Anda di halaman 1dari 9

DUSUN BAILANGU

A. Sinopsis
Di tepi sungai Musi, dahulu banyak ikan tinggal di sana. Di tepian sungai itu, tumbuh pohon yang berbuah pahit. Namanya pohon rukam. Karenanya, banyak makhluk air di sungai itu sebagian pergi. Buaya adalah raja sungai di sana. Sekarang ia hanya dapat memakan buah rukam yang berjatuhan saja. Kemudian sebagian ia simpan sebagai persediaan. Suatu pagi, persediaannya hilang. Di sekitarnya terdapat jejak kaki si Beruk dan Buaya pun yakin bahwa si Beruklah yang mencurinya. Ketika Buaya mengambang di sungai, menunggu buah rukam yang jatuh, Beruk melompat ke dahan rukam dan mengambil buah rukam serta makan sepuasnya. Yang jatuh hanyalah sisa-sisa untuk si Buaya. Beruk tidak tahu bahwa Buaya ada di bawahnya. Besoknya, si Beruk mendapati Buaya sedang sedih dan ia menanyakan apa yang terjadi dengan si Buaya. Buaya menceritakan bahwa ayahnya sedang sakit dan ia tak dapat sembuh hinga sekarang. Buaya membujuk Beruk untuk menemani Buaya mengantarkan obat-obatan yang sudah ia kumpulkan dan Beruk pun setuju. Buaya senang karena Beruk sudah terperdaya. Di tengah perjalanan,Buaya mengatakan bahwa ayahnya ingin memakan jantung si Beruk. Beruk sadar bahwa ia sudah diakali Buaya. Ia menyetujui permintaan Buaya, namun Beruk meminta Buaya untuk kembali ke tepi sungai tadi untuk mengambil jantungnya yang ada di bawah pohon rukam. Buaya benar-benar yakin si Beruk sudah dapat terpedaya dan ia sangat senang berenang kembali ke tempat tadi tanpa terkendali sehingga kepalanya tertumbuk ke tebing berlumpur. Beruk terpental ke darat dan mengejek si Buaya yang berusaha melepaskan moncongnya dari lumpur-lumpur. Buaya pun marah dan menyadari kebodohannya. Ia tak dapat melupakan peristiwa itu. Ia selalu menyalahkan dirinya yang teramat bodoh dan dapat ditipu

oleh Beruk. Ia berenang hilir-mudik ke sana-kemari dengan pikiran bingung termenung atau terlangu-langu. Ia disebut teman-temannya Buaya Langu. Dan dusun/desa yang dilalui aliran sungai tempat Buaya Langu disebut Dusun Bailangu.

B. Tokoh dan Karakter

Buaya; licik tapi bodoh. Ia ingin memperdaya si Beruk tapi malah balik diperdaya si Beruk. Terlalu menyesali kesalahannya. (PROTAGONIS Tokoh Utama) Beruk; cerdik, tetapi serakah. Ia memang dapat membodohi Buaya. Tetapi ia berbuat begitu karena ingin mendapatkan buah rukam yang banyak. (ANTAGONIS Tokoh Sampingan) Ikan-ikan dan makhluk air lainnya; (Tokoh Pembantu)

C. Pembabakan
BABAK 1
Tepi Sungai Musi dahulu banyak ikan, lama-kelamaan ikan-ikan itu mulai pergi karena tidak suka dengan buah rukam yang rasanya tidak manis. Buaya hanya memangsa ikan, setiap hari. Dan sebagian buah itu disimpan sebagai persediaan.

BABAK 2
Buaya kecewa ketika mengetahui bahwa buah rukam persediannya diambil Beruk karena di sekitarnya ada jejak kaki Beruk.

BABAK 3
Buaya sedang mengambang di tepi sungai dan si Beruk datang mengambil buah rukam yang ada di pohon itu dan makan begitu saja tanpa mengetahui Buaya ada di bawahnya. Ia hanya membuang sisa-sisa buah rukam ke bawah yang mengenai Buaya.

