Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I PENDAHULUAN
Hipotiroidisme adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh defisiensi hormon tiroid pada jaringan target.1 Kelainan ini dapat dikelompokkan berdasarkan waktu timbilnya penyakit (kongenital dan didapat), tingkatan disfungsi endokrin yang terjadi (primer dan sentral) dan berat ringgannya penyakit (subklinis, ringan, berat). Tanda dan gejala hipotiroidisme bervariasi, tergantung dari kadar hormon tiroid dan selang waktu berlangsungnya penyakit, bersifat akut atau kronis. Pada kelainan yang bersifat kronis, fungsi tiroid berkurang secara bertahap dan pada awalnya bisa diadaptasi oleh pasien, sehingga belum menunjukkan gejala kinis yang nyata. Insiden dari hipotiroidisme primer di Inggris diperkirakan sebesar 0,41% pertahun untuk wanita dan 0,06% pertahun untuk pria. Prevalensi hipotiroidisme primer di Amerika Serikat adalah 0,3% dan prevalensi hipotiroidisme subklinis adalah 4,3%. Prevalensi ini lebih tinggi ditemukan pada wanita dan meningkat seiring bertambahnya umur, yaitu berkisar dari 4% pada wanita berumur 18 tahun sampai 24 tahun, menjadi 21% pada wanita yang berumur lebih dari 74 tahun, dan 3% sampai 6% pada pria dalam kelompok umur yang sama.2, 3,4 Di Asia, khususnya di India prevalensi orang yang menderita penyakit tiroid adalah 42 juta jiwa. Dalam studi lain di Negara Iran, didapatkan bahwa insidensi ketidak normalan fungsi tiroid dari 1000 subjek pertahun adalah sebagai berikut, hipotiroidisme klinik sebesar 0,28 pada wanita, 0,21 pada pria, hipotiroidisme subklinis pada wanita sebesar 11,59 dan 4,69 pada pria.5 Hipotiroidisme juga berhubungan dengan peningkatan faktor resiko penyakit kardiovaskular dan perkembangan proses atherosclerosis.6 Selain itu hipotiroidisme juga dapat berdampak pada infertilitas pada wanita, sedangkan pada pria dapat berdampak pada impotensi.7 Selain itu orang yang mengalami hipotiroidisme juga beresiko dua kali lebih besar untuk mengalami dislipidemia.8

dan penanganan hipotiroidisme. kita harus dapat menguasai patofisiologi.1 Begitu juga pada kelainan ginjal yang disebabkan oleh hipotiroidisme. agar kita dapat meminimalisir dan menskrining pasien dengan gejala hipotiroidisme sedini mungkin. Oleh karena itu. bila diberikan hormon tiroid maka kelainan anatomi serta fungsi kardiovaskular tersebut dapat menjadinormal kembali. namun hipotiroidisme bukan merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau diminimalisir gejalanya. . Seperti contohnya pada kelainan jantung yang disebabkan oleh hipotiroidisme seperti. gangguan hemodinamik. Tujuan penulis berusaha untuk membuat tinjauan pustaka ini untuk membantu memahami bagaimana patofisiologi dan penegakan diagnosis serta penatalaksanaan baik secara empiris maupun dibantu dengan pemeriksaan-pemiriksaan penunjang untuk memastikan etiologi yang tepat dari hipotiroidisme. penurunan curah jantung. dan tekanan nadi yang sempit.2 Banyak sekali akibat-akibat yang diakibatkan oleh penyakit hipotiroidisme. penegakan diagnosis.