Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

FENOMENA DASAR MESIN

PERCOBAAN PERCOBAAN PENGUKURAN REGANGAN & TEGANGAN PADA BEJANA TEKAN

NAMA NIM ASISTEN

: : :

HARI MARDIYATNO 0711421

JURUSAN TEKNIK MESIN SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MANDALA

2008

1 1. Tujuan Percobaan.

Percobaan ini bertujuan untuk mengukur tegangan dan regangan pada bejana tekan dengan menggunakan strain gage. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan perhitungan teoretis. Untuk keperluan ini dipakai bejana mini (Do = 210 mm, L = 350 mm) dengan tekanan kerja maksimum 10 atm.

2.

Landasan Dasar

Dari mekanika kekuatan material, telah dipelajari bahwa struktur akan mengalami perubahan bentuk bila dibebani. Sebagai contoh, ambil kasus batang yang ditarik seperti tersaji di Gambar 1.

Gambar 1 Defleksi pada batang yang mengalami beban tarik

Perubahan panjang yang terjadi dapat diturunkan dari Hukum Hooke (Popov, 1986): =E (1)

dimana = F/A menyatakan tegangan yang terjadi [MPa], F: gaya aksial [N], A: luas penampang [m2], = L/L menyatakan regangan yang terjadi, L: perubahan panjang [m], L: panjang mula-mula [m]. Dengan demikian: (2)

Yang ingin diketahui dari pengukuran adalah besarnya tegangan (stress level). Manfaat pengukuran tegangan antara lain adalah: 1 a. memperoleh konfirmasi perhitungan teoritis 2 b. memperoleh besar tegangan di tempat yang sulit dihitung secara teoretis

2 Masalahnya, tegangan tak bisa diukur secara langsung, karena merupakan efek yang dialami bagian dalam benda. Yang bisa diukur (diindera) adalah perubahan bentuk. Dengan demikian, prinsip dasar pengukuran tegangan adalah memanfaatkan hasil pengukuran perubahan bentuk dan mengubahnya menjadi tegangan (atau gaya) melalui relasi atau hukum dasar mekanika.
Sensor Regangan: Strain Gage

Sensor atau alat ukur regangan lazim disebut strain gage (Doebelin, 1990; Dally & Riley, 1991). Di antara sekian banyak jenis, yang paling populer adalah strain gage jenis tahanan listrik. Sketsa strain gage jenis ini disajikan di Gambar 2.

Gambar 2 Strain gage jenis tahanan listrik

Pada saat digunakan, strain gage jenis ini dilekatkan (dengan lem khusus) ke permukaan bagian struktur yang akan diukur regangan/tegangannya. Dengan andaian bahwa perlekatannya baik, perubahan bentuk permukaan struktur dapat diikuti oleh strain gage. Dengan demikian perubahan tersebut dapat membuat strain gage terdefleksi (bertambah panjang). Perubahan panjang ini yang menyebabkan perubahan tahanan pada strain gage, yang dapat dijelaskan pada rumus berikut: (3) di mana: R = Tahanan [ohm] = Tahanan spesifik material [ohm-m] L = Panjang [m] A = Luas penampang [m2] Akibat perubahan panjang dan luas penampang karena pembebanan, nilai tahanan strain gage akan berubah proporsional dengan regangan yang terjadi. Prinsip kerja di atas dinyatakan di Gambar 3.

Gambar 3 (a) kondisi awal (b) penurunan tahanan akibat tekanan (c) penambahan tahanan akibat tarikan

Untuk strain gage jenis tahanan listrik, berlaku relasi sebagai berikut: R/R = Sg (4)

Pada relasi di atas, R/R menyatakan fraksi perubahan tahanan strain gage terhadap nilai tahanan nominalnya, Sg menyatakan gage factor (semacam faktor kalibrasi), dan menyatakan besarnya regangan mekanik yang dialami strain gage. Pengujian dengan strain gage termasuk uji tak merusak, meskipun untuk melekatkan strain gage, permukaan benda harus dihaluskan (dengan amplas) dan dibersihkan dari kotoran. Mengingat konstruksinya, strain gage pada umumnya hanya dapat dibebani sampai regangan maksimum sekitar 0,5% = 0,005 = 5000 (1 menyatakan regangan sebesar 10-6). Sebagai gambaran, tahanan nominal strain gage jenis tahanan listrik yang paling mudah diperoleh adalah R = 120 1%. Nilai gage factornya adalah +2,0 1%. Kalau digunakan di baja, yang regangan mulurnya y = 0,005, besar perubahan tahanan sesuai persamaan (4) akan menghasilkan R=1,2 . Untuk bisa membaca perubahan regangan sebesar 1 , sensitivitas perubahan tahanan harus bisa mencapai R=240 . Sensitivitas sebesar ini jelas di luar jangkauan Ohmmeter biasa. Untuk meningkatkan sensitivitas dan kemudahan pencatatan data, pengukuran perlu menggunakan rangkaian listrik jembatan Wheatstone (Wheatstone bridge circuit). Rangkaian jembatan Wheatstone ditunjukkan di Gambar 4. Jembatan Wheatstone terdiri atas empat tahanan (resistor), yakni R1 dan R2 yang dirangkai seri antara titik A dan C serta R3 dan R4 yang juga dirangkai seri antara titik A dan C, yang kemudian dirangkai lagi secara paralel. Antara titik A dan C diberi medan tegangan arus searah sebesar V, sedangkan keluaran jembatan dinyatakan sebagai beda tegangan antara titik B dan D. Tiap resistor di rangkaian jembatan Wheatstone dapat disubstitusi dengan strain gage. Bila satu saja yang merupakan strain gage, rangkaian disebut atau quarter bridge, bila dua yang merupakan strain gage disebut atau half

4 bridge, dan bila semua (keempat-empatnya) merupakan strain gage disebut rangkaian full bridge.

Gambar 4 Rangkaian listrik Jembatan Wheatstone

Dengan menggunakan hukum Kirchhoff, dapat diturunkan bahwa saat resistor (strain gage) mengalami perubahan tahanan, antara titik B dan D terjadi perubahan tegangan sebesar: (5) dengan: V = tegangan medan jembatan Wheatstone Ri = pertambahan tahanan pada strain gage ke-i karena adanya regangan Ri = tahanan nominal strain gage ke-i

Sebagai gambaran, rangkaian jembatan dengan satu strain gage 120, pada tegangan medan, V = 2 V, akan menghasilkan perubahan tegangan saat baja mulai luluh sebesar, E = 5 mV. Tegangan sebesar ini memang terlalu kecil untuk dideteksi dengan voltmeter. Tetapi, mengingat keluaran berupa tegangan arus searah (DC voltage), keluaran jembatan dapat diperkuat dengan amplifier. Dalam percobaan, digunakan strain amplifier yang khusus untuk pengukuran regangan dengan strain gage. Terlepas dari kemudahan aplikasinya, strain gage mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain ketidaklinieran, histerisis, thermal zero shift, dll (Doebelin, 1990, Dally & Riley, 1991). Dalam percobaan ini, yang menjadi obyek ukur adalah bejana atau silinder berdinding tipis (rasio R/t > 10). Untuk silinder/bejana tekan berdinding tipis berlaku hubungan antara tekanan dan tegangan sebagai berikut (Popov, 1986):

5 Untuk memperoleh t dan l dari pengukuran, pada dinding bejana dipasang strain gage, masing-masing pada arah melingkar dan memanjang. Keluaran strain gage akan memberikan regangan tangensial, t, dan regangan longitudinal, l. Hubungan antara tegangan dan regangan dinyatakan oleh hukum Hooke universal berikut (Popov, 1986):

(8) Pada persamaan di atas, subskrip r, t, dan l secara berturut-turut menyatakan arah radial, tangensial, dan longitudinal, sedangkan dan E masing-masing menyatakan bilangan nisbah Poisson dan modulus elastisitas. Untuk bejana berdinding tipis, dari mekanika (dan juga dari pertimbangan praktis), tegangan pada arah radial, r, dapat dianggap sama dengan nol. Oleh sebab itu, persamaan di atas dapat direduksi menjadi sebagai berikut: (9) Bertolak dari hubungan di atas, tegangan dapat dihitung dari regangan hasil pengukuran dengan menggunakan persamaan berikut: (10) Tegangan hasil perhitungan sesuai perumusan di atas dapat dibandingkan dengan perhitungan teoretis [pers. (6) dan (7)]. Selain tegangan di atas, dapat dihitung juga regangan pada arah radial, dengan menggunakan hukum Hooke, sesuai persamaan: (11) dengan: t = tegangan dalam arah tangensial [MPa] l = regangan dalam arah longitudinal [MPa] = bilangan nisbah Poisson E = modulus elastisitas [MPa]

6 3. Perangkat Percobaan dan Alat Ukur

Gambar 5 Set up percobaan beserta instrumentasi.

Gambar 5 menunjukkan perangkat percobaan yang dipakai. Dalam percobaan ini tekanan dihasilkann oleh sebuah pompa tangan jenis positive displacement dengan air sebagai fluida kerja (untuk keamanan percobaan). Katup berguna untuk menutup dan membuka aliran fluida sehingga tekanan pada silinder dapat ditetapkan pada harga yang dikehendaki. Tekanan dalam silinder diukur dengan manometer dalam satuan kg/cm2. Regangan pada arah tangensial dan longitudinal dideteksi oleh strain gage yang masing-masing dirangkai dalam jembatan Wheatstone . Keluaran jembatan dikondisikan dengan menggunakan strain amplifier (Kyowa tipe DPM-210A). Tegangan keluaran amplifier kemudian dibaca oleh perangkat akuisisi data yang terpasang di komputer. Proses akuisisi data dilakukan dengan perangkat lunak berbasis grafis LABTECH.
Gambar 5 Bejana Tekan yang digunakan dalam percobaan. Di sisi depan tampak strain gage yang sudah ditempel di dinding luar bejana, manometer, dan perangkat jembatan Wheatstone.

7 4. Prosedur Percobaan

Sesudah rangkaian strain gage terpasang pada tempatnya, lakukan langkahlangkah sebagai berikut: a. Hidupkan amplifier dan komputer b. Lakukan balancing rangkaian jembatan Wheatstone sehingga E = 0 dengan menekan tombol autobalance di panel depan amplifier. Bila perlu, lakukan fine tuning dengan memutar sekrup R shift dengan obeng kecil. c. Untuk akuisisi data, jalankan paket program LABTECH, panggil program data akuisisi sesuai petunjuk asisten, dan isikan informasi yang diperlukan. d. Lakukan penentuan faktor kalibrasi dengan mengatur tombol atenuasi (attenuator switch) sehingga diperoleh angka konversi tegangan (dalam V) ke regangan (dalam ). e. Untuk membebani bejana, gunakan pompa tangan. Naikkan tekanan secara bertahap dari 1 sampai 6 kgf/cm2. Untuk setiap tahap, tahan posisi tuas pompa tangan, kemudian catat data tegangan keluaran jembatan Wheatstone untuk strain gage arah tangensial dan longitudinal. Sesudah mencapai tekanan tertinggi, turunkan tekanan dengan membuka katup pembalik secara bertahap dan catat juga data tegangan keluaran jembatan. e. Ubah data regangan dalam V menjadi untuk diproses lebih lanjut.

5.

Data Pengamatan a. Dalam percobaan bejana tekan, tekanan yang diperoleh dihasilkan oleh sebuah pompa tangan jenis Posiivef displacement dengan air sebagai fluida kerja. Bejana tekan tersebut mempunyai spesifikasi sebagai berikut : 1) 2) 3) Diameter luar, Do = 210 mm Tebal dinding, t = 1,34 mm Baham : Baja karbon rendah, E = 207 Gpa, v = 0,3 (Popov 1986)

b.

Dari percobaan tersebut diperoleh data hasil pengamatan dalam 8

percobaan bejana tekan ini adalah sebagai berikut :

Tegangan Eksperimen

Tegangan Teoritik Tangensial (Mpa) Longitudinal (Mpa)

No. Data 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Tekanan (Bar)

Tangensial (Mpa)

Longitudinal (Mpa)

0.00 0.01 0.06 0.11 0.14 0.22 0.25 0.30 0.44 0.55 0.69 0.88 1.04 1.25 1.33 1.69 1.99 2.28 2.40 3.99

0.30 0.36 0.33 1.15 0.16 0.95 1.02 0.95 1.92 4.23 3.16 4.74 0.50 2.68 9.71 11.19 8.98 9.88 12.88 25.44

0.88 1.22 1.04 1.54 0.20 0.53 0.87 0.53 1.86 2.82 0.98 1.79 1.89 2.17 5.40 5.70 5.25 6.24 7.02 13.15

c.

Tugas ( yang ditanyakan dan yang akan dicari ) 1) 2) Hitung tegangan tangensial dan longitudinal teoritik untuk tiap Gambar Kurva tegangan Tangensial dan Longitudinal terhadap tiap bejana. Tekanan (Kurva t dan i vs p) teoritik dan eksperimental. 3) Buat analitis dan kesimpulan dari percobaan ini!

9 6. Perhitungan dan Analisis a. Perhitungan. Perhitungan yang dilakukan adalah Menghitung tegangan tangensial dan longitudinal teoritik. 1) Menghitung Tegangan tangensial Rumus yang digunakan : t = 2)
Pr t

Menghitung Tegangan longitudinal Rumus yang digunakan : l = Dimana :


Pr 2t

P = Tekanan r = Jari jari silinder t = Tebal silinder

Contoh Perhitungan Diketahui : P = 0,001 r = 105 mm t = 1,34 mm Tegangan tangensial Tegangan longitudinal : 0,001 x 105 / 1,34 : 0,001 x 105 / 2 x 1,34 = 0,0783 MPa = 0,0391 MPa

10 3) Hasil perhitungan teganan tangensial dan tegangan longitudinal teoritik sebagai berikut :
Tegangan Teoritik

No. Data

Tekanan (Bar)

Tekanan (MPa)

Tangensial (Mpa)

Longitudinal (Mpa)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

0.00 0.01 0.06 0.11 0.14 0.22 0.25 0.30 0.44 0.55 0.69 0.88 1.04 1.25 1.33 1.69 1.99 2.28 2.40 3.99

0 0.001 0.006 0.011 0.014 0.022 0.025 0.030 0.044 0.055 0.069 0.088 0.104 0.125 0.133 0.169 0.199 0.228 0.240 0.399

0 0.0784 0.4701 0.8619 1.0970 1.7239 1.9590 2.3507 3.4478 4.3097 5.4067 6.8955 8.1493 9.7948 10.4216 13.2425 15.5933 17.8657 18.8060 31.2649

0 0.0392 0.2351 0.4310 0.5485 0.8619 0.9795 1.1754 1.7239 2.1549 2.7034 3.4478 4.0746 4.8974 5.2108 6.6213 7.7966 8.9328 9.4030 15.6325

4) Gambar Kurva tegangan Tangensial dan Longitudinal terhadap Tekanan (Kurva t dan i vs p) teoritik dan eksperimental. Adalah sebagai Berikut :

11 a) Gambar Kurva tegangan Tangensial terhadap Tekanan (Kurva t vs p) teoritik dan eksperimental.

Grafik Tegangan Tangensial vs Tekanan


Tegangan Tangensial teoritik 32 27 Tegangan Tanensial 22 17 12 7 2 -3 0 0.1 0.2 Tekanan 0.3 0.4 Tegangan Tangensial Eksperimen

b) Gambar Kurva tegangan Longitudinal terhadap Tekanan (Kurva t vs p) teoritik dan eksperimental

Grafik Tegangan Longitudinal vs Tekanan


Tegangan Longitudinal Teoritik 17 15 13 11 9 7 5 3 1 -1 Tegangan Longitudinal Tegangan Longitudinal Eksperimen

0.1

0.2 Tekanan

0.3

0.4

12 c) Gambar Kurva tegangan Tangensial dan Longitudinal Teoritik terhadap Tekanan.


Grafik Tegangan Tanensial & Longitudinal Teoritik vs Tekanan
Tegangan Teoritik 35 30 25 20 15 10 5 0 0 0.1 0.2 Te kanan Teg Tangensia Teoritikl Teg Longitudinal Teoritik 0.3 0.4

b.

Analisis. 1) Tegangan Tangensial terhadap Tekanan (Kurva t vs p) teoritik dan eksperimental. Dari hasil garis kurva yang dihasilkan dapat kita lihat bahawa tegangan tangensial eksperimen cenderung terjadi fluktuatif atau gejalan naik turun hal ini disebabkan karena hasil dari pengambilan data eksperimen angka yang didapat naik turun, tetapi untuk tegangan tangensial teoriik cenderung naik ini disebabkan karena data yang diambil tidak ada penurunan angka sehingga hasil yang didpatpun naik. 2) Tegangan Longitudinal terhadap Tekanan (Kurva t vs p) teoritik dan eksperimental Sama halnya dengan grafik diatas bahwa hasil garis kurva yang dihasilkan dapat kita lihat bahawa tegangan longitudinal eksperimen cenderung terjadi naik turun hal ini disebabkan karena hasil dari pengambilan data eksperimen angka yang didapat naik turun, tetapi untuk tegangan longitudinal teoriik cenderung naik ini disebabkan karena data yang diambil tidak ada penurunan , sehingga dengan peneraan rumus yang telah ditentukan maka hasilnya pun akan naik ketida datanya angkanya bertambah.

13

3) Gambar Kurva tegangan Tangensial dan Longitudinal Teoritik terhadap Tekanan Dari perhitungan yang dilakukan sehingga didapat grafik yang menunjukan bahwa tegangan tangensial lebih besar dibanding dengan tegangan longitudinal terhadap tekanan yang sama (MPa).

7.

Kesimpulan. Dari perhitungan percobaan diatas maka dapat disimpulkan bahwa : a. b. c. Semakin besar tekanan yang diberikan maka Tegangan Tangensial akan semakin besar pula. Begitu juga dengan tegangan longitudinal akan semakin besar bila tekanan yang diberikan juga semakin besar. Tekanan yang diberikuan sama untuk tegangan tangensial dan tegangan longitudinal maka akan lebih besar tegangan tangensial, apabila pada sebuah tabung maka tegangan yang diterima kesamping lebih besar dari pada tekan kebawah dan atas.

8.

Pustaka Dally, J.W. and Riley, W.F., Experimental Stress Analysis, 3rd ed., McGrawHill, 1991 Doebelin, E.O., Measurement Systems Application and Design, 4th ed., McGraw-Hill, 1990 Popov, E.P., Mekanika Teknik (Mechanics of Materials) , terjemahan Zainul Astamar, Penerbit Erlangga, 1986.