BABAK 4
Buaya membujuk si Beruk untuk menemaninya mengantarkan obat-obatan untuk ayahnya yang sedang sakit.
BABAK 5 Ketika si Beruk menemani Buaya mengantarkan obat, mereka harus menyeberangi sungai. Namun di tengah jalan, Buaya berkata bahwa ayahnya dapat sembuh apabila memakan jantung Beruk. Dan si Beruk pun ingin diantarkan kembali. untuk mengambil jantungnya yang tertinggal di bawah dahan rukam. Sesampainya di sungai ternyata Buaya tertipu oleh si Beruk. Ia pun menjadi Buaya yang suka melangu.

D. Naskah Dialog
BABAK 1
Di tepian sungai yang jernih, tinggallah berbagai macam makhluk air. Diiringi gemericiknya air sungai, ikan-ikan sedang senangnya bermain-main. Ikan-ikan kecil sedang asyik bermain kejar-kejaran. Ikan I : (sambil tertawa) Hahahha... kena kau! Ikan II : Iya iya aku menyerah. Sekarang giliran aku ya! Ikan I : Coba kejar aku kalau kamu bisa! Huuuu... Weeek! (menjulurkan lidah sambil berenang cepat) Ibu ikan : Awas, anak-anak! Hati-hati bermainnya! Ikan I & II : Tenang saja, Bu. Kami bisa jaga diri. Kepiting : Aku ikut main ya! Ikan I : Boleh. Ayo kejar aku! Ikan II : Pelan-pelan dong! Tiba-tiba... Kepiting : Hey teman-teman! Awas di belakang kalian! Ibu ikan : Anak-anak! Minggir! Ada Raja Buaya. Lebih baik kita sembunyi. Cepat! (sambil menggiring anak-anaknya) Buaya : Mau ke mana kau anak kecil? Ikan I : Ibu.. (sambil berlari mencoba melarikan diri) Ibu Ikan : Anakku... berenanglah secepat mungkin! Buaya : Happ...nyam nyam aku kenyang hari ini...

BABAK 2
Di pinggir sungai Musi... Lama-kelamaan tumbuhlah pohon-pohon rukam yang buahnya sangat pahit. Hal itu membuat ikan-ikan dan makhluk lainnya ingin pindah ke sungai yang lain kecuali Buaya. Ia sekarang hanya dapat memakan buah-buah rukam yang jatuh ke sungai dan kadang menyimpannya untuk persediaan. Di suatu pagi

yang cerah, di mana Buaya biasa meletakkan persediaan makanannya... Buaya : Hah??? Di mana buah-buahnya? (terkejut) Buaya : (memperhatikan sekeliling), Tidak mungkin buah-buah simpananku bisa hilang begitu saja. Rasanya kemarin aku baru mengumpulkan buah-buah sangat banyak. Ke mana? Ke mana simpananku? (kebingungan sambil terus melihatlihat sekitarnya) Tiba-tiba... Buaya : Hah??? Jejak kaki ini...? (terdiam sejenak) Buaya : Ini pasti perbuatan si Beruk! Dasar pencuri! (sambil mengikuti jejak kaki yang tertinggal) Buaya : Wah benar ini! Pasti Beruk itu yang mengambilnya! Awas dia nanti! (menggeram)

BABAK 3
Esoknya, di pagi hari yang indah, ketika Buaya sedang mengambang di tepian sungai Musi sambil menunggui buah rukam yang jatuh... Buaya : Wah, betapa santainya hari ini... Di pagi yang cerah dan indah... Beberapa lama kemudian... Blurrr... blurr... (suara buah rukam jatuh) Buaya : (sambil menganga) Happpp... nyam nyam... Satu buah rukam lebih baik dari pada mengejar seekor ikan. Si Buaya mengambang lagi. Ia terlelap sebentar. Kemudian si Beruk pun datang... Beruk : Ngik ngik... Wah Pohon rukam lagi berbuah! Hari ini aku bisa makan sekenyang-kenyangnya. (sambil melompat ke dahan-dahan rukam) Beruk : (sambil mengambili buah-buah rukam dan memakannya) Hammm... nyam... nyam... Wah aku lagi lapar sekali! Pagi-pagi begini sudah ketiban rezeki. Hahaha betapa senangnya menjadi Beruk seperti aku ini... Byurr... (Buah rukam jatuh... air sungai menciprati kepala Buaya) Buaya : (dalam hati) Huh! Apa ini? Mengganggu acara santai santaiku saja! Buaya : (mendongak ke atas) Dasar Beruk sialan! Jadi benar dugaanku selama ini! Dialah pencuri buah-buah persediaan milikku!

