Anda di halaman 1dari 14

PEMERIKSAAN PARU Sebagaimana pemeriksaan penyakit yang lainnya dalam bab Pemeriksaan Paru akan dibicarakan tentang pemeriksaan

fisik paru, pemeriksaan radiology dan pemeriksaan laboratorium. Dalam pemeriksaan fisikvakan dibicarakan pula anamnesis yang menyangkut keluhan utama dan riwayat penyakit. Dalam keluhan utama akan dibicarakan kembali tentang batuk dan sesak napas. Batuk dibagi menjadi batuk yang produkstif dan nonproduktif berdasarkan sputum yang dihasilkan, demikian pula sebabsebab dari batuk darah adan dibicarakan dalam bab ini. Sesak napas yang terjadinya akut, seperti pneumotoraks, yang terjadinya berjamjam, seperti asma, dan yang berhari-hari, seperti pneumonia akan dibicarakan dalam riwayat penyakit. Demikian pula wheezing (mengi) yang terdapat pada asma dan nyeri dada serta distribusinya akan dibicarakan dalam bab ini. Dalam riwayat penyakit dikemukakan pula ortopnea dan terdapatnya sianosis yang terutama disebabkan oleh adanya hubungan arteriovenosus tanpa melalui Unit Paru termasuk pula sebagai tanda fisik dari diagnosis paru. Faktor-faktor pendukung yang lainnya yang terdapat di dalam pemeriksaan fisik paru, yakni peninggian tekanan vena jugularis, edema pada ekstremitas, manifestasi kulit, terutama untuk berbagai penyakit kolagen paru, terdapatnya jari tambur atau clubbing fingers didapatkan pada berbagai penyakit yang akan dibicarakan di dalam bab ini. Sebagaimana fisik diagnosis dari berbagai penyakit pada umumnya, maka dalam bab ini akan dibicarakan tentang inspeksi, palpasi, perkusi dan austulkasi dari paru-paru. Dalam bab Pemeriksaan Paru ini akan dibicarakan pula pemeriksaan radiology interpretasi foto, akan tetapi tidak dibicarakan tentang teknik radiologinya. Interpretasi foto dihubungkan dengan gambaran anatomi hubungan antara bayangan yang didapat dengan diagnosis histopatologi. Sebagaimana diketahui pembacaan dari interpretasi foto berdasarkan dari kemungkinan diagnosis histopatologi yang diinterpretasikan, yakni berdasarkan bayangan yang dapat dilihat (misalnya terdapat bayangan yang homogen dengan meniscus di lapangan bawah paru, maka dibaca sebagai kemungkinan efusi pleura). Salah satu masalah yang paling rumit, yakni terdapatnya nodul soliter dan kemungkinan-kemungkinan diagnosis dengan radiology, yakni dengan memberikan

radioisotop, baik melalui pembuluh darah maupun melalui inhalasi yang banyak manfaatnya untuk mengetahui trombus dan embolus yang terdapat di dalam paru-paru akan dibicarakan pula dalam bab ini. Suatu cara pemeriksaan yang banyak digunakan sekarang ini adalah Computer Tomografi Scaner yang lebih dikenal dengan nama CT-Scan dan Ultrasonografi (USG) akan disinggung pula dalam bab ini. Pemeriksaan dari sputum dan gas darah, yakni dua pemeriksaan laboratorium dimana pemeriksaan sputum lebih banyak diarahkan untuk diagnosis, sedangkan pemeriksaan gas darah lebih banyak diarahkan untuk menilai tingkat penyakit maupun hasil dari suatu pengobatan akan dibicarakan dalam bab ini. Pemeriksaan faal paru sebagai akibat dari kelainan histopatologi yang dapat menyebabkan perubahan faal restriktif maupun faal obstruktif dapat dinilai dengan pemeriksaan spirometer, demikian pula kelainan yang menyangkut defekperfusi yang berhubungan dengan kelainan intra-alveoli maupun kelainan interstisial yang dapat dinilai dengan DCO akan dibicarakan pula dalam bab ini. Akan tetapi kelainan mismatch, yakni kelainan perfusi akan dibicarakan di dalam scanning paru, sementara itu kelainan yang diakibatkan oleh hubungan arteriovenula akan dibicarakan di dalam bab pernyakit paru interstisial. Pemeriksaan Fisik Paru Ada sepuluh gejala-gejala yang dapat mengarahkan diagnosis kepada penyakit paru-paru, yakni : 1. Batuk Batuk adalah reaksi akibat iritasi pada saluran pernapasan bagian atas, nasofaring, dan juga saluran pernapasan bagian bawah. Batuk yang menetap cenderung didapat pada perokok, bronchitis, asma, sinusitis, post nasal drip atau kanker paru. Ada 3 gejala batuk yang menunjukkan adanya kelainan dari paru-paru, yakni : Batuk yang menetap Nyeri di dada bila batuk Produksi sputum yang banyak atau berdarah

