Anda di halaman 1dari 7

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Jumlah Penderita yang Mendapat Resep Metildopa Hasil penelitian evaluasi penggunaan obat Metildopa pada pasien hipertensi di ruangan bersalin salah satu rumah sakit di daerah Bandung selatan . Jumlah penderita yang mendapat resep metildopa berdasarkan umur dapat dilihat pada table berikut : Tabel 4.2 Penggunaan Obat Metildopa pada Kasus Hipertensi Berdasarkan Kelompok Umur No 1 2 3 4 5 Golongan Umur Pasien < = 17 18 24 25 31 32 38 39 45 Total Jumlah Pasien 5 23 26 17 12 83 Prosentase (%) 6,0% 27,7% 31,3% 20,5% 14,5% 100% Keterangan Pemberian obat dgn Metitdopa Pemberian obat dgn Metitdopa Pemberian obat dgn Metitdopa Pemberian obat dgn Metitdopa Pemberian obat dgn Metitdopa

4.2 Obat Lain Yang Diresepkan Bersama Obat Metildopa Obat lain yang ditulis dokter yang diberikan bersama obat metildopa pada bulan April-Juni 2012 sebagai berikut:

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Nama Obat Nipedipin Amlodipin Captopril Cefadroxil Ciprofloxacin Metronidazol Asam mefenamat Ambroxol Misoprostol Dexametason inj Cefotaxim inj Lidocain inj

78 2 2 72 1 8 83 2 53 36 80 29

% 93% 2,4% 2,4% 86,7% 1,2% 9,6% 100% 2,4% 63,8% 43% 96% 34,9%

4.3 Dosis Penggunaan Obat Metildopa Dosis Dosis lebih Yaitu: 250 mg [> 1 g/hari] Tepat Dosis Resep Tanpa Signa Jumlah Resep Obat Metildopa 63 12 7 83 75,9% 14,45% 8,4% 100.00% %

4.1 Interaksi Obat Metildopa dengan obat lain Nama Obat Efek Dapat menimbulkan hipotensi pada kehamilan penggunaan diuretic Furosemid inj dapat mengakibatkan gangguan elektrolit pada janin Amlodipin Bersifat tetragenik ( merusak janin) Captopril terutama pada 6 bln terakhir 1 1.2% 2 2,4% 1 1,2% %

Jumlah interaksi resep Jumlah resep obat metildopa

4 83

4,8% 100%

4.3 Pembahasan Hipertensi kronis pada wanita hamil didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang terjadi sebelum kehamilan. Pada wanita yang tidak diketahui tekanan darahnya sebelum kehamilan, diagnosis didasarkan pada terdapatnya hipertensi yang berkepanjangan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Hipertensi yang dimaksud adalah didapati tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg pada minimal 2 kali pengukuran dengan selang waktu

setidaknya 4 jam. Sementara apabila peningkatan tekanan darah terjadi pada masa kehamilan tanpa adanya peningkatan tekanan darah sebelum kehamilan maka diagnosisnya adalah hipertensi gestasional.

Hipertensi kronis meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia. Diagnosis preeklamsia ditegakkan apabila ditemukan tanda-tanda berikut:

1. Terdapatnya proteinuria pada wanita dengan hipertensi kronis tanpa adanya proteinuria sebelumnya pada awal kehamilan. Proteinuria adalah terdapatnya 0,3 g protein di dalam urin 24 jam. 2. .Terjadinya peningkatan tekanan darah menjadi lebih tinggi lagi (tekanan darah sistolik 180 mmHg atau tekanan darah diastolik 110 mmHg) pada wanita dengan hipertensi kronis yang terkontrol sebelumnya dan terdapat riwayat proteinuria sebelum usia kehamilan 20 minggu.

