Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Metode Penelitian merupakan sebuah tahap awal yang harus dilakukan peneliti baik dilakukan untuk keperluan menulisis skripsi dan tesis. Program melibatkan sejumlah komponen yang bekerja sama dalam sebuah proses untuk mencapai sebuah tujuan. Guru/dosen, objek yang diteliti serta pokok permasalahan merupakan komponen yang selalu ada dalam sebuah Metode Penelitian Tindakan Kelas. Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas seorang peneliti harus menentukan permasalahan dan fokus penelitian. Permasalahan bisa ditemukan dari hasil observasi lapangan ataupun dari media massa. Setelah peneliti menentukan fokus permasalahan maka ia harus menyusun sebuah kerangka pemikiran yang nantinya akan berfungsi dalam menyusun kerangkan hipotesis. Serangkaian tahap yang harus dilewati dalam penelitian tindakan kelas akan membawa sebuah hasil yang bisa berdamapak pada kinerja pendidik, sekolah/perguruan tinggi dan pendidikan.

B. Tujuan Critical Book Report ini bertujuan : 1. Mengulas isi sebuah buku. 2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku. 3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap bab dari sebuah buku. 4. Membandingkan isi buku pada keadaan nyata dan lingkungan sekitar.

C. Permasalahan 1. Apakah isi sebuah buku cukup bermanfaat bagi mahasiswa sebagai salah satu sumber belajar?. 2. Apakah metode yang digunakan pengarang sesuai dengan kondisi dan lingkungan yang sedang kita hadapi?. 3. Apakah isi buku sama dengan isi sebuah buku yang sejenis?.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Informasi Bibliografi Buku yang dipakai sebagai bahan untuk Critical Book Report adalah Judul Penulis Tahun pembuatan Penerbit : Metode Penelitian Tindakan Kelas : Prof. Dr. Rochiati Wiriaatmadja : November 2008 : PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung

B. Pengantar Buku Metode Penelitian Tindakan Kelas yang dikarang oleh Prof. Dr. Rochiati Wiriaatmadja terdiri dari 11 pokok bahasan. Ke 11 pokok bahasan tersebut secara berurut antara lain Penelitian Tindakan Kelas, Kerangka Filsafah Penelitian Tindakan Kelas, Guru atau Dosen sebagai Peneliti, Model Model Penelitian Tindakan Kelas, Menentukan Permasalahan dan Fokus Penelitian, Prosedur Pengumpulan Data, Analisis Data Lapangan, Validasi Data dan Kredibilitas Penelitian, Penafsiran Data, dan pokok bahasan yang ke-11 adalah Menyusun Laporan Penelitian, Dampak Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Kinerja Pendidik, Sekolah/Perguruan Tinggi, dan pendidikan.

C. Isi Buku 1. Bab 1 : Penelitian Tindakan Kelas 1.1 Apa yang Disebut Penelitian Tindakan Kelas Ada banyak persoalan yang dihadapi guru pada waktu ia berdiri di deapan kelas. Berbagai solusi atau cara penyelesaian masalah juga banyak dibahas dalam berbagai telaah penelitian akademik, baik dalam laporan penelitian berbentuk artikel atau pada jenjang skripsi, tesis bahkan disertasi. Akan tetapi, guru tidak bisa memahaminya, apalagi
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 2

mengaplikasikannya dalam pembelajaran sehari hari, terutama karena berbagai kendala. Maka untuk memenuhi tuntutan tersebut guru dapat menggunakan penelitian kelas. Pengertian penelitian tindakan kelas, untuk mengidentifikasi penelitian kelas, adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitan dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (Hopkins, 1993 : 44) Secara ringkas, Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman praktek mereka dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka dan dapat melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Rapoport (1970, dalam Hopkins, 1993) mengartikan penellitian tindakan untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerjasama dalam kerangka etika yang disepakati bersama.

1.2 Pelakasanaan Penelitian Tindakan Kelas Untuk lebih menjelaskan pemahaman tentang penelitian tindakan kelas, berikut ini diberian contoh dalam melakukan kegiatan tersebut. Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Cooperative Learning (2001). Penelitinya adalah K.R., sorang pendidik di Lembaga Pendidikan Guru setempat, yang ingin diperkenalkan penelitian kelas dan metode pembelajaran kooperatif dalam IPS kepada guru SD kelas V di kota itu yang menjadi mitra dalam penelitian ini. Mitra guru ini berpendidikan D II PGSD, telah berpengalaman mengajar 12 tahun, dan telah mengikuti penataran untuk beberapa aspek mengajar di SD. Pada tahap orientasi, KR menemuka bahwa mitra guru SD memberikan pelajaran IPS dengan cara ekspositorik, yang sebagaian waktu mengajarnya digunakan untuk ceramah, memberikan informasi, dan menjelaskan. Hanya sebagian kecil waktu belajar mengajar yang digunakan untuk kegiatan siswa, itu pun hanya mencatat dan melaksanakan evaluasi. Maka dalam kondisi yang dilakukan berikutnya KR menawarkan model pembelajaran cooperative
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 3

learning process kepada mitranya untuk dicoba. Setelah KR memberi penjelasan dan arahan tentang bagaimana pembelajaran kooperatif itu dilaksanakan dan untuk tujuan apa, mitra guru bersedia untuk mencobanya. Kegiatan tindakan yang dilakukan dalam empat siklus dengan penyaji mitra guru dan dengan KR sebagai pengamat, menghasilkan peningkatan kinerja guru dalam memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik dengan kemapuan untuk membagi kelas dalam kelompok kerja dan diskusi, membagikan tugas kelompok, mempimpin dan melakukan fungsi fasilitator dan mediator dalam diskusi kelompok dan kelas, melakukan penilaian dan proses belajar. Sedangkan pada pihak siswa, terjadi peningkatan belajar dalam bentuk kelompok dan bukan hanya dalam bentuk belajar individual, kerjasama, membuat dan melaksanakan tugas, berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan kelas dengan mengemukakan pendapat dan bertanya, serta belajar menghargai pendapat siswa lain. Hasil hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan ini berasal dari observasi KR, catatan lapangannya, wawancara dengan siswa, mitra guru, guru lain dan kepala sekolah, serta nilai nilai yang dicapai siswa baik dalam proses pembelajaran maupun dalam hasil belajar akhir (dengan batas kelulusan 7,5 menunjukkan kenaikan prestasi antara 53,03% sampai 73,45%). Yang lebih berarti, di samping hasil belajar, ialah meningkatnya keterampilan sosial siswa yang mendorong aktifitas belajar dengan lebih berani bertanya dan mengemukakan pendapat, bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas, dan bekerja sama dengan sesama siswa. KR merekomendasikan untuk menyebarluaskan model pembelajaran yang kooperatif ini kepada kepala sekolah dan kepada lembaga pendidikan setempat.

2. Bab 2 : Kerangka Filsafah Penelitian Tindakan Kelas 2.1 Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas yang Emansipatoris dan Membebaskan (Liberting) Penelitian Tindakan Kelas bersifat emansipatoris dan membebaskan karena penelitian ini mendorong kebebasan berpikir dan berargumen pada pihak siswa, dan mendorong guru untuk bereksperimen, meneliti dan menggunakan kearifan dalam mengambil keputusan atau jugment (Hopkins, 1993 : 35) Apabila guru mampu melakukan hal hal tersebut, maka guru akan memiliki kontrol terhadap kegiatan profesi mereka. Mereka tidak akan puas terhadap apa yang diperintahkan atasan, yang akan menimbulkan perasaan tidak yakin tentang apa yang mereka lakukan.
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 4

Dalam kinerjanya, guru harus memperhatikan kurikulum, instruksi kepala sekolah, para pengawas, bahkan buku teks yang telah ditentukan dari atas; akan tetapi dengan melakukan penelitian mereka akan mengembangkan kemampuan memutuskian, atau mengambil kesimpulan secara profesional, dan dengan demikian bergerak kearah otonomi dan emansipasi, karena kebenaran yang terkandung dalam penelitian yang mereka lakukan harus diterima oleh pihak manapun. Dalam Goods Dictionary of Education, profesi dijabarkan sebagai suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di perguruan tinggi, dan berpedoman kepada kode etik khusus.

