Anda di halaman 1dari 30

Satuan tak berdimensi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Dalam analisis dimensional, satuan tak berdimensi adalah satuan yang tidak memiliki unit fisis melainkan hanyalah bilangan. Bilangan itu pada umumnya didefinisikan sebagai produk atau rasio atau satuan yang memiliki unit. Contoh yang lebih mudah untuk dipahami adalah ketika seorang penyortir buah-buahan di suatu industri mengatakan bahwa setiap dua puluh buah apel terdapat satu apel busuk. Maka rasio apel busuk dengan apel secara keseluruhan adalah 1/20. Bilangan tersebut adalah satuan tak berdimensi. Contoh lainnya dalah ilmu keteknikan dan fisika adalah pengukuran sudut bidang miring. Sudut umumnya diukur menggunakan rasio panjang dan tinggi yang selalu spesifik setiap sudut. Rasio tersebut, panjang dibagi tinggi, adalah satuan tak berdimensi. Satuan tak berdimensi digunakan secara luas dalam bidang matematika, fisika, teknik, dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Satuan tak berdimensi tidak memiliki unit fisis yang berhubungan. Namun kadang-kadang penulisan rasio unit yang saling meniadakan, seperti g/kg, di mana keduanya adalah satuan massa, hal itu cukup membantu untuk menjelaskan bahwa suatu bilangan sedang dihitung dengan proses demikian. Nama Bilangan Abbe Simbol Bidang aplikasi V Optik; Tingkat dispersi material optik Klimatologi, astronomi (reflektivitas permukaan suatu Albedo benda) Bilangan Archimedes Ar Gerakan fluida akibat dari perbedaan massa jenis Berat atom M Kimia Bilangan Bagnold Ba Aliran material solid seperti pasir Bilangan Biot Bi konduktivitas antara permukaan dan volume benda solid Bilangan Bodenstein Distribusi waktu diam Bilangan Bond Bo Kapilaritas yang dikendalikan oleh gaya apung Transfer kalor akibat konduksi dari permukaan ke fluida Bilangan Brinkman Br kental Bilangan Brownell Katz Kombinasi dari bilangan kapilaritas dan bilangan Bond Bilangan kapilaritas Ca Aliran fluida akibat dari tegangan permukaan Koefisien gesek statik s Gesekan dua permukaan solid pada keadaan diam Koefisien gesek kinetis k Gesekan dua permukaan solid pada gerakan translasi Faktor Colburn J Koefisien transfer kalor tak berdimensi Bilangan Courant Persamaan numerik dari hyperbolic PDE Friedrich-Levy Bilangan Damkohler Da Skala reaksi waktu terhadap fenomena perpindahan

Faktor gesekan Darcy Bilangan Dean Bilangan Deborah Desibel Koefisien gerak Bilangan Euler Bilangan Eckert Bilangan Ekman Elastisitas (ekonomi) Bilangan Etvs Bilangan Ericksen Bilangan Euler Faktor gesekan Fanning Konstanta Feigenbaum Konstanta kualitas struktur bilangan-f Bilangan Fopplvon Karman Bilangan Fourier Bilangan Fresnel Bilangan Froude Gain Bilangan Galilei Rasio Golden Bilangan Graetz Bilangan Grashof Bilangan Hatta Bilangan Hagen Gradien hidrolik Bilangan Karlovitz Bilangan Keulegan Carpenter Bilangan Knudsen Kt/V Bilangan Kutateladze Bilangan Laplace Bilangan Lewis Koefisien gaya angkat Parameter Lockhart-

Cf or f D De dB Cd e Ec Ek E Eo Er Eu f , f

Aliran fluida Aliran fluida pada pipa atau selat bengkok rheologi dari fluida viskoelastik rasio dua intensitas suara resistansi aliran Matematika Transfer kalor konvektif geofisika (gaya gesek (viskositas)) Digunakan untuk mengukur bagaimana respon permintaan dan penawaran terhadap perubahan harga ??? Perilaku aliran kristal cair hidrodinamika (tekanan terhadap inersia) Aliran fluida di pipa Teori chaos elektrodinamika kuantum optik, fotografi Penekukan lapisan tipis

Fo F Fr Ga Gz Gr Ha Hg i KC Kn K La Le CL

Transfer kalor difraksi celah Perilaku gelombang dan permukaan elektronik (sinyal output terhadap sinyal input) Aliran kekentalan yang dikendalikan oleh gravitasi matematika dan estetika Aliran panas Konveksi bebas Peningkatan adsorpsi akibat dari reaksi kimia Konveksi yang dipaksa Aliran air tanah pembakaran turbulensi rasio gaya perpindahan terhadap inersia benda keras dalam osilasi aliran fluida Perkiraan kontinu dalam fluida Kedokteran Aliran dua fase yang saling berlawanan Aliran konveksi bebas dalam fluida yang tak dapat bercampur Rasio persebaran massa dan termal Gaya angkat pada airfoil pada berbagai sudut datang Aliran gas basah

