Anda di halaman 1dari 94

Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kumpulan Puisi
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Nisa Ayu Amalia

Sajak-sajakku, lorong
Pertautan kau dan aku
Sebuah cumbu petualangan

(Petualangan, Sby, Sept’08)


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Tiga Lelaki
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Daftar Isi
Rasa
1. Bilangan Rasa
2. Aku Mencari Sebuah Kamar Kosong
3. Sajak Secangkir Kopi pahit
4. Secangkir Teh
5. Biru
6. Memoar Kerinduan
7. Kisah Hati
8. Perjamuan Rindu
9. Surat
10.Perundakan Malam
11.Reroncen
12.Transaksi
13.Skak Mat!
14.Sepi
15.Sebuah Surat
16.Dansa
17.Rujak
18.Dialog Ribut Rindu
19.Bakso Keju
20.Reparasi Hati
21.Neraca
22.Inikah Rindu yang Kau Maksud
23.Ketika Kami Bicara Rindu
24.Cemburu
25.Kulukis Tanya
26.Luasan
27.Wi, dan Aku Adalah Tamumu
28.Gelisah

Musim
1. Musim Semi Tiga Tahun Lalu
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

2. Haiku Rindu
3. Malam Puan
4. Tanya-Jawab
5. Sajak Waktu
6. Saat Separuh Malam
7. Tentang Hujan, Tentang Rindu
8. Hijab Kabut
9. Saat Malam dan Sepi Tidur Seranjang
10. Puisi dan Hujan
11. Cuaca Membaca Berita
12. Lanskap Kabut
13. Sebuah Kenangan Tentang Hujan
14. Kunang-Kunang
15. Rindu Gerimis
16. Membaca Langit di Suatu Pagi
17. Antara Aku, Dia dan Bulan
18. Wi, Merunut Jejakmu

Kenangan
1. Kenangan
2. Hanya Itu
3. Repertoar Perjumpaan-Perpisahan
4. Lalu Hadir Sebuah Berita
5. Bercerita Sebuah Kenangan
6. Aku Ingin Bertutur Tentang Bintang Jatuh
7. Aku, Kamu dan Kenangran
8. Tuhan Mengirimiku Pesan Paling Singkat
9. Sebulan Lalu Tahun yang Sama
10. Perpisahan
11. Persetubuhan
12. Usai Senja
13. Sendiri
14. Kenangan di Sebuah Taman Kota
15. Sebuah Cerita Tantang Surga
16. Sebuah Catatan Tentangmu
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

17. Berita Kehilangan


18. Terik di Taman Kota I
19. Terik di Taman Kota II
20. Terik di Taman Kota III
21. Setelah Bercinta
22. Kadang, Aku Bercerita
23. Petualangan
24. Dalam Perjalanan
25. Sungai Kenangan
26. Ilalang Memberi Catatan
27. Pulang
28. Lebur
29. Kami : Sebuah cerita
30. Perempuan : Sebuah tutur
31. Di Sudut Bibir Kasumi
32. Sebuah Sudut Menara Penanda
33. Untuk Sebuah Pelaminan
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

EPISODE 1
RASA

Dalam suatu masa, bila semua keinginan telah


hilang, maka yang tertinggal hanyalah….
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

`Bilangan Rasa

Kecap rasa tak semudah hirup aroma


Rasa butuh satu dua purnama
Kamu lebih dari sebuah purnama

Sudahkah kubilang?
Tetutur mu anggun
Aromamu kukecap,
Sejauh kilo-kilo pembilangmu

Ah...
Tapi sulit sekali mengecap rindumu...
Melesakkan rasa-rasa pilu

Yah...
Masing-masing kita sembunyi di balik sesulur

Maumu apa?
Runut sepi atau padang janji?
Padahal kau tak akan habis kukecap.

Lalu maumu apa?


kutelan hidup-hidup?
Atau kumuntahkan?

Kalau iya,
Cincang saja tubuhmu
Biar kumakan
Dan jadi laju darahku
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Aku Mencari Sebuah Kamar Kosong


Atap putih
Tembok putih
Kelambu

Ada jelaga sisi kanan-kiri


laba-laba semedi

Hey, ada yang terlupa!


Sebuah pot kusut tua
Tinggal jurai helai tangkai dedaun
Teronggok di sebuah sudut

Aku membaca kenanganmu,


dari sebuah jendela
Melukis bayangmu
dari debu jendela

Pot tua itu, kamu!


Hadir namun mangkir
Isi tapi kosong
Senyawa dan meng-ada

Ah... dasar cicak!


Masih saja rayap goda
Padahal aku ingin berpindah
Ke sebuah sudut sebelah
Tapi masih saja usung canda

Ah... masihkah ada kamar yang kosong?


Untukku.
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sajak Secangkir Kopi Pahit


Hadirkan secangkir kopi pada tetamuku
Halahhhh.. dua sendok saja kopinya
Cukup
Tak usah pake gula
Sekarang hirup

Pahit memang,
Tapi manis juga memang

Kopi tanpa gula = manis


Itu jika aku minum bersamamu

Sby,Apr’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Secangkir Teh
: DS

Hari ini kau tak tampak biasa


Bukan meminta kopi tanpa gula
Hanya secangkir teh manis

Ah...
Rupanya bersamaku
sudah tak cukup manis bagimu.

Sby, 040908
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Biru
Biru adalah sekatku
Antara kamu dan aku

Crystal, 160608
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Memoar Kerinduan
Ingin aku menyelusup di balik selimutmu
Menghirup aroma keringatmu
Dan mendekapmu dalam sebuah momen romantisme
Kerinduanku menjamahi setiap sumsumku

Catatan kerinduan adalah sebuah memoar


Aku menginginkanmu lebih dari yang bisa
kusebut
Malam-malamku tak akan sempurna lagi
Sesempurna saat kau titipkan rose merah di
samping bantalku

(Rabu siang di tengah terik matahari)

[28 Nov 2007]


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kisah Hati
: DS

Suatu kali ada tamu.


