Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Secara embriologis, sinus urogenitalis dihubungkan dengan umbilikus melalui allantois. Pada akhirnya allantois ini mengalami obliterasi menjadi urachus, berupa jaringan fibrus yang terletak di dalam kavum Retzius, yakni di antara fasia transversalis dan peritoneum. Jaringan fibrus tersebut menghubungkan apeks buli-buli dengan umbilikus menjadi suatu ligamentum umbilikalis medius. Obliterasi yang tidak lengkap akan menyisakan beberapa masalah, yaitu berupa : 1. Persisten (fistula) urachus, yakni lumen urachus tetap terbuka sehingga masih terjadi hubungan antara buli-buli dengan umbilikus. Tanda klinis yang ditunjukkan adalah berupa keluarnya urin dari umbilikus. Diagnosis dapat ditegakkan dengan memastikan bahwa cairan yang keluar adalah urin dengan pemeriksaan kadar kreatinin, pencitraan VCUG, fistulografi, atau dengan instilasi zat warna ( metilen biru melalui buli-buli ). 2. Kista Urachus, jika obliterasi terjadi pada ujung proksimal ( dekat dengan umbilikus ) dan ujung distal ( dekat dengan buli-buli ), sedangkan di tengahnya berupa rongga ( kista ). Kista ini dapat menjadi besar sehingga secara klinis terlihat benjolan di infra-umbilikus, jika terinfeksi bisa menyebabkan sepsis, dan bisa terbentuk batu di dalam kista. 3. Divertikulum urachus atau divertikulum vesiko-urachus, yakni masih

terbukanya urachus sisi distal. Keadaan ini sering tidak memberikan gejala klinis, hanya saja beberapa kasus dapat berubah menjadi maligna, yang sering sebagai adenokarsinoma buli-buli. Diagnosa ditegakkan melalui sistografi atau sistoskopi dan CT scan. 4. Sinus urachus, masih terbukanya urachus pada sisi umbilikus yang berupa kantong yang terbuka pada umbilikus. Tidak jarang sinus urachus memberikan gejala keluarnya cairan melalui umbilikus, yang jika mengalami infeksi berupa cairan purulen. Diagnosis ditegakkan dengan sinografi bersamaan dengan sistografi.
1

TERAPI Pembedahan, yakni dengan melakukan eksisi urachus, dengan mencari seluruh sisa urachus dari fundus buli-buli hingga umbilikus. Jika terjadi degenerasi maligna dilakukan operasi radikal. (1)

B. TUJUAN PENULISAN Menguraikan mengenai urachus meliputi definisi, klasifikasi, tanda klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, prognosis dan penatalaksanaannya.

BAB II URACHUS
A. Definisi

Urachus merupakan saluran yang menghubungkan antara allantoic stalk dan vesica urinaria bagian atas, pada proses normal akan terjadi apoptosis dari sel epitelium urachus (obliterasi urachus) pada minggu ke 5 - 7 kehamilan sehingga urachus tersebut akan mengalami involusi membentuk ligamentum umbilicalis mediana. Kelainan urachus akan muncul ketika proses obliterasi ini tidak sempurna, yang kemudian akan meninggalkan lumen persisten. Bisa terjadi pada keseluruhan saluran membentuk patent urachus, atau pada sebagian saluran membentuk sinus urachus, kista atau diverticulum. (3)

Urachus adalah suatu saluran yang menghubungkan lumen kandung kemih dengan alantois yang terdapat pada fetus. Pada keadaan normal urachus menutup setelah hewan lahir dengan membentuk sikatrik pada apex dari kandung kemih, sedangkan fungsi urachus digantikan oleh uretra. Patent urachus merupakan keadaan dimana penutupan saluran urachus tidak sempurna. (3)

