Anda di halaman 1dari 25

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

1. SISTEM KELISTRIKAN
1.1. SISTEM KELISTRIKAN . Sistem Tenaga Listrik adalah kumpulan/gabungan dari komponen-komponen atau alat-alat listrik seperti generator , transformator, saluran transmisi, saluran distribusi dan beban yang saling berhubungan merupakan kesatuan sehingga membentuk suatu sistem.

POWER PLANT

BIG INDUSTRIES TRANSMISSION LINES SUBSTATION

MIDDLE INDUSTRIES

MEDIUM VOLTAGE LINES

DISTRIBUTION TRANSFORMER PUBLIC ROAD LAMP

SMALL INDUSTRIES MALL

LOW VOLTAGE LINE HOUSING

Gambar : Sistem Kelistrikan

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan


1.2. Proses Penyaluran Tenaga Listrik ke Pelanggan :

Sistem Kelistrikan

Didalam dunia kelistrikan sering timbul persoalan teknis, dimana tenaga listrik hanya dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu, sedangkan pemakai tenaga listrik atau pelanggan tenaga listrik tersebar diberbagai tempat, maka penyampaian tenaga listrik dari tempat dibangkitkan sampai ke tempat pelanggan memerlukan berbagai penanganan teknis.

Unit Pembangkitan

Unit Transmisi

Gardu Induk distribusi

Unit Distribusi

G
Generator

Trf
Transformator

PMT
Pemutus Tenaga

PMT

Konsumen Besar

Konsumen Umum

Gambar Proses Penyaluran Tenaga Listrik dibangkitkan di Pusat-pusat Listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTP dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi setelah terlebih dahulu dinaikkan tegangannya oleh transformator penaik tegangan (step up transformer) yang ada di Pusat Listrik. Saluran transmisi tegangan tinggi di PLN kebanyakan mempunyai tegangan 70 KV, 150 KV dan 500 KV. Khusus untuk tegangan 500 KV dalam praktek saat ini di sebut sebagai tegangan ekstra tinggi. Masih ada beberapa saluran transmisi dengan tegangan 70 KV namun tidak dikembangkan lagi oleh PLN. Saluran transmisi ada yang berupa saluran udara dan ada pula yang berupa saluran kabel tanah. Karena saluran udara harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan kabel tanah maka saluran transmisi PLN kebanyakan berupa saluran udara. Kerugian dari saluran udara dibandingkan dengan kabel tanah adalah bahwa saluran udara mudah terganggu misalnya karena kena petir, kena pohon dan lain-lain.

Distribusi Distribusi sekunder Primer

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Setelah tenaga listrik disalurkan melalui saluran transmisi maka sampailah tenaga listrik di Gardu Induk (GI) untuk diturunkan tegangannya melalui transformator, penurun tegangan (step down transfomer) menjadi tegangan menengah atau yang juga disebut sebagai tegangan distribusi primer. Tegangan distribusi primer yang dipakai PLN adalah 20 KV,12 KV dan 6 KV. Kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa tegangan distribusi primer PLN yang berkembang adalah 20 KV. Jaringan setelah keluar dari GI biasa disebut jaringan distribusi, sedangkan jaringan antara Pusat Listrik dengan GI biasa disebut jaringan transmisi. Setelah tenaga listrik disalurkan melalui jaringan distribusi primer maka kemudian tenaga listrik diturunkan tegangannya dalam gardu-gardu distribusi menjadi tegangan rendah dengan tegangan 380/220 Volt atau 220/127 Volt (dihapus), kemudian disalurkan melalui Jaringan Tegangan Rendah untuk selanjutnya disalurkan ke rumah-rumah pelanggan (konsumen) PLN melalui Sambungan Rumah. Hal ini digambarkan oleh gambar I. 2. Proses penyampaian tenaga listrik ini secara keseluruhan juga ditunjukkan oleh gambar 1.3. Pelanggan-pelanggan yang mempunyai daya tersambung besar tidak dapat disam bung melalui Jaringan Tegangan Rendah (JTR) melainkan disambung langsung pada Jaringan Tegangan Menengah (JTM) bahkan ada pula yang disambung pada Jaringan Transmisi Tegangan Tinggi, tergantung besarnya daya tersambung.

Gambar .

: Skema Pusat Listrik yang dihubungkan melalui saluran Transmisi ke Gardu Induk.