2.2 Refleksi, Refleksi-diri, dan Pembelajaran yang Reflektif Praktek reflektif mempunyai makna yang majemuk (Adler, dalam Ross, Ed. 1994:5255), masing masing berbicara tentang hal hal berbeda, dengan tujuan yang berbeda, dan memakai sumber yang berbeda. Adler melihat ada tiga perspektif mengenai refleksi, yakni: a. Ikuiri reflektif, yang difokuskan kepada pilihan guru dalam strategi mengajar, konten/materi pembelajaran, dan tujuan. b. Schon (1987, dalam Adler, 1994) memilih refleksi dalam tindakan. Ia melihat, bahwa para praktisi dilapangan (kelas/sekolah) yang bersikap reflektif, dapat melakukan kegiatan mengajar (= tindakan) sambil berpikir. c. Zeichner dan Liston (1987, dalam Adler, 1994) memahami tiga tahap refleksi, yaitu tahap teknis dimana guru mengaplikasikan ilmunya untuk mencapai tujuan pembelajaran, tahap kedua guru perlu merefleksi mengenai pilihan pilihan yang ia lakukan waktu mengajar. Apakah lembaga mendorong atau menghambat terhadap pilihan guru ini? Bagaimana hidden curriculum,-nya atau apakah sesuai kaidah kaidah yang berlaku di sekolah? Jadi refleksi di sini tidak hanya sepanjang pembelajaran berlangsung, melainkan lebih dari itu.

2.3 Penelitian Tindakan Kelas dalam Konteks Rasa Percaya Diri dan Harga Diri Bahwa Penelitian Tindakan Kelas dapat mengembalikan rasa percaya diri atau self confidence guru, dan dengan demikian mengembalikan harga diri atau self esteem, atau self respect guru.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 5

Penelitian Tindakan Kelas yang bersemangat membebaskan (liberating) dan menyetarakan (emancipating) dalam konteks profesi guru adalah, karena dengan kesadaran akan kekurangannya ia berusaha memperbaikinya, maka kembalinya rasa percaya diri dan harga diri, sungguh hal itu memberikan rasa pembebasan guru dari ketergantungan kepada berbagai pihak, dan keseteraan dengan sesama profesi lain yang selama ini selalu dihargai masyarakat. Stenhouse, yang melihat aspek ini dari proses pengembangan kurikulum, mengemukakan bahwa guru yang meneliti (teacher as researcher) sebenarnya melakukan seperti yang diharapkan dalam konsep extend professionalism, yakni mengembangkan perspektif, keterampilan dan keterlibatan yang meliputi: a. Ia harus memiliki wawasan yang luas mengenai pekerjaannya dalam konteks sekolah, masyarakat, dan lingkungannya. b. Berpartipasi dalam kegiatan kegiatan prosfesional seperti dalam kelompok guru, konferensi guru, atau diskusi diskusi mengenai bidang kajian mereka. c. Memiliki kepedulian untuk menjalankan teori dan praktek. d. Untuk itu mereka bersikap inovatif di kelas mereka (Hoyle dalam Stenhouse, 1984:143 144)

2.4 Beberapa Catatan Mengenai Pencapaian Kebenaran dalam Penelitian Kekhawatiran yang berlebih berlebihan terhadap keikutsertaan guru dalam penelitian kelas tidak berasalan, karena setiap penelitian memiliki metode, sistem, dan prosedurnya sendiri yang sudah baku. Kebenaran menurut Ford dalam Lincoln dan Guba (1985:14) menpunyai makna yang berbeda beda, antara lain: a. kebenaran empirik, yaitu apabila konsisten dengan alasan dalam bentuk menerima atau menolak hipotesis atau prediksi. b. Kebenaran logis, yaitu apabila hipotesis atau prediksi konsisten atau secara logis dengan hipotesis atau prediksi terdahulu yang sudah dinyatakan benar. c. Kebenaran etik, yaitu apabila peneliti melakukannya sesuai dengan standar perilaku profesional dan moral.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 6

d. Benaran metafisik, yaitu klaim yang tidak dapat diuji dengan norma norma eksternal seperti koresponden standar perilaku profesional dan moral, melainkan diterima seperti adanya karena berlandaskan entitas fundamental yang menjadi dasar keyakinan. 2.5 Pedoman Etik bagi Guru/Dosen yang Meneliti Kebebasan guru atau dosen dalam meneliti tidak berarti tidak ada batasnya. Mereka bekerja dan hidup dan lembaga sosial yang memiliki norma norma atau kaidah kaidah yang harus dikuti. Karenanya ada baiknya memperhatikan seperangkat pedoman yang harus ditaati sebelum, selama dan sesudah penelitian dilakukan, sebagai beikut: a. Meminta kepada orang orang, panitia, atau yang berwewenang persetujauan dan izin. b. Ajaklah kawan kawan sejawat terlibat dan berpartisapasi dalam penlitian. c. Terhadap yang tidak langsung terlibat, perhatikan pendapat mereka. d. Penelitian berlangsung terbuka dan transparan, saran saran diperhatikan, dan kawan sejawat diperbolehkan melakukan protes. e. Meminta izin eksplisit untuk mengobservasi dan mencatat kegiatan mitra peneliti, tidak termasuk izin dari siswa apabila penelitian bertujuan meningkatkan pembelajaran. f. Minta izin untuk membuka dan mempelajari catatan resmi, surat surat danb dokumen. Membuat fotokopi hanya diperkenankan apabila diizinkan. g. Catatan dan deskripsi kegiatan hendaknya relevan, akurat, dan adil. h. Wawancara, pertemuan, atau tukar pendapat tertulis hendaknya memperhatikan pendangan lain, relevan, akurat, dan adil. i. Rujukan langsung, rujukan observasi, rekaman, keputusan, kesimpulan, atau rekomendasi hendakanya mendapat izin atau otoritas kutipan. j. Laporan disusun untuk kepentingan yang berbeda, seperti laporan verbal pada pertemuan staf jurusan, tertulis untuk jurnal, suratkabar, orangtua murid, dan lain lain. k. Tanggung jawab untuk hal hal atau pribadi yang sifatnya konfidensial. l. Semua mitra penelitian mengetahui dan menyetujui prinsip prinsip kerja di atas, sebelum penelitian berlangsung. m. Hak melaporkan kegiatan dan hasil penelitian, apabila sudah disetujui oleh para mitra peneliti, dan laporan tidak bersifat melecehkan siapapun yang terlibat, maka laporan tidak boleh diveto atau dilarang karena alasan kerahasiaan (Kemmis dan Taggart, dalam Hopkins, 1993: 221-222)

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 7

3. Bab 3 : Guru atau Dosen sebagai Peneliti 3.1 Mengapa Guru Harus Meneliti? Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk inkuiri pendidikan. Di dalam pelaksanaan gagasan atau permasalahan guru atau dosen diuji dan dikembangkan dalam bentuk tindakan. Guru atau dosen sebagai pengembang kurikulum di kelas dapat melakukan tindakan tindakan yang tergolong kearah proses pembaharuan kurikulum, karena penelitian tindakan kelas: a. Merupakan sebuah proses yang diprakarsai guru atau dosen untuk menanggapi situasi praktis tertentu yang harus mereka hadapi. b. Situasi tersebut merupakan pelaksanaan bagian dari kurikulum yang terganggu dan menimbulkan persoalan bagi guru atau dosen, misalnya karena penolakan peserta didik yang tidak mau belajar. c. Apabila tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas itu merupakan upaya dalam inovasi pembelajaran, dan ternyata menimpulkan respons yang kontroversial di kalangan staf guru atau dosen lainnya karena dipandang bertentangan dengan hakikatu belajar, mengajar dan evaluasi selama ini, maka Penelitian Tindakan Kelas mampu memberikan kepastian tentang menfaatnya kepada staf guru atau dosen tersebut. d. Permasalahan atau isu isu yang didiskusikan berlangsung dalam wacana bebas dan terbuka, ditandai oleh rasa toleransi dan menghormati pendapat oranglain, dan tidak dibatasi oleh wewenang pimpinan dalam menerima hasil hasil penelitian. e. Proposal penelitian yang mengusulkan perubahan dianggap sebagai hipotesis kerja yang harus diujikan terlebih dahulu dalam praktek, sebagai pertanggungjawaban atau akuntabilitas terhadap staf pengajar lainnya. f. Penelitian ini merupakan pendekatan yang akar rumput atau grass roots sifatnya, memakai pendekatan bottom up dan bukan top-down dalam mengembangkan kebijakan atau strategi pengembangan kurikulum, yaitu seyogianya difasilitasi oleh pimpinan lembaga pendidikan yang bersangkutan (Elliott, 1991:9). 3.2 Pegangan Guru sebagai Peneliti Kemampuan guru untuk meneliti akan meningkatkan kinerja dalam profesinya sebagai pendidik. Namun sejauh mana guru berbuat untuk kemajuan dirinya berarti menyumbang kepada tugas tugasnya dalam lingkup kemajuan sekolah? Ada beberapa kriteria yang perlu dijadikan pegangan guru. Hopkins mengemukakan beberapa saran tentang hal ini:
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 8

