Anda di halaman 1dari 12

Pengaruh Gel Daun Cincau Hijau (Cyclea barbata) Penelitian Eksperimental Terhadap Kadar Trigliserid pada Tikus Putih

h (Galur Sprague Dawley) Diabetik Induksi Alloxan The Effect of Gel Green Cincau Leaves (Cyclea barbata) Experimental Research toward triglyceride level in Diabetic Mice (Strain Sprague Dawley) Induced with Alloxan Febriana Putri Naraheswari1, Zulkhah Noor2
1,2,3

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


4

Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRAK Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat defisiensi atau insulin tidak sensitif sehingga menyebabkan kondisi hiperglikemia. Defisiensi atau tidak sensitivnya insulin dalam tubuh menyebabkan penyimpanan asam lemak dalam hati menuju jaringan adiposa terhambat dan berakibat pada peningkatan pemecahan lemak sebagai sumber energi. Keadaan tersebut menyebabkan enzim Lipase sensitive hormone aktif menghidrolisis trigliserida yang disimpan sehingga pelepasan asam lemak dan gliserol sangat banyak pada sirkulasi darah dan menyebabkan salah satu kondisi yaitu, ketoasidosis. Penderita DM harus minum obat terus- menerus, sehingga dicari terapi dengan efek samping minimal, salah satu obat herbal yang diduga dapat menurunkan kadar trigliserida yaitu ;gel daun cincau hijau Cyclea barbata sebagai terapi herbal. Menurut testimoni klorofil pada C. barbata mengandung pektin(serat), saporin, flavonoid, alkaloid dan magnesium berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki sel rusak, menghasilkan energi dan oksigen untuk membantu metabolisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh C. barbata terhadap kadar trigliserida pada tikus DM yang diinduksi aloksan. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium pre-test and post-test control group design. Subyek penelitian 15 ekor tikus Sprague Dawley berusia 2-3 bulan dengan berat badan 200gr-450gr dibagi menjadi tikus normal, tikus DM, tikus DM+cincau. Kadar trigliserida ini diukur dengan metode GPO-PAP di PAU. Data diananlisis dengan uji T-Test, T-Test Berpasangan dan Anova. Tikus DM dibuat diabetes dengan diinduksi aloksan sebanyak 70 mg/ 200 kgbb. Hasil penelitian menunjukkan hasil pengukuran kadar trigliserida pada tikus DM+cincau dari 137,26,8 menjadi 101,85,6 (p=0,0001) untuk kadar trigliserid,

menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik setelah 28 hari pemberian gel daun cincau. Kesimpulan, gel daun cincau hijau ( Cyclea barbata) dapat menurunkan kadar trigliserida darah. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Cincau Hijau, Trigliserida, ketoacidosis

ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) is chronic disease that happen because deficiency or not sensitive insulin, it will make hyperglycemia condition. Deficiency or insulin not sensitive make storage fatty acid in the liver to adipose tissue is inhibit and can cause increase demolition fatty as a energy. This condition contribute to enzyme Lipase Sensitive Hormone more active to hydrolysis storage triglyceride so fatty acid and glycerol will be loose to the blood circulation and it will be ketoacidosis condition in the body. Uncontrolled blood glucose level causes a lot of complication. Diabetes Mellitus patient have to consume drugs long life time, so that find to find therapy with minimal adverse effect one of herb suspect can decrease level of trigliserida; gel green cincau leaves (Cyclea barbata). Depend on testimony Chlorophyll of green cincau leaves consist of pektin(fiber), saporin, flavanoid, alkaloid and magnesium which has function to increase sensitivity of insulin, repair the damage cell, generate energy and oxygen to help carbohydrate metabolism. The aim of this study is to know the effect of gel green cincau leaves toward level of triglyceride in diabetic mice induced with alloxan. This is laboratory experimental pre-test and post-test control group design. Subject experiment are 15 Sprague Dawley mice, age 2-3 month, body weight 200gr450gr and divide into ; normal mice, DM aloksan mice, and aloksan +cincau mice. Triglyceride examine with GPO-PAP (triglyceride). The data was analyzed with t independent test, paired t test and ANOVA. The results showed that DM+cincau before is 137,26,8 and after is101,85,6 (p=0,0001) for triglyceride level, where p>0,05 showed significant differences statically after 28 days treat with gel green cincau leaves. Conclusion, there was significant differences that is decreasing of triglyceride level, after treat with gel green cincau leaves. Key word: Diabetes Mellitus, Green Cincau, Triglyceride, ketoacidosis.

