BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penetrasi pembangunan yang cepat di kota-kota di Indonesia memberikan dampak luas terhadap kota itu sendiri maupun wilayah pinggirannya. Konsekuensi paling logis adalah meningkatnya urbanisasi yang disertai dengan laju pertumbuhan penduduk perkotaan, baik secara alamiah maupun migrasi penduduk desa ke kota.

Dampak lainnya adalah alih guna lahan perdesaan menjadi perkotaan karena adanya peningkatan kebutuhan ruang untuk aktivitas kota. Disamping itu, terdapat keterbatasan supply ruang perkotaan terutama di pusat kota yang justru memiliki intensitas penggunaan lahan paling tinggi. Akibatnya penduduk perkotaan mengalami kesulitan mendapatkan lahan untuk beraktivitas, salah satu contohnya adalah aktivitas permukiman. Hal ini menyebabkan beralihnya fungsi lahan terbuka dan pertanian yang ada di pinggiran kota menjadi fungsi permukiman.

Bila hal ini berlangsung treus menerus, maka akan mengakibatkan terjadinya perluasan kota yang tidak terencana, yang tentu saja akan memebrikan dampak lebih lanjut terhadap kondisi perkotaan. Seperti terjadinya penurunan kualitas lingkungan, banjir, kemacetan, dan sebagainya.

fenomena urbanisasi yang terjadi dapat ditunjukkan dari kondisi pertambahan migrasi penduduk pada tahun 1990-2001. adanya beberapa peruntukan lahan sebagai aktivitas industri di pinggiran Kota Semarang juga mendorong proses urbanisasi di . Perkembangan Tingkat Urbanisasi dan Migrasi Penduduk Kota Di Kota Semarang. Secara keseluruhan kondisi tersebut terjadi karena adanya penggunaan lahan secara besar-besaran sebagai kawasan permukiman. Tabel di bawah ini menunjukkan adanya gejala pergeseran penduduk kota dari CBD ke sub-urban karena faktor-faktor yang kurang mendukung bagi penduduk untuk tinggal nyaman di pusat Metropolitan Semarang. Banyak indikator yang bisa digunakan untuk melihat apakah di suatu kawasan terjadi fenomena urbanisasi atau tidak. Sehingga berakibat pada kawasan tersebut seperti tumbuhnya ruang-ruang perkotaan baru yang merupakan wadah aktivitas masyarakat. kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas dan utilitas. PEMBAHASAN A. salah satunya adalah dengan melihat perkembangan penduduk. baik dari segi pertumbuhan maupun dari segi sosial ekonominya.1. Adanya perkembangan penduduk akan mendorong aktivitas-aktivitas lain yang merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan penduduk itu sendiri seperti perumahan.2 Permasalahan Urbanisasi selalu dikaitkan dengan adanya kegiatan “pengkotaan” suatu kawasan atau wilayah. hal ini dipicu oleh harga lahan yang relatif murah dibandingkan dengan kawasan di pusat Kota Semarang. atau sebaliknya. Selain itu.

Kegiatan industri sangat erat kaitannya dengan jumlah tenaga kerja dimana adanya kegiatan industri yang menimbulkan bangkitan penduduk baik yang bersifat tetap (migrasi) maupun ulang-alik (commuter) untuk bekerja dan atau menetap di sekitar kawasan industri.06%. atau Kecamatan Sayung yang juga berkembang akibat adanya kegiatan industri di Kecamatan Genuk.27%. Kondisi . selama tahun 1988 hingga 1998 (10 tahun) tingkat pertumbuhan tertinggi berada pada sektor jasa yakni sebesar 29. Pada umumnya kegiatan perdagangan dan jasa. B. Adapun salah satu yang termasuk dalam ekonomi perkotaan ini adalah aktivitas industri. Perkembangan Aktivitas Ekonomi Perkotaan Karakteristik urbanisasi di Kawasan Metropolitan Semarang selain dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk perkotaan. selain yang berada di pusat Kota Semarang juga berkembang di sepanjang jalan utama di pinggiran Kota Semarang. juga dipengaruhi oleh perkembangan aktivitas ekonomi perkotaan. Sedangkan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. perdagangan dan jasa. lalu disusul sektor industri dan perdagangan berturut-turut 22. Dari ketiga sektor ekonomi tersebut. Ketiga sektor tersebut secara signifikan telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan urbanisasi di Metropolitan Semarang. perkembangannya lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana terutama sekali jaringan jalan.pinggiran Kota Semarang seperti di Kecamatan Ngaliyan. yang tumbuh pesat akibat kegiatan industri di Kecamatan Tugu.46% dan 24.