Martinelli Bilangan Lundquist Bilangan Mach Bilangan magnetik Reynolds Koefisien kekasaran Manning Bilangan Marangoni Bilangan Morton Bilangan Nusselt Bilangan Ohnesorge Bilangan Pclet Bilangan Peel pH Pi Rasio Poisson Faktor daya Bilangan daya Bilangan Prandtl Koefisien Pressure Radian Bilangan Rayleigh Indeks Refraktif Bilangan Reynolds Masa jenis relatif Bilangan Richardson Skala Rockwell Bilangan Rossby Bilangan Rouse Bilangan Schmidt Bilangan Sherwood Bilangan Sommerfeld Bilangan Stanton Bilangan Stefan Bilangan Stokes Tegangan Np Pr CP rad Ra n Re RD Ri S M Rm n Mg Mo Nu Oh Pe pH Rasio resistansi waktu pada gelombang Alfven melintasi waktu dalam plasma Dinamika gas magnetohidrodinamika Aliran terbuka (aliran yang dikendalikan oleh gravitasi Aliran Marangoni akibat dari deviasi tekanan permukaan termal ??? transfer kalor dengan konveksi yang dipaksa Atomisasi cairan, aliran Marangoni adveksimasalah difusi adhesi dari struktur mikro dengan substrat Kimia (kologaritma dari aktvitas ion H+ terlarut) matematika (rasio dari keliling lingkaran terhadap diameternya) Elastisitas (dimuat pada arah transversal dan longitudinal) elektronika (besar daya riil terhadap daya dalam perhitungan) Konsumsi daya oleh agitator transfer kalor Konveksi (ketebalan termal dan momentum batas lapisan) Tekanan yang terjadi pada titik pada airfoil pengukuran sudut Gaya apung dan gaya viskositas pada konveksi bebas elektromagnetisme, optika Perilaku aliran (inersia terhadap viskositas) hidrometer, perbandingan material Efek gaya apung pada kestabilan aliran Tingkat kekerasan mekanis Gaya inersia pada geofisika

Ro Z atau Transpor sedimen P Sc Dinamika fluida (transfer massa dan difusi) Sh Transfer massa dengan konveksi yang dipaksa Pelumasan batas St Transfer panas pada konveksi yang dipaksa Ste Transfer panas ketika terjadi perubahan fase Stk Dinamika partikel Sains material, elastisitas

Bilangan Strouhal Bilangan Taylor Bilangan Ursell Faktor van 't Hoff Parameter Wallis Bilangan kecepatan pembentukan api Bilangan Weber Bilangan Weissenberg Bilangan Womersley

Sr Ta U i J*

We Wi

Aliran bergelombang dan kontinu Aliran fluida berotasi nonlinearitas dari gelombang gravitasi permukaan pada lapisan fluida dangkal Analisa kuantitatif (Kf dan Kb) Kecepatan nondimensional dalam aliran multifase Kecepatan pembakaran berlapis relatif terhadap gas hidrogen Aliran multifase dengan permukaan bergeombang yang kuat Aliran viskoelastik Aliran bergelombang dan kontinu

[sunting] Satuan tak berdimensi bernilai tetap (konstan)


Beberapa konstanta fisika dasar seperti kecepatan cahaya dalam ruang vakum, konstanta gravitasi semesta, konstanta Planck, dan lain sebagainya hanya memiliki satu nilai. Kegunaan dari satuan tak berdimensi fisis ini tidak dapat dipisahkan dari sistem, nilainya ditentukan dari hasil eksperimen.

Dimensionless quantity
From Wikipedia, the free encyclopedia Jump to: navigation, search

In dimensional analysis, a dimensionless quantity is a quantity without an associated physical dimension. It is thus a "pure" number, and as such always has a dimension of 1. Dimensionless quantities are widely used in mathematics, physics, engineering, economics, and in everyday life (such as in counting). Numerous well-known quantities, such as , e, and , are dimensionless. Dimensionless quantities are often defined as products or ratios of quantities that are not dimensionless, but whose dimensions cancel out when their powers are multiplied. This is the case, for instance, with the engineering strain, a measure of deformation. It is defined as change in length over initial length but, since these quantites both have dimensions L (length), the result is a dimensionless quantity. A dimensionless quantity is not always a ratio; for instance, the number of people N in a room is a dimensionless quantity.

Contents
[hide]

1 Properties 2 Buckingham theorem o 2.1 Example 3 Standards efforts 4 Examples 5 List of dimensionless quantities 6 Dimensionless physical constants 7 See also 8 References 9 External links

[edit] Properties

Even though a dimensionless quantity has no physical dimension associated with it, it can still have dimensionless units. It is sometimes helpful to use the same units in both the numerator and denominator, such as kg/kg, to show the quantity being measured (for example, to distinguish a mass ratio from a volume ratio). The quantity may also be given as a ratio of two different units that have the same dimension (for instance, light years over meters). This may be the case when calculating slopes in graphs, or when making unit conversions. Such notation does not indicate the presence of physical dimensions, and is purely a notational convention. Other common dimensionless units are % (= 0.01), ppt

(= 103), ppm (= 106), ppb (= 109), and angle units (radians, grad, degrees). Units of amount such as the dozen and the gross are also dimensionless. The -dimensionless- ratio of two quantities with the same dimensions has the same value regardless of the units used to calculate them. For instance, if body A exerts a force of magnitude F on body B, and B exerts a force of magnitude f on A, then the ratio F/f will always be equal to -1, regardless of the actual units used to measure F and f. This is a fundamental property of dimensionless proportions and follows from the assumption that the laws of physics are independent of the system of units used in their expression. In this case, if the ratio F/f was not always equal to -1, but changed if we switched from SI to CGS, for instance, that would mean that Newton's Third Law's truth or falsity would depend on the system of units used, which would contradict this fundamental hypothesis. The assumption that the laws of physics are not contingent upon a specific unit system is also closely related to the Buckingham theorem. A formulation of this theorem is that any physical law can be expressed as an identity (always true equation) involving only dimensionless combinations (ratios or products) of the variables linked by the law (e.g., pressure and volume are linked by Boyle's Law -they are inversely proportional). If the dimensionless combinations' values changed with the systems of units, then the equation would not be an identity, and Buckingham's theorem would not hold.

