Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Derajat kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bangsa Indonesia. Sementara itu, derajat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, tetapi yang lebih dominan justru adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.1 Upaya untuk mengubah perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajat kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Program ini telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (dahulu : Departemen Kesehatan) sejak tahun 1996. Evaluasi keberhasilan pembinaan PHBS dilakukan dengan melihat indikator PHBS di tatanan rumah tangga. Namun demikian, karena tatanan rumah tangga saling terkait dengan tatanan-tatanan lain, maka pembinaan PHBS dilaksanakan tidak hanya di tatanan rumah tangga, melainkan juga di tatanan intistusi pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat umum dan fasilitas kesehatan.1 Walaupun program pembinaan PHBS ini sudah berjalan sekitar 15 tahun, tetapi keberhasilannya masih jauh dari harapan. Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2007 mengungkap bahwa rumah tangga di Indonesia yang mempraktikkan PHBS baru mencapai 38,7%. Padahal Rencana Strategis (Restra) Kementerian Kesehatan menetapkan target pada tahun 2014 rumah tangga yang mempraktikkan PHBS adalah 70%. Hal ini jelas menuntut peningkatan kinerja yang luar biasa dalam pembinaan PHBS.2 Profil Kesehatan Kota Palembang Tahun 2011 menyajikan data bahwa baru 68,75 % rumah tangga yang menerapkan PHBS, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 yaitu 68 %. Angka ini belum mencapai target Indikator Sasaran Renstra Dinas Kesehatan Kota Palembang 2008-2013 sebesar 86 %.3,4
1

Puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan primer bagi masyarakat sangat berperan penting dalam pembinaan PHBS di wilayah kerja administratifnya dalam rangka mencapai target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2014. Puskesmas Dempo Palembang pada tahun 2011 mempunyai target PHBS pada tatanan rumah tangga sebesar 5513 rumah tangga. Sedangkan pencapaiannya hanya sebesar 1470 rumah tangga, dengan kata lain hanya mencapai 37,5 %.5,6,7 Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2011 dari Puskesmas Dempo Palembang, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tatanan Rumah Tangga merupakan salah satu program yang tidak memenuhi pencapaian target sehingga penulis tertarik untuk mengangkat topik ini sebagai tugas akhir kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) di Puskesmas Dempo.

1.2.

Rumusan Masalah Pencapaian program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga Tahun 2011 di Puskesmas Dempo sebesar 37,5%

1.3.

Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui penyebab belum tercapainya terget program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Dempo

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui masalah dalam pencapaian target program PHBS

pada Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Dempo

2. Untuk mengetahui prioritas masalah dalam pencapaian target program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Dempo 3. Untuk mengetahui penyebab masalah dalam pencapaian target program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Dempo 4. Untuk mengetahui penyelesaian masalah dalam pencapaian target program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Dempo I.4. Manfaat Penulisan

Tulisan ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai kendala dan solusi terhadap pelaksanaan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sehingga dapat bermanfaat: 1. Bagi Puskesmas dapat menjadi bahan acuan dan evaluasi dalam pelaksanaan program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga sehingga dapat mencapai target yang ditentukan. 2. Bagi Dinas Kesehatan sebagai sarana informasi sehingga dapat memberikan sarana serta dukungan terhadap program PHBS pada Tatanan Rumah Tangga 3. Bagi Mahasiswa dapat menambah pengetahuan serta informasi mengenai program kesehatan wajib puskesmas, khususnya pada pelaksanaan program PHBS.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.2 Dengan demikian, PHBS mencakup beratusratus bahkan mungkin beribu-ribu perilaku yang harus dipraktekkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Di bidang pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penyehatan lingkungan harus

dipraktekkan perilaku mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, pengelolaan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan dan lain-lain. Di bidang kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana harus dipraktekkan perilaku meminta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, menimbang balita setiap bulan, mengimunisasi lengkap bayi, menjadi akseptor keluarga berencana dan lain-lain. Di bidang gizi dan farmasi harus dipraktekkan perilaku makan dengan gizi seimbang, minum Tablet Tambah Darah selama hamil, memberi bayi air susu ibu (ASI) eksklusif, mengkonsumsi Garam Beryodium dan lain-lain. Sedangkan di bidang pemeliharaan kesehatan harus dipraktekkan perilaku ikut serta dalam jaminan pemeliharaan kesehatan, aktif mengurus dan atau memanfaatkan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), memanfaatkan Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan dan lain-lain.5

2.1.1. Konsep Tatanan Manusia hidup di berbagai tatanan, yaitu berbagai tempat atau sistem sosial dimana ia melakukan kegiatan sehari-harinya. Di setiap tatanan, faktor-faktor individu, lingkungan fisik dan lingkungan sosial berinteraksi dan menimbulkan dampak terhadap kesehatan. Oleh sebab itu dapat pula dikatakan bahwa suatu tatanan adalah suatu tempat dimana manusia secara aktif memanipulasi lingkungan, sehingga menciptakan dan sekaligus juga mengatasi masalahmasalahnya di bidang kesehatan. Jelas bahwa setiap tatanan memiliki kekhasan, sehingga dengan demikian pembinaan PHBS harus disesuaikan untuk masingmasing tatanan. 5 Telah disepakati adanya lima tatanan, yaitu tatanan rumah tangga, tatanan institusi pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat umum dan tatanan fasilitas kesehatan. Akan tetapi, untuk melihat keberhasilan pembinaan PHBS, praktek PHBS yang diukur adalah yang dijumpai di tatanan rumah tangga. Telah

ditetapkan 10 (sepuluh) indikator untuk menetapkan apakah sebuah rumah tangga telah mempraktekkan PHBS.Kesepuluh indikator tersebut merupakan sebagian dari semua perilaku yang harus dipraktekkan di rumah tangga dan dipilih karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan keseluruhan perilaku3,4 2.1.2. Masyarakat Dalam Tatanan Namun demikian perlu disadari bahwa PHBS di tatanan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh PHBS di tatanan lain. Demikian sebaliknya, PHBS di tatanan lain juga dipengaruhi oleh PHBS di tatanan rumah tangga. 5

