Anda di halaman 1dari 2

Tugas Fisiologi

Nama : Dita Devita NIM :04121001025 Kelas : PDU Reguler 2012

Jelaskan mekanisme penglihatan pada saat gelap berhubungan dengan saraf otonom! Manusia dapat melihat benda karena adanya cahaya. Cahaya yang ditangkap mata berturut-turut akan melalui kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreus humor, dan retina. Lensa mata berfungsi memfokuskan cahaya yang terpantul dari benda-benda yang terlihat sehingga menjadi bayangan yang jelas pada retina. Cahaya ini akan merangsang fotoreseptor untuk menyampaikan impuls ke saraf penglihat dan berlanjut sampai lobus oksipitalis pada otak besar. Cahaya yang masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Pupil merupakan lubang bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata. Jika intensitas cahaya tinggi, maka pupil akan mengecil. Reaksi ini dikenal dengan refleks cahaya pupil. Jaras saraf untuk refleks ini diperlihatkan oleh dua jalur hitam pada gambar. Bila cahaya mengenai retina, terjadi beberapa impuls yang mula-mula berjalan melalui nervus optikus menuju nervus pretektalis. Dari sini, impuls berjalan ke nukleus Edinger-Westphal dan akhirnya kembali melalui saraf parasimpatik untuk mengkonstriksikan sfingter iris. Sebaliknya dalam keadaan gelap, refleks ini dihambat oleh saraf simpatis yang menyebabkan dilatasi pupil (Guyton, 2007: 679). Dengan keadaan pupil yang berdilatasi ini, cahaya dapat masuk ke dalam mata dengan intensitas yang lebih, sehingga objek dapat dilihat. Pada dasarnya, mata dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Serabut preganglion parasimpatis muncul dari nukleus Edinger-Wesphal (bagian nukleus viseral saraf ketiga) dan kemudian berjalan dalam saraf ketiga ke ganglion siliaris, yang terletak tepat di belakang mata. Di sini serabut saraf preganglion bersinapsis dengan sel saraf postganglionik yang kembali menngirimkan serabut-serabut melalui nervus siliaris ke dalam bola mata. Nervus ini merangsang otot siliaris yang mengatur lensa mata untuk berfokus dan sfingter iris yang menyebabkan konstriksi pupil. Pada otot sfingter iris, terjadi penyempitan celah pupil akibat rangasangan saraf parasimpatis yang disebut miosis. Sebaliknya, rangsangan saraf simpatis merangsang serabut radial iris yang menyebabkan dilatasi pupil. Hal ini disebut midriasis. Peristiwa midriaris ini akan terjadi apabila pengamat berada dalam lingkungan yang gelap.

Setelah melalui pupil dan iris, maka cahaya sampai ke lensa. Lensa ini berada diantara aqueous humor dan vitreous humor, melekat ke otototot siliaris melalui ligamentum suspensorium. Fungsi lensa selain menghasilkan kemampuan refraktif yang bervariasi selama berakomodasi, juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina. Apabila mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otototot siliaris akan berkontraksi, sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Dan apabila mata memfokuskan objek yang jauh, maka otototot siliaris akan mengendur dan lensa menjadi lebih tipis dan lebih lemah. Bila cahaya sampai ke retina, maka selsel batang dan selsel kerucut yang merupakan selsel yang sensitif terhadap cahaya akan meneruskan sinyalsinyal cahaya tersebut ke otak melalui saraf optik. Bayangan atau cahaya yang tertangkap oleh retina adalah terbalik, nyata, lebih kecil, tetapi persepsi pada otak terhadap benda tetap tegak, karena otak sudah dilatih menangkap bayangi keadaan normal. Sumber Guyton Arthur C, Hall John E. 2007. Buku ajar fisiologi kedokteran Edisi ke-11. Jakarta: EGC. Putra, P.Etgal. 2012. Mekanisme Penglihatan (PBL blok 6 Neurosains) dalam http://inihariapa.blogspot.com/2012/10/mekanisme-penglihatan-pbl-blok-6.html. diakses pada 9 Maret 2013 pukul 16.00 WIB.