Anda di halaman 1dari 5

Filosofis Penjor Galungan

Oleh Dr. Cant. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H

Punang aci Galungan ika ngawit bu, ka, Dunggulan sasih kacatur tangal 25, isaka 804, bangun Indra bhuwana ikang Bali rajya (Lontar purana Bali) Galungan adalah hari suci agama Hindu yang jatuh pada hari Buda Kliwon Dunggulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dengan ritual keagamaan. Hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dunggulan sasih kapat tanggal 15 purnama tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak tahun itulah hari raya Galungan terus dilaksanakan, namun tiba-tiba pelaksanaan hari raya Galungan terhenti pada tahun 1103 saat raja Sri Eka Jaya memerintah, hal tersebut berlanjut sampai tahun 1126 waku pemerintahan raja Sri Dhanadi. Namun setelah Raja Sri Jaya Kasunu memerintah hari raya Galungan kembali dirayakan, hal ini dilaksanakan mengingat para pendahulunya selalu berumur pendek. Berdasarkan hasil bersemedi raja Sri jaya Kasunu mendapat pewisik dari Dewi Durga bahwa para leluhurnya berumur pendek karena tidak merayakan hari raya Galungan, oleh karena itu Dewi Durga meminta agar hari raya Galungan kembali dirayakan dengan memasang Penjor. Penjor merupakan lambing dari kemakmuaran dari alam semesta Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan simbul tersebut, salah satunya penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain : Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura maupun di rumah. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang

1

Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat). Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa.B. nanas dll). Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. lamak. atau “Pengastawa”. Pala Gantung (misalnya kelapa. yang dapat diberikan arti sebagai. sampiyan. “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata. “Pengajum”. Penjor berasal dari Penyor . ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”. adanya pala bungkah dan pala gantung. mentimun. dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung. padi dll). Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. KKBI (1994:748) Penjor hádala hiasan yang terbuat dari bambu untuk menyambut perayaan. serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. pisang. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “enyor”. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu. “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian. jajan yang merupakan niasa dari Tuhan dan alam semesta. dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit. jajan.Simpen (1985:177). Definisi Penjor menurut I. Pala Wija (seperti jagung. Hiasan yang 2 .dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. kemudian kehilangan huruf sengau.

pala wija dan pala gantung. tebu dan uang. sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama.Pala bungkah. paku pipid.Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra. padi. yang memberikan kehidupan dan keselamatan. .Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu. . pisang. Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius. ketela. Unsurunsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut: . Selain itu juga. jagung.Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa. sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda. pisang termasuk pala bungkah. Untuk buah-buahan mempergunakan padi. pakis aji dll . serta dilengkapi dengan jajan. Oleh karena itu. penjor merupakan simbol gunung. pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu. . membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta Bhoga. . Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan simbol-simbol suci.Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma. dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara. kelapa. tebu. andong.Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa. sehingga tidak berkesan hiasan saja. . jajan dan kain adalah merupakan wakilwakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara.terdiri dari kelapa. namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama. . . yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. . 3 . yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan. Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya.

Jadi dalam hal itu umat berperan. Sang Hyang Parama Siwa Nadha. angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan kinasihan. Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga. Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading. Ngaturang maha suksemaning idep. Sang Kala Tiga yang juga disebut Sang Bhuta Amangkurat merupakan simbul angkara. merupakan lambang pengayat ke Gunung Agung penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. tahu akan hutang budi. Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”. pustaka-pustaka mengajarkan bahwa seja Redite Pahing Dunggulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. keletehan benar-benar akan menguasai kita. Rikedaden Dewa. Wruha Kiteng Rumuhun. Hyang Wisnu Meraga Sarwapala. Hyang Siwa Meraga Candra. Hyang Rudra Meraga Kelapa. dan akhirnya dikuasai. 03) Singkatnya bahwa penjor sangat erat kaitannya dengan Galungan. Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi. melainkan pada hari itu umat Hindu di Bali mengaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. menyebutkan sebagai berikut : “Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani. Ini yang akan terjadi. Lamp. Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan. PT. 61. Berjuang. tetapi kala keletehan dan adharma. lamakene den kesurupan ” yang artinya pada saat Galungan umat Hindu meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan Galungan. Bhuwana Kabeh. Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya. bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dan setiap merayakan Galungan umat Hindu senantiasa membuat Penjor. Galungan mempunyai arti Pawedalan jagat atau otonan gumi. Sira Umara Yadnva. Hyang Sambu Meraga Isepan. Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat. tidak berati jagat ini lahir pada hari Buda Kliwon Dunggulan. Hyang Sri Dewi Meraga Pari. oleh karena itu pada Penjor 4 . berperang antara dharma untuk mengalaahkan adharma. Dalam rangkaian Galungan. bukan melawan musuh berbentuk pisik.Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini. 26”. kemudian ditundukan. Hyang Sangkara Meraga Phalem. Sudarsana. Dalam hubungan inilah lontar Sundarigama mengajarkan agar pada hari – hari itulah umat ” den prayitna anjengkng nirmala. mula-mula kita diserang. Pendeknya.

Surabaya: Paramita Rahajeng Galungan lan Kuningan 5 . Semua yang kita pergunakan adalah kurniaNya. bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Kebudayaan Bali Para Hindu. 2002. padi. jajan dan lainlainya. itu semua sebagai penggugah hati umat untuk membangun rasa pada manusia.Upacara-Upacara. Marilah kita bersama angayubagia. Denpasar : Dinas Kebudayaan Propinsi Bali Supra. Masa Hindu dan Pasca Hindu Sura.digantungkan hasil-hasil pertanian seperti. mengaturkan rasa parama suksema. 2005. Usana Bali. 1995. Kuta : Pustaka Larasan Atmaja. Denpasar : Upada Sastra Suastawa. Daftar Pustaka : Arwati. jagung. kelapa. 2008. Nada. Nilai Filosofis Penjor Galungan dan Kuningan. 2005. Surabaya: Paramitha Weda Kusuma. 1996. Galungan Naramangsa . Dharmayuda. Kajian Naska Sundarigama.