a. Tugas utama seorang guru adalah mengajar, jadi kegiatan melakukan penelitiannya jangan sampai mengganggu tugas utama ini. b. Metode pengumpulan data jangan yang terlalu memakan banyak waktu. Manfaatkan alat elektronik seperti tape recorder, meskipun guru harus membuat transkripsinya yang mungkin membutuhkan waktu juga. Pilihlah cara cara pengumpulan data yang efesien dan relevan dengan kebutuhan. c. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru sudah diakrabi langkah langkahnya, sehingga ia mampu menyusun hipotesis kerja dan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan sesuai dengan kondisi kelas dengan percaya diri. d. Masalah penelitian harus sesuai dengan bidang tugas guru. Hal ini mengingat bahwa penelitian akan membutuhkan waktu dan energi guru, jangan sampai terjadi ia terjadi kehilangan semangat apabila masalah penelitian menghadapi persoalan yang ia tidak mampu menyelesaikannya, dan berhenti ditengah jalan. Sebagai langkah pendekatan alternatif dari penelitian pendidikan yang tradisional (kuatitatif) terhadapa berbagai persoalan yang yang dihadapi dosen, maka penelitian tindakan memberikan gambaran keuntungan sebagai berikut: Praktis, dalam arti bahwa wawasan dan hasil yang diperoleh dari penelitian tidak saja secara teoritik penting untuk meningkatkan ilmu yang bersangkutan, akan tetapi juga meningkatkan praktek pembelajaran selama dan sesudah penelitian berlangsung. Pasrtisipatif dan kolaboratif, karena penelitian bukan orang luar melainkan salah seorang dari staf dosen yang bekerja sama dengan dosen sejawat atau kolega demi kepentingan bersama. Emansipatoris, karena pendekatan tidak dilakukan dalam jalur yang hierarkis, melainkan dilakukan oleh semua partisipan dalam kedudukan yang setara. Interpretatif, karena inkuiri sosial ini tidak menuntut hasil berupa pernyataan peneliti yang positipistik dan bersifat benar atau salah terhadap pernyataan penelitian, melainkan solusi yang berdasarkan kepada pandangan dan penafsiran semua objek yang terlibat dalam penelitian.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 9

4. Bab 4 : Model Model Penelitian Tindakan Kelas 4.1 Bagan 2 : Model Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis

GAGASAN AWAL

RECONNAISSANCE

Rencana Umum Langkah 1 Langkah 2 Langkah dst. Implementasi Langkah 1 Perbaikan Rencana Evaluasi Langkah 1 Langkah 2 Implementasi Langkah 2

Evaluasi

Dst.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 10

4.2 Bagan 2 : Revisi Model Lewin Menurut Elliott

Identifikasi Masalah

Memeriksa Di lapangan (Reconnaissance)

S i k l u s 1

Perencanaan Langkah/Tindakan 1 Langkah/Tindakan 2 Langkah/Tindakan 3 Pelaksanaan Langkah/ Tindakan 1

Observasi/Pengaruh Revisi Perencanaan Reconnaissance Diskusi Kegagalan dan pengaruhnya/Reflesi

Rencana Baru Langkah/Tindakan 1 Langkah/Tindakan 2 Langkah/Tindakan 3 Pelaksanaan Langkah/ Tindakan Selanjutnya

S i k l u s 2

Observasi/Pengaruh

Reconnaissance Diskusi Kegagalan dan pengaruhnya/Reflesi

Revisi Perencanaan

Rencana Baru Langkah/Tindakan 1 Langkah/Tindakan 2 Langkah/Tindakan 3 Pelaksanaan Langkah/ Tindakan Selanjutnya

S i k l u s 3

Observasi/Pengaruh

Reconnaissance Diskusi Kegagalan dan pengaruhnya/Reflesi

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 11

Penjelasan bagan 1
Model ini menggambarkan sebuah spiral dari beberapa siklus kegiatan. Bagan yang melukiskan kegiatan ini pada siklus dasar kegiatan yang terdiri dari mengidentifikasi gagasan umum, melakukan reconnaisaance, menyusun rencana umum, mengembangakan langkah tindakan yang pertama, mengimplementasikan langkah tindakan pertama, mengevaluasi, dan memperbaiki rangcangan umum. Dari siklus dasar yang pertama inilah, apabila peneliti menilai adanya kesalahan atau kekurangan dapat memperbaiki atau memodifikasi dengan mengembangkannya dalam spiral keperencanaan langkah tingkat ke- 2. Apabila dalam implementasiannya kemudian dievaluasi masih terdapat kesalahan atau kekurangan, masih bisa diperbaiki atau dimodifikasi, yakni kemudian secara spiral dlanjutkan dengan perencanaan tindakan ketiga, dan seterusnya. Siklus dalam spiral ini baru berhenti apabila tindakan substantif yang dilakukan oleh penyaji sudah dievaluasi baik, yaitu penyaji yang mungkin peneliti sendiri atau mitra guru yang sudah mengusai keterampilan mengajar yang dicobakan dalam penelitian tersebut. Bagi peneliti pengamat atau observer, siklus dihentikan apabila data yang dikumpulkan untuk penelitian sudah jenuh, atau kondisi kelas sudah stabil. Penafsiran yang diberikan oleh Kemmis meliputi hal hal berikut. Penyusunan gagasan atau rencana umum dapat dilakukan jauh sebelumnya. Reconnaissance bukan hanya menemukan fakta dilapangan akan tetapi juga mencakup analisis, dan terus berlanjut pada siklus berikutnya, dan bukan hanya pada awal saja. Implementasi tindakan bukan pekerjaan yang mudah, karenanya jangan langsung dievaluasi melainkan dimonitor dahulu sampai langkah implementasi dilakukan seoptimal mungkin (Kemmis dalam Elliott, 1991 : 70)

Penjelasan Bagan 2
Apa yang dimaksud dengan identifikasi masalah, pada hakikatnya ialah pertanyaan yang menghubungkan gagasan atau idea dengan tindakan. Berikut contoh contohnya: Peserta didik merasa tidak puas dengan metode penilaian yang dipakai guru. Bagaimana kalau kita berkolaborasi untuk meningkatkan asesmen siswa?

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 12

Peserta didik banyak membuang waktu percuma di kelas. Bagaiman cara kita membawa siswa lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk menyelesaikan tugas tugas mereka.

