Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit jamur di Indonesia memiliki prevalensi yang cukup tinggi. Tingginya angka prevalensi ini dipengaruhi oleh letak geografis dan iklim negara Indonesia yang memudahkan perkembangbiakan jamur, serta perilaku masyarakat seperti mata pencaharian dan tempat tinggal yang banyak menyebabkan interaksi dengan jamur. Jamur umumnya cepat berkembang di tempat yang lembab, juga dapat berpindah melalui media air. Negara Indonesia yang beriklim tropis dan sebagian besar penduduknya agraris, menjadi salah satu negara yang memiliki potensi tinggi dalam dalam penyebaran dan interaksi jamur. Jamur merupakan tumbuhan parasit, berbentuk benang bercabang mempunyai dinding dari selulosa atau kitin atau keduanya, mempunyai protoplasma yang mengandung satu atau lebih inti, tidak mempunyai klorofil dan berkembangbiak secara seksual, aseksual dan keduanya (Gandahusada, 2000). Dari ribuan jenis jamur yang terdapat di dunia, hanya beberapa saja yang dapat menginfeksi manusia, salah satunya adalah golongan dermatofita. Jamur yang menyebabkan 80-90% infeksi pada manusia ini hidup di permukaan kulit dari turunan-turunan Trichophyton, Microsporum dan Epidermophyton (Raharja, 1993). Ketiga genus jamur di atas dapat menyebabkan tinea unguium, suatu penyakit dengan gejala klinis kuku berbentuk tidak normal, permukaan kuku tidak rata,

menebal, bergaris-garis, tegas/mudah patah, berbau busuk, warna kuku kekuningkuningan. Penanganan yang kurang cepat dari penyakit ini akan merugikan dan membahayakan, karena penyakit ini dapat menjalar ke bagian proksimal dari kuku, dimana jamur akan sulit dicapai oleh obat-obatan setempat (topikal). Lebih jauh lagi penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya pengapuran dengan cara merusak permukaan kuku. Salah satu daerah di pulau Lombok, yaitu desa Rahayu di kecamatan Aikmel kabupaten Lombok Timur memiliki penduduk dengan mata pencaharian petani sebagai mayoritas. Penduduk yang sehari-harinya bertani dan berkebun memiliki kebiasaan tidak memakai sepatu boot bahkan bertelanjang kaki saat melakukan pekerjaannya, sehingga lumpur dengan mudah masuk ke dalam kuku kaki dan menyebabkan perkembangan jamur. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran bila kebiasaan penduduk khususnya yang bekerja sebagai petani (bertani dan berkebun) tidak menggunakan alas kaki saat bekerja dan tidak memperhatikan kebersihan kuku terutama kuku kaki.

Petani terrsebut menganggap kuku khususnya kuku kaki tidak begitu penting, padahal kuku yang dalam waktu lama tidak dibersihkan akan menimbulkan bau tidak sedap dan membusuk, sehingga dapat menyebabkan penyakit pada kuku yaitu tinea unguium. Keadaan di atas mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang ada atau tidaknya jamur penyebab tinea unguium seperti Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum pada kuku petani di Desa Rahayu Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur. Selama ini Desa

Aikmel belum memiliki data mengenai prevalensi penyakit infeksi atau jamur kuku tersebut, sementara kenyataan di lapangan memungkinkan seringnya hal ini terjadi. Sehubungan dengan keadaan dan kenyataan ini, penulis terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan penelitian tentang prevalensi jamur. Dengan mengetahui prevalensi penyakit tinea unguium ini, sikap siaga masyarakat dan tenaga kesehatan terkait dapat ditingkatkan. Seperti halnya pemberian informasi dan edukasi serta deteksi dini dari Tinea Unguium yang dapat segera diobati sebelum kerusakan kuku menjadi lebih parah, karena pada umumnya, masyarakat datang ke pusat pelayanan kesehatan setelah terjadi kerusakan pada kuku.

1.2 Rumusan Masalah Berapa besarkah prevalensi infeksi jamur Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum penyebab Tinea unguium pada petani di Desa Rahayu KecamatanAikmel Kabupaten Lombok Timur ?

1.3 Tujuan Penelitian Untuk mengetahu prevalensi infeksi jamur Trichophyton rubrum,

Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum penyebab Tinea unguium pada petani di Desa Rahayu Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat dari penelitian ini adalah 1. Diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat di Desa Rahayu Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur mengenai jamur yang dapat menyebabkan Tinea unguium. 2. Memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bidang keilmuan. 3. Memberikan inisiatif kepada tenaga kesehatan untuk lebih siaga.

1.4.2

Manfaat bagi penulis

Sebagai pembelajaran yang dapat memotivasi dalam menemukan dan meneliti sebuah pengetahuan baru sehingga dapat dijadikan pedoman atau tolak ukur oleh masyarakat.

1.4.3

Manfaat bagi pemerintah

Membantu pemerintah dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dengan mengetahui prevalensi penyakit jamur kuku dan meningkatkan program siaga untuk pencegahan dan penanggulangan lebih lanjut.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinea Unguium 2.1.1 Definisi Tinea unguium

Tinea unguium atau yang sering juga disebut onikomikosis adalah infeksi jamur pada lempeng kuku, yang sebagian besar disebabkan oleh dermatofita, berarti jamur yang keratinolitik, dimana di dalam hidupnya membutuhkan keratin. Jamur akan mengambil keratin di sekitarnya untuk hidupnya. Kuku tersusun dari keratin. Karena keratin diambil oleh jamur maka lambat laun kuku menjadi rapuh dan akhirnya rusak. (Putra, 2008)

2.1.2

Etiologi

Dermatofita adalah jamur yang paling sering menyebabkan onikomikosis. Penyebab dermatofitosis dikelompokan dalam tiga genus yaitu : Trichophyton, Microsporum dan Epidermophyton, akan tetapi yang paling sering menyebabkan tinea unguium adalah spesies Trichophyton rubrum, Trichophyton

mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum. Jamur dermatofita penyebab onikomikosis terbanyak sebesar 70% adalah Trichophyton rubrum, disusul Trichophyton mentagrophytes sebesar 19,8% dan Epidermophyton floccosum sebesar 2,2%, sisanya jamur dermatofita lainnya. (Putra, 2008)

Jamur Trichophyton, Epidermophyton dan Microsphorum selain dapat menyebabkan Tinea unguium juga dapat menyebabkan penyakit lain, diantaranya sebagai berikut : Tinea corporis, Tinea pedis, Tinea cruris, Tinea capitis, Tinea barbae, Tinea pavosa, Tinea imbricata. Sementara itu, Candida dan jamur nondermatofita lainnya lebih jarang menyebabkan Tinea ungium bila dibandingkan dengan dermatofita.

2.1.3

Patogenesis

Patogenesis onikomikosis tergantung pada subtipe klinis. Dalam onikomikosis subungual distal dan lateral, bentuk yang paling umum dari onikomikosis, jamur menyebar dari plantar kulit dan menyerang melalui hiponikium kuku. Peradangan yang terjadi pada bagian kuku ini menyebabkan tanda-tanda fisik onikomikosis subungual distal dan lateral yang khas.Onikomikosis superfisial putih jarang terjadi, disebabkan oleh invasi langsung dari permukaan lempeng kuku. Pada onikomikosis subungual proksimal jamur menembus melalui matriks kuku-kuku proksimal dan menginvasi sebagian lempeng kuku proksimal dalam. Endonyx onikomikosis adalah varian dari onikomikosis subungual distal dan lateral dimana jamur menginfeksi melalui kulit dan langsung menyerang lempeng kuku. Invasi kuku oleh candida tidak umum terjadi, karena jamur membutuhkan respon imun yang menurun sebagai faktor predisposisi untuk dapat menembus kuku. Meskipun candida sering terdapat pada lipat kuku proksimal atau ruang subungual pada pasien dengan paronikia kronis atau onikolisis, tetapi infeksinya hanya terjadi sekunder. Pada mukokutan kandidiasis kronis, jamur menginfeksi

lempeng kuku (nail plate) dan akhirnya lempeng kuku proksimal dan lateral lipatan kuku. (Tosti, 2010)

2.1.4

Faktor predisposisi

Faktor predisposisi yang memudahkan terjadinya onikomikosis yaitu kelembaban, oklusi, trauma berulang pada kuku serta penurunan imunitas. Gaya hidup tertentu misalnya penggunaan kaos kaki dan sepatu tertutup terus menerus, olahraga berlebihan, penggunaan tempat mandi umum, akan memudahkan terjadi onikomikosis. Penurunan imunitas dapat terjadi pada orangtua, pasien immunocompromised, penggunaan obat imunosupresan dan antibiotik jangka panjang. Pada anak-anak onikomikosis jarang ditemukan, kemungkinan dihubungkan dengan paparan terhadap penyebab relatif jarang, pertumbuhan kuku yang lebih cepat, dan prevalensi tinea pedis yang rendah. (Unandar, 2001)

2.1.5

Gejala klinis

Onikomikosis biasanya asimtomatik, karena itu pasien biasanya pertama kali hadir untuk alasan estetika fisik tanpa keluhan. Ketika penyakit berkembang, onikomikosis dapat mengganggu aktivitas berdiri, berjalan, dan berolahraga. Pasien dapat mengeluh parestesia, nyeri, ketidaknyamanan, dan kehilangan ketangkasan. Mereka juga dapat melaporkan kehilangan harga diri dan kurangnya interaksi sosial. Anamnesis yang cermat dapat mengungkapkan banyak faktorfaktor risiko lingkungan dan pekerjaan yang mungkin menjadi penyebab dari onikomikosis. (Tosti, 2010)

Kuku yang terinfeksi memiliki bentuk yang tidak normal tetapi tidak gatal atau terasa sakit sekali. Infeksi ringan hanya memberikan sedikit gejala atau bahkan tidak menimbulkan gejala. Pada infeksi yang lebih berat, kuku tampak keputihan, menebal dan terlepas dari dasar kuku. Biasanya sisa-sisa peradangan terkumpul di bawah ujung kuku. Onikomikosis yang disebabkan dermatofita, yakni tinea unguium dan gambaran tersering yang terjadi adalah distrofi dan debris pada kuku subungual distal. Selanjutnya onikomikosis yang disebabkan kandida sering didahului oleh paronikia atau peradangan jaringan sekeliling kuku yang kronik akibat pekerjaan basah atau iritasi kronik. (Sjamsoe dkk, 2005) Berdasarkan sumber data yang di kutip dari eMedicine Journal: Onychomycosis, terdapat empat jenis onikomikosis, sebagai berikut: 1. Onikomikosis subungual distal dan lateral (OSDL) Onikomikosis subungual distal dan lateral adalah bentuk yang paling umum dari tinea unguium yang biasanya disebabkan oleh Trichophyton rubrum. Bentuk ini mulai dari tepi distal atau distolateral. Proses ini menjalar ke

proksimal dan di bawah kuku terbentuk sisa kuku yang hancur. Jamur menyerang dasar kuku di bawah lempeng kuku melalui hiponikium dan bergerak ke arah proksimal. Kulit telapak kaki dan tangan merupakan lokasi infeksi primer. Invasi juga dapat dimulai dari lateral. Dalam onikomikosis subungual distal dan lateral, kuku menunjukkan hyperkeratosis subungual dan onikolisis, yang biasanya berwarna kuning-putih. Coretan kuning dan atau

daerah onikolitik kuning di bagian tengah lempeng kuku yang umumnya diamati. 2. Onikomikosis superfisial putih (OSPT) Disebabkan oleh invasi jamur ke lapisan superfisial lempeng kuku yang membentuk "pulau-pulau putih" di lempeng. Terjadi bila jamur menginvasi langsung lapisan superfisial lempeng kuku. Kuku menjadi kasar dan runtuh dengan mudah, dimana jumlahnya hanya 10 % dari kasus onikomikosis dan sebagai penyebab tersering adalah T. mentagrophytes. 3. Onikomikosis subungual proksimal (OSP) Infeksi dimulai dari lipatan kuku proksimal melalui kutikula dan masuk ke kuku yang baru terbentuk, selanjutnya bergerak ke arah distal. Muncul daerah leukonikiadi lempeng kuku proksimal yang bergerak distal dengan

pertumbuhan kuku. Ini adalah bentuk umum dari tinea unguium pada orang sehat, tetapi ditemukan lebih banyak pada pasien immunocompromised. 4. Onikomikosis kandida (OK) Spesies Candida menyerang kuku biasanya terjadi pada orang yang sering membenamkan tangan mereka di dalam air. Dapat terjadi pada pasien immunocompromised, dan pada orang dengan kandidiasis mukokutan kronis. Infeksinya dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu : (1) Dimulai sebagai paronikia yang kemudian menginvasi matriks kuku sehingga memberikan gambaran klinis depresi transversal kuku sampai kuku menjadi cekung, kasar, dan akhirnya distrofi; (2) Pada kandidiasis mukokutan kronis, kandida langsung menginvasi lempeng kuku sehingga baru pada stadium lanjut tampak

sebagai pembengkakan lipat kuku proksimal dan lateral yang membentuk gambaran pseudoclubbing atau chicken drumstick; dan (3) Invasi pada kuku yang telah onikolisis, terutama pada tangan, tampak sebagai hyperkeratosis subungual dengan massa abu-abu kekuningan di bawahnya. Pada keadaan lanjut keempat tipe tersebut akan menunjukkan gambaran distrofik total.

2.1.6

Diagnosis

Penyebab pasti ditentukan dengan pemeriksaan kerokan kuku dengan KOH 20 % untuk mempermudah lisis keratin. Zat pewarna tambahan misalnya tinta Parker blue-black atau pewarnaan PAS akan mempermudah visualisasi jamur. (Unandar, 2001). Dapat pula dilakukan biakan untuk menemukan elemen jamur dengan media agar Sabouraud. (Unandar, 2000) Untuk mengetahui suatu ruam yang disebabkan oleh infeksi jamur, biasanya kita lakukan pemeriksaan kerokan dari ruam tersebut. Untuk mengumpulkan spesimen kerokan kukunya hapus beberapa kali kuku yang akan dikerok dengan kapas yang dibasahi dengan alkohol 70%. Bagian yang dikerok sebaiknya bagian pinggir lesi yang aktif. Keroklah bagian tersebut dengan scalpel lalu kerokan kuku ditampung dalam sebuah cawan petri. Hasil kerokan tersebut diletakkan di atas deck glass dan ditetesi dengan larutan KOH 10-20 persen. Kemudian ditutup dengan object glass dan dipanaskan dengan lampu Bunsen sebentar untuk memfiksasi, kemudian dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 kali. Kalau lesi tersebut adalah ruam karena infeksi jamur, akan kita lihat adanya spora ataupun hifa. (Mansur, 2005)

10

Selanjutnya untuk mengetahui golongan ataupun spesies daripada jamur dilakukan pembiakan dengan SBM yang standar yaitu SBM Saboraud Agar. Kadang-kadang kita perlukan juga SBM mikobiotik. Setelah kurang lebih dua minggu koloni dari jamur mulai dapat dibaca secara makroskopis. Untuk mengetahui spesies jamur harus diperhatikan bentuk daripada koloni, warna daripada koloni, permukaan koloni, apakah datar, atau bergelombang, apakah basah atau kering. Setelah itu dilakukan pemeriksaan secara mikroskopis dengan menggunakan sengkelit diambil spesimen dari koloni dan diletakkan di object glass. Setelah itu ditetesi dengan larutam KOH 10-20% dan selanjutnya ditutup dengan deck glass dan difiksasi dengan lampu Bunsen serta dilihat dengan mikroskop dengan pembesaran 40 kali. Dalam hal ini yang perli diperhatikan adalah bentuk dari hifa bersepta atau tidak, atau berspora karena masing-masing spesies jamur mempunyai karakteristik dalam bentuk hifa ataupun sporanya. (Mansur, 2005) Bila secara klinis kecurigaan onikomikosis besar, tetapi hasil sediaan mikroskopik langsung maupun biakan jamur negatif, jadi dengan pemeriksaan histopatologi dapat membantu. Dapat dilakukan biopsi kuku atau cukup nail clipping pada OSDL.Pemeriksaan ini sekaligus membantu dalam memastikan bahwa jamur terdapat dalam lempeng kuku dan bukan merupakan komensal atau kontaminan di luar lempeng kuku. (Unandar, 2001)

11

2.1.7

Penatalaksanaan penatalaksanaan onikomikosis adalah menghilangkan faktor

Prinsip

predisposisi yang memudahkan terjadinya penyakit, serta terapi dengan obat antijamur yang sesuai dengan penyebab dan keadaan patologi kuku. (Unandar, 2001). Untuk membatasi kemungkinan kambuh, kuku harus tetap pendek, kaki harus dikeringkan setelah mandi, kaus kaki yang menyerap keringat harus dipakai, dan bedak kaki anti jamur dapat digunakan. 1. Pengobatan sistemik dilakukan dengan menggunakan obat anti jamur griseofulvin dan ketokonasol, flukonazol, itrakonazol, dan terbinafin. Griseofulvin tidak lagi merupakan obat pilihan untuk tinea unguium karena memerlukan waktu lama, sehingga kemungkinan terjadi efek samping lebih besar, serta kurang efektif. (Unandar, 2001) 2. Pengobatan tropikal yang lazim digunakan biasanya acidum salicylicum 220%, acidum benzoicum 6-12%, sulfur praecipitatum 4-10%, tolnaftate 2%, asam-asam lemak tak jenuh 5-10%, derivat-derivat asol (mikonasol, ekonasol, klotrimasol dan isokonasol), tolsiklat dan haloprogin. Obat topikal berbentuk krim dan solusio sulit untuk penetrasi ke dalam kuku, sehingga tidak efektif untuk pengobatan onikomikosis. Diperlukan ketekunan pasien karena umumnya masa pengobatan panjang. Meskipun penggunaan obat topikal mempunyai keterbatasan, namun masih mempunyai tempat untuk pengobatan onikomikosis karena tidak adanya risiko sistemik, relatif lebih murah, dan dapat sebagai kombinasi dengan obat oral untuk

12

memperpendek masa pengobatan, selain itu bentuk cat kuku mudah digunakan. (Unandar, 2001)

2.1.8

Prognosis

Meskipun diterapi dengan obat dosis optimal, 1 di antara 5 kasus onikomikosis ternyata tidak memberi respon baik. Penyebab kegagalan diduga adalah diagnosis yang tidak akurat, salah identifikasi penyebab, adanya penyakit yang lain. Pada beberapa kasus, karakteristik kuku tertentu, yaitu pertumbuhan lambat serta sangat tebal juga merupakan penyulit, selain faktor predisposisi terutama keadaan immunocompromised. (Unandar, 2001)

2.2 Trichophyton

rubrum,

Trichophyton

mentagrophyta

dan

Epidermophyton floccosum 2.2.1 Klasifikasi

1. Taksonomi Trichophyton rubrum, dan Trichophyton mentagrophytes Kingdom Divisio Sub Divisio Klas Ordo Famili Genus : Plantae : Mycota : Eumycotina : Deuteromycetes : Moniliales : Moniliaceae : Trichophyton rubrum, dan Trichophyton mentagrophytes

13

2. Taksonomi Epidermophyton floccosum Kingdom Divisio Sub Divisio Klas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Mycota : Eumycotina : Deuteromycetes : Moniliales : Moniliaceae : Epidermophyton : Epidermophyton floccosum

2.2.2

Gambaran morfologi

Gambaran morfologi jamur dilihat secara microskopik dari kerokan kuku yang dibiakkan pada media agar Sabourout. a. Morfologi jamur Trichophyton rubrum 1. Mikrokonidia kecil, bersel satu, berbentuk lonjong. 2. Mikrokonidia tersusun satu persatu atau berkelompok. 3. Hifa halus dan agak lurus. b. Morfologi jamur Trichophyton mentagrophytes 1. Mikrokonidia kecil, bersel satu, bentuk

bulat, menyerupai tangkai buah anggur.