Batuk yang persisten menunjukkan adanya trakeitis. Batuk dengan nyeri yang unilateral pada dada mengarah ke efusi pleura. Batuk dengan nyeri pada dada merupakan indikasi ke arah pneumonia. Batuk dengan sputum menunjukkan adanya sekresi dari bronkus. Batuk kering yang menyebabkan pasien terbangun dari tidur mengarah kepada edema paru yang disebabkan oleh karena adanya parah jantung. Batuk yang sangat keras diikuti oleh kontraksi dari otot-otot pernapasan menunjukkan adanya benda asing pada trakea. Batuk lembu (bouvine cough) merupakan tanda khas dari paresis pita suara akibat tertutupnya glotis, batuk keras sampai pingsan menunjukkan adanya infeksi kronik pada saluran napas. Batuk pendek menunjukkan adanya infeksi karena virus. Batuk kronik terdapat pada perokok dan alergis. Batuk dari saluran napas atas tidak sehebat batuk dari saluran napas bawah. Dari batuk ini dapat mengarahkan diagnosis, yakni sebagai berikut : Post nasal drip menyebabkan batuk ringan pada siang hari, yang kadang-kadang menjadi batuk yang produktif. Bronchitis, yakni batuk berdahak yang produktif, terutama pada pagi hari, sedangkan sputum yang kental dan cenderung purulen menunjukkan adanya brokiektasis. Batuk bersuling menunjukkan adanya kompresi pada saluran napas. Batuk sapi menunjukkan adanya paralysis pita suara. Batuk selama tidur atau sesudah makan menunjukkan aspirasi. Bila batuk tidak diketahui sebabnya, maka harus dicari penyebabnya, yakni di : Telinga, hidung, tenggorokan Sinus Pemeriksaan faal paru Sputukm untuk TB, sitologi dan eosinofil Bronkoskopi Sediaan hapus dari hidung untuk eosinofil

Salah satu gejala dari penyakit paru-paru yang penting adalah batuk darah. Penyebab dari batuk darah antara lain : Tumor : karsinoma adenoma

tumor endobronkial Infeksi paru : aspergiloma bronkiektasis tuberkulosa abses paru Infarks paru Edema paru : mitral stenosis dekompensasi ventrikel kiri Penyakit-penyakit hemoragik paru (pulmonary haemorrhage) sistemik lupus eritematosus sindroma goodpasture pulmonary haemosiderosus idiophatic vaskulitis pulmonal sindroma Behcet Trauma : kontusio paru biopsy transbonkial biopsy bronkoskopi Abnormalitas pembuluh darah : malformasi arteriovenosus teleangiektasi haemoragik herediter Diatesis hemoragik

2.

Dispne Dispne adalah timbulnya perasaan subyektif akan sulitnya bernapas. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa dispne terjadi bila gerakan dari rongga dada tidak cukup untuk memenuhi ventilasi alveoli. Oleh karena besarnya batas antara pernapasan biasa dan nilai maksimum yang dapat dilakukan oleh paru (MBC), maka dispne merupakan keluhan dini dari penyakit paru. Akan tetapi dispne yang berhubungan dengan olahraga merupakan tanda dini dari penyakit asma, COPD dan hipertensi pulmonal yang lanjut. Serangan dispne yang dramatis menunjukkan adanya pneumotoraks atau emboli paru. Nocturnal dyspnoe (dispne malam hari) menunjukkan adanya payah jantung kiri. Sesak napas baik dengan atau tanpa disertai wheezing (mengi) menunjukkan adanya alergi. Sesak yang terjadi berminggu-minggu menunjukkan adanya efusi pleura. Sesak yang kronik dan progresif menunjukkan adanya penyumbatan bronkiolus atau menunjukkan adanya proses fibrosis paru. Penyebab dari dispne dapat juga diketahui dari berapa lama berlangsungnya dispne tersebut : Akut dan segera pneumotoraks edema paru emboli paru inhalasi benda asing Berjam-jam asma dekompensasi ventrikel kiri pneumonia edema laring Berbulan-bulan tumor fibrosis paru tirotoksikosis kelemahan otot Berminggu-minggu efusi pleura anemia kelemahan otot

Berhari-hari pneumonia ARDS Dekompensasi ventrikel kiri

Bertahun-tahun COPD kelainan rongga toraks kelemahan otot

3.

Wheezing (Mengi) Wheezing yang persisten menunjukkan adanya asma, bronchitis atau emfisema.

4.

Nyeri Dada Walaupun parenkim paru dan pleura viseralis tidak mempunyai reseptor rasa sakit, tetapi nyeri dada selalu merupakan keluhan utama pada penyakit paru. Rasa nyeri ini juga dirasakan pada hipertensi pulmonal, disamping infark jantung. Pada kanker paru juga dirasakan nyeri yang unilateral. Macam-macam nyeri dada : Nyeri yang terdapat pada bagian sentral dari dada menunjukkan adanya infeksi pada trakea. Nyeri yang terdapat pada samping dada yang karakteristik seperti ditusuk dan semakin sakit pada inspirasi menunjukkan adanya pleuritis. Nyeri juga dapat disebabkan oleh herpes dan sulit dibedakan dengan nyeri yang berasal dari serabut saraf kolumna vertebralis. Nyeri juga terjadi akibat fraktur iga atau metastasis tumor Nyeri ketika bernapas dan menyebar ke dada, seperti nyeri angina dapat disebabkan oleh kanker paru. Hubungan antara lokasi dan distribusi dari nyeri dan penyebabnya dapat dilihat sebagai berikut : Distribusi nyeri Nyeri local dan lunak Nyeri dan bengkak pada kostokondral Penyebab Fraktur Perikondritis

Nyeri yang berhubungan dengan jalannya saraf tigaN Nyeri di belakang dan merasa terbakar Nyeri local dan lunak

Herpes zoster Tumor atau keganasan pada ruas tulang belakang Virus Coxsackie B

Bentuk-bentuk rasa sakit dan penyakit yang menimbulkannya adalah sebagai berikut : Bentuk sakit Rasa diikat atau rasa berat Nyeri yang sangat Seperti nyeri angina, tetapi berubahubah pada perubahan posisi tubuh Seperti nyeri jantung yang menyebar sampai ke punggung Rasa terbakar di belakang dada Nyeri retrosternal pada waktu inspirasi yang dalam Nyeri tumpul di tengah dada Nyeri yang tajam 5. Ortopnea Hipoksemia akan bertambah bila kita berbaring, terutama pada pasien yang berpenyakit paru dan gemuk. Hal ini disebabkan karena proses ventilasi dan perfusi hanya terjadi pada sebagian paru saja, disamping itu diaphragma akan tertekan oleh organ-organ dalam perut. Berkurangnya volume paru pada posisi terlentang mungkin pula disebabkan oleh karena menyempitnya brokus sehingga terjadi air tappering. Tekanan arteri pulmonal juga meninggi pada posisi berbaring. Hal ini diakibatkna karena bertambahnya aliran darah atau hipoksemia. Kontriksi dari cabang-cabang arteri pulmonal ketika berbaring menambah mismatch. Sebaliknya pada sirosis Tumor Limfadenopati Esofagitis Trakeitis Diseksi aorta akut Ke arah diagnosis Angina Emboli massif Perikarditisu

hepatis pada posisi duduk dapat menyebabkan bertambahnya sesak. Hal ini disebabkan karena bertambahnya aliran darah yang menuju ke hati. 6. Sianosiss Sianosis adalah keadaan membirunya jaringan yang dapat dilihat pada bibir, telinga, kaki dan kuku. Hal ini disebabkan oleh karena bertambahnya Hb yang tereduksi di dalam kapiler, dimana tidak terjadi oksigenasi dari darah arteri. Dapat juga disebabkan karena digunakannya oksigen oleh jaringan yang lebih besar dibandingkan dengan oksigen yang diserap oleh paru. Tingkat sianosis bukan ditentukan oleh persentase dari Hb yang tereduksi pada darah kapiler, tetapi oleh karena jumlah absolut, yakni sedikitnya terdapat 5 gram Hb reduksi di dalam 100 cc darah. Atau dengan perkataan lain 66% dari saturasi oksigen dapat menimbulkan sianosis. Akan tetapi pada anemia 33% dari saturasi oksigen telah dapat terlihat adanya sianosis. Sianosis tidak mudah dibaca pada orang Negro, akan tetapi dapat mudah dibaca pada orang kulit putih, walaupun saturasi oksigen baru mencapai kurang dari 85%. Sianosis banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit paru-paru yang disebut dengan sentral sianosis yang berhubungan dengan penyakit fibrosis paru atau COPD, dimana terjadi ventilasi perfusi mismatch (ketidakseimbangan ventilasi perfusi). Bisa pula terjadi karena malformasi arteriovenosus dan pulmonary shunt pada sirosis yang lanjut. Pada beberapa keadaan sianosis dapat terjadi pada methemoglobinemia yang disebabkan oleh berbagai obat. 7. Tekanan Vena Jugularis Sering terdapat pada COPD, akan tetapi dapat juga disebabkan karena tekanan intratoraks yang meninggi yang biasanya terjadi pada asma atau emfisema. Pada beberapa keadaan dimana terjadi obstruksi pada jalan napas tekanan intratoraks juga meninggi, terutama pada waktu ekspirasi. Akan tetapi peninggian dari tekanan vena jugularis disebabkan oleh karena keganasan terutama oleh kelenjar pada trakea. Penyebab yang lain selain keganasan adalah karena fibrosis mediastinum atau aneurisma aorta.

8.

Edema Perifer Edema pada tungkai, terutama terdapat pada COPD, bronchitis dan hiperkapnia. Pada pasien dengan pernapasan hipoksik normokapnik, jarang terjadi edema. Pada pasien dengan edema kadang-kadang tekanan vena jugularisnya tidak meninggi. Terjadinya edema pada ekstremitas disebabkan oleh karena faktor-faktor yang lain.

9.

Kulit Berbagai manifestasi pada kulit yang disebabkan oleh penyakit pada pernapasan antara lain : Eritema nodosum (disebabkan oleh sarkoidosis dan tuberculosis) Nodul pada kulit (sarkoidosis) Lupus pernio (sarkoidosis) Rash yang berbentuk kupu-kupu (SLE)s

10.

Jari Tambur (Clubbing Fingers) Penyebab terjadinya jari tambur (clubbing fingers) Tumor Karsinoma bronkus Tumor intratoraks jinak Mesotelioma Fibrosis Alveolitis fibrosis Asbestosis Infeksi intratoraks kronik Bronkiektasis Abses paru Fibrosis kista

Empiema kronik Kelainan kardiovaskuler Fistula arteriovenosus paru Penyakit sianosis congenital Endokarditis bakteri Miksoma atrial Sebab-sebab ekstratoraks Sirosis Penyakit Crohn Familiar Congenital

