Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai penyakit menular pada manusia yang bersumber dari hewan telah banyak mewabah di dunia.Istilah zoonosis telah dikenal untuk menggambarkan suatu kejadian penyakit infeksi pada manusia yang ditularkan dari hewan vertebrata. Hal inilah yang dewasa ini menjadi sorotan publik dan menjadi objek berbagai studi untuk mengkaji segala aspek yang berkaitan dengan wabah tersebut yang diharapkan nantinya akan diperoleh suatu sistem terpadu untuk pemberantasan dan penanggulangannya. Kemunculan dari suatu penyakit zoonosis tidak dapat diprediksi dan dapat membawa dampak yang menakutkan bagi dunia, terutama bagi komunitas yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat dan veteriner. Dari sejumlah 1.415 mikroba patogen pada manusia yang diketahui, 61,6% bersumber dari hewan (Brown 2004). Sejumlah 616 mikroba patogen yang ditemukan pada hewan ternak, 77,3% diantaranya merupakan multiple spesies atau spesies yang memiliki kemampuan untuk menginfeksi lebih dari satu jenis hewan. Pada karnivora domestik, dari 374 mikroba patogen, 90% diantaranya diklasifikasikan sebagai multiple spesies. Emerging zoonosis dapat dilihat secara operasional sebagai proses dua tahap. Tahap pertama adalah pemaparan suatu agen penyakit ke suatu populasi host yang baru. Tahap kedua adalah proses penyebaran lebih lanjut dari agen penyakit dalam populasi host baru tersebut. Sebagian besar dari kemunculan suatu wabah penyakit berasal dari agen yang sudah berada di lingkungan dimana agen tersebut mendapatkan kesempatan atau waktu dan kondisi yang tepat untuk kembali menginfeksi host atau populasi yang baru. Beberapa contoh kasus emerging zoonosis dewasa yang menjadi sorotan dunia antara lain antraks. Kejadian antraks bersifat universal dimana dapat terjadi di seluruh wilayah dunia mulai dari negara yang beriklim dingin, subtropis dan tropis, pada negara yang miskin, negara berkembang hingga negara maju sekalipun.Kejadian antraks pada manusia di Indonesia hampir selalu berhubungan dengan wabah penyakit antraks pada

hewan. Di Indonesia, sepanjang tahun 2001-2004, kasus antraks pada manusia dilaporkan terjadi setiap tahun.
B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian antraks? 2. Apa etiologi antraks? 3. Apa saja gejala antraks? 4. Bagaimana epidemiologi deskriptif antraks? 5. Bagaimana penularan antraks? 6. Bagaimana pencegahan dan pengobatan antraks? C. Tujuan 1. Menjelaskan pengertian antraks 2. Menjelaskan etiologi antraks 3. Menjelaskan gejala antraks 4. Menjelaskan epidemiologi deskriptif antraks 5. Menjelaskan penularan antraks 6. Menjelaskan pencegahan dan pengobatan antraks

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Antraks

Antraks adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks bermakna "batubara" dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan.Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia, namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia. Penyakit Antraks atau disebut juga Radang Lympha, Malignant pustule, Malignant edema, Woolsorters disease, Rag pickersdisease, Charbon. Penyakit Antraks merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah, sesuai dengan undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 tahun 2010. SPORA Bacillus Anthrax tahan pada suhu panas di atas 43 derajat Celcius.Di dalam tanah, diketahui spora mampu bertahan sampai dengan 40 tahun. Apabila lingkungan memungkinkan, yaitu panas dan lembab maka spora dapat menjadi bentuk bakteri biasa (vegetatif) yang mampu berkembang biak (membelah diri) dengan sangat cepat. Itulah sebabnya, penyakit ini cenderung berjangkit pada musim kemarau. Penyakit antraks merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi di Benua Asia, dengan sifat serangan sporadik. Kawasan endemik antraks di Indonesia meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu yang diserang pada umumnya pekerja peternakan, petani, pekerja tempat pemotongan hewan, dokter hewan, pekerja pabrik yang menangani produk-produk hewan yang terkontaminasi oleh spora antraks, misalnya pabrik tekstil, makanan ternak, pupuk, dan sebagainya.