[edit] Buckingham theorem


Another consequence of the Buckingham theorem of dimensional analysis is that the functional dependence between a certain number (say, n) of variables can be reduced by the number (say, k) of independent dimensions occurring in those variables to give a set of p = n k independent, dimensionless quantities. For the purposes of the experimenter, different systems which share the same description by dimensionless quantity are equivalent.
[edit] Example

The power consumption of a stirrer with a given shape is a function of the density and the viscosity of the fluid to be stirred, the size of the stirrer given by its diameter, and the speed of the stirrer. Therefore, we have n = 5 variables representing our example. Those n = 5 variables are built up from k = 3 dimensions which are:

Length: L (m) Time: T (s) Mass: M (kg).

According to the -theorem, the n = 5 variables can be reduced by the k = 3 dimensions to form p = n k = 5 3 = 2 independent dimensionless numbers which are, in case of the stirrer:

Reynolds number (a dimensionless number describing the fluid flow regime) Power number (describing the stirrer and also involves the density of the fluid)

[edit] Standards efforts

The CIPM Consultative Committee for Units contemplated defining the unit of 1 as the 'uno', but the idea was dropped.[1][2][3][4]

[edit] Examples
Consider this example: Sarah says, "Out of every 10 apples I gather, 1 is rotten.". The rottento-gathered ratio is (1 apple) / (10 apples) = 0.1 = 10%, which is a dimensionless quantity. Another more typical example in physics and engineering is the measure of plane angles. An angle is measured as the ratio of the length of a circle's arc subtended by an angle whose vertex is the centre of the circle to some other length. The ratio, length divided by length, is dimensionless. When using radians as the unit, the length that is compared is the length of the radius of the circle. When using degree as the units, the arc's length is compared to 1/360 of the circumference of the circle.

[edit] List of dimensionless quantities


All numbers are dimensionless quantities. Certain dimensionless quantities of some importance are given below:
Name Abbe number Activity coefficient Standard symbol V Definition Field of application optics (dispersion in optical materials) chemistry (Proportion of "active" molecules or atoms) climatology, astronomy (reflectivity of surfaces or bodies) motion of fluids due to density differences Ratio of activation energy to thermal energy[5] chemistry flow of bulk solids such as grain and sand.[6] the ratio of heat transfer irreversibility to total irreversibility due to heat transfer and fluid friction[7] dimensionless pressure drop along a channel[8]

Albedo

Archimedes number Ar Arrhenius number Atomic weight Bagnold number Bejan number
(thermodynamics)

M Ba

Be

Bejan number
(fluid mechanics)

Be

Bingham number Biot number Bodenstein number Bond number Brinkman number Brownell-Katz number Capillary number

Bm Bi

Ratio of yield stress to viscous stress[5] surface vs. volume conductivity of solids residence-time distribution

Bo Br

capillary action driven by buoyancy [9] heat transfer by conduction from the wall to a viscous fluid combination of capillary number and Bond number

Ca

fluid flow influenced by surface tension friction of solid bodies at rest

Coefficient of static s friction Coefficient of kinetic k friction Colburn j factor Courant-FriedrichLevy number

friction of solid bodies in translational motion dimensionless heat transfer coefficient numerical solutions of hyperbolic PDEs [10] reaction time scales vs. transport phenomena the level of damping in a system fluid flow vortices in curved ducts rheology of viscoelastic fluids ratio of two intensities, usually sound flow resistance ratio of electric surface conductivity to the electric bulk conductivity in heterogeneous systems

Damkohler number Da Damping ratio

Darcy friction factor Cf or f Dean number Deborah number Decibel Drag coefficient D De dB Cd

Dukhin number

Du

Euler's number Eckert number Ekman number Elasticity (economics) Etvs number Ericksen number Euler number Fanning friction factor Feigenbaum constants Fine structure constant f-number Fopplvon Karman number Fourier number Fresnel number Froude number Gain Galilei number Golden ratio Graetz number Grashof number Hatta number

e Ec Ek E Eo Er Eu

mathematics convective heat transfer geophysics (frictional (viscous) forces) widely used to measure how demand or supply responds to price changes determination of bubble/drop shape liquid crystal flow behavior hydrodynamics (pressure forces vs. inertia forces) fluid flow in pipes [11]

chaos theory (period doubling) [12]

quantum electrodynamics (QED) optics, photography thin-shell buckling

Fo F Fr

heat transfer slit diffraction [13] wave and surface behaviour electronics (signal output to signal input)

Ga

gravity-driven viscous flow mathematics and aesthetics

Gz Gr Ha

heat flow free convection adsorption enhancement due to chemical

reaction Hagen number Hydraulic gradient Karlovitz number KeuleganCarpenter KC number Knudsen number Kt/V Kutateladze number K Laplace number Lewis number La Le Kn Hg i forced convection groundwater flow turbulent combustion turbulent combustion ratio of drag force to inertia for a bluff object in oscillatory fluid flow ratio of the molecular mean free path length to a representative physical length scale medicine counter-current two-phase flow free convection within immiscible fluids ratio of mass diffusivity and thermal diffusivity lift available from an airfoil at a given angle of attack flow of wet gases [14] ratio of a resistive time to an Alfvn wave crossing time in a plasma gas dynamics magnetohydrodynamics

Lift coefficient

CL

Lockhart-Martinelli parameter Lundquist number Mach number S M

Magnetic Reynolds Rm number Manning roughness n coefficient Marangoni number Mg Morton number Nusselt number Mo Nu

open channel flow (flow driven by gravity) [15] Marangoni flow due to thermal surface tension deviations determination of bubble/drop shape heat transfer with forced convection

