Anda di halaman 1dari 4

Frankfurt-am-Main

Y.B. Mangunwijaya∗

Pameran Buku Internasional dengan buku 300.000 buah, dan semakin


tahun semakin bertambah. Itulah tradisi kebanggaan kota titik simpul lalu lin-
tas internasional Eropa Barat, Frankfurt am Main. Buku ilmiah, buku seni,
buku sastra, buku pop, buku komik, buku gambar, buku agama, buku resep
dapur, buku anak-anak, buku antı̂k, buku perdûkûnan, buku lucu, buku gila,
buku porno, buku raksasa, buku saku, buku ensiklopedi, buku yang bukan buku
(film dan slides), sungguh membingungkan sekaligus menggairahkan. Orang
harus memilih dan kali ini prioritas perhatian lebih kami curahkan kepada buku
anak-anak. Percuma kita menghabiskan sekian trilyun rupiah untuk univer-
sitas dan sekolah menengah, bila kita tidak mulai sangat dini pagi pada si
mungil balita. Di negeri ”sana” anak-anak unyil yang belum dapat berjalan
lurus sudah diberi buku. Untuk disobek-sobek? Tidak bisa, karena halaman-
halamannya (cukup 6-8) dibuat dari karton plastik tebal alot. Diempaskan
di tanah atau dilempar-lemparkan, silakan saja. Saya anjurkan kepada para
penerbit untuk berlomba-lomba menerbitkan buku untuk anak-anak. Mahal?
Dari 150 juta orang (sebentar lagi 260 juta), pasti ada satu dua juta ayah-
ibu yang cukup cerdas dan cukup berduit untuk menangani sendiri pendidikan
dan pengajaran anak-anak mereka di luar sekolah dengan macam-macam buku
yang tidak akan pernah dimasukan dalam kurikulum Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, radio atau TV 1 . Sejahat-jahatnya atau sebodoh-bodohnya
orangtua, pasti mereka tidak menginginkan anak-anak mereka menjadi jahat
atau terbelakang di dunia yang semakin maju ini. Sebab, modal utama manu-
sia modern bukan uang atau tanah saja, tetapi informasi dan kecerdasan si
anak. (Dilengkapi kebajikan dan iman). Buku masih akan lama sekali menjadi
tambang emas . . . dan mudah-mudahan emas kebudayaan tinggi. Dan justru
inilah soalnya, baik di ”sana” maupun ”disini.”
Sudilah jangan beranggapan bahwa menulis buku tentang komputer atau
manajemen multinational corporation lebih sulit daripada menulis dongeng un-
tuk anak-anak masa kini. Menulis skripsi (di Indonesia) paling gampang. Menulis
esei lebih sulit. Menulis novel (yang baik) lebih sulit. Menulis cerpen lebih berat.
Menulis sajak lebih tidak mudah. Menulis cerita untuk anak-anak, PALING
sukar . . . jika cerita itu bukan sembarang cerita, tetapi yang memberi landasan
di bawah sadar yang menentukan garis hidup selanjutnya bagi si anak di masa
modern nuklir seperti apa adanya. Tetapi toh memberi inspirasi keteguhan jiwa
manusia yang utuh, terpadu dan harmonis selaku manusia ilmuwan maupun re-
ligius, manusia terampil maupun mulia cita rasa, manusia progresip eksplorator
∗ Seorang Pastur di Yogyakarta
1 televisi

