Anda di halaman 1dari 20

Pendidikan Tauhid menurut pemikiran Buya Hamka (Dalam Q.S.

Al-Fatihah melalui buku tafsir Al-Azhar)

Oleh: Herlina Dedy Listiani 31801200459 UNIVERSITAS ISLAM SULTANG AGUNG

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tauhid adalah induk atau pondasi seorang muslim, dimana kualitas ibadah merujuk kepada kualitas Tauhid. Surat Al-Fatihah juga merupakah Ummul Kitab atau ummul Quran yaitu induk dari Al- Quran, selain itu surat Al-Fatihah juga merupakan rukun shalat itu menunjukan bahwa intensitas penggunaan surat Al-Fatihah lebih banyak digunakan dibandingkan dengan surat-surat lain dalam Al- Quran tetapi walaupun demikian masih banyak dari kita yang hanya sekedar membaca tanpa memahami kandungannya, surat Al-fatihah memiliki kedudukan yang tinggi serta kandungan yang dalam. Oleh Karena itu penulis merasa perlu membuat sebuah tulisan mengenai kajian nilai-nilai ketauhidaan dalam surat Al-Fatihah yang menggunakan rujukan buku Tafsir Al- Quran yang berjdul Tafsir Al-Azhar. Buku Tafsir Al-Azhar ditulis oleh salah satu pahlawan Indonesia, seorang sastrawan, ulama, filsuf serta aktivis politik bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa akbar disebut Buya Hamka. Melalui salah satu karya agungnya penulis mencoba menjadian referensi atau rujukan utama dalam menggali nilai-nilai ketauhidan dalam surat AlFatihah, sehingga penulis berharap dengan tulisan ini selain bisa menjadi referensi untuk memahami kandungan suratul Fatihah juga mampu mengaplikasikannya sebagai peningkatan tauhid kita sebagai seorang muslim yang terimplemtasikan dengan meningkatnya kualitas ibadah kita kepadaNya.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yaitu : 1. Apa yang dimaksud dengan Tauhid? 2. Apa kedudukan serta isi tafsiran surat Al-Fatihah menurut buku Tafsir Al-Azhar Buya Hamka? 3. Apa sajakah nilai-nilai ketauhidan yang terkandung dalam surat Al-Fatihah? 1

4. Apa himkah yang didapat dari mengkaji nilai-nilai ketauhidan dalam surat Al-Fatihah?

1.3 Tujuan 1. Memahami pengertian Tauhid dan urgensinya bagi seorang Muslim 2. Memahami kedudukan serta tafsiran surat Al-Fatihah 3. Mampu mengambil nila-nilai ketauhidan dalam surat Al-Fatihah 4. Mampu mengambil hikmah dari surat Al-Fatihah dan mampu pengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari.

1.4 Kajian Pustaka 1.4.1 Sekilas mengenai Buya Hamka Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Ia baru dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011. Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung. Dalam silsilah Minangkabau, ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.

BAB II PEMBAHASAN Pendidikan Tauhid menurut pemikiran Buya Hamka (Dalam Q.S. Al-Fatihah melalui buku tafsir Al-Azhar)

2.1 Pengertian Tauhid Secara Etimologis Ibnu Al- Utsaimin rahimahullah memaparkan bahwa kata tauhid, berasal dari bahasa Arab, kata benda (nomina) yang berasal dari perubahan kata kerja wahhada yuwahhidu, yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan secara Terminologis tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat. (Al-Qaul Al-Mufid, 1:5). Muhammad bin Abdullah Al-Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan

terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid, yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). La ilaha adalah penafian/penolakan, maksudnya: kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan illallah adalah itsbat/penetapan, maksudnya: kita

menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah. 2.2 Macam-macam Tauhid Sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Maryam ayat 65, Robb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah dia dan teguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Allah yang patut disembah)?, Maka Tauhid dibagi menjadi tiga macam, diantaranya : 1. Tauhid Rububbiyah Allah subhanahu wa taala dalam hal perbuatan-Nya, seperti: mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi manfaat, dan perbuatan lain yang merupakan perbuatan- perbuatan khusus Allah subhanahu wa taala. Seorang muslim