Ohnesorge number Oh Pclet number Peel number Pi Pe

atomization of liquids, Marangoni flow advectiondiffusion problems adhesion of microstructures with substrate [16] mathematics (ratio of a circle's circumference to its diameter) elasticity (load in transverse and longitudinal direction) geology electronics (real power to apparent power)

Poisson's ratio Porosity Power factor Power number Prandtl number

Np Pr

power consumption by agitators convection heat transfer (thickness of thermal and momentum boundary layers) pressure experienced at a point on an airfoil describes how under-damped an oscillator or resonator is measurement of angles buoyancy and viscous forces in free convection electromagnetism, optics Ratio of fluid inertial and viscous forces[5] hydrometers, material comparisons effect of buoyancy on flow stability [17] mechanical hardness

Pressure coefficient CP Q factor Radian Rayleigh number Refractive index Reynolds number Relative density Q rad Ra n Re RD

Richardson number Ri Rockwell scale Rolling resistance coefficient Rossby number Crr Ro

Vehicle dynamics inertial forces in geophysics

Rouse number Schmidt number

Z or P Sc

Sediment transport fluid dynamics (mass transfer and diffusion)


[18]

Shape factor Sherwood number Sommerfeld number Stanton number Stefan number Stokes number Strain Strouhal number Taylor number Ursell number

H Sh

ratio of displacement thickness to momentum thickness in boundary layer flow mass transfer with forced convection boundary lubrication [19]

St Ste Stk St or Sr Ta U

heat transfer in forced convection heat transfer during phase change particle dynamics materials science, elasticity nondimensional frequency, continuous and pulsating flow [20] rotating fluid flows nonlinearity of surface gravity waves on a shallow fluid layer governs the effects of porosity , the Prandtl number and the Darcy number on flow in a porous medium quantitative analysis (Kf and Kb) nondimensional superficial velocity in multiphase flows laminar burning velocity relative to hydrogen gas [21]

Vadasz number

Va

van 't Hoff factor Wallis parameter Weaver flame speed number Weber number Weissenberg number

i J*

We Wi

multiphase flow with strongly curved surfaces viscoelastic flows [22] continuous and pulsating flows [23]

Womersley number

[edit] Dimensionless physical constants


Certain fundamental physical constants, such as the speed of light in a vacuum, the universal gravitational constant, and the constants of Planck and Boltzmann, are normalized to 1 if the units for time, length, mass, charge, and temperature are chosen appropriately. The resulting system of units is known as natural. However, not all physical constants cannot be eliminated in any system of units; the values of the remaining ones must be determined experimentally. Resulting constants include:

, the fine structure constant, the coupling constant for the electromagnetic interaction; or , the proton-to-electron mass ratio, the rest mass of the proton divided by that of the electron. More generally, the rest masses of all elementary particles relative to that of the electron; s, the coupling constant for the strong force; G, the gravitational coupling constant.

[edit] See also


Similitude (model) Orders of magnitude (numbers) Dimensional analysis Normalization (statistics) and standardized moment, the analogous concepts in statistics

[edit] References
1. ^ "BIPM Consultative Committee for Units (CCU), 15th Meeting" (PDF). 1718 April 2003. http://www.bipm.fr/utils/common/pdf/CCU15.pdf. Retrieved 2010-01-22. 2. ^ "BIPM Consultative Committee for Units (CCU), 16th Meeting" (PDF). http://www.bipm.fr/utils/common/pdf/CCU16.pdf. Retrieved 2010-01-22. 3. ^ "An ontology on property for physical, chemical, and biological systems.". http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract &list_uids=15588029&query_hl=3. 4. ^ Ren Dybkaer. "An ontology on property for physical, chemical, and biological systems". http://www.iupac.org/publications/ci/2005/2703/bw1_dybkaer.html. 5. ^ a b c "Table of Dimensionless Numbers" (PDF). http://www.cchem.berkeley.edu/gsac/grad_info/prelims/binders/dimensionless_numbers.p df. Retrieved 2009-11-05. 6. ^ Bagnold number 7. ^ S. Paoletti, F. Rispoli, E. Sciubba, Calculation of exergetic losses in compact heat exchanger passager, ASME AES-Vol. 10-2, 1989, pp. 21-29. 8. ^ S. Bhattacharjee and W.L. Grosshandler, The formation of wall jet near a high temperature wall under microgravity environment, ASME MTD-Vol. 96, 1988, pp. 711-716. 9. ^ Bond number 10. ^ Courant-Friedrich-Levy number 11. ^ Fanning friction factor 12. ^ Feigenbaum constants 13. ^ Fresnel number 14. ^ Lockhart-Martinelli parameter 15. ^ Manning coefficientPDF (109 KB)

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

^ Peel number ^ Richardson number ^ Schmidt number ^ Sommerfeld number ^ Strouhal number ^ Weaver flame speed number ^ Weissenberg number ^ Womersley number

[edit] External links


John Baez, "How Many Fundamental Constants Are There?" Huba, J. D., 2007, NRL Plasma Formulary: Dimensionless Numbers of Fluid Mechanics. Naval Research Laboratory. Pp. p. 23, p. 24 and p. 25 Sheppard, Mike, 2007, "Systematic Search for Expressions of Dimensionless Constants using the NIST database of Physical Constants." Biographies of 16 scientists having dimensionless numbers of heat and mass transfer named after them.

Bilangan Abbe
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Bilangan Abbe dalam fisika dan optika juga dikenal dengan Bilangan V, adalah ukuran dispersi suatu material dalam hubungannya dengan indeks bias (variasi indeks bias dengan panjang gelombang). Dinamai sesuai dengan nama Ernst Abbe (1840-1905), ahli fisika berkebangsaan Jerman yang mendefinisikan hal tersebut.