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan


Keterangan : G = Generator P.S. = Pemakaian Sendiri. T.T. = Tegangan Tinggi. T.M. = Tegangan Menengah

Sistem Kelistrikan

Dari gambar diatas terlihat bahwa di Pusat Listrik maupun di GI selalu ada trans formator Pemakaian Sendiri guna melayani keperluan-keperluan peralatan listrik yang digunakan didalam Pusat Listrik maupun GI, misalnya untuk keperluan penerangan, mengisi batere listrik dan menggerakkan berbagai motor listrik. , Dalam praktek karena luasnya jaringan distribusi sehingga diperlukan banyak sekali transformator distribusi, maka Gardu Distribusi seringkali disederhanakan menjadi transformator tiang/Gardu Trafo Tiang yang rangkaian listriknya lebih sederhana daripada yang digambarkan (lihat gambar dibawah).

Gambar GTT. 4

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Setelah tenaga listrik melalui Jaringan Tegangan Menengah (JTM), Jaringan Tegang an Rendah JTR) dan Sambungan Rumah (SR) maka tenaga listrik selanjutnya dilewatkan alat pembatas daya dan KWH meter di sisi pelanggan. Energi listrik yang dipakai oleh pelanggan tersebut di catat oleh petugas cater sesuai angka di register kWh meter tersebut selanjutnya dicetat di dalam rekening listrik. Rekening listrik pelanggan tergantung kepada daya tersambung serta pemakaian KWH nya, oleh karenanya PLN memasang pembatas daya dan KWH meter. Setelah melalui KWH meter, tenaga listrik kemudian memasuki instalasi rumah yaitu instalasi milik pelanggan. Instalasi PLN pada umumnya hanya sampai dengan KWH meter dan sesudah KWH meter ihstalasi listrik pada umumnya adalah instalasi milik pelanggan. Dalam instalasi pelanggan tenaga listrik langsung memasuki alat-alat listrik milik pelanggan seperti lampu, seterika, lemari es, pesawat radio, pesawat televisi dan lain-lain. Dari uraian diatas kiranya dapat dimengerti bahwa besar kecilnya konsumsi tenaga listrik ditentukan sepenuhnya oleh para pelanggan, yaitu tergantung bagaimana para pelanggan akan menggunakan alat-alat listriknya, kemudian PLN harus mengikuti kebutuhan tenaga listrik para pelanggan ini dalam arti menyesuaikan daya listrik yang dibangkitkannya dari waktu ke waktu. Apabila jumlah pelanggan yang harus dilayani adalah jutaan maka daya yang harus dibangkitkan jumlahnya juga mencapai ribuan megawatt dan untuk ini diperlukan beberapa Pusat Listrik dan juga beberapa GI untuk dapat melayani kebutuhan listrik para pelanggan. Pusat-pusat Listrik dan GI satu-sama lain dihubungkan oleh saluran transmisi agar tenaga listrik dapat mengalir sesuai dengan kebutuhan dan terbentuklah suatu Sistem Tenaga Listrik. Gambar 1.5 (dibawah) menggambarkan sebuah Sistem Tenaga Listrik yang terdiri dari sebuah PLTU, sebuah PLTA, sebuah PLTG dan 8 buah GI. Setiap GI sesungguhnya merupakan Pusat Beban untuk suatu daerah pelanggan tertentu, bebannya berubah-rubah sepanjang waktu sehingga daya yang di bangkitkan dalam Pusatpusat Listrik harus selalu berubah seperti telah diuraikan diatas.

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Perubahan beban dan perubahan pembangkitan daya ini selanjutnya juga menye babkan aliran daya dalam saluran-saluran transmisi berubah-rubah sepanjang waktu. Apabila daya nyata yang dibangkitkan oleh Pusat-pusat Listrik lebih kecil daripada daya yang dibutuhkan oleh para pelanggan, maka frekwensi akan turun, sebaliknya apabila lebih besar, frekwensi akan naik. PLN berkewajiban menyediakan tenaga listrik yang frekwensinya tidak jauh menyimpang dari 50 Hertz. Mengenai penyediaan daya reaktif bagi para pelanggan yang erat kaitannya dengan tegangan, masalahnya lebih sulit daripada masalah penyediaan daya nyata. PLN berkewajiban menyediakan tenaga listrik dengan tegangan yang ada dalam batas- batas tertentu.

Gambar 1.5. : Sebuah Sistem Tenaga Listrik dengan sebuah PLTU, sebuah PLTG, sebuah PLTD, sebuah PLTA dan enam buah Pusat Beban (GI).

