Anda di halaman 1dari 5

LANGKAH PENANGGULANGAN RABIES Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata dunia yang telah lama terkenal

dengan keindahan alamnya yang mempesona, budayanya yang unik serta keramahtamahan masyarakatnya yang cinta damai. Hal ini mendorong banyak wisatawan mancanegara untuk melakukan kunjungan wisata ke pulau yang indah ini. Namun demikian pariwisata merupakan bisnis jasa yang sangat rentan terhadap berbagai isu, baik isu kesehatan, isu keamanan, isu politik maupun isu bencana alam. Terkait dengan hal tersebut dalam upaya pemulihan citra pariwisata Bali, Pemerintah dan pelaku pariwisata telah bekerja keras menyikapi setiap permasalahan yang terjadi dan mencarikan solusinya, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pemerintah sangat serius dalam menangani berbagai permasalahan yang menimpa pariwisata Indonesia. Seperti halnya berita yang marak beredar belum lama ini yang menyebutkan bahwa ditemukannya kasus suspec penyakit rabies di Bali yang telah memakan korban empat orang meninggal di kabupaten Badung tepatnya di Desa Jimbaran dan Kedonganan. Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang bersifat zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat menular ke manusia dengan angka kematian mencapai 100%, sehingga rabies dikenal sebagai penyakit yang hampir selalu mematikan bila telah timbul gejala klinis, baik pada hewan maupun manusia. Wabah rabies di Bali tersebut juga mendapat sorotan dari berbagai media asing, terutama negara pangsa pasar pariwisata Bali. Terkait dengan hal tersebut maka pemerintah Provinsi Bali bekerjasama dengan kabupaten / kota mengadakan upaya penaggulangan penyakit rabies yaitu : 1.Menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 88 tahun 2008 tentang Penutupan Sementara Pemasukan dan/atau Pengeluaran Anjing, Kucing dan Kera dari dan/atau ke Provinsi Bali. 2.Membentuk Tim Koordinasi (TIKOR) dan Tim Teknis Penanggulangan Rabies Provinsi Bali dan Kabupaten Badung. 3.Membentuk POSKO Rabies di : a.Dinas Peternakan Provinsi Bali Jalan Angsoka No. 14 Denpasar Tlp. 0361-225368, 229733, 225398 Fax. 0361-224184 b.Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Badung Jalan WR. Supratman Denpasar Tlp. 0361-224590 Fax. 0361-224590 Didalam POSKO Rabies tersebut dibentuk beberapa Tim antara lain :

a.Tim Pengamatan b.Tim Sosialisasi c.Tim Vaksinasi d.Tim Eliminasi 4. Tugas POSKO Rabies tersebut adalah sebagai berikut : a.Surveilance dan investigasi kasus-kasus gigitan baru b.Mengantisipasi menyebarnya penyakit rabies dengan mengeliminasi 916 ekor anjing liar dengan cara disuntik mati, dengan perincian per Kabupaten/Kota sebagai berikut : 1). Kota Denpasar sebanyak 32 ekor 2). Kabupaten Badung sebanyak 545 ekor 3). Kabupaten Karangasem sebanyak 274 ekor 4). Kabupaten Bangli sebanyak 55 ekor 5). Kabupaten Gianyar sebanyak 10 ekor c.Memberikan vaksinasi terhadap 13.220 ekor anjing peliharaan dan evaluasi hasil vaksinasi, dengan perincian per Kabupaten/Kota sebagai berikut : 1). Kota Denpasar sebanyak 7.806 ekor 2). Kabupaten Badung sebanyak 5.414 ekor d.Memberi Free Exposure kepada petugas vaksinasi anjing, petugas laboratorium dan unit satwa Polda Bali e.Memberi vaksin terhadap 356 pasien yang terkena gigitan anjing, dengan perincian per Kabupaten/Kota sebagai berikut : 1). Kabupaten Badung sebanyak 353 pasien 2). Kabupaten Karangasem sebanyak 3 pasien f.Sosialisasi penanganan luka gigitan hewan menular dan peningkatan awareness serta partisipasi aktif masyarakat g.Membentuk rabies centre di : 1). Puskesmas Kuta Selatan 2). Puskesmas Pembantu di Desa Ungasan dan Desa Jimbaran 3). Puskesmas Denpasar Selatan 4). Rumah Sakit Wangaya 5). Rumah Sakit Sanglah Rencananya akan dibentuk pula rabies center di Kabupaten lainnya di Bali h.Peningkatan kualitas SDM dengan mengadakan pelatihan tata laksana kasus rabies pada manusia kepada seluruh dokter puskesmas, perawat dan jajaran kesehatan. Disamping upaya tersebut diatas, untuk meningkatkan kualitas destinasi wisata, Pemerintah Provinsi Bali telah mendirikan crisis centre sebagai pusat pengendalian dan operasional penanggulangan bencana. Pendeteksi peringatanan dini Tsunami tersebut didirikan di enam titik yaitu Kedonganan, kawasana BTDC, Tanjung Benoa, Sanur, Kuta dan Peti Tenget. Sedangkan fasilitas lainnya yag disiapkan di Kabupaten/Kota adalah 1 (satu) ambulan, 1 (satu) mobil pemadam kebakaran dan

