Anda di halaman 1dari 13

CSL CASE REPORT BLOK RESEARCH OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

Oleh: Anita Nur Charisma 1018011040 Kelompok 2

PROGAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2103


1

BAB I PENDAHULUAN

Otitis media supuratif kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforata (OMP) atau dalam sehari-hari sering disebut congek. Yang disebut otitis media supuratif kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul, sekret mungkin encer atau kental(1) Perforasi membrana timpani dapat disebabkan perubahan tekanan mendadak barotrauma, trauma ledakan, atau karena adanya benda asing dalam liang telinga ( aplikator berujung kapas, ujung pena, klip kertas, dll.) Gejala nya antara lain nyeri, sekret berdarah dan gangguan pendengaran (suara-suara terdengar seperti saya sedang berada dalam tong) Kejadian OMSK dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain suku bangsa, jenis kelamin, tingkat sosioekonomi, keadaan gizi, dan kekerapan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA/ batuk pilek). ISPA yang tidak tertanggulangi dengan baik dapat menyebabkan peradangan di telinga tengah (otitis media). Pada keadaan peradangan tidak teratasi sacara tuntas, daya tahan yang lemah, atau keganasan kuman yang tinggi (virulensi kuman), peradangan telinga tengah dapat berlanjut manjadi_OMSK. OMSK terdiri atas OMSK tipe aman dan tipe bahaya. Kedua tipe ini dapat bersifat aktif(keluar cairan) atau tidak aktif (kering). Penatalaksanaan OMSK dapat berupa pengobatan atau operasi. Tujuan operasi pada OMSK tipe bahaya terutama untuk mencegah komplikasi. Gejala OMSK adalah keluar cairan dari telinga yang berulang, lebih dari 2 bulan, cairan kental, dan berbau. Komplikasi yang dapat disebabkan oleh OMSK adalah komplikasi ketulian, kelumpuhan saraf wajah, serta penyebaran infeksi ke otak (7,5%) hingga kematian yang disebabkan oleh OMSK tipe bahaya (33%). Gejala-gejala komplikasi infeksi otak yang disebabkan oleh OMSK antara lain sakit kepala hebat, demam, mual, muntah, dan penurunan kesadaran. (8)

BAB II LAPORAN KASUS

Tanggal

: 20 Juni 2012

No. Registrasi : I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur : Ny. MR : 44 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Suku Agama Alamat Pekerjaan : Jawa : Islam : Jl. Perum Griya Alam Sentosa, Cileungsi -Bogor : Ibu rumah tangga

II. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 20 Juni 2012 pukul 11.50 WIB Keluhan Utama : Telinga kiri mengeluarkan gumpalan hijau sejak hari Senin (tanggal 18 Juni 2012). Sebelumnya sejak tanggal 23 Mei, Os mengaku sudah mengalaminya sebanyak dua kali. Keluhan Tambahan : - Pendengaran telinga kanan dan kiri berkurang sejak lima tahun yang lalu.

- Telinga kanan sekarang terasa sangat gatal tapi tidak sakit sejak lima tahun yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang ke poli THT RSUD Bekasi dengan keluhan pada telinga kiri keluar gumpalan lunak berwarna hijau dan terasa sedikit sakit. Os mengaku kepalanya sering terasa berat dan sedikit pusing. Pada kedua telinga terkadang terasa berdengung yang dirasakan sejak kurang lebih lima bulan yang lalu. Pada telinga kanan, Os juga mengaku sering terasa sangat gatal tapi tidak terasa sakit. Riwayat Penyakit Dahulu : Os mengaku sudah mengalami keluhan yang serupa (keluar gumpalan hijau pada telinga kiri) sejak satu bulan yang lalu sebanyak dua kali. Kurang lebih lima bulan yang lalu, saat menundukkan kepala pernah keluar cairan kental dan bening dari kedua telinga. Lima tahun yang lalu, Osms juga mengaku sering mengorek-ngorek lubang telinga dengan menggunakan cotton bud dan lidi. Kemudian, pernah menderita sakit telinga kanan dan kiri sampai mengeluarkan darah dan nanah sejak lima tahun yang lalu. Sejak saat itu, pendengaran telinga kanan dan kiri berkurang. Os sering menderita batuk pilek sebelumnya. Os memiliki riwayat penyakit kencing manis. Os menyangkal memiliki riwayat penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asma serta alergi. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama. Anggota keluarga dari pihak Ibu mempunyai riwayat kencing manis. III. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi : Tampak sakit ringan : Compos Mentis : 130/80 mmHg : 68x/menit 4

