KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NO KM.

7 TAHUN 2010

RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010-2014

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 7 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010 – 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : Sebagai tindaklanjut diterbitkannya Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014, perlu ditetapkan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010 – 2014 dengan Keputusan Menteri Perhubungan;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

1

6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 75); 7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006; 8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2007; 9. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 43 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 37 Tahun 2006; 10. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 49 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Departemen Perhubungan Tahun 2005-2025; 11. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan Proses Perencanaan di Lingkungan Departemen Perhubungan. ME MUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010 – 2014. Pasal 1 Menetapkan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010 – 2014 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini Pasal 2 Rencana Strategis Kementerian Perhubungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib digunakan sebagai pedoman oleh setiap unit kerja di lingkungan Kementerian Perhubungan. Pasal 3 Rencana Strategis Kementerian Perhubungan akan dievaluasi secara berkala disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis yang terjadi. Pasal 4 Keputusan ini berlaku pada tanggal ditetapkan.

2

Ditetapkan di Pada tanggal

: JAKARTA : 1 Pebruari 2010

MENTERI PERHUBUNGAN TTD FREDDY NUMBERI SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada : 1. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan; 2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; 3. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas; 4. Menteri Keuangan; 5. Menteri Dalam Negeri; 6. Para Gubernur; 7. Sekjen, Irjen, Para Dirjen dan Para Kepada Badan di lingkungan Kementerian Perhubungan; 8. Para Kepala Biro, Kapusdatin dan Kepala Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan; 9. Para Bupati/Walikota; 10. Para Atase Perhubungan; 11. Para Direksi BUMN Sektor Transportasi.

Salinan resmi sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum dan KSLN TTD UMAR ARIS, SH. MM. MH Pembina Tingkat I (IV/b)

3

4 .

meningkatnya kapasitas sarana dan prasarana transportasi i .5 Tahun 2010. dalam mencapai tujuan nasional melalui kegiatan distribusi barang dan mobilitas manusia ke seluruh pelosok tanah air dan antar negara. menyeluruh/komprehensif (mencakup semua aspek/subsistem) dan terpadu/integral (antar aspek/subsistem). Perubahan lingkungan strategis tersebut diprediksi akan melatarbelakangi beberapa perubahan skema-skema perencanaan dalam bentuk rencana kerja dan rencana anggaran pembangunan yang disusun berdasarkan penganggaran terpadu (unified budget) menurut klasifikasi organisasi. dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai Standar Pelayanan Minimal. sehingga akan mewarnai penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan. mengikuti perkembangan (konstektual). selain keberhasilan yang telah dicapai. antisipatif (responsif) serta berkelanjutan (berkesinambungan). Sasaran pembangunan transportasi nasional Tahun 2010-2014 adalah meningkatnya keselamatan. Sesuai dengan amanah yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara. Selain itu perencanaan yang dilakukan harus tetap bersifat rasional (terukur secara kuantitatif). Tugas pokok dan fungsi perhubungan tersebut diselenggarakan dalam rangka mendukung langkah-langkah penyelamatan. berbangsa dan bernegara. Penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 yang merupakan tugas sektoral dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2010-2014 sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. disiapkan guna merespon dan mengantisipasi perubahan lingkungan strategis baik internal maupun eksternal. keamanan. sejalan dan terpadu dengan pembangunan perangkat lunak (software) serta pengembangan sumber daya manusia (brainware). fungsi dan jenis belanja serta penyusunan program kerja yang berkesinambungan (sustainable program) berbasis kinerja. Meskipun terjadi berbagai perubahan lingkungan strategis. Namun demikian. pemantapan dan pengembangan pembangunan guna mewujudkan kemajuan di segala bidang. perencanaan pembangunan perhubungan senantiasa tetap berpegang kepada pendekatan kesisteman agar pembangunan perangkat keras (hardware) seiring. meningkatnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana transportasi guna mendorong pengembangan konektivitas antar wilayah. Kementerian Perhubungan mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang perhubungan.KATA PENGANTAR Pembangunan transportasi selama ini telah mampu menghubungkan wilayah Indonesia dalam satu untaian jaringan dan menjadikan perhubungan sebagai urat nadi kehidupan bermasyarakat. pemulihan. sementara transportasi terus dituntut untuk melaksanakan fungsi penunjang dan pendorong jasa transportasi ke seluruh pelosok tanah air. masih banyak tantangan yang dihadapi untuk pembangunan ke depan sebagai akibat krisis multi dimensi yang pemulihannya dirasakan masih berjalan lambat serta berbagai bencana alam yang menimpa sebagian wilayah negara kesatuan Republik Indonesia yang membawa dampak berupa rusaknya sebagaian infrastruktur transportasi.

Badan Penelitian dan Pengembangan. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 di samping dipergunakan sebagai acuan bagi seluruh jajaran Kementerian Perhubungan untuk menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-KL) di bidang Perhubungan yang akan dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2011-2014.untuk mengurangi backlog dan bottleneck kapasitas infrastruktur transportasi. Transportasi Laut. dan Sekretariat Jenderal. Inspektorat Jenderal. terwujudnya pengembangan teknologi transportasi yang efisien dan ramah lingkungan sebagai antisipasi terhadap perubahan iklim. rawan bencana maupun pengarusutamaan terkait dampak perubahan iklim di sektor transportasi. dan bersamaan waktu dengan masa kepemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 disusun dalam kondisi keuangan pemerintah masih dalam proses pemulihan sebagai akibat krisis keuangan yang hampir melanda seluruh dunia. selanjutnya disusun program-program pembangunan. termasuk kebijakan pembangunan transportasi di kawasan terisolir. Badan Pendidikan dan Pelatihan. sehingga diharapkan Renstra Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 dapat dijadikan acuan maupun pedoman dalam pelaksanaan proses pembangunan di sektor transportasi di masa mendatang. Dengan arah kebijakan pada masing-masing sub sektor di lingkungan Kementerian Perhubungan. Secara rinci RENSTRA Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 berisi kemajuan yang telah dicapai serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada masingmasing sub sektor di lingkungan Kementerian Perhubungan. Secara umum Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Perhubungan Tahun 20102014 memuat keseluruhan kebijakan publik di lingkungan Kementerian Perhubungan dan secara khusus membahas kebijakan publik sektor perhubungan yang terkait dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disusun berdasarkan alokasi kebutuhan pendanaan yang tertampung dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2010-2014 . Transportasi Udara. secara substansi juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2010-2014. MENTERI PERHUBUNGAN FREDDY NUMBERI ii . yang meliputi Transportasi Darat. berdimensi kewilayahan (per pulau) dan telah menyesuaikan dengan Restrukturisasi dan Reformasi Program dan Kegiatan Pembangunan yang akan mulai diberlakukan pada tahun 2011. peningkatan kualitas SDM dan melanjutkan restrukturisasi kelembagaan serta reformasi regulasi. terluar perbatasan. Transportasi Perkeretaapian. Dari perkembangan keadaan tersebut kemudian dirumuskan sasaran pembangunan yang hendak dicapai serta prioritas pembangunan yang akan ditempuh dengan mengacu pada agenda pembangunan yang perlu diselesaikan pada tahun 2010-2014.

................................................................................................................................................................................................................. II-1 1) 2) 3) 4) 5) b....................................................................................................................................... II-1 Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Jalan...................................................................................................................... D........ II-8 TRANSPORTASI SUNGAI............................................................................................................................................................................................... Danau dan Penyeberangan ................ II-2 Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Angkutan Jalan ..................................................................................... I-2 KERANGKA PIKIR ...... TRANSPORTASI DARAT .............. EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2005-2009 REALISASI PROGRAM PEMBANGUNAN 2005-2009........ Danau dan Penyeberangan.................................................................................................................................................................................................... PENDAHULUAN LATAR BELAKANG............. II-4 Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Fasilitas Transportasi Sungai................................ ii DAFTAR ISI ........................................................................................... II-5 Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Sungai........ II-1 a..........................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................. I-2 RUANG LINGKUP ................................................................................................... II-3 Program Rekonstruksi Transportasi Jalan di Daerah Bencana ...................................................... Danau dan Penyeberangan .......... II-1 1............................................. C....................................................................................... TRANSPORTASI JALAN............ DANAU DAN PENYEBERANGAN ................................................................................ I-1 MAKSUD DAN TUJUAN...................................... I-3 BAB II A.......................................................... II-7 Program Rekonstruksi Transportasi Sungai.... Danau dan Penyeberangan .. B........................................... i KATA PENGANTAR ............... II-6 Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Sungai............... II-2 Program Pelayanan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Jalan .......................... II-6 Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Angkutan Sungai.............................................................................. Danau dan Penyeberangan di Daerah Bencana ... II-5 iv ..................................................................... iv BAB I A...... 1) 2) 3) 4) 5) Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Fasilitas Transportasi Jalan .................

.... II-8 Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Perkeretaapian .............................................................................................. c..................... b.......................... II-40 v ........ b....................................................................................................................... d.............................. II-9 Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Transportasi Perkeretaapian .................................................................................... II-40 Koordinasi dengan Dinas Perhubungan Propinsi.................................................................. II-23 a........................ II-10 Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Transportasi Laut ........................................ II-21 Program Pembangunan Transportasi Laut .................................................................... II-41 RAN-PK Inspektorat Jenderal Dephub ...... II-22 Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas Transportasi Udara....................................... II-25 Program Aksesibilitas Pelayanan Transportasi Udara............................... II-33 Pembangunan Bandara Lombok Baru ............................................... II-34 3............................ TRANSPORTASI UDARA ...........2............. II-40 Koordinasi dengan Aparat Pengawasan Fungsional lainnya.......... Audit............... II-40 Monitoring Tindak Lanjut............................ ............................................ II-19 a.... d....................................................................................................... TRANSPORTASI LAUT............................................................................................................. Program Rehabilitasi Prasarana dan Sarana Perkeretaapian............ II-26 Program Pembangunan Transportasi Udara................................................................................................................................................................... II-41 Pelaksanaan Diktum-diktum pada Inpres 5 tahun 2004 di lingkungan Inspektorat Jenderal............................................................................................ II-40 Evaluasi .......... II-41 e...................................... II-19 Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Laut ......... II-39 Koordinasi ........................... II-37 Pengawasan Aparatur Negara............................... b............................................................................................................................................ TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN........ d.......... c................................ II-41 1) 2) Evaluasi LAKIP Eselon I.................................. Pembangunan Bandar Udara Medan Baru................................... d........................................................................................ II-41 1) 2) (1) (2) Kormonev RAN-PK Dephub.............................................. II-23 Program restrukturisasi kelembagaan dan peraturan transportasi udara .......................... II-41 Evaluasi Pengawasan Melekat (Waskat)..... b................. II-34 5..................................................... II-40 Uji petik pada lokasi-lokasi di Ibukota Propinsi................ 4................................................................................................................................................................. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara ................................................................ II-39 a............................................................................................................................ Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bandara di daerah Bencana ........................................... II-20 Program Aksesibilitas Pelayanan Transportasi Laut........... II-39 1) 2) 3) 4) 5) c...... II-9 Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Perkeretaapian.................................................... II-39 Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri............ c............... II-8 a....................................... 6........ Sumber Daya Manusia ........................ II-40 Koordinasi Pengawasan dengan Inspektorat Propinsi........................................... Implementasi Inpres Nomor 5 Tahun 2004 di lingkungan Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan............... ...................................................................... II-26 1) 2) e......................................................................................................... ..........................................................

....... TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 KONDISI SEKTOR TRANSPORTASI 2005-2009................................................................................................................. 4...... II-42 Reviu Laporan Keuangan..... III-4 1.......................................................... Belanja Pemerintah (APBN) ........... Transportasi Darat........................................................................................................................................................................................ b................... III-6 Investasi Swasta ....................................................................f......................... b.......... II-50 Transportasi Udara............. 3.................................................... c...................................... B.................................................................................................................................................................. 8...................................................................................................................... f................................................................................................................. III-6 Investasi BUMN ..................................... Regulasi dan Kelembagaan ................................................ II-59 Pengawasan Aparatur Negara........................ II-42 Penelitian dan Pengembangan............................................ III-1 TARGET PERTUMBUHAN DAN PEMBIAYAAN 2010-2014 ............. II-60 Penelitian dan Pengembangan.............. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS GLOBALISASI .................................... III-8 BAB IV A.......................... II-47 Transportasi Perkeretaapian ....... PERMASALAHAN DAN TANTANGAN ........................................................... Kekuatan .................. 2. II-45 a............IV-1 1................. g.............. Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan ... 8................... 2.. II-48 Transportasi Laut........................................................... 7.............................................................................................................................................. II-59 Pendidikan dan Pelatihan............................................................ 7.................................................................................. Sumber Daya Manusia .............................................................................................................. 3...................... II-60 BAB III A........................................................................................................................ II-51 Sumber Daya Manusia .............................................................................................................................................................................. II-43 B........................................ II-52 Kerjasama Internasional .................................................... II-53 Keamanan dan Keselamatan Penerbangan ....... 6........................................................................................ II-50 a............................................................................................................................................................................................................................................................................ II-52 Prasarana dan Sarana ..................................................................................................................... Sosialisasi Preventif KKN .................. d........................................................................................................... II-45 1................................................................................................................ II-42 Pendidikan dan Pelatihan........................... II-45 Bidang Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan ......... e...... II-58 5............... II-57 Peraturan Perundang – undangan dan Penegakan hukum .IV-1 vi ................

...............................................................................................................................................................V-4 Bidang Keselamatan Transportasi Darat..................V-1 MISI ........................... b................................... 2.........................................................................................V-1 TUJUAN..............................IV-5 C...........................................................................................................................................................................................................................IV-3 1............IV-4 Peluang................................................................IV-11 BAB V A............................................................................................................................................................IV-4 Kelemahan.........IV-8 Peluang...................... Sistem Transportasi Nasional.......................................................................................................................................................IV-9 D......................................................................................................................IV-10 Kelemahan..................................................IV-3 B..................... Bidang Transportasi Jalan ...........................................V-3 a..................V-3 1.......................... Teknologi & Energi ............................. 2....................... 3................................ B............................... Danau dan Penyeberangan .................................. 3......................................... 2................ Kekuatan .............................................................................................. 3........ Kekuatan ..................................................................................................................IV-8 Ancaman.................. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010-2014 VISI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 2014.......... 3............................................................................................ 2...........IV-5 Ancaman.......................................................................................IV-11 Ancaman............................................ d.............................................................................IV-3 Ancaman..................................................................................................................V-3 Bidang Transportasi Sungai.................................................................................. 4...............................................................IV-10 Peluang.......................................................................................IV-5 1.............................. Kelemahan............................................................................................................................ 4............................................................................................................................................................................................................ C...............................................V-4 Bidang Transportasi Perkotaan .................................................................V-5 vii ............................................................................V-3 SASARAN ..IV-6 Kelemahan....IV-9 1.......................................... c................................................... D. 4............................................................ Pembangunan Berkelanjutan dan Pengarusutamaan Perubahan Iklim pada Sektor Transportasi .......................................................................................................................................V-5 Transportasi Perkeretaapian ..............2............................... Kekuatan .......................IV-2 Peluang................................................................................ 4..................................................................................................................................................................................................... Transportasi Darat..................

.......................................................................................... KEBIJAKAN UMUM .................................. TRANSPORTASI DARAT ....................... g...... 3......................V-9 Pengawasan Aparatur .................................... 6...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................V-9 1................................ c.............................................................. TRANSPORTASI DARAT ................................................................ d...................................................................... Strategi dan Penataan Penyelenggaraan Perhubungan...........................................................................................................................................V-21 Pengawasan Aparatur ........ STRATEGI ................................................... 5............................................................................. V-33 1...................................................................................................................................................................................................................................................................... 4.... f.........V-9 Strategi Pembangunan Perhubungan .................................... Transportasi Darat .............................................................V-9 E.............................V-8 Penelitian dan Pengembangan....V-55 Program Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan .............................................................................V-23 1.......V-20 Pendidikan dan Pelatihan Transportasi ........................................................................................V-10 Transportasi Perkeretaapian....................................V-36 TRANSPORTASI LAUT..............................V-23 TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN ..................................................V-22 F..................................................................................................... 2........................................................................................................................ PROGRAM PEMBANGUNAN ..... 8.................................................................................................V-13 Transportasi Udara...............................................................................................V-11 Transportasi Laut ..................................................V-55 Sekretariat Jenderal ...............................................................V-27 TRANSPORTASI LAUT..................V-57 Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi .................3...................................................... 2............... G...V-6 Sekretariat Jenderal ...................................................................V-17 Sekretariat Jenderal ........V-48 TRANSPORTASI UDARA ..............V-7 Pendidikan Dan Pelatihan ................................................................... 6............V-33 TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN ..................................................... 10..................................................V-9 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)............................................................................V-54 Program Penelitian dan Pengembangan Perhubungan .................................. e................................................. 4................................. 3............................................................................................. 2.............................V-50 Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara ........................................................................................................................................ 7.......................... V-23 ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN....V-10 a............................................... 8................................ 9...V-29 H........................... 9........... 7...........V-5 Transportasi Udara................................ b...................................................................................................V-28 TRANSPORTASI UDARA ............ Transportasi laut ............................................................................V-59 viii ................V-57 Pengembangan Pembangunan Perkeretaapian Melalui Investasi Pemda/BUMN/ Swasta...................................... 5............................................. 4............

............................................ 2............................................................. 2...... Peningkatan dan Pembangunan Transportasi Udara ........................................VII-4 Transportasi Laut ......................VII-3 Transportasi Udara.... SASARAN .........................................................................VII-5 ix ................................. Transportasi Darat.................BAB VI A.......VI-6 1....................VI-4 Transportasi Laut...VII-1 DAMPAK PERUBAHAN IKLIM .......... Kebijakan Adaptasi ......................................VI-4 C.......................... 2........................................................ 3...........................................VII-5 Transportasi Udara.......................................................................... PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN...................................... TERDEPAN...... b.....................................................................................................................VI-1 Transportasi Laut................................. RAWAN BENCANA TAHUN 2010-2014 KONDISI UMUM ...............................VI-1 1...................................... Rehabilitasi................................................VI-7 Program Pemeliharaan.... Transportasi Darat dan Perkeretaapian...........................................................VI-2 B.................................................................................................................... Transportasi Darat....VI-3 1..........................VII-1 Sektor Transportasi Laut ................................................... Peningkatan dan Pembangunan Transportasi Laut ........ Program Pengembangan dan Pembangunan di Wilayah Perbatasan................................................................................................................................................ Rehabilitasi......................VI-8 BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI A...........................................................................................................................................................................................................................VI-4 Transportasi Udara.................................................................................... STRATEGI ...............................................................................VII-4 a................... Transportasi Darat & Perkeretaapian .................................................................................VI-1 Transportasi Udara.......VI-5 Transportasi Udara........................................................................................................................................VI-6 Program Pemeliharaan...................VI-4 1........VII-3 C..................VII-4 1.................. Daerah Terpencil dan Rawan Bencana Tahun 2010-2014 ............................................................................................................................................................... B....... Transportasi Darat............................................................................................................... PROGRAM PEMBANGUNAN . 3... 3............................................................ 2................VI-3 Transportasi Laut................................................... 2........................................................................ 3..................................... 3................................................................ c..............................................................................VI-5 D...VII-1 1................................................................. LATAR BELAKANG..................................................... KEBIJAKAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI ..................................................

............. x .............. b...................... PROGRAM DAN KEGIATAN TRANSPORTASI LAUT 2010-2014 D.................... Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan.. LAMPIRAN II......................................................... PROGRAM DAN KEGIATAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 B........................................ PERUBAHAN IKLIM.....VII-6 Transportasi Udara................................ PROGRAM DAN KEGIATAN SEKRETARIAT JENDERAL 2010-2014 I..................... TEKNOLOGI INFORMASI DAN TEKNOLOGI J... c........................................................ PROGRAM DAN KEGIATAN TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN 2010-2014 C........ a...............VII-7 Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan.....................................d. LANGKAH KEBIJAKAN MITIGASI EMISI ..............................................VII-8 1........... PROGRAM DAN KEGIATAN TRANSPORTASI UDARA 2010-2014 E............................................VII-9 Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan .......................................VII-8 Transportasi Udara...VII-5 Transportasi Darat dan Perkeretaapian............ Transportasi Darat dan Perkeretaapian ............................... PROGRAM DAN KEGIATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN 2010-2014 F............... LAMPIRAN I........................................................ LAMPIRAN X...........VII-8 Transportasi Laut....................................... LAMPIRAN IV............................................... LAMPIRAN VIII.........................................................................................VII-7 Kebijakan Mitigasi ............................ LAMPIRAN VI...................................... d. 3.............VII-6 D.........VII-6 Transportasi Laut ............. LAMPIRAN V............ 4...VII-10 BAB VIII KAIDAH PELAKSANAAN LAMPIRAN A..... LAMPIRAN IX......................... PROGRAM DAN KEGIATAN INSPEKTORAT JENDERAL 2010-2014 H.......................... 2............................. PROGRAM DAN KEGIATAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 20102014 G.................................. LAMPIRAN III......... 2...................................................................................... LAMPIRAN VII..............

pedalaman maupun perbatasan. Keterkaitan ini dapat dijelaskan secara rinci bahwa usaha jasa perhubungan sebagai bagian integral dari kegiatan perekonomian bangsa. dan memberikan kepastian usaha di dalam negeri. terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah dan masih belum stabilnya harga minyak dunia sehingga hal ini menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana dan kebijakan di bidang transportasi pada kurun waktu 20102014. guna mendorong pemerataan pembangunan. BAB I PENDAHULUAN I-1 . bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini mengandung pengertian bahwa penyelenggaraan jasa transportasi merupakan bagian integral dari sendi kehidupan masyarakat. oleh karena itu kebijakan pembangunan perhubungan berdampak signifikan terhadap kondisi perekonomian nasional. kemajuan-kemajuan yang telah dicapai serta kebijakan strategis yang ditempuh selama ini. maka kebijakan pembangunan perhubungan ke depan selain berpengaruh terhadap prospek perekonomian nasional dipengaruhi pula oleh kondisi eksternal dan internal. telah memberikan sumbangan pada lambatnya pertumbuhan ekonomi yang diindikasikan oleh belum pulihnya kegiatan investasi swasta dan masih minimnya peran serta lembaga perbankan dalam penyediaan infrastruktur. Kondisi internal yang akan berpengaruh positif adalah dimulai dengan suksesnya pelaksanaan Pemilihan Umum baik legislatif maupun presiden tahun 2009 sehingga diharapkan kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II mampu memulihkan perekonomian nasional. Namun demikian masih adanya gangguan keamanan di Provinsi Papua serta permasalahan perbatasan negara yang menyangkut penentuan batas wilayah dengan negara tetangga yang belum dapat dituntaskan ditambah dengan berbagai bencana alam yang menimpa berbagai daerah di tanah air. Kondisi eksternal yang ikut berpengaruh adalah masih belum pulihnya keuangan global dipasar global. melayani kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau serta membuka keterisolasian wilayah tertinggal. Pembangunan infrastruktur merupakan prioritas nasional dari Presiden sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam pengembangan transportasi dalam kurun waktu 2010-2014 adalah mengupayakan tersedianya infrastruktur melalui pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi yang berkelanjutan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan perhubungan sangat berpengaruh besar terhadap perekonomian nasional. mengemban fungsi aksesibilitas ke seluruh wilayah tanah air sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. mengingat kegiatan di bidang transportasi berperan penting dalam kegiatan distribusi barang dan jasa ke seluruh pelosok tanah air dan antar negara.

MAKSUD DAN TUJUAN Maksud penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan adalah untuk memberikan gambaran tentang visi. RUANG LINGKUP Ruang lingkup dan cakupan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan meliputi hal-hal sebagai berikut : 1. 5 Tahun 2010 yang selanjutnya menjadi acuan dalam pelaksanaan tugas Kementerian Perhubungan pada tahun 2010 sampai tahun 2014.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Dalam rangka penyelenggaran tugas pokok dan fungsi Kementerian Perhubungan dipandang perlu dilakukan penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 sebagaimana diamanahkan dalam UndangUndang No. dan program Kementerian Perhubungan dalam kurun waktu 2010-2014. berdimensi kewilayahan (per pulau) dan telah menyesuaikan dengan Restrukturisasi dan Reformasi Program dan Kegiatan Pembangunan yang akan mulai diberlakukan pada tahun 2011. kebijakan. dan merupakan kesinambungan dari Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Perhubungan Tahun 2005-2009. Secara umum Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 memuat keseluruhan kebijakan publik di lingkungan Kementerian Perhubungan dan secara khusus membahas kebijakan publik sektor perhubungan yang terkait dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disusun berdasarkan kebutuhan pembangunan perhubungan. Satu diantaranya Program Kerja 100 hari dan 5 tahun dari Kabinet Indonesia Bersatu yang dituangkan dalam Program/Kegiatan Pembangunan Transportasi. sasaran. tujuan. BAB I PENDAHULUAN I-2 . C. 25 Tahun 2004 Tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional. Tujuan penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan adalah memberikan acuan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kementerian Perhubungan di bidang pembangunan dan penyelenggaraan pelayanan trasportasi dalam rangka meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas manusia dan barang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan perkembangan wilayah yang terintegrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangkauan Waktu : Kurun waktu Rencana Strategis Kementerian Perhubungan adalah tahun 2010-2014. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 disusun atas dasar Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. misi. strategi. B.

penentuan Tujuan. Sasaran dan Strategi yang selanjutnya dijabarkan ke dalam Arah Kebijakan dan Program secara rinci dan terukur sebagai penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Kementerian Perhubungan. Dengan demikian pembiayaan kegiatan Kementerian Perhubungan dalam APBN 2010-2014 merupakan integrasi dari pembiayaan rutin dan pembangunan yang terdiri dari: belanja pegawai. Sejalan dengan itu. D. baik langsung maupun tidak langsung dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian Perhubungan. Disamping itu terdapat kegiatan belanja modal yang dibiayai dari anggaran BUMN dan peranserta swasta. Visi dan Misi Kementerian Perhubungan. Kondisi Perubahan Lingkungan Strategis. Sedangkan pendekatan yang dilakukan berdasarkan kebutuhan investasi di sektor transportasi (bottom up) di samping itu mencermati permasalahan dan tantangan yang berpengaruh terhadap tugas pokok dan fungsi Kementerian Perhubungan. Belanja pegawai dan belanja barang dirinci menjadi belanja yang mengikat dan tidak mengikat. Pembiayaan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2010-2014 ini merupakan acuan dalam penyusunan anggaran tahunan berbasis kinerja yang dimulai pada tahun 2005. 3. maka di dalam penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2010- BAB I PENDAHULUAN I-3 . sedangkan belanja modal terdiri dari rupiah murni dan pinjaman luar negeri. belanja barang dan belanja modal. Sejalan dengan itu akan diuraikan target pertumbuhan dan kebutuhan investasi sektor transportasi 2010-2014 sesuai dengan indikator target pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan mempertimbangkan pengaruh perubahan lingkungan strategis serta mencermati pencapaian target pada rencana strategis Kementerian Perhubungan 2005-2009. Pemetaan awal terhadap pencapaian target Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 20052009 dan target pertumbuhan serta kebutuhan investasi transportasi 2010-2014 merupakan dasar kebijakan lanjut untuk menentukan kebutuhan sarana dan prasarana perhubungan pada tahun 2010-2014. KERANGKA PIKIR Proses penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2010-2014 diawali dengan melakukan pemetaan terhadap pencapaian target yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Perhubungan selama kurun waktu 2005-2009. diperlukan pengamatan dan analisis terhadap pengaruh lingkungan strategis yang terkait. Pengaruh strategis internal akan diformulasikan dalam bentuk kekuatan dan kelemahan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 2. baik internal maupun eksternal. Substansi : Substansi Rencana Strategis Kementerian Perhubungan meliputi evaluasi pencapaian Rencana Strategis Kementerian Perhubungan kurun waktu 20052009. sedangkan pengaruh strategis eksternal akan diformulasikan dalam bentuk peluang dan ancaman.

ANCAMAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 2010-2014 TUJUAN PEMBANGUNAN MISI DEPHUB SASARAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN 2010-2014 STRATEGI PROGRAM 2010-2014 (Kebutuhan) BAB I PENDAHULUAN I-4 . Dalam rangka memperjelas arah tugas pokok dan fungsi Kementerian Perhubungan akan dirumuskan Visi Kementerian Perhubungan yang dijabarkan lanjut ke dalam Misi Kementerian Perhubungan.2009 TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI TAHUN 2010-2014 VISI DEPHUB KEKUATAN. Berdasarkan visi dan misi dimaksud diformulasikan tujuan. sasaran yang terukur. PELUANG. strategi dan arah kebijakan pembangunan Kementerian Perhubungan. KELEMAHAN.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 2014 akan dirumuskan langkah-langkah kebijakan lanjut dalam mencapai target kinerja pelayanan sarana dan prasarana perhubungan. Bagan alur pikir penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2010-2014 disampaikan pada diagram I-1 sebagai berikut : DIAGRAM I-1 Alur Pikir Penyusunan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan tahun 2010-2014 EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA TAHUN 2005 . prioritas.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 DIAGRAM I-2 Kerangka Pikir Sistem Perencanaan Pembangunan Perhubungan (SP3) BAB I PENDAHULUAN I-5 .

REALISASI PROGRAM PEMBANGUNAN 2005-2009 Program Kerja Tahunan yang dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan adalah dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran Kementerian Perhubungan. dan Shock Block Assy Damri yang tercantum dalam RENSTRA BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-1 . Program pemeliharaan. c. Adapun kegiatan yang berjalan sesuai dengan target adalah kegiatan yang bersifat operasional terhadap penanganan muatan lebih. rehabilitasi. yaitu rehabilitasi jembatan timbang. Target fisik yang ingin dicapai dalam pelaksanaan program-program dimaksud pada tahun 2005-2009 untuk seluruh moda transportasi disajikan pada tabel – tabel berikut di bawah ini. Program pencarian dan penyelamatan. Program penelitian dan pengembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi. g. Sedangkan kegiatan rehabilitasi terminal realisasi yang dicapai sampai dengan tahun 2008 adalah 37. Program pengawasan aparatur negara. f. Program pengelolaan sumberdaya manusia aparatur.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2005-2009 A. Program pemeliharaan. d.04% dari target tahun 2009. peningkatan dan pembangunan transportasi perkeretaapian. TRANSPORTASI DARAT a. Program pemeliharaan. yaitu meliputi: a. Perbaikan Bus Damri. 1. rehabilitasi. peningkatan dan pembangunan transportasi laut. sebagaimana yang tertuang dalam RENSTRA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN Tahun 2005 – 2009. rehabilitasi. peningkatan dan pembangunan transportasi darat. Program pemeliharaan. Kegiatan Retrofit Bus Damri . peningkatan dan pembangunan transportasi udara. Engine Assy Damri. rehabilitasi. e. TRANSPORTASI JALAN 1) Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Fasilitas Transportasi Jalan Selama kurun waktu renstra 2005-2009 realisasi kegiatan dalam program rehabilitasi prasarana dan sarana fasilitas lalu lintas angkutan jalan tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan. b. h.

serta bus bantuan untuk Damri. 2006 Th. 2006 Th. 2005 Th. 2009 2) Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Jalan Tabel 2. Tabel 2. 2007 Th. 4. 2008. dan BRT.2 Realisasi Program Restrukturisasi Kelembagaan Tranportasi Jalan Th. 2008 8 Lokasi - - 5 - 4 - 4 1 5 1 3) Program Pelayanan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Jalan Tabel 2. 2.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 5 26 254 26 36 0 5 0 0 0 0 1 5 30 265 30 36 1 1 0 0 0 0 1 9 30 287 30 38 1 4 0 0 0 0 1 8 33 268 33 39 1 0 0 0 0 0 1 8 32 268 32 40 0 0 0 0 0 0 Th. 2008 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-2 .3 Realisasi Program Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Jalan Th. 2007 Th. 2005 NO 1 2 3 4 5 6 7 KEGIATAN Manajemen Rekayasa Lalin di jalan nasional perkotaan Pengad Perlengkapan jalan di jalan nasional perkotaan Prototipe sarana ramah lingkungan Kawasan percontohan Pengembangan Data dan SIM Studi Sosialisasi / kampanye ketertiban lalu lintas & angkutan perkotaan Kota percontohan SATUAN Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Target 5 Th. tidak pernah direalisasikan dalam DIPA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TA 2005 . 2006 Th. bus kota/mahasiswa/pelajar. 2008 Sumber : Biro Perencanaan Kementerian Perhubungan. 5. dan 2009 . Peningkatan pelayanan angkutan umum massal yang menjadi kewenangan Kementerian Perhubungan dalam hal ini adalah kebijakan/program pengadaan bus baru untuk keperintisan angkutan jalan. 3. Hal ini disebabkan secara kewenangan dan tugas pokok merupakan bagian dari kegiatan Kementerian BUMN melalui Perum Damri. SATUAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit Th. 2007 Th. 2005 NO KEGIATAN Subsidi Operasi SATUAN Target Th.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 2005 – 2009. 6. KEGIATAN Rehab Jemb Timbang Rehab Terminal Retrofit Bus Damri Perbaikan Bus Damri Engine Assy Damri Shock Block Assy DAMRI. 2006 .1 Realisasi Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas Lalu Lintas Angkutan Jalan NO 1.2009 PerkiRealisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 2 2 2 3 27 2 19 2 2 1 1 2 2 10 2 2 1 1 1 10 1 3 2 1 1 10 1 1 2 1 1 1 10 1 1 Th.2009 PerkiRealisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th. 2007 .

037.120 14. 8. 19.00 1. 22.000 1 8 31.25 797.000 1. 17.938.00 0 0 5 0 5 6 6 18.433 16.811 150 12 10. Jembatan Timbang Lampu Penerangan Jalan Terminal Perbaikan Daerah Rawan Kecelakaan Driving Simulator Pemb.245 8. 10. 11. 13. Prasarana Angkutan Paket Massal Pengadaan / Rehabilitasi Sarana - - 1 1 - 2 1 - 2 - - 2 1 - 6 7 8 Pengad Bus Sedang Pengad. 3.563 2 100 3 8 5 2 57 132 23. 20. 7.823.245 741 741 398.564 8. 2006 Th.419 2 100 3 8 3 4 6 2 18 1790 587 0 4 2 1 25. 21.608 150 12 15.902 80. 16.150 1. 15.558 138.564 8. 5.800 6 741 7 121 20 13. 2006 Th.173 100 15 1 13.800 6 741 7 - 1 - BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-3 .664 28.956 70.886 80.2009 PerkiRealisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 101 104 1 111 104 1 111 128 1 130 135 1 135 Th. 2007 Th.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Th.2009 Target Perki-raan 7 1 7 1 ASPEK KESELAMATAN Alat Pengujian Kendaraan Unit Bermotor Balai Pengujian kendaraan Unit Bermotor Rambu Lalu Lintas Buah RPPJ Buah Marka Jalan Meter Pagar pengaman jalan Traffic Light Warning Light Fasilitas Keselamatan Perlintasan Sebidang Cermin Tikungan ZoSS Delineator Paku Marka Pemb. 2005 NO 1 2 KEGIATAN Bus Perintis SATUAN Lintas Target 101 Th.886 2 14 30 51 54 54 2 41 41 89 1 1 1 1 40 3 22. 2008 3 4 Angkutan Massal Paket Pengadaan / Rehabilitasi Prasarana Peningkatan Prasarana Paket Angkutan Massal Pemb.010 98.185 10. 2005 Th.823. 2008 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 2 2.000 1. 12.446 8 1 26.951.55 2. KEGIATAN SATUAN Th.303 2 100 3 8 4 3 1 1 30 6 4.96 1. 2007 Th. 9. Bus Besar Dukungan Lebaran Unit Unit 94 - 85 - 400 300 2 68 70 - 406 300 1 185 30 - 550 300 1 153 40 550 100 1 183 30 Angkutan Paket 4) Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Angkutan Jalan Tabel 2. 14.054 338 8 1 32.418 426 9 1 38.4 Realisasi Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Angkutan Jalan NO 1. 18.852 18. 4.797 37.000 50 408.009.615.30 1.000 Th.206 3 8 3 1 6 121 20 13. 2. 6. Jembatan Timbang Percontohan Operasional Jembatan Timbang Percontohan Prototipe Sarana ramah lingkungan Alat Uji Tipe Khusus Sepeda Motor Peralatan Unit Penelitian Kecelakaan (UPK) SARANA TRANSPOR-TASI Meter Unit Lks Unit Lks Buah Buah Buah Buah Lokasi Lokasi Unit Lokasi Lokasi Paket Paket Paket 3 2.096 40 3 4 3 1 - 8.544 87.85 1.784 524 18. 23.

37 KEGIATAN JALAN Bus Sedang AKAP Bus Besar AKAP Pemb. 34.687 6.716 84.697.558 6 15 1 1 2 2 1 1 1 1 28 125 500 5 1. 29. 3.948.500 45 5 20 2 0. 2.891 4.468 18.711 33. 2006 Th.241 5.741 51.896.025. 35.102.801 92. 30 31. Marka.185 203.892 101. 2007 Th. Terminal Aceh KEGIATAN terpadu SATUAN Banda Paket Unit Th.013.13 10.82 37.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO 24. 2008 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 10 1 5 1.313 348.062 0.5 Realisasi Program Rekonstruksi Perhubungan Darat di Daerah Bencana NO 1. 2005 Th.854.193.438 30 4 20 2 3 1 3 1 Th.9 9. 36. 2008 Pengadaan Bus Kota Pengadaan Rambu.907 197.065 2.372 216.085 123.4 310.610 35.148 TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009* BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-4 .749 19. 2006 Th.484. 25. 32.313 328.6 Kinerja Transportasi Jalan URAIAN PRODUKTIVITAS JALAN Panjang Jalan (km) Kendaraan (ribu unit) Mobil Penumpang Bus Truk (mobil beban) Sepeda Motor Rasio Kendaraan/Km Jalan ANGKUTAN UMUM Bus AKAP (unit) Penumpang Bus AKAP (jt org) 17. 28.2009 Target Perki-raan 105 30 1 1 1 1 105 30 1 1 1 1 5) Program Rekonstruksi Transportasi Jalan di Daerah Bencana Tabel 2. maka realisasi kinerja transportasi darat adalah sebagai berikut : Tabel 2. 33. 2005 Th.747 20. Paket & traffic Light Sesuai dengan realisasi kegiatan/program transportasi darat yang telah dicapai dalam kurun waktu renstra 2010-2014.544 2.458 10 20 1 1 2 1 1 1 1 0 10 Th.990 212.492 17.856 328. 26.475 19.023 3.864 2.076 17.990 45.501.266 318.068 18.44 7.363 216.084 1 9 1 1 1 1 125 500 5 1.737.870.648 7.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 0.175 4. Stasiun BBG Mobil Barang untuk Damri Armada Taxi Mobil Beban Alat Kalibrasi Gas Analyzer Konverter Kit KEGIATAN PENDUKUNG Studi / DED / DRK dan Terminal Dukungan angkutan Lebaran Dukungan Penelitian Kecelakaan Dukungan Penertiban Muatan Lebih Sosialisasi Ketertiban Lalu lintas/Keselamatan Jalan SATUAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Paket Paket Paket Paket Paket Th.779. 2007 Th.573.413.886 8 1755 20 1 1 2 1 28 1 125 350 5 2.678. 27.879 28.

281 12.732 11.000 3 0 0 0 0 0 0 74 60 1. Hal ini sesuai dengan surat PT.227 13.614 366. realisasi kegiatan rehabilitasi dermaga penyeberangan sampai dengan tahun 2008 sebesar 218.181 36.680 2 40 40 1 0 1 0 15 130 TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009* b.100 9.755 497.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 URAIAN REALISASI PROGRAM Rambu Lalu Lintas (buah) Guard Rail (m) Delineator (buah) Marka Jalan (m) Paku Marka (buah) Traffic Light (buah) Lampu Penerangan Jalan (pkt) PKB (unit) Pembangunan Terminal (buah) Cermin Tikungan (unit) Manajemen Rekayasa (pkt) Simulator Mengemudi (pkt) Subsidi Bus Perintis (trayek) Pengadaan Bus Perintis (unit) KECELAKAAN LALU LINTAS Jumlah (Kejadian) Korban : Meninggal (org) Luka Berat (org) Luka Ringan (org) Kerugian Materiil (miliar Rp) 12.762 6.204 8.400 0 0 0 0 0 0 0 0 83 203 2.492 3.856 6. DANAU DAN PENYEBERANGAN 1) Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Fasilitas Transportasi Sungai.001/2/3/ASDP-06 tanggal 20 Februari 2006 perihal Usulan Pekerjaan Rehabilitasi Fasilitas Pelabuhan (Backlog) Tahun 2007 yang diketahui terdapat backlog kegiatan rehabilitasi dermaga penyeberangan yang dikelola PT.606 24.536 7.892 1.500 125.518 32.084 53.929 41. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-5 .678 3. ASDP di 35 lokasi.457 6.542 8.399 9.522 6.402 1.932 10 0 4 2 10 0 1 13 169 5.778 17.836 898.000 8. 15 lokasi di tahun 2008 dan sisanya dilaksanakan di tahun 2009. TRANSPORTASI SUNGAI.656 9. sehingga untuk menutupi backlog ini dilaksanakan rehablitasi dermaga penyeberangan di 17 lokasi pada tahun 2007. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan peningkatan prasarana infrastruktur yang sangat mendesak guna peningkatan keselamatan.52%. Danau dan Penyeberangan Dalam Renstra 2005-2009.999 12. Sementara pada tahun 2007 jumlah realisasi rehabilitasi dermaga penyeberangan mencapai 17 unit dari target semula yaitu 1 unit.142 8. keamanan dan kelancaran serta pelayanan SDP dan rencana target yang tercantum dalam Renstra 2005-2009 merupakan kebutuhan minimal.983 12.649 9.641 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 10 2.012 8. ASDP nomor KU.046 5.267 9.424 9.030 24.649 45.03 13.544 0 103.

2007 Th. 3. 4. Danau dan Penyeberangan Th. 2006 Th. 2. KEGIATAN Rehab Penyeberangan Dermaga SATUAN Unit Unit Unit Target 15 1 Th. DAN Unit Unit 1 6 10 5 13 3 3 23 8 13 12 16 10 19 6 Lintas 65 65 65 68 65 81 65 70 65 85 SATUAN Target Th.5 Realisasi Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Sungai.2009 Targe Targe Targe Targe PerkiRealisasi Realisasi Realisasi Realisasi t t t t raan Rekondisi Kapal Perintis Pengadaan kapal Perintis BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-6 . 3.7 Realisasi Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana Dermaga Sungai. 3. 2. Danau dan Penyeberangan Tabel 2.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel 2.ASDP Sumber : Biro Perencanaan Kementerian Perhubungan. Danau dan Penyeberangan Th. Lintas Penyeberang REHABILITASI PENGADAAN 2. Danau dan Penyeberangan Th. 2008 Th. 2007 Th. 2008 Rehab Dermaga Danau Rehab Dermaga Sungai Pengerukan dan pember. 2006 Th.Paket sihan alur pelabuhan PT. 2005 NO 1. 2009 2) Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Sungai. 2005 NO KEGIATAN BUMN ASDP Pendukung Perencanaan Evaluasi dan Monitoring Kajian Kebijakan & Regulasi SATUAN Target 5 3 Th. 2007 Th. Danau dan Penyeberangan Tabel 2. 2006 Th.8 Realisasi Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Sungai.2009 Perkiraan - 1. 2005 NO KEGIATAN SUBSIDI OPERASI 1.2009 PerkiRealisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 16 0 0 11 2 11 5 2 1 4 2 17 3 4 3 4 2 15 0 9 1 4 3 1 2 3 4 1 Th. 2008 Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target 5 4 4 6 4 3 6 4 1 5 4 1 Th. Paket Paket Paket 3) Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Sungai.

18 19 20 Kapal Ro-Ro 1000 – 2000 GT di Ketapang Kapal Ro-Ro 1000 – 2000 GT di Semarang Kapal Ro-Ro 3000 – 5000 GT di Merak Kapal Ro-Ro 1000 – 2000 GT di Kayangan Kapal LDF > 5000 GT di Surabaya Kapal LDF > 5000 GT di Jakarta Kapal LDF 1000-2000 GT di Sibolga Kapal LDF 1. 9.000 GT di BajoE Kapal LDF 3.000 – 2. Danau dan Penyeberangan NO KEGIATAN PRASARANA ASDP 1. 17.7 Realisasi Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Angkutan Sungai. 7.000 GT di Bakauheni Pengadaan bis air Pengadaan speed boat KEGIATAN PENDUKUNG Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 1 - 1 - 1 1 - 1 1 1 7 3 1 1 7 3 21. 2007 Th. 11 12 13. 16. 14 15.000 – 5. 2005 Th. 4. 6. Pengembangan Data & SIM Paket Pengembangan SDM & Teknologi Paket - - 5 4 - 5 12 - 5 12 - 5 12 - BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-7 . 2. Rambu Sungai dan Danau Rambu Suar SARANA ASDP Buah Buah 246 5 1000 10 1000 10 1000 10 900 13 1000 - 401 9 10.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 4) Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Angkutan Sungai. Danau dan Penyeberangan Tabel 2. Dermaga di Merak Paket Bakauheni Pembuatan Dermaga LDF di JKT Pembuatan Dermaga LDF di Surabaya FASILITAS KESELAMATAN Paket Paket 8. 5. Dermaga penyeberangan Dermaga Sungai Dermaga Danau Pemecah Gelombang Paket Paket Paket Paket 40 9 15 1 1 59 11 2 15 1 67 10 4 1 1 56 9 4 66 23 5 2 60 9 3 13 6 3 5 SATUAN Th. 2008 Fas. 3.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th. 2006 Th. 22.

247 0. jembatan. Gunung Sitoli Kapal ferry 500 GRT SATUAN Paket Paket Paket Paket Paket Unit Th.411 0. Lamteng Pulau Nasi Pemb.500 1 0.375 0.329 0. Pelabuhan Penyeb. 2007 Th.29% serta rehabilitasi pintu perlintasan yang telah dilaksanakan sebanyak 7 paket dari target 95 paket atau realisasi mencapai 7. dan 26 unit KRD dari target 34 unit atau realisasi mencapai 76. Dalam beberapa tahun terakhir dalam hal kegiatan rehabilitasi sarana tersebut. Rehabilitasi pintu perlintasan masih minim karena lebih disebabkan belum terealisasinya rencana kegiatan rehabilitasi seluruh pintu perlintasan resmi yang ada di pulau Jawa melalui pembiayaan pinjaman luar negeri. 18 unit KRL dari target 5 unit atau realisasi mencapai 360.556 0. persinyalan telekomunikasi dan listrik) serta peningkatan aksesibilitas angkutan perkeretaapian melalui pengadaan sarana perkeretaapian serta restrukturisasi dan reformasi kelembagaan.625 0. TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN Dalam jangka waktu tahun 2005-2009. Pelabuhan Penyeb. a. telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan berdasarkan program-program strategis untuk mencapai misi dan sasaran pembangunan transportasi perkeretaapian. Danau dan Penyeberangan di Daerah Bencana Tabel 2.333 1.375 0. Danau dan Penyeberangan di Daerah Bencana NO 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Pemb. Pemerintah lebih berorientasi pada pengadaan sarana baru sedangkan kegiatan rehabilitasi sarana KA telah menjadi kewajiban operator KA.8 Realisasi Program Rekonstruksi Transportasi Sungai. Malahayati Pemb.013 0.300 0. untuk kegiatan rehabilitasi sarana telah dilaksanakan sebanyak 47 unit kereta ekonomi (K3/KMP3) dari target 100 unit atau realisasi mencapai 47.025 0. Ulee Lheue Pemb. Meulaboh Pemb.00%. Pelabuhan Penyeb.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 0. Rehabilitasi prasarana KA diantaranya rehabilitasi persinyalan yang telah dilaksanakan sebanyak 1 paket dari target 7 paket atau realisasi mencapai 14.889 0.00%.37%. Program Rehabilitasi Prasarana dan Sarana Perkeretaapian Program rehabilitasi terdiri dari rehabilitasi prasarana dan sarana KA.167 0.555 Th.47%. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya peningkatan/pembangunan prasarana (jalan rel. Pelabuhan Penyeb. 2005 Th. Pelabuhan Penyeb.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 5) Program Rekonstruksi Transportasi Sungai. 2006 Th. sedangkan untuk rehabilitasi persinyalan lebih disebabkan karena kecenderungan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-8 .300 0. 2008 2.

Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Perkeretaapian Program restrukturisasi dan reformasi kelembagaan diantaranya terdiri dari kegiatan Survei Teknik dan Desain (STD) serta pengembangan data dan Sistem Informasi Manajemen (SIM).56%. 3.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th. STD Pengembangan data dan SIM Administrasi KEGIATAN SATUAN Paket Paket Paket Th. 2006 Th. sedangkan kegiatan pengembangan data dan SIM untuk mendukung pelaksanaan tupoksi Ditjen Perkeretaapian telah dilaksanakan sebanyak 7 paket dari target 45 paket atau hanya mencapai realisasi 15. 2005 Th.28 0 0 1 5 2 18 4. Khusus untuk pengembangan data dan SIM.9 Realisasi Program Rehabilitasi Prasarana dan Sarana Perkeretaapian NO KEGIATAN Prasarana Kereta Api 1 2 3 4 5 Rehabilitasi Jalan KA (backlog) Rehabilitasi Sinyal Rehabilitasi Telekomunikasi Rehabilitasi Listrik Perbaikan Pintu Perlintasan Sarana Kereta Api 6 7 8 Kereta (K3) Kereta Rel Listrik (KRL) Kereta Rel Diesel (KRD) Unit Unit Unit 0 5 9 7 16 2 7 8 25 20 25 0 6 20 2 0 6 16 6 0 25 0 25 0 KM Pkt Pkt Pkt Lks/ Pkt 2 2 2 0 0 0 0 7 1 19 0 0 0 2 14. Tabel 2. 2007 Th. 2006 Th.45%. 2007 Th.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 penanganan persinyalan dengan peningkatan persinyalan melalui penggantian penggunaan kabel tanah menjadi kabel udara (fiber optic). beberapa kegiatan telah dilaksanakan dalam tingkatan Kementerian Perhubungan dengan di bawah koordinasi oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Perhubungan. 2005 NO 1.89 0 0 SATUAN Th.00 0 0 0 0 29 0 29 0 0 1 7 2. 2.09 1 0 0 1 5 26. 2008 b. Tabel 2. 2008 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target 27 9 1 13 7 1 23 8 1 34 0 1 20 8 1 54 0 1 20 10 1 56 0 1 20 10 1 Th.2009 Perkiraan 58 0 1 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-9 . Untuk kegiatan STD dalam kurun waktu 2005-2009 telah dilaksanakan sebanyak 215 paket dari target 110 paket atau realisasi mencapai 195.10 Realisasi Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Perkeretaapian Th.

2008 Th.2009 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Perkiraan 10 10 20 26 20 39 20 25 20 52 1 1 (77 relasi) 1 1 (77 relasi) 1 1 (72 relasi) 1 1 (76 relasi) 1 1 (76 relasi) d. lintas perkotaan Palembang yaitu antara Stasiun Simpang . Kegiatan pembangunan jalur KA secara program belum memenuhi target Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 diantaranya karena dalam kurun waktu tersebut kebijakan Ditjen Perkeretaapian lebih memprioritaskan pada kegiatan peningkatan jalur KA dalam rangka peningkatan keselamatan perjalanan KA. untuk mendukung pelayanan KA komuter/perkotaan telah dilaksanakan pengadaan KRD/KRDI sejumlah 63 unit dari target 15 unit atau realisasi mencapai 420% serta pengadaan KRL sejumlah 68 unit dari target 10 unit atau realisasi mencapai 680%.23% serta kegiatan pembangunan jalur KA baru termasuk pembangunan jalur ganda untuk menambah kapasitas dan mengatasi lintas yang telah jenuh/padat telah dilaksanakan sepanjang 244.06%.89%. Selain itu khusus untuk pembangunan double track/double-double track lebih disebabkan oleh adanya hambatan pengadaan lahan serta rencana pembiayaan melalui pinjaman luar negeri yang masih belum terealisasi.80 km dari target 643 km atau realisasi mencapai 38.Stasiun Payakabung . Semarang – Tegal (Kaligung Baru). 2007 Th. Sedangkan untuk kegiatan pengadaan lokomotif yang dalam kurun waktu 2005-2009 belum terealisasi karena masih dalam proses pengadaan dengan pembiayaan direncanakan menggunakan pinjaman luar negeri. serta untuk pengoperasian perkeretaapian NAD sebanyak 2 unit KRDI. 2005 Th. Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Perkeretaapian Dalam rangka peningkatan aksesibilitas pelayanan angkutan perkeretaapian. Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Transportasi Perkeretaapian Kegiatan peningkatan/pembangunan prasarana KA dalam kurun waktu 2005-2009 diantaranya berupa peningkatan jalan rel untuk peningkatan keselamatan perjalanan KA yang telah dilaksanakan total sepanjang 1.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 c. Padalarang – Bandung – Cicalengka (Baraya Geulis). Pengadaan tersebut termasuk hasil kegiatan modifikasi KRL menjadi KRDE diantaranya untuk dioperasikan pada lintas Yogyakarta – Kutoarjo (Prambanan Ekspres/Prameks).Stasiun Indralaya. Semarang – Solo (Banyu Biru).13 km dari target 1145.549. Pembangunan tersebut BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-10 . telah dilaksanakan kegiatan pengadaan sarana perkeretaapian khususnya untuk menunjang angkutan KA ekonomi jarak menengah dan jauh.52 km atau realisasi mencapai 135. Selain itu. Tabel 2. 2006 Th. lintas perkotaan Padang (Dang Tuanku).11 Realisasi Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Perkeretaapian NO 1 2 KEGIATAN Pengadaan kereta ekonomi Subsidi angkutan KA ekonomi SATUAN Unit Pkt Th. jumlah pengadaan kereta ekonomi (K3 termasuk KMP3) yang telah dilaksanakan adalah sebanyak 152 unit dari target 90 unit atau realisasi mencapai 168. Dalam kurun waktu tahun 2005-2009.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

diantaranya pembangunan double-double track (DDT) Manggarai – Cikarang dan pembangunan jalur ganda Kutoarjo – Kroya. Kegiatan peningkatan dan pembangunan jembatan secara keseluruhan telah memenuhi target. Untuk kegiatan peningkatan jembatan KA telah dilaksanakan sebanyak 89 unit dari target 34 unit atau realisasi mencapai 261,76% serta kegiatan pembangunan jembatan KA yang telah dilaksanakan sebanyak 111 unit dari target 55 unit atau realisasi mencapai 201,82%. Sedangkan untuk kegiatan modernisasi dan peningkatan persinyalan, telekomunikasi dan listrik (sintelis) yang dilaksanakan dalam rangka kelancaran operasi perjalanan KA dan mendukung peningkatan keselamatan serta peningkatan pelayanan diantaranya terdiri dari pekerjaan persinyalan sebanyak 71 paket dari target 29 paket atau realisasi mencapai 244,83% dan pekerjaan listrik aliran atas sebanyak 14 paket dari target 14 paket atau realisasi mencapai 100%. Dalam pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jalur KA, juga dibutuhkan ketersediaan material/logisitik utama seperti rel dan wesel. Adapun pengadaan material/logistik yang telah dilaksanakan dalam kurun lima tahun terakhir berupa pengadaan rel sebanyak 142.311 ton dari target 60.489 ton atau realisasi mencapai 235,27% dan pengadaan wesel sebanyak 105 unit dari target 245 unit atau realisasi mencapai 42,86%. Untuk kegiatan pengadaan wesel masih minim realisasi terhadap target Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 diantaranya karena terbatasnya dana APBN rupiah murni sehingga dalam beberapa tahun terakhir direncanakan agar menggunakan dana APBN melalui pinjaman luar negeri yang sampai saat ini masih dalam proses pengadaan. Sedangkan untuk pengadaan plat sambung tidak terealisasi karena dalam pelaksanaan pembangunan/peningkatan jalur KA masih menggunakan plat sambung yang telah ada. Hasil-hasil pembangunan prasarana perkeretaapian tahun 2005 – 2009 diantaranya pembangunan jalan KA di NAD antara Simpang Mane – Blangpulo – Cunda sepanjang 30,3 Km (2007-2008), peningkatan persinyalan dan telekomunikasi di Sumatera Utara (2006-2009), pembangunan jalan KA antara Stasiun Payakabung Simpang menuju Indralaya (Kampus UNSRI) sepanjang 4,3 Km (2006-2007), pembangunan partial double track Tulungbuyut – Blambangan umpu sepanjang 2,6 Km (2007-2008), pembangunan jalur ganda Tanah Abang – Serpong sepanjang 23 Km (2006-2007), rehabilitasi jalan KA lintas Bogor – Sukabumi sepanjang 57 Km (2008), elektrifikasi jalur KA antara Serpong – Parung Panjang tahap 1 sepanjang 20 Km termasuk rehab track eksisting sepanjang 11,52 Km (2008), pembangunan jalur ganda Cikampek - Cirebon sepanjang 135 km (2004-2007), pembangunan jalur ganda Yogyakarta – Kutoarjo sepanjang 64 Km (2004-2007), pembangunan jalur ganda antara Petarukan – Pemalang – Larangan lintas Tegal – Pekalongan sepanjang 33,37 Km (20072008), pembangunan jalur ganda antara Patuguran – Purwokerto tahap I lintas Cirebon – Kroya sepanjang 24,48 Km (2008), serta relokasi jalan KA antara Sidoarjo – Gununggangsir lintas Surabaya – Bangil segmen I

BAB II

EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009

II-11

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

sepanjang 3,8 Km (2008). Sedangkan untuk pembangunan jalur KA di Kalimantan Timur yang terdapat dalam target Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2005-2009 masih belum dapat terlaksana karena masih menunggu peran serta swasta dan Pemerintah Daerah. Selain hal tersebut diatas, pembangunan Depo Depok juga merupakan salah satu hasil pembangunan prasarana perkeretaapian (bangunan operasional) yang utama. Pembangunan Depo Depok tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan perawatan dan inspeksi serta penyimpanan inap KRL. Pelaksanaan konstruksi dilaksanakan dalam kurun waktu 20042007 melalui pembiayaan pinjaman luar negeri. Tabel 2.12 Realisasi Program Peningkatan dan Pembangunan Prasarana dan Sarana Transportasi Perkeretaapian
NO KEGIATAN PRASARANA KA 1 2 3 4 5 6 7 8 Peningkatan jalan KA kapasitas KM Unit KM Ton Unit Unit Pkt Unit 21 7 1 15 7 1 143,80 4 132,71 149,07 4 13,98 293,84 12 32,59 6.059 110 24 4 16 105,29 4 43,64 0 0 0 5 8 280,83 8 233,70 54.430 1.000 200 4 18 333,38 10 36,62 10.800 0 35 4 16 2 10 208,25 8 136,60 608,60 36 69,60 118.666 50 5 11 2 10 218,80 2 107,60 352,79 35 135,19 12.845 5 1 75 SATUAN Th.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th. 2005 Th. 2006 Th. 2007 Th. 2008

Peningkatan jembatan Pembangunan jalan KA Pengadaan rel Pengadaan plat sambung Pengadaan wesel Tanah Pembangunan jembatan FASILITAS KESELAMATAN

9 10 11 12 13

Persinyalan Jaringan telekomunikasi Listrik aliran atas (LAA) Warning devices Pintu perlintasan SARANA KA

Pkt KM Pkt Pkt Pkt

5 2 2 9 1

11 0 3 30 3

2 4 4 11 1

12 0 0 0 0

7 5 5 10

17 29,38 0 0 8

7 2 2 9 1

12 4 4 0 0

8 2 1 1 1

19 5 7 0 0

14 15 16 17

Kereta rel listrik (KRL) KRD/KRDI Lokomotif Revitalisasi & pengembangan angkutan perkeretaapian wilayah jabotabek Pembangunan perkeretaapian Kalimantan Timur

Unit Unit Unit Pkt 4

10 5 50 1

44 0 0 0 1 5

24 10 5 28 20

0

1

8

1

1

18

Pkt

1

0

1

0

Kegiatan-kegiatan pembangunan diatas secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja transportasi perkeretaapian. Kinerja tersebut diantaranya berupa produktivitas angkutan baik angkutan penumpang maupun barang yang secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut.

BAB II

EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009

II-12

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

Tabel 2.13 Kinerja Transportasi Perkeretaapian Tahun 2005-2009
URAIAN PRODUKTIVITAS ANGKUTAN Angkutan Penumpang  Penumpang – Km  Penumpang  Penumpang Jabotabek  Penumpang Non Jabotabek Angkutan Barang  Barang – Km  Barang  Barang Nego  Barang Non Nego NET PSO-IMO-TAC  Relasi KA Ekonomi SATUAN 2005 2006 TAHUN 2007 2008 2009*

juta pnp–km juta org juta org juta org juta ton–km juta ton juta ton juta ton Milyar Rp Relasi

14.344,00 151,49 100,97 50,52 4.390,00 17,33 16,53 0,80 270,00 77

15.438,00 161,29 104,42 56,87 4.534,00 17,48 16,86 0,62 450,00 77

15.871,00 175,46 116,66 58,80 4.404,00 17,03 16,43 0,60 425,00 72

18.509,00 197,77 126,70 71,07 5.451,00 19,55 17,49 2,06 544,67 76

20.791,00 220,07 151,26 68,81 5.353,00 18,95 18,46 0,49 535,00 76

Sumber : Ditjen Perkeretaapian & PT. KAI, 2009 * Angka sementara

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa volume angkutan penumpang KA dalam kurun waktu 5 tahun terakhir termasuk prediksi untuk tahun 2009, secara umum mengalami kenaikan dengan rata-rata sebesar 9,81% setiap tahunnya. Pada tahun 2008, volume angkutan penumpang terbesar adalah pada angkutan KA komuter Jabotabek yaitu sebanyak 126,70 juta penumpang atau sebesar 64,07% dari total penumpang KA pada tahun 2008 sebanyak 197,77 juta penumpang. Penambahan jumlah penumpang tahun 2008 dibandingkan tahun sebelumnya diantaranya disebabkan karena adanya penambahan jenis pelayanan untuk angkutan komuter yaitu ekonomi AC Jobodetabek. Volume angkutan kereta api barang dalam periode 2005-2008 tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan (cenderung konstan). Hal ini diakibatkan oleh dominannya angkutan barang yang terikat kontrak jangka menengah dan panjang (nego) sedangkan untuk angkutan barang non nego (jangka pendek) volumenya relatif kecil. Walaupun demikian pada tahun 2008 terjadi kenaikan volume angkutan barang cukup signifikan dimana baik untuk barang non negoisasi dan barang negoisasi mengalami kenaikan dengan total sebesar 14,80%. Untuk melanjutkan reformasi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan pendanaan perkeretaapian, telah dilaksanakan skema pendanaan Public Service Obligation (PSO). PSO merupakan upaya pemerintah untuk memenuhi kewajiban atas pelayanan umum di bidang transportasi perkeretaapian berupa subsidi operasi angkutan kereta api kelas ekonomi. Upaya ini dilakukan untuk membantu kemampuan daya beli masyarakat melalui subsidi yang ditentukan oleh Pemerintah atas selisih harga jasa

BAB II

EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009

II-13

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

perjalanan dengan biaya pokok produksi (BPP) dari setiap penumpang kereta kelas ekonomi. Selain itu juga terdapat skema pendanaan Infrastructure Maintenance and Operation (IMO) dan penerapan Track Access Charges (TAC) untuk pendanaan prasarana perkeretaapian baik oleh Pemerintah sebagai pemilik prasarana maupun Operator sebagai pengguna prasarana. Net PSO (IMO-TAC+PSO) dalam kurun waktu tahun 2005-2009 cenderung meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 19,3%, dimana pada tahun 2005 net PSO sebesar Rp. 270 milyar dan pada tahun 2009 dialokasikan sebesar Rp. 535 milyar untuk 76 relasi KA ekonomi. Subsidi PSO untuk KA ekonomi dominan pada pelayanan KA dengan jarak pendek termasuk perkotaan/komuter. Prioritas pada pelayanan KA jarak pendek/perkotaaan (KA Lokal, KRD, KRL) memang diperlukan mengingat potensi pengguna KA yang sangat besar. Dalam hal tingkat pelayanan (level of service) dapat digunakan indikator ketepatan/kelambatan kereta api berangkat/datang. Tingkat pelayanan kereta api berdasarkan waktu keberangkatan dan kedatangan baik untuk KA penumpang maupun KA barang masih jauh dari harapan. Sebagai ilustrasi ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan untuk KA penumpang pada tahun 2008 masing-masing hanya mencapai 80% dan 31%, sedangkan untuk KA barang masing-masing mencapai 23% dan 22%. Kondisi tersebut dimana masih rendahnya tingkat ketepatan waktu keberangkatan maupun kedatangan KA disebabkan oleh faktor-faktor seperti adanya gangguan pada peralatan sintelis, adanya lokomotif mogok dan menurunnya kecepatan tempuh akibat daya dukung prasarana jalan rel yang kurang memadai serta kapasitas lintas yang terbatas. Untuk meningkatkan level of service perlu dilakukan upaya peningkatan sarana dan prasarana secara berkesinambungan. Tabel 2.14 Kinerja Pelayanan KA terhadap Ketepatan Jadwal
KETEPATAN TERHADAP JADWAL KA ANGKUTAN PENUMPANG - KA BERANGKAT TEPAT WAKTU (%) - KA DATANG TEPAT WAKTU (%) KA ANGKUTAN BARANG - KA BERANGKAT TEPAT WAKTU (%) - KA DATANG TEPAT WAKTU (%)
Sumber: Ditjen Perkeretaapian, 2009

TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009*

81 21

70 22

82 23

77 24

80 31

88 33

21 22

23 19

25 19

21 18

23 22

32 34

* Posisi November 2009

BAB II

EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009

II-14

21 kejadian tabrakan KA-Ranmor dan 107 kejadian anjlog/terguling. rel. Untuk kecelakaan (accident) KA yang paling banyak menimbulkan korban manusia adalah tabrakan KA dengan kendaraan bermotor yang terjadi di pintu perlintasan. transportasi perkeretaapian masih mengalami fluktuatif jumlah kecelakaan. 15 Milyar (harga satu loko kurang lebih Rp. Pada tahun 2008.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel 2. tidak ada atau tidak berfungsinya lampu pemberhentian. Kelalaian yang diakibatkan dapat berupa tidak tersedianya pintu perlintasan. Jumlah korban kecelakaan dari tahun 2005 sampai dengan akhir tahun 2008 terdiri dari luka ringan 400 orang. Penyumbang mayoritas kecelakaan KA adalah kejadian anjlok/KA terguling. Faktor penyebab kecelakaan diantaranya oleh kondisi prasarana KA baik dari sisi prasarana yang tidak terawat maupun aplikasi teknologi persinyalan yang ketinggalan jaman. Di lain pihak. Kecelakaan kereta api sangat beresiko tinggi pada pihak ketiga yaitu penumpang atau pun orang-orang di sekitar daerah operasi kereta api (stasiun. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-15 . pengguna jalan terkadang juga kurang disiplin dalam berlalu lintas. Sedangkan walaupun kecelakaan kereta anjlok/terguling dan tabrakan KA dengan kendaraan bermotor paling sering terjadi dibandingkan kecelakaan lain namun demikian jumlah kehilangan nyawa dan kerugian material terbesar per kejadian kecelakaan terjadi akibat kecelakaan KA dengan KA. jumlah kecelakaan menurun menjadi 131 kejadian yang terdiri dari 3 kejadian tabrakan KA-KA. luka berat 367 orang dan meninggal 165 orang. Jumlah korban dapat mencapai puluhan jiwa dan kerugian material yang terjadi lebih dari Rp. faktor penyebab kecelakaan yang cukup dominan adalah kondisi sarana KA yang tidak memadai serta faktor SDM perkeretaapian. Selain hal tersebut. kelalaian penjaga. maupun pintu perlintasan).15 Data Kecelakaan Transportasi Perkeretaapian Tahun 2005-2009 NO A 1 2 3 B 1 2 3 URAIAN Jenis Kejadian Tabrakan KA-KA Tabrakan KA-Ranmor Anjlog / Terguling Jumlah Korban Kecelakaan Meninggal Luka Berat Luka Ringan Jumlah 2005 10 15 66 91 36 85 111 232 2006 5 24 73 102 50 76 52 178 Frekuensi 2007 3 20 117 140 34 128 164 326 2008 3 21 107 131 45 78 73 196 2009 5 21 48 74 57 122 76 255 Sumber : Ditjen Perkeretaapian. dan sebagainya. 2009 Dalam aspek keselamatan. 15 Milyar). Jumlah kecelakaan tertinggi pada kurun waktu 2005-2009 terjadi pada tahun 2007 yaitu 140 kejadian dan untuk jenis kejadian didominasi oleh kejadian anjlog/terguling pada tahun 2007 sebanyak 117 kejadian.

262. Gambar 2.56 1.559 8219.065.37 163.000 Milyar Rupiah 31353.40% dan investasi sarana sebesar 52.85 Sumber : Renstra Kementerian Perhubungan.26 trilliun atau hanya 43.478 21393.85%.477. 2005-2009 & Hasil Evaluasi Dari tabel diatas.279.03 % 90.000 5000.000 1128.58 445. secara keseluruhan dapat diketahui bahwa realisasi pembiayaan hanya sebesar Rp.068 11413.353.58 106.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Dalam hal realisasi pembiayaan APBN berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan tahun 2005-2009.40 52.41 Trilliun.16 2.000 20000.000 .139 5655.76 1.000 15000.73 15.878 12407.177. 15.95 REALISASI PEMBIAYAAN APBN (Milyar Rupiah) 274.81 33.757 2931.419.975 1070.514. Tabel 2.161 25000. dapat dilihat pada tabel berikut. 35.11 2.000 10000.266 5221.99 11.000 30000.539 2005 2006 2007 2008 2009 Target Kumulatif Sumber : Ditjen Perkeretaapian BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-16 .1 Realisasi Investasi Prasarana Perkeretaapian 35000.413.412.97 36.57 12.16 35. Rincian realisasi investasi prasarana dan sarana perkeretaapian setiap tahun (2005-2009) dapat dilihat pada gambar berikut. dimana realisasi investasi prasarana hanya mencapai 36.10% dari target pembiayaan Renstra Kementerian Perhubungan tahun 2005-2009 yang mencapai Rp.10 36. Dalam hal realisasi pembiayaan untuk kegiatan pembangunan prasarana dan sarana perkeretaapian masih minim.29 31.16 Evaluasi Pembiayaan APBN Berdasarkan Renstra Kementerian Perhubungan Sub Sektor Perkeretaapian Tahun 2005-2009 PROGRAM Rehabilitasi prasarana dan sarana kereta api Peningkatan & pembangunan prasarana dan sarana Peningkatan aksesibilitas pelayanan angkutan perkeretaapian Restrukturisasi dan reformasi kelembagaan JUMLAH INVESTASI PRASARANA (APBN) INVESTASI SARANA (APBN) TARGET PEMBIAYAAN APBN (Milyar Rupiah) 301.59 43.55 418.

810 274.757 202.314 234.565 Milyar Rupiah 2005 2006 2007 2008 2009 Target Kumulatif Sumber : Ditjen Perkeretaapian BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-17 .584 118.000 200.000 .3 Realisasi Pembiayaan Program Rehabilitasi Prasarana dan Sarana KA 350. terdapat program yang tidak memenuhi target pembiayaan yaitu program rehabilitasi prasarana dan sarana kereta api (90.440 2005 2006 2007 2008 2009 Target Kumulatif Sumber : Ditjen Perkeretaapian Berdasarkan pembiayaan masing-masing program.000 206.37%).820 1842.000 300.000 50.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Gambar 2.078 65.565 170.000 2500.778 2419.030 731.000 1000.000 301.000 150.000 67.2 Realisasi Investasi Sarana Perkeretaapian 3000.390 444.921 71.946 2310.183 112.97%) serta peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana KA (36.578 2068.000 500. Pembiayaan yang tidak terpenuhi tersebut lebih disebabkan pada keterbatasan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).218 1279.000 .000 250.000 Milyar Rupiah 2000.000 100.548 24. Gambar 2.843 64.000 1500.

490 225.134 2005 2006 2007 2008 2009 Target Kumulatif Sumber : Ditjen Perkeretaapian BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-18 . 270 Milyar dan pada tahun 2009 dialokasikan sebesar Rp.763 23262.000 1500. dimana pada tahun 2005 net PSO sebesar Rp.000 25000.000 30000.600 1098.000 .3%.000 1000.000 500.000 712.334 797.670 1135.114 8495.000 5000. 535 Milyar.320 1514.000 Milyar Rupiah 2500.540 2477.000 15000.000 .4 Realisasi Pembiayaan Program Peningkatan & Pembangunan Prasarana dan Sarana KA 35000.000 20000.789 2980.000 2000.58%) dan program restrukturisasi dan reformasi kelembagaan (106.874 1087. terdapat program yang melampaui target pembiayaan yaitu program peningkatan aksesibilitas pelayanan angkutan perkeretaapian (163. Untuk realisasi pembiayaan program peningkatan aksesibilitas pelayanan angkutan perkeretaapian didominasi oleh subsidi kereta ekonomi (net PSO) yang selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 19.554 1230.205 14170.324 5362.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Gambar 2.134 495.384 12065.431 Milyar Rupiah 2005 2006 2007 2008 2009 Target Kumulatif Sumber : Ditjen Perkeretaapian Selain itu. Gambar 2.59%).134 294.580 1842.5 Realisasi Pembiayaan Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Perkeretaapian 3000.194 7309.000 10000.000 33177.

BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-19 . Pada tahun 2007 ditargetkan 3 unit dan terealisasi 7 unit atau sebesar 233% (melebihi target).960 2007 2008 2009 Target Kumulatif Sumber : Ditjen Perkeretaapian 3. dan terdapat 2 (dua) tahun yang melebihi target yaitu tahun 2007 dan tahun 2008.810 194. Pada tahun 2008 ditargetkan 3 lokasi dan terealisasi 44 lokasi atau sebesar 1460% (melebihi target). Program Rehabilitasi Transportasi Laut 1) dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Untuk kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan kantor UPT Adpel/Kanpel terdapat 2 (dua) tahun yang tidak mencapai target yaitu tahun 2005 dan tahun 2006.809 445. TRANSPORTASI LAUT a.739 284.160 391.311 127. 2) Untuk kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan menara suar terdapat 2 (dua) tahun yang tidak mencapai target yaitu tahun 2005 dan tahun 2006.000 .729 418.000 200.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Gambar 2. Pada tahun 2005 ditargetkan 51 unit dan terealisasi 9 unit atau sebesar 17% (tidak mencapai target). Sedangkan untuk tahun 2009 ditargetkan 3 unit. dan terdapat 2 (dua) tahun yang melebihi target yaitu tahun 2007 dan tahun 2008.000 100. Pada tahun 2006 ditargetkan 33 lokasi dan terealisasi 72 lokasi atau sebesar 218% (melebihi target).894 356.000 Milyar Rupiah 400.6 Realisasi Pembiayaan Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan 500. Pada tahun 2007 ditargetkan 3 lokasi dan terealisasi 44 lokasi atau sebesar 1460% (melebihi target).081 396. Sedangkan untuk tahun 2009 ditargetkan 3 lokasi.000 2005 2006 134. Pada tahun 2005 ditargetkan 3 lokasi dan tidak terealisasi atau sebesar 0% (tidak mencapai target).000 300. Pada tahun 2008 ditargetkan 3 unit dan terealisasi 11 unit atau sebesar 367% (melebihi target).460 336. Pada tahun 2006 ditargetkan 34 unit dan terealisasi 13 unit atau sebesar 38% (tidak mencapai target).

2005 NO 1.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel 2. Unit Unit Unit Lokasi Lokasi Lokasi Unit Paket 51 125 34 1 1 3 24 9 - 34 126 38 1 3 13 19 - 3 11 3 7 6 10 3 9 13 11 313 42 22 8 24 - 3 8 24 24 5 3 14 23 5 9 - - 24 2 24 1 24 b.18 Realisasi Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Laut NO KEGIATAN PENEGAKAN HUKUM DI LAUT Sosialisasi Peraturan Kelaiklautan Kapal Rancangan Peraturan Kelaiklautan Kapal Tinjau Ulang Peraturan Kelaiklautan Kapal Verifikasi Laporan Kelaiklautan Kapal Pengembangan SIM Kelaiklautan Kapal Dokumentasi Peraturan Kelaiklautan Kapal PENINGKATAN KUALITAS SDM Pembinaan Teknis SID Diklat Las Diklat Teknologi Mekanik Diklat Elektronika Diklat Manajemen Bengkel SATUAN Th.2009 PerkiTarget raan 728.17 Realisasi Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Transportasi Laut Th.Gudang Kantor UPT Adpel/Kanpe lGedung dan Kantor PLP Rumah dan asrama Menara Suar Rambu Suar Pelampung Suar Fasilitas Pelabuhaan Master Plan. 8. 2007 Th. Penumpukan . 6.Lap. Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Transportasi Laut Tabel 2. 2005 Th. 9. 2006 Th. 10. 4. KEGIATAN Rehabilitasi .1 479 13. 40 38 33 47 46 3 3 3. 2008 Realisasi Th. 2006 Th.Dermaga . 7.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th. SID Alur Pelayaran Kapal Negara Suku Cadang Navigasi Kapal SATUAN Th.850 800 134 2.550 99 694.5 52 7 3 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Meter Meter Meter Lokasi - 16 - 89 - 377 200 1. 2008 1 2 3 4 5 6 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 1 1 1 3 - 1 1 1 1 1 1 - 1 1 1 1 1 1 1 - 1 1 1 1 1 1 1 2 - 1 1 1 1 1 1 - 1 2 3 4 5 6 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 2 30 30 30 - 1 - 1 1 30 30 30 - - 1 1 30 30 30 30 - 1 1 30 30 30 30 - 1 1 30 30 30 30 1 1 - BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-20 . 5. 2007 Th.

358 33. Tk.700 48 22 354 998 29.2009 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Perki-raan 25.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 -22 23 24 25 26 27 28 29 30 KEGIATAN Diklat PMS Diklat TMS Diklat Surveyor Tipe C Diklat Surveyor Tipe B Diklat SBNP Diklat ORU Diklat MIR Diklat Kepelautan Diklat Pemutakhiran Pelaut Kursus Penyegaran Marine Inspector Pembinaan Operasional Pelaksanaan Tugas Peningkatan Keterampilan PPNS Pembentukan Penyidik PPNS Konstable Pelatihan Gulang Cemar Peningkatan PSCO Pembekalan Tugas GAMAT Pada Awak Kpl Latihan dasar Kesatuan PLP Sosialisasi NCP Sosialisasi Salvage Peraturan SATUAN Paket Paket Paket Paket Paket Th. Tk.II Tk.IV 66 Tk.139 29.350 58 30 423 1. 2006 Th. 2006 Th.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 25 25 25 25 25 25 60 30 30 1 30 30 Tk.290 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-21 .19 Realisasi Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan Aksesibilitas Pelayanan Transportasi Laut NO 1 Kapal KEGIATAN SATUAN DWT (KPL) 2 3 4 5 Pelabuhan Pangkal Pelabuhan Singgah Frekuensi Penempatan Kapal Bh Bh Voy Th. Program Aksesibilitas Pelayanan Transportasi Laut Tabel 2.III Tk. 2005 Th.100 56 29 418 1.350 52 25 370 1.298 32. 2008 Th. I 201 1 V s/d IV 1 1 900 135 0 640 360 194 0 300 1 1 120 150 640 1 1 1 1 600 480 1050 300 2 300 1 1 1 1 600 750 450 288 2445 400 1 2 250 150 600 1 2 35 1 30 30 30 1 1 1 500 300 1500 200 200 1 1 30 30 30 1 1 1 500 800 300 300 1355 250 1 300 150 800 1 Th. 2007 Th.III/ Tk.850 53 26 388 1. 2005 Th. 2007 Th. 2008 Akt Paket OH OH OH OH OH OH OH Paket Paket OH OH OH Paket Barang Berbahaya Pemberkasan Kecelakaan Kapal Rescue Team Marine Pollution Prevention Exercise KERJASAMA INTERNASIONAL Pembayaran Iuran Tokyo MOU 31 Paket 2 1 1 1 1 1 1 - c.IV IV V Tk.

4%) (21%) (20%) (19.2009 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Perki-raan 5 11 11 11 11 (10.595 800 111 3.620 kapal Unit Unit 6 2 2 6 4 4 8 3 1 2 2 1 5 2 2 2 2 SATUAN Th.Rambu Suar .983 1.4) (81%) d.833 1. 2006 Th.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th.165 1.700 500 600 7000 15 2 1 42 600 161 15 17 64 33 1 17 64 33 2 15 67 3 6 17 64 1.000 162 3.Lap. 2007 Th.Gudang Kantor UPT Adpel/Kanpel KESELAMATAN PELAYARAN 1 Pembangunan . 2007 Th.6%) (19%) 44 41 42 45 47 (91. 2006 Th. Program Pembangunan Transportasi Laut Tabel 2.291 5.550 258 400 400 160 1 4 15 50 66 1 4 15 18 45 1 18 45 80 3 6 4 40 1000 1200 200 430 60 430 338 540 1050 2 17 9 4 5 19 10 2 17 9 18 51 1 18 51 133 67 3 9 100 1200 1200 300 430 60 1 32 143 13 7 1 1 40 300 182 1 32 143 18 55 1 18 55 6 85 1600 1200 600 600 160 1 31 10 6 2 18 1 1 56 5 31 10 Meter Meter Meter Lokasi 1.Menara Suar . 2008 Th.20 Realisasi Program Pembangunan Transportasi Laut NO KEGIATAN ANGKUTAN LAUT 1 2 Kapal Penumpang Pembangunan perintis PELABUHAN 1 Pembangunan .Pelampung Suar Peningkatan Fungsional Menara Suar Rambu Suar Pelampung Suar Pembebasan Lahan Telkom Pelayaran Bangunan Gedung Telkom Pelayaran Perangkat Radio Ship Reporting System Vessel Traffic Service Maritime Telecommunication System Power Plant AC Split 2 PK Gedung Kantor Pangkalan Kenavigasian Gudang Tertutup Gudang Terbuka Gedung Bengkel Dermaga Alat Unit Unit Unit Paket Unit Unit Unit Paket Paket Unit Unit Paket Unit Unit Unit M2 M2 M2 M2 M’ 17 61 37 1 17 61 37 3 16 70 7 2 6 23 72 2. 2005 Th.550 3. 2005 Th. Penumpukan .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO KEGIATAN Kawasan Barat Ind Kawasan Timur Ind SATUAN Kpl Kpl Th.8%) (79%) (80%) (80.Dermaga . 2008 2 - 41 - 60 - - - 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-22 .

498 m2 dengan realisasi sebesar 648.106. 2006 Th.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 7. 1) Target awal 2005-2009 untuk program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan pada tahun 2005 ditetapkan sebesar 737. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-23 .419.086. Seiring dengan perjalanan waktu.000 dan terealisasi sebesar Rp. TRANSPORTASI UDARA a.908.134. adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan/ sisi udara tahun 2006 sebesar Rp. Untuk tahun 2006 target untuk rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan 1. dan fasilitas keselamatan penerbangan sejumlah 77 paket dari target 2. 96.322 m 2.82. fasilitas bangunan sejumlah 124.925 m2 dari target 2.083 m2 dari target 101.00. 2008 4. 71. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas Transportasi Udara. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan / sisi udara tahun 2005 sebesar Rp. Asrama Pengadaan Gulang Cemar Pengadaan Peralatan Pengerukan Kapal Marine Surveyor Kapal Penanggulangan Kecelakaan Kapal Negara Kenavigasian Supervisi Kapal Bantuan Belanda Supervisi Kapal Bantuan Denmark Kapal Patroli GAMAT Bengkel / SATUAN M2 Paket Unit Unit Set Unit Set Unit Unit Unit Unit Bulan Bulan Unit Th.277.80%.283 m2 atau sebesar 23.695 m2 atau sebesar 136.842 m2 dari target 74.200 2 23 1 20 1500 1 4 70 1 5 1 3 13 1 4 13 Th.686 m 2 dengan realisasi 631.11%.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO 19 20 21 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 KEGIATAN Taman Pelampung Peralatan Survey Alat Angkut Gedung Kantor di Pangkalan PLP Pengadaan Peralatan SAR di Adpel Pembangunan Rumah Dinas.000.83%.866.321. Selama kurun waktu 2005-2008 telah dilakukan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan sejumlah 2.604.342 m 2. 2007 Th. 62.013 paket atau sebesar 3. Untuk tahun 2007 ditetapkan sebesar 102.176. target tersebut terealisasi sebesar 822.86%. fasilitas terminal sejumlah 17.00 dan terealisasi sebesar Rp.881.995 m2. 95.000 7 4 24 70 10 5 1 5 1 2 6 23 30 4 2 70 2 5 1 2 12 12 11 1000 1 2 70 1 5 1 2 12 12 54 1 5 22 1 4 22 1000 1 2 70 5 1 2 6 12 3. 2005 Th.613 m2 atau sebesar 122.341 m 2.

544.516m 2 dan terealisasi sebesar 779.496.00.000. Untuk tahun 2008. 6.755 m2 atau 43. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan terminal tahun 2007 sebesar Rp.934.258.62%.265 m2 dengan dana yang dialokasikan sebesar Rp 205.215.00 dan terealisasi sebesar Rp.00 dan terealisasi sebesar Rp. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan terminal tahun 2006 sebesar Rp.000.000.570.00 Sedangkan Untuk tahun 2009.353 m2 atau 98.00.548.000 dan terealisasi sebesar Rp.609. Dan terealisasi sebesar 7.569 m2 dan terealisasi sebesar 5. 5.190.926. 178. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan/ sisi udara tahun 2008 sebesar Rp.850.00.556. 2.00. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan/ fasilitas sisi udara sebesar 86.640.946.000.255.473 m2 dan terealisasi sebesar 7.093 m2.221.000. Hal ini disebabkan oleh kegiatan pemeliharaan terminal seluas 120 m2 di Bandar udara Ayawasi – Sorong yang merupakan kegiatan APBN-P waktunya terlalu singkat. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan terminal tahun 2008 sebesar Rp. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas terminal sebesar 4. Seiring dengan perjalanan waktu.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan perlunya rehabilitasi atau pemeliharaan fasilitas landasan guna meningkatkan keamanan dan keselamatan penerbangan.000.837.496.288.728.47%. Untuk tahun 2008.00 dan terealisasi sebesar Rp. 4.933 m2.000.556.000.00 Dan terealisasi BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-24 . 159.956 m2. sehingga tidak dapat dilaksanakan.00 dan terealisasi sebesar Rp. Untuk tahun 2009.964.000. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan/ sisi udara tahun 2007 sebesar Rp. 6. Untuk tahun 2006. Untuk tahun 2007. 5.016 m2. Dan terealisasi sebesar 1.008.000. 1.920 m 2 atau 801.39 %. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan terminal tahun 2005 sebesar Rp. 159.245.00 dan terealisasi sebesar Rp.00. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas terminal sebesar 17. 1.268 m2.378. 2) Target awal 2005-2009 untuk program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas terminal pada tahun 2005 ditetapkan sebesar 40.000. 160. 8.498.000.00 3) Target awal 2005-2009 untuk program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas bangunan pada tahun 2005 ditetapkan sebesar sebesar 50.167 m2 dengan dana yang dialokasikan sebesar Rp. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan bangunan tahun 2005 sebesar Rp.70%. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan/ fasilitas sisi udara sebesar 728. target tersebut berubah menjadi 7.016. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas terminal sebesar 4. 2.334.823 m2 atau 15.000.000.595.506. ditetapkan sebesar 12.

042.569 5.21 Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas Transportasi Udara NO 1 2 3 4 KEGIATAN Fasilitas Landasan Fasilitas Terminal Fasilitas Bangunan Fasilitas Kespen SATUAN m2 m2 m 2 Th. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas bangunan sebesar 50.179.195.082 m2.00. 6. 2006 Th.016 50.927 16. Untuk tahun 2006.516 779.664.342 86.268 613 205 7. target tersebut terealisasi sebesar 48. 2009 Target 28 57 4 3 4 200 27 2 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-25 . 2006 31 72 12 4 5 200 26 4 34 1 10 6 8 240 16 12 Th.049 m2.498 648. 2008 28 64 5 4 4 200 26 3 30 4 5 1 6 240 16 4 Th.83%. Seiring dengan perjalanan waktu.956. realisasi sangat jauh dibandingkan dengan target yang hendak dicapai.082 7 Paket b.000.000.000. Untuk tahun 2008. 22. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas gedung operasional tahun 2007 sebesar Rp.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 sebesar Rp.773. 2005 41 73 9 3 5 200 27 4 48 37 4 3 6 240 12 11 Th.752 22 17.013 paket.337. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas gedung dan bangunan sebesar 858 m2.179 613 147 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 737. 000.823 34 4. untuk tahun 20052008 dari target sebanyak 2.426 14 12. 18.322 102. Program restrukturisasi kelembagaan dan peraturan transportasi udara Tabel 2.049 984 1. Adapun dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program rehabilitasi dan pemeliharaan gedung dan bangunanl tahun 2008 sebesar Rp. Untuk tahun 2007 ditetapkan sebesar 613 m2.134. 4. Untuk tahun 2009.953.28 %.093 651 7.00 4) Untuk fasilitas keamanan penerbangan.446.000.02 50.920 40.353 48.288.983.000 dan terealisasi sebesar Rp.995 822.755 12.933 858 173 2.686 631.22 Program Restrukturisasi dan Reformasi Kelembagaan dan Peraturan Transportasi Udara NO 1 2 3 4 5 6 7 KEGIATAN Penyusunan Peraturan Penyusunan Sispro Teknis Penyuluhan/Penyebaran Info Penyelenggaraan Rapat Koord Evaluasi dan Pelaporan Pengawasan & Supervisi Kons Pembuatan Sistem Pulahta SATUAN Paket Paket Paket Paket Paket Buku Paket Paket Th.00 Dan terealisasi sebesar Rp 18.778 55. Dan terealisasi sebesar 55. hanya 77 paket yang terealisasi atau hanya 3.772 m2 atau 7.249. ditetapkan target rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas gedung operasional sebesar 98. 2008 Th. 18.956.043 m2 dengan dana yang dialokasikan sebesar Rp.00 Tabel 2. Untuk tahun 2009.327. 2007 32 68 4 3 5 200 27 4 38 30 8 3 6 240 34 4 Th. Dan terealisasi sebesar 12. 23.204. 2005 Th.341 1. ditetapkan target sebesar 147 paket dengan dana yang dialokasikan sebesar Rp.000.00.2009 Target 182. 2007 Th.552.426 m2.

2005 Realisasi 93 81 13 6.874 30 16 7 7 0 Th. pada tahun 2005 jumlah kota yang terhubungi penerbangan komersial adalah 101 kota.098.416.2009 Perkiraan 99 90 14 1.00 dan terealisasi sebesar Rp.070 m 2 sedangkan realisasi menjadi 147.174. 2007 Realisasi 97 83 13 7.376.873 8 8. selanjutnya sejalan dengan kebijakan multi operator transportasi udara pada tahun 2009 menjadi 170 rute penerbangan komersial dan 99 rute penerbangan perintis.309 29 16 6 7 0 Th.F 50 Angkutan BBM 7 8 Jumlah lokasi Jumlah Anggaran Lokasi Rp 7 2. 2007 7 24 165 106 6 7 22 Th.678.389.592 127. 2006 32 23 160 101 6 7 30 32 17 Th.CASSA 212 .23 Program Aksesibilitas Pelayanan Transportasi Udara NO 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Jumlah rute Jumlah kota terhubungi Jumlah Provinsi Jumlah Frekuensi Jumlah Anggaran Jumlah Armada .666.992 m2 dengan alokasi dana sebesar Rp.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO 8 9 10 11 12 13 14 KEGIATAN Peningkatan Kinerja Pegawai Sertif Kompetensi Penerb Distribusi kelayakan Pesawat Pembuatan Sertifikat Penyusunan Studi Verifikasi Fasilitas Bandar udara Restrukturisasi Rute SATUAN Paket Paket buku Paket Paket Lokasi rute Th.830. 118.BN2A .689. Tabel 2. 2006 Realisasi 93 80 14 7.355. Program Pembangunan Transportasi Udara 1) Dalam Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 target awal kegiatan pembangunan fasilitas landasan pada tahun 2005 ditetapkan sebesar 316.238 25 10 7 7 1 Th.702. 2008 Realisasi 93 84 15 7. Untuk tahun 2006 target awal kegiatan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-26 .738 21 12 7 2 *) Data s/d Maret 2009 d. 2008 7 24 165 121 1 6 7 4 Th.656 92.987.424 9 5.212 terpencil SATUAN Rute Kota Provinsi Kali Rp Unit Unit Unit Unit Unit Th. pada tahun 2005 telah dibuka 189 rute penerbangan komersial dan 90 rute penerbangan perintis.124 127. Pada tahun 2009 jumlah kota terhubungi untuk rute komersial meningkat menjadi sebanyak 85 kota dan rute penerbangan perintis menjadi 90 kota. 2005 7 22 150 86 1 6 7 42 6 7 Th. Program Aksesibilitas Pelayanan Transportasi Udara Dalam upaya meningkatkan aksesibilitas pelayanan transportasi udara. dan 81 kota telah terhubungi oleh penerbangan perintis.980 38 19 9 2 8 Th.81. 2009 Target 7 24 165 121 1 4 7 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 4 19 8 31 c.176 112.063. Sejalan dengan itu.013* 164.750 8 4.268.833 10 9. 102.DHC-6 .

Untuk tahun 2007 target awal kegiatan pembangunan fasilitas landasan seluas 44. Seiring dengan perjalanan waktu.957 m 2 dengan alokasi dana untuk kegiatan ini sebesar Rp.000.500.000.163. Untuk tahun 2006 target awal kegiatan pembangunan fasilitas bangunan seluas 21.31.000.685 m2.049. target tersebut berubah menjadi 12. 428.00 dan terealisasi sebesar Rp.579 m2 dengan alokasi dana untuk kegiatan ini sebesar Rp. Untuk tahsarun 2009. 7.476. 13.000.000.354 m2 yang tersebar di 73 bandar udara dan terealisasi 100 %.076. Alokasi dana untuk kegiatan ini sebesar Rp.00 dan terealisasi sebesar Rp.000. Untuk tahun 2008. dari target awal kegiatan pembangunan fasilitas landasan seluas 982.161. 708. dari target 7.198.478.633. terealisasi sebesar 1. terealisasi sebesar 56.613.141 m 2.241.296. ditargetkan sebe 3. 996.257 m 2. target tersebut berubah menjadi 2.000.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pembangunan fasilitas landasan seluas 505. 2) Dalam Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 target awal kegiatan pembangunan terminal pada tahun 2005 ditetapkan seluas 17.158.000.069.095 m 2 dengan alokasi dana sebesar Rp. Untuk tahun 2007 target pembangunan fasilitas bangunan seluas 262 m2.916.00.000. ditagetkan sebesar 6. 20.200. 1.505.321. 111.00 dan terealisasi sebesar Rp.000. Untuk tahun 2008. terealisasi sebesar 982.92.933.170 m 2 dengan alokasi dana sebesar Rp.000.933 m2.293.371. Alokasi dana untuk kegiatan ini sebesar Rp.924.170 m 2. 7.449 m 2 dan terealisasi seluas 6.714 m2.492.731.253 m 2 dan terealisasi 100%.00 dan terealisasi sebesar Rp.000. 5.000.00 dan terealisasi sebesar Rp.008.161 m 2. Untuk tahun 2009. 3) Dalam Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 target awal untuk kegiatan pembangunan fasilitas gedung operasional dan bangunan pada tahun 2005 seluas 21.170 m 2. Seiring dengan perjalanan waktu. target tersebut berubah menjadi 383.-.162.468 m 2 sedangkan realisasi menjadi 10. ditetapkan target pembangunan fasilitas landasan seluas 982.00 dan terealisasi sebesar Rp.579 m 2 dan terealisasi seluas 505.5 m 2 dengan alokasi dana sebesar Rp.960.000.013.108.00 dan terealisasi sebesar Rp 17. 454. untuk tahun 2008.707. 730.201. Untuk tahun 2007 seluas 5.450.000.645.000. Untuk tahun 2009.000. Seiring dengan perjalanan waktu.673 m 2 dengan alokasi dana sebesar Rp. 6. Alokasi dana untuk kegiatan ini sebesar Rp.800.645.962.642.00 Untuk tahun 2006 target awal kegiatan pembangunan fasilitas Terminal seluas 24.703.386 m2 sedangkan realisasi menjadi 1. dari target pembangunan fasilitas bangunan seluas 367 m 2. 1.00.000.962.244.185.449 m 2 dan terealisasi seluas 7. 13.000. 204.517.788.577.000.00 dan terealisasi sebesar Rp. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-27 .870. 5.562 m2 dengan alokasi dana untuk kegiatan ini sebesar Rp.000. 32. 181.00 dan terealisasi sebesar Rp.00.002 m 2 dan terealisasi sebesar 100% dengan alokasi dana sebesar Rp.00 dan terealisasi sebesar Rp.00 dan terealisasi sebesar Rp. 105.

dari target kegiatan pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan sebanyak 72 paket. 10. Untuk tahun 2006 target awal kegiatan pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan sebanyak 421 paket dan terealisasi sebanyak 839 paket. 12. Dalam Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 target awal kegiatan pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan pada tahun 2005 sebanyak 279 paket dengan realisasi sebanyak 469 paket. DME Unit 0 3 2 12 79 4. NDB Unit 0 0 0 0 173 2. 9. 2. 6. Untuk tahun 2007 target awal kegiatan pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan sebanyak 88 paket dan seiring dengan perjalanan waktu. SSR Unit 0 0 0 0 17 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-28 . 13. Tabel 2. 3. VOR Unit 0 3 2 12 74 3. Sedangkan untuk tahun 2009.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 4) Upaya menekan jumlah kecelakaan dilakukan melalui pengadaan dan peningkatan fasilitas keselamatan yang terdiri dari fasilitas telekomunikasi. 5. Tabel 2. 11. fasilitas navigasi penerbangan dan fasilitas listrik bandar udara.24 Fasilitas Komunikasi Penerbangan Tahun 2005-2008 Uraian Satuan 2005 2006 2007*) 2008*) VHF Portable Unit 20 21 29 7 HF-SSB Unit 11 3 38 10 T-S ADC Set 1 5 10 13 AMSC/AMSS Unit 11 0 5 0 ATIS Unit 0 0 0 2 TELEPRINTER Unit 5 2 4 4 RECORDER Unit 2 2 12 13 VHF-ER Set 0 3 1 1 VSAT Unit 0 0 0 0 T-S APP Set 0 2 1 0 RADIO LINK Unit 0 0 1 0 LINK VHF REPEATER Unit 0 0 0 0 RADAR Set 0 0 0 0 Keterangan : * Setelah dilakukan cek ulang dengan DIPA TA 2007 dan 2008 (setelah penghematan berupa penundaan kegiatan) No 1.25 Fasilitas Navigasi Penerbangan 2005-2008 No Uraian Satuan 2005 2006 2007*) 2008*) Kumulatif 1. 4. terealisasi menjadi 388 paket. 7. Untuk tahun 2008 target awal kegiatan pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan sebanyak 74 paket dan terealisasi menjadi 605 unit. PSR Unit 0 0 1 11 14 5. 8.

10 – 35 kVA 2 4 7 17 . 6.200 – 300 kVA 1 1 4 0 .35 -50 kVA 1 0 5 4 .< 10 kVA 1 9 6 7 . MSSR Unit 0 0 1 0 6 7.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 No Uraian Satuan 2005 2006 2007*) 2008*) Kumulatif 6. 3. 10. Tabel 2. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-29 . 9. ADS-B Unit 0 0 5 20 25 8 ILS Unit 38 Keterangan : * Setelah dilakukan cek ulang dengan DIPA TA 2007 dan 2008 (setelah penghematan berupa penundaan kegiatan) No 1.27 Fasilitas Listrik Bandar Udara 2005-2009 Uraian Satuan 2005 2006 2007*) 2008*) Genset Unit . 2.300 – 500 kVA 0 0 2 1 .26 Fasilitas Keamanan Bandar udara 2005-2008 Uraian Satuan 2005 2006 2007*) 2008*) Kumulatif X-RAY Unit 291 CCTV Unit 17 FIDS Unit 33 WTMD Unit 202 Fire Alarm System Unit 3 Tabel 2. 6.> 500 kVA 0 0 0 1 ATS dan ACOS System 0 0 12 ACOS Power CONTROL System 0 0 4 Transmisi & Distribusi System 0 0 31 Integrated Lighting Protect Set 0 0 6 AC Unit 82 39 0 Escalator Unit 0 0 0 Elevator Unit 0 0 0 Garbarata Unit 0 0 0 Conveyor Unit 0 6 0 UPS Unit 0 0 5 Light/ Sirene Unit 4 18 0 Solar Cell Unit 0 0 9 Keterangan : * Setelah dilakukan cek ulang dengan DIPA TA 2007 dan 2008 (setelah penghematan berupa penundaan kegiatan) No 1. 5.50 – 100 kVA 0 0 1 1 . 4. 3. 8. 11 12.100 – 200 kVA 1 2 2 5 . 7. 2. 4. 13.

Hang Nadim-Batam. Sultan Babullah-Ternate. Hingga tahun 2008 jumlah peralatan DVOR yang terpasang meningkat menjadi 74 unit dan DME sebanyak 79 unit. sehingga hingga 2008 telah terpasang peralatan ILS sebanyak 38 Unit. SSR (Secondary Surveillance Radar) sebanyak 17 Unit dan MSSR (Monopulse Secondary Surveillance Radar) sebanyak 5 unit. pada tahun 2008 terdapat pemasangan ILS sebanyak 7 unit pada Bandar Udara Depati Amir. dan Fatmawati-Bengkulu. Hingga tahun 2005. Penggunaan NDB saat ini hanya dibatasi sebagai locator system untuk pendaratan presisi (ILS) saja.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Untuk menunjang aktivitas penerbangan malam dan meningkatkan minimal operasional (visibility). dan 28 bandar udara diantaranya dilengkapi dengan lampu pendaratan PALS (Precision Approach Lighting System) dan 20 bandar udara dilengkapi dengan MALS (Medium Approach Lighting System). peralatan Instrument Landing System (ILS) telah dipasang pada 23 bandar udara (sebanyak 28 unit). Pemasangan DVOR/DME pada tahun 2005. terdapat tambahan pemasangan 1 buah radar dan hingga tahun 2008 telah terpasang peralatan radar sebanyak 37 Unit di 20 lokasi yang terdiri dari PSR sebanyak 14 Unit. menggunakan DVOR dan DME sehingga jumlahnya tidak ditambah.Medan. 53 bandar udara telah dilengkapi dengan lampu landasan (Runway Light ). maka proses pendekatan dan pendaratan pesawat udara yang sebelumnya dilakukan dengan prosedur visual (visual approach) akan meningkat menjadi prosedur instrumen non presisi. Dengan dipasangnya alat tersebut. SSR sebanyak 17 Unit. telah terpasang peralatan radar sebanyak 35 unit yang terdiri dari PSR (Primary Survellance Radar) sebanyak 13 Unit. Dalam rangka pemantauan dan pengamatan penerbangan. terdapat tambahan 3 buah untuk lokasi Enarotali. sehingga dapat meningkatkan aspek keselamatan penerbangan. telah terpasang di 59 lokasi. Kalimarau. dilakukan penggantian 4 unit ILS di Bandar Udara Polonia . Hingga tahun 2005. Pemasangan radar pada tahun 2008 yaitu pemasangan radar PSR di Bandar Udara Sentani. sampai dengan tahun 2005. Hingga tahun 2007 telah terpasang sebanyak 31 unit peralatan Instrument Landing System (ILS) yang terdapat di 27 lokasi bandar udara. dan MSSR sebanyak 6 unit. secara bertahap dialokasikan pemasangan radar. Hingga saat ini kebutuhan DVOR/DME untuk BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-30 . Sentani-Jayapura. Abdurahman Saleh-Malang. Pada tahun 2007 terdapat tambahan 1 bandar udara yang dilengkapi dengan PALS. Sampai dengan tahun 2007 telah terpasang yaitu DVOR sebanyak 67 unit dan DME sebanyak 66 unit. sedangkan untuk menunjang approach dan enrute. Pada tahun 2007. Pada tahun 2006. Pada tahun 2006. Jumlah peralatan NDB sebagai peralatan navigasi sampai dengan tahun 2005 telah terpasang sebanyak 173 unit dan hingga sekarang tidak ditambah lagi terkait dengan perkembangan teknologi navigasi. Ended an Ternate. Sultan Syarif Kasim II – Pekanbaru. NGurah Rai – Denpasar dan Tjilik RIwut – Palangkaraya yang merupakan pemindahan dari Bandar Udara Dominie Eduard Osok – Sorong.

Guna peningkatan pelayanan dan kualitas informasi yang diperlukan bagi calon penumpang pesawat udara dilakukan pemasangan peralatan FIDS (Flight Information Display System) beserta kelengkapannya. Pemasangan peralatan FIDS dan PAS pada tahun tahun 2007 sebanyak 30 unit FIDS dan 36 unit PAS. Pada tahun 2006. bertmabah 3 unit dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai dengan tahun 2005. pelayanan APP (Approach controle) sebanyak 20 bandar udara. Hingga tahun 2008 jumlah FIDS bertambah menjadi 33 unit dan PAS sebanyak 39 unit. Dengan dipasangnya peralatan IGCS telah mengurangi penggunaan jumlah jalur frekuensi dan meningkatnya kualitas komunikasi antar unit kerja terkait di bandar udara.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 enrute sudah mencukupi. terdapat 28 unit FIDS dan 33 unit PAS (Public Adress System). dan ACC (Area Controle) sebanyak 2 bandar udara. Sebagai penunjang kegiatan operasional terutama bagi bandar udara – bandar udara yang memiliki kebutuhan daya listrik yang besar pemasangan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-31 . Sebagai penunjang operasional dan keamanan maka tiap-tiap bandar udara dilengkapi dengan peralatan keamanan. sedangkan untuk kebutuhan approach. Untuk peralatan komunikasi penerbangan sampai dengan tahun 2007 telah terpasang 387 unit HF-SSB (High Frequency Single Side Band). (Persero) Angkasa Pura I (12 unit pada 4 bandar udara) dan PT. Penambahan termasuk penggantian peralatan tersebut telah meningkatkan kecepatan dalam pemeriksaan/pendeteksian barang bawaan yang berbahaya terhadap penerbangan dan calon penumpang pesawat. (Persero) Angkasa Pura II (28 unit pada 3 bandar udara). Dengan penambahan peralatan tersebut sebagian bandar udara telah mengalami peningkatan pelayanan lalu lintas penerbangan yang semula bersifat informatif menjadi aktif (positif controlled). Kargo dan kabin. Selanjutnya penambahan peralatan Integrated Ground Communication System (IGCS) 1 unit pada tahun 2006 sehingga jumlahnya menjadi 3 unit di 3 bandar udara. Pada tahun 2007 peralatan security X-Ray telah terpasang sebanyak 254 unit dan hingga tahun 2008 bertambah menjadi 291 unit yang terdiri dari peralatan X-Ray Bagasi. perlu dikaji secara selektif. Pada tahun 2006 terdapat bantuan/hibah dari Pemerintah Jepang sejumlah 40 unit peralatan X-Ray beserta kelengkapannya untuk dioperasikan di bandar udara – bandar udara PT. sebagai fasilitas komunikasi poin to poin (Ground to Ground ) antar bandar udara. pada tahun 2006 bertambah 11 unit menjadi 239 unit. telah terpasang 228 unit. Hingga tahun 2008 jumlah bandar udara dengan pelayanan lalu lintas udara ADC sebanyak 45 bandar udara. dan VHF-ER 28 set. Dan pada tahun 2007 penambahan peralatan Integrated Ground Com-munication System (IGCS) sebanyak 1 unit sehingga jumlahnya menjadi 4 unit di 3 bandar udara. Sedangkan untuk peralatan komunikasi Air to Ground sampai tahun 2007 antara lain pemasangan VHF-portable sebanyak 142 unit. Dan pada tahun 2008 pemasangan VHF-portable bertambah menjadi 160 unit dan VHF-ER sebanyak 30 set.

Nunukan – Binuang PP. Jayapura – Pagai PP. Persiapan modernisasi sistem otomasi di ATC Jakarta (Jakarta Automation Air Traffic System) untuk sistem otomasi di wilayah Barat. Pesawat terdaftar AOC 135 (seat < 30) sebanyak 230 unit. Dengan pemasangan termasuk penggantian peralatan genset tersebut diharapkan terpenuhi ketersediaan catu daya listrik untuk mendukung operasional peralatan di bandar udara.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 genset menjadi suatu kebutuhan untuk menunjang operasional peralatanperalatan penunjang keselamatan penerbangan. Restrukturisasi ATS rute. Longbawan – Malinau PP. Blang Pidie – Aceh PP. Implementasi RVSM (Reduced Vertical Separation Minima) (mulai FL290 hingga FL410). Penerbangan Perintis pada tahun 2006 terdapat 7 rute baru yaitu: Tapak Tuan – Blang Pidie PP. Timika – Illu PP. Terkait dengan pengelolaan navigasi udara. hingga saat ini akan dilakukan kajian oleh tim untuk memformulasikan bentuk kelembagaan dan pengelolaan ANSP (Air Navigation Single Provider) yang tertuang di dalam UU No. pesawat dengan AOC 135 sebanyak 209 unit. Makassar – Bua PP. terdiri dari Fix Wings 448 unit dan Rotary wings 88 unit. Long Layu – Malinau PP.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Implementasi RNP (Required Navigation Performance)/RNAV (Radio Area Navigation) pada ATS rute tertentu. AOC 121 (seat > 30) sebanyak 304 unit. Wamena BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-32 . 702 pesawat udara yang beroperasi. Wamena – Apalapsili PP. Perkembangan Subsidi Operasi Angkutan Udara Perintis selama kurun waktu tahun 2006 . Wamena – Lilim PP. Persiapan penerapan otomasi peralatan ATS di Makassar (MAATS) untuk CPDLC dan ADS-C serta ADS-B. Instalasi sistem peralatan ADS-C dan ADS-B dilokasi yang belum terjangkau RADAR serta sebagai pengganti dan back up untuk sistem radar yang usia rata-ratanya sudah tua. Palu – Buol PP. direncanakan untuk dilakukan modernisasi mulai tahun 2009. Pada tahun 2007 terdapat 12 rute perintis baru : Datadawai – Melak PP. AOC 121 sebanyak 351 unit. Hingga tahun 2008 peralatan genset berjumlah 607 unit. pada tahun 2008 telah dilakukan hal-hal sebagai berikut: Implementasi penggunaan GNSS sebagai alat bantu navigasi penerbangan. Palangkaraya – Kuala Pembuang PP.2008 mengalami peningkatan. AOC 91 (general aviation) sebanyak 102 unit. Palangkaraya – Buntok PP. Pada tahun 2006 sebanyak 5 unit dari tahun sebelumnya sehingga jumlahnya menjadi 196 unit. Dalam mengantisipasi perkembangan arus lalu lintas udara dan teknologi CNS/ATM serta mengatasi keterbatasan yang ada saat ini dan menampung pertumbuhan transportasi udara dimasa datang. dengan 58 pesawat udara yang telah dihapus tanda pendaftarannya. Dan pada tahun 2007 peralatan genset terpasang sebanyak 571 unit. dan pada tahun 2008 terdapat 962 pesawat yang terdaftar. Bua – Masamba PP. Penerapan prosedur-prosedur operasional berbasis satelit (GNSS) dan CPDLC. Makassar – Tana Toraja PP. Pemasangan peralatan genset disesuaikan dengan kebutuhan daya dan kapasitas bandar udara. AOC 91 sebanyak 142 unit. Hingga tahun 2007 jumlah pesawat yang teregistrasi sebanyak 1072 unit dengan rincian : pesawat beroperasi 536 unit. Implementasi New English Proficiency. Ternate – Gebe PP.

Timika – Dekai PP dan pada tahun 2008 terdapat 6 rute perintis baru : Banda Aceh – Tapak Tuan PP. PaluPoso PP. yang mencakup struktur organisasi yang diperlukan.1 Tahun 2009 saat ini akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat serta peraturan peraturan pelaksana lainnya. Medan – Blang Pidie PP. sebagai tindak lanjut penerbitan UU No. yaitu suatu pendekatan terorganisir untuk mengelola keselamatan. Pelarangan terbang maskapai Penerbangan Nasional pada wilayah Eropa sampai dengan tahun 2009 telah dicabut pada bulan Juli 2009 seiring dengan kebijakan – kebijakan dari Ditjen Perhubungan Udara dalam BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-33 . Kendari – Bau-Bau PP. Sertifikasi pesawat udara pada 536 pesawat udara. menindak lanjuti perbaikan yang harus dilaksanakan untuk meyakinkan standar tingkat keselamatan selalu terjaga. Manado-Naha PP. didalam mencapai suatu tingkat keselamatan penerbangan yang diinginkan diperlukan metode dan tindakan-tindakan tertentu salah satunya adalah Safety Management System (SMS). KM) terkait dengan pelaksanaan Safety Management System (SMS). Sertifikasi Fasilitas MAATS. Peraturan Dirjen Hubud No. kebijakan dan prosedur.195/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight Approval). Langgur – Larat PP.199/IX/2008. memonitor secara berkesinambungan dengan melakukan pengawasan secara berkala terhadap tingkat keselamatan penerbangan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 – Mindiptanah PP. sertifikasi peralatan keamanan. Pembuatan Peraturan (PP. Sampai dengan tahun 2008 telah dilaksanakan beberapa kegiatan yang merupakan bagian dari SMS. dan sertifikasi pesawat udara. Peraturan Dirjen Hubud No. Terkait dengan aspek Keamanan dan Keselamatan Penerbangan. 95 tahun 2008 tentang Petunjuk teknis penanganan Petugas Pengamanan dalam Penerbangan (In-Flight Security Officer/Air Marshal) pesawat udara niaga asing. Palangkaraya – Kuala Pembuang PP dan Palangkaraya – Buntok PP dikarenakan tidak ada operator yang melayani. begitu juga untuk rute Palangkaraya – Kuala Kurun PP. Namun untuk rute Kendari – Bau-Bau PP subsidi dihapus karena tidak ada operator. yaitu kegiatan sertifikasi operasi bandar udara. Sertifikasi Fasilitas Peralatan RDPS Medan. Sampai dengan tahun 2008 telah dilaksanakan beberapa kegiatan yang merupakan bagian dari Safety Management System yaitu: mengidentifikasi beberapa gejala yang menyebabkan kecelakaan. Pada tahun 2008 terdapat beberapa peraturan Dirjen Perhubungan Udara mengenai persetujuan pengujian peralatan Ground Support Equipment (GSE) yang dilakukan melalui SKEP/89/IV/2008 dan SKEP/91/IV/2008. Pembuatan organisasi formal yang terkait dengan pelaksanaan SMS. Terkait dengan peraturan dan regulasi penerbangan nasional. Sertifikasi peralatan keamanan pada 2 bandar udara. juga peraturan mengenai Sertifikasi Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan PKP-PK serta petugas Salvage melalui SKEP Dirjen No. tanggung jawab. kegiatan yang dilaksanakan meliputi : Sertifikasi Operasi Bandar Udara Pada 57 bandar udara.

51 % 40. 1. Namun pada tahun 2007 dan 2008 dimulai pembangunan 2 bandar udara baru. Pembangunan Bandar udara Medan Baru membutuhkan biaya sebesar Rp. (Persero) Angkasa Pura II senilai Rp.28 Triliun saat ini sedang berjalan diharapkan tahun 2009 dapat dioperasikan. Galian) Ex Galian Existing Ex Galian Ponding Ex Galian Dewatering c) Timbunan Non Struktur (Borrow Area) 2) Pembangunan Bandar udara Lombok Baru 22.25 % 0. Peningkatan inspektur Ditjen Hubud. Penindaklanjutan hasil ICAO USOAP audit. mengeluarkan safety circular. Dalam Renstra Kementerian Perhubungan 2005-2009 target awal untuk kegiatan pembangunan bandar udara baru pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 adalah 0. Peningkatan safety oversight.70 % 0. 665 Milyar dibiayai oleh PT. (Persero) Angkasa Pura I sebesar Rp. Ground Breaking Ceremony dilaksanakan tanggal 29 Juni 2006 oleh Wakil Presiden RI.035 Triliun. peningkatan anggaran operasional. diantaranya melakukan restrukturisasi organisasi kantor pusat Ditjen Perhubungan Udara dengan dikeluarkannya KM 20 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja dengan struktur baru yaitu (1) Direktorat Angkutan Udara (2) Direktorat Bandar Udara (3) Direktorat Keamanan Penerbangan (4) Direktorat Navigasi Penerbangan (5) Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara.99 % 1. yaitu: 1) Pembangunan Bandar Udara Medan Baru. melaksanakan training SMS. 3.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 menindaklanjuti hasil audit ICAO. Pembangunan sisi darat (private sector) dibiayai PT. Saat ini (posisi bulan Mei 2008) pekerjaan timbunan tanah yang meliputi : a) Timbunan Struktur (Borrow Area) b) Timbunan Non Struktur (ex. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-34 . dan merevisi beberpa peraturan penerbangan yang ada mengacu kepada ketentuan dari ICAO.35 % Pembangunan Bandar udara Lombok Baru senilai + Rp. 515 Milyar dan Pemda NTB sebesar 150 Milyar sesuai kesepakatan bersama antara kedua belah pihak. Pengaktifan PPNS. Pembangunan sisi udara (public sector) dibiayai melalui APBN dimulai tahun anggaran 2007 dan diharapkan dapat dioperasikan secara terbatas pada tahun 2009.

449 6.224 10 279 40 94 3714 93 1. 2008 Th. 2005 Th.224 465.070 159.400 1 1 - Konstruksi overrun Konstruksi perluasan apron Konstruksi pelebaran runway Pekerjaan marka Pekerjaan timbunan tanah Konstruksi landas pacu perpanjangan Cut Ali Tapak Tuan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-35 .48 21.224 194.000 16.714 - 34.161 56.998 505.467 27 839 88 49 93 2.011.141 383.870.562 7.33 0.078 982.700 2.541 34.714 97 6.957 316.505 34. 2007 Th.208 388 74 56 95 3.801 94 3.2009 Target 78.000 122.29 Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bandar udara di Daerah Bencana No Lasikin Sinabang 1 2 3 4 5 6 7 Pekerjaan timbunan tanah Konstruksi landas pacu perpanjangan M3 M2 M2 M2 Paket Paket udara Paket 22.253 12.714 2 Target Realisasi Target Target Realisasi Target Realisasi 44.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel 2.095.5 24.170 5.096 9 Pembangunan Bandar udara Baru (Medan Baru & Lombok Baru) Pembangunan Kantor Baru Pusat Paket 10 11 Paket Paket 1 642 4 683 4 658 665 654 e.397 6.685 367 1.002 37. 2006 Realisasi Th.500 2.257 262 2.386 1.499 17.933 262 34.354 7.224 72 67 93 95 3.950 469 11 421 42 94 3.67 Kegiatan Satuan Target 2007 Realisasi Target 2008 Realisasi 2009 Target Konstruksi overrun Konstruksi perluasan apron Konstruksi pelebaran runway Pekerjaan marka Pembuatan Baru Bandar Cut Nyak Dien Meulaboh Kuala Batee Kab Aceh Barat 8 9 10 11 12 13 14 15 Pekerjaan timbunan tanah Konstruksi landas pacu perpanjangan M3 M2 M2 M2 Paket Paket M3 M2 15.449 34.500 2.579 1.28 Program Pembangunan Transportasi Udara NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KEGIATAN Fasilitas Landasan Fasilitas Terminal Fasilitas Bangunan Penyiapan Lahan/Sertifikasi Kegiatan Studi Fasilitas Kespen Armada Penerbangan PSD/Subsidi/Bantuan SATUAN M 2 Th.224 129.673 M2 M M 2 2 21. Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bandar udara di daerah Bencana Tabel 2.714 13 605 Paket Paket unit Rute drum 4.468 10.700 0.

415 275.893 288.512.188.332 3.130 338.776 270.364.119 36.060** 46.015. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-36 . Jumlah armada angkutan udara niaga berjadwal nasional yang beroperasi pada tahun 2005 sejumlah 214 unit.767 34.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 No 16 17 18 19 20 Kegiatan Konstruksi overrun Konstruksi perluasan apron Konstruksi pelebaran runway Pekerjaan marka Perpanjangan landas pacu Satuan Target M2 M2 Paket Paket M2 2.162.122 29.21.30 Tabel Kinerja Transportasi Udara Tahun 2005-2009 URAIAN PRODUKTIVITAS PENERBANGAN Perusahaan Beroperasi Angkutan Udara Niaga yang TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 Angkutan Udara (perusahaan) Berjadwal 18 36 17 33 14 34 16 31 17* 35* Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal (perusahaan) Armada Angkutan Udara Niaga Berjadwal Nasional Terdaftar (unit) Beroperasi (unit) Rute Penerbangan Komersial (Rute) Perintis (Rute) Kota Terhubungi Komersial (Rute) Perintis (Rute) Pesawat Domestik (Pergerakan) Pesawat Internasional (Pergerakan) Penumpang Domestik (jt org) Penumpang Internasional (jt org) Barang Domestik (ton) Barang Internasional (ton) 325 214 189 90 101 81 334.116 276* 215* 170* 99 85* 90 375.391 42.231** 40.327 27.963.508 37.087 31.322 111 489 170 92 88 84 341.864 304 259 187 91 90 83 484.813.229 28. dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 489 unit.700 1 22.431** 372.306 333 226 206 91 100 80 339.879** 41.500 2007 Realisasi Target 2008 Realisasi 2009 Target - Sultan Iskandar Muda Banda Aceh Tabel 2.981 2.706** * Data s/d April 2009 ** Perkiraan 1 tahun dengan pertumbuhan 10% Kinerja Sub Sektor Transportasi Udara selama kurun waktu Renstra 20052009 diilustrasikan pada tabel 2.235 42.480 55.248 77.405.962.275 39.515 3.981** 4.145.437 3.

sebagaimana ditunjukkan tabel 2.437 Aircraft Flight Hours 409. Australia dan Swedia. 4.556 Accident-Incident 19 27 23 25 Passenger Fatalities 125 14 21 0 Sumber: Ditjen Perhubungan Udara Selama tahun 2005 – 2009 telah banyak dilakukan kerjasama PHLN dengan berbagai negara di antaranya Jepang. SIDA-IMP for Air Transport Sector in Eastern Indonesia (III) (hibah Swedia) BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-37 . Proyek Pembangunan Bandar Udara Ketaping – Padang. 6. Perancis.332 37. 8. 2. 7.119 Passenger Carried 28.21. Proyek Pembangunan Bandar Udara SM Badaruddin II – Palembang.813. sehingga kecelakaan bertubi-tubi bagi penerbangan di Indonesia yang terjadi pada kurun waktu akhir tahun 2006 sampai awal tahun 2007 menjadi sorotan dunia yang memerlukan aksi perbaikan segera.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Khusus dibidang keselamatan penerbangan. 11.981 3. Proyek Pembangunan Bandar Udara Juanda – Surabaya (IP-472 & IP514).015.405. The Project for Improvement of Security Equipment in Major Airport and Port Facilities (hibah JICA).515 34. 10. Namun demikian yang menjadi tolak ukur dari topik permasalahan dunia penerbangan adalah sebagian besar jumlah penumpang meninggal akibat dari terjadinya kecelakaan penerbangan. Technical assistance to follow up and support the road map to safety. dan jumlah kecelakaan terendah pada tahun 2008 sebanyak 0 kasus. Introduction of New CNS/ATM System (hibah JICA Jepang) 12. Indonesia Transport Safety Assistance Package (ITSAP-DOTARS Australia) (hibah Australia).31 Angka Kecelakaan Penerbangan Terhadap Perkembangan Angkutan Udara Niaga Berjadwal Periode 2005-2009 Kejadian 2005 2006 2007 2008 Aircraft Daparture 334. Tabel 2. Project for strengthening capacity on ensuring safe and efficient aircraft operation (hibah JICA Jepang). MAATS extention (Loan Protocol Perancis). dilihat dari jumlah kecelakaan tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebanyak 46 kasus. Technical Assistance to the Air Traffic Control Center of Makassar (Loan Protocol Perancis). 3. 9. 5.327 484.265 460.122 341.087 339. jumlah kecelakaan pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 mengalami fluktuasi. Proyek kerjasama tersebut terdiri dari pembangunan prasarana (pembangunan bandar udara dan terminal) maupun pengembangan sumber daya manusia. Proyek kerjasama PHLN tersebut terdiri dari : 1.9162. Proyek Pengembangan Bandar Udara Hasanudin – Makassar.137 477.204 510.

2008 Th.458 30 6 materi 6 10. Sumber Daya Manusia Tabel 2.2009 Target 13 lokasi Perki-raan 13 lokasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 120 Orang 120 Orang 180 Orang 180 Orang Orang/L okasi 2 Orang 30 30 50 50 45 45 3 Orang - - 142 142 150 150 5 Paket/ Orang 1 Paket 365 Orang 1 1 Paket 365 orang 1 1 Paket 1369 orang 1 1 Paket 1396 orang 1 1 Paket 1 Paket 6 Laporan 1 1 7 Orang 3005 2975 1539 1534 4500 4500 8 Laporan 1 1 1 1 1 1 9 10 Orang / Paket Orang Paket/ Orang 1 Paket 108 2391 Orang 108 1 Paket 110 1315 Orang 110 1 Paket 150 1 Paket 150 11 1 Paket / 91 Orang 150 Orang 5 5869 9 1 Paket / 52 Orang 80 Orang 5 3005 9 1 Paket / 54 Paket Orang 5 8965 9 1 Paket / 54 Orang 134 Orang 5 1539 9 1 1 12 13 14 15 Orang/ Materi Paket Orang Lokasi 6 materi 6 10. 2006 Th.458 30 Penyusunan Rencana Kebutuhan Formasi Pegawai Penanggulangan HIV/AIDS di lingkungan Kementerian Perhubungan Kenaikan Pangkat Terpadu Golongan IV/b ke bawah Pembekalan dan Pelaksanaan Ujian Dinas Sosialisasi dan Penyempurnaan Peraturan Kepe- 16 Lapor-an Orang Lokasi 2 34 - 2 34 - 2 29 5 2 29 5 2 40 4 2 40 4 17 18 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-38 .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 5. 2007 Th. S2.32 Realisasi Program Pengembangan Sumber Daya Manusia NO 1 KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan pembekalan dan sosialisasi Jabatan Fungsional di lingkungan Kementerian Perhubungan Menyiapkan PNS yang akan memasuki masa pensiun baik secara moril maupun materil Pengambilan Sumpah PNSdi lingkungan Kementerian Perhubungan Pengangkatan dalam jabatan struktural di lingkungan Kementerian Perhubungan Peningkatan Pengolahan dan Pengelolaan Data Kepegawaian Kementerian Perhubungan Pelaksanaan Pengadaan dan Orientasi CPNS Kementerian Perhubungan Pembinaan dan Pengendalian Disiplin PNS di lingkungan Kementerian Perhubungan Pembinaan dan Pemberi-an Tanda Penghargaan Pembekalan dan Pelaksanaan Seleksi Penyesuaian Tk. S1 dan S2 Peningkatan kualitas Sumber Daya Aparatur Perhubungan melalui penawaran beasiswa S1. 2005 Th.DIII Pelatihan kompetensi Pembinaan Pegawai Perawatan SATUAN Th.

2009 Target Perki-raan Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 20 Laporan - - 1 1 1 1 21 Laporan 1 1 1 1 1 1 22 Laporan 1 1 1 1 1 1 23 Laporan 1 1 1 1 1 1 24 Laporan 1 1 1 1 1 1 25 Laporan - - 1 1 1 1 26 Laporan 1 1 - - - - 27 Laporan - - - - - 1 6. 2008 Th. Pengawasan Aparatur Negara a. No. 2005 Th. pembangunan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta target-targetnya tercapai secara ekonomis. 2006 Th.1 Tahun 2008 Pelayanan Psikologi pegawai di lingkungan Kementerian Perhubungan Analisis dan pengkajian pengembangan organisasi dan tata laksana 1 Laporan 1 1 1 SATUAN Th. 2007 Th. Kolusi dan Nepotisme. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-39 . No. 2003 yang telah diubah terakhir dengan KM. Inspektorat Jenderal melaksanakan kegiatan pengawasan sesuai dengan rencana target audit. Audit Inspektorat Jenderal dalam melaksanakan pengawasan internal pemerintah bertujuan untuk mendorong kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO KEGIATAN gawaian di lingkungan Kementerian Perhubungan 19 Kajian Rencana Pembentukan Assesment Center di lingkungan Kementerian Perhubungan Penyusunan Kajian Remunerasi bagi PNS di lingkungan Kementerian Perhubungan Evaluasi Efisiensi dan Efektifitas dalam Pelaksanaan Tupoksi Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Kementerian Perhubungan Penyusunan Jabatan Pendukung di lingkungan Ditjen Kementerian Perhubungan Penyusunan Rencana Umum Pengembangan SDM Penyusunan Standarisasi Kompetensi Jabatan Struktural Sektor Perhubungan Penyusunan Juklak KM. 43 Th. efisien dan efektif serta bebas dari Korupsi. Kegiatan pengawasan untuk kurun waktu 2005-2009 telah berjalan dengan baik.

Tahun 2005 Jumlah OA 660 OA Terprogram 418 528 604 616 663 Realisasi 418 528 604 616 647 % 100 100 100 100 97. 2009* 736 Keterangan: Obyek Audit (OA) berdasarkan data DIPA *) Posisi s. Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi dengan beberapa instansi terkait. Audit Investigasi. 3) Koordinasi Pengawasan dengan Inspektorat Propinsi Dalam rangka mencapai hasil audit yang optimal dan didukung oleh Institusi Pengawasan di daerah (Inspektorat Propinsi) di masa yang akan datang. Pemerintahan Daerah Propinsi.59 2. yaitu: 1) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Koordinasi yang dilakukan dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.31 Program Pengawasan Aparatur Negara No.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel 2. dan Audit dengan Tujuan Tertentu lainnya (Perencanaan dan Manfaat. Inspektorat Jenderal menginformasikan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-40 . Pelayanan Publik dan Optimalisasi PNBP). 1.d. Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan dan Inspektorat Jenderal Kementerian/LPND lainnya berkoordinasi dalam Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) Tahunan mengenai penyusunan RPKPT Tahunan dalam rangka sinergi pelaksanaan pengawasan. Audit Tertentu (Pengadaan Barang/Jasa. Inspektorat Jenderal melaksanakan pengawasan terhadap dana APBN dilaksanakan melalui Audit Kinerja. 2006 676 3. 2007 701 4. b. bulan Oktober 2009 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Audit Khusus. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. maka pelaksanaan koordinasi antara Inspektorat Jenderal Kementerian dengan Inspektorat Propinsi dilakukan pada Rapat Koordinasi Pengawasan. Perijinan). 2) Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri Sesuai PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Koordinasi Dalam melaksanakan pengawasan. 2008 732 5. meliputi permasalahan pengawasan secara umum dan pengawasan masyarakat yang disalurkan melalui Kotak Pos 5000.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 rencana pelaksanaan audit kepada Inspektur Propinsi sesuai lokasi obyek audit dalam Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT). BPKRI yang berkaitan dengan pemutakhiran data tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan BPK-RI dan BPKP yang berkaitan dengan pemutakhiran data tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan BPKP. memberikan penjelasan serta penilaian terhadap hasil evaluasi tersebut. d. Evaluasi 1) Evaluasi LAKIP Eselon I Pelaksanaan kegiatan evaluasi LAKIP Unit Kerja Eselon I Kementerian Perhubungan didasarkan pada Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor: KEP/135/M. c. 5) Koordinasi dengan Aparat Pengawasan Fungsional lainnya Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi dengan aparat pengawasan lainnya berkaitan dengan klarifikasi temuan hasil audit Aparat Pengawasan Fungsional. Monitoring Tindak Lanjut Kegiatan Monitoring Tindak Lanjut atas temuan dan rekomendasi Inspektorat Jenderal. pengungkapan hasil evaluasi. BPK-RI. ruang lingkup. 4) Koordinasi dengan Dinas Perhubungan Propinsi Inspektorat Jenderal melaksanakan koordinasi dengan Dinas Perhubungan Propinsi sehubungan dengan peraturan mengenai Tata Hubungan Kerja Kementerian Perhubungan dengan Pemerintah Propinsi c. Kejaksaan Agung berkaitan dengan temuan yang berindikasi tindak pidana korupsi. dan BPKP pada Unit Kerja/UPT dan Satker di lingkungan Kementerian Perhubungan dilaksanakan dengan mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 45 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan di Lingkungan Kementerian Perhubungan. Dinas Perhubungan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 4 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Audit Sektor Perhubungan kepada Inspektorat Propinsi dan Kabupaten/Kota.q. 2) Evaluasi Pengawasan Melekat (Waskat) BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-41 . Pada tahun 2008 dan 2009.PAN/9/2004 tentang Pedoman Umum Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Laporan Evaluasi LAKIP mencakup metodologi.

Implementasi Inpres Nomor 5 Tahun 2004 di lingkungan Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan 1) Kormonev RAN-PK Kementerian Perhubungan Kelompok Kerja (Pokja) Kormonev RAN-PK Kementerian Perhubungan telah melaksanakan Sosialisasi dan asistensi. khususnya di lingkungan Kementerian Perhubungan. (2) Uji petik pada lokasi-lokasi di Ibukota Propinsi. e. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: KEP/46/M.PAN/10/2006 tentang Peningkatan Pelaksanaan Pengawasan Melekat dan Surat Edaran Nomor: SE 1 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengawasan Melekat di Lingkungan Kementerian Perhubungan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Inspektorat Jenderal selaku Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) mengevaluasi pelaksanaan Pengawasan Melekat (Waskat) di lingkungan Kementerian Perhubungan dengan berpedoman pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1989 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Melekat. koordinasi. kepada Unit RAN PK Unit Eselon I Kementerian Perhubungan. 2) RAN-PK Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan Kegiatan RAN-PK Itjen Kementerian Perhubungan yang telah dilaksanakan yaitu : (1) Pelaksanaan Diktum-diktum pada Inpres 5 tahun 2004 di lingkungan Inspektorat Jenderal. Sosialisasi Preventif KKN Pelaksanaan Sosialisasi Preventif KKN meliputi sosialisasi tentang peraturan dan perundang-undangan mengenai Tindak Pidana Korupsi. uji petik/pengujian lapangan dan pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanakan 10 Diktum Inpres No 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-42 . f.PAN/4/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan. Inspektorat Jenderal berfungsi sebagai advisor terhadap seluruh Instansi/UPT di lingkungan Kementerian Perhubungan. Tim Pokja ini terdiri dari perwakilan unit eselon I Kementerian Perhubungan. Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: SE/14/M. monitoring. dimana Inspektur Jenderal sebagai Ketua Pelaksana Hariannya. Sosialisasi Preventif KKN ditujukan kepada semua pejabat dan pengelola anggaran di lingkungan Kementerian Perhubungan guna mengetahui dan memahami isi peraturan dan perundang-undangan tersebut.

tanggung jawab dan integritas yang tinggi di dalam melaksanakan tugas di sektor transportasi. Pendidikan dan Pelatihan Dalam rangka penyediaan dan pengembangan SDM Transportasi baik Aparatur maupun Non Aparatur yang merupakan tanggung jawab Pemerintah. Sampai dengan tahun 2008 jumlah lulusan diklat perhubungan sebanyak 482. bahwa Inspektorat Jenderal sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah wajib melakukan review atas Laporan Keuangan Kementerian Negara secara paralel dengan pelaksanaan anggaran dan penyusunan Laporan Keuangan Kementerian mulai Tahun Anggaran 2006. 7.287 orang. terampil. laut. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK. juga melaksanakan review atas laporan keuangan kementerian negara/lembaga sebelum disampaikan menteri/pimpinan lembaga kepada Menteri Keuangan. Badan Diklat Perhubungan mempunyai tugas utama melaksanakan berbagai program pendidikan dan pelatihan guna mempersiapkan dan meningkatkan SDM yang berkompeten. diklat prajabatan 5.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 g. namun tidak dijadikan dasar bagi APIP untuk menyatakan pendapat atas laporan seperti dalam penjelasan audit. Review adalah prosedur penelusuran angka dalam laporan keuangan. permintaan keterangan dan analitik yang harus menjadi dasar memadai bagi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat dan Peraturan Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan Nomor PER44/PB/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Review Laporan Keuangan Kementerian Negara /Lembaga. Hasil review tersebut tidak memuat pernyataan opini. handal.384 orang yang terdiri dari diklat awal 9. yang bertujuan untuk memberikan keyakinan akurasi.721 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-43 . tetapi memuat ”pernyataan telah direview” sebagai salah satu dokumen pendukung untuk menyusun statement of responsibility (pernyataan tanggung jawab) oleh Pejabat Eselon I terkait. Review Laporan Keuangan Selain mempunyai tugas secara fungsional melaksanakan pengawasan intern terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). dan perkeretaapian sesuai standar kompetensi yang dibutuhkan serta memiliki disiplin. Dasar pelaksanaan Program Pelaksanaan Review Laporan Keuangan Unit Eselon I adalah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. keabsahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dengan ruang lingkup sebatas penelahaan laporan keuangan dan catatan akuntansi sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. ahli di bidang transportasi darat. udara. keandalan.

attitude. Penyediaan sarana praktikum diklat perhubungan membutuhkan upaya rehabilitasi. Pengembangan prasarana berupa pengembangan Laboratorium Praktek Kecakapan berbasis komputer (Computer Based Training).088 1.012 orang. transportasi darat.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 orang.428 Diklat Prajabatan Diklat Penjenjangan/Struktural Diklat Teknis Diklat Luar Negeri Rintisan Gelar (S2/S3) 361 130 51. Penelitian bersifat pendukung dalam rangka pembinaan tenaga fungsional adalah studi sedang dan perorangan. laut dan udara. manajemen transportasi multimoda. Modernisasi Sarana Prasarana juga perlu diimbangi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia Aparatur Diklat Perhubungan baik SDM Pengelola Diklat maupun Tenaga Kependidikan (Dosen.650 1. pemulihan. Tabel 2. Simulator dan teknologi pendidikan multimedia interaktif merupakan salah satu pengembangan metode pembelajaran (Teaching Methodology Improvement) sebagai salah satu proses belajar mengajar yang lebih interaktif antara pengajar dan siswa. diklat penjenjangan 1. Termasuk dalam kelompok penelitian kebijakan yang bersifat makro.32 Lulusan Diklat Perhubungan Lulusan Diklat (orang) Jenis Diklat 2005 2006 2007 Diklat Awal 1. Instruktur. serta pengadaan yang up to date.453 38 50 1.880 2. Widyaiswara). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang bersifat fundamental mengingat bahwa di lingkungan diklat perhubungan merupakan diklat teknis. Penelitian/studi dikelompokkan ke dalam studi besar (dilaksanakan oleh ≥ 30 orang bulan). strategis peningkatan efisiensi dan operasional bidang transportasi adalah studi besar. dan budaya kerja SDM Transportasi.138 20 96 Modernisasi Sarana Prasarana Diklat juga terus dilakukan seiring dengan semakin besarnya kebutuhan diklat sebagai upaya pengembangan dan pembentukan kompetensi (hard competency dan soft competency). diklat teknis 465.477 5.085 45 43 218 190 59. Penelitian dan Pengembangan Kegiatan pokok penelitian dan pengembangan berupa penelitian/studi dan telaahan/kajian yang sifatnya lintas sektoral.749 6 87 No 1 2 3 4 5 6 2008 3.677 orang dan diklat luar negeri 687 orang. Pelaksanaan studi besar pada tahun 2007 (untuk penelitian lintas sektoral) mengalami peningkatan cukup signifikan dikarenakan pada tahun tersebut BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-44 .795 70. studi sedang/kelompok (dilaksanakan oleh 10-30 orang bulan) dan studi kecil/perorangan (dilaksanakan <10 orang bulan). 8.130 120 50.

strategis peningkatan efisiensi dan operasional bidang perhubungan udara Penelitian kebijakan yang bersifat pendukung di bidang perhubungan udara dalam rangka pembinaan tenaga fungsional Jumlah penelitian SATUAN Paket Th. Paket 12 12 12 8 15 10 17 14 20 12 7. Paket 33 23 38 23 45 31 55 33 65 85 3. strategis peningkatan efisiensi dan operasional bidang transportasi ditargetkan sebanyak 188 kegiatan dan realisasi sebanyak 202 kegiatan. Paket 4 4 7 5 7 7 8 7 10 6 10. 2008 2. Paket 4 4 7 5 7 7 9 7 9 8 8. Paket 4 4 7 5 7 7 9 6 10 6 6. 2005 Th. strategis peningkatan efisiensi dan operasional bidang perhubungan darat Penelitian kebijakan yang bersifat pendukung di bidang perhubungan darat dalam rangka pembinaan tenaga fungsional Penelitian kebijakan yang bersifat makro.33 Kinerja Penunjang Tranportasi Bidang Penelitian dan Pengembangan NO 1. 2007 Th. strategis peningkatan efisiensi dan operasional di bidang manajemen transportasi multimoda Penelitian kebijakan yang bersifat pendukung di bidang manajemen transportasi multimoda Penelitian kebijakan yang bersifat makro. Paket 24 19 24 24 27 35 30 27 33 28 11 Paket 23 23 35 32 38 62 44 44 48 41 BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-45 . Secara total penelitian kebijakan yang bersifat makro. Tabel 2.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan 7 7 7 12 10 35 10 18 10 16 Th.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 terjadi peningkatan anggaran penelitian. Paket 4 4 7 5 7 6 8 6 9 5 4. KEGIATAN Penelitian kebijakan yang bersifat makro. Sedangkan penelitian bersifat pendukung dalam rangka pembinaan tenaga fungsional ditargetkan sebanyak 643 kegiatan dan realisasi sebanyak 553 kegiatan. strategis peningkatan efisiensi dan operasional bidang perhubungan laut Penelitian kebijakan yang bersifat pendukung di bidang perhubungan laut dalam rangka pembinaan tenaga fungsional Penelitian kebijakan yang bersifat makro. strategis peningkatan efisiensi dan operasional bidang lintas sektoral Peningkatan kebijakan yang bersifat pendukung di bidang lintas sektoral dalam rangka pembinaan tenaga fungsional Penelitian kebijakan yang bersifat makro. Paket 15 15 19 16 20 22 22 18 24 17 5. 2006 Th. Paket 13 13 15 15 18 16 22 17 25 20 9.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO KEGIATAN kebijakan yang bersifat makro. 2) Masih tingginya kerusakan jalan akibat pelanggaran muatan lebih di jalan yang dapat mengakibatkan kerugian ekonomi akibat dari : a) Pengawasan melalui jembatan timbang belum optimal karena keterbatasan fisik/peralatan. Jumlah penelitian kebijakan yang bersifat pendukung dalam rangka pembinaan tenaga fungsional.2009 PerkiTarget Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target raan Th. strategis peningkatan efisiensi dan operasional. antar kota. 2006 Th. 2005 Th. Oleh karena itu. Namun dalam pelaksanaan untuk mencapai dan menciptakan visi dan misi transportasi jalan yang sesuai harapan masih sangat sulit dikarenakan banyaknya permasalahan yang terjadi. b) Terdapat pergeseran fungsi jembatan timbang yang cenderung untuk menambah PAD (pendapatan asli daerah) bukan sebagai alat pengawasan muatan lebih. 2008 12 Paket 97 82 108 86 125 114 146 109 176 162 B. berkemampuan tinggi dalam pembangunan serta meningkatkan mobilitas manusia dan barang. sosial budaya dan pertahanan keamanan. penataan kelas jalan dan terminal serta pola pelayanan distribusi angkutan jalan. Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan Transportasi jalan merupakan moda transportasi utama yang berperan penting dalam mendukung pembangunan nasional serta mempunyai kontribusi terbesar dalam pangsa angkutan dibandingkan moda lain. visi transportasi jalan adalah sebagai penunjang. 2007 Th. politik. Transportasi Darat a. penggerak dan pendorong pembangunan nasional serta berperan sebagai urat nadi kehidupan ekonomi. Misi transportasi jalan adalah untuk mewujudkan sistem transportasi jalan yang handal. SDM dan sistem manajemen. SATUAN Th. guna mendukung pengembangan wilayah untuk mewujudkan wawasan nusantara. adalah sebagai berikut : 1) Rendahnya kondisi pelayanan prasarana jalan akibat kerusakan di jalan. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-46 . PERMASALAHAN DAN TANTANGAN Permasalahan dan tantangan yang dilalui selama kurun waktu Renstra 20052009 Kementerian Perhubungan antara lain : 1. Adapun permasalahan yang terjadi. perkotaan dan perdesaan. belum terpadunya pembangunan prasarana jalan dengan sistem jaringan transportasi jalan.

dsb. pasar. b) Kondisi sarana pelayanannya. kelengkapan surat. Terdapat 5.360 km jalan di Sumatera bagian utara. 5) Masalah peraturan dan kelembagaan. 1) Kondisi kualitas dan kuantitas sarana dan pelayanan angkutan umum yang masih terbatas.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 c) Di sepanjang 1. walaupun setiap tahun terjadi peningkatan ijin trayek angkutan umum (ijin trayek angkutan bus antar kota antar provinsi).000 km jalan (di pulau Jawa dan Sumatera) yang rata-rata berkurang 50 persen umur rencananya. akibat a) terbatasnya perkembangan kapasitas prasarana dibandingkan dengan perkembangan armada di jalan. c) jalan yang rata-rata semakin jalan menurun Optimalisasi penggunaan kapasitas jalan yang masih rendah. yang pada umumnya berasal dari perusahaan kayu/kayu lapis. Pelanggaran lalu lintas dibedakan menjadi pelanggaran batas muatan. rambu dan fasilitas keselamatan di jalan. parkir. rendahnya tingkat kelaikan armada. banyaknya pungutan dan retribusi di jalan yang membuat biaya angkut di jalan belum efisien. law enforcement peraturan lalu lintas dan pendidikan berlalu lintas. terutama rendahnya kelancaran distribusi angkutan jalan. penetapan kelas jalan dan pengaturan sistem terminal. 2) Masih tingginya jumlah dan fatalitas kecelakaan akibat: disiplin pengguna jalan. kelapa sawit dan batu bara. perlengkapan kendaraan. semen. b) Belum tuntasnya revisi peraturan perundangan di bidang lalu lintas angkutan jalan/LLAJ (UU Nomor 14 Tahun 1992). e) Penataan jaringan transportasi jalan. c) Belum jelasnya peran dan fungsi kewenangan antar lembaga pemerintah di bidang LLAJ baik di pusat dan daerah. pulp. dan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-47 . d) Masalah pendidikan dan law enforcement peraturan yang belum efektif dilihat dari tingginya jumlah pelanggaran lalu lintas di jalan. d) Sistem manajemen lalu lintas yang belum optimal. terutama: a) Belum mantapnya tatanan transportasi nasional dan wilayah. 3) Masalah mobilitas. serta banyaknya daerah rawan kemacetan akibat penggunaan badan dan daerah milik jalan untuk kegiatan sosial ekonomi. 4) Masalah keterjangkauan dan pemerataan pelayanan transportasi jalan. terdapat 30-40 persen kendaraan yang melanggar muatan lebih melampaui 100 persen. namun tingkat kelaikan armada umumnya masih rendah.

BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-48 . serta rendahnya kualitas pelayanan transportasi umum. kanal dan danau untuk kebutuhan transportasi rakyat/lokal/kota masih rendah serta kurangnya pemanfaatan potensi untuk mendukung transportasi pariwisata dan pengembangan wilayah. terutama di wilayah perkotaan. Bidang Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan 1) Masih terbatasnya jumlah prasarana dan sarana penyeberangan dibanding kebutuhan berdasarkan kondisi geografis dan jumlah pulau di Indonesia (sekitar 17. Pemanfaatan sungai. pengembangan pariwisata. f) Kebijakan tarif dan subsidi melalui berbagai pungutan dan “road pricing” yang belum tepat sasaran. pembinaan usaha angkutan serta pengembangan teknologi sarana dan prasarana LLAJ yang lebih efisien dan ramah lingkungan. b. peraturan serta SDM dan pendanaan dalam sistem pelestarian dan pemeliharaan alur transportasi sungai dan kanal yang perlu dikoordinasikan dengan penanganan masalah lingkungan. rendahnya disiplin masyarakat pengguna. h) Masih tingginya dampak lingkungan (polusi udara dan polusi suara) akibat kemacetan dan masih dominannya penggunaan lalu lintas kendaraan pribadi di jalan. profesionalitas aparat dan operator transportasi.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pelanggaran rambu jalan. peran BUMN belum diperjelas apakah hanya untuk penugasan pelayanan di lintas yang kurang komersial (angkutan perintis dan perbatasan untuk Perum Damri). Berdasarkan jumlah lintas penyeberangan yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan. karena semenjak desentralisasi. saat ini baru ditetapkan sebanyak 172 lintas.000 pulau). Masalah disiplin berlalu lintas juga merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas. g) Masih terbatasnya pengembangan SDM di bidang LLAJ baik di tingkat regulator maupun operator. budaya masyarakat dan tata ruang wilayah. i) Rendahnya kualitas dan kuantitas angkutan umum terutama transportasi perkotaan akibat belum berkembangnya keterpaduan rencana tata ruang dan transportasi perkotaan. transportasi perkotaan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. tetapi yang baru beroperasi adalah 130 lintas. sedangkan peran Perum PPD dalam sistem transportasi umum di Jakarta semakin kecil. Kelembagaan. Sebagian besar pelayanan angkutan umum memang sudah menjadi domain swasta. kesadaran dan kemampuan pemerintah daerah dalam perencanaan dan pengelolaan transportasi. e) Belum optimalnya peran swasta dan BUMN dalam investasi/penyelenggaraan LLAJ. tingginya tingkat kemacetan lalu lintas pada jam sibuk.

peran dan share angkutan kereta api yang masih rendah. Operator prasarana lain adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT/Pemda). Peran BUMN hanya terbatas pada beberapa lintas penyeberangan sungai dan danau di Kalimantan dan Sumatera. serta penyelenggaraan angkutan perintis. 3) Masih kurangnya keterpaduan pembangunan jaringan transportasi SDP dengan rencana pengembangan wilayah serta lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam sistem pengembangan prasarana dan sarana ASDP dalam era otonomi. kondisi sarana dan prasarana perkeretaapian yang tidak handal karena backlog perawatan. operasi dan pemeliharaan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 2) Masih terbatasnya sarana yang tersedia dan kondisi sarana perintis ASDP yang telah berumur tua. Dalam penyelenggaraan transportasi sungai dan danau. kurangnya keterpaduan dengan moda transportasi serta masih minimnya peran swasta maupun Pemda dalam hal pembangunan perkeretaapian Indonesia. sebagai owner dan operator prasarana dan sarana angkutan masyarakat. dan operator sarana lain adalah swasta atau KSO swasta dan PT ASDP. terutama dalam pengoperasian kapal perintis dan penggusahaan beberapa lintas/dermaga penyeberangan. Peran BUMN (PT ASDP) masih terbatas dalam penyelenggaraan (operator) prasarana dan sarana ASDP. Oleh sebab itu. 5) Peran serta swasta dan Pemda belum optimal dalam penyelenggaraan ASDP. 4) Terbatasnya keterjangkauan pelayanan Angkutan SDP dalam melayani kebutuhan angkutan antarpulau dan wilayah terpencil. diperlukan deregulasi dan restrukturisasi agar peran pemerintah daerah lebih optimal. peran BUMN (PT ASDP) masih terbatas sebagai operator penyelenggaraan prasarana penyeberangan sekaligus juga sebagai operator sarana. 2. peran Pemda masih terbatas dalam penyediaan sarana dan prasarana ASDP. peran swasta dan masyarakat lebih berkembang. Peran pemerintah sebagai regulator. 6) Dalam penyelenggaraan angkutan penyeberangan. baik dalam investasi pembangunan. Penyediaan prasarana dan sarana ASDP untuk BUMN umumnya masih dibiayai dari APBN (pemerintah pusat). pemerintah daerah sebagai penyedia prasarana dan sarana sungai untuk keperluan publik. Pemerintah pusat masih dominan dalam pembiayaan pembangunan sarana dan prasarana ASDP. Secara rinci berikut uraian permasalahan dan tantangan yang masih akan dihadapi dalam pembangunan perkeretaapian saat ini dan pada tahun mendatang adalah: BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-49 . Transportasi Perkeretaapian Secara umum kendala utama angkutan kereta api adalah terbatasnya jumlah armada. serta peningkatan peran BUMN dan swasta lebih didorong.

Semakin menurunnya kualitas sarana angkutan perkeretaapian karena sebagian besar telah melampaui umur teknis serta kondisi perawatan tidak memadai. Kondisi perawatan sarana sangat terbatas. sedangkan peran serta swasta dan Pemda masih belum optimal. Belum optimalnya peran regulator dalam pelaksanaan UU No. c. d. Di sisi lain masih rendahnya disiplin dan tindak penertiban dalam pengamanan daerah milik jalan dan pengguna angkutan tersebut juga dapat membahayakan keselamatan operasi angkutan. jembatan KA dan sistem persinyalan dan telekomunikasi KA) yang telah melampaui batas umur teknis serta terjadi backlog pemeliharaan prasarana. b. Kurang efektifnya sistem kelembagaan perkeretaapian. k. Masih rendahnya keamanan dan ketertiban (sterilisasi) serta banyaknya gangguan di stasiun dan sepanjang jalur jalan KA akibat banyak munculnya bangunan liar dan kegiatan masyarakat di sepanjang jalur. Belum efektifnya kebijakan penerapan skema pendanaan PSO. terbatasnya pengembangan lintas jaringan pelayanan. namun di sisi lain sebagian lintas perkeretaapian sudah mulai jenuh kapasitasnya. Belum berkembangnya teknologi perkeretaapian dan industri penunjang perkeretaapian nasional yang berdaya saing. sehingga berdampak terhadap kelancaran dan keterlambatan operasi kereta api. sistem perawatan yang kurang efisien. dukungan struktur organisasi/kelembagaan sebagai unit perawatan masih minim. sistem pengoperasian dan pemeliharaan yang kurang terpadu. Sebagian lintas kereta api sudah tidak dioperasikan. h. j. pelatihan dan industri perkeretaapian maupun penyediaan materialnya. TAC serta masih lemahnya fungsi dan mekanisme perencanaan. f. sehingga banyak sarana yang tidak siap operasi. penggunaan berbagai teknologi yang kurang didukung sistem pendidikan. Bottleneck terjadi di beberapa lintas utama akibat tidak seimbangnya penambahan kapasitas lintas terhadap peningkatan frekuensi pelayanan KA. Rendahnya mobilitas angkutan akibat belum optimalnya keterpaduan pelayanan antar moda. disebabkan oleh keterbatasan pendanaan. IMO. Tingginya tingkat kecelakaan KA terutama akibat backlog pemeliharaan sarana dan prasarana serta masih banyaknya perlintasan sebidang dan rendahnya disiplin pengguna jalan pada perlintasan tersebut. Masih banyaknya kondisi prasarana (rel. peralatan dan teknologi serta SDM yang masih terbatas.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 a. 23 tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah (PP) yang telah ada di bidang penyelenggaraan perkeretaapian serta lalu lintas dan angkutan KA. Sumber pendanaan Pemerintah untuk pengembangan dan investasi prasarana masih terbatas. e. g. monitoring dan evaluasi serta kelembagaan dan sistem data dan informasi untuk mendukung pelaksanaan skema pendanaan tersebut i. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-50 .

manajemen dan penguasaaan teknologi. maka program pembangunan diarahkan untuk pengembangan sistem kelembagaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. Data jumlah kecelakaan kapal sampai dengan bulan Agustus 2008 adalah sebanyak 97 kali dengan rincian: kapal tenggelam 38 kali.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 l. Faktor-faktor penyebabnya adalah: kelalaian manusia 23 kejadian. kebakaran 22 kali. kandas/hanyut 26 kali. kebakaran 25 kali. 2) Masih rendahnya kualitas SDM perkeretaapian terutama dalam budaya organisasi. 4) Risk management dalam investasi swasta dan BUMN di bidang perkeretaapian perlu direncanakan secara menyeluruh dan detail untuk mempercepat dan meningkatkan iklim investasi di bidang perkeretaapian. dan faktor teknis 32 kejadian. tubrukan 14 kali. tubrukan 15 kali. kecelakaan lainnya 29 kali dengan korban jiwa 92 orang. Mengacu kepada tingginya kecelakaan transportasi laut. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM serta penambahan fasilitas keselamatan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-51 . karena : 1) Belum adanya kejelasan arah restrukturisasi internal BUMN dan pemisahan peran BUMN sebagai operator prasarana dan sarana. tubrukan 15 kali. terutama pada Kawasan Timur Indonesia serta pembangunan fasilitas keselamatan pelayaran untuk memenuhi kecukupan dan keandalan yang dipersyaratkan secara nasional maupun internasional. BUMN dan Pemerintah belum berkembang. faktor teknis 25 kejadian. peningkatan peran Pemerintah Daerah dan swasta. kecelakaan lainnya 21 kali dengan korban jiwa 182 orang. faktor alam 35 kejadian. Faktor-faktor penyebab adalah : kelalaian manusia 23 peristiwa. dan faktor alam 48 kejadian. Di samping itu diperlukan peningkatan aksesibilitas pada daerah tertinggal dan wilayah terpencil. 3) Sistem kerjasama antara swasta. peningkatan keselamatan dan tingkat pelayanan (level of service ) yang diantaranya melalui peningkatan serta pemeriksaan kelaikan sarana dan prasarana. faktor alam 75 kejadian. kandas/hanyut 17 kali. kebakaran 16 kali. kandas/hanyut 12 kali dan kecelakaan lainnya sebanyak 17 kali dengan korban jiwa 69 orang. Terkait dengan permasalahan keselamatan. Masih rendahnya peran BUMN perkeretaapian dan partisipasi swasta. Pada tahun 2007 menunjukkan bahwa peristiwa kecelakaan kapal terjadi 145 kali dengan rincian 59 kali kapal tenggelam. 3. data kecelakaan tahun 2008 adalah 138 peristiwa kecelakaan kapal dengan rincian 54 kali kapal tenggelam. Transportasi Laut Tantangan dan masalah utama subsektor transportasi laut adalah terjadinya kongesti pada beberapa pelabuhan utama akibat terbatasnya kapasitas. dan faktor teknis 87 kejadian. Faktor-faktor penyebab adalah : kelalaian manusia 31 peristiwa.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pelayaran seperti Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP). Sosialisasi dan pemahaman Sistem Transportasi Nasional yang terpadu dengan sistem pengembangan tata guna lahan dan prioritas pembangunan pusat dan daerah. Selain itu masalah daya beli masyarakat yang masih rendah dibandingkan biaya operasi dan investasi sarana dan prasarana transportasi masih memerlukan subsidi operasi dan dukungan investasi pemerintah yang cukup besar dalam upaya menyelenggarakan pelayanan transportasi yang murah dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Guna meningkatkan keselamatan. keamanan dan kenyamanan transportasi udara perlu diatasi berbagai permalahan dan tantangan yang selama ini ada. Permasalahan tersebut di antaranya meliputi kelembagaan. Permasalahan dan tantangan dalam pelayanan transportasi pada umumnya. masih perlu dipertajam dan diletakkan dalam satu kesatuan tatanan kelembagaan baik dalam aspek perencanaan. Transportasi Udara Permasalahan dan tantangan pembangunan transportasi dalam mewujudkan efisiensi. masih dihadapkan pada masalah keselamatan. pemerataan mobilitas dan distribusi nasional. Untuk itu diperlukan Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) yang terpadu dan lebih bersinergi baik dengan konsep pembangunan wilayah maupun konsep pembangunan sektor-sektor lainnya. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-52 . pengerukan alur pelayaran dan rekondisi dan pembangunan sarana transportasi laut seperti kapal-kapal navigasi dan kapal-kapal patroli agar penyelenggaraan transportasi laut dapat dijalankan dengan tingkat keselamatan dan keamanan sesuai dengan standar keselamatan pelayaran internasional. akuntabel. kompetitif dan profesional. memerlukan upaya dan investasi jangka panjang yang berkesinambungan agar ketahanan NKRI dapat terwujud secara bersama. Tantangan dalam program reformasi di bidang transportasi. guna mendukung pembangunan nasional dalam kesatuan wilayah NKRI. prasarana dan sarana serta penegakan hukum. terutama dalam pelaksanaan desentralisasi dan reposisi kelembagaan pemerintah di bidang transportasi untuk lebih memperjelas peran dan fungsi pemerintah sebagai regulator yang terpisah dari fungsi operator. 4. keamanan transportasi serta masalah aksesibilitas pelayanan teutama pada pelayanan jasa transportasi di wilayah terpencil dan perbatasan. Hal ini perlu dilakukan agar penyelenggaraan jasa transportasi lebih efisien. serta didukung kelembagaan dan peraturan serta pemahaman yang disepakati bersama. pelaksanaan dan pendanaan pembangunan serta penyelenggaraan sistem tata ruang nasional dan wilayah serta tatanan sektor strategis lainnya. yang belum seluruhnya dapat dijangkau secara memadai. sumber daya manusia.

Selain itu. akuntabel. Hal ini merupakan tantangan yang perlu diselesaikan dalam waktu dekat. terutama dalam pelaksanaan desentralisasi dan reposisi kelembagaan pemerintah di bidang transportasi adalah usaha untuk lebih memperjelas peran dan fungsi pemerintah. b. Selain kebutuhan akan tenaga pengawas/inspektur penerbangan ini meningkat seiring dengan meningkatnya lalu lintas udara dan meningkatnya jumlah fasilitas sarana dan prasarana transportasi udara yang harus diawasi. Tantangan dalam program reformasi kelembagaan di bidang transportasi. Regulasi dan Kelembagaan UU No.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 a. juga sesuai dengan amanat UU No 1 Tahun 2009 tentang penerbangan akan segera dibentuk lembaga tunggal Penyelenggaraan Navigasi Penerbangan. Sumber Daya Manusia Permasalahan sumber daya manusia yaitu belum terpenuhinya jumlah SDM sub sektor transportasi udara sesuai kebutuhan minimal terutama untuk tenaga teknis operasional seperti inspektur. kompetitif dan profesional. Avsec. juga diperlukan untuk mengisi kekosongan yang selama ini ada serta mengganti pegawai yang telah memasuki usia pensiun. Balai Kalibrasi dan Balai Elektronika serta 1 (satu) balai baru yaitu Balai Penelitian dan Pengujian Prasarana Bandar Udara nantinya akan dijadikan dalam bentuk Badan Layanan Umum. ketiga balai yang berada di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. akan segera dilaksanakan pemisahan fungsi regulator dan operator bandar udara melalui pembentukan Otoritas Bandar udara dan Unit Penyelenggara Bandar Udara. mengingat sesuai dengan amanat UU No. Di sisi lain. Selama ini. Juga akan dibentuk lembaga penyelenggara pelayanan umum sertifikasi pendaftaran pesawat udara. kabupaten/kota dalam penyelenggaraan jasa transportasi yang efisien. ATC. serta penciptaan iklim yang kondusif bagi peran serta swasta dan pemerintah provinsi. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. untuk menjamin keselarasan penyelenggaraan pelayanan navigasi penerbangan. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-53 . yaitu Balai Kesehatan Penerbang. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan telah disahkan pada tanggal 12 Januari 2009 dan hal ini tentunya perlu ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri. Penyelenggaran pelayanan navigasi penerbnagan bersifat pelayanan publik dengan tidak berorientasi terhadap profit dan secara keuangan dapat mandiri sehingga tujuan organisasi yaitu efektif dan efisien dapat terwujud guna tercapainya keselamatan dan keamanan penerbangan. belum terdapat pemisahan yang tegas antara pemerintah yang memegang fungsi regulasi namun juga menjalankan fungsi operator pada bandar udara. khususnya peran pemerintah sebagai regulator. PKP-PK dan keamanan.

dari sisi kualitas juga dihadapkan pada kompetensi personil yang belum memadai (belum memiliki STKP. Selain itu. Selain itu. tingkat keandalannya juga masih kurang dari cukup. terkadang usulan pembangunan bandar udara dari pemerintah daerah tidak disertai dokumen perencanaan yang lengkap dan banyaknya usulan bandar udara baru akibat otonomi daerah yang diusulkan/diprakarsai oleh pemerintah daerah namun dalam pelaksanaannya pemerintah daerah tidak konsisten dengan komitmen untuk tidak membebankan APBN. masih belum tercakupnya 100 % ruang udara di Indonesia sehingga masih banyak wilayah Indonesia yang masih dalam keadaan tidak termonitor (blank spot) yang disebabkan terlalu sedikitnya peralatan navigasi dibandingkan dengan luasnya wilayah yang harus dicakup. Terlihat jelas minimnya sarana dan prasarana khususnya di Indonesia Bagian Timur. perbatasan dan pulau – pulau terluar.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Selain dari sisi kuantitas. Peningkatan jumlah penumpang transportasi udara domestik yang cukup signifikan sejak tahun 2001 berdampak terhadap permintaan pembangunan bandar udara baru dan pengembangan bandar udara dibeberapa daerah. permasalahan yang selalu timbul adalah adanya keterbatasan jumlah operator dan armada perintis serta tipe pesawat BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-54 . Namun di sisi lain. khususnya pada pelayanan angkutan penumpang. Permasalahan yang harus diperhatikan adalah banyaknya fasilitas yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan bandar udara sesuai standar ICAO seperti lebar landasan dan bahu landasan serta peralatan keselamatan penerbangan (kuantitas dan kualitas kendaraan PKPPK/Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran) serta peralatan keamanan seperti deteksi barang dan penumpang terhadap benda berbahaya yang masuk ke bandar udara dan pesawat terbang. daerah rawan bencana. masih dihadapkan pada terbatasnya pendanaan pemerintah untuk pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana dan sarana sehingga masih dijumpai beberapa kondisi prasarana dan sarana transportasi udara yang kurang mendapat perawatan. c. rendahnya penghargaan terhadap personil yang mempunyai kompetensi yang tinggi. Khusus untuk keperintisan. Prasarana dan Sarana Berkaitan dengan kebijakan multi-operator transportasi udara telah terjadi persaingan yang sangat tajam antara moda transportasi udara dengan moda transportasi jalan. Di sisi lain. kereta api dan moda transportasi laut. rendahnya penguasaan bahasa asing dan teknologi). menyebabkan pekerjaan tersebut menjadi kurang diminati sehingga salah satu jalannya adalah dengan membentuk jabatan fungsional inspektur penerbangan. Pelaksanaan program pembangunan pada sub sektor transportasi udara dalam rangka mempertahankan tingkat pelayanan.

d 18 Juni 2008 di Bali. Kerjasama Internasional Dalam Kerjasama Luar Negeri Angkutan Udara Internasional untuk menghadapi perkembangan dan perubahan di dunia penerbangan. seperti Jakarta. Kegiatan pelatihan Risk Assesment selama 3 hari yang dilaksanakan di Hotel Sari Pan Pacific-Jakarta pada tanggal 23 s/d 25 Juni 2008. Indonesia diharapkan memperoleh manfaat dari : pertumbuhan perdagangan dan pariwisata. Potensi demand sebagian besar kota-kota di Indonesia yang mempunyai bandar udara internasional masih rendah. Denpasar. Medan dan Padang. Selain itu. Indonesia telah menyiapkan kebijakan-kebijakan angkutan udara guna meningkatkan daya saing dunia penerbangan di Indonesia. pertumbuhan ekonomi daerah karena ada hubungan udara langsung dengan negara lain termasuk sektor pariwisata. Liberalisasi angkutan udara di Indonesia dilakukan secara bertahap mengingat kendalakendala sebagai berikut : Kinerja perusahaan nasional belum optimal untuk mengembangkan cakupan usaha dan meningkatkan daya saingnya.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 udara yang sesuai dengan kondisi dan kapasitas bandar udara pada rute perintis tersebut. Penyerahan Corrective Action Plan dari hasil temuan ICAO USOAP pada bulan Mei 2008 selama 12 hari di NgurahRai Denpasar. Pertemuan 2nd Steering Committe Meeting Cooperative Arangement for Preventing the Spread of Communicable Diseases Through Air Travel (CAPSCA) yang dihadiri oleh 80 peseta yang terdiri dari 30 delegasi dari 11 negara anggota/administrasi ICAO. menciptakan dan menguatkan hubungan serta kerjasama antar airlines internasional bagi perusahaan penerbangan. juga timbul masalah Kapasitas dan Manajemen Ruang Udara (Airspace Capacity and Management) serta rendahnya kualitas Sistem Pelaporan Insiden (Incident Reporting System). Pengembangan industri penerbangan. Pertemuan sidang 3rd D-8 Working Group on Civil Aviation and Director General Meeting tanggal 17 s. Dengan liberalisasi yang dilakukan secara bertahap. sehingga penerapan open sky secara langsung hanya terfokus pada kota-kota yang market demand-nya tinggi. Dalam tahun 2008 terdapat beberapa yang dilakukan oleh Ditjen Perhubungan Udara terutama dalam peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan di Indonesia. meningkatkan daya saing airlines nasional terhadap airlines asing. diantaranya: pertemuan Conference Road Map to Safety dalam rangka percepatan pencabutan larangan terbang oleh EU dan pertemuan ini diselenggarakan oleh European Commision yang diikuti oleh seluruh tenaga Inspektor Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara. Surabaya. kerjasama antara airlines nasional dan asing serta menghindari terjadinya “back-track traffic”. d. Pelaksaanaan training Carrier Liaison Training (Identification of Travel Document) kerjasama Ditjen Hubud dengan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-55 . Pandangan masyarakat dunia terhadap kondisi sosial dan politik Indonesia dan perangkat hukum yang belum terintegrasi dengan baik (bersifat sektoral).

Posisi Indonesia telah membuka keempat bidang tersebut sampai dengan mode 3. JICA. IATA. Dalam Air Freight (more relaxation arrangement than passengers). yaitu aircraft repairs and maintenance. Doing Business (free transfer of earning. Secara umum charter merupakan supplement bagi schedule services. Dirjen Perhubungan. Charter Services (Competitor sechedule Airlines). Terdapat beberapa tingkatan yang dilakukan dalam liberalisasi angkutan udara. Liberalisasi di tingkat ASEAN membahas 2 (dua) bidang. Indonesia telah mengarah pada double disapproval dengan beberapa ketentuan pengaman. Sales and Marketing. Posisi Indonesia hingga tahun 2007 belum membuat komitmen. dan INACA. Maksud dari kegiatan ini adalah memberikan masukan bagi peningkatan keselamatan penerbangan di Indonesia. yakni Market Access (Open All International Airport). yaitu Bidang Soft Right (jasa penunjang penerbangan) yang diatur dalam ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) yang meliputi Computer Reservation System (CRS). Aircraft Leasing Without Crew. yaitu Forum WTO adalah forum mondial (dunia/global) yang beranggotakan semua negara di dunia dan hingga saat ini masalah liberalisasi angkutan udara yang dibahas hanya mengenai “jasa penunjang (soft rights)”. etc) dan Indonesia cukup terbuka dalam hal doing business matters. Indonesia telah merelaksasi pengaturan hak angkut untuk air freight. Aircraft main-tenance and Repairs. yang tertuang dalam GATS Annex on Air Transport. free to open repre-sentative. free to sell and advertise airlines product. Presiden ICAO Roberto Kobeh Gonzales dan beberapa Pembicara dari Perwakilan ASA Australia. Indonesia telah menerapkan dalam setiap perjanjian antara lain tarif (double disapproval). Semua bandar udara internasional Indonesia terbuka untuk asing. yaitu dengan kepemilikan asing maksimal 49 % (kecuali Aircraft Leasing Without Crew yang hanya dibuka untuk mode 1 dan 2) dan dalam Bidang Hard Right (jasa penerbangan) yang dibagi BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-56 . karena prioritas liberalisasi angkutan udara masih di tingkat regional (ASEAN). CANSO. Permasalahan di dalam forum WTO yang terkait masalah Air transport adalah masih adanya perbedaan masalah kewenangan antara WTO dengan ICAO dalam meliberalisasikan bidang hard rights. Penyelenggaraan Seminar A Single National Air Navigation Service Provider (ANSP) yang dihadiri Menteri Perhuubungan. Secara umum Indonesia menggunakan prinsip substansial Ownership and Effective Control dan Multiple Airlines Designations (no restriction). dimana Indonesia membuka kerjasama komersial dalam bentuk third party code sharing dengan persyaratan 5th freedom rights bagi airlines pihak ketiga.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Embassy of the United States. Airline’s Cooperative Arrangment (eq. sedangkan liberalisasi angkutan udara di tingkat APEC membahas bidangbidang angkutan udara yang tertuang dalam 8 opsi yang terkait dengan Airlines Ownership and Control. Third Country Code Sharing). selling and marketing of air transport dan computer reservation system (CRS).

Narathiwat. Princessa. 5th freedom yaitu dilakukan dengan ketentuan penambahan per tahun 2 (dua) poin sejak tahun 2006 Multi Designated Airlines. 8-10 April 2008 menghasilkan final Text Draft ASEAN Multilateral Agreement on the Full Liberalization of Air/Air Freight Services yang siap ditandatangani oleh para Menteri Transportasi ASEAN pada waktu yang ditentukan kemudian. diantaranya yaitu: perluasan wilayah IMT-GT termasuk 6 propinsi di Thailand sebagai wilayah baru yaitu: Phuket. Kuching – Malaysia dan Davao. Hasil diantaranya Batavia Air telah mengubah usulan untuk melakukan penerbangan dengan hak angkut kelima pada rute Pontianak-Kuching-Bandar Seri-Begawan menjadi penerbangan dengan hak angkut ketiga dan keempat pada rute Pontianak-Kuching dan PontianakBandar Seri Begawan. Sidang membahas Joint Statement dari hasil Pertemuan Summit IMT-GT ke 3 yang telah diselenggarakan pada bulan Nopember 2007. Nias. Kota Kinabalu. Konsep 3rd & 4th yaitu kapasitas. frekuensi dan tipe pesawat tidak dibatasi. dan Penang. Indonesia membuka poin tambahan baru karena Indonesia telah mengajukan 4 (empat) poin (Balikpapan. Chumphon dan Surat Thani. Balikpapan – Indonesia. Pontianak. Sidang ATWG ke 17.Brunei. yaitu: Indonesia. Kegiatan 5st Transport. Pattani. Manado. Malaysia. Padang. Banda Aceh. BIMP-EAGA Working Group on Air Linkages pada daerah-daerah yang dikembangkan adalah Bandar Seri Begawan . penetapan secara resmi Visit IMT-GT 2008. Zamboanga. Indonesia menyatakan belum siap untuk meliberisasi beberapa bidang jasa dan akan melakukan koordinasi internal terlebih dahulu. serta free parking fee untuk airlines yang parkir di apron kurang dari 2 jam. Pontianak. Penetapan Balikpapan sebagai tambahan hub gateway BIMP-EAGA. Phatthalung. Tarakan). General Santos. Brunei 2-4 April 2008. Di Malaysia : Ipoh. Mindanao – Philippina. dan Thailand yang bertujuan untuk mengembangkan wilayah perbatasan antara 3 negara. Indonesia sebagai salah satu anggota ASEAN harus tunduk pada Road Map dimaksud. Krabi. merupakan kerjasama sub regional diantara 3 negara. selain Kota Kinabalu dan Bandar Seri Begawan. Trang dan Nakhon Si Thammarat. Indonesia (PT. Labuhan. Pada tahun 2008 dilaksanakan IMT GT Strategic Planning Meeting 2008. Phuket Thailand pada tanggal 28-30 Januari 2008. Phang Nga. Manado. Langkawi. Ranong. Miri. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-57 . Tarakan. Mengingat Road Map adalah kesepakatan ASEAN yang bersifat mengikat para anggotanya. P. Infrastruktur & ICT Cluster Meeting BIMP-EAGA.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 menjadi 2(dua) yaitu: angkutan kargo dan angkutan penumpang. AP I) melaporkan kebijakan pemberian insentif kepada perusahaan angkutan udara Negara anggota BIMP-EAGA yang beroperasi di designated poin Indonesia. Untuk Hard Right liberalisasi dilakukan dengan mengacu pada ASEAN Roadmap Integration on Air Travel Services. sedangkan di Thailand: Hat Yai. IMT-GT. Daerah-daerah yang dikembangkan di Indonesia adalah : Medan. dengan pemberian potongan harga landing fee hingga 50% (tergantung load factor) bagi rute baru di Balikpapan dan Manado.

memonitor secara berkesinambungan dengan melakukan pengawasan secara berkala terhadap tingkat keselamatan penerbangan. yaitu suatu pendekatan terorganisir untuk mengelola keselamatan. Saudi Arabia dan Oman). Pada tahun 2006 Indonesia telah melakukan 9 kali perjanjian hubungan udara bilateral. Mataram. 9 perusahaan penerbangan nasional terbang ke 12 negara (Hongkong. Australia. Bandung. Jakarta. Korea. Dari 71 negara yang telah membuat perjanjian hubungan udara dengan Indonesia. Selandia Baru dan Arab Saudi) dengan 25 kota tujuan di mancanegara. Solo. sampai saat ini Indonesia telah memiliki perjanjian hubungan udara dengan 71 negara yang terdiri dari 2 negara di belahan Amerika Utara.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pada tahun 2005 Indonesia telah melakukan perjanjian hubungan udara dengan 68 negara. di dalam mencapai suatu tingkat keselamatan penerbangan yang diinginkan diperlukan metode dan tindakan-tindakan tertentu salah satunya adalah Safety Management System (SMS). 5 negara Afrika. Pekanbaru. Yunani dan Kenya) dan 6 perjanjian untuk merevisi MOU (UAE 2 kali pertemuan. RR. Perjanjian bilateral tersebut terdiri dari 3 perjanjian dengan negara baru (Islandia. dan sertifikasi pesawat udara. 22 negara telah merealisasikan perjanjian tersebut. 11 negara Timur Tengah/Arab dan 4 negara Pasific. yaitu kegiatan sertifikasi operasi bandar udara. Negara-negara mitra Indonesia berdasarkan wilayah adalah: (1) Amerika Utara (2) Eropa (3) Asia (4) Asean (5) Afrika (6) Timur Tengah/Arab (7) Pacific : 2 Negara : 26 Negara : 14 Negara : 10 Negara : 6 Negara : 10 Negara : 3 Negara Jumlah perjanjian hubungan udara bilateral 71 negara. Dengan tambahan 3 negara baru. sertifikasi peralatan security. Vietnam. 13 negara ASIA. Padang. Thailand. Jepang. Malaysia. tanggung jawab. Sampai dengan tahun 2008 telah dilaksanakan beberapa kegiatan yang merupakan bagian dari SMS. menindaklanjuti perbaikan yang harus dilaksanakan untuk meyakinkan standar tingkat keselamatan selalu terjaga. 26 negara Eropa. Keamanan dan Keselamatan Penerbangan Terkait dengan aspek Keamanan dan Keselamatan Penerbangan. Manado). Surabaya. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-58 . Singapore. Kamboja 2 kali pertemuan. Denpasar. Sampai dengan tahun 2007 telah dilaksanakan beberapa kegiatan yang merupakan bagian dari Safety Management System yaitu: mengidentifikasi beberapa gejala yang menyebabkan kecelakaan. yang mencakup struktur organisasi yang diperlukan. 10 negara ASEAN. Palembang. 36 operator penerbangan dari 22 negara melaksanakan penerbangan ke 11 kota tujuan di Indonesia (Medan. kebijakan dan prosedur. Sampai dengan tahun 2008 Indonesia telah memiliki perjanjian hubungan udara bilateral dengan 71 negara. e. Philipina.China.

peningkatan inspektur Ditjen Hubud.000 cycle. Di bidang pelayanan bandar udara juga sudah disiapkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil tentang bandar udara (CASR part 139). Ditjen Perhubungan Udara melakukan langkah-langkah dalam menindaklanjuti hasil audit ICAO. melaksanakan training SMS. saat ini telah ditetapkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil yang mengatur tentang sertifikasi fasilitas navigasi (CASR part 171). Pembuatan Peraturan (PP. dan merevisi beberapa peraturan penerbangan yang ada mengacu kepada ketentuan dari ICAO. Sertifikasi pesawat udara pada 536 pesawat udara. mengeluarkan safety Circular. Dan sebagai upaya pengawasan dan peningkatan keselamatan penerbangan dan pemenuhan regulasi serta kelancaran angkutan udara telah dilakukan Ramp-Check yang berkala dan pada periode 31 Desember 2008 pada 14 (empat belas) lokasi dan 2 (dua) lokasi Adbandar udara (Soekarno Hatta dan Bali) dengan hasil pesawat yang dilakukan inspeksi 331 unit dari 22 operator. Sampai saat ini masih terdapat ketidakkonsistenan terhadap hasil pengawasan penegakan hukum terhadap pelanggaran bidang transportasi udara baik kepada Badan Usaha Angkutan Udara. Sertifikasi Fasilitas MAATS.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 kegiatan yang dilaksanakan meliputi : Sertifikasi Operasi Bandar Udara Pada 57 bandar udara. dan Tahun baru. prosedur penerbangan (CASR part 173) dan informasi aeronautika (CASR part 175). Natal. KM) terkait dengan pelaksanaan Safety Management System (SMS). Badan Usaha Bandar BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-59 . f. Pengaktifan PPNS. Sertifikasi Peralatan Security pada 2 bandar udara. pelayanan navigasi (CASR part 172). Dalam kegiatan Ramp-check dilakukan rutin pada waktu khusus seperti Lebaran. Saat ini dalam pencabutan larangan tersebut. peningkatan anggaran operasional. Pembuatan organisasi formal yang terkait dengan pelaksanaan SMS. Meningkatkan safety oversight. Peraturan Perundang – undangan dan Penegakan hukum Di bidang navigasi penerbangan. Sertifikasi Fasilitas Peralatan RDPS Medan. diantaranya melakukan restrukturisasi organisasi kantor pusat Ditjen Perhubungan Udara dengan dikeluarkannya KM 20 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja dengan struktur baru yaitu (1) Direktorat Angkutan Udara (2) Direktorat Bandar Udara (3) Direktorat Keamanan Penerbangan (4) Direktorat navigasi Penerbangan (5) Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara. Pelarangan terbang maskapai Penerbangan Nasional pada wilayah Eropa sampai dengan tahun 2008 masih belum dapat dicabut dan hal tersebut juga terkait dengan hasil audit dari ICAO. Sebagai upaya peningkatan pelayanan keamanan dan keselamatan penerbangan telah dikeluarkan keputusan tentang Pembatasan Umur Pesawat melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 5 Tahun 2006 tentang pembatasan pesawat udara kategori transport untuk penumpang. menindak lanjuti hasil ICAO USOAP audit. dimana pesawat udara yang boleh didaftarkan untuk pertama kali di Indonesia adalah yang berusia kurang dari 20 tahun atau kurang dari 50.

Peluncuran kegiatan dimaksud dilakukan pertengahan Desember 2008 melibatkan beberapa airline. Sesuai dengan data yang telah dilaporkan sejak 2001 hingga 2008. Dalam rangka mempercepat pembentukan ASEAN Economic Community sebagaimana tertuang dalam Declaration Of Asean Concord II (Bali Concord II). Pasi Info. Upaya yang telah dilakukan adalah perbaikan prosedur penyampaian notice of arrival. Dengan Letter of Operation Agreement yang telah terbentuk adalah: (1) LOA antara Bandar udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dengan bandar udara AFIS yang terletak di Propinsi Riau (Dumai info. terdapat keterbatasan jumlah Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang sampai saat ini hanya berjumlah 51 orang. Rumbai) (2) LOA antara ACC Makassar.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Udara maupun personil penerbangan. (3)Pemenuhan kemampuan Controller/pemandu lalu lintas udara untuk berbahasa Inggris penerbangan. Penerbitan Approval ATS Training School. atau unit pelayanan dengan pesawat udara. evaluasi penetapan tarif berupa pengenaan tarif perhari dan penataan gudang serta Pembangunan terminal kargo. Pelaksanaan Diklat Diploma IV (RADAR) Refreshing Course serta Diklat ATC Check Controller bagi ATC. Data BOS dan BOC terdiri dari lokasi dan tanggal kejadian. dan BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-60 . 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi. Kualitas Pelayanan Navigasi Penerbangan pada Flight Information Region Indonesia melalui Breakdown of Separation (BOS) adalah situasi dimana pesawat udara berada pada posisi di luar area separasi baik lateral maupun vertikal yang sudah ditetapkan. ATS unit dan pesawat terbang terkait serta informasi faktual dilapangan. yaitu: pembuatan Letter of Operation Agreement antar Bandar udara yang saling terkait serta antar ACC negara tetangga. Ditjen Hubud telah menyiapkan berbagai hal. serta berlarut-larutnya penyelesaian masalah tanah bandar udara yang berasal dari tanah adat. penataan prosedur dan lay out terminal serta sosialisasi proses pelayanan kargo selama 24 jam. kecenderungan BOC adalah naik seiring dengan kenaikkan jumlah pergerakan pesawat (data aircraft departure) namun dengan gradien yang rendah. Breakdown of Coordination (BOC) adalah situasi dimana terjadi penurunan pelayanan akibat menurunnya kualitas koordinasi antar unit pelayanan. APP Juwata Tarakan dan TWR Bandar udara Kalimarau. Selain itu. Pada tahun 2006 Ditjen Perhubungan Udara telah menerapkan National Single Window (NSW) sebagai tindak lanjut Inpres No. sedangkan untuk BOS cenderung tetap. Untuk mengurangi kejadian BOS dan BOC dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan navigasi penerbangan. Peraturan Perundang-Undangan di bidang penerbangan sipil pada bandar udara yang berasal dari Pangkalan Udara TNI (enclave sipil) juga belum berjalan sepenuhnya. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penerapan sistem National Single Window Bandar Udara Soekarno Hatta telah melakukan pengembangan aplikasi sistem informasi dalam rangka Implementasi Single Window di Bandar Udara dan spesifikasi sarana pendukung prototype aplikasi NSW. negara-negara anggota ASEAN melalui Agreement to Establish and Implement The Asean Single Window (ASW). Pelelawan info.

6. ground handling. e. Masih belum adanya sanksi terhadap kinerja pelayanan operator yang kurang optimal meskipun secara rutin operator terus mengajukan kenaikan tarif. f. Meningkatkan capaian tindak lanjut hasil pengawasan. b. Belum tersusunnya Rencana Umum Pengembangan SDM Aparatur Kementerian Perhubungan. 7. Masih rendahnya tingkat tindak lanjut hasil pengawasan. Selain itu untuk meendukung dilakukan sosialisasi kepada penyelenggara Bandar Udara. Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Kementerian Perhubungan sesuai dengan perkembangan sektor transportasi. c. d. Jumlah (kuantitas) dan kualitas profesionalisme sumber daya manusia yang beum memadai. Masih kurang optimalnya pengelolaan aset di lingkungan Kementerian Perhubungan yang menjadi penyebab utama opini BPK terhadap Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan dengan penilaian Disclaimer (tidak menyatakan pendapat). Pendidikan dan Pelatihan Permasalahan yang dihadapi Badan Diklat Perhubungan antara lain : a. Terbatasnya alokasi anggaran menyebabkan tertundanya pembangunan sarana dan prasarana. Pengawasan Aparatur Negara Permasalahan/tantangan: a.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 cargo handling sebagai peserta uji coba. h. 5. Mendorong pelaksanaan Reformasi Birokrasi dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan aset di lingkungan Kementerian Perhubungan sehingga dapat meningkatkan opini BPK terhadap Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan. instruktur. Tantangan kegiatan pengawasan adalah: a. komunitas kargo. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-61 . Belum keseluruhan unit kerja yang mengusulkan anggaran dapat melengkapi data dukung berupa kelengkapan dokumen perencanaan. Kuantitas dan kualitas tenaga pengajar (dosen. warehouse operator. Sumber Daya Manusia Permasalahan/tantangan: a. Airline. g. widyaiswara) perlu ditingkatkan.

Tantangan yang dihadapi Badan Diklat Perhubungan antara lain : a. Pertumbuhan angkutan penumpang udara dan angkutan barang laut yang relatif tinggi. serta peningkatan volume kendaraan transportasi jalan yang tinggi. Meningkatnya tuntutan masyarakat (dalam negeri dan internasional) terhadap kualitas layanan jasa transportasi. Penelitian dan pengembangan transportasi belum didukung oleh prasarana dan sarana balai penelitian. Pelayaran dan Penerbangan). Ketersediaan sarana penelitian dan sarana publikasi hasil penelitian. Terbatasnya jumlah SDM transportasi yang berkualitas sesuai dengan kompetensinya. Kelembagaan yang perlu disempurnakan menghadapi UU 20 Tahun 2003. Berlakunya UU Transportasi (LLAJ. Kurikulum dan Silabi Program Diklat perlu penyesuaian. Isu-isu dan permasalahan transportasi yang bersifat dinamis baik pada lingkup nasional maupun global. b. d. d.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 b. Hasil penelitian belum mampu menjawab semua permasalahan/isu-isu strategis di sektor transportasi. b. c. Tantangan yang akan dihadapi dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan dimasa mendatang antara lain adalah: a. Sarana dan PRASARANA Diklat terbatas dan sebagian sudah out of date. 8. a. Manajemen penyelenggaraan diklat perlu disempurnakan. Terbatasnya lingkup penelitian pada manajemen transportasi. Perkembangan teknologi sarana dan prasarana transportasi. perkembangan teknologi/ilmu pengetahuan dan otonomi daerah. e. d. Perkeretaapian. e. c. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-62 . f. merupakan faktor dominan penyebab terjadinya kecelakaan transportasi. c. Penelitian dan Pengembangan Permasalahan yang selama ini dihadapi dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan antara lain adalah . g. Human error. e. Kompetensi SDM peneliti masih memerlukan peningkatan dalam rangka menghasilkan penelitian yang tepat guna. Masih terbatasnya kuantitas dan kualitas SDM pengatur dan pengawas penyelenggaraan transportasi baik di pusat maupun di daerah.

Publikasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan transportasi pada skala nasional. Efektifitas pelaksanaan koordinasi penelitian dan pengembangan dalam rangka pengembangan transportasi dengan pemerintah daerah pada era otonomi. d.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 b. Tuntutan terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan transportasi yang hanya sebatas kebijakan manajemen tapi juga harus mampu melakukan penelitian kebijakan teknis. BAB II EVALUASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEMENHUB TAHUN 2005 – 2009 II-63 . c.

Rp.2%.174 triliun pada tahun 2006. 6. 6. 5. sedangkan PDB Nasional tumbuh masing-masing 5.38%.43 triliun pada tahun 2008 dan Rp. 92. Kontribusi sektor transportasi dalam pembentukan BAB III Produk Domestik Bruto TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-1 . 20.67 triliun pada tahun 2006. 10. Rp. 20.28%. 7. baik pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden. Rp. Berdasarkan harga konstan tahun 2000 pertumbuhan sektor transportasi pada tahun 2009 adalah 5.32%. Rp. sedangkan pertumbuhan PDB Nasional sebesar 4. 7. Kontribusi nilai tambah sektor transportasi sebagian besar berasal dari konsumsi masyarakat. 11. baik yang berasal dari investasi masyarakat maupun dari belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah melalui APBN.2%.5%. dan Rp.63 triliun pada tahun 2007. KONDISI SEKTOR TRANSPORTASI 2005-2009 Pertumbuhan konsumsi masyarakat dalam sektor transportasi dan komunikasi.79 triliun pada tahun 2008. karena terdapat defisit neraca jasa (net impor) transportasi dengan kontribusi terhadap PDB sektor transportasi. Rp.61 triliun pada tahun 2008 dan Rp.63%. Rp. yaitu : Rp. Pada kurun waktu 2005-2009 dengan harga konstan tahun 2000 pertumbuhan sektor transportasi masing-masing sebesar 6.06 triliun pada tahun 2005.69%. dan 4. 12. 6.4 triliun pada tahun 2007.383 triliun pada tahun 2005. 4.64 triliun pada tahun 2007.06%. Rp. yang tercermin dari peningkatan mobilitas masyarakat.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 A.21 triliun pada tahun 2005. 5. Kontribusi investasi masyarakat terhadap pembentukan PDB sektor transportasi dan komunikasi adalah : Rp. 2. Di sisi lain tingkat pelayanan yang dinikmati masyarakat belum memuaskan. Lonjakan konsumsi masyarakat pada tahun 2009 terkait erat dengan penyelenggaraan pemilu. 81. yang tercermin dari rendahnya investasi sarana dan prasarana di sektor transportasi dan komunikasi. pada kurun waktu tahun 2005-2009 secara umum mengalami peningkatan. Rp.58 triliun pada tahun 2009. 91. 2.71%.9 triliun pada tahun 2009. Pengeluaran konsumsi masyarakat lebih besar daripada PDB sektor transportasi. Rendahnya investasi masyarakat dan belanja pemerintah di sektor transportasi dan komunikasi tidak mampu memicu dampak ganda ( multiplier effect ) secara memadai dalam pembentukan nilai tambah yang tercermin pada pencapaian tingkat pertumbuhan baik pada sektor transportasi maupun pertumbuhan ekonomi nasional. Rp. 3.78%. 97.74 triliun pada tahun 2009.6%. Kontribusi belanja pemerintah terhadap pembentukan PDB sektor transportasi dan komunikasi adalah : Rp. 7. Kondisi tersebut di atas ditunjukkan oleh Produk Domestik Bruto Sektor Transportasi dan Komunikasi menurut jenis pengeluaran pada tabel III-1. 88.02 triliun pada tahun 2006.

61 82.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Nasional pada kurun waktu 2005-2009 masing-masing sebesar 41.36 7.28% pada tahun 2005.10 5. 45.74% 7.24 -37.80 11.32 4.79% 7.78 10.63% 9.45 6.61% 16. TABEL III-1 Produk Domestik Bruto Transportasi & Komunikasi Menurut Jenis Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Triliun Rupiah) Uraian Konsumsi Masyarakat Kontribusi Terhadap PDB Pembentukan Modal Tetap Bruto Kontribusi Terhadap PDB Belanja Pemerintah** Kontribusi Terhadap PDB Transportasi Jalan*** Selisih Ekspor dan Impor Kontribusi Terhadap PDB PDB Transportasi Pertumbuhan PDB Transportasi Pertumbuhan PDB Nasional 2005 81.67 4.20 5.02% 6. namun pada tahun 2008 dan 2009 angka pertumbuhannya berada di atas tahun 2005. 38.80 2.47 7.69% 2006 88.97 6.76% 6.42 -38. Besarnya pertumbuhan tersebut secara rinci disampaikan pada tabel III-2.90 116.97 20.65 -32.58% 15.98% pada tahun 2006.26 20.28% 2008 91.95 7.43 5.60 -31.01% pada tahun 2009.89% 5.45 6.38 122.20% Sumber : Diolah dari data BPS dan Bappenas * Angka Sementara ** Belum termasuk APBD Prov dan Kab/Kota *** Dilaksanakan Dep.22 7.8 -38.96% 4.50% 2007 92.99 66.53% 2. PU BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-2 .57 6.60 3.41 -29.30 70.21% pada tahun 2007.74 78. Realisasi pertumbuhan masing-masing sub sektor transportasi berdasarkan harga konstan 2000 secara umum mengalami pertumbuhan positif.06% 6.17 124.56% 2. 45.67% 7. Secara umum sejak tahun 2005 sampai tahun 2006 pertumbuhan nilai tambah transportasi mengalami penurunan.9 -35.82 5.20 12.61 72.92 -24.10 -35.70 4.28% pada tahun 2008 dan 45.06% 2009* 97.40 126.21% 6.03 3.96 -27.43 116. kecuali angkutan kereta api dan angkutan laut yang mengalami pertumbuhan negatif (minus).32 5.64% 9.38 4.

10 Sumber : Diolah dari data BPS 2009 Keterangan : * Angka Sementara Dibandingkan dengan nilai tambah moda transportasi lainnya.41 6.05 5. 306 unit (18.24 10.38 5.71%) berusia interval 5-10 tahun.71 3.33 1.42%.82 4. sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 nilai tambah angkutan udara masing-masing sebesar 10.06 5.47%. 66 unit (12. 96 unit (18.94 3. 27 unit (1. kekurangan suku cadang.32 0.32 4. TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-3 BAB III . 576 unit (35%) berumur interval 31-40 tahun.62%) berumur interval 21-30 tahun.40 5.98%.51 2007 2.56 5. Kereta Api Indonesia (519 unit).06 2009 * 5.65%.02 0.3 8.81 6.74%) berumur interval 11-20 tahun 426 unit (25.44%.35 8. tidak memadainya jumlah dana PSO yang 1 Dari seluruh lokomotif yang dimiliki PT.60 2006 6.42 5.75 10.94 -2.84 3. tahun 2006 sebesar 6.32% dan diharapkan tahun 2009 tumbuh 14.6%) berumur di atas 40 tahun. 172 unit (33.93 3.47 8.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 TABEL III-2 Realisasi Pertumbuhan Transportasi Terhadap Pembentukan Nilai Tambah Tahun 2005-2009 (%) Uraian 2005 PDB Transportasi Angkutan Jalan Angkutan SDP Angkutan Kereta Api Angkutan Laut Angkutan Udara Jasa Penunjang Angkutan Kontribusi Terhadap PDB Nasional 6. Sumbangan terbesar dari pertumbuhan ini berkaitan dengan diterapkannya kebijakan multi operator pada angkutan udara yang berimplikasi kepada meningkatnya permintaan penumpang angkutan udara.93 -3.32 2008 7.93 3. 10.98% merupakan efek berantai dari krisis keuangan global maupun krisis ekonomi nasional karena semakin memburuknya pelayanan berkaitan dengan menurunnya jumlah sarana yang siap operasi.28% dan tahun 2008 sebesar 3. 308 unit (18.60 6. semakin tua usia lokomotif dan kereta1. Di sisi lain pertumbuhan negatif (minus) angkutan kereta api sejak tahun 2005 sebesar -2.28 -2. 8.6%) berusia di atas 30 tahun. tahun 2007 sebesar 1.98 -5.45 4.57 3.643 unit). Dari seluruh kereta yang dimiliki (1.98 8. 185 unit (35.06 14.02% 5.5%) berusia interval 21-30 tahun.9%) berumur interval 1-10 tahun.65 7.12 5.14%) berusia interval 11-20 tahun.44 7.

Dengan ICOR sebesar 3. yakni proporsional dengan pertumbuhan daerah bangkitan dan tarikan angkutan jalan. terutama pada angkutan penumpang. 250. TARGET PERTUMBUHAN DAN PEMBIAYAAN 2010-2014 Berdasarkan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2005-2009 rata-rata sebesar 5.3 maka untuk mencapai target pertumbuhan tersebut.91%.67 triliun pertahun. yaitu -2.3 Pada tahun 2009 nilai tambah angkutan kereta api telah mengalami pertumbuhan negatif sebesar 3. dan terdapat penurunan permintaan yang cukup signifikan. Pertumbuhan angkutan penumpang kereta api tahun 2008 – 15.24% pada tahun 2006 erat kaitannya dengan pertumbuhan negatif ekspor sebesar -38. Pertumbuhan nilai tambah angkutan laut pada tahun 2008 sebesar 5. kebutuhan pembiayaan operasional dan pembangunan (investasi) di sektor transportasi di luar jalan selama kurun waktu 2010-2014 rata-rata sebesar Rp. Nilai tambah angkutan jalan pertumbuhannya cukup baik terutama pada tahun 2008 dan 2009 sebagai dampak dari perbaikan standar pelayanan pada angkutan kota melalui peremajaan taksi. investasi BUMN rata-rata Rp.44%).30% per tahun. bus besar dan pengadaan bus CNG (compressed natural gas ). bus sedang.91 triliun pertahun. dan investasi swasta rata-rata Rp. 325.05% terkait erat dengan pertumbuhan ekspor tahun 2008 sebesar 45. maka target pertumbuhan ekonomi tahun 2010 – 2014 rata-rata adalah 6. Pertumbuhan nilai tambah angkutan laut terendah terjadi pada tahun 2007.26 triliun per tahun.75% pada tahun 2005 menjadi 7.56% pertahun dan pertumbuhan sektor transportasi & komunikasi rata-rata 5. dengan alokasi sumber pendanaan dari: APBN (rupiah murni dan pinjaman luar negeri) ratarata Rp. 2 3 Usulan Net PSO + IMO – TAC tahun 2008 Rp. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut sektor transportasi harus tumbuh rata-rata 9. 291. TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-4 BAB III .48% pertahun.200 miliar (42.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 disediakan oleh pemerintah untuk melayani angkutan kelas ekonomi 2. Prakiraan nilai tambah (PDB) sektor transportasi pada tahun 2010-2014 dikaitkan dengan sasaran pertumbuhan dan kebutuhan pembiayaan disampaikan pada tabel III-3. Pertumbuhan nilai tambah angkutan sungai danau dan penyeberangan memiliki kecenderungan yang sama dengan angkutan jalan.106. B.28%. Demikian pula pertumbuhan nilai tambah jasa penunjang angkutan sejak tahun 2007 sampai 2009 proporsional dengan kecenderungan pertumbuhan nilai tambah angkutan laut dan angkutan udara.35% karena operasional yang sering terganggu akibat seringnya terjadi musibah dan bencana.208% pertahun. Nilai tambah angkutan laut dari 8.3% karena disamping kondisi ekspor yang belum pulih ditambah dengan efek substitusi tarif angkutan penumpang udara yang berpengaruh terhadap penurunan permintaan penumpang angkutan laut pada tahun 2007 dibandingkan dengan permintaan tahun 2005.194 miliar dapat dipenuhi sebesar Rp. 2.98% pada tahun 2006.681 triliun pertahun. 30.

yaitu dengan input yang sama akan dihasilkan output yang lebih besar.24 3.58 6.Belanja Modal (Investasi) 2010 89.17 0.19 0. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat investasi memiliki kecenderungan semakin produktif dan efisien.3 325.46 0.83 1.05% 6.3.71 27.00% 3.65 38.97 3.97 0.12 55.50% pada tahun 2014.78 89.70% 3.26 39.00% 6.21 264.19 8.58 42.61 30.00 9.68 291.90 2.3 320.24 2.81 2.77 49.25% 5.66 2011 97.3 387.00 2.96 310.50% 3.72 340.87 3.48% 6.33 2.87 4.Belanja Pegawai .05 10.06 0.60 6.46 35.63 10.75 89.50% 7.79 2013 117.Belanja Barang .86 32.31 10.00 Sumber : Diolah dari data BPS dan Bappenas 2009 * Harga Konstan tahun 2000 Pada tabel III-3 terlihat bahwa dengan skenario tingkat pertumbuhan sektor transportasi yang sustainable dari 8.3 272.3 294.60% 6.00% 3.14 5.81 Investasi BUMN Transportasi dan Investasi Swasta Transportasi Share Pembiayaan (%) : APBN BUMN SWASTA 2. maka angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) memiliki kecenderungan tetap.74 94. Selanjutnya dilihat dari pangsa sumber pembiayaan investasi yang dipergunakan untuk kegiatan operasional dan pembangunan sektor transportasi disampaikan sebagai berikut: BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-5 .39 2.02 15.84 2012 106.3 351.13 2014 129.30% 3.96 87.82 2.40% 3.60 9.84 88.96 42.94 11. atau dengan tingkat output yang sama dihasilkan oleh input yang lebih kecil.03 258.60 2.97 9. yaitu dari tahun 2010 – 2014 sebesar 3.83 9.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 TABEL III-3 Target Pertumbuhan Pembiayaan Sektor Transportasi Tahun 2010-2014 (Triliun Rupiah) Uraian PDB Transportasi* Pertumbuhan PDB Transportasi (%) Pertumbuhan PDB Nasional (%) ICOR Pembiayaan Transportasi Belanja Pemerintah (APBN) .79 10.50 285.81 90.26 9.19 11.37 Rata-2 108.23 8.29 0.25% pada tahun 2010 menjadi 10.98 9.

168.041.362 105.195 13. pembangunan sarana dan prasarana transportasi dan rekonstruksi pasca gempa dan tsunami.367 5.729.372 199.682 1.234.655.000.833.579 87. melakukan restrukturisasi kelembagaan dan peraturan transportasi.828.623.112 502.183.820 2. sehingga tingkat pertumbuhannya diharapkan menjadi positif.019 322.583.417 41.472.792. BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-6 .705.442.376.172 14.631 136.978.838.973.381.916.695 4.597 Keterangan *) Pagu Definitif 2010 Alokasi kebutuhan pendanaan sektor transportasi rata-rata per tahun adalah sebesar Rp.787 622.995.198.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 1.191.460.983 458. belanja pegawai dan belanja barang.290.495 triliun untuk membiayai kegiatan operasional dan pembangunan transportasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan pada masing-masing Sub Sektor dan Badan disampaikan pada tabel III-4.117 3.732.982. TABEL III .438.266.594 TOTAL 29.266.218.245 11.819.591 127.303 3.930 15.456.723. 39.235.786 35.226 71. dan peningkatan kinerja pelayanan sarana dan prasarana perkeretaapian.567 7.801 116.218.472.-) 2010 *) 1.767 15.739.9 Triliun per tahun yang berupa belanja modal.145 78.043 671.800.792.520. 2.520.915.001.890 2011 6.268.394. pembiayaan diarahkan untuk menangani backlog.4 REKAPITULASI KEBUTUHAN PEMBIAYAAN BERSUMBER APBN/PHLN SUB SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010 .678.691.026.099 102.834 40.713 90.154 11.988.545 4.363.873.651.285.835.487 16. Belanja modal diarahkan untuk rehabilitasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi.149.323 4.072.088.145.919 49. dan angkutan sungai.687 2013 7. Dari sisi moda perkeretaapian.511 2. Belanja Pemerintah (APBN) : Belanja pemerintah dari APBN yang dibutuhkan untuk membiayai kegiatan transportasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan selama kurun waktu 2010-2014 sebesar Rp.061.873.721.940.427.219 11.228 14.805.976 54. disamping itu juga untuk membiayai pengadaan fasilitas keselamatan angkutan jalan.546.002.010 10.648.475.045.647.638 578.68 triliun rata-rata pertahun.619 3.699 445. 199.417.365.495.676. peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana transportasi.230. penyediaan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa transportasi.768 2012 6.158.647 54.362.101 9.190.274.276.659 2014 7.655.879.813. Investasi BUMN : Dana investasi BUMN Transportasi (diluar jalan) yang dibutuhkan selama kurun waktu 2010-2014 adalah sebesar Rp.2014 UNIT KERJA HUBDAT KA HUBLA HUBUD LITBANG DIKLAT SETJEN (+KNKT) ITJEN TOTAL Tahun (Rp.598.624 165. 2.830.428. Belanja modal atau investasi pemerintah ini diarahkan kepada segmen-segmen kegiatan transportasi yang tidak mampu mencapai cost recovery.197. danau dan penyeberangan.652 13.773.078.483 55.501.

sistem personalia KA. gerbong. Balikpapan. Tegal. Ambon. sistem anggaran. sistem perawatan sarana KA. terdiri dari rehabilitasi pelabuhan. Panjang. Di bidang transportasi laut. Unit Terminal Peti Kemas Semarang. Semarang. Pelabuhan Indonesia III meliputi peningkatan dan pembangunan fasilitas pelabuhan: Tanjung Perak. Banjarmasin. investasi BUMN Kepelabuhanan berupa pembangunan prasarana pelabuhan dan fasilitas operasi dan investasi pengadaan armada kapal yang dilakukan oleh BUMN Pelayaran. Tenau/Kupang. Kuala Langsa. Tanjung Emas. sedangkan investasi armada terdiri dari retrofit bus besar. Pelabuhan Indonesia IV meliputi peningkatan dan pembangunan fasilitas pelabuhan: Makassar. sistem logistik. Investasi BUMN Angkutan Jalan akan dilakukan oleh Perum DAMRI meliputi terminal dan fasilitas operasi serta armada angkutan jalan. Gunung Sitoli dan Unit Terminal Peti Kemas Belawan. Danau dan Penyeberangan akan dilakukan oleh PT. Kotabaru. Tanjung Balai Karimun. Kereta Api Indonesia. KRD. penyehatan perusahaan. Samarinda. Jambi. Surabaya. sedangkan pengadaan armada terdiri dari pembangunan kapal Ro-ro dan kapal LDF yang akan ditempatkan di pelabuhan Ketapang. Lembar. Bima dan Pulang Pisau. Merak. Probolinggo. sistem informasi manajemen KA. kereta. Dumai. Investasi yang akan dilakukan oleh PT. yang terdiri : sistem tiket KA. Benoa. Pelabuhan Indonesia II meliputi peningkatan dan pembangunan fasilitas pelabuhan: Pontianak. Pelabuhan Indonesia I adalah peningkatan dan pembangunan fasilitas pelabuhan: Belawan. pembangunan fasilitas dermaga di lintas Merak-Bakauheni. Selat Panjang. pengadaan shock block assy dan pengadaan peralatan perbengkelan. meliputi sarana dan prasarana. Celukan Bawang. rehabilitasi mesin dan modifikasi kapal. sistem angkutan barang KA. pengadaan bus besar dan pengadaan mobil barang. pembangunan dermaga LDF di Surabaya dan Jakarta. Maumere. Investasi sarana perkeretaapian terdiri dari pemeliharaan dan pengadaan lokomotif. sistem perawatan lokomotif. rehab kantor dan emplasemen. Tanjung Intan. Tanjung Pinang. Kayangan. Bakauheni. Banten dan Tanjung Priok. Sibolga. sedangkan investasi prasarana berupa pembangunan teknologi informasi. Sorong. rehabilitasi alat keselamatan kapal. Investasi yang akan dilakukan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry. Jakarta dan Bajoe. Malahayati. Unit Terminal Peti Kemas Surabaya.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Investasi BUMN Perkeretaapian akan dilakukan oleh PT. KRDE dan KRL. Tanjung Wangi. Sampit. Investasi BUMN Angkutan Sungai. pengadaan engine assy. Teluk Bayur. sistem manajemen asset dan properti. Investasi BUMN kepelabuhanan yang akan dilaksanakan oleh PT. BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-7 . Investasi pelabuhan dan fasilitas operasi PT. Sibolga. Jayapura. Gresik. Kumai. Investasi yang akan dilaksanakan oleh PT. Tarakan. Bitung/ Manado. sistem pemeliharaan jalan rel. Investasi terminal dan fasilitas operasi angkutan jalan terdiri pembangunan stasiun BBG. ASDP Indonesia Ferry meliputi pelabuhan dan fasilitas operasi serta pengadaan armada kapal. dan sistem akuntansi KA.

investasi swasta di bidang kepelabuhanan berupa pembangunan prasarana pelabuhan laut dan fasilitas operasi serta investasi pengadaan armada kapal niaga yang dilakukan oleh maskapai pelayaran nasional. Garuda Indonesia dengan cara leasing. Investasi pengadaan armada terdiri dari pengadaan kapal baru dan kapal BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-8 . Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Investasi Swasta di bidang perkeretaapian seperti angkutan kereta api yaitu prasarana dan sarana perkeretaapian untuk melayani route Manggarai – Bandara Soekarno-Hatta. UPK Sangata dan UPK Bontang. yaitu pesawat-pesawat sekelas : M 25 dan pesawat serupa berbadan lebar. Sultan Thaha .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pantoloan/Toli-Toli. Depati Amir . Ahmad Yani Semarang. 3. Nunukan. Sultan Syarif Kasim II Pekan Baru. Merauke. Ujung-Kamal. Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat meliputi : Supadio Pontianak. Angkasa Pura I dan PT.Jambi. Manokwari. Syamsudin Noor Banjarmasin. Biak. Kendari. danau dan penyeberangan difokuskan pada pengadaan armada kapal penyeberangan untuk mengisi lintas Merak-Bakaheuni. 291. Investasi BUMN Kebandarudaraan akan dilakukan oleh PT. Juanda Surabaya. Ternate. Angkasa Pura II meliputi peningkatan dan pembangunan fasilitas bandar udara di Jawa dan Bali: Husein Sastranegara Bandung. dan bandara Soekarno-Hatta. Adi Sumarmo Solo. Belawan-Pinang. sejalan dengan investasi prasarana berupa pembangunan akses jalan kereta api dari bandara Soekarno Hatta ke Manggarai. Investasi Swasta di bidang angkutan sungai. Adi Sucipto Yogyakarta. Hasanuddin Makassar dan bandara baru Lombok Tengah. bus kota.Pangkal Pinang. Investasi Swasta : Dana investasi swasta di bidang transportasi yang dibutuhkan pada kurun waktu 2010-2014 adalah sebesar Rp. Gorontalo. Pelabuhan Balikpapan dan pelabuhan-pelabuhan lainnya. Investasi Swasta di bidang angkutan jalan difokuskan kepada peremajaan dan pengadaan armada baru angkutan jalan. Pare-Pare. taksi dan mobil beban. Investasi di bidang kepelabuhanan adalah pembangunan pelabuhan Bojanegara. Fakfak.87 triliun rata-rata pertahun. AKDP. dan pembangunan jalan kereta api Rantau Prapat-Duri-Pekanbaru-Dumai. Merpati Nusantara dan PT. dan rute Rantau Prapat-Duri-Pekanbaru-Dumai. Ngurah Rai Denpasar. Dibidang transportasi laut. Ketapang-Gilimanuk. Kijang Tanjung Pinang. Peningkatan dan pembangunan fasilitas bandar udara di Sumatera meliputi bandar udara: Medan Baru. Pengadaan armada penerbangan akan dilakukan oleh PT. yang terdiri bus AKAP. investasi BUMN Kebandarudaraan berupa pembangunan bandara dan fasilitas operasi dan investasi pengadaan armada pesawat udara yang dilakukan oleh BUMN Penerbangan. Pembangunan kereta api batu bara di Kalimantan Tengah. Peningkatan dan pembangunan fasilitas bandar udara di Kalimantan. Sepinggan Balikpapan. Di bidang transportasi udara.

sesuai dengan RPJMN 2010 – 2014 maka untuk tahun 2010 – 2014 Sektor Transportasi mendapatkan alokasi pendanaan APBN sebesar Rp. kapal bunker. Pembangunan bandara baru dan fasilitas operasi akan dilakukan pada sisi darat bandara Medan Baru. sedangkan investasi armada berupa leasing pesawat M25 sampai dengan pesawat berbadan besar. mempertimbangkan keterbatasan dana APBN yang dapat disediakan oleh Pemerintah.5356 0.623 15. ALOKASI PENDANAAN SEKTOR TRANSPORTASI SESUAI RPJMN 2010 . investasi swasta di bidang kebandar-udaraan berupa pembangunan bandara dan fasilitas operasi dan investasi pengadaan (leasing) armada pesawat udara yang dilakukan oleh maskapai penerbangan nasional.7925 33. 117.199.459 117. Di bidang transportasi udara.938 2.521 0. Pelni dengan modifikasi dan kapal Ro-Ro.7638 BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-9 .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 bekas. baik kapal penumpang maupun kapal barang.2014 Dari alokasi kebutuhan pendanaan sektor Transportasi 2010-2014 sebesar Rp. sedangkan kapal barang terdiri dari kapal konvensional.7638 Triliun dengan perincian sebagai berikut: NO KEMENTERIAN/SEKTOR (RP.495 Triliun seperti tercantum tabel III-5 diatas.8510 33. TRILIUN) 1 2 3 4 5 6 7 8 TRANSPORTASI DARAT PERKERETAAPIAN TRANSPORTASI LAUT TRANSPORTASI UDARA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SEKRETARIAT JENDERAL (+KNKT) INSPEKTORAT JENDERAL TOTAL KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 11.0447 19. Pengadaan kapal penumpang terdiri dari kapal penumpang dengan tipe yang sama dengan kapal penumpang PT. barge dan tanker. kapal kontainer.

BAB III TARGET PERTUMBUHAN DAN KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI TAHUN 2010-2014 III-10 . sehingga kurang dari kebutuhan pendanaan seperti tercantum tabel III-4 sebesar 199. 81. Dengan alokasi pendanaan untuk lima tahun sebesar Rp.731 triliun diharapkan dapat dipenuhi dari investasi BUMN dan Swasta.495 triliun. 117.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Perincian tersebut disesuaikan dalam program dan kegiatan sektor transportasi dalam Renstra Bab V dan Lampiran Renstra Kementerian Perhubungan 2010 – 2014. Kekurangan dana sebesar Rp.7638 Triliun.

memperluas lapangan kerja dan pada gilirannya melalui faktor pemicu dampak ganda akan meningkatkan pendapatan nasional. GLOBALISASI Globalisasi dapat dimaknai sebagai proses integrasi dunia disertai dengan ekspansi pasar yang di dalamnya mengandung banyak implikasi bagi kehidupan manusia. Kekuatan Mengundang investor baik lokal maupun asing dalam pembangunan infrastruktur transportasi akan menghemat pengeluaran pemerintah. Tingkat pelayanan transportasi dapat memenuhi standar nasional maupun internasional sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global. menyehatkan fiskal. Minimnya fasilitas infrastruktur sektor transportasi yang disediakan pemerintah tentunya akan menghambat pengembangan sektor-sektor lainnya sehingga pada gilirannya target pertumbuhan ekonomi nasional tidak tercapai. Sehingga upaya untuk mengatasi dampak dari krisis keuangan global pemerintah telah menerbitkan kelayakan stimulus khususnya untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur termasuk upaya keringanan pajak bagi para pengelola ekspor. alokasi penanganan kemiskinan. Dari sisi penawaran (supply side).RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS A. 1. Kenaikan perekonomian Indonesia yang cukup terkendali dari kesigapan Pemerintah dengan menentukan kelayakan stabilisasi dimana berupa optimalisasi APBN secara berkesinambungan untuk memacu pertumbuhan dan membangun jaring pengaman sosial melalui pembelanjaan infrastruktur. kebijakan penambahan kapasitas dan pembangunan sarana serta prasarana transportasi harus diupayakan memenuhi persyaratan teknis dan layak dioperasikan dengan biaya terendah ( least cost ) dalam kerangka biaya jangka panjang (long run variable cost ). Kebijakan stimulus tersebut nantinya tidak hanya untuk membayar pembangunan infrastruktur namun juga diarahkan untuk sektor manufaktur khususnya bagi industri-industri yang secara langsung terkena dampak dari krisis keuangan global. dimana BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-1 . Pada era global peran transportasi sangat ditentukan oleh pasar yang dicirikan oleh semangat persaingan yang tajam. Oleh karena itu dari aspek permintaan ( demand side). pangan dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri mampu menjaga kesinambungan pergerakan sektor riil dan mempertahankan penerimaan pajak maupun pendapatan negara bukan pajak agar tidak terjadi pengangguran. ketersediaan listrik. kebijakan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi dalam penyelenggaraan transportasi nasional merupakan syarat mutlak agar dapat bersaing di pasar global. Peranan transportasi pada era globalisasi menjadi semakin dominan mengingat dalam menjalankan fungsi dan kegiatannya transportasi tidak mengenal sekat-sekat administratif baik batas daerah maupun negara. memacu pemasukan modal secara langsung (capital inflow) yang akan memperkuat neraca pembayaran.

Terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi dimana tentunya berakibat menurunnya modal swasta yang ingin menawarkan investasinya di Indonesia serta menurunnya kinerja ekspor nasional. Perekonomian Indonesia yang selama 5 (lima) tahun terakhir dipenuhi optimisme dan tumbuh sekitar ± 6% tiba-tiba harus mengalami perlambatan. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-2 . Melemahnya kinerja ekspor selanjutnya memberikan tekanan pada sektor-sektor lainnya salah satunya adalah transportasi. Kurang terdiversifikasinya negara tujuan ekspor menyebabkan kinerja ekspor mendapat tekanan cukup signifikan. sehingga meskipun terdapat pilihan produk. Sesuai dengan karakteristiknya. Pemerintah melalui produk regulasi tertentu seharusnya bertindak sebagai penyeimbang.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 kebijakan tersebut bertujuan menjaga kegiatan ekonomi agar tidak banyak mengalami gangguan. namun sebagai negara yang sedang menjalani pemulihan dari krisis ekonomi. 2. Ketersediaan infrastruktur transportasi merupakan salah satu faktor perkuatan daya saing produk nasional agar mampu bersaing dengan produk asing yang pada era globalisasi membanjiri wilayah Indonesia. pemerintah Indonesia tidak mempunyai posisi tawar yang memadai dalam menghadapi investor asing. pasar infrastruktur pada umumnya tidak sempurna (oligopoli atau monopolistic competition ). posisi konsumen lemah dan cenderung mengikuti kemauan produsen. hal ini berakibat beban APBN menjadi semakin berat mengingat langkahlangkah pemerintah dalam menghadapi krisis keuangan global melalui kebijakan fiskal tentunya membutuhkan dukungan dari penerimaan negara baik dari pajak maupun sumber-sumber pendapatan negara lainnya. Sebagai akibat dari usaha pemerintah untuk tetap menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi menyebabkan meningkatnya tingkat kepercayaan dari kalangan investor terhadap tingkat kinerja Indonesia dan ini berakibat semakin tingginya minat investor untuk menanamkan investasinya secara direct invesment di sektor transportasi. Kelemahan Sebagai akibat terjadinya krisis keuangan global yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja APBN dimana tentunya akan berpengaruh terhadap ketersediaan infrastruktur sektor transportasi. Perkembangan perekonomian dunia yang terus memburuk dan belum muncul tanda-tanda akan segera berakhirnya krisis global menyebabkan proyeksi perekonomian Indonesia dilakukan dalam nuansa ketidakpastian. terutama dalam pengalokasian sumber daya akibat terjadi distorsi pasar. Rentannya kinerja ekspor terhadap sebagai akibat terjadinya krisis global juga tidak terlepasnya dari karakteristik ekspor Indonesia selama ini. Menyerahkan pengoperasian infrastruktur transportasi kepada swasta/asing akan memperlemah kontrol pemerintah. Selain itu komoditas ekspor Indonesia juga cenderung kurang terdiversifikasi dimana komoditas utama ekspor sebagian besar berbasis sumber daya alam yang ternyata justru rentan terhadap gejolak harga. menjaga keselamatan dan keamanan perekonomian termasuk melakukan respon terhadap kesulitan yang dihadapi pelaku-pelaku ekonomi serta menjaga masyarakat dari dampak yang merugikan. terutama berkaitan dengan kebijakan tarif yang akan menjadi beban konsumen.

terutama untuk segmen usaha yang memiliki pasar pada skala global. ekonomi. Sistem Transportasi Nasional Keberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran transportasi sebagai urat nadi kehidupan politik. serta adanya keterbatasan sumber daya. Dalam mewujudkan sistem transportasi nasional yang handal dan berkemampuan tinggi. yang disesuaikan dengan perkembangan ekonomi. sosial budaya. BUMN bidang transportasi yang selama ini menjadi market leader akan semakin kehilangan perannya. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-3 . tingkat kemajuan teknologi. mendukung pola distribusi nasional serta mendukung pengembangan wilayah dan peningkatan hubungan internasional yang lebih memantapkan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan nusantara. teknologi. dan pertahanan keamanan. peluang dan kendala antara lain berupa perubahan lingkungan yang dinamis seperti. Dalam mengantisipasi kondisi tersebut. perkembangan ilmu pengetahuan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3. Disamping itu globalisasi di sektor transportasi tentunya memberikan kesempatan kepada operator transportasi untuk melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan operator transportasi asing guna memperluas jangkauan jaringan transportasi tidak saja dalam negeri melainkan juga luar negeri. dan kepedulian pada kelestarian lingkungan hidup. barang serta jasa. perubahan perilaku permintaan jasa transportasi. Pembangunan sektor transportasi diarahkan pada terwujudnya sistem transportasi nasional yang handal. Di samping itu dampak yang terjadi sebagai akibat ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap pasar adalah krisis keuangan global yang hampir melanda perekonomian dunia bermula dari krisis kredit macet perumahan beresiko tinggi yang terjadi di Amerika ternyata berkembang menjadi krisis keuangan global yang melanda seluruh dunia. akhirnya sulit bertahan dan ikut terkena imbas krisis. Kuatnya intensitas krisis tersebut membuat negara-negara di kawasan Asia yang semula dianggap relatif steril dari dampak krisis. kondisi politik. sistem transportasi nasional diarahkan untuk mewujudkan keandalan pelayanan dan keterpaduan antar dan intra moda transportasi . Peluang Terbukanya infrastruktur transportasi bagi peran serta swasta termasuk investor asing akan membuka peluang alih teknologi serta peluang perluasan pangsa pasar. terdapat berbagai tantangan. berkemampuan tinggi dan diselenggarakan secara efektif dan efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan. globalisasi ekonomi. sehingga kontribusi terhadap fiskal dalam bentuk pajak dan deviden semakin menurun. mendukung mobilitas manusia. Ancaman Ketidaksiapan infrastruktur maupun operator transportasi dalam negeri khususnya dalam era globalisasi tentunya merupakan ancaman bagi menurunnya daya saing nasional mengingat perusahan-perusahaan swasta nasional di bidang transportasi yang tidak siap bersaing akan mengalami kebangkrutan dan gulung tikar karena persaingan modal kerja yang tidak seimbang. B. 4.

Penyediaan Dana Pembangunan Transportasi. dan Penyelenggaraan Administrasi Negara di Sektor Transportasi. Kualitas SDM dan Iptek. Tatrawil (Tataran Transportasi Wilayah) dalam skala wilayah provinsi dan Tatralok (Tataran Transportasi Lokal) dalam skala kabupaten/kota. laut dan udara serta keterpaduan moda transportasi antara provinsi satu dengan provinsi lainnya. provinsi dan kabupaten/kota. Kelemahan Pemberian keleluasaan kepada daerah untuk menyusun Tatrawil dan Tatralok. Penyusunan Tatrawil dan Tatralok memberikan keleluasaan kepada Pemerintah Daerah untuk menyusun rencana transportasi di daerah masing-masing sehingga perencanaan transportasi dapat dilaksanakan sesuai dengan karakter budaya dan kondisi geografi masing-masing daerah. sehingga tidak sesuai dengan karakteristik transportasi yang mengabaikan sekat-sekat daerah administratif dan konsisten dengan pandangan daerah fungsional. Kekuatan Dalam hirarki perencanaan. Sistem Transportasi Nasional merupakan tatanan mikro strategis bagian dari perencanaan secara komprehensif. Tatrawil dan Tatralok akan dijadikan legitimasi bagi daerah untuk membangun infrastruktur transportasi dengan motivasi utama untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Keterpaduan dalam Sistranas mencakup intra dan antar moda transportasi darat. memenuhi kebutuhan aksesibilitas masyarakat serta memenuhi kebutuhan distribusi dalam perdagangan nasional dan internasional dengan memperhatikan kehandalan serta kelaikan sarana dan prasarana transportasi. Penetapan Tatrawil dan Tatralok sebagai perwujudan Sistranas dalam skala wilayah provinsi dan kabupaten/kota terkesan dipaksakan untuk menampung aspirasi kebijakan otonomi daerah. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-4 . Sistranas dijabarkan dalam perwujudan Tatranas (Tataran Transportasi Nasional) dalam skala nasional. 2. yaitu meliputi kebijakan yang berkaitan dengan : Pelayanan Transportasi Nasional. sehingga pembangunan bidang transportasi dapat dilakukan secara terpadu. 1. Pembinaan Pengusahaan Transportasi. Di dalam Sistranas terdapat kebijakan umum yang menjadi acuan dalam menyusun perencanaan transportasi. sehingga pembangunan transportasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien. sehingga diharapkan memenuhi fungsinya sebagai penunjang dan pendorong pembangunan. yang menjadi acuan dalam perencanaan dan pengembangan sistem transportasi di tingkat nasional. memberikan kesempatan bagi daerah untuk membangun infrastruktur secara berlebihan sehingga akan menimbulkan inefisiensi nasional. pelestarian lingkungan dan kebijakan energi nasional. Kondisi ini akan menjadikan kebijakan pelayanan transportasi yang diamanahkan dalam Sistranas terdistorsi sehingga berpotensi menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Kualitas Lingkungan Hidup dan Penghematan Energi. Keselamatan dan Keamanan Transportasi.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 kebijakan tata ruang.

Ketidakharmonisan perencanaan transportasi antara pusat dan daerah akan berdampak kepada kualitas pelayanan sehingga menjadi ancaman bagi daya saing produk nasional. Penjabaran Sistranas ke dalam Tatranas. pendidikan dan kesehatan. Di samping itu teknologi transportasi diperlukan untuk memperbaiki atribut pelayanan. jasa. Sumber daya energi fosil di Indonesia yang sangat penting dan mempunyai peran strategis bagi pembangunan nasional adalah minyak bumi. peran energi akan lebih berkembang khususnya guna mendukung pertumbuhan sektor industri dan kegiatan lain yang terkait. Energi diperlukan untuk kegiatan industri. Peluang Posisi Sistranas sebagai Tatanan Makro Strategis memungkinkan dilakukan perumusan kebijakan dan penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang transportasi darat yang akan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengambil peran optimal dalam pengoperasian dan pembangunan transportasi. Kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi oleh industri transportasi yang modern dan efisien dan ditangani dengan manajemen profesional serta tersedianya lembaga riset dan pengembangan teknologi yang memadai. Berkaitan dengan kebutuhan komunikasi dalam operasi transportasi. Dalam pengembangan dan pembangunan transportasi diperlukan penerapan Intelligent Transportation System (ITS). teknologi informasi akan sangat berpengaruh terhadap kinerja sektor transportasi. transportasi dan rumah tangga. papan. 4. keselamatan. gas bumi dan batu bara. Teknologi & Energi Transportasi telah menjadi kebutuhan dasar manusia ( basic necessities) setelah pangan. Fungsi utama dari tiga jenis sumber daya alam ini adalah sebagai sumber energi. dan usaha-usaha rekayasa untuk mengoptimalkan keterkaitan antara transportasi .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3. bahan baku industri BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-5 . memberikan kesempatan untuk mensinergikan kepentingan pusat dan daerah dalam pengembangan transportasi. Electronic Data Interchange (EDI). misalnya pengoperasian sarana angkutan massal dengan kendaraan Euro harus kompatibel. misalkan kecepatan. C. Dalam jangka panjang. Pengembangan angkutan massal di kawasan metropolitan ataupun kawasan perkotaan diarahkan kepada pilihan jenis moda yang berskala besar dan hemat energi. Tatrawil dan Tatralok. Sumber daya energi mempunyai peran yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi nasional. Telecommuting. telekomunikasi dan energi secara bertahap. Ancaman Kebijakan desentralisasi bidang transportasi yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan kerancuan dalam penyelenggaraan transportasi yang mengabaikan prinsip-prinsip dasar dan kebijakan umum Sistranas. diperlukan kompatibilitas teknologi secara sistemik. diperlukan pendekatan komprehensif terkait dengan teknologi transportasi yang memiliki skala besar namun hemat energi. sandang. Untuk mendapatkan solusi masalah kebutuhan transportasi sesuai dengan preferensi masyarakat yang selalu berkembang. keamanan dan kenyamanan. Di sektor transportasi.

maka pemanfaatannya harus dilakukan secara bijaksana dan hati-hati. Kebijakan lain yang telah ditetapkan oleh pemerintah terkait dengan masalah energi ini adalah Instruksi Presiden RI No. Selain itu untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak maka ini sebenarnya Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. bahan bakar untuk kegiatan transportasi dan sebagai sumber devisa negara. Kekuatan Dalam upaya mewujudkan teknologi transportasi yang dapat diimplementasikan secara nasional. Untuk mendukung program diversifikasi energi di sektor transportasi ini maka telah dikeluarkan beberapa perangkat hukum yaitu: Keputusan Dirjen Perhubungan Darat No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan perlunya target untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak menjadi kurang dari 20% serta pemakaian bahan bakar gas dengan porsi 30% pada tahun 2025 yang secara umum tergambar dalam Gambar 4. LNG dan Hasil Olahan yang Dipasarkan di Dalam Negeri. 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. maka hingga tahun 2007 pemerintah mengintensifkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai salah satu bahan bakar alternatif kendaraan bermotor. Meskipun telah diterbitkan beberapa peraturan oleh pemerintah guna mendukung program penggunaan bahan bakar gas sebagai bahan bakar alternatif kendaraan bermotor. namun hingga kini proses implementasinya di masyarakat berjalan lambat. Mengingat strategisnya sumber daya dimaksud dan makin terbatasnya ketersediaan sumber daya energi fosil ( unrenewable resource ). Sebagai tindak lanjut dari peraturan dan Instruksi Presiden tersebut diatas Kementerian Perhubungan menetapkan beberapa kebijakan khusus berupa diversifikasi bahan bakar dan peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak untuk kendaraan. Kementerian Perhubungan memiliki lembaga penelitian dan pengembangan (Badan Litbang Perhubungan) yang dapat diarahkan untuk melakukan penelitian murni dan terapan secara lebih fokus kepada penyusunan konsep teknologi transportasi nasional dalam kerangka pengembangan teknologi transportasi.852/AJ. SK.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 dalam negeri. LPG. sebenarnya persyaratan teknisnya telah terpenuhi untuk penggunaan bahan bakar gas secara nasional. 1.302/DRJD/2004 tentang Pemakaian Bahan Bakar pada Kendaraan Bermotor. Kebijakan ini diarahkan untuk bersinergi dengan lembaga penelitian lain baik swasta maupun pemerintah di dalam negeri dan di luar negeri. Mengingat pertimbangan ekonomi dan sarana pendukung yang telah dimiliki.1. 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi dan Instruksi Presiden RI No. Bahan Bakar Gas. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya energi ini harus dilakukan secara efisien agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (maximum net benefit ) bagi keseluruhan masyarakat Indonesia sehingga pembangunan berkelanjutan ( sustainable development ) dapat terlaksana dengan baik. 0048 Tahun 2005 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) serta Pengawasan Bahan Bakar Minyak. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-6 . dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. Bahan Bakar Lain.

30% Bahan Bakar Nabati (Biofuel). 34. khususnya taksi yang dimiliki perorangan. Surya.1% Gas Bumi.11% Panas Bumi.755 converter kit kepada pemilik taksi. Angin. CNG. mengingat kondisi ekonomi nasional belum sepenuhnya mengalami pemulihan dari krisis keuangan global.1 Sasaran Energi Mix 2025 Upaya diversifikasi energi di sektor transportasi sebenarnya sudah dilakukan Kementerian Perhubungan sejak tahun 2007 lalu. karena disamping keterbatasan tenaga peneliti.32% Gas Bumi. 15. CNG juga dianggap lebih bersih bila dibandingkan dengan BBM karena emisi gas buangnya yang ramah lingkungan. 3.6% Batubara. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-7 . 2% Batubara . sopir taksi jelas bisa mengurangi pengeluaran karena harga bahan bakar gas lebih ekonomis dari bahan bakar minyak. 51.9% PLTMH. 5% Biomasa.1% Panas Bumi. Air. 1. 2. 5 TAHUN 2006 SASARAN ENERGI MIX 2025 Energi (Primer) Mix Saat Ini Tenaga Air. Kerjasama antar lembaga riset di bidang transportasi belum dilakukan secara efektif.57% Minyak Bumi.66% Energi Mix Tahun 2025 (Skenario BaU) PLTA. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masih beorientasi kepada riset kebijakan ( policy research). kelemahan pendanaan merupakan faktor utama.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 PERATURAN PRESIDEN NO. Selain itu. Nuklir. 33% Gambar 4. 28. yang dibuat dengan melakukan kompresi gas metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam ini juga dikenal aman.6% EBT. 5% Minyak Bumi. 0. 17% Panas Bumi. Kelemahan Kemampuan riset dan pengembangan teknologi transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan sampai saat ini telah mengalami kemajuan yang berarti dan dikategorikan belum signifikan. Dengan menggunakan CNG. 1. Saat ini telah dibagikan secara gratis sebanyak 1. 41.7% OPTIMALISASI PENGELOLAAN ENERGI Batubara. 5/2006) Minyak Bumi. 5% Batubara yang Dicairkan (Coal Liquefaction). 1. 20% Gas Bumi.34% Energi Mix Tahun 2025 (Sesuai Perpres No. 20.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Terdapat beberapa kendala yang menghambat kelancaran pembangunan di bidang energi terkait dengan penentuan dan pemilihan bahan bakar alternatif yang murah dan ramah lingkungan. Mengarahkan pemanfaatan sumber energi alternatif. dengan pertimbangan mahalnya teknologi transportasi darat guna mengantisipasi perubahan penggunaan bahan bakar alternatif. Dengan demikian kinerja pelayanan moda transportasi ini cenderung semakin memburuk sehingga BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-8 . Mendorong upaya pemanfaatan energi baru dan terbaharukan sehingga perannya dalam penyediaan energi nasional meningkat. untuk mendapatkan nilai tambah yang tinggi. Memberikan kesempatan kepada pihak BUMN dan Swasta untuk menangani penyediaan sarana transportasi khususnya transportasi darat yang hemat penggunaan bahan bakar minyak untuk memacu pembangkitan energi alternatif. b. terdapat peluang untuk memanfaatkan teknologi transportasi yang terdiri dari : a. Sejalan dengan hal tersebut. Peluang Sektor transportasi memiliki karakteristik padat modal dan sensitif terhadap perubahan teknologi untuk mengantisipasi tuntutan pasar dan persaingan masa depan. 3. Misalkan kebijakan penggunaan bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi khususnya transportasi darat ternyata tidak mudah dilaksanakan. khususnya energi BBG. dan preferensi konsumen masih lebih condong kepada moda transportasi berbahan bakar minyak. sarana dan prasarana. Meningkatkan upaya pencarian alternatif sumber daya energi dan teknologi. Transportasi dan logistik. sebagai contoh adalah kondisi prasarana dan sarana perkeretaapian dan kapal. 4. dikarenakan keterbatasan anggaran sehingga barang modal yang aus (telah terlampaui umur ekonomisnya) tidak dapat diperbaharui dengan teknologi mutakhir. d. Ketidakseimbangan antara kapasitas dengan penggunaan jalan yang dibarengi dengan kelemahan dalam manajemen lalu lintas telah menimbulkan kemacetan sehingga menjadikan pemakaian energi yang ada belum efisien. Terdapat peluang untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi di sektor transportasi dalam rangka meningkatkan nilai tambah ekonomi dan memaksimalkan kesejahteraan masyarakat melalui beberapa langkah sebagai berikut : a. b. c. meliputi pengembangan sistem. Sumber daya energi diarahkan sebagai sumber energi dan sebagai bahan baku industri untuk menghasilkan devisa. karena industri otomotif tidak memberikan respons yang memadai. Ancaman Ancaman perkembangan teknologi transportasi bagi Indonesia adalah ketidakmampuan pemerintah membeli barang modal dan teknologi. Pengembangan sistem dan piranti keras serta lunak termasuk pemanfaatannya.

Karena dampak pencemaran udara yang sangat merugikan ini maka pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan berbagai aturan. sinergi.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 sangat merugikan konsumen dan memperlemah daya saing. Hal tersebut merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam prinsip pembangunan berkelanjutan ( sustainable development ). distribusi spesies dan ukuran populasi. Sekitar 70 persen dari polusi udara di Jakarta berasal dari bahan pencemar udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. terutama di kawasan perairan maupun di pelabuhan penyeberangan dan bandar udara. sedangkan sisanya 30 persen berasal dari pencemaran industri. D. juga berupa kebisingan serta pencemaran limbah. pemeliharaan dan pengoperasian sarana dan prasarana transportasi diperlukan studi analisis mengenai dampak lingkungan. Ketergantungan sektor transportasi terhadap BBM telah menimbulkan kekhawatiran karena jumlah cadangan dan produksi minyak bumi Indonesia terbatas dan pembakaran BBM menimbulkan pencemaran berat di kota besar dan juga berdampak pada perubahan iklim. Pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan frekuensi maupun intensitas kejadian cuaca ekstrim. serta mempengaruhi berbagai ekosistem yang terdapat di daerah dengan garis lintang yang tinggi. rencana serta pemantauan pengelolaan lingkungan. frekuensi serangan hama dan wabah penyakit. Untuk itu strategi untuk mengarusutamakan isu perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan nasional. Perubahan Iklim memberikan dampak yang cukup besar terhadap pembangunan sosial ekonomi Indonesia. Umumnya kendaraan bermotor yang ada di Jakarta didominasi berbahan bakar solar. dan gas. pemeliharaan dan pengoperasian sarana dan prasarana transportasi sangat ditekankan kesesuaiannya dengan aspek lingkungan. yang diantaranya adalah Peraturan BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-9 . Kegiatan transportasi selain menimbulkan polusi yang bersumber dari emisi gas buang. Pembangunan Berkelanjutan dan Pengarusutamaan Perubahan Iklim pada Sektor Transportasi Pembangunan. hal ini sebagai dampak dari peningkatan jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya (diperkirakan naik sebesar 5 persen per tahun). premium. lokasi yang tinggi. perubahan pola karakter air laut. perubahan pola angin. Pemanasan global dapat menyebabkan perubahan yang signifikan dalam sistem fisik dan biologis seperti peningkatan intensitas badai tropis. serta ekosistem-ekosistem pantai. Setiap usaha atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Selain itu kondisi polusi udara di Jakarta dari waktu ke waktu yang cenderung meningkat daripada menurun. Seringkali bahan bakar solar yang dijual di Jakarta memiliki kualitas yang rendah dan melepaskan banyak bahan belerang. Transportasi merupakan sektor yang mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM) cukup besar di Indonesia. monitoring dan evaluasi merupakan tantangan dalam memitigasi dan beradaptasi terhadap setiap perubahan iklim. sehingga dalam tahapan pembangunan. termasuk koordinasi. masa reproduksi hewan dan tanaman.

Pembagian kewenangan yang jelas antara pusat dan daerah dalam menangani masalah lingkungan dapat disinergikan menjadi kekuatan yang efektif untuk melakukan pemantauan lingkungan sesuai dengan skala operasi obyek pemantauan lingkungan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pemerintah No. yang merinci besaran-besaran kendali yang perlu diperhatikan pada emisi kendaraan bermotor. 141 tahun 1999. Kelemahan Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah tidak semuanya dapat diimplementasikan di tingkat daerah. Selanjutnya dilakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan pasca operasi secara berkala oleh lembaga-lembaga yang telah ada (Bapedal. 1. Bapedalda atau lembaga teknis lainnya) baik di pusat maupun di daerah. sehingga pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan biaya pelayanan. Kurangnya koordinasi dalam penyusunan peraturan perundang-undangan dan pedoman pelaksanaan di lapangan berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan pada sektor-sektor baik di pusat maupun di daerah. dan peraturan perundang-undangan yang telah ada. misalnya mewajibkan melakukan studi AMDAL sebelum masa konstruksi bagi setiap program pembangunan transportasi darat yang telah disetujui pendanaannya. Dengan program-program seperti tersebut di atas. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-10 . Pembangunan transportasi berkelanjutan dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Selain itu juga telah dikeluarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kekuatan Dengan melakukan program pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan maka akan meningkatkan citra Pemerintah Indonesia dan akan mempermudah posisi Indonesia dalam dunia internasional dan meningkatkan citra bangsa. 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang berisi sejumlah pembatasan dan definisi mengenai pencemaran udara yang harus dipenuhi oleh aparat Pemerintah Daerah. 2. yang mengamanatkan agar pencemaran terhadap udara dapat ditanggulangi melalui penentuan ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara). serta diperlukan pemantauan yang berkesinambungan. pembangunan transportasi berkelanjutan dapat dilakukan secara konsisten. sehingga tidak semua kegiatan dapat dilaksanakan di tingkat daerah. Dalam pelaksanaan pembangunan transportasi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan diperlukan tambahan biaya. 141 tahun 2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan yang Sedang Diproduksi. Selanjutnya Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta juga telah mengeluarkan Peraturan Daerah No. Bahkan pada Pasal 20 Perda ini secara tegas mewajibkan penggunaan bahan bakar gas untuk kendaraan umum dan kendaraan operasional Pemerintah Daerah sebagai upaya pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor. dengan demikian maka diperlukan peraturan perundang-undangan dan disertai dengan pedoman pelaksanaan di lapangan.

Pembiayaan program-program pembangunan baik yang dibiayai dengan sumber rupiah murni maupun dari dana pinjaman luar negeri selalu mempersyaratkan pembangunan berwawasan lingkungan. sehingga program-program pembangunan infrastruktur transportasi yang telah disahkan rencana induknya mendapatkan kemudahan dalam pembiayaan program dari negara donor. Peluang Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan akan menjamin kelestarian lingkungan sehingga pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan pembangunan dapat dilakukan oleh generasi mendatang secara berkesinambungan. BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS IV-11 . dengan demikian pelaksanaan program-program guna mengantisipasi perubahan iklim akan berpeluang mendapatkan respons positif dari masyarakat maupun lembaga perbankan dalam negeri dan lembaga-lembaga internasional. 4.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3. sehingga masyarakat/dunia internasional akan memperhatikan layanan yang ramah lingkungan. Di bidang dampak kandungan yang ditimbulkan dari aktivitas prasarana/sarana transportasi yang melampaui ambang batas yang ditentukan akan menimbulkan efek rumah kaca yang selanjutnya akan meningkatkan pemanasan global. dapat mengakibatkan gejolak sosial secara nasional. Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan tuntutan masyarakat dan dunia internasional. Ancaman Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan akan memperburuk dampak pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah. Kondisi masyarakat yang kurang siap untuk penerapan pelaksanaan perundang-undangan yang berkaitan dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas transportasi.

usaha kecil. Pelayanan transportasi yang memberikan nilai tambah diindikasikan oleh penyelenggaraan perhubungan yang mampu mendorong pertumbuhan produksi nasional melalui iklim usaha yang kondusif bagi berkembangnya peranserta masyarakat. mandiri dan produktif. ramah lingkungan.” Pelayanan transportasi yang handal. selamat (safety). dilayani oleh SDM yang profesional. terpelihara. sehingga mampu memberikan kontribusi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional serta menciptakan lapangan kerja terutama pada sektor-sektor andalan yang mendapat manfaat dari kelancaran pelayanan transportasi. dirumuskan misi sebagai berikut: 1. menjangkau seluruh pelosok tanah air serta mampu mendukung pembangunan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). diindikasikan oleh penyelenggaraan transportasi yang aman ( security). menengah dan koperasi. nyaman (comfortable). dengan harga terjangkau ( affordability ) oleh semua lapisan masyarakat. pembenahan regulasi di bidang keselamatan / keamanan maupun sosialisasi kepada para pemangku kepentingan. B. Pelayanan transportasi yang berdaya saing diindikasikan oleh penyelenggaraan transportasi yang efisien. MISI Untuk mencapai visi tersebut. VISI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN Visi Kementerian Perhubungan adalah “Terwujudnya pelayanan transportasi yang handal. tepat waktu (punctuality). Upaya yang dilakukan pemerintah tidak saja bertumpu kepada penyediaan fasilitas keselamatan dan keamanan namun peningkatan kualitas SDM transportasi. berkelanjutan. Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi dalam upaya peningkatan pelayanan jasa transportasi Dalam upaya mengurangi/menurunkan tingkat kecelakaan dari sektor transportasi ditengah kondisi keuangan negara yang masih diliputi krisis keuangan global. pemerintah terus berupaya secara bertahap membenahi sistem keselamatan dan keamanan transportasi menuju kondisi zero to accident. mencukupi kebutuhan. 2. berdaya saing dan memberikan nilai tambah.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010-2014 A. mengendalikan laju inflasi melalui kelancaran mobilitas orang dan distribusi barang ke seluruh pelosok tanah air. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa transportasi untuk mendukung pengembangan konektivitas antar wilayah Kebutuhan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa transportasi BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-1 .

sejalan dengan pemulihan pasca krisis keuangan global. sumber daya manusia (SDM). 3. Reformasi di bidang regulasi (regulatory reform) diarahkan kepada penghilangan restriksi yang memungkinkan swasta berperan secara penuh dalam penyelenggaraan jasa transportasi. perbaikan pelayanan melalui pengembangan dan penerapan teknologi transportasi yang ramah lingkungan sesuai dengan isu perubahan iklim (global warming) sejalan dengan perkembangan permintaan dan preferensi masyarakat. Penegakan hukum dilakukan secara konsisten dengan melibatkan peranserta masyarakat dalam proses perencanaan. menempatkan posisi Kementerian Perhubungan sebagai regulator dan melimpahkan sebagian kewenangan di bidang perhubungan kepada daerah dalam bentuk dekonsentrasi. Mewujudkan pengembangan teknologi transportasi yang ramah lingkungan untuk mengantisipasi perubahan iklim Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan dalam penyelenggaraan jasa transportasi dititikberatkan kepada penambahan kapasitas sarana dan prasarana transportasi. Restrukturisasi di bidang kelembagaan. pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraan jasa transportasi. 5. Untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 yang perlu mendapatkan perhatian adalah aksesibilitas di kawasan pedesaan. desentralisasi dan tugas pembantuan. kawasan pedalaman. kawasan tertinggal termasuk kawasan perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar yang masih menjadi tanggungjawab pemerintah. kelembagaan. Meningkatkan kinerja pelayanan jasa transportasi Dalam kondisi keuangan negara yang terimbas krisis keuangan dunia tentunya sangat berpengaruh terhadap kinerja pelayanan jasa transportasi karena masih terdapat beberapa operator yang memiliki keterbatasan kemampuan melakukan perawatan dan peremajaan armada. Restrukturisasi dan reformasi di bidang SDM diarahkan kepada pembentukan kompetensi dan profesionalisme insan perhubungan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki wawasan global dengan tetap mempertahankan jatidirinya sebagai manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. swasta dan masyarakat. Dalam peningkatan kapasitas dan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-2 . Melanjutkan konsolidasi melalui restrukturisasi dan reformasi di bidang peraturan. sedangkan belum seluruh masyarakat pengguna jasa memiliki daya beli yang memadai. demikian pula pemerintah secara bertahap dengan dana yang terbatas melakukan rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur. dan penegakan hukum secara konsisten Sesuai dengan prinsip good governance melalui penerbitan 4 (empat) paket undang-undang di sektor transportasi telah dilaksanakan restrukturisasi dan reformasi dalam penyelenggaraan transportasi dengan pemisahan yang jelas antara peran pemerintah. melalui rehabilitasi dan perawatan sarana dan prasarana transportasi. perlu diupayakan peningkatan kinerja pelayanan jasa transportasi menuju kepada kondisi yang dapat memberikan pelayanan optimal bagi masyarakat. 4.

5. keamanan. Meningkatkan pengembangan teknologi transportasi yang efisien dan ramah lingkungan sebagai antisipasi terhadap perubahan iklim. barang dan jasa. Meningkatnya kapasitas sarana dan prasarana transportasi untuk mengurangi backlog dan bottleneck kapasitas infrastruktur transportasi. maksimalisasi kualitas serta keterjangkauan dalam pelayanan. Peningkatan kualitas SDM dan melanjutkan restrukturisasi kelembagaan dan reformasi regulasi. Bidang Transportasi Jalan 1) Meningkatnya kondisi prasarana LLAJ terutama menurunnya jumlah pelanggaran lalu lintas dan muatan lebih di jalan sehingga dapat menurunkan kerugian ekonomi yang diakibatkannya. 4) Meningkatnya keterpaduan antarmoda dan efisiensi dalam mendukung mobilitas manusia. 3) Menurunnya tingkat kecelakaan dan fatalitas kecelakaan lalu lintas di jalan serta meningkatnya kualitas pelayanan angkutan dalam hal ketertiban. serta BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-3 . 4. D. terutama angkutan umum di perkotaan. SASARAN Sasaran pembangunan transportasi nasional Tahun 2010-2014 adalah: 1. sedangkan penyelenggaraan transportasi yang efisien berkaitan dengan kemampuan pengembangan dan penerapan teknologi transportasi serta peningkatan kualitas SDM transportasi yang berdampak kepada maksimalisasi dayaguna dan minimasi biaya yang menjadi beban masyarakat. dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai Standar Pelayanan Minimal. Sasaran pembangunan transportasi perhubungan sebagai berikut: 1. Meningkatnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana transportasi guna mendorong pengembangan konektivitas antar wilayah. Penyelenggaraan kegiatan transportasi yang efektif berkaitan dengan ketersediaan aksesibilitas. pedoman teknis dan skema pendanaan yang ditetapkan. 2) Peningkatan kelaikan dan jumlah sarana LLAJ. Meningkatnya keselamatan. sejalan dengan perwujudan Indonesia yang aman dan damai serta adil dan demokratis. optimalisasi kapasitas. mendukung perwujudan sistem transportasi nasional dan wilayah (lokal). TUJUAN Mewujudkan penyelenggaraan transportasi yang efektif dan efisien yang didukung SDM transportasi yang berkompeten guna mendukung perwujudan Indonesia yang lebih sejahtera. keamanan dan kenyaman transportasi jalan. C. Transportasi Darat a. pedesaan dan antarkota. diwujudkan dalam sasaran sub sektor 3. 2.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pelayanan jasa transportasi senantiasa berpedoman kepada prinsip pembangunan berkelanjutan yang dituangkan dalam rencana induk.

terutama di wilayah perkotaan. melalui: a) Desentralisasi dan otonomi daerah. kendaraan dan penumpang yang diangkut. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-4 . c. dan penanganan dampak polusi udara serta pengembangan teknologi sarana yang ramah lingkungan. c) Memperjelas peran regulator. b. dan antarkota). pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta BUMN dan BUMD dalam pelayanan transportasi publik. andal dan ramah lingkungan serta terjangkau bagi masyarakat. serta meningkatkan pelayanan angkutan perintis. Untuk itu perlu didukung perencanaan transportasi perkotaan yang terpadu dengan pengembangan wilayah dan mengantisipasi perkembangan permintaan pelayanan serta didukung oleh kesadaran dan kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat. 3) Meningkatnya keselamatan dan keamanan pelayanan ASDP. peningkatan koordinasi dan kerjasama antarlembaga dan antarpemerintah pusat dan daerah dalam pembinaan transportasi jalan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 terciptanya pola distribusi nasional. pedesaan. 7) Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas yang baik. b) Meningkatnya peran serta swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan transportasi jalan (angkutan perkotaan. Bidang Transportasi Perkotaan 1) Mewujudkan tata cara dan konsep pembinaan transportasi perkotaan agar dapat dipahami seluruh pengguna jasa transportasi. 5) Meningkatnya keterjangkauan pelayanan transportasi umum bagi masyarakat luas di perkotaan dan pedesaan serta dukungan pelayanan transportasi jalan perintis di wilayah terpencil untuk mendukung pengembangan wilayah. pedesaan dan antarkota dalam provinsi. terutama meningkatnya kelancaran perpindahan antarmoda di dermaga penyeberangan. Bidang Transportasi Sungai. serta meningkatnya kinerja BUMN di bidang ASDP. 2) Meningkatnya kelaikan dan jumlah sarana pelayanan ASDP. 9) Terwujudnya penyelenggaraan angkutan perkotaan yang efisien dengan berbasis masyarakat dan wilayah. 4) Meningkatnya kelancaran dan jumlah penumpang. Danau dan Penyeberangan 1) Meningkatnya jumlah prasarana dermaga untuk meningkatkan jumlah lintas penyeberangan baru yang siap operasi maupun meningkatkan kapasitas lintas penyeberangan. 5) Meningkatnya peran serta swasta dan pemerintah daerah dalam pembangunan dan pengelolaan ADSP. 8) Meningkatnya SDM profesional dalam perencanaan pembinaan dan penyelenggaraan LLAJ. 6) Meningkatnya efektivitas regulasi dan kelembagaan transportasi jalan. terutama untuk angkutan perkotaan.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

2) Meningkatnya partisipasi dan peranserta institusi terkait dalam penyelenggaraan transportasi perkotaan; 3) Meningkatnya kualitas penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan perkotaan; 4) Meningkatnya efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan transportasi perkotaan berbasis angkutan massal; 5) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam peningkatan tertib lalu lintas; 6) Meningkatnya tertib lalu lintas dan keselamatan angkutan perkotaan; 7) Meningkatnya inovasi pengembangan dan teknologi transportasi perkotaan yang ramah lingkungan. d. Bidang Keselamatan Transportasi Darat 1) Terwujudnya prioritas kebijakan keselamatan jalan; 2) Terwujudnya keselamatan bagi pengguna jalan dan pengguna ASDP; 3) Terwujudnya penyediaan fasilitas jalan yang aman guna mengurangi tingkat fatalitas kecelakaan; 4) Terwujudnya penyediaan kendaraan yang lebih aman; 5) Meningkatkan pelaksanaan sistem keselamatan dan manajemen keselamatan termasuk pelaksanaan mekanisme pengawasan; 6) Meningkatkan kerjasama dan kemitraan guna mengurangi tingkat kecelakaan transportasi darat. 2. Transportasi Perkeretaapian a. Terwujudnya peran Pemerintah sebagai regulator penyelenggara perkeretaapian; b. Terwujudnya partisipasi Pemerintah Daerah, BUMN/BUMD dan swasta dalam penyelenggaraan perkeretaapian multioperator; c. Terwujudnya pemulihan fungsi dan keandalan prasarana dan sarana perkeretaapian; d. Terwujudnya perluasan jangkauan pelayanan perkeretaapian dengan keterpaduan intra dan antarmoda melalui pengembangan KA perkotaan/ komuter dan pembangunan jalur KA baru termasuk jalur ganda dan jalur KA menuju pusat–pusat industri, pelabuhan dan Bandar Udara; e. Terwujudnya program peningkatan keselamatan transportasi perkeretaapian; f. Terwujudnya peningkatan kinerja pelayanan angkutan KA baik penumpang dan barang yang berdaya saing; g. Terwujudnya dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan angkutan Kereta Api kelas ekonomi secara proporsional. 3. Transportasi laut Sasaran pembangunan transportasi laut sebagian besar terbagi dalam 2 (dua) aspek yaitu : a. b. c. Terwujudnya Peningkatan Pelayanan Transportasi Laut Nasional Terwujudnya Peningkatan Pembinaan Pengusahaan Transportasi Laut Terwujudnya Peningkatan Pelayanan Kepelabuhan Nasional

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-5

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

Terwujudnya Peningkatan Pembinaan Pengusahaan Pelabuhan Terwujudnya Peningkatan keamanan di perairan Indonesia Terwujudnya Peningkatan Keselamatan Pelayaran Transportasi Laut Terwujudnya Peningkatan pemeliharaan dan kualitas lingkungan hidup serta penghematan penggunaan energi di bidang transportasi laut. h. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia i. Terwujudnya Penyelenggaraan keperintisan Transportasi Laut j. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Administrasi Negara di Sektor Transportasi Laut 4. Transportasi Udara a. Terciptanya kualitas dan profesionalisme SDM Ditjen Perhubungan Udara bertaraf internasional dan terbentuknya kelembagaan yang optimal dan efektif sehingga dapat mendukung terwujudnya penyelenggaraan transportasi udara yang andal dan berdaya saing; b. Terwujudnya restrukturisasi kelembagaan dan reformasi peraturan pelaksanaan di bidang transportasi udara sebagai perwujudan amanah Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan sehingga memberikan peluang yang adil bagi masyarakat dan swasta untuk ikut berperan dalam penyelenggaraan transportasi udara sesuai dengan prinsipprinsip good governance; c. Terwujudnya fungsi sarana dan prasarana transportasi udara sesuai ketentuan sehingga dapat memberikan dukungan yang maksimal bagi perekonomian nasional yang berkelanjutan (sustainable growth); d. Tersedianya aksesibilitas pelayanan jasa transportasi udara di daerah perbatasan, terpencil dan rawan bencana; e. Tersedianya pelayanan jasa transportasi udara yang berkualitas, selamat, aman dan nyaman; f. Terwujudnya multi operator kebandarudaraan; g. Terwujudnya flag carrier yang tangguh dan mampu bersaing di pasar internasional; h. Terwujudnya peningkatan pelayanan komersial atau charter sebagai pengganti 30 % pelayanan keperintisan; i. Terwujudnya peningkatan kelaikan armada dan instrumen keselamatan penerbangan serta penurunan tingkat kecelakaan dan musibah penerbangan; j. Terwujudnya persaingan usaha yang kompetitif didalam industri penerbangan nasional, yang menjamin kelangsungan usaha. 5. Sekretariat Jenderal Sasaran Sekretariat Jenderal adalah: a. Tersedianya dokumen rencana pembangunan perhubungan baik jangka pendek, menengah, dan panjang, program dalam bentuk RKA dan formulasi pentarifan sebagai acuan dalam penyelenggaraan perhubungan; b. Tersedianya dokumen analisis dan evaluasi pelaksanaan rencana dan program perhubungan transportasi yang bersumber dari kerjasama dan

d. e. f. g.

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-6

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

pinjaman/ hibah luar negeri; c. Terwujudnya pengelolaan SDM Aparatur melalui pendekatan manajemen SDM yang profesional; d. Tersedianya Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan (Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan Atas Laporan Keuangan) diharapkan mendapat penilaian WTP(Wajar Tanpa Pengecualian) melalui : 1) Penatausahaan Piutang (PNBP); 2) Penatausahaan Persediaan; 3) Akuntansi Aset; e. f. g. h. Terwujudnya reformasi kelembagaan dan peraturan perundang - undangan di bidang perhubungan; Terwujudnya kerjasama luar negeri baik dalam skala regional maupun global; Terwujudnya pengembangan produk layanan komunikasi dan informasi yang handal dan dinamis; Terwujudnya pengembangan Pusat Komunikasi Publik sebagai single window komunikasi dan informasi Kementerian Perhubungan dan penguatan kemampuan organisasional; Terwujudnya pelaksanaan kajian kemitraan dan investasi infrastruktur sektor transportasi; Terwujudnya pelaksanaan kajian pelayanan jasa transportasi; Terwujudnya pelaksanaan kajian pedoman evaluasi pengelolaan lingkungan hidup sektor transportasi; Terwujudnya pelaksanaan kegiatan penunjang Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi. Terlaksananya penyusunan, pengumpulan dan pengolahan data statistik kecelakaan kapal; Terwujudnya kegiatan evaluasi pencarian data kecelakaan kapal; Terwujudnya pembinaan dan pengembangan humas dan hukum; Terwujudnya penyelenggaraan proses pemeriksaan lanjutan kecelakaan kapal; Terselenggaranya pendistribusian putusan Mahkamah Pelayaran; Tersedianya layanan data dan informasi perhubungan yang tepat dan akurat berbasis teknologi informasi. Untuk itu di Kementerian Perhubungan akan mengembangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya integrasi system database Kementerian Perhubungan, baik ditingkat pusat maupun di seluruh UPT di daerah. 2) Tercapainya Integrasi aplikasi-aplikasi diseluruh sub sektor Kementerian Perhubungan, baik ditingkat pusat maupun di seluruh UPT di daerah. 3) Terselenggaranya paperless office diseluruh kantor pusat maupun UPT di Daerah. 4) Terselenggaranya Aliran Data dan Komunikasi data yang lancar antara setiap sub sektor diseluruh kantor pusat dengan seluruh UPT di Daerah;
BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

i. j. k. l. m. n. o. p. q. r.

V-7

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

5) Terselenggaranya pembinaan yang baik bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap seluruh UPT di daerah, maupun dinas-dinas perhubungan di daerah; 6) Tercapainya rencana yang terdapat dalam KM 39 tahun 2009 mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Perhubungan.

6. Pendidikan Dan Pelatihan a. Terwujudnya standar kompetensi SDM Perhubungan dengan menyiapkan Program Pendidikan Lanjutan (Double Degree) S2 sebanyak 200 orang dan S3 sebanyak 75 orang, bekerjasama dengan UGM dan Unersitas yang ada di Swedia dan ITB dengan Universitas yang ada di Belanda; b. Terwujudnya standar kompetensi bagi tenaga pengajar yang memenuhi profesionalisme melalui Program Kursus Singkat (Short Course) baik di dalam maupun luar negeri sebanyak 100 orang per tahun; c. Program Pembibitan melalui beasiswa ikatan dinas bagi Penerbang (MPL12), Inspector (Aircraft Inspector Plus/AIP-30), ATC (ATC Auditor Plus/AAP30), Pelaut (Officer Plus/SOP60) serta Darat (Praja-40); d. Terwujudnya kurikulum dan silabus yang berlaku secara Nasional dan Internasional; e. Terwujudnya lulusan diklat sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan baik secara kualitas maupun kuantitas; f. Terwujudnya peningkatan frekuensi dan jenis diklat Perhubungan; g. Terwujudnya pembinaan dan peningkatan manajemen penyelenggaraan diklat Perhubungan dengan penataan kelembagaan dan peraturan perundang-undangan; h. Terwujudnya pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan standar yang dituntut oleh konvensi nasional dan internasional; i. Terwujudnya pelaksanaan pembaharuan sistem pendidikan termasuk kurikulum dan modul berupa diversifikasi jenis pendidikan secara profesional dan sesuai dengan kebutuhan pasar; j. Terwujudnya lembaga diklat yang sesuai dengan tujuan pendidikan dan pelatihan yang berbasis pada standar kompetensi; 7. Penelitian dan Pengembangan Terwujudnya hasil penelitian dan pengembangan transportasi yang dapat dimanfaatkan bagi peningkatan kinerja: a. b. c. d. e. f. a. Pelayanan transportasi nasional; Keselamatan dan keamanan transportasi; Pembinaan pengusahaan transportasi; SDM dan IPTEK; Pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi; Pelestarian lingkungan hidup dan penghematan energi. Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa yang diindikasikan dengan berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi dan dimulai

8. Pengawasan Aparatur

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-8

serta mencapai tujuan dan sasaran seperti tersebut di atas. STRATEGI Di dalam mewujudkan visi dan menjalankan misi. Tersedianya peralatan. Terwujudnya sistem pelaporan kecelakaan yang cepat dan akurat. f. E. Terwujudnya sinergi antara pengawasan fungsional. transparan. bagi dari unit/instansi lain. pelaksanaan dan akuntabilitas pengawasan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan. c. Terwujudnya budaya keselamatan transportasi pada masyarakat luas. akurat dan realiable. b. Terlaksananya investigasi dan penelitian kecelakaan transportasi lebih cepat. d. e. Strategi pembangunan masing-masing matra transportasi adalah sebagai berikut: a. efektif. 2. efisien. regional maupun global. Terwujudnya kualitas Organisasi. penataan penyelenggaraan perhubungan dilakukan melalui kegiatan pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dibarengi dengan pelaksanaan reformasi dan restrukturisasi kelembagaan dan peraturan di bidang perhubungan (regulatory reform). Strategi dan Penataan Penyelenggaraan Perhubungan Strategi ini diarahkan untuk penataan penyelenggaraan perhubungan dan dilanjutkan dengan penataan Sistem Transportasi Nasional sejalan dengan perubahan lingkungan strategis baik pada skala lokal. pengawasan melekat dan pengawasan masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan publik di sektor transportasi. Terwujudnya kehandalan perencanaan. peningkatan profesionalisme Sumber Daya Manusia Perhubungan dengan melibatkan peran serta swasta dalam pengoperasian dan pembangunan infrastruktur perhubungan. profesional dan akuntabel. SDM dan administrasi organisasi lebih baik dan meningkat. Terwujudnya Laboratorium Black Box yang handal dan berkualitas. b. ditempuh melalui 2 (dua) strategi pokok pembangunan perhubungan: 1. perlengkapan dan pendukung investigasi. serta mereposisi peran pemerintah dari operator dan pemilik (owner) menjadi regulator dan fasilitator. Strategi Pembangunan Perhubungan Strategi Pembangunan Perhubungan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan termasuk keselamatan dan keamanan dalam kerangka penyediaan aksesibilitas jasa perhubungan kepada masyarakat baik di seluruh pelosok tanah air maupun di manca negara. Terwujudnya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih. 9. c. Transportasi Darat 1) Strategi Penataan dan Peningkatan Penyelenggaraan Perhubungan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-9 . operator maupun masyarakat d.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 dari tataran pejabat yang paling atas. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) a.

b) Angkutan Penyeberangan Pengembangan Angkutan Penyeberangan dalam jangka panjang akan diselaraskan dengan pengembangan angkutan jalan. Pendekatan yang akan dilakukan dengan 5E (Engineering. Strategi penanganan keselamatan LLAJ yang dilakukan meliputi : Safer Management.Encoragment. sehingga perlu dilakukan relokasi ke tempat lain yang lebih memerlukan. a) Angkutan Jalan Kendala dalam penyediaan lahan untuk pembangunan jalan baru dalam jangka panjang akan dikendalikan dengan strategi optimalisasi pemanfaatan fasilitas jalan yang telah ada sesuai dengan kemampuan daya dukung jalan melalui pendayagunaan fasilitas jembatan timbang sebagai sarana pengawasan dan penegakan hukum. Safer System. serta mereposisi peran pemerintah dari operator dan pemilik (owner) menjadi regulator dan fasilitator. sedangkan strategi komplementer BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-10 . peningkatan profesionalisme Sumber Daya Manusia Perhubungan. Safer Vehicle dan Safer Road. penyediaan fasilitas keselamatan jalan serta penyediaan subsidi keperintisan dan sarana keperintisan. Penataan dan peningkatan penyelenggaraan perhubungan darat sebagai bagian integral dari pembangunan perhubungan secara global dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan pemerintah melalui kegiatan rehabilitasi sarana dan prasarana perhubungan darat dibarengi dengan pelaksanaan reformasi dan restrukturisasi kelembagaan dan peraturan perundang-undangan di bidang perhubungan (regulatory reform). Enforcement. Safer People. Keberadaan angkutan penyeberangan di suatu tempat akan berakhir bila telah tersedia fasilitas jembatan. Education. Strategi substitusi dilakukan apabila kegiatan angkutan penyeberangan tidak diperlukan lagi. Oleh karena itu pengembangan angkutan penyeberangan dalam jangka panjang akan disesuaikan dengan pengembangan jalan dan jembatan melalui strategi substitusi dan strategi komplementer. 2) Strategi Pembangunan Perhubungan Darat Strategi Pembangunan perhubungan darat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan dalam kerangka penyediaan aksesibilitas jasa perhubungan darat kepada masyarakat baik di seluruh pelosok tanah air maupun di manca negara. Emergency).RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Darat Strategi ini diarahkan untuk melakukan penataan dan peningkatan penyelenggaraan perhubungan sejalan dengan perubahan lingkungan strategis baik pada skala lokal. regional maupun global. dengan pemihakan kepada peran serta swasta dalam pengoperasian dan pembangunan infrastruktur perhubungan.

Langkahlangkah tersebut mengikuti alur pikir yang logis dimana tahapan kegiatan yang disusun sesuai dengan jenis. skala. sehingga angkutan penyeberangan diposisikan sebagai derived demand angkutan jalan dan pengembangannya lebih difokuskan kepada optimalisasi dan kompatibilitas elemenelemen dalam sistem angkutan penyeberangan. mulai dari penyiapan regulasi terutama dalam mewujudkan eksistensi Ditjen Perkeretaapian sebagai regulator penyelenggaraan perkeretaapian khususnya penyelenggaraan multioperator.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 adalah bila angkutan penyeberangan mampu bersinergi dengan angkutan jalan. Dengan mengkaji sasaran pembangunan perkeretaapian di Indonesia dan kebijakan umum pembangunan bidang perhubungan maka dapat disusun berbagai langkah perbaikan yang diperlukan untuk membawa kondisi perkeretaapian Indonesia menuju kondisi yang diharapkan. dan perannya yang marginal dalam transportasi nasional. sampai dengan perbaikan manajemen pengelolaan. peningkatan kapabilitas sumber daya. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu strategi umum (grand strategy) yang memayungi kebijakan dan program strategis yang disusun sehingga setiap detail program pembangunan memiliki keterkaitan yang saling mendukung satu dengan yang lainnya dalam kerangka strategi yang BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-11 . b. investasi prasarana. tingkat kecelakaan yang tinggi. c) Transportasi Perkotaan Kondisi perkotaan yang semakin berkembang menuntut ketersediaan ruang yang memadai dan permintaan jasa transportasi yang semakin besar. reliabilitas pelayanannya rendah. menciptakan keterpaduan antar moda di kawasan perkotaan serta tersedianya fasilitas keselamatan yang memadai. angkutan massal. dan urgensi permasalahan yang dihadapi. meningkatkan rekayasa dan manajemen lalu lintas. penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan. Transportasi Perkeretaapian Kondisi perkeretaapian Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. hal ini diperlihatkan dari kondisi prasarananya banyak yang rusak dan out-of-date. perlu didahului dengan pengembangan sistem transportasi perkotaan yang menerus yang tidak mengenal batas administrasi wilayah terutama pada kotakota aglomerasi dimana kebutuhan bagi para komuter cukup tinggi. Strategi lainnya guna mendukung pengembangan transportasi perkotaan adalah masih perlunya intervensi pemerintah terutama dalam membatasi pertumbuhan pemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi. Untuk membawa kondisi ini kepada kondisi dan peran yang diharapkan diperlukan banyak sekali penyempurnaan dari semua lini. hemat BBM. sehingga diperlukan strategi pengembangan angkutan perkotaan yang mempertimbangkan besarnya skala pelayanan secara berkesinambungan melalui pengembangan angkutan perkotaan.

simulasi dan pengujian petugas operasi dan peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang serta penegakan hukum. Partial Double Track maupun Double Track. 6) Pembangunan Lintas Baru Strategi pembangunan lintas baru dilakukan dengan indikator tingkat kecepatan ≥ 250 Km/Jam. penataan kelembagaan perkeretaapiaan diantaranya dengan akreditasi lembaga pengujian serta lembaga sertifikasi sarana/prasarana KA dan lembaga lainnya yang dibutuhkan khususnya untuk mendukung penyelenggaran perkeretaapian multioperator. beban gandar: KA Penumpang ≥ 18 Ton dan KA Barang ≥ 22 Ton. 4) Kapasitas Lintas Strategi peningkatan kapasitas lintas dilakukan dengan pendekatan Pos Blok. Dengan peran tersebut terdapat beberapa hal yang diperlukan diantaranya kesiapan regulasi di bidang perkeretaapian yaitu penyelesaian peraturan baik Peraturan/Keputusan Menteri maupun Direktur Jenderal serta penyusunan pedoman-pedoman teknis lainnya. 3) Jumlah Armada dan Utilitasnya Strategi peningkatan utilitas dan jumlah armada dilakukan dengan pendekatan efisiensi operasi melalui maksimalisasi daya tarik lokomotif. 2) Keselamatan Strategi peningkatan keselamatan dilakukan melalui pendekatan pengujian dan sertifikasi kelaikan prasarana dan sarana. bahwa Pemerintah merupakan regulator penyelenggaraan perkeretaapian. Selain itu juga dibutuhkan penegakan hukum. 23 tahun 2007. serta pengembangan KA angkutan batubara di lokasi yang potensial. audit khusus prasarana dan sarana. pengaktifan lintas cabang. pembangunan infrastruktur KA menuju Bandar Udara dan pelabuhan dalam mengupayakan keterpaduan intra dan antar moda dalam sistem angkutan jalan rel. Gauge (Lebar Spoor) 1. dengan pengembangan KA sebagai angkutan massal yang handal diharapkan dapat mendukung terlaksananya sistem transportasi yang bebas polusi dan ramah terhadap lingkungan.435 Mm. Selain hal tersebut. 1) Pemerintah sebagai Regulator Penyelenggaraan Perkeretaapian Sesuai dengan amanat UU No. elektrifikasi. pelaksanaan random check sarana. Pengembangan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-12 . menghidupkan lintas mati. optimalisasi armada dengan memaksimalisasi pelayanan. 5) Aksesibilitas dan Pelayanan Strategi pengembangan aksesibilitas dilakukan melalui pendekatan pengembangan kereta api perkotaan sebagai angkutan massal berbasis jalan rel.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 runtut. refreshing regular. Diagram alur strategi umum (grand strategy) yang disusun untuk pengembangan perkeretaapian nasional di Indonesia.

KRL. Peningkatan Keselamatan Penyehatan dan Kelaikan Sarana Penyehatan dan Kelaikan Prasarana Penyehatan dan Sertifikasi SDM Peningkatan Keselamatan di JPL b. Peningkatan Jumlah Armada dan Utilitasnya  Efisiensi Operasi  maksimalisasi daya tarik lokomotif  Optimaliasi Armada  maksimalisasi km . Penataan Kelembagaan 2. Jawa: Penumpang e. KEBIJAKAN Mewujudkan Eksistensi Pemerintah sebagai Regulator Mewujudkan Penyelenggaraan KA Multioperator Meningkatkan Peran KA sebagai Angkutan Massal Melibatkan Peran Swasta dan Pemerintah Daerah STRATEGI 1.34 milyar ton km MASALAH Sering terjadi kecelakaan Kualitas pelayanan rendah Share KA masih ren dah Waktu tempuh lama Jumlah KA Ekonomi menurun Jumlah Armada terbatas dan sudah tua Belum terpadu dengan Moda Transportasi Lain PT. PEMBANGUNAN a.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 lintas baru di Jawa difokuskan kepada angkutan penumpang. Sarana (lokomotif.6 jt ton. Beban gandar:  KA Penumpang > 18 ton  KA Barang > 22 ton c.435 mm d. Penyelesaian peraturan perundangan b. PENYELENGGARAAN MULTIOPERATOR 3.km: 4. PEMERINTAH SBG REGULATOR a.51 milyar orang km BRG : 19.km: 18. Peningkatan Kapasitas Lintas  Pos B lok  Partial Double Track 4. sedangkan di luar Jawa dititikberatkan kepada angkutan barang dengan optimalisasi peran serta swasta dan Pemerintah Daerah. km . gerbong) Sumber Daya Manusia PRESTASI PNP: 197. vol . PENINGKATAN     a. pnp . Kec epatan > 250 km/jam b.Antar Moda  Angkutan yang ramah lingkungan 5.lok.ka dan km -gerbong c. PENGEMBANGAN AKSESIBILITAS  KA Perkotaan/ Regional  Aktifkan Lintas Cabang  Hidupkan Lintas Mati  Keterpaduan Intra . Transportasi Laut 1) Angkutan Laut Dalam rangka meningkatkan share muatan pelayaran nasional dilakukan melalui beberapa strategi: a) Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif Penciptaan iklim usaha dan investasi yang kondusif antara lain dilakukan melalui regulasi terkait dengan pemberian kemudahan perbankan dan fasilitas perpajakan serta penetapan term of trade yang berpihak kepada industri pelayaran nasional. KRD. Gauge: 1 .8 jt orang. Luar Jawa: Barang POTENSI PASAR Penumpang Perkotaan Jabodetabek Bandung Surabaya            KONDISI PERKERETAAPIAN INDONESIA POTENSI Prasarana . sehingga dapat BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-13 . KA sebagai Badan Penyelenggara Tunggal Antar Kota Jarak Jauh Jarak Sedang Lokal Barang BBM Batubara Kertas Pulp Semen Baja CPO Pupuk                      SASARAN Jangka Pendek/ Menengah  Multioperator Regulator  Kapasitas Angkut Kesiapan Regulasi Pelayanan  Aksesibilitas Ketepatan Waktu  Keterpaduan Intermoda Keselamatan dan Antarmoda Jangka Panjang High Speed Train (HST) KA Penumpang  Jak-Sby : 3 jam  Jak-Bd : 1 jam Kemampuan Angkut KA Barang Tinggi (Tekanan Gandar > 22 ton) Gambar V-1 Diagram Alur Grand Strategy Pembangunan Perkeretaapian Indonesia c. kereta.

Di samping itu. b) Pendanaan Kebutuhan pendanaan bagi pengembangan angkutan laut nasional diharapkan dapat diperoleh baik dari lembaga keuangan bank maupun non-bank. Penyelenggaraan angkutan laut perintis dilakukan untuk membuka daerah terisolasi dan daerah non-komersial.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 meningkatkan kinerja industri pelayaran di Indonesia. Peningkatan teknologi perkapalan Peningkatan BAB V teknologi perkapalan dilakukan dengan ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-14 . c) Kepastian muatan Kepastian muatan antara lain direalisasikan dalam bentuk kontrak angkutan jangka panjang (multi years contract) antara pemilik kapal dan pemilik barang. Perbaikan Sistem Manajemen Perbaikan sistem manajemen dilakukan melalui perbaikan manejemen operasional yang efisien. adalah sebagai berikut: 1. Diperlukan kepastian pendanaan dari pemerintah. Beberapa strategi untuk pengembangan pelayaran rakyat. Melalui forum Informasi Muatan dan Ruang Kapal (IMRK) akan didapatkan informasi secara terus menerus mengenai ruang muat kapal dan ketersediaan muatan yang siap dikapalkan. sejalan dengan itu diperlukan kontrak jangka panjang agar operator mampu menyediakan kapasitas angkutan yang memadai melalui peremajaan armadanya. disamping kemampuan industri pelayaran untuk berkembang dengan hasil aktivitas usahanya sendiri. Minat lembaga keuangan untuk membiayai peremajaan dan pembangunan armada pelayaran nasional perlu didukung oleh iklim usaha yang kondusif dan kepastian adanya muatan yang diangkut oleh perusahaan pelayaran. peningkatan keahlian manajerial dan peningkatan kualitas. kepastian muatan harus didukung oleh tersedianya kapasitas armada nasional yang cukup sehingga diperlukan peningkatan kapasitas produksi industri galangan kapal secara nasional. Pemerintah dalam hal ini akan berperan sebagai fasilitator untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan melalui mekanisme seperti two-step loan dan berbagai skema pendanaan lainnya. penerapan azas cabotage dan pembatasan jumlah pelabuhan yang terbuka bagi perdagangan luar negeri juga akan memberikan kemudahan bagi terciptanya kepastian muatan untuk armada angkutan laut nasional. Pada sisi lain. strategi yang hendak diterapkan adalah strategi pendanaan dan strategi kepastian muatan. 2. Khusus untuk kegiatan angkutan laut perintis.

Berdasarkan strategi pengembangan angkutan laut secara parsial. 17. Merancang jenis kapal yang tepat untuk daerah operasi tertentu. Industri pelayaran tradisional Dilakukan melalui institusi pendanaan dan pembangunan infrastruktur. Mendorong pelayaran rakyat memanfaatkan teknologi dan manajemen untuk penyelenggaraan yang efisien dan efektif. 4. 11. 16. Mengoptimalkan lembaga pendanaan baik bank maupun non bank. Melakukan kontrak jangka panjang angkutan laut perintis dengan swasta untuk peremajaan armada. 4. 7. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan angkutan laut perintis secara periodik. 2) Kepelabuhanan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-15 . Mendorong pengembangan industri galangan secara bertahap dengan jaminan kepastian muatan. Meninggalkan rute perintis yang mulai bersifat komersial. Menyederhanakan pemberian fasilitas pajak bagi usaha di bidang angkutan laut nasional. Menyediakan kapal perintis sebagai embrio pengembangan armada niaga nasional. 12. Mendorong terwujudnya kepastian pelayanan perintis secara efektif dan sistematis. 10. 3. 6. 9. 5. Mengurangi subsidi pemerintah secara bertahap dengan cara memperkuat daya saing operator angkutan laut perintis. maka strategi peningkatan kapasitas armada angkutan laut nasional adalah: 1. 15. Membatasi pelabuhan yang terbuka untuk ekspor. 2. Memberikan insentif yang wajar dalam iklim usaha angkutan laut nasional. Mendorong perubahan term of trade sehingga ekspor dapat dilaksanakan dengan CIF (Cost Insurance Freight) dan impor dapat dilaksanakan dengan FOB (Freight on Board). utilitas kapal modern dan pengenalan kapal. Melaksanakan azas cabotage secara penuh. 3. 14. Melakukan kontrak jangka panjang muatan antara shippers dan ship owners yang dimulai oleh BUMN dan perusahaan pelayaran nasional. Menyusun rerouting tahunan sejalan dengan keberhasilan penyelenggaraan angkutan laut perintis.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 penggunaan kapal kayu. 13. Reposisi area pelayaran Dilakukan dengan rerouting dan connecting dengan pelayaran antar pulau serta identifikasi daerah-daerah pelayanan baru. 8.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

Strategi pengembangan dan peningkatan pelayanan pelabuhan laut nasional adalah: a) Mempersiapkan hub internasional port secara bertahap agar Pelabuhan di Indonesia mampu mengangkut muatan dari dan ke Indonesia melalui pelabuhan di Indonesia yang sementara ini sebagai hinterland oleh pelabuhan Singapura. b) Mengembangkan Pelabuhan Pontianak, Tarakan, Samarinda dan Balikpapan dengan posisi sebagai intenasional port dan diharapkan Pelabuhan Pontianak nantinya sebagai feeder bagi Pelabuhan Batam; c) Mengembangkan Pelabuhan Bitung menjadi hub internasional port dengan Pelabuhan Ternate dan Jayapura sebagai feeder-nya; d) Mengembangkan pelabuhan di Pulau Jawa didasarkan atas peningkatan permintaan (demand), seperti Pelabuhan Bojonegara dan Teluk Lamong Surabaya; e) Memproyeksikan Pelabuhan Kupang sebagai antisipasi perdagangan dengan Australia. f) Mengkaji ulang dan mengembangkan indikator kinerja operasional pelabuhan dengan menyusun pedoman kinerja operasional untuk diterapkan pada masing-masing pelabuhan; g) Merencanakan secara berkala kebutuhan pengembangan kapasitas pelabuhan yang tercantum dalam Rencana Induk setiap pelabuhan; h) Merancang secara berkala prioritas pengembangan fasilitas, perangkat lunak maupun SDM kepelabuhanan sesuai Rencana Induk; i) Melakukan monitoring secara berkala terhadap hasil pelayanan jasa kepelabuhanan melalui otomatisasi sistem pelaporan; j) Menyusun pedoman teknis pembangunan dan pengembangan pelabuhan untuk pembangunan dan pengembangan fasilitas, pemeliharaan fasilitas, monitoring kegiatan pembangunan, pengerukan dan reklamasi, pengaturan lalu-lintas kapal serta penyelenggaraan pelabuhan khusus; k) Meningkatkan manajemen lalu-lintas kapal di pelabuhan dengan teknologi informasi yang bersifat real time; l) Melakukan kerjasama dengan sektor terkait dalam mengantisipasi perkembangan pasar; m) Mengkaji kembali secara berkesinambungan pola tatanan kepelabuhanan nasional sejalan dengan perkembangan dan perubahan kinerja sektor produksi. 3) Keselamatan Pelayaran Strategi pengembangan dan peningkatan keselamatan pelayaran nasional adalah: a) Meningkatkan pelayanan keselamatan pelayaran; b) Peningkatan kompetensi SDM;

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-16

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

c) Reformasi regulasi bidang keselamatan pelayaran; d) Menumbuhkan peran serta masyarakat melalui sosialisasi keselamatan pelayaran; e) Restrukturisasi dan revitalisasi kelembagaan; f) Meningkatkan pemeliharaan dan kualitas lingkungan hidup serta penghematan penggunaan energi di bidang transportasi laut; g) Meningkatkan penegakkan hukum di laut (law enforcement). d. Transportasi Udara Didalam mewujudkan visi dan menjalankan misi, serta mencapai tujuan dan sasaran pembangunan sub sektor transportasi udara dalam jangka menengah (2010-2014), maka dilakukan 2 (dua) strategi pokok pembangunan transportasi udara, yaitu : 1) Strategi Penataan Penyelenggaraan Perhubungan Udara Strategi ini diarahkan untuk melakukan penataan Sistem Transportasi Nasional sejalan dengan perubahan lingkungan strategis, baik skala lokal, regional maupun global. Lingkungan strategis yang significant, diantaranya spirit 3S + 1C; ICAO-USOAP; Realisasi ANSP Single Provider; Road Map To Zerro Accident; Pro Job, Pro Poor dan Pro Growth; serta penyediaan prasarana di daerah rawan bencana; daerah perbatasan dan terpencil untuk mendukung integritas NKRI. Penataan tersebut dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi sarana dan prasarana perhubungan udara sejalan dengan pelaksanaan reformasi dan restrukturisasi kelembagaan serta peraturan perundang-undangan di bidang perhubungan udara (regulatory reform), peningkatan profesionalisme sumber daya manusia Perhubungan Udara, serta peningkatan peran swasta dalam pengelolaan transportasi udara, serta mereposisi peran pemerintah menjadi regulator dan fasilitator. 2) Strategi Pembangunan Perhubungan Udara Strategi pembangunan perhubungan udara diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan dalam kerangka penyediaan aksesibilitas jasa perhubungan udara kepada masyarakat, baik di seluruh pelosok tanah air maupun di manca negara. Strategi pembangunan perhubungan udara diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan dalam kerangka penyediaan aksesibilitas jasa perhubungan udara kepada masyarakat, baik di seluruh pelosok tanah air maupun di mancanegara. Pembangunan perhubungan udara dilaksanakan dengan pedoman sebagai berikut: a) Pembangunan perhubungan udara dilakukan berdasarkan penerapan prinsip ekonomi dalam rangka memaksimumkan manfaat dan meminimumkan biaya dengan penggunaan asumsi yang rasional dan variabel-variabel ekonomi yang signifikan, sehingga dapat menghasilkan pengembalian biaya (cost recovery), baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang;

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-17

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

b) Pembangunan perhubungan udara dilakukan dengan mempertimbangkan aspek politik, sosial dan budaya masyarakat, sehingga hasil pembangunan perhubungan udara memiliki dayaguna yang tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat; c) Pembangunan perhubungan udara difokuskan pada segmensegmen tertentu dalam rangka menunjang kegiatan sektor-sektor lain yang memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberdayakan daerah; d) Pembangunan perhubungan udara dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kemanan, keadilan, kepastian hukum dan kelestarian lingkungan dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan (sustainable development); e) Pembangunan perhubungan udara dilakukan dengan orientasi peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui dua pendekatan sekaligus yaitu mekanisme pasar dan campur tangan pemerintah dalam rangka meminimalisasi kegagalan pasar (market failure); f) Pembangunan perhubungan udara dilakukan sesuai dengan arah pengembangan sosial dan ekonomi yang diadopsi dalam perencanaan makro nasional, perencanaan sektoral, perencanaan daerah dan penganggaran secara realistis dan nasional; g) Pembangunan perhubungan udara dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat (sektor swasta) untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan dan melakukan pengawasan, baik skala kecil, menengah maupun skala besar. h) Pelayanan Transportasi Udara Upaya peningkatan pelayanan transportasi udara dilakukan melalui strategi on time performance dan optimalisasi implementasi standar, prosedur dan peraturan di bidang keselamatan, strategi peningkatan daya saing industri angkutan udara nasional, strategi kompatibilitas prasarana Bandar Udara dengan pola jaringan prasarana dan pelayanan transportasi udara, dan strategi optimum tarif sesuai dengan jasa pelayanan yang diberikan. Strategi-strategi ini dilakukan untuk menghadapi liberalisasi angkutan udara seluruh wilayah ASEAN dengan time frame 2008-2015. i) Sarana
(1) Armada

Penyediaan armada udara dalam rangka optimalisasi pelayanan transportasi udara nasional dilakukan dengan penerapan strategi peningkatan peran pemerintah dalam melakukan evaluasi teknis, operasi, ekonomi, SDM dan keuangan khususnya dalam penerbitan sertifikat operator pesawat udara; penyempurnaan dan harmonisasi dengan peraturan internasional dalam penerbitan sertifikasi tipe dan
BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-18

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

sertifikasi produksi pesawat; audit mutu berkala AOC (sertifikat operator pesawat udara); ijin pengoperasian pesawat udara dalam negeri terkait dengan registrasi asing dan tanda pendaftaran Indonesia bagi pesawat udara sipil milik warga negara atau badan hukum asing.
(2) Sertifikasi dan Kelaikan Udara, Pengoperasian dan Perawatan Pesawat Udara dilakukan melalui strategi-strategi keselamatan sebagai berikut:

a.

