Anda di halaman 1dari 31

SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DIRUMAH SAKIT KALISAT KABUPATEN JEMBER TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dewasa ini sampah merupakan masalah yang cukup serius, terutama dikota-kota besar. Sehingga banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, swasta maupun secara swadaya oleh masyarakat untuk menanggulanginya, dengan cara mengurangi, mendaur ulang maupun memusnahkannya. Namun semua itu hanya bisa dilakukan bagi sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga saja. Lain halnya dengan sampah yang di hasilkan dari upaya medis seperti Puskesmas, Poliklinik, dan Rumah Sakit. Karena jenis limbah yang dihasilkan termasuk dalam kategori biohazard yaitu jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan, dimana disana banyak terdapat buangan virus, bakteri maupun zat zat yang membahayakan lainnya, sehingga harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dalam suhu diatas 800 derajat celcius. (LPKL, http://www.maxpelltechnology.com diakses tanggal 30 Maret 2013). Pengelolaan sampah sebagian besar rumah sakit di Indonesia pada umumnya kurang mendapat perhatian yang serius. Peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun akan mempengaruhi timbulan sampah yang hasilkan oleh RSUD Kalisat, oleh karena itu perlu perhatian yang serius dari pihak rumah sakit, agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi pasien, pengunjung, petugas kebersihan maupun karyawan rumah sakit itu sendiri. (FKM undip, http://www.fkm.undip.ac.id diakses tanggal 30 Maret 2013). Ada beberapa hasil survei yang menunjukkan jenis sampah kesehatan yang biasa di hasilkan. Dari beberapa survei tersebut dirangkum dan menunjukkan bahwa sampah layanan kesehatan yang dihasilkan berbeda bukan saja antar negara tetapi juga dalam satu negara. Sampah yang dihasilkan bergantung pada banyak faktor. Misalnya metode manajemen sampah yang berlaku, jenis institusi layanan kesehatan, spesialisasi rumah sakit, jumlah item yang dapat digunakan kembali yang dipakai rumah sakit, dan jumlah pasien rawat jalan. Akan tetapi, akan lebih baik jika ada data tersebut hanya dipandang sebagai contoh dan tidak digunakan sebagai landasan untuk mengelola limbah di dalam sebuah institusi layanan kesehatan. Data mengenai sampah setempat yang didapat dari

sebuah survei mungkin akan lebih reliabel dibandingkan perkiraan yang didasarkan pada data negara lain atau jenis insitusi yang berbeda. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember tahun 2006 menunjukkan bahwa Kabupaten Jember mempunyai luas wilayah 3.293.339 km2 dengan 31 kecamatan, 247 kelurahan, total jumlah penduduk sebanyak 2.136.999 jiwa dengan kecenderungan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya sebanyak 0,27 %. Pola konsumsi masyarakat Kabupaten Jember cenderung meningkat, dapat dilihat dari naiknya kebutuhan hidup minimum untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, aneka kebutuhan, perumahan dan sandang. Pola konsumsi masyarakat yang terus meningkat tersebut akan menghasilkan sampah. Jika sampah tidak dikelola dengan baik, diprediksikan akan menimbulkan permasalahan, baik permasalahan lingkungan maupun sosial dan budaya. (Suara Indonesia News, 2008) Pada tahun 2012 sampah sudah menjadi persoalan serius di Jember. Seriusnya persoalan sampah ini bisa dilihat dari data Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Jember. Produksi sampah rumah tangga di Jember mencapai 710 meter kubik per hari atau sekitar 142,43 ton. Sementara yang terangkut hanya 248 meter kubik per hari atau 49,75 ton. (Oryza A. Wirawan, 2012. http://www.beritajatim.com diakses tanggal 30 Maret 2013). Pada saat ini masih banyak rumah sakit yang kurang memberikan perhatian yang serius terhadap pengelolaan sampahnya. Pengelolaan sampah masih terpinggirkan dari pihak manajemen RS. Hal ini terlihat dalam struktur organisasi RS, divisi lingkungan masih terselubung di bawah bag Umum. Pemahaman ataupun pengetahuan pihak pengelola lingkungan tentang peraturan dan peryaratan dalam pengelolaan sampah medis masih dirasa minim. Masih banyak yang belum mengetahui tatacara dan kewajiban pengelolaan limbah medis baik dalam hal penyimpanan limbah, incinerasi limbah maupun pemahaman tentang limbah B3 sendiri masih terbatas (Anonim, http://b3.menlh.go.id diakses tanggal 30 Maret 2013). Rumah sakit dan instalasi kesehatan lainnya memiliki kewajiban untuk memelihara lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta memiliki tanggung jawab khusus yang berkaitan dengan limbah yang dihasilkan instalasi tersebut. Kewajiban yang dipikul instalasi tersebut di antaranya adalah kewajiban untuk memastikan bahwa penanganan, pengolahan serta pembuangan limbah yang mereka lakukan tidak akan menimbulkan dampak yang merugikan kesehatan dan lingkungan. Dengan menerapkan