Urachus merupakan suatu korda fibromuskuler yang berlokasi pada jaringan ekstraperitoneal anterior dalarn ruang Retzius (antara fasia transversalis sebelah anterior dan peritoneum parietalis disebelah posterior). Urachus berbentuk saluran yang pada orang dewasa berukuran panjang 1,2 - 3,9 inci (3 - 10 cm) dan diameter 0.3 - 0.4 inci (8 - 10 mm), berkembang dari bagian superior sinus urogenital dan menghubungkan fundus vesika urinaria ke umbilicus selarna kehidupan fetal. Urachus adalah normal pada kehidupan embrionik dan mengalami obliterasi dengan 32 minggu masa gestasi, menyisakan pita fibrous yang pada orang dewasa dikenal sebagai ligamentum umbilikalis media. (4)

Secara histologi urachus merupakan tabung fibromuskuler yang terdiri atas tiga lapisan berbeda yaitu : Saluran epitelial dengan epitel transisional ( 70 % ) atau epitel kolumner ( 30 % ), Lapisan jaringan konektif submukosal; dan Otot polos pada lapisan terluar yang memiliki kontinuitas dengan muskulus detrusor.
3

Defek pada obliterasi urachus menimbulkan kelainan bawaan berupa fistula urachus, sinus urachal, divertikulum urachal dan kista urachal. Sisa urachus dapat memberikan berbagai masalah tidak hanya pada bayi dan anak-anak tetapi juga pada orang dewasa. (9)

EMBRIOLOGI Urachus merupakan sisa embriologi dari involusi allantois dan ventral kloaka, akan tetapi masih terdapat kontroversi mengenai kontribusi pasti dari allantois dan ventral kloaka terhadap terbentuknya urachus. Allantois sendiri muncul pada hari ke-16 setelah konsepsi sebagai kantong yang bermuara pada dinding kaudal yolk sac, menghubungkan sinus urogenital dengan umbilikus, berfungsi sebagai vesika urinaria embrionik pada awal pembentukan darah dan pembentukan ginjal definitif.

Normalnya, bagian ekstra embrional allantois mengalami degenerasi selama bulan kedua masa gestasi. Adakalanya, sisa allantois ini ditemukan pada proksimal umbilicus dan dapat dilihat antara arteri umbilikalis pada pemeriksaan patologik fetus selama masa gestasional ini.

Bagian intra embrionik allantois membentuk hubungan dari umbilikus hingga ke sinus urogenital. Antara bulan ke 4 - 5 gestasional, vesika urinaria mulai mengalami desensus ke depan bawah rongga pelvis dan menginduksi involusi allantois, menyebabkan umbilical cord bertambah panjang dan allantois mengalami involusi membentuk urachus. Setelah kelahiran, urachus menjadi pita fibrous yang pada orang dewasa dikenal sebagai ligamentum umbilikalis media. (10)

B. Klasifikasi Kelainan / kegagalan proses yang secara normal terjadi pada urachus ini pada masa kehamilan mengakibatkan terjadinya kelainan secara kongenital pada urachus / congenital urachal remnant abnormalitie. (1) Terdiri dari: patent urachus atau urachal fistula ( fistula urachus ). urachal sinus ( sinus urachus ). urachal cysts ( kista urachus ). Kelainan urachus secara kongenital ini ditemukan kurang dari 1 : 1000 pada bayi lahir hidup.
4

PATENT URACHUS

Tipe dari kelainan patent urachus yaitu :

1. Urachus sama sekali tidak menutup sehingga terdapat saluran antara kandung kemih dengan umbilicus. Tanda klinis terdapat iritasi pada kulit disekitar pusar karena urin juga keluar melalui umbilicus, dapat terjadi sistitis ringan.

2. Urachus tidak menutup pada bagian dalam sehingga terbentuk sinus / divertikulum pada kandung kemih. Tipe ini yang paling sering ditemukan pada anjing dan kucing. Tanda klinis terdapat sistitis kronis yang sulit disembuhkan, terjadi stasis urin pada divertikulum menyebabkan infeksi persisten atau pembentukan kalkuli.