Orangtua peserta didik bersedia membantu sekolah dengan melakukan supervisi PR (pekerjaan rumah) mereka. Bagaimana caranya agar bantuan orangtua murid bekerja lebih produktif? (Elliot, 1991 : 72)

Apapun masalah yang akan diangkat dalam penelitian, hendaknya tetap berada dalam lingkup permasalahan yang dihadapi guru/dosen dalam praktek kesehariannya dikelas atau ruang kuliah, dan kemudian merupakan sesuatu yang ingin diubah atau diperbaiki. Sedangkan yang dimaksud dengan reconnaissance, kegiatan yang dimaksud meliputi pemehaman tentang situasi kelas yang ingin diubah atau diperbaiki. Apabila guru/dosen dalam pembelajaran sehari hari merasakan ada sesuatu yang janggal atau kurang memuaskan, yang oleh peneliti pengamat juga dicermati pada waktu orientasi atau tahap awal penelitian sebagai perlu peningkatan, maka diperlukan penjelasan lebih lanjut. Misalnya, kejanggalan itu ialah bahwa para peserta didiki banyak membuang waktu percuma di kelas perlu deskripsi yang mendetail, seperti: Peserta didik yang mana yang membuang waktu percuma di kelas? Tugas apa yang seharusnya mereka lakukan? Pada saat saat mana dalam pelajaran mereka melakukannya? Manifestasi bentuk kegiatan apa yang mereka tampilkan waktu membuang waktu dengan percuma di kelas? Informasi yang didapat dari pertanyaan pertanyaan di atas akan menolong untuk membedakan berbagai aspek permasalahan penelitian, dan membantu kearah mana perbaikan harus dilakukan. Refleksi atau mempertimbangkan baik atau buruknya ataupun berhasil belum berhasilnnya tindakan, merupakan bagian dari tahap diskusi dan analisis penelitian sesudah tindakan dilakukan sehingga memberikan arah bagi perbaikan selanjutnya.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 13

5. Bab 5 : Menentukan Permasalahan dan Fokus Penelitian 5.1 Mengidentifikasi Permasalahan Penelitian Apabila guru atau dosen sudah berhasil merumuskan masalah apa yang sebenarnya yang dapat dijadikan fokus dalam penelitian tindakan kelas, untuk menyakinkan guru atau dosen bahwa sudah mengidentifikasi fokus permasalahan yang sudah dijadikan bahan penelitian kelas, coba ajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan pengembangan: Apakah dengan fokus tersebut guru/dosen dapat memperbaikinya? Apakah orang lain juga merasakan hal yang kurang beres itu? Apakah guru/dosen merasa kebingungan dengan apa yang ditemukan? Apakah guru/dosen semakin terdorong untuk mencari solusi untuk permasalahan ini?

Apabila jawaban jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan di atas telah meyakinkan, bahwa ada permasalahan yang perlu ditangani maka masalah yang ditemukan adalah masalah pemebelajaran yang benar benar dialami di kelas, dan bukan masalah yang diminta oleh kepala sekolah atau dekan untuk diteliti, atau siapapun yang menyarankan untuk diujicobakan dikelas. Namun, apabila masih merasakan keraguan apakah benar telah menemukan fokus permasalahan untuk diteliti, guru/dosen dapat berdiskusi dengan rekan sejawat sesama guru/dosen, atau meminta pertolongan dosen LPTK yang dikenal dan mengetahui model penelitian ini, atau lakukanlah dengan menggali wacana tentang Penelitian Tindakan Kelas yakni membaca sendiri buku buku tentang hal itu.\ Ada beberapa hal yang patut diperhatikan, bahwa untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas sebaiknya dilakukan semacam feasibility study terlebih dahulu, seperti: Apakah guru/dosen bersedia dan mampu melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas ini dalam peran sebagai peneliti/mitra peneliti? Apakah kegiatan ini tidak merepotkan atau menyita waktu guru/dosen? Apakah siswa di kelas sudah dipersiapkan untuk kegiatan ini dan mereka siap dan bersedia untuk membantu/berpartisipasi dalam kegiatan penelitian ini? Apakah suasana kelas/iklim sekolah kondusif (antara lain dukungan kepala sekolah) untuk pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas? Apakah sarana kelas/sekolah cukup tersedia untuk kebutuhan penelitian?
Hal. 14

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Baiklah, apabila pertanyaan pertanyaan di atas sudah terjawab, sekarang masih ada permasalahan penelitian yang perlu difikirkan dan dilakukan. 5.2 Menganalis Permasalahan Penelitian Seperti telah dibahas terdahulu, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bentuk penelitian yang dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif. Artinya guru atau dosen tidak melakukan penelitian ini sendiri, ada kemungkinan mereka berkolaborasi atau bekerja sama dibantu oleh rekan sejawat sesama gur/dosen, mungkin juga oleh kawan LPTK yang dikenal itu, atau mungkin juga bersama sama Kepala Sekolah atau bahkan Dekan yang ingin mengetahui bagaimana Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. Secara parsipatif bersama sama mitra peneliti akan melaksanakan penelitian ini langkah demi langkah. 5.3 Membentuk Kerangka Pemikiran atau Paradigma Setelah fokus permasalahan terbentuk, selanjutnya guru/dosen peneliti sebaiknya menyusun kerangka pemikiran atau paradigma penelitiannya. Paradigma (Kuhn, 1972) dalam ilmu ilmu sosial dan kemanusiaan membantu peneliti untuk memahami fenomena tentang asumsi asumsi dunia sosial, bagaimana ilmu disusun atau diorganisir, dan apa yang disebut masalah, penyelesaian masalah, dan kriteria pembuktiannya. Dalam penelitian kualitatif, paradigma ada kalanya disebut sebagai pendekatan kontruktivis (contructivist approach), atau pendekatan naturalistik (naturalistic approach), atau pendekatan interpretatif (interpretative approach), atau perspektif postpositifis (postpositivistic perspective) (Creswell, 1994:4). Kerangka pemikiran atau paradigma adalah pandangan dunia atau worldview dari peneliti untuk memahami asumsi asumsi metodologis sebuah studi secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. 5.4 Menyusun Hipotesis Hipotesis lazim digunakan dalam penelitian penelitian yang bertradisi kuantitatif dengan pola pikir deduktif verifikatif. Pada kajian kajian kualitatif, lebih banyak diajukan pertanyaan penelitian daripada menyusun hipotesis (Creswell: 1994:70). Creswell menyarankan untuk mengajukan pertanyaan penelitian dalam bentuk pertanyaan besar atau yang disebutnya agrand tour question atau dapat juga disebut a guilding hypothesis, dan pertanyaan kecil yang sering disebut subquestion.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 15

Pengembangan Pembelajaran PIPS Melalui Pendekatan Konsep Siswa

Relasi Interaksi Komunikasi sosial

Konsep siswa ttg Self/Diri dan Dunia

Pengalaman di luar sekolah

Iklim soaial pembelajaran

Budaya kelas/sekolah

Pengalaman dalam Kelas/Sekolah

di

Program PIPS (tujuan materi)

Komunikasi pembelajaran

Aktivitas Proses Pembelajara

Konsep siswa tentang IPS

Hubungan kemanusiaan guru siswa & siswa - siswa

Rekontruksi perspektif PIPS berbasis Konsturk Konsep siswa

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 16

Para pembaca guru/dosen peneliti dipersilahkan mempertimbangkan dan memutuskan ( = refleksi) pilahan antara bentuk pertanyaan penelitian atau hipotesis. Apabila sudah tercapai kesepakatan di antara para peneliti, yaitu guru/dosen dengan mitra peneliti dalam menentukan fokus penelitian, dan akan diformulasikan dalam bentuk hipotesisi maka langkah selanjutnya adalah menjabarkan, membahaskan dengan lugas dan jelas permasalahan penelitian. Defenisi permasalahan atau hipotesis ini berfungsi untuk menentukan data apa yang harus dicari dan dikumpulakan, serta untuk menganalisisnya. Jadi, susunlah hipotesis yang jelas dan tepat, tidak mengandung dua makna atau ambigu, dan kemukakan dengan gamblang. Hindari istilah istilah yang bermakna kuatitatif seperti pengaruh (affect, influence, impact), menentukan (determine), sebab (cause), dan hubungan (Creswell, 1994:71) Di dalam penelitian pendidikan yang lazim dilakukan, pada tahap penyusunan hipotesis seringkali teori dilibatkan untuk menguji apakah misalnya metode mengajar tertentu yang menurut teori si Anu berlaku di kelas kelas atau di sekolah sekolah yang dipilih sebagai sampel penelitian dan sesuai teori tersebut atau tidak. Teori, yang menyangkut sejumlah asumsi yang perlu dimaknai, diduga atau digunakan sebagai pengangan, dalam Penelitian Tindakan Kelas tidak terlalu menjadi ukuran untuk menyelesaikan permasalahan sehari hari yang pramatik di kelas. Beberapa hal yang diperhatikan sebelum menyusun hipotesis, adalah: Diskusikanlah permasalahan yang dihadapi dengan mitra peneliti! Pelajari hasil hasil penelitian yang telah dilakukan di bindang ini! Mintalah saran kepada ahli atau pakar di bidang ini!