Faktor lain yang juga berpengaruh pada perkembangan ekonomi perkotaan adalah perkembangan nilai investasi PMA dan PMDN di Kota Semarang.ini pada taraf lebih lanjut akan mendorong perkembangan aktivitas penduduk seperti perumahan. C. Dampak-dampak yang Timbul Adapun dampak-dampak yang timbul akibat terjadinya fenomena urbanisasi di Kawasan Metropolitan Semarang adalah sebagai berikut: a) Struktur Ruang dan Pemanfaatan Lahan Yang Tidak Terencana b) Penurunan Kualitas Pelayanan Infrastruktur c) Keterbatasan Daya Dukung Lingkungan untuk Kawasan Terbangun D. Wilayah belakang tersebut antara lain Kecamatan Boja dan Kecamatan . perkantoran atau jasa. Pinggiran Semarang Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa Metropolitan Semarang adalah Kota Semarang yang memiliki penduduk 1. yang berarti akan semakin tinggi pula konsentrasi aktivitas ekonomi di Kota Semarang sebagai kawasan metropolitan. Sedangkan wilayah pinggirannya adalah wilayah yang berbatasan langsung baik secara administratif maupun adanya keterkaitan teknis perkembangan sistem kota-kota terhadap Kota Semarang. pendidikan. Pada tahun 2001-2002. Ini menunjukkan tingginya nilai investasi ke Kota Semarang.322. nilai investasi di Kota Semarang lebih didominasi oleh PMA.320 Jiwa (> 1 Juta Jiwa) termasuk didalamnya kecamatan-kecamatan yang secara administratif berada di dalam wilayahnya.

Secara keseluruhan. Kecenderungan pengembangan pertumbuhan penduduk mengarah pada wilayah pinggiran kota sebagai akibat dari perluasan aktivitas kota. E. Karangawen. Tingkat Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk Pertumbuhan dan kepadatan penduduk tertinggi di wilayah pinggiran Kota Semarang. Sehingga batasan urban dan sub-urban lama kelamaan menjadi bias dan bahkan tidak ada batasan lagi. yakni IKK Sayung. Pengambilan wilayah pinggiran Metropolitan Semarang seperti di atas adalah atas pertimbangan kemudahan dalam penyusunan program-progran pembangunan yang akan dilaksanakan secara terpadu.01% dan 1. dan Pringapus (Kab. Karakteristik Sub-Urbanisasi a. . wilayah pinggiran Kawasan Metropolitan Semarang pada tahun 1999 – 2000. Demak). Kendal). Semarang). Mranggen. terjadi peningkatan pertumbuhan dan kepadatan penduduk terutama untuk wilayah Kabupaten Kendal dan Demak. kawasan Mranggen didominasi dengan aktivitas industri. Pusat kota yang tidak lagi mampu menampung desakan jumlah penduduk memberikan dampak yang cukup serius terhadap wilayah dipinggirannya (sub-urban). dan Karangawen (Kab. Kecamatan Sayung. terdapat di IKK Mranggen masing-masing sebesar 5.Kaliwungu (Kab. Kecamatan Ungaran. dan Boja. Bergas.730 jiwa/km2.

Disusul perumahan di Kecamatan . Hal tersebut diakibatkan karena kurangnya daya dukung lahan permukiman di pusat Kota Semarang. Kondisi ini mendorong perkembangan perumahan skala besar yang siap bangun (siap huni) di wilayah pinggiran Kota Semarang. Dan lambat laun wilayahwilayah tersebut menjadi kota satelit bagi Semarang seperti halnya Bogor. Depok. Selain itu meningkatnya pertumbuhan penduduk di wilayah sub-urban seperti yang terjadi di Banyumanik. Tembalang atau lainnya menyebabkan kemajemukan aktivitas masyarakat. Beberapa daerah di kawasan sub-urban Semarang yang memiliki karakteristik khusus untuk daerah perumahan. b.67 ha. dapat dirincikan sebagai berikut : Di Metropolitan Semarang pengembangan perumahan terbanyak adalah di Kecamatan Banyumanik dengan total luasan izin lokasi yang dimohon oleh 21 pengembang mencapai luas 384. dan semakin tingginya harga lahan di pusat kota. Perkembangan Perumahan Skala Besar Perkembangan permukiman baru di wilayah pinggiran Metropolitan Semarang disebabkan berkurangnya daya dukung lingkungan permukiman di pusat Kota Semarang seperti kawasan yang secara fisik kurang atau tidak sesuai untuk kawasan terbangun.Pertambahan penduduk yang terus meningkat mengindikasikan bahwa perkembangan penduduk Kota Semarang menyebar kearah pinggiran kota (sub-urban) sehingga sebagai konsekuensinya adalah terjadi perubahan guna lahan perkotaan. Tangerang dan Bekasi sebagai kota peyanggga aktifitas masyarakat Jakarta.

