Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal. 1.2 Tujuan a) Tujuan Umum Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan anemia b) Tujuan Khusus 1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian anemia. 2. Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab anemia. 3. Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul pada pasien anemia. 4. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan anemia.

BAB II

2.1KASUS
An. Tari, 6 tahun, datang menemui dokter dan mengeluhkan lelah, sesak napas, kaki dan pergelangan kaki bengkak dan wajah serta membrane mukosanya pucat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva pucat, bising jantung, hepatomegaly dan splenomegaly tidak ditemukan. Dari hasil pemeriksaan fisik terlihat bahwa kuku pasien berbentung sendok. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium diperoleh hasil sbb : WBC 4 x 109 / L ; RBC 3 x 109 /L ; Hb 7 g/dl ; MVC 70 fl. Dokter memberikan tablet Fe untuk anak ini.

2.2KATA KUNCI DAN PEMBAHASAN


1. Usia 6 tahun Masih tergolong dalam usia anak, dimana anti body telah terbentuk tapi masih rentan terhadap antigen-antigen.
2. Lelah Distribusi Oksigen menurun ke otot gangguan kontraksi metabolisme terganggu (Metabolisme aerob pembentukan energi (ATP) menurun Mudah lelah ; metabolisme anaerob )

3. Sesak napas

Sesak napas dapat terjadi pada kasus anemia akibat rendahnya kadar Hb yang diperlukan untuk mengangkut O2 ke seluruh tubuh, sehingga terjadi hipoksia jaringan dan merangsang pusat pernapasan pada pons dan medulla oblongata untuk meningkatkan kerja dari system pernapasan dalam meningkatkan usaha napas. 4. Kaki dan pergelangan kaki bengkak Terjadi akibat aliran darah yang menuju ke organ tersebut tidak lancar. 5. Wajah, membran mukosa dan konjungtiva pucat Terjadi akibat kurangnya pasokan sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, sehingga darah lebih banyak dialirkan ke organ-organ vital sehingga bagian perifer tubuh mengalami hipoksia yang ditandai dengan adanya tanda-tanda anemis seperti pucat. 6. Bising jantung Karena adanya kekurangan Fe dalam pembentukan Hb sehingga tubuh kekurangan Oksigen, sehingga beban kerja jantung bertambah dan jika berlangsung dalam waktu yang lama akan menybabkan kerusakan katub jantung yang menyebabkan terjadi aliran turbulensi sehingga ketika dilakukan auskultasi akan terdengar suara abnormal yang disebut Bising Jantung 7. Kuku berbentuk sendok Merupakan ciri khas dari adanya defisiensi zat besi yang menyebabkan kurangnya oksigen dalam tubuh, sehingga oksigen lebih banyak dialirkan ke organ-organ vital dan bagian perifer tubuh mengalami penurunan kadar oksigen termasuk pada bagian kuku sehingga pertumbuhannya abnormal. 8. WBC 4 x 109 / L ; RBC 3 x 109 /L ; Hb 7 g/dl ; MVC 70 fl WBC = 4000-10000 Sel/UL darah

RBC = Pria : 4,7-6,1 juta sel/UL Hb (Usia 6 thn) : 11-13 g/dl MVC = 82-92 fL 9. Tablet Fe Sejenis obat terapi yang mengandung Zat besi (Fe) yang sangat penting dalam pembentuan Hb.

BAB III

3.1KONSEP DASAR MEDIK


A. Anatomi Fisiologi Sistem Hematologi Darah adalah suatu suspensi partikel dalam suatu larutan kolid cair yang mengandung elektrolit dan merupakan suatu medium pertukaran antar sel yang terfikasi dalam tubuh dan lingkungan luar (Silvia A. Price dan Lorraine M. Wilson : 2005 ) Fungsi Darah : a) Sebagai alat pengangkut yaitu : Mengambil O2 di paru_paru untuk diedarkan keseluruh jaringn Mengangkat CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru Mengambil zat makanan dari usus halus untuk diedarkan keseluruh jaringan atau alat tubuh Mengangkat dan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh melalui kulit dan ginjal b) Sebagai pertahana tubuh c) Menyebarkan panas keseluruh tubuh Komponen Darah a) Plasma, 90% terdiri dari air yang bertugas sebagai: Sebagai medium untuk mengangkut baerbagai bahan dalam tubuh. Menyerap dan mendistribusikan banyak panas yang dihasilkan oleh metabolisme di dalanm jaringan.