3. Urachus tidak menutup dan membentuk sinus pada umbilicus, sedangkan kandung kemih normal. Tanda klinis terjadi infeksi persisten dan pembengkakan di daerah umbilicus pada anjing muda.

4. Urachus tidak menutup pada salah satu bagian saluran dan membentuk kista yang tidak berhubungan dengan kandung kemih maupun umbilicus. Tanda klinis menunjukkan ukuran kista bervariasi dan berisi cairan, kista yang terinfeksi dapat mengalami ruptura sehingga terjadi peritonitis. Jika tidak terjadi infeksi jarang menimbulkan tanda klinis.

Diagnosa terhadap patent urachus dengan dilakukan pemeriksaan klinis ( hanya dapat dilakukan pada tipe 1 ) dan peneguhan dengan pemeriksaan radiografi. Terapi bertujuan untuk memperbaiki kondisi agar keadaan tidak menjadi lebih parah maka dapat dilakukan tindakan operatif. (2)

KELAINAN PADA URACHUS

Kelainan urachus diakibatkan oleh kegagalan obliterasi lumen urachus dengan etiologi yang mendasari baik secara genetik maupun pada tingkatan molekuler masih belum diketahui. Defek obliterasi ini memberikan variasi kelainan yang menyebabkan hubungan menetap antara vesika urinaria, urachus dan umbilikus. Oleh karena kasusnya yang jarang, kelainan sisa urachus sering dimisdiagnosis dengan gangguan intraabdominal daerah midline dan gangguan pada rongga pelvis. Terbentuknya urachus berhubungan langsung dengan desensus vesika urinaria. Tergantungnya proses desensus ini lebih sering menyertai paten urachus dibanding obstruksi saluran keluar vesika urinaria. Kelainan urachus kongentinal dua kali lebih sering di temukan pada laki-laki dibanding perempuan dan dikenal 4 jenis kelainan, yaitu fistel urachus, kista urachal, sinus urachal dan divertikulum urachal.

1. FISTULA URACHUS

Fistula urachus terjadi sekitar 50 % dari seluruh kelainan urachal dengan insiden sekitar 0,25 - 15/10.000 kelahiran dan 2:1 predominan pada laki-laki. Fistula terjadi bila saluran sisa hubungan menetap antara vesika urinaria dengan umbilikus akibat kegagalan total penutupan garis epithelial kanal urachal, sehingga urin dapat mengalir keluar melalui umbilikus.

Kausanya masih idiopatik tapi ada beberapa teori yg muncul, yaitu teori obstruksi vesika urinaria intra uterine, teori kegagalan proses penurunan vesika urinaria ke dalam pelvis dan teori re-tubularization.

Pada pemeriksaan fisis didapatkan drainase cairan dari umbilikus secara terusmenerus atau intermiten yang meningkat alirannya saat peningkatan tekanan intra abdominal seperti menangis, batuk dan mengedan. Gejala tambahan yang biasa muncul, seperti pembesaran atau edema umbilikus, dan lambatnya penyembuhan tali pusat.

Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan ureum dan kreatinin pada cairan urin atau dengan menyuntikkan methylen blue atau dengan indigo Carmen melalui kateter ke dalam vesika urinaria. Pemeriksaan Longitudinal Ultrasound dan Voiding Cystourethrogram (VCUG) dapat untuk membedakan dengan paten omphalomesenterik dan juga dapat menunjukkan hubungan umbilikus dengan vesika urinaria.

Pada kultur bakteri sering didapatkan Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterococcus dan Citrobacter. Pada 15 30 % pasien, fistula urachus disertai dengan atresia uretra atau obstruksi katup posterior yang merupakan mekanisme proteksi terhadap obstruksi. Paten urachus didiagnosis banding dengan paten duktus omphalomesenterik, sinus urachus, omphalitis, granulasi penyembuhan umbilikus, infeksi pembuluh darah umbilikus.

