Anda di halaman 1dari 10

Bioremediasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimanapolutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun. Sejak tahun 1900an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawasenyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri. Yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam berat,petroleum hidrokarbon, dan senyawasenyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana polutan dapat didegradasi oleh mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis mikroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk meningkatkan bioremediasi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasigen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya. Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan. Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri "pemakan minyak". Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Jenis-jenis bioremediasi 2 Faktor Lingkungan yang Berpengaruh 3 Lihat pula 4 Referensi

5 Pranala luar

[sunting]Jenis-jenis

bioremediasi

Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:

Biostimulasi Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.

Bioaugmentasi Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

Bioremediasi Intrinsik

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Di masa yang akan datang, mikroorganisme rekombinan dapat menyediakan cara yang efektif untuk mengurangi senyawa-senyawa kimiawi yang berbahaya di lingkungan kita. Bagaimanapun, pendekatan itu membutuhkan penelitian yang hati-hati berkaitan dengan mikroorganisme rekombinan tersebut, apakah efektif dalam mengurangi polutan, dan apakah aman saat mikroorganisme itu dilepaskan ke lingkungan.

[sunting]Faktor

Lingkungan yang Berpengaruh

pH. Pada tanah umumnya merupakan lingkungan asam, alkali sangat jarang namun ada yang melaporkan pada pH 11. Penyesuaian pH dr 4.5 menjadi 7.4 dengan penambahan kapur meningkatkan penguraian minyak menjadi dua kali. Penyesuaian pH dapat merubah kelarutan, bioavailabilitas, bentuk senyawa kimia polutan, dan makro & mikro nutrien. Ketersediaan Ca, Mg, Na, K, NH4+, N dan P akan turun, sedangkan penurunan pH menurunkan ketersediaan NO3- dan Cl- . Cendawan yang lebih dikenal tahan terhadap asam akan lebih berperan dibandingkan bakteri asam.

Kadar H2O dan karakter geologi. Kadar air dan bentuk poros tanah berpengaruh pada bioremediasi. Nilai aktivitas air dibutuhkan utk pertumbuhan mikroba berkisar 0.9-1.0, umumnya kadar air 50-60%. Bioremediasi lebih berhasil pada tanah yang poros.

Keberadaan zat nutrisi. Baik pada in situ & ex situ. Bila tanah yang dipergunakan bekas pertanian mungkin tak perlu ditambah zat nutrisi. Untuk hidrokarbon ditambah nitrogen & fosfor, dapat pula dgn makro & mikro nutrisi yang lain.

Bioremediation
What is Bioremediation? Types of Bioremediation The Science How Does Bioremediation Work? Biotechnology and Bioremediation Current Research Areas in Bioremediation Bioremediation and Natural Resources Sustainable Development and Bioremediation Bibliography

What is Bioremediation? Bioremediation uses living organisms to clean up contaminated soil or water. Despite its broad definition, bioremediation usually refers specifically to the use of microorganisms. Bioremediation is a combination of two words bio, short for biological, and remediation, which means to remedy. The use of plants to clean up the environment, known as phytoremediation, is also considered a type of bioremediation, and is covered as a separate topic on this Web site.
Learn more about Phytoremediation

Types of Bioremediation

The main types of bioremediation are as follows:

Biostimulation -- Nutrients and oxygen - in a liquid or gas form - are added to contaminated water or soil to encourage the growth and activity of bacteria already existing in the soil or water. The disappearance of contaminants is monitored to ensure that remediation occurs. Bioaugmentation -- Microorganisms that can clean up a particular contaminant are added to the contaminated soil or water. Bioaugmentation is more commonly and successfully used on contaminants removed from the original site, such as in municipal wastewater treatment facilities. To date, this method has not been very successful when done at the site of the contamination because it is difficult to control site conditions for the optimal growth of the microorganisms added. Scientists have yet to completely understand all the mechanisms involved in bioremediation, and organisms introduced into a foreign

environment may have a hard time surviving.