haruslah meyakini bahwa Allah subhanahu wa taala tidak memiliki sekutu dalam rububiyahNya. Allah pencipta insan dan jagat raya, seluruh benda, zaman, dan waktu. Dia-lah yang mengatur dan menjaga-Nya, kepada-Nyalah seluruh alam, benda dan yang bernyawa itu akan kembali. Terciptanya alam ini dari kekuasaan Allah adalah langsung dan mutlak bukanlah melalui media dan perantara, meng-Esakan Allah yang menciptakan langit dan segala isinya. Karena siapa pun orangnya dan kepada siapa pun dia menyembah dan mengharapkan pertolongan selain Allah swt., maka dia itu adalah musyrik. 2. Tauhid Uluhiyah Mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam jenis-jenis peribadahan yang telah

disyariatkan, seperti: salat, puasa, zakat, haji, doa, nazar, menyembelih, rasa harap, cemas, takut, dan jenis ibadah lainnya. Mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam hal-hal tersebut dinamakan tauhid uluhiyah. Tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah Subhanhu wa Taala dari hamba -hamba-Nya, karena terhadap tauhid jenis pertama, yaitu tauhid rububiyah, setiap orang (termasuk jin) pun mengakuinya, sekalipun dia orang musyrik yang menjadi musuh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa taala, yang artinya, Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka (tentang) siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah. Maka, bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS. Az-Zukhruf:87) Juga firman Allah, yang artinya, Katakanlah, Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai arsy yang besar? Mereka akan menjawab, Kepunyaan Allah. Katakanlah, Mengapa kamu tidak bertakwa? (QS. Al-Mukminun:8687) Masih banyak ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik meyakini tauhid rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan tauhid rububiyah maka seharusnya mereka juga mengakui tauhid uluhiyah (ibadah). 4

3. Tauhid asma wa shifat Menetapkan nama-nama dan sifat- sifat untuk Allah subhanahu wa taala, sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diri-Nya, dan segala yang ditiadakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (terhadap diri Allah). 2.3 Kedudukan Q.S.Al-Fatihah 2.3.1 Surat Al-Fatihah Sebagai Fatihatul Kitab Al-Fatihah artinya ialah pembukaan. Surat ini pun dinamai Fatihatul-Kitab, yang berarti pembukaan kitab, karena kitab al-Quran dimulai atau dibuka dengan surat ini, yang mulai ditulis di dalam Mushhaf, dan yang mulai dibaca ketika tilawatil-Quran, meskipun bukan Surat yang mula-mula diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Adapun tempat dia diturunkan, pendapat yang lebih kuat ialah yang menyatakan bahwa Surat ini diturunkan di Makkah. AI-Wahidi menulis di dalam kitabnya Asbabun-Nuzul dan as-Tsa`labi di dalam tafsirnya riwayat dari Ali bin AbuThalib, dia berkata bahwa Kitab ini diturunkan di Makkah, dari dalam suatu perbendaharaan di bawah `Arsy. Menurut suatu riwayat lagi dari Abu Syaibah di dalam al-Mushhn-naj dan Abu Nu'aim dan al-Baihaqi di dalam Dala-ilun-Nubuwwah, dan as-Tsa'alabi dan al-Wahidfidari Hadis Amer bin Syurahbil, bahwa setelah Rasulullah s.a.w. mengeluhkan pengalamannya di dalam gua itu setelah menerima wahyu pertama, kepada Khadijah, lalu beliau dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah, maka beliau ceriterakan kepadanya, bahwa apabila dia telah memencil seorang diri didengarnya suara dari belakangnya: "Ya Muhammad, ya Muhammad, ya Muhammad! Mendengar suara itu akupun lari.' Maka berkatalah Waraqah: "Jangan engkau berbuat begitu, tetapi jika engkau dengar suara itu, tetap tenanglah engkau, sehingga dapat engkau dengar apa lanjutan perkataannya itu". Selanjutnya Rasulullah s.a.w. berkata: "Maka datang lagi dia dan terdengar lagi suara itu: "Ya Muhammad! Katakanlah: Bismillahir-Rahminir-Rahim, AI-

hamdulillahi Rabbil Alamin, hingga sampai kepada Waladh-Dhaalin". Demikian Hadis itu.