PENDAHULUAN Diabetes merupakan penyakit kronik yang terjadi ketika pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak bisa menggunakan secara efektif insulin yang diproduksi 1. Diabetes mellitus adalah kelainan metabolic yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi, glikosuria, dan setelah sakit beberapa tahun, timbul berbagai penyulit klinis (aterosklerotik, penyakit vascular mikroangiopati, neuropath, dsb). Diabetes mellitus disebabkan oleh defek pada sekresi insulin, pada kerja insulin , atau kombinasi keduanya 2. Penyakit diabetes mellitus mengalami kelainan metabolic yang kompleks dikarenakan defisiensi insulin yang luas dan serius. Gambaran utama pada defisiensi insulin adalah menurunnya ambilan glukosa ke jaringan dan terjadi pula hiperglikemia yang menyebabkan glikosuria dan dieresis osmotic yang menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi menimbulkan polidipsia. Defisiensi glukosa intrasel menyebabkan nafsu makan meningkat, glukosa dibentuk dari protein (glukoneogenesis), dan pasokan energy dipertahankan dengan metabolism protein dan lemak. Khususnya pada katabolisme lemak yang meningkat dapat menyebabkan tubuh dibanjiri oleh trigliserida 3. Dislipidemia dapat menimbulkan suatu keadaan stress oksidatif yang akan memudahkan terjadinya oksidasi glukosa dan substrat-substrat lain seperti protein, asam amino, lipid. Keadaan ini akan dijumpai fenomena yang dikenal sebagai lipid trial : peningkatan kadar VLDL/trigliserida, penurunkan kadar HDL yang bersifat antiaterogenik, serta peningkatan pembentukan small dense LDL yang bersifat aterogenik 4. Reaksi insulin pada hati mengatur tingkat produksi trigliserida dari asam lemak bebas dan akan berdampak pada meningkatnya tingkat profil lemak . Peningkatan glukagon juga meningkatkan mobilisasi asam lemak. Dalam hati dan jaringan lain, asam lemak dikatabolisme menjadi asetil ko-A. Sebagian asetil ko -A dibakar bersama dengan residu asam amino menjadi CO2 dan H2O dalam siklus asam sitrat tetapi suplainya melebihi kapasitas katabolisme asetil ko -A jaringan. Di hati penderita diabetes melitus terjadi peningkatan glukoneogenesis dan banyaknya glukosa dalam sirkulasi, selain itu juga terdapat kegagalan pengubahan asetil ko-A menjadi malonil ko-A yang kemudian menjadi asam lemak 3.

Insulin berperan meningkatkan pemakaian glukosa sebagai energi bagi jaringan tubuh dan secara otomatis mengurangi pemakaian sumber lain yaitu lemak. Oleh karena itu, bila insulin tidak ada atau tubuh kekurangan insulin maka penyimpanan asam lemak dalam hati menuju jaringan adiposa terhambat dan berakibat pada peningkatan pemecahan lemak sebagai sumber energi. Bila insulin tidak ada atau sangat sedikit maka enzim LSH (lipase sensitive hormone) menjadi sangat aktif untuk menghidrolisis trigliserida yang disimpan sehingga terjadi pelepasan asam lemak dan gliserol pada sirkulasi darah dalam jumlah sangat banyak sehingga menyebabkan kondisi ketoasidosis dalam tubuh 6.
Diabetes melitus sendiri didefinisikan sebagai suatu penyakit dan gangguan metabolisme kronis dengan multi etilogi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau difisiensi produk insulin oleh sel-sel Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang reponsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin 7.