Selanjutnya pikirkan juga dengan seksama beberapa aspek tindakan dalam penelitian, sebagai berikut: Apakah anda telah mengkaji dan merencanakan tindakan yang telah anda lakukan? Apakah anda telah mempersiapkan prosedur langkah langkah tindakan tersebut? Apakah anda telah mempersiapkan langkah tindakan kecuali dari segi provider, juga dari segi kepraktisan, keberhasilan dan keberhasilannya? Apakah anda mempersiapkan alternatif lain apabila hasil dari langkah tindakan tidak mencapai hasil yang diharapkan, pada langkah berikutnya?
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 17

Bab 6 : Prosedur Pengumpulan Data 6.1 Peneranan Peneliti sebagai Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas sebagai penelitian bertradisi kualitatif dengan latar atau setting yang wajar dan alami yang diteliti, memberikan peranan penting kepada penelitinya yakni sebagai satu satunya instrumen karena manusialah yang dapat menghadapi situasi yang berubah ubah dan tidak menentu, seperti halnya banyak terjadi di kelas atau di ruang kuliah. Lincoln dan Guba (1985) merinci karakter yang harus dimiliki seorang peneliti as the only human instrument, sebagai berikut: 1. Responsif, terhadap berbagai petunjuk baik yang bersifat perorangan maupun yang bersifat lingkungan. 2. Adaptif, dengan mampu mengumpulkan berbagai informasi mengenai banyak faktor pada tahap yang berbeda beda secara simultan. 3. Menekankan aspek holistik, karena manusialah yang mampu dengan segera menempatkan dan menyimpulkan kejadian yang membingungkan di atas ke dalam posisinya secara keseluruhan. 4. Pengembangan berbasis pengetahuan, hanya manusia yang dapat sekaligus berpikir yang tidak diungkapkan (tacit knowledge) dalam menyusun proposisi, sementara sadar bahwa situasi yang dihadapi memerlukan lebih dari sekedar pengetahuan dan proporsi karena harus memahami apa yang dirasakan subyek yang diteliti, simpati dan empati yang tidak diungkapkan, harapan yang tidak diucapakan, dan berbagai kebiasaan sehari hari yang tidak pernah diperhatikan, yang justru menyumbangkan kedalam dan kekayaan kepada penelitian. 5. Memproses dengan segera, sang penelitilah yang mampu segera memproses data di tempat, membuat generalisasi, dan menguji hipotesis di dalam situasi yang dengan sengaja diciptakan. 6. Klarifikasi dan kesimpulan, ia juga memiliki kemampuan unik untuk membuat kesimpulan ditempat, dan langsung meminta klarifikasi, pembetulan, atau elaborasi kepada subyek yang diteliti. 7. Kesempatan eksplorasi, terutama terhadap jawaban jawaban subyek yang diteliti yang tidak lazim, atau mengandung kelainan (idiosinkretik), yang sepertinya tidak berguna atau tidak bisa dikoding, sehingga data tersebut diabaikan atau dibuang. Peneliti sebagai
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 18

human instrument, justru bisa mengeksplorasi respons respons demikian, menguji validitasnya, bahkan mungkin mencapai pemahaman yang lebih tinggi daripada yang dapat dicapai oleh peneliti biasa (Lincoln dan Guba, 1985: 193-194).

6.2 Beberapa Hal tentang Observasi Untuk melakukan pengamatan yang profesional, anda harus memperhatikan beberapa hal, seperti berikut: Memperhatikan fokus penelitian, kegiatan apa yang diamati apakah yang umum atau yang khusus. Kegiatan umum yang harus diobservasi berarti segala sesuatu yang terjadi di kelas harus diamati atau dikomentari, serta dicatat dalam Catatan Lapangan. Sedangkan observasi kegiatan khusus , hanya memfokuskan keadaan khusus di kelas seperti kegiatan tertentu atau praktek pembelajaran tertentu, yang sudah didiskusikan sebelumnya. Apabila fokus observasi bersifat umu dan luas, ada kemungkinan komentar yang bersifat subjektif. Komentar subjektif bisa saja diberikan, akan tetapi kemungkinan sedikit gunanya bagi guru yang sedang diobservasi dan apa yang sedang terjadi sebenarnya di kelas. Jadi, sebaiknya anda mengamati secara lugas terhadap fokus observasi. Menentukan kriteria yang diobservasi, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuran ukuran apa yang digunakan dalam pengamatan. Secara cermat, ukuran ukuran baik, sedang, lemah, efesien, tidak efesien, dan lain ukuran yang dipakai dalam pertimbangan observasi dibicarakan terlebih dahulu, dan kemudian disetujui. Hal ini akan menghindarkan kesalahpahaman antara mitra peneliti, apabila akan melakukan diskusi atau refleksi sesudah penampilan tindakan kelas. Kriteria observasi ini selanjutnya akan menjadi penentu apakah pengumpulan data penelitian mengikuti standar tersebut atau tidak. Manfaat observasi dalam penelitian akan terwujud apabila masukan balik atau feedback dilakukanh dengan cermat, yaitu dengan cara: Dilakukan dalam waktu 24 jam sesuatu kegiatan tindakan dilakukan. Berdasarkan catatan lapangan yang ditulis dengan sistematis dan cermat. Berdasarkan fakta faktual. Data faktual ditafsirkan berdasarkan kriteria yang telah disetujui.
Hal. 19

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Penafsiran diberikan pertama kali oleh guru yang diobservasi. Untuk selanjutnya dirundingkan bersama mitra peneliti lainnya dalam diskusi dua arah. Menghasilkan strategi selanjutnya dalam siklus berikutnya, (Hopkins, 1993:80)

6.3 Tiga Fase Observasi Tiga fase esensial dalam mengobservasi kelas adalah pertemuan perencanaan, observasi kelas, dan diskusi balikan. Dalam pertemua perencanaan pihak guru yang menyajikan dan pihak pengamat mendiskusikan rencana pembelajaran. Yang perlu didiskusikan adalah bagaimana penyajian langkah langkah pembelajaran dilakukan dan bagaimana pengamat akan mulai dengan mengumpulkan data melalui observasi dilakukan. Pengumpulan data objektif dari tindakan belajar mengajar guru seperti sudah disepakati bersama, selanjutnya akan dianalisis dalam diskusi balikan sesudah tampilan pembelajaran selesai. Guru dan pengamat akan mempelajari bersama hasil observasi, menyepakaiti hasil pengamatan yang berbentuk kekurangan atau keberhasilan untuk dijadikan catatan lapangan, dan mendiskusikan langkah langkah berikutnya. Perhatikanlah bagan berikut:

Pertemuan Perencanaan

Diskusi Balikan

Observasi Kelas

Hubungan antara guru yang melaksanakan pembelajaranb dan pengamat atau observer harus dalam iklim saling percaya dan saling bantu, dan bukan yang satu merasa terancam oleh yang lain. Jangan lupa bahwa fokus penelitian adalah untuk memperbaiki pembelajaran di kelas, dan mendukung strategi atau teknik teknik belajar mengajar, bukan untuk mengkritik pola perilaku guru yang kurang berhasil. Keberhasilan penelitian tergantung dari pengumpulan dan penggunaan data yang dihasilkan dari pengamatan yang objektif, dan bukan dari keputusan yang tidak mendasar dan menghakimi. Dari hasil pengamatan inilah guru dapat mengambil kesimpulan mengenai cara mengajarnya, dan
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 20

berdasarkan data ini dapat disusun hipotesis untuk keperluan selanjutnya. Setiap siklus pengamatan merupakan bagian dari proses yang akan membangun siklus selanjutnya. Baik guru dan observer, keduanya sedang terlibat dalm proses pengembangan profesional yang akan menghasilkan peningkatan dalam mengajar dan dalam keterampilan untuk mengamati atau observasi.

