maka perawat akan memeberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene. Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :  Latihan Nafas Dalam Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Latihan Pra Operasi Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi. Selain untuk pengongan isi bladder tindakan kateterisasi balance cairan. 8. Pengosongan kandung kemih Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. juga diperluka untuk mengobservasi . Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. 7.

2. udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut. Segera lakukan batuk spontan. Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali) 3. jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk 2. Lakukan hal ini berulang kali (15 kali) 6. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranstesi. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat 4. Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Pasien condong ke depan dari posisi semifowler. pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada . Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif  Latihan Batuk Efektif Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anstesi general. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Letakkan tangan diatas perut 3. 5. Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara : 1.

pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.tenggorokan. namun tidak berbahaya terhadap incisi.  Latihan Gerak Sendi Keuntungan: 1. MRI (Magnrtic . foto tulang (daerah fraktur). 4. seperti : Foto thoraks. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan. USG (Ultra Sono Grafi). B. Ulangi lagi sesuai kebutuha 5. Menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus 3. Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik. Pemeriksaan penunjang antara lain : 1. CT scan (computerized Tomography Scan) . abdomen. namun tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien). Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri. PERSIAPAN PENUNJANG Dibawah ini adalah berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien sebelum operasi (tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien. Lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus 2. memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal.

Mammografi. wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anastesi). ureum kretinin. Artinya apapun tindakan yang dilakukan pada pasien terkait dengan . berupa pemeriksaan darah : hemoglobin. protein total (albumin dan globulin). 3. angka leukosit. dll. 5. EEG (Electro Enchephalo Grafi). Inform Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum. ECHO. dll. CT/BT. jumlah trombosit. yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. limfosit. 4. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam dan diambil darahnya jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP (ppst prandial). Pemeriksaan Laboratorium. EKG/ECG (Electro Cardio Grafi). dan chlorida). Renogram. Biopsi. maka pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. CIL (Colon in Loop). natrium. 2. Bisa juga dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan darah. elektrolit (kalium. Biopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja. Cystoscopy. Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD). BNO-IVP. C. INFORM CONSENT Setiap pasien yang akan menjalani tindakan medis. LED (laju enap darah). BUN.Resonance Imagine). Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau tidak.

PERSIAPAN MENTAL/PSIKIS Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan dan ketakutan antara lain : 1. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain : 1. Takut terjadi perubahan fisik. menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body image) 3.pembedahan. 7. Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti) 4. Takut operasi gagal. Takut nyeri setelah pembedahan 2. keluarga mengetahui manfaat dan tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya D. . 5. 6. Takut/cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama. Pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan 2. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi. peralatan pembedahan dan petugas. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya. sehingga operasi terpaksa harus ditunda.

Pengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang 4. perawat dapat menanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi 5. post operasi) 6. dll. telapak tangan yang lembab 4. gelisah 5. menayakan pertanyaan yang sama berulang kali 6. Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setalah operasi. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang prosedur (pre. Persepsi pasien dan keluarga tentang tujuan/alasan tindakan operasi 3. gerakan-gerakan tangan yang tidak terkontrol 3. seperti : latihan nafas dalam. . intra. Pengalaman operasi sebelumnya 2. sulit tidur 7. antara lain : 1. batuk efektif. ROM. sering berkemih Untuk mengurangi / mengatasi kecemasan pasien. meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan 2.Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti : 1.

Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada.Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara: 1. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersamasama sebelum pasien di antar ke kamar operasi. menunjukkan tempat kamar operasi. kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik 4. 2. meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien 3. Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum operasi. Diharapkan dengan pemberian informasi yang lengkap. dll. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap menghadapi operasi. . Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien. dll. perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan. Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan. pasien perlu diberikan penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan. hal-hal yang akan dialami oleh pasien selama proses operasi. memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi. 5. Misalnya: jika pasien harus puasa. manfaatnya untuk apa. dan jika diambil darahnya.

6. Antibiotik profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi selama tindakan operasi. 5. Pasien akan diberikan obat-obatan premedikasi untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang cukup 2. ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERATIF . 7. 3. F. 4. Antibiotik yang dapat diberikan adalah ceftriakson 1gram dan lain-lain sesuai indikasi pasien. E. Antibiotik profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi. Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi. petugas kesehatan di situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang.3 kali. seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi. Sebelum operasi dilakukan pada esok harinya. antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1-2 jam sebelum operasi dimulai dan dilanjutkan pasca bedah 2. keluarga juga diberikan kesempatan untuk mengantar pasien sampai ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi. Obat-obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam. Untuk memberikan ketenangan pada pasien. OBAT-OBATAN PRE MEDIKASI 1.Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi.