Tempat larutnya sejumlah besar zat organic dan an organik

Fungsi protein plasma : 1. Menghambat pengeluaran berlebihan plasma dari kapiler ke dalam cairan intertisium dan dengan demikian membantu mempertahankan volume plasma. 2. 3. 4. Menyangga perubahan pH darah. Menentukan viskositas darah. Menghasilkan energi bagi sel.

b) Sel Darah 1) Sel Darah Merah ( RBC ) Sel darah merah atau eritrosit adalah sel yang tidak berinti yang berumur 120 hari dengan proses pematangan sel darah merah 1 minggu dan tidak mempunyai organel. dan ribosom.Normal SDM : 5.000.000.000 sel/ml darah. Bentuk eritrosit adalah: Lempeng berkonkraf ,Fungsinya adalah menghasilkan luas permukaan yang lebih besar bagi difusi O2 menembus membrane dari pada yang dihasilkan oleh sel bulat denagn volume yang sama. Tebalnya 1 cm bagian tengah dan tepi luar 2 cm funsinya memeungkin O2 berdifusi lebih cepat antara bagian paling dalam sel dengan ekteriumnya. Garis depan nya 8cm. Fungsinya agar mampu mengalami deformasi saat mereka menyelinap satu persatu melalui kapiler. Hematokritnya 42% untuk untuk wanita dan 45% untuk pria. Mempunyai Hemoglobin

Hemoglobin adalah suatu pigmeb(yaitu secara alamiah berwarna. Karena kandunagan besinya , hemoglobin tampak kemerahan apabila berikatan dengan O2 dan kebiruan apbila mengalami

deoksigenasi.Dengan demikian ,darah arteri yang teroksigenasi sempurna tampak merah dan darah vena yang telah kehilangan sebagian O2 nya di jaringan memperlihatkan rona kebiruan. Selain mengangkut O2,hemoglobin juga dapat berikatan dengan zat-zat berikut: Karbondioksida,Dengan demikian , hemoglobin ikut berperan mengangkut zat ini dari jaringan kembali ke paru. Bagian ion hydrogen asam (H+) dar5i asam karbonat yang terionisasi ,yang dibentuk dari CO2 pada tingkat jarinagn. Hemoglobin ,dengan demikian ,menyangga asam ini, sehingga pH tidak terlalu terpengaruh. Karbon monoksida(CO).Gas ini dalm keadaan normal tidak terdapat dalam darah tetapi ,jika terhirup ,menempati tempat pengikatan O2 di hemoglobim ,sehingga terjadi keracunan karbon monoksida Molekul hemoglobin terdiri dari 2 bagian : 1) Bagian Globin,suatu protein yang terbentu dari empat rantai polipeptida yang sangat berlipat-lipat 2) gugus nitrogenosa nonprotein mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem(heme) ,yang masing-masing terikat ke satu poipeptida. Eritrotrosit matang mempunyai enzim:

Enzim glikolitik untuk menghasilkan yang dibutuhkan dalam menjalankan meknisme tranformasi aktif yang terlibat dalam pemeliharaan.

Enzim KarbonatHidrase, berperan untuk pengangkutan CO2.Enzim ini mengkatalis sebuah reaksi kunci yang akhirnya menyebabkan perubahab CO2 hasil metabolisme menjadi ion karbonat yaitu bentuk utama tranportasi CO2 di dalam darah.

