Anda di halaman 1dari 5

Kohesivitas

Definisi a. definisi secara harfiah - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kohesif berarti melekat satu dengan yang lain b. definisi menurut para ahli - Collins dan Raven (1964) : kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal di dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok. - George & jones (2002) Kohesivitas adalah anggota kelompok yang memiliki daya tarik satu sama lain. - Meshane & Glinow, Kohesivitas merupakan perasaan daya tarik individu terhadap kelompok dan motivasi mereka untuk tetap bersama kelompok di mana hal tersebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan kelompok. - Greenberg (2005), Kohesivitas adalah perasaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok. - Robbins (2001), Kohesivitas adalah sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut. - Gibson (2003), Kohesivitas adalah kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya dari pada terhadap kelompok lain. - Certo, s (2003), Kohesivitas adalah memiliki anggota yang ingin tetap tinggal dalam kelompok selama mengalami tekanan dalam kelompok. - Forsyth (1999), Kohesivitas adalah Kesatuan yang terjalin dalam kelompok, menikmati interaksi satu sama lain, dan memiliki waktu tertentu untuk bersama dan didalamnya terdapat semangat yang tinggi. Kesimpulan: Rasa kekompakan dan kebersamaan yang membuat anggota kelompok ingin selalu berada dalam kelompok tersebut. Berada dalam kelompok tersebut, anggota secara sukarela bahkan antusias untuk melakukan aktivitas dan tanggung jawabnya.

Peran Kohesivitas dalam kelompok

a. Kohesivitas sebagai daya ikat Kohesivitas sebagai daya ikat berarti kekuatan yang dilakukan oleh seluruh anggota kelompok agar dapat menjaga keutuhan kelompoknya dan menyelesaikan masalah atau rintangan secara bersama-sama. Kelompok yang memiliki tingkat kohesivitas tinggi maka antar anggota kelompoknya akan merasa memiliki keterikatan satu sama lain biasanya terlihat dari tingginya tingkat kebersamaan. b. Kohesivitas sebagai kesatuan kelompok Kohesivitas sebagai kesatuan kelompok berarti setiap anggota kelompok merasa aman, nyaman dan berada di kelompok yang tepat. Selain itu, satu anggota dengan anggota yang lain dalam kelompok ini merasa seperti dalam satu keluarga, mereka memiliki satu misi dan visi yang sama. Contohnya, di Walt Disney, mereka yakin bahwa mereka adalah anggota animasi terbaik di dunia dan percaya bahwa mereka akan mencapai tujuannya. c. Kohesivitas sebagai atraksi Kohesivitas sebagai atraksi dapat dibagi menjadi dua level. Pertama, level individual, yaitu ketertarikan antara satu anggota dengan anggota lainnya, dan kedua pada level kelompok yaitu ketertarikan individu tersebut tehadap kelompok itu sendiri. Akan tetapi ada beberapa ahli teori yang berpendapat bahwa, atraksi yang dapat digolongkan sebagai kohesivitas kelompok adalah atraksi pada tingkat kelompok. Seperti misalkan, seorang pemain bola yang tertarik terhadap kemampuan, kehebatan kekompakan suatu tim, akan berusaha keras demi tim, dan merasa senang dan bangga dalam tim tersebut. d. Kohesivitas sebagai kerjasama kelompok Kohesivitas adalah kemauan anggota untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok. Sebuah kelompok dapat dibilang memiliki kosehivitas yang tinggi jika mereka mengejar tujuan kelompoknya dengan intensitas yang tinggi. Sebagai contoh kelompok militer dengan basis untuk menyelesaikan misi tertentu memiliki tingkat kohesivitas yang tinggi. e. Kohesivitas sebagai multidimensional Kohesivitas adalah sebuah konstruksi yang memiliki dimensi yang tinggi, sehingga tidak ada satu jenis kohesivitas umum. Kohesivitas pada kelompok bisa terjadi karena berbagai kemungkinan misalnya semua anggota dari suatu kelompok adalah teman yang baik, atau memiliki rasa keterikatan yang kuat terhadap kelompok yang bersangkutan.

Faktor faktor yang membangun kohesivitas 1. Ketertarikan interpersonal antar anggota 2. Ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok 3. Sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya 4. Albert Myers (dalam Ahmadi, 2002) berdasarkan eksperimen yang dilakukan terhadap sejumlah regu tembak yang dipertandingkan, menyimpulkan bahwa ancaman dapat menimbulkan dan meningkatkan kohesivitas. McDougall (dalam Sarwono, 2005) menyimpulkan bahwa kohesivitas kelompok dapat tumbuh jika ada faktor-faktor yang menimbulkannya, yaitu: 5. Kelangsungan keberadaan kelompok (berlanjut untuk waktu yang lama) dalam arti keanggotaan dan peran setiap anggota. 6. Adanya tradisi, kebiasaan, dan adat. 7. Ada organisasi dalam kelompok. Kesadaran diri kelompok, yaitu setiap anggota tahu siapa saja yang termasuk dalam kelompok, bagaimana caranya ia berfungsi dalam kelompok,bagaimana struktur dalam kelompok, dan sebagainya. 8. Pengetahuan tentang kelompok. 9. Keterikatan kepada kelompok

Faktor faktor yang menurunkan kohesivitas Ketidaksepakatan kelompok yaitu dimana di dalam para anggota kelompok tidak memiliki ketidaksepakatan di dalam memberikan suatu pendapat yang akan menimbulkan menurunnya kohesivitas suatu kelompok. Jumlah anggota yang besar dapat menimbulkan menurunnya kohesivitas kelompok dikarenakan banyaknya pendapat-pendapat dari para anggota kelompok yang sulit untuk disepakati menjadi satu tujuan bersama. Pengalaman tidak menyenangkan salah satu anggota kelompok memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang berupa suatu konflik antar anggota kelompok yang menyebabkan menurunnya kohesivitas di suatu kelompok. Dominasi oleh salah satu anggota yaitu dalam kelompok ada salah satu anggota yang terlalu mendominasi yang menyebabkan iri di antara anggota kelompok yang dapat menimbulkan

perpecahan di dalam kelompok. Kompetisi antar anggota kelompok yaitu pada anggota kelompok terjadi kompetisi yang bertujuan untuk menunjukan siapa yang paling hebat di dalam kelompok yang dapat menimbulkan konflik juga di dalam kelompok.

Mengukur Kohesivitas dalam kelompok

Dengan menggunakan observasi Observasi ini dapat dilakukan untuk melihat ketegangan kerja dalam kelompok atau kelancaran dan keakraban diantara anggotanya. Selain itu dengan mengobservasi, dapat menggolongkan kelompok berdasarkan kesamaan mereka sehingga diharapkan kerja mereka menjadi efektif misalnya kelompok yang ramah dikelompokkan dengan kelompok yang ramah begitu juga dengan kelompok yang serius dikelompokkan dengan kelompok yang serius. Pendekatan self reporting Self-reporting adalah individu yang berada dalam suatu kelompok melaporkan tingkat kohesivitas yang ada di kelompoknya, dapat dilakukan dengan cara: a. The Group Environment Scale (GES) Mengukur kohesivitas dengan pertanyaan iya dan tidak. Beberapa contoh pertanyaannya seperti Apakah ada rasa kesatuan dan kohesivitas dalam kelompok ini? b. The Group Attitude Scale (GAS) Mengukur kohesivitas dengan mengukur kohesivitas dengan menanyakan keinginan untuk diidentifikasikan dan diterima sebagai anggota kelompok dengan menanyakan, Seberapa keinginan untuk tinggal dan merasa menjadi bagian dari kelompok ini? c. The Group Environment Questionnaire (GEQ) Mengukur kohesivitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua pertanyaan yaitu pertanyaan yang fokus pada penggabungan kelompok misalnya, Apakah kamu merasa bahwa kelompokmu bekerja sebagai suatu kesatuan yang utuh untuk mencapai suatu tujuan?. Serta pertanyaan yang berfokus pada daya tarik kelompok tersebut misalnya dengan bertanya, Apa yang kamu sukai dari kelompokmu?.

d. The Perceived Cohesion Scale (PCS) Mengukur kohesivitas dengan cara meminta anggota dari suatu kelompok untuk memberi tanggapan secara langsung mengenai perasaan mereka terhadap kelompoknya dan antusiasme yang ia miliki terhadap kelompoknya. Seperti pertanyaan, Dari skala 1-10, seberapa senang anda dengan kegiatan dalam kelompok anda?.

Konsekuensi dari kohesivitas

a. Member Satisfaction and Adjustment Kelompok yang kohesif biasanya kepuasan anggotanya lebih tingga daripada dalam kelompok ang non-kohesif. Selain itu kelompok yang kohesif dapat membuat lingkungan kerja jauh lebih sehat, setidaknya dalam psychological level karena setiap anggota kelompok kohesif saling merespon satu sama lain secara positif dibandingkan dengan anggota kelompok yang non-kohesif, setiap anggotanya dapat melaporkan kecemasan dan ketegangan yang rendah di dalam kelompok. b. Group Dynamics and Influence Ketika kohesifvitas meningkat, dinamika-internal dalam kelompok pun juga meningkat. Setiap orang yang berada dalam kelompok yang kohesif lebih siap menerima tujuan, keputusan dan norma kelompok itu sendiri. Selain itu juga, setiap anggota memiliki tekanan untuk menyesuaikan diri lebih besar dalam kelompok yang kohesif dan pertahanan seseorang pada tekanan ini melemah. c. Group Performance Kohesivitas yang tinggi tidak dapat menentukan produktivitas yang tinggi pula namun harus didukung oleh adanya norma. Dengan adanya norma maka produktivitas dan kohesivitas akan berelasi secara positif. Semakin kecil kelompok maka tingkat kohesivitas akan semakin tinggi. Selain itu, diharapkan kelompok membuat suatu tujuan yang realistis sehingga kohesivitas semakin tinggi. Contohnya, pegawai yang bekerja di sebuah perusahaan dengan aturan dan norma yang cukup kemudian disertai kesetiaan dan keloyalan dari pegawai tersebut akan memberikan produktivitas baik.