Mampir.
Bawa buntal kenangan
Diketuk sebuah pintu
Kemudian,
ditinggal.
Teronggok begitu saja

Sebuah pintu itu beralamat


Jalan Hati, Gang Tersakiti

Sby, Agust’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Perjamuan Rindu
: DS

Katakanlah ada perjamuan


Kau duduk disampingku
Dia di sampingmu
Siapa yang akan kau beri,
suapan rindu yang pertama.

Sby, 260808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Surat
: DS

Surat cinta merah jambu


Kertas bingkai biru
untuk terkasih
Kekata lobang sana sini

Kadang ingin gambar rautmu


Rautmu tlah terkias di awang
Coba kulukis rindu
Sudahkah sampai telinga bintang?

Surat cinta merah jambu


Terkirim dalam rentet sandi

Sby, Agust’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Perundakan Malam

: DS

Baris kata senyumku


Benar?
Yakin,
Kemudian sangsi

Salam jumpa hidupku


Masak?
Iya,
lalu bimbang

Tentangmu endap
Hadir
Pelukku untukmu
Tahu!!!

kamar, 050808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Reroncen
: DS

Reroncen yang kau sematkan di ujung mimpiku,


terasa manis. Butiran pertama, pahitmu.
Butiran kedua, obatku. Butiran ketiga,
perihku. Butiran keempat, obatmu. Reroncen
yang kau formulakan dengan kelipatannya.

Reroncen tak akan lengkap dengan bandul.


Pemberat di satu sudut. Bertatah halus,
hiaskan keluk-keluk hijau giok. Pemberat itu
mencari silsilah. Lalu runut butir pertama
hingga akhir. Ingin tahu, ia antrian butiran
keberapa.

Dini hari baru, 130808

*reroncen : rangkaian / untaian


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Transaksi
: DS

Kapan sua lagi


Bukankah sudah bikin janji
Tak kunjung tepati

Kau masih hutang padaku


Aku tlah bayar dengan rindu

Berapa harga kapling lahan,


Di hatimu..

Sby, Agust’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Skak Mat !
Main catur
Kau, aku

Sebuah strategi
Bidakmu makan perdana menteriku
Ku terpojok
tak bisa lawan
tak bisa tahan

Aku kena skak mat cintamu

sby, 230908
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sepi

sepi adalah ruh


saat keluh
saat rindu sungguh
bertemu dalam formula utuh

Sby, Sept’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sebuah Surat
: seseorang penunggu malam-fajar

Teruntuk fajar,

akankah bias kemerahanmu menghilang?


ah... aku merindunya
hari sudah temaram

kamu matahari
aku air laut

ku ingin mengkristal

sby, 131008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Dansa
: Seseorang penunggu malam-fajar

Perundakan fajar.
Pulang kerja
nyala PC,
Tukar blazer
Kaos oblong dan kolor.

Seduh kopi
beberapa kue kering.
setel "Once Upon A December"*

Dansa?
Dengan siapa?

Kamu?
Atau "kamu"?

Seseorang tanpa punggung


Raut pun menduga

Apa?
Jangan salah duga
Aku tak punya siapa-siapa.

Jadi aku dansa?


Untuk apa?
Untuk siapa?
Toh,
aku tak punya siapa-siapa

sayu sayup lagu


bercecer dengan kekata

Kalau kau tanya kenapa,


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Jawabku,
"Aku rindu dansa denganmu."

Sby, 221008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Rujak
: Seseorang

Seperti formula rujak,

Kau racikan beberapa manis buah, mangga,


nanas, bengkoang, pepaya, belimbing, jambu
air, apel. Kau adukkan formula, kandung kacang
tanah halus, cabai, garam juga irisan bawang.

Kadang kau pisah,


kadang sewadah.

Rasai.
Ada kalanya manis, masam, pedas, gurih, candu.
Semua bercampur.

Rasai.
Itu rasaku.

Sby, 231008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Dialog Ribut Rindu


: Kami

Semalam kemarin terasa liris


kami bicara bahasa tak mengerti, kadang kami
bicara hal pasti, kadang kami bicara imaji

Tahu?
kalau setiap rindu tak pernah henti cari
muara.

Kau bilang aliran air


Kubilang, tetap saja, air tak pernah menemu
muara
Ketika sampai ke laut, ia kembali ke awan.

Tahu?
kalau setiap rindu tak akan pernah menguning
Bahkan layu pun tak akan

Kau bilang setiap tangkai akan gugur


Kau lupa setiap tangkai gugur, bentuk tunas
baru.

Tahu?
kalau setiap rindu tak pernah padam.

Kau bilang laksana terang lilin


Tertiup angin, dilempar hawa dingin, kemudian
musnah.
Kubantah, aku bukan lilin aku lampu neon di
instansi pemerintah.
mengapa?
Disana nyalaku tidak terganti, tidak padam

Tahu?
Ini hanyalah dialog kami
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Dialog ribut kecil kami


Dialog ribut kecil rindu kami

Sby, 241008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Bakso Keju
: Seseorang

seperti bakso keju :

gurih di luar
gurih di dalam
tuang ke belanga hatiku

ah.. seperti cinta


karena nikmatnya
kadang tak cukup satu
boleh aku tambah lagi?

Sby, 281008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Reparasi Hati
: DS

tolong!
carikan saya, tukang lem, tukang jahit, tukang
tambal atau tukang-tukang apapun.