Diagram bilangan Abbe berdasarkan komposisi material optis dan indeks bias, ditandai dengan titik merah Bilangan Abbe dari suatu material, V, didefinisikan sebagai:

di mana nD, nF, dan nC adalah indeks bias dari suatu material pada garis panjang gelombang D, F, dan C Fraunhofer (589,2 nm, 486,1 nm, dan 656,3 nm). Nilai dispersi yang rendah, yang berarti rendah abrasi kromatiknya, berarti material tersebut mempunyai nilai bilangan Abbe yang tinggi. Definisi lainnya yang dapat digunakan adalah:

dengan nd adalah indeks bias pada panjang gelombang garis kuning helium (587,5618 nm). Dapat juga didefinisikan sebagai:

dengan e adalah hijau merkuri pada 546,073 nm, sedangkan F' dan C' adalah garis biru dan merah kadmium pada panjang gelombang 480,0 nm dan 643,8 nm. Bilangan Abbe digunakan untuk mengklasifikasikan kaca dan material optis lainnya. Seperti contoh, kaca flint memiliki V < 50 dan kaca crown memiliki V > 50. Range nilai V bervariasi, berkisar 20 untuk kaca flint berdensitas tinggi, sekitar 30 untuk kaca polikarbonat, lebih dari 65 untuk kaca crown berdensitas rendah, dan di atas 85 untuk kaca fluor-crown. Bilangan Abbe hanya diaplikasikan pada cahaya tampak. Diagram Abbe dibuat dengan menempatkan bilangan Abbe Vd dari suatu material terhadap indeks bias nd. Material optis lalu dikategorikan melalui komposisi bahannya dan posisinya dalam diagram. Pengkategorian dapat berupa kode huruf dan nomor seperti yang digunakan pada katalog Kaca Schott, atau menggunakan kode kaca 6 digit. Tabel di bawah ini adalah daftar panjang gelombang standar berdasarkan Pye di mana nilai n biasanya ditentukan. Seperti contoh, nD berdasarkan tabel adalah 589,3 nm, karena D adalah warna kuning pada garis spektrum Natrium. dalam nm Symbol Fraunhofer Sumber cahaya Warna 365.01 i Hg ultraviolet 404.66 h Hg violet 435.84 g Hg biru 479.99 F' Cd biru 486.13 F H biru 546.07 e Hg hijau 587.56 d He kuning 589.3 D Na kuning 643.85 C' Cd merah 656.27 C H merah 706.52 r He merah 768.2 A' K merah 852.11 s Cs Inframerah 1013.98 t Hg Inframerah

[sunting] Referensi

Perhitungan bilangan Abbe terhadap berbagai jenis kaca L. D. Pye, V. D. Frechette, N. J. Kreidl: "Borate Glasses"; Plenum Press, New York, 1977

e
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

e adalah bilangan dimana gradien (kemiringan) dari fungsi f(x)=ex pada setiap titiknya sama dengan nilai (tinggi) fungsi tersebut pada titik yang sama. Konstanta matematika e adalah basis dari logaritma natural. Kadang-kadang disebut juga bilangan Euler sebagai penghargaan atas ahli matematika Swiss, Leonhard Euler, atau juga konstanta Napier sebagai penghargaan atas ahli matematika Skotlandia, John Napier yang merumuskan konsep logaritma untuk pertama kali. Bilangan ini adalah salah satu bilangan yang terpenting dalam matematika, sama pentingnya dengan 0, 1, i, dan . Bilangan ini memiliki beberapa definisi yang ekivalen; sebagain ada dibawah. Nilai bilangan ini, dipotong pada posisi ke-30 setelah tanda desimal (tanpa dibulatkan), adalah: e 2,71828 18284 59045 23536 02874 71352

[sunting] Definisi

Bilangan Nusselt
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Bilangan nusselt) Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Bilangan Nusselt adalah rasio pindah panas konveksi dan konduksi normal terhadap batas dalam kasus pindah panas pada permukaan fluida; bilangan Nusselt adalah satuan tak berdimensi yang dinamai menggunakan nama Wilhelm Nusselt. Komponen konduktif diukur di bawah kondisi yang sama dengan konveksi dengan kondisi fluida stagnan atau tidak bergerak. Aliran panas konduksi dan konveksi sifatnya sejajar satu sama lainnya dan terhadap permukaan normal terhadap bidang batas, sehingga

di mana:

L = panjang karakteristik kf = konduktivitas termal fluida h = koefisien pindah panas konvektif

Pemilihan panjang karakteristik harus searah dengan ketebalan dari lapisan batas. Contoh dari panjang karakteristik misalnya diameter terluar dari silinder pada aliran yang mengalir di luar silinder, tegak lurus terhadap aksis silinder. Selain itu, panjang papan vertikal terhadap konveksi alami yang bergerak ke atas dan diameter bola yang berada di dalam aliran konveksi juga merupakan panjang karakteristik. Untuk bangun yang lebih rumit, panjang karakteristik bisa dihitung dengan membagi volume terhadap luas permukaannya. Untuk konveksi bebas, rataan bilangan Nusselt dinyatakan sebagai fungsi dari bilangan Rayleigh dan bilangan Prandtl. Dan untuk konveksi paksa, rataan bilangan Nusselt adalah fungsi dari bilangan Reynolds dan bilangan Prandtl. Hubungan empiris untuk berbagai geometri terkait konveksi menggunakan bialangan Nusselt didapatkan melalui eksperimen. Pindah massa terkait dengan bilangan Nusselt adalah bilangan Sherwood.

