P. 1
ipm

ipm

|Views: 14|Likes:
Dipublikasikan oleh Entis Sustriya Sind

More info:

Published by: Entis Sustriya Sind on May 15, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2014

pdf

text

original

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . .

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Saat ini pembangunan bukan hanya ditujukan dalam wujud pembangunan fisik
berupa sarana dan prasarana infrastruktur, tetapi dalam cakupan yang lebih luas seperti
yang pertama kali dikemukakan oleh Cicero yaitu mewujudkan masyarakat madani (civil
society). Karakteristik masyarakat madani adalah masyarakat yang sehat, demokratis,
toleran, menjunjung tinggi supremasi hukum dan mempunyai wawasan serta pengetahuan
yang luas.
Paradigma pembangunan telah mengalami perubahan karena tidak lagi
menempatkan manusia sebagai objek atau sasaran pembangunan, tetapi dilibatkan dalam
proses pembangunan sebagai subjek yang ikut mengambil keputusan yang dalam terminologi
pembangunan hal tersebut dikenal sebagai people centered development. Perubahan ini
sangat penting untuk meningkatkan manusia secara kualitas, sehingga menjadi modal yang
sangat berharga untuk pembangunan secara keseluruhan. Peningkatan kualitas manusia
telah ditunjukkan dengan corak pembangunan saat ini, yaitu tidak hanya mementingkan
pertumbuhan ekonomi melainkan juga mengarah pada peningkatan kualitas. Komitmen
pemerintah untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia telah diwujudkan sebagai
salah satu kebijaksanaan strategis. Berbagai program dan kegiatan untuk mengakselerasi
pembangunan kualitas manusia menjadi prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
maupun Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).
Pembangunan manusia adalah upaya yang dilakukan untuk memperluas peluang
penduduk mencapai hidup layak, yang secara umum dapat dilakukan melalui peningkatan
kapasitas dasar dan daya beli. Peningkatan kapasitas dasar pada dasarnya merupakan upaya
meningkatkan produktivitas penduduk melalui peningkatan pengetahuan dan derajat
kesehatan. Sedangkan peningkatan daya beli ditempuh melaui pertumbuhan ekonomi,
sehingga tercipta perluasan lapangan kerja. Dalam RKP, hal tersebut diwujudkan dalam triple
track strategy yaitu progrowth, propoor and projob.
Dalam kajian pembangunan manusia diperlukan suatu alat ukur yang mempunyai
perbandingan antarwilayah dan antarwaktu. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sampai
sejauh ini adalah metode yang paling memadai untuk mengukur pencapaian pembangunan
manusia di suatu daerah dengan memperhatikan pada tiga faktor yang paling essensial dalam
kehidupan manusia yaitu kelangsungan hidup, pengetahuan, dan daya beli.
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 2
1.2. Tujuan
Secara garis besar, penyusunan publikasi ini memiliki tujuan untuk menggambarkan
kualitas penduduk Kabupaten Majalengka dengan cara :
a. Menjelaskan pengertian serta makna IPM dan prosedur penghitungannya.
b. Menampilkan angka IPM pada tahun 2009 serta perbandingannya dengan beberapa
wilayah sekitar.

1.3. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi
Nasional (SUSENAS) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten
Majalengka dari tahun 2008 dan tahun 2009. Dalam beberapa hal yang menyangkut data
pembanding, digunakan pula data dari hasil survei yang lain seperti Survei Sosial Ekonomi
Daerah Jawa Barat (Suseda Jawa Barat), Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dan
Sensus Penduduk.




















IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 3
BAB II
METODOLOGI PENGHITUNGAN IPM

2.1. Pendahuluan
Setelah terjadinya reformasi dalam sejarah bangsa Indonesia tahun 1998, terjadi pula
perubahan-perubahan mendasar dalam sistem politik, ekonomi maupun pemerintahan.
Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32
tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah membuka paradigma baru dalam sistem
pemerintahan daerah. Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan yang lebih luas dalam
menyusun strategi dan kebijakan pembangunan, sehingga dapat lebih terarah dan fokus
sesuai dengan fenomena yang terjadi di wilayahnya.
Pembangunan manusia Indonesia menempatkan manusia sebagai titik sentral,
sehingga mempunyai ciri dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam kerangka ini, maka
pembangunan nasional ditujukan untuk meningkatkan partisipasi rakyat dalam semua
proses dan kegiatan pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah melakukan
upaya meningkatkan kualitas penduduk sebagai sumber daya, baik dari segi aspek fisik
(kesehatan), aspek intelektualitas (pendidikan), aspek kesejahteraan ekonomi (berdaya beli),
maupun aspek moralitas (iman dan taqwa), sehingga partisipasi rakyat dalam pembangunan
akan meningkat. Hal ini selain sesuai dengan tujuan pembangunan nasional yang tercantum
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa secara implicit, juga mengandung makna pemberdayaan
penduduk.
Untuk meningkatkan efektivitas pembangunan manusia, penggunaan data statistik
dalam perencanaan, pemantauan, dan evaluasi, tidak dapat dihindari. Perencanaan
pembangunan tanpa didukung oleh data statistik yang baik, mustahil akan berjalan dengan
baik dan mampu mencapai sasaran yang tepat. Untuk mengukur kemajuan pencapaian
pembangunan manusia melalui kapasitas dasar dan daya beli dilakukan melalui kajian
(analisis) Indeks pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini merupakan indikator yang telah
digunakan secara internasional untuk melihat perbandingan antarwilayah dan antarwaktu.
IPM sebenarnya berfungsi sebagai alat untuk advokasi, yaitu memberikan petunjuk dan
gambaran secara umum tentang status dan pencapaian pembangunan selama suatu periode.
Oleh karena itu IPM merupakan indeks komposit, untuk dapat digunakan dalam identifikasi
permasalahan yang dihadapai suatu daerah dan kemungkinan intervensi program yang
feasible, harus disajikan dalam indikator tunggal.

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 4
2.2. Indikator
Indikator merupakan petunjuk yang memberikan indikasi tentang sesuatu keadaan
dan merupakan refleksi dari keadaan tersebut. Dalam definisi lain, indikator dapat
didefinisikan sebagai variabel penolong dalam mengukur perubahan. Variabel-variabel ini
terutama digunakan apabila perubahan yang akan dinilai tidak dapat diukur secara langsung.
Indikator yang baik harus memenuhi berbagai persyaratan, antara lain :

 Sahih (valid), indikator harus dapat mengukur sesuatu yang sebenarnya akan diukur oleh
indikator tersebut;
 Obyektif, untuk hal yang sama, indikator harus memberikan hasil yang sama pula,
walaupun dipakai oleh orang yang berbeda dan pada waktu yang berbeda;
 Sensitif, perubahan yang kecil mampu dideteksi oleh indikator;
 Spesifik, indikator hanya mengukur perubahan situasi yang dimaksud. Namun demikian
perlu disadari bahwa tidak ada ukuran baku yang benar-benar dapat mengukur tingkat
kesejahteraan seseorang atau masyarakat.
Indikator bisa bersifat tunggal (indikator tunggal) yang isinya terdiri atas satu
indikator, seperti Angka Kematian Bayi (AKB) dan bersifat jamak (indikator komposit) yang
merupakan gabungan dari beberapa indikator, seperti Indeks Mutu Hidup (IMH) yang
merupakan gabungan dari 3 indikator yaitu Angka Melek Huruf (AMH), Angka Kematian Bayi
(AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) dari anak usia 1 tahun.
Menurut jenisnya, indikator dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :
a. Indikator Input, yang berkaitan dengan penunjang pelaksanaan program dan turut
menentukan keberhasilan program, seperti : rasio murid-guru, rasio murid-kelas, rasio
dokter, rasio Puskesmas.
b. Indikator Proses, yang menggambarkan bagaimana proses pembangunan berjalan,
seperti : Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), rata-rata jumlah
jam kerja, rata-rata jumlah kunjungan ke Puskesmas, persentase anak Balita yang
ditolong dukun.
c. Indikator Output dan Outcome, yang menggambarkan bagaimana hasil (output) dari
suatu program/ kegiatan telah berjalan, seperti : persentase penduduk dengan
pendidikan SMTA ke atas, AKB, Angka Harapan Hidup, TPAK, dan lain-lain.




IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 5
2.3. IPM dan Beberapa Indikator Komposit Pembangunan Manusia
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
- Indeks Pembangunan Jender (IPJ)
- Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ)
- Indeks Kemiskinan Manusia (IKM)
- Indeks Mutu Hidup (IMH/ PQLI)
Menurut Morris, syarat indikator komposit yang baik adalah :
1. Harus sahih untuk berbagai cara (pada pembangunan)
2. Tidak merupakan ukuran-ukuran dari nilai khusus masyarakat
3. Dapat mengukur “hasil”, bukan masukan.
4. Harus mampu menggambarkan distribusi dari hasil-hasil pembangunan
5. Harus sederhana dalam perhitungannya dan mudah dimengerti,
6. Harus bisa dipakai untuk perbandingan internasional.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Jender (IPJ), Indeks
Pemberdayaan Jender (IDJ), dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) merupakan indeks-
indeks komposit yang dikembangkan UNDP untuk mengukur tingkat pencapaian upaya
pembangunan manusia dari berbagai perspektif. IPM mengukur tingkat pencapaian upaya
pembangunan manusia secara keseluruhan, sedangkan IPJ mengukur hal yang sama tetapi
dengan memperhatikan disparitas jender. IDJ, di lain pihak, mengukur tingkat partisipasi
dan daya pengambilan keputusan (decision making power) di bidang ekonomi, politik, dan
kekuasaan terhadap sumber daya ekonomi. Jika IPM mengukur tingkat pencapaian
pembangunan manusia dari perspektif agregatif, maka IKM mengukur hal yang sama tetapi
dari sisi keterbatasan mendapat akses terhadap sumber daya ekonomi dan pelayanan umum.
Seperti halnya IPM, IKM melihat isu pembangunan manusia dengan pendekatan
manusia (human approach) yang berbeda, misalnya, persentase penduduk miskin (poverty
incidence) yang menggunakan pendekatan pendapatan (income approach). Bagian
selanjutnya dari bab ini menjelaskan tentang metodologi, sumber data, cara penghitungan
dan ilustrasi penghitungan IPM secara singkat.

2.4. Catatan Teknis Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia merupakan indeks komposit yang dihitung sebagai
rata-rata sederhana dari indeks harapan hidup (e0), indeks pendidikan (melek huruf dan
rata-rata lama sekolah), dan indeks standar hidup layak.


IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 6
2.4.1. Komponen dan Indikator IPM
Komponen IPM adalah usia hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar
hidup layak (decent living). Usia hidup diukur dengan angka harapan hidup atau e0 yang
dihitung menggunakan metode tidak langsung (metode Brass, varian Trussel) berdasarkan
variabel rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak yang masih hidup. Tahun rujukan e0
yang digunakan dalam laporan ini adalah 1990, 1995 (khusus untuk IKM), dan 1996, yang
diperoleh berdasarkan suatu model proyeksi. Rujukan tahun ini berbeda dengan rujukan
tahun yang digunakan dalam penghitungan IPM yang dipublikasikan BPS sebelumnya (1996)
yang berjudul “Indeks Pembangunan Manusia: Perbandingan Antar Provinsi 1990-1993”.
Model proyeksi menggunakan data historis sejak dekade 1960-an dan mengasumsikan,
antara lain, bahwa Angka Kematian Bayi akan mencapai 20 per 1.000 kelahiran pada tahun
2018. Penjelasan lebih rinci mengenai model proyeksi tersebut dapat diperiksa dalam
publikasi BPS yang akan datang. Komponen pengetahuan diukur dengan angka melek huruf
dan rata-rata lama sekolah yang dihitung berdasarkan data Susenas Kor. Sebagai catatan,
UNDP dalam publikasi tahunan HDR sejak 1995 menggunakan indikator partisipasi sekolah
dasar, menengah, dan tinggi sebagai pengganti rata-rata lama sekolah karena sulitnya
memperoleh data rata-rata lama sekolah secara global. Indikator angka melek huruf
diperoleh dari variabel kemampuan membaca dan menulis, sedangkan indikator rata-rata
lama sekolah dihitung dengan menggunakan dua variabel secara simultan; yaitu, tingkat
(kelas) yang sedang atau pernah dijalani dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Komponen standar hidup layak diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil yang
telah disesuaikan. Sebagai catatan, UNDP menggunakan indikator PDB per kapita riil yang
telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai ukuran komponen tersebut karena
tidak tersedia indikator lain yang lebih baik untuk keperluan perbandingan antar negara.
Penghitungan indikator konsumsi riil per kapita yang telah disesuaikan dilakukan
melalui tahapan pekerjaan sebagai berikut :
- Menghitung pengeluaran konsumsi per kapita dari Susenas Modul (=A).
- Mendeflasikan nilai A dengan IHK ibuKota Provinsi yang sesuai (=B).
- Menghitung daya beli per unit (=PPP/ unit). Metode penghitungan sama seperti metode
yang digunakan International Comparison Project (ICP) dalam menstandarkan nilai PDB
suatu negara.
Data dasar yang digunakan adalah data harga dan kuantum dari suatu basket komoditi
yang terdiri atas nilai 27 komoditi yang diperoleh dari Susenas Modul (Tabel 1).
- Membagi nilai B dengan PPP/ unit (=C).
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 7
- Menyesuaikan nilai C dengan formula Atkinson sebagai upaya untuk memperkirakan nilai
marginal utility dari C.


Penghitungan PPP/ unit dilakukan dengan rumus :


Keterangan :
E(i,j) : pengeluaran untuk komoditi j di Provinsi ke-i
P(9,j) : harga komoditi j di DKI Jakarta
q(i,j) : jumlah komoditi j (unit) yang dikonsumsi di Provinsi ke-i

Unit kuantitas rumah dihitung berdasarkan indeks kualitas rumah yang dibentuk dari
tujuh komponen kualitas tempat tinggal yang diperolah dari Susenas Kor. Ketujuh komponen
kualitas yang digunakan dalam penghitungan indek kualitas rumah diberi skor sebagai
berikut :
- Lantai : keramik, marmer, atau granit =1, lainnya =0
- Luas lantai per kapita : > 10 m
2
=1, lainnya =0
- Dinding : tembok =1, lainnya =0
- Atap : kayu (sirap), beton =1, lainnya =0
- Fasilitas penerangan : listrik =1, lainnya =0
- Fasilitas air minum : leding =1, lainnya =0
- Jamban : milik sendiri =1, lainnya =0
- Skor awal untuk setiap rumah =1

Indeks kualitas rumah merupakan penjumlahan dari skor yang dimiliki oleh suatu
rumah tinggal dan bernilai antara 1 sampai dengan 8. Kuantitas dari rumah yang dikonsumsi
oleh suatu rumah tangga adalah Indeks Kualitas Rumah dibagi 8. Sebagai contoh, jika suatu
rumah tangga menempati suatu rumah tinggal yang mempunyai Indeks Kualitas Rumah =6,
maka kuantitas rumah yang dikonsumsi oleh rumah tangga tersebut adalah 6/ 8 atau 0,75
unit.
Perlu dicatat bahwa sewa rumah, bensin dan air minum merupakan komoditi baru
dalam penghitungan PPP/ unit. Ketiga komoditi tersebut tidak diperhitungkan dalam
publikasi BPS sebelumnya (1996). Oleh karena perbedaan tadi, maka IPM dalam publikasi
tersebut tidak dapat dibandingkan dengan IPM dalam publikasi ini.
¿
¿
=
j
j
)

q

. (p

E

PPP/unit
j) (i,

j) (9,
j) (i,
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 8

TABEL 1
Daftar Komoditas Terpilih Untuk Menghitung
Paritas Daya Beli (PPP)