Intrinsic Bioremediation -- Also known as natural attenuation, this type of bioremediation occurs naturally in contaminated soil or water. This natural bioremediation is the work of microorganisms and is seen in petroleum contamination sites, such as old gas stations with leaky underground oil tanks. Researchers are studying whether intrinsic bioremediation happens in areas with other types of chemical contamination. Application of this technique requires close monitoring of contaminant degradation to ensure that environmental and human health are protected.

All three types of bioremediation can be used at the site of contamination (in situ) or on contamination removed from the original site (ex situ). In the case of contaminated soil, sediments, and sludges, it can involve land tilling in order to make the nutrients and oxygen more available to the microorganisms. The Science How Does Bioremediation Work?

Bioremediation depends on the natural biological processes of microorganisms, one of which is metabolism. Microbial Metabolism Metabolism refers to all the chemical reactions that happen in a cell or organism. All living processes are based on a complex series of chemical reactions. Metabolic processes fall into two types those that build complex molecular structures from simpler molecules, called anabolism, and those that breaks down complex molecules into simpler molecules, called catabolism. Chemicals present in contaminated sites can be remediated through either, or both, of these processes. Anabolism Building Up In anabolism, chemicals taken up by the microorganism are used to build various cell parts. Carbon and nitrogen are the basic chemicals in the proteins, sugars and nucleic acids that make up microbial cells. Microorganisms take up carbon and nitrogen from the soil, water, and air around them. In order to take up nutrients and make them into cell parts, a microorganism needs energy. This is where catabolism comes in. Catabolism Breaking Down Catabolism allows microorganisms to gain energy from the chemicals available in the environment. Although most microorganisms are exposed to light and to chemical energy sources, most rely on chemicals for their energy. When chemicals break down, energy is released. Microorganisms use this energy to carry out cellular functions, such as those involved in anabolism. Anabolism and Catabolism's Role in Bioremediation Chemicals present at contaminated sites become part of the anabolism and catabolism process. For example, hydrocarbons (part of the carbon family) present at sites with petroleum products can be taken up by microorganisms and used as building blocks for cell components. Other chemicals that are important to a microorganism include chemical compounds in the phosphorus, potassium, calcium and sodium group. Microorganisms also need trace elements of other chemicals, including chromium, cobalt, copper, and iron, all of which can be available in abundance at contaminated sites. Did You Know?

Most microorganisms do not cause disease. Microorganisms generate at least half the oxygen we breathe. Microbes drive the chemistry of life and affect the global climate. (Source: Microbial Genomics Gateway) Biotechnology and Bioremediation

Nature has mechanisms for self-renewal. The role of biotechnology in bioremediation is to efficiently apply these existing mechanisms to clean up environmental contamination. Various microorganisms are being studied to see if they can remediate various chemicals often present at contaminated industrial sites. Also, scientists are currently looking into genetically engineering certain microorganisms to increase their ability to metabolize specific chemicals, such as hydrocarbons, in contaminated sites. Current Research Areas in Bioremediation More research needs to be done in order to completely understand the complex microbial processes which make bioremediation possible, especially the bioremediation of metals. Also, researchers are trying to understand why some microorganisms are better at degrading one kind of chemical than another. The development of better in situ bioremediation strategies are also being studied. In situ treatments would be ideal since they cost less and are less disturbing to the environment. Currently, in situ treatments are problematic because naturally existing external conditions are too difficult to control (dense soil, cold conditions, etc.). Methods for better delivery of nutrients or microorganisms in situ and ex situ are being developed. Bioremediation and Natural Resources

Bioremediation is very frequently used in natural resource industries, like forestry, mining, and energy. Some examples are as follows: Bioremediating Oil & Gas Industry Wastewater The oil industry uses bacteria to clean up pollution created by spills and underground leaks, and to clean up waste products from oil production. Wastewater containing dissolved hydrocarbons make up the largest volume of waste material generated by the oil and gas industry. Some parts of hydrocarbons are very toxic and do not break down naturally. This wastewater is sometimes treated in bioremediation lagoons enclosed ponds containing oil-degrading bacteria before it goes out into the environment. However, this process is very time-consuming. To remediate wastewater faster and more efficiently, Saskatchewan researchers developed a reactor that uses oil-degrading bacteria. The reactor, which uses bacteria from the Pseudomonas family, consists of a tubular structure with a bacterial film through which the wastewater is filtered. Bioremediating Contaminated Sediment