Fisik Diagnosis Inspeksi Pengembangan dari kedua sisi toraks harus terlihat simetris pada waktu inspirasi. Bila tangan diletakkan pada kedua sisi sternum, maka dapat diraba gerakan anteroposterior dan bila diletakkan pada bagian bawah toraks, maka akan dapat diraba gerakan ke luar dan ke dalam. Kedua gerakan ini berkurang pada keadaan : Hiperinflasi (emfisema) Berkurangnya compliance paru (fibrosis) Berkurangnya compliance rongga dada (ankilosis, spondilitis) Gerakan otot yang berkurang (miastenia gravis) Berkurangnya gerakan toraks ipsilateral (pneumotoraks dan efusi pleura, penebalan pleura, konsolidasi) Gerakan pernapasan juga berubah oleh berbagai penyakit. Pada paru-paru yang mengeras (stiff lung) gerakan pernapasan akan berkurang dan dangkal. Pada pasien asma

ekspirasi akan lebih panjang dibandingkan dengan inspirasi dan pada pasien dengan dekompensasi jantung kiri mempunyai pernapasan yang periodic. Pasien dengan kelemahan diafragma, maka abdomennya akan bergerak paradoksal, yakni pada waktu inspirasi akan bergerak ke dalam dan ke luar bila pasien dalam posisi terlentang. Trakea dan apeks jantung juga merupakan tanda yang penting bagi berbagai kelainan paru-paru. Jarak antara lekuk suprasternal dan tulang rawan krikoid adalah sebesar 3-4 jari. Bila jarak ini berkurang, maka menandakan adanya hiperinflasi paru. Apeks jantung yang berpindah bukan hanya disebabkan oleh karena pembesaran ventrikel saja akan tetapi juga oleh berbagai penyakit mediastinal. Kelenjar Llimfa Dapat terlihat pembesaran kelenjar limfa pada leher maupun pada fosa supraklavikula. Fosa supraklavikula akan mendatar bila terdapat fibrosis di apeks paruparu. Iga yang tertarik menunjukkan adanya hiperinflasi paru. Bila unilateral maka menunjukkan adanya atelektasis. Bertambahnya ukuran diameter anteroposterior selain dari dada tong (barrel chest) pada emfisema, juga dapat disebabkan oleh karena berkurangnya parameter longitudinal, yakni oleh karena osteoporosis. Selain itu dapat pula disebabkan oleh karena kolapsnya kolumna vertebralis. Pada rongga dada dapat terjadi kifosis, skolisosis atau kifoskoliosis. Dada burung (chickens chest) adalah bentuk dada yang diakibatkan oleh asma sejak masa bayi. Palpasi Pengembangan rongga toraks yang asimetris menunjukkan adanya kelainan anatomi. Irama apeks paru menghilang pada emifesa dan pada atelektasis paru menyebabkan lokasinya berubah. Pada anak-anak perubahan lokasi ini terjadi karena berpindahnya mediastinal. Trakea yang pendek (jarak antara tulang rawan krikoid ke sudut sternum)s disebabkan oleh karena hiperinflasi dari paru-paru. Pembesaran kelenjar limfa disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi dan atau metastasis tumor dan penyakit darah.

