Anda di halaman 1dari 18

Kata Pengantar

Puji serta syukur kami panjatkan kepada allah swt yang telah memberikan kesempatan pada kelompok kami untuk membuat makalah ini dengan lancar, tidak lupa solawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada jungjunan kita semua yakni habibana wanabiana Muhammad saw . Saya telah menyelesaikan tugas mengenai Sistem Imun dengan baik dan lancar meskipun masih banyak kesalahan tapi kami sudah mencoba semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Makalah ini berisi penjelasan materi tentang Donor darah dan tranfusi darah, dimana saya mengambil materi mengenai tersebut dengan referensi buku dan internet, tidak lupa saya juga berterimakasih pada Bapak Dosen yang telah memberikan kami tugas untuk membuat makalah ini, karena dengan disuruhnya untuk membuat makalah ini kami mendapatkan beberapa manfaat di antaranya saya mendapatkan ilmu lebih dan dapat lebih memahami teori tersebut. Saya paham bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan.oleh karena itu, jika berkenan Bapak mengkritik atau mengusulkan sesuatu untuk menyempurnakan makalah ini . Terimakasih.

Garut, 26 April 2013

Kelompok 10

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................................................... 1. Daftar isi .............................................................................................................................. 2. BAB I .................................................................................................................................. 3. Pendahuluan ......................................................................................................... 3. BAB II ................................................................................................................................. 5. Pembahasan .......................................................................................................... 5. -Donor Darah.,..... 5. - Tranfusi Darah ... 10. BAB III ...............................................................................................................................30. Penutup .............................................................................................................. 30. Daftar Pustaka ................................................................................................................... 31.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Saat ini di berbagai penjuru provinsi di Indonesia pasti ada sesuatu yang disebut transfusi darah. Transfusi darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit (respien). Darah yang dipindahkan dapat berupa darah lengkap dan komponen darah. Biasanya hal ini sering dilakukan di kalangan remaja sampai kalangan dewasa. Di Indonesia seharusnya mempunyai stok darah 4,5 juta sampai 4,8 juta kantong darah per tahun, sedangkan PMI baru bisa mencukupi sekitar 2 juta kantong darah, yang 64 persenya diolah menjadi komponen darah sebanyak 3 juta komponen darah yang mampu memenuhi 70 persen dari kebutuhan darah penduduk Indonesia di 520 Kota/Kabupaten. Hal yang menyebabkan kurangnya persedian darah di Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya mendonorkan darah dan hal ini menyebabkan kurangnya persediaan darah di Indonesia. Untuk meningkatkan kapastitas stok kebutuhan darah yang ditetapkan oleh WHO, PMI berupaya dengan meningkatkan kualitas serta pelayanan Unit Donor Darah (UDD) yang tersebar di sekitar 200 PMI Kota / Kabupaten di seluruh Indonesia. PMI juga membangun gerai-gerai UDD di 6 Mall dan 2 Universitas yang menjadi salah satu antisipasi PMI untuk mendekatkan layanan donor darah sukarela kepada masyarakat dan memenuhi kebutuhan kantong darah nasional. PMI terus melakukan berbagai upaya untuk selalu meningkatkan kualitas darah sesuai standarisasi dan ketetapan WHO mengenai pemeriksaan dan uji saring darah atas 4 (empat) parameter penyakit yaitu Syphilis, Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV & AIDS

1.2. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, ialah sebagai berikut:
3

1. Apa pengertian donor darah dan tranfusi darah? 2. Syarat-syarat pendonor darah? 3. Berapa banyak kebutuhan darah di Indonesia dan di dunia? 4. Bagaimana peran PMR Madya dalam donor darah siswa? 1.3. TUJUAN 1. Diharapkan teman-teman pelajar siap mendonorkan darahnya saat sudah memenuhi syarat 2. Meningkatkan peran PMR dalam mensosialisasikan donor darah 3. Untuk menyebarkan manfaat donor darah 1.4. MANFAAT 1. Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mensosialisasikan manfaat donor darah kepada pelajar 2. Menyiapkan remaja untuk siap mendonorkan darahnya pada saatnya nanti.