Antraks adalah penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis, yang hidup di tanah.Sel bakteri tersebut seperti spora untuk bertahan dari ganasnya kondisi.Spora tumbuh subur secara berkoloni dalam tubuh binatang atau manusia. Antraks terkadang menyerang hewan ternak yang jauh dari manusia, tetapi-sebagaimana diketahui pada 2001 antraks menyerang Amerika Serikat--antraks ditakutkan sebagai senjata biologi modern. Penularan atraks melalui daging atau kulit binatang yang terkena antraks dimakan manusia.
B. Etiologi

Bacillus anthracis, kuman berbentuk batang ujungnya persegi dengan sudutsudut tersusun berderet sehingga nampak seperti ruas bambu atau susunan bata, membentuk spora yang bersifat gram positif. Basil bentuk vegetatif bukan merupakan organisme yang kuat, tidak tahan hidup untuk berkompetisi dengan organisme saprofit. Basil Antraks tidak tahan terhadap oksigen, oleh karena itu apabila sudah dikeluarkan dari badan ternak dan jatuh di tempat terbuka, kuman menjadi tidak aktif lagi, kemudian melindungi diri dalam bentuk spora. Apabila hewan mati karena Antraks dan suhu badannya antara 28 -30 C, basil antraks tidak akan didapatkan dalam waktu 3-4 hari, tetapi kalau suhu antara 5 -10 C pembusukan tidak terjadi, basil antraks masih ada selama 3-4 minggu. Basil Antraks dapat keluar dari bangkai hewan dan suhu luar di atas 20C, kelembaban tinggi basil tersebut cepat berubah menjadi spora dan akan hidup. Bila suhu rendah maka basil antraks akan membentuk spora secara perlahan lahan (Christie 1983). Bacillus antracis penyebab penyakit antraks mempunyai dua bentuk siklus hidup, yaitu fase vegetatif dan fase spora
1. Fase Vegetatif

Berbentuk batang, berukuran panjang 1-8 mikrometer, lebar 1-1,5 mikrometer. Jika spora antraks memasuki tubuh inang (manusia atau hewan memamah biak) atau keadaan lingkungan yang memungkinkan spora segera berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian memasuki fase berkembang biak. Sebelum inangnya mati, sejumlah besar bentuk vegetatif bakteri antraks memenuhi darah.Bentuk vegetatif biasa keluar dari dalam tubuh melalui pendarahan di hidung, mulut, anus, atau pendarahan lainnya.Ketika inangnya mati dan oksigen tidak tersedia lagi di darah

bentuk vegetatif itu memasuki fase tertidur (dorman/tidak aktif).Jika kemudian dalam fase tertidur itu terjadi kontak dengan oksigen di udara bebas, bakteri antraks membentuk spora (prosesnya disebut sporulasi). Pada fase ini juga dikaitkan dengan penyebaran antraks melalui serangga, yang akan membawa bakteri dari satu inang ke inang lainnya sehingga terjadi penularan antraks kulit, akan tetapi hal tersebut masih harus diteliti lebih lanjut.
2. Fase Spora

Berbentuk seperti bola golf, berukuran 1-1,5 mikrometer. Selama fase ini bakteri dalam keadaan tidak aktif (dorman), menunggu hingga dapat berubah kembali menjadi bentuk vegetatif dan memasuki inangnya.Hal ini dapat terjadi karena daya tahan spora antraks yang tinggi untuk melewati kondisi tak ramah--termasuk panas, radiasi ultraviolet dan ionisasi, tekanan tinggi, dan sterilisasi dengan senyawa kimia.Hal itu terjadi ketika spora menempel pada kulit inang yang terluka, termakan, atau--karena ukurannya yang sangat kecil--terhirup.Begitu spora antraks memasuki tubuh inang, spora itu berubah ke bentuk vegetatif.
C. Gejala

Gejala umum penyakit antraks terjadinya demam dengan suhu badan yang tinggi dan hewan kehilangan nafsu makan. Sedangkan gejala yang bersifat khas: gemetar, ngantuk, lumpuh, lelah, kejang-kejang, mulas, bercak merah pada membran mukosa, mencret disertai darah, sulit bernapas sehingga mati lemas dan terdapat bisul yang makin membesar berisi nanah kental berwarna kuning. Manusia yang terinfeksi dan menderita penyakit antraks ditandai dengan gejala: suhu badan tinggi, mual-mual dan terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar leher, dada dan ketiak. Rata-rata masa inkubasi antraks lebih dari 7 hari, bisa juga 60 hari bahkan lebih tergantung lamanya gejala terbentuk. Gejala klinis antraks pada manusia dibagi menjadi 4 bentuk yaitu antraks kulit, antraks saluran pencernaan, antraks paru dan antraks meningitis.
1. Antraks Kulit (Cutaneus Anthrax)