Bilangan Reynolds
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vs) terhadap gaya viskos (/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan ini digunakan untuk mengidentikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan turbulen. Namanya diambil dari Osborne Reynolds (1842 1912) yang mengusulkannya pada tahun 1883. Bilangan Reynold merupakan salah satu bilangan tak berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida dan digunakan, seperti halnya dengan bilangan tak berdimensi lain, untuk memberikan kriteria untuk menentukan dynamic similitude. Jika dua pola aliran yang mirip secara geometris, mungkin pada fluida yang berbeda dan laju alir yang berbeda pula, memiliki nilai bilangan tak berdimensi yang relevan, keduanya disebut memiliki kemiripan dinamis.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Rumusan 2 Nilai tipikal 3 Lihat pula 4 Bacaan lanjutan 5 Pranala luar

[sunting] Rumusan
Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:

dengan:

vs - kecepatan fluida, L - panjang karakteristik, - viskositas absolut fluida dinamis, - viskositas kinematik fluida: = / , - kerapatan (densitas) fluida.

Misalnya pada aliran dalam pipa, panjang karakteristik adalah diameter pipa, jika penampang pipa bulat, atau diameter hidraulik, untuk penampang tak bulat.

[sunting] Nilai tipikal


Spermatozoa ~ 1102 Aliran darah di otak ~ 1102 Aliran darah di aorta ~ 1103

Batas munculnya aliran turbulen ~ 2,3103 pada aliran pipa hingga 106 untuk lapisan batas Lemparan bola (pitch) di Major League Baseball ~ 2105 Orang berenang ~ 4106 Paus Biru ~ 3108 Kapal besar (RMS Queen Elizabeth 2) ~ 5109

[sunting] Lihat pula


Persamaan Darcy-Weisbach Hukum Hagen-Poiseuille Persamaan Navier-Stokes Teorema perpindahan Reynolds

Teorema Taylor
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Fungsi eksponensial y = ex (garis merah kontinu) dan polinomial Taylor orde empat di sekitar titik asal (garis hijau putus-putus) Topik dalam kalkulus

Teorema dasar Limit fungsi Kekontinuan Kalkulus vektor Kalkulus matriks

Dalam kalkulus, teorema Taylor memberikan barisan pendekatan sebuah fungsi yang diferensiabel pada sebuah titik menggunakan suku banyak (polinomial). Koefisien polinomial tersebut hanya tergantung pada turunan fungsi pada titik yang bersangkutan. Teorema ini juga memberikan estimasi besarnya galat dari pendekatan itu. Teorema ini mendapat nama dari matematikawan Brook Taylor, yang menyatakannya pada tahun 1712, meskipun hasilnya sudah ditemukan pertama kali tahun 1671 oleh James Gregory

Teorema nilai purata


Turunan

Daftar isi
[sembunyikan]

Kaidah darab Kaidah hasil-bagi Kaidah rantai Turunan implisit Teorema Taylor Laju berhubungan Tabel turunan
Integral

1 Teorema Taylor dalam satu variabel o 1.1 Pernyataan o 1.2 Estimasi suku sisa 2 Pembuktian: satu variabel 3 Catatan kaki 4 Rujukan 5 Pranala luar

[sunting] Teorema Taylor dalam satu variabel

Tabel integral Integral takwajar Pengintegralan dengan: bagian per bagian, cakram, silinder, substitusi, substitusi trigonometri, pecahan parsial

Teorema Taylor menyatakan sembarang fungsi mulus dapat dihampiri dengan polinomial. Contoh sederhana penerapan teorema Taylor adalah hampiran fungsi eksponensial ex di dekat x = 0:

Hampiran ini dinamakan hampiran Taylor orde ke-n' terhadap ex karena menghampiri nilai fungsi eksponensial menggunakan polinomial derajat n. Hampiran ini hanya berlaku untuk x mendekati nol, dan bila x bergerak menjauhi nol, hampiran ini menjadi semakin buruk. Kualitas hampiran dinyatakan oleh suku sisa:

Lebih umum lagi, teorema Taylor berlaku untuk setiap fungsi yang dapat diturunkan , dengan hampiran untuk x di dekat titik a, dalam bentuk:

Suku sisa adalah perbedaan antara fungsi dan polinomial hampirannya:

Meskipun rumus eksplisit untuk suku sisa ini jarang digunakan, teorema Taylor juga memberikan estimasi nilai sisanya. Dengan kata lain, untuk x cukup dekat terhadap a, suku sisa haruslah cukup kecil. Teorema Taylor memberikan informasi persis seberapa kecil suku sisa tersebut.
[sunting] Pernyataan

Pernyataan cermat teorema ini adalah sebagai berikut: bila n 0 adalah bilangan bulat dan f adalah fungsi yang terturunkan kontinu pada selang tertutup [a, x] dan terturunkan n + 1 kali pada selang terbuka (a, x), maka

Di sini n! melambangkan n faktorial dan Rn(x) adalah suku sisa, melambangkan beda antara polinomial Taylor derajat-n terhadap fungsi asli. Suku sisa Rn(x) tergantung pada x, dan kecil bila x cukup dekat terhadap a. Ada beberapa pernyataan untuk suku sisa ini. Bentuk Lagrange[1] dari suku sisa menyatakan bahwa terdapat bilangan antara a dan x sedemikian sehingga

Ini mengungkapkan teorema Taylor sebagai perampatan teorema nilai rata-rata. Sebenarnya, teorema nilai rata-rata digunakan untuk membuktikan teorema Taylor dengan suku sisa bentuk Lagrange. Bentuk Cauchy[2] suku sisa menyatakan bahwa terdapat bilangan antara a dan x sehingga

Secara umum, bila G(t) adalah fungsi kontinu pada selang tertutup [a,x], yang terturunkan dengan turunan tidak nol pada (a,x), maka ada suatu bilangan antara a dan x sehingga