Modifikasi pintu tahan peluru bagi pesawat udara berkapasitas lebih dari 30 penumpang; b. Penerapan Reduce Vertical Separation Minimal (RVSM) untuk pesawat jenis jet penumpang dan cargo (termasuk penerbangan eksekutif); c. Penerapan manajemen penerbangan secara horizontal (RNP 10); d. Penerapan manajemen kebisingan melalui pembatasan jam operasi bagi Bandar Udara yang lokasinya dekat dengan pemukiman padat; e. Pembatasan masuknya pesawat tua yang berumur > 20 tahun; f. Mendorong operator menggunakan komunikasi dengan data link dan navigasi via frekuensi atau satelit termasuk penggunaan alat bantu surveillance (ADS/B) broadcasting dengan pemasangan ATC transponder mod S; g. Mensyaratkan untuk pemasangan ELT dengan freq 121,5 dan 406 MHz 2 unit bagi pesawat yang beroperasi di atas perairan atau pesawat yang beroperasi 50 mile dari pesisir pantai dan 1 unit pesawat yang beroperasi di atas daratan; h. Memberikan kemudahan penyebaran pusat-pusat perawatan pesawat udara di luar Pulau Jawa khususnya pada Bandar Udara yang bukan titik penyebaran untuk menjadi home base perawatan; i. Memfasilitasi kemampuan perawatan komponen pesawat udara yang memerlukan keahlian kusus dan ketelitian tinggi, serta memfasilitasi kerjasama perawatan pesawat udara antar perusahaan penerbangan. j) Prasarana
(1) Bandar Udara

Pengembangan Bandar Udara dalam jangka panjang akan mengikuti strategi optimalisasi, pendanaan, antisipasi keadaan darurat, keterbukaan, sinergi operasi, sertifikasi, eco-airport, dan otomatisasi Bandar Udara. Strategi optimalisasi dan antisipasi keadaan darurat dilakukan pada Bandar Udara di lokasi bencana dan Bandar Udara kawasan perbatasan; strategi pendanaan dengan pola pendanaan campuran

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-19

strategi sertifikasi terkait dengan pemenuhan dokumen pengoperasian Bandar Udara (Rencana Induk. beretika sesuai dengan nilai-nilai Lima Citra Manusia Perhubungan. netral. inventarisasi barang milik negara/revaluasi asset. pemanfaatan barang BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-20 . e. Strategi eco-airport terkait dengan kewajiban menyusun dokumen AMDAL. strategi restrukturisasi rute penerbangan berbasis GNSS dan strategi integrasi NASC. masyarakat selaku pengguna jasa transportasi. 2) Merumuskan dan mengkoordinasikan penyusunan peraturan perundang-undangan dan kerjasama luar negeri. strategi sinergi operasi difokuskan pada penggunaan Bandar Udara secara bersama sipil dan militer pada sisi yang berbeda. dan pemerintah. 5) Melakukan kajian kelembagaan dan ketatalaksanaan menuju kelembagaan dan ketatalaksanaan yang berbasis kinerja dan kemanfaatan hasil (out come). kepentingan operator. (2) Navigasi Penerbangan: Pengembangan navigasi penerbangan dalam jangka panjang khususnya pelaksanaan manajemen lalu lintas udara dilakukan dengan strategi harmonisasi Air Navigation Service Provider (ANSP). strategi keterbukaan terkait dengan kerjasama penyelenggaraan Bandar Udara dan pengelolaan fasilitas.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 dilakukan dengan mengedepankan peran swasta dan pemerintah daerah dalam pembangunan Bandar Udara baru yang didasarkan pada kelayakan investasi sesuai dengan mekanisme pasar. 6) Melakukan tata laksana Keuangan Negara. yaitu: audit security. Sekretariat Jenderal 1) Menyusun kerangka makro perencanaan dan kebijakan penyelenggaraan pembangunan perhubungan sesuai dengan prinsipprinsip good governance. 4) Membangun SDM Aparatur Kementerian Perhubungan yang profesional. pemeriksaan barang kiriman dengan anjing pelacak. Disamping itu akan diterapkan strategi implementasi ATN Air ground untuk komunikasi penerbangan. 3) Merumuskan kebijakan pentarifan dengan mempertimbangkan aspek pasar. pengadaan barang/jasa. akuntabel. strategi otomatisasi dilakukan dengan penerapan otomatisasi Bandar Udara sesuai dengan perkembangan teknologi mutakhir. KKOP dan Batas Kawasan Kebisingan). (3) Keamanan Penerbangan Di bidang keamanan penerbangan dalam jangka panjang akan mengikuti strategi ofensif. dan penggunaan Sky Marshall sebagai sistem pengamanan di dalam pesawat udara. strategi pengembangan Air Traffic Flow dan strategi management sesuai dengan strategi regional (Asia – Pasifik).

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

7) 8)

9) 10) 11) 12) 13)

14)

milik negara yang belum dimanfaatkan, serta intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP; Membangun citra publik (image building) melalui harmonisasi fungsi kehumasan dan hubungan antar lembaga; Melakukan pembinaan dan pengembangan sistem informasi manajemen perhubungan melalui penggunaan data base dan sistem pengolahan data; Mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan publik melalui rekomendasi yang implementatif; Mendorong percepatan penyediaan infrastruktur transportasi melalui kerjasama pemerintah swasta; Mendorong pengarusutamaan perubahan iklim di sektor transportasi; Melakukan kegiatan pemasyarakatan/ sosialisasi, penataan perangkat hukum, kewenangan dan kelembagaan; Mempertegas kewenangan Mahkamah Pelayaran dengan harapan agar Mahkamah Pelayaran mampu melakukan penegakan hukum pelayaran secara cepat, tepat, adil dan independen; Penataan kelembagaan Mahkamah Pelayaran secara menyeluruh, dimana Mahkamah Pelayaran dimungkinkan dapat membentuk perwakilan di daerah sesuai kebutuhan.

f.

Pendidikan dan Pelatihan Transportasi 1) Strategi Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Strategi ini diarahkan untuk menata kembali dan meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan di bidang Perhubungan melalui kegiatan pemulihan dan pengembangan sarana dan prasarana diklat yang diiringi dengan kebijakan serta ketentuan di bidang pendidikan, peningkatan profesionalisme Sumber Daya Manusia Perhubungan dengan berorientasi pada perkembangan Iptek. Adapun langkah-langkah strateginya adalah: a) Meningkatkan pembinaan penyelenggaraan diklat-diklat melalui monitor dan evaluasi ke UPT-UPT Diklat; b) Mengoptimalkan penggunaan fasilitas pendidikan dan mengkaji kelemahan/kekurangan fasilitas diklat untuk diupayakan perbaikan dan pengadaannya; c) Menyempurnakan kebijakan-kebijakan Diklat khususnya yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan; d) Meningkatkan promosi program-program Diklat Perhubungan kepada masyarakat; e) Mengembangkan Kelembagaan Diklat Perhubungan melalui kerjasama dalam maupun luar negeri; f) Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga pengajar dan siswa sebagai upaya menghasilkan standar mutu nasional dan internasional; g) Menyesuaikan kelembagaan Sekolah Tinggi Kedinasan dengan UU No 20 Tahun 2003.

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-21

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

2) Strategi Pembangunan Pendidikan dan Pelatihan Salah satu keberhasilan Badan Diklat Perhubungan ditunjang dengan pemberdayaan dan pengembangan SDM Perhubungan melalui pelaksanaan Diklat agar tercipta kuantitas dan kualitas sumber daya yang profesional dan berdaya saing tinggi serta berdedikasi dalam memenuhi tuntutan perkembangan Iptek yang semakin pesat. Sesuai dengan strategi yang telah dijabarkan sebelumnya, pembangunan pendidikan dan pelatihan dilaksanakan dengan berpedoman sebagai berikut: a) Pembangunan pendidikan dan pelatihan perhubungan dilakukan berdasarkan penerapan prinsip efisiensi dan optimalisasi dalam rangka mengoptimalkan output serta meminimumkan biaya penyelenggaraan pendidikan; b) Pembangunan pendidikan dan pelatihan perhubungan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial-budaya masyarakat dan aspek teknologi maju sehingga hasilnya memiliki daya guna bagi institusi Kementerian Perhubungan; c) Pembangunan pendidikan dan pelatihan perhubungan diarahkan kepada peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui mekanisme perekrutan siswa/taruna dalam rangka penciptaan lapangan kerja yang kompetitif; d) Pembangunan pendidikan dan pelatihan perhubungan dilakukan sesuai dengan arah pengembangan kelembagaan Diklat yang diadopsi dalam perencanaan jangka panjang, perencanaan strategis, perencanaan kerja dan penganggaran secara realistik dan rasional. 3) Penelitian dan Pengembangan Upaya peningkatan kinerja penelitian dan pengembangan transportasi dilakukan melalui strategi: a) Penajaman prioritas penelitian dan pengembangan transportasi yang berorientasi kepada permintaan, kebutuhan masyarakat termasuk dunia usaha dan industri dengan roadmap yang jelas; b) Peningkatan kapasitas dan kapabilitas penelitian dan pengembangan melalui perkuatan kelembagaan, sumberdaya dan jaringan, baik di pusat maupun di daerah; c) Mengembangkan skema insentif yang tepat dalam penciptaan iklim inovasi untuk mendorong perkuatan struktur industri transportasi. g. Pengawasan Aparatur Strategi pengembangan jangka panjang dalam rangka peningkatan pengawasan dan penanggulangan penyalahgunaan dalam bentuk praktekpraktek KKN adalah sebagai berikut: 1) Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat, lini dan kegiatan;
BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-22

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

2) Mengarahkan peran Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) sebagai Quality Assurance dalam mendukung pencapaian sasaran strategis, terutama percepatan pemberantasan praktek KKN di lingkungan Kementerian Perhubungan; 3) Kebijakan pelaksanaan pengawasan diarahkan untuk meningkatkan ketaatan aparatur negara dalam pelaksanaan tugas maupun pengelolaan anggaran berdasarkan ketentuan yang berlaku; 4) Percepatan pelaksanaan dan penyelesaian tindak lanjut hasil audit secara tepat waktu sehingga bermanfaat untuk peningkatan kinerja Kementerian Perhubungan secara menyeluruh; 5) Peningkatan efektivitas pengawasan aparatur negara melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat; 6) Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia (struktural maupun fungsional) yang profesional di bidangnya, baik teknis maupun administratif melalui penyelenggaraan Diklat internal maupun eksternal.

F. KEBIJAKAN UMUM
Kebijakan Umum Kementerian Perhubungan dalam pembangunan penyelenggaraan transportasi (2010-2014) meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. dan

Mendukung pergerakan kelancaran mobilitas penumpang dan distribusi barang/ jasa untuk mendorong pengembangan konektivitas antar wilayah dan meningkatkan daya saing produk nasional; Mewujudkan ketahanan nasional dan wawasan nusantara guna memantapkan penalaran keutuhan NKRI; Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi guna memberikan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa transportasi; Memberikan ruang seluas-luasnya kepada daerah berdasarkan kewenangannya dan memberikan kemudahan kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan angkutan massal; Mendorong partisipasi peran serta swasta dengan memperhitungkan tingkat pelayanan agar tetap terjaga efisiensi, pemerataan kepentingan daya beli masyarakat lainnya serta kepentingan operator terkait dengan jaminan kelangsungan usaha; Meningkatkan kualitas SDM Transportasi guna mewujudkan penyelenggaraan transportasi yang handal, efisien dan efektif; Mendorong pengembangan teknologi transportasi yang ramah lingkungan sebagai antisipasi terhadap dampak perubahan iklim.

2. 3. 4.

5.

6. 7.

G. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
1. TRANSPORTASI DARAT a. Transportasi Jalan 1) Meningkatkan kondisi pelayanan prasarana jalan melalui penanganan
BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-23

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014

2)

3)

4)

5)

muatan lebih secara komprehensif, dan melibatkan berbagai instansi terkait. Meningkatkan keselamatan lalu lintas jalan secara komprehensif dan terpadu dari berbagai aspek (pencegahan, pembinaan dan penegakan hukum, penanganan dampak kecelakaan dan daerah rawan kecelakaan, sistem informasi kecelakaan lalu lintas dan kelaikan sarana, serta ijin pengemudi di jalan). Meningkatkan kelancaran pelayanan angkutan jalan secara terpadu: (1) penataan sistem jaringan dan terminal; (2) manajemen lalu lintas; (3) pemasangan fasilitas dan rambu jalan; (4) penegakan hukum dan disiplin di jalan; (5) mendorong efisiensi transportasi barang dan penumpang di jalan melalui deregulasi pungutan dan retribusi di jalan, penataan jaringan dan ijin trayek; (6) kerjasama antar lembaga pemerintah (pusat dan daerah). Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kepada masyarakat diantaranya melalui penyediaan pelayanan angkutan perintis pada daerah terpencil. Meningkatkan kinerja peraturan dan kelembagaan melalui: a) Penataan sistem transportasi jalan sejalan dengan sistem transportasi nasional dan wilayah (lokal); diantaranya melalui penyusunan RUJTJ (Rancangan Umum Jaringan Transportasi Jalan) meliputi penataan simpul, ruang kegiatan, ruang lalu lintas serta penataan pola distribusi nasional sesuai dengan rencana kelas jalan; b) Menyukseskan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; c) Peningkatan pembinaan teknis transportasi di daerah, sejalan dengan desentralisasi dan otonomi daerah, dibuat sistem standar pelayanan minimal dan standar teknis di bidang LLAJ serta skema untuk peningkatan pelaksanaan pengendalian dan pengawasan LLAJ di daerah; d) Meningkatkan peran serta, investasi swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan transportasi jalan dengan menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan transparan dalam penyelenggaraan transportasi, serta pembinaan terhadap operator dan pengusaha di bidang LLAJ;

6) Meningkatkan profesionalisme SDM (petugas, disiplin operator dan pengguna di jalan), meningkatkan kemampuan manajemen dan rekayasa lalu lintas, serta pembinaan teknis tentang pelayanan operasional transportasi. 7) Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan, terutama penggunaan transportasi umum massal di perkotaan yang padat dan yang terjangkau dan efisien, berbasis masyarakat dan terpadu dengan pengembangan wilayahnya.

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014

V-24

dan rencana kajian untuk Kupang-Darwin. 2) Meningkatkan kelancaran dan kapasitas pelayanan di lintas yang telah jenuh dan memperbaiki tatanan pelayanan angkutan antarmoda dan kesinambungan transportasi darat yang terputus di dalam pulau (sungai dan danau) dan antarpulau dengan pelayanan point to point. Batur dan Kelimutu. Jakarta-Pangkal Pinang. Arah pengembangan jaringan pelayanan ASDP diarahkan untuk pencapaian arah pengembangan jaringan Sistranas jangka panjang adalah: a) Jawa dan Madura diarahkan untuk mendukung pariwisata dan angkutan lokal pada lintas: 1. Lamongan-Balikpapan. d) Sulawesi diarahkan pada pengembangan jaringan transportasi penyeberangan dengan prioritas tinggi di Danau Tempe. Pengembangan lintas penyeberangan antarkabupaten/kota diperlukan keterpaduan antarmoda dan dikembangkan sesuai dengan tingkat perkembangan permintaan pada jaringan transportasi jalan. serta dengan Pulau Jawa dan Sumatera. Transportasi Sungai. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-25 .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 b. 2. Danau Towuti dan Danau Matano. 2. dan perencanaan lintas internasional Tarakan-Nunukan-Tawao. LamonganMakasar-Takalar dan Ketapang-Gilimanuk. e) Maluku dan Papua diarahkan untuk meningkatkan lintas antar provinsi dan antar kepulauan dalam provinsi. sejalan dengan sistem transportasi nasional dan wilayah (lokal). Penyeberangan antarprovinsi antar pulau seperti MerakBakauheni. Seluruh daerah pedalaman dan terpencil yang didominasi oleh perairan yang tersebar luas. 3) Meningkatkan aksesibilitas pelayanan ASDP dalam rangka : (1) mengembangkan angkutan sungai terutama di wilayah Kalimantan. Semarang-Banjarmasin. serta lintas penyeberangan antarprovinsi antarpulau menuju Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. b) Bali dan Nusa Tenggara diarahkan untuk kegiatan transportasi lokal dalam menunjang pariwisata di danau Bedugul. Jaringan transportasi penyeberangan pada lintas antarprovinsi dan antar pulau terutama dengan Pulau Sulawesi seperti Balikpapan-Mamuju. lintas penyeberangan antarnegara seperti Kupang-Dili. serta pada lintas penyeberangan dalam provinsi dan antarprovinsi. Selain itu. Danau dan Penyeberangan 1) Memperbaiki keselamatan dan kualitas pelayanan prasarana dan sarana serta pengelolaan angkutan ASDP. c) Kalimantan diarahkan pada pengembangan jaringan transportasi sungai untuk menjangkau: 1. Nunukan-Manado. dilanjutkan pengembangan lintas penyeberangan antar kab/kota.

4) Mendorong peran serta pemda dan swasta dalam penyelenggaraan ASDP. b) Menyusun rencana umum transportasi perkotaan di wilayah perkotaan. d) Menyusun norma. g) Bantuan teknis penyelenggaraan angkutan pemadu moda pada Bandar Udara-Bandar Udara Internasional. d) Sosialisasi. standar. c) Pengembangan dan penyusunan sistem informasi manajemen transportasi perkotaan. terutama pada lintasan ASDP di Sabuk Selatan (Sumatera-Jawa-Bali-NTB-NTT). agar tercapai efisiensi. (3) meningkatkan pelayanan penyeberangan sebagai penghubung jalur jalan yang terputus di perairan. transparansi serta meningkatkan peran swasta dalam bidang ASDP. standar. 2) Peningkatan peran angkutan umum perkotaan: a) Menyusun norma. mendorong penyelesaian peraturan pelaksanaan dari UU Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran serta melaksanakan restrukturisasi BUMN dan kelembagaan dalam moda ASDP. pedoman dan kriteria (NSPK) angkutan perkotaan. pedoman dan kriteria (NSPK) angkutan pemadu moda. b) Menyusun norma.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Sumatera dan Papua yang telah memiliki sungai cukup besar. e) Pengembangan angkutan umum massal berbasis jalan di wilayah perkotaan. publikasi dan koordinasi penyelenggaraan transportasi perkotaan. standar. Pelabuhan dan Stasiun dan Kota-Kota Percontohan. evaluasi dan monitoring penyelenggaraan angkutan umum di wilayah perkotaan (dalam trayek dan tidak dalam trayek). (2) mengembangkan angkutan danau untuk menunjang program wisata. h) Bantuan teknis penyelenggaraan angkutan pelajar/mahasiswa/perintis kota pada kabupaten/kota/perguruan tinggi seluruh Indonesia. 3) Peningkatan kelancaran dan kenyamanan lalu lintas perkotaan: BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-26 . standar. pedoman dan kriteria (NSPK) angkutan barang di wilayah perkotaan. pedoman dan kriteria (NSPK) jaringan transportasi perkotaan. c. c) Menyusun norma. f) Bimbingan teknis. standar. Arah Kebijakan Pembangunan Transportasi Perkotaan 1) Terciptanya sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi dengan tata ruang: a) Menyusun norma. pedoman dan kriteria (NSPK) angkutan tidak dalam trayek.

c) Penerapan diversifikasi energi ramah lingkungan untuk angkutan umum di wilayah perkotaan. e) Bimbingan teknis. d) Penggalian sumber-sumber pendanaan untuk mendukung keselamatan transportasi darat. d) Bimbingan teknis. f) Promosi dan Kemitraan (pendidikan dan pelatihan. c) Penerapan Sistem APILL Terkoordinasi (ATCS) pada kota sedang. b) Penyelenggaraan manajemen dan rekayasa lalu lintas di jalan nasional pada kawasan perkotaan. b) Penyelenggaraan analisis dampak lalu lintas di jalan nasional di wilayah perkotaan. Melanjutkan reformasi dan restrukturisasi perkeretaapian untuk mewujudkan eksistensi Pemerintah sebagai regulator penyelenggaraan perkeretaapian diantaranya melalui penyiapan dan penguatan regulasi berupa penyelesaian serta penyusunan peraturan/pedoman pendukung di bidang perkeretaapian. f) Penerapan kawasan percontohan tertib penyelenggaraan lalu lintas perkotaan. kota metropolitan. b) Pembentukan Dewan Keselamatan Transportasi Jalan (DKTJ) pusat dan daerah. evaluasi dan monitoring penyelenggaraan andal lalu lintas di jalan nasional di wilayah perkotaan. evaluasi dan monitoring Penanganan Dampak Transportasi dan Penggunaan Energi Ramah Lingkungan di Wilayah Perkotaan. e) Pembangunan Sistem Informasi Keselamatan (SIK). 4) Peningkatan transportasi perkotaan berkelanjutan yang ramah lingkungan: a) Menyusun rencana umum pemberian bimbingan teknis tentang penyelenggaraan transportasi berwawasan lingkungan dan penanganan dampak transportasi di kawasan perkotaan. TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN a. c) Revisi dan penetapan Cetak Biru Keselamatan jalan. d) Penerapan teknologi untuk kepentingan lalu lintas. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 BAB V V-27 . kota besar. penghargaan dan sanksi) terhadap penyelenggaraan keselamatan transportasi darat. ibukota provinsi dan kota percontohan. 2. g) Bimbingan teknis. e) Penerapan fasilitas lalu lintas perkotaan yang hemat energi.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 5) Arah Kebijakan Pembangunan Keselamatan Transportasi Darat a) Penyusunan peraturan pelaksanaan Undang-Undang No. pedoman dan kriteria (NSPK) lalu lintas perkotaan. evaluasi dan monitoring penyelenggaraan manajemen dan rekayasa lalu lintas perkotaan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 a) Menyusun norma. standar.

h. c. Meningkatkan peran serta Pemerintah Daerah dan swasta di bidang perkeretaapian dalam mendukung penyelenggaraan perkeretaapian multioperator. ukuran. k. j. 7) Menyiapkan perencanaan jenis. Melaksanakan perencanaan. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-28 . d. 8) Membangun kapal patroli dan SBNP serta peralatan keselamatan pelayaran lainnya. TRANSPORTASI LAUT a. (target :roadmap to zero accident) 9) Memasukkan pengembangan pelabuhan besar dan deep sea ports. Pengembangan teknologi perkeretaapian nasional diantaranya dengan pengoptimalan peran industri lokal/dalam negeri di bidang perkeretaapian. Meningkatkan kapasitas lintas dan juga kapasitas angkut serta kualitas pelayanan terutama pada koridor yang telah jenuh serta koridor-koridor strategis yang perlu dikembangkan di wilayah Jawa. 5) Membangun pelabuhan-pelabuhan kecil/perintis bagi daerah-daerah yang membutuhkan. pendanaan dan evaluasi kinerja perkeretaapian secara terpadu.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 b. 4) Membangun terminal penumpang kapal wisata. f. dan berkelanjutan didukung peningkatan dan pengembangan sistem data dan informasi yang lebih akurat berbasis Information Technology. Membangun prasarana yang berdampak langsung bagi masyarakat 1) Membangun/mengembangkan pelabuhan-palabuhan yang mempunyai waiting time tinggi. 6) Menyiapkan standar rancangan kapal perintis yang sesuai dengan kondisi pengoperasian di Indonesia. 3. g. Sumatera dan pengembangan jalur KA baru di pulau Kalimantan dan Sulawesi. 3) Membangun/meningkatkan terminal penumpang. Meningkatkan peran angkutan perkeretaapian nasional dan lokal serta meningkatkan strategi pelayanan angkutan yang lebih berdaya saing secara antar moda dan intermoda diantaranya melalui pembangunan infrastruktur KA menuju Bandar Udara dan Pelabuhan serta pengembangan KA angkutan barang/logistik. (target : road to zero waiting time) 2) Membangun kapal-kapal perintis yang sesuai bagi daerah yang membutuhkan. Meningkatkan SDM perkeretaapian baik operator maupun regulator. e. dan jumlah kebutuhan kapal perintis sesuai cakupan wilayah. Meningkatkan frekuensi dan menyediakan pelayanan angkutan KA yang terjangkau dan ramah lingkungan terutama dalam pengembangan KA perkotaan. Melaksanakan audit kinerja prasarana dan sarana perkeretaapian i. Meningkatkan keselamatan angkutan perkeretaapian melalui perawatan/pemulihan kondisi pelayanan prasarana dan sarana angkutan perkeretaapian termasuk dengan pengujian dan sertifikasi kelaikan prasarana dan sarana serta pelaksanaan penegakan hukum. Reaktivasi lintas-lintas potensial yang sudah tidak dioperasikan.

profesionalisme dan memiliki integritas. 6) Secara bertahap membangun Sistem Telekomunikasi dan Informasi Keselamatan Pelayaran antara lain VTIS (Vessel Traffic Information System) 7) Meningkatkan kehandalan SBNP dan kapal navigasi untuk memenuhi tingkat kecukupan dan kehandalan sarana bantu navigasi. Ditpelpeng. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-29 . 4) Dalam mendukung efektivitas pelayanan di pelabuhan maka Sistem Inaportnet telah diimplementasikan di beberapa pelabuhan strategis di Indonesia seperti Tg. 3) Menyiapkan kebutuhan dan kompetensi sumber daya manusia dalam rangka mendukung organisasi baru sesuai amanat UU Nomor 17 tahun 2008 : Otoritas Pelabuhan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 serta pembangunan lapangan peti kemas sesuai dengan pattern of trade. (target : roadmap to zero accident). serta kerja sama dengan lembaga terkait. b. 10) Menyiapkan fasilitas infrastruktur transportasi antar moda. UPP dan Sea and Coast Guard. 8) Merancang kebutuhan dan penyebaran pangkalan dan kapal patroli secara nasional dan merancang sistem operasional serta pengawasannya. 3) Menyempurnakan sistem keselamatan pelayaran sesuai standard internasional. Dit-KPLP dan Adpel/Kanpel). UPP dan Sea and Coast Guard. prosedur. dan pendidikan dan latihan. Sistem harus comperized dan mengurangi kontak personal. Priok dan akan terus dikembangkan dan dilanjutkan secara bertahap pada pelabuhan. Syahbandar. 2) Meningkatkan jumlah SDM yang kompeten melalui standardisasi. Membangun Sumber Daya Manusia dan Institusi Ditjen Hubla 1) Sumber daya manusia harus benar-benar mewakili kompetensi. 5) Meningkatkan efektivitas penyelenggaraan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di pelabuhan untuk mendukung peningkatan produktivitas arus bongkar/muat di pelabuhan. 11) Memberlakukan jam operasional pelabuhan selama 24 jam per hari dan 7 (tujuh) hari dalam 1 ( satu) minggu. Syahbandar. 4) Mempercepat implementasi pembentukan organisasi baru sesuai amanat UU Nomor 17 tahun 2008 : Otoritas Pelabuhan. Membangun sistem yang dapat memperlancar dan mempemudah pelayanan 1) Membangun sistem pelayanan perizinan yang memperlancar. c. 2) Melakukan pendataan kondisi dan kebutuhan fasilitas dan kinerja keselamatan pelayaran secara nasional sebagai implementasi Roadmap to Zero Accident.pelabuhan strategis lainnya. mempermudah dan memberi kepastian (Ditlala. Ditkappel.

10) Mendorong kerjasama taktis dan strategis antar perusahaan angkutan udara nasional dalam menghadapi liberalisasi. 6) Mendukung iklim usaha dan kegiatan kemasyarakatan yang kondusif dengan menyediakan angkutan udara niaga tidak berjadwal dan bukan niaga yang berfungsi sebagai pelengkap untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna jasa angkutan udara yang tidak dapat dilayani oleh angkutan udara niaga berjadwal. 9) Mengarahkan tarif angkutan udara pada mekanisme pasar. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-30 . 13) Melakukan kebijakan angkutan udara internasional secara bertahap dan progresif dengan memperhatikan perkembangan industri angkutan udara regional maupun global. 4) Menerapkan multi airlines system yaitu satu rute penerbangan dilayani lebih dari satu perusahaan untuk menciptakan iklim usaha yang berkompetisi secara sehat dan kondusif. 4. 8) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengusahaan perusahaan penerbangan dan perusahaan penunjang penerbangan. dan tetap memperhatikan kepentingan dan kemampuan perusahaan angkutan udara nasional untuk bersaing di pasar internasional. 11) Mendorong pembentukan sistem jaringan penerbangan “ Hub and Spoke”. dengan menerapkan prinsip subsidi silang (keseimbangan rute) yaitu perusahaan penerbangan selain menerbangi rute sangat padat dan padat juga menerbangi rute kurang padat dan tidak padat. rute pengumpan dan rute perintis. 2) Struktur rute penerbangan dalam negeri dapat menghubungkan dan menjangkau seluruh wilayah Republik Indonesia. 12) Melakukan pertukaran hak angkut (traffic right) tanpa mengorbankan kepentingan nasional. Kebijakan Angkutan Udara : 1) Memprioritaskan keselamatan dan keamanan penerbangan. 7) Menyempurnakan sistem pendidikan bagi pelaut (Ditkapel berkoordinasi dengan Badan Diklat Perhubungan). politik dan memperhatikan keterkaitannnya dengan rute domestik.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 5) Meningkatkan Diklat-Diklat pengembangan sumber daya manusia. 3) Memperhatikan aspek pemerataan pelayanan diseluruh wilayah. TRANSPORTASI UDARA a. yang terdiri dari rute utama. 14) Melakukan evaluasi dan penerapan rute-rute penerbangan internasional atas pertimbangan aspek komersial. 6) Memberikan Sistem Renumerasi baru bagi pegawai Ditjen Hubla untuk meningkatkan kinerja dan untuk kemungkinan terjadinya pungli. 7) Meningkatkan iklim investasi di bidang penyelenggaraan angkutan udara dan usaha penunjang penerbangan dengan mendorong peran swasta dan pemodal asing. 5) Memperhatikan keterpaduan antar rute penerbangan dalam negeri atau rute penerbangan dalam negeri dengan rute penerbangan luar negeri.

19) Menunjuk lebih dari satu perusahaan penerbangan (multiple airlines designation) sehingga semua perusahaan penerbangan nasional mempunyai kesempatan yang sama untuk melayani rute penerbangan internasional (berdasarkan kesepakatan dengan negara mitra). Kerajaan Saudi Arabia dan “Hajj Control” untuk mendapatkan arrival times dan departure times (slot time) di Bandar Udara King Abdul Azis –Jeddah. 24) Penyelenggaraan angkutan udara perintis oleh pemerintah dan pelaksanaannya dilakukan oleh badan usaha angkutan udara niaga nasional berdasarkan perjanjian dengan pemerintah.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 15) Mengizinkan perusahaan penerbangan asing melaksanakan penerbangan langsung ke daerah tujuan wisata. Solo. 25) Pemberian kompensasi subsidi operasi dan subsidi angkutan BBM pada operator pelaksanaan angkutan udara perintis. 20) Menetapkan tarif angkutan udara berdasarkan sistem double disapproval. profesionalisme SDM) dan melakukan divesifikasi produk melalui strategi harga. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-31 . kerjasama operasi. Banjarmasin. dan Makassar. Batam. 30) Perusahaan penerbangan yang melayani angkutan haji harus mendapatkan landing permit dari Presidency of Civil Aviation. dan pelayanan untuk menarik penumpang serta melakukan kerjasama sinergis dan kondusif antara perusahaan nasional melalui aliansi. 26) Pelaksanaan evaluasi setiap tahunnya oleh Pemerintah dan dapat mengubah suatu rute perintis menjadi rute komersial. Medan. Surabaya. 27) Penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia merupakan tugas nasional dan menjadi tanggung jawab pemerintah yang dikoordinir oleh Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan mengevaluasi kelaikan pesawat yang telah ditetapkan untuk mengangkut jemaah haji. 22) Mendorong perusahaan nasional meningkatkan daya saing (meningkatkan efisiensi. Balikpapan. Padang. pemasaran. 18) Melakukan pertukaran hak-hak angkutan udara berdasarkan perjanjian bilateral atau multilateral dengan prinsip timbal balik (reciprocity basis). atau interline. 16) Mengoptimalkan pemanfaatan hak angkut yang dimiliki melalui kerjasama dengan perusahaan angkutan udara asing. 21) Memperbolehkan penerbangan charter asing singgah diseluruh daerah tujuan wisata di Indonesia (dibatasi kemampuan Bandar Udara dan tersedianya fasilitas CIQ). kualitas pelayanan. Cengkareng. 29) Pelaksanaan kegiatan penerbangan haji adalah penerbangan charter melalui persetujuan terbang (flight approval) oleh Kementerian Perhubungan. 23) Menetapkan fleksibilitas dalam kapasitas angkutan kargo udara. 28) Kementerian Perhubungan mengevaluasi besaran biaya angkutan haji Indonesia – Arab Saudi di 11 embarkasi yaitu Banda Aceh. 17) Melakukan kebijakan Open Sky secara bertahap. Palembang.

5) Pembangunan prasarana transportasi udara (Bandar Udara) di daerah perbatasan untuk operasi pesawat M-50 dengan daya dukung landasan mampu didarati pesawat C-130 (Hercules). Sarana : 1) Operator (Bandar Udara. M-50 dalam rangka evakuasi dan distribusi bantuan. 4) Pengoptimalan prasarana transportasi udara (Bandar Udara) di lokasi bencana dan rawan bencana sehingga dapat melayani operasi pesawat Hercules C-130.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 b. c. namun bersama dengan penyelenggara Bandar Udara atau swasta. 10) Melanjutkan pelaksanaan Sertifikasi Operasi Bandar Udara di Bandar Udara UPT dan melanjutkan peningkatan kemampuan personil Bandar Udara 11) Pengembangan multi airport di Jakarta Metropolitan Area guna menunjang Bandar Udara Soekarno Hatta. dan ATC) berkewajiban melaksanakan seluruh ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam pelaksanaan security. 9) Penerapan Eco Airport (Sustainable Airport Development) dan penerapan Automatisasi pada Bandar Udara. KKOP dan Batas Kawasan Kebisingan. 2) Evaluasi secara berkala terhadap aspek teknis dan operasi armada pesawat udara. sesuai prioritas pengembangan Bandar Udara. Prasarana Bandar Udara : 1) Pengembangan/pembangunan prasarana Bandar Udara sesuai pola jaringan prasarana dan pelayanan transportasi udara nasional sesuai dengan implementasi tatanan kebandarudaraan nasional yang berdasarkan hirarki fungsi terdiri dari Bandar Udara pengumpul dan Bandar Udara pengumpan. 12) Peningkatan prasarana di Indonesia bagian Timur. 7) Penggunaan Bandar Udara secara bersama sipil-militer pada sisi yang berbeda/berseberangan dengan landas pacu sebagai pemisah. ANNEX sesuai yang tertulis dalam company manual. services dan aturan ICAO. 2) Prioritas pembangunan lebih didasarkan pada kelayakan investasi (Business Plan) serta mekanisme pasar dengan pola pendanaan campuran (hybrid). safety. 6) Pembangunan Bandar Udara baru dengan membuka peluang kerja sama lebih besar dalam pengusahaan jasa kebandarudaraan dan pengusahaan jasa terkait Bandar Udara. 3) Pelaksanaan pembangunan tidak lagi menjadi beban pemerintah pusat secara total. sedangkan dari segi penggunaan terdiri dari Bandar Udara internasional dan domestik dimana sampai dengan tahun 2024 jumlah Bandar Udara internasional relatif tetap. airlines. Standard Operating Procedures dan instruksi kerja. 8) Pemenuhan dokumen pengoperasian Bandar Udara dalam kerangka Sertifikat Bandar Udara : Rencana Induk. sesuai prioritas program pengembangan Bandar Udara. daerah rawan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-32 .

ATS. f. Navigasi Penerbangan : 1) Pengadaan dan penggantian radar dan penggunaan ADS-B pada daerah yang tidak tercakupi oleh radar.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 bencana dan pulau – pulau terluar. 13) Peremajaan sistem radar di Makassar. regulasi dan kelembagaan yang efektif dan efisien di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. recycle dan reduce) serta dapat mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan (sustainable development). 4) Pembentukan jabatan fungsional dan pemberdayaan personil di bidang transportasi udara. 3) Lembaga pembinaan. Kelembagaan : 1) Pengembangan system. Banjarmasin dan Surabaya. berupa : 9) Up grade sistem AIS yang bersiklus 5.7 tahun. d. 4) Implementasi teknologi Surveillance seperti : ADS-B dan Multilateration. pembina dan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-33 . 15) Implementasi Safety Management System (SMS). 2) Harmonisasi 2 FIR (MAATS & JAATS) yang terintegrasi. 5) Penerapan sistem augmentasi GNSS untuk terminal/ NPA. 14) Pembangunan Bandar Udara berwawasan lingkungan dengan konsep 3R (reuse. 10) Sistem AIS Indonesia terintergasi dengan sistem AIS dunia. 12) Peremajaan fasilitas navigasi penerbangan yang usianya telah melebihi 15 tahun. airlines dan user secara keseluruhan. 2) Pembinaan profesi dilakukan organisasi profesi dan pembinaan karir teknisi penerbangan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat . 7) Data sharring ADS-B dengan negara yang berbatasan dengan wilayah Indonesia. 3) Tenaga teknis dan operasi harus memiliki sertifikat kecakapan personil (SKP). aerodrome operator. PKP-PK dan pemandu lalu lintas penerbangan. 6) Membangun Sistem Pusat Komando Lalu Lintas Udara (ATCC). 11) Jaringan ADS-B berdiri sendiri. 3) Implementasi CNS/ATM system. 14) Penyusunan State Safety Programme (SSP). 8) Kepemilikan NASC. e. Sumber Daya Manusia (SDM) : 1) Terpenuhinya kebutuhan dan kecakapan personil di bidang keselamatan dan keamanan penerbangan sesuai kebutuhan minimal secara bertahap khususnya untuk inspektur. 13) Peremajaan dan pengadaan fasilitas PKP-PK. 2) Pembentukan lembaga Penyelenggara Navigasi Penerbangan Indonesia. pemerintah sebagai regulator. Balikpapan.

4) Pembentukan otoritas Bandar Udara dan unit penyelenggara Bandar Udara. terpasangnya fasilitas keselamatan LLAJ. terbangunnya/ pengembangan simpul transportasi jalan. Program pembangunan transportasi darat tahun 2010-2014 bertujuan untuk mendukung pengembangan transportasi darat yang lancar. 2) Harmonisasi peraturan-peraturan dibidang transportasi udara. prasarana. rencana induk BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-34 . 6) Pembentukan Badan Layanan Umum Balai Kalibarasi. memperkecil kesenjangan pelayanan angkutan antar wilayah serta mendorong ekonomi nasional. Balai Elektonika dan Balai Penelitian dan Pengujian Prasarana Bandar Udara. b) Pelaksanaan kedaulatan atas wilayah udara (memuat sekurangkurangnya tentang penetapan kawasan udara terlarang & terbatas. 3) Pembinaan. pengembangan dan pembangunan transportasi perkotaan dengan terciptanya rencana induk angkutan perkotaan. terpadu. H. PROGRAM PEMBANGUNAN 1. 2) Pembangunan & pengelolaan prasarana. sehingga mampu meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang. Pengembangan transportasi darat berdasarkan kewilayahan pada intinya meliputi : 1) Pembangunan & pengelolaan. kewajiban pemandu lalu lintas penerbangan). terbangunnya jumlah sarana transportasi SDP. g. Balai Kesehatan Penerbang. sarana & fasilitas angkutan SDP dengan terbangunnya peningkatan simpul transportasi SDP. TRANSPORTASI DARAT Program pembangunan transportasi darat tahun 2010-2014 bertujuan untuk mendukung pengembangan transportasi darat yang lancar. penggunaan bersama pangkalan udara dan Bandar Udara). Adapun pelaksanaan program pengelolaan dan pelayanan transportasi darat pada tahun 2010-2014 disusun berbasis kewilayahan dengan target kebutuhan pendanaan yang ingin dicapai dalam rentang waktu 5 tahun. sarana & fasilitas LLAJ dengan terimplementasinya teknologi lalu lintas angkutan jalan & manajemen Rek Lalin. Perundang-undangan : 1) Penyusunan Peraturan Pemerintah sebagai tindak lanjut UU No. sehingga mampu meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pengawas transportasi udara. terpadu. aman dan nyaman. pembangunan dan pelestarian lingkungan hidup Bandar Udara.1 Tahun 2009 tentang : a) Bandar Udara (memuat sekurang-kurangnya tentang penetapan lokasi. aman dan nyaman. 5) Pembentukan Badan Layanan Umum Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara. memperkecil kesenjangan pelayanan angkutan antar wilayah serta mendorong ekonomi nasional.

Elevated Side Ramp dan Gangway Merak V. Emergency). Pulau Raas Sumenep. Education. Gelombang. Pembangunan & pengelolaan prasarana. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-35 . Pulau Lingga. Sungai Teluk Buluh (Sumatera Utara).RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 system informasi lalu lintas perkotaan. Pulau Anambas. Pulau Lepar. Sungai Bangko/ Pulau Panjang (Sumatera Barat). Pamotan (Jawa Barat). Muara Gembong Sungai Citarum.sekolah dan fasilitas konversi BBM serta program gasifikasi angkutan umum perkotaan. Gunaksa. Kapal Cepat Merak (Banten). Breakwater Merak. mahasiswa. Bakauheni V. Pulau Natuna. 4) Manajemen dan peningkatan keselamatan transportasi darat dengan terselenggaranya kegiatan keselamatan transportasi darat (sosialisasi. Ketapang. danau laut Tawar. Waduk Citara/ Kebun Coklat. 500 GT. Rimo. Pembangunan Sarana Penyeberangan meliputi pembangunan kapal penyeberangan 750 GT. Pulau Baai (Bengkulu). Selat Belia/ Pulau Kundur. rambu sungai dan danau serta SBNP Dermaga Penyeberangan pada beberapa provinsi di Pulau Sumatera. Bali Utara. pengembangan jumlah Bus Rapid Transit (BRT)/bus pemadu moda/bus perkotaan. Ketapang. Pulau Sebangka (KEPRI). Bakauheni VI. penyelenggaraan manajemen dan rekayasa di jalan nasional pada kawasan perkotaan. Pulau Pagai Selatan (Sumatera Barat). Nainggolan (Sumatera Utara). Merak V. Kampung Balak/ Selat Panjang (Riau). Breakwater Lamongan. Danau Ranau. Kuala Tungkal (Jambi). Sikakap. Tangerang. Meulaboh (Aceh). pembangunan Elevated Side Ramp. Merak VI. monitoring & evaluasi keselamatan transportasi darat) & rencana induk keselamatan lalu lintas jalan. 2) Pulau Jawa dan Bali Pembangunan Prasarana Penyeberangan meliputi pembangunan/ peningkatan dermaga penyeberangan Margagiri. Padangbai II. laporan evaluasidan terbangunnya fasilitas pendukung perkotaan. Kuala Teladas (Lampung). Tanjung Ru (Bangka Belitung). penyusunan pedoman teknis keselamatan transportasi darat. Pembangunan Prasarana Sungai dan Danau meliputi pembangunan/ peningkatan dermaga Tamiang. Pembangunan Breakwater Bakauheni. Gilimanuk (Bali). Bus Air . Breueh (Aceh). rencana induk keselamatan lalu lintas SDP yang dilakukan dengan pendekatan 5E (Engineering. Pulau Liat. Singkil. 300 GT. sarana & fasilitas angkutan SDP dengan terbangunnya peningkatan simpul transportasi SDP tahun 2010-2014 antara lain: 1) Pulau Sumatera Pembangunan Prasarana Penyeberangan meliputi pembangunan/ peningkatan dermaga penyeberangan diantaranya di Balohan. Dabo. Danau Kerinci (Jambi). Sepakan Sumenep Tahap I (Jawa Timur). Breakwater Kendal. Kapal Cepat Kendal (Jawa Tengah). Peningkatan alur pelayaran. Tanjung Pinang/ Pulau Bintan. Danau Toba. Sungai Siak (Riau). Waduk Jatiluhur. Enforcement. Labuhan Haji. Encoragment. Pulau Tarempa.

Batu Licin. Dedai di DAS Melawai. TABEL V-1 REKAPITULASI PROGRAM PENGELOLAAN DAN PELAYANAN TRANSPORTASI DARAT NO 1 KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.000 2013 115. Teluk Pakedai di DAS Mempawah.220.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pembangunan Prasarana Sungai dan Danau meliputi pembangunan/peningkatan dermaga Joglog. Sebuku. Peningkatan alur pelayaran. 3) Pulau Nusa Tenggara Pembangunan Prasarana Penyeberangan meliputi pembangunan/ peningkatan dermaga penyeberangan diantaranya di Sape. 2010 71. Muaralasan. Pembangunan Sarana Penyeberangan meliputi pembangunan kapal Ro-Ro 500GT (Bali). Teluk Keramat di DAS Sambas Besar.967 3. Rasau Jaya. Pembangunan Prasarana Sungai dan Danau meliputi pembangunan/ peningkatan dermaga Serawai.488 2 533. Ambalau. 300 GT. Pemangkat. Sabu Tahap II. Potano. Peningkatan alur pelayaran. Gili Meno. Aimere. Target kebutuhan pendanaan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan program pengelolaan dan pelayanan transportasi darat pada tahun 2010-2014 disajikan pada tabel berikut di bawah ini. Tanjung Redeo.000. Teluk Gurita.696.757 796.488 2011 75. Lombok Utara. Sungai Alalak Banjarmasin. Pulau parang (Jawa Tengah). Waduk Semo. Delta Pawan. Senggigi (Nusa Tenggara Barat). Pembangunan Sarana Penyeberangan meliputi pembangunan kapal. Pembangunan Sarana Penyeberangan meliputi pembangunan kapal Ro-Ro 500GT. 4) Pulau Kalimantan Pembangunan Prasarana Penyeberangan meliputi pembangunan/ peningkatan dermaga penyeberangan diantaranya di Ketapang-Babel (Kalimantan Barat). Jawai. Breakwater Waikelo. Sungai Glagah Kulon Progo (DIY).079. Gili trawangan. Muara Pawan.288. Loa Bia. dst.914 727. Kalabahi.682 917.072 721.607.000. Muara Segah. rambu sungai dan danau serta SBNP Dermaga Penyeberangan pada beberapa provinsi di Pulau Nusa Tenggara. Sambaliung.000 2014 120.039. Karanganyar. Marpokot-Mbaay. Kubu. Bahaur Pulang Pisau (Kalimantan Tengah).000.459. Kayan III di DAS Kayan. Sandai di DAS Pawan (Kalimantan Barat). Sangeang. rambu sungai dan danau serta SBNP Dermaga Penyeberangan pada beberapa provinsi di Pulau Kalimantan. Pembangunan dan Pengelolaan Prasarana dan Fasilitas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.000 TOTAL 470. Pulau Gili Air. Pujungan.683.000) 2012 89.392 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-36 .000 ALOKASI PENDANAAN (Rp.358. Pulau Laut (Kalimantan Selatan). Batu Ampar.138.

Dengan restrukturisasi tersebut diharapkan dapat menunjukkan keterkaitan antara pendanaan dan prestasi kinerja yang akan dicapai (directly linkages between performance and budget).619 2.254.713.500 92.265.327.675.840.937.733.927.400. Pada masing-masing tingkatan eselon 1 dalam Kementrian/Lembaga memiliki 1 (satu) program yang kemudian dijabarkan menjadi kegiatan-kegiatan berdasarkan tupoksi masing-masing eselon 2. Danau dan Penyeberangan.000 Sumber : Ditjen Perhubungan Darat Perincian pada Lampiran 2.397.707.500 342.823 1.217 1. Adapun Tugas dari Setditjen adalah memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada seluruh satuan organisasi dalam lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian termasuk pengelolaan pegawai.323.493.400.000 633.000.000 149.000 181.850.710 1. 1. Program dan kegiatan untuk periode tahun 2010-2014 akan didasarkan pada tugas-fungsi Unit Kerja yang dilekatkan pada stuktur organisasi..500 88.000 124.000 5 33.080 2.460.124. meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam penganggaran serta meningkatkan fleksibilitas dan akuntabilitas unit dalam melaksanakan tugas dan pengelolaan anggaran.442. Pembinaan dan pengembangan Sistem Transportasi Perkotaan Manajemen dan Peningkatan Keselamatan Transportasi Darat.000 103. Program tersebut kemudian dijabarkan menjadi kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a.405.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3 Pembangunan sarana dan prasarana transportasi SDP dan Pengelolaan Prasarana / Fasilitas Lalu Lintas dan Angkutan Sungai.000. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-37 .433.145 1.477.790.282 2. TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN Program dan kegiatan untuk periode tahun 2010-2014 direstrukturisasi dalam rangka pelaksanaan anggaran berbasis kinerja.327 2.795.369. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kegiatan manajemen dan dukungan teknis lainnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian merupakan penjabaran dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian (Setditjen) termasuk unit pelaksana teknis yang ada saat ini (UPT Terminal Peti Kemas).987.554. Program Ditjen perkeretaapian yaitu program pengelolaan dan penyelenggaraan transportasi perkeretaapian.277.500 76.247.120 4 75.692 11.838.225 6.575.000 JUMLAH 1.500.203.510.000 50.

2) Pelaksanaan monitoring. 5) Penyelenggaraan angkutan lebaran. 5) Penyelenggaraan humas dan kerjasama luar negeri. evaluasi dan pelaporan di bidang lalu lintas dan angkutan kereta api. lembur. LLAKA). kapasitas lintas dan stasiun. LLAKA adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan. pelayanan antar kota dan perkotaan. serta bimbingan teknis. 6) Penyusunan kajian kebijakan (pedoman. kriteria dan prosedur. masterplan. evaluasi dan pelaporan bidang Lalu Lintas dan Angkutan KA antara lain dalam pengembangan jaringan jalur KA. updating dan analisa data dan statistik. 4) Pengolahan. standar. angkutan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Sub kegiatan manajemen dan dukungan teknis lainnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian diantaranya : 1) Penyusunan kajian kebijakan (pedoman. honorarium dan vakasi) serta pendidikan dan pelatihan. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-38 . masterplan. DED/STD) Bidang Lalu Lintas dan Angkutan KA. tarif antar kota dan perkotaan. 3) Pembinaan program dan rencana kerja Ditjen Perkeretaapian termasuk pelaksanaan pengawasan terhadap program dan rencana kerja tersebut. norma. 4) Supervisi pelaksanaan Public Service Obligation (PSO). b. Adapun Tugas dari Dit. tata usaha dan kegiatan pembiayaan lainnya). Pembangunan dan Pengelolaan Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kegiatan pembangunan dan pengelolaan bidang lalu lintas dan angkutan kereta api merupakan penjabaran dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api (Dit. studi kelayakan) pada bidang pembinaan dan peningkatan perkeretaapian. 7) Pelaksanaan kegiatan promosi dan pengembangan usaha termasuk sosialisasi pengembangan jaringan. pedoman. natal dan tahun baru. 7) Pembinaan pengelolaan keuangan. 8) Pembinaan pengelolaan kepegawaian termasuk belanja pegawai (pembayaran gaji. Sub kegiatan pembangunan dan pengelolaan bidang lalu lintas dan angkutan kereta api diantaranya : 1) Penyusunan Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA). 3) Pemantauan pada stasiun KA. 9) Administrasi (penyelenggaraan perkantoran. 2) Pelaksanaan monitoring dan pengendalian proyek-proyek perkeretaapian. 6) Koordinasi penyusunan peraturan perundang-undangan dan bantuan hukum. pradesain.

Adapun Tugas dari Dit. 3) Manajemen keselamatan. 3) Pemb. 2) Pengadaan peralatan/fasilitas sarana perkeretaapian. serta bimbingan teknis. KRL. Pembangunan dan Pengelolaan Bidang Keselamatan dan Teknik Sarana Kereta Api Kegiatan pembangunan dan pengelolaan bidang keselamatan dan teknik sarana merupakan penjabaran dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Direktorat Keselamatan dan Teknik Sarana (Dit. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-39 . norma. 5) Peningkatan/modernisasi persinyalan. KTS adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan. Tekpras adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan. standar. Tekpras). 10) Supervisi pelaksanaan IMO. Adapun tugas dari Dit. 13) Konsolidasi dan pembinaan teknik prasarana KA. Sub kegiatan pembangunan dan pengelolaan bidang keselamatan dan teknik sarana kereta api diantaranya : 1) Pengadaan/pembangunan sarana KA yang terdiri dari pengadaan KRDI. railbus. kriteria dan prosedur. tram. 9) Peningkatan fasilitas pintu perlintasan sebidang/flyover/underpass. evaluasi dan pelaporan di bidang teknik prasarana kereta api. kriteria dan prosedur. evaluasi dan pelaporan di bidang keselamatan dan teknik sarana kereta api. Sub kegiatan pembangunan dan pengelolaan prasarana dan fasilitas pendukung kereta api diantaranya : 1) Rehabilitasi jalur KA.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 c. norma. 8) Pembangunan/rehabilitasi bangunan operasional. Pembangunan dan Pengelolaan Prasarana dan Fasilitas Pendukung Kereta Api Kegiatan pembangunan dan pengelolaan prasarana dan fasilitas pendukung kereta api merupakan penjabaran dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Direktorat Teknik Prasarana (Dit. 12) Survey/ studi kebijakan/ pedoman/ masterplan/ DED/ STD/ AMDAL bidang prasarana KA. KTS). 2) Peningkatan jalur KA termasuk menghidupkan kembali lintas mati. lokomotif. d. serta bimbingan teknis. 4) Rehabilitasi/peningkatan jembatan KA. kereta penumpang kelas ekonomi (K3). kereta penumpang kelas ekonomi dilengkapi dengan pembangkit listrik (KMP3) serta modifikasi sarana KA diantaranya modifikasi KRL menjadi KRDE serta perbaikan KRL (repowering). 11) Manajemen konstruksi. jalur KA baru/shorcut/parsial double track/double track/double double track. pedoman. 6) Pengadaan material rel dan wesel. 7) Pengadaan peralatan/fasilitas prasarana perkeretaapian. pedoman. telekomunikasi dan pelistrikan. standar.

CPO.300. f.00 1.802.809.00 806.106.000.00 1.66 1. Penyusunan kajian kebijakan (pedoman.00 1.00 1. 2) Pengembangkan jaringan kereta api untuk angkutan barang yang potensial (semen.00 2.00 1.100. Pemerintah juga bertanggung jawab terhadap perawatan/pemeliharaan prasarana eksisting.00 9.955.00 1.00 709.264.66 1.00 * dalam milyar rupiah 2014 VOL BIAYA* 1.435 mm.00 JUMLAH VOL 5.00 1. pulp) untuk mewujudkan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-40 . Adapun pembiayaan PSO setiap tahun melalui anggaran 99 dan proyeksi/prediksi nilai PSO untuk tahun 2010-2014 dimaksud disusun berdasarkan asumsi ekonomi makro (pertumbuhan ekonomi dan besaran inflasi) yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. batubara.00 668.802.66 TARGET FISIK DAN PENDANAAN 2011 2012 2013 VOL BIAYA* VOL BIAYA* VOL BIAYA* 1.00 2.00 864.00 1.000. Pengembangan SDM & Kelembagaan perkeretaapian.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 4) 5) 6) 7) Penegakan hukum bidang keselamatan perkeretaapian.668.00 1.00 1. Saat ini perawatan dimaksud dilaksanakan melalui mekanisme IMO berupa penugasan terhadap PT.00 5. kayu. Public Service Obligation (PSO) Penyediaan layanan angkutan penumpang oleh Pemerintah lebih pada penyediaan angkutan KA untuk kelas ekonomi melalui mekanisme PSO. 2009 Public Service Pkt Obligation (PSO) Infratructure Maintenance Pkt Operation (IMO) JUMLAH 2010 VOL BIAYA* 1.00 BIAYA* 3. masterplan) bidang keselamatan dan teknik sarana.00 755. Tabel V-2 Target Fisik dan Pendanaan PSO dan IMO untuk Tahun 2010-2014 SUB KEGIATAN SATUAN Sumber : Hasil Rencana.66 Adapun program pembangunan perkeretaapian tahun 2010-2014 berdasarkan dimensi kewilayahan adalah sebagai berikut : g.200. Infrasructure Maintenance Operation (IMO) Dalam mendukung aksesibilitas dan pelayanan angkutan KA. Pengadaan peralatan/fasilitas keselamatan dan SDM perkeretaapian.00 1. karet.00 1.400. Pulau Sumatera Pengembangan transportasi perkeretaapian di Pulau Sumatera meliputi : 1) Pembangunan jaringan KA Trans Sumatera (Nangroe Aceh DarussalamLampung) yang direncanakan dengan beban gandar 18-22 ton dengan lebar spoor 1. e.00 1.00 6. KA untuk melakukan perawatan prasarana eksisting tersebut.

Lubuk Linggau dan Prabumulih . Lahat . 7) Peningkatan jalur KA di pulau Sumatera termasuk menghidupkan kembali lintas mati serta peningkatan spoor emplasemen sepanjang 347 km. Rencana kegiatan pembangunan perkeretaapian di Pulau Sumatera kurun waktu 2010-2014 difokuskan pada upaya peningkatan. modernisasi telekomunikasi dan peningkatan fasilitas pintu perlintasan sebidang. Solok – Sawahlunto.Rantau Prapat. peningkatan jalur/jembatan KA.Prabumulih. rehabilitasi. Teluk Bayur – Sawahlunto.Pulau Aer. Bandar Tinggi . Rantauprapat. Medan – Binjai. shortcut Rejosari – Tarahan.Kuala Tanjung. Tebing Tinggi .Tebing Tinggi – Siantar. diantaranya pada lintas Tarahan . 5) Peningkatan tingkat keselamatan perjalanan kereta api dengan peningkatan keandalan prasarana kereta api diantaranya melalui rehabilitasi jalur/jembatan KA. 10) Peningkatan/modernisasi persinyalan perkeretaapian di pulau Sumatera sebanyak 46 paket. diantaranya pada lintas Tarahan – Waytuba.Muara Enim. 4) Menghubungkan jaringan KA dengan pelabuhan laut maupun Bandar Udara dalam rangka mendukung integrasi antar moda. shortcut Solok – Padang.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 transportasi yang efektif dan efisien termasuk berbiaya murah dan hemat energi.Blambangan Umpu. serta menghidupkan kembali jalur KA antara Padang . Medan – Belawan. Medan – Gabion.Tigagajah. 8) Pembangunan jalur KA baru/shorcut/parsial double track/double track/double double track di pulau Sumatera termasuk pembangunan spoor emplasemen sepanjang 100 km. Binjai – Besitang. Tiga BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-41 . Araskabu. Martapura . Prabumulih Lama. Araskabu – Bandara Kualanamu (KA Bandara) serta lanjutan pengembangan perkeretaapian NAD yaitu Lhokseumawe – Bireun. Belawan. jalur ganda Martapura . 9) Peningkatan jembatan KA sebanyak 58 unit yang tersebar di Sumatera Utara.Waytuba. Medan . pengembangan aksesibilitas dan pembangunan sarana dan prasarana sebagai berikut: 6) Rehabilitasi jalur KA di pulau Sumatera sepanjang 47 km. Rantauprapat – Kota Pinang. Lubuk alung – Naras. Tarahan. Muara enim – Lahat. Kisaran. Lubuk alung – Pariaman. Muaro Kalaban – Muaro. modernisasi persinyalan.Tanjung Balai. diantaranya pada Sta. diantaranya jalur ganda Tulung Buyut . Sumatera Barat. Sumatera Selatan dan Lampung. Padang Panjang – Payakombo. Duku – Bandara Minangkabau (KA Bandara). 3) Pengembangan jaringan kereta api untuk angkutan penumpang untuk memenuhi potensi pasar di kota-kota besar diantaranya dengan kereta api perkotaan seperti di Medan dan Palembang. Labuanratu. terdiri dari : a) Peningkatan persinyalan mekanik menjadi elektrik termasuk rehab track di emplasemen untuk mendukung persinyalan elektrik sebanyak 23 paket. Bandar Lampung – Panjang. Kisaran .

h. Padang – Lubukalung. Biereun – Lhokseumawe. diantaranya berupa pembangunan gudang logistik/depo peralatan.Panjang. Sumatera Selatan dan Lampung. Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Baturaja. X5 .Sawahlunto. Sicincin .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Gajah. Pidada . Lahat – Lubuklinggau. terdiri dari : a) Peningkatan sistem telekomunikasi berbasis SDH sebanyak 15 paket. Binjai – Besitang. Pulau Jawa Pengembangan transportasi perkeretaapian di Pulau Jawa meliputi upaya untuk: 1) Optimalisasi jalur kereta api lintas selatan dan lintas utara jawa serta pembangunan jalur ganda secara bertahap diantaranya untuk peningkatan kapasitas lintas. 11) Peningkatan/modernisasi telekomunikasi perkeretaapian di pulau Sumatera sebanyak 24 paket. Prabumulih – Lahat. Muaraenim –Tanjungenimbaru.Baturaja – Tarahan. Prabumulih – Martapura. Sumatera Utara dan Sumatera Bagian Selatan serta pembangunan balai yasa di Sumatera Utara. Padang – Sawahlunto. Padang – Puluaer. c) Pembangunan sistem SCADA sebanyak 5 paket yaitu di Sumatera Utara. Kertapati Lubuklinggau. e) Pembangunan persinyalan mekanik SNH dengan blok TBI berbasis PLC dan saluran blok FO pada lintas – lintas mati / baru yang rencananya akan dioperasikan sebanyak 9 paket diantaranya pada lintas Tarahan – Tanjungenim. diantaranya pada lintas Biereun – Lhokseumawe. Sumatera Selatan dan Lampung. b) Pembangunan sistem radio traindispatching sebanyak 4 paket yaitu di Sumatera Barat. Pariaman Lubukalung (3 stasiun). pembangunan/rehab bangunan gedung stasiun di NAD. Sumatera Utara. Telukbayur – Indarung. Sumatera Barat. 12) Pembangunan/rehabilitasi bangunan operasional perkeretaapian di pulau Sumatera sebanyak 47 paket. 2) Pengembangan jaringan kereta api perkotaan yang akan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-42 . c) Peningkatan persinyalan Alkmaar ke SNH dengan blok TBI berbasis PLC sebanyak 1 paket yaitu pada lokasi antara Sta. d) Peningkatan saluran blok dengan kabel FO sebanyak 7 paket diantaranya pada lintas Kertapati – Prabumulih. b) Peningkatan persinyalan mekanik SNH tanpa blok menjadi SNH dengan blok TBI berbasis PLC dengan saluran blok FO sebanyak 6 paket diantaranya pada lintas Teluk Bayur – Indarung. 13) Peningkatan fasilitas pintu perlintasan sebidang termasuk penanganan berupa flyover/underpass di pulau Sumatera sebanyak 40 paket yang tersebar di NAD.

Cirebon – Kroya.Blitar . dan efisien. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-43 .Indro/Gresik. Yogyakarta –Solo. Ps. Sidoarjo Tulangan – Tarik. Rangkasbitung – Labuan. Cikampek – Padalarang.Banyuwangi. Yogyakarta dan Surabaya untuk mendukung pergerakan orang dan barang secara massal. Semarang – Gambringan. Menghubungkan jaringan KA dengan pelabuhan laut maupun Bandar Udara dalam rangka mendukung integrasi antar moda.Kediri – Kertosono. Padalarang Bandung . Jakarta Gudang . Semarang – Cirebon. Banjar – Kroya. Semarang – Pekalongan. Menghidupkan kembali lintas KA dan meningkatkan kapasitas jaringan prasarana KA secara bertahap serta modernisasi sistem persinyalan dan telekomunikasi untuk mendukung optimalisasi peran moda KA di Pulau Jawa. Surabaya – Bojonegoro.Cirebon – Tegal. Gundih – Surabaya. aman.Banjar. serta menghidupkan kembali jalur KA antara Cilegon – Anyerkidul. Cikampek – Cirebon. Bogor – Sukabumi. Jakarta – Merak. Solo Kota – Wonogiri. Bangil . modernisasi persinyalan. Semarang – Gundih. Banjar – Kroya. Kutoarjo – Purworejo. Yogyakarta – Solo. cepat.Jakarta Kota . Bandung. Jember . 9) Peningkatan jalur KA di pulau Jawa termasuk menghidupkan kembali lintas mati dan peningkatan spoor emplasemen sepanjang 1. Senen . Cikampek . pengembangan aksesibilitas dan pembangunan sarana dan prasarana sebagai berikut: 8) Rehabilitasi jalur KA di pulau Jawa sepanjang 151 km. Sukabumi – Padalarang. Tuntang – Ambarawa. Surabaya – Madiun. peningkatan jalur/jembatan KA. Persiapan pembangunan kereta api cepat atau High Speed Train (HST). Meningkatkan share pada moda kereta api terutama untuk penumpang kereta api di Pulau Jawa dengan peningkatan pelayanan perjalanan kereta api agar bisa kompetitif dengan moda lainnya. Semarang. Priok. Gundih – Surabaya. Peningkatan tingkat keselamatan perjalanan kereta api dengan peningkatan keandalan prasarana kereta api diantaranya melalui rehabilitasi jalur/jembatan KA. rehabilitasi. Cikudapateuh . Cikampek – Padalarang. Kandangan . Cirebon – Kadipaten. Cibatu – Garut – Cikajang. Semarang – Gambringan. diantaranya pada lintas Cikarang – Cikampek. Padalarang . modernisasi telekomunikasi dan peningkatan fasilitas pintu perlintasan sebidang.Kalisat – Banyuwangi. Solo – Madiun.Soreang – Ciwidey. Tuban – Jombang dan Kalisat – Panarukan.Probolinggo Jember . diantaranya pada lintas Cikarang – Cikampek. Bangil . Tegal – Pekalongan. Priok. Surabaya Malang .Tj. Semarang – Cirebon.Tj.Bandung – Banjar.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3) 4) 5) 6) 7) dikembangkan pada kota Jakarta. Rencana kegiatan pembangunan perkeretaapian di Pulau Jawa kurun waktu 2010-2014 difokuskan pada upaya peningkatan. Semarang – Gundih – Solo. Probolinggo – Jember. Rancaekek – Tanjungsari.014 km. Kroya – Yogyakarta. Sukabumi . Kedungjati – Ambarawa. Surabaya – Solo.Blitar – Kertosono.Pasuruan .Cianjur – Padalarang.

shortcut Parungpanjang – Citayam. Brumbung. Sidoarjo. Garahan – Pasuruan.Surabaya Pasarturi. perpanjangan jalur KA JICT – Pasoso. lintas selatan jawa dan Jawa Timur. Sta. Semarang – Bojonegoro. Kalistail. Purwakarta – Ciganea. Bojonegoro – Surabaya.Wonogiri. Sta. Solo – Madiun. Kutoarjo – Purworejo dan Sukabumi – Padalarang. d) Peningkatan saluran blok dengan kabel FO sebanyak 26 paket diantaranya pada antara Manggarai – Jatinegara – Bekasi. Sta. Pekalongan – Semarang. Cirebon. Semarang Tawang/Poncol. Maguwobaru Bandara Adi Sucipto. Surabayakota. Solokota . Cisomang – Cikadondong – Padalarang. Tegal – Cirebon. Sta. Cirebon Prujakan. Semarang Tawang dan Sta. Duri – Tangerang. Manggarai .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 10) Pembangunan jalur KA baru/shorcut/parsial double track/double track/double double track termasuk pembangunan spoor emplasemen. Manggarai. e) Pembangunan persinyalan mekanik SNH dengan blok TBI berbasis PLC dan saluran blok FO pada lintas . lintas utara jawa. Jawa Tengah. b) Peningkatan persinyalan mekanik SNH tanpa blok menjadi SNH dengan blok TBI berbasis PLC dengan saluran blok FO sebanyak 4 paket diantaranya pada lintas Jember – Banyuwangi dan BogorSukabumi. Kroya – Kutoarjo. Surabaya – Sidoarjo. Jawa Barat. Gambringan. Kiaracondong – Cicalengka.lintas mati / baru yang rencananya akan dioperasikan sebanyak 7 paket diantaranya pada lintas Kalisat – Situbondo dan Sidoarjo – Tulangan – Tarik. Tanjung Priok. Sta. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-44 . Tonjong – Pelabuhan Bojonegara. Wonokromo – Sidoarjo. Serpong – Maja – Rangkasbitung. Sta. terdiri dari : a) Peningkatan persinyalan mekanik menjadi elektrik termasuk rehab track di emplasemen untuk mendukung persinyalan elektrik sebanyak 32 paket. Tegal – Pekalongan. 12) Peningkatan/modernisasi persinyalan perkeretaapian di pulau Jawa sebanyak 79 paket. Sta. Tanah Abang.Blitar – Kertosono. Sta. 11) Rehabilitasi/peningkatan jembatan KA di pulau Jawa sebanyak 174 unit yang tersebar diantaranya di Jabotabek. Sta. Cirebon – Kroya. Cirebon – Brebes. Yogyakarta – Madiun – Solo. f) Modifikasi sistem CTC / CTS sebanyak 4 paket yaitu pada Sta. shortcut Cibungur – Tanjungrasa. diantaranya pada Sta. Purwokerto. c) Peningkatan persinyalan Alkmaar ke SNH dengan blok TBI berbasis PLC sebanyak 6 paket yaitu pada lintas Sukabumi – Cianjur. Maos – Cilacap. Sta. Tulangan – Gununggangsir serta termasuk tramway kampus Universitas Indonesia (UI) Depok dan pembangunan MRT antara Lebak Bulus – Dukuh Atas. Bandung – Tasik. Semarang Tawang – Bojonegoro . Sta. sepanjang 344 km. Bangil Malang . Garahan. Sta.Bandara Soekarno Hatta (KA Bandara). diantaranya Manggarai – Cikarang (double double track).

Priok. diantaranya pada lintas Manggarai – Jatinegara – Bekasi.Ps. 14) Peningkatan/modernisasi pelistrikan perkeretaapian di pulau Jawa sebanyak 80 paket. Kemayoran . pembuatan stabling yard termasuk perluasan stock yard di Pekalongan dan Cirebon/Jatibarang. Pemasangan feeder wire LAA pada lintas Jatinegara . Manggarai . terdiri dari : a) Peningkatan elektrifikasi (listrik aliran atas) sebanyak 45 paket yang meliputi antara lain :     Pembangunan listrik aliran atas/elektrifikasi diantaranya pada lintas Citayam – Nambo. lintas Bogor – Sukabumi. Garahan – Pasuruan.Tj. 15) Pembangunan/rehabilitasi bangunan operasional perkeretaapian di pulau Jawa sebanyak 27 paket. Cicayur. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-45 . Nambo. pembangunan gudang logistik dan depo peralatan di Parungpanjang. Banyuwangi – Kalisetail. Kemayoran .Ancol . lintas Cikarang – Cikampek. Serpong . Penambahan daya PLN Gondangdia. Jakarta kota . Penggantian kawat trolley antara Palmerah – Kebayoran. Maja – Merak. b) Pembangunan dan peningkatan gardu listrik (substation) sebanyak 35 paket yang meliputi antara lain :     Pembangunan gardu listrik di Cibinong. Senen.Jatinegara – Bekasi. Bojonggede. Senen. Kp.Ps. Yogyakarta – Solo. Tigaraksa.Tj. Duri. Penggantian gardu listrik yang sudah berumur lebih dari 20 tahun di Jabodetabek (Jakartakota. lintas Maja – Merak. Bandan . Sudimara – Serpong. diantaranya berupa pembangunan/rehab bangunan gedung stasiun termasuk peron di Jabodetabek dan lintas utama pulau Jawa. Priok. Senen.Senen . Kalideres. Grogol.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 13) Peningkatan/modernisasi telekomunikasi perkeretaapian di pulau Jawa sebanyak 25 paket. Kemayoran . Ps. Duri – Tangerang. Kedungbadak).Cikampek dan Yogyakarta – Solo.Tj. Jatinegara. Kertosono – Madiun – Solo. Priok.Tj. Cikarang . Maos – Cilacap. Semarang – Bojonegoro – Surabaya. Bandung – Tasik.Kp. Jatinegara . Rehabilitasi jaringan LAA pada lintas Manggarai – Depok. Bandan. Tangerang. Pembangunan remote gardu listrik untuk lintas Tanahabang Maja dan Duri – Tangerang. Priok). Tanah abang – Serpong.Maja. b) Pembangunan sistem SCADA untuk jaringan telekomunikasi di Pulau Jawa sebanyak 4 paket. Tenjo. Ancol. terdiri dari : a) Peningkatan sistem telekomunikasi berbasis SDH sebanyak 21 paket.

000 149.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 16) Peningkatan fasilitas pintu perlintasan sebidang di pulau Jawa minimal sebanyak 166 paket yang tersebar di seluruh propinsi di Pulau Jawa.180.780.000 54. perkebunan.000 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-46 .700. j.000 154.850.3 PROGRAM DAN PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI PERKERETAAPIAN NO 1 KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian Pembangunan dan Pengelolaan Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api ALOKASI PENDANAAN (RP. Rencana kegiatan pembangunan perkeretaapian di Pulau Kalimantan kurun waktu 2010-2014 difokuskan pada persiapan dan kajian rinci pengembangan jaringan untuk memenuhi kebutuhan pergerakan barang dan merangsang pertumbuhan wilayah. berbiaya murah dan hemat energi baik angkutan penumpang dan barang untuk memenuhi kebutuhan pergerakan/transportasi dan merangsang pertumbuhan wilayah.000 698.080. Adapun pembangunan perkeretaapian di Pulau Kalimantan direncanakan melalui peran Pemerintah Daerah. Pulau Sulawesi Pengembangan transportasi perkeretaapian di Pulau Sulawesi meliputi upaya pembangunan jaringan kereta api yang berkapasitas tinggi.800. handal.000 70.210.000 131.000 62.000 143.450. Pembangunan jaringan tersebut berupa akses dari sentra produksi (tambang.000) 2012 2013 2010 2011 2014 TOTAL 44. Pulau Kalimantan Pengembangan transportasi perkeretaapian di Pulau Kalimantan meliputi upaya pembangunan jaringan kereta api yang memiliki kapasitas tinggi. angkutan sungai).000 2 119. Rencana kegiatan pembangunan perkeretaapian di Pulau Sulawesi kurun waktu 2010-2014 difokuskan pada upaya persiapan dan kajian rinci pengembangan jaringan antara lain lintas Manado – Bitung.000 312. BUMN dan Swasta meliputi pembangunan jalur KA angkutan batubara.670. cepat dan murah dengan titik berat untuk angkutan barang dan tidak menutup kemungkinan untuk angkutan penumpang. khususnya untuk angkutan batubara. berkecepatan tinggi.000 81. Makassar – Parepare dan Gorontalo – Bitung serta pengembangan jaringan kereta api pada kawasan perkotaan metropolitan Makassar – Maros – Sungguminasa – Takalar.500.080. i. perhutanan) menuju outlet terdekat (pelabuhan.600. TABEL V .

Prinsip PSO ditekankan untuk mendukung sistem pengoperasian bukan untuk investasi sarana dan perlengkapan kapal.520.730.531.000 6.000 816.230.000 Sumber : Ditjen Perkeretaapian Perincian dapat dilihat pada Lampiran Rencana Strategis 3.470. a.044. Sasaran diakhir Renstra.000 1. 2) Berkaitan dengan butir pertama. 5) Pelayanan keperintisan skema Public Service Obligation (PSO).000 9.000 4 293.330.000 7. TRANSPORTASI LAUT Program pembangunan transportasi laut tahun 2010-2014 bertujuan untuk mendukung pengembangan transportasi laut yang lancar.000 1.090.246. sehingga mampu meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang. CPO. Skema ini harus berlaku untuk semua sarana dan pelenkapan kapal.792.830.000 33.000 7.240.370. perlu dikembangkan kemitraan dengan Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan industri galangan kapal pendukung kebijakan azas cabotage.000 6.350.000 5.042.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3 Pembangunan dan Pengelolaan Prasarana dan Fasilitas Pendukung Kereta Api Pembangunan dan Pengelolaan Bidang Keselamatan dan Teknik Sarana Kereta Api TOTAL 3.000 6.850. 100% produk primer nasional : batu bara.729.350.000 1.264. Skema ini harus berlaku untuk semua operator liner yang bersedia melayani angkutan perintis.830.230. 4) Menciptakan pola angkutan produk ekspor Indonesia yang berpihak pada angkutan pelayaran nasional.000 3. dimana sesuai dengan kapasitas armada nasional yang tersedia dan diharapkan seluruh barang/ muatan antar pelabuhan di dalam negeri akan telah dapat diangkut oleh perusahaan angkutan laut nasional dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia selambatlambatnya 1 Januari 2011.806.240.000 4. terpadu. 3) Terciptanya liner dalam suatu sistem jaringan nasional yang menyentuh trayek pelayaran perintis yang dapat menjangkau seluruh wilayah NKRI.582.644.480. b. Pembangunan Prasarana Kepelabuhan 1) Persiapan hub internasional pada posisi pelabuhan yang memiliki nilai strategis ditinjau dari aspek pasar internasional dan efektif ditinjau dari posisi geografis secara nasional sehingga dapat secara efektif BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-47 .970. minyak mentah terangkut oleh pelayaran nasional dengan menghapuskan sistem FOB dalam kontrak penjualan.210.000 5.530.450.000 27.272.087.937.974. aman dan nyaman. memperkecil kesenjangan pelayanan angkutan antar wilayah serta mendorong ekonomi nasional. Pembangunan Angkutan Laut 1) Memantapkan azas cabotage dalam negeri 100% berdasarkan komoditi.

yaitu Pelabuhan Tanjung Priok dengan mengembangkan kapasitas sendiri serta pengembangan beberapa kawasan kemudian Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Tanjung Perak yang memungkinkan dikembangkan ke arah Pulau Madura dengan memanfaatkan jembatan suramadu sebagai akses road dari hinterland ke Tanjung Priok. yaitu Pelauhan Pekanbaru. Pelabuhan Kupang sebagai pusat angkutan perintis di wilayah Nusa Tenggara dan Pelabuhan Sorong (sebagai terminal khusus bajan bakar dan perikanan). Pelabuhan Samarinda dan Pelabuhan Balikpapan. Pelabuhan yang perlu mendapat prioritas pengembangan. Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Peningkatan Keselamatan Pelayaran 1) Pendataan kondisi dan kebutuhan fasilitas keselamatan pelayaran secara nasional. Pelabuhan Tanjung Perak. Pelabuhan Benoa. 2) Pembangunan fasilitas keselamatan transportasi laut. Pelabuhan Pontianak. Pelabuhan Ambon sebagai pusat angkutan perintis do wilayah Maluku dan Papua. Pelabuhan Bitung (disiapkan sebagai hub internasional). Pleabuhan Bojonegara sebagai pendukung Pelabuhan Tanjung Priok (pengembangan operasional kontainer). Dengan keterbatasan anggaran pemerintah (APBN) melakukan seleksi beberapa pelabuhan untuk dikembangkan dengan prioritas tinggi dan dengan recovery yang cepat melalui pendanaan dari pinjaman luar negeri. Pelabuhan Palembang.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 2) 3) 4) 5) 6) 7) mengangkut muatan dari dan ke Indonesia. Pelabuhan Batam (disiapkan sebagai hub internasional). Mengembangkan kerjasama dengan investor baik asing maupun nasional dalam kerangka Public Private Partnership (PPP) dan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) pada pelabuhan yang berpeluang untuk dikembangkan. Pembagian wilayah lebih ditentukan kepada cakupan panjang pantai dan bukan BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-48 . dengan pelayanan antrian dibawah 5 jam pada tahun 2012. Prioritas utama pada pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak. Pelabuhan yang harus dikembangkan walaupun memiliki keterbatasan lahan. c. walaupun harus tetap dijaga kapasitasnya dan kondisi infrastruktur untuk mempertahankan aktifitas kepelabuhanan. Rehabilitasi prasarana kepelabuhanan untuk terciptanya zero waiting time pada tahun 2014. Prioritas kedua pada Pelabuhan Belawan dan Pleabuhan Makassar. 4) Dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun memperkuat pangkalan-pangkalan sea and coast guard dan membagi Indonesia menjadi 3 (tiga) wilayah : Indonesia Barat. Pelabuhan yang tidak memungkinkan dikembangkan. Pelabuhan Banjarmasin. 3) Pemeliharaan dan pengoperasian kselamatan transportasi laut. yaitu Pelabuhan Belawan (serta penggeseran alur pelayaran di Selat Malaka).

Akademi Coast Guard disiapkan untuk mengisi kekurangan sumber daya manusia dan memahami teknologi serta kemampuan operasi yang dibutuhkan. Perlindungan Terhadap Lingkungan Maritim 1) Menambah kapal-kapal patroli. Program Pengelolan dan Penyelenggaraan Transportasi Laut Tabel V-4 Program Pengelolan dan Penyelenggaraan Transportasi Laut KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis lainnya Ditjen Hubla Pengelolaan dan Penyelenggaraan Kegiatan di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Laut ALOKASI PENDANAAN (Rp. 5) Peningkatan kemampuan sea and coast guard untuk membantu Badan SAR Nasional dalam penanganan kecelakaan transportasi laut.037.426 6. Makassar.580 1.138 490.917.262.068.162.625. Penyempurnaan sarana bantu kerja dan peningkatan intensitas dan kualitas pengawasan.000) 8.436. Penyediaan belanja pegawai dan barang rutin yang sesuai dengan kebutuhan.029. guna menunjang kelancaran kegiatan Pelimpahkan pengelolaan pelabuhan-pelabuhan feeder kepada Pemerintah Daerah untuk mengurangi rentang kendali pengawasan dan mengurangi jumlah pegawai di tingkat pusat dan mendukung program otonomi daerah.840 2014 1.478.804.570.172.820. Lokasi-lokasi tersebut dapat ditempatkan di Medan. dan Sorong.688 1.350.001 1. d. e. Balikpapan. dalam wujud Pelatihan dan pendidikan formal strata 1 pada umumnya serta khususnya strata 2 (S2).202 2011 1. Ambon.781 1.528.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pembagian berdasarkan provinsi.614.531.000) 2010 1.722.415 2012 1. Pembentukan dua tipe sekolah dan balai pelatihan di ruang lingkup Ditjen Perhubungan Laut yaitu Akademi Pelayaran dan Akademi Coast Guard (hingga saat ini belum ada). 2) Melengkapi fasilitas penampung dan pembuangan limbah.053 TOTAL (Rp. Kemitraan dengan Perguruan Tinggi dalam negeri dan/atau luar negeri di dalam upaya peningkatan SDM yang bersifat strategis.023.522.541..587. Program Pembangunan SDM dan Kelembagaan 1) Peningkatan kualitas SDM dangan pembentukan balai pelatihan yang tersebar di seluruh Indonesia di dalam upaya akselerasi peningkatan SDM di Ditjen Perhubungan Laut. 3) Meningkatkan peran sea and coast guard untuk melindungi taman laut nasional. Surabaya.476 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-49 .736. 2) 3) 4) 5) 6) f.628 2013 1. Jakarta.

438.310.810.073 23.121 662.911.905.150.032 7.023 4.777.393.500.371. memperkecil kesenjangan pelayanan angkutan udara antar wilayah serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. sehingga mampu meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang. 4.005.000 160. Dukungan Manajemen Dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Program Restrukturisasi dan Kelembagaan. TRANSPORTASI UDARA Program pembangunan transportasi udara tahun 2010-2014 bertujuan untuk mendukung transportasi udara yang lancar. b. menjamin BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-50 .600 33.018 6.325.803.725.529.000 1. Pembangunan Transportasi Udara bertujuan melanjutkan kebijakan peningkatan kualitas pelayanan transportasi udara melalui penerapan pelayanan dasar sesuai dengan standar pelayanan minimal. bertujuan untuk mewujudkan reformasi kelembagaan.605.462 9.120.195 5.000 576.878 2. menjamin prioritas kegiatan penegakan hukum. peraturan perundang-undangan.412.551 621.207.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pengelolaan dan Penyelenggaraan Kegiatan di bidang Pelabuhan dan Pengerukan Pengelolaan dan Penyelenggaraan Kegiatan di bidang Perkapalan dan Kepelautan Pengelolaan dan Penyelenggaraan Kegiatan di bidang Kenavigasian Pengelolaan dan Penyelenggaraan Kegiatan di bidang Penjagaan Laut dan Pantai TOTAL 1.124.897.000 4.764.500. SDM dan pelayanan transportasi udara.140 5.848 686.048 3.507.000 12. bertujuan mewujudkan pengembangan / pembangunan prasarana Bandar Udara sesuai pola jaringan prasarana dan pelayanan transportasi udara nasional.250.221.749 4. Pembangunan.784.630.038 4.563.529.247.044. pengentasan kemiskinan.226 6. Rehabilitasi Dan Pemeliharaan Prasarana Bandar Udara Program pembangunan Transportasi Udara.000 505.882 943. dan membuka lapangan kerja di jabarkan dalam 5 kegiatan yaitu: a.745.300.802.447.877.660. terpadu dan nyaman. pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi serta mewujudkan penyempurnaan peraturan dibidang penerbangan dan ratifikasi konvensikonvensi internasional.592.300.001 57.630. peningkatan dukungan terhadap daya saing sektor riil serta peningkatan investasi proyekproyek infrastruktur yang dilakukan oleh swasta melalui berbagai skema kerjasama antara pemerintah dan swasta dengan prioritas menunjang pertumbuhan.000 1.000 207.515 Sumber : Ditjen Perhubungan Laut Perincian dapat dilihat pada Lampiran Rencana Strategis.433 851.349.000 1.857.999 3.537.

Pangsuma – Putusibau.Papua (S.Bengkulu (Muko – Muko) . Bandar Udara Tolikara – Papua. sehingga Bandar Udara tersebut mempunyai prioritas utama untuk dikembangkan terlebih dahulu. yaitu Bandar Udara Jhon Becker – Kisar. Haiwen – Atambua. navigasi.NTT (Labuhan Bajo. namlea – Buru Dobo – Kepulauan Aru.Sulawesi Tengah (Tojo Una – Una) .Sumatera Utara (Lasondre – Nias Selatan. Kendala utama dalam pencapaian target program ini adalah kesediaan lahan untuk kegiatan perpanjangan landasan yang implementasi di beberapa daerah diserahkan kepada Pemerintah Daerah setempat. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-51 . Nunukan. Bandar Udara Dobo – Kepulauan Aru. Falabisahaya Mangole – Taliabu. Gewayantana – Larantuka. Bandar Udara Mopah – Merauke. Wonopito – Lembata) . Mopah – Merauke) Bandar Udara di daerah perbatasan : Sei Pakning – Bengkalis. Sarmi. John Becker – Pulasu Kisar. Bandar Udara Tual Baru – Maluku Utara. Wai Oti – Maumere. komunikasi. Bandar Udara Nunukan – Kalimantan Timur. Tanah Merah. Muting. Bandar Udara – Bandar Udara rawan bencana yang akan dikembangkan meliputi .NAD (Kuala Batee. fuel farm. Benjina – Kepulauan Aru. Olilit / Saumlaki Baru. Baru Bula-Seram bagian Timur. Usulan prioritas pengembangan Bandar Udara di daerah rawan bencana dan perbatasan harus sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Bandar Udara Pangsuma – Putussibau. Ranai – Natuna. Wahai – Seram bagian Timur) . Teuku Cut Ali. Bandar Udara Tanah Merah – Papua. Babullah – Ternate) .Sulawesi Utara (Miangas) . Condronegoro – Serui. Bandar Udara Lekunik – Rote. Untuk Bandar Udara di daerah perbatasan harus dapat mendukung keamanan wilayah dan mampu didarati pesawat sekelas F-27 atau hercules C-130 yang dilakukan secara bertahap serta diharapkan juga tersedia fasilitas pendukungnya (kespen. Bandar Udara Miangas – Sulawesi Utara. serta mempunyai potensi demand. Bandar Udara Sarmi – Papua. Emalamo – Sula. Bandar Udara Tardamu – Sabu. dan lain-lain). Tolikara. Pengembangan dan pelaksanaan pembangunan Bandar Udara di daerah perbatasan negara yang perlu dikembangkan. Hamzah Fanzuri – Singkil) .RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 implementasi tatanan kebandarudaraan nasional yang berdasarkan hirarki fungsi secara efisien dan efektif dengan pertimbangan pemenuhan permintaan jasa transportasi udara serta menunjang wawasan nusantara dan ketahanan nasional dan menciptakan daya saing industri angkutan udara nasional dengan penerapan kebijakan liberalisasi angkutan udara secara selektif dalam menghadapi pasar global. Numfor – Biak Numfor.Maluku (Namrole – Buru.Maluku Utara (Tual Baru. Nias Selatan Baru) . Bandar Udara Saumlaki Baru . Seluwing – Malinau.

Peralatan penanganan barang dan/ atau berbahaya (dangerous goods). Pembangunan Fasilitas Keamanan terdiri dari :  Fasilitas keamanan penerbangan meliputi X-Ray (X-Ray cabin. CCTV. turning area. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana Transportasi Udara. breathing apparatus. CIS (Centralized Image Secure). dan apron. peralatan PKP-PK dan rekondisi sistem dan modifikasi Turet. sepatu. Radio Base Station. radio komunikasi. baju pelindung tubuh. Fasilitas bangunan terdiri dari bangunan kantor dan bangunan operasi. Liquid Scan Detector. Radio Communication for Avsec. overrun. kendaraan operasional test foam kit. Pembangunan. Fasilitas terminal terdiri dari terminal penumpang dan barang. hovercraft. alat pemadam portable. perekam video dan audio. bertujuan untuk menjamin peningkatan kualitas pelayanan transportasi udara nasional melalui pemenuhan prosedur kerja. standar pelayanan. Body Inspector. jalan. Fasilitas PK-PPK dan salvage terdiri dari Foam tender. Detector NUBIKARA. X-Ray Cargo). Rehabilitasi fasilitas terminal terdiri dari terminal penumpang dan barang. meliputi sarung tangan. ambulance. peralatan emergency operation centre dan pembuatan data base. X-Ray bagasi. Navigasi    c.B BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-52 . peralatan salvage. Computer Base Training. kompresor pengisian BA SET. apron. dan On Time Performance serta implementasi ketentuan keselamatan penerbangan secara optimal. CCAS (Central Control Airport Secure). tempat penyimpanan tumpahan dangerous good. RIV. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan terdiri dari runway. Security Perimeter for Airport Surveillance. saluran dan lain-lain. Security Inspection Motorcycle. taxiway. Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana Penerbangan Pembangunan fasilitas Navigasi Penerbangan terdiri dari : 1) Fasilitas Peralatan Air Traffic Management meliputi pembentukan penyedia pelayanan navigasi.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pembangunan fasilitas landasan terdiri dari runway. penutup mulut dan hidung. Security Door System. pengambilalihan ruang udara sektor A. alat uji fasilitas keamanan penerbangan dan remote monitoring dan maintenance for X-Ray. pemadam kimia cair/ kering. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas keamanan penerbangan terdiri dari rehabilitasi dan pemeliharaan X-Ray. RESA dan shoulder. Explosive Detector. parkir. taxiway. Rehabilitasi fasilitas bangunan terdiri dari bangunan kantor dan bangunan operasional. pagar. kacamata. pelindung kepala dan pelindung telinga. Security Inspection Car. baju tahan panas. baju tahan api. suku cadang fasilitas keamanan penerbangan. Alarm System. car. CCTV. Dummy Test Avsec. Metal Detector (Walk Through Metal Detector dan Hand Held Metal Detector).

pengadaan ADS-B dengan teknologi UAT/ Universal Access. 4) Fasilitas komunikasi penerbangan meliputi ADC. Electronic Safety Incident Reporting System. ATN/AMHS. Tipe pesawat yang digunakan sama dengan tahun 2009. AFTN PTP. Computer Based Training (CBT) untuk keperluan refreshing dan pengujian licence personil ATC. VCSS. VOR/DME. 3) Fasilitas bantu navigasi penerbangan meliputi pengadaan dan pemasangan DVOR/DME.fasilitas pengamatan penerbangan (pemelihraan system NOTAM Office dan Briefing. pengadaan suku cadang radar. Jumlah rute angkutan udara perintis cenderung tetap selama 2010 – 2014. Pengadaan peralatan ATCC. suku cadang DVOR/DME. Integrated AIS System. Information Automated Aviation Server Billing. pengadaan MLAT Wide Area System. VHF-ER. DME. d. penggantian PSR. tower simulator 3D untuk kepentingan refreshing dan ujian licence/ rating. AMSS. pengadaan radar coverage. DME. Simulator Design Airpsace Management untuk penyempurnaan Ruang Udara. pengadaan dan pemasangan ATC automation. Rehabilitasi peralatan navigasi penerbangan terdiri dari : . GBAS (GLS). pengadaan dan instalasi Landing Facility. ADS-B Manage of service operasional. ATFM unit dan lain – lain. Master Clock.fasilitas navigasi penerbangan (penggantian DVOR/DME. pengadaan suku cadang ATC Automation untuk MAATS. Laboratorium English Proficiency. penggantian SSR dengan MSSR Mode S. . peningkatan kemampuan VSCS). NDB. VHF APP-Set. dihitung dengan asumsi TOC per jam naik 10 % per tahun serta tarif naik 10 % per tahun. 2) Fasilitas pengamatan penerbangan meliputi implementasi jaringan ATM Net untuk keperluan ADS-B. HF-SSB. VSAT. Mobile Tower Set. pengadaan dan pemasangan radar MSSR. fasilitas meteorologi yang terdiri dari AWOS. pengadaan peralatan monitoring frekuensi radio. diperkirakan jumlah rute berkisar antara 114 – 118 rute. Teleprinter. DVOR. penggantian ATC Automation di JAATS. VOR. beberapa daerah mendapatkan subsidi angkutan bahan bakar. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-53 . ILS dan suku cadang ILS). RVR. penggantian MSSR dengan MSSR Mode S. pengadaan dan pemasangan ASMGCS/ Multilateration. ILS.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 dan C. VHF-Portable. doppler cuaca serta pengadaan jaringan untuk ADS-B. Rocorder. pengadaan suku cadang ADS-B. new CNS/ATM System Development. Pelayanan Angkutan Udara Perintis Subsidi angkutan udara perintis tahun 2010 – 2014. Selain itu.

837.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel V-5 Program Pengelolaan dan Penyelenggaraan Transportasi Udara 2010 – 2014 ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Rp.131.141.742.242.000 183.137. KEGIATAN 2010 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Pelayanan Angkutan Udara Perintis Pembangunan.535.616.934.162 278.000 1.061 2014 5 282.561 1 6.573 1.522 1. rehabilitasi dan pemeliharaan Prasarana Bandar Udara Pembangunan.834.847.612.918.167.916 2 3 2.721.378.024.823 374.554 1 5.576.000 9.587.640 330.000 762.254.525.262.419 2013 1 73.729.958.958 1.546.433.211.228.775.840.000 37.091 1 6.407.584.900 1 7.035.000 180.234.873.816.200 32.255.325.559 JUMLAH Dukungan Manajemen Dukungan Teknis Lainnya dan Pelaksanaan Pengawasan pada Wilayah Kerja Inspektorat I Pelaksanaan Pengawasan pada Wilayah Kerja Inspektorat II BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-54 .000 1.528.733 4 91.000 1.050.786 3.589 1 8.447 1 9.500 108.092.038.335.937.285 294.240.217.247.169.733 3.352.077.573 170.267.990 1 8.654.306.544. rehabilitasi dan pemeliharaan Prasarana Keamanan Penerbangan Pembangunan.632.073 6 6.89 7 5 31.210.879.806.809 Sumber : Ditjen Perhubungan Udara Perincian dapat dilihat pada Lampiran Rencana Strategis 5.500 71.976 249.391.684.994 19.786.380.012 KEBUTUHAN (Rp.000) No.087.000 1.318. Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara Tabel V-6 Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara KEGIATAN/SUB KEGIATAN SATUAN Paket Rupiah Paket Rupiah Paket Rupiah 1 42.283.106.000. rehabilitasi dan pemeliharaan Prasarana Navigasi Penerbangan Pengawasan dan Pembinaan Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara 2011 2012 2013 2014 TOTAL 949.000 173.016 5 40.128.000 5 184.544.000 132.817.896.500 1.555.413 2011 1 55.556 1 5.248 1 7.200 TOTAL 3.907.000 28.693 1.289.171 5.000 149.750.601.-) 2010 1 47.654 2012 1 63.388.731 6.953.743 2.646.913.000 43.555 3.886 1.979 1 6.406.

463.199 165.112 622.439.401.351 11.846 1 8.282.623 15.400.564.018. Program Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Tabel V-7 Program Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Tahun 2010-2014 KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Peningkatan Prasarana Perhubungan Sarana dan Penelitian 13.000) 2010 31.667 1 6.482 1 6.737.846 12.070.648.982.771.147.059.001.816 JUMLAH Paket Rupiah 6 71.974 15.534 1 7.630.647.529 1 6.078 60.404.-) 2010 1 6.173.752 24.316 2013 1 8.434.648 2014 5 33.943.935 5 33.343 66.511.640 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-55 .168.664 87.067.515.357 11.565 17.387 2013 37.545 15.393 2012 35.323 60.191.931 KEBUTUHAN (Rp.942 10.332.357.920 13.540 14.947.974 Penelitian dan Pengembangan Manajemen Transportasi Multimoda Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Darat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Laut Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara TOTAL 9.665.143.471.295 JUMLAH 178.967.508.755 21.321.381.084 15.148 5 36.450.260 2014 40.468 136.289.361.724 2011 1 6.058.230.034.030 1 7.620.832.979.828.629 9.192 17.010.197.532 98.000.411.852 127.204 10.996 54.221.233 1 8.483 30 458.998.487.662 1 5.866.835 10.088.456.929 105.823 8.329.910 167.117 13.065.417 6 102.639 2011 33.539.767 6 78.587 1 7.284.436 ALOKASI BIAYA (Dalam Rp.988.3 72 6. penyimpangan atau penyalahgunaan wewenang serta penanggulangan hambatan pembangunan di lingkungan Kementerian Perhubungan JUMLAH SATUAN Paket Rupiah Paket Rupiah Paket Rupiah 1 5.370.356.919 6 116.501.628.515 1 5.508 58.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 KEGIATAN/SUB KEGIATAN Pelaksanaan Pengawasan pada Wilayah Kerja Inspektorat III Pelaksanaan Pengawasan pada Wilayah Kerja Inspektorat IV Pelaksanaan Pengawa-san pada Wilayah Kerja Inspektorat Khusus serta melaksanakan pengawasan di bidang pemberantasan KKN.820 11.813.749 19.786 6 90.197 2012 1 7.455.

231.978 453.099.011 71.414 815.000 232.491.313 23.645 97.478 91.379.153 789.540.799.500 22.261 420.774.877.688.603 20.082 64.540 4.921 255.864.752.823.487.346 651.307.896 23.871.863.695.230 87.958.238 75.994 32.941.615 2.606 391.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 7.450 1.302.074.804.654.745 41.000 31.734.832.500 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-56 .874.912 142.636.500.428 21.878.231 1.950 21.075 21.729.498 59.812 3.904.929.450 28.653.372 69.511.317 132.228 73.291.500 42.409.000 432.575.950 53.342.588.155 292.601.790.327.420.931.454 3.366.043 386.586.152.365.734.924.215 333.379.514 199.934.944.755 45.307.129.801.158.441.259.877.595 99.258 24.950 48.805 31.211.651.323 66.941.403 87.562.450 26.900 21.000 26.986 232.695 72.000) 2010 2011 2012 2013 2014 JUMLAH (Rp.000 402.102.151.501.732.518 532.944 23.740.066.105.327.193 233.000.698 166.327.365.537 578.479.138.000 280.466.353.901 113.795.316 41.839 70.729.103.231.889 113.359 26.180 26.440.557.414 171.136 170.057 29.429.431.374 26.017 840.929.697 49.701 46.768.037.877.390.372 1.805 80.747.816 62.181.091 128.012 18.500 1.747.422.000 32.289 37.717 69.913.264.174.130.471 30.014.786 460.423.000 1.803 23.387.367.126.530.415 820.076.700 58.698 147.471 236.761.629 680.500 866. Program Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Tabel V-8 Program Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Tahun 2010-2014 NO KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Sekretariat Badan Diklat Perhubungan DKI JAKARTA Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Darat DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH JAWA TIMUR SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN BALI KALIMANTAN TIMUR SULAWESI SELATAN PAPUA BARAT Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Laut DKI JAKARTA JAWA TENGAH JAWA TIMUR BANTEN NAD SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU SULAWESI SELATAN MALUKU PAPUA BARAT Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Udara BANTEN JAWA TIMUR SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN SULAWESI SELATAN PAPUA BARAT TARGET (Rp.453 82.365 34.000 66.135.481.042 19.485 9.118.305.746 109.715 327.013 584.174 23.296 900.142.435.929.970.650 48.546 788.738.154.000 462.880.304.140.344.985 26.476.432.373 41.706.435.474 673.940.739 1.000 61.043 866.752.598 79.588.335 1.184 122.148.501.858 222.000 30.353.503 171.000) I 114.060.664 54.160 437.915 25.338 704.202.062 29.004 583.650 185.247 34.798.656.986 533.992.853.341.842 168.780.200.574.990.932 241.871.439 29.514 20.933 49.482.794 26.163 92.188.363 475.149.064.049.935.468.627.464 116.303.000 31.252 168.431.580.296.766.134 145.500 25.749.052.558.353.261 147.457.000 74.025 48.426.318 110.492 1.000 26.049.950 7.450 21.039.914.474 199.512 1.768.024 437.615 1 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 IV 1 2 3 4 5 6 114.103 40.274 25.674.155.786.972.000 63.619 72.894.

783 56.418.705.199.732.348.677.000 71.706 22.616.600.108.224.199.850.824 3.267 356.756 37.967 249.118 71.174.108 249.374. Sekretariat Jenderal Tabel V-9 Program Dukungan Manajemen dan Pelayanan Tugas Teknis Lainnya Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kementerian Perhubungan Tahun 2010-2014 KEGIATAN ALOKASI KEBUTUHAN PENDANAAN (Rp.087 19.000 37.129 663.314 47.260.500.172.070.098.373 15.772 304.000) 106.445 57.237 249.172.790 23.206.083.018.278.019 4.147 16.489 13.990 43.046.879.470.876.629.540 17.368 105.005.305 20.403.494. Program.953 530.848.520.255.700.-) 2010 2011 2012 2013 2014 Jumlah DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA Penyusunan Dokumen Rencana.157.893 3.421 54.848 570.041.997 178.997 71.316.306.709 28.564.000 287.000 18.933 21.617. 000.039 111.520 437.824.726.163.108 1.983 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-57 .669.283 24.450.101.535.498 27.427.083.656.769.284 56.750 17.110.268 59.061 47.429.440 Pemanfaatan Kajian Pelayanan Jasa Transportasi Pengelolaan Komunikasi Publik dan Pemberian Informasi di Bidang Perhubungan Penegakan Hukum Keselamatan Pelayaran di Bidang 12.126 JUMLAH (Rp.217.787 15.900.000 90.446 2011 20.384 2.000 14.900 15.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO 7 V 1 KEGIATAN PAPUA Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Perhubungan JAWA BARAT TOTAL TARGET (Rp.178.738 619.757.877 70.000 59.038.912 13.645 327.042 13.743.846 15.501.888.000) 2010 8.000 14.002.425.432 38.247 188.935.324 204.174 65.810 455.937 25.506.791.000 53.850.937.505.323 54.520.446 23.699 33.052.504.582.041.700.846 Pelayanan Pemeriksaan Lanjutan Kecelakaan Moda Transportasi Total PENINGKATAN SARANA/PRASARANA/APARATUR KEMENTERIAN PERHUBUNGAN Pembinaan/Pembangunan /Pengadaan dan Peningkatan Sarana/Prasarana TOTAL 28.958.041.483.409.688.472.589 60.082.308.332.388 44.052.157.469.180.823.892 3.152 59.000 65.373 493.000 12.034.001 8.137 2.709.922.083.000 19.674.650 73. Evaluasi serta Penetapan Kebijakan Pentarifan di sektor Perhubungan Pembinaan kepegawaian dan Pengelolaan 14.061 2012 22.032.000 20.147 18.160 40.654 1.748 112.595.232.273.763.958 57.039.323 2013 25.402 12.150347 19.055 306.900.266.131 16.126 65.971.682 19.456 12.170 167.870.152 2014 28.198.414.238 399.970.543 Pembinaan dan Pengelolaan Administrasi Keuangan dan perlengkapan di Lingkungan Kementerian Perhubungan Pembinaan dan Koordinasi Penyusunan Produk dan Pelayanan Hukum serta kerjasama luar negeri Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas Pengelolaan Perhubungan Data dan Informasi Kemitraan 15.446.

326 789.000 10.000 5.000.000 25.000 Ditjen Perhubungan Darat 29.000 131.000.000 238.500.000 14.600.500.224.145.900.700.700.500.000 2011 21.000.500.250.000 21.000 5. 000) UNIT KERJA Setjen KEGIATAN Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Pengembangan SDM dan Tata Kelola Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Pengembangan SDM dan Tata Kelola Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Pengembangan SDM dan Tata Kelola Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Ditjen Perhubungan Udara Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Pengembangan SDM dan Tata Kelola Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Pengembangan SDM dan Tata Kelola Badan Litbang Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur 2010 12.000 12.900.000 3.500.000 Ditjen Perkeretaapian 1.290.768.000.000 0 5.300.000 1.000 200.860 19.400.300.000 91.000 0 4.000 4.000 23.750.300.000 1.552.600.396.406.971.200 25.700.000 25.629.400.000 25.000.000 2.000 13. Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Lingkungan Kementerian Perhubungan 2010-2014 adalah sebagai berikut : Tabel V-10 Teknologi Informasi dan Komunikasi KEBUTUHAN (Rp.200.000 9.750 9.000 1.000 4.068.000 18.000 126.250 19.000 3.000 1.000 47.304 566.000 TOTAL 64.500.000 367.000 Ditjen Perhubungan Laut 34.000 8.199.000 2014 450.000 1.000 3.000 6.000 1.286.000 112.395 930.000 1.802.792.000 54.200 25.000 100.152.300.592.448.000 84.000 50.600.500 24.000.000 3.300.762.000.000 7.000 200 8.300.000 100 1.050.140.616.000 16.100.000 73.566.000 1.500.000 24.000 2013 8.420 20.638.000 4.000 220.550.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 9.500.500.850.000.000 14.972 92.300.800.000 2.400.500 147.000 405.000 43.165 58.000 Itjen 18.900.000 0 12.000 23.500 294.000 441.943.000 5.000 28.690.550.000 68.000 15.000 13.000.168.000 62.000 11.000.000 200 1.000 5.850.400.450.000 3.303.782 31.000 13.000 127.100.000 27.000 2012 21.690.948.000 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-58 .470.314.000 1.416.000.000 200.490.000 0 19.000 1.640 18.000 4.500.500 97.

905. yang didalamnya kemampuan pemerintah pusat dalam penyediaan pendanaannya hanya sekitar 35.000 4.870 826 260.250.000 650 762 2.304.410 762 75. dan berkelanjutan merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan dan pemeretaan perekonomian jika dilaksanakan melalui kompetisi secara terbuka.170 10. Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.570 831 197.950.365. b) Mempersiapkan proyek KPS secara matang sehingga dapat menekan biaya transaksi yang tidak perlu. dan akuntabel. Program Pembangunan Transportasi Melalui Investasi Pemda/BUMN/ Swasta Penyediaan infrastruktur yang efektif.250. 1. misi.000 22.429.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Pengembangan SDM dan Tata Kelola Badan Diklat Pengembangan Aplikasi Pengembangan Infrastruktur Pengembangan SDM dan Tata Kelola TOTAL BIAYA 718 3.000 975. termasuk menyediakan dana pendukung di dalam APBN.910 3.3 triliun. arah kebijakan dalam penyediaan infrastruktur melalui skema KPS adalah: a) Melanjutkan reformasi strategis kelembagaan dan peraturan perundangundangan pada sektor yang mendorong KPS. diperkirakan total investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp. baik sektor maupun lintas sektor dengan membuka peluang penyediaan infrastruktur skema KPS.420 768 115. efisien.210.905. Untuk mendukung tercapainya sasaran pembangunan sarana dan prasarana tahun 2010-2014. privatisasi. serta mendorong program industrialisasi berupa pengembangan pusat kegiatan (kawasan) yang dapat menarik industri lanjutan untuk berinvestasi di Indonesia. serta partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat.000 650 3. adil. CSR.552. pemerintah akan mengurangi perannya sebagai penyedia keseluruhan layanan infrastruktur menjadi fasilitator atau enabler sarana dan prasarana yang sudah dilakukan melalui peran serta masyarakat (termasuk badan usaha swasta).413.700.550.850.000 550 768 2.500. yaitu membangun sarana dan prasarana yang dapat memperlancar arus lalu lintas barang dan informasi. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-59 . Hal ini harus sejalan dengan visi. dan program aksi presiden terpilih untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan melalui dual track strategy. Perubahan peran tersebut diwujudkan melalui perubahan peraturan perundangundangan.000 718 327. dilakukan pengembangan KPS.000 826 7.000 11. dan c) Menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mendukung investasi dalam pembangunan dan pengoperasian proyek KPS. Untuk itu .75 persen dari total kebutuhan.000 831 7.257.000 4. Sehubungan dengan hal itu.550.250.

transparan. arah kebijakan pembangunan transportasi melalui skema KPS dilakukan dengan : a) Mendorong peran swasta pada sektor transportasi melalui reformasi kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang memungkinkan penyediaan infrastruktur dilakukan secara efektif dan efisien melalui kompetisi yang adil. peningkatan kapasitas dalam pengembangan. yang didukung oleh kerangka insentif yang lebih baik. dan informasi baik dalam transportasi perkotaan. perbankan. c) Mendorong terbentuknya regulator ekonomi sektoral yang adil dalam mewakili kepentingan pemerintah. f) Memberi jaminan adanya sistim seleksi dan kompetisi yang adil. dan konsumen. dan akuntabel. b) Mendorong kerjasama dan peningkatan kapasitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam merencanakan. Untuk mendukung kelancaran distribusi barang. g) Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana daerah melalui peningkatan pengeluaran pemerintah daerah. b) Deregulasi sektor transportasi untuk meningkatkan keterlibatan swasta dan masyarakat. e) Mempersiapkan proyek KPS yang akan ditawarkan secara matang melalui proses perencanaan yang transparan dan akuntabel. seperti: fasilitas dalam penyediaan tanah dan pendanaan seperti Infrastructure funds dan guarantee funds. melakukan promosi KPS. transparan. c) Melakukan bundling dan unbundling proyek KPS sektor transportasi dan menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung kelayakan proyek untuk lebih menarik untuk swasta dalam KPS. antara lain melalui penerapan tarif yang bersifat pemulihan biaya BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-60 . dan memantau pelaksanaan KPS. dana pension. Strategi untuk pelaksanaan arah kebijakan tersebut adalah: a) Melibatkan berbagai sumber pendanaan dalam pembiayaan pembangunan sarana dan prasarana transportasi termasuk dana infrastruktur. antar kota maupun antar pulau. baik domestik maupun internasional. pasar modal. dan obligasi. jasa. b) Membentuk fasilitas-fasilitas yang mendorong proyek pelaksanaan KPS.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Strategi yang akan ditempuh adalah sebagai : a) Membentuk jejaring dan meningkatkan kapasitas untuk mendorong perencanaan dan persiapan proyek KPS. badan usaha. mempersiapkan. dan terbuka. asuransi. serta melakukan transaksi proyek KPS. d) Memfasilitasi penyelesaian sengketa pelaksanaan proyek KPS secara efisien dan mengikat.

serta i) Meningkatkan kerjasama regional dan bilateral serta multilateral khususnya dalam penyediaan fasilitas pendanaan jangka panjang termasuk hibah dan pinjaman lunak yang disertai transfer pengetahuan dan teknologi yang tepat. dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi dan kemampuan daya beli masyarakat. operator. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan diharapkan dapat berperan terhadap pengembangan infrastruktur transportasi melalui era multi operator (open access). maupun nasional.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 dan kepastian penerapan tarif berkala. Sektor swasta bersama-sama dengan pihak Pemerintah daerah dan BUMN dapat berperan sebagai investor. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. sedangkan dana pihak swasta digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana komersial. dan penerapan manajemen resiko yang tepat. UU No. UU No. kawasan perdagangan bebas. yang bersumber dari APBN/APBD murni dan/atau pinjaman/hibah luar negeri untuk penyediaan prasarana non komersial termasuklahan. dan UU No. d) Mendorong restrukturisasi dan reformasi kelembagaan meliputi pemberdayaan simpul KPS (PPP Nodes)dan peningkatan kapasitas fungsi regulator ekonomi dan penanggung jawab proyek serta reposisi BUMN sektor transportasi sebagai operator sepenuhnya (bukan sebagai regulator). Sektor swasta (private sector) pasca pemberlakuan UU Transportasi yaitu UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. air bersih). Daftar Rencana Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha sesuai dengan RPJMN 2010 – 2014 untuk sektor transportasi adalah sebagai berikut: BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-61 . regional. kawasan industri. f) Mengembangkan unbundling pembangunan infrastruktur transportasi melalui penyediaan dukungan pemerintah. c) Menciptakan peraturan perundang-undangan yang lebih operasional yang merupakan turunan dari UU bidang transportasi. telekomunikasi. listrik. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. kawasan ekonomi khusus. baik langsung maupun tidak langsung. h) Meningkatkan kerjasama daerah dalam pembangunan sarana dan prasarana transportasi baik yang bersifat lokal. g) Mengembangkan skema subsidi/PSO khususnya untuk tariff pelayanan sarana transportasi kelas ekonomi agar terjangkau masyarakat. e) Mengembangkan bundling pembangunan sarana dan prasarana transportasi dengan pusat pengembangan pusat kegiatan. atau sektor infrastruktur lainya (seperti jaringan migas. dan pemilik infrastruktur/sarana.

Perhubungan Pemerintah Kota 1.8 1 buah 1 buah Sumber : RPJMN 2010-2014 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-62 .368. Gerbong.741 unit Kemen.322.455. KRL) untuk angkutan penumpang dan barang 3.368. Perhubungan.8 10.33 82. Pemprov dan Pemkot 10.455. Perhubungan Pemerintah Provinsi dan Pemerinitah Kota 98. Perhubungan BUMN.852 km Kemen. Kereta.0 Sasaran Indikator Jumlah Instansi Nilai Proyek 1 buah Pemda Kabupaten Perkeretaapian 1 Pembangunan dan pengelolaan prasarana dan fasilitas pendukung kereta api Terbangunnya 9 jalur Kereta Api angkutan barang dan angkutan penumpang di Jakarta 1. Sarana.842.5 Perhubungan Udara 1 Pengelolaan Sarana dan Fasilitas Bandar Udara Terbangunnya 1 Bandar Udara internasional dan 2 perluasan sarana fasilitas Bandar Udara Nasional Bandar Udara Internasional Jawa Barat Kertajati. Bandar Bandar Udara Juwata Bandar Udara Sentani 1 buah Kemen.741 sarana KA (Lokomotif.5 5. Perhubungan dan Pemerintah Daerah 5. dan Fasilitas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Terbangunnya terminal kargo dan terminal terpadu di Pulau Sumatera Terbangunnya terminal feri antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera Terbangunnya jalur kereta api penumpang dan barang di Pulau Sumatera. pulau Bali dan Pulau Kalimantan terbangunnya 1 buah terminal kargo dan 1 buah terminal terpadu terbangunnya 1 buah terminal feri 2 buah Kemen. Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan Terbangunnya sarana KA untuk angkutan penumpang dan barang eksisting di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa Terbangunnya pelabuhan penumpang dan barang di Pulau Jawa.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Tabel V-11 Daftar Rencana Proyek Kerjasama Pemerintah dan Swasta Kegiatan Perhubungan Darat 1 Pembangunan dan Pengelolaan Prasarana.33 Perhubungan Laut 1 Pengelolaan sarana dan fasilitas pelabuhan terbangunnya 7 pelabuhan penumpang dan barang 7 buah Kemen. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota 16.520.0 2 Pembangunan dan pengelolaan bidang keselamatan dan teknik sarana kereta api Terbangunnya 3.228.

700.00 388.2014 Dari Rencana Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha /Swasta sebagaimana tersebut diatas. Tabel V-11 Rincian Rencana Proyek Kerjasama Pemerintah dan Swasta NO.00 2. Kaltim Kemen. Pemprov Sumsel Kemen. Pemprov.00 8. Kalimantan - - 2.375.00 9.00 4.00 11. Pemprov.100.00 5. Jakarta Terbangunnya jalur KA di Puruk Cabu – Bangukang. Kaltim Terbangunnya Dermaga di Tanah Ampo. Perhubungan.90 93.950.050. Pemprov Sumsel Kemen.00 3.00 2. Kalimantan - - 280. Perhubungan.000.00 600.00 840. Perhubungan.00 - 560.00 3.800. Pemprov.00 8.000. Kapuas Regency Peningkatan Dermaga Teluk Sigintung di KEMENTRIAN/ LEMBAGA TERKAIT PenanggungJawab Kemen. Pemprov.100.00 16. Sumsel Terbangunnya jalur KA (shortcut) Tj.800. Bali 69. Pemprov. Pemprov Sumsel Kemen. Perhubungan.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Rincian Kegiatan Proyek Kemitraan Pemerintah dan Swasta 2010 .00 2. Sumsel Terbangunnya jalur KA di Tanjung Enim – Pulau Baai. Perhubungan. Karangasem Kemen. Perhubungan. Perhubungan.520.000. Pemprov Sumsel & Bengkulu Kemen.00 165.200.400.400.800.00 7.50 14. Kalimantan - - 165. Jawa - - - - 1. Pemprov Kalteng Kemen.00 1. Kalteng Terbangunnya jalur KA di Kudangan – Kumai.862.00 4.00 2. Pemprov Sumsel Kemen.00 6.120.00 280. Enim Baturaja.00 3.000.20 69.00 4.00 2.00 3. Perhubungan.600.00 2. - - 830.00 10. Kalteng Terbangunnya jalur KA di Muara Wahau – Lubuk Tutung.00 7. Perhubungan. Kalteng Terbangunnya jalur KA di Bangkuang – Lupak Dalam. Sumsel & Bengkulu Terbangunnya jalur KA di Muara Enim Tanjung Apiapi. Perhubungan Kemen. 194.00 13.50 1.00 12. Perhubungan. Kalimantan - - 3.125.00 - 330. nilai kesertaan Pemerintah dalam proyek KPS dimaksud belum dialokasikan dalam anggaran Sektor Perhubungan yang bersumber pada APBN tahun 2010 – 2014.800.00 1.00 20. Perhubungan. Sumsel Terbangunnya Monorail.00 3.00 11.00 - 890.000. Sumatera - 1.900. Kalteng Kemen.000.800.00 6.300. Kalimantan - - 1. Kalimantan - - 445. Perhubungan.00 8.00 6. Jawa - - - 2. Sumatera - - 5.000.00 4.00 97.00 1. Pemkab. Kalteng Kemen. Jakarta Kemen.300.00 830.00 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-63 . Perhubungan. Perhubungan Kemen. Lokasi Jawa / Sumatera Sumatera 2010 Rencana Disbursment (Milliar Rupiah) 2011 2012 2013 2014 TOTAL 1.200. Pemprov Kalteng Kemen.375.600.00 4.400. Sumsel Terbangunnya Jalur KA di Banko Tengah – Srengsem.00 11.500.862.00 10.90 - - 233. Sumatera - - - 600.00 388. Kalteng Kemen. SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) Nama Proyek Terbangunnya Terminal Ferry (Jawa – Sumatera) Terbangunnya jalur KA (DT) di Sukacinta – Kertapati.00 445. Kalimantan - 2.00 2.00 15. Perhubungan. Karang Asem Terbangunnya Dermaga di Bojonegoro Terbangunnya Dermaga Kumai di Kotawaringin Barat Regency Terbangunnya Dermaga di Lupak Dalam.125. Sumatera - - 3.

00 3. 18.80 1.00 Sumber : RPJMN 2010-2014 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMENHUB TAHUN 2010-2014 V-64 .515.515. Papua Kalimantan - 10.406.00 85.00 - - 20.00 10. Perhubungan. Jabar Kemen.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 NO.00 445. Perhubungan Lokasi Kalimantan 445.00 3. Perhubungan. Pemprov.80 19.00 2010 Rencana Disbursment (Milliar Rupiah) 2011 2012 2013 2014 TOTAL 17. Perhubungan Kemen. 20.263.124. SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) Nama Proyek Seruyan Regency Peningkatan Dermaga Anjir Kalampan dan Anjir Serampan Canal Terbangunnya Bandar Udara Internasional Kertajati Peningkatan Fasilitas Bandar Udara Sentani Peningkatan Fasilitas Bandar Udara Juwata Tarakan KEMENTRIAN/ LEMBAGA TERKAIT PenanggungJawab Pemprov Kalteng Kemen.00 42.00 890.00 1. Pemprov Kalteng Kemen.00 10. Jawa Barat 703.00 42.

Transportasi Laut Di bidang angkutan laut tetap diprogramkan subsidi pengoperasian armada angkutan laut perintis sebanyak 56 kapal dan 56 trayek yang sebagian melayani kawasan perbatasan. dilaksanakan pengembangan pulau-pulau kecil terdepan yang strategis. TERDEPAN DAN RAWAN BENCANA TAHUN 2010-2014 A. penyediaan subsidi operasi untuk pelayanan angkutan perintis jalan sebanyak 202 bus siap operasi dan pengadaan bus perintis ukuran sedang sebanyak 31 unit. KONDISI UMUM Secara umum. Papua New Guinea. danau dan penyeberangan telah dilakukan pembangunan kapal penyeberangan 1 unit ukuran 500 GRT di Maluku Tenggara Barat (MTB) lintas Saumlaki-Tepa-Kisar. Di bidang transportasi sungai. 1. serta sarana transportasi di wilayah perbatasan yang berpotensi untuk dikembangkan dan kawasan yang memerlukan penanganan tertentu. Konflik yang terjadi dengan negara tetangga mengenai perebutan suatu pulau maupun batas wilayah telah memberikan arti yang lebih penting untuk sebuah bandar udara. Pada tahun 2008 diprogramkan subsidi BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-1 . Transportasi Darat Di bidang transportasi jalan sedang dilaksanakan pembangunan lanjutan terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN) di Sei Ambawang Kalimantan Barat. hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan program pengembangan wilayah perbatasan antara lain : terlaksananya beberapa perjanjian dan kesepakatan penanganan perbatasan dengan negara-negara Malaysia. Daerah perbatasan adalah wilayah daratan / laut tertentu yang ditetapkan sebagai batas wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia dengan negara tetangganya. Pilipina dan Australia. Hilangnya kepemilikan Indonesia atas Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dalam peradilan internasional telah memberikan sinyal bahwa wilayah perbatasan harus dikelola dengan lebih baik dan lebih terencana serta dibangun lebih cepat.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN. Khusus di bidang perhubungan dalam kurun waktu 2005-2009 telah dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi prasarana. Timor Leste. tersusunnya data. informasi dan peta tentang garis batas dan pulau-pulau terdepan di wilayah perbatasan. terlaksananya kerjasama ekonomi melalui penanaman modal dengan negara tetangga dalam pengembangan kawasan khusus di beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur dalam kerangka Sosek Malindo. 2.

yaitu untuk mempertahankan kedaulatan NKRI. c.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 pengoperasian armada angkutan laut untuk melayani kawasan perbatasan antara lain di Miangas Kawaluso. b. Makalehi. Di bidang Keselamatan Pelayaran pada tahun 2008 telah dilakukan kegiatan baik pembangunan SBNP (57 unit). Sarmi. dan Merauke. Kokorotan. replace SBNP (47 unit) maupun rehabilitasi SBNP (8 unit) yang diantaranya berada di pulau-pulau terdepan seperti di Pulau Sofia (Bali) dan pulau-pulau terdepan di Sulawesi Utara Di bidang kepelabuhanan pada tahun 2009 untuk mendukung pembangunan kawasan perbatasan sedang dilakukan pekerjaan meliputi: a. 650 milyar dimana salah satu kegiatannya adalah lanjutan pembangunan faspel Atapupu (NTT) sebagai pelabuhan di kawasan perbatasan. 3. bandar udara – bandar udara di sepanjang wilayah perbatasan harus mampu melayani pesawat sekelas Fokker-27 dan juga mampu mendukung kegiatan militer yaitu mampu melayani pesawat Hercules C-130. Agats. Larat. Transportasi udara di kawasan perbatasan adalah bersifat promoting function dengan pendekatan penawaran ( supply approach) berdasarkan tingkat kepentingan. BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-2 . Leti. Pada tahun 2010 s/d 2014 tetap dikembangkan Angkutan Laut perintis dengan menambah trayek-trayek baru dan pembangunan pelabuhan perintis di kawasan perbatasan dan daerah tertinggal dan rawan bencana sehingga pada tahun 2014 untuk pembangunan kawasan perbatasan dan daerah tertinggal dan rawan bencana dapat terpenuhi. Wonreli/Kisar. mengembangkan potensi ekonomi dan sosial budaya dalam rangka mempertahankan jati diri bangsa. Rehabilitasi fasilitas pelabuhan laut 1 paket yaitu Faspel Sikakap (Sumbar) akibat gempa. Pembangunan sarana dan prasarana pelabuhan 6 paket diantaranya di Kanpel Malakoni-Enggano (Bengkulu). PELNI sebagai bentuk penugasan dari pemerintah untuk melayani. Selain itu pada tahun 2009 juga dilakukan percepatan pembangunan fasilitas pelabuhan laut melalui program stimulus sebesar Rp. Faspel Marampit dan Faspel Kakarotan (Sulut). Sehingga bandar udara – bandar udara yang berada di wilayah perbatasan perlu mendapat perhatian khusus dan perlu ditingkatkan kapasitasnya. Kanpel Baranusa (NTT). Karena itulah. Lanjutan Pembangunan fasilitas pelabuhan laut 4 paket tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia diantaranya Faspel Sei nyamuk (Kaltim). Kawio. Disamping itu subsidi dalam bentuk Public Service Obligation (PSO) juga diberikan kepada armada PT. Transportasi Udara Dan dalam rangka mempercepat pembangunan di wilayah perbatasan ini diperlukan peningkatan aksesibilitas yang juga mencakup angkutan udara. Marore.

Tersedianya prasarana dan sarana transportasi dengan kapasitas dan kualitas pelayanan memadai. e. Pemerintah melaksanakan wewenang dan tanggung jawab pengaturan ruang udara untuk kepentingan penerbangan. Republik Indonesia memiliki kedaulatan penuh dan utuh di wilayah udara Republik Indonesia. dan negara. sesuai dengan ketentuan Konvensi Chicago 1944 tentang Penerbangan Sipil Internasional dan Konvensi Hukum Laut Internasional Tahun 1982 yang telah diratifikasi dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 Tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea. Sasaran tersebut difokuskan kepada : a. d. pertahanan dan keamanan negara. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Terwujudnya kerjasama luar negeri bidang perhubungan yang saling menguntungkan serta dapat menarik investasi yang dapat memberikan nilai tambah. 1. b) Terjangkaunya pelayanan transportasi darat ke seluruh wilayah perbatasan. BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-3 . b. Adalah kewenangan dan tanggung jawab negara Republik Indonesia untuk mengatur penggunaan wilayah udara yang merupakan bagian dari wilayah Indonesia. sosial budaya.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Berdasarkan Undang – undang No. Transportasi Darat Sasaran pembangunan transportasi darat di kawasan perbatasan tahun 2010-2014: a) Tersedianya prasarana dan sarana transportasi darat dengan moda angkutan jalan dan angkutan Sungai Danau Penyeberangan dengan kapasitas dan kualitas pelayanan memadai. serta lingkungan udara. Terjangkaunya pelayanan transportasi ke seluruh wilayah perbatasan. Terjaminnya keselamatan dan keamanan dalam pelayanan jasa transportasi. c. Wilayah udara yang berupa ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia merupakan kekayaan nasional sehingga harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Dalam rangka penyelenggaraan kedaulatan negara atas wilayah udara NKRI. sebagai negara berdaulat. perekonomian nasional. pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan negara. bangsa. terdepan adalah untuk memperlancar distribusi barang dan jasa serta mobilitas penduduk dalam rangka mengurangi disparitas antar kawasan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. B. Meningkatnya aksebilitas angkutan udara di daerah terpencil. SASARAN Sasaran pembangunan perhubungan di kawasan perbatasan. Bandar udara di daerah perbatasan negara adalah bandar udara yang terletak pada atau dekat dengan garis perbatasan negara untuk perbatasan darat dengan negara tetangga dan bandar udara yang terletak di suatu pulau terdepan yang berbatasan laut dengan negara tetangga.

2.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 c) Terjaminnya keselamatan dan keamanan dalam pelayanan jasa transportasi darat melalui moda angkutan jalan dan angkutan SDP. strategi ini diarahkan untuk mengembangkan ekonomi daerah tertinggal dengan pembangunan sarana & prasarana transportasi darat sebagai pendorong melalui implementasi keperintisan dengan moda transportasi jalan dan SDP. BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-4 . strategi ini diarahkan untuk membuka keterisoliran daerah tertinggal dan kawasan perbatasan dengan pembangunan sarana prasarana transportasi darat. d) Meningkatnya aksebilitas pelayanan angkutan jalan dan angkutan SDP di daerah terpencil. Transportasi Laut Sasaran pembangunan transportasi laut di kawasan perbatasan tahun 20102014: a) Mewujudkan kelancaran penyelenggaraan jasa transportasi laut termasuk pelayanan keperintisan terutama di Kawasan Daerah Tertinggal. Transportasi Udara Sasaran pembangunan transportasi udara di kawasan perbatasan tahun 2010-2014 adalah untuk memperlancar distribusi barang dan jasa serta mobilitas penduduk dalam rangka mengurangi disparitas antar kawasan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Transportasi Darat a) Pengembangan ekonomi lokal. STRATEGI Pembangunan perhubungan di kawasan perbatasan tahun 2010-2014 dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut : 1. C. b) Memperluas pelayanan prasarana dan sarana transportasi laut di seluruh wilayah Indonesia. termasuk wilayah perbatasan Indonesia. c) Terjaminnya keselamatan perhubungan udara. b) Peningkatan Kapasitas. Sasaran tersebut difokuskan kepada: a) Tersedianya prasarana dan sarana perhubungan udara dengan kapasitas dan kualitas pelayanan memadai. pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan negara. 3. pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan negara. b) Terjangkaunya pelayanan perhubungan udara ke wilayah perbatasan. c) Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi laut. dan keamanan dalam pelayanan jasa d) Meningkatnya aksebilitas angkutan udara di daerah terpencil.

f) Melakukan kontrak jangka panjang angkutan laut perintis dengan swasta untuk peremajaan armada. Transportasi Laut a) Melaksanakan pelayanan perintis secara efektif dan sitematis. d) Peningkatan Mitigasi. 2. b) Bandar udara harus tersedia sarana dan prasarana penunjang bandar udara sehingga mampun mengelola dan mengendalikan ataupun mampu melayani operasi penerbangan. kebebasan dalam penentuan frekuensi. d) Merencanakan pembangunan pelabuhan-pelabuhan perintis di kawasan perbatasan dan daerah tertinggal agar dapat terhubung dari daerah tertinggal ke daerah yang sedang berkembang. D. b) Membangun kapal perintis sebagai pemenuhan terhadap pangkalan trayek di kawasan perbatasan dan daerah tertinggal. d) Memberikan kemudahan berupa ijin penerbangan lintas batas kepada operator pelaksana angkutan udara di wilayah perbatasan meliputi pelaksanaan hak kebebasan ke-5. 3. PROGRAM PEMBANGUNAN Pembangunan Perhubungan di kawasan perbatasan dilaksanakan dalam beberapa program sebagai berikut : tahun 2010-2014 BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-5 . Transportasi Udara Kebijakan pembangunan transportasi udara di daerah perbatasan difokuskan pada: a) Bandar udara mampu mendukung keamanan wilayah dan mampu melayani pesawat sekelas Fokker-27 dan juga mampu mendukung kegiatan militer yaitu mampu melayani pesawat Hercules C-130. c) Memberikan kompensasi subsidi operasi dan subsidi angkutan BBM pada operator pelaksanaan angkutan udara perintis. g) Memantapkan posisi kawasan perbatasan dengan pembangunan SBNP dalam mendukung keutuhan NKRI. Rehabilitasi dan Peningkatan. strategi ini diarahkan untuk membuka keterisolasian daerah tertinggal agar mempunyai keterkaitan dengan daerah maju.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 c) Perluasan Kesempatan. c) Melakukan evaluasi terhadap trayek perintis yang melayani kawasan perbatasan dan daerah tertinggal dan merencanakan pengembangan trayek-trayek baru terhadap kawasan perbatasan dan daerah tertinggal yang belum terlayani. e) Merencanakan pembangunan pelabuhan-pelabuhan perintis di kawasan perbatasan dan daerah tertinggal terhadap daerah yang sedang berkembang. strategi ini diarahkan untuk mengurangi resiko dan memulihkan dampak kerusakan yang diakibatkan oleh konflik dan bencana alam serta berbagai aspek dalam wilayah perbatasan.

2009 TABEL VI – 2 PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN DI WILAYAH PERBATASAN. Pembangunan Terminal ALBN b. Program Pengembangan dan Pembangunan di Wilayah Perbatasan. P. Pembangunan Sarana Penyeberangan di Rote BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-6 . Propinsi Sumatera Utara Pembangunan Dermaga Penyeberangan Teluk Dalam Pembangunan Sarana Penyeberangan Teluk Dalam 2. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Sabu b. Propinsi Maluku KEGIATAN Pembangunan Dermaga Penyeberangan Wonreli (Lintas : Wonreli – Dili) Pembangunan Sarana Penyeberangan Lintas : Wonreli – Dili 2. P. DAERAH TERPENCIL DAN RAWAN BENCANA TAHUN 2010-2014 (ANTAR NEGARA) NO 1.Irian a. Propinsi Sumatera Barat Peningkatan Dermaga Penyeberangan Sikakap 3. Propinsi NAD Pembangunan Dermaga Penyebera-ngan Lhokseumawe (Lintas Lhokseumawe – Penang) Pembangunan Sarana Penyeberangan Lintas Lhokseumawe – Penang 4. Kalimantan a. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Natuna b. Propinsi Riau Pembangunan Dermaga Penyeberangan Dumai (Lintas Dumai – Malaka) Pembangunan Sarana Penyeberangan Lintas : Dumai – Malaka 3. Pembangunan Sarana Penyeberangan di Matak e. Pembangunan Terminal ALBN b. Timor a. Daerah Terpencil dan Rawan Bencana Tahun 2010-2014. Pembangunan Sarana Penyeberangan di Natuna c. Pembangunan Sarana Penyeberangan di Anambas 4. Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ Lintas Batas Negara Sumber : Ditjen Perhubungan Darat. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Anambas f. P.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 1. Propinsi Riau a. meliputi kegiatan : TABEL VI – 1 PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN DI WILAYAH PERBATASAN. Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ Lintas Batas Negara 6. Pembangunan Terminal ALBN b. Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ Lintas Batas Negara 5. Pembangunan Dermaga Penyeberangan di Sabu c. Propinsi Nusa Tenggara Timur a. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Rote d. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Matak d. DAERAH TERPENCIL DAN RAWAN BENCANA TAHUN 2010-2014 (KAWASAN PULAU TERDEPAN INDONESIA) No Kegiatan 1.

Program Pemeliharaan. Miangan. Toa Pejat. Papela. Marampit. Pembangunan Sarana Penyeberangan Sungai Sumpit – Cireme di Paloh 7. NTT : Faspel Waikelo. Boe. Daoalan. Essang. Saumlaki. Molu. Peningkatan dan Pembangunan Transportasi Laut. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Sungai Sumpit – Cireme di Paloh c. e. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Sintete b. Mangasan Maluku : Faspel Adault. Rehabilitasi. Faspel Mangaran TOTAL ( II ) Pembangunan SBNP dipulau-pulau terdepan TOTAL ( III ) 2 3 Sumber : Ditjen Perhubungan Laut. Lakor. Liroung. Ba'a c. Muara Siberut b. Pembangunan Sarana Penyeberangan di Miangas c. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Lakor b. Tepa. Peningkatan dan Pembangunan Transportasi Udara Pembangunan dan pengembangan bandar udara di daerah perbatasan untuk melaksanakan pengamanan wilayah (baik secara security approach maupun BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-7 . Pembangunan Sarana Penyeberangan di Marore 8. Karatung. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Moa Sumber : Ditjen Perhubungan Darat. Sumbar (akibat gempa) : Faspel Siuban. Propinsi Kalimantan Barat a. DAERAH TERPENCIL DAN RAWAN BENCANA TAHUN 2010 NO 1 KEGIATAN Pembangunan faspel di pulau-pulau terdepan : a. Ilwaki f. Kaltim : Faspel Sei Nyamuk Sulut : Faspel Malonguane. Propinsi Kalimantan Timur a. Sopi g. 2009 2.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 No Kegiatan 5. Sera. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Sebatik b. 2009 3. meliputi kegiatan : TABEL VI – 2 PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN DI WILAYAH PERBATASAN. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Letti c. Danar. Papua : Fapel Depapre TOTAL ( I ) Rehab Faspel dipulau-pulau terdepan a. Propinsi Maluku a. Program Pemeliharaan. Propinsi Sulawesi Utara a. Dawelor. d. Pembangunan Sarana Penyeberangan Sebatik 6. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Miangas b. NTT : Faspel Ndao c. Rehabilitasi. Maluku Utara : Faspel Wayabula. Pembangunan Dermaga Penyeberangan Marore d. Kakorotan. Kepri : Faspel Malarko dan Tanjung Berakit b. Batutua.

Tanah Merah (pengadaan alat kespen. Usulan prioritas pengembangan bandar udara di daerah perbatasan dengan mempertimbangkan : a. pelebaran landas pacu dan overrun. pengadaan alat kespen). daerah tersebut merupakan daerah tertinggal. Bandar udara Tanah Merah – Papua (Perbatasan dengan Papua Nugini) b. dan Haliwen (urugan dan pemadatan tanah). Bandar udara Tardamu – Sabu (perbatasan Australia) c. Sejak tahun 2005. Pangsuma (rekonstruksi apron. daerah tersebut rawan untuk penyelundupan (orang. Bandar udara Muting – Papua (perbatasan dengan Papua Nugini) c. mempunyai potensi ekonomi wilayah. Bandar udara Sarmi – Papua (perbatasan Papua Nugini) d. daerah tersebut merupakan daerah terisolasi. jumlah penduduk di hinterlandnya cukup besar.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 prosperity approach) dibuat program pembangunan dan pengembangan bandar udara untuk didarati pesawat sekelas F-27/C-130 Hercules pada lokasi yang sudah ada atau belum ada bandar udara. rehab dan pembangunan gedung serta perluasan apron) dan Kisar (rehab gedung. Pengembangan Bandar udara Prioritas I a. Tahapan pelaksanaan pembangunan bandar udara di daerah rawan bencana dan perbatasan negara adalah sesuai dengan prioritas pengembangan bandar udara seperti berikut: 1. e. urugan dan pemadatan tanah. Terdapat 17 bandar udara di daerah perbatasan yang perlu dikembangkan sehingga mampu menangani operasi penerbangan pesawat jenis F-27 atau Hercules C-130. Saumlaki Baru (pekerjaan tanah sisi udara dan darat). telah dilakukan pengembangan bandar udara di daerah perbatasan di 3 lokasi yaitu Nunukan (perluasan apron. f. Malinau (pengadaan alat kespen). c. Bandar udara Benjina – Kep. Bandar udara Tual Baru – Maluku Tenggara Pengembangan Bandar udara Prioritas III a. taxiway dan apron). 3. pengadaan alat kespen). Nunukan. Kendala utama dalam pencapaian target program ini adalah kesediaan lahan untuk perpanjangan landasan yang dalam implementasinya diserahkan kepada Pemerintah Daerah setempat. Bandar udara John Becker – Kisar (perbatasan Australia) b. rehab gedung. b.Aru (perbatasan dengan Australia) b. Bandar udara Maimun Saleh – Sabang (perbatasan Thailand. Dobo.Aru (perbatasan dengan Australia) PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 2. BAB VI VI-8 . pengadaan alat kespen serta pelapisan runway. daerah tersebut mempunyai potensi konflik sosial. Bandar udara Dobo – Kep. Rote (pengadaan alat kespen. Bandar udara Miangas – Miangas (perbatasan Philipina) e. Bandar udara Lekunik – Rote (perbatasan Australia) Pengembangan Bandar udara Prioritas II a. barang dan hewan). d. pekerjaan tanah). Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan prioritas berdasarkan kebutuhan di lapangan dan ketersediaan dana. India) c.

Pengembangan Bandar udara Prioritas IV a. Bandar udara Haliwen – Atambua (perbatasan dengan Timor Leste) b.Aru (perbatasan dengan Australia) Bandar udara Haliwen – Atambua (perbatasan dengan Timor Leste) Bandar udara Pangsuma – Putusibau (perbatasan dengan Malaysia) Bandar udara Nunukan – Kaltim (perbatasan dengan Malaysia) Bandar udara Tolikara – Papua (perbatasan dengan Papua Nugini) Bandar udara Saumlaki Baru – MTB (perbatasan dengan Australia) Bandar udara Mopah – Merauke (perbatasan dengan Australia dan Papua Nugini) BAB VI PEMBANGUNAN PERHUBUNGAN DI KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2010-2014 VI-9 . India) Bandar udara Tual Baru – Maluku Tenggara Bandar udara Tanah Merah – Papua (Perbatasan dengan Papua Nugini) Bandar udara Muting – Papua (perbatasan dengan Papua Nugini) Bandar udara Sarmi – Papua (perbatasan Papua Nugini) Bandar udara Miangas – Miangas (perbatasan Philipina) Bandar udara Benjina – Kep. Bandar udara Pangsuma – Putusibau (perbatasan dengan Malaysia) c. Bandar udara Mopah – Merauke (perbatasan dengan Australia dan Papua Nugini) Rencana Pembangunan Transportasi Udara di Daerah Perbatasan. Bandar udara Tolikara – Papua (perbatasan dengan Papua Nugini) e. Bandar udara Nunukan – Kaltim (perbatasan dengan Malaysia) d.Aru (perbatasan dengan Australia) Bandar udara Maimun Saleh – Sabang (perbatasan Thailand. Bandar udara Saumlaki Baru – MTB (perbatasan dengan Australia) f. Rawan Bencana adalah sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kegiatan Bandar udara John Becker – Kisar (perbatasan Australia) Bandar udara Tardamu – Sabu (perbatasan Australia) Bandar udara Lekunik – Rote (perbatasan Australia) Bandar udara Dobo – Kep.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 4.

masa reproduksi hewan dan tanaman.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI A. Transportasi merupakan sektor yang mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM) cukup besar di Indonesia. sinergi. serta mempengaruhi berbagai ekosistem yang terdapat di daerah dengan garis lintang yang tinggi. Pemanasan global dapat menyebabkan perubahan yang signifikan dalam sistem fisik dan biologis seperti peningkatan intensitas badai tropis. Transportasi Darat & Perkeretaapian : Permasalahan perubahan iklim tersebut di atas berdampak pada transportasi darat dan perkeretaapian. Terjadinya peningkatan frekuensi perubahan cuaca yang ekstrim tersebut seperti hujan lebat yang memberikan kemungkinan terjadinya banjir. monitoring dan evaluasi merupakan tantangan dalam melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan frekuensi maupun intensitas kejadian cuaca ekstrim. Kondisi banjir yang mengakibatkan tanah longsor mengakibatkan gangguan terhadap transportasi darat dan BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-1 . distribusi spesies dan ukuran populasi. perubahan pola angin. termasuk koordinasi. Dampak yang ditimbulkan adalah sebagai berikut : Peningkatan suhu udara global berdampak pada perubahan iklim yang menyebabkan kejadian-kejadian berupa peningkatan perubahan cuaca. Untuk itu strategi untuk mengarusutamakan isu perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan nasional. B. LATAR BELAKANG Perubahan Iklim memberikan dampak yang cukup besar terhadap pembangunan sosial ekonomi Indonesia. serta ekosistem-ekosistem pantai. lokasi yang tinggi. Ketergantungan sektor transportasi terutama transportasi darat terhadap BBM telah menimbulkan kekhawatiran karena jumlah cadangan dan produksi minyak bumi Indonesia terbatas dan pembakaran BBM menimbulkan pencemaran berat di kota besar dan juga berdampak pada perubahan iklim. salinitas air laut. frekuensi serangan hama dan wabah penyakit. DAMPAK PERUBAHAN IKLIM 1. banjir bandang dan tanah longsor. Dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim tersebut memberikan pengaruh terhadap pelayanan kepada pengguna jasa. perubahan pola presipitasi.