personil polisi. Tujuan mendirikan crisis centre adalah terciptanya kesiapsiagaan yang maksimal, cegah dini, kecepatan dan ketepatan bertindak dalam mengantisipasi terjadinya bencana di Provinsi Bali

Memulihkan Citra, Membangun Pariwisata


DISENTRI memang bikin badan meriang. Apalagi penyakit perut yang bikin perut terasa tak enak ini diderita serombongan wisatawan Taiwan seusai berkunjung ke Bali pada November 2003. Pelaku pariwisata-termasuk sejumlah instansi terkait di Bali- pun dibikin repot. Di satu pihak, mereka harus mengecek di restoran mana wisatawan Taiwan itu bersantap ria dan apa menu yang dimakan wisatawan tersebut. Di pihak lain, Dinas Kesehatan dan Dinas Pariwisata Bali harus mengirimkan tim terpadu mereka ke Taiwan guna menjelaskan hasil tes laboratorium mengenai jenis makanan yang membuat wisatawan Taiwan lemas. Langkah ini dinilai penting karena jumlah turis asal Taiwan ke Bali tergolong besar. Data statistik Dinas Pariwisata Provinsi Bali tahun 2003 menunjukkan jumlahnya mencapai 165.415 orang atau 18,4 persen dari total wisatawan ke Bali yang sebanyak 898.835 orang (sampai bulan November). Peristiwa serupa pernah terjadi beberapa tahun silam, tepatnya pada tahun 1995. Kalangan pariwisata di Bali sempat kelimpungan ketika jumlah wisatawan asal Jepang tiba-tiba anjlok setelah merebaknya isu kolera. Saat itu turis asal Negara Matahari Terbit tersebut merupakan pangsa wisatawan mancanegara (wisman) terbesar setelah bule-bule asal Negeri Kanguru, Australia. Disinyalir, isu-isu "soal perut" itu sengaja ditiupkan agen-agen perjalanan wisata di daerah tujuan wisata di luar Indonesia yang merasa kalah popularitas dibandingkan Bali. Belum lagi gangguan perut akibat salah makan ini justru ketahuan setelah turis-turis itu kembali ke negaranya. Dampaknya jelas, jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia (Bali) menurun dan giliran kalangan pariwisata lokal yang meringis, sakit perut. Masih soal ancaman kesehatan. Masyarakat pariwisata di Bali sempat merinding, demam, ketika penyakit radang paru-paru SARS merebak di kawasan Asia Tenggara. Selain takut tertular virus yang diketahui mudah menyebar di udara, wabah ini menjadi ancaman serius bagi pelaku pariwisata Bali yang waktu itu sangat mengandalkan kunjungan wisatawan antarnegara di Asia Tenggara. Baru saja tuntas dihadang SARS, industri pariwisata di Bali kembali terjegal merebaknya penyakit flu burung (avian influenza). Meskipun belum terbukti menjangkiti manusia, penyakit mematikan bagi ayam ini juga menyebabkan pelaku pariwisata gerah. Pemerintah Korea Selatan tidak memberikan izin bagi warganya untuk bepergian ke Indonesia. Biro-biro perjalanan setempat menunda rencana pengiriman rombongan turis ke Bali.