BAB II PEMBAHASAN DONOR DARAH


1. Pengertian donor darah Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah untuk kemudian dipakai pada transfusi darah. 2. Syarat-syarat teknis menjadi donor darah Umur 17-60 tahun( usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat izin tertulis dari orang tua) Berat badan minimal 45 kg Temperatur tubuh: 36,6 37,5 derajat Celcius Tekanan darah baik yaitu sistole = 110 160 mmHg, diastole = 70 100 mmHg Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50 100 kali/ menit Hemoglobin baik pria maupun perempuan minimal 12,5 gram Jumlah penyumbangan per tahun paling banyak lima kali dengan jarak penyumbangan sekurang-kurangnya tiga bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum donor. 3. Manfaat donor darah :

Mengetahui golongan darah tanpa dipungut biaya Pemeriksaan kesehatan teratur (tiap kali menjadi donor/tiap 3 bulan sekali) meliputi : tekanan darah, nadi, suhu, tinggi badan, berat badan, hemoglobin, penyakit dalam, penyakit hepatitis A dan C, penyakit HIV/AIDS.

Mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh Menurunkan resiko penyakit jantung (jantung koroner dan stroke (British Journal Heart)

Menambah nafsu makan Menanamkan jiwa social Sekali menjadi Donor dapat menolong/menyelamatkan 3 orang pasien yang berbeda
5

Menyelamatkan jiwa seseorang secara langsung Meningkatkan produksi sel darah merah Membantu penurunan berat tubuh Mendapatkan kesehatan psikologis

4. Tujuan donor darah :


Memelihara dan mempertahankan kesehatan donor. Memelihara keadaan biologis darah atau komponen komponennya agar tetap bermanfaat.

Memelihara dan mempertahankan volume darah yang normal pada peredaran darah (stabilitas peredaran darah).

Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah. Meningkatkan oksigenasi jaringan. Memperbaiki fungsi Hemostatis.

5. Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:


Pernah menderita hepatitis B Dalam jangka waktu enam bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis Dalam jangka waktu enam bulan sesudah transfusi Dalam jangka waktu enam bulan sesudah tato/tindik telinga Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi Dalam jangka waktu enam bulan sesudah operasi kecil Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, kolera, tetanus dipteria, atau profilaksis

Dalam jangka waktu dua minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica, measles, dan tetanus toxin

Dalam jangka waktu satu tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic Dalam jangka waktu satu minggu sesudah gejala alergi menghilang Dalam jangka waktu satu tahun sesudah transplantasi kulit Sedang hamil dan dalam jangka waktu enam bulan sesudah persalinan
6

Sedang menyusui Ketergantungan obat Alkoholisme akut dan kronis Mengidap Sifilis Menderita tuberkulosis secara klinis Menderita epilepsi dan sering kejang Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya kekurangan G6PD, thalasemia, dan polibetemiavera

Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang berisiko tinggi mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, dan pemakai jarum suntik tidak steril)

Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan saat donor darah.

6. Jenis Donor Darah. Ada dua macam donor darah yaitu: 1) Donor keluarga atau Donor Pengganti adalah darah yang dibutuhkan pasien dicukupi oleh donor dari keluarga atau kerabat pasien. 2) Donor Sukarela adalah orang yang memberikan darah, plasma atau komponen darah lainnya atas kerelaan mereka sendiri dan tidak menerima uang atau bentuk pembayaran lainnya. Motivasi utama mereka adalah membantu penerima darah yang tidak mereka kenal dan tidak untuk menerima sesuatu keuntungan. 1) Wawancara donor. Untuk melindungi baik donor maupun resipien, semua donor harus diperiksa dan diwawancarai seblum mereka diperbolehkan mendonorkan darahnya. Pertanyaannya harus sopan namun yang penting harus lengkap, dan pewawancara yang telah berpengalaman akan mengetahui cara menanyakan pertanyaan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh jawaban selngkap mungkin. Donor harus dalam keadaan sehat dan harus bebas dari factor dibawah:

a) Riwayat hepatitis virus, sekarang atau terdahulu, riwayat kontak dengan pasien hepatitis atau dialysis dalam 6 bulan terakhir. b) Riwayat memperoleh transfuse darah atau suntikan setiap fraksi darah kecuali albumin serum atau imun globulin dalam 6 bulan terakhir. c) Riwayat sipilis atau malaria yang tidak diobati karena penyakit ini dapat ditularkan melalui transfuse meskipun sudah setahun sebelumnya. Orang yang sudah bebas gejala dan bebas terapi selama 3 tahun setelah menderita malaria diperbolehkan menjadi donor. d) Riwayat atau terdapat bukti penyalahgunaan obat dengan cara menyuntik sendiri, karena banyak pengguna obat intravena adalah karier hepatitis dan resiko terjadi AIDS tinggi pada kelompok ini. e) Riwayat kemungkinan pajanan virus AIDS. Uji untuk mengetahui adanya antibody terhadap virus AIDS kini telah tersedia. Populasi yang beressiko tinggi adalah mereka yang melakukan seks anal, yang melakukan kontak seks dengan banyak pasangan, pengguna obat intravena, pasangan seks merupakan orang yang beresiko tinggi AIDS, dan penderita hemofilia. f) Infeksi kulit, karena kemungkinan mengkontaminasi jarum flebotomi. g) Riwayat asma yang baru, urtikaria, atau alergi obat karena hipersensitifitas dapat ditransmisi secara pasif ke resipien. h) Kehamilan dalam 6 bulan terakhir, karena kebutuhan nutrisi yang tinggi pada ibu hamil. i) Riwayat pencabutan gigi atau pembedahan mulut dalam 72 jam karena prosedur ini berhubungan dengan bakteremia. j) Riwayat tato yang baru, karena ada resiko hepatitis. k) Riwayat terpajan penyakit menular dalam 3 minggu, karena ada resiko penularan ke resipien.

l) Imunisasi yang baru, karena dapat mentransmisikan organisme hidup (masa tunggu 2 minggu utnuk organisme hidup yang dilemahkan, 1 bulan untuk rubella, 1 tahun untuk rabies) m) Adanya kanker, karena belum diyakini kemungkinan transmisinya. n) Riwayat donor darah dalam 56 hari terakhir. 2) Kaji riwayat kesehatan, baik resipien maupun pendonor. 3) Kaji pengetahuan klien tentang transfuse darah dan tingkat kecemasan klien. 4) Ketika klien menjalani transfusi darah, kaji prioritas keperawatannya yaitu adanya infeksi, periksa tempat penusukan jarum dengan hati-hati, dengan adanya kemerahan atau manifestasi lain dari infeksi.

TRANFUSI DARAH
1. DEFINISI Transfusi darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari seseorang (donor) kepada orang lain. Transfusi darah adalah proses pemindahan darah dari donor yang sehat kepada penderita. TRANSFUSI adalah proses pemindahan darah dan produk darah dari donor ke resipien (pasien). Transfusi merupakan bagian yang penting pada pelayanan kesehatan modern. Penerapan transfusi secara benar akan dapat menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kesehatan, namun demikian penularan penyakit infeksi melalui darah dan produk darah harus menjadi perhatian. Ketika transfuse darah dari orang ke orang dicoba untuk pertama kali, tansfusi hanya berhasil baik pada beberapa keadaan. Seringkali timbul aglutinasi dan hemolisis sel darah merah secara cepat atau lambat, menimbulkan reaksi transfusi yang khas yang kadang-kadang menyebabkan kematian. Segera setelah itu, ditemukan bahwa darah dari orang yang berbeda biasanya mempunyai sifat antigen dan imunitas yang berbeda pula, sehingga antibody dalam plasma darah seseorang akan bereaksi dengan antigen pada permukaan sel darah merah orang lain. Berdasarkan alas an ini, sangat mudah terjadi ketidak cocokan antara darah donor dengan darah resipien. Bila dilakukan tindakan pencegahan yang tepat, kita dapat menentukan sebelumnya apakah antibody dan antigen yang terdapat dalam darah donor dan darah resipien akan bereaksi atau tidak. Sebelum melakukan transfusi, perlu menentukan golongan darah resipien dan golongan darah donor sehingga dapat tepat sesuai. Ini disebut penggolongan darah, dan dilakukan dengan cara berikut: mula-mula sel darah merah diencerkan dengan saline. Kemudian satu bagian dicampur dengan aglutinin anti-A sedangkan bagian yang lain dicampur dengan agglutinin anti-B. Setelah beberapa menit, campuran tadi diperiksa dibawah mikroskop. Bila sel darah merah menggumpal artinya, teraglutinasi kita tahu bahwa telah terjadi reaksi antibody-antigen.
10

2. Etiologi a. Leukemia b. Limfoma c. Penyakit lain yang menghancurkan atau mengganggu produksi darah. d. Perdarahan pasca persalinan dengan syok e. Kehilangan darah saat operasi f. Anemia berat pada kehamilan lanjut (Hb < 8gr% atau timbul gagal jantung) Catatan: untuk anemia pada kehamilan awal, obati penyebab anemia dan sediakan hematinik. 3. MANIFESTASI KLINIK 1) Pusing 2) Keletihan 3) Kelelahan 4) Malaise 5) Pucat 6) Fatigue 7) Hb menurun 4. PATOFISIOLOGI Pada transfusi, seorang donor menyumbangkan darah lengkap dan seorang resipien menerimanya. Tetapi konsep ini menjadi luas. Tergantung kepada keadaan, resipien bisa hanya menerima sel dari darah, atau hanya menerima faktor pembekuan atau hanya menerima beberapa komponen darah lainnya.Transfusi dari komponen
11

darah tertentu memungkinkan dilakukannya pengobatan yang khusus, mengurangi resiko terjadinya efek samping dan bisa secara efisien menggunakan komponen yang berbeda dari 1 unit darah untuk mengobati beberapa penderita. Pada keadaan tertentu, resipien bisa menerima darah lengkapnya sendiri (transfusi autolog). Proses Transfusi Darah. a. Pengisian Formulir Donor Darah. b. Pemeriksaan Darah Pemeriksaan golongan, tekanan darah dan hemoglobin darah. c. Pengambilan darah Apabila persyaratan pengambilan darah telah dipenuhi barulah dilakukan pengambilan darah. d. Pengelolaan darah. Beberapa usaha pencegahan yang dikerjakan sebelum darah diberikan kepada penderita adalah penyaringan terhadap penyakit diantaranya: a) Penyakit Hepatitis B b) Penyakit HIV/AIDS c) Penyakit Hipatitis C d) Penyakit Kelamin (VDRL) Waktu yang di butuhkan pemeriksaan darah selama 1 2 jam e. Penyimpanan Darah Darah disimpan dalam Blood Bank pada suhu 2 6 derajat celcius. Darah ini dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen seperti:

12

a) PRC b) Thrombocyt c) Plasma d) Cryo precipitat 5. PENATALAKSANAAN Memberikan darah sebaiknya berdasarkan petunjuk nasional mengenai penggunaan klinis darah, dengan mempertimbangkan kebutuhan resipien tersebut. Sebelum memberikan darah atau produk darah harap diingat hal-hal berikut: 1) Perbaikan yang diharapkan pada kondisi klinis resipien tersebut. 2) Metode untuk meminimalkan kehilangan darah untuk mengurangi kebutuhan akan transfuse. 3) Terapi alternative yang dapat diberikan, termasuk penggantian cairan intravena atau oksigen, sebelum mengambil keputusan untuk melakukan transfuse. 4) Resiko penularan HIV,Hepatitis, sipilis atau infeksi lainnya melalui produk darah yang tersedia. 5) Keuntungan transfuse dibandingkan dengan resiko untuk resipien tertentu. 6) Pilihan terapi lain jika darah tidak tersedia pada saat itu. 7) Kebutuhan akan orang yang terlatih untuk memantau resipien tersebut dan segera bereaksi jika timbul efek samping. 6. KOMPLIKASI a) Hemolisis akut. Jenis reaksi transfuse yang paling berbahaya terjadi apabila darah donor tidak sesuai dengan golongan darah resipien. Antiboby dalam plasma resipien akan
13

segera bergabung dengan antigen pada eritrosit donor, dan sel tersebut segera mengalami hemolisis (dihancurkan) baik dalam sirkulasi maupun dalam system retikuloendotelial. Hemolisis yang paling cepat terjadi pada ketidaksesuaian darah ABO (mis. Jika donor golongan A dan sipien golongan O, yang memiliki antibody anti-A dan anti-B). ketidaksesuai Rh biasanya lebih ringan. Reaksi ini dapat terjadi setelah pemberian paling tidak 10ml darah. Proses penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma darah yang tidak berwarna menjadi merah. Ini dapat terjadi karena trauma darah sekunder terhadap turbulen atau pompa pemutar. b) Hemolisis tertunda. Reaksi hemolisis tertunda biasanya terjadi sekitar 2-14 hari dan ditandai dengan demam, ikterik ringan, penurunan bertahan kadar hemoglobin, dan uji globulin anti-human secara langsung. Jarang terjadi hemoglubinuria, dan biasanya reaksi ini tidak berbahaya. Namun demikian harus diketahui apabila kedua tanda tersebut terjadi, maka hal ini merupakan tanda bahwa pada pemberian transfuse selanjutnya terjadi reaksi hemolosis akut. Pasien harus diingatkan kemungkinan terjadinya reaksi ini dan diminta untuk segera melapor. c) Syok Anafilaktik. Keadaan alergi yang mengancam jiwa yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba dan penyempitan saluran pernafasan, menyebabkan penderita jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Hal ini biasanya dipicu oleh reaksi alergi yang disebabkan oleh respon sistem kekebalan tubuh yang abnormal terhadap benda asing. d) Toksikosis sitrat. Pada toksikosis sitrat, penyebabnya adalah efek ikatan pada CPD {Calcium Pyrophosphate Deposition (penyakit penimbunan kalsium piropospat)} pada kalsium, serta hiperkalemia, hipokalsemia, asidosis, hipetermia, disfungsi miokard, dan disfungsi hepar atau ginjal menghilangkan factor-faktor.