Kejadian antraks kulit mencapai 90% dari keseluruhan kejadian antraks di Indonesia. Masa inkubasi antara 1-5 hari ditandai dengan adanya papula pada

inokulasi, rasa gatal tanpa disertai rasa sakit, yang dalam waktu 2-3 hari membesar menjadi vesikel berisi cairan kemerahan, kemudian haemoragik dan menjadi jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi kerak berwarna hitam, kering yang disebut Eschar (patognomonik). Selain itu ditandai juga dengan demam, sakit kepala dan dapat terjadi pembengkakan lunak pada kelenjar limfe regional.Apabila tidak mendapat pengobatan, angka kematian berkisar 5-20%.
2. Antraks Saluran Pencernaan (Gastrointestinal Anthax)

Masa inkubasi 2-5 hari.Penularan melalui makanan yang tercemar kuman atau spora misal daging, jerohan dari hewan, sayur- sayuran dan sebagainya, yang tidak dimasak dengan sempurna atau pekerja peternakan makan dengan tengan yang kurang bersih yang tercemar kuman atau spora antraks.Penyakit ini dapat berkembang menjadi tingkat yang berat dan berakhir dengan kematian dalam waktu kurang dari 2 hari.Angka kematian tipe ini berkisar 25-75%. Gejala antraks saluran pencernaan adalah timbulnya rasa sakit perut hebat, mual, muntah, tidak nafsu makan, demam, konstipasi, gastroenteritis akut yang kadang-kadang disertai darah, hematemesis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal (lipat paha), perut membesar dan keras, kemudian berkembang menjadi ascites dan oedem scrotum serta sering dijumpai pendarahan gastrointestinal.
3. Antraks Paru-paru (Pulmonary Anthrax)

Masa inkubasi : 1-5 hari (biasanya 3-4 hari). Gejala klinis antraks paru-paru sesuai dengan tanda-tanda bronchitis.Dalam waktu 2-4 hari gejala semakin berkembang dengan gangguan respirasi berat, demam, sianosis, dispneu, stridor, keringat berlebihan, detak jantung meningkat, nadi lemah dan cepat.Kematian biasanya terjadi 2-3 hari setelah gejala klinis timbul.
4. Antraks Meningitis (Meningitis Anthrax)

Terjadi karena komplikasi bentuk antraks yang lain, dimulai dengan adanya lesi primer yang berkembang menjadi meningitis hemoragik dan kematian dapat terjadi antara 1-6 hari. Gambaran klinisnya mirip dengan meningitis purulenta akut

yaitu demam, nyeri kepala hebat, kejang-kejang umum, penurunan kesadaran dan kaku kuduk. D. Epidemiologi Deskriptif Antraks 1. Variabel Distribusi Kejadian Meskipun Bacillus anthracis dapat ditemukan di seluruh dunia, kasus antraks biasanya terjadi hanya di daerah geografis terbatas. Wabah yang paling umum di daerah ditandai dengan tanah basa, tanah berkapur, lingkungan yang hangat, dan kejadian banjir. Antraks sangat umum di bagian Afrika, Asia dan Timur Tengah. Di Amerika Serikat, penyakit ini telah dilaporkan dari sebagian besar negara, tetapi terjadi paling sering di Eropa tengah dan Barat. Di Indonesia, anthrax pertama kali diberitakan oleh Javasche Courant terjadi pada kerbau di Teluk betung ( Sumatra ) tahun 1884. Berikutnya Koran Kolonial Verslag memberitakan anthrax di Buleleng ( Bali ), Rawas (Palembang) dan lampung pada tahun 1885. Pada tahun 1886, Koran yang sama memuat berita bahwa wabah penyakit anthrax di Banten, Padang-darat, Kalimantan Barat dan Timur dan Pulau Rote (NTT). 2. Variabel Orang a. Jenis kelamin Berikut adalah distribusi antraks di jawa tengah pada tahun 2011

Penderita antraks kebanyakan terjadi pada laki-laki. Kelompok laki-laki dapat terkena kasus antraks terkait dengan aktivitas pekerjaannya. Sementara pada kelompok wanita kasus juga banyak terjadi akibat aktivitasnya dalam

mengolah daging sebagai ibu rumah tangga. Pada sebuah Penelitian yang dilakukan oleh Wood eta/./ (2004) di Kazakhtan menyebutkan 67% dari penderita antraks terjadi pada laki-laki yang terkait dengan pekerjaannya yang lebih banyak kontak dengan hewan. Menurut Hadisaputro (1990) dalam hubungan jenis kelamin pada manusia tampak bahwa penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penderita perempuan. b. Umur Pada penelitian kasus antraks di Bogor tahun 2008. Pesentase