Meskipun jumlah turis asal Korea Selatan masih di bawah 50 ribu orang, secara keseluruhan mayoritas turis ke Bali berasal dari negara-negara Asia Pasifik dan Asia Tenggara dengan total turis mencapai 615.150 orang atau sebesar 64 persen dari total kunjungan wisatawan asing ke Bali. KONDISI ini menunjukkan betapa rentannya pariwisata berhadapan dengan isu. Ditambah lagi dengan lambatnya respons dari kalangan pariwisata, termasuk pemerintah, dalam menyikapi berkembangnya isu tersebut. Alhasil, kegagapan dimanfaatkan dengan baik oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Tanah Air. Bukan hanya soal isu kesehatan, pariwisata menjadi sangat rapuh apabila aspek keamanan terganggu. Kerusuhan berdarah yang melanda Indonesia pada tahun 1998, sejumlah peledakan bom di Indonesia, dan puncaknya, tragedi bom Bali di tahun 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang. Belum lagi kekhawatiran akan terjadinya gangguan keamanan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2004. Bercermin dari tragedi bom Bali, misalnya, roda industri pariwisata di Indonesia-terutama di Bali-hampir berhenti bergerak. Dua bom, yang diledakkan tepat di jantung pariwisata Bali, yaitu Kuta, melemahkan denyut nadi pariwisata Bali. Dampak empiris jelas terlihat, jumlah kunjungan langsung wisatawan asing ke Bali berkurang drastis dan mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Catatan Kantor Imigrasi Pelabuhan Udara Ngurah Rai pada 18 Oktober 2002 menunjukkan, sebanyak 4.202 orang meninggalkan Bali melalui bandara internasional tersebut, sementara kedatangan hanya 936 orang. Tingkat hunian hotel di Bali saat itu mencapai titik terendah, rata-rata hanya 9,9 persen. The Last Paradise kehilangan taksunya. Ekses lanjutan dari tragedi bom Bali adalah kekhawatiran meledaknya "bom sosial". Hotel, restoran, dan toko di kawasan wisata di Bali terancam tutup karena sepi tamu, berimbas pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Saat itu sekitar 39.000 orang bekerja di sektor hotel dan restoran. Belum lagi sekitar 300 ribu orang yang mengandalkan pariwisata sebagai tungku dapurnya. Ahli Ekonomi Pariwisata di Bali, Nyoman Erawan, menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2003 diperkirakan hanya 2,5 persen sampai 3,0 persen akibat menurunnya pendapatan dari sektor pariwisata. Dengan kondisi tersebut, jumlah pengangguran di Bali diperkirakan akan mendapat tambahan sekitar 60 ribu orang yang kehilangan pekerjaannya di sektor pariwisata. PARIWISATA adalah berjualan citra. Bali menjadi ikon pariwisata dunia karena Bali memiliki citra positif di mata dunia. Turis berdatangan ke Bali karena mereka merasa nyaman dan aman. Ketika Jakarta dilanda kerusuhan politik tahun 1998, Bali tetap dianggap sebagai daerah yang aman untuk didatangi. Berselang empat hari setelah dihantam tiga ledakan bom, Bali masih dianggap layak menerima penghargaan The Most Favourite Destination 2002 versi majalah TIME Asia.

Sejumlah pihak mengkhawatirkan citra Bali, yang dibangga-banggakan tersebut, pada akhirnya hancur. Baik karena riak-riak di dalam masyarakat Bali maupun faktor gangguan dari luar Bali. Pertikaian antarwarga banjar berujung kekerasan massa menjadi hambatan internal bagi pemulihan pembangunan (pariwisata) Bali. Kemungkinan terjadinya gangguan keamanan menjelang dan saat pemilu turut mengancam imaji Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia. Meskipun dinilai penting demi tujuan politik dalam negeri, kebijakan pemerintah mencabut fasilitas bebas visa kunjungan singkat (BVKS) yang disusul penerapan visa kunjungan saat kedatangan (visa on arrival/VOA) per tanggal 1 Februari ini dianggap dapat melunturkan citra Bali di dunia pariwisata. "Bukan soal wisatawan mampu atau tidak mampu membayar 10 dollar atau 25 dollar AS, tetapi ini soal kenyamanan dan kepastian. Kebijakan ini memang menyangkut harga diri sebuah bangsa, namun visa ini bukan cara menyeleksi demi mendapatkan wisatawan berkualitas. Persoalan lain apakah dengan diterapkannya biaya visa tersebut, misalnya, mampu meningkatkan jaminan keamanan dengan adanya pemasukan baru tersebut? Ini yang harus dilihat kembali," kata Guru Besar Ilmu Sosial Pariwisata Universitas Udayana I Gde Pitana. Belum lagi masalah berapa lama penumpang harus menunggu proses registrasi visa mereka. Di Bandara Internasional Ngurah Rai sendiri, jajaran Kantor Imigrasi setempat mendirikan dua lokasi gerai registrasi terpisah yang dilengkapi loket pembayaran di terminal kedatangan internasional. Senada Pitana, Ketua Working Group Pemulihan Pariwisata Bali Gusti Kade Sutawa mengatakan, pengenaan biaya VOA justru menambah kesan buruk para calon wisatawan terhadap Pemerintah Indonesia. "Korupsinya merajalela dan pendistribusian hasil (biaya visa) belum dijelaskan modelnya. Yang jelas, penerapan kebijakan ini menyebabkan lemahnya daya saing bangsa (Indonesia) di ASEAN," kata Sutawa. (COK)