Komoditi Satuan
Sumbangan thd
Total konsumsi (%)
(1) (2) (3)
1. Beras lokal
2. Tepung terigu
3. Ketela pohon
4. Ikan tongkol (tuna) cakalang
5. Ikan teri
6. Daging sapi
7. Daging ayam kampung
8. Telur ayam
9. Susu kental manis
10. Bayam
11. Kacang panjang
12. Kacang tanah
13. Tempe
14. Jeruk
15. Pepaya
16. Kelapa
17. Gula pasir
18. Kopi bubuk
19. Garam
20. Merica/ lada
21. Mie instant
22. Rokok kretek filter
23. Listrik
24. Air minum
25. Bensin
26. Minyak tanah
27. Sewa rumah
Kg
Kg
Kg
Kg
Ons
Kg
Kg
Butir
397 gram
Kg
Kg
Kg
Kg
Kg
Kg
Butir
Ons
Ons
Ons
Ons
80 gram
10 batang
Kwh
M
3

Liter
Liter
Unit
7.25
0.10
0.22
0.50
0.32
0.78
0.65
1.48
0.48
0.30
0.32
0.22
0.79
0.39
0.18
0.56
1.61
0.60
0.15
0.13
0.79
2.86
2.06
0.46
1.02
1.74
11.56
Total 37.52

Rumus Atkinson yang digunakan untuk penyesuaian rata-rata konsumsi riil secara
matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

C (i)* = C (i) jika C(i) > Z
= Z +2(C(i) – Z)
(1/ 2)
jika Z <C(i) s2Z
= Z +2(Z)
(1/ 2)
+3(C(i)-2Z)
(1/ `3)
jika 2Z <C(i) s3Z
= Z +2(Z)
(1/ 2)
+3(Z)
(1/ 3)
+4(C(i)-3Z)
(1/ 4)
Jika 3Z <C(i) s4Z
Keterangan :
C(i) = konsumsi per kapita riil yang telah disesuaikan dengan PPP/ unit
(hasil tahapan 5)
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 9
Z = threshold atau tingkat pendapatan tertentu yang digunakan sebagai
batas kecukupan yang dalam laporan ini nilai Z ditetapkan secara
arbiter sebesar Rp 547.500,- per kapita setahun, atau Rp 1.500,- per
kapita per hari.

2.4.2. Rumus dan Ilustrasi Penghitungan IPM
Rumus penghitungan IPM dapat disajikan sebagai berikut :
IPM = 1/ 3 (X(1) + X(2) +X(3)) ………………..(1)
Keterangan :
X(1) : Indeks harapan hidup
X(2) : Indeks pendidikan =2/ 3 (indeks melek huruf) +1/ 3 (indeks
rata-rata lama sekolah)
X(3) : Indeks standar hidup layak

Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara
selisih nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai
minimum indikator yang bersangkutan. Rumusnya dapat disajikan sebagai berikut :

Indeks X(i) =(X(i) - X(i)min) / (X(i)maks – X(i)min) ………………(2)

Keterangan :
X(i) : Indikator Ke-i (i =1,2,3)
X(i)maks : Nilai maksimum X(i)
X(i)min : Nilai minimum X(i)
Nilai maksimum dan nilai minimum indikator X(i) disajikan pada Tabel 2

TABEL 2
Nilai Maksimum Dan Minimum Komponen IPM


Indikator Komponen IPM
(X=(i))
Nilai
Maksimum
Nilai
Minimum
Catatan
(1) (2) (3) (4)
Angka Harapan Hidup 85 25
Sesuai standar global
(UNDP)
Angka Melek Huruf 100 0
Sesuai standar global
(UNDP)
Rata-rata lama sekolah 15 0
Sesuai standar global
(UNDP)
Konsumsi per kapita yang
disesuaikan Tahun 1996
732.720,-
a)
300.000,-
b)

UNDP menggunakan PDB
per kapita riil yang
disesuaikan

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 10
Sebagai ilustrasi penghitungan dapat diambil kasus Kabupaten A tahun 2006 yang
memiliki data sebagai berikut :
- Angka harapan hidup : 65,24 tahun
- Angka melek huruf : 95,5 %
- Rata-rata lama sekolah : 6,5 tahun
- Konsumsi per kapita riil yang disesuaikan : Rp 579.580,-
Berdasarkan data tersebut, maka dapat dihitung indeks masing-masing komponen
menggunakan persamaan (2) :
- Indeks angka harapan hidup : (65,24 – 25) / (85 – 25) =0,671
- Indeks angka melek huruf : (95,5 – 0) / (100 – 0) =0,955
- Indeks rata-rata lama sekolah : (6,5 – 0) / (15 – 0) =0,433
- Indeks pendidikan : 2/ 3 (0,955) + 1/ 3 (0,433) =
0,781
- Indeks konsumsi per kapita riil yang disesuaikan
: (579,58–300)/ (732,7–300)=0,646
Akhirnya angka IPM dapat dihitung menggunakan persamaan (1) :
IPM =1/ 3 (0,671 +0,781 +0,646) =0,6993
Catatan : a) Proyeksi pengeluaran riil/ unit/ tahun untuk Provinsi yang memiliki angka
tertinggi (Jakarta) pada tahun 2018 setelah disesuaikan dengan formula
Atkinson. Proyeksi mengasumsikan kenaikan 6,5 persen per tahun selama
kurun 1993-2018.
b) Setara dengan dua kali garis kemiskinan untuk Provinsi yang memiliki angka
terendah tahun 1990 di daerah perdesaan (Sulawesi Selatan).
Sebagai catatan, dalam laporan ini IPM disajikan dalam ratusan (dikalikan 100)
sekedar untuk memudahkan membaca, sehingga IPM Kabupaten A tahun 2006, misalnya,
dinyatakan sebagai 69,93.

2.4.3. Ukuran Perkembangan IPM
Untuk mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu digunakan
reduksi Shortfall per tahun (annual reduction in shortfall). Ukuran ini secara sederhana
menunjukkan perbandingan antara capaian yang telah ditempuh dengan capaian yang masih
harus ditempuh untuk mencapai titik ideal (IPM =100). Prosedur penghitungan reduksi
shortfall IPM (=r) dapat dirumuskan sebagai berikut :

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 11



Keterangan :
IPMt : IPM pada tahun t
IPMt+n : IPM pada tahun t +n
IPMideal : 100

Sebagai catatan, rumus tersebut menghasilkan angka dalam persentase. Selain itu,
rumus tersebut dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan perubahan komponen IPM.
Sebagai ilustrasi, IPM Aceh pada tahun 1990 dan 1996 masing-masing 61.9 dan 70.1.
Reduksi shortfall selama kurun 1990-1996 untuk Provinsi itu adalah :






















....(3) ..........
) IPM - (IPM
100 x ) IPM - (IPM

t idea
t n t
n / 1
l
r
(
¸
(

¸

=
+
1,67
61,9 - 100
100 x 61,9) - (70,1
6 / 1
=
(
¸
(

¸

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 12
BAB III
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
KABUPATEN MAJALENGKA


3.1. Paradigma Pembangunan Manusia
Dalam empat dekade terakhir telah terjadi pergeseran paradigma tentang
pembangunan. Pada dekade 60-an, pembangunan berorientasi pada produksi, pada dekade
70-an bergeser ke paradigma pembangunan yang lebih menekankan kepada distribusi hasil-
hasil pembangunan. Selanjutnya pada dekade 80-an, muncul paradigma yang berorientasi
pada kebutuhan dasar manusia (basic need approach), menuju paradigma pembangunan
yang terpusat pada manusia pada dekade 90-an
Pembangunan manusia menurut definisi UNDP, adalah proses memperluas pilihan-
pilihan penduduk (“a process of enlarging people’s choice”). Dari sekian banyak pilihan ada
tiga pilihan yang dianggap paling penting yaitu sehat dan berumur panjang, bependidikan
serta akses ke sumber daya yang dapat memenuhi standar hidup layak. Pilihan lain yang
mungkin dianggap mendukung tiga pilihan di atas adalah kebebasan politik, hak asasi
manusia dan penghormatan hak pribadi (personal self respect). Atas dasar pengertian di atas
menjadi jelas bahwa pembangunan manusia lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi,
peningkatan pendapatan dan akumulasi modal. Peningkatan pendapatan mungkin hanya
satu dari sekian banyak pilihan, di samping itu pendapatan juga bukan merupakan satu-
satunya pilihan manusia agar dapat hidup sejahtera
Untuk mengukur ketiga pilihan utama tersebut, digunakan indeks komposit
berdasarkan tiga parameter. Ketiga parameter tersebut adalah, Pertama, derajat kesehatan
dan berumur panjang yang diukur dengan angka harapan hidup, mengukur keadaan sehat
dan berumur panjang. Kedua, pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-
rata lama sekolah, mengukur manusia yang cerdas, terampil, terdidik dan bertaqwa. Ketiga,
pendapatan yang diukur dengan daya beli masyarakat (purchasing power parity); mengukur
manusia yang mandiri dan memiliki akses untuk hidup layak.
Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran nasional perlu diberikan warna
tersendiri dalam penyusunan strategi pembangunan daerah dengan menempatkan fokus
pada pembangunan manusia. Strategi pembangunan nasional sebenarnya telah
mengisyaratkan dan mengarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi seiring dengan
peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Kebijakan ini mengandung nilai strategis dan
anitisipatif menuju pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Investasi ke arah
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 13
pembangunan manusia harus disadari tidak semudah menghitung investasi pembangunan
sarana fisik, karena perlu waktu 15-20 tahun untuk melihat hasilnya.
Pada publikasi Indeks Pembangunan Manusia ini, akan dibahas IPM Kabupaten
Majalengka tahun 2009. Di samping itu juga melihat disparitas pembangunan manusia
antarjender dan antarkelompok sosial ekonomi dengan menggunakan indikator yang diolah
dari series data Susenas dan survei-survei lain yang mendukung.