kebijakan mengenai pengelolaan limbah layanan kesehatan, fasilitas medis dan lembaga penelitian semakin dekat dalam memenuhi tujuan mewujudkan lingkungan yang sehat dan aman bagi karyawan mereka maupun masyarakat sekitar (A.Pruss, 2005). Rumah sakit menghasilkan limbah dalam jumlah besar, beberapa di antaranya membahayakan kesehatan di lingkungannya. Berdasarkan gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi RS untuk mencemari lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit (Jais, http://www .arahenvironmental.com diakses tanggal 30 Maret 2013). Dampak limbah untuk infeksi virus yang serius seperti HIV/AIDS serta Hepatitis B dan C, tenaga layanan kesehatan, terutama perawat, merupakan kelompok yang berisiko paling besar untuk terkena infeksi melalui cedera akibat benda tajam yang terkontaminasi (umumnya jarum suntik). Risiko serupa juga dihadapi tenaga kesehatan lain di RS dan pelaksana pengelolaan limbah di luar RS, begitu juga pemulung di Lokasi pembuangan akhir limbah (sekalipun risiko ini tidak terdokumentasi). Di kalangan pasien dan masyarakat, risiko terkena infeksi tersebut jauh lebih rendah. Namun, beberapa infeksi yang menyebar melalui media lain atau disebabkan oleh agens yang lebih resisten dapat menimbulkan risiko yang bermakna pada masyarakat dan pasien RS. (A.Pruss, 2005). Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember sebagai sarana pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas rawat inap dan rawat jalan. RS Kalisat merupakan Rumah sakit dengan type D, yaitu dengan 5 pelayanan pasien, diantaranya Instalasi pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, pelayanan medis, pelayanan administrasi, dan rekam medik. Menurut Kasubbag Keuangan dan Program RSD Kalisat, Drs. Moh. Yasin Wiradihalki, bahwa yang pasti dari tahun ke tahun mencoba untuk memberikan kenyamanan kepada pasien yang berobat di RS Kalisat, yang salah satunya saat ini dilakukan yaitu memrenovasi ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang rawat inap pasien sesuai dengan standart yang ada. Maka atas dasar itulah peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana sistem pengelolaan sampah medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember.

B. RUMUSAN MASALAH Setelah membahas pada latar belakang maka dapat dirumuskan Bagaimana Sistem Pengelolaan Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 2013?

C. TUJUAAN PENELITIAAN 1. Tujuan Umum Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang Sistem Pengelolaan. Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013

2.

Tujuan Khusus a. Untuk memperoleh gambaran tentang Pemilahan sampah di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013 b. Untuk memperoleh gambaran tentang pewadahan sampah di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013. c. Untuk memperoleh gambaran tentang pegumpulan di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013. d. Untuk memperoleh gambaran tentang pengangkutan di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013. e. Untuk memperoleh gambaran tentang penanganan sampah di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013. f. Untuk memperoleh gambaran tentang Tenaga Pengelola Limbah di Rumah Sakit Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember tahun 3013.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Ilmiah Merupakan pengetahuan berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan penulis dalam bidang kesehatan masyarakat, khususnya yang berhubungan dengan Pengelolaan Sampah Medis 2. Manfaat Institusi Sebagai bahan informasi kepada instansi terkait untuk peningkatan derajat kesehatan lingkungan khususnya Sistem Pengelolaan sampah Medis dan sanitasi lingkungan. 3. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi tentang kondisi Pengelolaan Sampah Medis di Rumah Sakit Umum daerah Kab. Barru dan merupakan bahan pertimbangan dan peningkatan sanitasi rumah sakit tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Rumah Sakit 1. Pengertian Rumah Sakit Menurut American Hospital Association, rumah sakit adalah sebagai organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Menurut Wolper dan Pena, rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta temoat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan.

Menurut Association of Hospital Care, rumah sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitin kedokteran diselenggarakan.

2.

