Anda di halaman 1dari 2

ERO CRAS

Dr. Eddy Kristiyanto, OFM∗

Sampai awal abad ke-7, dalam komunitas Kristen Eropa Barat berlangsung
aneka ragam kegiatan sampai pesta Natal. Samapai saat itu belum ada ke-
sepakatan yang mengikat semua orang Kristen tentang apa yang perlu dibuat
sebelum Natal. Perayaan agung umat Kristen bukanlah Natal atau Epiphani
(pesta penampakan Tuhan, 6 Januari), melainkan Paskah.
Masa pra-Natal disebut juga Adven, yang berarti kedatangan. Dewasa ini
orang Kristen selama empat minggu (sebelum Natal) menantikan kedatangan
Mesias dalam tata peribadatan. Jemaat Kristen purba mengisi Adven den-
gan ibadah puasa. Perihal ibadah ini, kita mendapatkan informasi dari dua
buku yang terbit pada abad ke-2, yakni Pastor Hermas (cerita tentang pelbagai
penglihatan yang dialami Hermas di Roma) dan Didache (dokumen terpenting
pasca-para rasul dan sumber klasik tentang ketentuan-ketentuan paguyuban
Kristen).
Adalah muktamar Zaragosa (tahun 380-381) yang berprakarsa agar umat
berdoa bersama dan berpuasa selama tiga minggu sebelum pesta Epiphani.
Aktivitas religius ini dimulai sejak tanggal 17 Desember. Sasaran aktivitas itu
adalah pendisplinan raga, penguasaan keinginan, dan pembersihan budi demi
tercapainya sikap kontemplatif di hadirat-Nya. Epiphani merupakan pesta besar
kedua sesudah Paskah. Secara konsisten Gereja Ortodoks Yunani (Timur) yang
berpusat di Konstantinnopel merayakannya jauh lebih meriah daripada Natal,
yang dirayakan Gereja Katolik Latin (Barat) pada 25 Desember.
Sejak akhir abad ke-2 praksis puasa dilembagakan. Bapa gereja, Ireneus,
(meninggal tahun 200) bersaksi, ”Perdebatan tidak hanya mengenai hari, tetapi
juga tentang bentuk-bentuk puasa. Orang-orang yakin harus berpuasa satu
hari, yang lain dua hari, yang lain lebih lagi dari itu, ada yang menentukan
sendiri: 40 jam antara siang dan malam. Keragaman berpuasa itu tak berasal
dari zaman kami, tetapi muncul jauh sebelum kami.”’(Eusebius, Historia Ec-
clesiastica).
Uksup Hilarius Poitiers (meninggal tahun 367) mengimbau jemaat supaya
selama tiga minggu hidup dalam penyesalan akan dosa dan bermati raga seba-
gai reaksi terhadap pesta pora non-Kristen pada akhir Desember. Sejak awal,
Adven lebih bercorak asketik (olah rohani) daripada tata peribadatan, tetapi
kemudian dalam tradisi Katolik terjadi sebaliknya.
Roma baru mengenal praksis Adven saat Paus Gregorius Magnus (mening-
gal tahun 604) berkuasa. Ditetapkanlah masa Adven dengan puasa selama 4
minggu. Adven berarti tahun baru peribadatan gereja. Simbol-simbol yang
diciptakan berupa karangan empat lilin dan krans daun pinus ini dipengaruhi
oleh tata cara peribadatan ala Ambrosian (Milano). Ketika tersebar ke Per-
ancis, praksis Adven ini segera dimodifikasi dengan semangat Adven Gallikan,
∗ Dosen Sejarah Gereja; STF Driyarkara - Jakarta

1
yang memerhatikan unsur eskaton, yakni kedatangan Mesias kedua.
Adalah rahib Columbanus yang memengaruhi Gregorius Magnus sehing-
ga tema pengadilan hari terakhir, panggilan untuk bertobat, penegasan kem-
bali akan pengharapan, mendapat tekanan dalam Adven sekarang. Pada
masa Adven, orang Kristen merayakan penantian kedatangan Mesias sekaligus
membangkitkan memoria akan kehadiran-Nya di dunia. Kepada orang yang
menyambut kedatangan-Nya, Dia menegaskan ero cras. Artinya, besok Saya
datang. Ini bukan janji kosong!

Harian Kompas
Sabtu, 18 Desember 2004