Frekuensi nafas Suhu

: 17x/menit : 36 C

B. STATUS THT Pemeriksaan telinga Pemeriksaan Komponen Bentuk telinga luar Daun telinga Retroaurikuler Radang Nyeri Tarik Nyeri Tekan Tragus Lapang Warna Hiperemis Edema Massa Serumen Warna Jumlah Konsistensi Dextra Normal Normotia Normal Lapang Merah + Kuning Sedikit Lunak Sinistra Normal Normotia Normal Lapang Merah muda + Kuning Sedikit Lunak

Daun Telinga

Dinding Liang Telinga

Sekret

Membran Timpani Warna Reflex Cahaya Bulging Retraksi Perforasi Rinne (256 Hz) Rinne (512 Hz) Rinne ( 1024 Hz) Weber Schwabach Tes berbisik Pucat + Pucat v + + -

Tidak utuh

Tes Garpu Tala

Lateralisasi ke telinga kiri Memanjang + Memanjang +

Kesimpulan Audiogram

Tuli Saraf Tuli Campur Tidak dilakukan

Pemeriksaan Keseimbangan Tes Romberg Tandem Gait Finger to Nose Baik Baik Baik

Pemeriksaan Hidung Pemeriksaan Komponen Bentuk Hidung Deformitas Nyeri Tekan Dahi Pipi Krepitasi Dextra Normal Sinistra

Hidung

Sinus Paranasal Inspeksi : Tidak ada tanda radang, trauma, sikatrik, massa Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketuk Dextra Sinistra -

Rinoskopi Anterior
Pemeriksaan Vestibulum Konka Inferior Dextra Lapang Eutrofi, tidak hiperemis Sinistra Lapang Eutrofi, tidak hiperemis

Konka Media Konka Superior Meatus Nasi Kavum Nasi Mukosa Sekret Septum

Eutrofi, tidak hiperemis Tidak terlihat Tidak Ada Kelainan Tidak Ada Kelainan Tidak Hiperemis Tidak Ada Deviasi

Eutrofi, tidak hiperemis Tidak terlihat Tidak Ada Kelainan Tidak Ada Kelainan Tidak Hiperemis Tidak Ada Deviasi

Rinoskopi Posterior: Tidak dilakukan karena pasien tidak kooperatif Transiluminasi: Tidak dilakukan

Pemeriksaan Orofaring dan Mulut Pemeriksaan Palatum mole dan Arkus faring Permukaan Faring Kelainan Simetris/Tidak Warna Edema Bercak/eksudat Warna Permukaan Ukuran Dextra Simetris Merah muda Merah muda Licin T1 Sinistra Simetris Merah muda Merah muda Licin T1

Tonsil

Warna Permukaan Muara kripta Detritus Eksudat Perlengketan dengan pilar Warna Edema Abses

Merah muda Licin Tidak Melebar Merah muda -

Merah muda Licin Tidak Melebar Merah muda -

Peritonsil

Gigi

Karies/radiks

Molar I atas & Molar I bawah Merah muda Normal -

Molar I, II, dan III bawah Merah muda Normal -

Warna Lidah Bentuk Massa Pemeriksaan Laring ( Laringoskopi indirek)

Pemeriksaan Laringoskopi Indirek tidak dapat dilakukan karena pasien tidak kooperatif. Pemeriksaan Keterangan Epiglotis Tidak dinilai Aritenoid Tidak dinilai Ventrikular band Tidak dinilai Plica vocalis Tidak dinilai Subglotis Tidak dinilai Sinus Piriformis Tidak dinilai Valekula Tidak dinilai Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher: Tidak terdapat pembesaran KGB daerah coli RESUME Seorang pasien wanita berusia 44 tahun datang ke poli THT RSUD Bekasi dengan keluhan telinga kiri mengeluarkan gumpalan hijau sejak dua hari yang lalu dan terasa sedikit nyeri. Pasien mengeluh pendengaran telinga kanan dan kiri berkurang sejak lima tahun yang lalu, semakin lama semakin parah. Telinga kanan sekarang terasa sangat gatal tapi tidak sakit sejak lima tahun yang lalu. Pasien mengaku pernah sakit telinga kanan dan kiri sampai mengeluarkan darah dan nanah sejak lima tahun yang lalu. Sejak saat itu, pendengaran telinga kanan dan kiri mulai berkurang. Sebelumnya Os mempunyai kebiasaan mengorek-ngorek telinga dengan menggunakan cotton bud dan lidi. Os sering menderita batuk pilek sebelumnya. Pasien mengeluh kepalanya sering terasa berat dan sedikit pusing. Pada kedua telinga terkadang terasa berdengung yang dirasakan sejak kurang lebih lima bulan yang lalu. Pada pemeriksaan otoskop ditemukan, dinding liang telinga kanan hiperemis dengan sekret dan serumen di kedua telinga. Membran timpani utu pada telinga kanan dan perforasi central pada telinga kiri. Pada pemeriksaan fungsi pendengaran dengan menggunakan penala (Rinne, Weber, Schwabach) dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan

pendengaran dengan dugaan tuli campur pada telinga kiri dan tuli pereseptif pada telinga kanan. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan rinoskopi posterior dan laringoskopi indirek tidak dilakukan karena pasien tidak kooperatif. IV. DIAGNOSIS KERJA Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) dengan tuli campur AD AS Dasar yang mendukung : - Keluhan pada telinga kiri keluar gumpalan lunak berwarna hijau, terasa sedikit nyeri - Telinga kanan sekarang terasa gatal tapi tidak sakit sejak lima tahun yang lalu. - Keluhan yang sama (keluar gumpalan hijau pada telinga kiri) sejak 1 bulan yang lalu sebanyak dua kali. - Kurang lebih lima bulan yang lalu, saat menundukkan kepala pernah keluar cairan kental dan bening dari kedua telinga. - Pernah sakit telinga kanan dan kiri sampai mengeluarkan darah dan nanah sejak 5 tahun yang lalu, sejak itu, pendengaran telinga kanan dan kiri dirasa berkurang. - Sebelumnya Os mempunyai kebiasaan mengorek telinga dengan cotton bud dan lidi. - Pada otoskopi, ditemukan sekret pada kedua telinga dengan konsistensi lunak. - Membran timpani kedua telinga tidak intak (perforasi) - Pada pemeriksaan dengan menggunakan tes penala (Rinne, Weber, Schwabach) didapatkan kesan tuli campur V. DIAGNOSIS BANDING Otitis Media Akut : Hal yang mendukung ialah keluar gumpalan hijau dari telinga, dan pasien sering menderita infeksi saluran napas atas. Hal yang tidak mendukung ialah pada pemeriksaan fisik tidak ada demam dan tidak ada tanda tanda radang pada telinga. Otitis Media Supuratif Kronis Maligna : Hal yang mendukiung ialah keluar gumpalan hijau dari telinga, sering menderita infeksi saluran napas atas, tidak ada tanda radang dan demam, tetapi hal yang tidak mendukung ialah tidak adanya penurunan kesadaran, kejang, tidak ditemukanya kolesteatom,

VI. RENCANA PENGOBATAN Non Medikamentosa : - Konsumsi obat secara teratur - Menjaga higiene telinga - Tidak mengorek-ngorek telinga secara sembarangan - Menjaga agar lubang telinga tidak kemasukan air Medikamentosa R/ H2O2 (20 cc); 3 x 5 tetes/hari ADS R/ Ofloxacin solution 0,3% (Tarivid Otic) fl.I; 3 x 2 tetes/hari ADS R/ Ceterizine 5 tab + metylprednisolon 5 tab + Ambroxol 10 tab 10 kapsul; 2 x 1 kapsul/hari R/ Amoxicilin; 3 x 1 tablet/hari selama lima hari R/ Paracetamol; 3 x 1 tablet/hari selama tiga hari

VII. RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN Tes Audiometri Kultur sekret telinga dan uji resistensi obat (bila perlu)

VIII. PROGNOSIS Ad vitam : Bonam

Ad sanationam : Dubia ad Malam Ad fungtionam : Dubia ad Malam

10

BAB III DISKUSI

Dalam kasus di atas kita mendapatkan bahwa penyakit Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) yang dikeluhkan oleh pasien disebabkan karena kebiasaan pasien untuk mengorek-ngorek telinganya secara sembarangan dengan menggunakan cotton bud dan lidi sehingga memudahkan untuk terjadinya infeksi. Selain itu, dari hasil aanamnesis Ny. MR mengaku pernah sakit telinga kanan dan kiri sampai mengeluarkan darah dan nanah sejak lima tahun yang lalu. Sejak saat itu pula pendengaran telinga kanan dan kiri pasien mulai berkurang, semakin lama semakin parah. Untuk mengkonfirmasi gangguan fungsi pendengaran Ny. MR ini kita melakukan pemeriksaan otoskop dan tes penala pada kedua telinga pasien. Pada pemeriksaan otoskop ditemukan, dinding liang telinga kanan hiperemis dengan sekret dan serumen di kedua telinga. Inspeksi membran timpani tidak intak dengan perforasi

11

di sentral pada telinga kanan dan perforasi marginal pada telinga kiri. Pada pemeriksaan fungsi pendengaran dengan menggunakan penala dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan pendengaran dengan dugaan tuli campur. Tetapi untuk lebih memastikan hal ini kita perlu melakukan pemeriksaan audiometri karena subjektifitas pada pemeriksaan tes penala cukup tinggi, baik pada pasien maupun pada pemeriksa.

BAB IV KESIMPULAN

Setelah kami melaporkan kasus Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) dengan penurunan fungsi pendengaran ini, dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab paling sering dari penyakit ini adalah infeksi yang bisa diakibatkan oleh beberapa faktor seperti higiene telinga yang buruk, riwayat kebiasaan mengorekngorek telinga, sistem imunitas tubuh yang rendah, dan terapi yang terlambat atau tidak adekuat. Pada bentuk penyakit OMSK yang lebih berat, komplikasi penyakit ini bisa bermanifestasi di telinga tengah dalam bentuk perforasi membran timpani persisten dan erosi tulang pendengaran. Akibat infeksi telinga tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada membran timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran terputus, akan menyebabkan tuli konduktif yang berat. Biasanya derajat tuli konduktif tidak selalu berhubungan dengan penyakitnya sebab jaringan patologis 12

yang terdapat di kavum timpani pun dapat menghantar suara ke telinga dalam. Di telinga dalam bisa bermanifestasi dalam bentuk fistula labirin dan tuli sensorineural. Sedangkan komplikasi terberat bisa bermanifestasi ke susunan saraf pusat seperti meningitis, abses otak, sampai meningoensefalitis. Oleh karena itu, diagnosis dini dan terapi yang efektif serta adekuat merupakan suatu keharusan untuk mencegah komplikasi penyakit ini dan kesembuhan bagi pasien itu sendiri.

13