1
dan pecinta petualangan terrae incognitae 2 ; sekaligus manusia yang berakar
pada sendi-sendi tradisi yang berharga, manusia yang penuh toleransi yang
menghormati keyakinan orang lain yang berbeda; manusia prosa realis sekali-
gus peka pada lirik puisi, manajer ulung tangguh sekaligus penyayang istri dan
anak-anak. Bagaimana nilai-nilai macam-macam yang satu sama lain berdialek-
tik itu dapat kita tanamkan dalam benak si anak kecil? Tanpa mengindoktri-
nasi mereka dengan dalil-dalil statis kaum tua yang selalu mengira bahwa yang
”dulu” itu lebih bagus dari yang ”sekarang”? Tetapi tidak cuci tangan tanpa
membiarkan si anak ngawur ”biar cari sendiri”, yang sebetulnya cuma dalih
saja untuk kemalasan dan egoisme yang tidak mau bertanggung jawab? Nah,
ini beberapa pekerjaan rumah untuk para penulis dan calon penulis buku-buku
anak-anak. Yang bukan sejenis spekulan honorarium atau royalties belaka.
Menulis novel masih mudah karena boleh mengandaikan si pembaca novel-
nya sederajat (jenis cari jenis. Pembaca berjiwa pop cari novel pop, pembaca
serius cari novel serius), mampu dan aktif berpartisipasi, berfiksi sendiri dan
berpikir. Pembaca novel adalah kawan bagi si penulis. Tetapi bagi si anak,
penulis buku anak-anak ialah dewa yang tahu segala-galanya, paling tidak kakak
yang memiliki mantra Alibaba yang mampu membuka dunia-dunia baru yang
belum pernah dilaluinya. Kalau sang dewa keliru omong, jelas akan fatal ak-
ibatnya bagi si mungil. Begitu juga ilustrator buku anak-anak. Sulitnya, si
penulis buku anak-anak harus mengejawantahkan diri menjadi anak tanpa men-
jadi kekanak-kanakan; diharapkan diri dewasa dan menganggap sang anak tidak
kekanak-kanakan tetapi sangat serius. Serius secara khas anak-anak.
Hak wanita untuk berkembang penuh menjadi wanita utuh dapat dikatakan
sudah diakui di Indonesia, paling tidak pengakuan dan penghormatan itu su-
dah dalam proses berjalan. Tetapi hak anak-anak untuk menghayati ke-anak-
an mereka? Dan bukan anak-anak yang beri pakaain orang tua (kain kebaya
atau sarung teluk belanga pici kaum dewasa), menjadi orang-orang tua uku-
ran mini ? Apalagi anak-anak sekarang disuruh berbaris. Mana ada anak
normal yang berbaris, gaya kaum perang dan ideal Dr. Goebbels. Anak
adalah Sang Sedang Mekar, sang Penemu Dunia-Dunia Baru, sang Terheran-
Heran, sang Bahagia, karena Kejutan-Kejutan Memukau, sang Explorer, sang
researcher yang penuh fantasi, imajinasi, puisi. Suatu bangsa yang mendidik
anak-anak untuk berbaris akan memetik suatu generasi baru yang fasis, pe-
menggal leher kawan yang keluar sedikit dari barisan dan . . . notabene orangtua
mereka juga.
Yang mendatang Pameran Buku Internasional tidak hanya para pedagang
buku dan penulis serta kontraktor penerjemahan. Juga murid-murid dan maha-
siswa, bapak-bapak ibu-ibu yang berkat pendidikan sejak kecil sangat menaruh
minat terhadap yang disebut buku. Menurut para pengamat, orang Amerika
membaca buku karena ingin menimba informasi. Fungsional. Orang Eropa ju-
ga begitu tetapi lebih, dengan sebentuk hubungan cinta. Buku-buku di Eropa
dicetak sebagai benda seni. Sebentuk pernyataan kultural ingin terhitung jenis
manusia yang berkebudayaan, punya pamor dan gengsi juga. Maka, sangatlah
menarik bahwa dari sekian kios pameran, bagian yang paling dikunjungi dan
selalu berjejalan pengunjung tua muda ialah bagian sastra. Begitu juga koran-
koran Jerman yang besar rupa-rupanya melihat Pameran Buku 300.000 buah itu
hanya dari segi sastra. Halaman Pameran Buku identik dengan halaman sastra,
2 negeri-negeri belum dikenal