14

2. c.

Hifa berbentuk spiral.

Morfologi jamur Epidermophyton floccosum 1. 1 konidiofora. 2. 3. Makrokonidia berbentuk gada. Makrokonidia mengandung 2 4 buah sel. Makrokonidia dapat tersusun 2-3 buah pada

2.3 Kerangka Konsep BERTANI TANPA ALAS KAKI DAN BEKERJA 5 TAHUN

JAMUR KUKU (Tinea unguium)

KEBERSIHAN KAKI

15

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian Penelitian ini mempergunakan desain deskriptif untuk memperoleh gambaran umum mengenai jumlah petani yang telah bertani selama lima tahun yang mengalami Tinea unguium di desa Rahayu, kecamatan Aikmel, kabupaten Lombok Timur.

3.2 Populasi Penelitian Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah petani yang secara representatif dipilih di desa Rahayu.

3.3 Besar dan Cara Pengambilan Sampel Penentuan besar sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan terhadap konsep accessible, affordable, dan managable dengan mengambil sampel petani di desa Rahayu, kecamatan Aikmel, kabupaten Lombok Timur. Dimana dari daerah tersebut diambil 96 orang petani yang telah bekerja sebagai petani selama 5 tahun sebagai sampelnya.

16

Untuk memperoleh sampel yang representatif, dilakukan pengambilan sampel dengan metode simple random sampling dimana dilakukan penarikan sampel secara acak. Besarnya sampel dapat dihitung menggunakan rumus: Z 2 PQ n = 2 d

3.4 Variabel 3.4.1 Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama bekerja sebagai petani.

3.4.2 Variabel tergantung Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah jenis jamur yang menyebabkan Tinea unguium.

3.5 Definisi Operasional Variabel 1. Tinea unguium adalah merupakan penyakit infeksi kuku yang disebabkan oleh jamur Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes,

Epydermophyton flocosum (Gandahusada, Parasitologi Kedokteran, Edisi 2000, Gaya Baru, Jakarta). Yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan terhadap kerokan kuku dengan KOH 20 % dan diamati di bawah mikroskop. 2. Petani adalah orang yang bekerja sebagai tani (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1987). Yang telah bekerja selama 5 tahun serta merupakan penduduk tetap desa Rahayu.

17

3.6 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rahayu, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur selama 3 minggu yang di mulai pada tanggal 13 juni 2011 sampai dengan tanggal 1 Juli 2011.

3.7 Alat dan Cara Pengumpulan Data Data diperoleh dengan cara mengambil sampel kerokan kuku pada petani di desa Rahayu, kecamatan Aikmel, kabupaten Lombok Timur yang bekerja lebih dari 5 tahun, kemudian dilakukan identifikasi mikroskopik terhadap jamur Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum pada kuku tersebut di laboratorium.

3.8 Prosedur Penelitian 1. Pencarian dan penentuan responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi 2. Pengambilan sampel kerokan kuku pada petani dan melakukan intepretasi. 3. Menghitung prevalensi.

3.9 Cara Analisa Data

18

Data yang terkumpul diadakan analisa berdasarkan persentase, kemudian data tersebut disajikan dalam bentuk tabel distribusi tunggal, grafik batang, dan juga grafik lingkaran. Hasilnya digunakan untuk menarik kesimpulan. Persentase petani di desa Rahayu yang terinfeksi Tinea unguinum dapat

dihitung dengan rumus:


jumlah sampel yang terinfeksi (+) 100% jumlah sample total

3.10 Jadwal Kegiatan No 1 2 3 4 5 6 Kegiatan Pembuatan proposal Observasi tempat dan penentuan responden Pengambilan korekan kuku petani (specimen) Analisis laboratorium Tabulasi dan intepretasi data Penyusunan laporan Bulan 2 3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1

19