6.4 Beberapa Metode Observasi a. Observasi Terbuka Observasi terbuka adalah apabila sang pengamat atau observer melakukan pengamatannya dengan mengambil kertas pinsil, kemudia mencatat segala sesuatu yang terjadi di kelas. b. Observasi Terfokus Apabila penelitian ingin memfokuskan permasalahan kepada upaya upaya guru dalam membangkitkan semangat belajar siswa dengan memberikan respons kepada pertanyaan guru, maka sebaiknya dilakukan Penelitian Tindakan Kelas yang memfokuskan kepada meningkatkan kualitas bertanya. Seringkali juga guru mengalami kesulitan dalam memberikan pujian (reward) ataupun hukuman (punishment) kepada siswa, dan guru seringkali tidak mengetahui bagaimana melakukannya mengingat ada kaitannya adat istiadat atau budaya siswa yang berasal dari kelompok etnik yang berbeda. c. Observasi Terstruktur Cara lain untuk melakukan observasi terstruktur dapat juga dilakukan dengan oleh para peneliti, setelah mereka mendiskusikannya pada perencanaan. Misalnya dengan membuat denah kelas lengkap dengan posisi duduk siswa, yang diberi nomor atau tidak. Pengamat kemudian mencatatkan jawabannya tercatat serempak pada posisi duduk siswa, atau pada nomor posisi duduk siswa. d. Observsi Sistematik Tentu para peneliti dapat saja merancang bentuk pengamatan beserta kualifikasinya dengan kreatif, kemudian mendiskusikannya untuk mencapai persetujuan bersama. Kemungkinan dalam membicarakan pengamatan sistematik ada yang mengsulkan berbagai macam skala yang dapat dimanfaatkan dalam situasi situasi tertentu oleh guru, dilengkapi dengan ilustrasi detail dalam skala interaksi dari FIAC (Flanders Interaction Analysis Categories). Pengamatan dengan menggunakan skala biasanya disebut pengamatan kelas secara sistematik (Hopkins, 1993:106).

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 21

7. Bab 7 : Analisis Data Lapangan 7.1 Kode dan Mengkoding Terdapat tiga kode. Pertama adalah kode deskriptif yaitu memberikan kode pada suatu aline yang misalnya isinya membahas kajian perbaikan sekolah, dengan menaruh disebelah pinggir catatan yang berbunyi MOT, singkata dari motivasi. Apabila analisis ingin lebih tajam dengan memisahkan motivasi para guru dan motivasi petugas Tata Usaha, maka kode ADM-MOT dari Administrators Motivation, kalau dalam bahasa Indonesia TU-MOT. Kedua, kode interpretif, yang membuat analisis lebih kompleks dengan melihat misalnya aspek dinamika lokal yang menumbuhkan motivasi tersebut, dengan kode seperti OFF-MOT yang menunjukkan Official Motivation. Ketiga, kode yang lebih inferensial dan menjelaskan. Alinea tersebut menunjukkan timbulnya (emerged) leitmotive atau pola pada waktu peneliti memeriksa aspek aspek kejadian lokal dan relasi relasi lokal dihubungkan dengan motivasi tersebut. Maka kodenya bisa berbunyi LM (leitmotive), atau PATT (pattern), atau TH (theme), atau CL (causal link) Apa saja yanbg diatur dalam kode? Lofland dalam Miles dan Huberman merincikan sebagai berikut: a. Tindakan, yang berlangsung dalam situasi yang singkat, hanya memakan waktu beberapa detik, menit atau jam. b. Kegiatan, yang berlangsung dalam latar yang lebih besar, hari, minggu, bulan yang melibatkan unsur unsur penting dari keterlibatan manusia. c. Makna, ungkapan verbal dari para partisipan penelitian yang menentukan dan mengarahkan tindakan. d. Partipasipasi, keterlibatan manusia secara keseluruhan, atau adaptasi mereka terhadap situasi atau latar yang sedang ditelaah. e. Relasi : hubungan antar personal di antara beberapa orang yang ditelaah secara simultan. f. Latar atau setting : keseluruahan latar yang sedang diteliti sebagai satu unit analisis, (Lofland, dalam Miles dan Huberman, 1984:57)

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 22

Sedangkan menurut Bogdan dan Biklen (1982:57) kode dan koding dilakukan bertahap: a. Setting/konteks : informasi umum mengenai lingkungan sekitar. b. Defenisi situasi : bagaimana mendefenisikan latar situasi. c. Perspektif : cara berpikir, orientasi. d. Cara berpikir mengenai orang dan objek : dengan lebih mendatail. e. Proses : sekuens, alur peristiwa, perubahan. f. Kegiatan : perbuatan yang secara teratur ditampilkan. g. Kejadian : kejadian tertentu. h. Strategi : cara untuk menyelesaikan sesuatu. i. Relasi dan struktur sosial. j. Metode : isu yang berkaitan dengan penelitian.

7.2 Pembuatan Matriks Memebentuk matriks tidaklah sukar, walaupun dalam proses pengembangannya

membutuhkan waktu. Tidak ada aturan atau dalil tertentu yang harus diikuti, melainkan suatu kegiatan kreatif yang sistematis, yang fungsional, yang akan memberikan makna substantif kepada basis data anda. Berikut ini ada beberapa aspek pilihan dalam membentuk matriks, (Miles dan Hubermen, 1984:211 212) a. Deskriptif, dalam pemahaman apakah tujuannya untuk memaparkan data yang ada, atau menjelaskan mengapa hal itu terjadi. b. Mono situs, apabila penelitian mengkaji satu latar atau setting saja, seperti sekelompok, sebuah keluarga, sebuah organisasi, atau multi situs, yaitu meliputi beberapa settings yang dapat menampilkan perbandingan data. c. Teratur, dengan pengertian data disusun dalam kolom dan baris dengan menggunakanb kategori, atau dengan menggunakan variabel waktu, peran participan, atau sites yang mempunyai perbedaan. d. Berdasarkan waktu, yang memungkinkan analisis menurut alur, sekuens, siklus, dan kronologi. e. Berbagai variabel kategori, yang membuka banyak kemungkinan, sebagai contoh (Bogdan dan Biklen, 1982): Tindakan, perilaku Kejadian
Hal. 23

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Kegiatan Strategi Kebermaknaan, perspektif Kondisi umum Proses

8. Bab 8 : Validitasi Data dan Kredibilitas Penelitian 8.1 Kredibilitas Sebuah Penelitian Reabilitas menunjuk sejauh mana kajian dapat direplikasi, apakah seorang peneliti menggunakan metode yang sama akan mendapat hasil yang sama seperti kajian terdahulu? Masalah ini bagi peneliti naturalistik seperti peneliti Penelitian Tindakan Kelas merupaka problema besar, karena fenomena yang dihadapi unik, karena karakteristik data dan proses penelitiannya berbeda, karena konvensinya yang harus diperhatikan dalam menyajikan hasil hasil penelitian, dan karena aturan main dan etika yang harus dipegang oleh para penelitinya. Apabila kaidah kaidah mencapai reabilitas yang baku untuk kondisi laboratorium dipaksakan, maka penelitian akan kehilangan alur kewajarannya, padahal settibg alamiah yang menjadi kondisi yang prasyaratkan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Demikain juga perhitungan dan pengukuran yang pasti akan meyembabkan daya kostruksi yang kuat dalam menyusun kategori untuk analisis akan terkendala apabila fenomena yang diobservasi terlalu dini direduksi atau distandarisasi. 8.2 Wacana Mengenai Standard dalam Penelitian Kualitatif Howe dan Eisenhardt (1990) dalam Creswell(1998:195) mengemukakan lima standard, antara lain: a. Penelitian kajian terutama diarahkan kepada apakah pertanyaan penelitian mendorong dilakukannya pengumpulan data dan analisisnya, dan bukan sebaliknya. b. Penilaian ditujukan pada apakah pengumpulan data dan analisisnya secara teknis dilakukan dengan kompeten. c. Penilaian mempertanyakan apakah peneliti menyusun asumsi asumsinya secara eksplisit, termasuk subjektivitas peneliti.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 24

d. Penilaian juga perlu diarahkan kepada apakah kajian itu cukup tegar dengan menggunakan eksplanasi yang berdasar kepada teori teori yang diakui, serta mendiskusikan eksplanasi mengapa teori teori tertentu ditolak. e. Penilaian seharusnya memiliki nilai baik dalam memberikan informasi baru maupun dalam meningkatkan keterampilan meneliti, baik dalam melindungi hal hal yang konfidensial dan privasi seseorang maupun dalam memegang kebenaran dari semua patisipan penelitian (masalah etika penelitian)