14

e) Penyakit infeksi. Penyakit yang dapat menjadi komplikasi dari transfuse antara lain: a. Penyakit Hepatitis B & C Hepatitis merupakan resiko penting terapi transfusi, baik untuk darah maupun sebagian besar komponen darah. Darah dan produk darah yang diperoleh dari donor yang dibayar mempunyai resiko yang lebih tinggi daripada yang diperoleh dari donor sukarela. Produk darah hasil pengumpulan juga memberikan resiko yang lebih tinggi. Harus dilakukan uji untuk mendeteksi virus hepatitis B, begitu pula hepatitis C. b. Penyakit HIV/AIDS c. Penyakit Kelamin (VDRL) f) Alergi. Sebagian besar transfusi adalah aman dan berhasil; tetapi reaksi ringan kadang bisa terjadi, sedangkan reaksi yang berat dan fatal jarang terjadi. Reaksi yang paling sering terjadi adalah demam dan reaksi alergi (hipersensitivitas), yang terjadi sekitar 1-2% pada setiap transfusi. Gejalanya berupa: - gatal-gatal - kemerahan - pembengkakan - pusing - demam - sakit kepala.

15

Gejala yang jarang terjadi adalah kesulitan pernafasan, bunyi mengi dan kejang otot. Yang lebih jarang lagi adalah reaksi alergi yang cukup berat. g) Emboli udara. h) Gangguan keseimbangan elektrolit. i) Kontaminasi bakteri. j) Penyakit graft-versus-host. Merupakan komplikasi yang jarang terjadi, yang terutama mengenai orang-orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan karena obat atau penyakit. Pada penyakit ini, jaringan resipien (host) diserang oleh sel darah putih donor (graft). Gejalanya berupa demam, kemerahan, tekanan darah rendah, kerusakan jaringan dan syok. Catatan: 5% dari semua transfuse disertai salah satu efek samping. Jika timbul reaksi (efek samping), segera dihentikan dan beritahu dokternya. Jangan cabut jarumnya. Sebaiknya ganti dengan cairan yang dapat diterima seperti NaCl normal.

Asuhan Keperawatan Tranfusi A. PENGKAJIAN


1. Identitas Klien 2. Pola Fungsional a. Aktivitas Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya. Tanda : Kelelahan otot. Peningkatan kebutuhan tidur, samnolen.

16

b. Sirkulasi. Gejala : Palpitasi. Tanda : Takhikardia, murmur jantung. Kulit, membran mukosa pucat. Defisit syaraf kranial dan atau tanda perdarahan serebral.

c. Gejala : Palpitasi. Tanda : Takhikardia, murmur jantung. Kulit, membran mukosa pucat. Defisit syaraf kranial dan atau tanda perdarahan serebral.

d. Eliminasi. Gejala : Diare ; nyeri tekan perianal, nyeri. Darah merah terang pada tissue, faeces hitam. Darah pada urien, penurunan haluaran urien.

e. Integritas Ego. Gejala : Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan. Tanda : Depresi, menarik diri, ancietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan alam perasaan, kacau.

f. Makanan / cairan. Gejala : Kehilangan nafsu makan, anorexia, muntah. Perubahan rasa / penyimpangan rasa. Tanda : Distensi abdominal, penurunan bunyi usus.

g. Neorosensori. Gejala : Kurang / penurunan kordinasi. Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi. Pusing, kesemutan, parastesia. Tanda : otot mudah terangsang, aktivitas kejang.

h. Nyeri / kenyamanan. Gejala : Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang / sendi ; nyeri tekan strenal, kram
17

otot. Tanda : Perilaku berhati-hati / distraksi ; gelisah, fokus pada diri sendiri.

i. Pernafasan. Gejala : Nafas pendek dengan kerja minimal. Tanda : Dispnea, takipnea, & batuk.

j. Keamanan. Gejala : Riwayat infeksi saat ini / terdahulu. Gangguan penglihatan / kerusakan. Tanda : Demam, infeksi. Kemerahan, purpura, perdarahan retina, perdarahan gusi atau epistaksis.

k. Seksualitas. Gejala : Perubahan libido. Perubahan aliran menstruasi, menorhaghia. Impoten.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen sel yang diperlukan untuk pengiriman oksigen atau nutrien ke sel. 2. Gangguan pertukaran gas behubungan dengan penurunan kapasitas pembawa O2 darah. 3. Infeksi behubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.

18

Anda mungkin juga menyukai