Anda di halaman 1dari 5

PROSES PELAKSANAAN KONSELING

RESUME UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Pengantar Konseling yang dibina oleh Bpk. Moh. Ramli, M.Pd.

oleh Ike Kurnia Ani Khusana 120111409940

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING 2013

PROSES KONSELING

A. Definisi Proses Konseling Konseling pada dasarnya merupakan sebuah proses, yang dibuat dengan tujuan menolong klien yang bermasalah. Proses konseling dapat berlangsung dalam satu kali pertemuan, beberapa kali pertemuan, atau lebih banyak lagi. Cormier & Hackey (dalam Gibson & Mitchell, 1995:143) mengidentifikasi empat tahapan proses konseling yakni membangun hubungan, identifikasi masalah dan eksplorasi ,perencanaan pemecahan masalah, aplikasi solusi dan pengakhiran. Sedangkan Prayitno(1998:24) menyebutkan bahwa ada lima tahap proses konseling yakni pengantaran, penjajagan, penafsiran, pembinaan dan penilaian. Soli Abimanyu dan M. Thayeb Manrihu (1996) mengklasifikasikan konseling perorangan kepada lima tahap yang diawali daripengembangan tata formasi dan iklim hubungan konseling awal, eksplorasi masalah, mempersonalisasi, mengembangkan inisiatif, mengakhiri dan menilai konseling Menurut John Mc Leod proses konseling merupakan topic yang luas. Tiap proses yang telah diterangkan tadi dapat dieksplorasi lebih lanjut melalui sudut pandang konselor, klien, atau pengamat luar independen. Proses Awal 1) 2) 3) Menegosiasikan Harapan Penilaian Membangun Aliansi Kerja

Bagian Tengah Konseling: Proses Perubahan 1) 2) 3) Asimilasi Pengalaman Problematik Peristiwa Perubahan Menggunakan Latihan dan Intervensi Terstruktur

Proses Akhir Proses akhir atau fase final bisa dipecah menjadi menegosiasikan akhir, memberikan rujukan, menyelesaikan isu rasa kehilangan, memastikan pentransferan apa yang dipelajari ke dalam situasi riil, mangantisipasi atau mencegah kambuhan, dan merencanakan lanjutan. Mengakhiri Konseling Tantangan bagi konselor di fase akhir ini adalah menggunakan tahap konseling ini demi keuntungan yang sebesar-besarnya bagi klien. Tujuan tahap ini adalah konsolidasi dan pemeliharaan apa yang telah diraih, generalisasi pembelajaran ke dalam situasi baru, dan menggunakan pengalaman kehilangan dan atau kekecewaan yang dipicu oleh pengakhiran konseling sebagai fokus pengetahuan baru mengenai cara klien menangani perasaan tersebut dalam situasi lain. Tujuan mempelajari dan memahami proses adalah untuk menolong

konselor agar bersikap intensional secara lebih aktif berhitung, agar mewaspadai apa yang mereka lakukan dan selalu berada di posisi yang paling membantu bagi klien mereka.

B. Persiapan untuk Konseling Faktor yang mempengaruhi kesiapan konseli yaitu : a. motivasi untuk memperoleh bantuan b. pengetahuan konseli tentang konseling c. kecakapan intelektual d. tingkat kesadaran terhadap masalah dan dirinya sendiri e. harapan terhadap peranan konselor, sistem pertahanan diri f. dan fasilitas serta perlengkapan yang sesuai.

C. Tahap dalam Proses Konseling : (a) Tahap Awal : Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien ( rapport ), Memperjelas dan mendefinisikan masalah, Membuat penaksiran dan perjajagan,

Menegosiasikan kontrak. (b) Tahap Kerja : Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien secara lebih mendalam, Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara, dapat terjadi jika : Klien merasa senang terlibat dalam konseling, Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling, Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. (c) Tahap Akhir : Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling, Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan, Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera), Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya. Pada tahap akhir ditandai dengan : Menurunnya kecemasan klien, Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis, Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya, Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

D. Kondisi yang Memperngaruhi Konseli : a.Ekstrernal : (a) physical setting : Ruang konseling harus diusahakan menyenangkan dan menarik agar proses koseling berjalan lancar.

(b) proxemics : pengaturan tempat duduk sangat mempengaruhi hal tersebut. Posisi tempat duduk yang digemari adalah cross the corner of the desk (c) privacy : keleluasaan pribadi. (d) belief : perasaan tentang sesuatu yangdianggap benar. (e) values : nilai-nilai konselor dan konseli. (f) penerimaan : Penerimaan berkaitan dengan rasa hormat terhadap individu sebagai pribadi yang memiliki nilai dan harga diri.

b.Internal : (a) rapport : keadaan hubungan yang menyatakan antara klien dan konselor, atau disebut juga hubungan yang yang saling percaya antara klien dan konselor dalam proses konseling. (b) empathy : Adalah kekuatan untuk mengerti perasaan-perasaan orang lain tanpa merasakan sepenuhnya apa yang dirasakan oleh orang lain itu. (c) gunuiness : Berhubungan dengan penghargaan dan keterbukaan terhadap dirinya sewaktu berfungsi sebagai konselor. (d) attentiveness : Merupakan dasar dari keterampilan konselor yang membutuhkan keterampilan mengamati dan mendengarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Scribd, 2012. Proses Konseling.(online). (http://id.scribd.com/doc/83588768/Proses-Konseling), diakses pada tanggal 17 Maret 2013

Djoko, Budi S. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Malang: tanpa penerbit

Akhmadsudrajat. 2012. Proses Konseling, (online) (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/tag/proses-konseling/) , diakses tanggal 18 Maret 2013