Figure 3a. Drawings illustrate the four types of congenital urachal anomalies.

Yu J et al. Radiographics 2001;21:451-461

2. KISTA URACHAL

Kista urachal terjadi jika urachal menutup pada daerah umbilikus dan vesika urinaria akan tetapi, diantara kedua area tersebut saluran urachus tetap paten. Lumen sisa ini kemudian terisi cairan dan membentuk kista.

Kista urachal ditemukan pada 30 % dari keseluruhan kasus kelainan urachus dengan insiden yang rendah ( kira-kira 1/5000 kelahiran ) dan 3:1 predominan pada laki-laki. Umumnya, kista urachal terjadi pada sepertiga distal urachus, berukuran kecil dan asimptomatik, tidak terdeteksi hingga terjadi komplikasi ( misalnya infeksi ) yang menimbulkan gejala klinik.

Kista non infeksi dapat menimbulkan gejala jika semakin membesar atau ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin atau pemeriksaan lain ( misalnya hidronefrosis prenatal dan infeksi saluran kemih ).

Kista urachal dengan infeksi memberikan gejala klinis berupa demam, nyeri perut bawah daerah midline, keluhan buang air kecil dengan atau tanpa infeksi saluran kemih dan kadang - kadang teraba adanya massa lunak suprapublik dengan kulit yang eritem di atasnya.

Infeksi sekunder ini dapat berasal dari fokal infeksi dari umbilikus atau kandung kemih, melalui hematogen, limfatik atau trauma tumpul abdomen. Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering menyebabkan infeksi pada kista urachal. Infeksi kista urachal lebih sering ditemukan pada orang dewasa dibanding anak-anak. Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan untuk pilihan mendiagnosis kista urachal. Menurut literature, keberhasilan diagnostik dengan USG adalah 75 100 %. Pada gambaran USG tampak massa ekstraperitoneal di antara umbilikus dan vesika urinaria, midline dan kistik. Jika terdapat infeksi, USG Scan atau MRI umumnya tidak diperlukan, akan tetapi dapat digunakan dalam menentukan ukuran dan lokasi kista. CT Scan dan MRI digunakan untuk mengevaluasi adanya perluasan sekunder proses inflamasi pada struktur di sekitar kista urachal. Pemeriksaan penunjang lain seperti uretrosistografi, kegunaannya masih diragukan.

3. SINUS URACHAL

Sinus urachal ditemukan pada 15 % kasus kelainan urachus. Pada sinus urachal, saluran urachus tertutup parsial dengan saluran sisa membuka ke umbilikus. Bagian distal dari urachus terisi oleh sel epitel deskuamasi, dan tidak terdapat hubungan dengan vesika urinaria. Atau dapat pula terjadi akibat kista urachus yang membuka saluran drainase ke arah umbilikus.

Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya drainase yang intermiten dari umbilikus ( dapat berupa serous atau serosangiunous ). Sinus urachal sering menimbulkan infeksi pada umbilikus, menyebabkan timbulnya cairan dari umbilikus. Anak sering mengeluhkan adanya pembengkakan periumbilikal, umbilikus yang lembab basah atau adanya jaringan granulasi pada umbilikus.

Akibat misdiagnosis dengan jaringan granulasi, sering anak ini akan mengalami terapi kauterisasi dengan perak nitrat berulang kali biasa setelah pemotongan sisa korda umbilikus. Diagnosis sinus urachal mungkin sukar dibedakan dari granuloma umbilikus atau sinus umbilikus. Fistulogram mungkin akan sangat membantu. Harus pula dibedakan dengan persisten duktus omphalomesenterik melalui pemeriksaan sonogram.

10

4.

