Anda di halaman 1dari 9

ARINA ROSYIDA 25010110130212 KELAS C/ SEMESTER V UTS EPIDP2NMM AFP 1.

Etiologi Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah kelumpuhan yang terjadi secara akut yang mengenai final common path, motor end plate, dan otot yaitu pada otot, saraf, neuromuscular junction, medula spinalis, dan kornu anterior. Istilah flaccid menggambarkan kelumpuhan Lower Motor Neuron (LMN), mengindikasikan tidak adanya tanda gangguan spastisitas seperti gangguan pada susunan saraf pusat traktus motorik lainnya misalnya hiperrefleks, klonus, atau respon ekstensor pada plantar. Kelumpuhan ini ditandai dengan karakteristik gejala klinis kelemahan yang timbul dengan cepat, termasuk kelemahan pada otot-otot pernapasan dan otot penelan, berkembang cepat menjadi berat dalam beberapa hari sampai minggu. AFP disebabkan oleh virus Polio liar yang termasuk golongan enterovirus. Selain golongan enterovirus, AFP juga dapat disebabkan oleh golongan adenovirus. Bahkan golongan flavivirus, seperti virus West Nile, virus Japanese ensefalitis, virus Murray Valley encephalitis juga dapat menyebabkan AFP. Penyebab AFP yang sering terjadi adalah Guillain Barre Syndrome (GBS) yang harus dibedakan dengan poliomyelitis. Sedangkan penyebab penting lain dari AFP antara lain Mielitis Transvers, Polioencephalitis, Paraplegia, Diplegia, Monoplegia-Upper, Monoplegia-Lower, Quadriplegia/Tetraplegia, Plegia

Unspecified, Plegia-Other, Flaccid Muscle Paralysis, Transcient Paralysis of a limb, Myelitis-Postvaccinal, Mononeuritis-Upper limb, Mononeuritis-Lower limb (Ditjen PP &PL, 2007).

Penyakit yang dapat menyebabkan AFP: a) Polio Myelitis Anterior Akut Polio Myelitis Anterior Akut adalah suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan sel motorik pada jaringan syaraf di tulang punggung dan batang

otak. Penyakit lebih banyak disebabkan oleh virus polio tetapi juga bisa disebabkan virus lain (WHO 1994 dalam Arifah, 1998). Penyakit yang termasuk polio myelitis anterior akut diantaranya virus polio, virus non-polio, VAPP. b) Guillain Bare Syndrome (GBS) GBS disebabkan karena adanya infeksi dari virus. GBS adalah salah satu penyakit saraf, juga merupakan salah satu polineuropati, karena hingga sekarang belum dapat dipastikan penyebabnya. Nmaun karena kebanyakan kasus terjadi sessudah proses infeksi, diduga GBS terjadi karena sistem kekebalan tidak berfungsi. Gejalanya adalah kelemahan otot, biasanya perlahan, mulai dari bawah ke atas. Jadi gejala awanya biasanya tidak bisa berjalan, atau gangguan berjalan. Sebaliknya penyembuhannya diawali dari bagian atas tubuh ke bawah, sehingga bila ada gejala sisa biasanya gangguan berjalan (Fredericks et all, 2007). c) Myelitis Transvers Pola kelumpuhan simetris dan statis. Demam kadang-kadang terjadi dan kadang tidak. Terjadi gangguan sensasi/rasa raba dan refleks tendon berkurang atau negatif dan akan kembali normal dalam waktu 1 s/d 3 minggu. Gejala khas penyakit ini adalah gangguan sensoris sesuai tingka kerusakan, gangguan proses berkemih dan defekasi, sering sakit yang berhubungan dengan pinggang. 2. Masa Inkubasi Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari. Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan

makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus. 3. Manifestasi Klinis Flaccid paralysis terjadi pada kurang dari 1% dari infeksi poliovirus dan lebih dari 90% infeksi tanpa gejala atau dengan demam tidak spesifik. Meningitis aseptik muncul pada sekitar 1% dari infeksi (Cono, J and L.N,. 2002). Gejala klinis minor berupa demam, sakit kepala, mual, muntah. Apabila penyakit berlanjut ke gejala mayor, timbul nyeri otot berat, kaku kuduk dan pinggung, serta dapat terjadi flaccid paralysis. Kelumpuhan yang terjadi secara akut adalah perkembangan kelumpuhan yang berlangsung cepat antara 1-14hari sejak terjadinya gejala awal (rasa nyeri, kesemutan, rasa tebal/kebas) sampai kelumpuhan maksimal. Sedangkan kelumpuhan flaccid adalah