Pembentukan sel darah merah Proses pembentukan sel darah merah disebut dengan eritropoesis melalui sum sum tulamg belakang --- jaringan lunak yang seluler yang mengisi rongga internal tulang .sum sum tulang belakng dapat memproduksi sel darah merah dengan kecepatan 2 3 juta x / detik . Pembentukan eritrosi pada usia prenatal yaitu selama masa perkembangan janin , eritosit di produksi di kantong kunir ( yolk suc )---Usia janin 3 10 minggu , kemudian akan dilanjutkan di hati pada usia janin 6 minggu sampai janin berusia 3-4 bulan dan masih berlansung beberapa minggu sebelum janin lahir .Setelah itu limfa di mulai pada usia janin 10 minggu mencapai puncaknya usia 4 bulan dan menurun sesudah usia 6 bulan . kemudian akan di ambil alih oleh sum sum tulang belakang sampai seumur hidup . Eritropoesis dikontrol oleh eritropoetin dari ginjal ,terjadinya penurunan oksigen ke ginjal akan merangsang pengeluaran hormone eritropoitein yang masuk ke dalam darah dan kemudian akan meransang sum sum tulang belakang untuk menghasilkan sel darah merah .

Sel darah merah mengakhiri hidup nya di limfa (terletak di bagian kiri abdomen ,jarinagn kapiler yang sempit dan berbelit-belit).Fungsinya karena bentuk jarinagn kapilernya yang sempit dan berbelit0belit akan membuat sel-sel manjadi rapuh dan terjepit dan hancur,fungsi kainnya yaitu dapat menyimoan trombosit dan limfosit 2. Sel darah putih ( WBC ) Mempunyai nukeus dan tidak mempunyai hemoglobin dan merupakn unit yang mobiler dlam sistem pertahanan tubuh (imunitas) yang mengacu pada kemampuan tubuh untuk menghancurkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Nilai normal leukosit Heonatus =10.000-25.000 7-10 tahun = 6.000-18.000 8-12 tahun = 4.500-13.500 Dewasa =5.000-10.000

Fungsi leukosit memakan invasi oleh patogen melalui prosesfagositosis mengidentifikasi dan menghancurkan selsek kanker yang muncul dalam tubuh berperan sebagai petugas pembersih sampah tubuh dari debris yang berasal dari sel yang cidera atau mati. Jenis leukosit Dibagi berdasarkan adanya gambaran nukleus dan granula di sitoplasma

1) Granulosit polimorfonukleus ( sel yang banyak mengandung granula dan nukleuz Neutrofil adalah spesialis fagositik merupakan pertahanan pertama pada invasi bakteri,respon peradanagn dan pembersihan

depris,peningkatan neurofil dalam darah (neurifilia) terjadi akibat infeksi bakteri akut Eosinofil peningkatan disirkulasi darah (eosinofilia) dikaitkan denagn keadaan keadaan alergi Basofil Jumlahnya sedikit dan belum diketahui sifatnya. Menbentuk dan menyimpan histamin dan heparin yang merupakan zat kimia kuat yang dapat dikeluarkan apabila sel tersebut diransang.seperti histamin dapat keluar apabila terjadi reaksi alergi, heparin dpat mempercepat pembersihan partikel partikel lemak dan dapat mencegah terjadinya pembekuan darah 2) Agrunolosit mononukleus (tidak memiliki granula dan inukleus ) Monosit berperan sebagai fagositosisa keluar dari sumsum tulang belakang dalam keadaan imatur,kemudian beredar ke darah selama 1-2 hari.sebelum akhirnya menetap dijaringan seluruh tubuh. Kemudian berkembang menjadi sel yang besar yang dikenal dengan mikrofag Limposit Limposit mempunyai usia 100-300 hari yang beredar dijaringan limpoit limfe dan darah. Berperan sebagai sistem pertahana tubuh.