3.2. IPM Kabupaten Majalengka dan Komponennya
Kabupaten Majalengka terletak di kawasan Timur Jawa Barat yang berbatasan
dengan Kabupaten Cirebon dan Kuningan di sebelah timur, Kabupaten Indramayu di sebelah
Utara, Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya di sebelah Selatan, serta Kabupaten Sumedang di
sebelah Barat. Menurut hasil sensus Penduduk Tahun 1961 jumlah Penduduk Kabupaten
Majalengka sekitar 0,65 juta, meningkat menjadi 0,71 juta pada tahun 1971, dan 897.722 jiwa
pada tahun 1980, sementara tahun 1990 telah mencapai di atas satu juta (1,03 juta jiwa).
Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 sebesar 1.121.641 jiwa dan data terakhir dari Susenas
2009 jumlah penduduk telah mencapai 1.206.702 jiwa dengan Laju Pertumbuhan Penduduk
0,81 persen, rasio jenis kelamin 99,03 dan kepadatan penduduk 1.002 jiwa/ km
2
.
Dari deskripsi data kependudukan tersebut menunjukkan penduduk Kabupaten
Majalengka terus bertambah walaupun dengan LPP yang relatif rendah. Pertambahan
tersebut tentu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai
modal dasar pembangunan.
Kondisi pembangunan manusia di Kabupaten Majalengka dapat dilihat dari tabel 4
yang memuat IPM beserta komponen-komponennya pada tahun 2008 dan tahun 2009. Pada
tahun 2009, Kabupaten Majalengka telah mencapai IPM sebesar 69,94 poin dengan klasifikasi
sedang.
Jika dibandingkan dengan IPM tahun sebelumnya ternyata IPM Kabupaten
Majalengka tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 0,54 poin (kecepatan perubahan 1,75).
Dilihat dari indeks masing-masing komponennya, ternyata semua komponen IPM mengalami
kenaikan yaitu Angka Harapan Hidup (AHH), Angka Melek Huruf (AMH), Rata-Rata Lama
Sekolah (RLS) dan paritas daya beli masyarakat (PPP), Angka Harapan Hidup naik dari
65,82 menjadi 66,09 (atau indeksnya dari 68,03 menjadi 68,48). Indeks Angka Melek Huruf
naik dari 94,81 menjadi 95,03, Indeks rata-rata lama sekolah naik dari 44,67 menjadi 45,53
sedangkan Indeks PPP naik 0,73 poin dari 62,08 menjadi 62,81.

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 14
TABEL 3
IPM Kabupaten Majalengka Dan Komponennya
Tahun 2008-2009

Komponen
2008 2009
Reduksi Shortfall
Nilai Indeks Nilai Indeks
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
AHH
65.82 68.03 66.09 68.48 1,41
AMH
94.81 94.81 95.03 95.03 4,24
RLS
6.70 44.67 6.83 45.53 1,55
PPP
568.61 62.08 571.79 62.81 3,06
IPM 69.40 69.94 1,75
Sumber: Susenas 2008-2009 BPS RI

Mencermati trend angka IPM Kabupaten Majalengka selama periode 2008-2009
menunjukkan adanya kenaikkan secara bertahap. Indeks Pendidikan, khususnya angka
melek huruf, mempunyai kenaikan yang cukup berarti terlihat dari angka reduksi shortfall
yang mencapai 4,24. Sementara Angka Harapan Hidup mempunyai angka yang paling rendah,
sehingga harus didukung dengan langkah kebijakan-kebijakan yang akan meningkatkan nilai
komponen tersebut khususnya untuk menekan angka kematian bayi.
Kondisi IPM pada tahun 2008-2009 memberi gambaran kepada kita akan perlunya
penekanan-penekanan kebijakan Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk lebih fokus
kepada tiga sasaran bidang pendidikan, kesehatan dan daya beli sebagai upaya peningkatan
komponen-komponen IPM secara keseluruhan. AMH sebesar 95,03 persen menunjukkan
bahwa sekitar 4, 97 persen penduduk Kabupaten Majalengka masih tergolong buta huruf.
Selain itu, rata-rata lama sekolah juga perlu ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi. Secara
umum rata-rata pendidikan penduduk Majalengka masih di bawah Provinsi Jawa Barat, yakni
rata-rata lama sekolahnya mencapai 6,83 tahun (setara dengan kelas 1 SLTP). Perlu disusun
intervensi yang lebih strategis dalam upaya menaikkan kualitas SDM tersebut. Perluasan
kesempatan bersekolah kepada lulusan SLTP harus dengan kebijakan-kebijakan yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat. Jargon Pendidikan dasar 9 tahun harus ditingkatkan menjadi
12 tahun, sehingga sarana dan prasarana pendidikan tingkat SLTA harus ditingkatkan bahkan
kalau dimungkinkan harus ada kebijakan pembebasan biaya pendidikan tingkat SLTA seperti
halnya di SLTP, sehingga diharapkan pada akhirnya akan memacu peningkatan rata-rata
lama sekolah secara signifikan.
Sementara itu dari gambaran paritas daya beli penduduk yang masih rendah
menunjukkan masih perlunya dilakukan intervensi-intervensi, baik secara langsung maupun
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 15
tidak langsung untuk menjaga kestabilan harga-harga, sehingga daya beli masyarakat dapat
kembali meningkat. Dari segi investasi perlu adanya terobosan kebijakan untuk
menggairahkan investasi sektor swasta, sehingga akan meningkatkan kesempatan kerja yang
pada akhirnya akan memacu pertumbuhan ekonomi dan penguatan daya beli. Faktor daya
beli ini memang tidak terlepas dari kebijakan ataupun situasi perekonomian secara nasional,
bahkan internasional. Gejolak ekonomi yang tidak stabil karena krisis global ataupun
kenaikkan harga minyak dunia akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung
terhadap kemampuan daya beli masyarakat.
Melalui upaya yang lebih sinergis antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di
Kabupaten Majalengka, upaya peningkatan IPM untuk mencapai kualitas manusia yang lebih
baik diharapkan dapat segera terwujud, hal tersebut selaras pula dengan Visi Provinsi Jawa
Barat untuk akselerasi peningkatan IPM pada tahun 2010.

3.3. IPM Kabupaten Majalengka serta Perbandingannya dalam Wilayah
Ciayumajakuning
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang perkembangan IPM
Kabupaten Majalengka, maka berikut ini akan dibandingkan IPM Kabupaten Majalengka
dengan angka Provinsi Jawa Barat serta beberapa kabupaten/ kota di sekitarnya yaitu
Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Indramayu. Posisi
geografis Kabupaten/ Kota tersebut terletak di kawasan Timur Provinsi Jawa Barat, sehingga
pada sistem administrasi pemerintahan kabupaten/ kota tersebut disatukan dalam satu
cakupan koordinasi/ pembinaan yaitu Kersidenan/ Wilayah III Cirebon yang pada saat ini
dikenal dengan istilah Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Cirebon.
Secara karakteristik wilayah-wilayah tersebut mempunyai kemiripan dalam hal
karakteristik sosial, ekonomi dan budaya. Secara umum masyarakat di wilayah tersebut
merupakan daerah pertanian padi, palawija maupun hortikultura kecuali Kabupaten/ Kota
Cirebon dan Indramayu yang berbatasan dengan laut sehingga masyarakatnya juga sebagian
ada yang berprofesi nelayan.





IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 16
Tabel 4
Jumlah Penduduk di Kabupaten/ Kota Wilayah Ciayumajakuning
Tahun 2009

No Kabupaten/Kota
Laki-Laki
(Jiwa)
Perempuan
(Jiwa)
Jumlah
(Jiwa)
Persen dari
Jawa Barat
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Kota Cirebon 148,392

155,760

304.152 0,71
2 Kab. Kuningan 588,564

584,964

1.173.528 2,75
3 Kab. Majalengka
600.306 606.396
1.206.702 2,86
4 Kab Indramayu 934,763

893,115

1.836.878 4,28
5 Kab. Cirebon
1,102,099 1,109,087 2.211.186 5,18
Prov. Jawa Barat
21.512.996 21.180.955 42.693.951
Sumber : Suseda Jawa Barat

Dari tabel tersebut, bahwa Kabupaten Cirebon merupakan kabupaten yang
mempunyai jumlah penduduk paling banyak di wilayah Ciayumajakuning yaitu mencapai
di atas 2 juta jiwa (5,18 persen). Disusul oleh adalah Kabupaten Indramayu, Majalengka,
Kuningan dan Kota Cirebon.
Potensi Sumber daya manusia yang demikian besar tersebut tentu harus
dimanfaatkan untuk pembangunan wilayah tersebut. Penduduk jangan hanya menjadi beban
bagi pemerintahan dan masyarakat yang lain, tetapi harus merupakan aset yang potensial
untuk memacu pembangunan di segala bidang.
Dalam konteks IPM yaitu peningkatan pembangunan manusia, maka jumlah
penduduk yang besar, akan semakin berat beban dan tantangannya bagi pemerintah dalam
rangka peningkatan IPM.

3.3.1. Perbandingan Angka Indeks
Indeks Pembangunan Manusia dihitung dengan menggunakan nilai masing-masing
komponen yang selanjutnya dikonversikan menjadi nilai indeks untuk masing-masing
bidang yaitu kesehatan (AHH), pendidikan (AMH dan RLS) dan bidang ekonomi (daya
beli/ PPP). Indeks tersebut akan membandingkan semua komponen dengan nilai yang sama
yaitu 100.



IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 17
Tabel 5
Indeks Komponen IPM Kabupaten Majalengka dan Kabupaten/ Kota
di Wilayah Ciayumajakuning Tahun 2009

No Kabupaten/ Kota
Indeks
Kesehatan
Indeks
Pendidikan
Indeks Daya
Beli
IPM
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Kota Cirebon 72.45
85.70 65.9
74,68
2 Kab. Kuningan 70.58
78.12 62.54
70,42
3 Kab. Majalengka 68.48
78.53 62.81
69,94
4 Kab. Cirebon 66.95
75.86 62.32
68,37
5 Kab Indramayu 69.02
69.6 63.56
67,39
Prov. Jawa Barat 71.67 81.14
62.10 71,64
Sumber : Susenas 2009 BPS RI

Tabel di atas memperlihatkan perbandingan angka IPM dari kabupaten/ kota di
wilayah Cirebon. Kabupaten Majalengka dengan dengan IPM 69,94 berada pada posisi ke 3
dari 5 kabupaten/ kota tersebut. Posisi tertinggi di wilayah tersebut adalah Kota Cirebon
disusul Kabupaten Kuningan. Sementara Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu
berada pada posisi dua terakhir.
Membandingkan dengan angka IPM Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Majalengka
masih berada di bawah rata rata IPM Jawa Barat dengan selisih 1,7 poin, dengan Kabupaten
Kuningan terdapat selisih 0,48 poin, sementara dengan Kota Cirebon selisih 4,72 poin.
Posisi Kota Cirebon tersebut sudah cukup jauh berada di atas kabupaten lain, bahkan di atas
rata-rata IPM Jawa Barat.
Posisi tertinggi Kota Cirebon, didukung oleh ketiga komponennya yaitu Indeks
Harapan Hidup, Indeks Pendidikan dan Indeks Daya Beli yang jauh meninggalkan Kabupaten
lain. Karakteristik wilayah perkotaan Kota Cirebon memungkinkan laju pertumbuhan
ekonomi yang tinggi sehingga daya beli juga meningkat. Kemampuan ekonomi yang tinggi,
berpengaruh terhadap tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat juga relatif semakin
tinggi.
Seperti diketahui bahwa Kota Cirebon merupakan salah satu pusat pertumbuhan
ekonomi di wilayah Timur Jawa Barat. Didukung oleh adanya pelabuhan Cirebon serta
tumbuhnya sektor Industri, Perdagangan dan Jasa. Banyak pusat perbelanjaan, hotel dan
rumah makan dibangun para investor melihat posisi Kota Cirebon sebagai daerah yang
strategis di daerah Pantura.
Di bidang pendidikan sarana-sarana pendidikan di Kota Cirebon dibangun bukan
hanya pada level pendidikan dasar, tetapi pendidikan menengah dan tinggi. Tercatat
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 18
beberapa perguruan tinggi semakin banyak didirikan untuk memfasilitasi peningkatan
sumber daya manusia di Kota Cirebon.
Mencermati gambaran Indeks Pembangunan Manusia di atas menjadi tantangan bagi
pemerintah Kabupaten Majalengka untuk dapat meningkatkan IPM secara signifikan hingga
dapat mengikuti langkah Kota Cirebon atau setidaknya dapat melewati angka IPM Provinsi
Jawa Barat pada tahun-tahun mendatang.

3.3.2. Reduksi Shortfall
Reduksi shortfall menunjukkan ukuran kecepatan perkembangan IPM yang telah
distandarisasi dengan formula seperti yang disebutkan dalam metodologi pada Bab II.
Ukuran tersebut dapat dibandingkan untuk IPM total maupun masing-masing komponen.
Membandingkan kecepatan perkembangan IPM antardaerah seperti pada gambar di
bawah tersebut memperlihatkan bahwa Kabupaten Cirebon mempunyai reduksi shortfall
yang paling tinggi dibandingkan daerah lainnya diikuti oleh Kabupaten Indramayu dan
Kabupaten Majalengka. Sementara yang paling rendah adalah Kabupaten Kuningan yang
hanya mempunyai nilai 1. Reduksi Shortfall untuk Kabupaten Majalengka masih di bawah
angka rata-rata Provinsi Jawa Barat yang mencapai 1,8 poin.
Melihat angka tersebut, maka akselerasi IPM rata-rata untuk Kabupaten Majalengka
masih tertinggal dibandingkan Kabupaten Cirebon dan Indramayu juga Provinsi Jawa Barat.