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Masalah Penyediaan tenaga listrik seperti diuraikan diatas dengan biaya yang serendah mungkin dan tetap memperhatikan mutu serta keandalan. Dalam proses penyediaan tenaga listrik bagi para pelanggan seperti diuraikan diatas tidak dapat dihindarkan timbulnya rugi-rugi dalam jaririgan disamping adanya tenaga listrik yang harus disisihkan untuk pemakaian sendiri. Proses pembangkitan tenaga listrik dalam Pusat-pusat Listrik Termis memerlukan biaya bahan bakar yang tidak sedikit. Biaya bahan bakar serta rugi-rugi dalam jaringan merupakan faktor-faktor yang harus ditekan agar menjadi sekecil mungkin dengan tetap memperhatikan mutu dan keandalan. Mutu dan keandalan diukur dengan frekwensi, tegangan dan jumlah gangguan. Masalah mutu tenaga listrik tidak semata-mata merupakan masalah operasi Sistem Tenaga Listrik tetapi erat kaitannya dengan pemeliharaan instalasi tenaga listrik dan juga erat kaitannya dengan masalah pengembangan Sistem Tenaga Listrik mengingat bahwa konsumsi tenaga listrik oleh para pelanggan selalu bertambah dari waktu ke waktu. Oleh karenanya hasil-hasil Operasi Sistem Tenaga Listrik perlu dianalisa dan dievaluasi untuk menjadi masukan bagi pemeliharaan instalasi serta pengembangan sistem tenaga listrik. Mutu tenaga Listrik yang baik merupakan kendala (constrain) terhadap biaya pengadaan tenaga listrik yang serendah mungkin, maka kompromi antara kedua hal ini merupakan masalah optimisasi yang banyak dibahas. 2 PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK 2.1 . a. Sumber tenaga listrik : Sumber Tenaga Listrik ialah semua peralatan atau benda yang mengeluarkan tenaga listrik misalnya : Generator / dinamo : Generator kutub menonjol / Salient Pole untuk putaran rendah /misalnya PLTA Generator kutub tidak menonjol / Non Salient Pole untuk putaran tinggi / misalnya PLTG Batere / Akumulator : tenaga listrik dihasilkan berdasarkan proses kimia elektrolisa ; arus / tegangan yang dihasilkan dalah arus searah

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Awan / Petir : Awan mengandung uap air dimana muatan positif dengan muatan negatif terpisah sehingga merupakan awan bertegangan dan pada jarak tertentu antara awan dengan bumi / bangunan akan menghasilkan medan yang cukup tinggi sehingga memungkinkan elektrn dari awan loncat ke bumi atau sebaliknya yang dinamakan petir . Tenaga listrik dari petir Besar yaitu Tegangan sekitar 345 kV dan Arus yang pernah tercatat 110 kA namun energinya kecil sekali karena waktunya sangat singkat dalam satuan micro-seconds sehingga nyaris tidak dapat digunakan . Tenaga Surya. Solar Cell jika terkena sinar matahari / surya akan menghasilkan tegangan searah yang siap untuk digunakan sebagai sumber tenaga listrik ; biasanya Solar Cell ini mengisi Akumulator kemudian arus searah ini diubah menjadi abb dengan bantuan Inverter ; output inverter ini siap mensuplai beban abb. b. Pembangkitan : Tenaga listrik dibangkitkan oleh generator / alternator dimana kumparan medannya /rotor generator diputar oleh penggerak mula dan interaksi antara fluksi medan dengan putaran rotor dengan prinsip induksi menghasilkan gaya gerak listrik dan jika terminal jangkar terhubung dengan beban akan mengalir arus listrik ke beban sehingga menghasilkan tenaga listrik sesuai dengan prinsip dasar pembangkitan yaitu : ggl = BLV B = Rapat fluksi ( fluksi dari kumparan medan ) L = Panjang / kumparan jangkar V = Kecepatan putar kumparan medan / poros Sesuai dengan hukum Ohm dimana arus berbanding lurus dengan tegangan / ggl dan berbanding terbalik dengan impedansi sehingga jika terhubung dengan beban maka akan timbal arus .