Organic waste from sewage, pulp and paper mills, and steel/petroleum industries have contaminated many of the world's harbours, lakes, rivers and canals. They affect water quality and aquatic life, sometimes combining with other naturally existing compounds in water to produce foul-smelling toxic gases. The most common way to deal with sediment contamination is to scoop it up and move it away for long-term storage or treatment. However, these procedures are expensive. As well, excavation disrupts the natural habitat of the aquatic plants and animals, and is not viable as a long-term solution. Sustainable Development and Bioremediation Bioremediation uses the resources available in nature to clean up contamination. Using biological processes, as in the case of bioremediation, usually means lowered costs compared to chemical treatment processes for various contaminated sites. It is also less disturbing to the environment. However, because it is a natural process, it requires time.

Penanganan Limbah dengan Bioremediasi


on: January 25, 2010, 03:12:25 pm

Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan dan/atau proses produksi, termasuk di sini limbah B3. Limbah dapat dibedakan berdasarkan nilai ekonomisnya dapat digolongkan dalam 2 golongan yaitu : 1. limbah yang memiliki nilai ekonomis limbah yang dengan proses lebih lanjut/diolah dapat memberikan nilai tambah. Contohnya : limbah dari pabrik gula yaitu tetes, dapat dipakai sebagai bahan baku pabrik alkohol, ampas tebunya dapat dijadikan bubur pulp dan dipakai untuk pabrik kertas. Limbah pabrik tahu masih banyak mengandung protein dapat dimanfaatkan sebagai media untuk pertumbuhan mikroba misalnya untuk produksi Protein Sel Tunggal/PST atau untuk alga, misalnya Chlorella sp.

2. limbah non ekonomis limbah yang tidak akan memberikan nilai tambah walaupun sudah diolah, pengolahan limbah ini sifatnya untuk mempermudah sistem pembuangan. Contohnya:limbah pabrik tekstil yang biasanya terutama berupa zat-zat pewarna

Berdasarkan sifatnya limbah dapat dibedakan menjadi : 1. Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari sisa kegiatan dan atau proses pengolahan. Contohnya : limbah dari pabrik tapioka yang berupa onggok, limbah dari pabrik gula berupa bagase, limbah dari pabrik pengalengan jamur, limbah dari industri pengolahan unggas, dan lain-lain. Limbah padat dibagi 2, yaitu : a. dapat didegradasi, contohnya sampah bahan organik, onggok, . b. tidak dapat didegradasi contoh plastik, kaca, tekstil, potongan logam.

2. Limbah Cair adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair. Contohnya antara lain : Limbah dari pabrik tahu dan tempe yang banyak mengandung protein, limbah

dari industri pengolahan susu.

3. Limbah gas/asap adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud gas/asap. Contohnya : limbah dari pabrik semen Proses Pengolahan limbah dapat dilakukan dengan cara : a. Proses pengolahan secara aerobik : Prinsip pengolahan secara aerobik adalah menguraikan secara sempurna senyawa organik yang berasal dari buangan di dalam periode waktu yang relatif singkat. Penguraian dilakukan terutama dilakukan oleh bakteri dan hal ini dipengaruhi oleh : 1. jumlah sumber nutrien 2. jumlah oksigen

Contoh dari proses pengolahan limbah secara aerobik antara lain : - Lumpur aktif (Activated Sludge) Lumpur adalah materi yang tidak larut yang selalu nampak kehadirannya di dalam setiap tahap pengolahan, tersusun oleh serat-serat organik yang kaya akan selulosa dan di dalamnya terhimpun kehidupan mikroorganisme