DIVERTIKULUM URACHAL

Divertikulum urachal terjadi 3 - 5 % anomali urachal. Divertikel vesikourachal merupakan kantung bermuara pada apeks vesika urinaria yang disebabkan karena penutupan yang tidak sempurna urachus proksimal. Umumnya pasien dengan divertikulum vesikourachal tidak memberikan keluhan karena aliran urin pada divertikulum mengalir baik seiring dengan pengosongan vesika urinaria.

Divertikulum vesikourachal sering ditemukan secara tidak sengaja. Divertikulum vesikourachal mungkin tidak menyebabkan penyulit, akan tetapi kadang-kadang ukurannya menjadi lebih besar dan pengosongan urin didalamnya menjadi jelek, menimbulkan infeksi saluran kemih yang rekuren atau pembentukan batu didalamnya.

C. Tanda Klinis Tanda yang sering muncul pada bayi yang mengalami kelainan urachus meliputi : granulasi pada daerah periumbilical adanya ekskresi urine pada urachus terdapat nyeri
11

keluarnya cairan purulen dari urachus bengkak dan kemerahan pada daerah disekitar urachus Pada kelainan urachus dapat terjadi infeksi yang menyebar baik secara hematogen atau limfatik, pada kista urachus dapat terjadi infeksi serta terbentuk abses yang dapat mengalami ruptur pada cavitas peritonealis. Granuloma umbilicalis umumnya muncul berupa jaringan merah muda yang rapuh, seringnya berhubungan dengan respons inflamasi lokal disekitar kulit dan mungkin berhubungan dengan kelainan pada urachus ataupun pada ductus vitellin

(omphalomesentericus). Terapi awal dengan memakai silver nitrat.

D. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan untuk mendiagnosis kelainan pada urachus dapat digunakan: Fistulografi dengan kontras yang biasanya digunakan untuk membedakan antara fistula urachus atau sinus urachus. Pada pemeriksaan ini kontras dimasukan melalui mulut fistula kemudian diamati perjalanan kontras tersebut, jika kontras memasuki vesica urinaria diagnosis mengarah ke kelainan urachus. Indigo carmine merupakan bahan pewarna yang bisa disuntikkan ke dalam saluran fistula kemudian observasi perubahan warna pada urin untuk menentukan diagnosisnya. Selain itu dapat juga dilakukan cystoscopy, USG, MRI dan CT scan. Keunggulan dari cystoskopi adalah dapat mengetahui posisi pembukaan fistula dari vesica urinaria Sedangkan USG memiliki kelebihan jika kelainan berupa kista maka bentuk anatomi dapat diketahui secara pasti walaupun pemeriksaan ini jarang dilakukan.

12

E. Komplikasi

Komplikasi serius dari kista urachal yang terinfeksi adalah ruptur kista ke dalam rongga peritoneum, proses inflamasi kista yang meluas sehingga melibatkan usus didekatnya dan pembentukan fistula enterocutaneus. Pada divertikulum urachal, pembesaran ukuran dan pengosongannya yang terganggu dapat menimbulkan infeksi saluran kemih yang rekuren atau pembentukan batu.

Resiko timbulnya keganasan di masa datang pada sisa urachus telah diketahui baik timbulnya keganasan pada sisa urachus kiranya disebabkan oleh inflamasi dan infeksi kronik keganasan urachal terhitung hanya berkisar 1 persen hingga 10 persen dari kanker pada orang dewasa. Keganasan urachal pada umumnya berupa adenokarsinoma walaupun karsinoma sel transisional, karsinoma sel squamos dan sarkoma telah dilaporkan.

Kesemuanya adalah neoplasma yang jarang dan pada umumnya ditemukan pada dewasa tua. Karsinoma urachal ditemukan tersering pada lokasi peralihan ligament urachal dan fundus urinaria.