Limposit

menghasilkan

antibody

kemudian

limposit

menghancurkan sel- sel sasaran spesifik seperti sel kanker. c) Trombosit ( platelet ) Trombosit dalah fragmen sel sel yang berasal dari megakariosit besar di sumsum tulang.trombosit berperan penting dalam hemostasis,penghentian peredaran dari pembuluh yang cidera. Nilai normal dari tombosit adalah 150 .000-400.000.mm3 Fungsi dari tombosit adalah : Memelihara perdarahan agar tetap utuh setelah mikrotrauma yang terjadi sehari hari pada endotel Mengawali penyumbatan pembuluh darah yang terkena trauma Menjaga stabilitas fibrin

B. Definisi Anemia Anemia adalah suatu keadaan dimana RBC yang beredar dan konsentrasi Hb menurun (http://nerdyna.blogspot.com/2011/09/anemia.html). Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematocrit di bawah normal (Brunner & Suddarth, 2002). Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematocrit) per 100 ml darah ( Price, 1996).

C. Etiologi

Terdapat berbagai macam anemia dengan etiologinya masing-masing. Sebagian dapat terjadi akibat produksi sel darah merah yang tidak mencukupi (kerusakan pada pabriknya) dan sebagian lagi akibat sel darah merah premature atau penghacuran sel darah merah yang berlebihan. Faktor penyebab lainnya meliputi kehilangan darah (perdarahan), kekurangan nutrisi, faktor keturunan, dan penyakit kronis.

D. Klasifikasi Anemia dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Pendekatan secara morfologi akan menentukan jenis anemia berdasarkan ukuran dan kandungan Hb dalam SDM, sedangkan pendekatan fisiologis yang berdasarkan pada etiologi akan menentukan apakah defisiensi jumlah SDM disebabkan oleh defek produksi SDM (anemia hipoproliferatif) atau oleh destruksi sel darah merah (anemia hemolitika). Klasifikasi morfologi

Klasifikasi fisiologis (etiologi) 1. Anemia Hipoproliferarif Anemia Aplastik Disebabkan oleh penurunan sel precursor dalam sumsum tulang dan penggantian sumsum tulang dengan lemak. Dapat terjadi secara kongenital maupun di dapat (akuisita), selain itu dapat juga idiopatik dan merupakan penyebab utama. Berbagai macam infeksi dan kehamilan dapat mencetusnya, atau dapat pula disebabkan oleh obat, bahan kimia, atau radiasi. Anemia pada penyakit ginjal Anemia disebabkan oleh menurunnya ketahanan hidup SDM maupun defisiensi eritropoietin. Pada kasus pasien dengan penyakit ginjal, anemia dapat terjadi apabila pasien menjalani hemodialisis jangka panjang sehingga mengakibatkan kehilangan darah ke dalam dialiser sehingga dapat mengalami defisiensi zat besi dan asam folat. Anemia defisiensi besi Anemia defisiensi zat besi merupakan keadaan dimana kandungan besi tubuh total turun di bawah tingkat normal (Zat besi diperlukan untuk sintesa Hb). Penyebabnya adalah kegagalan pasien

mencernakan atau mengabsorbsi besi diet yang adekuat untuk mengkompensasi kebutuhan besi sehubungan dengan pertumbuhan

tubuh atau untuk menggantikan kehilangan darah setelah perdarahan, baik perdarahan yang fisiologis (mis.menstruasi) maupun patologis. Anemia megaloblastik Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat menunjukkan perubahan yang sama antara sumsum tulang dan darah tepi, karena kedua vitamin esensial bagi sintesis DNA normal. Pada setiap kasus, terjadi hyperplasia sumsum tulang dan precursor eritroid dan myeloid besar dan aneh, beberapa mengalami multinukleasi. Tetapi, beberapa sel ini masih berada dalam sumsum tulang sehingga jumlah sel matang yang meninggalkan sumsum tulang menjadi sedikit, akibatnya terjadi pansitopenia (defisiensi semua elemen darah). Anemia defisiensi vitamin B12 Defisiensi vit.B12 dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Dapat terjadi pada vegetarian yang tidak makan daging sama sekali dan juga dapat terjadi pada kondisi adanya gangguan absorbsi traktus

gastrointestinal. Anemia defisiensi asam folat Asam folat merupakan vitamin lain yang dibutuhkan untuk pembentukan SDM. Disimpan dalam berbagai bentuk senyawa, dikenal sebagai folat. Simpanan folat dalam tubuh jauh lebih kecil dibandingkan dengan vit.B12, sehingga lebih sering dijumpai defisiensi asam folat dalam diet. 2. Anemia Hemolitika Anemia sel sabit

Anemia sel sabit merupakan anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul Hb dan disertai dengan serangan nyeri.

E. Manifestasi Klinis Secara umum tanda dan gejala anemia meliputi : 5L (Lemah, letih, lesuh, lelah, lunglai) Pucat Takikardi Sesak napas Pusing sampai hilangnya kesadaran Dll

F. Patomekanisme Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum sum (misalnya berkurangnya eritropoiesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolysis. Pada kasus yang disebut terakhir, masalahnya dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor di luar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini, bilirubin, yang terbentuk dalam fagosit, akan

memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah segera direflaksikan dengan peningkatan bilirubin plasma. (Konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar > 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera). Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka Hb akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasinya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk Hb bebas) untuk mengikat semuanya (mis. apabila jumlahnya > sekitar 100 mg/dl), Hb akan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan ke dalam urin (hemoglobinuria). Jadi ada atau tidak adanya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi mengenai lokasi penghancuran SDM abnormal pada pasien dengan hemolysis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses hemolitik tersebut.

G. Pemeriksaan Penunjang Berbagai uji hematologis dilakukan untuk menentukan jenis dan penyebab anemia. Uji tersebut meliputi kadar Hb dan HCT, indeks sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar besi serum, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, Vit.B12, hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang dapat dilakukan. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta sumber kehilangan darah kronis.

H. Komplikasi

Gagal Jantung Pada kasus anemia, gagal jantung dapat terjadi akibat kurangnya pasokan darah yang membawa O2 ke seluruh tubuh sehingga tubuh berupaya memenuhi kebutuhan Oksigennya melalui mekanisme

kompensasi dengan meningkatkan kerja jantung dalam memompakan darah ke seluruh tubuh. Jantung dipaksakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh sementara darah yang diterima oleh jantung juga tidak mencukupi, akibatnya jika hal tersebut berlangsung lama dapat menyebabkan keabnormalan dari kerja jantung dan mengakibatkan terjadinya gagal jantung. Selain itu, gagal jantung juga dapat terjadi pada kasus anemia akibat kurangnya kadar O2 dalam tubuh sehingga juga terjadi penurunan kadar O 2 yang masuk ke miokardium, sementara dalam berkontraksi, miokardium sangat membutuhkan O2, akibatnya miokardium tidak dapat berkontraksi maksimal dalam memompakan darah dan lambat laun jantung akan mengalami kepayahan (gagal jantung). Parestesia Parestesia ( kebas / kesemutan) adalah suatu gejala manifestasi dari gangguan system saraf sensorik akibat rangsangan listrik di system itu tidak tersalur secara penuh karena bermacam-macam sebab, salah satu contohnya adalah tertutupnya peredaran darah karena ada bagian tubuh yang ditekuk atau terlipat dalam waktu yang lama, jadi darah yang mengalir ke bagian tubuh tidak lancar. Demikian halnya pada kasus anemia, dimana darah yang disuplai ke sel, jaringan bahkan organ tidak memadai sehingga terjadi

gangguan dalam hantaran rangsangan listrik dalam tubuh, terutama pada bagian perifer.

I. Penatalaksanaan Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang. Penatalaksanaan anemia berdasarkan

penyebabnya adalah : a) Anemia aplastik Dengan transplantasi sumsum tulang dan terapi imunosupresif dengan antithimocyte globulin (ATG) yang diperlukan melalui jalur sentral selama 7-10 hari. Bila diperlukan dapat diberikan transfusi RBC rendah leukosit dan platelet. b) Anemia pada penyakit ginjal Pada pasien dialysis harus ditangani dengan pemberian zat besi dan asam folat. Ketersediaan eritropoietin rekombinan c) Anemia pada defisiensi Fe Dengan pemberian makanan yang adekuat. Pada defisiensi Fe diberikan sulfat ferosus 3 x 10 mg/hari. Transfuse darah diberikan bila kadar Hb < 5 gr %. d) Anemia megaloblastik Defisiensi Vit.B12 ditangani dengan pemberian Vit.B12. bila defisiensi disebabkan oleh defek absorbs atau tidak tersedianya faktor intrinsic dapat diberikan Vit.B12 dengan injeksi IM.