2.3.2 Surat Al-Fatihah sebagai rukun Shalat Al-Fatihah ialah surat yang menjadi Rukun atau syarat sahnya Shalat, baik Shalat fardhu yang lima waktu, ataupun yang sunnat, maka dalam hal ini tidaklah cukup kalau kita hanya sekedar menafsirkan arti al-Fatihah, melainkan kita perlengkap lagi dengan hukum atau ketentuan Syariat berkenaan dengan al-Fatihah. Segala bentuk Shalat tidak sah, kalau tidak membaca al-Fatihah. Diperkuat dalam Hadis-hadis: Dan hendaklah dibaca pada tiap-tiap rakaat,

DariUbadah bin asShamit, bahwasanya Nabi s.a.w. berkata: "Tidaklah ada sembahyang (tidak sah sembahyang) bagi siapa yang tidak membaca Fatihatil-Kitab." (Dirawikan oleh al-Jamaah).

2.3.3 Surat Al-Fatihah mencakup tiga nilai ketauhidan Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam al- Quran. Hal itu berdasarkan hadits Abu Said bin Al Mualla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma wa shifat. 2.4 Kandungan/ Tafisr Q.S. Al-Fatihah berdasarkan Buku tafisr Al-Azhar Kandungan atau isi tafsiran surat Al-Fatihah berdasarkan Buku tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka ialah sebagai berikut : 2.4.1 Ayat ke-1

Dengan nama Allah, Yang Maha Murah, Maha Penyayang. Artinya, aku memulai pekerjaanku, menyiarkan wahyu Ilahi kepada manusia, di atas nama Allah itu sendiri, yang telah memerintahkanku untuk menyampaikannya. Inilah contoh teladan 6

yang diberikan kepada kita untuk memulai suatu pekerjaan dengan nama Allah. Nabi Muhammad s.a.w. diminta menyampaikan wahyu atas nama Allah. Dia, Rasul Allah itu, tidaklah lebih dari manusia biasa, tetapi ucapan yang keluar dari mulutnya bukanlah semena-mena atas kehendaknya sendiri, tetapi Allahlah yang memerintahkan. Dari yang mempunyai nama itu dia mengambil kekuatan. Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Murah dan Maha penyayang kepada hambaNya maka UtusanNya, Muhammad s.a.w. telah menyampaikan seruan ini kepada manusia. Yang lebih dahulu mempengaruhi jiwa ialah bahwa Allah itu Pemurah dan Penyayang, bukan Pembenci dan Pendendam, bukan haus kepada darah pengurbanan. Dan contoh yang diberikan Nabi itu pulalah yang kita ikuti, yaitu memulai segala pekerjaan dengan nama Allah, yang mempunyai beberapa sifat Yang Mulia, di antaranya ialah Rahman dan Rahim. Maka di dalam bacaan itu tersimpullah suatu pengharapan atau doa apa saja yang kita kerjakan mendapat kurnia Rahman dan Rahim dari Tuhan. DimudahkanNya kepada yang baik, dijauhkan dari yang buruk. Maka tersebutlah di dalam sebuah Hadis Nabi s.a.w. yang dirawikan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah yang berbunyi:

"Setiap pekerjaan, kalau tidak dimulai dengan Bismillah, dengan nama Allah, maka pekerjaan itu akan percuma jadinya." 2.4.2 Ayat ke-2

Segala puji-pujian untuk Allah, Pemelihara semesta alam . Hamdan, artinya pujian, sanjungan. Di pangkalnya diletakkan AI atau AIif lam, sehingga bacaannya menjadi Al-hamdu. AI mencakup segala jenis. Dengan sebutan Alhamdu, berarti bahwa segala bentuk pujian, baik besar ataupun p kecil, atau ucapan terima kasih karena jasa seseorang, kepada siapapun kita memberikan puji, namun pada hakikatnya, tidaklah seorang juga yang berhak menerima pujian itu, melainkan Allah: LILLAHI, hanya semata-mata untuk Allah.