Oleh sebab itu,Gambar yang dimaksud dengan masyarakat dalam hal ini tidak 2.1 Tatanan dalam PHBS terbatas pada masyarakat dalam pengertian umum (yaitu tatanan rumah tangga), tetapi juga masyarakat khusus di berbagai tatanan lain. Sebagaimana di tatanan rumah tangga, yaitu masyarakat umum, masyarakat di masing-masing tatanan pun memiliki struktur masyarakat dan peran-peran dalam masyarakat. Jika di masyarakat umum terdapat struktur masyarakat formal dan masyarakat informal, di tatanan-tatanan lain pun terdapat pula struktur yang serupa.5

2.2. PHBS di Berbagai Tatanan5 Di atas disebutkan bahwa PHBS mencakup semua perilaku yang harus dipraktikkan di bidang pencegahan, dan penanggulang penyakit, penyehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, gizi, farmasi dan pemeliharaan kesehatan. Perilaku-perilaku tersebut harus dipraktekkan dimanapun

seseorang berada di rumah tangga, di institusi pendidikan, di tempat kerja, di tempat umum dan di fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dijumpai. 2.2.1. PHBS di Rumah Tangga Di rumah tangga, sasaran primer harus mempraktekkan perilaku yang dapat menciptakan Rumah Tangga Ber-PHBS, yang mencakup persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi Bayi ASI eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, pengelolaan air minum dan makan di rumah tangga, menggunakan jamban sehat, pengelolaan limbah cair di rumah tangga, membuang sampah di tempat sampah, memberantas jentik nyamuk, makan buah dan sayur setiap hari, tidak merokok di dalam rumah dan lain-lain. 2.2.2. PHBS di Institusi Pendidikan Di institusi pendidikan (kampus, sekolah, pesantren, padepokan dan lainlain), sasaran primer harus mempraktekkan perilaku yang dapat menciptakan Institusi Pendidikan Ber-PHBS, yang mencakup antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membunag sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengkonsumsi narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), tidak meludah sembarang tempat, memberantas jenitk nyamuk dan lain-lain

2.2.3. PHBS di Tempat Kerja Di tempat kerja (kantor, pabrik dan lain-lain), sasaran primer harus mempraktekkan perilaku yang dapat menciptakan tempat kerja ber-PHBS, yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengkonsumsi NAPZA, tidak meludah sembarang tempat, memberantas jentik namuk dan lain-lain

2.2.4. PHBS di Tempat Umum Di tempat umum (tempat ibadah, pasar, pertokoan, terminal, dermaga dan lain-lain), saasarn primer harus mempraktekkan perilaku yang dapat menciptakan Tempat Umum Ber-PHBS, yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak menggunakan NAPZA, tidak meludah di sembarang tempat, memberantas jentik nyamuk dan lain-lain

2.2.5. PHBS di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Di fasilitas pelayanan kesehatan (klinik, puskesmas, rumah sakit dan lainlain), sasaran primer harus mempraktekkan perilaku yang dapat menciptakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ber-PHBS, yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban, sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengkonsumsi NPAZA, tidak meludah sembarang tempat, memberantas jentik nyamuk dan lain-lain.

2.3. Hakikat Perilaku Perilaku adalah sesuatu yang rumit. Perilaku individu berkaitan dengan faktor-faktor pengetahuan dan sikap individu. Perilaku juga menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma. Sistem nilai adalah acuan tentang hal-hal yang dianggap baik dan hal-hal yang dianggap buruk. Sedangkan norma adalah aturan tidak tertulis yang disebut norma sosial dan aturan tertulis yang disebut norma hukum. Selain itu, perilaku juga berkaitan dengan dimensi ekonomi dan hal-hal lain yang merupakan pendukung perilaku. Perilaku seseorang selain dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikapnya, memiliki acuan kepada sistem nilai dan norma yang dianutnya. Dengan kata lain, sistem nilai dan norma merupakan rambu-rambu bagi seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sistem nilai dan norma dibuat oleh masyarakat di suatu tatanan untuk dianut oleh individu-individu anggota masyarakat tatanan tersebut. Inilah yang juga disebut

sebagai faktor-faktor predisposisi (predisposing factors). Namun demikian sistem nilai dan norma, sebagai sistem sosial, adalah sesuatu yang dinamis. artinya, sistem nilai dan norma suatu masyarakat akan berubah mengikuti perubahanperubahan lingkungan dari masyarakat yang bersangkutan. Jadi, antara sistem nilai dan norma di satu pihak dengan individu-individu masyarakat di pihak lain, terdapat hubungan timbal balik - sistem nilai dan norma mempengaruhi perilaku individu, perilaku individu yang berubah akan dapat mengubah sistem nilai dan norma.

Gambar 2.2.nilai Faktordan Predisposisi mempengaruhi perilaku Untuk sistem norma yang yang sesuai dengan kaidah-kaidah

kesehatan, perlu diupayakan terpeliharanya sistem nilai dan norma tersebut. Sedangkan untuk sistem nilai dan norma yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kesehatan, perlu dilakukan upaya guna mengubah sistem nilai dan norma tersebut melalui perubahan perilaku individu-individu anggota masyarakat. Individuindividu anggota masyarakat yang memiliki potensi besar untuk mengubah sistem nilai dan norma adalah mereka yang disebut dengan pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat, baik yang formal maupun yang informal. Pemuka masyarakat formal mencakup para petugas atau pejabat kesehatan dan mereka yang menduduki posisi formal (resmi) dalam organisasinya. Pemuka masyarakat informal adalah mereka yang tidak menduduki posisi formal dalam organisasi, tetapi memiliki pengaruh individual terhadap masyarakat oleh sebab keahlian, pengalaman, keturunan, kharisma dan lain-lain. Mereka inilah yang berperan

sebagai faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) bagi terjadinya perubahan perilaku masyarakat. 4,5, Akan tetapi perilaku juga menyangkut dimensi ekonomi, termasuk tersedianya sarana dan prasarana. Seseorang yang sudah mau berperilaku tertentu tidak pernah mempraktekkan perilaku itu karena tidak adanya kemampuan secara ekonomis atau tidak tersedianya sarana. Misalnya, seseoranng yang sudah mau membuang hajat (air besar) di jamban, tidak kunjung melakukan hal itu karena ia tidak mampu membuat jamban pribadi dan di sekitarnya tidak terdapat jamban umum. Contoh lain: seorang ibu yang sudah mau memeriksakan kandungannya secara teratur, tdak juga datang ke Puskesmas karena ia tdak memiliki uang untuk biaya transport, walaupun untuk periksa di Puskesmas tidak dipungut biaya alias gratis Karena prasarana jalan raya yang masih buruk, maka tidak hanya biaya transport yang dibutuhkan, melainkan tenaga untuk berjalan kaki beberapa kilometer. Di dekat tempat tinggalnya juga tidak terdapat fasilitas pelayanan kesehatan lain yang dapat membantunya untuk periksa kehamilan secara teratur. Sarana dan prasarana ini sering pula disebut sebagai faktor-faktor pendukung (enabling factors) bagi terjadinya perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, agar perilaku dari sasaran primer di setiap tatanan dapat tercipta dan berkesinambungan diperlukan dukungan perilaku dari sasaran sekunder dan sasaran tersier di semua tatanan yang bersangkutan. Sasaran sekunder harus berperilaku yang dapat menciptakan suasana kondusif dan lingkungan sosial yang mendorong (social pressure) bagi tercipta dan berkesinambungannya perilaku sasaran primer. Sasaran sekunder juga diharapkan berperilaku sebagai panutan dalam rangka mempraktekkan PHBS. Sedangkan sasaran tersier harus berperilaku memberikan dukungan, baik material maupun non material, bagi tercipta dan berkesinambungannya perilaku sasaran primer. Dukungan tersebut antara lain dalam bentuk menetapkan dan memberlakukan kebijakan atau peraturan sebagai acuan dan rambu-rambu bagi pembinaan PHBS di tatanan dan juga menyediakan sarana-sarana sebagai faktor pendukung seperti misalnya tempat sampah, air bersih, jamban sehat, kantin sehat, perlengkapan kesehatan kerja dan lain-lain.2,5 2.4. Pembinaan PHBS

10

Pembinaan PHBS diluncurkan oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan (sekarang Pusat Promosi Kesehatan) pada tahun 1996 dengan mengunakan pendekatan tatanan sebagai strategi pengembangannya. Untuk masing-masing tatanan ditetapkan indikator guna mengukur pencapaian pembinaan PHBSnya. Namun demikian, fokus pembinaan adalah pada PHBS tatanan rumah tangga. PHBS tatanan rumah tangga sejak dicanangkan tahun 1996 memiliki 10 indikator yaitu : persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, imunisasi dan penimbangan balita, memiliki jamban sehat, memiliki akses air bersih, penanganan sampah, kebersihan kuku, gizi keluarga, tidak merokok dan menyalahgunakan NAPZA, memiliki informasi PMS/AIDS, memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan/Dana Sehat. Tahun 2001 indikator PHBS tatanan rumah tangga ini kemudian dikembangkan menjadi 16 indikator dengan menambahkan indikator-indikator gosok gigi sebelum tidur, olahraga teratur, memiliki saluran pembuangan air limbah, ventilasi rumah baik, kepadatan penghuni rumah kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni dan lantai rumah bukan tanah. Akan tetapi, indikator baru ini dirasakan terlalu banyak, sehingga melalui serangkaian pertemuan diskusi intensif, uji instrumen, uji sistem dan uji statistik item reduction untuk melihat keterkaitan indikator-indikator tersebut dengan penyebab terjadinya gangguan kesehatan dan angka kesakitan yang dilakukan sejak tahun 2000-2003, dari 16 indikator awal ditetapkan 10 indikator PHBS. Penetapan indikator dari hasil uji statistik ini, dipilihlah 10 indikator yang selanjutnya ditetapkan sebagai indikator PHBS di Rumah tangga yang baru, yaitu Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, bayi diberi ASI Eksklusif, memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, tersedia jamban,tersedia air bersih, kesesuaian luas lantai rumah dengan jumlah penghui, lantai rumah bukan tanah, tidak merokok,melakukan aktivitas fisik, serta mengonsumsi sayur dan buah. 3 Berdasarkan pada Rapat Koordinasi Promosi PHBS di Rumah Tangga diubah menjadi persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, mengonsumsi buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari

11

dan tidak merokok di dalam rumah. Pada era desentralisasi ditetapkan standar untuk mengukur kinerja sektor kesehatan untuk kabupaten dan kota yang disebut Standar Pelayanan Mininal (SPM) bidang Kesehatan. Dalam SPM terdapat sembilan urusan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota. Salah satunya adalah penyelenggaraan Promosi Kesehatan dengan Indikator kinerja persentase Rumah Tangga Sehat dan target pencapaian 65% pada tahun 2010. Pencapaian Rumah Tangga Sehat atau Rumah Tangga ber-PHBS ini sejak diluncurkan terus mengalami peningkatan. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2001 dan 2004 melaporkan persentasi Rumah Tangga ber-PHBS di Indonesia berturut-turut adalah 19,5% dan 24,38%.5, Pembinaan PHBS adalah upaya untuk menciptakan dan melestarikan perilaku hidup yang berorientasi kepada kebersihan dan kesehatan di masyarakat, agar masyarakat dapat mandiri dalam mencegah dan menanggulangi masalahmasalah kesehatan yang dihadapinya. Oleh karena itu, pembinaan PHBS dilaksanakan melalui penyelenggaraan Promosi Kesehatan, yaitu upaya untuk membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat agar tahu, mau dan mampu mempraktekkan PHBS, melalui proses pembelajaran dalam mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, sesuai sosial budaya setempat serta didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. 3,4 2.4.1. Pembinaan PHBS di Rumah Tangga5 Di tatanan rumah tangga, pembinaan PHBS dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan pengembangan dan pembinaan Desa Siaga dan Kelurahan Siaga Aktif. Tanggung jawab pembinaan terendah berada di tingkat kecamatan (Forum Kecamatan). a. Pemberdayaan Pemberdayaan di tatanan rumah tangga dilakukan terhadap individu, keluarga dan kelompok masyarakat. Prosesnya diawali dengan pemberdayaan
12

terhadap kelompok masyarakat melalui pengorganisasian masyarakat, untuk membentuk atau merevitalisasi Forum Desa/ Kelurahan (pengembangan kapasitas pengelola). Dengan pengorganisasian masyarakat, maka selanjutnya pemberdayaan individu dan keluarga dapat ditmbang-terimakan kepada perangkat desa/ kelurahan, pemuka masyarakat dan anggota- anggota masyarakat yang ditunjuk sebagai kader. Pemberdayaan individu dilaksanakan dalam berbagai kesempatan, khususnya pada saat individu individu masyarakat berkunjung dan memanfaatkan upaya-upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) seperti Posyandu, Poskesdes dan lain-lain, melalui pemberian informasi dan konsultasi. Sedangkan pemberdayaan keluaga dilaksanakan melalui kunjungan rumah dan konsultasi keluarga oleh para kader. Juga melalui bimbingan atau pendampingan ketika keluarga tersebut membutuhkan (misalnya tatkala membangun jamban, membuat taman obat keluarga dan lain-lain). b. Bina Suasana Bina suasana di tatanan rumah tangga dilakukan oleh para pemuka atau tokoh-tokoh masyarakat, termasuk pemuka agama dan pemuka adat, dalam rangka menciptakan opini publik, suasana yang kondusif, panutan di perangkat desa dan kelurahan bagi dipraktekkannya PHBS oleh rumah tangga. Bina suasana juga dilakukan oleh para pengurus organisasi kemasyarakatan di tingkat desa dan kelurahan seperti pengurus Rukun Warga/Rukun Tetangga, pengurus PKK, pengurus pengajian, pengurus arisan, pengurus koperasi, pengurus organisasi pemuda (seperti Karang Taruna), Pramuka dan lain-lain. Para pengurus organisasi kemasyarakatan tersebut ikut memotivasi anggota-anggotanya agar mempraktekkan PHBS. Di samping itu, bina suasana juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan media seperti pemasansan spanduk dan atau billboard di jalan-jalan desa/kelurahan, penempelan poster di tempat-tempat strategis, pembuatan dan pemeliharaan taman obat/taman gizi percontohan di beberapa lokasi, serta pemanfaatan media tradisional. c. Advokasi

13

Advokasi dilakukan oleh fasilitator dari kecamatan / kabupaten / kota terhadap para pemuka masyarakat dan pengurus organisasi kemasyarakatan tingkat desa dan kelurahan, agar mereka berperan serta dalam kegiatan bina suasana. Advokasi juga dilakukan terhadap para penyandang dana, termasuk pengusaha (Swasta), agar mereka mampu membantu upaya pembinaan PHBS di Rumah Tangga (Desa/kelurahan) Kegiatan-kegiatan pemberdayaan, bina suasana dan advokasi di desa dan keluarahan tersebut diatas harus didukung oleh kegiatan-kegiatan (1) bina suasana PHBS di Rumah Tangga dalam lingkup yang lebih luas (kecamatan, kabupaten, kota, provinsi dan nasional) dengan memanfaatkan media massa berjangkauan luas seperti surat kabar, majalah, radio, televisi dan internet serta (2) advokasi secara berjenjang dari tingkat pusat ke tingkat provinsi dari tingkat provinsi ke tingkat kabupaten / kota dan dari tingkat kabupaten/kota ke tingkat kecamatan.

2.4.2. Sasaran PHBS di Tatanan Rumah Tangga7 Sasaran PHBS di rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga secara keseluruhan dan terbagi dalam : 1) Sasaran primer. adalah sasaran utama dalam rumah tangga yang akan dirubah perilakunya atau anggota keluarga yang bermasalah (individu dalam keluarga yang bermasalah) 2) Sasaran sekunder adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam keluarga yang bermasalah misalnya, kepala keluarga, ibu, orang tua, tokoh keluarga, kader tokoh agama, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan lintas sektor terkait, PKK

14

3) Sasaran tersier adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS misalnya, kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, guru, tokoh masyarakat dll.

2.4.3. Manfaat PHBS di Tatanan Rumah Tangga7 Beberapa manfaat PHBS dalam tatanan rumah tangga : 1) Meningkatkan taraf kesehatan di dalam rumah tangga 2) Rumah tangga sehat dapat meningkatkan produktivitas kerja anggota keluarga 3) Dapat memperbaiki ekonomi rumah tangga karena berkurangnya pembiayaan untuk pengobatan 4) Salah satu indikator keberhasilan Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota di dbidang kesehatan

BAB III PROFIL PUSKESMAS DEMPO

3.1. Gambaran Umum Puskesmas Dempo 3.1.1. Sejarah Puskesmas Dempo sebagai unit pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan pembangunan kesehatan terdepan dan pelayanan tingkat dasar yang mandiri, bertanggung jawab terhadap peningkatan kesehatan masyarakat yang optimal khususnya di Kecamatan Ilir Timur I Palembang. Puskesmas Dempo
15

diresmikan kembali pada tanggal 18 Juni 1988 oleh Walikota Madya KDH.TK II Palembang setelah dilakukan rehab bangunan pertama kali. Tabel 3.1 Pimpinan Puskesmas Dempo No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Pimpinan dr. Ahmad Tiar dr. Hazairin Zen dr. Anna Burmansyah dr. Nelly Najib, MARS dr. Gema Asiani, M.Kes dr. Susilawati dr. Letizia, M.Kes dr. Hj. Meiri Iryani, M.Kes Periode Tahun Tahun - Tahun 1972 Tahun 1972 Tahun 1981 Tahun 1981 Tahun 1989 Tahun 1989 Tahun 1998 Tahun 1998 Tahun 2001 Plh Tahun 2001 Desember 2001 14 Juni 2005 14 Juni 2005 Sekarang

3.1.2

Wilayah Kerja Berdasarkan surat keputusan Walikota Palembang tahun 2001 wilayah

kerja Puskesmas Dempo meliputi 8 kelurahan, yaitu : 1. Kelurahan 13 Ilir 2. Kelurahan 14 Ilir 3. Kelurahan 15 Ilir 4. Kelurahan 16 Ilir 5. Kelurahan 17 Ilir 6. Kelurahan 18 ilir 7. Kelurahan kepandean Baru 8. Kelurahan 20 Ilir Batas Wilayah Utara Selatan Timur Barat : : Kecamatan Sekip Jaya dan Talang Aman : Seberang Ulu II dan Sungai Musi : Kecamatan Ilir timur II : Kecamatan Ilir Barat I

16

Puskesmas Dempo merupakan salah satu Puskesmas Induk di Kecamatan Ilir Timur I yang mempunyai 3 Puskesmas dan juga merupakan Puskesmas Koordinator untuk Kecamatan Ilir Timur I dengan luas wilayah kerja 283,4 Ha. 3.1.3 Geografi Wilayah kerja puskesmas Dempo terdiri dari dataran rendah dan sebagian kecil pinggiran sungai. 3.1.4 Topografi Puskesmas Dempo terletak di tepi jalan untuk mencapai Puskesmas Dempo relatif lebih mudah karena dilalui oleh kendaraan umum dan juga dengan berjalan kaki, sehingga transportasi lancar karena letaknya sangat strategis di pusat Kota. 3.1.5 Sarana Komunikasi Sejak bulan Desember 2001 sudah menggunakan telepon dengan nomor 0711-358640 dan alamat e-mail pkmdempo.palembang@yahoo.com 3.1.6 Demografi Tabel 3.2 Demografi Puskesmas Dempo Tahun 2011

17

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Deskripsi Jumlah Penduduk Jumlah KK Jumlah Ibu Bersalin Jumlah Ibu Meneteki Jumlah Ibu Nifas Jumlah WUS Jumlah Wanita Peserta KB aktif Jumlah Bayi Jumlah Balita Jumlah Batita Jumlah Baduta Jumlah Remaja Jumlah Usila Jumlah TK Jumlah SD Jumlah SMP Jumlah SMA Jumlah Akademi Jumlah Perguruan Tinggi

Jumlah 40.062 8136 334 334 334 6770 3512 334 2331 1107 834 3885 12581 19 17 10 6 0 1

3.2 Gambaran Khusus Puskesmas Dempo Palembang 3.2.1 Visi, Misi, dan Motto Puskesmas Dempo Palembang Visi Misi : Terwujudnya Kecamatan Ilir Timur I Sehat : 1. Memasyarakatkan paradigma sehat pada semua pihak 2. Meningkatkan profesionalisme seluruh petugas yang berorientasi pada standar pelayanan prima 3. Pengadaan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu prima 4. Memberdayakan masyarakat dan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada Motto : 1. Pelayanan prima idaman kami 2. Anda, keluarga dan mitra kami
18

3. Anda sehat, kami senang Nilai : 1. Kemitraan 2. Kekompakan 3. Keterbukaan 4. Kekeluargaan

3.2.2 Struktur Organisasi Puskesmas Terlampir

3.2.3 Tugas Pokok dan Fungsi Program a. Tugas Pokok Puskesmas Melaksanakan sebagian kegiatan teknis operacional Dinas Kesehatan di bidang pelayanan, pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan secara paripurna lepada masyarakat di wilayah kerjanya.

b. Fungsi Puskesmas 1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan Puskesmas diharapkan sebagai motor, motivator dan pemantau terselenggaranya proses pembangunan di wilayah kerjanya,agar berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Hasil yang diharapkan dapat menjalankan fungsi, adalah terciptanya sumber daya yang sehat, cerdas dan produktif, serta mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan memberi prioritas pada upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. 2. Sebagai Pemberdayaan Masyarakat Dan Keluarga

19

Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Puskesmas ikut memberdayakan masyarakat, sehingga masyarakat tahu, mau dan mampu menjaga dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Wujud pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan sebagai pusat pemberdayaan keluarga, dengan harapan menjaga keluarga sehat tetap sehat dan keluarga sakit menjadi sehat.wujudnya adalah implementasi puskesmas peduli keluarga yang tingkat keberhasilannya dapat dilihat dari banyaknya keluarga sehat di wilayah kerja puskesmas 3. Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama Sebagai pusat pelayanan tingkat pertama di wilayah kerjanya, puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan pemerintah yang wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara bermutu, adil dan merata. Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan adalah pelayanan kesehatan dasar, yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat dan sangat strategis dalam upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat secara umum. Upaya kesehatan yang diselenggarkan meliputi pelayanan medik dasar berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan upaya pendekatan individu dan keluarga melalui upaya rawat jalan, rujukan dan pelayanan kesehatan masyarakat berupa pelayanan promotif, preventif,kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan kelompok masyarakat. Upaya tersebut diselenggarakan secara holistic dan berkesinambungan. c. Program pokok Puskesmas

1. Promosi kesehatan 2. 3. 4. 5. 6. Gizi Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluraga Berencana (KB) Kesehatan Lingkungan P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) Pengobatan

d. Program Pembangunan

20

Disisi

lain

Puskesmas

Dempo

Palembang

mempunyai

program

unggulannya, yaitu : 1. MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) 2. 3. 4. KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) GILINGAN MAS (Gizi Lingkungan Masyarakat) BP. UMUM

e.Sarana Pelayanan Kesehatan 1. b. 2. b. d. 3. b. 4. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak a. Ibu hamil, nifas dan menyusui Keluarga berencana (KB) Pengobatan a. Emergency Pengobatan umum Konsultasi dokter spesialis Penyuluhan promosi a. Penyuluhan posyandu Lansia Penyuluhan di Puskesmas Laboratorium a. Darah : HB, Golongan Darah, Leukosit, Eritrosit, dan Laju Endap serta Bilirubin b. Urine : Glukosa urine, Protein Urine c. Penyuluhan di Sekolah (UKS) c. Pengobatan gigi e. Rujukan c. Bayi atau balita, gizi

5.

Klinik

21

a. 1. b.

Gilingan Mas Klinik Gizi a. Pemberian Vitamin A dan pil penambah darah Konsultasi Balita BGM (Bawah Garis Merah) Konsultasi Bayi / balita sehat Pelayanan Imunisasi a. BCG b. d. DPT, HB Combo Hepatitis c. Polio e. Campak f. Tetanus Toksoid (TT) 3. b. d. Pelayanan Sanitasi a. Konsultasi Konsultasi tentang Rumah Sakit Klinik MTBS c. Konsultasi PHBS e. Melayani Balita Sakit Terpadu f. Tenaga Kerja Puskesmas Dempo c. Konsultasi Diet d. 2.

3.2.5 Sumber Daya Puskesmas Tabel 3.3. Daftar Pegawai Puskesmas Dempo No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 NAMA dr. Hj. Meiri Iryani, M.Kes drg. Novi Artati dr. Henny. SpOG dr. Junaida, SpA dr. Fitrianti dr. Marlia Refianti Dale Romana, AmKep Nurhaida Pasaribu Hj. Herlina Ahmad Fauzi Ellydar JABATAN Pimpinan Puskesmas Kepala BP Gigi Dokter Spesialis Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Umum Akper Analis Bidan Pekarya Pekarya

22

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

Hj. Sri Nurmalina, SKM Salvadora Iriani, AMG Leesy Susanti, AMK Merri Nurmala Sarri, SKM Mahani Wiwik Dwiyanti Wiwin AM.Keb Windrianto, AMK Kartika Sari, AM.Kep Dwi Agustianingsih AM.KG Ellen Septaria, AMAK Shanti Apriliya Helpina AM.Kep Hj. Suryati Pinondang Butar-butar Lolita Anggriani Nanand Ferdinand, SKM Yulis Mawarni Eva Diana Sari, SKM Yopi Yuliya Lili Aprianti Putri Al-Qurbanti Dewi Mayang S, AM.Keb Siti Musliha AM. Keb Drg. Meyrisa Bastari

Bidan Asisten Apoteker Pelaksana Gizi Akper


Administrator Kesehatan

Perawat Gigi Bidan Bidan AKper Akper Perawat Gigi Analisis Pelaksana Gizi Akper Bidan Pustu 13 Ilir Paramedis 13 ilir Petugas Sanitasi
Administrator Kesehatan

Paramedis
Administrator Kesehatan

Perawat Gigi Analis Asisten Apoteker Bidan Bidan Dokter Gigi

3.3. Program PHBS di Puskesmas Dempo Tahun 2011 Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah salah satu kegiatan dari upaya kesehatan wajib puskesmas yang termasuk dalam upaya promosi kesehatan. Program ini hanya dikoordinir oleh 1 orang staf puskesmas. Berikut dibawah ini data mengenai daftar perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di wilayah kerja Puskesmas Dempo tahun 2011. Gambar 3.1. Daftar PHBS di Wilayah Kerja Puskesmas Dempo Tahun 2011*

23

Rumah tangga Institusi Sarkes Institusi TTU Tempat Kerja

110 1 15 2

150 0 18 1

300 0 21 1

160 0 10 1

150 1 24 2

110 0 12 1

90 0 20 1

400 0 18 4

Ket : *Data diambil dari Buku Profil Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011

Tabel 3.4. Pencapaian Target Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Puskesmas Dempo Kecamatan Ilir 1 Palembang Tahun 2011

24

Kelurahan Sarana Rumah tangga Target : 5513 Institusi Sarkes Target : 2 Intitusi TTU Target : 128 Tempat Kerja Target : 13

13 Ilir 110 1 15 2

14 Ilir 150 0 18 1

15 Ilir 300 0 21 1

16 Ilir 160 0 10 1

17 Ilir 150 1 24 2

18 Ilir 110 0 12 1

Kep.Baru 90 0 20 1

20 Ilir 400 0 18 4

Jumlah 1470 2 138 13

% Cakupan 37,5% 100 % 107,8 % 100 %

BAB IV TINJAUAN KASUS


4.1. Identifikasi Masalah

25

Tabel 4.1. Identifikasi Masalah di Puskesmas Dempo No Program Target* Pencapaian** Masalah

I.Promosi Kesehatan 1 2 PHBS Rumah Tangga Bayi Mendapat ASI Ekslusif 86 % 100 % 37,5 % 81 % - 48,5% - 19 %

II. Kesehatan Lingkungan 3 4 Penyehatan Air Penyehatan Lingkungan Pemukiman dan Jamban Keluarga III.KIA & KB 5 Cakupan BBLR ditangani 6 Bayi Gakin BGM mendapat MP-ASI IV. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat 7 Pemberian Tablet besi pada ibu hamil 80 % 38,3 % - 41,7% 90 % 38 % - 52 %

100 % 100 %

64,7 % 51,3 %

- 35,3 % - 48,7 %

100 %

99 %

-1%

V. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular 8 Pengobatan TB Paru BTA (+) 90 % 9 10 Penemuan kasus diare Penemuan kasus pneumonia Balita 90 % 100 %

44 % 52 % 56,1 %

- 46 % - 38 % - 33,9 %

VI. Upaya Pengobatan 11 Kunjungan Rawat Jalan Umum 93 % 44 % - 49%

Ket : *Target berdasarkan Matriks Indikator Sasaran Renstra Dinas Kesehatan Kota
Palembang 2008-2013
**

Pencapaian berdasarkan Buku Kinerja Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011

4.2. Prioritas Masalah Meningat adanya keterbatasan kemampuan mengatasi masalah secara sekaligus, ketidaktersediaan tekhnologi atau adanya keterkaitan satu masalah dengan masalah lainnya, maka perlu dipilih prioritas masalah yang akan

26

diselesaikan. Berikut ini penetapan urutan pritoritas masalah dengan metode matriks. Tabel 4.2. Prioritas Masalah di Puskesmas Dempo No Kriteria Masalah PHBS Rumah Tangga Bayi Mendapat ASI Ekslusif Penyehatan Air Penyehatan Lingkungan Pemukiman dan Jamban 5 6 7 8 9 10 11 Keluarga Cakupan BBLR ditangani Bayi Gakin BGM mendapat MP-ASI Pemberian Tablet besi pada ibu hamil Pengobatan TB Paru BTA (+) Penemuan kasus diare Penemuan kasus pneumonia Balita Kunjungan Rawat Jalan Umum Tingkat Urgensi 1 2 3 4 (U) 4 3 4 3 5 4 2 4 4 5 3 Tingkat Keseriusan (S) 5 4 5 3 4 4 3 4 3 4 4 Tingkat Perkembangan (G) 5 3 3 2 4 5 3 4 2 3 4 UxSxG 100 36 60 18 80 80 18 64 24 60 48

Berdasarkan metode matriks diatas, maka prioritas masalah yang harus diselesaikan adalah masalah PHBS Rumah Tangga 4.3. Rumusan Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Dempo sebesar 37,5 % 4.4. Penentuan Akar Penyebab Masalah Gambar 4.1. Penentuan Akar Penyebab Masalah dengan cara Fishbone

27

Manusi a

Metode Kebiasaan masyarakat yang sulit dirubah Kerjasama dengan tokoh masyarakat / Ketua RT/RW Pengetahuan masyarakat kurang Pelatihan kader kurang

Mencuci tangan tidak memakai sabun dan air mengalir

Media sosialisasi kurang

PHBS Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Dempo sebesar

Sarana

Dana

Lingkun gan

4.5. Penyelesaian Masalah Tabel. 4.3. Penyelesaian Masalah Terpilih di Puskesmas Dempo Prioritas Masalah
PHBS Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja

Penyebab Masalah
Kebiasaan Masyarakat Sulit Dirubah

Alternatif Penyelesaian Masalah


Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya ber-PHBS Memasang poster tentang

Penyelesaian Masalah Terpilih


Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingya berPHBS

28

PHBS di lingkungan masyarakat Pengetahuan Masyarakat Kurang Penyuluhan rutin kepada masyarakat tentang pentingnya ber-PHBS Pembagian brosur / selebaran informasi ttg PHBS kerumah tangga yang belum ber-PHBS Meningkatkan pelatihan bagi kader guna menyebarluaskan informasi pentingnya PHBS Memberikan brosur / buku saku ttg PHBS kepada tokoh masyarakat Mengadakan lomba kelurahan ber-PHBS terbaik Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya ber-PHBS Mengadakan kegiatan gerakan cuci tangan bersama untuk menarik perhatian masyarakat Pengadaan alat-alat sosialisasi (leaflet, poster) Pemasangan papan sosialiasi untuk PHBS Pembagian brosur / selebaran informasi ttg PHBS kerumah tangga yang belum ber-PHBS

Pelatihan kader kurang

Puskesmas Dempo sebesar 37,5%

Meningkatkan pelatihan bagi kader guna menyebarluaskan informasi pentingnya PHBS Memberikan brosur / buku saku ttg PHBS kepada tokoh masyarakat

Kerjasama dengan tokoh masyarakat / Ketua RT/RW/Lurah kurang Mencuci tangan tidak memakai sabun dan air mengalir

Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya berPHBS

Media sosialisasi kurang

Pengadaan alat-alat sosialisasi (leaflet, poster)

29

4.6. Rencana Usulan Kegiatan (RUK)


No 1 Upaya Kesehatan Promosi Kesehatan Kegiatan Penyuluhan tentang PHBS Tujuan Memberikan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam ber-PHBS Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pentingnya PHBS

Tabel. 4.4. Rencana Usulan Kegiatan


Sasaran Masyarakat Ilir Timur 1 Target 2x/thn Kebutuhan Sumber Daya Dana Alat Tenaga Rp.1000 x 500 - Brosur 4 org brosur = - Projector Rp.500.000 Indikator Keberhasilan Kehadiran peserta 75 % Sumber Pembiayaan Puskesmas

Pembagian brosur / selebaran informasi ttg PHBS kerumah tangga yang belum berPHBS Pelatihan kader

Rumah Tangga yang belum berPHBS

6x/thn

Rp.1000 x 1000 brosur = Rp.1.000.0000

-Brosur

2 org

100 %

Puskesmas

Memberikan brosur / buku saku kepada tokoh masyarakat Pengadaan alatalat sosialisasi

Memberikan pengetahuan kepada kader tentang PHBS dan bagaimana peran kader dalam mencapai target PHBS Tokoh masyarakat dapat berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi PHBS Menyebarluaskan informasi PHBS di

Kader Posyandu

5x/thn

Rp.200.000/x

-Buku Panduan Umum PHBS

2 org

100% Kader Posyandu menerima pelatihan

Puskesmas

Ketua RT / RW / Pemuka Agama Masyarakat Ilir Timur 1

2x/thn

Rp.1.000.000/x

-Buku Saku PHBS -Brosur Poster

2 org

100% Tokoh masyarakat menerima buku saku PHBS Setiap Kantor Lurah mendapat

Puskesmas

1x/thn

Rp.1.500.000

3 org

Puskesmas

30

(leaflet, poster)

masyarakat

4.7. Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)


No 1 Upaya Kesehatan Promosi Kesehatan Kegiatan Penyuluhan tentang PHBS Pembagian brosur / selebaran informasi ttg PHBS kerumah tangga yang belum berPHBS Pelatihan kader Sasaran Masyarakat Ilir Timur 1 Rumah Tangga yang belum ber-PHBS Target 75 % 100%

Tabel. 4.5. Rencana Pelaksanaan Kegiatan


Volume Kegiatan 2x/thn 6x/thn Rincian Pelaksanaan -Presentasi Indikator PHBS -Pembagian brosur PHBS -Kunjungan ke rumahrumah yang belum berPHBS -Pembagian brosur PHBS Lokasi Pelaksanaan Puskesmas Rumah Tangga yang belum berPHBS Tenaga Pelaksana 4 org 2 org

Poster PHBS

Jadwal Januari, Juli Januari, Maret, Mei, Juli, Sept, November

Biaya

Kader Posyandu

100%

5x/thn

Memberikan brosur / buku saku kepada tokoh masyarakat Pengadaan alat-alat sosialisasi (leaflet, poster)

Ketua RT / RW / Pemuka Agama Kantor Lurah dan Camat

100%

2x/thn

-Presentasi peran kader dalam dalam meningkatkan PHBS -Pemberian buku Pedoman umum PHBS -Advokasi -Pemberian buku saku PHBS -Advokasi -Pemberian poster PHBS -Penempelan poster di kantor lurah dan camat

Puskesmas

2 org

Januari, Maret, Juli, September, November Januari, Juli

Masyarakat

2 org

100%

1x/thn

Kantor Lurah / Camat

3 org

Januari

31

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan

1. 2.

Masalah-masalah yang ditemukan program di puskesmas sebanyak 11 masalah.

dalam pencapaian

Prioritas masalah yang akan diselesaikan adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Dempo sebesar 37,5 %

3.

Penyebab tidak tercapainya target program PHBS dalam Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Puskesmas Dempo adalah kebiasaan masyarakat yang sulit dirubah, pengetahuan masyarakat yang kurang, pelatihan kader yang kurang, kerjasama dengan tokoh masyarakat/ ketua RT/RW kurang dan media sosialisasi yang kurang.

4.

Penyelesaian masalah untuk pencapaian target program PHBS adalah meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya ber-PHBS, memasang poster tentang PHBS di lingkungan masyarakat, pembagian brosur/ seleberan yang berisi informasi tentang PHBS ke rumah tanggga yang belum menerapkan PHBS serta mengadakan lomba kelurahan ber-PHBS terbaik

5.2. Saran Perlu dilakukan kerjasama dengan banyak tokoh masyarakat, ketua RT/RW dan lurah serta kader dalam upaya meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat di wilayah kerja Puskesmas Dempo

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI, Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan, Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI Tahun 2011 2. Departemen Kesehatan RI, Buku Pedoman Pembinaan Program Perilaku HidupBersih dan Sehat di Tatanan Rumah Tangga, Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Tahun 2011 3. Departemen Kesehatan RI, Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota, Jakarta 2008 4. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan Daerah, Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI Tahun 2011 5. Departemen Kesehatan RI. 2011. Pedoman Umum PHBS, Pusat Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. http://www.promkes.depkes.go.id/index.php/mediaroom/pedoman-dan-buku (Diakses 21 Desember 2012 6. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 2010. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. http://www.depkes.go.id/downloads/profil_kesehatan_prov kab/profil_kes_sumsel 2010.pdf (Diakses 22 Desember 2012). 7. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 2011. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. http://www.depkes.go.id/downloads/profil_kesehatan_prov kab/profil_kes_sumsel 2011.pdf (Diakses 22 Desember 2012). 8. Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Palembang. 2008. Renstra Dinas Kesehatan Kota Palembang Tahun 2008-2013. http://dinkes.palembang.go.id/tampung/dokumen/dokumen-28-20.pdf (Diakses 23 Desember 2012) 9. Profil Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011 10. Kinerja Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011

33