kelumpuhan yang bersifat lunglai, lemas atau layuh bukan kaku, atau terjadi penurunan tonus otot (RSPI, 2004). Setiap kasus AFP adalah keadaan darurat klinis dan membutuhkan penanganan segera. Dalam setiap kasus, penjelasan rinci tentang gejala klinis harus diperoleh. Gejala tersebut termasuk kelumpuhan, gangguan gaya berjalan, kelemahan atau gangguan koordinasi dari satu atau beberapa alat gerak tubuh. Berbagai macam lesi yang dapat timbul pada sususan lower motor neuron berarti lesi tersebut merusak motoneuron, akson, motor end plate, dan otot skeletal, sehingga tidak terdapat gerakan apapun walaupun impuls motorik disampaikan ke motoneuron. Kelumpuhan tersebut disertai dengan tanda-tanda lower motor neuron yaitu: a) Hilangnya gerakan voluntar dan reflektorik, sehingga refleks tendon hilang dan refleks patologik tidak muncul. b) Tonus otot hilang. c) Musnahnya motoneuron beserta akson sehingga kesatuan motorik hilang dan terjadi atrofi otot. Tanda-tanda AFP harus dievaluasi secara klinis dengan pemeriksaan neurologis lengkap, termasuk penilaian kekuatan dan tonus otot, refleks tendon, fungsi saraf kranial dan fungsi sensoris. Perlu diperhatikan adanya tanda-tanda

meningismus, gangguan sistem saraf pusat (ataxia) atau sistem saraf otonom (fungsi usus dan kandung kemih, sfingter, dan refleks berkemih neurogenik). Pemeriksaan laboratorium

diperlukan pemeriksaan laju sedimentasi sel darah merah. Pemeriksaan elektrofisiologi sangat penting dalam menentukan diagnosis dan prognosis penyakit motorneuron. Pemeriksaan pungsi lumbal dan pemeriksaan cairan serebrospinal

diindikasikan untuk menyingkirkan diagnosis adanya infeksi bakteri pada sistem saraf. Infeksi bakteri ditunjukkan dengan adanya neutrofil, tingkat glukosa rendah, dan kandungan protein yang tinggi. Pemeriksaan kultur bakteri akan mengidentifikasi organisme spesifik. Pencitraan tulang belakang, seperti radiografi, CT-SCAN, atau magnetic resonance imaging (MRI) diindikasikan untuk menyingkirkan kompresi tulang belakang, mielopati, atau neoplasma poliradikulopati spondilosis. Pemeriksaan elektrokardiogram dapat diindikasikan untuk mendiagnosis adanya gangguan metabolisme elektrolit, seperti

kelumpuhan periodik yang disebabkan oleh keadaan hipovolemia. http://id.scribd.com/doc/79734612/TBR-Acute-Flaccid-Paralysis-Fix 4. Transmisi

Penyakit polio menular melalui kontak antar manusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita penyakit polio atau bisa juga dari air liur penderita penyakit polio. Kemudian virus menginfeksi bagian usus yang kemudian memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat sehingga bisa menyebabkan melemahnya otot serta terkadang menyebabkan kelumpuhan.
5. Cara pencegahan Ada beberapa langkah upaya pencegahan penyebaran penyakit polio ini, di antaranya adalah: 1. Eradikasi Polio Dalam World Health Assembly tahun 1988 yang diikuti oleh sebagian besar negara di seluruh penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000, artinya dunia bebas polio tahun 2000.

Program ERAPO yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan cakupan imunisasi yang menyeluruh. 2. PIN (Pekan Imunisasi Nasional) Semua bayi harus diimunisasi lengkap sebelum umur 1 tahun. Selanjutnya, pemerintah mengadakan PIN pada tahun 1995, 1996 dan 1997. Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang pada saat usia 1,5 tahun; 5 tahun; dan usia 15 tahun. Upaya imunisasi yang berulang ini tentu takkan menimbulkan dampak negatif. Bahkan merupakan satu-satunya program yang efisien dan efektif dalam pencegahan penyakit polio. 3. Survailance Acute Flaccid Paralysis Yaitu mencari penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan apakah karena polio atau bukan. Berbagai kasus yang diduga infeksi polio harus benar-benar diperiksa di laboratorium karena bisa saja kelumpuhan yang terjadi bukan karena polio. 4. Mopping Up Artinya tindakan vaksinasi massal terhadap anak usia di bawah 5 tahun di daerah ditemukannya penderita polio tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya. Tampaknya antarnegara di era tinggi globalisasi dan dimana mobilitas penduduk dalam

sangat

cepat,

muncul

kesulitan

mengendalikan penyebaran virus ini. Selain pencegahan dengan vaksinasi polio tentu harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Penggunaan jamban keluarga, air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi risiko penularan virus polio yang kembali mengkhawatirkan ini. Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan akibat polio menetap tak bisa disembuhkan. Penyembuhan yang bisa dilakukan sedikit sekali alias tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Namun, sebenarnya

orang tua tak perlu panik jika bayi dan anaknya telah memperoleh vaksinasi polio lengkap. 5. Vaksin Polio Ada dua jenis vaksin polio, vaksin polio oral yang ditemukan Albert Sabin dan vaksin polio yang dinonaktifkan yang dikembangkan Jonas Salk, yaitu sebagai berikut : a. Vaksin polio oral Diberikan ke dalam mulut. Berisi virus polio hidup yang telah dilemahkan. b. Vaksin polio yang tidak aktif Pemberiannya dengan cara disuntikkan. Mengandung virus polio yang telah dimatikan. Virus polio (poliomyelitis) sangat menular dan tak bisa disembuhkan. Virus ini menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan sistem saraf) dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen dan kelumpuhan total dalam hitungan jam saja. Bahkan sekitar 10-15 persen mereka yang terkena polio akhirnya meninggal karena yang diserang adalah otot pernapasannya. Hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan penyakit polio. Yang paling efektif hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi.

6. Strategi Pengendalian Kampanye polio dengan cara Eradikasi polio. Pengertian eradikasi polio

adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama tiga tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai dengan standar sertifikasi. Strategi dalam eradikasi polio yaitu ; 1) Imunisasi yang meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, dan imunisasi tambahan (PIN dan Mop-up) 2) Mempertahankan AFP rate 2/100.000 pada anak < 15 tahun, 3) Pengambilan specimen yang adekuat dan tepat waktu pada semua kasus AFP,dan 4) Peningkatan kemampuan laboratorium di Badan Litbangkes untuk sequencing virus polio. Strategi Eradikasi polio di Indonesia Mencari inovasi baru berdasarkan analisa situasi setempat

Advokasi Jejaring kerja dan koordinasi Sosialisasi (kampanye ) Penguatan kapasitas (SDM, sarana dan pra sarana, logistik) Pemenuhan kebutuhan dana Pemberdayaan masyarakat dan berbagai pihak terkait Mobilisasi sumber daya sampai kelapangan Monitoring dan evaluasi Surveilans AFP Tata laksana kasus Laboratorium Penanggulangan KLB Polio

Sosialisasi dan Mobilisasi a. Penyuluhan Penyuluhan ini dimaksudkan agar seluruh sasaran dan orang tua/pengasuh memahami manfaat imunisasi campak, polio dan TT, mengetahui waktu dan tempat pelayanan imunisasi untuk datang ke pos pelayanan imunisasi saat kampanye. Penyuluhan dapat dilakukan oleh petugas kesehatan, kader, atau pemuka masyarakat secara langsung dengan pendekatan perorangan yaitu pada saat pendataan (kunjungan rumah), maupun penyuluhan kelompok (pertemuan) atau melalui media komunikasi massa yang tersedia. Pesan-pesan penyuluhan antara lain : tentang manfaat imunisasi campak polio dan TT, siapa sasaran imunisasi, kapan dan dimana pelaksanaan kampanye, cara penanganan bila terjadi KIPI. b. Penggerakan masyarakat Kegiatan penggerakan sasaran imunisasi mulai dilaksanakan dua minggu sebelum kampanye. Pada saat pendataan sasaran imunisasi, kader menyampaikan pesan-pesan pentingnya imunisasi dan mengajak agar sasaran dan orang tua /pengasuh datang ke pos pelayanan yang telah ditentukan untuk mendapat imunisasi. Selain itu diharapkan peran dari lintas program (KIA dan Promkes di

Provinsi/Kabupaten/kota ) dan lintas sektor dalam memberikan dukungan sarana dan prasarana untuk suksesnya kegiatan kampanye. Guru di sekolah dapat juga menyampaikan kepada para orang tua yang mempunyai anak usia sasaran kampanye campak dan polio agar anaknya mendapat imunisasi di pos pelayanan imunisasi. Media sosialisasi mobilisasi seperti spanduk, poster atau leaflet dapat dimanfaatkan sebagai alat komunikasi informasi dan edukasi (KIE). Dua hari menjelang kampanye, kader kembali mengingatkan sasaran dan orang tua/pengasuh untuk datang ke pos pelayanan imunisasi, dengan mengunakan surat undangan. Sumber: Puslitbang Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Kesehatan. Etiologi Kasus Lumpuh Layu (AFP) di Provinsi Jawa Barat. Online

(http://www.risbinkes.litbang.depkes.go.id/Buku%20Laporan%20Penelitian%2 02006/etiologi%20%20kasus%20lumpuh%20layu.htm) diunduh 27 Desember 2012. Rahmawati, Dwi. 2008. Validitas Penapisan AFP. FKM

UI.Online(http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/123434-S-5383Validitas%20Penapisan-Literatur.pdf) diunduh 27 Desember 2012. Anonim. Cara Pencegahan Penyakit Polio. Online

(http://wejanganmbahdukun.blogspot.com/2012/07/cara-pencegahan-penyakitpolio.html)diakses pada tanggal 28 desember 2012. Anonim. 2011. Kampanye Campak Dan Polio Tambahan (Kcpt) Kabupaten Balangan http://dinkes.balangankab.go.id/post/read/90/kampanye-campak-

dan-polio-tambahan-kcpt.html diakses pada tanggal 28 desember 2012 Anonim. 2010. Pedoman Pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak Dan Polio Tahun 2009 2011. (http://www.bandung.go.id/images/download/Pedoman_kampanye_campak_d an_polio_2009_-_2011.pdf diakses pada tanggal 28 desember 2012

Ary sutiko, Rahmawaty. Accute Flaccid Paralysis. http://dokteranakku.com/downloads/Acute%20Flaccid%20Paralysis.pdf diakses pada tanggal 28 desember 2012