Perkusi Membandingkan antara kiri dan kanan, antara daerah yang satu dengan yang lainnya, dan dilokalisir daerah yang mempunyai kelainan pada perkusi. Pada daerah paru-paru sendiri perkusi seharusnya sonor, akan tetapi apabila terdapat konsolidasi, maka akan terjadi pekak. Pada pasien yang normal pekak hepar terdapat pada iga IV pada waktu pasien berbaring. Hipersonor didapat pada emfisema, pneumotoraks, dan bula. Pekak didapat pada efusi pleura, atelektasis dan konsolidasi. Pekak yang tidak seberapa didapat pada fibrosis, penebalan pleura dan tumor perifer. Pekak pada daerah basal didapat oleh karena peninggian diafragma atau oleh karena efusi pleura. Fremitus yang dapat diraba (taktil) dan fokal sonor adalah merupakan tanda yang secara kasar menunjukkan bertambahnya konsolidasi atau berkurangnya cairan. Hipersonor disebabkan oleh hiperinflasi kedua paru. Bila asimetris dapat disebabkan oleh gas lambung dan pneumotoraks. Hilangnya daerah jantung atau hepar menunjukkan adanya emfisema. Auskultasi Pada pasien dalam posisi berbaring maka terdengarnya bising pernapasan selalu berhubungan dengan sumbatan dari saluran pernapasan dan berbanding lurus dengan faal obstruksif paru, akan tetapi kedua tanda ini hanya terdapat pada bronchitis kronik dan asma, dan tidak terdapat pada emfisema. Suara pernapasan yang menghilang pada suatu daerah menunjukkan adanya pneumotoraks, efusi pleura, bula atau atelektasis. Suara pernapasan yang kasar dengan nada yang tinggi menunjukkan adanya penghantaran oleh konsolidasi. Penyebaran bunyi dengan nada yang tinggi menunjukkan adanya kavitas yang diselaputi oleh konsolidasi yang disebut juga dengan wishpered pectoriloquy (penghantaran bunyi dari kata-kata yang dibisikkan melalui dinding dada), biasanya bunyi ini disertai dengan ronki, wheezing, atau gesekan pleura. Stridor atau suara pernapasan yang ribut harus dibedakan dengan wheezing yang menunjukkan adanya suara udara yang bergolak. Kerasnya suara pernapasan, terutama

kalau membuka mulut menunjukkan adanya asma, emfisema, atau bronchitis. Suara pernapasan menjadi hilang pada efusi pleura, pneumotoraks atau atelektasis. Suara Bronkus Suara bronkus lebih kasar dan lebih keras daripada suara vesicular menunjukkan adanya konsolidasi atau atelektasis. Hal ini terjadi bila bronkus tertutup sehingga yang terdengar adalah suara trakea. Bronkofoni (Spoken Sound) Bronkofoni atau spoken sound terdengar bila terdapat konsolidasi. Egofoni terjadi apabila pasien menyebutkan sembilan puluh sembilan, yakni terdengar seperti suara kambing yang menunjukkan batas atas dari efusi pleura. Ronki Low pitched akibat dari produksi mucus yang berlebihan pada emfisema atau bronchitis kronik. Bila high pitced, menunjukkan adanya penyempitan bronkus. Suara ini dihasilkan dari saluran pernapasan yang tiba-tiba terbuka sehingga suara ini adalah gabungan antara osilasis dari dinding dan jalan napas. Suara ini jelas terdengar pada permulaan inspirasi yang merupakan tanda dari edema paru. Dapat juga merupakan tanda pneumonia bila terjadi pada akhir inspirasi dan apabila makin mengeras maka menunjukkan adanya proses fibrosis alveolitis. Ronki terjadi oleh karena pecahnya gelembung-gelembung udara pada waktu inspirasi. Ronki terjadi karena tertutupnya saluran pernapasan, misalnya karena rusaknya saluran pernapasan (bronkiektasis) atau karena abnormalitas cairan interstisial, khususnya pada edema atau fibrosis. Oleh karena efek gravitasi maka ronki lebih terdengar pada bagian paru-paru yang bebas. Pada bronkiektasis, ronki terdengar pada pertengahan inspirasi, begitu juga pada edema paru. Penyebab ronki yang lain adalah : ARDS

Dekompensasi Pneumonia

Wheezing (Mengi) Suara musik yang disebabkan oleh karena terjadinya asilasi udara karena menyempitnya jalan napas. Bunyi ini terutama terdapat pada asma, bronchitis kronik. Pada asma yang berat wheezing dapat terdengar lebih baik pada keadaan mulut terbuka daripada di paruparu. Wheezing yang terdapat local biasanya disebabkan oleh tumor atau benda asing, wheezing ini disebut juga dengan monofonik wheezing, sedangkan wheezing yang terjadi pada asma disebut dengan polifonik wheezing. Penyempitan pada saluran napas atas dapat menyebabkan wheezing, baik pada inspirasi maupun pada ekspirasi yang sering terdengar dalam bentuk stridor. Suara Pergesekan (Friction Rub)

Anda mungkin juga menyukai