Sby, 281008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Neraca
Percuma punya neraca
neraca rinduku rusak
rinduku tak hingga ditera

Sby, 051108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Inikah Rindu yang Kau Maksud


: penunggu malam-fajar

mungkin kau tengadah pada langit,


harap yang kemudian pupus.
saat malam-malam jelang sunyi,
dari hingar isi otakmu.

kau terus jejalkan secangkir kopi


beberapa kepul asap cinta
rokok-rokok senja di kecup bibirmu.

kuseduhkan airnya
kupantikkan apinya.
aku tahu kau tak menolak.

dan kita melewati malam-malam jelang fajar,


tabuhi lamunan kita
sesekali bersorak-sorai
atas nama sepi.

ah... kau tahu?


mungkin aku hanya rindu
menggantung di kelopak mataku
saat mimpi membuaiku

ah... kau tahu?


inikah rindu yang kau maksud?

Sby, 101108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Ketika Kami Bicara Rindu


: Seseorang

di jelaga kanan kiri rumah lara,


ku coba temu remah-remah kasih
semoga ada?

kadang berita mati


selusup sepi hari-hari
lewat sekat-sekat kaca kami

ahhh sepi sekali


di tanjakan malam
masuki ruang-ruang kami

aku benci
setiap kali masuki subuh
rindu coba intip
dari sela lubang angin

kadang rindu rintih-rintih


gelepar-gelepar
memuakkan

apa rindu cukup goda malam kami?


bertempur kesakitan
tinggalkan sunyi dan getir
nganga pelan

kami tetap kalah


rindu tetap datang
di setiap malam
di saat pesakitan kami

ahhh...
kalau begitu
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

malam janganlah datang


jelajahi kamar-kamar kami
biar kami tetap mengecup hadir
orang yang kami kasihi

rumah pesakitan, 161108


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Cemburu
aku cemburu pada sepi
laik selubung asap
kerongkongan kami sekat
pandangimu lekat

semakin lama semakin hebat


entah aliran apa,
sungguh maha dashyat
apakah rindu?
apakah sendu?

bukan,
tampaknya bukan,
ah... mungkin benar
ah... iya benar

kuhitung ragu
satu...
dua...
aneh tak jua berlalu

apakah ragu atau rindu


kucoba tera
besarannya sama

hitung!
cepat hitung

ahhh pasti
ini pasti ulah sepi
sepi tlah rampas bilangan ku
bilangan rindu yang kuhidu

sudah berkali-kali kubilang


ceraikan saja sepi
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

biar rinduku persuntingmu,


Sayang

Sby,171108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kulukis Tanya
hari ini
kami bicara selubung tolol
gerutu babi buta
timpal saling maklum
hahahaha... benarkah?

kukatakan
cemburu kah kau padaku
ataukah pada sepi?
atau pada hujan?
atau pada waktu?
mungkin

dan kembali kuterka jawab


pada desir angin
pada cuaca dingin

dan kulukis-lukis kembali rautmu


pada gemintang
pada perca malam
kemudian luruh
pada riuh embun fajar

ah mungkin

mungkin kau tak kan dengar

sby,nov 2008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Luasan
Ada luasan yang kucoba ukur dengan jengkal
jemari. Luasan ini kadang warna jelaga. Tentu
saja, itu abu-abu. Atau mungkin biru. Biru
telah dipinjam oleh nya? Coba kuketuk pintu
langit, lalu kan kutanyakan padanya.
Sepertinya dia terlalu baik padaku.

Luasan itu memantik belasan bahkan puluhan


sketsa. Kadang sketsa-sketsa itu berteriak
riuh di kedalaman. Memanggil goda. Cepat! Kata
ini placebo, ini palsu. Dan sketsa itu kembali
berpesta. Kadang mula cakap akan tanya
hitungan waktu alir botol senja.

Mungkin sketsa itu terbaca jadi kerutan,


bahkan bopeng-bopeng ngilu kelilingnya. Coba
telaah, mungkin ada jelajah mulus rona .
Benar, ternyata ada. Paling tidak, masih ada.

Kupungut sesuatu di sudut luasan itu. Hei,


rupanya itu rona mukamu. Tersembul antara
sketsa rindu yang lain. Akhirnya kutemukan
juga.

Sby, Des’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Wi, dan Aku Adalah Tamumu


Wi,
adakah kabar kau tautkan
detak jarum jam angka seribu

sementara,
tik-tok kabar terselempang
terpaku beku di dinding kamarmu

tak mampu teraba yang


kau tanggalkan disana
entah helai kelopak rindu
entah lembar halaman pilu

berkali-kali kuketuk jendelamu


tak ada sautan
geming jendelamu
artikan tanda-tanda ragu

Wi,
tahukah?
ragu tak pernah menunggu
yang menunggu hanya rindu
: sebuah jawab

Sby, Des’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Gelisah

: zh, ruam luka yang kau tinggalkan

ini gelisah
kau tanggalkan di pucuk jelaga jendela
Limar kemuning ufuk jingga cakrawala

Ruam pilu di kerling matamu,


senja menjawab ragu

adakah luap basah kau titipkan?


mungkin saja hujan tak datang
mengirim setangkup rindu dalam rinainya

di sudut jelaga jendela


bila kiriman rindu tak datang
ku akan terus menanti
saput kabut kepulanganmu

Sby, my sentimental moment 201208


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

EPISODE 2
MUSIM

Telah tiba masa semua rasa luruh. Saat kuncup


bermekaran, saat hujan rinai, saat langit cerah.
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Musim Semi Tiga Tahun Lalu


Ada tiga pohon cemara yang kokoh.
Ada tiga bukit yang mengajak bercanda.
Hahahha... jadi ingat masa lalu.

Tak usah jadi sentimentil


Ini bukan tentang aku
Ini bukan tentang kamu

Ini hanya sekedar lamunanku


Sekedar bahwa aku ingin berceloteh denganmu

Dalam percakapan tiga musim


Tiga periode yang tidak akan berakhir

Aku, kamu dan kenangan masa lalu


Akankah menguap begitu saja
Seperti keindahan embun pagi
Dan uap-uap air mendidih

Dan kenangan biarkan seindah itu


Seindah kecupan pertamamu
Dan rengkuhan awalmu

Merunut kecup pertama, 3 tahun lalu, 160508


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Haiku Rindu
Hujan tercurah
Jalanan telah basah
Rindu menjamah

Lepaskan semua
Rindu takkan terbayar
Tetap sendiri

Hari tak putus


Detik tak juga pindah
Waktu berlalu

Ingin membayar
Tetap saja merindu
Engkau tak datang

Ku ingin pulang
Ke negeri tetangga
Menemuimu

Sby, Feb’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Malam Puan
Mega biru merunutkan sebuah kisah sendu
Ada tahbis meronta mencari hikmat
Ah... hari ini puan ingin merundung rindu
Pada siapa ia kan berpulang

Lalu bayangan mengendap mengendur


Tingginya tak sampai sejengkal
Keluhan yang akan menurutkan pilu
Sama seperti arak – arak mega

Pulang aku ingin pulang


Pulang ke negeri tak bertuan
Ucapkan syahdu sajak malam
Selamat malam... puan...

Sby, Mar’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Tanya-Jawab
: DS

Semalam,
dalam perundakan fajar,
kau bercerita tentang sebuah kenangan
Langit temaram,
dan deru masih kelam
Ada rindu kau titipkan
Ada tanya kau gantungkan

Ku menjawab dengan diam


Bukan karena enggan
Hanya bunga belum sepenuhnya mekar
Tinggal satu kelopak pudar

Perundakan terik
Kau pertanyakan kembali

Aku jawab
Ini bukan sementara
Ini untuk selanjutnya
Kau membisu

Sby, 270808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sajak Waktu
: DS

Aku adalah malam kembara,


pagi cahaya,
terik buana.
Ku merindumu,
dalam persinggungan senja,
pertautan fajar.

Aku adalah perlintasan masa,


persinggahan lara.

Aku mengenalmu
sedekat ku mengenal waktu

Sayangnya,
kau hanya kenaliku sebagai fajar

Padahal,
tlah kutegaskan.

Aku adalah waktu

Sby, 270808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Saat Separuh Malam


: Seseorang

Kubaca isyaratmu,
di pancar sinaran

Ketuk sekejap, lalu sembunyi


Gerangan kau cari?
Fajar belum semi

Dan kita bertukar diam


pada sunyi
pada malam
pada sepi

sby,270908
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Tentang Hujan, Tentang Rindu


Tentang hujan...
Ia bercerita tentang sebuah kesah tatkala
rindu mulai tengadah di pelupuk langit-langit
dunia.

Tentang hujan...
Ia bercerita tentang sebuah rindu yang tak
pernah padam, pada tanah, pada rumput, dan
karang.

Tentang hujan...
Ia bercerita tentang sebuah rindu pada rinai
derai tawa anak-anak yang berlarian,
memercikkan bulir-bulir keriangan atas segala
derita kesiangan.

Tentang hujan...
Ia bercerita tentang rindu. Pada rinduku yang
luluh dari pori-poriku, pada cintaku.

Tentang hujan...
Kuharap kerak pori rinduku, bisa kau hantarkan
dari aliranmu, menyelusup ke tanah, atau
diserap tumbuhan sesayur.

Tentang hujan...
Ia bercerita tentang rinduku. Dengan perantara
sayur, dengan perantara air minum, cintaku
bisa menyerap segala rinduku.

Tentang hujan adalah sebuah cerita tentang


segala rindu.

Sby, setelah hujan, 8 Oktober 2008


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Hijab Kabut
: seseorang penunggu malam-fajar

"Kamu ngantuk" tanyanya.

"Sama aku juga" imbuhnya.


Dan malam larut
Sejauh liku jam yang berdenyut
Tik tuk tik tuk

"Ah... ini kabut selimutmu,


biar jadi hijab" katanya.

Hijab?
Aku tak mau hijab
Sila kau pakai
tutupi lemahmu

Ah.. salah
kau tak pernah lemah,
mungkin cuma rasa kalah

Sby, Okt’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Saat Malam dan Sepi Tidur Seranjang

: Menanti

Malam berjingkat perlahan.


Memasuki rumah-rumah kaca rindu.

"Hari ini pukul berapa",


tanyanya.

Sepi menjawab
"Tidurlah direngkuhanku"

Dan...

Langkah malam semakin mendekat


menuju peraduan
menyelundup di sela selimut sepi

Hari ini,
Malam dan sepi tidur seranjang

Sby, 151008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Puisi dan Hujan


: sang hujan

Puisi adalah hujan


Bagi pinta nyawa gersang

Kucintamu seperti puisi


Tak perlu alasan,
Bukan?

sby, 231008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Cuaca Membaca Berita


Suatu hari saya melihat berita di televisi.
Pembaca beritanya membuka dengan ucapan salam.
: Selamat pagi.

Kualihkan pandangan ke jurai kabel telpon tua.


Kalau melihat jurai kabel telpon tua,
aku jadi ingin teringat padamu
: Ingat, baru sebatas ingin.

Kemudian kuamati berita di televisi, lagi.


Entah mengapa, menjadi suatu efek yang luar
biasa.
Berita televisi dan jurai kabel telpon tua
membentuk formula tersendiri
: Formula rindu.

Formula rindu membuatku tergerak.


Bukan sekedar ingin,
tapi menjadi harus.

Akhirnya, kugabungkan ideku.


Kuhampiri telpon tua,
kuangkat ganggangnya,
kuputar beberapa tombolnya.

Diangkat, kujawab.

Aku sampaikan,
sebuah berita padamu
"Lihat langit cerah!
Apakah secerah beritamu?
Ah... kau tahu?
Beritamulah yang membuatku cerah."

sby, 261008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Lanskap Kabut
: DS

Kabut dan lanskap


kenangan coba recap
oleh penghujan

Sby, 291008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sebuah Kenangan tentang Hujan

: pecinta hujan

sepertinya kulupa tarian hujan


yang kita peraga bersama.

bunyi kecipak sabda telikung awan menggantung


padu padan nada kendang halilintar

kadang sorak sorai panggilan hujan kita ucap


bersama

hujaaaannnn…!!
ayolah curah.!!

ahhh semenjak ku lupa


ku letakkan botol-botol di sepanjang jalan
ku tadahi setiap bebulirnya
harap jadi botol kenangan
tentang hujan dan
dirimu

setelah semua botol penuh


ku tak segera memanennya
hanya pandang kaca-kaca

aneh,
aku sekarang tak hanya lupa
namun dengki

Hujan.

Sby, 311008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kunang-Kunang
Ahhh…
Tuhan bicara manis sekali
Pada kunang-kunang sepi

Sebentar lagi
Kepak subuh sunyi
Sayap coba mencabar
Kelopak teratai mekar
Kolong sungai kenangan

Ahhh
Ini kutukan
Kunang hewan malam
Pendar pada kelam

Dan andai paling indah


Ada di kecup cahaya

Demi sinar
Titipkan pada bulan
Kunang lukis pendar sendu
Bias sinar tak habis sendiri

Tahukah?
Ini masa rindu
Kunang dan malam

Kunang setia
Se-ka-li
Sudah itu mati

Kalau malam?

Sby, 221108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Rindu Gerimis
Gerimis membaca koran di pagi hari
ditemani secangkir kopi dan setangkup roti
dibacanya tajuk terdepan
"Hari ini Tuhan Mengajak Bercanda"

Diurutnya kalimat demi kalimat


telaah kata demi kata
Tetap sama, gerimis masih tak mengerti

Untuk menjelaskan tajuk terdepan hari itu,


gerimis memencet tombol hape
mengundang hujan turut serta
artikan teliti frasa demi frasa
tajuk terdepan hari ini

Hari ini hujan akan datang memenuhi panggilan


mengucap janji akan menemani gerimis
Hujan membaca rindu gerimis yang terselempang
di lingkar pelangi.
Alirannya banjiri rindu tanah akan basah.
Aroma rindu nya tercium mencapai sela-sela
jeruji jendela.

Dan rindu gerimis menjelma menjadi

Hujan

Sby, 091208
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Membaca Langit di Suatu Pagi


cuaca membaca kelopak luka ujung senja
diberinya langit muram mentari sembunyi
inilah sunyi liris gurat nadi
seraknya kutemu satu-satu

tetes embun dingin terasa


merangkak malu di sela dedaun pilu
hujan kemarin masih tersisa
tanggalkan rindu di sela jendela

ini pagi
saat duka menggapai jurai tirainya
menyapa sekali lagi
lirih saja

di suatu pagi, 121208


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Antara Aku, Dia dan Bulan


ketika perjalanan pulang
melihat bulan yang sedang terbelah
aku jadi menaut kenangan dan kedatangannya.
sekarang kusadar puisi adalah sumpah terucap

dia berbicara tentang bidadari peminang bulan.


siapa dia?
bisa jadi aku atau perempuan-perempuan lain
yang dianggapnya cukup bodoh untuk menyodorkan
tubuhnya.

bulan ini adalah bulan mengingatnya


ketika bulan separo diapun selalu datang
dan datang lagi pada bulan bulan yang sedang
terbelah

malam ini kuingin meracau tentang dia


dan bulan yang selalu diagung-agungkan.
tentang cerita-cerita lama yang membuat
kepalaku penuh dengan kata aroma puitis magis.

dia semakin tak puitis ketika ku paham


kepuitisannya
aku ingin mengingatnya untuk mempermainkannya

dan di suatu masa, aku membiarkan diriku


berhenti
sambil tetap bermain-main dengan kenanganku,
tentangnya dan bulan

sby, 151208
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Wi, Merunut Jejakmu


: Wi

Wi,
kuingin selusuri jejakmu dari kaki-kaki langit
namun entah mengapa, begitu kumendekatimu,
kuingin segera berlari menjauh
adakah jejak hujan coba kau tinggalkan,
pada tapak-tapak bulir air mata?
: lukamu

inilah dera merajam


basah aroma tanah
genderang halilintar
selimut halimun mendung

coba kubaca arah angin berdesir


kitari bukit di sela tegalan
jelajahi setapak sungai tepian
mengecap rindu,
tersebar tiap jengkal tanahnya

pahamimu di tiap area pekuburan


rindu masa lalumu

Sby, malam penghabisan 171208


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

EPISODE 3
KENANGAN

Mengecup masa yang lalu kemudian membuahkan


sesuatu yaitu…
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kenangan
Maka aku akan berjalan menjauhi kenangan,
menjelmakan diri menjadi bebuih. Luruh dan
kosong menghempas daratan. Karam di pojokan
tepian. Entah berapa onggok sesuatu telah
kuhempas namun tidak ada yang aku pahami
apakah itu. Sesanthi akan kenangan itu akan
kembali tersakiti. Akan kembali disayat oleh
pilu.

Kenangan itu adalah kosong. Bukan keajaiban


seperti konon kabarnya. Bukan memori ceri yang
manis akut. Hanya beberapa buah peach yang
menunggu ranum, namun ketika dipetik pesonanya
tak berharga. Dan kenangan hanya sebuah
perjalanan, ketika rasanya tak semanis yang
engkau bayangkan

Sby, Agust’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Hanya Itu...
Ada dedaunan perlahan jatuh
Ada kenangan perlahan runtuh

Setangkup rindu bawaku pulang


Ada cinta ingin kuberi
Hey... dimana dirimu sayang
Sudah lama aku disini

Sekali lagi aku ingin memantraimu


Sebuah kecup dan peluk
Hanya itu

Aku tidak sedang ingin berkasih-kasih


Aku sedang tidak ingin bercinta-cinta
Karena rasa sudah kebas

Hanya sekedar sandaran bahu


Tempat menumpuk penat
Hanya itu
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Repertoar Perjumpaan-Perpisahan

Tahukah kamu?
Sebuah repertoar "perpisahan" terbaca
Lihat satu persatu tali pengekang dijulurkan
kemudian...
lepas

Bahumu basah olehku


dan aku terguguk sendu

Ingatkah kamu?
Aku duduk di depanmu beberapa tahun lalu
Beberapa deret buku dan syair kenangan

Ah itu dulu
Beberapa tahun lalu
Saat mereguk manis masa muda
Dan kita bermain-main dalam kenangan

Kini
Repertoar itu masih terbacakan
Sebuah repertoar "perpisahan"
Dan salut atas kita
kita berdua menjadi setan
Diri kita masing-masing
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Lalu Hadir Sebuah Berita


Sambutan sapa malam-malam
Lalu hadir sebuah berita
Kenangannya

Berita adalah duri


Wabahi kulit dan jemari
Gelitik nyeri

Lalu hadirlah sebuah berita


Ceritanya

Cerita malam-malam
Kehilangan bulan

Ah... rupanya bulan telah dicuri


Langit sepi

Dan hadirlah sebuah berita


Sebuah pilu cerita
tentang kelam

Ini berita
tentang terang yang jadi kelabu

Ah... ada apa gerangan ?


Rupanya hadir sebuah berita
Bahagia tapi pilu
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Bercerita Sebuah Kenangan


Aku tangkap isyarat di matamu
be-riburibu cabaran kelam
itukah coba kau jawab?

Kenangan endap lirih


Labirin waktu ingin recap

Cinta itu membingungkan


sekejap lenyap
sekejap genap

Ku-mu, pikir senyawa


ya... ada
ya... tiada

Ruam kesalnya masih ada


Namanya juga kenangan

Tolong,
jangan ada sesal
kenangan takkan pernah hilang
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Aku Ingin Bertutur tentang Bintang


Jatuh
Lihat ada satu bintang jatuh
Dari sebuah titian pagut
Ada satu bintang jatuh
Tepat di sebelah sol sepatuku

Pertama-tama dia berkelip di langit


Kemudian tersenyum menantang
Mengejek sambil berbisik
"Aku akan jatuh di kakimu, sayang"

Kata bintang jatuh


"Aku bintang yang paling indah"
Kemudian,
"Aku kini disisihkan"

Oh... sungguh keluh paling menyesakkan


Ada bintang jatuh tersisihkan
Ada bintang jatuh dibuang
Sol sepatu kini lebih tinggi darinya

"Lihat, lihat...
Sebelah sini,
Ya sini,
Kamu yang diatas sana,
Tengok aku"
Seru bintang jatuh

"Aku ingin berbagi debu-debuku padamu"


Serunya
Kasihan...
Bintang jatuh ingin menebar debunya
Padaku dan sol sepatu
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Tapi tak bisa,


Debu bintang jatuh hanya bisa dibagi
Pada tanah dan rerumput.

Sby, Apr’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Tuhan Mengirimiku Pesan Paling Singkat

Tuhan mengirimi ku
Sebuah pesan paling singkat
Berisi sebuah kartu
Dan harap yang lekat

Ada firasat
Ada ingatan sesaat

Dia hadir
dalam sebuah deru mesin
Mengitari pesisir
Mengarungi laut asin

Ah.. rupanya Tuhan mengirimi ku


Sebuah pesan paling singkat
Tentang tutur manjanya di suatu malam

Lagi-lagi
Tuhan mengirimi ku
Sebuah pesan paling singkat
Sebuah postcard
Memuat roman mukanya

Ah... lagi-lagi
Tuhan mengirimiku
Sebuah pesan paling singkat
Tapi rinduku
sudah dihempas lalu

Menanti, 010608
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Aku, Kamu dan Kenangan


: DS

Aku, kamu dan kenangan


Berdiri dalam segaris jalan
Ada yang tinggal
Ada yang tanggal

Aku, kamu dan kenangan


Dalam perundakan subuh
Gumul kita adalah ruh
Dalam pikir gaduh
Dan biar saja kenangan luruh

Menjelang fajar, 250608


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sebulan Lalu Tahun yang Sama


: ZH

Aku ingin menyulam rindu di pucuk langitmu.


Agar bisa kuamati rautmu mencabar kenanganmu.
Ini periode aku dan kamu mengurai kata. Namun
diam, ruh kita.

Juanda, pembilang tujuh bulan juni. Rindu


kelu, tak ada pilu. Aneh. Padahal setahun
lalu, tak lepas bulir air mata dari pandangan
kotak kenangan.

Kotak kenangan telah dilarung dalam peti mati.


Ombak naik turun pernah warnai kenangan. Itu
dulu saat eja kata sakti, rasa rona pelangi.

Aneh. Kata sakti hilang daya. Cepat, seperti


ombak pasang yang datang menghadang.

saat sebulan lalu, 070708


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Perpisahan
: DS

Kukirim sepucuk rindu pada senja


Petualangan tlah jelang akhir
Singgah beberapa perhentian sebelumnya
Karam di sudut hatimu

Buka tutup botol isi kepala


beberapa pikir ruah
banjiri obrolan
Gelas soda manis,
gurih hidangan,
lalu tawa

Ah... senja pun cemburu


Buru langkah
Tibalah persimpangan
Kutitipkan rindu
Pada senja yang cemburu

setelah bertemu, 180808


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Persetubuhan
: DS

Bercerita tentang masa depan tidak pernah lagi


sesulit dulu. Mentarimu masih menyinariku
lembut. Aku tidak pernah merasa takut, karena
mentarimu telah menjadi milikku.

Langkah kita sejalan, mengarungi pelataran


gedung klasik. Sesekali menuturkan masa silam,
akan mega mendung, terjal jalan, dan manis
wajah pujaan.

Beberapa kali mengambil jeda diantara


pepohonan, mengeluarkan keluh pias cerita
tentang derita. Sesekali mengurai penawar dari
tutup botol rahasia pikiran.

Ah tahukah kamu, senja kota tak ingin berarak


cepat menuju keesokan. Senja hanya ingin
bersenandung rindu, memutar waktu lebih cepat
menjadi fajar. Esok akan terlihat lebih indah,
menjalani persetubuhan waktu kita.

Persinggahan kita adalah mimpi, yang menautkan


kita kembali. Tak akan ada jarak, tak akan ada
sela.

Karena mentarimu adalah juga mentariku dan


persetubuhan kita adalah persetubuhan dengan
waktu.

Sby, Agust’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Usai Senja
: DS

Ujung senja
Sekelumit mentari
lengkaplah sudah

Hantaran bingkisan
Penutup hari

Dan akan kutulis pesan


Rindu yang belum kau jamah
Endap usik jemari

tit..tut..tit..tut
Meluncur
Pesan kosong

Bual percuma
Akhir hampa

Sby,250808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sendiri
: DS

Sebuah bangku
Isi satu orang
Di satu sore
Jelang senja
Ada getas iringi

Lampu taman kota,


belum nyala
Satu lelaki pergi,
tinggal si perempuan.
Sendiri

Kemudian,
sepenggal suara terdengar.
Tangis.

Sby, 250808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kenangan Di Sebuah Taman Kota


: DS

Jiwaku mengendap
Ada kalut merapuh hinggap di ujung senja
Beberapa akar rumput syahdu
lagukan sebuah syair

Ada rindu lepas


Pias
Tangisnya jatuh puas

Liris kikis sebuah mantra magis


Tentang melupa sebuah bayang
Yang lalu, juga laju tepi kasih

sby,240808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sebuah Cerita Tentang Surga


: DS

Ada bidadari disampingmu,


kaukenalkan padaku.
Kau katakan dia penjaga surga.
Tahukah kamu?
Kutak perlu penjaga surga.
Pintu surga nya telah di depanku,
kau di dalamnya

Sby, 260808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sebuah Catatan Tentangmu


: DS

Kamu meminjamkan bayanganmu untuk kutulisi


syair rindu. Ah… kenangan tidak akan pernah
jauh dari rindu. Dia akan selalu menyelusup
dalam setiap ruh pikirku

Tahukah kamu? Bahwa dari bayanganmu saja telah


cukup. Cukup untukku membukukan seluruh
dirimu. Membukukan seluruh sikapmu, membukukan
seluruh masa lalumu, seluruh pemuja dan
pujaanmu.

Ah… aku ingin sekali membukukanmu,


membukukanmu dalam sebuah catatan

Sby, 260808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Berita Kehilangan
: DS

Sebuah berita kehilangan:

Telah hilang
sepenggal belahan waktu,
yang tercabut dari malammalamku.
Bagi siapa yang merasa terbawa,
tolong kembalikan.

Jangan lupa bawa serta dirimu,


kutak bisa hidup tanpa keduanya.

Sby, 270808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Terik di Taman Kota I


: DS

Menunggumu dalam pergumulan waktu terasa lebih


memuakkan. Jarum jam berdetak perlahan dan
ingin aku memutarnya lebih kencang. Ah… langit
masih menantang, dengan terik di pusat
cakrawala.

Kemudian engkau datang, membawa ragu yang


kutakutkan. Siapa di sebelahmu? Bidadari kawan
hidupmu?

Ah… kau tahu? Terik telah mampu merebus


tubuhku sekaligus hatiku.

Siapakah dia? Dan aku tahu, tak berhak tahu


siapa dia.

Sby, 250808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Terik di Taman Kota II


: DS

Saat terik kemarin


Ada perkawinan diam
Antara kau, aku dan dia
Dan waktu jadi penghulu

Sby, 250808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Terik di Taman Kota III


: DS

Kau tuang anggur


untuk bidadarimu
Di lipatan bibir tipisnya
Dan aku cabar bayangmu
dari kejauhan.

Sby, 250808
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Setelah Bercinta
: DS

Kau meninggalkan jejak aroma musk yang kau


cap-kan pada serat sprei bantal peraduanku.
Masih bisa kuhirup ujung kerinduanku pada
sudut-sudut ruang kamarku. Kemudian lekukan
yang kau berikan di saat kau terlelap, sesudah
kita bercinta bermalammalam kemarin.

Terkadang, aku sepertinya menghapal ukuran


lingkar pinggangmu. Ya… lingkar pinggangmu
seukuran lebar pelukanku.

Saat itu fajar masih membiru, tak mau


menjingga seperti kebanyakan. Dan saat ku
terbangun, kau menghilang.

Sby, 030908
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kadang, Aku Bercerita


Kadang,
aku bercerita pada burung-burung malam,
tentang langit sore yang jingga, tentang
parasmu saat kelopak matamu terpejam.

Kadang,
aku bercerita tentang kerinduan, tentang lidah
yang sekejap kelu saat bersamanya.

Kadang,
aku bercerita tentang subuh-subuh yang tercuri
dari malammalamku, tentang mata yang sulit
terpejam, karena dalam kelopak mataku, ada
bayanganmu saat kelopak matamu terpejam.

Kadang,
aku bercerita bahwa suatu saat bukan hanya
malamku yang tercuri, tapi sebagian waktuku,
hatiku,bahkan perhatianku. Yang coba ingin kau
curi, kemudian tidak pernah sadar kau bawa
lari.

Kadang,
malammalamku berkisah tentangmu yang lambat
laun akan merampas malammalam itu sendiri,
karena saat aku berkisah tentangmu malammalam
tidak akan pernah menjadi malam.

malammalam,050908
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Petualangan
: Seseorang

Ku lihat matamu buta


Adakah isyarat di ujung kepak kelopaknya?
Seakan pendar kerlip lampu kota

Mengapa bisa?

Sajak-sajakku, lorong
Pertautan kau dan aku
Sebuah cumbu petualangan

Sby, Sept’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Dalam Perjalanan
: Seseorang

Kasih,

saat ku tersesat,
bolehkah ku simpul semua arah
agar selalu tertuju padamu?

Sby, 260908
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sungai Kenangan
: ZH

Kau melemparkan ku ke sungai kenangan,


kau takut terkena cipratannya. Alirannya
sudah tak terlampau deras. Hanya ada
beberapa bayang bebatu membias.

Ku katakan "aliran kenangan sudah tenang,


tak ingin kembali bergolak".

Sby, Okt’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Ilalang Memberi Catatan


: Tiga lelaki

Ilalang adalah tumbuhan kaki langit


Endap ketika angin berbisik
: Selamat datang, marutha

Ilalang adalah tumbuhan kaki langit


Titipan rindu pada gembur peladangan
Goda cangkul dan sela tanah
: Ijinkan ku jajal cinta, dwipa

Ilalang adalah tumbuhan kaki langit


Tengadah pada empunya ruh
Ucap keluh lewat terik mentari
: Belai aku dengan hangatmu, surya

Sebuah catatan dari ilalang


dihembuskannya pada marutha,
pada dwipa,
pada surya
: Selamat datang
Inilah gerbang cinta

Sby,141008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Pulang

hari ini
langit menjingga
hiruk kloneng kleningan penanda
kereta rayapi punggungpunggung lonjor besi

di sebuah perhentian
pertemukan jumpa-pisah,
dalam satu muara

Perempuan
di batas penantian
mengangan kabar kedatangan

kelebat lelaki mendekat


kampung membawanya pulang
sekeranjang buah tangan
setangkup rindu
tuk perempuan

Sby, Okt’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Lebur
: Seseorang

Kau beri sayap


Suatu ketika,
saat tanah basah.

Kukepakkan,
Ayunnya libas bayu
Kukibaskan,
Di rintik deru gerimis

Tahukah?
Kau beri sayap kertas

Dan...

Lebur

sby,211008
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Kami : Sebuah cerita


: semakin pagi semakin menjadi

kami takkan lelah cumbui waktu


mungkin sesekali ambil jeda
tak mengapa
toh kami tetap hapal
segala halte dan terminal

kami takkan jemu runut kata


menduga kemana muara setiap frasa
tak mengapa
toh kami suka segala tanya
kadang memainkan sedikit terka

kami takkan pernah penat menera


segala angka fenomena
satu dua tiga lima
tak mengapa
toh neraca kira tak henti bekerja
akan massa segala cerita

kami tak akan pernah bosan bersama


mungkin satu dua hitungan masa
semoga

Sby, 031108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Perempuan : Sebuah tutur


: Seseorang

Lelaki datang dalam kelam


bias kolam kenangan
di orang-orangan matanya

Perempuan benci jadi ikan


bermain dalam kecipak bimbang

dikatakan perempuannya batu karang


dikatakan perempuannya es atlantis

Tahukah?

Perempuan hanya enggan


datang dan pergi begitu saja
recap kenangan seketika

sby, 061108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Di Sudut Bibir Kasumi


di sudut bibir Kasumi
hisap aura magis
sintal leher bukit tanjakan rona
puting teratai merah muda
rumpun kolam belanga

di sudut bibir Kasumi


bayangmu berlarian
seiring kecipak ikan
pecah riak di batuan

di sudut bibir Kasumi


mungkin ada terlupa
sepi berlarian lepas
rindu pelupuk jingga lensa

di sudut bibir Kasumi


hujan titipkan pesan
peluk pada tebing kebun
dara perawan kabut
di dada-dada rindu

di sudut bibir Kasumi


kuhidu aroma asap kretekmu
bercampur segar durian montong

kucoba tanam rindu


di pucuk-pucuk bukit
antara garis cakrawala

ahhh...
di sudut bibir Kasumi
adakah yang tumbuh
jadi kuncup cinta?

Kabut Kasumi, 171108


Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Sebuah Sudut Menara Penanda


Di setiap jam yang kutemui selalu ada jarum,
yang menancap di tiap putaran
Jejak jarum mengitar di alur yang sama

Kadang menunjuk langit tengadah


saat masuk lepas fajar,
kadang menunjuk bumi pada periode sama pula.
Kadang kukenal sudut-sudut tengaranya
kemudian pupus saat ingatan paksa ganti yang
lain.

Mungkin ada sesuatu yang kau titipkan


di ujung-ujung menara jam
besar yang terpasang di sudut kota.

Gerangan itu?
Mungkin sengaja kau titipkan di situ sebagai
penanda.
Akankah kita bertemu di sudut jam yang sama?
: Rindu

Sby, 301108
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Untuk Sebuah Pelaminan

kita berganti hempas rindu sudut kolongkolong langit


hanya, ketika kutanya, kau beri punggungmu
dan kata

"sudah"

riuh bertanya hal sama. kapan kan kecup bintangmu?


dalam satu persandingan, kau seru

"sudah"

sudah? sudah apa? sudah akhiri saja?


dan sekali lagi kau paksa jawab

"sudah"

"sudah. silakan nikahi saja waktu."

Sby, Des’08
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

Layaknya sebuah petualangan, maka akan mencapai satu


perhentian. Akankah petualangan ini berakhir?
Petualangan : Rasa, musim dan kenangan

--Jejak Pribadi—-
Nisa Ayu Amalia, lahir di Surabaya, 14
April 1985. Saat ini sedang menempuh studi di
Program Magister Profesi dan Pascasarjana
Psikologi di Universitas Surabaya, Jawa Timur.

Saat ini ia merintis Komunitas ESOK (Emperan


Sastra – cOK, Cepetan Ojo Keri). Selain itu ia
juga secara aktif menulis di sebuah web
penulis pemula di kemudian.com, dan juga
aktif menulis di blog pribadinya
www.pikanisa.multiply.com Ia bisa dihubungi
via email pikanisa@yahoo.com