Ini mengungkapkan teorema Taylor sebagai generalisasi teorema nilai rata-rata Cauchy. Bentuk di atas terbatas pada fungsi riil. Namun bentuk integral[3] dari suku sisa juga berlaku untuk fungsi kompleks, yaitu:

dengan syarat, seperti yang biasa ditemui, fn kontinu mutlak dalam [a, x]. Ini menunjukkan teorema ini sebagai perampatan teorema dasar kalkulus. Secara umum, suatu fungsi tidak perlu sama dengan deret Taylor-nya, karena mungkin saja deret Taylor tersebut tidak konvergen, atau konvergen menuju fungsi yang berbeda. Namun, untuk banyak fungsi f(x), kita dapat menunjukkan bahwa suku sisa Rn mendekati nol saat n mendekati . Fungsi-fungsi tersebut dapat dinyatakan sebagai deret Taylor pada persekitaran titik a, dan disebut sebagai fungsi analitik.
[sunting] Estimasi suku sisa

Versi umum teorema Taylor lainnya berlaku pada selang (a r, a + r) tempat variabel x mengambil nilainya. Perumusan teorema ini memiliki keuntungan bahwa mungkin mengendalikan ukuran suku-suku sisa, dan dengan demikian kita dapat menghitung hampiran fungsi yang sahih pada seluruh selang, dengan batas yang cermat untuk mutu hampirannya. Versi yang cermat untuk teorema Taylor dalam bentuk ini adalah sebagai berikut. Misalkan adalah fungsi yang terturunkan kontinu n kali pada selang tertutup [a - r, a + r] dan terturunkan n + 1 kali pada selang terbuka (a r, a + r). Bila ada konstanta positif riil Mn sedemikian sehingga |(n+1)(x)| Mn untuk semua x (a r, a + r), maka

di mana fungsi sisa Rn memenuhi ketidaksamaan (dikenal sebagai estimasi Cauchy)

untuk semua x (a r, a + r). Ini disebut sebagai estimasi seragam galat pada polinomial Taylor yang terpusat pada a, karena ini berlaku seragam untuk setiap x dalam selang. Bila adalah fungsi mulus pada [a r, a + r], maka konstanta positif Mn ada untuk tiapn = 1, 2, 3, sedemikian sehingga | (n+1)(x)| Mn untuk semua x (a r, a + r). Tambahan lagi, jika mungkin memilih konstanta ini, sehingga

as

maka adalah fungsi analitik pada (a r, a + r). Secara khusus, suku sisa pada hampiran Taylor, Rn(x) cenderung menuju nol secara seragam saat n. Dengan kata lain, fungsi analitik adalah limit seragam dari polinomial Taylornya pada sebuah selang.

[sunting] Pembuktian: satu variabel


Berikut adalah bukti teorema Taylor dengan suku sisa integral[4] Teorema dasar kalkulus menyatakan bahwa

yang dapat disusun ulang menjadi:

Sekarang kita dapat melihat bahwa penerapan integrasi parsial menghasilkan

Persamaan pertama diperoleh dengan memisalkan didapatkan dengan mencatat bahwa didapatkan dengan mengeluarkan faktor yang sama. Bila integrasi parsial ini diteruskan didapatkan:

dandv = dt; persamaan kedua ; yang ketiga

Dengan mengulangi proses ini, kita dapat menurunkan teorema Taylor untuk nilai n yang lebih tinggi. Proses ini dapat diformalkan dengan menerapkan teknik induksi matematika. Jadi misalkan teorema Taylor berlaku unutk n tertentu, yaitu, misalkan

Kita dapat menulis ulang integral dengan integrasi parsial. Sebuah antiturunan (x t)n sebagai fungsi dari t diberikan sebagai (xt)n+1 / (n + 1), sehingga

Mensubstitusikan ini dalam (*) membuktikan teorema Taylor untuk n + 1, dan karenanya untuk semua n bilangan bulat non-negatif. Suku sisa dalam bentuk Lagrange dapat diturunkan dengan teorema nilai rata-rata untuk integral dengan cara berikut:

di mana adalah suatu bilangan dari selang [a, x]. Integral terakhir dapat dievaluasi langsung, yang menghasilkan

Secara lebih umum, untuk tiap fungsi G(t), teorema nilai rata-rata menjamin eksistensi dalam selang [a,x] yang memenuhi

Bilangan Kapilaritas (Ca)


17 09 2010

Sebelumnya, kita membahas tentang fluida yang dapat bercampur, makanya dia ada difusi dan segala macam itu. Nah, untuk fluida yang immiscible atau tidak bisa bercampur, ada tegangan permukaan yang mempengaruhi dinamika permukaan kedua fluida. Sebagai contoh, gambar berikut ini

menunjukkan ketidakstabilan kapilaritas dalam aliran mikrofluida dua fase (gambar: aliran air yang ditembakkan ke aliran minyak). Pembentukan droplet dalam aliran dua fase Sistem mikrofluida dapat didesain untuk membentuk emulsi droplet yang terkontrol pada fluida yang tidak dapat bercampur. Caranya dengan menginjeksikan air dalam aliran minyak pada sebuah saluran pertigaan atau yang berbentuk T. Seandainya tidak ada tegangan antar permukaan antara air dan minyak, maka keduanya akan mengalir secara berdampingan. Namun karena ada tegangan yang bekerja yaitu 1. Tegangan permukaan yang berusaha mengurangi permukaan kontak kedua fluida 2. Tegangan viskos yang memperpanjang dan menarik permukaan mengikuti aliran maka sebagai hasil dari keseimbangan kedua tegangan tersebut akan terbentuk droplet (tetesan kecil air) dengan jari-jari R, dengan karakteristik

di sini kita telah mengenal bilangan kapilaritas (Ca)

yaitu parameter tak berdimensi yang terkait dengan peristiwa persaingan antara tegangan permukaan dan tegangan viskos. Mengontrol fluida dengan permukaan berpola Gaya kapilaritas cenderung membawa fluida membasahi saluran mikro ketika energi antarmuka padat-cair (solid-liquid, antara dinding dan cairan, sl) lebih rendah daripada energi antarmuka padat-gas (solid-gas, antara dinding dan gas, sg). Dalam hal ini fluida kedua dianggap gas untuk mempermudah, namun bisa saja bukan gas tetapi cairan yang berbeda. Jika kita mempunyai saluran berjari-jari w, meniskus pada antarpermukaan fluida-gas menimbulkan tekanan Laplace p~/w, di mana = sl- sg merepresentasikan energi total per area yang dihasilkan atau terbuang ketika permukaan fluida meningkat. Tekanan ini menggerakkan kolom fluida sepanjang z dalam saluran melalui aliran Poiseuille dengan kecepatan

Di sini bilangan kapilaritas menentukan dinamika yang terjadi (Ca~w/z). Karena panjang kolom z berubah seiring dengan bergeraknya permukaan, fluida bergerak dengan kecepatan yang rendah mengikuti persamaan Washburn

Kemampuan dinding saluran untuk bisa basah dapat digunakan untuk mengontrol gerak kapilaritas. Sifat hidrofobik dari dinding saluran dapat dimanfaatkan untuk membatasi fluida, dan membentuk kanal tanpa dinding. Permukaan berpola dapat digunakan dalam saluran tertutup untuk memanipulasi beberapa fluida yang tidak dapat bercampur dalam satu jalur. Jika fluida digerakkan menggunakan tekanan yang cukup rendah, tekanan kapilaritas menjaga permukaan tetap terletak pada tepi saluran berpola (p/w). Jika fluida melampaui tekanan kritis ini, maka fluida terdesak ke dalam daerah hidrofobik. Sifat ini dimanfaatkan untuk membuat pressure-sensitive gate seperti contoh berikut

Pada gambar di atas, saluran yang tengah bersifat hidrofilik, saluran bawah agak hidrofobik dan saluran atas paling hidrofobik. (a) Tekanan yang diberikan di bawah tekanan kritis, air mengalir melewati saluran tengah (b) Tekanan ditingkatkan, air mengalir melalui saluran tengah dan bawah (c) Tekanan ditingkatkan lagi sehingga air terpaksa melewati saluran atas. Memanipulasi fluida dengan gaya kapilaritas Manipulasi energi antarpermukaan solid-liquid Contoh: Droplet panjang sepanjang L berada dalam saluran dengan radius w. Permukaan saluran tidak homogen: yang z<0 hidrofobik (Lsl) dan yang z>0 hidrofilik (Rsl>Lsl). Droplet ini secara energi ingin bergerak ke permukaan yang hidrofilik, dan bergerak dengan kecepatan U menambah energi antarmuka yang tersimpan sebesar ~wY, di mana =LslRsl. Energi ini hilang pada disipasi viskos. Dengan mengasumsikan bahwa energi kapilaritas dilepaskan untuk mengimbangi disipasi viskos, maka

Di sini kita melihat bahwa secara natural bilangan kapilaritas meningkat karena tegangan kapilaritas diimbangi dengan tegangan viskos. Dalam kasus ini, droplet bergerak dengan kecepatan U~w/L.

Permukaan dengan gradien keterbasahan

(a) Gradien suhu sejumlah fluida dalam saluran mikro bergerak untuk mengurangi total energi antarpermukaan, sehingga pada saluran dengan gradien suhu, droplet bergerak ke arah yang lebih dingin. (b) Fluida mengandung zat kimia yang dapat bereaksi, mengurangi keterbasahan permukaan. (c) Fluida terdesak oleh fluida lain yang meninggalkan lapisan pada permukaan, yang mengurangi energi permukaan keseluruhan. (d) Permukaan yang sensitif terhadap cahaya, menimbulkan gradien keterbasahan. Electrowetting

Tegangan (energi per satuan luas atau gaya per satuan panjang) berhubungan dengan masingmasing permukaan: solid-liquid sl, solid-gas sg, liquid-gas lg. Masing-masing memberikan gaya pada garis kontak ketiga fase, dan pada keseimbangannya memenuhi persamaan Young sg-sl-coseq=0 Ketika beda potensial V diberikan antara tetesan dengan alasnya, permukaan solid-liquid pun menjadi semacam kapasitor, dengan kapasitansi per satuan luas c (gambar (b)). Semakin besar permukaan solid-liquid ini, semakin besar total kapasitansinya, yang menyebabkan berkurangnya energi elektrostatik dan melebarkan tetesan. Tegangan electrowetting ini memiliki keseimbangan gaya yang baru yaitu

sedangkan sudut kontak berubah mengikuti persamaan Lippmann

Manipulasi tegangan permukaan liquid-liquid

Gambar di atas menunjukkan peristiwa pergerakan droplet secara thermocapillary, electrocapillary, dan solutocapillary pada manipulasi tegangan permukaan dengan menggunakan dua jenis cairan. (a) Perbedaan suhu pada larutan yang biru menggerakkan droplet ke arah suhu yang lebih tinggi. (b) Droplet digerakkan oleh medan listrik. (c) Perbedaan konsentrasi surfaktan (zat yang dapat menurunkan tegangan permukaan) yang digunakan sebagai cairan penggerak, menggerakkan droplet ke arah konsentrasi surfaktan yang lebih tinggi.