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Tenaga Listrik / Daya Listrik merupakan perkalian dari tegangan , arus dan faktor daya serta perkalian daya listrik ini dengan waktu pelayanan beban dalah energi listrik . c. Penggerak Mula . Penggerak mula dalah mesin untuk menggerakkan / memutar rotor generator Penggerak mula ini dapat berupa : Mesin Turbin dan Mesin Motor bakar. Mesin Turbin : Turbin Air pada PLTA / Pusat Listrik Tenaga Air. Turbin Gas pada PLTG / Pusat Listrik Tenaga Gas . Turbin Uap : PLTU PLTP / Pusat listrik Tenaga Uap. / Pusat listrik Tenaga Panas Bumi . PLTD / Pusat Listrik Tenaga Diesel PLTGU / Pusat listrik Tenaga Gas dan Uap.

Motor Bakar :

PLTA : Air bendungan dimasukkan kedalam pipa pesat yang dihubungkan dengan Turbin air pada ketinggian yang cukup , sebagai sumber tenaga penggerak Turbin Air yang dikopel dengan generator ber eksitasi dan generator membangkitkan tenaga listrik .
Potensial Mekanis Listrik

Air pipa pesat

Turbin air

Generator

Blok Diagram PLTA

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Gambar : PLTA Tulung Agung.

PLTU : Hasil pembakaran minyak / batu bara dipakai memanaskan air hingga generator bereksitasi membangkitkan tenaga listrik Uap Mekanik

menjadi uap

sebagai sumber tenaga untuk memutar turbin uap yang dikopel dengan generator dan Tenaga Listrik

Boiler

Turbin Blok Diagram PLTU

Generator

10

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Gambar : PLTU Belawan.

PLTG : Hasil pembakaran minyak dan udara menjadi Gas sebagai sumber tenaga untuk memutar turbin gas Gas Gas Mekanik Tenaga listrik yang dikopel dengan generator dan generator bereksitasi membangkitkan tenaga listrik .

Dapur Pembakaran

Turbin gas Blok Diagram PLTG

Generator

11

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Gambar : PLTG NTB PLTGU /Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap / Siklus kombinasi : Merupakan kombinasi dari PLTG dan PLTU Panas dari gas buang PLTG digunakan memanaskan Air di Boiler sehingga menjadi uap dan uap ini memutar Turbin Uap ; jadi tenaga listrik dihasilkan oleh PLTG dan PLTU
Gas

Mekanik

Tenaga Listrik Dapur Pembakaran Gas buang Uap Boiler Turbin Mekanik Generator Tenaga Listrik Gas Turbin Gas Generator

PLTG

PLTU

Blok Diagram PLTGU

12

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan


PLTP / Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi :

Sistem Kelistrikan

Setiap naik 100 m tegak lurus dari permukaan bumi suhu turun rata rata 1derajat Celsius dan sebaliknya suhu naik rata - rata 1 derajat celsius tiap turun 100 m tegak lurus dari permukaan Bumi . . Jika disekitar itu ada sumber magma (Gunung Berapi )/ sumber panas Bumi maka kenaikan suhu 1 derajat Celsius per 100 m turun tidak berlaku lagi namun lebih ekstrim kenaikan panas nya . Panas bumi ini lah yang digunakan untuk memanaskan air / bahan baku uap ( berfungsi sebagai Boiler ) ; Lalu uap memutar turbin uap serta Turbin dikopel dengan Generataor dan generator PLTP biasanya didaerah pegunungan Air injeksi Mekanik Uap Tenaga Listrik bereksitasi menghasilkan tenaga listrik . Letak

Panas Bumi

Turbin

Generator

Blok Diagram PLTP

Gambar : PLTP Kamojang.

13

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan


PLTD : Hasil kompresi udara

Sistem Kelistrikan

dan bahan bakar (terjadi pembakaran dalam dalam ruang bakar

akibat adanya bahan bakar , udara dan panas tinggi) sehingga menghasilkan tenaga untuk menggerakkan poros engkol yang dikopel dengan poros / rotor Generator dan Generator bereksitasi membangkitkan listrik . Diesel Mekanis Generator Listrik

BBM Oksigen Panas Blok Diagram PLTD Pembakaran / bertekanan

Gambar: PLTD Kal-Tim.