48 ha. Sedangkan implikasi negatif yang muncul diantaranya adalah tidak terkontrolnya pertumbuhan wilayah sub-urban. kepadatan lalu lintas. daerah ini persebaran perumahan cukup pesat karena ditunjang oleh aksesibilitas yang baik. serta peningkatan nilai lahan. Adapun dampak ikutan dari pembangunan kawasan perumahan Bukit Semarang Baru secara umum membawa implikasi positif dan negatif.26 ha.Tembalang oleh 13 Pengembang dengan total luas izin lokasi 788. Perkembangan Kecamatan Mranggen yang cepat setelah adanya Perumahan Pucanggading dan Kecamatan Boja dengan adanya pembangunan Kota Baru Bukit Semarang Baru di Kecamatan Mijen. serta perubahan ekologi lingkungan. menyempitnya lahan pertanian. kemudian pengembangan perumahan di Kecamatan Ngalian oleh 12 Pengembang dengan total luas izin lokasi 338. pengelompokan masyarakat desa. Daerah Tugu dan daerah Genuk. peningkatan kualitas infrastruktur. sebagai indikator peningkatan kesejahtertaan masyarakat. Begitu juga hal pembangunan perumahan skala menengah dan besar di Kecamatan Tembalang meningkat seiring dengan laju pertumbuhan . namun pengembangan ke arah ini perlu diperhatikan mengingat fungsi utama daerah ini adalah sebagai lahan industri. Dampak positif yang muncul adalah peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Jumlah pengembang yang terdapat di Kecamatan Banyumanik sebanyak 14 pengembang dengan jumlah ijin lokasi yang dimohon sebesar 592.63 Ha atau sebesar 28% dari luas permukiman di Kecamatan Tembalang atau 13% dari luas keseluruhan di Kecamatan Tembalang khususnya di daerah yang berada jauh dari pusat kota seperti Kelurahan Tandang.63 ha.penduduk. Sendang Mulyo. Keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena ada keterbatasan modal. dan Sendang Guwo.8 ha atau sekitar 63% dari permohonan awal. Sehingga timbul permasalahan yang serupa dengan di Kecamatan Banyumanik yaitu berupa penguasaan lahan oleh pengembang skala menengah dan besar. Dari permintaan ijin lokasi seluas 592. pihak pengembang baru dapat membebaskan lahan sekitar 373. Sesuai dengan peruntukan yaitu kawasan pendidikan tinggi dan permukiman kota maka hampir sebagian besar penggunaan lahan mengarah pada fungsi utama.27 ha atau sekitar 9. Tanah yang telah dikuasai oleh pengembang sebagian besar baru dimatangkan saja tanpa dilakukan pembangunan secara fisik. Sedangkan mengetahui lebih lanjut mengenai perbandingan ijin lokasi yang diperoleh terhadap penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Tembalang dapat dilihat pada tabel berikut: Luas lahan yang dimiliki oleh para pengembang tersebut belum seluruhnya dibebaskan. Tetapi di beberapa pusat pertumbuhan seperti di Kelurahan Tembalang dan Bulusan. intensitas guna lahan mengarah kepada pengembangan kawasan pendidikan. Sehingga pihak pengembang hanya dapat membangun lahannya untuk kawasan permukiman sebesar 58.8% .

Selain itu perkembangan wilayah pinggiran Metropolitan Semarang akibat kegiatan industri juga ditunjukkan oleh proporsi tenaga kerja sektor industri yang relatif besar dibandingkan sektor lain kecuali sektor pertanian. . Perkembangan Kawasan Industri Pengembangan kegiatan industri di wilayah pinggiran Metropolitan Semarang terdapat di Kecamatan Sayung. Pada umumnya daerah-daerah yang merupakan lokasi industri mengalami transformasi penduduk dari masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan yang lebih cepat dibanding daerah lain. khususnya daerah-daerah yang merupakan lokasi kegiatan industri. Fenomena ini merupakan salah satu pemicu terjadinya perkotaan terpencar.dari luas ijin lokasi yang dimohon. Kondisi ini menyebabkan banyaknya lahan tidur di Kecamatan Tembalang. di mana penduduk tidak dapat mendirikan bangunan di lahan tersebut karena lahan tersebut telah dikuasai oleh para pengembang. Jika hal tersebut dibandingkan dengan Kecamatan Banyumanik maka lahan yang telah dibebaskan oleh pengembang di Kecamatan Tembalang jumlahnya jauh lebih kecil dari Kecamatan Banyumanik. c. Hal tersebut ditunjukkan oleh pertumbuhan penduduk di beberapa kecamatan di wilayah pinggiran Metropolitan Semarang yang cenderung meningkat sebagai indikasi perkembangan suatu wilayah kearah pinggiran perkotaan. Kaliwungu dan Ungaran. Adanya kegiatan industri tersebut ternyata berdampak terhadap perkembangan wilayah pinggiran Semarang. yang pada akhirnya juga menjadi penyebab pelayanan fasilitas seperti telepon dan transportasi menjadi terbatas.

Peningkatan Intensitas Pergerakan Perkembangan daerah-daerah pinggiran Metropolitan Semarang baik dari aktivitas permukiman maupun industri menyebabkan terjadinya peningkatan intensitas pergerakan sehingga dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas pada ruas-ruas jalan tertentu sebab terjadi peningkatan volume kendaraan pribadi. menghubungkan Kota Semarang – Purwodadi yang berpengaruh terhadap perkembangan Kota Mranggen sebagai daerah permukiman. Arteri Primer yang menghubungkan Kota Semarang – Bawen – Yogyakarta serta Semarang – Bawen – Solo. Selain itu pembangunan jalur transportasi darat yang baru di Metropolitan Semarang mampu mendorong perkembangan wilayah di sekitarnya yang ditandai dengan adanya peningkatan intensitas pergerakan. Kaliwungu dan Sayung akibat penggunaan jalur transportasi bersama (jalur Pantura Jakarta – Surabaya) sehingga volume kendaraan yang lewat semakin meningkat. Berikut ini adalah pembangunan prasarana jalan yang mempengaruhi perkembangan wilayah pinggiran Metropolitan Semarang: 1. selain akibat adanya kegiatan industri yang dialokasikan di sekitar Ungaran. 2. Kolektor Primer. Jalur ini merupakan jalur propinsi dengan intensitas pergerakan tertinggi. Genuk. Selain itu. Menyebabkan perkembangan Kota Ungaran dan sekitarnya.d. intensitas pergerakan juga meningkat pada kawasankawasan yang memiliki peruntukan lahan untuk kegiatan industri di Kecamatan Tugu. .

Pembangunan beberapa jalan arteri seperti jalan arteri di daerah Pedurungan yang menyebabkan perkembangan Kecamatan Pedurungan menjadi lokasi permukiman. Pada kawasan yang lahan terbangunnya masih berada . Seperti diketahui bahwa banyaknya permukiman di kawasan Banyumanik berdampak serius pada menjejalnya sistem aktifitas yang ada. karena kedua kota ini merupakan tujuan aktifitas maupun tempat bekerja penduduk Banyumanik. F. Pembangunan Jalan Tol Semarang yang mehubungkan Jalan Sukun – Teuku Umar – Krapyak – Majapahit – Kaligawe yang menyebabkan perkembangan beberapa wilayah pinggiran di Metropolitan Semarang. Kondisi lahan terbangun yang ada di wilayah pinggiran Kota Semarang sudah mencapai angka 30% kecuali di Karangawen. Besarnya arus pergerakan manusia ditandai dengan seberapa besar tingkat ulak-alik (comutting) penduduk setempat dalam menjangkau aktifitas perkotaan. Selain itu pergerakan aktifitas kawasan masih terkonsentrasi pada kawasan-kawasan strategis yang berada pada jalur transportasi dengan memanfaatkan potensi pasar. 4. Sementara ini penduduk Banyumanik yang notebene-nya adalah pendatang menyebabkan arus pergerakan lebih terkonsenrasi pada CBD (central business district) terdekat seperti Kota Semarang dan Ungaran. Kaliwungu dan Pringapus masih dibawah 20%.3. 2 Pola Keruangan Perubahan Pemanfaatan Lahan a) Intensitas Lahan Terbangun Intensitas lahan terbangun di kawasan pinggir Kota Semarang pada tahun 2001 relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan lahan tidak terbangun.

Boja. Di selatan Kota Semarang pertumbuhan industri terdapat di sepanjang ruas jalan menuju Ungaran. Selain di Kecamatan Tugu. b) Sebaran Fasilitas-Fasilitas Perkotaan Sebaran fasilitas-fasilitas perkotaan pada umumnya masih terpusat di CBD Semarang. Selain itu di Kecamatan Tugu juga tak kalah pesatnya yaitu di sepanjang Jalan Arteri Primer Semarang – Kendal.di bawah 20% secara riil masih memiliki kelonggaran dalam hal pendirian bangunan baru. Proporsi intensitas lahan terbangun paling besar adalah lahan permukiman dan perumahan. yang menjawab kebutuhan . Lokasinya tersebar di Banyumanik dan Tembalang. Sedangkan untuk perumahan tumbuh dan berkembang di Ngalian sebagai dampak akan kebutuhan tempat tinggal bagi buruh industri yang ada di Kecamatan Tugu. pengembangan perumahan juga tumbuh pesat di Kecamatan Banyumanik. perumahan dan pendidikan. Wilayah pinggiran yang ditumbuhi kawasan industri paling banyak adalah di Kecamatan Sayung sepanjang Jalan Arteri Primer Semarang – Demak (Pantura). Sementara pada kawasan yang memiliki prosentase lahan terbangun di atas 30% seperti di Mranggen. dengan pola ruang yang tidak terstruktur dan bersifat sporadis. Karena pada kawasan ini sebagian besar merupakan lahan persawahan sebagai salah satu basis sumber pangan Metropolitan Semarang. Sayung. Ungaran dan Bergas. Pada Kawasan Sub-urban Kota Semarang sebaran fasilitasfasilitas perkotaan sebagian besar berupa aktivitas industri. kontrol terhadap pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang harus diperketat.

dimana dibiarkannya mobil pribadi dijadikan angkutan umum. Akses ke luar Kota Semarang dihubungkan oleh 5 (lima) jalan arteri. Akhir dari tol ini adalah di Banyumanik selanjutnya menyebar atau terus ke Jalan Setiabudi langsung menuju Yogyakarta atau Solo. empat diantaranya arteri primer yaitu: Jalan Semarang – Demak/Surabaya. Di sebelah barat berpangkal di Krapyak. Jalan Semarang – Purwodadi Jalan Semarang – Ungaran/Yogyakarta dan satu jalan arteri sekunder dari Semarang menuju arah Boja.tempat tinggal bagi pembukaan titik pertumbuhan baru yang dianggap cepat. maka muncul terminal ojek bagi warga . Permasalahan yang muncul sehubungan dengan transportasi di pinggiran Metropolitan Semarang ini adalah kurang terkoordinirnya aktivitas angkutan perkotaan. c) Sistem Jaringan Transportasi Jaringan transportasi di pinggiran Metropolitan Semarang tidak terlepas dari sistem yang ada di dalam Kota Semarang sendiri. Selain itu masih banyak kawasan pinggiran yang belum tersentuh oleh jalur angkutan kota. Permasalahan ini muncul akibat kurangnya moda transportasi yang ada di pinggiran kota. sedangkan sebelah timur berawal di Kaligawe yang kedua-duanya bertemu di pintu tol Jatingaleh. Di dalam Metropolitan Semarang sendiri terdapat Jalan Tol Semarang. Selain itu juga merupakan antisipasi kebutuhan akan perumahan bagi tumbuhnya pusat pendidikan tinggi yakni Kampus Baru UNDIP di Tembalang. Jalan Semarang – Kendal/Jakarta.

Faktor-faktor Penyebab Faktor-faktor yang mendorong terjadinya sub-urbanisasi di wilayah pinggiran Metropolitan Semarang antara lain: 1. Dampak-dampak yang Timbul Dampak yang ditimbulkan dari sub-urbanisasi di wilayah pinggiran Metropolitan Semarang adalah sebagai berikut: a) Peningkatan Kemacetan Lalu Lintas pada Pintu-pintu Masuk Kota Perkembangan wilayah pinggiran yang tidak diimbangi dengan penyediaan fasilitas yang memadai mampu memberikan permasalahan tersendiri bagi kota induk salah satunya adalah kemacetan lalu lintas.yang membutuhkan dengan biaya cukup tinggi bila dibandingkan dengan angkutan kota. G. yaitu Mranggen. 2. Harga Lahan Perkotaan yang Semakin Mahal dan Meningkatnya Penjualan Lahan di Kawasan Pinggiran Metropolitan Semarang. Hal ini dapat dilihat di salah satu wilayah pinggiran Metropolitan Semarang. dimana pada pagi dan sore hari terjadi kemacetan lalu lintas . Pembangunan Kota Berbasis pada Perluasan Jaringan Transportasi 3. Peningkatan Permintaan Perumahan bagi Masyarakat Golongan Menengah ke Atas. H. Hal ini disebabkan penduduk di wilayah pinggiran sebagian besar aktivitasnya masih berlangsung di kota induk sehingga pada saat mereka akan melakukan aktivitasnya di kota secara bersamaan akan terjadi kemacetan lalu lintas akibat penumpukan kendaraan pribadi di pintu masuk kota.