Jenis Jenis Rumah Sakit Adapun beberapa jenis jenis rumah sakit yang perlu diketahui, batasan tentang jenis jenis rumah sakit banyak macamnya, yaitu : a. Rumah sakit umum Rumah sakit yang dijalankan organisasi National Health Service di Inggris. Melayani hampir seluruh penyakit umum, dan biasanya memiliki institusi perawatan darurat yang siaga 24 jam (ruang gawat darurat) untuk mengatasi bahaya dalam waktu secepatnya dan memberikan pertolongan pertama. Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara, dengan kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin, laboratorium, dan sebagainya. Tetapi kelengkapan fasilitas ini bisa saja bervariasi sesuai kemampuan penyelenggaranya. Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center (pusat kesehatan), biasanya melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia juga membuka pelayanan kesehatan tanpa menginap (rawat jalan) bagi masyarakat umum (klinik). Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam suatu rumah sakit. b. Rumah sakit terspesialisasi Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti psychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain Rumah sakit bisa terdiri atas gabungan atau pun hanya satu bangunan. Kebanyakan mempunyai afiliasi dengan universitas atau pusat riset medis tertentu. Kebanyakan rumah sakit di dunia didirikan dengan tujuan nirlaba. c. Rumah sakit penelitian/pendidikan

Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi. Biasanya rumah sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai macam obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini diselenggarakan oleh pihak universitas /perguruan tinggi sebagai salah satu wujud pengabdian masyararakat/Tri Dharma perguruan tinggi. d. Rumah sakit lembaga/perusahaan Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga tersebut/karyawan perusahaan tersebut. Alasan pendirian bisa karena penyakit yang berkaitan dengan kegiatan lembaga tersebut (misalnya rumah sakit militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan gratis bagi karyawan, atau karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil/jauh dari rumah sakit umum. Biasanya rumah sakit lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima pasien umum dan menyediakan ruang gawat darurat untuk masyarakat umum (Ensiklopedia bebas, http:// http://id.wikipedia.org diakses tanggal 30 Maret 2013).

3.

Fungsi Rumah Sakit Dalam Permenkes RI No. 159 B/Menkes/Per/1988 fungsi rumah sakit adalah menyediakan dan menyelenggarakan : a. Pelayanan medik b. Pelayanan penunjang medik c. Pelayanan rehabilitatif d. Pencegahan dan peningkatan kesehatan e. Sebagai tempat pendidikan dan pelatihan tenaga medik

4.

Tipe Tipe Rumah Sakit Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 031 /tahun 1972 rumah sakit di klasifikasikan atas beberapa tingkatan, yaitu :

a. Rumah Sakit Type A Rumah sakit dimana ada pelayanan spesialis, serta pelayanannya adalah tingkat nasional dan selain tempat pelayanan kesehatan, juga digunakan untuk mendidik dokter spesialis. b. Rumah Sakit Type B Rumah sakit dimana ada pelayanan spesialis luas minimal 12 spesialis, scope pelayanan adalah tingkat propinsi dan selain pelayanan kesehatan juga digunakan untuk pendidikan dokter umum. c. Rumah Sakit Type C Rumah sakit yang melaksanakan paling sedikit 4 spesialis, yaitu penyakit dalam, kesehatan anak, badan, kebudayaan, scope pelayanannya adalah tingkat kabupaten. d. Rumah Sakit Type D Rumah sakit dimana ada pelaksanaannya pelayanan kesehatan yang bersifat umum. e. Rumah Sakit Type E Rumah sakit khusus baik dari penderita maupun penyakitnya dengan scope pelayanannya pada wilayah tertentu tergantung banyaknya penderita dan penyakitnya : 1) Rumah sakit kanker 2) Rumah sakit jiwa 3) Rumah sakit mata 4) Rumah sakit kusta 5) Rumah sakit paru-paru 6) Rumah sakit bersalin

B. Tinjauan Umum Pengaruh Sampah Rumah Sakit terhadap Lingkungan dan Kesehatan

Pengaruh Sampah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan berbagai masalah seperti : 1. Gangguan kenyamanan dan estetika Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organik. 2. Kerusakan harta benda Dapat disebabkan oleh garam garam yang terlarut (korosif,karat), air yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan disekitar rumah sakit 3. Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang Ini dapat dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, senyawa senyawa kimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi. 4. Gangguan genetik dan reproduksi Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan radioaktif (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 30 Maret 2013). Ada beberapa kelompok masyarakat yang mempunyai resiko untuk mendapat gangguan karena buangan rumah sakit. Pertama pasien yang datang ke rumah sakit untuk memperoleh pertolongan pengobatan dan perawatan Rumah sakit. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling rentan kedua, karyawan rumah sakit dalam melaksanakan tugas sehari harinya selalu kontak dengan orang sakit yang merupakan sumber agen penyakit. Ketiga, pengunjung / pengantar orang sakit yang besar. Keempat, masyarakat yang bermukim di sekitar Rumah sakit, lebih lebih lagi bila rumah sakit membuang hasil buangan rumah sakit tidak sebagaimana mestinya kelingkungan sekitarnya. Akibatnya adalah mutu lingkungan menjadi turun kualitasnya, dengan akibat lanjutannya adalah menurunnya derajat melaksanakan pengelolaan buangan rumah sakit yang baik dan benar dengan melaksanakan kegiatan sanitasi rumah sakit (Arifin, http://www.pontianakpost.com diakses tanggal 30 Maret 2013).

Membahas dampak limbah secara khusus berdasarkan limbah yang dihasilkan, yaitu: a. Bahaya Limbah Infeksius dan Benda Tajam Limbah infeksius dapat mengandung berbagai macam mikroorganisme patogen. Patogen tersbut dapat memasuki tubuh manusia melalui beberapa jalur : 1) Akibat tusukan, lecet, atau luka di kulit 2) Melalui membran mukosa 3) Melalui pernapasan 4) Melalui ingesti Kekhawatiran muncul terutama terhadap HIV serta virus hepatitis B dan C karena ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa virus tersebut ditularkan melalui limbah layanan kesehatan. Penularan umumnya terjadi melalui cedera dan jarum spuit yang terkontaminasi darah manusia.

b. Bahaya Limbah Kimia dan farmasi Banyak zat kimia dan bahan farmasi berbahaya digunakan dalam layanan kesehatan (misalnya zat yang bersifat toksik, genotoksik, korosif, mudah terbakar, reaktif, mudah meledak, atau yang sensitif terhadap guncangan). Kuantitas zat tersebut umumnya rendah di dalam limbah layanan kesehatan, kuantitas yang lebih besar dalam limbah umumnya ditemukan jika instansi membuang zat kimia atau bahan farmasi yang sudah tidak terpakai lagi atau sudah kadaluarsa. Kandungan zat itu di dalam limbah dapat menyebabkan intoksikasi atau keracunan, baik akibat pajanan secara akut maupun kronis dan cedera, termasuk luka bakar.

c. Bahaya Limbah Genotoksik Pajanan terhadap zat genotoksik di lingkungan layanan kesehatan juga dapat terjadi selama masa persiapan atau selama terapi yang menggunakan obat atau zat tertentu. Jalur pajanan utama adalah dengan menghirup debu atau aerosol, absorbsi melalui kulit, tanpa sengaja menelan makanan yang terkontaminasi obat obatan sitotoksik, zat kimia, atau limbah, dan kebiasaan buruk saat makan, misalnya

menyedot makanan. Pajanan juga dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan sekret tubuh pasien yang menjalani kemoterapi.

d. Bahaya Limbah Radioaktif Jenis penyakit yang disebabkan limbah radioaktif bergantung pada jenis dan intensitas pajanan. Kesakitan yang muncul dapat berupa sakit kepala, pusing, dan muntah sampai masalah lain yang lebih serius. Karena limbah radioakti, seperti halnya limbah bahan farmasi, bersifat genotoksik, maka efeknya juga dapat mengenai materi genetik. Penanganan sumber yang sangat aktif, misalnya terhadap sumber tertutup dalam instrumen diagnostik, dapat menyebabkan cedera yang jauh lebih parah (misalnya kerusakan jaringan, keharusan untuk mengamputasi bagian tubuh) dan karenannya harus dilakukan dengan sangat hati hati.

e. Sensivitas public Selain rasa takut akan dampak kesehatan yang mungkin muncul, masyarakat juga sangat sensitif terhadap dampak visual limbah anatomi, bagian-bagian tubuh yang dapat dikenali, termasuk janin (A.Pruss, 2005).

C. Tinjauan Umum tentang Pengelolaan Sampah Di Rumah Sakit 1. Dasar Pengelolaan Sampah Sampah Medis di Rumah Sakit Pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas atau radioaktif dengan metoda dan keahlain khusus untuk masing masing jenis zat (Ensiklopedia bebas, http:// http://id.wikipedia.org diakses tanggal 30 Maret 2013). 2. Sampah Medis di Rumah Sakit a. Pengertian Sampah Rumah Sakit