14

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan 2.2. KENDALA OPERASI PEMBANGKITAN :

Sistem Kelistrikan

Kendala yang dalam bahasa Inggrisnya disebut constraint, sesungguhnya merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi agar suatu proses dapat dilaksanakan . Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa untuk mencapai suatu tempat dalam waktu yang sesingkat mungkin adalah dengan mengendarai mobil dengan kecepatan setinggi mungkin. Cara ini akan menghadapi kendala sebagai berikut: 1. Kecepatan maksimum yang bisa dicapai mobil tanpa merusak bagian-bagian mobil. 2. Kondisi jalan, tikungan jalan yang tidak memungkinkan mobil mencapai kecepatan maksimum. Dua kendala ini harus dipenuhi agar proses mencapai tempat tersebut diatas dengan mobil dapat terlaksana. Dalam proses optimisasi operasi pada umumnya, khususnya optimasi operasi sistem tenaga listrik, selalu ada kendala-kendala (constraints). Pada operasi pembangkitan yang ada di PLN juga terdapat kendala-kendala yang harus diketahui misalnya : -. Kendala Operasi PLTA : Kendala operasi dalam keadaan statis dan kebanyakan menyangkut koordinasi dengan keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Kendala ini tidak ada apabila PLTA air yang hanya diperuntukan untuk pembangkitan tenaga listrik saja. Apabila diperlukan koordinasi dengan keperluan irigasi dan pengendalian banjir maka umumnya PLTA yang bersangkutan mempunyai kolam tando tahunan seperti halnya terdapat pada PLTA Juanda di Jatiluhur Jawa-Barat dan PLTA Sutami di Karang Kates Jawa-Timur. Secara garis besar pola pengusahaan suatu waduk yang juga menjadi kolam tahunan dari suatu PLTA didasarkan atas pemikiran-pemikiran sebagai berikut: a. Waduk harus dapat menyediakan air untuk keperluan irigasi dimusim kemarau. b. Waduk harus dapat mengendalikan banjir dimusim hujan. c. Diwaktu musim hujan pengisian waduk harus terkendali, dalam arti jangan sampai terjadi pelimpasan air yang berlebihan sehingga membahayakan waduk.

15

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

d. Di akhir musim kemarau atau permulaan musim hujan tinggi air dalam waduk masih harus cukup rendah agar dapat menampung air dimusim hujan yang akan datang. -. Kendala Operasi PLTU PLTU dalam sistem pembangkitan yang relatif besar ( > 1.000 MW) pada umumnya merupakan Pusat Listrik yang dominan baik secara teknis operasionil maupun ditinjau dari segi biaya operasi. Dari segi operasionil PLTU paling banyak kendalanya khususnya dalam kondisi dinamis. Hal ini disebabkan banyaknya componen dalam PLTU yang harus diatur. Kendala operasi yang terdapat pada PLTU adalah : a. b. Starting Time (waktu yang diperlukan untuk men-stsrt) yang relatif lama, bisa mencapai 6 sampai 8 jam apabila Stara dilakukan dalam keadaan dingin. Perubahan daya per satuan waktu (MW per menit) yang terbatas, Kira-kira 5% per menit. Hali ini disebabkan karena proses Star maupun perubahan daya dalam PLTU menyangkut pula berbagai perubahan suhu yang selanjutnya menyebabkan pemuaian atau pengkerutan. Pemuaian-pemuaian atau pengerutan-pengerutan sedapat mungkin harus berlangsung merata dan tidak terlalu cepat untuk menghindarkan tegangan mekanis maupun pergeseran antara bagian-bagian yang berputar dan bagian-bagian yang status misalnya antara rotor dan stator.

-. Kendala Operasi PLTG. Unit PLTG adalah unit pembangkit yang termahal biaya operasi khususnya termahal bahan bakarnya, maka diinginkan agar unit PLTG beroperasi dalam waktu yang sependek mungkin, misalnya pada waktu beban puncak atau pada waktu ada kerusakan/gangguan unit pembangkit lain (sebagai cadangan). Tetapi di lain pihak men-start dan men-stop unit PLTG Sangat menambah keausan unit tersebut sehingga merupakan kendala operasi yang harus diperhitungkan. a. Beban maksimum.