Penggunaan lahan juga mendapat pengaruh terutama pada kondisi kemarau dengan situasi yang cukup kering. Kondisi ini menimbulkan akibat terhadap gangguan pelayaran kapal penyeberangan antar pulau dan gangguan perjalanan transportasi jalan (rob) akibat terjadi kenaikan paras air laut. Pengaruh pola cuaca dan iklim yang akhir-akhir ini mengalami ketidakberaturan tersebut selain menimbulkan banjir juga memberikan dampak turunan akibat genangan air akibat banjir. badai yang berasal dari angin barat maupun angin timur menimbulkan pengaruh terhadap keselamatan angkutan penyeberangan yang melayani lalu lintas antar pulau. Dampak turunan tersebut memberikan kerusakan-kerusakan pada prasarana infrastruktur transportasi. Kekeringan yang terjadi pada suatu daerah tentunya berpotensi memberikan akibat terhadap kebakaran lahan baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Kerusakan tersebut berpotensi memberikan gangguan terhadap pembangunan sarana dan prasarana transportasi serta daya tahan infrastruktur jalan dan perkeretaapian. Dampak perubahan iklim yang lain berupa peningkatan gangguan angin kencang. Perubahan cuaca ekstrim yang menimbulkan perubahan arah angin juga berpotensi terjadinya angin puting beliung dan badai lokal juga berpengaruh terhadap gangguan pergerakan sarana transportasi darat pada angkutan di jalan baik angkutan penumpang seperti bus dan mobil pribadi dan angkutan barang seperti truk. Dengan angin kencang yang terjadi akan menimbulkan ombak besar yang akan mengganggu operasional dan keselamatan kapal penyeberangan. percepatan korosi. seperti rel kereta api bengkok. Selain gangguan angin laut tersebut. jalan mudah berlubang dan sebagainya. kemungkinan longsor. Langkah yang sering dilakukan oleh Syahbandar untuk menghindari kejadian buruk yang tidak diinginkan adalah melakukan penundaan pemberangkatan kapal dan apabila kondisi berlangsung cukup lama akan dilakukan pembatalan pemberangkatan kapal. perubahan iklim juga menimbulkan kenaikan paras air laut. Pelayanan akibat penundaan tersebut akan memberikan kerugian baik waktu maupun kerusakan barang yang akan diangkut antar pulau.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 perkeretaapian. Pada transportasi darat menimbulkan dampak pada gangguan jarak penglihatan mendatar / jarak pandang pengemudi kendaraan dan nahkoda kapal penyeberangan yang beroperasi di sungai BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-2 . Kekeringan dengan jangka waktu yang lebih panjang yang memberikan dampak kebakaran tersebut memberikan pencemaran asap yang berpotensi mengganggu keselamatan transportasi baik yang terjadi pada transportasi darat dan perkeretaapian. Kebanyakan prasarana dan sarana transportasi dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Dampak yang sering terjadi akibat banjir dan tanah longsor memberikan peluang gangguan jembatan dan jalan untuk transportasi darat. serta gangguan rel kereta api yang tergenang dan rel menggantung. Penundaan dan pembatalan pemberangkatan kapal penyeberangan tersebut berpengaruh kepada pelayanan pada pengguna jasa angkutan penyeberangan baik orang maupun barang.

bisa jadi kondisi dan karakteristik perairannya saat ini telah berubah dan tidak memungkinkan lagi untuk dilewati kapal-kapal nasional. Hal ini akan mempersulit akses menuju pelabuhan dan dermaga. sehingga perlu dicari alternatif dan jalur lain yang lebih aman untuk dilewati. Resiko terjadinya kecelakaan kapal akan meningkat akibat kondisi cuaca. telah memaksa terjadinya perubahan terhadap alur pelayaran nasional dan pola navigasi kapal. perubahan arah angin. hal ini ditandai dengan perubahan arah dan kecepatan angin yang tidak menentu serta arus laut yang berubah-ubah. Peningkatan kerusakan dermaga dan fasilitas-fasilitas pelabuhan karena gelombang air laut yang tinggi. Syahbandar dan pihak pengelola pelabuhan dapat menghentikan pengeluaran Surat Persetujuan Berlayar (SPB) bagi kapal-kapal yang ada di dermaga. resiko terjadinya kerusakan pada dermaga dan fasilitasfasilitas lain yang ada di pelabuhan akan semakin cepat. Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-3 . dan curah hujan yang tidak bersahabat. 2. Semakin seringnya kasus kecelakaan kapal yang terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa perubahan iklim telah berdampak negatif terhadap sektor transportasi laut dan berakibat fatal. dan gelombang laut yang tinggi. yang pada akhirnya dapat menghambat pelayanan terhadap para pengguna jasa angkutan kapal laut sehingga aktivitas ekonomi terhambat dan mengakibatkan kerugian dari sisi finansial/ekonomis. serta meningkatnya intensitas dan curah hujan. angin. gelombang laut. dapat menghambat aktivitas pelayaran dan mengganggu jadwal operasional kapal. Terganggunya aktivitas pelayaran kapal akibat cuaca buruk. Akibat kondisi cuaca yang buruk. Hal ini dilakukan dalam rangka proses adaptasi/ penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan iklim pada saat ini. Hal ini akan berdampak pada peningkatan biaya operasional untuk perawatan dan pemeliharaan fasilitas-fasilitas yang ada di pelabuhan termasuk dermaga. Peningkatan resiko terjadinya kecelakaan kapal. Perubahan pola navigasi dan alur pelayaran nasional. Sebab alur pelayaran kapal nasional yang dulu merupakan alternatif jalur terbaik. serta tingginya gelombang air laut. termasuk perubahan arah dan kecepatan angin serta tingginya gelombang laut. Hal ini tentunya akan berdampak pada keberlanjutan pelayanan angkutan laut dan merugikan baik para pengguna jasa angkutan kapal laut maupun bagi pihak pengelola kapal dan pelabuhan. Dengan semakin tingginya intensitas dan curah hujan. Sektor Transportasi Laut Terendamnya akses dan fasilitas dermaga akibat kenaikan muka air laut.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 maupun antar pulau juga jarak pandang masinis dalam melihat ramburambu keselamatan.

Ambang batas kapasitas terminal yang semakin menurun karena kapasitas udara yang cenderung akan semakin panas. f. e. badai kencang. c. b. Gangguan sistem informasi karena terjadinya asap kebakaran hutan serta. karena untuk mengantisipasi udara panas dalam rangka menjamin kenyamanan pengguna jasa bandar udara. kenaikan permukaan laut yang cukup signifikan. Kebijakan Adaptasi : a. Penundaan jadwal penerbangan karena penurunan jarak pandang dan rusaknya fasilitas karena tebalnya awan dan terjadinya badai. potensi terjadi banjir yang meningkat. hambatan operasional bandar udara serta potensi kerusakan prasarana karena potensi terjadinya terendam banjir. jaringan dan pergerakan yaitu antara lain : 1) Transportasi jalan : a) b) c) d) e) f) g) Tata guna lahan dan perencanaan transportasi. arus udara yang makin kencang dan tipis. Langkanya persediaan air bersih untuk penyegaran tanaman dan keperluan antisipasi kejadian kebakaran.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3. Perencanaan dan pengembangan angkutan umum massal Redesain Prasarana Lalulintas Jalan Redesain Prasarana SDP Perubahan Masterplan pelabuhan SDP yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan cuaca BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-4 . Manajemen transportasi jalan. Transportasi Udara Perubahan ikim yang membawa cuaca yang tidak menentu. KEBIJAKAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI 1. Sistem operasi. Potensi kerusakan permukaan runway. potensi terjadinya badai/angin kencang dan kekeringan serta potensi asap karena kebakaran hutan akan mengakibatkan dampak pada operasional transportasi udara pada kegiatan sebagai berikut : a. Peningkatan pemakaian energi di terminal bandar udara. C. Transportasi Darat dan Perkeretaapian Kebijakan adaptasi yang terkait dengan transportasi khususnya transportasi darat dan perkeretaapian terkait dengan penanganan terhadap kendaraan. penurunan debit air bersih. termasuk akibat kebakaran hutan. d.

(2) Redesain kontruksi jembatan dan jalan serta jalan rel.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 2) Perkeretaapian (1) Perencanaan angkutan massal. 2) Penerapan program RVSM. 5) Penggunaan perkerasan landasan agar lebih tahan terhadap suhu yang tinggi. Non Precision Approach dan ADS-B untuk mempersingkat navigasi penerbangan. 6) Pengembangan jalan alternatif. PRNav. Transportasi Udara 1) Penggunaan komponen pesawat yang lebih handal. kemungkinan longsor akibat terjadinya peningkatan frekuensi perubahan cuaca yang ekstrim sehingga berpotensi terjadinya banjir. 3) Melakukan penyesuaian kebutuhan panjang Runway pesawat. 3) Implementasi perbaikan sistem informasi dan navigasi kapal. gangguan rel kereta api yang tergenang dan rel menggantung serta rel kereta api bengkok. Transportasi Laut 1) Perubahan dan penyesuaian standar desain fasilitas pelabuhan. percepatan korosi. 2) Perubahan Master Plan pelabuhan yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan cuaca. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-5 . (3) Redesain pelabuhan dan fasilitas pelabuhan untuk aktifitas penyeberangan. RNP-10. (4) Redesain jalan akses ke pelabuhan/bandar udara untuk aktifitas lalu lintas jalan. Terhadap gangguan jembatan dan jalan untuk transportasi darat. b. 4) Perlu dilakukan penyusunan standar disain bandar udara. c. 8) Desain dan pembangunan bandar udara melalui kajian lingkungan secara komprehensif. Pada gangguan lalu lintas kapal penyeberangan antar pulau dan gangguan perjalanan transportasi jalan (rob) akibat gangguan angin kencang atau badai yang berasal dari angin barat maupun angin timur dan kenaikan paras air laut. banjir bandang dan tanah longsor. 7) Penentuan zoning di lingkungan bandar udara yang disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat.

banjir bandang dan tanah longsor. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Fenomena perubahan iklim diantaranya Terjadinya peningkatan frekuensi perubahan cuaca yang ekstrim sehingga berpotensi terjadinya banjir. banjir. pohon tumbang) dan membuat jalan macet. gangguan rel kereta api yang tergenang dan rel menggantung serta rel kereta api bengkok. puting beliung dan badai lokal. Pengaruh pola cuaca dan iklim mengalami ketidakberaturan. Gangguan angin kencang atau badai yang berasal dari angin barat maupun angin timur. 2) Penjadwalan waktu pengerukan. pemeliharaan fasilitas pelabuhan. banjir bandang dan tanah longsor meliputi: 1) Pemantauan dan evaluasi lokasi potensi longsor jalan dan jalan rel didukung sistem informasi yang akurat. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-6 . rel menggantung. kebakaran dan pencemaran asap berdampak pada sektor transportasi antara lain: gangguan pada lalu lintas dan angkutan pada transportasi jalan dan perkeretaapian (longsor. Kekeringan. Kebijakan Mitigasi : a. kemungkinan longsor akibat terjadinya peningkatan frekuensi perubahan cuaca yang ekstrim sehingga berpotensi terjadinya banjir. dll) 5) Inventasisasi siklus iklim dan cuaca terkait dengan perencanaan transportasi darat jangka menengah dan jangka panjang 6) Mengembangkan sispro pengoperasian kapal penyebrangan pada kondisi darurat 2. terhadap gangguan jembatan dan jalan untuk transportasi darat. Kebijakan adaptasi Badan Litbang Perhubungan sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan penggunaan teknologi transportasi jalan dan kereta api rendah emisi 2) Mengembangkan standarisasi sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan yang ramah lingkungan 3) Pengembangan kendaraan elektrik dan hubrida 4) Pengembangan kendaraan yang kompatibel dengan bahan bakar nabati (biodiesel. 3) Penataan lalu lintas. Gangguan lalu lintas kapal penyeberangan dan gangguan pergerakan sarana transportasi jalan dan kereta api. Pada gangguan lalu lintas kapal penyeberangan antar pulau dan gangguan perjalanan transportasi jalan (rob) akibat gangguan angin kencang atau badai yang berasal dari angin barat maupun angin timur dan kenaikan paras air laut meliputi: 1) Penyediaan sistem Informasi Navigasi untuk pelabuhan dan kapal. 2) Pemantauan dan evaluasi lokasi jalan rel tergenang didukung sistem informasi yang akurat. bioetanol. Transportasi Darat dan Perkeretaapian Kebijakan mitigasi yang dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 d. percepatan korosi.

2) Perlindungan terhadap jembatan. Non Precision Approach dan ADS-B untuk mempersingkat navigasi penerbangan. b. 7) Perkuatan prasarana di bandar udara dan perlindungan terhadap sarana bandar udara. 3) Perkuatan prasarana di pelabuhan dan penyediaan bangunan pelindung terhadap fasilitas dermaga dan sarana pelabuhan. 5) Penyesuaian alur dan jalur pelayaran kapal nasional dengan kondisi cuaca dan iklim pada saat ini. 6) Peningkatan teknologi sistem informasi bagi penundaan/pembatalan penerbangan. jalan. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Fenomena perubahan iklim diantaranya Terjadinya peningkatan frekuensi perubahan cuaca yang ekstrim sehingga berpotensi terjadinya banjir. dan penyesuaian desain fisik kapal sesuai karakteristik perairan. 6) Penerapan Safety of Life at Sea (SOLAS) yang lebih diperketat. puting beliung dan badai lokal. d. Gangguan angin kencang atau badai yang berasal dari angin barat maupun angin timur. mesin yang lebih efisien. penggunaan teknologi baru serta prosedur perawatan pesawat udara. 9) Pelaksanaan Program Ecoairport. 3) Implementasi Performance Based Navigation (PBN). RNP-10. 4) Pengembangan teknologi hidrodinamik. 8) Peningkatan kemampuan SDM dalam menghadapi kejadian darurat termasuk evakuasi kecelakaan. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-7 . dan akses dermaga serta pelabuhan untuk menghindari terjadinya rendaman air laut. 5) Peningkatan elevasi di sisi muka runway. 7) Pelaksanaan program Eco-Port.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 3) Penyediaan sistem Informasi ramalan cuaca. Transportasi Udara 1) Pengawasan. Pengaruh pola cuaca dan iklim mengalami ketidakberaturan. 4) Pemanfaatn teknologi GNSS Landing System . banjir bandang dan tanah longsor. 2) Penerapan program RVSM. ADS-B dll. Transportasi Laut Kebijakan mitigasi yang dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim yang berpengaruh terhadap konsruksi dermaga dan fasilitas dermaga dengan antisipasi sebagai berikut: 1) Peninggian elevasi dermaga serta fasilitas pelabuhan lain. PRNav. c. 4) Penyediaan sistem Informasi daerah rawan asap.

Gangguan lalu lintas kapal penyeberangan dan gangguan pergerakan sarana transportasi jalan dan kereta api. d) Penggunaan energi alternatif (bahan bakar bio. adalah sebagai berikut : 1. Kebijakan mitigasi yang dilakukan dalam menghadapi pengurangan emisi gas.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 Kekeringan. kebakaran dan pencemaran asap berdampak pada sektor transportasi antara lain: gangguan pada lalu lintas dan angkutan pada transportasi jalan dan perkeretaapian (longsor. c) Pengurangan kemacetan lalu lintas melalui upaya penerapan manajemen lalu lintas berbasis ITS (Intelligent Transport System). LANGKAH KEBIJAKAN MITIGASI EMISI Sebagian besar kota metropolitan dengan populasi penduduk yang besar (lebih dari 500.000 penduduk) mengalami permasalahan yang rumit terhadap angkutan perkotaan dan angkutan lokal. Transportasi Darat dan Perkeretaapian 1) Transportasi jalan : a) Pelaksanaan moda transportasi berbahan bakar gas. pohon tumbang) dan membuat jalan macet. e) Sosialisasi penggunaan kendaraan berjenis hybrid. f) Penyediaan fasilitas pejalan kaki/pesepeda. seperti busway dengan BBG dan kereta api listrik 4) Pengoperasian sistem transportasi massal dikota-kota besar dan metropolitan 5) Mengembangkan teknologi kapal ASDP sesuai daerah pelayanan 6) Pengaturan schedule pelayaran berdasarkan informasi iklim dan cuaca 7) Mengembangkan fasilitas perambuan lalu lintas jalan D. b) Peningkatan penggunaan angkutan umum. Kebijakan mitigasi untuk Badan Litbang Perhubungan sebagai berikut: 1) Penggunaan energi baru dan terbarukan 2) Mengembangkan fasilitas pendukung penggunaan bahan bakar nabati 3) Perencanaan sistem transportasi masal yang rendah emisi gas rumah kaca. Permasalahan yang timbul adalah penyediaan sarana dan prasarana transportasi umum yang terbatas dan adanya ketidakseimbangan supply-demand yang akhirnya berdampak pada aktifitas masyarakat. Standarisasi emisi gas buang melalui pengujian kendaraan bermotor. Selain itu kondisi kurang layaknya transportasi umum baik dari sisi pelayanan maupun jumlah armada memberikan potensi perpindahan moda dari angkutan umum ke angkutan pribadi sehingga menimbulkan peningkatan kepemilikan dan pergerakan kendaraan pribadi. BBG dll). rel menggantung. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-8 . Kebijakan adaptasi yang terkait dengan pengurangan emisi gas dengan kebijakan penggunaan energi alternatif. banjir.

Pelaksanaan program Eco-Port Program Eco-Port yang merupakan program untuk pembangunan pelabuhan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dan Protocol of 1992 to Amend the International Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage. c) Peningkatan sarana pelayanan umum.  Upaya penanggulangan keadaan darurat apabila terjadi kecelakaan kapal dan tumpahan minyak ke laut. Dasar Hukum yang digunakan dalam pelaksanaan penanggulangan keadaan darurat tersebut antara lain : a) United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut). pengesahan Keputuan Presiden No.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 2) Perkeretaapian : a) Pengalihan angkutan barang dan moda kendaraan bermotor ke kereta api. berupa:  Penggunaan peralatan kapal dan bahan bakar alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. sangat mendukung upaya untuk mengurangi faktor pemicu perubahan iklim.  Implementasi dan penerapan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam MARPOL untuk meminimalisir pencemaran terhadap lingkungan perairan. Menyediakan Recieve Facilities (RF) di lingkungan Pelabuhan. b) Pelaksanaan angkutan massal berbasis kereta api. keamanan. dan keselamatan umum. d) Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan lingkungan kawasan pelabuhan. ketertiban. 1969. antara lain : a) Peningkatan kualitas kebersihan daratan dan perairan kolam pelabuhan dari limbah sampah. b) International Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage. keteduhan dan keasrian lingkungan dalam kawasan pelabuhan. agar tidak terjadi pencemaran air laut akibat minyak yang tumpah tersebut. 2. sanitary. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-9 . Program Eco-Port ini mencakup semua kegiatan yang ada di pelabuhan yang berpotensi mengakibatkan dampak dan penurunan terhadap kualitas lingkungan. dan B3 (termasuk minyak). f. pengesahan UU No. Transportasi Laut a. pengesahan Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1969. 18 Tahun 1969. 1969. b) Peningkatan kebersihan. 17 Tahun 1985. e) Peningkatan Kinerja Pelayanan & Keselamatan Kerja di pelabuhan.

46 Tahun 1986. 1973. h) Target lingkungan ditetapkan berdasarkan pada keadaan setiap bandar udara. 2) Peningkatan fasilitas drainase dan hidrologi. d) Mengurangi polusi dan pencemaran saluran dan air permukaan dari kekeringan air. 1973. Pelaksanaan program ini ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) Memperkecil dampak pada kualitas udara dengan mengurangi volume pencemaran udara. d) IMO Manual on oil Pollution Contingecy Plan (Section II). pengesahan Keputusan Presiden No. Transportasi Udara 1) Pelaksanaan Program Ecoairport Program Ecoairport merupakan merupakan salah satu program dan kebijakan kebandarudararan sub sektor transportasi udara yang dilakukan untuk mencapai tujuan kebandarudaraan yang berwawasan lingkungan. g) Memelihara dan menciptakan lingkungan yang sehat dan alami disekitar bandar udara.terintegrasi serta mencapai pengembangan yang berkelanjutan. bahan-kimia dan limbah lainnya sebagai akibat operasional bandar udara.RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 c) International Convention for the Prevention of Pollution from Ships. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan 1) Penelitian daerah rawan kecelakaan dan penelitian keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan 2) Penelitian teknologi prasarana rel dalam mengantisipasi tuntutan keselamatan perkeretaapian 3) Penelitian pengembangan Standarisasi pelayanan bidang transportasi jalan. e) Mengurangi pencemaran tanah/landasan dari minyak. beserta The Protocol of 1978 relating to the International Convention for the Prevention of Pollution from Ships. 3. c) Memperkecil dampak dengan mengurangi tingkat kebisingan dan getaran. b) Mengurangi pemakaian energi operasional bandar udara. kereta api dan ASDP 4) Pengembangan sarana transportasi rendah emisi gas rumah kaca seperti mobil hibrid BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-10 . 3) Penggunaan fasilitas/peralatan yang lebih efisien. 4. f) Pengolahan kembali (daur ulang) dari produk yang digunakan untuk dapat dijadikan sumber daya bagi kepentingan bandar udara.

RENCANA STRATEGIS KEMENHUB TAHUN 2010 – 2014 5) Penelitian spesifikasi kapal penyeberangan berdasarkan wilayah operasional 6) Pembangunan sistem transportasi masal yang rendah emisi di kota-kota besar 7) Penelitian Sispro keselamatan kapal penyeberangan 8) Penelitian kebutuhan perambuan pada daerah rawan kecelakaan. BAB VII ANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR TRANSPORTASI VII-11 .

Badan-Badan dan UPT-UPT di lingkungan Kementerian Perhubungan berkewajiban melaksanakan pemantauan dan evaluasi kinerja terhadap pelaksanaan RENSTRA dalam keterkaitannya dengan Rencana Kerja Kementerian Perhubungan (RKKP) Tahun 2010 s/d 2014. Badan-Badan dan UPT-UPT di lingkungan Kementerian Perhubungan dalam menyusun Rencana Kerja Tahun 2010 sampai tahun 2014. Dalam rangka menjaga efektivitas pelaksanaan RENSTRA Kementerian Perhubungan 2010-2014. 4. RENSTRA Kementerian Perhubungan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Kementerian Perhubungan (RKKP) Tahun 2010 s/d 2014 dan menjadi acuan bagi Direktorat Jenderal. Untuk itu ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut : 1.1 . RENSTRA Kementerian Perhubungan disusun dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan nasional khususnya di sektor transportasi serta untuk menjadi arah dan pedoman pelaksanaan penyelenggaraan perhubungan bagi seluruh unit kerja dan stakeholder di lingkungan Kementerian Perhubungan. Seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Perhubungan secara bersama-sama mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan RENSTRA Kementerian Perhubungan 2010-2014 dengan sebaik-baiknya. masing-masing Direktorat Jenderal. 2. MENTERI PERHUBUNGAN FREDDY NUMBERI BAB VIII KAIDAH PELAKSANAAN VIII . 5. Badan-Badan dan UPT-UPT di lingkungan Kementerian Perhubungan. 3.RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010 – 2014 BAB VIII KAIDAH PELAKSANAAN Naskah Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Perhubungan Tahun 2010 2014 ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Perhubungan Tentang Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2010 – 2014. Kementerian Perhubungan berkewajiban menjaga konsistensi antara RENSTRA dengan Rencana Kerja Direktorat Jenderal. RENSTRA Kementerian Perhubungan diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2010 s/d 2014 dengan mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 s/d 2014 khususnya sektor transportasi.

488 533. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi SDP dan Pengelolaan Prasarana / Fasilitas Lalu Lintas dan Angkutan Sungai.488 3.400.675.607.000.000 1.500 124.400.000 .000 88.619 2.460.682 NO 1 2 3 KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.327 2.000 50.000 115.138.282 2.120 1.710 1.217 1.757 796.039.987.493.392 6.000.000 103.790.692 11.000 33.850. Danau dan Penyeberangan.500 633.369.277.500 181.683.124.937.072 721.733.575.510.358.823 1.247.442.327.500 149.500.000 92.000 917.554.795.079.000) 2011 2012 2013 75.145 1. Pembangunan dan Pengelolaan Prasarana dan Fasilitas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.927.696.000.707.459.713.967 TOTAL 470.254.000 727.080 2.288.265.000.477.838.000 342.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 ALOKASI PENDANAAN (Rp.000 76. Pembinaan dan pengembangan Sistem Transportasi Perkotaan Manajemen dan Peningkatan Keselamatan Transportasi Darat.220. JUMLAH 2010 71.840.203.000 89.433.323.000.225 4 5 75.397.914 2014 120.405.

000 1.000.750.000.500.000.000 500.000 2.900.000 VOL 1 1 1 1 1 2012 BIAYA 30.000.000.000 470.000.500.000 500.000 250.Prasarana dan sarana penunjang teknis Perencanaan.000 250.000 VOL 1 1 1 1 1 2014 BIAYA 42.000 3.000.000 1.300.488 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13.000 7.000 500.000.000 20.000 1.000 13.000.000.000.000 800.488 4.000.000 8.Evaluasi dan Pelaporan .000 4.138.500.000 1.400.000 71.000 3.Perencanaan Umum/SID/DED .000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15.000 700.000 74.000 5.788.000 500.000 800.000 2.500.000 15.Sistim dan prosedur teknis . HONORARIUM DAN VAKASI .358.000.500.288.000 3.000.000 2.500.000 4.000.000 2.000 18.000 9.000 2.000 32.500.000 3.200.000 2.000 1.000 TOTAL 1 2 3 4 5 Paket Paket Paket Paket Paket 166.000 500.250.000 1.Rapat dan sosialisasi .000 3.000.000 70.000.000 115.000 4.000 3.000.000 1.000.000.000 1.000.488 23. LEMBUR.000.000 900.000.Penyusunan Peraturan .000 600.000 1.220.000 4.000.000 4.400.000 2.000.000 75.Pengawasan .000 10.000 2.000.000.000 1.000.000 1.000 2.488 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13.350.000 850.000 2.000.200.000 4.000 2.000.000 13.020.000 7.500.000.450.000.000 5.000 600.Kegiatan penunjang manajemen DUKUNGAN TEKNIS .000 250.000 700.000 2.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15.200.800.000.500.000.000 500.000.000 700.000 4.000.000 120.000 3.000 VOL 1 1 1 1 1 2011 BIAYA 27.500.000.000.000 VOL 1 1 1 1 1 2013 BIAYA 40.500.000 23.000 500.000 4.Diklat teknis .000 2.500.000.500.000.000. Evaluasi & Monitoring Pengembangan Sistem Informasi Perhubungan Darat Kegiatan Pengelolaan anggaran/keuangan SATUAN VOL 1 1 1 1 1 2010 BIAYA 26.000.000 7.450.000 2.000 3.000.000 10 Kegiatan Bidang Hukum & Kehumasan 11 Kegiatan Pengembangan SDM Bidang Phb Darat 12 Kegiatan Unit Pelayanan Teknis Ditjen Hubdat JUMLAH SETDITJEN Page 2 .000 17.700.500.000.500.000.000 1.000.000 2.900.000 7.000 4.000.950.000 2.000 250.270.000 89.000.250.Sertifikasi .PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : DUKUNGAN MANAJEMEN & DUKUNGAN TEKNIS LAINNYA DIREKTORAT JENDERAL PEHUBUNGAN DARAT UNIT KERJA : SETDITJEN PERHUBUNGAN DARAT ( Rp.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14.000 9.000 5. 000) NO KEGIATAN DUKUNGAN MANAJEMEN PEMBAYARAN GAJI.000 1.000 250.000 5.

000 32.000.500.000 2 1 1 5.000.000.000.000.712.000 31. Derm.000. Gelombang) Pemb.000 3.145.000 27.000 1 1 8 500.000 4 Unit 9 1 4. Rimo.000 22.000 3.000 3. Derm.000.181.000.264 1 1 1 7 10.000.DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun RIAU Prasarana (Penyeberangan) 1 Unit 1 Unit 1 Paket 1 Paket 1 Paket 2 1 4.Derm. Penyeb.000 5. Derm.000 1 8 1. Pulau Terpencil (Beueh) Sarana Pembangunan Kapal Penyeb.000.000 3.000 500.000 1 1 1 5.000 31.000 10. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN SDP UNIT KERJA : DIREKTORAT LLASDP . Derm.000 1 1 3 10.000 1 8 1.000. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit 1 1 19.000.000 II SUMATERA UTARA Prasarana (Penyeberangan) Peningkatan. Sungai & Danau Alur & Perambuan SBNP Derm.000 1 Paket 1 Paket 1 Unit 1 Unit Unit Paket 11 7.000 15. Meulaboh Peningkatan Derm.000 1 10.Derm Danau Laut Tawar Pemb. Pemb.145.Sinabang Thp III Alur & Perambuan SBNP Derm.000 1 1 7 5.000.000 2 10.000.710 1 4 1.000 1 10. Penyeb.000.000 1 1 2 10. PROVINSI / PROGRAM Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2011 Vol Biaya Tahun 2012 Vol Biaya Tahun 2013 Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya I.000.750 GT Lts.000 16. Penyeb.000.000.000. Ro-Ro di Nainggolan Prasarana (Sungai & Danau) Pemb. di Danau Toba Pemb.000 51.000.000. Rimo. NANGROE ACEH DARUSSALAM Prasarana (Penyeberanagn) Pemb.000 1 1 3 3.000.000 500.290 500.000.000.000.Lab Haji .000 12.000 1 1 22.000 1 5.000 500.000. Balohan Pemb.000.710 1 1 1 5.000 3 46. Penyeb.000 2 10.000.500. Penyeb. Labuhan Haji Peningkatan Derm.000.000 7 50.000.500.000.000.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA. Penyeb.000.000.000. Pulau Terpencil (Beueh) Prasarana (Sungai & Danau) Pemb. Penyeb. Derm. Singkil Pemb.000. Peningkatan Derm. Penyeb.000 10. Penyeb.000. Pel. Derm.500.Sungai (Tamiang.000 1 1 3 15.000 1 10. Derm. Derm.000 10.000 5.000 7.000 500. Sungai Teluk Buluh Pemb/Peningkatan. Gelombang) Pemb Derm Danau Laut Tawar Pemb.000 10.000 1 1 4 500. Sungai (Tamiang.893.000 500.000. Derm.026 1 5.000 3.000 III ASDP Page 3 .000 3.000.

000 Vol 1 Tahun 2011 Biaya 15.000 15.000.000.Sungai Kampar (Langgam & Pangkalan Kerinci) Pemb Derm.000 2 2 2 2 1 1 12 Tahun 2012 Biaya 10.000.000 1.000 10.500.000 15.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No. Derm Sungai Rokan Alur & Perambuan SBNP Derm.000.000 7.000.000.Penyeb.000.084. Di Pulau (Terluar/Terpencil) Pemb.000 3.000 10. Di Pulau Tarempa Pemb.000.000 5.000 10.Kuala tungkal Pemb.000. Di Pulau Lingga Pemb.758.300 1 8.000 1 11 5.Derm.000 1 7.Penyeb.000 15.000 10.000 182. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun IV KEPRI Prasarana (Penyeberangan) Pemb. Di Pulau Anambas Pemb.Penyeb.000 1 1 1 1 2 1 10.Derm.000 1 9 5.Derm.000.000.000 10.Penyeberangan Prasarana (Sungai & Danau) SBNP Derm.455.000.000 110.Penyeb.000 5.000 5.000 20.Derm.000 15.500. Sungai indragiri Pemb.000 15.Derm.000.000.000.000.960 1 1 17 7.000 10.000.Kapal Ro-Ro (500 GT) Lintas Dabo .000 1 1 1 1 2 1 2 2 2 10.000 5.000 5.Penyeb.000 5 65. Penyeb Kampung Balak(selat Panjang) Peningkatan Derm.992.000.000 60.960 97.Penyeb.000.000 7.500.Penyeberangan Prasarana (Sungai & Danau) Pemb Derm.000 1 Unit 1 Unit 8 1 7.000 30.500.Kapal Ro-Ro (500 GT) Lintas Tanjung Pinang . Pulau Pagai Selatan Peningkatan Derm.000.000 1 1 1 1 1 17 Unit Unit Unit Unit Unit - 1 1 13.462.000.000.000 1 10.000.Derm.Selat Belia(P.Derm.Derm.000 10.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 1 1 1 16.000.000.000.000 5. Derm.Bintan) Pemb.000 10.Derm.000.831. Panjang Sasaran Volume 1 Unit 1 Unit 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Vol 1 Tahun 2010 Biaya 7.000.000 10.000 15.000.948 1 10.000 1 12 11.000.Penyeb.000. Derm.Penyeb.000 1 Unit 2 1.Derm.000 10.500.000 5.000.500.000.Dipulau Natuna Pemb.000.000 1 2 15. Derm.000.Dabo tahap V Pemb.000 10.000.074.000.292 Page 4 .000 1 15 30.000.566 7.Kapal Ro-Ro (500 GT) Lintas Tanjung Pinang .000 15.000.Derm.000 75.000.000.000 1 35.Penyeb.000.000.Penyeb.000 19.000 15.000. Sedanu Peningkatan Derm.Tanjung Pinang(P.000 1 15.000.000 1.Karimun Thp III Pemb.000.000 44.000.500.000 1 1 1 2 1 2 2 2 15.000.000 10.000 Vol 2 2 2 2 2 Tahun 2013 Biaya 10. Di Pulau Sebangka Pemb.000 1 ASDP 2.000 Vol 2 2 2 2 1 1 9 5.Penyeb.000.Kapal Ro-Ro (500 GT) Lintas Tanjung Balai .000 7.Derm.000.Penyeberangan Prasarana (Sungai & Danau) Pemb.000.000 1 10.000 15.831.000.000.000.000.119 7 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 7.000 7.000 2 1.Kapal Ro-Ro (750 GT) Total per Tahun V SUMATERA BARAT Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000.000.000.000.000 40. Sikakap Pemb.000 60.000.929.305 1 1 1 10.000.000 15.000.000.000.000.000. PROVINSI / PROGRAM Pemb. Sungai Siak Pemb.000 1.000 18.000 10.000 1.Penyeb. Penyeb SARANA Pemb.Dabo Pemb.000 15.000 1 2 7.Kundur) Pemb.000 10.Karimun Pemb.000.000.000 Vol Tahun 2014 Biaya 2 2 2 2 10.Sungai Bangko P.000.758.

000 1 1 2 15.000 5.000 7. Penyeb Sasaran Volume Vol 1 Unit 1 Unit 6 Tahun 2010 Biaya Vol 1 1 2 Tahun 2011 Biaya 500.000.000. Di Muara Tebo Pemb.000 1 1 1 6 5.500.000.421. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun VI JAMBI Prasarana (Sungai & Danau) Pemb.500.000.000.000.000.000 2 9.Derm.000 5.000.000.Penyeb.000.000 5.000.000 1 1 1 3.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 15.000.000 5.000.000.000.000 7.000 1 5.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 8 - 1 1 1 5 5.000.500.500.000.Derm.000.000 6 33.000 5.000.000 7.000 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3.000.Sungai di Makarti Jaya Pemb.000.Danau Kerinci Prasarana (Penyeberangan) Pemb.Sungai di Tangga Buntung Pemb.Sungai di Air Sugian Pemb.000.000 1 1 1 1 1 1 1 1 2 7.000 1 3.847.000.000.Derm.000.000 7. P.000 35.000.000 5.Derm.000.000.000 1.000 7.000.000 10.000 5.000.000 38.292 1 Unit 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit 1 1 1 4.000 7.000 500.000.Derm.500.000 5.000.000 Vol Tahun 2014 Biaya 1 1 5 500.500.000.000 4.Derm.Derm.000.000.000.000.000 5.000 5.000.Riau Total per Tahun BENGKULU Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000 Vol 1 1 2 Tahun 2012 Biaya 500.Derm.000.500.000 15.000.000 5.000 500.Kapal Ro .Sungai Bayung Lencir Pemb.000.000.000 1.Penyeb.000.000 5.000. Baai Bengkulu Peningkatan Derm. PROVINSI / PROGRAM Alur & Perambuan SBNP Derm.000 5.000 7.000 5.000 5.500.000 5.000 Vol 1 1 5 Tahun 2013 Biaya 500.Sungai Penuguan Pemb. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Sarana Pemb.000 1 1 2 5.Penyeb.000 5.847.000 5. Di Muara Kuning Pemb. Di Kuala Tungkal Peningkatan Derm.000.000.000 1 1 1 1 3.000 26.000 1 1 1 4.000 15.000 7.000 5.000 15.000.000 18.000 1.000 1 1 1 1 1 1 5.000 1 1 1 3 5.000.000.000.000 500.000.000 1 1 3 VIII 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 3.000 5.000 5.000 500.000.Sungai di Muara Telang Pemb.000 5.000.000.000.000.Sungai Komring Pemb.000.Derm.000 5.500.Derm.000 5.000 7.500.385 1 1 3 5.Derm.000 5.000 1 2 5.500.500.Sungai Alur & Perambuan SBNP Derm.000 5.000 6 45.000 Page 5 1 Unit ASDP .Derm.500.Derm.000 1 15.000.000.500.Derm.Derm.500.000 1.000.000 5. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun SUMATERA SELATAN Prasarana (Sungai & Danau) Pemb.000 7.Penyeberangan Alur & Perambuan SBNP Derm.000 5.Penyeb.Ro (500GT) Jambi .Sungai di 16 Ilir Pemb.000 7.000 5.000 5.000.000 1.500.385 1 5.421.000 7.000.000.Penyeberangan Alur & Perambuan SBNP Derm.500.Sungai Ogan Pemb.000 1.000 10.000 VII 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 4 - 1 3.074.000 5.000 7.000 1 1 1 1 1 1 15.

Penyeb.000.000 30.000.000. Penyeb.000.000 10.000.000 15.063 65.000 17.000.486.000 5.000.000.000 1 30.000.000 5.000.000.000.000 2 5 5. Prasarana (Sungai & Danau) Peningkatan Derm. Seribu) Pemb.000.000 1 1 1 1 2 6 10.000. Bakauheni Pemb.000 7 50.000.Derm.Penyeb.000.000.000 X 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 9 1 1 410.000 92.300 2.000.000 1 1 1 3 7.000 30.000.894.Elevated Side Ramp dan Gangway di Derm.000.000.000 7. Penyeb.000 1 15.000. Penyeb.000 57.000. Danau ranau Replacement dermaga Kuala teladas Alur & Perambuan SBNP Derm.000. Di Pulau Lepar Pemb.000.000 1 10.000.250 49.000 1.500.500.000.000 1 1 1 3 10.000.000 25.000.486.000 52.000.000 5.000.000 15.000.000.Sumatera) Pemb.410.000 7.000.000 2 1 6 1.756.000 10.000.000.P. Merak V Pemb.000 20.000.000 Sasaran Volume Vol 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 16 Tahun 2010 Biaya Vol 1 1 Tahun 2011 Biaya 2.000 1.000. PROVINSI / PROGRAM Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Peningkatan Alur Pelayaran Sarana Pemb Bus Air Pemb Bus Air Pemb Bus Air Total per Tahun IX BANGKA BELITUNG Prasarana (Penyeberangan) Pemb.500.000 1 1 1 10.Penyeb.756.Elevated Side Ramp dan Gangway di Derm.000.000 10.Penyeb.000 1 10.000 1 1 1 28.063 13 68.894.000.Sumatera) Pemb. Merak VI Pemb.000.500.000 1 15.500.Penyeb.Derm.000 Tahun 2012 Biaya 2.000 1 1 1 10.000 Vol 1 1 1 2 7.500.Derm.000 2 1 7 1.000 Vol Tahun 2014 Biaya 1 2. Dermaga Kapal Cepat Di Merak Peningkatan Derm. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun XI BANTEN Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000.000.000 1 1 30. Di Tangerang (Lintas Tangerang .500.000. Tanjung Ru Total per Tahun LAMPUNG Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000 1 10.000.160 Page 6 .BreakwaterDerm.000.000 2 2.000 5. Bakauheni VI Pemb.500.Penyeb.000.Derm.Penyeb. Total per Tahun 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 6 1 1 ASDP 2 15.000 2 1 7 1.000 27.000.300 2 1 6 1.000.000 47.000 7.000 10.000 10. Di Pulau Liat Peningkatan Derm.000 1.Penyeb. Peningkatan Derm.000 15.000.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No. Margagiri (Lintas alternatif Jawa .000.000 25.000 1 1 2 20.000 10.000.Derm.000 88.Penyeb.000 10.000 1 - 1 1 1 1 4 Unit Unit Unit Unit - 1 10.000.Penyeb.000 1 1 1 5. Bakauheni V Peningkatan Derm.000 1.000 12 2.000.Derm.000.000.Derm.160 25.000.250 1 13 2. Ketapang (Lintas alternatif Jawa .000 27.000 1 10.000 5.000 Vol 1 1 Tahun 2013 Biaya 2.Penyeb.

500.000 5.000 1 1 1 3 1.Derm.000.463.000 1 1 1 13.000 1 10.000 1 1 5.Di Waduk Gembong Di Sungai Citarum Peningkatan Dermaga Sungai Di Pamotan Total per Tahun JAWA TENGAH Prasarana (Sungai & Danau) Peningkatan Derm.000.000.500.000 2 9.000 1 1 4.106 1 1 4 5.000.000 1 15.Pulau Karang Peningkatan Derm.000.500. Penyeb Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun XV DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Prasarana (Penyeberangan) Pemb/peningkatan Derm.000 23.000.500.Breakwater Derm.000.000 3.000 5.000.000.000 30.000 2 10.000.000 1 1.000 1 3.000.500.000 Page 7 1 ASDP 15.500. Di Ketapang Pemb.000 XIV 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit 1 1 2.000 1 3.291 4.000 5. Penyeb.000 5.000.000.000.000.Derm.000 3. Penyeb. DermagaKapal Cepat di kendal Peningkatan Derm.307.000 5.Di Waduk Cirata Di kebun Coklat Pemb.000.000 1 7. Lamongan Tahap II 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit 1 10.000 1 1 1 1 6 5.160 5.000 38.000 .805.989 999.000 3.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 3 - 1 1 2 3.Kendal Tahap II (termasuk supervisi) Pemb.Sungai / Danau Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000 1 1.000 5.000 4.000.497. Derm.000 1 5.000. Penyeb.000.000 3 18.000.000 5.000.000. Derm.Derm.000 1 1 5 5.Derm.000 5.000.486.000 1 10.000.Penyeb.Penyeb Alur & Perambuan SBNP Derm.500.000 2 7.Sungai Di Karanganyar Rehab.000 1.000 1 5.000 2 10.106 1 4.000. Breakwater Derm.000 4.Sungai Di Jogjog Pemb.000 1 2 500.000 5.000 23.000.000.000 500. PROVINSI / PROGRAM Sasaran Volume Vol XII DKI Total per Tahun JAWA BARAT Prasarana (Penyeberangan) Pemb.500. Derm.000.000.Derm.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 9 - 1 12.000 5. Penyeb.000 XVI JAWA TIMUR Prasarana (Penyeberangan) Pemb.Di Waduk Jatiluhur Pemb.000 1 1 5.000.000.000.000 1 1 1 1 5 20. Di Kamal Pemb.000.500.000.000.DiSungai Glagah Kab Kulon Progo Alur & Perambuan Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun Tahun 2010 Biaya Vol Tahun 2011 Biaya Vol Tahun 2012 Biaya Vol Tahun 2013 Biaya Vol Tahun 2014 Biaya - - - - - - - - - - - XIII 1 1 1 1 4 Unit Unit Unit Unit - 1 1 1 3 501.000.000 5. Di Ujung Pemb.960.000. Di Waduk Sermo Peningkatan derm.500.736 2.000 500.000.000 5.000.000.000 - - 1 2 500.000.000 1 3.000.016 1 1 3.000 1.

364 1 1 5.000 2.000 10. Derm.000 30.000 1 Unit 1 Unit 1 1 2. Gili Meno.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 7 - 1 16.500. Penyeb. Waikelo Pemb.000. Terpencil (Gili Air.000 4. Penyeb.500.000 500.000 1 5.000 500.000.870.870.000 34.000.000.000.000. Penyeb.Ro (500 GT) Total per Tahun 3 1 2. Derm.500.000 15. Sepekan (Pulau terpencil) Kab.000. Nangakeo (Ende) 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 12. Derm.500. Di Padang Bai II Tahap IV (termasuk Supervisi) Pemb.235. Penyeb. Penyeb. Teluk Gurita Pemb.000. Breakwater Derm.000 4 20.000 10. Derm.000 1 1 1 4 22. Di Lombok Utara Dermaga Penyeberangan di P.000. Pemb. Penyeb. Penyeb.000 2 1 500. Di Bali Utara Pemb.500.000 1 20.000 1 1 5.000.500.000 Vol 1 1 2 1 6 Tahun 2012 Biaya 15.000 - 1 1 5. Di Pulau Raas Kab.000.000 10. Derm.000 500.986. Derm. Penyeb. Derm.000 1 1 1 - 10. Derm.500.000 2 19.000 27.000.000. Sarana Pemb. Derm.000. Penyeb. Penyeb. Derm. Gunaksa Tahap III (termasuk Supervisi) Pemb.000.000.000 1 15.000.000. Waikelo Pemb.000.000 Sasaran Volume 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 8 Vol 1 1 Tahun 2010 Biaya 10. Penyeb.000 1 3. Penyeb.650 85.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000. Glimanuk Peningkatan derm.000 5. Penyeb. Kapal Ro .000 1 5.000.000 3 500. Gili Trawangan.000.364 4 500. Penyeb.000 1 500. Marpokot Pemb.000 Vol 1 2 1 7 Tahun 2013 Biaya 5.578.000 5.000 45.500.000. Sumenep Tahap I Alur & Perambuan Peningkatan Rambu Sungai dan Danau Total per Tahun XVII BALI Prasarana (Penyeberangan) Pemb. Penyeb.000 500.000.000 500. Derm.000 Vol 1 1 1 5 Tahun 2011 Biaya 10.000.000 1 5.735.000 500.000. Sumenep Tahap I Peningkatan derm.000 3 10. Kapal RO .160 Vol Tahun 2014 Biaya 1 2 1 4 5. Pototano Rehabilitasi Pelabuhan Penyeberangan Sape Pemb.000 1 1 5 500.000.000 15.000 1 5. Penyeb.000.000.000 10.000. Alur & Perambuan SBNP Derm.000 3 29. Sangeang dan Senggigi) Alur & Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Sarana Pemb.000 3 5.000 1 1 10.000 1 1 20. PROVINSI / PROGRAM Pemb.500. Derm.000 1 Unit 2 1 500.000 ASDP Page 8 .000 4.000 38.000 500.650 4 25.000 XIX NUSA TENGGARA TIMUR Pemb.000 500.ro (500 GT) Total per Tahun XVIII NUSA TENGGARA BARAT Peningkatan Pemb.078.

Penyeb.000. Derm.000 10.000 5.000 1 1 5. Sungai di Dedai DAS MEMPAWAH .000 10.Pemb.000. Kapal RO-Ro (500 GT) (NTT-Maluku) Total per Tahun XX KALIMANTAN BARAT Pemb.000 10. Baranusa Pemb.756.000 2 10.000.000 Vol Tahun 2014 Biaya 1 5.000 5.000.985 1 8 33.000 5.000.000.400 Tahun 2010 Biaya Vol Tahun 2011 Biaya Vol Tahun 2012 Biaya Vol 1 Tahun 2013 Biaya 5.419.000.000.000 10.000.000 1 1 15. Sungai di Teluk Keramat DAS PAWAN .000 1 5.000 5.000 1. Derm. Hansisi (P.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 10.000 20.000 1 5.000. Derm. Penyeb. Rote Pemb.000 10.985 22.000 115.000 1 1 5. Derm.000 10.000. Sungai di Delta Pawan . Sungai di Serawai . Semau) Pemb.000. Sungai di Pemangkat .Pemb. Derm.000.000.000 9 51.000 5.000 1 1 5.000 10. Derm.000.000.000. Derm. Kapal Ro-Ro (500 GT) Pemb.000. Penyeb.000.000.000 1 15.000.000. Atapupu Alur & Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Sarana Pemb. Derm.000.000 10.000 1. Derm. Sungai di Jawai .000. Derm. PROVINSI / PROGRAM Peningkatan Derm.000.000. Sungai di Kubu .000. Penyeb. Derm. Lembata (Lewoleba) Pemb.000. Derm.000. Penyeb.000. Penyeb.000 10.Pemb. Derm.Pemb.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit 1 1 1 5.000. Aimere Pemb. Derm.653.000.Pemb. Penyeb.000 1 1 1 1 1 5. Derm.000.078 9 66.000.000.000.000 10.078.000.000 5.000 5. Sungai di Teluk Pakedai DAS SAMBAS BESAR .000.000 4. Derm. Sungai di Batu Ampar .Pemb.000.000. di Pulau Karimata Sasaran Volume Vol 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit unit unit unit 14 4 40.000. Kalabahi Pemb.000 10. Penyeb.000.000 1 1 5.000 5.000 5.000.000 5.000 10.000 10.000 5.000.000.000 5.000 5. Derm. Waiwerang Pemb.000. Penyeb.000 5.000 5.039.Pemb.000 1 5.000 ASDP Page 9 .000.000 1 4.400 84. Derm.000.000 5. Maritaeng Pemb.000.000. Derm.000.000 5.Pemb.Pemb.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 5.000.575. Derm. Derm.756. Penyeb.000 10. Penyeb. Sungai di Muara Pawan .000 10.000 1.000 10.000 5.078 1 1 1 1 1 1 10.000.000.Pemb. Derm. Kapal Ro-Ro (300 GT) Pemb.000. Derm. Sabu Pemb.000.000 3. Ketapang .000.000. Sulamu Pemb. Sungai di Rasau Jaya .000 5.000. Penyeb. Penyeb.Babel Peningkatan dermaga penyeberangan DAS MELAWAI . Derm.000. Balauring Pemb. Derm.000. Sungai di Sandai Pemb. Penyeb.000 5.000.000.000.039. Penyeb.000 1 1 1 2 10.000.000. Derm. Larantuka Pemb.000 5.000 5.000 1 1 1 1 1 1 1 2 1.000 1 Unit 1 16.000. Derm.000 17. Sungai di Ambalau .000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5.000 1 1 1 1 1 1 2 1 1 11 10.Pemb.000.000 5.Pemb.Pemb.

Derm.000. Kariangau Peningkatan dermaga penyeb kariangau Pemb.000.000 10.665 Vol 2 1 1 Tahun 2012 Biaya 1.000.772.772.000.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 1 1 7.000.000 10.000.000 25.000 Vol 2 1 1 Tahun 2013 Biaya 1.Riau) Total per Tahun KALIMANTAN TIMUR DAS KAYAN .000.442.000 2.000 5.000 5.000. Sungai di Sambaliung .000 2.000 5.000 10.000 5.000.000 15. Derm.000.000.000. Derm.000.000 2.000.000.265 53.000. Ancam Tahap IV Alur dan Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Peningkatan rambu sungai & Danau Peningkatan Alur Pelayaran Sarana 1 7.000 1 1 1 1 1 1 15.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 2.000.000.000.000.000 15. Derm. Derm.Pemb.039.000.000 25.000.000. Sungai di Tenggarong .Pemb.000.000 10.000 2.000 15.000 1 1 1 10.Pemb.000.000. Sungai di Muara Bengkal Prasarana (Penyeberangan) Pembangunan Derm.000 5. Sungai di Samarinda .000 5.000.000.000 10.000 1 1 1 1 1 1 10.000 10.000 14 73.000 XXI 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 7.000 15. Sungai di Ujoh Bitang .000.000.000. Sebatik Pemb.000.000.500.000 Page 10 .000 15.000 1 1 1 5.000 8.000.000.800 17 78.419.000.000.000 5.625.000 1 1 1 5.000 4. Sungai di Long Pahangai . II Penyeb. Derm.Pemb. Derm.000 5.000 2.000 1 1 1 1 1 1 5.000 5.Pemb.000.Pemb.400 159.000 10.000 2 1 1 1.000 1 1 1 25.000.000.000 5.000 7.000. PROVINSI / PROGRAM Alur & Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Peningkatan rambu sungai dan danau Peningkatan alur pelayaran Sarana Pembangunan bus air Pembangunan kapal Ro-RO (300 GT) Pembangunan kapal Ro-RO (300 GT) Pembangunan kapal Ro-RO (500 GT) (Kalbar-Kep. Sungai di Muara Segah .000 5.000.000.000.000. Derm.000.000.000.000 12 38.000 5.000 1 1 1 7.000.000.Pemb. Derm.000.Pemb. Derm.000 2 1 1 ASDP 1. Derm.800 1 1 13 55.000.000.000.000 2 1 1 1. Derm.000 10.000 5.Pemb.000 2.000. Penyeb.000.000.625. Sungai di Tiong Ohang .000 5.Pemb.000. Sungai di Pujungan .000 10.000.000.Pemb. Sungai di Tanjung Redeo . Derm.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5. Penyeb.Pemb. Derm.000 5.Pemb.000 5. Derm.000 5.000.000 Vol Tahun 2014 Biaya 2 1 1 1.000.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 1 1 1 4.000 1 15.000 5.Pemb.000.000 10.000 5.000.000.500.000 10.000 2. Sungai di Long Hubung .000 2.000.000.000 10. Derm.000.000 1 Unit DAS MAHAKAM .000 5. Derm.000. Penyeb. Sungai di Muara Kaman .Pemb. Derm.000.000.000.000 5.375. Sungai di Kota Bangun .000.000 1 1 5.000 5. Panajam Pemb.000 Tahun 2010 Biaya Vol 2 1 1 1 Tahun 2011 Biaya 1.000 1 1 5.403.000. Sungai di Muaralasan pembangunandermaga sungai di kayan tahap III termasuk supervisi Sasaran Volume Vol 1 unit 1 unit 1 unit 1 1 1 1 21 unit unit unit unit 1 16. Sungai di Long Bia .000 5.000 5.000.000.000 2 1 1 1.000 5.000.000 2.

Derm.000.000 5.619 Page 11 . Sungai di Tumbang Laung .000.000 5.000 Vol 1 12 Tahun 2011 Biaya 25.000 1 1 1 1 5.000 17 85.000. Sungai di Muara Teweh Pemb. Sungai di pasar lama buntok tahap III Penigkatan Derm.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5.000.Pemb.500. Sebuku Pemb.000 XXIII KALIMANTAN SELATAN Prasarana (Penyeberangan) Pembangunan derm.000 5. Derm.000.000 48.000 5.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000. Derm.000.000 5.Pemb.000 15.000 5.000 5.Pemb.000 5.Pemb.000 15. Tarakan . Derm.000.000.000.000.000 5. Sungai di Purukcahu Pemb.000.Pemb.057.000.000.909. Derm.000.000. Sungai di Nangabulik Pemb. Sungai di Petak Bahandang DAS SERUYAN .Pemb.000 5.000.II Batu licin Tahap VI Pemb.920 1 1 1 5 3. Derm.000 5.000 5.000. Derm.000.000. Derm. Derm.000 1 Unit 1 Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 4. Sungai di Mengkatip . Dermaga Penyeberangan Pulau Laut Prasarana (Sungai & Danau) Pembangunan dermaga sungai jelapat Pembangunan dermaga sungai di danau pangang 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit 1 1 2.000 5. Sungai di Telaga Pulang .000 5.000 5.000.000.000 2 1 5. Dermaga Sungai di Danau Sembayan DAS KAHAYAN . Sungai di Muara Sebayan DAS KATINGAN .Pemb.000 5.000. Derm. Sungai di Tewah .000 1 1 1 1 5.000. Derm.000.000 1 Unit 22 - 12 80.000.000.849.000 5. Sungai di Sungai Kapuas Pemb.500 4.000.000 15.000 5.000.000.500.000.000.000 5.penyeb.Pemb.000 10.000 5. Gunung mas Total per Tahun Sasaran Volume 1 Unit 17 Vol 1 5 Tahun 2010 Biaya 24.773.000 5.000 6 90.000 5. Sungai di Miri .000 5.000 1 1 1 1 10.000 5.000.881.000.000 1 Unit 1 Unit 1 1 ASDP 831.000. Sungai di Rantau Pulut Pemb.000 1 1 1 1 5.000.000.000 5.000 5.375.058 1 1 2 1 5.000.000.000.Pemb.000.555 1 1 1 1 1 1 16 5.295 2.000 Vol 15 Tahun 2013 Biaya 68.Pemb.717.000 5. Kapal Penyeb 500 GT Lts.000 10. Sungai di Tempulang Jenamas .740 1 1 1 1 2 1 1 1 1 10.000 10.831.Nunukan Thp II Total per Tahun XXII KALIMANTAN TENGAH DAS BARITO .000 5.000.000 15.000.000.000.000 10.000 5.000 5.Pemb.000 1 1 1 1 1 1 15.000.000. Derm.000.601 11.000.000. Derm. Derm.000 5.000 5.000. Derm.985. Sungai di Rambang kota Peningkatan derm.000 5.000.000 Vol Tahun 2014 Biaya 113.000 95.000 15. Sungai di Pagatan . Sungai kahayan di kuala kurun kab.Pemb. Derm. Sungai di Buntok Pemb.000.000.458 3.000 Vol 13 Tahun 2012 Biaya 75.000 5. Dermaga Sungai di Sungai Kapuas Pemb.000.000.000.000. Sungai Alalak Pemb.000 2 1 5. Derm.015.000 10.000. Sungai di Kuala Pembuang .Pemb.100 18. Derm.000 10. Sungai di Timpah .000.000. Derm.000 5.000.000 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 3.000.000 10. PROVINSI / PROGRAM Pemb. Derm.000.000.000.000 88.

000.000.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No. Penyeb.000.500.000.000 1 1 1 5.000 5.000 1 5.000 1.000 36.000 Page 12 ASDP .000.000.000.000.000.000.000. Kapal RO-Ro (500 GT) Total per Tahun GORONTALO Rehab Dermaga Penyeberangan Gorontalo Pemb.000 5.500.184 1 1 1 1 10.000.000.000.400.000.000.000 Vol Tahun 2014 Biaya 1 1 15.000 Vol 1 1 1 1 Tahun 2012 Biaya 5. Derm.000 15.000 10.000 10.078.000.000.484 6 41.000.000 Vol 1 1 1 1 1 Tahun 2013 Biaya 5.000.000.000.000 1 1 1 17.000.000 5.000 10.000 2 1 1 6 1.000. Penyeb.000.000 10.000. Derm.000 - XXVI 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 650.000 1 2 1.000 10.000.000 1 1 10.000.000. PROVINSI / PROGRAM Pembangunan dermaga sungai di Alalan Pembangunan Derm.000 5.000.000 5.000 2 1 1 12 1.000.000.889 22.000 5.000 1 2 5. Derm. Penyeb.000 20.800.000.000.000 1.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 10 - 1 6 3.000.000.000 6 36.000 7.000.300 228.000.000 5.000 1 1 1 10.000.000 10. Penyeb.000. Derm.000.000.000 2 5.000 10. Di Marampit Pemb.959.000 10.000 1.000 2.000.266.000 1 2 5.271 1 1 5.000.000.000 48.000 2.000 10.000 5. Sungai di Pasungkan Pembangunan dermaga Sungai di Tamban Pembagunan dermaga sungai di candilaras Pembangunan dermaga sungai di nangabulik Peningkatan dermaga sungai Pasar Baru Alur & Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Peningkatan rambu sungai dan danau Peningkatan Alur pelayaran Total per Tahun XXIV SULAWESI UTARA Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000 2.000 1 1 1 10.000 5.000 1 6 22.000 10.000 10.000 15.000 3 6.831.000 5.736 2 1 1 11 1. Di Miangas Pemb. Penyeberangan di Biaro Pemb.000 10.078.671.000.000.000.000.000.000.000 5.000 10.000 5.000. Derm.000 1 1 10.000.000 5. Derm.000.000.000 1 1 5.953. Tagulandang di talaud Rehab dermaga penyeberangan lembeh Peningkatan dermaga penyeberangan Alur & Perambuan SBNP Dermaga Penyebrangan Sarana Pembangunan kapal penyeberangan perintis lintas Tagulandang .000 4.000.000.000 5.000.382 23. Penyeb.000.000.000 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 1 1 1 1 12.000 1.000 1 1 5.000.000 1 1 1 1 1 1 5. Salibabu Pemb.000 7.000 38. Musi di P.000 1 1 2 1 1 13 5.000.000.di Ueboune tahap II Pembangunan dermaga penyeberangan di Kolonadale tahap II Pembangunan dermaga penyeberangan di Batubire tahap II Pembangunan dermaga Penyeberangan Peningkatan dermaga penyeberangan Sasaran Volume Vol 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Tahun 2010 Biaya Vol 1 1 Tahun 2011 Biaya 10.000.500.000.000.000.000.404.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 15 - 5 22.000.000.000 5.000 2. Marisa tahap IV Total per Tahun SULAWESI TENGAH Peningkatan dermaga penyeberangan Taipa Pembangunan dermaga penyeberangan di Luwuk Pembangunan dermaga penyeberangan di Salakan Pembangunan dermaga penyeb.000.350.000.000 50.000 7.000 1 3.000 7.000.000 58.000 9.000 38.Siau biaro (300 GT) Pemb.000 5.000 XXV 1 Unit 1 Unit 2 - 1 1 2 1.000.000 5.

000.000 4 10.149 5 15.000 2 7 1.000.000.000 Page 13 .000 2.000 21.000.000. Derm.500.000 2.000.000.000. Penyeberangan Kendari Peningkatan Dermaga Penyeberangan Labuan Peningkatan Dermaga Penyeberangan Dongkala Pembangunan Dermaga Penyeberangan Kamaru tahap VII selesai Pembangunan dermaga penyeberangan Wanci tahap VI (selesai) Pembangunan dermaga penyeberangan Labuan tahap I peningkatan dermaga penyeberangan Alur & Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Total per Tahun SULAWESI BARAT Peningkatan/Rehabilitasi Derm.000 5.000 1 5.000 1 15.000.000 1 10. Derm.000 1 1 2 7 10.000 1 10.000 Vol Tahun 2013 Biaya Vol Tahun 2014 Biaya 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 1 16.000.000. Penyeberangan Lasusua Peningkatan Dermaga Penyeberangan Maeasangka Pemb. Penyeberangan Wara Peningkatan Derm. Kalaotao) Peningkatan dermaga penyeberangan Prasarana (Sungai & Danau) Pembangunan dermaga DanauMatonon dan Towuti Peningkatan dermaga sungai Danau Matono lintas Soroako .970 4. Penyeberangan Bau Bau Pemb.000 5.000.000 1 5.000 1 1 5.000.000.000 42.000 36.000 4 1 5.000 1 1 5.000.000 32.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 1 1 11.970 11.000.000.000.000.202.000.000 1.000.000 5.000 2 5 1.000.000 1 10. Penyeberangan Garonkong tahap VI Dermaga penyeberangan di pulau terpencil (Tanah Jampea.000. PROVINSI / PROGRAM Prasarana (Sungai & Danau) Pembangunan dermaga Danau di danau soroako-Nuha Alur dan Perambuan SBNP Dermaga Penyeberangan Total per Tahun XXVII SULAWESI SELATAN Prasarana (penyeberangan) Peningkatan dermaga penyeberangan patumbukan Peningkatan dermaga penyeberangan Siwa Pemb.000 1 Unit 12 - 3 26.000 3 25.000 1 1 4 7.000 1.500.000 5.000.000 XXIX 1 Unit 1 Unit 1 ASDP 2.000.000. Derm.000 1 1 2 6 10.000 2.000 47.000 8 32.000.000.000.Nuha Peningkatan dermaga sungai danau Matano Lintas Nuha-Soroako Total per Tahun XXVIII SULAWESI TENGGARA Prasarana (Penyeberangan) Pemb.000.000 7.000.000.000 Sasaran Volume Vol 1 Unit 1 Unit 10 4 32.000.000 10.405. Derm.000.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 5.000 1 10.000.000 1 10.940 2 6 2.000.000 1 5.000.000 1 1 2 7 10.149 1 5.000 37.000.000.000.000 1 10.000 10.000.000 Vol 1 2 9 Tahun 2012 Biaya 5.000.000.000.000 10.000.000.500. Bonerote.000 1 1 15.000.000 5.000 5. Kalao.000 66.000.000.000.000 6 22.000.700.000 1 1 10.000 5.000.000 Tahun 2010 Biaya Vol 1 2 6 Tahun 2011 Biaya 5.000.500.000 46. Sungai Tarailu (Termasuk desain & Supervisi) Pembanguna dermaga sungai 1 Unit 8 2 21.000 1 1 5.000.700.202.000.

000. Lakor Pemb.000.000.000 1 1 1 1 1 7.000.000 15.000.000.500.000.000 10.000 1 20.000. Obi tahap II (termasuk supervisi) Pemb. Patani Tahap V (termasuk supervisi) Pemb.000 1 15.000 1 1 10.000 37. Waipirit Pemb. Penyeb.000 XXX 1 5. P. I (Termasuk Supervisi) Pemb.000.500.000.000 10.000 2 Unit 1 1 24.000 2 6 5.Penyeb Total per Tahun XXXI MALUKU Pemb. Derm. Bastiong Pemb.000 10.000.000 1 1 10. Tikong.000 7.600.000 1 10. Perintis 500 GT Lintas Babang-Obi -SananaThp I (Termasuk Supervisi) Peningkatan Derm.000 Vol Tahun 2014 Biaya 1 10.000.500.000 11.000 10. Derm. Penyeb.625 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6.805.000 1 10.000. Derm. Kusu.000. Penyeb.000.000. PROVINSI / PROGRAM Total per Tahun MALUKU UTARA Pemb.000.000 10.000. Penyeb Wailey Thp.000 1 1 1 10.000 1 10. Penyeb. Derm.000.000 8.000 65. Derm.000 17. I (Termasuk Supervisi) Peningkatan Dermaga Penyeberangan Waipirit Pemb.000 7.500. Penyeb.000 10. Kasiruta. Adault.000 7. Di Wahai Pemb. Penyeb. Derm. Bandanaira.000. Sidangoli Pemb. Perintis 500 GT Lintas Sanana-Mangole-Bobong Thp II (Termasuk Supervisi) Pengadaan/Pembangunan Kapal Penyeb. ) Pengadaan/Pembangunan Kapal Penyeb.000.000. Derm. Terpencil ( Makian.000. Penyeb. Penyeb.000 7. Derm.000 11. Kisar tahap II Pemb. Perintis 500 GT Lintas Namlea-Sanana Thp I Sasaran Volume 2 1 1 1 1 1 1 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Vol 1 Tahun 2010 Biaya 2. Penyeb. Mandioli. Penyeb. Derm.000 3. Derm.000.000 5. Penyeb. Kapeleo.000 Vol 1 1 Tahun 2013 Biaya 5. Penyeb.000 8. Saparua Pemb.000 15.000. Penyeb.500.000 1 1 1 1 1 15.000 2.000 10. Derm.000.000.000.500.000 1 1 10.000. Derm.000 1 1 1 1 1 1 7.000.857 8. Derm.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 3.000 1 7. Penyeb.000.000.500.000 27.000 10.Penyeb. Labuha. Laiwui. Alur dan Perambuan SBNP Derm. Derm. Derm.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000.500.000. Derm.000 1 2 4 5.000 10.000.000 Vol 1 1 Tahun 2012 Biaya 10.000. Payahe. Penyeb. Poka Pemb.000.000 1 2 5 5. Di Larat tahap VII selesai Pemb. Penyeb.Penyeb. Penyeb Airmanang Thp. Derm. Saketa. Rum Pemb.000. P. Namlea.000 20.107.000 4. Air Nenang Pemb.000 15.000.000 2.000 1 3.500. Benjina Pemb.000.500.000 1 1 7.000 10.000.000 2.000 8 - 4 36.000 1 1 1 1 15.000 7.000 1 2 8 2. Soasiu Pemb.000.000.000 15.000 8.000 10.259. Derm.759. Penyeb.000 Vol 1 1 Tahun 2011 Biaya 5.500.625 1 5.000. Tepa (Ilwaki) Pemb. Penyeb.000.000. Haruku Pemb.000. Penyeb. Buru) Pemb. Derm.000 7.000. Bisa.000. Terpencil (Wonreli. Derm.000 4.000 15. Derm. Di Nusa Laut Tahap II Pemb.000 1 1 7.000. Penyeb.000.000.000.500.000 10.500.000.000 1 7. Teluk Bara (P.000.000.000.000.410 7.Derm. Kacapi. Derm. Elat) Pengadaan/Pembangunan Kapal Penyeb.000.000 ASDP Page 14 .000 7.000 1 Unit 1 1 15. Balo.

000 9 67. Ewer. di Fak-Fak Pemb. Sungai di Kab. Yos Sudarso.000 10.000. Penyeb.000 1 1 1 1 10. Penyeb.000 1 7.000 7.000 5.000 3 26. Penyeb.000.000 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 4 - 1 1 1 12.000 Vol Tahun 2013 Biaya Vol Tahun 2014 Biaya 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 2.977 7.000 9 65. Derm.500. Derm.000 7. Wahai.000 5.000 7.000 7.000 1 9 57. Penyeb.500. Mogen. Sungai Suru Suru Sungai Eilenden Pemb.382.Saumlaki.000 11 67.000 1 Unit 20 2 15. di P.000 1 1 7.000.500.356.500. Sungai di Digul Pemb. Derm. Derm.000 1 1 1 1 1 5.677. Penyeb.000 1 1 7. Penyeb. Penyeb.026. Salawati Total per Tahun KANTOR PUSAT ASDP Page 15 Sasaran Volume Vol 1 Unit 4 Unit 21 1 Tahun 2010 Biaya 3. Waigeo (Raja Ampat) Pemb. Babo Pemb. Biak Pemb.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 7. Derm.000.500. Derm. Jefman.810 11 118.000 1 1 1 1 15. Sungai Bagusa Sungai Membramo Pemb. Sungai Kasonaweja di Sungai Membramo Pemb.556. Derm.500.000 7.000 1 1 1 1 1 7.000.000 5.000 1 1 10.000. di Sorong Pemb. Terpencil (Kolobo.500. Derm.000.267 9 114. Agats.000 7. Sungai Ikisi di Sungai Romenke Pemb. Mimika Pemb.500. Derm.857.000 10.000. Derm.500.000 5. Inanwatan.556.000. Penyeb.500.000 5. Penyeb.000. Derm.500.700.500.977 2 .500.000 10.000 1 1 1 1 5.677.000. Derm. P.500.000 1 1 2 7.000.000 5. Sungai di Asmat (Komor dan Buani) Pemb. Derm. PROVINSI / PROGRAM Pengadaan/Pembangunan Kapal Penyeb.000 1 7.600 1 10. Sungai Asiki di Sungai Bouven Digul Pemb. Larat. Derm.857.000 2.000 1 1 1 1 7. Fakfak. Derm.000.000 5.000 1 4. Sungai di Membrano Pemb.000.000. Derm.000 5. (Termasuk Desain & Supervisi) Total per Tahun XXXII PAPUA Pemb.713.000.000.000 7.000.500.000 5.000 7.000 1 1 1 5. Penyeb.000.000 Vol 1 Tahun 2011 Biaya 24. Derm.000. Derm.000 1 1 15. di Jayapura Pemb.000 5 40. di Manokwari Pemb.000.000 5.000.000 5.000. Numfor Pemb. Ilwaki.000.500.000. Penyeb.810 Vol 1 Tahun 2012 Biaya 20.500.000.000 7. Derm. Kapal Penyeb Perintis 500 GT Lintas Nabire-Manokwari Thp III Selesai (Termasuk Supervisi) Total per Tahun XXXIII IRJABAR Pemb. Misol Pemb. Derm. Penyeb. Derm.500.500.000.000 7.000 15.500.000.378 21. Pamako (Timika) Pemb.500.000 5. Sungai Awok di Sungai Eilenden Pemb. Opin.000.000 7.000 5. Penyeb.000.978 9 75. di Waren Pemb.000.000 12 84.000 167.000. Derm.000 17.000.000 5. Penyeb. Perintis 500 GT Lintas IlwakiKisar-Moa-Lakor Thp I Pengadaan/Pemasangan SBNP di Pel. di Saubeba Pemb.000. Derm. Sungai Yepawair di Sungai Loren Pemb.000. Derm.