Gambar 1
Reduksi Shortfall IPM Kabupaten/ Kota Di Ciayumajakuning dan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2008-2009


IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 19
3.3.3. Perbandingan Angka Harapan Hidup
Salah satu komponen IPM yang sangat penting dalam pencapaian pembangunan
manusia adalah derajat kesehatan. Derajat kesehatan tersebut diukur dengan Indeks Angka
Harapan Hidup melalui determinan angka kematian bayi. Tentu saja Angka Kematian Bayi
bukan satu-satunya variabel yang berperan dalam peningkatan AHH. Berbagai indikator
tunggal yang berkaitan dengan penurunan AKB penting untuk dikaji dan mendapat prioritas
dalam mendukung peningkatan AHH. Variabel tersebut seperti penolong dalam kelahiran,
usia perkawinan pertama, pemberian ASI ekslusif. Jumlah tenaga medis (Bidan/ dokter)
termasuk pembangunan infrastruktrur kesehatan sampai ke wilayah desa/ kelurahan
terpencil.
Tabel 6
Nilai dan Indeks AHH Kabupaten Majalengka dan Kabupaten/ Kota
di wilayah Ciayumajakuning Tahun 2008 - 2009

No Kabupaten/ Kota
Nilai AHH (Tahun) Indeks AHH (Tahun)
Reduksi
Shortfall
2008 2009 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Kota Cirebon 68,45 68,47 72.42 72.45
0.11
2 Kab. Kuningan 67,23 67,35 70.38 70.58
0.68
3 Kab. Majalengka 65,82 66,09 68.03 68.48
1.41
4 Kab Indramayu 66,01 66,41 68.35 69.02
2.12
5 Kab. Cirebon 65,05 65,17 66.75 66.95
0.60
Prov. Jawa Barat 67,80 68,00 71.33 71.67
1,19
Sumber : Susenas 2009 BPS RI

Tabel di atas menggambarkan posisi AHH Kabupaten Majalengka dibandingkan
dengan Provinsi Jawa Barat dan kabupaten/ kota lain di wilayah Timur Jawa Barat.
Kabupaten Majalengka mempunyai angka harapan hidup 66,09 tahun yang berarti
setiap bayi yang baru lahir (e0) mempunyai harapan hidup sampai berumur 66,09 tahun.
Angka tersebut menunjukkan Kabupaten Majalengka berada pada posisi ke 4 dari 5
kabupaten/ kota di sekitarnya. Tabel tersebut juga memperlihatkan bahwa AHH Kabupaten
Majalengka berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Barat yang mencapai 71,67 pada tahun
2009. Mencermati kecepatan perubahan AHH dari tahun 2008 ke tahun 2009, Kabupaten
Majalengka berada pada posisi ke dua (1,41) setelah Kabupaten Indramayu. Hal ini berarti
bahwa akselerasi perubahan AHH Kabupaten Majalengka masih lebih baik dibandingkan
Kabupaten/ Kota Cirebon dan Kuningan yang jauh di bawah 1. Hal tersebut tentunya masih
harus ditingkatkan agar dapat mencapai lebih baik lagi pada tahun-tahun selanjutnya.
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 20
3.3.4. Perbandingan Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf atau kemampuan membaca dan menulis pada umur di atas 15
tahun merupakan indikator yang menunjukkan kualitas sumber daya manusia. Kemampuan
membaca dan menulis manusia diharapkan untuk terus belajar agar mendapatkan
pengetahuan dan wawasan yang luas. Ilmu manusia dapat meningkatkan kualitas individu
yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup untuk mencapai kesejahteraan
hidupnya.
Sebaliknya manusia yang tidak mempunyai kemampuan untuk membaca, akses
hidupnya terhadap ilmu pengetahuan akan lebih terbatas, kualitas individu yang sangat
kurang sehingga rentan pada kemiskinan.
Saat ini perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan sangat dipriortiaskan.
Terbukti dengan diamanatkannya anggaran pendidikan yang harus mencapai 20 persen
dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berbagai
skema bantuan pendidikan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Beasiswa, ataupun
program Sertifikasi Guru dan Dosen menunjukkan bahwa pemerintah menganggap
pendidikan merupakan hal yang penting dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia.
Salah satu indikator yang mendukung hal tersebut adalah semakin rendahnya angka
buta huruf di Indonesia. Angka Melek Huruf di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 sudah
mencapai 95,03 persen yang berarti penduduk buta huruf hanya tinggal 4, 97 persen saja.
Terdapat perubahan yang diukur dengan reduksi shortfall, maka Kabupaten Majalengka
mempunyai kecepatan perubahan yang cukup baik yaitu 4,24 poin di bawah Kabupaten
Cirebon dan Kuningan.
Tabel 7
Nilai dan Indeks AMH Kabupaten Majalengka dan Kabupaten/ Kota
di wilayah Ciayumajakuning Tahun 2008 - 2009
Sumber : Susenas 2009 BPS RI
No Kabupaten/ Kota
Nilai AMH (%) Indeks AMH (%)
Reduksi
Shortfall
2008 2009 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Kota Cirebon 97.00 97.02 97.00 97.02 0.67
2 Kab. Kuningan 93.86 94.28 93.86 94.28 6.84
3 Kab. Majalengka 94.81 95.03 94.81 95.03 4.24
4 Kab Indramayu 85.58 85.6 85.58 85.60 0.14
5 Kab. Cirebon 90.66 91.55 90.66 91.55 9.53
Prov. Jawa Barat 95.53 95.98 95.53 95.98 10,07
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 21
Program Pengentasan Buta Huruf tidak mudah lagi ketika sudah mencapai titik jenuh.
Sasaran pengentasan program melek huruf pada usia lanjut akan lebih sulit karena berbagai
faktor seperti kurangnya motivasi untuk maju yang tentu saja tidak mudah untuk dirubah.

3.3.5. Perbandingan Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah menunjukkan jumlah tahun/ waktu yang digunakan untuk
bersekolah dibagi dengan penduduk usia 15 tahun ke atas. RLS bermakna bahwa semakin
lama bersekolah akan semakin berkualitas individu tersebut.
Pada hakekatnya RLS mendorong agar setiap individu untuk terus meningkatkan
kapasitas dirinya melalui belajar pada sekolah formal. Program wajar Dikdas 9 tahun
seharusnya ditingkatkan menjadi 12 tahun dengan didukung oleh perluasan sarana dan
prasarana sekolah lanjutan untuk memberikan kesempatan pada lulusan SLTP melanjutkan
sekolahnya dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis.
Tabel di bawah ini menunjukkan pencapaian RLS pada kabupaten/ kota di wilayah
Ciayumajakungi dan Provinsi Jawa Barat.
Tabel 8
Nilai dan Indeks RLS Kabupaten Majalengka dan Kabupaten/ Kota
di wilayah Ciayumajakuning Tahun 2008-2009

No Kabupaten/ Kota
Nilai RLS (Tahun) Indeks RLS (Tahun)
Reduksi
Shortfall
2008 2009 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Kota Cirebon 9.20 9.46 61.33 63.07 4.5
2 Kab. Kuningan 6.80 6.87 45.33 45.8 0.86
3 Kab. Majalengka 6.70 6.83 44.67 45.53 1.55
4 Kab Indramayu 5.50 5.64 36.67 37.6 1.47
5 Kab. Cirebon 6.42 6.67 42.8 44.47 2.92
Prov. Jawa Barat 7.50 7.72 50.00 51.47 2,94
Sumber : Susenas 2009 BPS RI

Pencapaian RLS Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 mencapai 6,83 tahun yang
berarti rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Majalengka usia 15 tahun ke atas hanya
setara dengan SLTP kelas 1. Angka tersebut masih jauh dari angka ideal 15 tahun (D3).
Membandingkan dengan kabupaten/ kota yang lain angka RLS Kabupaten Majalengka
relatif berimbang kecuali dengan Kota Cirebon yang sudah cukup baik yaitu 9,46 tahun.
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 22
Dilihat dari reduksi shortfallnya, Kabupaten Majalengka berada pada posisi ke 3 setelah Kota
Cirebon dan Kabupaten Cirebon dengan 1,55 poin.