Untuk mencegah kekambuhan anemia, terapi Vit.B12 harus diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi. Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet tinggi asam folat dan penambahan asam folat 1 mg/hari secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi e) Anemia pasca perdarahan Dengan memberikan transfusi darah dan plasma. Dalam keadaan darurat diberikan cairan intravena dengan cairan infus apa saja yang tersedia. f) Anemia hemolitik Dengan transfusi darah untuk menggantikan darah yang rusak (hemolysis).

J. Prognosis Kemungkinan penderita untuk sembuh dari penyakit anemia sangat besar jika penderita melakukan terapi secara rutin dan menjaga asupan gizi makanannya secara benar dan seimbang.

K. Pathway Anemia Aplastik


Kongenital Kelainan resesif autosomal

Akuisita

Radiasi Kerusakan sel Induk dan sumsum tulang

Zat kimia bersifat toksik yg beredar dalam darah kelainan sel induk (G3pembelahan Dan replikasi

G3 sel stroma Estrogen Hipereaktif Hipoplasia bone marrow sist.imun sumsum tulang Menghambat/ reaksi hipersensitifitas Menekan tidak merangsang hematopoiesis hematopoiesis depresi bone marrow

Obat2an (kloramfenikol, obat2 kemoterapi, obat2 thiazide, dll)

Virus

Kehamilan

Peny.Imun

PD : Pemeriksaan darah, hitung WBC,RBC,dan

Jumlah sel darah yg Dihasilkan tdk memadai Pansitopenia ANEMIA

Tg: Ekimosis & Petekie (perdarahan pada kulit) Epistaksis (perdarahan pada hidung Perdarahan saluran cerna Perdarahan saluran

Eritrositopenia Hb Distribusi O2

Leukositopenia Mikroorganisme Mudah masuk Tg:

Trombositopenia K: Darah sukar membeku


MK: Resiko

Sal. Cerna Frekuensi napas sel trganggu Tg: jantung Kontraksi sal. sesak cerna tg3 Tg: konstipasi/ diare, MK: Ketidakseimbanga n nutrisi < MK: Pola napas Hipertrovi LV

Beban kerja

Ke otot jantung

Ke otak

Metabolisme

Iskemia miokard Metabolisme anaerob G3 kontraksi

Hipoksia jar. Otak Energi (ATP) Tg: lemah,

Pengisian LV K : Gagal Tg: pucat, konjungt MK: G3 perfusi

Tg: pusing, susah berkonsentrasi, G3 kesadaran

MK: Intoleransi

Anemia Defisiensi Besi


Akuisita

Perdarahan menahun Gastrektomi anak Kebiasaan makan Sal. Cerna : Ca gaster, parsial, reseksi tumbang (vegetarian) Sal. Kemih : Hematuria usus Genitalia : Menorhagia kelainan usus
besi dalam tubuh Sal. Napas : Hemoptisis Malabsorbsi Fe Kehilangan darah yang Berlangsung lama / menetap Zat besi dalam tubuh Sal. CernaFrekuensi napas sel trganggu Tg: jantung Kontraksi sal. sesak cerna tg3 MK: Pola napas Hipertrovi LV G3 kontraksi Eritrositopenia Beban kerja
PD : Pemeriksaan darah, hitung

Bayi premature, dalam masa


Kebutuhan zat besi Asupan zat

PM :untuk defisiensi sat besi pada vegetarian, diberikan besi dekstran IM dan IV, sedangkan untuk etiologi yg lain diberikan makanan yang

ANEMIA DEFISIENSI ZAT Ke otot jantung Ke otak Metabolisme

Iskemia miokard Metabolisme anaerob

Hipoksia jar. Otak Energi (ATP)

Tg: pusing, susah berkonsentrasi, G3 kesadaran

Tg: konstipasi/ diare, MK: Ketidakseimbanga n nutrisi <

Pengisian LV K : Gagal Tg: pucat, konjungt MK: G3 perfusi

Tg: lemah,

MK: Intoleransi

Anemia Megaloblastik
Akuisita

Perdarahan menahun Kebiasaan makan Sal. Cerna : Ca gaster, Sal. Kemih : Hematuria usus
Genitalia : Menorhagia &Vit.B12 Sal. Napas : Hemoptisis Malabsorbsi Vit.B12 Dan asam folat Kehilangan darah yang Berlangsung lama / menetap Kehilangan banyak Vit.B12 Dan asam folat dalam tubuh Vit.B12 dan Asam Folat Dalam tubuh

Gastrektomi

Ibu hamil

parsial, reseksi (vegetarian) janin mengalami perkembangan kelainan usus asupan asam folat
kebutuhan asam folat & Vit.B12

Gangguan sintesis DNA pada inti sel eritroblas Maturasi inti sel lebih lambat

Diferensiasi sel lambat ANEMIA MEGALOBLAS Kromatin lebih longgar & menjadi lebih besar Fungsi abnormal Dihancurkan di dalam sumsum tulang Eritropoiesis inefektif
PM :untuk defisiensi Vit.B12 dan As. Folat pada vegetarian, diberikan Vit.B12 dan asam folat IM, sedangkan untuk etiologi yg lain diberikan makanan yang banyak

Masa hidup eritrosit lebih pendek Eritrositopenia Ke otot jantung

PD : Pemeriksaan darah, hitung

Sal. CernaFrekuensi napas sel trganggu Tg: jantung Kontraksi sal. sesak cerna tg3 Tg: konstipasi/ diare, MK: Ketidakseimbanga n nutrisi < MK: Pola napas Hipertrovi LV

Beban kerja

Ke otak

Metabolisme

Iskemia miokard Metabolisme anaerob G3 kontraksi

Hipoksia jar. Otak Energi (ATP) Tg: lemah,

Pengisian LV K : Gagal Tg: pucat, konjungt MK: G3 perfusi

Tg: pusing, susah berkonsentrasi, G3 kesadaran

MK: Intoleransi

Anemia Sel Sabit


Genetik mutasi titik dalam rantai -globin hemoglobin Asam amino Valin diganti Asam Amino Glutamat Oksigen Tdk terdapat asam amino pada posisi kutub enam dari rantai -globin polimerisasi non-kovalen (agregasi) dari hemoglobin Hb mengkristal Kaku & runcing Potensi sumbatan vaskuler Krisis infark Membran RBC mudah robek Hemolisis

Jantung K : Gagal

Paru K : Infark paru ;

SSP Trombosis serebral K:

Okular K : G3 pengliha tan

GI

Skeletal

Urinarius K: disfungsi

Tg: anoreksia,

Tg: sesak,

MK: Ketidakseimbanga n nutrisi <

Tg: nyeri,

MK: Intoleransi

3.2KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. Pengkajian fisik 1) Aktivitas / istirahat Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas; penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak. Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.

Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Tubuh tidak tegak. Bahu menurun,

postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan. 2) Sirkulasi Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature (AP). 3) Integritas ego Gejala : Keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya penolakan transfusi darah. Tanda : Depresi. 4) Eleminasi Gejala : Riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan haluaran urine. Tanda : distensi abdomen. 5) Makanan/cairan

Gejala

penurunan

masukan

diet,

masukan

diet

protein

hewani

rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB). Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB). 6) Neurosensori Gejala : Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ; klaudikasi. Sensasi manjadi dingin. Tanda : Peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP). 7) Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB) 8) Pernapasan Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas. Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea. 9) Keamanan

Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi. Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik).

B. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. 4. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh tidak adekuat.

C. Intervensi 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama jam perfusi jaringan klien adekuat dengan criteria : - Membran mukosa merah muda - Conjunctiva tidak anemis

- Akral hangat - TTV dalam batas normal

Intervensi Perawatan sirkulasi : arterial insuficiency Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper. (cek nadi priper,oedema, kapiler refil, temperatur ekstremitas). Evaluasi nadi, oedema Inspeksi kulit dan Palpasi anggota badan Kaji nyeri Atur posisi pasien, ekstremitas bawah lebih rendah untuk

memperbaiki sirkulasi. Berikan therapi antikoagulan. Rubah posisi pasien jika memungkinkan Monitor status cairan intake dan output Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah

2.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Setelah dilakukan askep .... jam Klien dapat menunjukkan toleransi terhadap aktivitas dgn KH: Klien mampu aktivitas minimal Kemampuan aktivitas meningkat secara bertahap Tidak ada keluhan sesak nafas dan lelah selama dan setelah aktivits minimal

v/s dbn selama dan setelah aktivitas

Intervensi Terapi aktivitas : Kaji kemampuan ps melakukan aktivitas Jelaskan pada ps manfaat aktivitas bertahap Evaluasi dan motivasi keinginan ps u/ meningktkan aktivitas Tetap sertakan oksigen saat aktivitas. Energi manajemen Rencanakan aktivitas saat ps mempunyai energi cukup u/ melakukannya. Bantu klien untuk istirahat setelah aktivitas. Manajemen nutrisi Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan sumbersumber energi Emosional support Berikan reinfortcemen positip bila ps mengalami kemajuan

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dengan KH:

BB stabil, tingkat energi adekuat masukan nutrisi adekuat Intervensi Manajemen Nutrisi Kaji adanya alergi makanan. Kaji makanan yang disukai oleh klien. Kolaborasi team gizi untuk penyediaan nutrisi TKTP Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.

Monitor Nutrisi Monitor BB jika memungkinkan Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan. Monitor adanya mual muntah. Kolaborasi untuk pemberian terapi sesuai order Monitor adanya gangguan dalam input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb. Monitor intake nutrisi dan kalori. Monitor kadar energi, kelemahan dan kelelahan.

4.

Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh tidak adekuat. Tujuan : Infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil : Suhu tubuh normal Tidak ada resiko infeksi

Intervensi Mandiri Tingkatkan cuci tangan yang baik ; oleh pemberi perawatan dan pasien. Rasional : mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit. Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka. Rasional : menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri. Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat. Rasional : menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi. Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam. Rasional : meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu pneumonia. memobilisasi sekresi untuk mencegah

Tingkatkan masukkan cairan adekuat. Rasional : membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal

Pantau/batasi memungkinkan.

pengunjung.

Berikan

isolasi

bila

Rasional : membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu. Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam. Rasional : adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan. Amati eritema/cairan luka. Rasional : indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan. Kolaborasi Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi. Rasional : membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan. Berikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik. Rasional : mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local.

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas antara lain adalah :

1. Diagnosa penyakit dalam kasus di atas adalah Anemia. 2. Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematocrit di bawah normal. 3. Anemia secara garis besar diklasifikasikan ke dalam 2 golongan yaitu Anemia Hipoproliferatif dan Anemia Hemolitika. 4. Setiap klasifikasi memiliki etiologi masing-masing.

Saran 1. Hindari faktor pencetus 2. Kenali setiap manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh anemia 3. Lakukan penanganan yang sesuai dengan jenis anemia

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Kardiovaskular dan Hematologi. Salemba Medika. Banjarmasin Gendo Udayana. 2006. Integrasi Kedokteran Barat dan Kedokteran Tradisional. Kanisius. Yogyakarta.

Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta http://www.news-medical.net/health/Sickle-Cell-Disease-Pathophysiology-(Indonesian).aspx http://kerenz-kerenz.blogspot.com/p/askep-anemia.html