9. Bab 9 : Penafsiran Data 9.1 Problema yang Dihadapi Peneliti Waktu Menafsirkan Tujuan dari peneliti dari aspek kegiatan ini adalah mengembangkan kesimpulan dan mengaitkan hubungan hubungan yang ada melalui argumentasi yang hati hati, dan yang tidak dibatasi oleh skop yang sempit. Operasionalisasi dari memasang masangkan data (matching) dan uji kategoti seperti yang dilakukan pada saat analisis data terbuka sama untuk interpretasi. Kesempatan untuk mencobakan kategori baru dan untuk membentuk hubungan hubungan baru dengan proyeksi melampaui yang ada untuk memenuhi kriteria beyond the mere facts, menantang krativitas para peneliti aliran lama dianggap sebagai ambisi yang berbahaya. Kesulitan lain adanya pergeseran gaya kognitif dalam penafsiran. Pada proses analisis dideskripsikan gambaran yang singkat tetapi koheren dari fenomena yang diobservasi, dengan pola berpikir yang konvergen, dan cara demikian sudah akrab dikalangan peneliti. Akan tetapi, dalam penafsiran gaya berpikir divergen lah yang dianjurkan karena perbedaan dalam kerangka berpikir, lebih kreatif, terutama dalam proses berteori yang kompleks, juga dalam berpikir spekulatif. Pemahaman akan kesulitan inilah yang perlu diatasi peneliti pada saat ia mulai dengan kegiatan penafsiran atau interpretasi, fase ini harus ditempuh dan kesulitan yang diarifi sudah merupakan setengah penyelesaian dengan mengidentifikasi tugas antara lain

mengkonsolidasikan teori, mengaplikasikan teori, menafsirkan dengan menggunakan analogi/persamaan atau metafor, dan membentuk sintesis.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 25

9.2 Mengkosolidasi Teori Pada tahap menganalisis data, kita telah melihat bagaimana teori yang berkembang secara grounded terbentuk dari pengumpulan atau koleksi data. Koding dari Lofland, misalnya, menyusun kategori yang sebaiknya dipakai sebagai alat analisis dari fenomena kelas yang diobservasi dan dikumpulkan datanya. Dari analisis dari kategorial inilah munculnya teori grounded. Apabila kategori yang disusun tidak kompatibel dengan data, maka kategori dimodifikasi atau tidak dipakai. Dalam penelitian yang menggunakan teori secara eksplisit, maka data yanbg terkumpul dianalisis berdasarkan kerangka teoritik yang dimaksud. Alat alat tersebut menggambarkan juga penggunaannya pada akhir kajian, yakni pada tahap penafsiran. Karena analisis sudah dilakukan sejak tahap awal pengumpulan data, berarti penafsiran telah dimulai pada awal juga. 9.3 Mengaplikasikan Teori Penafsiran data dengan mengaplikasikan teori yang dianut dalam kerangka berpikir dalam penelitian, merupakan cara lain untuk memaknai koleksi data. Adakalanya koleleksi data itu tidak cocok dengan teori yang dikemukakan, atau bahkan bertentangan, maka peneliti harus menentukan apakah kumpulan data atau teknik analisis yang salah, ataukah koleksi data tersebut menunjukkan adanya perubahan atau pergeseran pada teori yang berkarakter menolak atau memodifikasi teori tersebut. Creswell (1998) menunjukkan bagaimana penafsiran atau interpretasi dilakukan dalam penelitian yang bertradisi kualitatif, sebagai berikut: Mengola h Data
Menafsirk an

Biografi
Mengaplikasik an teori pada pola makna dan yang

Fenomenologi
Mengembangkan deskripsi mengenai apa tekstual yang

Grounded
Memilih koding. Mengembangk an matriks

Etnografi
Menafsirkan dan memahami hasil temuan.

Studi Kasus
Menggunakan penafsiran langsung. Mengembangkan generalisasi naturalistik.

terjadi. Mengembangkan deskrispsi tentang fenomena Mengembangkan deskripsi dari menyeluruh dan struktural, bagaimana dialami.

berkembang.

kondisional.

pengalaman

esensinya.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 26

9.4 Membuat Sintesis Berlaianan dengan cara mengaplikasikan teori pada kumpulan data, membuat sintesis dari koleksi data anda membutuhkan berbagai sudut pandang dan konteks yang melampaui atau trascend atau pun beyond aplikasi teori, sebelum pemahaman wawasan mengenai kumpulan data tersebut tercapai. Membuat sintesis memerlukan upaya upaya interdisipliner dan juga intradisipliner, peneliti mengintegrasikan data dan konsep berbagai usaha penelitian, sebagian tampaknya saling mendukung atau sesuai akan tetapi sebagian lagi bertentangan satu dengan lainnya. Ada kalanya sang peneliti merasa ragu dan kehilangan kepercayaan waktu melihat hasil sistesis yang demikian, karena menghadapi konfigurasi baru yang berlawanan dengan pandangan akademik para guru/dosen/profesor yang membimbingnya, atau bahkan dengan budaya, ataupun dengan kerifan lazimnya. 9.5 Penafsiran dalam Penelitian Tindakan Kelas Menurut Hopkins Konsep konsep penelitian kualitatif etnografis banyak diimplementasikan dalam Penelitian Tindakan Kelas, termasuk tahap penafsirannya. Dalam Penelitian Tindakan Kelas, menurut Hopkins (1993 : 157 163), kegiatannya mencakup menyesuaikan hipotesis kerja yang sudah sahih kepada teori yang menjadi kerangka pemikiran sehingga menjadi bermakna. Hal ini berarti, bahwa hipotesis kerja tersebut dihubungkan dengan teori, dengan kaidah kaidah yang berlaku dalam praktek sehari hari, atau bahkan naluri guru dalam menilai pembelajaran yang baik. Dengan cara ini, guru peneliti memberikan makna kepada serangkaian observasi yang dilakukannya dalam penelitian tindakan kelasnya, dari yang tadinya berupa data dan konstruk hasil pengamatan.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 27

Bab 9 : Menyusun Laporan Penelitian 9.1 Menyusun Laporan Penelitian secara Umumnya Apabila peneliti membuat laporan dalam bentuk narasi, maka ada beberapa cara dan gaya penulisan yang dapat dirujuk. Penulisan naratif yang realistik, akan berbentuk laporan langsung, lugas, tanpa banyak informasi bagaiman gambaran situasi atau kondisi dalam penelitian itu menjelma. Laporan demikian mengemukakan perspektif yang objektif dan ilmiah, dan peneliti menggunakan sudut pandang yang bersifat impersonal. Sebaliknya, bentuk narasi yang bersifat pengakuan, akan lebih menitikberatkan pada gambaran pengalaman sang peneliti di situs penelitian. Narasi yang impresionistik akan menggambarkan pengalaman bersifat pribadi yang dramtatik selama berada dilapangan, yang mengandung unsur unsur realistik dan pengakuan, dan menghasilkan cerita yang meyakinkan dan menarik. Kedua bentuk narasi ini akan menggunakan subyek orang pertama, untuk menuliskan gaya penulisan yang bersifat pribadi. Emerson memilih narasi tematik, yang dibangun dari beberapa unit tematik dalam catatan lapangan dan komentar komentar analitik. Narasi tematik yang dibentuk secara induktif ini mengikuti struktur sebagai berikut: Pendahuluan (Introduction), yang mengantarkan perhatian dan fokus pembaca kepada kajian, dan selanjutnya menghubungkan penafsiran peneliti dengan isu isu yang lebih luas dalam kajian ilmiah di bidang disiplin ilmu yang bersangkutan. Memperkenalkan lokasi dan latar atau setting penelitia, dan metode yanbg digunakan dalam menelaahnya. Membuat analisis, dengan menggunakan unit expert comentary menyusun poin poin analisis, memberikan penjelasan atau informasi mengenai poin poin tersebut, membuat singkatan atau rujukan langsung, kemudian membuat komentar mengenai analisis rujukan dan kaitannya dengan poin analisis. Membuat kesimpulan, dengan berdasarkan refleksi awal peneliti dilanjutkan sampai akhir tesis. Penafsiran diperluas atau dimodifikasi sesuai dengan materi yang diuji, yang menghubungkan tesis dengan teori umum atau isu mutakhir, atau dilakukan dengan membuat meta analisis terhadap tesis, metode dan asumsi asumsi penelitian.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 28

9.2 Membuat Laporan Penelitian Secara Akademik Pada umumnya sebuah skripsi atau tesis yang menggunakan Penelitian Tindakan Kelas sebagai metode penelitian akan mempunyai sistematika sebagai berikut: Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Pendahuluan Telaah Kepustakaan/Kerangka Teoritis Metode Penelitian Pembahasan Hasil Penelitian Kesimpulan dan Rekomendasi

Secara rinci setiap bab itu akan memuat hal hal sebagai berikut: Bab I Pendahuluan akan meliputi: Latar Belakang Masalah Fokus masalah dan pertanyaan peneliti Verifikasi atau klarifikasi konsep Paradigma penelitian Tujuan penelitian, dan manfaat penelitian

Bab II membahas rujukan wacana, menjelaskan juga berbagai konsep dan teori yang menjadi alat analisis data dan penafsirannya. Dalam proses pengumpulan data, seperti sudah dibahas terdahulu, teori teori yang sudah ada dibenak peneliti, pada waktu pengamatan berlangsung hanya berfungsi sebagai tacit knowledge saja, atau pengetahuan ataupun teori yang tidak diungkapkan. Bab III dalam laporan penelitian merupakan bagian yang menjelaskan aspek epistemologis penelitian Anda. Anda akan menerangkan metode apa yang dipilih dan mengapa metode itu yang dipilih. Bahwa Anda akan memilih Penelitian Tindakan Kelas sebagai metode penelitian anda, maka sebab sebab pemilihan itu sudah dibahas dalam bab bab terdahulu. Yang perlu ditekankan adalah tuntutan pragmatik di lapangan, seperti yang anda jelaskan pada bagian pendahuluan, bahwa salah satu solusi ialah dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas, yang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan guru/dosen dan hasil belajar siswa atau mahasiswa. Berdasarkan literatur, konsep dan teori dibahas dalam bab ini dengan pendekatan induktif, dalam membantu analisis data untuk kausalitas, membandingkan, mengkontraskan, dan mengurutkan. Penelitian Tindakan Kelas termasuk penelitian yang grounded, artinya dari kompilasi data
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 29

yang dianalisis akan membantu memunculkan teori baru, dan karenanya teori baru dibutuhkan waktu analisis. Akan tetapi, melihat bagaimana penelitian ini dilaksanakan, dengan banyak menggunakan konsep konsep sosiologi dan budaya maka karakter Penelitian Tindakan Kelas juga cenderung kekajian etnografis, sehingga teori teori yang kuat dari sosiologi dan antropologi diperlukan sejak awal, hampir seperti penelitian kuantitatif. Kedalam Bab IV, peneliti akan menampilkan bagian terbesar dalam kegiatan penelitian, yaitu hasil temuan penelitian dan analisisnya. Hasil pengumpulan data dari berbagai teknik pengumpulan data seperti kegiatan pengamatan atau observasi yang dicatat dalam catatan lapangan atau fieldnotes, wawancara, buku harian, hasil koding dan kategorisasi, analisis dan refleksi sepanjang siklus siklus yang dilakukan, dilaporkan dalam bab ini. Bab V berisi kesimpulan dan saran atau rekomendasi. Kesimpulan atau research fimdings, dapat dituliskan dalam bentuk sistematika butir demi butir atau pointers, atau juga dapat disajikan dalam bentuk narasi yang singkat padat. Kesimpula berupa temuan penelitian hasil serangkaian panjang analisis dan penafsiran penuh dengan pemaknaan oleh peneliti, dan karenanya berbeda dengan rangkuman atau summary. 9.3 Menuliskan Laporan Penelitian untuk Jurnal Pada umumnya tulisan artikel dalam jurnal penelitian mencakup hal hal berikut: Abstrak Pengantar/pendahuluan Permasalahan Kerangka teoritik Aplikasi dalam analisis Kesimpulan Daftar bacaan

Abstrak dalam jurnal lebih singkat dibandingakan dengan abstrak untuk keperluan akademis. Terdiri dari 8 12 baris yang ditik satu spasi dengan huruf miring (italics) sebelum Pendahuluan, abstrak berisi permasalahan penelitian, teori yang dipakai, aplikasinya, dan temuan penelitian secara singkat.
Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara Hal. 30

9.4 Penulisan Laporan Penelitian untuk Hibah Penelitian Sistematika penulisan laporannya hampir sama dengan sistem akademik, dengan format sebagai berikut: Bab I : Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah B. Indentifikasi Masalah C. Rumusan Masalah Penelitian D. Tujuan Penelitian E. Manfaat Penelitian F. Defenisi Istilah Bab II : Kajian Pustaka Bab III : Metodologi Penelitian A. Rancangan Penelitian 1. Tahap Perencanaan Tindakan 2. Tahap Pelaksanaan Tindakan 3. Tahap Observasi dan Evaluasi 4. Tahap Refleksi B. Hipotesis Tindakan (bila perlu) C. Subjek Penelitian, Lokasi, Waktu D. Teknik Pengumpulan Data E. Teknik Analisis Data Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab V : Penutup A. Kesimpulan B. Saran

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 31

Bab 11 : Dampak Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Kinerja Pendidik, Sekolah/Perguruan Tinggi, dan Pendidikan Dampak, kegunaan, manfaat Penelitian Tindakan Kelaa terhadap.bagi pendidik dan lembaga di mana para pendidik itu bertugas secara umu akan meningkatkan kualifikasi dan kinerja guru dan dosen. Apabila Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh guru/dosen meliputi aspek aspek kegiatan yang mendukung program lembaga, maka manfaatnya adalah mendukung pembaharuan lembaga tersebut. Beberapa pemikiran tentang program belajar atau kurikulum yang berlangsung dijenjang persekolahan maupun diperguruan tinggi, dikemukakan beberapa gagasan untuk

melengkapinya. Dalam hal kurikulum di jenjang persekolahan, sumbangan pikiran ditujukan kepada kurikulum KBK yang sedang berjalan dengan alur pikir kontruktivisme yang peduli terhadap nilai nilai dan keterpaduan antara ilmu pengetahuan dengan kemanusiaan yang penuh. Untuk kurikulum di perguruan tinggi, dikemukakan kerangka pemikiran dengan perspektif postmodernis, sesuai dengan kerangka pemikiran yang menjadi landasan filosofi Penelitian Tindakan Kelas, dengan mengingat bervariasinya tuntutan masa depan, kemajuan Iptek, globalisasi, dan kondisi sosial ekonomi setempat. D. Evaluasi Buku Metode Penelitian Tindakan Kelas ini dikarang oleh Prof. Dr. Rochiati Wiraatmadja. Dalam penyusunan buku ini jelas pengarang menitik beratkan metode penelitian tindakan kelas. Berbagai tahap dan metode dalam penelitian tindakan kelas dijelaskan secara jelas oleh pengarang agar guru/dosen/peneliti mengetahui lebih mengerti dalam melakukan metode penelitian tindakan kelas. Target pembaca buku ini adalah dosen, guru, mahasiswa dan kalangan umum. Dalam menyajikan buku ini pengarang menyajikan setiap pokok bahasan secara detail, singkat dan setiap pokok permasalahan disertai dengan contoh yang logis dan faktual sehingga pembaca lebih memahami isi pokok bahasa yang logis dan faktual sehingga pembaca lebih memahami isi pokok bahasan yang dimaksud. Setiap bab dari buku ini disajikan secara analitis dan gagasan yang diberikan cukup logis dan teratur. Penyusunan bab yang teratur sehingga tidak ditemukan bab yang saling mendahului.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 32

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Buku Metode Penelitian Tindakan Kelas yang ditulis oleh Prof. Dr. Rochiati Wiriaatmadja cocok untuk dosen/guru/mahasiswa/peneliti. 2. Buku Metode Penelitian Tindakan Kelas yang ditulis oleh Prof. Dr. Rochiati Wiriaatmadja sangat bermanfaat bagi mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah Metode Penelitian karena buku ini berisi tahap-tahap dalam melakasankan metode penelitian tindakan kelas.

B. Saran 1. Sebagai sumber belajar, saya menyarankan buku ini dimiliki oleh setiap mahasiswa. 2. Dalam critical book report ini pengkritik sempat mengalami kesulitan dan menentukan topik yang menjadi gagasan utama dari setiap bab. Oleh karena itu, pengkritik mengharapkan ada penjelasan dan masukan dari teman dan terlebih-lebih dosen pengampu mata kuliah Metode Penelitian.

Critical Book Report, Nosta Perlin Nazara

Hal. 33

Beri Nilai