Anda di halaman 1dari 2

SERAT WEDHATAMA KARYA KGPAA MANGKUNEGARA IV

Meskipun saya kurang memahami bahasa Jawa tapi akhirnya bisa juga
memahaminya meskipun baru sebatas pemahaman pemula semua itu atas
bantuan beberapa orang sahabat yang menerjemahkan Karya Monumental
Serat Wedhatama yang di tulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya
(KGPAA) Mangkunagara IV diciptakan bertujuan untuk mengajak umat manusia
pada kemuliaan budi, dan larangan memperturutkan budi jahat. Beliau
menangkap realitas sosial dan pandangan jiwa bahwa gejala-gejala lahiriyah
memiliki kekuatan kosmis nominus yang merupakan realitas dunia. Nominus
tersebut juga mengajarkan laku spiritual terkait proses kebaktian kepada Sang
Pencipta, atau lebih dikenal dengan istilah sembah raga, cipta, rasa dan karsa.

Wedhatama berasal dari suku kata Wedha dan Utama artinya air jernih yang
sejuk dan utama atau kautaman dalam kehidupan manusia jawa. Serat
wedhatama ini berisi ajaran luhur tentang bagaimana membangun budi pekerti
yang digubah dalam bentuk berbagai tembang.

Disini saya akan menyajikan serat wedhatama dengan tembang pocung (salah
satu tembang favorite saya) yang diiringi dengan irama gamelan yaitu :

link download Tembang Pocung)


http://uploads.bizhat.com/file/175161

Lyrik,:

Ngelmu iku, Kelakone kanthi laku, Lekase lawan kas, Tegese kas nyantosani,
Setya budaya pangekese dur angkara.

Ilmu itu, didapat dengan cara menghayati, dimulai dengan kemauan, artinya
kemauan tuk membangun sentosa terhadap sesame, teguh membudi dayakan,
menaklukkan semua angkara murka.

Angkara gung, Neng angga-anggung gumulung, Gegolonganira, Tri loka lekere


kongsi, Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Napsu angkara besar, ada didalam diri yang kuat menggumpal, menjangkau
hingga ke tiga jaman, jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi
gangguan malapetaka.

Beda lamun, Wus sengsem rehing asamun, Semune ngaksama, Sasamane


bangsa sisip, Sarwa sareh saking mardi martotama.

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai, watak dan perilaku yang
pemaaf, kepada sesame, selalu sabar berusaha, menyejukan suasana.
Taman limut, Durgameng tyas kang weh limput, Kerem ing karamat, Karana
karoban ing sih, Sihing suksma ngrebda saardi gengira.
Didalam kegelapan, angakara murka dalam hati yang menjadi penghalang,
akhirnya larut dalam mukjizat, oleh lautan kasih saying, kasih saying (suksma)
yang sejati tumbuh berkembang segede gunung.

Yeku patut, Tinulat-tulat tinurut, Sapitudihira, Aja kaya jaman mangkin, Keh pra
mudha mundhi dhiri rapal makna.

Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti, seperti semua nasihatku,
jangan seperti jaman nanti, banyak anak muda yang menyombongkan diri
dengan hafalan ayat

Nora weruh, Rosing rasa kang rinuruh, Lumeketing angga, Anggere padha
marsudi, Kana-kene kahanane nora beda.

Tidak memahami, hakekat ilmu yang dicari, sebenarnya ada di dalam dirinya
sendiri, asal mau berupaya, sana sini (ilmunya) tidak berbeda.

Uger lugu, Denta mrih pralebdeng kalbu, Yen Kabul kabuki, Ing drajad kajating
urip, Kaya kang wus winahya sekar Sri Nata.

Asal tidak banyak tingkah, agar supaya merasuk ke dalam sanubari, bila berhasil
terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya, seperti yang telah tersirat
dalam tembang sinom.

Wedhatama merupakan salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang
berkeinginan laku spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan ataupun
agama apapun. Puncak dari laku spiritual yang terkandung dalam serat tersebut
adalah untuk menemukan kehidupan sejati, lebih mendalami diri sendiri,
manunggaling kawula-Gusti, dan mendapat anugerah Tuhan untuk melihat
rahasia gaib.