Riwayat penyakit hepatic (efek . PENGKAJIAN Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono.A. stimulasi simpatis. Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi . GJK. makanan. dan larutan . apatis . atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus. 4. edema pulmonal. Tanda : tidak dapat istirahat. 2. plester. (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) . merokok. marah. kondisi yang kronis/batuk. 3. hubungan. peningkatan ketegangan/peka rangsang . penyakit vascular perifer. 5. Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) . Sirkulasi Gejala : riwayat masalah jantung. Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. 1999) meliputi: 1. membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). Munculnya kanker / terapi kanker terbaru . malnutrisi (termasuk obesitas) . Integritas ego Gejala : perasaan cemas. factor-faktor stress multiple. misalnya financial. gaya hidup. Doenges. takut. Makanan / cairan Gejala : insufisiensi pancreas/DM. 1994 : 10). Pernapasan Gejala : infeksi. Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat.

Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri. bronchodilator. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson. antihipertensi. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi. yang dijual kardiotonik diuretic. bebas. Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse. dekongestan. ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan.dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) . ancaman terhadap perubahan status kesehatan. M. B. atau glokosid. keluhan terhadap reaksi orang lain. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan. . yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia. 2. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan . Koping individu. 2006) meliputi : 1. obat-obatan antidisritmia. rekreasional. antiinflamasi. dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi). antibiotic. Judith. analgesic. steroid. ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti. 6. diagnosis kanker. antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal. factor budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan. efek samping penanganan. 3. kehilangan fungsi. demam. krisis situasi atau krisis maturasi.

2006) adalah : 1. Kriteria hasil :  klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasisituasi yang membuat stress. . sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu .C. Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.  tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan Intervensi dan implementasi  Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.  klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. R : memudahkan intervensi. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson. Ansietas adalah suatu keresahan.  klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi ancaman. M.  Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu. perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Judith.  klien mampu mempertahankan penampilan peran. perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah atau dread yang disertai dengan respons autonomis .

 Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini. . R : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.  Kolaborasi pemberian obat anti ansietas. mengurangi kecemasan.  Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis. R : meningkatkan pengetahuan. meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas. R : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.  Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas. R : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. R : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.  Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.R :mempertahankan mekanisme koping adaftif.  Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. R : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. perawatan dan prognosis. harapa-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.

jaga privasi dan martabat pasien. Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari penampilan Kriteria hasil :  pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh. R : meningkatkan perasaan berarti. memudahkan saran koping. R : mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai keadaan fisiknya.  Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi. fisik dan fungsi seseorang. Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap . R : factor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh. mengurangi kecemasan. dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan.  Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh.  memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan.  Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif.  menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh Intervensi dan Implementasi  Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya. kemajuan dan prognosis.2. tubuh.

pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat. Intervensi dan Implementasi :  Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari kesesuaiannya dengan pandangan pemberi pelayanan kesehatan. Kriteria hasil :  pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang. memudahkan intervensi .  mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif. Koping individu. R : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya. R : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya.  menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya. meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam diri pasien. dan atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia.  Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. 3. Tujuan : pasien menunjukkan koping yang efektif.R : menciptakan suasana saling percaya.  berpartisipasi (AKS). ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadap stressor.

dan mengurangi kecemasan. perasaan berarti. lain. Anjurkan perubahan pasien untuk peran mengidentifikasi yang gambaran realitas.  Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang R : meningkatkan perasaan berarti. . penguatan yang positif. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup : pemasangan IV cath pemberian medikasi intaravena melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi anstesi.  Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan emosional untuk pasien dan keluarga. bertinda k sebagai perawat scrub. R : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat ini. atau membantu mengatur posisi pasien di atas meja operasi denganmenggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh. memberikan B. R : menciptakan suasana saling percaya. PERAWATAN INTRAOPERATIF Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.