Komplikasi diantaranya adalah aterosklerosis, jantung, stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal, dan kerusakan sistem syaraf 6. Untuk mencegah komplikasi dan dampak buruk dari DM, maka kadar gula darah pelu dikontrol dengan berbagai macam terapi. Terapi DM pada umumnya hanya menggunakan obat-obatan antihiperglikemia seperti insulin dan antidiabetika oral, sedangkan terapi semacam ini cenderung menyebabkan banyak efek samping terutama kerusakan pada ginjal dan hepar. Penyakit ini bersifat degeneratif dan tidak dapat disembuhkan, sehingga terapinya dilakukan seumur hidup, hal ini dapat memperbesar terjadinya komplikasi 8. Penderita DM pada prinsipnya harus minum obat yang telah diberikan sepanjang sisa hidup, oleh karena itu dicari terapi yang memiliki efek samping minimal serta efektif dalam pengendalian DM, salah satunya yaitu gel daun cincau hijau sebagai terapi herbal. Daun cincau hijau (Cyclea barbata) mengandung pektin yang dapat memperbaiki metabolisme karbohidrat dan menurunkan kadar kolesterol total serta mempunyai pengaruh baik terhadap glukosa darah dan sensitivitas insulin 9. Daun cincau hijau (Cyclea barbata) juga mengandung klorofil. Pusat logam klorofil adalah magnesium (Mg) yang dapat mengikat dan menambah kandungan oksigen dalam darah

sehingga klorofil memiliki kemampuan rejuvenasi (peremajaan), terutama pada sel beta pankreas. Magnesium juga dapat membantu metabolisme karbohidrat dan meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga dapat mengontrol kadar glukosa darah. Kadar glukosa darah yang terkontrol, akan mengurangi resiko berbagai komplikasi DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daun cincau hijau terhadap kadar trigliserid pada tikus DM. BAHAN DAN CARA Bahan dan alat yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sonde untuk pemberian cincau, makanan dan minuman tikus, daun cincau hijau, alat penyaring, air, eppendorf, EDTA, dan microhematocrit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan hewan coba pre-test and post-test control group design. Penelitian dan pengukuran kadar trigliserida pada sampel darah dilakukan di laboratorium gizi dan pangan Pusat Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian ini dilaksankan selama 5 minggu. Sampel penelitian ini adalah tikus putih (Rattus Norvegicus) galur Sprague Dawley sebanyak 15 ekor dengan usia 2-3 bulan dan berat badan 200gr-450gr yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kelompok DM aloksan, dan kelompok cincau+aloksan. Tikus yang digunakan dalam penelitian ini sehat dan belum pernah mendapat perlakuan, berusia 2-3 bulan, dan berat badan 200-400gram. Tikus diadaptasi selama 1 minggu. Pada awal penelitian, berat badan tikus pada masing-masing kelompok diukur terlebih dahulu untuk memantau perkembangan berat badan tikus setiap minggu, serta menentukan dosis aloksan dan dosis gel daun cincau hijau yang akan diberikan. Tikus diukur kadar trigliserid darah melalui vena orbita, sebelum diinduksi aloksan untuk mengetahui standar kadar normal, sebelum diinduksi aloksan. Dosis aloksan yang diberikan sebanyak 80mg/kgBB atau 1ml/200grBB tikus secara intravena. . Tikus dibiarkan selama 48 jam setelah induksi aloksan, kemudian diukur kembali kadar glukosa darah dan kadar trigliserida darah pada masing-masing subjek untuk mengetahui kadar glukosa dan trigliserida post aloksan. Pemberian gel daun cincau hijau dilakukan selama 28 hari sebelum pengambilan darah post terapi dan dosis cincau yang diberikan yaitu sebanyak 2,7ml/200grBB tikus secara per oral. Evaluasi post-terapi dilakukan setelah pemberian