2
kritik sastra, resensi sastra. Kita tidak tahu bagaimana halnya seandainya Pam-
eran Buku Internasional setiap tahun ini tidak diadakan di Frankfurt-am-Main,
Jerman, negeri Pujangga Goethe, tetapi di New York atau Hong Kong.
Konon, sang Goethe-lah yang pertama-tama bercakap tentang die Schoene
Literatur 3 . Pendiri hadiah penghargaan sastra internasional, Nobel (jutawan
pabrik dinamit!), meminta agar Hadiah Nobel untuk sastra diberikan kepada
mereka yang berkualitas perihal idealismenya. Tetapi segera ternyata bahwa
sastra yang baik justru buku yang idealistis berkhotbah manis. Atau peluk-
isan manusia yang indah, yang mempradakan kehidupan yang ”pedagodis” op-
timistis kencana. Sastra yang baik mirip foto Roentgen. Jelas, tidak molek.
Bayangkan seorang gadis mengirimkan foto Roentgennya kepada si pacar, ha
ha haaa! Tetapi sastra memang tidak untuk pacaran di bawah bulan purnama
sambil terimbau angin sepoi-sepoi yang berbisik-bisik syahdu di antara daun-
daun pagar melati. Sastra ingin berdialog dengan pembaca tentang si manusia
seperti apa adanya. Tanpa bintang jenderal atau make-up Max Factor. The
naked truth, kata orang sana, kebenaran yang telanjang. Namun, dalam segala
ketelanjangannya manusia toh masih molek sekaligus suatu misteri, tidak terpa-
hami keseluruhnya. Memang, film Roentgen tidak sedap dibaca, tidak mutlak
perlu bagi dokter untuk mengobati pasien. Mana ada dokter merasa tertolong
dengan foto dan cakap multicolour dari studio lihai. Tetapi tentulah itu ada
konsekuensinya. Sastra akan dimusuhi oleh orang-orang yang hanya kelihatan
gagah atau cantik bila busana dan make-up tebal, pandai menipu pandangan.
Bagi orang yang suka bohong dan membohongi, pandai menipu pandangan,
kaum gila kuasa dan koruptor, sastra yang baik benar-benar musuh, karena
cirinya memang cinta kepada kebenaran. Biar yang pahit getir sekalipun. Hanya
manusia yang jujur dan serius mencari yang benar suka pada sastra yang jujur.
Hanya panglima perang yang sejati menghargai laporan intel yang setia pada
kewajiban, sehingga sang intel tidak gentar melaporkan situasi medan perang
yang tidak menyenangkan tetapi benar. Seorang panglima yang cuma suka
mendengarkan laporan yang manis-manis adalah panglima brengsek, calon kro-
co yang keok. Sastra adalah semacam intel yang baik bagi para strategi bangsa.
Adalah kebodohan untuk memusuhinya. Soalnya tinggal didiklah kaum intel
yang betul-betul intelegen, dan jangan para informan penjual gula-gula.
Dalam pidato pembukaan Pameran Buku Frankfurt, seorang ahli sastra,
Hans Mayer, memberi dorongan yang menghibur kita. Ia menguraikan masalah,
betapa dalam zaman modern yang semakin kecil ini, batas-batas sastra lokal
dan sastra dunia semakin hilang. Biasanya, sastra lokal dianggap sastra tingkat
rendah, dengan masalah-masalah lokal tetek-bengek dan falsafah-falsafah hidup
kecil. Sedangkan sastra dunia mengemban problem-problem dasar, planeter,
dan falsafah tinggi. Mayer menceritakan keheranan pemenang Hadiah Nobel
untuk sastra 1909 Selma Lagerloef dari Swedia kepada pemenang Hadiah Nobel
untuk sastra 1929, Thomas Mann dari Jerman. Si guru desa Selma mengaku,
ketika ia menuliskan cerita-ceritanya tentang kehidupan tetek-bengek daerah
udik terpencil, ia tidak pernah menduga bahwa novel-novelnya akan dianuger-
ahi Hadiah Nobel. Thomas Mann merasa bahagia mendengar itu, karena cerita
Buddenbrooks yang ia tulis, misalnya, sebenarnya hanya untuk hiburan keluarga
dan tante-tantenya, lingkaran kecil yang tertawa terbahak-bahak bila ia mem-
bacakan teksnya. Kok lalu dihadiahi ”dinamit internasional Nobel”? Ternyata,
3 Sastra Indah

3
batas-batas antara sastra tinggi dan rendah, lokal dan internasional, hanya ada
dalam angan-angan orang yang tidak tahu. Atau yang memang terlalu suka
pada kemanisan foto-foto berwarna. Cerita-cerita orang-orang kecil dari Sungai
Mississipi oleh William Faulkneer, riwayat orang-orang kampung Tortilla oleh
John Steinbeck, desa udik di Columbia yang diceritakan oleh Gabriel Garcia
Marquez, peristiwa-peristiwa kecil lokal Jepang yang dilukiskan oleh Kawabata
Yasunari, semua itu bukan jagat gede barang kali dinilai ”tidak bermutu”. Na-
mun, dalam tangan seorang penulis yang memiliki film-film Roentgen, ternyata
dapat menggerakkan serangkain laboratorium dan skripsi doktor-doktor cemer-
lang di seluruh dunia. Jadi, para penulis muda, baik dari udik maupun tepi
Kanal Ciliwûng, your chance! Halo, Ponirah! (Jangan Ponny!). Halo Tukiran!
(Nggak usah: Tucky).

Pustaka
[1] Mangunwijaya, Yusuf Bilyarta, Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, Pusta-
ka Utama Grafiti, 1987.