Beruk : (Makan dengan semakin lahap tanpa memperhatikan sekitar lagi dan tidak tahu bahwa buah-buah yang jatuh mengenai kepala Buaya) Eenak... enak... enaak...! Hari ini aku kenyang! Buaya : (tetap diam dan berbicara dalam hati) Huh kenyang apanya? Dasar Beruk tidak tahu adat! Sudah mencuri, dihabiskannya pula buah rukam, tanpa menyisakan aku! Beruk : (melompati dahan) Ahh, besok-besok aku akan datang ke sini lagi, Pohon Rukam. Tenang saja,... buah-buahmu tidak akan menumpuk dan hanyut ke sungai sia-sia... Aku akan menghabiskannya! Hahaha... (sambil melompati dahan menuju pulang) Buaya : Daassaarrr....!!! Awas kau nanti, Beruk rakus! Akan kubalas perbuatanmu! (berkata dalam hati)

BABAK 4
Besok harinya, ketika seperti biasanya si Beruk mengambili buah rukam,... Beruk : Buah rukam... buah-buah rukam... Aku datang lagi! (segera melompat ke dahan rukam) Namun... Tiba-tiba ada sebuah suara datang dari kejauhan... Beruk : Suara apa itu? (sambil mencari sumber suara) Beruk : Huh... di mana sih!? (sambil menoleh kanan-kiri) Beruk pun mendapati Buaya yang tampak bersedih dan matanya sembab... Beruk : (Penasaran) Ada apa, Buaya? Tampaknya kau kelihatan sangat bersedih sekali...? Buaya : (hanya terdiam dengan mata mulai mengeluarkan air lagi) Beruk : Bukankah engkau makhluk yang paling kuat di sungai ini? Tak mungkin kau menangis kalau tak ada sebabnya... Buaya : (dengan suara agak serak-serak basah...) Iiiyaa... ak... akuu tahu ittu... Taappii... kallii innii... akkuu haarrrus menghaad...dapii massaalah yangg sanngatt berratt... Beruk : Apa gerangan masalah yang menimpamu? Mungkin bisa kau menceritakannya kepadaku... Buaya : (terdiam sejenak) Buaya : Beginnii... Beruk : Iya... bagaimana?

Buaya : Ayahku sedang sakit... Sudah berpuluh-puluh dukun telah kudapatkan... Namunn... Beruk : Apakah beliau sudah sembuh...? Buaya : Itulah masalahnya... Sampai sekarang ayah belum sembuh sembuh juga... Beruk : Lalu...? Buaya : Di tanganku ini ada obat-obatan yang katanya dapat menyembuhkan ayah... Beruk : Mengapa tidak kau antarkan sekarang juga? Buaya : Aku lagi beristirahat di sini. Aku sangat lelah sehabis berkeliling daerah ini untuk mendapatkannya... Beruk : Yah... wajarlah. Daerah ini sangat luas. Tidak mungkin kau dapat mendapatkan obat-obatan dengan mudahnya. Buaya : Mmmm... Beruk... Beruk : Iya, ada apa? Buaya : Maukah kau menemaniku mengantarkan obat-obatan ini ke ayahku? Beruk : (Berpikir sejenak) Beruk : (berbicara dalam hati) Kasihan juga si Buaya. Aku tahu perasaannya. Ah,... mungkin ia benar-benar membutuhkan seorang teman untuk mencurahkan isi hatinya... Buaya : Bagaimana, Beruk? Beruk : (terkejut) Oh, iya, Buaya... Baiklah! Aku akan menemanimu untuk mengantarkan obat-obat ini... Buaya : (Tertawa dalam hati) Hahahaha,... Dasar Beruk bodoh! Kau telah berhasil kutipu! Beruk : Ayo Buaya... Kapan kita berangkat? Kasihan ayahmu... Beliau akan menunggu lama untuk obat-obatan ini... Buaya : Eh, iya! Sekarang... sekarang saja! (sambil menuju sungai) Beruk : Iya... lebih cepat lebih baik! Buaya : Naiklah ke punggungku!