F. Prognosis

Kelainan sisa urachus umumnya tidak memiliki morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Kecuali jika kelainan kongenital serius ditemukan bersama dengan sisa urachus, prognosisnya adalah jelek. Pasien dengan kelainan sisa urachus yang sudah dioperasi lazimnya sangat baik Pada umumnya anak mengalami pemulihan dengan cepat. Komplikasi kelainan sisa urachus berupa adenokarsinoma memberikan prognosis yang jelek.

G. Penatalaksanaan

Terapi yang biasa dilakukan pada kelainan urachus adalah pembedahan yang umumnya disarankan untuk mencegah komplikasi infeksi dan kerusakan kulit. Untuk sinus dan kista urachus dilakukan eksisi melalui infraumbilical, sedangkan untuk fistula sebaiknya dilakukan eksisi lengkap dari umbilicus, urachus, dan vesica urinaria bagian ventral. Selain itu jahitan sederhana pada kelainan urachus memiliki tingkat rekurensi yang tinggi.
13

PENANGANAN KELAINAN URACHUS

Penanganan bedah adalah penanganan utama dari kelainan urachus, pada kelaianan paten urachus pada neonatus, dapat menutup secara spontan bila tidak terjadi obstruksi vesika urinaria, dan divertikulum dengan mulut lebar. Indikasi operasi pada kelainan urachus adalah paten urachus persisten ( karena resiko rekuren infeksi, pembentukan batu, drainase cairan persisten dari umbilikus, ekskoriasi, dan nyeri ), kista urachus yang simptomatis ( berukuran besar atau infeksi ), dan sinus urachus yang simptomatis.

Eksisi merupakan penanganan terpilih untuk kelainan urachus. Sejauh ini pendekatan tradisional dengan eksisi total urachus dilakukan melalui insisi curvilinear hipogastrik ( bayi ) atau insisi transversal infraumbilikal ( anak yang lebih tua ) memberikan penanganan yang adekuat.

Penanganan bedah dilakukan dengan eksisi radikal sisa urachus termasuk ligamentum umbilikalis medialis sama halnya dengan peritoneum yang bersebelahan dengan umbilicus
14

hingga fundus vesika urinaria dengan sedikit fragmen fundus vesika urinaria pada insersi urachus diangkat. Mukosa hendaknya tidak ditinggalkan pada umbilicus. Hal ini dilakukan untuk mencegah rekurensi, pembentukan batu, dan mencegah timbulnya malignansi adenokarsinoma.

Eksisi primer merupakan penanganan terpilih untuk kista urachal tanpa infeksi. Untuk kista yang berukuran kecil dan asimptomatik yang ditemukan secara tidak sengaja, hendaknya diobservasi terlebih dahulu dengan USG serial. Pada kasus kista urachal yang terinfeksi, umumnya diberikan antibiotik terlebih dahulu untuk menenangkan dan membatasi proses infeksi sehingga mengurangi komplikasi sete1ah operasi.

Setelah infeksi kista tertangani, dilakukan pembedahan untuk membuang seluruh sisa urachus. Pada bayi atau anak-anak, insisi pfannenstiel dapat digunakan dan lagi jarak dari dasar umbilicus dan fundus vesika urinaria pada bayi sangat pendek. Penanganan kista urachal dengan drainase kista tidak adekuat dapat menimbulkan resiko adenokarsinoma pada sisa urachus yang tidak direseksi walaupun insidennya sangat rendah. Komplikasi postoperative yang biasa muncul adalah drainase urin persisten, yang dapat ditangani dengan memasang dauer kateter. Infeksi, yang umumnya bersifat superfisial dan berespon baik dengan antibiotik. Sinus urachus dapat diobservasi terlebih dahulu pada 4 8 minggu awal kehidupan. Jika menetap maka dilakukan koreksi bedah. Koreksi bedah harus meliputi seluruh saluran urachus dari umbilicus hingga fundus vesika urinaria. Pada bayi dan anak-anak, operasi ini dapat dilakukan dengan sangat mudah melalui pendekatan insisi pfannenstiel.