Untuk semua pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan perlindungan itulah kita diajari mengucapkan pujian kepadaNya: "Rabbul `Alamin", Tuhan sekalian alam. Kalau kita pertalikan lagi dengan beberapa penafsiran tentang `alamin tadi, bahwa yang dimaksud ialah makhluk manusia, dapatlah kita fahami betapa tingginya kedudukan insan, sebagai Khalifah Allah, di tengah-tengah alam yang luas itu. Maka di dalam ayat pembukaan ini, kita telah bertemu langsung dengan Tauhid, yang mempunyai dua faham itu, yaitu Tauhid Uluhiyah pada ucapan Alhamdu Lillahi. Dan Tauhid Rububiyah pada ucapan Rabbil `Alamin. Dan sudahlah jelas sekarang bahwa dalam ayat "Segala puji-pujian adalah kepunyaan Allah, Pemelihara dari sekalian alam" itu telah mengandung dasar Tauhid yang dalam sekali. Tidak ada yang lain yang patut dipuji, melainkan DIA. 2.4.3 Ayat ke-3

Maha Murah, Maha Penyayang. Atau bisa juga diartikan Yang Pengasih, lagi Penyayang. Ayat ini menyempurnakan maksud dari ayat yang sebelumnya. Jika Allah sebagai Rabb, sebagai Pemelihara dan Pendidik bagi seluruh alam tidak lain maksud dan isi pendidikan itu, melainkan karena Kasih-sayangNya semata dan karena murahNya belaka, bukan dalam memberikan Pemeliharaan dan pendidikan itu menuntut keuntungan bagi diriNya sendiri. Bukan sebagai suatu Pemerintahan mengadakan suatu pendidikan "kader" dan latihan pewagai, tetapi karena mengharapkan apabila orang-orang yang dididik itu telah lepas dari pendidikan, akan dapat dipergunakan menjadi pegawai yang baik. Pemeliharaan yang Dia berikan adalah pertama karena Ar-Rahman maknanya ialah sifat

Allah Yang Rahman itu telah membekas dan berjalan ke atas hambaNya. Bertambah tinggi kecerdasan hamba itu, bertambah terasa olehnya betapa ar-Rahman Allah terhadap dirinya, dan sifat Ar-Rahim ialah sifat yang tetap pada Allah. Maka Ar Rahman ialah setelah sifat itu terpaksa pada hamba, dan Ar-Rahim ialah pada keadaannya yang tetap dan tidak pernah padam--

padamnya pada Tuhan. Dan keduanya itu adalah sama mengandung akan sumber kata yaitu Rahmat. Dengan melihat kasih-sayang suami isteri dan ayah terhadap anak, nenek terhadap cucu. Dengan melihat kasih-sayang di antara binatang, burung-burung dengan berbagai jenisnya, dapatlah kita mengetahui betapa besarnya Rahman dan Rahim Allah atas makhluk, dan akan sirnalah rasa benci, dengki dan dendam dari hati kita. Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.:

"Orang-orang yang memiliki rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang Rahman, yang memberikan berkat dan Maha Tinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi, agar kamu disayangi pula oleh yang di langit."(Dirawikan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Termidzi, dan alHakim dari Hadis Abdullah bin Umar). 4.2.4 Ayat ke-4