BABAK 5
Di perjalanan, menyeberangi sungai. Beruk : Jujur saja, Buaya. Aku sangat iba dengan dirimu. Aku tahu kau pasti sangat sedih! Buaya : (Dalam hati) Wah, dasar Beruk! Tidak tahu trik-ku kali ini. Lihat saja! Beruk : Buaya... Buaya. Saking konsentrasinya dengan penyakit ayahnya, ia sampai tidak memperhatikanku(Sambil bergumam) Buaya : Beruk... ada satu hal yang ingin aku katakan

Beruk Buaya Beruk Buaya Beruk Buaya Beruk Buaya Beruk Buaya Beruk Buaya Beruk Buaya Beruk Buaya Buaya

Beruk

: (Penasaran) Apa itu? : Maukah kau menolongku? : Menolong apa? : Sebenarnya... ayahku bisa sembuh, namun... : Namun apa sih Buaya? Katakan saja, siapa tahu aku dapat membantu! : Namun bisa sembuh... emm... (sambil berenang cepat ke tengah-tengah sungai)... bila beliau memakan jantungmu, Beruk! : (Diam) (Berpikir) Huh, lihat saja dia nanti! : Bagaimana Beruk? : (Masih diam) : (Tertawa dalam hati) Hahaha... dasar Beruk bodoh! Tak berpikir apa dia kalau aku membodohinya. Dasar Beruk tak berakal. Hahaha... : (Dalam hati) Wah aku tahu apa yang harus kulakukan : Beruk? Bagaimana? : (Terkejut) Hah, oh, eh, iya Buaya. Aku tahu kau sudah bersusah payah mencari obat, Hmm... : Lalu? : Baiklah, aku mengerti. Aku mau saja memberikan jantungku. Tetapi... antarkan aku ke tepi lagi karena jantungku tertinggal. : (Tertawa dalam hati) Hahaha... berhasil? Memang dasar Beruk bodoh! : (membelokkan badan menuju ke tepi sungai kembali) Baiklah. Kita akan kembali ke sana. Tapi kau mesti berjanji untuk benar-benar memberikan jantungmu demi ayahku. : Iya... iya... cepatlah!

Mereka pun pergi ke tepi sungai kembali. Buaya berenang dengan cepatnya hingga tidak terkendali lagi dan sesampainya di sana moncong buaya langsung tertumbuk lumpur. Beruk : (langsung melompat ke tepi sungai) Buaya : (Terkejut) Beruk : (sambil mengejek Buaya) Hehehehe... Hei Buaya! Kau pikir kau bisa membodohi aku apa? Hehehe takkan pernah bisa! Buaya : (Terdiam dan berusaha melepaskan moncongnya) Beruk : Hei Buaya. Lain kali pikirkan dulu bila ingin menipu makhluk lain! Tidak memakai perhitungan akhirnya kau sendiri yang rugi! Hahaha!

Buaya : (menyesali dalam hati) Bodoh! Bodoh! Betapa bodohnya aku ini! Mengapa aku bisa balik dibodohinya!? Beruk : Selamat tinggal Buaya! Weeek! (menjulurkan lidahnya) Buaya : (Terus menyesali) Dasar aku bodoh! Bodoh! Semenjak itulah si Buaya termenung-menung menyesali kesalahannya. Ia dijuluki oleh teman-temannya sebagai Buaya Langu. Dalam Bahasa Sumatera Selatan, Langu artinya termenung-menung. Dan Dusun yang dekat dengan aliran sungai yang dilalui Buaya disebut Dusun Bailangu. (Bai=Buaya; Langu:termenung-menung).

Kesenian
Disusun oleh:

Mutiara Fitri Wahyuningrum


KELAS X.6 SMA Negeri 01

Palembang 2008