Menurut WHO memberikan pengertian bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sampah adalah limbah padat yang dibuang dari aktivitas manusia (Madelan, 2003). Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 30 Maret 2013). Kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah (Jefri huta galung, http://jefrihutagalung.wordpress.com diakses tanggal 30 Maret 2013). b. Sumber dan karakteristik limbah rumah sakit Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang berbentuk padat maupun cair yang berasal dari kegiatan Rumah Sakit baik kegiatan medis maupun nonmedis yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radioaktif. Apabila tidak ditangani dengan baik, limbah rumah sakit dapat menimbulkan masalah baik dari aspek pelayanan maupun estetika selain dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan menjadi sumber penularan penyakit (infeksi nosokomial). Adapun jenis limbah yang dihasilkan dari Rumah Sakit dapat dibagi menjadi dua, seperti : 1) Limbah Medis a) Padat

b) Cair c) Radioaktif

2) Limbah non medis a) Padat

b) Cair Limbah padat Medis adalah limbah yang langsung dihasilkan dari tindakan diagnosis dan tindakan medis terhadap pasien. Termasuk dalam kegiatan tersebut juga kegiatan medis di ruang Poliklinik, perawatan, bedah, kebidanan, otopsi, dan

ruang laboraturium. Limbah padat medis juga sering disebut sebagai sampah biologis. Sampah biologis terdiri dari : 1. Sampah medis yang dihasilkan dari ruang poliklinik, ruang perawatan, ruang bedah, atau ruang kebidanan seperti, misalnya perban, kasa, alat injeksi, ampul, dan botol bekas obat injeksi, kateter, swab, plester, masker, dan sebagainya. 2. Sampah patologis yang dihasilkan dari ruang poliklinik, bedah, kebidanan, atau ruang otopsi, misalnya plasenta, jaringan organ, anggota badan, dan sebagainya. 3. Sampah laboraturium yang dihasilkan dari pemeriksaan lab. Diagnostik atau penelitian, misalnya, sediaan atau media sample dan bangkai binatang percobaan. Limbah padat nonmedis adalah semua sampah padat diluar sampah padat medis yang dihasilkan dari berbagai kegiatan, seperti berikut : a. Kantor atau Administrasi b. Unit Perlengkapan c. Ruang Tunggu d. Ruang Inap e. Unit gizi atau dapur f. Halaman Parkir dan taman g. Unit Pelayanan Sampah yang dihasilkan dapat berupa kertas, karton, kaleng, botol sisa makanan, sisa kemasan, kayu, logam, daun, serta ranting, dan sebagainya. Limbah cair medis adalah limbah cair yang mengandung zat beracun, seperti bahan bahan kimia anorganik. Zat zat organik yang berasal dari air bilasan ruang bedah dan otopsi apabila tidak dikelola dengan baik, atau langsung dibuang ke saluran pembuangan umum akan sangat berbahaya dan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap serta mencemari lingkungan. Limbah Cair Nonmedis merupakan limbah rumah sakit yang berupa :

1. Kotoran manusia seperti tinjan dan air kemih yang berasal dari kloset dan peturasan di dalam toilet atau kamar mandi. 2. Air bekas cucian yang berasal dari lavatory, kitchen sink, atau floor drain dari ruangan-ruangan di rumah sakit (Chandra, 2006). Adapun limbah klinis dikategorikan menjadi 5 golongan sebagai berikut : a. Golongan A : 1) Dreesing Bedah, swab dan semua limbah terkontaminasi dari kamar bedah 2) Bahan Bahan kimia dari kasus penyakit infeksi 3) Seluruh jaringan tubuh manusia (terinfeksi maupun tidak),

bangkai/jaringan hewan dari laboraturium dan hal - hal lain yang berkaitan dengan swab dan dreesing. b. Golongan B : Syringe bekas, jarum, cartridge, pecahan gelas dan benda benda tajam lainnya c. Golongan C : Limbah dari ruangan Laboraturium dan Postpartum kecuali yang termasuk dalam Golongan A d. Golongan D : Limbah bahan kimia dan bahan bahan farmasi tertentu. e. Golongan E : Pelapis bed-pan disposable, urinoir, incontinence-pad, dan stomach (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 30 Maret 2013).

c.

Pengelolaan Limbah Di Rumah Sakit Pengelolaan limbah Rumah Sakit harus dilakukan dengan benar dan efektif dan memenuhi persyaratan sanitasi. Adapun persyaratan sanitasi yang harus dipenuhi, antara lain :

1) Limbah tidak boleh mencemari tanah, air permukaan, atau air tanah, dan juga udara 2) Limbah tidak boleh dihinggapi lalat, tikus, dan binatang lainnya 3) Limbah tidak menimbulkan bau busuk dan pemandangannya yang tidak baik. 4) Limbah cair yang beracun harus dipisahkan dari limbah cair lain dan harus memiliki tempat penampungannya sendiri (Chandra, 2007).

D. Tinjauan Umum tentang Pemilahan Secara umum Pemilahan adalah proses pemisahan Limbah dari sumbernya, dalam PERMENKES 1204/MENKES/SK/X/2004 menjelaskan bahwa pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 30 Maret 2013).

E. Tinjauan Umum tentang Pewadahan Secara umum pewadahan sampah merupakan kegiatan menampung sampah sebelum sampah dikumpulkan dan dikelola lebih lanjut. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pewadahan sampah, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Awet Tahan air Mudah diperbaiki Ekonomis Ringan Warna tidak mencolok Untuk lokasi wadah harus diusahakan di tempat tempat yang mudah dijangkau. (Jefri huta galung, http://jefrihutagalung.wordpress.com diakses tanggal 30 Maret 2013). Khusus limbah medis rumah sakit, syarat pewadahan menurut PERMENKES 1204/MENKES/SK/X/2004 adalah :

Memenuhi syarat jika : a. b. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. c. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : 1) Sampah radioaktif menggunakan warna merah 2) Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning 3) Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning 4) Sampah sitotoksis menggunakan warna unguSampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 30 Maret 2013). F. Tinjauan Umum tentang Pengumpulan Pengumpulan sampah merupakan proses pengambilan sampah yang dimulai dari tempat penampungan sampah dari sumber sampah ketempat pengumpulan sementara atau langsung ketempat pembuangan akhir. Pengambilan sampah semakin sering akan semakin baik hanya saja bianya tidaklah sedikit dan tidak efektif serta efesien (Jefrihutagalung, http://jefrihutagalung.wordpress.com diakses tanggal 30 Maret 2013). Limbah jangan sampai menumpuk di satu titik pengumpulan. Program rutin untuk pengumpulannya harus ditetapkan sebagai bagian dari rencana pengelolaan limbah layanan kesehatan. Berikut beberapa rekomendasi khusus yang harus dipatuhi oleh tenaga pendukung yang bertugas mengumpulkan limbah: 1. Limbah harus dikumpulkan setiap hari (atau sesuai frekuensi yang ditetapkan) dan diangkut ke pusat lokasi penampungan yang ditentukan. 2. Jangan memindahkan satu kantong limbah pun kecuali labelnya memuat keterangan lokasi produksi (rumah sakit dan bangsal atau bagian-bagiannya) dan isinya. 3. Kantong dan kontainer harus diganti segera dengan kantong dan kontainer baru dari jenis yang sama (A.Pruss, 2005).

Pengumpulan dan penyimpanan limbah media padat di lingkungan rumah sakit, yaitu : a. Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup. b. Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 30 Maret 2013).

G. Tinjauan Umum tentang Pengangkutan Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus 2. Tidak akan menjadi sarang serangga 3. Mudah dibersihkan dan dikeringkan 4. Sampah tidak menempel pada alat angkut 5. Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain: a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 30 Maret 2013).

H. Tinjauan Umum tentang Pembuangan dengan Penanganan Secara umum dalam tahap pembuangan dan pemusnahan menurut terdapat metode yang dapat digunakan antara lain : 1. Sanitari Landfill yaitu sistem pemusnahan yang paling baik. Dalam metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis.

2. Inceneration yaitu suatu metode pemusnahan sampah dengan cara membakar sampah secara besar besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik. 3. Composting yaitu pemusnahan sampah dengan cara memanfaatkan proses dekomposisi zat organik oleh kuman kuman pembusuk pada kondisi tertentu. 4. Hot feeding yaitu pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (misalnya babi). Tapi perlu diingat bahwa sampah basah tersebut harus dilolah lebih dahulu (dimasak atau direbus) untuk mencegah penularan penyakit cacing dan trichinosis kehewan ternak. 5. Discharge to sewers yaitu sampah dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam sistem pembuangan air limbah memang baik. 6. Dumping yaitu sampah dibuang atau diletakkan begitu saja di tanah lapangan, jurang, atau tempat sampah. 7. Dumping in water yaitu sampah dibuang kedalam air sungai atau laut. Akibatnya, terjadi pencemaran pad air dan pendangkalan yang dapat menimbulkan bahaya banjir. 8. Individual inceneration yaitu pembakaran sampah secara perorangan ini biasa dilakukan dipedesaan. 9. Recycling yaitu pengolahan kembali bagian bagian sampah yang masih dapat dipakai atau daur ulang. Contoh bagian sampah yang dapat didaur ulang, antara lain, plastik,gelas,kaleng,besi, dan sebagainya. 10. Reduction, metode ini diterapkan dengan cara menghancurkan sampah (biasanya dari jenis gerbage) sampai kebentuk yang lebih kecil, kemudian diolah untuk menghasilkan lemak. 11. Salvaging yaitu pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali misalnya kertas bekas. Bahayanya adalah bahwa metode ini dapat menularkan penyakit (Chandra, 2007). Tapi penganjuran untuk pemusnahan sampah medis yaitu : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. Menggunakan Insenerator

c. Menggunakan otoklaf (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 30 Maret 2013).

