Anda di halaman 1dari 20

ASSALAMUALAIKUM

Kelompok 5
Fatima Yunita Sari Atina Rizanatul Fahriyah Ike Ayuhani Marganing Tyas Wicaksanti Elsa Alfianisa Fadhilla (10670007) (10670009) (10670032) (11670025) (11670027) (12670010)

Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Hasin al-Khatab al-Bakri (Jalaludin Rumi) atau sering disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 16 Rabiul awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi.

Pada tahun 1219, ketika Jalaluddin Rumi berusia 12 tahun, ayahnya, Bahauddin Walad, secara tiba-tiba bersama keluarganya meninggalkan Balkh dan melakukan perjalanan menuju barat. Alasan yang dinyatakan orang (secara positif tetapi tanpa bukti) mengenai kepindahan ini, sebagai akibat dari inspirasi Ilahi maupun intrik manusiawi, tentu saja fiktif.

Dikisahkan bahwa dia telah menjadi seorang teolog yang terkenal, seorang guru dan khatib besar yang dimulikan oleh para muridnya dan sangat dihormati oleh pihak kerajaan karena bertindak sebagai penuntun spiritualnya. Jalaluddin yang sekarang berusia 25 tahun menjadi sangat bergairah kepada disiplin dan ajaran-ajaran para Sufi (orang-orang lelaki atau perempuan yang berusaha menyatukan diri mereka dengan Tuhan).

Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah berada di atas semua ulama di Konya. Gelar Maulana Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Rumi bertemu mistikus Syamsuddin Tabriz (Syam) dan sejak saat itu ia tidak terpisahkan dari Syam. Dan di bawah pengaruh Syams, ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah, tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik.

Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya, membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari. Ketika usianya menginjak 48 tahun, Rumi mulai memilih hidup sebagai seorang sufi. Rumi benar-benar mulai berubah. Ia sangat menghormati guru tasawufnya itu. Perlahanlahan, Rumi mulai meninggalkan tugasnya sebagai seorang guru. Selain memilih hidup sebagai sufi, ia pun mulai menggubah puisi.

Bersama sahabatnya Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para Darwisy yang berputar-putar). Sampai meninggalnya, Rumi tak pernah berhenti menari, karena dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai.

Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan,penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan kepulangannya.

1. Divan-Syamsi-i-Tabriz. Divan adalah semacam sajak-sajak pujian seperti qasidah dalam sastra Arab. Dalam sastra sufi dan keagamaan yang dipuji ialah sifat, kepribadian, akhlaq dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang tokoh.

2. Matsnawi-i-Ma`nawi. Artinya karangan bersajak tentang makna-makna atau rahasia terdalam ajaran agama. Ini merupakan karya Rumi yang terbesar, tebalnya sekitar 2000 halaman dibagi menjadi enam jilid. Kitab ini juga disebut Husami-nama (Kitab Husam). 3. Ruba`iyat. Walaupun tidak terkenal seperti Divan dan Matsnawi, namun sajak-sajak dalam antologi ini tidak kurang indah dan agungnya dari sajak Rumi yang lain. Melalui kitabnya ini Rumi memperlihatkan dirinya sebagai salah seorang penyair lirik yang agung bukan saja dalam sejarah sastra Persia, namun juga dalam sejarah sastra dunia.

4. Fihi Ma Fihi (Di Dalam Ada Seperti Yang Di Dalam). Karyanya yang berjudul Fihi Ma Fihi yang berarti engkau akan mendapat apa yang ada di dalamnya, mengurai berbagai keadaan dan ajaran-ajaran sufi yang sifatnya umum dan dapat dibaca setiap orang.

5. Makatib. Kumpulan surat-surat Rumi kepada sahabat-sahabat dekatnya, khususnya Syalahuddin Zarkub dan seorang menantu perempuannya.

Rumi tidak pernah berusaha menulis sebuah buku ataupun memberikan penjelasanpenjelasan secara rinci mengenai ajaranajarannya. Sebagaian besar ulasannya bahkan mengarah pada corak yang tidak sistematis dan anekdotis. Ajaran-ajaran Rumi selalu mengacu pada Al-quran, sunnah nabi, dan ajaran-ajaran kaum sufi terdahulu.

Pesan-pesan Rumi bersifat universal. Dan dia sangat liberal dalam menggunakan tamsilantamsilan yang diambil dari sumber-sumber yang tidak terasa asing bagi setiap orang. Menurut pandangan Jalaluddin Rumi, hidup di dunia ini harus bisa memanfaatkan apa yang ada pada manusia itu sendiri untuk membentuk jiwa hingga selalu ingat dan menghambakan diri kepada-Nya dan kecintaan yang tumbuh mekar membuat cinta menjadi asyik maksyuk dan dalam tingkat inilah yang membuka segala rahasia yang ada ini.

Menurut Jalaluddin Rumi, dalam diri harus ditumbuh dan dimekarkan cinta. Karena cinta itu ada pada semua yang ada. Ia menjadi alat penggerak segala makhluk menuju cinta abadi. Cinta demikian, meningkat kepada cinta tanpa batas dan bertemu dengan cinta yang hakiki. Manusia tidak diciptakan untuk memuaskan sisi materi dari wujudnya; namun sisi materi justru merupakan wahana yang dengannya dia akan mendekati perbatasan Keabadian.

Sufi Menurut Jalaluddin Rumi


Dalam pandangan Rumi, manusia tidak diciptakan untuk memuaskan sisi materi dari wujudnya; namun sisi materi justru merupakan wahana yang dengannya dia akan mendekati perbatasan Keabadian. Rumi percaya bahwa disamping lima indera materi kita, ada lima indera abadi yang hubungannya dengan dunia gaib dan keabadian.

Dalam pandangan Rumi, kenaikan diri manusia menuju penggalaman transformatif dapat dicapai oleh siapa saja yang layak memperoleh pertolongan Tuhan dan dukungan-Nya. Pertolongan Ilahi akan memampukan manusia untukmengubah indera lahirnya menjadi indra batin atau hawass-I batin. Untuk perubahan serupa, ekspresi Rumi dalam guzara syudan-I hawass, atau berlalunya indera melintas selubung kebodohan. Ekspresi lain untuk perubahan ini adalah taqlib-i rabb atau taqlib-I khuda, perubahan spiritual yang dilakukan Tuhan, yang dengannya Rumi merujuk pada hadits Nabi sesuai dengan hati manusia yang berada diantata dua jemari Tuhan sebagai sebantuk hati tunggal, dan dia memalingkan hati itu sesuka dia.

Kesimpulan
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 16 Rabiul awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin Rumi bertemu mistikus Syamsuddin Tabriz (Syam) dan sejak saat itu ia tidak terpisahkan dari Syam. Ketika usianya menginjak 48 tahun, Rumi mulai memilih hidup sebagai seorang sufi. Bersama sahabatnya Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para Darwisy yang berputar-putar). Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah.

TERIMA KASIH SEMOGA BERMANFAAT :D