masyarakat yang terkena kasus penyakit antraks tipe kulit dengan yang tidak terkena penyakit pada kelompok masyarakat berusia lebih dari 36 tahun di Kabupaten Bogor sama besarnya yaitu sebesar 47,1 %. Hal ini menunjukkan antara kelompok usia muda ( <36 tahun) dengan kelompok yang lebih tua (>36 tahun) memiliki risiko yang hampir sama untuk terkena penyakit antraks tipe kulit. Kelompok umur lebih muda ( <36 tahun) biasanya merupakan kelompok usia produktif yang masih melakukan kegiatan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Wilayah Kabupaten Bogor yang letaknya berada di sekitar Kota Jakarta menyebabkan kelompok usia muda lebih menyukai bekerja di sektor industri seperti pabrik atau garmen. Sementara pekerjaan berisiko terkena antraks seperti peternak atau petani banyak dilakukan oleh kelompok umur yang lebih tua (~36 tahun). Berbeda dengan hasil ini, penelitian yang telah dilakukan oleh Kaufmann dan Dannenberg (2002) dengan melihat data kasus antraks di Haiti tahun 1973-1974 menunjukkan bahwa 36,9% dari kasus antraks bentuk kulit (36,9%) terjadi pada penduduk yang berumur 15-44 tahun karena banyak yang bekerja membuat kerajinan yang berhubungan dengan sumber infeksi seperti kulit dan produk lainnya yang diambil dari hewan yang terinfeksi antraks. c. Ras Tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian antraks dengan ras tertentu. Kejadian antraks ini pernah terjadi pada 17 propinsi Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua, Jawa

Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat (ADJID dan SANI, 2005). Bahkan pernah terjadi di beberapa negara di Afrika dan Asia, beberapa negara di Eropa, beberapa negara bagian Amerika, dan beberapa negara di Australian (OIE, 2000). Penyakit antraks tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan ras, karena hampir semua ras di dunia pernah terjadi kejadian antraks d. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan pengetahuan sikap dan perilaku. Menurut Soeharsono penyakit antraks mempunyai potensi besar untuk menular dari hewan kemanusia terutama pada daerah yang kurang subur dan tingkat pendidikan masyarakat yang tergolong rendah. Responden Tingkat pendidikan yang rendah merupakan salah satu hambatan sosial dalam masyarakat, selain itu masih terdapat praktek masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai kesehatan, seperti kebiasaan menjual ternak yang sakit dan kebiasaan memotong dan mengkonsumsi daging ternak yang mati. Pola pemeliharaan ternak secara pengembalaan yang berlebihan berpeluang untuk penularan antraks Penelitian ini bertejuan untuk mengetahui faktor lingkungan sat pH, kandungan bahan organik dan suhu pada tempat kejadian antraks serta pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat tentang antraks. e. Jenis Pekerjaan Pada kejadian antraks di bogor tahun 2008, penderita antraks lebih besar terjadi pada masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai petani peternak (39,2%) dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai bukan petani/ peternak pada kelompok kontrol (17,6%). Hal ini berarti orang yang bekerja sebagai petani peternak memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk terkena penyakit antraks dibandingkan yang bekerja bukan sebagai petani peternak. Kelompok yang bekerja sebagai petani atau peternak tentu memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit antraks. Pada kelompok yang bekerja sebagai petani, infeksi antraks pada kulit dapat diperoleh dari kegiatan bertani yang memang banyak berkontak dengan tanah atau mungkin infeksi

didapat dari kontak dari hewan rentan pada saat membajak sawah. Pada kelompok yang bekerja sebagai peternak infeksi dapat diperoleh akibat aktivitasnya yang memiliki riwayat kontak yang erat dengan hewan rentan antraks. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irmak (2003) pada penderita antraks tipe kulit di Anatolia Turki, yaitu bahwa 35,9% dari kasus yang diteliti memiliki pekerjaan sebagai peternak dan 23% lainnya memiliki pekerjaan sebagai petani. Kasus banyak terjadi pada peternak karena para peternak ini memiliki riwayat kontak yang cukup erat dengan ternak rentan yang mungkin terinfeksi. Kasus pada petani juga cukup banyak terjadi yang mungkin diakibatkan oleh aktivitas yang berkaitan erat dengan tanah yang terkontaminasi atau penggunaan ternak rentan dalam melaksanakan kegiatan pekerjaanya. Penelitian oleh Arifin (1990) tentang KLB antraks di Kabupaten Boyolali, Semarang dan Demak menyebutkan penderita antraks pada pekerja PIR susu mencapai 56,25% sedangkan yang pekerjaannya bertani mencapai 25%. Temuan ini terkait karena para pekerja di PIR susu memiliki peluang yang lebih besar untuk kontak dengan hewan yang terinfeksi antraks dibandingkan dengan yang bekerja sebagai petani. Sebaliknya, penelitian ter-hadap penyakit antraks di Kabupaten Bogor tahun 2001-2003 menyebutkan pekerjaan buruh dan ibu rumah tangga merupakan penderita terbesar kasus antraks masing-masing 28,1% sedangkan yang pekerjaannya petani mencapai 17,5%. Tingginya jumlah kasus pada ibu rumah tangga diduga terjadi karena peranannya dalam menangani dan memotong daging dari hewan sakit akibat antraks (Mulyana,2004)

3. Variabel Tempat Kejadian antraks di indonesia bersifat endemis. Daerah endemis anthrax di Indonesia tercatat ada 11 propinsi yaitu: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, NTB, NTT, Sumatera Barat, Jambi, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Papua (DEPKES RI, 2004). Pada tahun 2002 di Indonesia kasus anthrax terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, Sumbawa NTB dan Kabupaten Bima. Tahun 2001 sampai tahun 2002 terjadi peningkatan CFR yang cukup tinggi yaitu dari 6,45%

(tahun 2001) menjadi 27,6% (tahun 2002). Tahun 2004 kasus anthrax berulang kembali di Jawa Barat. Tahun 2001 sampai tahun 2002 terjadi peningkatan CFR yang cukup tinggi yaitu dari 6,45% (tahun, 2001) menjadi 27,6% (tahun 2002).

4. Variabel Waktu Pada umumnya ledakan anthrax di Indonesia terjadi pada peralihan musim yaitu dari musim kemarau ke penghujan, seperti yang dilaporkan DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR (2005) bahwa kejadian anthrax dari tahun 2001-2004 yang paling tinggi kasusnya terjadi pada bulan-bulan Oktober, dimana pada bulan tersebut merupakan awal bulan penghujan
E. Cara Penularan

Sumber penyakit antraks adalah hewan ternak herbivora.Manusia terinfeksi antraks melalui kontak dengan tanah, hewan, produk hewan yang tercemar spora

antraks.Penularan juga bisa terjadi bila menghirup spora dari produk hewan yang sakit seperti kulit dan bulu. Pada hewan-hewan pemakan rumput, lapangan penggembalaan yang tercemar Bacillus Anthrax (B.a) merupakan media penyaluran penyakit yang paling efektif.B.a. masuk ke dalam tubuh lewat pakan atau air minum melalui mulut. Nanah yang keluar dari bisul pecah banyak mengandung B.a. dapat mencemari lingkungan sekitarnya. Darah ternak yang positif sakit antraks banyak mengandung B.a. sehingga melakukan penyembelihan memungkinkan darah menyebar dan merupakan sumber penularan penyakit. Penularan penyakit antraks pada manusia pada umumnya karena manusia mengonsumsi daging yang berasal dari ternak yang mengidap penyakit tersebut. Meskipun hanya mengonsumsi dalam jumlah kecil, B.a. mempunyai daya menimbulkan penyakit sangat tinggi. Terlebih pada saat pertahanan tubuh manusia menjadi rendah akibat: kelaparan, defisiensi vitamin A, keracunan (alkohol), kepayahan, iklim yang jelek (sangat dingin/panas) dan cekaman (stres). Disamping itu penularan pada manusia dapat melalui luka.Seyogianya peternak yang memiliki luka pada bagian tubuhnya tidak masuk kandang ternak atau merawat ternak yang diduga terserang penyakit antraks.Penularan penyakit dari manusia ke manusia jarang terjadi meskipun ada kontak langsung dengan penderita. Antraks atau dikenal dengan radang limpa pada hewan dapat menyerang hewan: Sapi, Babi, Kuda, Kerbau, Kambing, Domba, Binatang buas, Burung unta, itik dan Angsa. Tanda-tanda Ternak Terserang Antraks adalah kematian mendadak tanpa disertai tandatanda sebelumnya, keluar darah dari dubur, mulut, dan lubang hidung, darah berwarna merah tua seperti ter. Pembengkakan di daerah leher, dada dan sisi lambung (limpa), pinggang dan alat kelamin luar. Pada penyakit antraks yang berlangsung perakut domba dan sapi banyak yang mengalami kematian dalam waktu singkat. Proses yang berlangsung perakut tersebut biasanya ditandai dengan gejala klinis berupa hewan tiba-tiba menjadi lemah secara mendadak, demam, sesak nafas dapat juga disertai kekejangan dan keluarnya darah dari lubang-lubang tubuh. Kematian berlangsung dalam beberapa menit sampai beberapa hari.

Beberapa penderita dapat pula mengalami keluron dan mungkin akan mengalami pembengkakan oedematous yang lunak dan panas pada jaringan di bawah kulit, terutama pada bagian bawah perut dan pinggang. Lesi tersebut tidak menghasilkan suara krepitasi pada saat dilakukan palpasi, hal ini disebabkan karena bacillus anthracis tidak membentuk gas.Pada beberapa kasus juga ditemukan adanya tinja berdarah. Kejadian antraks pada kuda juga memiliki gejala klinis sebagaimana disebutkan.Hewan biasanya juga menunjukkan gejala klinis seperti kolik.Kematian dapat terjadi sehari ataupun lebih lama bila dibandingkan dengan penyakit pada ruminansia. Pada Babi, penyakit biasanya berlangsung lebih ringan dan berbentuk sebagai faringitis dan bersifat subakut. Septisemia tidak ditemukan pada babi Radang yang terdapat pada kelenjar limferegional yang bersifat septic akan menghilang secara spontan, meskipun tidak ada pemberian antibiotika. Penyakityang ditimbulkan oleh Bacillus anthracis yaitu antraks kulit, saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan dapat sampai ke otak yang disebut antraks otak atau meningitis. Antraks kulit terjadi karena disebabkan infeksi pada kulit sehingga spora Bacillus anthracis dapat masuk melalui kulit.Antraks saluran pencernaan yang disebabkan karena spora Bacillus anthracis yang tebawa oleh makanan yang telah terinfeksi dan sampai ke saluran pencernaan.Antraks saluran pencernaan yang disebabkan karena spora Bacillus anthracis yang terhirup. Adapun pada manusia penularan penyakit antraks seringnya melalui hal-hal sebagai berikut :
a. Kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di tanah atau rumput, hewan yang

sakit, maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang sakit seperti kulit, daging, tulang dan darah.
b. Bibit penyakit terhirup orang yang mengerjakan bulu hewan (domba dll) pada waktu

mensortir. Penyakit dapat ditularkan melalui pernapasan bila seseorang menghirup spora Antraks.
c. Memakan daging hewan yang sakit atau produk asal hewan seperti dendeng, abon

dll.

F. Pencegahan Dan Pengobatan 1. Langkah Pencegahan

Langkah pencegahan dimaksudkan agar ternak-ternak yang ada tidak tertular penyakit antraks selama jangka waktu tertentu.Dengan meningkatkan kekebalan ternak setelah dilakukan suntikan pencegahan menggunakan vaksin tertentu secara periodik.Untuk kawasan endemik antraks, vaksinasi seharusnya diulang setiap tahun secara kontinyu.Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kemudahan dan ketersediaan vaksin.Untuk itu, Dinas Peternakan atau Pertanian harus bertanggung jawab dalam pengadaan vaksin. Pemberian vaksin antraks, kepada :
a. Orang yang bekerja langsung di laboratorium b. Orang yang bekerja dengan kulit atau bulu hewan yang diimpor atau di daerah

dimana standar tidak cukup untuk mencegah infeksi spora antraks


c. Orang yang menangani produk hewan yang berpotensi terinfeksi di daerah daerah

insiden tinggi
d. Anggota militer yang dikerahkan ke daerah daerah dengan resiko tinggi untuk

terkena
e. BioThrax atau Antraks vaksin diserap a. Dibuat oleh Bioport dan jalur paparan

tidak penting
f. Diberikan secara subkutan 5 mL pada minggu 0,2 dan 4 dan pada bulan 6, 12,

dan 18 serta dosis tinggi pada interval 1 tahun.


2. Langkah pengobatan

Bacillus anthracis kerentanannya terhadap hampir semua antibiotika sangatlah tinggi.Yang paling disukai adalah dengan clindamycin yang mempunyai aktivitas terhadap Bacillus anthracis dan potensi anti-eksotoksin.Pengalaman beberapa pasien menunjukkan respon yang lebih bagus ketika clindamycin 600 mg (iv)/ 8 jam atau

300 mg (po)/8 jam plus rifampicin 300 mg (po)/12 jam plus golongan quinolone (levofloksasin). Peniciline masih merupakan antibiotika yang paling ampuh, dengan cara pemberian tergantung tipe dan gejala klinisnya, yaitu:
a. Antraks Kulit 1) Procain Penicilline 2 x 1,2 juta IU, secara IM, selama 5-7 hari 2) Benzyl Penicilline 250.000 IU, secara IM, setiap 6 jam, sebelumnya harus

dilakukan skin test terlebih dahulu.


3) Apabila hipersensitif terhadap penicilline dapat diganti dengan tetracycline,

chloramphenicol atau erytromicine.


b. Antraks Saluran Pencernaan & Paru 1) Penicilline G 18-24 juta IU perhari IVFD, ditambahkan dengan Streptomycine

1-2 g untuk tipe pulmonal dan tetracycline 1 g perhari untuk tipe gastrointestinal.
2) Terapi suportif dan simptomatis perlu diberikan, biasanya plasma expander

dan regimen vasopresor. Antraks Intestinal menggunakan Chloramphenicol 6 gram perhari selama 5 hari, kemudian meneruskan 4 gram perhari selama 18 hari, diteruskan dengan eritromisin 4 gram perhariuntuk menghindari supresi pada sumsum tulang.
3. Langkah Pengawasan

Langkah ini untuk memantau kesehatan ternak secara umum di suatu wilayah (dukuh, desa, kecamatan), khususnya terhadap penyakit antraks.Petugas Dinas Peternakan/Pertanian harus mampu merangkul seluruh anggota kelompok tani ternak di wilayahnya agar mau melaporkan kondisi kesehatan ternaknya dari waktu ke waktu.Peternak harus diyakinkan bahwa ternak yang keluar (dijual) atau yang masuk (dibeli) benar-benar dalam keadaan sehat. Pengawasan lalu lintas ternak antarprovinsi hendaknya lebih diperketat, agar ternak-ternak yang sakit tidak berpindah wilayah sehingga penyebaran penyakit

dapat dicegah.Pemerintah hendaknya menerapkan dengan ketat pengawasan kesehatan masyarakat veteriner, dengan penyembelihan ternak dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan melalui pemeriksaan kesehatan prapenyembelihan dan pascapenyembelihan.Hanya daging yang berasal dari ternak yang sehat yang boleh diperdagangkan dan dikonsumsi.Pelanggaran dari larangan ini dapat dikenakan pidana berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
4. Pembinaan dan Bimbingan

Hubungan baik antara petugas atau tim pembina dan pembimbing dengan masyarakat peternak harus tetap dipelihara dan dipupuk, melalui kegiatan pendidikan atau pelatihan, penyuluhan maupun sarasehan secara berkala, utamanya di kawasan endemik antraks. Langkah pembinaan dan pembimbingan tersebut antara lain dengan mengadakan kegiatan:
a. Sosialisasi Undang-undang Republik Indonesia No 6 Tahun 1967 tentang

Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner. Sosialisasi hendaknya dilakukan secara menarik sehingga hak dan kewajiban peternak dapat dipahami dan disadari dengan baik.
b. Penyuluhan tentang manajemen zooteknis ternak potong (sapi, kerbau, kambing,

domba dan babi) dengan tekanan pada manajemen pencegahan dan penanganan penyakit.
c. Pelatihan usaha ternak potong guna meningkatkan keterampilan peternak,

meliputi:

sistem

perkandangan, pengaturan

pakan,

pemeliharaan, serta

penyakit

dan

penanggulangannya,

produksi/panen

analisis

ekonomi.

Dengan kegiatan ini maka peternak akan merasa diperhatikan dan menjadi lebih tahu sehingga lebih mudah dilibatkan dalam upaya pengendalian penyakit antraks.(Dr.Ir. Djarot Harsojo Reksowardojo MS/ Fakultas Peternakan Undip-35) Langkah Penanganan terhadap Kawasan Penyakit Antraks:
1) Penutupan wilayah terhadap lalu lintas (keluar-masuk) ternak maupun lalu

lintas umum.

2) Mengisolasi ternak yang sakit pada suatu tempat yang terpindah dari lalu lintas

ramai.
3) Penyucihamaan ternak yang sakit, dengan cara: lantai ditaburi kapur,

membuka atap kandang hingga sinar matahari dapat menjangkau seluruh luasan kandang selama pengistirahatan kandang dan gunakan desinfektan yang sesuai untuk seluruh permukaan dan bagian kandang.
4) Segera lakukan vaksinasi terhadap seluruh ternak yang masih sehat di seluruh

kawasan.
5) Jangan melakukan otopsi atau bedah mayat karena berisiko tinggi terhadap

penyebaran B.a.
6) Yakinkan tidak ada ternak sakit yang disembelih dan dagingnya dikonsumsi

oleh masyarakat. Bila ada, segera bawa konsumen ke rumah sakit untuk mendapat penanganan atau perawatan selanjutnya.
7) Bakar bangkai ternak yang mati sampai habis atau kubur pada kedalaman 2,50

m di dalam tanah. Sebelum bangkai ditimbun dengan tanah, tutuplah dengan kapur atau disiram dengan larutan formalin.
8) Bunuh segera ternak yang dalam keadaan sakit parah. 9) Obati ternak yang terserang pada gejala awal dan isolasikan. 10) Tutup padang atau lapangan penggembalaan dari aktivitas merumput.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan 1. Antraks merupakanpenyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan

bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas. Sel bakteri tersebut seperti spora untuk bertahan dari ganasnya kondisi. Spora tumbuh subur secara berkoloni dalam tubuh binatang atau manusia.
2. Sumber penyakit antraks adalah hewan ternak herbivora. Manusia terinfeksi antraks

melalui kontak dengan tanah, hewan, produk hewan yang tercemar spora antraks. Penularan juga bisa terjadi bila menghirup spora dari produk hewan yang sakit seperti kulit dan bulu. Penularan penyakit antraks pada manusia pada umumnya karena manusia mengonsumsi daging yang berasal dari ternak yang mengidap penyakit tersebut. Meskipun hanya mengonsumsi dalam jumlah kecil, B.a. mempunyai daya menimbulkan penyakit sangat tinggi. Terlebih pada saat pertahanan tubuh manusia menjadi rendah akibat: kelaparan, defisiensi vitamin A, keracunan (alkohol), kepayahan, iklim yang jelek (sangat dingin/panas) dan cekaman (stres). Disamping itu penularan pada manusia dapat melalui luka. Seyogianya peternak yang memiliki luka pada bagian tubuhnya tidak masuk kandang ternak atau merawat ternak yang diduga terserang penyakit antraks. Penularan penyakit dari manusia ke manusia jarang terjadi meskipun ada kontak langsung dengan penderita.
3. Gejala umum penyakit antraks terjadinya demam dengan suhu badan yang tinggi dan

hewan kehilangan nafsu makan. Sedangkan gejala yang bersifat khs: gemetar, ngantuk, lumpuh, lelah, kejang-kejang, mulas, bercak merah pada membran mukosa, mencret disertai darah, sulit bernapas sehingga mati lemas dan terdapat bisul yang makin membesar berisi nanah kental berwarna kuning. 4. Epidemiologi Deskriptif Antraks

a. Variabael distribusi kejadian : Bacillus anthracis dapat ditemukan di seluruh dunia, kasus antraks biasanya terjadi hanya di daerah geografis terbatas. b. Variabel Orang 1) Jenis kelamin : Penderita antraks kebanyakan terjadi pada laki-laki 2) Umur : antara kelompok usia muda ( <36 tahun) dengan kelompok yang lebih tua (>36 tahun) memiliki risiko yang hampir sama untuk terkena penyakit antraks tipe kulit. 3) Ras : Tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian antraks dengan ras tertentu. 4) Tingkat pendidikan : Menurut Soeharsono penyakit antraks mempunyai potensi besar untuk menular dari hewan kemanusia terutama pada daerah yang kurang subur dan tingkat pendidikan masyarakat yang tergolong rendah. 5) Jenis Pekerjaan : penderita antraks lebih besar terjadi pada masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai petani peternak c. Variabel Tempat Kejadian antraks di indonesia bersifat endemis. d. Variabel Waktu Pada umumnya ledakan anthrax di Indonesia terjadi pada peralihan musim yaitu dari musim kemarau ke penghujan,
5. Cara penanggulangan antraks dapat melalui upaya upaya , antara lain pemberian

vaksin kepada orang orang yang dapat menjadi agent penular antraks, pemberian obat misalnya penicilin dengan dosis yang tepat, melakukan pengawasan, bimbingan dan penyuluhan.
B. Saran

Masyarakat dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ternak harus berhati hati.Selalu memakai alat pelindung diri dan menjaga hygiene perorangan agar

tidak terkena spora Bacillus anthracis.Banyak membaca informasi tentang antraks diharapkan dapat lebih meningkatkan pemahaman dan pecegahan secara dini. Jika terjadi infeksi segera di bawa ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan dan di harapkan tidak menular kepada yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Jasmin, Brilliantina Aisyah .2012. Makalah Epidemiologi Wabah Antraks dalam http://alloybluebird.blogspot.com/2012/05/makalah-epidemiologi-tentangwabah.html diakses pada 1 april 2013 pukul 20.25 WIB Redhono, dhani,dkk.2011.Prevalensi Antraks di Indonesia dalam

http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/Prevalensi_Antraks_di_Indonesia.pdf diakses pada 6 april 2013 pukul 18.55WIB Basri, chaerul. 2009. Hubungan Karakteristik Individu Dengan Kejadian Penyakit Antraks Tipe Kulit Pada Penduduk Dl Wilayahn Kabupaten Bogor dalam http://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/viewFile/6452/4983 diakses pada 1 april 2013 pukul 20.40 WIB Willa, Ruben Wadu.2010. Perilaku Masyarakat Dan Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Antraks Dikecamatan Kodi Kabupaten Sumba Barat pada 7 april 2013 pukul 19.35 WIB Daya dalam http://peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/lokakarya/lkzo05-32.pdf diakses