Hipertensi kronis pada masa kehamilan diklasifikasikan menjadi hipertensi ringan atau berat yang bergantung pada nilai tekanan darah sistolik dan diastolik. Peningkatan tekanan darah 180 mmHg dan 110 mmHg merupakan suatu hipertensi berat hipertensi kronis pada kehamilan juga dapat dikategorikan sebagai hipertensi risiko rendah atau hipertensi risiko tinggi. Termasuk dalam risiko rendah adalah pasien dengan hipertensi esensial yaitu tekanan darah 140/80 mmHg yang diukur pada kunjungan pertama ke dokter tanpa disertai adanya gangguan organ. Pasien

yang pada awal kehamilannya diklasifikasikan sebagai risiko rendah dapat berkembang menjadi risiko tinggi apabila terdapat hipertensi berat atau preeklamsi

4.3.1 Tujuan Terapi Antihipertensi pada Kehamilan

Pada kehamilan, terapi antihipertensi penting untuk mengurangi risiko terjadinya stroke akut, gagal jantung kongestif, atau gagal ginjal. Selain itu pengendalian hipertensi berat berguna untuk memperpanjang kehamilan yang berakibat pada perbaikan kualitas bayi yang dilahirkan, walaupun pengendalian hipertensi berat tidak terbukti menurunkan angka kejadian preeklamsia atau solusio plasenta. Sebaliknya hipertensi ringan dan sedang yang tidak terkontrol dapat memicu terjadinya kerusakan organ selama kehamilan pada wanita dengan penyakit ginjal, diabetes melitus yang disertai penyakit pembuluh darah, dan gangguan ventrikel kiri jantung. Karena itu beberapa peneliti merekomendasikan penanganan yang agresif apabila hipertensi ringan didapati pada kelompok ini karena dapat mengurangi terjadinya komplikasi kardiovaskular jangka pendek maupun jangka panjang.Penelitian terhadap penggunaan obat antihipertensi metildopa atau labetalol pada wanita hamil dengan hipertensi kronis ringan tidak menunjukkan adanya efek samping terhadap ibu dan bayi. Sementara penelitian lainnya terhadap penggunaan diuretik tiazid selama trimester pertama kehamilan juga tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko terjadinya kelainan ataupun efek samping pada janin, namun penggunaan obat antihipertensi golongan tersebut

berhubungan dengan penurunan volume plasma. Data yang ada membuktikan bahwa penggunaan obat antihipertensi golongan calcium channel blocker, khususnya nifedipin pada trimester pertama kehamilan tidak berhubungan dengan peningkatan kejadian kelainan bawaan mayor pada bayi baru lahir Dilihat dari data yang sudah di kumpulkan ternyata penggunaan obat metildopa pada pasien hipertensi pada wanita hamil lebih banyak pada usia antara umur 30-40 tahun, disebabkan karena faktor umur yang sudah beresiko tinggi untuk kehamilan . Menurut Badan Kesehatan Sedunia (WHO), kriteria pemakaian obat (pengobatan) rasional, antarlain : 1. Tepat Diagnosis Penggunaan obat disebut rasional jika di berikan untuk diagnosis yang tepat. Jiga diagnosis tidak di tegakkan dengan benar maka pemilihan obat tidak sesuai dengan indikasi yang seharusnya . 2 Tepat Indikasi Penyakit Pengobatan didasarkan atas keluhan individual dan hasil pemeriksaan fisik yang akurat 3.Tepat Pemilihan Obat Keputusan untuk melakukan upaya terapi di ambil setelah diagnosis di tegakkan dengan benar dan obat yang di pilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit. 4.Tepat Dosis

Agar obat memberikan efek terapi yang maksimal diperlukan penentuan dosis cara dan lama pemberian yang tepat. Besar dosis , cara dan frekuensi pemberian umumnya di dasarkan pada umur,berat badan pasien. 5. Tepat Cara Pemberian Obat harus di gunakan sesui petunjuk penggunaan waktu dan jangka waktu terapi sesuai dengan anjuran, dalam kasus tertentu memerlukan jangka waktu pengobatan yang lama. 6. Tepat Pasien Menginggat respon individu terhadap efek obat sangat beragam maka di perlukan pertimbangan yang seksama yang mencakup adanya kemungkinan kontraindikasi, terjadinya efek samping atau adanya penyakit lain yang menyertai. 7.Tepat informasi Tenaga kefarmasian harus mampu memberikan pelayanan informasi kepada pasien dan tenaga kesehatan lainnya untuk menunjang penggunaan obat yang rasional. .Penggunaan Metildopa pada penderita hipertensi wanita hamil menurunkan resistensi vaskular tanpa banyak mempengaruhi frekuensi dan curah jantung , obat ini efektif bila dikombinasikan dengan diuretik..Merupakan pilihan utama untuk pengobatan hipertensi pada kehamilan karena terbukti aman untuk janin.