gel daun cincau selama 1 bulan (4 minggu). Subyek ini diukur dengan metode GPOPAP (trigliserid). Data diananlisis dengan uji T-Test, T-Test Berpasangan dan Anova . HASIL Tikus diukur kadar glukosa darah dan trigliserida darah melalui vena orbita, sebelum diinduksi aloksan untuk mengetahui standar glukosa darah dan trigliserida darah normal. Aloksan diberikan agar tikus mengalami kondisi diabetes. Pengukuran berat badan tikus bertujuan sebagai acuan penentuan dosis aloksan yang diberikan, yaitu sebanyak 80mg/kgBB atau 1ml/200grBB tikus secara intravena. Data pengukuran berat badan tikus sebelum diinduksi alloksan dan sesudah diinduksi aloksan Tabel 1. Data Berat Badan Tikus Sebelum dan Sesudah Diinduksi Aloksan.
kelompok n Tikus Normal Tikus DM 5 1 0 Pretest Berat Badan (mg) minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu 5 311.04 312.44 322.44 331.04 341.24 350,24
7,4 280.28 7,0 6.4 274,98 7.3 4.6 275,78 2,5 3,3 276,27 7,7 3.0 279.27 0.7

0,8 274,85 7,9

Tabel 1. Menunjukkan berat badan tikus normal mengalami peningkatan setiap minggunya sedikit demi sedikit. Berat badan tikus diabetes pada awal minggu sempat mengalami penurunan. Berat badan tikus pada minggu kedua dan seterusnya mengalami kenaikan sedikit demi sedikit, walaupun pada akhir minggu sempat mengalami sedikit penurunan. Tikus dibiarkan selama 48 jam setelah induksi aloksan, kemudian diukur kembali kadar glukosa darah dan kadar trigliserida kedua pada masing-masing subjek untuk mengetahui kadar glukosa dan kadar trigliserida post aloksan. Pengukuran kadar glukosa tikus bertujuan untuk mengetahui nilai normal kadar glukosa tikus sebelum diinduksi dengan aloksan, dan untuk mengetahui peningkatan kadar glukosa post aloksan sebagai indicator bahwa tikus telah mengalami diabetes mellitus. Data pengukuran rerata kadar glukosa darah antara kelompok kontrol normal dan kelompok DM aloksan ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Pengukuran Kadar Glukosa Kelompok Normal dengan Kelompok Tikus DM

Kelompok N Tikus Normal Tikus DM 5 10

Rerata Kadar Glukosa Darah (mg/dl) Sebelum Diinduksi Sesudah Diinduksi Alloksan Alloksan 72,5 2,6 73,4 2,0 72,7 2,4 223,9 7,4

( nilai p) uji t berpasangan 0,836 0,0001

Tabel 2 menunjukan kadar glukosa darah pada kelompok kontrol normal sebelum diinduksi aloksan yaitu 72,4(2,6) mg/dl, kemudian menjadi 72,7(2,4) mg/dl setelah diinduksi aloksan, dengan uji t test didapatkan hasil 0,705. Hasil uji beda t test adalah 0,705, dimana p>0,05 menunjukkan bahwa kadar glukosa darah pada pengambilan darah pretest, post aloksan dan post cincau pada kelompok kontrol normal tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik. Kadar glukosa darah pada kelompok DM aloksan sebelum diinduksi aloksan adalah 73,4(2,0) mg/dl, kemudian menjadi 223,9(7,4) mg/dl setelah diinduksi aloksan, dengan uji t test didapatkan hasil 0,0001. Hasil uji t test yaitu 0,0001 dimana p<0,005 menunjukkan kadar glukosa darah sebelum diinduksi aloksan dan setelah diinduksi aloksan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik. Peningkatan kadar glukosa secara signifikan, menandakan bahwa tikus mengalami diabetes mellitus. Tikus yang telah mengalami diabetes mellitus, selanjutnya akan diberi perlakuan gel daun cincau hijau sebagai terapi herbal. Pemberian gel daun cincau hijau dilakukan selama 28 hari sebelum pengambilan darah post terapi dan dosis cincau yang diberikan yaitu sebanyak 2,7ml/200grBB tikus secara peroral. Data Pengukuran Kadar Trigliserida Darah Sebelum dan Sesudah Diinduksi Aloksan ditunjukkan oleh table 3. Tabel 3. Data Pengukuran Kadar Trigliserida Sebelum dan Sesudah Diinduksi Aloksan
Rerata Kadar Trigliserida Darah (mg/dl) Kelompok N Sebelum Diinduksi Alloksan Sesudah Diinduksi Alloksan ( nilai p) uji t berpasangan

Tikus Normal Tikus DM

5 10

72,3 4,8 73,8 6,6

72,3 5,6 135,2 6,8

0.836 0,0001

Tabel 3. Menunjukkan bahwa tikus normal tidak mengalami perubahan kadar trigliserida yang bermakna. Tikus DM menunjukkan perubahan kadar trigliserida yang bermakna. Nilai uji beda dengan uji t berpasangan menunjukkan nilai p 0,0001 (p<0,05) maka dapat ditarik kesimpualn bahwa terdapat perubahan kadar trigliserida yang bermakna atau dengan kata lain aloksan dapat meningkatkan kadar trigliserida darah secara bermakna. Trigliserida pada tikus normal sebelum dan sesudah diinduksi dengan aloksan tidak mengalami peningkatan, menandakan bahwa tikus dalam keadaan sehat, baik dan siap dijadikan sebagai control. Tikus diabetes pada sebelum dan sesudah diinduksi aloksan mengalami peningkatan yang sangat tajam. Peningkatan tersebut terjadi karena terganggunya produksi insulin. Data Pengukuran kadar trigliserida darah post alloksan dan kadar trigliserida darah post cincau akan ditunjukkan oleh tabel 4. Tabel 4. Data Pengukuran Kadar Trigliserida Post Aloksan dan Post Cincau Rerata Kadar Trigliserida Kelompok Kontrol Normal DM aloksan Aloksan+cincau Anova n 5 5 5 1 5 Darah (mg/dl) Post Aloksan Post Cincau 72,4 6,0 72,3 5,6 133,3 4,4 137,2 6,8 141,3 7,0 101,8 5,6 Selisih 1,36 (2,8) 7,9 (9,0) (-) 35,3 (2,6) 0,010 Uji beda 0,001 0,017 0,0001

Tabel 4 menunjukkan kadar trigliserida post aloksan atau setelah diinduksi dengan aloksan dan post cincau atau setelah diberi cincau. Tikus normal post aloksan dan post cincau tidak mengalami peningkatan tetapi mengalami sedikit penurunan. Kadar rerata trigliserida post aloksan pada tikus normal adalah 72,4mg/dl 6,0 menjadi 72,3 mg/dl 5,6 pada post cincau. Tikus DM post aloksan dan post cincau mengalami peningkatan dari yang semula 133,3 mg/dl 4,4 menjadi 137,2 mg/dl 6,8. Tikus Dm

+ cincau mengalami penurunan yang drastis dari yang semula 141,3 mg/dl 7,0 menjadi 101,8 mg/dl 5,6. Nilai uji beda dengan uji t berpasanagan menunjukkan angka 0,0001 (p<0,05) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan rerata kadar trigliserida yang bermakna antara kadar trigliserida post aloksan dan post cincau. Uji Anova untuk menguji post cincau, hasil nilai p 0,010 (p<0,05) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan rerataan kadar triglierida darah yang bermakna di antara kelompok tikus normal, DM aloksan, dan tikus DM+cincau pada post cincau atau dengan kata lain cincau hijau setelah 28 hari pemberian dapat menurunkan kadar trigliserida darah secara bermakna secara statistic karena C. barbata mengandung pektin(serat), saporin, flavonoid, alkaloid dan magnesium berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki sel rusak, menghasilkan energi dan oksigen untuk membantu metabolisme. Trigliserida pada tikus normal sebelum dan sesudah diinduksi dengan aloksan tidak mengalami peningkatan, menandakan bahwa tikus dalam keadaan sehat, baik dan siap dijadikan sebagai kontrol. Tikus diabetes pada sebelum dan sesudah diinduksi aloksan mengalami peningkatan yang sangat tajam. Peningkatan tersebut terjadi karena terganggunya produksi insulin. DISKUSI Prinsip tikus DM yang diinduksi dengan aloksan akan mengalami 3 fase awal setelah diinduksi dengan aloksan. Fase 1 terjadi 1-4 jam pertama pasca induksi aloksan, tikus akan mengalami hiperglikemia. Fase 2 terjadi 6-12 jam tikus akan mengalami hipoglikemia, bahkan kadar glukosa tikus bisa mencapai nol atau mati. Fase 3 adalah hiperglikemia permanen pada 12-24 jam setelah diinduksi 10. Tahap pertama penggunaan trigliserida untuk energy adalah hidrolisis dari trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak dan gliserol di transport ke jaringan aktif dimana keduanya dapat dioksidasi untuk menghasilkan energy. Hamper semua sel kecuali beberapa tingkat jaringan otak, dapat memakai asam lemak hamper sama baiknya dengan glukosa untuk energi.

Hipertriasilgliserol adalah suatu kondisi dimana kondisi seseorang dengan kadar triasilgliserol dalam darah yang cukup tinggi. Kondisi seperti ini sering ditemui pada kondisi DM (Diabetes Mellitus). Banyak penderita diabetes mellitus mempunyai kecenderungan penurunan berat badan. Hal ini diakibatkan oleh ketidak normalan pengaturan energi dalam tubuh terutama dalam proses metabolik lemak yang merupakan cadangan energi bagi tubuh. Triasilgliserol merupakan suatu bentuk pengangkutan penyimpanan lemak dalam tubuh sehingga lemak bisa melalui plasma darah. Melalui hidrolisis trigliserida pada akhirnya akan terbentuk energy. Adanya penyakit diabetes mellitus maka kadar trigliserida akan naik yang lazim dengan nama hipertriasil gliserolemia 9. Insulin juga mempunyai pengaruh pada kadar trigliserida. Insulin adalah suatu hormone yang disekresikan dari pulau langerhans kelenjar pancreas. Insulin berpengaruh pada pemacuan masuknya glukosa ke dalam sel tubuh, dimana cara ini mengatur kecepatan metabolisme dari hampir semua karbohidrat. Insulin merupakan inhibitor kuat proses lipolisis di hati serta jaringan adipose. Insulin memiliki efek anabolic tak langsung. Hal ini disebabakn oleh kemampuan insulin untuk menurunkan kadar cAMP dan juga menghambat aktivitas enzim lipase yang peka terhadap kerja hormone. Inhibisi ini agaknya disebabkan oleh aktifitas fosfatase yang melakukan reaksi defosforilasi sehingga menginaktifkan enzim lipase yang bergantung kepada cAMP, karena itu insulin menurunkan kadar asam lemak bebas yang beredar. Hal ini menghasilkan kerja insulin terhadap metabolism karbohidrat. Asam lemak dalam hal ini menghambat glikolisis pada beberapa tahap dan menstimulasi glukoneogenesis. Insulin juga berpengaruh pada pembentukan atau pembersihan VLDL serta LDL, mengingat kadar partikel ini dan sebagai konsekuensinya juga kadar kolesterol, sering mengalami kenaikan pada penderita diabetes 5. Terbukti bahwa gel daun cincau hijau dapat menurunkan kadar trigliserida. Zat cincau Daun cincau hijau juga memiliki kandungan klorofil yang banyak. Klorofil mempunyai banyak manfaat bagi tubuh kita. Dengan struktur klorofil yang mirip hemoglobin menyebabkan klorofil mampu mengikat dan menambah kandungan oksigen dalam darah sehingga klorofil memiliki kemampuan rejuvenasi (peremajaan)
11

Kandungan utama daun cincau hijau (Cyclea barbata) adalah pektin. Pektin merupakan

sumber serat pangan yang baik karena larut air dan mudah difermentasi oleh mikroflora usus besar
12

. Serat makanan juga dapat memperbaiki metabolisme karbohidrat dan

menurunkan kadar kolesterol total serta mempunyai pengaruh baik terhadap glukosa darah dan sensitivitas insulin 7. Kandungan klorofil pada daun cincau hijau (Cyclea barbata) memiliki keterkaitan terhadap diabetes mellitus. Gel daun cincau hijau mengandung kadar klorofil yang tinggi, dimana klorofil mengandung magnesium yang berfungsi sebagai detoksifikasi kelenjar hormon, sehingga dapat menjaga keseimbangan hormon. Magnesium pada klorofil daun cincau hijau dapat mengoptimalkan metabolisme karbohidrat, meningkatkan fungsi sel beta pankreas, sehingga dapat meningkatkan kadar dan sensitivitas insulin agar kadar glukosa darah dapat terkontrol (Nadler, 2000)15. KESIMPULAN Hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar trigliserida darah pada tikus diabetes berbeda dengan kadar trigliserida darah pada tikus diabetes yang diberi daun cincau hijau. Setiap pagi tikus diabetes yang diberi daun cincau hijau menunjukkan angka yang turun menuju kearah normal. Penurunan angka trigliserida darah menurut data statistic menunjukkan angka yang signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah daun cincau hijau dapat menurunkan kadar trigliserida darah pada tikus DM induksi alloksan. Daun cincau hijau dapat digunakan untuk menurunkan kadar trigliserida darah pada penderita diabetes mellitus. SARAN Perlu penelitian yang lebih lanjut tentang efek gel daun cincau hijau ( Cyclea barbata) terhadap kadar trigliserida darah dengan jangka waktu yang lebih lama. Perlu penelitian tentang efek gel daun cincau hijau (Cyclea barbata) terhadap kadar trigliserida darah dengan menggunakan manusia sebagai objek. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang Cyclea barbata yang diekstrak terhadap kadar trigliserida darah DAFTAR PUSTAKA World Health Organization (WHO). 2009. Diabetes, Diabetes Facts.

Sacher, Ronald A. McPhearson, Richard A. (2004). Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium Edisi 11. Jakarta : EGC Ganong. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. (Ed. 9). EGC. Jakarta. Shahap, Waspadji, Sarwono. 2006. Sindrom Metabolik Dalam Aru W. S dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. FKUI. Jakarta Guyton, A dan Hall, E. J. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. (Ed. 9). EGC. Jakarta World Health Organization (WHO). (1999). Deffinition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediet Hiperglycaemia. Sylvia A. Price, Lorraine M. W, 1006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC. Anwar, F dan Khomsan, A. (2009). Makan Tepat, Badan Sehat. Hikmah. Jakarta. Murray, R. K, 2003. Biokimia Harper. (Ed. 25). EGC. Jakarta Cooperstein, S.J. dan Watkins, D. 1981. Action Of Toxic Drugs On Islet Cell : In S.J Cooperstein Dudley Watkins (ed) The Islet of Langerhans Biochemistry, Physiology and Pathology. Academic Press. New York Limantara, L.,(2009). Daya Penyembuhan Klorofil. Ma Chung Press. Malang. Gallaher.D.,(2000). Dietary Fiber and Its Physiological Effect In Essential of Functional Food. Schmidl, M.K, T.P. (Eds). An Aspen Publication. Maryland. Nadler, J. L. 2000. Diabetes and Magnesium: The Emerging Role of Oral Magnesium Supplementation