16

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Dalam spesifikasi teknisnya unit PLTG umumnya disebut dua macam rating kemampuan yaitu: 1. Base load rating, yang menggambarkan kemampuan unit untuk melayani beban secara terus menerus. 2. Peak load rating, yang menggambarkan kemampuan unit untuk melayani beban selama dua jam. Peak load rating besarnya kurang dari 10% diatas base load rating. b. Beban minimum. Batas beban minimum untuk unit PLTG tidak disebabkan karena alasan teknis melainkan lebih disebabkan oleh alasan ekonomis yaitu efisiensi yang rendah pada beban rendah. Pada beban 100% pemakaian bahan bakar minyak adalah Kira-kira 0,346 cc/kWh, sedangkan pada beban 25% bisa mencapai Kira-kira 0,645 cc/kWh. c.Kecepatan perubahan beban . Unit PLTG umumnya dapat dirubah bebanya dari 0% sampai 100% dalam waktu kurang dari 15 menit, sehingga bagi unit termis termasuk unit yang dapat dirubah bebanya secara cepat. Tetapi jira diingat bahwa unit PLTG beroperasi dengan suhu gas pembakaran yang tinggi maka perubahan beban berarti pula perubahan suhu yang tidak kecil pada berbagai bagian turbin gas dan menambah keausan bagian-bagian tersebut.

d. Perhitungan Cadangan Berputar. Karena kemampuannya untuk merubah beban yang relatif cepat seperti telah diuraikan diatas, maka cadangan berputar yang dapat diperhitungkan pada unit PLTG adalah sama dengan kemampuan maksimum dikurangi dengan beban saat itu. Namur seperti telah diuraikan di batir c sebaiknya tidak terlalu banyak dipasang cadangan berputar pada unit PLTG.

-. Kenadala Operasi PLTGU : lihat Kendala Operasi PLTU dan PLTGU -. Kendala Operasi PLTD

17

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

PLTD yang terpelihara baik, praktis tidak mempunyai kendala operasi. Dapat di Start-stop dengan cepat tanpa banyak menambah keausan dan biaya bahan bakarnya lebih hemat dari pada PLTG, tetapi masih lebih mahal dibanding dengan PLTU. Masalahnya adalah bahwa hingga kini belum ada unit PLTD dengan kapasitas terpasang melebihi 30 MW, bahkan yang mempunyai kapasitas terpasang diatas 15 MW pun jarang dibuat. Walaupun pada unit PLTD praktis tidak ada kendala operasi, tetapi seperti juga pada unit pembangkit lainya secara operasional perlu diperhatikan hal-hal sbb: a. Beban maksimum dari unit PLTD seringkali tidak bisa mencapai nilai yang tertulis dalam spesifikasi pabrik karena ada bagian-bagian dari mesin diesel yang tidak bekerja dengan sempurna. Misalnya pada beban 90% suhu gas buang sudah mencapai sushu maksimum yang diperbolehkan sehingga beban tidak boleh dinaikan lagi. b. Beban minimum. Tidak ada hal yang membatasi beban minimum pada unit PLTD. Hanya saja apa bila unit PLTD sering dibebani rendah, misalnya kurang dari 50%, maka mesin diesel menjadi lekas kotor sebagai akibat pembakaran yang kurang sempurna dari mesin diesel pada beban rendah. c. Kecepatan Perubahan Beban. Unit PLTD umumnya dapat berubah bebannya dari 0% menjadi 100% dalam waktu kurang dari 10 menit. Oleh karena itu kemampuanya yang cepat dalam mengikuti perubahan beban, unit PLTD baik dipakai untuk turut mengatur frekwensi sistem. d. Perhitungan Cadangan Berputar. Mengingat kemampuanya dalam mengikuti perubahan beban seperti diatas, maka cadangan berputar yang dapat diperhitungkan adalah sama dengan kemampuan maksimum dikurangi dengan beban saat itu.

18

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan


- Kendala Operasi PLTP.

Sistem Kelistrikan

Secara teknis PLTP sesungguhnya sama dengan PLTU hanya ketel uapnya ada dalam perut bumi. Pengusahaan uap dilakukan oleh PERTAMINA dan PLN hanya membeli uap dari PERTAMINA atas dasar kWh yang dihasilkan PLTP. Karena perubahan beban akan menyangkut perubahan penyediaan uap dari perut bumi maka PLTP praktis hanya dapat ikut mengambil beban dasar dalam sistem, dalam arti harus berbeban constan. Mengenai masalah beban maksimum dan beban minimum pada PLTP kendala-kendala nya yang menyangkut turbin uap adalah sama dengan ketel tidak ada pada PLTP.

3. TRANSMISI TENAGA LISTRIK. Transmisi berfungsi menyalurkan arus listrik / tenaga listrik dari pembangkit ke Gardu Induk . Tegangan terima di gardu Induk (Vr) adalah selisih vector antara tegangan kirim ( Vs) dengan drop tegangan di sepanjang konduktor transmisi yaitu perkalian arus (I) dengan Impedansi (Z). Impedansi ini merupakan jumlah vektor dari resistensi (R) dan reaktansi (X) penghantar dimana semakin panjang penghantar maka semakin besar pula R dan X nya sehingga Z juga semakin besar dan akibatnya drop tegangan IZ juga semakin besar ; dengan demikian Vr kecil . Tegangan pelayanan diperbolehkan turun s/d 10 % dari V nominal . Dengan demikian panjang jeringan dibatasi oleh drop tegangan . transmisi Z = R + J X drop tegangan = I Z

Vs

Vr

Transmisi tenaga listrik


Vr = Vs - IZ Agar Vr memenuhi standar maka sebaiknya semakin panjang transmisi , tegangan transmisi dinaikkan .

19

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Output dari Generator di pembangkit (pembangkit besar) bertegangan s/d tegangan menengah di naikkan tegangannya menjadi tegangan tinggi (150 kV) / ekstra tinggi (500 kV) dengan menggunakan Trafo Step Up . Tegangan Transmisi ini diterima oleh Trafo GI (Trafo Step Down) dan diturunkan dari 150 kV menjadi 20 kV ; 500 kV menjadi 150 kV dan ada juga dari 500 kV menjadi 20 kV . Penghantar transmisi terbuat dari ACSR dan Isolatornya terbuat dari Porselin dan menaranya konstruksi besi ./ baja dan di kota tertentu menggunakan Kabel tanah (150 kV) . Transmisi dari Jawa ke Madura dan dari Jawa ke Bali menggunakan Kabel laut 150 kV 50 Hz . Rencananya Transmisi interkoneksi Sumatera ( P3B Sumatera ) bertegangan 275 kV,50 Hz .

Y/Y

transmisi

Y/Y 150 / 20 kV

Generator Y

Trafo Step Up di Switchyard

150 kV

Gardu Induk

JTM

Sistem Transmisi 150 kV / 20 kV

Y/Y

500 kV

500 /150 kV

150 kV

Y/Y 150/20 kV

JTM

20

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan


Trafo step Up di Switch yard Transmisi SUTET Gardu Induk /SKTT

Sistem Kelistrikan
Trafo Step Down Transmisi SUTT Trafo Stepdown GarduIinduk

Sistem Transmisi 500 kV/ 150 kV / 20 kV

Y/Y

Y/Y 500/20 kV

JTM

Trafo Step Up di Switchyard

Transmisi 500 kV

Trafo Step Down Gardu Induk

Sistem Transmisi 500 kV / 20 kV Pada Transmisi 500 kV tidak ada masalah petir karena tegangan transmisi lebih tinggi dari tagangan petir (345 kV) ; Tapi yang menjadi masalah adalah polusi tegangan disekitar SUTET dan masalah Switching Surge / Surja hubung dimana hal ini diatasi dengan memasang reaktor untuk menyerap kelebihan tegangan pada system saat terjadi Switching .

4. Distribusi Tenaga Listrik Distribusi berfungsi menyalurkan tenaga listrik dari pembangkit atau dari Gardu Induk ke Gardu Distribusi dan atau ke Pelanggan dan dari Gardu Distribusi ke Pelanngan dengan energi , tegangan dan frekuensi sesuai stndar pelayanan yang berlaku . Ada kalanya untuk pembangkit kecil , dari Trafo pembangkit langsung ke jaringan distribusi baik lewat SUTM maupun lewat SKTM dengan tegangan 20 kV .

21

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Dari sisi 20 kV Trafo step down GI tenaga listrik didistribusi kan lewat SKTM (sekitar 50 m) keluar Gardu Induk kemudian lewat SUTM ke pelanggan TM atau ke Gardu Distribusi atau Gardu Tiang dan ada pula di distribusikan lewat SKTM untuk daerah perkotaan . Isolator SUTM biasanya menggunakan Porselin dan penghantar nya memakai A2C (All Aluminium Conductor ) atau A3C (All Alluminium Alloy Conductor) . Umumnya saat ini menggunakan Tiang Beton baik bentuk bulat maupun bentuk H atau Tiang kayu atau Besi , 9 m atau 11 m . Trafo Step Down di Gardu Distribusi berfungsi menurunkan tegangan dari 20 kV menjadi 380/220 Volt atau 400/231 Volt kemudian didistribusikan ke pelanggan tegangan rendah . Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) umumnya menggunakan isolator SKUTR menggunakan penghantar TIC (Twisted Insulated Porselin dan Cable ) biasanya berbahan

Aluminium . Umumnya saat ini SUTR menggunakan Tiang SUTM dan jika tidak ada SUTM , menggunakan Tiang Beton / Kayu / Besi , 7 m . Untuk mengukur besaran listrik pada pelanggan dipasang pada sambungan pelanggan dengan Instalasi Pelanggan (IP) APP TM (Alat Pengukur dan Pembatas Tegangan Menengah) untuk pelanggan TM dan APP- TR (Alat Pengukur dan Pembatas Tegangan Rendah) . Trafo Step Down di Gardu Distribusi menggunakan Trafo hubungan Delta/Bintang atau Delta / Z; Y/Y; Y/Z .

Generator

Distribusi TR

Pelanggan TR

Sistem Distribusi dari Pembangkit kecil sekali tanpa GI dan tanpa GD

22

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

JTR / SKUTR

Trafo Pembangkit

Distribusi

TM / 20 kV

Gardu Distribusi D/y 20kV/380/220V D/z / 400/231 V

Sistem Distribusi dari Pembangkit Kecil tanpa GI Sistem Distribusi dari GI ke GD Trafo GI JTM Distribusi 20 kV Gardu Distribusi 20 kV / 380 /220 V JTR 380/220 V

Jaringan Tegangan Rendah ( JTR ) untuk listrik pedesaan beban kecil adakalanya disuplai listrik satu fasa pakai Trafo 1 fasa atau Trafo CSP satu fasa (Completed Self Protected = Trafo yang dilengkapi pengaman sendiri yang jika trip dapat di ON kan kembali) . Sistem Jaringan Distribusi /JTM

23

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Untuk meningkatkan keandalan distribusi tenaga listrik maka dibangun sistem distribusi misalnya : Sistem radial terbuka dimana sistem dilayani oleh satu out going GI saja sehingga jika satu JTM tersebut padam maka Gardu distribusi / beban TM juga padam / keandalan terendah . Sistem Paralel dimana dua outgoing GI /JTM diparalel agar jika satu JTM terganggu Distribusi / beban TM dapat disuplai dari Outgoing / JTM lain . Sistem Ring dimana JTM disuplai dari dua outgoing GI 20 kV dan terhubung satu sama lain misalnya menggunakan PTS atau alat sejenis lainnya . Jika satu jalur JTM terganggu maka gardu distribusi / beban TM dapat dilayani dari Jalar lain . Sistem Spindle dimana Jeringan distribusi dari suatu GI ke Gardu Hubung menggunakan gardu

beberapa jaringan kabel tanah dan satu kabel Express / Express Feeder sehingga jika satu jalur distribusi terganggu maka gardu distribusi / beban TM dapat dilayani oleh jaringan yang lain . Sistem Cluster mirip dengan sistem spindle dimana sistem ini tanpa Gardu Hubung (GH) dan cocok untuk jaringan yang lebih pendek dan semua JTM dari GI tersambung oleh Express Feeder serta beban TM / Gardu Distribusi tersambung pada JTM tersebut, Switching dapat dilakukan di sepanjang express Feeder . Sistem Fish Bone dimana suatu JTM disuplai oleh dua GI dan dari JTM ke Gardu distribusi / percabangan terhubung dengan menggunakan PTS (Pole Top Switch), Sistem ini lebih handal karena disupali dari dua GI . Pada dasarnya sistem jaringan distribusi menyesuaikan dengan jenis dan kepadatan beban . Untuk daerah dengan kepadatan beban rendah Spindle . cocok bila menggunakan sistem radial cocok menggunakan sistem sedangkan untuk daerah yang cepat perkembangan bebannya

24

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sistem Kelistrikan

Kendala operasi pada distribusi tenaga listrik antara lain jika menggunakan penghantar telanjang sering terganggu oleh ranting / daun / dahan pohon dan jika menggunakan kabel biayanya mahal; oleh karena itu pada lokasi tertentu yang sering mengalami gangguan digunakan SUTM penghantar ber isolasi bukan kabel .

5. SAMBUNGAN DAYA LISTRIK.


Sambungan Daya Listrik untuk melayani konsumen ada dua macam : a. Sabungan Listrik Tegangan Menengah (SLTM) b. Sambungan ini khusus untuk melayani pelanggan dengan daya 200 kVA

Sambungan Listrik Tegangan Rendah (SLTR). Sambungan ini khusus untuk melayani pelanggan dengan daya 200 kVA

25