- Saringan trickling (Trickling Filter) Merupakan suatu bejana yang tersusun oleh lapisan materi kasar, keras dan kedap air. Kegunaannya untuk mengolah air buangan dengan mekanisme aliran air yang jatuh dan mengalir perlahan-lahan melalui lapisan batu untuk kemudian disaring. Saringan trickling memiliki 3 sistem utama yaitu: 1. Distributor 2. Pengolahan 3. Pengumpul

- Kolam oksidasi/stabilisasi (Oxidation Ponds) Kolam ini tidak memerlukan biaya yang mahal. Terdapat beberapa kolam yang utama digunakan yaitu kolam fakultatif, kolam maturasi, dan kolam anaerob. kelebihan kolam ini : (a) Beban BOD pada kadar rendah dapat menghasilkan kualitas efluen sehingga 97 %. (b) Alga yang hidup dalam kolam mempunyai potensi sebagai sumber protein yang tinggi dan dapat digunakan untuk perikanan. Ikan dapat dibiakkan dalam kolam maturasi. (c) Kolam pengoksidaan juga dapat digunakan untuk mengolah air sisa industri dan air yang mengandung logam berat. (d) Pengoperasiannya mudah. Kebutuhan pengoperasiannya minimum. Kekurangan kolam pengoksidaan seperti berikut: (a) Kolam pengoksidaan ini untuk mengalirkan efluen dengan kepekatan suspended solis (SS) dan BOD yang tinggi

(b) Pengeluaran bau yang busuk mengganggu penduduk yang tinggal di sekitar kolam ini. Hal ini terjadi jika tidak ada cahaya matahari (ketika hujan dan waktu malam). (c) Untuk membuat kolam pengoksidaan diperlukan kawasan yang luas jika dibandingkan dengan sistem konvensional yang lain. Sehingga tidak sesuai jika dibuat di kawasan yang tanahnya mahal. - Pencernaan aerobik - Parit oksidasi (Oxidation Ditch) Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, axidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%). - Karusel - Perabukan Cairan Merupakan suatu proses penanganan limbah organik yang pekat secara aerobik dimana energi yang berasal dari oksidasi limbah dilakukan oleh mikroorganisme dihasilkan pada suhu operasi yang dinaikkan. Naiknya suhu akan menyebabkan : kekentalan padatan total tertinggi menurun (di bawah kondisi aerob), meningkatkan laju reaksi oleh mikroorganisme dan membantu menghasilkan stabilitas bahan organik yang cepat dan detuksi patogen. Keberhasilan proses perabukan cairan ditentukan oleh aerob yang dapat memindahkan oksigen yang cukup untuk memnuhi kebutuhan oksigen dari campuran cairan yang pekat. Proses ini digunakan pada rabuk sapi, babi dan susu.

- Kontraktor biologik berputar (rotating biological contractor) Analog dengan rotating trickling filter/penyaring menetes berputar. Digunakan antara lain untuk menangani limbah kota, air limbah yang berasal dari industri pengemasan daging, susu dan keju, minuman keras dan anggur, produksi babi dan unggas, pengolahan sayuran dan indutri perekat dan kertas.

b. Proses pengolahan secara anaerobik Proses pengolahan secara anaerobik terjadi disebabkan oleh adanya aktivitas mikroorganisme pada saat tidak ada oksigen bebas. Senyawa berbentuk anorganik atau organik pekat yang umumnya berasal dari industri sukar atau lambat sekali untuk diolah secara aerobik, maka pengolahan dilakukan secara anaerobik. Hasil akhir pengolahan secara anaerobik adalah CO2 dan CH4. Tahapan yang terjadi dalam proses anaerobik adalah : 1. fermentasi dalam stadia asam 2. regressi dalam stadia asam 3. fermentasi dalam stadia basa Prinsip proses pengolahan secara anaerobik adalah menghilangkan atau mendegradasi bahan karbon

organik dalam limbah cair atau sludge. Keuntungan proses secara anaerobik adalah tidak membutuhkan energi untuk aerasi, lumpur atau sludge yang dihasilkan sedikit, polutan yang berupa bahan organik (misalnya : polisakarida, protein dan lemak) hampir semuanya dikonversi ke bentuk gas metan (biogas) yang memiliki nilai kalor cukup tinggi. Sedangkan kelemahan proses pengolahan cara anaerobik adalah pada kemampuan pertumbuhan bakteri metan yang sangat rendah, sehingga membutuhkan waktu yang lebih panjang antara dua sampai lima hari untuk penggandaannya, sehingga diperlukan reaktor yang bervolume cukup besar.