I.

Tinjauan Umum tentang Tenaga Pengelola Limbah di Rumah Sakit Petugas pengelola limbah (PPL) bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan dan pemantauan harian terhadap sistem pengelolaan limbah. Dengan demikian, ia harus memiliki askes langsung ke semua anggota staf rumah sakit. PPL bertanggung jawab langsung kepada direktur rumah sakit. Ia harus bekerja sama dengan petugas pengontrol infeksi, kepala bagian farmasi, dan teknisi radiologi agar memahami prosedur yang didalam penanganan dan pembuangan limbah patologi, farmasi, kimia, dan limbah radioaktif. Adapun peran dan fungsi seorang sanitarian adalah : 1. Berperan sebagai tenaga pelaksana kegiatan kesehatan lingkungan, dengan fungsi: a. Menentukan komponen lingkungan yang mempengaruhi kesehatan lingkungan b. Melaksanakan pemeriksaan dan pengukuran komponen lingkungan secara tepat berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan c. Menginformasikan hasil pemeriksaan/pengukuran. 2. Berperan sebagai tenaga pengelola kesehatan lingkungan, dengan fungsi: a. Menganalisis hasil pengukuran komponen lingkungan yang mempengaruhi kesehatan lingkungan b. Merancang dan merekayasa intervensi masalah lingkungan yang

mempengaruhi kesehatan manusia. c. Mengintervensi hasil pengukuran komponen lingkungan yang mempengaruhi kesehatan manusia d. Mengorganisir intervensi masalah komponen lingkungan e. Mengevaluasi hasil intervensi masalah komponen lingkungan 3. Berperan sebagai tenaga pengajar, pelatih dan penyuluh kesehatan lingkungan, dengan fungsi:

a. Menginventarisasi pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan lingkungan b. Menetapkan masalah kesehatan lingkungan yang perlu diintervensi dari aspek pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat c. Merencanakan bentuk intervensi terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan lingkungan d. Melaksanakan intervensi terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan kaidah kesehatan lingkungan e. Mengevaluasi hasil intervensi. 4. Berperan sebagai tenaga peneliti kesehatan lingkungan dengan fungsi: a. Menentukan masalah kesehatan lingkungan b. Melaksanakan penelitian teknologi tepat guna bidang kesehatan lingkungan (Poltekes Depkes Pontianak Jurusan Kesling, http://kesling.poltekkespontianak.org diakses tanggal 30 Maret 2013). Adapun kualifikasi tenaga kesehatan lingkungan di rumah sakit menurut yakni : 1) Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas A dan B (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah sarjana (S1) di bidang kesehatan lingkungan, teknik lingkungan, biologi, teknik kimia, dan teknik sipil. 2) Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah diploma (D3) di bidang kesehatan lingkungan. 3) Rumah sakit pemerintah maupun swasta yang sebagian kegiatan kesehatan lingkungannya dilaksanakan oleh pihak ketiga, maka tenaganya harus berpendidikan sanitarian dan telah megikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

4) Tenaga sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2, diusahaan mengikuti pelatihan khusus di bdaing kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pihak lain terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Departemen Kesehatan, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 30 Maret 2013).

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Peneilitian ini dilaksanakan di Rumah Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember pada tanggal 01 April 2013 dengan survey lapangan dan system wawancara, maka keadaan sistem pengelolaan sampah medis di Rumah Sakit tersebut digambarkan sebagai berikut : Rumah Umum Daerah Kalisat Kabupaten Jember

Proses pemilahan

Proses pewadahan disetiap RS

Pengumpulan

1. Pemilahan Terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis dimana sudah disedikan tempat sampah antara sampah medis dan non medis. Untuk dilakukan pembuangan sampah ke tempat penampungan sementara juga terjadi pemilahan untuk sampah medis dan non medis. Pemilahan ini dilakukan oleh petugas medis diruangan sesuai dengan tempat sampah yang sudah disediakan rumah sakit. Sebelum dibuang juga dipilah oleh petugas kebersihan, dimana dilakukan oleh 3 orang.

2. Pewadahan Pewadahan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, jumlah tempat sampah yang berada disetiap ruangan sebanyak 2 Buah dan semuanya memenuhi syarat kesehatan. Tempat sampahnya sudah memiliki tempat sampah anti bocor dan anti tusuk, memiliki tutup, pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer).