3.3.6. Perbandingan Indeks Daya Beli
Indeks Daya Beli merupakan variabel ekonomi yang diukur dalam IPM untuk
melengkapi variabel sosial yang terlebih dahulu diuraikan yaitu pendidikan dan kesehatan.
Peningkatan Indeks daya beli merupakan hal yang tidak mudah karena terkait dengan
berbagai indikator makro ekonomi yang lain seperti laju inflasi. Peningkatan laju inflasi yang
berarti kenaikan harga secara terus menerus yang tidak terkendali akan melemahkan daya
beli masyarakat. Dalam hal ini pemerintah akan sulit melakukan intervensi pasar, pemerintah
hanya dapat menjaga stabilisasi harga dengan menjaga pasokan barang agar supply and
demand dapat terjadi keseimbangan yang wajar.
Tabel 9
Nilai dan Indeks Daya Beli (PPP) Kabupaten Majalengka dan Kabupaten/ Kota
di wilayah Ciayumajakuning Tahun 2008 - 2009

No Kabupaten/ Kota
Nilai PPP (Rp) Indeks PPP (Rp)
Reduksi
Shortfall
2008 2009 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Kota Cirebon 582,340 585,130 65.25 65.90 3.09
2 Kab. Kuningan 569,460 570,620 62.27 62.54 1.12
3 Kab. Majalengka 568,610 571,790 62.08 62.81 3.06
4 Kab Indramayu 571,400 575,040 62.72 63.56 3.59
5 Kab. Cirebon 566,800 569,670 61.66 62.32 2.71
Prov. Jawa Barat
566,810 568,710 61.66 62.10 1,79
Sumber : Susenas 2009 BPS RI

Indeks Daya Beli Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 menunjukkan angka 62,81
persen. Angka tersebut berada pada posisi ke 3 setelah Kota Cirebon dan Kabupaten
Indramayu. Angka nominal Rp. 571.790 berarti rata-rata penduduk Kabupaten Majalengka
mempunyai konsumsi riil perkapita sebesar Rp. 571.790 setiap tahun.
Dilihat dari ukuran perubahan tahun 2008 ke tahun 2009 Kabupaten Majalengka
mempunyai reduksi shortfall 3,06 lebih baik dari Kabupaten Kuningan dan Kabupaten
Cirebon bahkan lebih baik dari rata-rata Provinsi Jawa Barat.


IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 23
3.4. Disparitas Status Pembangunan Manusia Antar Jender
Secara kodrati sebenarnya wanita dapat dikatakan sangat memegang fungsi sentral
dalam keluarga, yaitu sebagai ibu rumah tangga. Namun demikian, sumber daya ekonomi
wanita tidak kalah dibanding pria. Keberadaan wanita dalam rumah tangga bukan hanya
sekedar sebagai fungsi reproduksi saja, namun dapat berperan aktif dalam menopang
ekonomi rumah tangga. Banyak penelitian menunjukkan bahwa wanita acapkali memberikan
sumbangan yang besar bagi kelangsungan ekonomi, sehingga konsep pemberdayaan wanita
di dalam pembangunan yang sedang gencar didengungkan akhir-akhir ini perlu benar-benar
diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Dari berbagai indikator kesejahteraan rakyat terungkap bahwa kualitas dan
partisipasi sosial ekonomi wanita pada umumnya lebih rendah dibanding pria. Kesenjangan
yang lebih nyata terlihat pada status pendidikan dan partisipasi dalam bekerja secara
ekonomis. Dalam konteks pembangunan manusia antarjender, tolok ukur yang digunakan
dalam analisis ini dibatasi pada indikator pendidikan, partisipasi dalam kegiatan ekonomi
dan sosial budaya.
Seperti diketahui bahwa berdasarkan hasil proyeksi penduduk jumlah penduduk
wanita di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 mencapai 606.306 orang, sementara
penduduk pria berjumlah 600.396 orang. Komposisi ini menghasilkan rasio jenis kelamin
sebesar 99,03. Ini berarti bahwa dari setiap 100 orang penduduk wanita terdapat sekitar 99
orang penduduk laki-laki.
Dalam rangka menghadapi era globalisasi, setidaknya terdapat dua tuntutan yang
perlu dimiliki. Pertama, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai sebagai asset
pembangunan. Kedua, penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan. Untuk melihat kualitas
SDM wanita, antara lain dapat dilihat dari angka melek huruf dan jenjang pendidikan yang
ditamatkan. Pada dasarnya pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemampuan seseorang
dalam mengekspresikan kreativitas dan inovasi serta pengembangan pengetahuan serta
wawasannya.
Dari hasil Susenas 2009 terungkap bahwa wanita usia 15 tahun ke atas yang telah
mampu membaca dan menulis (angka melek huruf) di Kabupaten Majalengka masih lebih
rendah dibanding pria. Angka melek huruf wanita sebesar 92,38 persen, sementara pria
97,88 persen. Ini berarti sekitar 7,62 persen penduduk wanita di Kabupaten Majalengka
masih buta huruf.

IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 24
TABEL 10
Kemampuan Baca Tulis Penduduk 15 Tahun Ke Atas
Kabupaten Majalengka Menurut Jenis Kelamin Tahun 2009

Uraian Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
(1) (2) (3) (4)
Dapat Baca Tulis 97,88 92,38 95,03
Tidak Dapat 2,12 7,62 4,97
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber : Susenas 2009

Bila dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka persentase yang
mempunyai ijazah SD kaum wanita lebih tinggi daripada laki-laki yaitu 49,21 persen,
sementara untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi persentase wanita seluruhnya lebih
rendah kecuali yang diploma. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara gender pendidikan
kaum wanita di Kabupaten Majalengka relatif tertinggal dibandingkan kaum laki-laki
walaupun selisihnya cukup tipis.

TABEL 11
Penduduk Kabupaten Majalengka Menurut Ijazah Tertinggi Yang Dimiliki
Dan Jenis Kelamin Tahun 2009
Ijazah tertinggi
Jenis Kelamin
Laki-Laki (%) Perempuan (%) Total (%)
(1) (2) (3) (4)
Tidak Punya 20.11 21.72 20,91
Sekolah Dasar 46.42 49.21
47,81
SMTP 18.15 17.06
17,61
SMTA 10.80 8.07
9,44
Diploma/ Akademi (D1-D3) 1.48 1.52
1,50
>=S1 3.04 2.42
2,73
J u m l a h 100,00 100,00 100,00
Sumber : Susenas 2009

Dari fakta di atas tentu diperlukan solusi untuk lebih memberdayakan kaum
perempuan. Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan pendidikan yang lebih
kepada wanita. Anggapan bahwa pendidikan bagi wanita tidak perlu tinggi-tinggi karena
akhirnya pun akan ke dapur juga kiranya perlu dihapuskan. Banyak hasil penelitian yang
mengungkapkan bahwa pendidikan ibu justru sangat penting peranannya dalam membangun
pendidikan generasi berikutnya.
Dalam bidang ketenagakerjaan isu “ jender “ masih hangat dibicarakan. Beberapa
pakar menyatakan bahwa adanya ketimpangan jender yang cukup besar tersebut harus
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 25
dibenahi dalam merealisasikan pemberdayaan wanita tersebut. Masih banyak nada minor
yang ditujukan pada pekerja wanita, bahkan tidak jarang mereka menjadi sasaran pelecehan
seksual (sexual harrasment) dari rekan pria di tempat mereka bekerja. Untuk mengangkat
harkat dan martabat wanita sebagai asset pembangunan sekaligus mitra sejajar pria,
hendaknya upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan
pendidikan wanita menjadi titik perhatian utama. Walaupun sejauh ini usaha dimaksud
sudah banyak dilakukan, tetapi perlu terus ditingkatkan.
Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Majalengka selama periode 1971-
2009 cenderung terus menurun. Bahkan LPP Kabupaten Majalengka relatif lebih rendah
dibanding beberapa kabupaten/ kota lainnya di Provinsi Jawa Barat. Perlu diingat bahwa LPP
yang tinggi akan berakibat pada tingginya pertumbuhan Penduduk Usia Kerja (PUK) yaitu
penduduk yang berusia 15 tahun ke atas, yang biasa juga disebut tenaga kerja (manpower).
Dalam mengukur gambaran keadaan penduduk yang aktif secara ekonomi digunakan
data angkatan kerja dari pada penduduk usia kerja. Angkatan kerja wanita di Jawa Barat
dapat direfleksikan dengan melihat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), yang
merupakan perbandingan orang yang masuk ke dalam angkatan kerja terhadap total
penduduk usia kerja. Sementara untuk mengukur kapasitas penyerapan tenaga kerja dengan
ketersediaan lapangan kerja digunakan indikator tingkat pengangguran terbuka.
Sesuai dengan standar dari Organisasi Buruh Internasional (International Labour
Organization) Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT adalah perbandingan antara
penduduk yang sedang mencari pekerjaan, sudah diterima bekerja tetapi belum mulai
bekerja, sedang mempersiapkan usaha dan orang yang tidak mencari pekerjaan karena putus
asa mengingat sulitnya mendapat pekerjaan dengan angkatan kerja.
TPT total di Kabupaten Majalengka mencapai 6,47 persen sementara TPT wanita
ternyata juga lebih tinggi dibanding laki-laki. TPT wanita 8,90 persen dan TPT laki-laki
hanya 5,42 persen.