Proses degradasi dalam pengolahan secara anaerobik tersebut dibagi dalam beberapa tahap : Hidrolisi molekul organik polimer . Fermentasi gula dan asam amino. B oksidasi anaerobik asam lemak rantai panjang dan alkohol. Oksidasi anaerobik produk antara seperti asam lemak (kecuali asam asetat). Dekarboksilasi asam asetat menjadi metan. Oksidasi hidrogen menjadi metan.

Kecepatan degradasi biopolimer tergantung pada jumlah jenis bakteri yang ada dalam reaktor, efisiensi dalam mengubah substrat dengan kondisi-kondisi waktu tinggal substrat di dalam reaktor, kecepatan alir efluen, temperatur dan pH di dalam bioreaktor. Jika substrat yang mudah larut dominan, reaksi substrat dengan kondisi seperti waktu tinggal substrat di dalam reaktor, kecepatan alir efluen, temperatur dan pH yang terjadi di dalam bioreaktor maka reaksi kecepatan terbatas, akan cenderung membentuk metan dari asam asetat dan dari asam lemak dengan kondisi stabil atau steady state. Faktor lain yang mempengaruhi proses antara lain waktu tinggal atau lamanya substrat berada dalam suatu reaktor sebelum dikeluarkan sebagai sebagai supernatan atau digested sludge (efluen). Minimum waktu tinggal harus lebih besar dari waktu generasi metan sendiri, supaya mikroorganisme didalam reaktor tidak keluar dari reaktor atau wash out. Penanganan limbah secara anaerobik ada 4 jenis proses, yaitu : - Cara Konvensional - Proses Dua Tahap - Proses Dua Tahap dengan Daur Ulang Padatan - Proses Menggunakan Saringan Anaerobik (Loehr, 1977) Contoh pengolahan secara aerobik antara lain : lagun anaerobik, digester dan filter anaerobik.

Bioremediasi

Bioremediasi merupakan suatu teknologi inovatif pengolahan limbah, yang dapat menjadi teknologi alternatif dalam menangani pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan di Indonesia. Bioremediasi ini teknik penanganan limbah atau pemulihan lingkungan, dengan biaya operasi yang relatif murah, serta ramah dan aman bagi lingkungan. Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan

mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Ada dua jenis bioremediasi, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi. Sementara bioremediasi ex-situ atau pembersihan off-side dilakukan dengan cara tanah yang tercemar digali dan dipindahkan ke dalam penampungan yang lebih terkontrol, kemudian diberi perlakuan khusus dengan menggunakan mikroba. Bioremediasi ex-situ dapat berlangsung lebih cepat, mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam, dan lebih mudah dikontrol dibanding dengan bioremediasi in-situ.

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dlm bioremediasi: 1. stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb 2. inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus 3. penerapan immobilized enzymes 4. penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar. Bioremediasi ex-situ meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Kelemahan bioremediasi ex-situ ini jauh lebih mahal dan rumit. Sedangkan keunggulannya antara lain proses bisa lebih cepat dan mudah untuk dikontrol, mampu meremediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam. Proses bioremediasi harus memperhatikan antara lain temperatur tanah, derajat keasaman tanah, kelembaban tanah, sifat dan struktur geologis lapisan tanah, lokasi sumber pencemar, ketersediaan air, nutrien (N, P, K), perbandingan C : N kurang dari 30:1, dan ketersediaan oksigen.

- Proses bioremediasi

Contoh bioremediasi bagi lingkungan yang tercemar minyak bumi. Yang pertama dilakukan adalah mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang ada di dalam tanah yang mengalami pencemaran tersebut. Bakteri ini kemudian akan menguraikan limbah minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan hidup bakteri tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat kandungan minyak akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem bioremediasi.