253 103.Kumai (Termasuk Supervisi) Tahap III Pembangunan kapal 500 GT lintas Manggar .(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.601 11.380 - - - - - - - - 11.963.Sungai Nipah (Termasuk Supervisi) Tahap III Pembangunan kapal 500 GT lintas Ampana-Wakai/P.500.Marissa (Termasuk Supervisi) Tahap II Pembangunan kapal 500 GT lintas Patani .000 24.Letti (Termasuk Supervisi) Tahap II Pembangunan kapal 500 GT lintas Kuala Tungkal .800.Ketapang (Termasuk Supervisi) Tahap III Pembangunan kapal 500 GT lintas Kamaru .Wanci (Termasuk Supervisi) Tahap III Pembangunan kapal 200 GT lintas Parit Sarem .000 39.828.092 9.362 14. II (Termasuk Supervisi) Pemb.452.853. Der. Merak V Thp.000 1 Lap.000 20.972.253 8 2 8 8 2 8 8 2 8 8 2 8 1 1 1 1 1 2 2 2 7 2 1 21 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Studi Studi Lap.Togean . PROVINSI / PROGRAM Sasaran Volume Vol XXXIV SATKER PENGEMBANGAN TRANSPORTASI SDP Pemb.000. Penyeb.000 24.166.000 980.000 1. ASDP 2.250.Tanjung Uban (Termasuk Supervisi) Tahap I AP (Administrasi Proyek) Total per Tahun XXXVI SATKER PERENCANAAN TEKNIS DAN PENGAWASAN TRANSPORTASI SDP STUDI DESAIN DAN SUPERVISI STUDI KEBIJAKAN LLASDP STUDI SID AP (Administrasi Proyek) 4 1 4 1 studi Studi Studi Lap.500.942.972. Bakauheni V Thp.308 - Page 16 .000 3.000. Tahun 2010 Biaya 17.Sorong (Termasuk Supervisi) Tahap II Pembangunan kapal 300 GT lintas Tepa -Ilwaki . Penyeb.770. 7.000 31. II (Termasuk Supervisi) Pembangunan Break Water Merak Tahap II Pembangunan Dermaga VI Merak Pembangunan Dermaga VI Bakauheni Pembangunan Elevated Side Ramp Dermaga V Merak & Bakauheni Pembangunan Gangway Dermaga V Merak dan Bakauheni Pembangunan Dermaga Kapal Cepat Merak dan Bakauheni PROGRAM RESTRUKTURISASI & KELEMBAGAAN ASDP STUDI DESAIN DAN SUPERVISI AP (Administrasi Proyek) Total per Tahun XXXV SATKER PENGEMBANGAN SARANA SDP Pembangunan kapal 1500GT lintas Kendal .450. Der.000 7.127 Vol Tahun 2011 Biaya Vol Tahun 2012 Biaya Vol Tahun 2013 Biaya Vol Tahun 2014 Biaya - 5.253 126.000.373.820.972.000 7.000 3.

000 2.000 2.000.000 500.000 800.000 2.500.000 4.000 650.000 2.000 3.000 9.550.000 Page 17 .000.100.950.000 2.411.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.950.880 4 4 PROVINSI / PROGRAM Sasaran Volume 9 Vol Tahun 2010 Biaya 15. - 2 4 6 12 - 2 4 6 12 - 2 4 6 12 - 2 4 6 12 - - 3 3 2 1 Kegiatan Studi Studi Lap.000 2.000 2.000 2.000 800.000 500.000 800.027 2.000.550.111.000 1.000.500.000 500. 6 - 2 4 6 - 4 4 - 4 4 - - 1 2 4 1 7 Unit Studi Kegiatan Lap.000 800.833.000 1.000 800.000 2.500.000.200.000 3.550.000 2.000 500.000 2.000 3.200.000 3.000.500. Total per Tahun XXXVII SATKER PENGEMBANGAN KEPERINTISAN Subsidi 49 Kapal Angkutan Penyeberangan Perintis di 91 Lintas Penyeberangan Perintis STUDI KEBIJAKAN LLASDP AP (Administrasi Proyek) Total per Tahun XXXVIII SATKER PENUNJANG SARANA TRANSPORTASI SDP Pemb.000.359 10 5 3 1 7 3 1 4 5 1 4 5 1 3 4.000 500.000 4. Kapal Penyeb.000 2.000 1.972.000 2.000 2.600 7.550.253 150.200.202.000 850.000 500.950.800.425.000 3.000.000 2.200.000 4.000 3.000 2.800.950. Sungai Type Ro-Ro 75 GT Lts.800.225.500. 1.000 10 5 3 1 7 3 1 4 5 1 4 5 1 3 4.000 6.Teluk Buan(Termasuk supervisi) SURVEY/STUDY KELAYAKAN/PENYUSUNAN MASTER PLAN/DED/SID PENINGKATAN KEMAMPUAN SDM AP (Administrasi Proyek) Total per Tahun SATKER PENINGKATAN KESELAMATAN DAN PELAYANAN XXXIX TRANSPORTASI SDP PENINGKATAN KEMAMPUAN SDM STUDI KEBIJAKAN LLASDP STUDI DESIGN DAN SUPERVISI AP (Administrasi Proyek) XXXIII Pusat Pengembangan SDM dan Teknologi Studi Kebijakan LLASDP Studi Potensi Transportasi SDP Pra Studi Kelayakan Transportasi Penyeberangan Pra Studi Kelayakan Transportasi Sungai Studi Kelayakan Transportasi Penyeberangan Studi Kelayakan Transportasi Danau Penyusunan Master Plan Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Penyusunan Master Plan Pembangunan Pelabuhan Sungai Penyusunan Master Plan Pembangunan Pelabuhan Danau Studi Kajian Lingkungan Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Studi Kajian Lingkungan Pembangunan Pelabuhan Sungai Studi Kajian Lingkungan Pembangunan Pelabuhan Danau Detail Engineering Design (DED) Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan ASDP 6.200.146 140.200.800.000.000 10 5 3 1 7 3 1 4 5 1 4 5 1 3 4.000.500.200.000 2.000 2.000.000 500.000.228.000 2.200.000 500.000 10 5 3 1 7 3 1 4 5 1 4 5 1 3 4.000 650.000 3.800.000 650.500.000 650.500.000 4.000.146 17.000 1.500.000 3.000 2.000 1. Kota Kandis .253 Vol 18 Tahun 2011 Biaya Vol 18 Tahun 2012 Biaya Vol 18 Tahun 2013 Biaya Tahun 2014 Vol Biaya 18 - 1 5 Studi 1 Lap.000 2.

000.000 3.000 5 1 3 5 67 3.000 3.000 3.650.000 5 1 3 5 67 3.000 750.000 Sasaran Volume Vol Tahun 2010 Biaya Vol Tahun 2011 Biaya Vol Tahun 2012 Biaya Vol Tahun 2013 Biaya Vol Tahun 2014 Biaya ASDP Page 18 .650.000 43.000 5 1 3 5 67 3.000 3.000.000.750. PROVINSI / PROGRAM Detail Engineering Design (DED) Pembangunan Pelabuhan Sungai Detail Engineering Desain (DED) Pembngunan Pelabuhan Danau Detail Engineering Desain (DED) Pengerukan Survey Lalu Lintas Transportasi Sungai & Danau Total per Tahun 4 4.650.000.(Dalam Ribuan Rupiah) SASARAN TAHUNAN No.000 5.000 750.750.750.650.000 5 1 3 5 67 3.000 5.750.000.000.000.000 750.000 43.000 5.750.000 43.000.000 5.000 750.000 43.

000.000 7.500.500.760.500.000 8.000 15.600.000 1.500.000.400.000 149.890.500.000.000 1 1.000 1.000.000 3.000.000 2.000.000 9.400.000 2.000 1 130.000 5.220.100.000 1. PENGEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN TRANSPORTASI PERKOTAAN UNIT KERJA : DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Vol 1 A Administrasi Kegiatan 5 Ls Tahun 2010 Biaya 1 100.000.000 1 1.500.050.000 933.959.000.000 B REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ DI WILAYAH PERKOTAAN 1 Kontingensi Penanganan Bencana Alam 4 Paket 1 1.000.000 3 1 1 1 46.500.440.000 500.000.000 1 1 2 20 1 1 500.000.500.000 5.000 6.000 17.000 1.000 1.433.000 3 1 1 1 55.000 500.000 2 1 1 2 2 1 4 2 825.000.000.000 2.000.000 4.000 10.000 20.000 4.000 2 1 1 5 3 5 4 2 900.000 2.000.000 1.440.000 2 1 1 5 4 3 4 2 900.000 3 5 7 25 1 1 1.000 75.000.000.500.450.000 4.000 124.000 Tahun 2014 Biaya 1 140.030.000 5.000 1.000 19.465.000 3 3 3 20 1 1 1.000 2 1 1 4 7 5 4 2 1.000.450.247.000 500.000 3.000 5.000 15.000 16.000 3 2 3 20 1 1 1.000 103.000.400.000.555.500.000 12.000 500.000.000 10.000.500.000 2.680.000.000 5.000.760.500.000 500.750.000 500.000 13.500.000 12.000 10.000 1.000 4.900.000 8.000.000.000 Tahun 2011 Biaya 1 110.000 311.000 1.000 4.500.000 11.500.000 1.000 D PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN DI WILAYAH PERKOTAAN 1 Pengadaan Bus Rapid Transit (BRT) 2 Pengadaan Bus Sekolah 3 Pengadaan Converter Kit 4 Pengadaan Bus Pemadu Moda 15 5 5 4 Paket Paket Paket Paket 3 1 1 - 45.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBINAAN.000 20.000 C RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ DI WILAYAH PERKOTAAN 1 2 3 4 5 6 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Di Wilayah Perkotaan Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan Operasional Urban Transport Information Center (UTIC) Peningkatan Kualitas SDM 10 14 18 96 4 4 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 3 3 11 933.000 500.000.000 10.000 500.000 1 1.000 8.000 3 1 1 1 34.320.000 Vol Vol PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ DI WILAYAH PERKOTAAN 1 Pengembangan Sistem Informasi Fasilitas Lalu Lintas Di Wilayah Perkotaan 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ Di Wilayah Perkotaan 3 Penataan Kawasan Tertib Lalu Lintas dan Angkutan (KTLA) Di Wilayah Perkotaan 4 5 6 7 8 Penerapan ATCS Di Wilayah Perkotaan Penerapan APILL Tenaga Surya Di Wilayah Perkotaan Penataan Fasilitas Pejalan Kaki/Pesepeda Di Wilayah Perkotaan Kawasan Kota Percontohan Di Wilayah Perkotaan Pembangunan FasilitasPerpindahan Moda Di Wilayah Perkotaan 8 4 4 17 16 15 16 8 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 2.500.500.000 15.000 8.000 6.000 181.000 4.000 BSTP Page 19 .500.000 6.000 3 1 1 1 32.865.000 11.000.000.000.000.000 5.000 SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya 1 120.

000 - 8 4 Paket - - - - 4 1.600. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 2 Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya 2 Paket - - - - - - 1 260.625 121.875 - - 10 Monitoring Keselamatan ASDP B.000 - - KTD Kal Page 20 .375 - 1 1 37.000 - - 3 Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan 3 Paket - - - - - - 1 260.000 2 560.000 - - 6 7 Monitoring dan evaluasi ZoSS Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum Uji Coba Penyelenggaraan Lembaga Pelatihan Awak Kapal Sungai dan Danau Monitoring Keselamatan Jalan 4 Paket 3 Paket - - - - - - - - 4 200.000 - - - - 9 - Paket Paket - - 1 34. SAFER SISTEM 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 4 Paket - - - - - - 1 260.000 3 Paket - - - - - - 1 260.500 37.000 - - 4 4 Paket - - - - - - - - - - 5 Sosialisasi Manajemen Keselamatan 4 Paket - - - - - - 2 520.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya Kegiatan PULAU KALIMANTAN A.500 1 3 40.

SMP.2 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 - - 1 350. SMA.000 1 300.000 8 Paket - - - - - - 1 260. SMP.000 5 6 7 5 Paket 9 Paket Paket - - 1 350.000 3 900. SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 10 Paket - - - - - - - - 1 280.000 2 900.000 1 280. Perguruan Tinggi SIM Keselamatan Penyusunan Data Base ZoSS Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lalu Lintas Evaluasi dan Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum 4 Paket - - - - - - 2 520. Perguruan Tinggi Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 1 280.000 1 280.000 4 4 Paket - - - - - - 2 520.000 - 8 - Paket - - 1 350.000 1 300.000 C.000 3 3 Paket - - - - - - - - 1 280. SMP. SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 5 Paket - - 1 250.000 3 - Paket - - - - 1 300.000 - Paket - - 1 250.000 - - D. SMA. Perguruan Tinggi Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. SMA.000 - - - - 3 840.000 KTD Kal Page 21 .000 - - 2 600.000 1 300.000 1 300.

125 15 3.600.3 4 5 6 7 8 9 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP 8 Paket 4 Paket 1 Paket 2 Paket 2 Paket 2 Paket 3 Paket Paket Paket - - 1 2 100.000 200.000 250.000 25 5.500 24 5.250 - 2 450. SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional Total 1 206.747.203.000 101 Paket - - - 11 2.250 - 1 1 225.000 - 1 206.000 900.000 - 2 200.000 - 1 206.000 175.000 - 1 1 3 - 100.000 KTD Kal Page 22 .250 - 10 Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan 11 Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP E.000 400.000 - 2 2 1 200.000 225.675.

000 - - - - 4 Paket 1 Paket - - 1 34. Perguruan Tinggi 3 Paket 3 Paket - - - - - - 1 260.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya PULAU SULAWESI A.300. SAFER SISTEM 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 2 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. SMA. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 2 Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan 3 Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada 4 Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan 5 Sosialisasi Manajemen Keselamatan 6 Monitoring dan evaluasi ZoSS 7 Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum 4 Paket - - - - 2 480.000 - 3 2 840.375 - 1 45.000 - - 4 Paket - - - - - - 2 520.000 - 8 Uji Coba Penyelenggaraan Lembaga Pelatihan Awak Kapal Sungai dan Danau 9 Monitoring Keselamatan Jalan 10 Monitoring Keselamatan ASDP 4 Paket - - - - 4 1. SMP.250 - - - B.000 - - 4 Paket - - - - - - - - - - 5 Paket 1 Paket 6 Paket - - - - - - 1 260.000 1 260.000 100.000 1 240.000 - - - - 6 Paket - - 1 200.000 - - KTD Sul Page 23 .000 - 2 81.

000 D.000 1 100.000 8 Paket - - 2 500.000 1 100.000 1 100.000 1 150.000 2 600.000 KTD Sul Page 24 . SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 3 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak 4 Paket - - - - - - 2 540.3 Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. Perguruan Tinggi Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 3 900. SMA.000 1 300. SMP.000 2 200.400.000 7 Paket - - 2 500. Perguruan Tinggi SIM Keselamatan Penyusunan Data Base ZoSS 5 Paket - - - - 2 480.000 - - 5 2.000 1 300. Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lalu Lintas 8 Evaluasi dan Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi 3 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 12 Paket - - - - 1 450.000 - - 2 Paket - - - - - - - - - - 13 Paket - - 2 200.000 - - - C.000 - - 4 1.200.000 - - 4 5 Paket - - - - - - 2 520.000 2 350. SMP.000 7 Paket - - - - 1 300.000 4 12 Paket - - 3 375.000 1 300.000 3 900.000 1 260. SMA.000 - - 5 6 7 3 Paket 6 Paket 6 Paket - - - - - - 1 - 260.

751.000 - 1 - 240.500.000 3 675.5 6 7 8 9 10 11 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP 12 Paket 2 Paket 4 Paket 3 Paket 4 Paket 1 Paket 2 Paket - - - - - - 1 300.000 225.140.000 - 24 7.250 KTD Sul Page 25 .000 E.000 2 26 1.000. SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional Total 7 Paket 170 - - 16 2.000 5 1.500 412.250 - 1 1 225.625 24 5.000 6.000 - - 2 2 1 - 412.500 206.000 - 2 450.840.820.

000 150.000 200.000 - D. SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi 3 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 3 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan 4 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak 5 Paket 5 Paket 3 Paket - - 2 - 500.000 280.625 SAFER SISTEM 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 2 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 600. SMP.000 - 1 280.000 - 1 270.000 250.000 - 1 1 1 280.000 1 280.000 175. SMA.000 - KTD P.000 240.000 C. NTB A.000 1 2 200.000 300.000 1 1 1 1 250. SMP.000 - 1 280.000 - 1 2 400. SMA.000 600.000 1 500. Perguruan Tinggi SIM Keselamatan Penyusunan Data Base ZoSS Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lalu Lintas Evaluasi dan Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum 4 Paket 4 Paket - - - - 2 1 480.000 270.000 200. NTB Page 26 .000 500. Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan Sosialisasi Manajemen Keselamatan Monitoring dan evaluasi ZoSS Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum Monitoring Keselamatan Jalan Monitoring Keselamatan ASDP 3 Paket 2 Paket 3 Paket 2 Paket 3 Paket 3 Paket 3 Paket 1 Paket 3 Paket - - 1 1 1 - 200. 5 Paket 4 Paket 7 Paket 6 Paket - - - - 1 1 1 2 240.000 1 1 2 1 270.000 - 1 280.000 1 - 250. NTT.000 200. NTT.000 - - - 1 3 259.000 150.000 300.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya PROPINSI BALI.000 - 3 1 2 600. SMP. Bali.000 250.000 - 1 240.000 1 37. Perguruan Tinggi 3 Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.500 40.000 250.000 1 1 1 300. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 2 3 4 5 6 7 8 9 B.000 1 250.000 240.000 4 Paket - - - - 1 240.000 100.000 4 5 6 7 8 3 Paket 3 Paket 3 Paket 3 Paket 6 Paket - - - - 1 450. Perguruan Tinggi Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. SMA.

000 0 22 0 4.000 1 260. Bali.367.000 2 1 300.000 225.500 1 19 500.000 3 Paket 2 Paket - - 1 225.500. NTT.000 SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional 2 105 - 0 - 0 - 0 8 0 1.000 4.000 KTD P. NTB Page 27 .5 6 7 8 9 10 11 E.989. Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP 6 Paket 2 Paket 2 Paket - - 1 200.000 - - 2 400.885.625 0 16 0 3.

000 - 1 300.000 - 1 280.000 - 1 300.000 3 4 5 6 7 8 2 Paket 1 Paket 1 Paket 2 Paket 3 Paket 4 Paket - - 1 - 250.000 - 1 240. SMA.000 2 1 200. Perguruan Tinggi SIM Keselamatan Penyusunan Data Base ZoSS Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lalu Lintas Evaluasi dan Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum 3 Paket 1 Paket 2 480.625 1 240.000 1 240.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2011 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya PULAU MALUKU A.000 - 1 250.000 - 1 500.000 1 - 300. SMA. Perguruan Tinggi Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 1 500. SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi 3 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Paket 2 Paket 2 Paket - - 1 1 250.Maluku Page 28 .000 D.000 SAFER SISTEM 1 2 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. 2 Paket 3 Paket - - 1 240.000 1 280. Perguruan Tinggi Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 KTD P. SMP.000 50.000 250.000 - 1 300. SMP.000 1 1 280. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 2 3 4 5 6 7 8 B. Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan Sosialisasi Manajemen Keselamatan Monitoring dan evaluasi ZoSS Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum Monitoring Keselamatan ASDP 2 Paket 3 Paket 3 Paket 1 Paket 3 Paket 1 Paket 2 Paket 1 Paket 1 200.000 C. SMP.000 480.000 1 280. SMA.000 1 40.

000 KTD P.000 - - - SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional 2 Paket 67 Paket 5 1.000 9 2.625 9 2.000 2 - 400.410.150. Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 Paket 4 5 4 2 2 2 1 - - - - 2 1 1 1 1 200.Maluku Page 29 .620.000 225.000 240.000 16 3.000 2 1 1 1 600.000 240.000 225.000 225.000 240.370.3 4 5 6 7 8 9 10 11 E.000 225.

000 - 1 - 230.000 - 1 230.000 - E.000 - 1 300. SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi 3 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 3 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan 4 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak 5 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) 6 Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan 7 Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional 4 3 3 Paket Paket Paket - - 1 - 250.000 - 1 1 1 1 - 280. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan 2 3 4 5 6 7 B.000 100. SMP.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya PULAU PAPUA A.000 - 1 300. Perguruan Tinggi SIM Keselamatan Penyusunan Data Base ZoSS Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lintas Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Evaluasi danLalu Penerapan Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum 2 2 Paket Paket - - - - - - 1 1 227.000 450.000 - 1 1 300.750 - 1 2 - 100.000 - 1 1 1 300.000 - SAFER SISTEM 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 2 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. 2 Paket - - - - - - - - - - KTD P.000 C. Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan Sosialisasi Manajemen Keselamatan Monitoring dan evaluasi ZoSS Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum 4 2 2 2 1 1 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - 2 - 480. Papua Page 30 .000 - 1 2 - 280.000 200. SMP. SMA. SMA.000 300.000. SMA.000 1.000 280.500 230. SMP.000 600.000 300.000 100.000 262.000 - 1 1 240.000 - 1 1 2 280.000 - 1 - 100.000 D.000 1 - 230.000 300. Perguruan Tinggi Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. 2 1 5 5 4 1 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - 2 - 250. Perguruan Tinggi 3 4 5 6 7 8 Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 - - 2 2 2 2 3 5 Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - 1 - 400.

870.747.750 KTD P.000 11 2.500 13 3.382.000 7 1.62 - - 4 900. Papua Page 31 .

000 500.000 1 1 1 1 1 1 1 550.000 550.000 110.000 1 1 1 1 1 1 1 600.000 600.000 300.000 1 400.000 650.000 880.000 1 1 1 150.000 1 400.000 250.000 1 1 1 1 1 1 1 650.000 500.000 500.000 500.000 650.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 2 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Kota Paket 1 1 1 1 250.000 880.000 1 400.000 1 1 1 125.000 1 1 250.000 600.000 1 500. Sragen Subdit Promosi 1 Penyusunan Modul Pendidikan Keselamatan Untuk Tingkat TK dan SD 2 Penyusunan Modul Pendidikan Keselamatan Untuk Tingkat SLTP 3 Penyusunan Modul Pendidikan Keselamatan Untuk Tingkat SLTA 4 Pedoman Pemasangan Bill Board Keselamatan 5 Perumusan Pedoman Teknis Etika keselamatan berlalu lintas dijalan Penyusunan Materi dan desain Sosialisasi Keselamatan Untuk Penumpang ASDP 7 Perumusan Pedoman Peningkatan Kesadaran Berkeselamatan Bagi Pengguna Sepeda Motor 8 Penyusunan Materi dan desain Sosialisasi Keselamatan Transportasi Darat untuk Pesepeda 9 Penyusunan Materi dan desain Sosialisasi Keselamatan Transportasi Darat untuk Pejalan Kaki 10 Penyusunan Pedoman Pengemudi yang Berkeselamatan 11 WorkShop management campaign 12 Monitoring dan evaluasi ZoSS Subdit Akreditasi 1 Penyusunan Pedoman Teknis Kelembagaan Akreditasi dan Sertifikasi Lembaga Pendidikan / Sekolah Mengemudi 2 Untuk Penyusunan Persiapan Kelembagaan Sertifikasi Pengemudi Angkutan Umum 3 Penyusunan Konsep Pedoman Teknis Penyelenggaraan Lembaga Pelatihan Awak Kapal Sungai dan Danau 6 4 5 5 5 5 1 1 5 5 5 5 5 5 5 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 110.000 500.000 1 1 1 1 250.000 500.000 115.000 125. SAFER MANAJEMEN Subdit Manajemen 1 Penyusunan Program Kerja Keselamatan 2 Potret Direktorat Keselamatan Transportasi Darat 3 Pemantauan Keselamatan Transportasi Darat melalui Media Cetak Pedoman Pembuatan Cetak Biru Penyusunan Pedoman Monitoring dan Evaluasi Kinerja Keselamatan Transportasi Darat 6 Monitoring Kinerja Keselamatan Transportasi Jalan 7 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 8 Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan 9 Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada 10 Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan 11 Sosialisasi Manajemen Keselamatan 12 Kota Percontohan Manajemen Keselamatan di Kab.000 550.000 500.000 300.000 600.000 500.000 110.000 750.000 1 2 1 Paket Paket Paket 1 400.000 1 400.000 1 1 250.000 1 1 1 140.000 115.000 KTD PUSAT Page 32 .000 250.000 250.000 500.000 250.000 600.000 250.000 880.000 1 400.000 550.000 750.000 550.000 1 1 1 115.000 140.000 500.000 1 1 550.000 125.000 1 1 1 1 1 1 1 500.000 650.000 500.000 880.000 250.000 500.000 800.000 500.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2011 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Tahun 2013 Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT Manajemen Keselamatan A.000 880.000 600.000 150.000 550.000 150.000 140.

SMA. Perguruan Tinggi 5 5 5 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 3 1 1 1 1 1 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 110.000 400.000 1 500.000 1 400.000 1 250.000 600.000 1 1 1 1 650.000 600.000 250.000 250.000 140.000 1 1 1 1 250.000 Subdit Audit 1 Monitoring Keselamatan Jalan 2 Monitoring Keselamatan ASDP 3 Investigasi Kecelakaan Menonjol 4 Kajian Persyaratan Auditor Keselamatan Jalan 5 Kajian Persyaratan Auditor Keselamatan ASDP 6 Study Kelembagaan Auditor Keselamatan Jalan 7 Study Audit Sistem Keselamatan Sarana Angkutan Jalan 8 Study Audit Sistem Keselamatan Sarana Angkutan Jalan 8 Study Audit Sistem Keselamatan Sarana SDP Penyusunan Pedoman Teknis Kebutuhan Fasilitas Penanganan Lokasi 9 Kecelakaan 10 Kajian Pengembangan Audit Keselamatan Jalan 11 Penyusunan Cetak Biru Pelaksanaan Audit Keselamatan Jalan 12 Study Peningkatan Keselamatan Transportasi Sungai dan Danau 13 Evaluasi dan Analisis Keselamatan Lalu Lintas Jalan 14 Peningkatan Keselamatan Transportasi Sungai dan Danau Penyusunan Konsep Pedoman Penelitian Kecelakaan Lalu Lintas Jalan 15 16 Modul Simulasi Keselamatan Jalan 17 Simulasi Keselamatan Jalan Pemeliharaan Fasilitas Pengawas Keselamatan Transportasi Sungai dan 18 Danau 19 Review Pedoman Teknis Audit Keselamatan Prasarana Jalan Analisis Perilaku Keselamatan Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan 20 21 Evaluasi Keselamatan Penyelanggaraan Angkutan Sungai Evaluasi Keselamatan Penyelenggaraan Angkutan Umum Jalan Raya 22 B.000 1 1 1 1 500.000 Tahun 2013 Vol 1 1 1 Biaya 400.000 250.000 250.000 650.000 400.000 1 1 1 1 115.000 250. SAFER SISTEM Subdit Manajemen 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 2 Penyusunan Pedoman Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan di Wilayah Perkotaan 3 Penyusunan Pedoman Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan di Jalan Nasional 4 Penyusunan Pedoman Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan di Wilayah Non Perkotaan 5 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 500.000 650.000 SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Vol Biaya Vol Biaya 1 400.000 400.000 1 1 1 400.000 1 400.000 400.000 600.000 1 550.000 120.000 250.000 1 500.000 400.000 115.000 5 5 5 5 1 Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 1 500.000 1 1 1 130.000 1 1 1 400. SMP.000 110.000 400.000 400.000 110.000 500.000 550.000 120.000 550.000 1 400.000 600.000 1 1 400.000 400.000 1 550.000 1 400.000 115.Kegiatan 4 5 6 7 8 Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum Penyusunan Konsep Pengembangan SIM Awak Kapal Sungai dan Danau Penyusunan Pedoman Teknis Data Base Awak Kapal Sungai dan Danau Uji Coba Penerapan Pedoman Teknis Kelembagaan Akreditasi dan Sertifikasi Untuk Lembaga Pendidikan / Sekolah Mengemudi Uji Coba Penyelenggaraan Lembaga Pelatihan Awak Kapal Sungai dan Danau Sasaran Volume 3 5 5 3 1 Paket Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya 1 400.000 130.000 500.000 550.000 1 250.000 1 1 600.000 KTD PUSAT Page 33 .000 1 1 1 140.000 130.000 1 1 1 1 700.000 500.000 1 400.000 500.000 650.000 500.000 Tahun 2014 Vol Biaya 1 1 1 400.000 1 1 500.000 250.000 140.000 1 400.000 500.000 250.000 250.000 500.000 1 1 1 120.000 1 400.000 1 1 1 1 600.000 1 1 1 1 1 250.000 400.

000 1 500.000 1 1 500.000 550.000 1 550.000 500.000 1 500.000 500.000 1 1 260.000 600.000 280.000 1 1 1 1 550.000 550.000 1 1 1 1 650.000 2 Paket 1 500.000 650.000 Tahun 2013 Vol 1 1 1 1 1 Biaya 600.000 200.000 1 300. Perguruan Tinggi 7 Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD. Perguruan Tinggi 8 Pengembangan Teknologi dalam Pengembangan Keselamatan Transportasi Jalan 9 SIM Keselamatan 10 Kajian Teknis Kebutuhan Prasaranan Bidang Keselamatan Promosi 2 3 4 5 Akreditasi 1 Penyusunan Pedoman Teknis Serrtifikasi Instruktur Lembaga Pendidikan Pengemudi dan Lembaga Sertifikasi Pengemudi Angkutan Umum Penyusunan SOP Sertifikasi Lembaga Pendidikan Pengemudi dan Lembaga Sertifikasi Pengemudi Angkutan Umum Perumusan Teknis Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Lembaga Pendidikan / Sekolah Mengemudi Perencanaan dan Pembangunan Sistem Sertifikasi Penegemudi Angkutan Penumpang Umum dan Barang Penyusunan Konsep Pembangunan Sistem Sertifikasi Awak Kapal Sungai dan Danau Penyusunan Konsep Pedoman Teknis Sertifikasi Awak Kapal Sungai dan Danau Penyusunan Konsep Pengembangan SIM Pengemudi Angkutan Umum Penyusunan Pedoman Teknis Sertifikasi Instruktur Lembaga Pendidikan Awak Kapal Sungai dan Danau 6 Sasaran Volume 5 4 5 5 5 Paket Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya 1 500.000 1 1 500.000 500.000 1 500.000 1 500.000 1 500.000 260.000 200.000 KTD PUSAT Page 34 .000 1 1 280.000 1 500.000 220.000 500.Kegiatan Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 1 500.000 Audit 1 2 SID dan DED Daerah Rawan Kecelakaan Jalan SID dan DED DRK Alur Pelayaran ASDP 5 5 Paket Paket 1 1 200.000 500.000 500. SAFER PEOPLE Subdit Manajemen 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 5 3 Paket Paket Paket 1 1 500.000 650. SMA. SMP.000 600.000 1 1 1 500.000 Tahun 2014 Vol Biaya 1 650.000 550. SMP.000 66 1 @ 150.000 500.000 1 500.000 1 66 1 300.000 SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Vol Biaya Vol Biaya 1 500.000 500.000 600. SAFER VEHICLE AND DRIVER Akreditasi 1 Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System 2 Evaluasi dan Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum 3 Uji Coba Penerapan Demerit Point Sistem Terhadap Pelanggaran Lalu Lintas D.000 1 1 1 500.000 500.000 1 1 1 500.000 @ 150.000 1 1 200.000 500.000 C.000 600.000 600.000 1 Paket 1 500.000 600.000 500.000 2 3 4 5 6 7 8 3 1 1 1 3 1 1 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 500.000 650.000 1 1 500.000 500.000 1 1 1 Pembuatan SIM ZoSS Pengembangan SIM ZOSS (tahap I) Pengembangan SIM ZOSS (tahap II) Pembangunan ZoSS (2 titik per propinsi) Pembuatan Filler 1 1 1 132 5 Paket Paket Paket Titik Paket 1 500.000 1 1 500.000 1 1 220.000 500.000 500.000 1 550. SMA.

000 260.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3.000 500.000 500.000 500.000 15.000 500.000 E.000 220.420.000 650.000 1.700.000 550.000 220.000 550.320.000 500.000 900.000 1 1 1 1 1 1 220.300.000 260.000 700.000 1 1 1 1 1 1 1 2.000 2.000 650.000 1 500.000 650.000 220.000 500.000 700.000 900.000.000 500.000 68 44.000 700.000 62 35.000 700.000 Tahun 2013 Vol 1 1 Biaya 600.000 200.000 1 750.000 650.000 1 1 1 1 1 1.000 12.Kegiatan 2 3 Promosi 1 2 3 4 5 6 7 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (TV dan Radio) Pengadaan Helm Pengadaan bahan/peralatanSosialisasi Keselamatan Untuk Tingkat TK dan SD Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Keselamatan Untuk Tingkat SLTP Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Keselamatan Untuk Tingkat SLTA Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat Kajian Teknis Perilaku Dalam Berlalu Lintas Sasaran Volume 4 5 Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Vol Biaya Vol Biaya 1 1 550.000 200.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3.700.000 1 1 1 1 1 1 200.000 550.000 1.980.000.000 1 600.000 550.000 280.000 1 1 1 1 1 1.000 260.000 280.000 700.000 700.500.000 200.080.000 260.000 1.000.000 8.000.000 133 134 KTD PUSAT Page 35 .000 1 1 1 1 1 1.000 900.095.000 990.000 200.000 Tahun 2014 Vol Biaya 1 650.000 240.000 700.000 700.000 200.000 200.000 48. SAFER ROAD Manajemen 1 Pengadaaan Peralatan UPK Audit 1 Perbaikan Daerah Rawan Kecelakaan Jalan Nasional 2 Perbaikan DRK Alur Pelayaran ASDP 3 Audit Jalan Nasional 4 Audit Alur Pelayaran Lalu Lintas SDP 5 5 5 5 5 460 Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 1 1.000 990.000 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3.000 1.700.170.000 260.700.000 1 1 1 1 1 1 260.000 Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP 5 5 5 5 5 5 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 1 1 200.000 260.000 200.000 220.000 1.000 550.000 220.000 240.000 240.000 240.000 200.000 220.000 1 1 1 1 1 1 240.000 200.000 700.000 200.000 900.000.170.000.000 220.000.000 650.000.000 500.000.000 1 1 1 1 1 1.000 1 5 5 5 5 4 4 4 3 3 2 2 1 1 1 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 1 2.000.000 550.000 200.000 650.000 63 33.080.000 7.000 1.000 8 Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Keselamatan Berlalu Lintas dijalan 9 Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Keselamatan Untuk Penumpang ASDP 10 Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Berkeselamatan Bagi Pengguna Sepeda Motor 11 Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Keselamatan Transportasi Darat untuk Pesepeda 12 Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Keselamatan Transportasi Darat untuk Pejalan Kaki 13 Pengadaan bahan/peralatan Sosialisasi Pengemudi yang Berkeselamatan 14 Pengadaan Peralatan Penunjang Sosialisasi Keselamatan Audit 1 2 3 4 5 6 Paket 1 450.000 550.000 56.000.000 2.000 200.000 260.790.000 240.000 1.200.700.000 10.000 200.000 700.700.000 650.000 200.

000 450. SMP.000 1.500 3 1 1 1 2 1 1 2 1 540.750 206.000 180.000 4 3 5 1.000 600. SMA.750 2 4 3 2 1 360.000 450.000 2 1 360.250 206.000 150.000 200.000 300.375 68.000 4 2 4 2 1 - 600.250 412.500 Page 36 E. SAFER SISTEM 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 2 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 900.000 700.000 170. SMP.000 450.000 400.000 300.000 300. 1 Paket 0 0 0 0 1 500. 12 Paket 10 Paket 13 Paket - - 1 200.000 450.000 400.000 - 3 1 3 2 2 3 450.000 900.000 225.000 - 3 1 540.000 150.000 300.000 1 200. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 2 Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan 3 Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada 4 Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan 5 Sosialisasi Manajemen Keselamatan 6 Monitoring dan evaluasi ZoSS Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum 7 8 Uji Coba Penyelenggaraan Lembaga Pelatihan Awak Kapal Sungai dan Danau 9 Monitoring Keselamatan Jalan 10 Monitoring Keselamatan ASDP B.000 150.200. Perguruan Tinggi 3 Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.250 618.000 2 4 3 600.000 900.750 206.000 526.000 400.200.500.000 125.000 300.000 125. 6 Paket 9 19 18 14 2 3 2 4 5 3 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - 3 1 3 1 1 3 1 2 300.000 - 1 1 2 2 1 - 200. Perguruan Tinggi 4 Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 340.000 75.000 D.000 - 3 Paket 3 Paket 8 Paket 7 Paket 8 Paket 7 Paket 9 Paket 9 Paket 10 Paket 19 Paket - - 1 350.000 100.000 1. SMP. SMA.000 1.000 600.000 1 2 4 200.000 37.000 50.000 200.000 225.000 900.000 225.000 0 0 0 KTD P.850.sumatera .200.000 34.500 1 3 1 2 - 150.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2011 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Biaya Vol PULAU SUMATERA A.000 720.000 240.000 - 3 3 1 850.000 1.000 850.000 250.000 C. Perguruan Tinggi 5 SIM Keselamatan 6 Penyusunan Data Base ZoSS 7 Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lalu Lintas 8 Evaluasi dan Penerapan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi 3 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 3 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan 4 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak 5 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) 6 Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan 7 Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan 8 Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP 9 Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP 10 Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan 11 Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional 7 11 6 9 9 1 10 3 Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - 1 1 2 1 2 170.000 - 4 3 4 1 - 400. SMA.

500 43 8.000 38 9.587.260 - - - 25 4.sumatera Page 37 .134.500 KTD P.875 40 8.625.640.

000 550.000. SAFER VEHICLE AND DRIVER 1 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi AKAP / AKDP 2 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Taksi 3 Program Aksi Peningkatan Kualitas Mental dan Disiplin Penegemudi Angkutan B3 SAFER PEOPLE 1 Pedoman Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 2 Perhitungan Nilai Kerugian Sosial Ekonomi akibat Kecelakaan Transportasi Darat 3 Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan 4 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Cetak 5 Sosialisasi Keselamatan Melalui Media Elektronik (Radio) 6 Penyiapan SDM Audit Keselamatan Jalan 7 Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan Jalan 8 Penyiapan SDM Audit Keselamatan SDP 6 Paket 7 Paket 7 Paket - - 1 1 1 200.000 400.000 1 - 280.000 900.000 500. SMP.000 900.000 43.000 900. SMA.000 - 2 1 3 2 - 560.750 43.000 300.000 220.000 500. SAFER MANAJEMEN 1 Pengembangan Keselamatan melalui Pendekatan Komunitas 2 Peningkatan Kualitas SDM terhadap Manajemen Keselamatan 3 4 5 6 7 8 9 B. SMP.000 250. SMA.000 - 2 1 3 1 200.000 100.000 206. Identifikasi Aspek Keselamatan dalam Renstrada Peningkatan Koordinasi Sosialisasi Manajemen Keselamatan Sosialisasi Manajemen Keselamatan Monitoring dan evaluasi ZoSS Pengumpulan dan Penyusunan Data Base Pengemudi Angkutan Umum Monitoring Keselamatan Jalan Monitoring Keselamatan ASDP 5 Paket 5 Paket 4 Paket 6 Paket 5 Paket 5 Paket 5 Paket 3 Paket 1 Paket 1 1 1 1 220.000 750.500 1 2 2 1 2 250.000 220. SMP.000 300.000 240.000 - 1 3 2 250.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : MANAJEMEN DAN PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT UNIT KERJA : DIREKTORAT KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT (Dalam Ribuan Rupiah) Kegiatan PULAU JAWA A.000 250.000 240.000 600.000 - 1 2 240.000 2 - 800.000 250.000 34.250 - 1 2 - 100.000 1 1 3 300.000 300.375 1 1 1 240.000 500.000 175.000 .000 - 5 Paket 5 Paket 5 5 6 10 Paket Paket Paket Paket - - 1 1 - 220.000 3 1 1 900.000 800. SMA. Perguruan Tinggi SIM Keselamatan Penyusunan Data Base ZoSS Koordinasi Uji Coba Penerapan Demerit Point System Terhadap Pelanggaran Lintas Pedoman Teknis Penyelenggaraan Diklat Evaluasi danLalu Penerapan Penyegaran Pengemudi Angkutan Umum 5 Paket 5 Paket - - - - 1 - 240.000 2. Perguruan Tinggi 3 4 5 6 7 8 Pengembangan/Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 - 4 1.000 - 3 750.000 - 1 280.750 Sasaran Volume Vol Tahun 2010 Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol SAFER SISTEM 1 Pengembangan Sistem Data Base Keselamatan 2 Pedoman Percontohan Pengembangan Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000 37. Perguruan Tinggi Percontohan Sosialisasi Pendidikan Manajemen Keselamatan Tingkat SD.000.000 300.000 1 1 280.000 - D. 6 Paket 4 Paket 10 11 10 1 1 1 Paket Paket Paket Paket - - 1 1 - 100.000 2 5 1 1 560.000 1.000 C.000 - 1 240.

278.250 2.410.9 Penyiapan SDM Penelitian Kecelakaan SDP 10 Pemberdayaan Audit Keselamatan Jalan 11 Pemberdayaan Audit Keselamatan ASDP E.875 1 1 18 225.000 1 24 262.250 .442.000 4.750 5.000 180. SAFER ROAD 1 Audit Jalan Nasional TOTAL 1 Paket 3 Paket 1 Paket 5 Paket 159 - - 1 12 206.765.500 33 8.

222 85.414 103.220.655 P.499 114 624 45 2 18 buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah 2.346.418.776 6. 90 cm 2). Tiang F b).603 693.718.300.539.239.710. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c.430 5.387 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 15.806 1.804 1.430 35.917 193.106.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.357.402 17.444.946 20.012.623.000 16.059.900.724.133 28.180. Uk. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.663.340 5.551.383. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.229 33.915 186 10 18 11 3 422. Marka Jalan 5).838. Lampu Penerangan Jalan 1).248 10.969 29.202 763.050 9.927 5.437.300.192.561. Uk.182.230 4.000 110.000 869.961 168.643. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Vol P.311 140.700 12.597. Paku Marka 8).461 12.286.266 6. SUMATERA A.061 259 13 23 14 4 587.021 27 146 11 1 4 2.836 9.514 5.000 1.120 12 3.416.314 2.877 6.191 3.305.222 7.505.790 5.060 118.000 27.704 236 13 21 13 4 536.021.732 5.000 29. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.936 22. Traffic Ligth b). PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.965 24.352 5.938 25.210. Traffic Ligth Solar cell d).660. RPPJ a).980 632.726 2. Cermin Tikungan 9).470.500 67.807 12 4.931 2.380 7. Rubber Cone 10). Uk. Pagar Pengaman Jalan 6).139 4. 60 cm c).914. SUMATERA Page 1 .362.198.956 2.144 1.993 28.062 3.000 497. Jembatan Timbang c.937 3.528.329 1.880.656 1.041.277 4.581 93.468 1.293 10 4.907.075 22. Uk. Deliniator 7).803.185.760 14 3.126 327 17 27 17 5 742. Lampu Lalu Lintas a). 45 cm b). LED High Flux 4).378 16.927.550 4.009 53 89 55 16 2.892 29 160 13 5 3.700. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a.685 2.410 875.929 1.193 20. 75 cm d).453 8.834. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.469 285 15 25 15 5 646.100 21 115 9 1 4 2.263.000 16.332.476 7. LPJU Tenaga Surya e.683.950 1.288.104.638.214.200 3. Warning Ligth c).604 34.187 3.020 19. Perlengkapan Jalan 1).486 37 202 12 5 3.745.082.627 153.773.374.788 4.004 4.422.005 2. ATCS 3 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas 4 Pembangunan Jembatan Timbang 5 Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Tahun 2010 Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Vol Tahun 2013 Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol 48 Ls 10 2. Terminal Transportasi Jalan d.200. Pengendalian dan Operasi f.408.662 2.076. Rambu Lalu Lintas a).275 1.260 22.625 2.359.661.885 32 176 10 4 3.173 38.500 2.539. Portal 3).262 86.549 5.495 9. Traffic Ligth High Flux e). SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN. Angkutan Jalan e.600 4.905.

000 - Tahun 2013 Biaya 5 4.881 P.056 - 11 - 3.923 7 14.071.325.245.879.722.652 - 48 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket 10 - 2.550.447 - 14 - 2.948.000 - Vol Tahun 2014 Biaya 6 4.010 268.000 - SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Vol 7 4.575.303 - 1 - 383.611 199. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.160. Alat PKB Keliling 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.378 6 13.448 218.842.215 8 9. Alat PKB Mekanis Statis b. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.335.404 - 29 Unit Paket 6 8. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya 5 4.689. SUMATERA Page 2 .556.335.000 - 1 - 317.002 164.619 237.650 - 1 - 348.250.273 - 1 - 439.974 8 11.814.000 - 24 - Unit Unit Paket Paket Paket Paket - 5 - Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket 1 - 250.No Kegiatan 6 Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.913.000 - Tahun 2011 Vol Biaya 6 4.675 - 13 - 2.979 - 10 - 3.000.480. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.116.

409. Warning Ligth c). LPJU Tenaga Surya e. Portal 3).500 1.122 689. Uk.044.293. Traffic Ligth Solar cell d).137 128.530 534. Angkutan Jalan e.204 2.667.666 831. Cermin Tikungan 9).581 8.675 17.315 953.300 1.299.141 6 2. 45 cm b).393.631.679 29 307 230 3 7 2 - 2.958.605 63 18 14 14 1 362.094 Page 3 . Marka Jalan 5).867.778.283 147.165 4.000 7.000.500 8.123.870 45 13 10 10 1 260.159.510 10.275 2.084 813 11 30 10 - buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit buah unit Paket Buah Buah Unit Unit 1.800 6.228.302 14. Pagar Pengaman Jalan 6).237 2.874 8. Uk.324 8.376 57 17 13 13 1 330. JAWA A.000 6.000 7.380 4.020 137.910 2.955 1.205.000 4.483 3.900 9.540.000 747.750 542.741 613.925 9.684.473 108.825 9.166 119.935.531 13.830 39.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.247.238 12.474 10.730 822. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.637.170 2.040 348. Alat PKB Keliling Tahun 2010 Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Tahun 2013 Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol Vol 24 Ls 5 1.800 2.000 5.840 6 1. Tiang F b). RPPJ a).681 1.344 26 279 209 3 8 3 - 2.400 19 200 150 2 6 2 - 1. Lampu Lalu Lintas a).221 33 352 264 4 8 2 - 2.523.038.894.537.688.138 - 3.667 - 2.264.290 2.559.797.473.504.219 905. LED High Flux 4).054.615. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c.400 83.637 11.451.284 485.914 12.195.646. 60 cm c).310.096.356 9.049 24 254 191 3 8 3 - 2.244 12.192 2.313.976 2. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Vol P.604 11.039.838 3.140 244 70 54 54 5 1.321.508 3.162 106.760 13.235 10.630 - 2.951 2.676 5. ATCS 3 4 5 6 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.584 9. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN. Perlengkapan Jalan 1).867 69 19 15 15 1 398.760. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.658 14.811.929.034 3. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a.931 1.885 11. Rubber Cone 10).600 78.705 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 10.611 949. Jembatan Timbang c.289 79 22 18 18 1 457. Terminal Transportasi Jalan d.355.760 3.000 1.525 4. JAWA 2.014 103 1. Paku Marka 8).145.458 443. Uk.172 9.100 2. 90 cm 2). 75 cm d).819 10.914 13.960.904 5 1.287 3.989 1. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.089.580.883 755.661.040.623 1.500.437.222 99. Rambu Lalu Lintas a). Traffic Ligth High Flux e).068. Traffic Ligth b).553 116.697. Deliniator 7).145.164.138 750.489 P. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.091.510.671 7.107 6. Lampu Penerangan Jalan 1). Uk.000 590. Pengendalian dan Operasi f.898 12.703 6. Alat PKB Mekanis Statis b.693 7 1.905.259.732 7.

221 - 5 - 1.098 86.425.695.108 - 5 Unit Paket 1 1.170.972.434 1 1.299.362. JAWA Page 4 .644.798.099 78.072.319 98. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.489. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.494.571.467 P.771 1 2.500 - 6 - 1.719 - 7 - 1.241 - 6 - 1.775 1 1. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.994. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya - - Tahun 2011 Vol Biaya - SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya - Vol - Tahun 2013 Biaya - Vol Tahun 2014 Biaya - - Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 24 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket 5 - 1.540 71.600 56.886.No Kegiatan 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.523.819 1 2.

& MALUKU Page 5 .334 9.619 510 54 43 1.000 1.617 8. Rambu Lalu Lintas a).005.178 4.589 4.311.379 26.044.010.265 7. BALI .700 10 20 3 3 - 1.162.467.045 501. LPJU Tenaga Surya e.735. Jembatan Timbang c.144.781 5 2.468 3. Lampu Penerangan Jalan 1). Alat PKB Mekanis Statis b. ATCS 3 4 5 6 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.120 165 18 14 371.326 1. Rubber Cone 10).153 3.394 2.249.472 131 14 11 293.827.700 49.485 54 108 14 14 - buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah Unit Unit Paket Paket Paket Paket 1.102.580 7 2.254 119 13 10 268.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA. Paku Marka 8).570 2. Traffic Ligth Solar cell d).548 14 28 4 4 - 1. Uk. NUSA TENGGARA DAN MALUKU A. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.069 8.562 87.495.855 2.291.719 8. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.052 12.000 - 3.318 10. 75 cm d).972 13 25 4 4 - 1.048 3.864.360 1. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.932.662 2.800.750.452 835.774 94 10 8 211. 60 cm c).400 1. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.146 6. LED High Flux 4).287 11.000 8.489 1.266 10.206 15 31 3 3 - 2.306.000 2.010 359.794.412.777.301 1.000 - 2.775 1.713.077 632.589 1.948.425 919. Portal 3).359.187.894.640 2. Uk.846.864 2.968 11. Pagar Pengaman Jalan 6).457 63.154.480 6 1.339 762.666.265 18 35 3 3 - 2. Terminal Transportasi Jalan d. Deliniator 7).243 76.633 13.229.084.226 5. Pengendalian dan Operasi f.482 12. RPPJ a).000 4.165 6.362.118 1.830 7.310 3.391. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c.031.234 69.500. Tiang F b).562.030.580.166 2.570 25.100 3.691 551.001.727. Cermin Tikungan 9).023 14. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b. Perlengkapan Jalan 1). Marka Jalan 5).131 43.724 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 9. Uk. Traffic Ligth High Flux e).057 457. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan P.212.055.720. Traffic Ligth b).664 791.667 1.720 144 15 12 323.512 7.650. NUSA TGR.391.000 - 2.508.000 - 2. 45 cm b). BALI.710 2.665 1.000 - 7 8 9 10 P.363.000 8. Uk.842.067 14. Lampu Lalu Lintas a). Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a.928 1.097 10. 90 cm 2). Warning Ligth c).850 600.885.538 2.827 6. Angkutan Jalan e.700.278 3.512 5 2. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.621. Alat PKB Keliling Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional Pengadaan SMS Center/RTTMC Stiker Pelayanan Angkutan Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Tahun 2013 Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya Vol 23 Ls 5 1.900 4.

791 P.215.111 190.597.517.600 54.832 229.363 208.982 3 3 640. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.294 73.000.819.541.000 150. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.966.000 4 4 531.183 - 1 - 3. NUSA TGR.066.No Kegiatan C.400 44. BALI .964 3 3 735.879.385.154. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total 19 Unit Paket 4 11.139.644 4 15.430.426 - 1 - 3.218 - D.000 - 1 - 2.304 6 14.160.430 64.598 59.684 5 13.590 4 4 582.786.759 14 14 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 3 3 418. & MALUKU Page 6 . PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 2 3 4 5 6 7 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor Fasilitas Keselamatan LLAJ Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat Kontingensi Penanganan Bencana Alam Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Vol Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Vol Tahun 2013 Biaya Vol Tahun 2014 Biaya 5 - Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket 1 - 2.176 4 18.200 - 1 - 2.099 263.

472.000 732.105 11.358 43.353 4.582.140 31.000 - 1.988 146 5 4 4 - 1.168.906 4. 75 cm d).500 2.287.684.245 3.886 325 20 33 53 22 1.000 540. Portal 3).000 - P.253.913. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.143.858 5.742 752. Paku Marka 8).599.509 13.958.275.591 10.842 2.031 3.341 4 1.020 8.925 1. Cermin Tikungan 9).860 12.772 12. Marka Jalan 5).900.845 29. Traffic Ligth b).070 6.222.477. 90 cm 2).973 2.122 4 1.270 60 4 6 10 4 272.483.341.079. Uk.122.132 949.892 2.947 92 6 9 15 6 417. LED High Flux 4).254 13.625. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c. LPJU Tenaga Surya e.540 1.857 2. Lampu Lalu Lintas a).148. Uk. Uk.663 160 6 4 4 - 1. Angkutan Jalan e.500 115 4 3 3 - 1.335 543.672 202 6 3 3 - 2. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.786 7.219 14. KALIMANTAN A.652 4.000 - 1.480 480.216.686.274 1.836.109.914 1.811. KALIMANTAN Page 7 . Deliniator 7).719. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.668.516. Pagar Pengaman Jalan 6). Alat PKB Mekanis Statis b.335.675.541 6.582. Tiang F b).499 8.000 - 1.687.000 900.639 1.605 46. ATCS 3 4 5 6 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.647.649 685.000 3. 45 cm b). Uk. Terminal Transportasi Jalan d.131 668.440.368.640. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.016. RPPJ a).091 10. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a.185 2.524.948 3.414.417 844.445.692 4 1.874 37.000 5. 60 cm c).179.968 8.534 3.066 8. Traffic Ligth Solar cell d).888 686.220 4 1.980 2.614 76 5 8 13 5 346.162 2.000.382.671. Rambu Lalu Lintas a).409.000 - 2.105 34. Alat PKB Keliling Tahun 2010 Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol 17 Ls 4 1.059 609.800 930.754 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 6.337 15.136. Lampu Penerangan Jalan 1).782 2.649 11.084 5.000 24.838.869 597.773 2.912.019.884 827.199.500 3.379.000 1.517 9.575 1.198 2.719. Pengendalian dan Operasi f.461 1.000 390.651.542. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.828 1.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.233 106 6 11 17 7 479. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Vol REKAPITULASI P.897.769 84 5 8 13 6 379.005 1.124 495.016 15.184 2.748 2.823 624 20 14 14 - buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah Unit Unit 1. Warning Ligth c). Rubber Cone 10).697. Jembatan Timbang c.237 10.913 735. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.889 5. Perlengkapan Jalan 1).088.800 2.013.766 13. Traffic Ligth High Flux e).432 176 5 3 3 - 1.

KALIMANTAN Page 8 .089.438.618 3 5 1.043 P.806 306.718 66.053 91.760 4 6.809 4 4.000 4 5 1.No Kegiatan 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.060 - 1 1 - 2.903 114.000 100.500.643 3 4 1.860 83. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.321 - 1 2 - 2.540.637 153.036 4 5.819 139.905.861 - 14 19 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 3 4 938.477.284.954 4 4.309 - 1 1 - 2.637.120 4 6 1.307.458 254.650.299.950 100. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.000 - 1 1 - 1.092.979.192.789.722 16 Unit Paket 4 4.626. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya - Tahun 2011 Vol Biaya - SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya - Vol - Tahun 2014 Biaya - 5 5 - Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket 1 1 - 1.500 200.455 351.914 175. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.530 278.900 127.839.404.478.

Lampu Lalu Lintas a).517 1. Terminal Transportasi Jalan d. Tiang F b). Perlengkapan Jalan 1).179 621.584.334 1.212 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 11. Uk.550 4.359.576.342 1.300.881 1. Traffic Ligth Solar cell d).649 191 8 14 14 1 292.002 7.437 6.079 1. Traffic Ligth High Flux e).084 2.672 23.614.032 16.666. Cermin Tikungan 9).195.392.819 13.844 7.466 20.592 143 38 385 5 1 1 2.044.280.519. RPPJ a).202 1.978 8.755 6.000 9.522.655 880.333. Deliniator 7).836.028.995 6 3.947.022 13.814 860. Uk.280 5.439 16.463 23.726 952.214.667 264 11 19 19 1 404.528 5.751.000 850.859 5. Uk.198 6 2.363 1.078 3.968 1. Portal 3). 90 cm 2).809.338 11.000 3.285.065 10. ATCS 3 4 5 6 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.115.315 743.644 750. Rambu Lalu Lintas a).604 18.390 2.464 118 32 319 5 1 1 2. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.819 1.597.103.103.376 6 3.977.954 1.238 15.217 3.840 6 2.950 11.198.317 750. Alat PKB Mekanis Statis Tahun 2010 Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Tahun 2013 Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol Vol 25 Ls 6 2. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.106. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.603 1.524 792.296.069 681.361 20 5 5 buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah Unit 2. Pengendalian dan Operasi f.840. 75 cm d).PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.755.960 1.983 1.149.611 18.149 8.480 21.803.991 130 35 350 6 1 1 2.000 3. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d. Marka Jalan 5).976 6.000 P.198.000 3.210 24.439 9. Angkutan Jalan e.076 9.980 1.339 5.208 896.229.247.475.987. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.786 5. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c.910 12.702. Paku Marka 8).192.769 7. LED High Flux 4).562 164 44 441 5 1 1 2.306 813 33 60 59 5 1.806.301 4.124.669.224 4. Rubber Cone 10).157 65. SULAWESI A.622 5.957 16.255 1.000.249. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Vol P. 60 cm c).318.273 10.600 860.336 4.000 13.026 4.118.006.033. Lampu Penerangan Jalan 1).243 3.316 504 136 1.781 5.117.551.833.720.000 585.690 1.000 1.692.410 2. SULAWESI 2.142 2.000 489.196 230 9 17 16 1 352.720.726.000 12.410.300 93 25 251 4 1 1 1.030 4. Traffic Ligth b). Jembatan Timbang c. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a. LPJU Tenaga Surya e.998.121.905 209 8 15 15 1 320.805 6. 45 cm b). Uk.676.081.835.549 875.000 2.647.623.059.425 815.085 150 6 11 11 1 230.168 1. Pagar Pengaman Jalan 6).620 2. Warning Ligth c).243.951.723 1. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.687.051.338 2.248.000 Page 9 .500 1.277 870.

512.694 10.309 317.703.273 2.370.364. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Unit Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya - Tahun 2011 Vol Biaya - SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya - Vol Tahun 2013 Biaya - Vol - Tahun 2014 Biaya - - Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 29 24 4 17 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 6 5 1 1.616 8 6 1 4 1.800 4.650 2.806 8 7 1 4 1.900 439.500 250.158 Unit Paket 4 P.400 5.340.579 124. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.984.625 7.303 2.888 6. SULAWESI Page 10 .500 90.149.349.640.000 2.371. Alat PKB Keliling 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.222.143.848.119.204 383. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.915 7 6 1 4 2.272 14.510.353.601. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.927 108.353.002.652 2.889 9.066.156.685.874.206.262 6 5 1 4 1.800 72.No Kegiatan b.203 348.553.253 98.493 5.322 12.060 11.

067 1.714.650 - 70 17 97.159.316 8. Tiang F b).769 3. Jembatan Timbang c.952 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 271 65 379.697. Uk.435 1. Deliniator 7).089 4.250.576 4. 60 cm c). Traffic Ligth High Flux e). Uk. Alat PKB Mekanis Statis Tahun 2010 Biaya Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol 8 Ls 2 756.066 38 2 - 728. PAPUA 64 15 88.000 10. Uk.827 1.061 14. Rambu Lalu Lintas a). LPJU Tenaga Surya e. Angkutan Jalan e.620 2 1.744. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a. Lampu Lalu Lintas a). VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c. Rubber Cone 10).000 5.329. Marka Jalan 5).252 2 960.000 3.403 2 1. Pengendalian dan Operasi f. Terminal Transportasi Jalan d.790 1. 90 cm 2).775 13.339 3.520.010 9.240. Perlengkapan Jalan 1).745 Page 11 .472 1.574.786 35 1 - 661. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.570 31. Uk. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN. Traffic Ligth b).056 1.111. Pagar Pengaman Jalan 6).776 2.455 15.150.445.538.359 5.961.942 7.016 10. Portal 3).541 32 1 - 603.000 7.894 12.268 2.000 P.514.432 - 77 18 107.525 7. Lampu Penerangan Jalan 1).894 2 1.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.084.604 1.845 136 5 - buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah Unit 50 12 70.280.382.000 875.103 10.116.219.755.969 2.000 992. 45 cm b). RPPJ a).000 1.218 2.229. 75 cm d). Warning Ligth c).260.535 2.517 44 2 - 835.025. PAPUA A.720 2.053. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Vol P.690.000 25 1 - 475.086.540 1. Paku Marka 8).023.216 10. ATCS 3 4 5 6 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.059 3.961. Cermin Tikungan 9).903 4. LED High Flux 4). Traffic Ligth Solar cell d).341.783 18. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.188 - 88 21 123. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.967. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.744 9.

PAPUA Page 12 .857.160.No Kegiatan b.930 4 4 Unit Paket 1 1 8. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Unit Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 Vol Biaya - Tahun 2011 Vol Biaya - SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya - Vol - Tahun 2014 Biaya - - Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket - - - - - - - - - - 5 5 5 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 1 1 54.361 P.930 87.500 50.138 85.661 69.664 1 1 11.567.849.337. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.661 1 1 1 83.655 1 1 1 95.080 30.667.909.393. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.000 50.787.104 64.844 87.000 1 1 1 69.946 40.286.753 77.530 1 1 1 75.625.530 63.210 36.248 63.936 1 1 8. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.553 76.685 15.233.780.303 72.192.930 69.947.216 93.098 44.655 76. Alat PKB Keliling 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.863 1 1 10.997 1 1 9.

932.171.439 40.512. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.234.951 1. LPJU Tenaga Surya e.866 4.261 3 2 2 3 2 5 2 10 3 3.985.595 4. Rubber Cone 10). Uk.146 - 2 3 - 872.907 - 14 7 7 14 7 21 7 33 14 buah buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah Unit Unit Paket 2 1 2. 60 cm c).647. Traffic Ligth High Flux e).284. Uk.453 1.650. Pengendalian dan Operasi f.563.309. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.451 4.991.700. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c.358 - 2 2 - 760. Rambu Lalu Lintas a).073 4.000 1.607 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 2 500.286.520.256 1. Alat PKB Mekanis Statis b.782. Uk.380 945.016 1.921 3 1.768 3.190.000 PUSAT 3 4 1 5 3 1 1 2. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.721 5.700 - 1 2 - 691.400.902. Deliniator 7).439 5.744.860 3.637 3 2.500. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a.815.350 1.100.000 2 1 3.179 1. Perlengkapan Jalan 1).000.770 3 1 1 3 1 4 1 6 3 2.100.398 Page 13 . Alat PKB Keliling 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 7 11 - 15 Ls 3 1.809. 45 cm b).000.990.000 3 1 5 2. ATCS 3 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas 4 Pembangunan Jembatan Timbang 5 Pembangunan Terminal Transportasi Jalan 6 Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a.666 5. Marka Jalan 5).521.525 3.917 1.147.683 1. Paku Marka 8).234.455. Uk. Cermin Tikungan 9).100 26.000 3 1 1 3.382. Terminal Transportasi Jalan d.897 1.680 4.474.589.470 1.000 3.782.405. Pagar Pengaman Jalan 6).140.563. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B.576 1.300 3 1.802.673.573 1. RPPJ a). Tiang F b). Warning Ligth c).PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.635 3 1.894 4.147. 90 cm 2). LED High Flux 4).408 3. (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Tahun 2010 Vol Biaya Tahun 2011 Vol Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Tahun 2014 Vol Biaya DIREKTORAT LLAJ A.304 2. Traffic Ligth Solar cell d).260.750 3.232 2 1. Lampu Lalu Lintas a). 75 cm d).000 1 2 630.194.386.000 1.362. Angkutan Jalan e.036.000.000 21.440.407 2. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.919. PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.593 3 2 2 3 2 5 2 7 3 3.721 59.267 5.151.100 4. Jembatan Timbang c. Lampu Penerangan Jalan 1). Portal 3).684 1. Traffic Ligth b).308.664.760.073 29.000 750.

826 1.000 750.234.790 6 8.595 3 7 3 26 1 4 718.388 540.543.000.814.435 14 35 14 131 7 21 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 2 5 2 19 1 3 520.500.000 3.183.570.000.239. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.250 17.000 850.175.369.967 680. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.435 1.221.000 14 24 14 14 7 14 Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket 2 3 2 2 1 2 3.000 159.308.750.393 942.492 SASARANAN TAHUNAN Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya 5 6.073 967.100 882.221 821.071.000 Vol Tahun 2014 Biaya 7 9.401 50.147. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.298 47.000 700.134.308.000 154.302.614.237.358 55 23.855.483.884.000 700.617.253.600 5.100.064.412 37 11.740 4.175.490 945.059 39 12.352 2.510.704.500.No Kegiatan 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.171 211 - Unit Paket 37 11.802 3 6 3 3 2 3 6.680 1.564 1.450.520.439 1.283.400 1.974 274.437 8 57.221.000 22.381.000 8 50.946.000 10.525 882.419 14.000 900.036.244.778 12.531.974 3 9 3 33 2 5 907. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Vol 28 36 Paket Paket Paket Tahun 2010 Biaya 4 5.000 3 4 3 3 1 3 4.710 43 13.000 3.921 4.032 1.000 1.000 8 56.457 6 7.473 13.628 231.074 1.616.841 40.768 967.355.795.650 1.727.000 1.000 3 6 3 24 1 4 655.630 1.272.500.629 1.388 204.101 746.802 1.442.860 1.064.721 1.774.122 1.563.000 8 55.782.625 32.952.996 1.000.416 1.483.516 4 27.004 3 8 3 29 2 5 790.292.622.490 3 5 3 3 1 3 5.150.040.215 PUSAT Page 14 .650 3 6 3 3 2 3 5.140.

000.555 4. Uk.000 89.640 1.626 136.372 1.590.830 3.917.000 4.036.732 27. 75 cm 2). PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Pengembangan Sistem Informasi a.534.000 - 1 2 - 630.932 995 1.744 88.668.427.094 10.577.068.894 10. Portal 3).199 900 49 86 75 26 2 2.145. Lampu Lalu Lintas a). (Dalam Ribuan Rupiah) No Kegiatan Sasaran Volume Vol REKAPITULASI KEGIATAN RPJM TAHUN 2010 .607. Traffic Ligth b).901.147 31. Pagar Pengaman Jalan 6).752 80.207 251 352 47 2 1.734.373 4.105 28.205.772.260.198 19.260.100.904 5. Traffic Ligth High Flux e).000 - 17.744.168.600 732.105 3.358 - 2 2 - 760.150.161 108. LPJU Tenaga Surya e.298 400.201.220 2.250 31.603 10.628 36.718 3.558.938 100.150.350 1.833 4.014 9.246.167. Angkutan Jalan e.172 7.885 65.365 7.179 1.489.639. Jembatan Timbang c.114 36.700 - 1 2 - 691.842 8.555 3. 45 cm b).716 1.408.594.321. PROGRAM PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Administrasi Kegiatan B. Tiang F b).630 24.573 1. Cermin Tikungan 9).025.014. Rubber Cone 10). Marka Jalan 5).964 27.000.907 - 68. Alat PKB Mekanis Statis b. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan b.502 13.411 16.954 78.000 143 200 27 1 676 2 29 3 15 12 - 8.843.367 35 16.212 30.695.702 14 180 16 89 70 - buah buah buah buah buah Unit Unit Unit Unit Unit meter' meter' buah buah buah buah meter' unit Unit Unit Unit Unit Paket Buah Buah Unit Unit 9.665.936 82.055 26.036 3 34 3 17 12 - 12.573 84.401.466 3.2014 A.475 10.452 43 14.269. Rubber Strip (Pita Penggaduh) b.239.068.141.572 4.209.140.594 14.000 - 13.330 945.291 99.744.995 15.303 106.339 59.975 71.000 2. LED High Flux 4).029.428 5.483.146.264.740.465.083 226 391 345 118 12 10.942 20.021.825.525 29.874.761 931.242.980 137. 60 cm c).928.597 746 42 72 64 22 3 1.933 10.396 143.963.680 40.014 11.521.935.494 182 254 34 1 859 3 37 4 17 15 - 10.732 8. Rambu Lalu Lintas a).411. Warning Ligth c). ATCS 3 4 5 6 Penataan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Transportasi Jalan Pembangunan Pengujian Kendaraan Bermotor a. Lampu Penerangan Jalan 1).492 166.703 25.955 76.391 188 7 4.259.742 33.496.812 818 45 78 69 24 3 2.169.332.862.062 18.000 - 15.272 110.755.000 - REKAP LLAJ Page 15 . Uk. Deliniator 7).896 10.403.465 166.465.382.159.041.781.665 23.416.003.632.536.251.909. RPPJ a). Pengendalian dan Operasi f.702.881.052 40 13.800 23.357.277.489.146 - 2 3 - 872.164.272 93.219 14.240 101.485 38 18. GPS Angkutan Penumpang dan Barang d.671 5.955 91.662.561 9.437 199 279 38 1 942 3 40 3 19 17 - 11.581 6.146 22.878.385.280 42.161 4.193.906 126.435 1.244.140.074. Pengujian Kendaraan Bermotor 2 Pembangunan Fasilitas Keselamatan LLAJ a.947. Paku Marka 8).000 23.355. Traffic Ligth Solar cell d).063 73.120 9.340 7 11 - Paket Paket Paket Paket Paket Paket 1 2 - 500.922.844 46. SARANA & FASILITAS LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN UNIT KERJA : DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.957 4.637.247.505 119.123. Terminal Transportasi Jalan d.822 4.334 4.453 1.315 12.288.849 25.868.105.471 10.189 4 39 4 21 14 - 14. Uk.469 12.746.563.032 57 97 86 30 2 2.130 18.731 8.132.450.925 1.976 20.178.PROGRAM PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN TRANSPORTASI DARAT 2010-2014 KEGIATAN : PEMBANGUNAN & PENGELOLAAN PRASARANA.499 11.750 107.400 71.794 219 307 41 2 1.555.000 1.000 - 12.425.107 5.645 1.308.105.094 6.091 10.068 1. Alat PKB Keliling Tahun 2010 Biaya Vol Tahun 2011 Biaya SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya Tahun 2013 Biaya Tahun 2014 Biaya Vol Vol 192 Ls 35 10. Perlengkapan Jalan 1).791.686 119.000 18.968 60.000 750.829.768 32.874 31.860 35. VMS (Variable Massage Sign) / Traffic Board Sign c.914 587 33 58 51 17 2 1.499 57.636.

226.590 828.130.626.697 967.000 5.267 216 109 Unit Paket 38 20 19.490 945.221 9.637.064.490 3 6 1 6 3 1 3 5.802 3 7 1 6 3 2 3 6.302.000 24. PROGRAM RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN DAN PRASARANA LLAJ 1 Pembinaan dan Evaluasi Propinsi dan Kota/Kabupaten (Prasarana dan Kepengusahaan) 2 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Transportasi Jalan 3 Sosialisasi/Diseminasi/Seminar/Publikasi 4 Survai/Studi Kebijaksanaan/FS/DED/Master Plan.625 35.819 4.450.863 728.345.182.525 882.855.742.675 10.398 7 8 9.000 1.435 14 35 177 131 13 96 Paket Paket Paket Paket Paket Paket 2 5 30 19 2 16 520.592 3 8 31 29 3 18 790.802 1.240 914.000 700.923 2.198.393 11.726 93.200 1.952.203.637 5.112 14.750.900 4.000 14 29 6 26 14 7 14 Buah Buah Buah Paket Paket Paket Paket 2 4 1 4 2 1 2 3.000 3 6 38 24 3 20 655.531.704.021 1.680 1.000 950.100.659 72.634.967 8.234 1.727.234. 5 Operasional SMS Center/RTTMC 6 Peningkatan Kualitas SDM E.624 617.000 1.500.283.826 1.398.437 57.905.289.790 55.617.485 3 7 42 26 3 22 718.593 6 8 7.357 56 21 35.818 2.650 1.221.658.748.064.400 1.841 43.647.699 13.333.000.946.000 3 5 1 5 3 1 3 4.000 700.074 1.036.000 50.520.500.018.795.562 38 23 19.673.601.308.000 1.686 2.000 Vol Tahun 2014 Biaya 3 1.914 5.080 65.000 SASARANAN TAHUNAN Tahun 2012 Vol Biaya 3 1.629 40 25 21.736.408 1.079.333 84.820.897.140.768 967.850.616. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN FASILITAS LLAJ 1 Gedung/Prasarana Jembatan Timbang 2 Gedung/Prasarana Terminal Transportasi Jalan 3 Gedung/Prasarana Pengujian Kendaraan Bermotor 4 Fasilitas Keselamatan LLAJ 5 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 6 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat 7 Kontingensi Penanganan Bencana Alam D.500.000 1.362.445.210 76.299.040. PROGRAM PENINGKATAN AKSESIBILITAS PELAYANAN 1 Pengadaan Bus Perintis / Sekolah 2 Subsidi Operasional Bus Perintis Total Sasaran Volume Vol 14 28 36 Paket Paket Paket Paket Tahun 2010 2 4 8 Biaya 1.060 17.457 27.727.373.041.492 Tahun 2011 Vol Biaya 3 1.000.046.435 1.500.564 1.996 1.350.150.221.484 3 9 36 33 3 20 907.069 12.401 53.313.516 56.629 1.352 2.183.000 750.347 2.160 44 20 23.No Kegiatan 7 Prasarana Fasilitas Pendukung Pengendalian dan Operasional 8 Pengadaan SMS Center/RTTMC 9 Stiker Pelayanan Angkutan 10 Fasilitas Prasarana Pelayanan Masyarakat C.754.101 8.650 3 7 1 6 3 2 3 5.298 50.100.919.160 1.261 6 8 8.000 Vol Tahun 2013 Biaya 3 1.383.388 6.858.810 882.543.080.993.239.089.510.774.860 1.770 5 4 6.987 REKAP LLAJ Page 16 .000 3.782 2.614.688.386.347 2.381.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful