Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Secara tradisinya, apabila sebuah negara menghadapi pertikian


negara itu akan mengumumkan perang. Sebaliknya, pada hari ini, negara
tersebut termasuklah negara – negara anggota ASEAN tidak memilih
kekuatan senjata tetapi menggunakan bahasa sebagai satu mekanisme
untuk menyelesaikan pertikaian diantaranya melalui perundingan
diplomatik. Dalam Makalah ini akan mengupas konsep tentang
Penyelesaian Perselisihan Kasus Sipadan dan Ligitan antara Indonesia
dan Malaysia mengenai kedaulatan ke atas Pulau Ligitan dan Pulau
Sipadan.
Pada umumnya, penyelesaian sengketa dogolongkan dalam dua
kategori, yaitu :
1. Cara – cara penyelesaian damai, yaitu apabila para pihak telah dapat
menyepakati untuk menemukan suatu solusi yang bersahabat. Dalam
metode, menurut sifatnya dibagi dua, yaitu secara politik dan secara
huku. Penyelesaian damai yang bersifat politik meliputi perundingan
(negotiation), jasa – jasa baik (good-offices), penyelidikan (inquiry),
Penengahan (mediation) dan konsiliasi (concilition). Sedangkan
penyelesaian damai yang bersifat hukum / prosedur hukum meliputi
arbitrase (arbitration) dan penyelesaian hukum (judical senlement).
2. cara – cara penyelesaian secara paksa atau dengan kekerasan, yaitu
apabila solusi yang dipakai atau dikenakan adalah melalui kekerasan.
Penyelesaian melalu kekerasan meliputi perang dan tindakan
bersenjata non perang, retorasi (retorsion), dikenakan tindakan –
tindakan pembalasan (reprisals), blokade secara damai (pasific
blockade) dan intervensi (interventation).
Dalam hal ini akan dibahas mengenai penyelesaian hukum (judical
settlement) yang berarti suatu penyelesaian dihasilkan melalui pengadilan
yudisial Intrenasional yang dibentuk sebagaimana mestinya, dengan
memberlakukan kaidah – kaidah huku. Dan merupakan salah satu organ

1
umum untuk penyelesaian yudisial yang ada pada saat ini tersedia dalam
masyarakat internasional adalah International Court of Justice atau
disebut Mahkamah internasional.

2
BAB II
PENYELESAIAN PERSELISIHAN KASUS SIPADAN LIGITAN MELALUI
MAHKAMAH INTERNASIONAL

2.1 SEJARAH BERDIRINYA MAHKAMAH INTERNASIONAL


Pembentukan Pengadilan menggambarkan puncak perkembangan
yang cukup lama dari metode atau cara – cara penyelesaian secara
damai terhadap sengketa – sengketa Internasional, dimanaasal mulanya
dapat dikatakan kembali ke masa yang lampau.
Pasal 33 dari Piagam PBB dibahas mengenai cara – cara
penyelesaian sengketa internasional secara damai dimana meliputi
negotiation, enquiry, mediation,arbitrarion, judical settlement, dan resort to
regional agencies or arraggement, serta dimasukan juga good-offices.
Pada prosedur arbitrase (arbitration) dan penyelesaian hukum (judical
settlement) mempunyai perbedaan yang terletak adalah prosedur untuk
penyelesaian sengketa atas hak – hak hukum para pihak, atas dasar
hukum yang berlaku (kecuali para pihak berpendapat lain) dan
menghasilkan keputusan yang mengikat para pihak.
Sejarah dari terbentuknya suatu Mahkamah Internasional dimulai
dengan suatu pembentukan lembaga Arbitrase yang merupakan lembaga
penyelesaian sengketa internasional secara damai. Arbitrase adalah :
suatu institusi yang sudah cukup tua, tetapi sejarah arbitrase modern yang
diakui adalah sejak Jay Treaty 1794 antara Amerika dan Inggris, yang
mengatur pengajuan sengketa – sengketa kepada arbtrase juga sering
dimasukan ke dalam tratat – traktat, khusunya konvensi ‘yang membuat
hukum’ (law-making) dan mengutip penyataan hakim Manly O. Hudson,
“arbtrase karenanya menjadi tangan utama legislasi Internasional “karena
sengketa – sengketa mengenai penafsiran konvensi – konvensi atau
penerapan ketentuan – ketentuan konvensi dapat diajukan kepadanya
untuk memperoleh jalan pemecahan.

3
a. Permanent Court of Arbbitration.
Suatu langkah maju bagi perkembangan arbitrase, yaitu konvensi
The Haque 1899 dan 1907 mendirikan Permanent Court of Abitration yang
dalam kenyataannya tidak permanen dan tidak berbentuk pengadilan.
Dimana setiap negara peserta / anggota dapat mengangkat empat orang
yang memenuhi syarat di bidang hukum Internasional dan semua orang
yang ditunjuk tersebut merupakan sebuah panel para ahli hukum yang
kompeten yang dari mereka itulah diangkat para arbitrator apabila di
perlukan.
Arbitrase pada hakikatnya adalah suatu prosedur konsensus. Negara
– negara tidak dapat dipaksa untuk di bawa ke muka arbtrase kecuali jika
mereka bersetuju untuk melakukan hal tersebut, baik secara umum dan
sebelumnya maupun advoc berkenaan dengan suatu sengketa tertentu
Proses arbtrase, di samping berkeinginan untuk adanya sebuah
pengadilan yang permanen, tetap akan menjadi suatu proses yang
bermanfaat guna mewujudkan kemajuan – kemajuan dan akan adanya
suatu kategori sengketa dimana menyerahkan ke mahkamah
internasional. Dengan demikian, pembentukan Permanent Court of Justice
pada tahun 1920 tidak meyebabkan dihapusnya lembaga Permanent
Court of Arbtration dan The General Act for the pasific settlement of
Internasional Disputes 1928.

b. Permanent Court of International Justice


Dalam pasal 14 Convenant Liga Bangsa – Bangsa diberikan tugas
kepada dewan liga untuk “ menyusun dan mengajukan rencana – rencana
bagi pembentukan sebuah Mahkamah Internasional Permanen kepada
anggota – anggota liga untuk disahkan…”. Dewan liga kemudian
mengangkat sebuah komite penasihat yang terdiri dari ahli – ahli hukum
dan di dalam komite itulah digunakan untuk memecakan persoalan
penting mengenai pemilihan para hakim.
Permanent Court of International Justice bukan merupakansuatu
organ dari Liga Bangsa – Bangsa meskipun dalam beberapa tindakannya

4
berhubungan dengan liga. Dan perbedaan pokok antara Mahkamah
dengan arbitrase merujuk kepada hal – hal berikut :
1. Mahkamah secara permanen merupakan sebuah pengadilan, yang
diatur dengan statuta dan serangkaian ketentuan prosedurnya
yang mengikat terhadap semua pihak yang berhubungan dengan
mahkamah.
2. Mahkamah memiliki panitera (register) tetap, yang menjalankan
semua fungsi yang diperlukan dalam menerima dokumen –
dokumen untuk diarsip, dilakukan pencatatan dan pengesahan,
pelayanan umum Mahkamah dan bertindak sebagai saluran
komunikasi tetap dengan pemerintah dan badan – badan lain.
3. Proses peradilan dilakukan secara terbuka, sementara pemelaan –
pembelaan dan catatan – catatan dengar pendapat serta
keputusan – keputusannya dipublikasikan.
4. Pada prinsipnya Mahkamah dapat dimasuki oleh semua negara
untuk proses penyelesaian yudisial segala kasus yang dapat
diserahkan oleh negara – negara itu kepadanya dan semua
masalah khususnya yang diatur dalam traktat dan konvensi yang
berlaku.
5. Pasal 38 Statuta Mahkamah dalam perkara – perkara dan masalah
– masalah yang diajukan kehadapannya, tanpa menyampingkan
kewenangan mahkamah untuk memutuskan suatu perkara
exaequo et bono yang berarti demi keadilan dan kebaikan, apabila
para pihak setuju terhadap cara tersebut.
6. Keanggotaan Mahkamah adalah berupa wakil – wakil dari bagian
terbesar masyarakat internasional mewakili sistem hukum utama :
sejauh hal itu tidak bertentangan dengan pengadilan lain.
7. Yang terakhir, dimungkinkan bagi Mahkamah untuk
mengembangkan suatu praktek yang konsisten dalam proses –
proses peradilannya dan memelihara kesinambungan wawasan
terhadap suatu hal yang tidak sesuai jika dilakukan pengadilan –
pengadilan ad hoc.

5
Antara tahun 1922 dan 1940, Permanent Court of International
Justice telah menyelesaikan 29 perkara di muka pengadilan (contentious
case) dan 27 nasehat hukum (advisory opinions). Dalam waktu yang
sama juga beberapa ratus perjanjian (treaty), konvensi (convention) dan
mengumumkan pertimbangan yuridiksi di atasnya terhadap jenis – jenis
sengketa tersebut.
Pecah perang yang di mulai pada September 1939 memberikan
sebuah konsekuensi yang tidak dapat diletakan bagi Permanent Court of
Onternational Justice, dimana beberapa tahun sebelumnya telah
mengalam pengurangan aktivitasnya. Pada tanggal 4 Desembe 1939,
Permanent Court of International Justice tidak lagi menangani masalah –
masalah peradilan dan tidak melakukan pemilihan hakim – hakimnya. Dan
pada tahun 1940 mahkamah pindah dari kedudukannya di Denhaag ke
Jenewa, hanya tinggal seorang hakim yang tersisa di Den Haag bersama
dengan beberapa petugas panitera yang berkebangsaan Belanda.
Walaupun dalam tekanan keadaan perang, suatu pemikiran harustetap
diberikan untuk masa depan pengadilan sebagaimana pembentukan dari
politik internasional yang baru.
Pada tahun 1942, Amerika dan Inggris mempunyai rencana untuk
mendirikan konsep badan Peradilan, yaitu :
1. Harus merupakan organ yuridis utama dari organisasi
internasional yang akan dibentuk.
2. Membuat suatu peradilan baru dirasakan lebih konsisten karena
Permanent Court of International Justice tidak sesuai dengan
perkembangan dalam Liga Bangsa-Bangsa.
3. Beberapa negara tidak terwakili dalam konferensi San Fransisco.
4. Pertemuan terakhir pada bulan Oktober 1945, membahasa
bagaimana untuk merubah kerangka dari Permanent Court of
Onternational Justice kepada International Court of Justice
akhirnya pada tanggal 31 Januari 1946, seluruh hakim dari
Permanent Court of International Justice mengundurkan diri dari
pada tanggal 5 Februari 1946, dilakukan pemilihan anggota

6
pertama dari International Court of Justice. Pengukuhan
kedudukan International Court of Justice yang dilaksanakan pada
tanggal 18 April 1946, dan pada tanggal itu juga pedahulunya
yaitu Permanent Court of International Justice, dububarkan oleh
Majelis Liga Bangsa – Bangsa pada waktu sidang terakhirnya.

c. International Court of Justice


International Court of Justice berkedudukan di Peace Palace, The
Hague (Netherlands) yang bertindak sebagai pengadilan dunia dimana
memutus perkara – perkara dalam sengketa – sengketa hukum
International dari suatu negara dan juga memberikan pendapat dalam
bentuk nasehat hukum (Advisory Opinion).
International Court Of Justice dibentuk berdasarkan pasal 92-96
Piagam Perserikatan Bangsa – Bangsa yang dirumuskan di San
Fransisco pada tahun 1945, pasal 92 menyatakan bahwa Mahkamah
adalah organ utama PBB. Karena itu, maka negara – negara anggota
PBB otomatis terikat kepada Mahkamah (International Court of Justice)
sebagaimana halnya kepada organ – organ PBB lainnya. Dalam bidang
penyelesaian sengketa – sengketa secara damai, Mahkamah juga terikat
pada tujuan dan perinsip PBB yang dinyatakan pada pasal 1 dan 2
Piagam PBB dan karena statuta Mahkamah dilampirkan pada Piagam
PBB serta merupakan bagian itegral dari Piagam PBB, maka konteks
Piagam PBB Tersebut merupakan suatu faktor pengendali dalam
penafsiran ketentuan – ketentuan dari statua.
Statua International Court of Justice memuat kaidah dasar mengenai
konstitusi, yuridiksi dan prosedur Mahkamah serta ditambah dengan dua
perangkat kaidah yang dikeluarkan oleh mahkamah sesuai dengan
kewenangannya untuk perumusan peraturan yang dimilkinya menurut
pasal 30 statua ICJ, yaitu :
1. Rules of Court yang disahkan pada tanggal 14 April 1978 yang
merupakan suatu revisi atas peraturan sebelumnya yang disahkan
pada tanggal 6 Mei 1946, yang didasarkan pada aturan yang sama

7
dengan aturan yang diberlakukan pada PCIJ dan telah diubah pada
tahun 1972. ketentuan itu mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1978,
dimana aturan – aturan revisi yang baru bukan saja memuat ketentuan
– ketentuan acara, melainkan juga kaidah – kaidah yang mengatur
struktur dan tugas Mahkamah serta tugas – tugas dari panitera.
2. Resolusi tanggal 12 April 1978, mengenai praktek yuridisial Intern
Mahkamah, yang merupakan versi revisi dari resolusi yang dikeluarkan
tanggal 5 Juni 1968, Resolusi ini menentapkan praktek yang harus
diikuti oleh Mahkamah berkaitan dengan pertukaran pandangan antara
para hakim dalam kaitannya dengan masalah – masalah khusus,
setelah selesainya proses perkara tertulis dan sebelum
diselenggarakan dengan pendapat lain, serta berkenaan dengan
pertimbangan Mahkamah secara terpisah setelah penyimpulan dengan
pendapat lain, tentang suatu pendapat untuk mencapai keputusan,
pemungutan suara oleh para hakim, persiapan keputusan dan opini –
opini terpisah serta opini – opini yang menyanggah.
dalam peraturan dapat dijumpai dalam Statua dan dalam Rules of
Court. Perbedaan hakiki antara kedua instrumen adalah statua
terutama sangat penting bagi Mahkamah itu sendiri, sedangkan Rules
of Court sangat penting bagi para pihak yang berpekara dihadapan
Mahkamah. Lebih lanjut, Statua memiliki kedudukan yang lebih tinggi
dibanding dengan Rules of Court. Karena merupakan suatu bagian
integral dari Piagam PBB (charter), Statua tidak dapat diubah secara
langsung oleh tidak bertentangan dengan ketentuan statua.

2.2 KEANGGOTAAN MAHKAMAH INTERNASIONAL


Semua anggota PBB ipso facto yang berarti faktanya sendiri, adalah
peserta statua, akan tetapi negara yang bukan anggota PBB dapat juga
menjadi peserta, berdasarkan syarat – syarat yang ditetapka dalam setiap
perkara oleh Majelis Umum PBB atas rekomendasi dari dewan Keamanan
(pasal 93 Piagam PBB). Sayarat – syarat itu adalah penerimaan negara
yang bukan anggota atas Statuta, penerimaan kewajiban – kewajiban

8
(pasal 94 Piagam PBB) dan melaksanakan suatu pemberian sumbangan
anggaran Mahkamah seperti yang dimuat dalam resolusi Majelis Umum
tanggal 11 Desember 1946.

a. Pemilihan Hakim Mahkamah International


Mengenai pemilihan haki, sebagaimana diatur dalam statua meliputi
dua tahap, yaitu.
1. Pencalonan (nomination)
2. Pemilihan (election)
Untuk pencalonan, penyelenggaraannya dipercayakan kepada
kelompok – kelompok nasional dalam Permanent Court of Arbitratio dan
bagi negara yang ingin menjadi anggota dalam satatua, tetapi tidak
menjadi anggota Permanent Court of Arbitration, maka disyaratkan untuk
membentuk suatu kelompok rasional dengan syarat – syarat yang sama
seperti yang dinyatakan dalam pasal 44 konvensi 1907 atau pasal 4
dalam Statuta. Sebelum melakukan pencalonan atau pengajuan calon,
menurut pasal 6 Statua, setiap kelompok nasional diminta untuk
konsultasi dengan Mahkamah Agung Nasional, fakultas – fakultas hukum
dan akademi – akademi nasional yang memusatkan studi pada hukum
internasional.
Kelompok nasional ini diizinkan mengajukan calon tidak lebih dari
empat orang, yang mana tidak lebih dari dua orang yang
berkembangsaan yang sama dengan kelompok nasional itu atau untuk
pemilihan periodik tidak melebihi kelipatan jumlah lowongan yang ada
(pasal 5 (2) statua).
Dari daftar calon, Majelis Umum dan Dewan Keamanan secara
independen melakukan pemungutan suara untuk memilih anggota –
anggota mahkamah (pasal 8 statua), yang mana kemudian akan diambil
15 orang anggota dari calon yang diajukan. Setiap calon dipilih
berdasarkan suara terbanyak mutlak dari kedua organ itu dan jika jabatan
itu tetap kosong, maka sidang kedua atau ketiga dapat diselenggarakan
dalam usaha untuk mendapatkan suara terbanyak mutlak ini dalam kedua

9
organ. Apabila jabatan belum juga terisi, maka pertemuan bersama kedua
organ itu dengan mendelegasikan tiga anggotanya, akan berupaya akan
mengajukan nama – nama itu kepada kesua organ.
Apabila Konferensi atau pertemuan bersama itu tidak juga berhasil
mencapai suara terbanyak dalam hal persetujuan seorang calon,
selanjutnya anggota – anggota mahkamah yang terpilih dapat mulai
mengisis lowongan – lowongan kandidat – kandidat yang memperoleh
suara baik dalam Majlis Umum maupun Dewan Keamanan dan dalam hal
ini terjadi kesamaan suara, maka hakim tertua memiliki hak suara memilih.
Dalam Permanent Court of International Justice dan International
Courtof Justice sistem pencalonan dan pemilihan hakimnya tetap sama,
akan tetapi ada beberapa perubahan tertentu. Perubahan – perubahan ini
antara lain adalah penyerahan kepada Assemblt dan League Council yang
berubah menjadi General Assembly dan Security Council PBB, dan
pemungutan suara pemilihan dalam Dewan Keamanan PBB yaitu tentang
ketentuan khusus pasal 10 ayat 2 statua dengan maksud menghindari
veto. Selanjutnya pasal 13 Statua yang baru memuat suatu pola untuk
penggiliran (staggering) pemilihan – penilihan sehingga lima orang dipilih
setipa anggota untuk masa jabatan selama tiga tahun dan seorang hakim
dimungkinkan untuk dipilih kembali. Hal ini bertujuan untuk keseimbangan
pengalaman pada Mahkamah. Namun, ada pengadilan dalam pemilihan
berkala untuk mengisi lowongan yang disebabkan oleh meninggalnya atau
permintaan berhenti dari seorang hakim.

b. Hakim Ad Hoc
Dalam pengadilan ad hoc d mana karakter “yang mewakili” para
hakim sangat menonjol, PICJ dan ICJ mempunyai tujuan untuk menjamin
adanya sebuah badan dengan hakim – hakim yang independen. Maka,
pasal 2 Statua menyatakan pemilihan tanpa memandang kebangsaan
mereka, namun dalam prakteknya, anggota tetap dewa Keamanan selalu
menempatkan hakimnya dalam Mahkamah. Sejalan dengan penegasan
untuk meyelsaikan perkara diman negara asal hakim tersebut menjadi

10
salah satu pihak. Akan tetapi, pasal 31 Statua memberi pihak lain yang
tidak menempatkan hakim di dalam Mahkamah, dapat mengajukan calon
hakim ad hoc. Sedangkan apabila dalam suatu perkara, masing – masing
pihak tidak mempunyai hakim dalam Mahkamah yang berasal dari masing
– masing negara, maka kedua pihak berhak mencalonkan hakim – hakin
ad hoc.
Pengajuan hakim – hakim ad hoc mempunyai kepentingan politis,
yaitu sebagai alat pembujuk kepada negara – negara untuk menggunakan
Mahkamah sebagai upaya penyelesaian dari suatu sengketa. Hal ini
sejalan dengan gagasan Mahkamah sebagai lembaga independen dan
secara dapat dikatakan bahwa tidak ada hakim ad hoc yang memberi
suara yang bertentangan dengan negara asal hakim tersebut. Argumen ini
nampaknya dimaksudkan untuk meniadakan adanya agen – agen
penasehat – penasehatr negara tersebut.

c. Idependensi Hakim
Terdapat dua kriteria yang mengatur pemilihan hakim, yaitu : kriteria
pertama, menurut pasal 2 Statua, berdasarkan sifat pribadi pada hakim –
hakim harus orang - orang yang bermoral tinggi, yang memiliki kualifikasi
di negara asal hakim tersebut, atau penasehat – penasehat hukum yang
kompetensi diakui dibidang hukum internasional. Kriteria kedua, menurut
pasal 9 Statuta, menyatakan bahwa lembaga atau badan para hakim itu
secara keseluruhan harus mencerminkan bentuk – bentuk utama
peradaban dan prinsip – prinsi sistem hukum internasional harus
dilaksanakan. Di sini berkembang tendensi yang menuntut secara tegas
adanya pembagian imbang berdasarkan geografis yang telah menjadi
karakter dari komposisi sejumlah organ atau badan PBB berkomposisi
terbatas, yang memungkinkan diabaikannya kriteria pertama, yaitu
mengenai pribadi para hakim. Pasal 18 menyatakan bahwa tidak ada usia
pensiun bagi hakim dan pemberhentian mereka hanya dapat dilakukan
melalui keputusan suara bulat anggota – anggota Mahkamah lainnya.
Lebih lanjut pasal 16 terlarang hakim – hakim melakukan suatu tugas

11
politis atau administrasi atau terikat pada pekerjaan hakim yang bersifat
profesional dan pada pasal 17 melarang seorang hakim yang menangani
perkara tertentu di mana ia bertindak sebagai agen, penasehat dan
sebagainya dalam kasus tersebut. Upaya pembatasan ini dimaksudkan
untuk menjamin kebebasan dalam ari bahwa dengan tidak adanya
pekerjaan lain itu. Para hakim harus dibayar secara layak sebagai hakim.
Akan tetapi dalam pernyataannya hakim – hakim dibayar dengan
pembebasan dari pajak pendapatan serta ditambah jumlah tunjangan
pensiun, demikian juga para hakim ad hoc dibayar oleh dana Mahkamah
dan bukan oleh para pihak seperti dilakukan dalam pengadilan –
pengadilan ad hoc.

1.3 TINJAUAN MENGENAI KLAIM YANG DILAKUKAN ANTAR


NEGARA DALAM SENGKETA PERBATASAN

Paa sub bab ini akan dibahas mengenai kalim yang dilakukan oleh para
pihak, yaitu Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya perlu di ketahui
pengertian atau definisi dari klaim itu sendiri. Klaim adalah suatu tuntutan
atau suatu gugatan, dalam hal ini dilakukan oleh para pihak mengenai
kedaulatan atas batas – batas wilayah negaranya. Sidang International
Court and Justice (ICJ) pada tanggal 17 Desember 2002 telah
memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan yang sejak tahun 1970-an
menjadi sengketa antara Malaysia dan Indonesia, secara resmi menjadi
milik Malaysia. Sehubungan dengan keputusan yang cukup mengejutkan
Bangsa Indonesia tersebut, bersama ini kami menyampaikan masukan
dan tanggapan sebagai berikut :

1. Pulau Sipadan memiliki luas 10,4 ha dan terletak 15 mil dari Sabah
serta 40 mil dari daratan Pulau Sebatik, demikian juga dengan
Pulau Ligitan hanya 7,9 ha dengan j arak 21 mil dari Sabah dan
57,6 mil dari Sebatik.Masalah Sipadan dan Ligitan muncul menjadi
sengketa tentang kepemilikannya, apakah Indonesia atau Malaysia

12
bermula sejak tahun 1969, dimana sejak saat itu kedua negara
menyepakati tidak akan melakukan kegiatan apapun pada kedua
pulau tersebut sambil terus mengupayakan penyelesaiannya.
2. Dari sejarah “kepemilikan” Pulau Sipadan dan Ligitan ini dapat
ditelusuri jauh kebelakang, berdasarkan argumen masing-masing
negara, meliputi : a. Indonesia memiliki data-data sejarah yang
mendukung klaim kepemilikan atas Pulau Sipadan dan Ligitan,
yaitu :
o Konvensi antara Belanda - Inggris pada tahun 1891
mengenai kesepakatan daerah di selatan garis paralel 4′ 10
menit Lintang Utara milik Belanda dimana Pulau Sipadan
dan Ligitan berada di sebelah selatan garis itu.
o Kesepakatan tersebut dikukuhkan dalam peta yang dibuat
Belanda dan diakui Inggris.
o Peta-peta yang dibuat Kartografi Stanford (Inggris) dan peta
yang dibuat Badan Pemetaan Nasional Malaysia hingga
1970-an, tidak mencantumkan Sipadan - Ligitan sebagai
milik Malaysia.
o Belanda telah melakukan kedaulatan dengan melakukan
survei serta patroli dikedua pulau itu pada 1903 serta
mendaratkan Kapal Lynx di Sipadan pada 1921.
o Izin penambangan minyak yang dikeluarkan Pemerintah
Indonesia dan Malaysia mengacu pada Konvensi 1891.

b. Demikian juga dengan Malaysia memiliki data-data sejarah,


yaitu:

o Kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan secara estafet dari


Sultan Dent/Overback - Inggris - Malaysia serta Sultan Sulu
-Spanyol - AS Inggris - Malaysia ( Chain of Title ).
o Doktrin penguasaan efektif secara berkesinambungan
(effective occupation) atas kedua pulau tersebut.

13
o Malaysia lebih banyak memiliki bukti tindakan administratif di
kedua pulau itu. Antara lain penerbitan ordonansi
perlindungan satwa burung oleh Inggris pada 1917,
penarikan pajak bagi pengumpul telur penyu sejak tahun
1930 dan pengoperasian mercusuar sejak tahun 1960-an
serta melaksanakan aktivitas kepariwisataan sejak 1980.
o Fakta bahwa, kapal perang AS pada 1903 mengunjungi
Pulau Sipadan dan mengklaim menjadi miliknya.
o Tidak ada bukti tertulis bahwa kedua pulau itu pernah berada
di bawah administrasi Belanda yang diperoleh dari
Kesultanan Bulungan.
o Garis batas 40 10 menit Lintang Utara bukanlah allocation
line, karena Ingris tidak pemah mengindikasikan
keinginannya untuk menentukan batas laut territorial di
Bomeo Utara.
3. Deklarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957 tentang Wawasan
Nusantara yaitu mengenai status Indonesia sebagai negara
kepulauan, dimana perairan territorial Indonesia sebelumnya hanya
sejauh 3 mil dari tiap-tiap pulau di kepulauan Indonesia. Konvensi
Hukum Laut I Jenewa 1958, Konvensi tentang Laut Teritorial
memungkinkan suatu negara menarik garis pangkal dengan
straight base line dan normal base line. Melalui Undang-Undang
No. 4/Prp/1960 tentang Perairan Indonesia dikenal sebagai negara
kepulauan dan dilakukan penarikan garis pangkal untuk mengukur
laut teritorial sejauh 12 mil dari titik terluar dari pulau-pulau terluar.
Titik dasar yang didapat dari hasil perhitungan diatas peta (tanpa
melalui survei lapangan) sebayak 200 titik dasar dengan metode
point to point theory.

Satu hal mendasar yang “terlupakan” dalam UU No. 4/Prpl1960


adalah Pulau Sipadan dan Ligitan tidak dimasukkan dalam wilayah
negara kepulauan Indonesia.

14
4. Sesuai dengan berjalannya waktu, sengketa Sipadan-Ligitan mulai
muncul pada tahun 1969 yaitu saat kedua negara mengadakan
perundingan penetapan batas landas kontinen di perairan Selat
Malaka dan Laut Sulawesi pada 22 September 1969 di Kuala
Lumpur. Dalam pembahasan tentang batas landas kontinen di laut
Sulawesi secara bersamaan baik delegasi Indonesia maupun
Malaysia mengklaim pulau Sipadan dan Ligitan sebagai miliknya.
Akhirnya dalam perundingan ini disepakati kedua pihak menahan
diri dan tidak akan melakukan kegiatan apapun pada kedua pulau
tersebut, sambil menunggu penyelesaian masalahnya.
Kesepakatan kedua negara ini ditafsirkan oleh Indonesia sebagai
penetapan “status quo” atas kedua pulau dimaksud

Namun dilain pihak Malaysia sejak tahun 1980-an telah melakukan


berbagai pembangunan infrastruktur pariwisata bahari di kedua
pulau, Sipadan dan Ligitan meskipun masih dalam status sengketa.
Indonesia beberapa kali mengajukan protes kepada Malaysia,
namun pengembangan pariwisata di kedua pulau berjalan terus.

5. Konferensi PBB tentang hukum laut III kpada 30 April 1982 di New
York telah berhasil menyusun United Nations Convention on the
Law of the Sea (UNCLOS’ 82) yang kemudian ditandatangani 117
negara termasuk Indonesia pada tanggal 10 Desember 1982 di
Montego Bay, Jamaica. Melalui Undang-Undang Nomor 17 tahun
1985 tanggal 31 Desember 1985, Indonesia meratifikasi UNCLOS’
82 yang berarti bahwa seluruh perangkat hukum Indonesia yang
sudah ada atau akan ada harus mengacu kepada konvensi
tersebut.

Dengan telah berlakunya UN,CLOS ‘82 secara resmi diseluruh


dunia sejak 16 Nopember 1994, maka Indonesia secara yuridis
formal telah diakui sebagai negara kepulauan, termasuk hak-hak
dan kewajiban yang melekat pada wilayah negara kepulauan.

15
Salah satu kewajiban Indonesia adalah penyesuaian cara
penarikan garis pangkal sesuai dengan ketentuan dalam LJNCLOS
‘82, yang selanjutnya menjadi dasar untuk penetapan perbatasan
wilayah laut, meliputi lebar Laut Teritorial 12 mil (pasal 3 LTNCLOS
‘82), Lajur Tambahan (Contigous Zone) 24 mil (pasal 33), Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE) selebar 200 mil (pasal 48 dan 57) serta
Landas Kontinen selebar 200 mil (pasal 76). Khusus untuk landas
kontinen dimana konfigurasi dasar lautnya sedemikian rupa
sehingga batas terluamya berada di continental margin yang
terletak di luar 200 mil ditetapkan maksimum selebar 350 mil dari
garis pangkal atau 100 mil dari kedalaman laut 2500 meter.

Tahun 1989 - 1995 Dishidros TNI-AL telah melaksanakan survei


lapangan guna penyesuaian titik dasar yang terdapat dalam
Undang-Undang 4/Prp/1960 (200 titik), dimana telah didapatkan
232 titik dasar. Hasil penyesuaian penarikan garis pangkal
berdasarkan UNCLOS ‘82, maka didapat 189 titik dasar.

Hasil survei inilah (189 titik dasar) yang digunakan sebagai


lampiran dari Undang-Undang Nomor 6 tahun 1996 tentang
Perairan Indonesia berupa Peta Iktisar wilayah yuridiksi Negara
Kepulauan Indonesia yang menggantikan Undang-Undang Nomor
4/Prpl1960, namun tanpa mencantumkan daftar koordinat titik-titik
dasar.

Penetapan UU (Undang-Undang) Nomor 6 tahun 1996 tentang


Perairan Indonesia ini antara lain dimaksud untuk memasukkan
(secara hukum) pulau Sipadan dan Ligitan yang tidak tercantum
dalam UU No. 4/Prpl1960, namun masih sangat lemah karena
batas wilayah negara Republik Indonesia hanya berupa Peta
Iktisar, tanpa daftar koordinat titik-titik dasar.

6. Batas wilayah yang ditetapkan Inggris (British North Borneo


Company) bersama Belanda di pulau Sebatik sepanjang garis

16
paralel 4 derajat, 10 menit LU, tidak tegas menunjukkan apakah
garis batas paralel tersebut ditarik ke laut sampai jauh kearah Timur
/ pulau Sipadan dan Ligitan. Dengan kata lain apakah konvensi
1891 hanya mengatur batas di darat (P. Sebatik) atau termasuk
juga batas dilaut (sampai arah Sipadan - Ligitan ). Hal ini dapat
dilihat dalam pasal 4, Konvensi 1891 sebagai berikut : From 4
degree 10 minutes latitude in the east coast the boundary line shall
be continued eastward along that parallel, across the island of
Sebatik,- that portion of the island situated to the north of that
parallel shall belong unreservedly to the British North Borneo
Company, and the portion south of that parallel to the Netherlands.

Indonesia mengartikan, garis batas 4 dera at 10 menit LU tersebut


berlanjut terus ke laut. Karena itu, Indonesia berpendapat bahwa
Konvensi 1891 tidak hanya mengatur batas darat Borneo,
melainkan juga batas laut. Hal itu diperkuat dengan Mukadimah
Konvensi 1891 yang menyebutkan, Konvensi dibuat untuk
menetapkan batas antara wilayah milik Belanda di Pulau Borneo
dan negaranegara di pulau tersebut yang berada dalam kekuasaan
Inggris.

Penafsiran itu pun sesuai dengan Konvensi Wina 1969 Pasal 31


tentang Perjanjian Intemasional yang mengatakan, interpretasi
suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik, sesuai
dengan makna kontekstual dan memperhatikan tujuan
pembentukan.

7. Tujuh tahun kemudian, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor


38 tahun 2002 tertanggal 28 Juni 2002 tentang Daftar Koordinat
Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia, batas
wilayah juridiksi negara Kepulauan Indonesia ditetapkan termasuk
pulau Sipadan (Titik Dasar No. 03 6 A) dan pulau Ligitan (Titik
Dasar No. 036 B dan 036 C). Namun penetapan PP Nomor 38

17
tahun 2002 ini sudah cukup terlambat untuk mendukung klaim
Indonesia bahwa pulau Sipadan-Ligitan masuk wilayah Indonesia,
dikaitkan dengan upaya penyelesaian sengketa pulau Sipadan-
Ligitan antara Indonesia dan Malaysia telah disepakati melalui
“Special Agreement for the Submission to the International Court of
Justice the Dispute between Indonesia and Malaysia Concerning
the Souverenity over pulau Sipadan and Ligitan” tanggal 31 Mei
1997, dimana kedua pihak memutuskan mengajukan sengketa
kedua pulau ke ICJ (Malikamah Intemasional) di Den Haag.
Kesepakatan tersebut langsung ditindaklanjuti pada 19 Nopember
1997 dan disusul Ratifikasi oleh Indonesia dengan Keppres Nomor
47 tahun 1997 tertanggal 29 Desember 1997. Special Agreement
ini disampaikan ke ICJ pada 2 Nopember 1998 melalui Notifikasi
bersama kedua negara. Hasil sidang ICJ tersebut nantinya bersifat
final dan mengikat (final and binding), selaras dengan Piagam PBB
Pasal 94 ayat 1.
8. Perkembangan terakhir dari sengketa pulau Sipadan dan Ligitan
yang ditangani oleh ICJ temyata tidak secara khusus menggunakan
argumen historis kedua negara. Para hakim ICJ yang berjumlah 17
orang (termasuk 2 orang hakin7 masing-masing mewakili Indonesia
dan Malaysia), justru menggunakan ordonansi pengeluaran izin
untukperlindungan margasatwa / burung pada tahun 1917 dan
penarikan pajak pemungut telur penyu tahun 1930 oleh pemerintah
Inggris. Hal ini merupakan pertimbangqn effectivities, dimana
penierintah Inggris yang menjajah Malaysia saat itu telah
nielaksanakan tindakan administratif di kedua pulau tersebut.
Dalam persidangan terakhir ICJ di Den Haag, Belanda pada
tanggal 17 Desember 2002, telah menjatuhkan putusan akhir
dimana dari 17 hakim, hanya I orang yang memenangkan
Indonesia, lainnya 16 orang hakim memenangkan Malaysia.

Keputusan final ICJ ini meneguhkan kedaulatan Malaysia atas


pulau Sipadan dan Ligitan, dilain pihak Indonesia tidak dapat

18
berbuat apa-apa dan harus menerimanya karena keputusan ICJ
bersifat final.

9. Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagis State) yang


terbesar di dunua dengan 15.708 pulau dan panjang garis pantai
81.000 km, memiliki wilayah perbatasan maritime laut dengan 10
negara yaitu : India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam,
Philipina, Republik Palau, Papua Nuigini, Timor Leste dan Australia.
Dari semua wilayah perbatasan dengan negara tetangga, baru
perbatasan maritime antara Indonesia dan Australia yang sudah
tuntas di tanda tangani pada tanggal 14 Maret 1997 di Perth,
Australia oleh Menteri Luar Negeri RI Ali A latas dan Menteri Luar
Negeri Australia Alexander Downer.

Dalam perjanjian batas maritime kedua negara ini, yang cukup


menonjol dan perlu disqsialisasikan untuk Pemda di wilayah
perbatasan adalah pulau Christmas yang memiliki wilayah ZEE
selebar 38,75 mil (12 mil wilayah kedaulatan dan 26,75 mil wilayah
ZEE, kearah Utara) dan Pulau Ashmore (dulu bemama Ashmore
Reef) dengan ZEE selebar 24 mil (12 mil wilayah kedaulatan dan
12 mil ZEE).

Adalah suatu ciri pokok dari kedaulatan dalam batas – batas ini,
sepertisemua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara harus
memiliki yuridiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas –
batas teoritisnya dan dalam semua perkara perdata dan pidana yang
timbul di dalam batas – batas ini.
Hal ini merupakan dasar dari Republik Indonesia dan Malaysia
memperebutkan kedua pulau tersebut dan untuk itu diperlukan bukti –
bukti yang kuat dalam mengajukan klaim mengenai kedaulatan atas pulau
Sipadan dan Ligitan.

19
1.4 Penyelesaian Kasus Sipadan dan Ligitan

PERSIDANGAN Mahkamah Internasional (International Court of Justice)


di Den Haag untuk mendengarkan argumen masing-masing pihak,
Malaysia dan Indonesia mengenai status kepemilikan Pulau Sipadan dan
Ligitan, sudah berakhir hari Rabu. Namun keputusan akhir mengenai
sengketa tersebut baru akan dapat dilakukan akhir Desember 2002 atau
awal Januari 2003.
Salah satu hal yang mengganjal kemesraan hubungan Indonesia-
Malaysia selama ini adalah sengketa yang menyangkut klaim
teritorial/kedaulatan atas kedua pulau yang terletak di lepas pantai
Kalimantan Timur dekat perbatasan Sabah, Malaysia Timur.
Walaupun Menlu Hassan Wirayuda mengemukakan rasa optimisnya
bahwa Indonesia akan memenangkan perkara/sengketa itu, yang
notabene kita harapkan juga demikian, namun keputusan Mahkamah
yang terdiri atas 15 anggota, dan 5 orang hakim majelis yang memeriksa
perkara tersebut bukanlah suatu hal yang mudah untuk diprediksi.
Argumentasi yang diajukan oleh masing-masing pihak untuk
memenangkan perkara itu memang berbeda satu sama lain. Malaysia
telah mengemukakan dalil-dalil efektivitas peranan ataupun kekuasaan
negaranya atas kedua pulau itu selama puluhan tahun terakhir ini.
Sedangkan Indonesia telah mengajukan dalil-dalil hukum berdasarkan
konvensi/perjanjian antara Belanda dengan Inggris tahun 1891 yang
menetapkan wilayah yang berada di utara garis lintang 4 derajat 10 menit
dari Pulau Sebatik merupakan milik Inggris, sedangkan wilayah yang
berada di selatan garis lintang tersebut milik Belanda.
Argumentasi tersebut telah dilengkapi pula oleh sejumlah peta yang
terdapat selama ini, yang notabene ada juga yang diakui oleh Malaysia
kebenarannya.
Masalahnya — dan ini merupakan suatu titik kelemahan argumentasi

20
Indonesia — adalah pihak Indonesia yang merasa menjadi pemilik kedua
kepulauan tersebut selama ini belum/tidak pernah mengelola apalagi
menguasai kedua pulau tersebut. Malahan sejak tahun 1978, Malaysia
telah menggarap Pulau Sipadan sebagai tempat rekreasi/wisata dengan
mengerahkan ratusan warga negaranya ke pulau tersebut.
Dengan kata lain, pulau tersebut hingga saat ini telah digarap, dihuni,
serta dikelola sepenuhnya oleh orang-orang dari Malaysia tanpa seorang
pun dari Indonesia. Malahan, Menlu Hassan Wirajuda telah
menganalogikan perkara atas kedua pulau tersebut bagaikan sengketa
antara pemilik sertifikat (Indonesia) dengan penggarap (Malaysia).
Permasalahannya tentu tidaklah sesederhana sebagaimana dianalogikan
Menlu Wirajuda itu. Sengketa Sipadan dan Ligitan bukanlah suatu perkara
perdata semata, tapi menyangkut klaim teritorial dan kedaulatan suatu
negara terhadap suatu wilayah.
Apabila konvensi/perjanjian antara Belanda dan Inggris tahun 1891 itu
memang benar, maka perlu dipertanyakan kenapa keutuhan dan
kedaulatan wilayah Republik Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang
merupakan wilayah peninggalan/warisan pemerintah Hindia Belanda tidak
ditegakkan secara konsekuen oleh aparat keamanan kita selama ini?
Apakah prinsip-prinsip hukum internasional atau pun Mahkamah
Internasional tersebut akan tetap membenarkan hak si pemilik, yang
selama puluhan tahun tidak pernah menginjak, mengelola, bahkan
menguasai secara fisik wilayah yang menjadi miliknya itu? Sampai sejauh
mana, unsur kadaluwarsa dipertimbangkan dalam tuntutan tersebut?
Kita tentu tidak menginginkan terjadinya kembali konfrontasi antara kedua
negara dalam penyelesaian sengketa atas kedua pulau tersebut. Akan
tetapi internasionalisasi penyelesaian konflik tersebut melalui Mahkamah
Internasional di Den Haag sesungguhnya telah menunjukkan
ketidakmampuan kedua negara untuk menyelesaikan sengketa.
Bahkan hal itu juga memperlihatkan kegagalan regional organisasi
ASEAN, — yang sudah menyediakan metode penyelesaian konflik di
antara anggota dalam Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia

21
(Traktat Kesepakatan dan Kerja sama di Asia Tenggara) pada KTT I
ASEAN di Bali tahun 1986, untuk menyelesaikan sengketa yang berada di
wilayahnya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sejarha terbentuknya suatu Mahkamah Internasional dimulai dengan
suatu pembentukan Lembaga Arbtrase yang merupakan lembaga
penyelesaian sengketa internasional secara damai. Arbtrase adalah suatu
institusi yang sudah cukup tua, tetapi sejarah arbtrase modern yang diakui
adalah sejak Jay Treaty 1794 antara Amerika dan inggris, yang mengatur
pembentukan tiga ”joint mixed commissions” untuk menyelesaikan
beberapa perselisihan tertntu yang tidak dapat diselesaikan selama
perundingan trkatat tersebut. Suatu dorongan lainnya bagi arbtrase
diberikan oleh Alabama Claims Award 1872 antara Amerika Serikat dan
Inggris.
Semua anggota PBB ipso facto yang berarti oleh faktanya sendiri,
adalah peserta statuta, akan tetapi negara yang bukan anggota PBB
dapat juga menjadi peserta, berdasarkan syarat – syarat yang ditetapkan
dalam setiap perkara oleh Majelis umum PBB atas rekomendasi dari
dewan keamanan (pasal 93 Piagam PBB). Syarat – syarat itu adalah
penerimaan negara yang bukan anggota atas semua, penerimaan
anggaran Mahkamah seperti yang dimuat dalam resolusi Mejalis Umum
tanggak 11 Desember 1946.
Pada umumnya, penyelesaian sengketa dogolongkan dalam dua
kategori, yaitu :
1. Cara – vara penyelesaian damai, yaitu apabila para pihak telah dapat
menyepakati untuk menemukan suatu solusi yang bersahabt. Dalam
metode, menurut sifatnya dibagi dua, yaitu secara politik dan secara
hukum. Penyelesaian damai yang bersifat politik meliputi perundingan

22
(ngotation), jasa – jasa baik (good-offices), penyelidikan (inquiry),
penengahan (mediation) dan konsiliasi (conciliation). Sedangkan
penyelesaian damai yang bersifat hukum / prosedur hukum meliputi
arbtrase (arbutration) dan penyelesaian hukum (judical settlement).
2. Cara – cara penyelesaian secara paksa atau dengan kekerasan, yaitu
apabila solusi yang dipakai atau dikenakan adalah melalui kekerasan.
Penyelesaian melalui kekerasan meliputi perang dan tindakan
bersenajata non perang, retorasi (retorsion), tindakan – tindakan
pembalasan (reprisals), blokade secara damai (pasific blockade) dan
intervensi (intervention).
,

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Diktat Mata Kuliah Hukum Internasional Jurnal Hukum Internasional

2. D.W. Bowett Q.C.LL.D, Hukum Organisasi Internasional,


terjemaham Bambang Iriana
Djajaatmadja, S.H. (Jakarta : Sinar Grafika, 1992), hal. 326.

3. J.G. Starke, Pengantar Hukum internasional, terjemaham Bambang


Iriana Djajaatmadja, SH
(Jakarta : Sinar Grafika, 1992), hal. 647

4. Kliping koran Pusat dokumentasi dan Perpustakaan Departemen


Luar Negeri, Kompas tanggal 10 September 1994.

5. Posted on Wed 14 Feb 2007 (586 reads)

6. www.google.com

7. http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_internasional

24