3. Pengumpulan Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana

pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh setiap ruangan. Dengan rata rata jumlah berat sampah yang dihasilkan setiap harinya 45 Kg/ hari. Pengumpulan sampah dilakukan oleh 3 orang petugas kebersihan yang berasal dari pegawai luar rumah sakit.

4. Pengangkutan Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, yang sesuai dengan syarat kesehatan yakni Kereta atau troli yang

digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : a. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus b. Tidak akan menjadi sarang serangga c. Mudah dibersihkan dan dikeringkan d. Sampah tidak menempel pada alat angkut e. Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain: 1) Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. 2) Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana Tetapi yang terjadi diruangan adalah alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara dengan menggunakan kantong plastik, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan pihak rumah sakit tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. 5. Pembuangan dan Penanganan Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, disebabkan sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan akhir dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan untuk sampah non medis yaitu dengan melalui proses pembakaran yang dilakukan seminggu 2 kali yang dilakukan langsung oleh pengawai kebersihan rumah sakit.

B. PEMBAHASAAN 1. Pemilahan

Berdasarkan hasil penelitian bahwa ada pemilahan antara Sampah medis dan Non medis, ini terlihat dari fungsi tempat sampah yang berada di setiap ruangan medis berfungsi sesuai dengan fungsinya, sampah medis tidak tercampur baur dengan jenis sampah lainnya, Sehingga pemilahan sampah medis dan non medis terjadi. pengertian pemilahan dalam PERMENKES 1204/Menkes/SK/X/2004 yang menyebutkan bahwa secara umum pemilahan adalah proses pemisahan limbah dari sumbernya, pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat.

2. Perwadahan Berdasarkan hasil penelitian bahwa wadah sampah medis yang berada di ruangan medis bentuk tempat sampah yang ada anti bocor dan anti tusuk , memiliki tutup, dan pewadahan menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer). Adapun syarat kesehatan menurut permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu Memenuhi syarat jika: a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong

plastik/kontainer)

3. Pengumpulan Berdasarkan hasil penelitian proses pengumpulan sampah di rumah sakit ini sudah memenuhi syarat kesehatan, sesuai dengan yang ditetpakan oleh Departemen Kesehatan R.I yakni penyimpanan limbah medis padat harus sesuai dengan iklim

tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam, dan yang terjadi dirumah sakit sampah yang dihasilkan setiap harinya dalam jangka waktu 1 x 24 Jam akan dikumpulkan dan dibuang ketempat pembuangan sementara. Proses pengumpulan sampah biasanya dimulai pada pagi hari pukul 07.00 Wita sampai selesai. dan sampah sampah yang sudah penuh ditempat sampah langsung dikumpulkan kemudian dibuang ketempat pembuangan sementara oleh petugas kebersihan rumah sakit.

4. Pengangkutan Berdasarkan hasil penelitian proses pengankutan yang terjadi di rumah sakit tidak memenuhi syarat kesehatan dikarenakan dimana alat angkut sampah medis untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni menggunakan kantong plastic yang dilakukan langsung oleh petugas kesehatan di rumah sakit. untuk dibuang ketempat pembuangan sementara. Sampah non medis terkadang diangkut dengan menggunakan kereta dorong yang terbuat dari kayu. Dampak negatif bisa saja terjadi pada petugas kebersihan rumah sakit,

ditambah lagi petugas kebersihan tidak memakai alat pelindung diri contohnya kaos tangan, dan masker, sehingga mudah untuk terkontaminasi dengan sampah medis. Yang dimana harus sesuai dengan syarat kesehatan Adapun yang disarankan menurut syarat kesehatan yaitu Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : a. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus b. Tidak akan menjadi sarang serangga c. Mudah dibersihkan dan dikeringkan d. Sampah tidak menempel pada alat angkut e. Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali

Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : 1) Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. 2) Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana.

5. Penanganan Berdasarkan hasil penelitian sampahsampah yang telah diangkut dari ruangan medis semuanya melalui proses pemusnahan yang sesuai dengan syarat kesehatan. Setelah terangkut sampah tersebut dipilah kembali antara non medis dan medis. Untuk sampah non medis proses pemusnahannya melalui proses pembakaran langsung dengan alat yang ada dirumah sakit. Sedangkan untuk sampah non medis proses pemusnahan yang tidak sesuai dengan syarat kesehatan, setelah diangkut dan dipilah langsung oleh petugas kebersihan rumah sakit sampah tersebut langsung dibawa ketempat pembuangan akhir tanpa sebelum aman bagi kesehatan dan tidak menggunakan Insenerator maupun menggunakan otoklaf yang sesuai dengan syarat.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN