Anda di halaman 1dari 7

Apr 11

MENIKAHI JANDA, MENGAPA TIDAK ??


An Nikah, realita, wanita 2 Comments »

Meski Rasulullah n menganjurkan para pria untuk lebih mengutamakan perawan untuk dinikahi,
bukan berarti beliau melarang seorang pria menikahi janda. Bukankah sebagian besar istri beliau
juga janda?
Bagi seorang pria, menikahi janda juga bisa dijadikan pilihan. Apalagi jika ia berniat untuk
menyantuni seorang wanita yang tidak lagi bersuami dan anak yatim yang kehilangan kasih
sayang seorang ayah. Jika dilakukan dengan ikhlas, semua itu insyaallah akan membuahkan
pahala yang besar.
Memang harus diakui, gadis perawan tentu memiliki banyak kelebihan dibandingkan seorang
janda. Akan tetapi, janda pun punya satu kelebihan dari perawan, yaitu ia lebih berpengalaman!
Ya, karena ia sudah pernah berumah tangga. Dengan begitu, diharapkan dia bisa mengurus
rumah tangganya dengan lebih baik.
Jika dulu ia pernah gagal membina keluarga bersama suami pertamanya, maka diharapkan ia bisa
belajar dari pengalamannya itu untuk kemudian lebih introspeksi dan memperbaiki diri.
Sehingga jika kemudian ia menikah lagi, ia akan berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya,
agar tidak karam sebagaimana yang pertama.
Pilih yang Shalihah
Jika ingin menikahi janda, seorang lelaki tetap harus memperhatikan rambu-rambu yang telah
diberikan Rasululah n untuk memilih calon istri. Yaitu sebuah hadits yang artinya, “Wanita itu
dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya.
Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa barangsiapa yang memilih karena
pertimbangan agama, maka akan mendapatkan kebaikan dan barakah serta terlindung dari
berbagai mafsadat. Ini buah dari mulianya akhlak dan kebaikan wanita pilihannya.
Adapun mengenai gambaran akhlak wanita shalihah, adalah yang selalu menyenangkan hati
suaminya bila dipandang, selalu taat pada suaminya, tidak pernah melanggar perintahnya serta
tidak berkhianat dalam mengelola harta suaminya. Wanita seperti inilah sebaik-baik perhiasan
dunia, yang layak dimiliki oleh lelaki yang shalih.
Untuk Para Janda
Untuk para saudariku yang saat ini sudah menjanda, jangan biarkan hati kalian terus-menerus
dalam kesedihan. Sungguh, meski sudah tidak punya suami, tetapi kalian masih punya Allah l
yang Maha Hidup. Tetaplah menjaga kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah l, karena Allah l
berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka
bersikap istiqamah, maka akan turun malaikat kepada mereka (dengan mengatakan),
‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu
dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” (Fushshilat:30)
Berusahalah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan jagalah akhlak kalian baik di
dalam maupun di luar rumah. Sebisa mungkin, kurangilah aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa
harus keluar rumah, jangan lupa untuk senantiasa menutup tubuhmu dengan pakaian yang syar’i.
Jika mungkin, mintalah salah seorang mahrammu untuk menemanimu. Ingatlah bahwa
keanggunan dan kesendirianmu bisa menjadi fitnah bagi lelaki. Karena itu, berhati-hatilah dan
jangan lupa berdoa dalam memulai setiap langkahmu.
Jika kamu merindukan kasih sayang seorang suami sebagaimana dulu pernah engkau miliki,
maka berdoalah kepada Allah agar memberikan yang terbaik untukmu. Sungguh Allah telah
berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya, akan tetapi engkau pun harus bersabar. Yang
terpenting, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah l. Sesungguhnya setelah kesulitan itu
ada kemudahan.

ita/Ummu Rumaisha, menuturkan dan


mengisahkan…T_T
Terlepas dari semua itu, semua janda-muda harus memikul beban yang tidak mudah, apalagi bila
mereka sudah dikaruniai keturunan. Selain harus menghidupi dirinya sendiri, sang janda muda
juga harus bisa berdiri tegar untuk menghidupi anak-anaknya.
Sedangkan untuk urusan asmara, janda-muda suka dihadapkan oleh kendala penolakan dari
keluarga laki-laki.
Saya sendiri suka menemukan kisah-kisah di mana para janda-muda harus rela patah hati karena
keluarga pihak laki-laki menolak kehadiran mereka.
Dari berbagai alasan yang disampaikan, penolakan keluarga laki-laki atas kehadiran seorang
janda-muda sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat melihat sosok janda-muda
itu sendiri.
Sosok seorang janda muda mau tidak mau sering dikaitkan dengan persepsi “bekas” atau
“second hand“. Akibatnya, janda-muda seperti mengalami penurunan kualitas sebagai calon
pasangan hidup. Terlebih lagi bila jandanya disebabkan oleh perceraian.
Saya pribadi menolak pandangan seperti ini. Karena seorang janda muda hanyalah seseorang
yang memang punya jalan hidup seperti itu, terlepas dari ditinggal mati ataupun karena bercerai.
Ketika seorang wanita muda menjanda, tidak serta merta dia jadi turun kualitasnya, dan bukan
pula berarti dia jadi kurang cocok untuk jadi pasangan hidup dibanding dengan wanita-wanita
yang masih lajang.
Memutuskan untuk meminang seorang janda muda memang punya kendalanya sendiri. Selain
penolakan, kita juga harus mau berbesar hati menerima anak-anaknya, dan mungkin suatu saat
harus berhadapan dengan mantan suami juga. Hal-hal seperti inilah yang mungkin dipandang
sebagai excess baggage nya janda-muda.
Bagi seorang laki-laki, kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada ketahanan psikologis,
fisik dan ketahanan ekonominya.
Namun semua kembali pada pilihan.
Bila sang janda-muda memang bisa memberikan yang selama ini kita cari dan bisa memberikan
kedamaian hati, sudah selayaknyalah kita memperjuangkan dirinya untuk dijadikan pasangan
yang akan menemani kita sampai hari tua nanti.
bersabarlah dengan kesabaran yang tinggi…wahai ukhti Muslimah yang mengharapkan
wajah_NYA
Ingatlah firman Allah, berikut ini :
.” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-
orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
“(QS.AZ ZUMAR : 10)
My pray to Allah :

Apr 11
MENIKAHI JANDA, MENGAPA TIDAK ??
An Nikah, realita, wanita 2 Comments »

Meski Rasulullah n menganjurkan para pria untuk lebih mengutamakan perawan untuk dinikahi,
bukan berarti beliau melarang seorang pria menikahi janda. Bukankah sebagian besar istri beliau
juga janda?
Bagi seorang pria, menikahi janda juga bisa dijadikan pilihan. Apalagi jika ia berniat untuk
menyantuni seorang wanita yang tidak lagi bersuami dan anak yatim yang kehilangan kasih
sayang seorang ayah. Jika dilakukan dengan ikhlas, semua itu insyaallah akan membuahkan
pahala yang besar.
Memang harus diakui, gadis perawan tentu memiliki banyak kelebihan dibandingkan seorang
janda. Akan tetapi, janda pun punya satu kelebihan dari perawan, yaitu ia lebih berpengalaman!
Ya, karena ia sudah pernah berumah tangga. Dengan begitu, diharapkan dia bisa mengurus
rumah tangganya dengan lebih baik.
Jika dulu ia pernah gagal membina keluarga bersama suami pertamanya, maka diharapkan ia bisa
belajar dari pengalamannya itu untuk kemudian lebih introspeksi dan memperbaiki diri.
Sehingga jika kemudian ia menikah lagi, ia akan berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya,
agar tidak karam sebagaimana yang pertama.
Pilih yang Shalihah
Jika ingin menikahi janda, seorang lelaki tetap harus memperhatikan rambu-rambu yang telah
diberikan Rasululah n untuk memilih calon istri. Yaitu sebuah hadits yang artinya, “Wanita itu
dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya.
Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa barangsiapa yang memilih karena
pertimbangan agama, maka akan mendapatkan kebaikan dan barakah serta terlindung dari
berbagai mafsadat. Ini buah dari mulianya akhlak dan kebaikan wanita pilihannya.
Adapun mengenai gambaran akhlak wanita shalihah, adalah yang selalu menyenangkan hati
suaminya bila dipandang, selalu taat pada suaminya, tidak pernah melanggar perintahnya serta
tidak berkhianat dalam mengelola harta suaminya. Wanita seperti inilah sebaik-baik perhiasan
dunia, yang layak dimiliki oleh lelaki yang shalih.
Untuk Para Janda
Untuk para saudariku yang saat ini sudah menjanda, jangan biarkan hati kalian terus-menerus
dalam kesedihan. Sungguh, meski sudah tidak punya suami, tetapi kalian masih punya Allah l
yang Maha Hidup. Tetaplah menjaga kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah l, karena Allah l
berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka
bersikap istiqamah, maka akan turun malaikat kepada mereka (dengan mengatakan),
‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu
dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” (Fushshilat:30)
Berusahalah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan jagalah akhlak kalian baik di
dalam maupun di luar rumah. Sebisa mungkin, kurangilah aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa
harus keluar rumah, jangan lupa untuk senantiasa menutup tubuhmu dengan pakaian yang syar’i.
Jika mungkin, mintalah salah seorang mahrammu untuk menemanimu. Ingatlah bahwa
keanggunan dan kesendirianmu bisa menjadi fitnah bagi lelaki. Karena itu, berhati-hatilah dan
jangan lupa berdoa dalam memulai setiap langkahmu.
Jika kamu merindukan kasih sayang seorang suami sebagaimana dulu pernah engkau miliki,
maka berdoalah kepada Allah agar memberikan yang terbaik untukmu. Sungguh Allah telah
berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya, akan tetapi engkau pun harus bersabar. Yang
terpenting, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah l. Sesungguhnya setelah kesulitan itu
ada kemudahan.

ita/Ummu Rumaisha, menuturkan dan


mengisahkan…T_T
Terlepas dari semua itu, semua janda-muda harus memikul beban yang tidak mudah, apalagi bila
mereka sudah dikaruniai keturunan. Selain harus menghidupi dirinya sendiri, sang janda muda
juga harus bisa berdiri tegar untuk menghidupi anak-anaknya.
Sedangkan untuk urusan asmara, janda-muda suka dihadapkan oleh kendala penolakan dari
keluarga laki-laki.
Saya sendiri suka menemukan kisah-kisah di mana para janda-muda harus rela patah hati karena
keluarga pihak laki-laki menolak kehadiran mereka.
Dari berbagai alasan yang disampaikan, penolakan keluarga laki-laki atas kehadiran seorang
janda-muda sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat melihat sosok janda-muda
itu sendiri.
Sosok seorang janda muda mau tidak mau sering dikaitkan dengan persepsi “bekas” atau
“second hand“. Akibatnya, janda-muda seperti mengalami penurunan kualitas sebagai calon
pasangan hidup. Terlebih lagi bila jandanya disebabkan oleh perceraian.
Saya pribadi menolak pandangan seperti ini. Karena seorang janda muda hanyalah seseorang
yang memang punya jalan hidup seperti itu, terlepas dari ditinggal mati ataupun karena bercerai.
Ketika seorang wanita muda menjanda, tidak serta merta dia jadi turun kualitasnya, dan bukan
pula berarti dia jadi kurang cocok untuk jadi pasangan hidup dibanding dengan wanita-wanita
yang masih lajang.
Memutuskan untuk meminang seorang janda muda memang punya kendalanya sendiri. Selain
penolakan, kita juga harus mau berbesar hati menerima anak-anaknya, dan mungkin suatu saat
harus berhadapan dengan mantan suami juga. Hal-hal seperti inilah yang mungkin dipandang
sebagai excess baggage nya janda-muda.
Bagi seorang laki-laki, kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada ketahanan psikologis,
fisik dan ketahanan ekonominya.
Namun semua kembali pada pilihan.
Bila sang janda-muda memang bisa memberikan yang selama ini kita cari dan bisa memberikan
kedamaian hati, sudah selayaknyalah kita memperjuangkan dirinya untuk dijadikan pasangan
yang akan menemani kita sampai hari tua nanti.
bersabarlah dengan kesabaran yang tinggi…wahai ukhti Muslimah yang mengharapkan
wajah_NYA
Ingatlah firman Allah, berikut ini :
.” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-
orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
“(QS.AZ ZUMAR : 10)