Tabel 12
TPAK dan TPT menurut Jenis kelamin Penduduk
Kabupaten Majalengka Tahun 2009

Uraian
Jenis Kelamin
Laki-Laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
(1) (2) (3) (4)

TPAK
85,19 48,93 66,48
TPT
5,42 8,90 6,47
Sumber : Sakernas 2009
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 26
Angkatan kerja terdiri atas mereka yang bekerja dan pengangguran. Mencermati
angka TPAK terlihat bahwa kaum perempuan mempunyai TPAK yang lebih rendah daripada
laki-laki. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara persentase dunia kerja masih didominasi
oleh kaum laki-laki. Perlu penelitian yang lebih lanjut untuk menyimpulkan bahwa terdapat
kesenjangan gender dalam dunia kerja di Kabupaten Majalengka.
Dilihat menurut status pekerjaan, terdapat fenomena yang cukup menarik.
Banyaknya pekerja wanita di Kabupaten Majalengka yang masih berstatus pekerja keluarga
mencapai 34,13 persen, sementara pekerja keluarga laki-laki hanya 5,37 persen. Pada daerah
yang masih berorientasi pertanian sebagai sektor utama, masih banyaknya pekerja keluarga
wanita memberikan indikasi tentang peran ekonomi wanita yang marginal dan belum
dimanfaatkan secara optimal, karena pada umumnya pekerja keluarga tidak mendapatkan
upah/ gaji, atau sekalipun ada, balas jasa yang diterima sangat jauh dari memadai. Para
pekerja keluarga wanita hanya membantu para kepala rumah tangga dan tidak mempunyai
posisi tawar dalam pengambilan keputusan, posisi laki-laki sebagai kepala rumah tangga
masih sangat kuat sehingga masih dominan dalam pengambilan keputusan dalam masalah
usaha maupun masalah rumah tangga.
TABEL 13
Penduduk Kabupaten Majalengka
Menurut Jenis Kelamin Dan Status Pekerjaan Utama Tahun 2009

Status Pekerjaan Utama Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
(1) (2) (3) (4)
Berusaha sendiri 25,35 15,41 21,66
Berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap 27,97 22,19 25,83
Berusaha dengan dibantu buruh tetap 2,59 1,33 2,12
Buruh/ karyawan 17,31 16,29 16,93
Pekerja Bebas 21,41 10,65 17,43
Pekerja tidak dibayar 5,37 34,13 16,03
J u m l a h 100,00 100,00 100,00
Sumber: Susenas 2009

Sementara persentase status pekerjaan wanita kedua terbesar di Kabupaten
Majalengka adalah sebagai pengusaha yang dibantu dengan buruh tidak tetap/ buruh tidak
dibayar (22,19 persen). Sektor yang dominan dalam karakteristik seperti ini adalah usaha
rumah tangga perdagangan dan sebagian kecil pertanian. Dari satu sisi hal tersebut
menujukkan tumbuhnya kemandirian kaum wanita untuk tampil sebagai “enterpreuner” dan
tidak hanya bergantung kepada laki-laki.
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 27
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Pengukuran pencapaian pembangunan manusia adalah sesuatu yang kompleks,
karena sesungguhnya kualitas pembangunan manusia tidak bisa disederhanakan melalui
penghitungan tiga indikator. Untuk itu kajian dan analisis mengenai IPM harus disikapi
secara proporsional. IPM merupakan pendekatan yang dianggap paling relevan hingga saat
ini.
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari uraian mengenai IPM Kabupaten
Majalengka adalah :
1) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Majalengka mengalami kenaikan dari
tahun sebelumnya yaitu dari 69,40 pada tahun 2008 menjadi 69,94 pada tahun 2009.
Kenaikkan sebesar 0,54 poin ini menunjukkan adanya upaya yang serius dari
pemerintah untuk terus memperbaiki kualitas pembangunan manusia di Kabupaten
Majalengka.
2) Dilihat dari masing-masing komponennya kenaikan IPM ini disebabkan oleh
pertumbuhan seluruh komponen IPM yaitu, Indeks Kesehatan sebesar 0,45 poin,
indeks pendidikan (angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) 0,44 poin serta
indeks daya beli (PPP) sebesar 0,73 poin.
3) Dibandingkan dengan IPM di wilayah Ciayumajakuning, IPM Kabupaten Majalengka
berada pada posisi menengah tetapi masih berada di bawah rata-rata IPM Jawa Barat.

4.2. Saran-saran
Beberapa hal yang disarankan untuk peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di
Kabupaten Majalengka adalah :
1) Peningkatan Indeks Angka Harapan Hidup
Di bidang kesehatan, meskipun indikatornya yaitu AHH mengalami sedikit
peningkatan, namun AHH Kabupaten Majalengka ini masih berada di bawah AHH Jawa
Barat. Angka harapan hidup determinan utamanya adalah angka kematian bayi, tetapi
secara luas AHH dipengaruhi oleh faktor pelayanan kesehatan, lingkungan, keturunan,
dan perilaku. Intervensi pelayanan hendaknya diarahkan untuk memperbaiki faktor
lingkungan dan memperbaiki perilaku masyarakat. Oleh karena itu fokus perhatian
IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 28
pada peningkatan gizi dan kebersihan, proses persalinan pada tenaga medis dan
kesadaran akan pentingnya lingkungan rumah yang bersih perlu terus ditingkatkan.
2) Peningkatan Indeks Pendidikan
Adanya kenaikkan indeks pendidikan, khususnya angka melek huruf yang cukup
signifikan, diharapkan dapat memacu stakeholder bidang pendidikan untuk
memberantas buta aksara secara lebih intensif. Selain itu, kebijakan Biaya Operasioanal
Sekolah (BOS) harus diperluas untuk tingkat SLTA, sehingga dapat meningkatkan
partisipasi sekolah lulusan SLTP. Pembangunan infrastruktur pendidikan agar lebih
ditingkatkan selain infrastruktur perdesaan agar akses pendidikan, maupun kesehatan
bisa lebih ditingkatkan. Program-program pendidikan luar sekolah (PLS) juga harus
dikembangkan lebih memasyarakat, keberadaan SLTP terbuka, Kejar Paket A,B maupun
C agar lebih diintensifkan.
3) Peningkatan Indeks Daya Beli
Indeks daya beli mempunyai kontribusi yang paling besar dibandingkan dengan dua
indikator lain dalam peningkatan IPM di Kabupaten Majalengka tahun 2009.
Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan daya beli melalui
kebijakan-kebijakan yang prorakyat harus terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Indikator makro ekonomi harus distabilisasi agar tidak mengganggu pertumbuhan
ekonomi yang terus meningkat.
Pembukaan lapangan kerja baru dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif juga
akan mengundang investor untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Majalengka
sehingga akan memacu pertumbuhan ekonomi dan dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.












IPM Kabupaten Majalengka 2009 . . 29
DAFTAR PUSTAKA


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Barat, Bahan Desa Lokakarya Mini IPM,
Bandung, 1997

Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka, Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten
Majalengka Tahun 2006, Majalengka, 2007

Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka, Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten
Majalengka Tahun 2006, Majalengka, 2007

Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka, Kabupaten Majalengka Dalam Angka Tahun
2006, Majalengka, 2007

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Analisis Komponen Indeks Pembangunan Manusia
Jawa Barat Tahun 1996-1999, Bandung,2000

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Data Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Provinsi
Jawa Barat Tahun 2007, Bandung, 2007

Biro Pusat Statistik dan UNDP, Ringkasan Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 1996,
BPS, 1997

Biro Analisis dan Pengembangan Statistik BPS, Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia,
BPS, 1997

Dajan, Anto, Pengantar Metode Statistik, LP3ES, Jakarta, 1984

Direktorat Metodologi Statistik BPS, Indikator Statistik Bidang Sosial dan Penggunaannya,
BPS, 2006

Junadi, Purnawan, Pengantar Analisis Data, Rineka Cipta, Jakarta, 1995

Santoso, Singgih, Pengantar SPSS, Elex Media Komputindo, Jakarta, 1999



You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->