Pada bayi, jarak dari fundus vesika urinaria ke dasar umbilicus sangat dekat. Rencana pembedahan dilakukan setelah penanganan infeksi yang adekuat karena struktur intraperitoneal dapat melekat pada urachus selama proses inflamasi tersebut. Pada fistula urachus, observasi dilakukan terlebih dahulu pada beberapa bulan awal kehidupan karena pada beberapa kasus dapat mengalami resolusi spontan. Koreksi bedah diharuskan jika menetap setelah 2 bulan. Jika terdapat obstruksi saluran keluar vesika urinaria harus dikoreksi terlebih dahulu karena hal ini mungkin menjadi penyebab patensi urachus yang menetap.

15

Sumber : ( 13, 14, 15 )

16

Sumber : ( 13, 14, 15 )

17

BAB III KESIMPULAN


1. Urachus merupakan saluran yang menghubungkan antara allantoic stalk dan vesica urinaria bagian atas, pada proses normal akan terjadi apoptosis dari sel epitelium urachus ( obliterasi urachus ) pada minggu ke 5 - 7 kehamilan sehingga urachus tersebut akan mengalami involusi membentuk ligamentum umbilicalis mediana. 2. Kelainan pada urakus terdiri dari : fistula urachus, kista urachus, divertikulum urachus dan sinus urachus. 3. Tanda klinis yang sering muncul pada bayi yang mengalami kelainan urachus meliputi : granulasi pada daerah periumbilical, adanya ekskresi urine pada urachus, terdapat nyeri, keluarnya cairan purulen dari urachus, bengkak dan kemerahan pada daerah disekitar urachus. 4. Terapi urachus yaitu pembedahan dengan melakukan eksisi urakus, dengan mencari seluruh sisa urachus dari fundus buli-buli hingga umbilikus. Jika terjadi degenerasi maligna dilakukan operasi radikal. 5. Kelainan sisa urachus umumnya tidak memiliki morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Kecuali jika kelainan kongenital serius ditemukan bersama dengan sisa urachus, prognosisnya adalah jelek. Pasien dengan kelainan sisa urachus yang sudah dioperasi lazimnya sangat baik. Pada umumnya anak mengalami pemulihan dengan cepat. Komplikasi kelainan sisa urachus berupa adenokarsinoma memberikan prognosis yang jelek.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. B. Purnomo Basuki. Dasar-dasar urologi. Jakarta: Penerbit CV Sagung seto,2011, 223-224 2. Sjamsuhidayat R., Jong WD. : Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC, Jakarta 2003 : 485 3. http://euacme.org/pediatric/upload_articles/A%20diagnostic%20algorithm%20for%2 0urachal%20anomalies.pdf 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. http://www.urologyweb.com/urachal-anomalies-and-related-umbilical-disorders.html http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002993.htm http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/9667.htm http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMicm1101177 http://www.surgeryencyclopedia.com/La-Pa/Patent-Urachus-Repair.html http://www.scribd.com/doc/92707114/Congenital-Urachal-Remnant-Abnormalities http://www.developmentvet.aun.edu.eg/DISEASES%20OF%20THE%20NEWBORN .pdf 11. 12. http://medind.nic.in/ibn/t05/i3/ibnt05i3p357.pdf Ueno T, Hashimoto H, Kanamauro H Urachal anomalies: ultrasonography and management. J Pediatr Surg. 2003 Aug;38(8):1203-7. 13. McCollum MO, Macneily AE, Blair GK Surgical implications of urachal remnants: Presentation and management.J Pediatr Surg. 2003 May;38(5):798-803. 14. Nagasaki A, Handa N, Kawanamei T Diagnosis of urachal anomalies in infancy and childhood by contrast fistulography, ultrasound and CT.

Pediatr Radiol. 1991;21(5):321-3. 15. Yu J et al. Radiographics 2001;21:451-461

19