perawat primer perioperatif menerima kedatangan klien. menjadi perawat sirkulator selama prosedur berlangsung. dan alas kaki khusus ruang oprasi sesuai dengan kebijakan pengontrolan infeksi rumah sakit. perawat. Manset juga terpasang pada lengan klien selama pembedahan berlangsung sehingga ahli anestesi dapat mengkaji tekanan darah klien. Biasanya menggunakan kateter IV yang berukuran besar agar pemasukan cairan menjadi lebih mudah. Ruang Sementara (Holding area) Perawat dapat menjelakan tahap-tahap yang akan dilaksanakan untuk menyiapkan klien menjalani pembedahan. Circulating nurse bertanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya perlengkapanyang dibutuhkan oleh scrubbed nurse dan bertanggung jawab terhadap observasi dan perawatan pasien tanpa menimbulkan kontaminasi daerah steril. Di dalam ruangan tahanan sementara.Perawat yang bekerja di kamar bedah harus telah mengambil program proregristation education courses in anasthetic and operating theater nursing.  TAHAP INTRAOPERATIF 1. atau ahli anestesi memasang kateter infus ke tangan klien untuk memberikan prosedur rutin penggantian cairan dan obat-obatan melalui intravena. anestesi. Perawat bertanggung jawab akan pemeliharaan sterilitas daerah pembedahan dan instrument dan menjamin ketersediaan peralatan ahli bedah untuk terlaksananya pembedahan yangdirencanakan. Perawat diruang tahanan sementara biasanya adalah bagian dari petugas ruang oprasi dan menggunakan pakaian. Perawat juga memasang manset tekanan darah. topi. dan mengelola pemulihan serta kepulangan klien. Dalam pembedahan perawat disebut scrubbed nurse yang bertindak sebagai asisten ahli bedah. . Pada beberapa tempat bedah sehari.

Klien juga mengalami amnesia tentang seluruh proses yang terjadi selama pembedahan yang menggunakan anestesi umum melibatkan prosedur mayor. Tahap 3 dimulai pada saat irama pernafasan mulai teratur. Anestesi Regional Induksi anestesi regional menyebabkan hilangnya sensasi pada daerah tubuh tertentu. Anestesi Umum Klien yang mendapat anestesi umum akan kehilangan seluluh sensasi dan kesadarannya. Tahap 2 adalah eksitasi. riwayat kesehatan. Selama pembedaan berlangsung klien dengan anestesi regional akan tetap sadar kecuali jika dokter . dan berbagai hasil pemeriksaan.2. 3. Ahli anestesi memberi anestesi umum melalui jalur IV dan inhalasi melalui empat tahap anestesi. Kedatangan ke Ruang Operasi Perawat ruang opersi identifikasi dan kardeks klien. Tahap 4 adalah tahap depresi pernafasan lengkap. Otot kilen kadang-kadang menegang dan hampir kejang. dan pola Fungsi vital terdepresi. Relaksasi mempermudah manipulasi anggota tubuh. Reflek menelan dan mudah tetap ada. Pastikan bahwa alat prostese dan barang berharga telah dilepas dan memeriksa kembali rencana perawatan preoperatif yang berkaitan dengan intraoperatif. Pemberian Anestesi a. yang membutuhkan manipulasi jaringan yang luas. Tahap 1 dimulai saat klien masih sadar. dan status analgesic dimulai. b. hasil pemeriksaan fisik. melihat kembali lembar persetujuan tindakan. nafas klien mungkin menjadi tidak teratur. Klien menjadi pusing dan kehilangan kesadaran secara bertahap.

lidokain ) menghambat konduksi Klien akan saraf sampai obat terdifusi kedalam sirkulasi. Perawat harus ingat bahwa luka bakar dan cidera lainnya dapat terjadi pada bagian tubuh yang berada dibawah pengaruh anestesi tanpa disadari oleh klien. 4. Pengaturan Posisi Klien Selama Pembedahan Prinsip tindakan keperawatan selama pelaksanaan operasi yaitu pengaturan posisi karena posisi yang diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien dan keadaan psikologis pasien.memprogramkan pemberian tranquilizer yang dapat menyebabkan klien tidur. c. adanya sel tumbuh pada kulit atau kornea mata). Nyeri/Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis). observasi. otonom. Umur dan ukuran tubuh pasien. dan . Obat anestesi (mis. Anestesi Lokal Anestesi lokal menyebabkan hilangnya sensasi pada tempat yang diinginkan (mis. Oleh karena itu posisi ekstermitas dan kondisi kulit klien perlu sering kehilangan rasa nyeri dan sentuhan. Tipe anaesthesia yang digunakan. aktifitas motorik. Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :     Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

dada dan pinggul. 5. sering digunakan untuk operasi pada daerah abdomen bawah atau pelvis. Kesejajaran fungsional Maksudnya adalah memberikan posisi yang tepat selama operasi. Contoh :  Supine (dorsal recumbent) : hernia.Hal-hal yang dilakukan oleh perawat terkait dengan pengaturan posisi pasien meliputi : a. Peran Perawat Selama Pembedahan a. Dilatasi dan kuretase dan pembedahan rectal seperti : Hemmoiroidektomy  Lateral : digunakan untuk operasi ginjal. mastectomy atau pun reseksi usus. appendiktomi. Pemajanan area pembedahan Pemajanan daerah bedah maksudnya adalah daerah mana yang akan dilakukan tindakan pembedahan. Perawat instrumentator (scrub nurse) . Misal : Lamninectomy  Trendelenburg : dengan menempatkan bagian usus diatas abdomen. laparotomy eksplorasi. b. Hal ini selain untuk mempermudah proses pembedahan juga sebagai bentuk jaminan keselamatan pasien dengan memberikan posisi fisiologis dan mencegah terjadinya injury. Dengan pengetahuan tentang hal ini perawat dapat mempersiapkan daerah operasi dengan teknik drapping c.  Pronasi : operasi pada daerah punggung dan spinal. laparotomy. Operasi yang berbeda akan membutuhkan posisi yang berbeda pula. Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi Posisi pasien di meja operasi selama prosedur pembedahan harus dipertahankan sedemikian rupa.  Lithotomy : posisi ini mengekspose area perineal dan rectal dan biasanya digunakan untuk operasi vagina.

membuang alat dan spon kasa yang telah kotor. Diagnosis Keperawatan . Apabila teknik aseptik telah hilang. Prosedur ini mencegah tertinggalnay bahan-bahan tersebut di dalam luka bedah klien. Perawat sirkulator juga dpat membantu mengubah posisi klien atau memindahkan posisi lampu opersi.  ASUHAN KEPERAWATAN INTRAOPERATIF 1.Perawat instrumentator (scrub nurse) atau perawat sirkulator memberikan intrumen dan bahan-bahan yang di butuhkan oleh dokter bedah selam pembedahan berlangsung dengan menggunakn tehnik aspek pembedahan yang ketat dan terbiasa dengan intrumen pembedahan. kardiovaskular keseimbnagan cairan. Perawat sirkulator juga menggunakan teknik aseptik bedah. Perawat sirkulator menyediakan bahanbahan yang di butuhkan perawat instrumentator. Pengkajian Keperawatan Salah satu hal yang perlu di kaji dalam intra bedah adalah pengaturan posisi pasien. Perawat Sirkulator Perawat Sirkulator adalah asisten perawat intrumentator dan dokter bedah. perubahan tanda vital. b. dan pernafasan. 2. system. Perawat sirkulator membantu mengatur posisi klien dan menyediakan alat dan duk bedah yang di butuhkan dalam pembedahan. serta tetap hitung instrument jarum dan spon kasa yang telah di gunakan. Berbagai masalah yang terjadi selama pembedahan mencakup aspek pemantauan fisiologis. Perawat sirkulator membantu anggota tim bedah dengan mengganti dan memakai gaun dan sarung tangan steril.

3. Pasien dapat beraktivitas dengan nyaman dan aman Rencana tindakan a. Perencanaan Keperawatan Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperwatan selam 1 x 24 jam. Lakukan Persiapan pelaksanaan anestesi sebelum tindakan pembedahan c. atau harus menutupi pinggang untuk mengurangi menyebarnya . atau baju harus dimasukan kedalam celana. berprinsip bahwa semua baju dari luar diganti dengan baju bedah yang steril. Kriteria Hasil a. serta penyucian tangan. Tidak terjadinya resiko cedera pada pasien b. penutup sepatu. masker. celemek. b. Gunakan semua alat atau instrument untuk tindakan pembedahan seperti pemakaian baju bedah.Risiko terjadinya cedera berhubungan dengan prosedur pembedahan. Lakukan pemantauan selama masa tindakan pembedahan 4. masalah resiko terjadinya cidera pada pasien dapat tertasi. dan sarung tangan. Pelaksanaan (tindakan ) keperawatan a. Menggunakan baju seragam Penggunaan baju seragam bedah didesain secara khusus dengan harapan dapat mencegah kontaminasi dari luar. tutup kepala.

dan gunakan tutup kepala. Menerima Pasien di Daerah Bedah Sebelum memasuki wialyah bedah. sarung tangan. alat protesa. b. d. Pengiriman dan Pengaturan Posisi ke Kamar Bedah Posisi yang dianjurkan pada umumnya adalah telentang. dan lain-lain. serta celemek steril. lateral. dan lain-lain. persiapan darah setelah dilakukan pemerikasaan silang dan golongan darah. c. pasien harus melakukan pemeriksaan ulang di ruang penerimaan untuk megecek kembali nama. bedah yang akan dilakukan. berbagi hasil laboratorium dan x-ray. Mencuci Tangan Sebelum Pembedahan     Gunakan air mengalir dari kran Sikat tangan secara sistemati. masker. hingga siku. pergelangan. lithotomi. dengan larutan desinfektan    standar selama 3-5 menit Tutup kran dengan siku (buka seperti biasanya menutup kran) Posisikan tangan selau lebih tinggi dari siku Ambil handuk tangan steril. telungkup. lalu jatuhkan handuk. e. keringkan urut mulai tangan. satu per satu jari dicuci Sikat kuku dan lengan bahwa sampai siku Ulangi lagi beberapa kali : dengan selam 10 menit . Pembersihan dan Persiapan Kulit . trendelenburg.bakteri. nomor status registrasi pasien.

g. aman dan nyaman. atau memiliki potensi yang baik serta tidak menurun bila adanya kadar alcohol. memiliki kecepatan khasiat.Pelaksanaan ini bertujuan untuk membuat daerah yang akan dibedah bebas dari kotoran dan lemak kulit serta mengurangi adanya mikroba. f. menghilangkan nyeri dan pencegahan komplikasi. timbedah akan melaksanakan pembedahan sesuai dengan ketentuan pembedahan. Pelaksanaan Anestesi Terdiri dari anestesi umum. C. Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan kondisi pasien pada keadaan equlibrium fisiologis pasien. PERAWATAN POST OPERATIF Keperawatan post operatif adalah periode akhir dari keperawatan perioperatif. TAHAPAN KEPERAWATAN POST OPERATIF . atau bahan organik lainya. dan anestesi lokal. anestesi regional. h. Pelaksanaan Pembedahan Setelah dilakukan anestesi. Penutupan daerah Steril Penutupan daerah steril dilakukan dengan menggunakan doek steril agar daerah seputar bedah tetap steril dan mencegah berpindahnya mikroorganisme antara daerah yang steril dan tidak. sabun detergen. Bahan yang digunakn dalam pembersihan kulit ini harus memiliki spectrum khasiat. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu pasien kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat.

Selama perjalanan transportasi tersebut pasien diselimuti dan diberikan . Segera setelah pasien dipindahkan ke barankard atau tempat tidur. Letak incisi bedah harus selalu dipertimbangkan setiap kali pasien pasca operatif dipidahkan. Seperti posisi litotomi ke posisi horizontal atau dari posisi lateral ke posisi terlentang.Transportasi pasien ke ruang rawat. perubahan vaskuler dan pemajanan. diantaranya adalah: . .Perawatan post operatif meliputi beberapa tahapan. 1. . Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu posisi ke posisi lainnya.Perawatan di ruang rawat.Perawatan post anastesi di ruang pemulihan (recovery room) .Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anastesi (recovery room). Bahkan memindahkan pasien yang telah dianastesi ke brankard dapat menimbulkan masalah gangguan vaskuler juga. Banyak luka ditutup dengan tegangan yang cukup tinggi. Pertimbangan itu diantaranya adalah letak incisi bedah. PEMINDAHAN PEMULIHAN PASIEN DARI KAMAR OPERASI KE RUANG Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan atau unit perawatan pasca anastesi (PACU: post anasthesia care unit) memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. gaun pasien yang basah (karena darah atau cairan lainnnya) harus segera diganti dengan gaun yang kering untuk menghindari kontaminasi. dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah regangan sutura lebih lanjut. Untuk itu pasien harus dipindahkan secara perlahan dan cermat. Selain itu pasien diposisikan sehingga ia tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang drainase.

ahli anastesi dan ahli bedah c. tidak mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal perawatan). Selang dan peralatan drainase harus ditangani dengan cermat agar dapat berfungsi dengan optimal. alat monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya. kateter nasal. PACU atau RR biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. set intravena. plasma ekspander. ventilator mekanik dan peralatan suction. laringoskop. seperti : apparatus tekanan darah. set . paseien harus dirawat sementara di ruang pulih sadar (recovery room : RR) sampai kondisi pasien stabil. Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab perawat sirkuler dan perawat anastesi dengan koordinasi dari dokter anastesi yang bertanggung jawab. peralatan bronkhial. Selain hal tersebut diatas untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan pasien. peralatan parenteral. Selain itu di ruang ini juga harus terdapat alat yang digunakan untuk memantau status hemodinamika dan alat-alat untuk mengatasi permasalahan hemodinamika. Hal ini disebabkan untuk mempermudah akses bagi pasien untuk : a. perawat yang disiapkan dalam merawat pasca operatif (perawat anastesi) b. Alat monitoring yang terdapat di ruang ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kondisi pasien.pengikatan diatas lutut dan siku serta side rail harus dipasang untuk mencegah terjadi resiko injury. set trakheostomi. PERAWATAN POST ANASTESI DI RUANG PEMULIHAN (RECOVERY ROOM) Setelah selesai tindakan pembedahan. 2. Jenis peralatan yang ada diantaranya adalah alat bantu pernafasan : oksigen.

kateter vena. pastikan score post anastesi 7 atau 8 yang . saturasi oksigen minimal 95% dan tingkat kesadaran yang baik. torniquet. narkotika dan medikasi kegawatdaruratan. seperti : pemindahan darurat. defibrilator. Jika anda dapat tugas mentransfer pasien. Haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam f. Tanda-tanda vital stabil. termasuk tekanan darah d. TRANSPORTASI PASIEN KE RUANG RAWAT Transportasi pasien bertujuan untuk mentransfer pasien menuju ruang rawat dengan mempertahankan kondisi tetap stabil. waktu dan orang e. Dan dilengkapi dengan kelengkapan yang digunakan untuk mempermudah perawatan. set kateterisasi dan peralatan drainase. pasien post operasi juga harus ditempatkan pada tempat tidur khusus yang nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien. Nyeri minimal 3. Orientasi pasien terhadap tempat. Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat c. dan rak penyimpanan catatan medis dan perawatan. Selain alat-alat tersebut diatas. Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk dikeluarkan dari PACU adalah : a. Pasien tetap berada dalam PACU sampai pulih sepenuhnya dari pegaruh anastesi. side rail. Seperti tiang infus. Bahan-bahan balutan bedah. yaitu tekanan darah stabil. Mual dan muntah dalam kontrol g. Fungsi pulmonal yang tidak terganggu b. tempat tidur beroda. fungsi pernafasan adekuat.pembuka jahitan.

Prosedur Untuk beberapa pasien setelah operasi harus ke bagian radiologi dulu dan sebagainya. aspirasi selama transportasi. sampai selimut tambahan untuk mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan dalam kondisi siap pakai. b. Sumber daya manusia (ketenagaan) Bukan sembarang orang yang bisa melakukan prosedur ini. Waspadai hal-hal berikut: henti nafas. Equipment (peralatan) Peralatan yang dipersiapkan untuk keadaan darurat. Passage (jalur lintasan) Hendaknya memilih jalan yang aman. Perhatikan juga perbandingan ukuran tubuh pasien dan perawat.menunjukkan kondisi pasien sudah cukup stabil. Orang yang boleh melakukan proses transfer pasien adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan yang mungkin terjadi sselama transportasi. Perencanaan Pemindahan klien merupakan prosedur yang dipersiapkan semuanya dari sumber daya manusia sampai dengan peralatannya. Prosedurprosedur pemindahan pasien dan posisioning pasien harus benarbenar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan pasien. 4. PERAWATAN DI RUANG RAWAT . vomitus. Ekstra waspada terhadap kejadian lift yang macet dan sebagainya. e. misal : tabung oksigen. Sehingga hendaknya sekali jalan saja. Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat transportasi klien : a. c. d. nyaman dan yang paling singkat. Harus seimbang.

Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan pengangkatan jahitan. Rehabilitasi Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien kembali. b. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala. d. Untuk perawat . drainage. e. c. pastikan luka tidak mengalami perdarahan abnormal. nafas dalam dan juga batuk efektif yang penting untuk mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan mengeluarkan sekret dan lendir. Pemerikasaan ini merupakan pemeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal setelah post operasi. Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor kondisinya. yaitu : a.Ketika pasien sudah mencapai bangsal. Ada 2 macam discharge planning : 1. Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien. maka hal yang harus kita lakukan. tube/selang. dan komplikasi. Manajemen Luka Amati kondisi luka operasi dan jahitannya. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Discharge Planning Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan kondis/penyakitnya post operasi. Mobilisasi dini Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM.

B. keseimbangan elektrolit . sirkulasi. Gangguan pertukaran gas b. serta alat yang digunkan dalm pembedahan.d efek samping dari anaesthesi. KRITERIA HASIL DAN INTERVENSI 1.d efek samping dari anaesthesi. Kerusakan integritas kulit b. 2. lokasi daerah pembedahan dan sekitarnya.d proses pembedahan C.Berisi poin-poin discharge planning yang di berikan kepada klien (sebagai dokumentasi).d luka post operasi 3. TUJUAN . 2. kualitas jalan nafas. Nyeri akut b. pH arteri dan SaO2 dalam batas normal . kardiovaskuler. Tujuan Kriteria hasil : kerusakan per-tukaran gas tidak terjadi : • Status neurologis DBN • Dispnea tidak ada • PaO2. Diagnosa :Gangguan pertukaran gas b. DIAGNOSA KEPERAWATAN POST OPERATIF 1. Untuk pasien Dengan bahasa yang bias dimengerti pasien dan lebih detail ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERATIF A. dan perubahan tanda vital yang lain. PaCO2. PENGKAJIAN Beberapa hal yang perlu dikaji setelah tindakan pembedahan diantaranya adalah kesadaran.

kedalaman dan usaha nafas. dan keletihan Intervensi : • Kaji bunyi paru.• Tidak ada gelisah. Diagnosa Tujuan Kriteria hasil : Kerusakan integritas kulit b. sputum.d luka post operasi : kerusakan integritas kulit tidak terjadi : • Kerusakan kulit tidak adaEritema kulit tidak ada • Luka tidak ada pus . sianosis. frekuensi nafas. terutama membran mukosa mulut • Pantau status pernapasan dan oksigenasi • Jelaskan penggunaan alat bantu yang diperlukan (oksigen. pola napas.spirometer) • Ajarkan teknik bernapas dan relaksasi • Laporkan perubahan sehubungan dengan pengkajian data (misal: bunyi napas. • Auskultasi bunyi napas.efek dari pengobatan) • Berikan oksigen atau udara yang dilembabkan sesuai dengan keperluan 2. pengisap. tandai area penurunan atau hilangnya ventilasi dan adanya bunyi tambahan • Pantau hasil gas darah dan kadar elektrolit • Pantau status mental • Observasi terhadap sianosis.

jika perlu • Catat karakteristik luka bekas operasi • Catat katakteristik dari beberapa drainase • Bersihkan luka bekas operasi dengan sabun antibakteri yang cocok • Rendam dalam larutan saline yang sesuai • Berikan pemeliharaan lokasi IV • Sediakan pemeliharaan luka bekas operasi sesuai kebutuhan • Berikan pemeliharaan kulit luka bernanah sesuai kebutuhan • Gunakan unit TENS (Transcutaneous Elektrikal Nerve Stimulation) untuk peningkatan penyembuhan luka bekas operasi yang sesuai • Gunakan salep yang cocok pada kulit/ lesi.• Suhu kulit DBN Intervensi : • Ganti balutan plester dan debris • Cukur rambut sekeliling daerah yang terluka. yang sesuai • Balut dengan perban yang cocok • Pertahankan teknik pensterilan perban ketika merawat luka bekas operasi • Periksa luka setiap mengganti perban • Bandingkan dan mencatat secara teratur perubahan-perubahan pada luka • Jauhkan tekanan pada luka .

• Ajarkan pasien dan anggota keluarga prosedur perawatan luka 3. kualitas dan faktor presipitasi ). pencahayaan. Diagnosa Tujuan Kriteria hasil : Nyeri akut b. • Evaluasi tindakan pengurang nyeri . • Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis). durasi. karakteristik. • Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri. • Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi.d proses pembedahan\ : Nyeri dapat teratasi : • Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 2-3 • Ekspresi wajah tenang • klien dapat istirahat dan tidur Intervensi : • Kaji nyeri secara komprehensif ( lokasi. kebisingan. • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien • Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan. • Observasi reaksi NV dr ketidak nyamanan. frekuensi. distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.

• Monitor TTV .