akibat penumpukan kendaraan pribadi (sepeda) maupun angkutan umum yang membawa penduduk Mranggen bekerja di Semarang. Selain itu perkembangan Banyumanik yang membentuk sistem aktivitas kota mengakibatkan terjadinya perubahan guna lahan yang cenderung menyebar/meloncat (froging) sehingga tidak membentuk sistem fungsi lahan yang compact. Di satu sisi perkembangan aktivitas penduduk kota mendorong perubahan dan perkembangan kebutuhan lahan dan ruang kota. PT. PT. b) Perkembangan Kota yang Tidak Beraturan Pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut adanya kebutuhan ruang kota guna mampu menampung aktivitas penduduk yang selalu berkembang. Adapun industri-industri yang berada pada ruas jalan tersebut diantaranya PT. Penyebab utama ketidak teraturan . Selain itu perkembangan sektor-sektor perdagangan. Seperti pertumbuhan penduduk Banyumanik yang tinggi menuntut adanya pengendalian pemanfaatan lahan kota yang mampu menampung aktivitas penduduk yang juga selalu berkembang. Pengaruh yang tidak kalah penting adalah keberadaan Swalayan ADA dan pintu tol Banyumnaik dan Jatingaleh. dan lain-lain. PT. salah satunya terpenuhi di wilayah pinggiran kota induk. sedangkan di sisi lain kebutuhan lahan kota yang terbatas menyebabkan pemenuhan kebutuhan akan ruang kota. Kubota Indonesia. Yuwono Setiabudi. Mega Rubber Factory. Salah satunya adalah kondisi kelas jalan sudah tidak mampu lagi menahan beban arus lalu lintas dan jenis kendaraan yang melintasinya. Jamu Jago. industri dan jasa di ruas jalan tersebut berdampak kepada terganggunya sistem transportasi wilayah.

Dengan kata lain perkembangan fasilitas fisik meloncat (urban sprawl) sehingga tidak ada kesatuan dari perkembangan ruang-ruang aktivitas perkotaan yang menyebabkan perkembangan lahan perkotaan menjadi tidak terkendali. Seperti pada kawasan Banyumanik. suhu udara yang meningkat. Tingginya intensitas penggunaan lahan kawasan yang mengabaikan persyaratan KDB dan KLB sehingga kepadatan kurang terkendali dan tingkat run off yang tinggi kepada wilayah di bawahnya. Pertambahan jumlah penduduk dan penggunaan lahan berdampak langsung kepada struktur ekologis lingkungan seperti berkurangnya daya permeabilitas tanah. hilangnya lahan konservasi dan penurunan muka air tanah akibat tingginya pemenuhan akan lahan terbangun. 1. longsor pada kawasan lokal maupun kawasan di bawahnya. KESIMPULAN Dampak dari urbanisasi di wilayah pinggiran ditinjau dari segi lingkungan hidup adalah turunnya kualitas lingkungan hidup seperti tingkat polusi dan kebisingan di kawasan semakin meningkat.guna lahan disebabkan oleh tidak meratanya persebaran fasilitas kota yanhg hanya terkonsentrasi di salah satu pusat kota saja. berkurang kandungan air tanah dalam bumi dan berkurangnya sistem drainase alam. indikasi ke arah tersebut sudah terlihat dengan adanya gejala yang terjadi seperti . Kenyataan penurunan luasan lahan konservasi maupun penurunan muka air tanah akan menimbulkan bencana banjir. .

2. Berkurangnya ruang hijau akibat aktivitas penggunaan lahan yang tidak teratur seperti di beberapa jalur tranportasi kawasan. 3. . Berkurangnya lahan kosong sebagai drainase dengan meningkatnya intensitas lahan terbangun seperti di kelurahan Banyumnaik. Ngesrep dan Sumurboto.