Yang Mempunyai Hari Pernbalasan. Apabila kita telah membaca sampai pada ayat ini, timbullah pertanyaan, jika tadi seluruh jiwa kita telah diliputi oleh rasa Rahmat, pancaran Rahman dan Rahim Tuhan, maka itu harus dibatasi dengan keinsafan, bahwa betapa pun Rahman dan RahimNya namun Allah juga maha adil. Rahman dan Rahim tidaklah lengkap kalau tidak disempurnakan dengan adil. Beberapa diantara manusia yang karena sangat mendalam rasa Rahmat dalam dirinya, dan meresap ke dalam jiwanya kasih-sayang yang balas berbalas, memberi dan menerima dengan Tuhan, lalu dia beribadat kepada Tuhan dengan baik. Tetapi ada juga manusia yang tidak menghargai dan tidak memperdulikan Rahman dan Rahim Tuhan; jiwanya diselimuti oleh rasa benci, dengki dan khianat. Tidak ada rasa syukur, tidak ada terima kasih. Lebih banyak berbuat keburukan daripada kebaikan. Sampai dia mati keadaan tetap demikian. Tentu ini pasti rnendapat pembalasan.

Maka apabila Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah disambungkan dengan Maliki yaumiddin, barulah seimbang pengabdian dan pemujaan kita kepada Allah. Hidup tidak berhenti di dunia saja, akan ada hari kemudian yaitu hari pembalasan, hari agama yang sebenarnya. Kita memuji Allah Pemelihara seluruh alam dan pendidiknya, kita memujiNya karena Rahman dan RahimNya dan kitapun memujiNya karena buruk dan baik yang kita kerjakan di dunia ini tidak terbuang percuma, akan tetapi akan diperhitungkan dan dibalas dengan adil di akhirat kelak. 4.2.5 Ayat ke-5

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau saja kami memohon pertolongan. Kalimat lyyaka, diartikan Engkaulah, atau boleh dilebih dekatkan lagi maknanya dengan menyebut hanya Engkau sajalah yang kami sembah. Di sini terdapat lyyaka dua kali; hanya Engkau sajalah yang kami sembah dan hanya Engkau saja tempat kami memohonkan pertolongan. Kata Na'budu diarti-kan, kami sembah, dan nasta'inu kita artikan tempat kami memohon pertolongan. Jika ada lagi kata lain dalam bahasa kita yang lebih mendekati maksud yang terkandung di dalamnya, bolehlah diganti. Sebab dalam hati sendiri pun terasa bahwa arti itu belum juga tepat danbenar, meskipun sudah mendekati. Kata na'budu berpangkal dari kalimat ibadat dan nasta'inu berpangkal dari kalimat isti'anah. Begitulah disampaikan oleh Buya Hamka bahwa tidak mudah dalam melakukan penafisiran atau alih bahasa, terlebih mengalih bahasakan dari bahasa Arab, bahasa Al-Quranul karim kepada bahasa Indonesia. Ayat ini menerangkan akan sebuah bahwa hanya kepadaNya saja kita tujuan. Dengan ayat ini kita - menyatakan pengakuan memohonkan pertolongan; tiada kepada orang

lain. Sebagaimana telah kita tahu pada keterangan di atas, Allah adalah Tuhan Yang Mencipta dan Memelihara. Dia adalah Rabbun, sebab itu Dia adalah Ilahi. Tidak ada Ilah yang lain, melainkan Dia. Oleh karena Dia Yang Mencipta dan Memelihara, maka hanya Dia pula yang patut disembah. Adalah satu hal yang tidak wajar, kalau Dia menjadikan dan memelihara, lalu kita menyembah kepada yang lain.

10

Oleh sebab itu, ayat ke-5 ini memperkuat lagi ayat yang kedua "Segala puji-pujian bagi Allah, Pemelihara dari sekalian alam. "Hanya Dia yang patut dipuji, karena hanya Dia sendiri yang menjadikan dan memelihara alam, tidak bersekutu dengan yang lain. Alhamdu di atas didahulukan menyebutkan bahwa yang patut menerima pujian hanya Allah, sebab hanya Dia yang mencipta dan memelihara alam. Sedang pada ayat lyyaka na'budu ini dilebihjelaskan lagi, hanya kepadaNya dihadapkan sekalian persembahan dan ibadat, sebab hanya Dia sendiri saja, tidak bersekutu dengan yang lain, yang memelihara alam ini. Maka mengakui bahwa yang patut disembah sebagai Ilah hanya Allah, dinamai Tauhid Uluhiyah. Dan mengakui yang patut untuk memohon pertolongan, sebagai Rabbun hanya Allah, dinamai Tauhid Rububiyah. Arti yang luas dari ibadat ialah memperhambakan diri dengan penuh keinsafan dan kerendahan. Dan dipatrikan lagi oleh cinta. Kita mengakui bahwa kita hambaNya, budakNya. Kita tidak akan pernah ada jika Dia yang menjadikan. Kita beribadat kepadaNya disertai oleh raja', yaitu pengharapan akan kasih dan sayangNya, cinta yang hakiki, tidak terbagi pada yang lain. Sehingga jikapun kita cinta kepada yang lain, itu hanyalah karena yang lain merupakan

nikmat dariNya. Misalnya kita mencintai anak dan isteri, harta dan benda. Atau kita mencintai tanahair tempat kita dilahirkan, ataupun yang lain-lain. Semuanya itu adalah karena nikmat dariNya. Tidak dapat kita mencintai yang lain langsung, di samping mencintaiNya. Karena jika ada cinta lain di samping cinta kepadaNya, itulah cinta yang terbagi. Apabila-telah terbagi, itulah pangkal dari syirik. 2.4.6 Ayat ke-6

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Memohon dan meminta diberikan jalan yang lurus, menurut keterangan beberapa ahli tafsir, perlengkapan menuju jalan yang lurus, yang dimohonkan kepada Allah itu ialah, pertama alIrsyad, artinya agar dianugerahi kecerdakan dan kecerdasan, sehingga dapat membedakan yang salah dengan yang benar. Kedua at-Taufiq, yaitu bersesuaian hendaknya dengan apa yang di11

rencanakan Allah. Ketiga al-Ilham , diberi petunjuk supaya dapat mengatasi sesuatu yang sulit. Keempat ad-Dilalah, artinya ditunjuk dalil-dalil dan tanda-tanda di mana tempat yang berbahaya, di mana yang tidak boleh dilalui dan sebagainya. Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, menurut beliau yang dimaksud dengan meminta ditunjuki jalan yang lurus, tafsirnya ialah mohon ditunjuki agamaMu yang benar. Sedangkan menurut beberapa riwayat dari ahli-ahli Hadis, darip Jabir bin Abdullah, yang dimaksud dengan Shirathal Mustaqim ialah Agama Islam. Dan menurut beberapa riwayat lagi, Ibnu Mas'ud mentafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Shirathal Mustaqim ialah Kitab Allah (al-Quran). Maka semua penafsiran diatas dapat disimpulkan menjadi satu Shirathal Mustaqim memang agama yang benar, dan itulah Agama Islam. Dan sumber petunjuk dalam Islam itu tidak lain ialah al-Quran, dan semuanya dapat diambil contoh dari p Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabat. Dengan ayat ini semakin menunjukan begitu penting memohon kepadaNya, hanya

kepadaNya untuk diberikan jalan yang lurus. Menurut

ilmu ukur ruang, garis lurus ialah jarak

yang paling dekat di antara dua titik. Maka di dalam Shirathal Mustaqim yang kita mohonkan ini, dua titik itu ialah: yang pertama titik kita sebagai hamba, yang kedua titik Allah sebagai Tuhan kita. 4.2.7 Ayat ke-7

Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka; bukan (jalan) orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Jalan orang-orang yanh telah engkau beri nikmat mengindikasikan permohonan untuk diberikan petunjuk serta karunia seperti apa-apa yang telah Allah berikan kepada umat terdahulu. Para Nabi, syuhada yang jasa-jasanya masih terasakanhinga kini. Lalu kalimat kedua, Bukan(jalan) oranh-oranh yang engkau murkai. Siapakah yang dimurkai Allah? lalah 12

orang yang telah diberikan petunjuk, telah diutus kepadanya Rasul-rasul telah diturunkan kepadanya Kitab-kitab Wahyu, namun dia masih saja memperturutkan hawa nafsunya. Telah ditegur berkali-kali, namun teguran itu, tidak juga diperdulikannya. Dia merasa lebih pintar daripada Allah, Rasul-rasul dicemoohkannya, petunjuk Tuhan diingkarinya, perdayaan

syaitan diperturutkannya. Dan yang terakhir, bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Adapun orang yang sesat ialah orang yang berani membuat jalan sendiri di luar yang digariskan Tuhan. Tidak mengenal kebenaran, atau tidak dikenalnya kebenaran yang sebenamya. 4.3 Pendidikan Tauhid dalam Q.S. Al-Fatihah Setalah pada bagian sebelumnya dijelaskan mengenai tafsir dan kandungan dari Surat AFatihah menurut rujukan buku Al-Azhar karya Buya Hamka, maka pada bagian ini akan lebih difokuskan untuk mengkaji nilai-nilai ketauhidan melalui tabel di bawah ini : Surat Al-Fatihah Ayat keAyat ke-1

Tauhid Rububbiyah -

Nilai-nilai Ketauhidan Tauhid Uluhiyah Tauhid Asma wa sifat


Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang terkandung Nilai Tauhid Uluhiyah karena beradasarkan isi kandungan yang telah dijelaskan diatas bahwa dalam melakukan apun haruslah dimulai/diniatkan hanya untuk Allah

1. Meyakini Allah dengan nama Ar-Rahman sebagai dzat yang maha Pengasih 2. Meyakini Allah nama Ar-Rahim dzat yang Penyayang. dengan sebagai maha

Ayat ke-2

Yang artinya, Pemelihara semesta alam. Dalam penggalan ayat sebelumnya yang menerangkan bahwa apapun yang kita Yang artinya,Segala puji adalah kepunyaan Allah . Ayat ini mengindikasian bahwa apapun yang kita kerjakan adalah 13

kerjakan semata semata karena adalah untuk beribadah kepadaNya. beribadah kepadaNya, maka ayat ini adalah sebagai penjelas mengenai alasan beribadah hanya untukNya. karena Dialah semuanya bersumber, Dialah yang menciptakan bumi dan segala isinya. Maka tidak ada yang berhak disembak selain Allah dan untukNya lah segala apa yang kita kerjakan. Ayat ke-3 3. Meyakini Allah dengan nama Ar-Rahman sebagai dzat yang maha Pengasih 4. Meyakini Allah nama Ar-Rahim dzat yang Penyayang. Ayat ke-4 menunjukkan kepada tauhid rububiyah. Allah subhanahu wa taala adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah dengan sebgai maha

Maliki yang berarti pula Al-Malik, yakni yang maha merajai. Sebagaimana Allah yang merajaik segala apa-apa yang ada di bumi dan dilangit berserta apa-apa yang ada di antara keduanya.

14

Raja yang menguasai dunia dan akhirat. Ayat ke-5 Penyebutan objek yang didahulukan sebelum dua buah kata kerja tersebut menunjukkan pembatasan. Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk mengharap wajah Allah yang disertai kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama dan dunianya kecuali kepada Allah azza wa jalla. Ini menunjukkan tauhid uluhiyah, sebab ia merupakan doa. 15

Ayat ke-6

Ayat ke-7

Dan doa termasuk jenis ibadah. Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orangorang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan waliwali-Nya Menunjukan tauhid Uluhiyah, karena dalam hal ini seorang mukmin memohon kepada Allah petunjuk sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang sholeh terdahulu bukan orang-orang yang dimurkai Allah.

16

BAB III KESIMPULAN DAN PENUTUP Setelah memahami pengertian tauhid serta urgensinya bagi seorang Muslim yakni

sebagai pondasi utama mengenai implementasi kualitas ibadah baik ibadah secara vertikal (hubungan dengan Tuhan) maupun ibadah secara horizontal (hubungan dengan sesama makhluk). Kemudian macam-macam Tauhid yang terbagi menjadi Tauhid Rububbiyah yakni meyakini Allah dalam hal perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan maupun mematian. Lalu tahuid Uluhiyyah, yakni mengesakan Allah dalam peribadahan seperti Shalat, puasa, zakat dll. Ketiga, Tauhid asma wasifat yaitu meyakini Allah dengan segala nama nama yang dimilikiNya. Oleh karenanya, perlu adanya kajian khusus mengenai tauhid, dalam hal ini kaitannya dengan Surat Al-Fatihah. Surat yang sudah tidak asing dan banyak dihafal oleh seluruh muslim karena perannya sebagai sayarat sahnya shalat. Akan tetapi walaupun demikian masih banyak diantaranya kita yang belum memahami makna dari surat agung tersebut hingga di ucapkan biasa-biasa saja, tanpa makna, dan terasa hambar. Buya Hamka dalam buku tafsirnya yang bertajuk Al-Azhar memaparkan kandungan isi surat Al-Fatihah yang agung dan terkandung nilai-nilai ketauhidan, baik tauhid Rububbiyah, Uluhiyah maupun Asma wasifat. Hamka menjelaskan secara detail dari ayat pertama hingga ayat ketujuh dari surat Al-fatihah, hal ini seperti sebuah pembuktian mengenai kedudukan AlFatihah sebagai ummul Quran karena memang hakikatnya Al-Fatihah sudah mencakup dari segala keseluruhan nilai-nilai islam diantaranya adalah nilai Tauhid. Dalam ayat pertama Bismillahirahmanirahiim , artinya dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dalam ayat ini Muslim diperintahkan agar melakukan segala bentuk kegiatan apapun dengan nama/niat semata karena Allah dan untuk Allah yang telah memberikan penghidupan beserta segala nikmatnya kepada kita sebagai makhlukNya. Maka alhamdulillahi Rabbil alamin adalah tauhid. Ar rahmanir rahim adalah tauhid. Maliki yaumid Din adalah tauhid. Iyyaka nabudu wa iyyaka nastain adalah tauhid. Ihdinash shirathal mustaqim adalah tauhid yang mengandung permohonan petunjuk untuk bisa meniti jalan ahli tauhid yang telah mendapatkan anugerah kenikmatan dari Allah, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga bukan jalan orang-orang yang sesat; yaitu orang- orang yang memisahkan diri dari tauhid.

17

Dikarenakan keagungan kedudukan surat Al Fatihah ini dan ketercakupannya terhadap tauhidullah dalam hal rububiyah-Nya, uluhiyah- Nya, dan asma wa shifat-Nya, kandungan permohonan petunjuk meniti jalan yang lurus, dan dikarenakan kebutuhan setiap muslim terhadap petunjuk itu jauh berada di atas kebutuhannya terhadap apapun dan lebih mendesak, maka surat ini pun disyariatkan untuk dibaca di setiap rakaat shalat. Oleh karena itu, semoga makalah ini dapat dijadikan salah satu rujukan dalam pengkajian pendidikan nilai Ketauhidan dalam Q.S Al-Fatihah, hingga menjadikan surat Al-Fatihah terasa lebih bermakna dan mampu mengaplikasan nilai-nilai yang terkandung didalamnya untuk peningkatan kualitas tauhid hingga berwujud kepada perbaikan kualitas dan kuatitas ibadah kita dalam kehidupan sehari-hari.

18

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI., Al-Quran dan Terjemahnya (Semarang: PT. Tanjung Mas Inti, 1992). Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam (Cet. II; Jakarta: Grafindo Persada, 1996). www.wikipedia.com http://almanhaj.or.id/content/546/slash/0 http://muslim.or.id/aqidah/hakekat-tauhid.html http://muslim.or.id/aqidah/membekali-diri-dengan-tauhid.html Ustadz Aris Munandar , http://sumber- mu.blogspot.com/2012/05/kedudukan-qs-al- fatihahdalam-alquran.html#ixzz2Ew1W1DPP

19