Anda di halaman 1dari 13

1. Konferensi Madrid 1991 Situasi pertikaian antara Palestina Israel belum mempunyai suatu penyelesaian.

Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina bukan menjadi rahasia umum lagi merupakan onflik yang sangat pelik dan berkepanjangan. Perebutan wilayah menjadi masalah utama pemicu konflik. Ketika dunia internasional melalui PBB masuk untuk menjadi penengah dari masalah ini dengan mengeluarkan resolusi nomor 181 tentang pembagian kekuasaan tanah Palestina menjadi dua wilayah Negara maka konflik ini pun semakin memanas. Israel yang masih menginginkan seluruh tanah Palestina mencoba segala cara baik dengan cara kekerasan pun untuk mendapatkannya. Di sisi lain, Palestina yang merasa bahwa tanah mereka telah di rampas ingin merebut kembali tanah yang mereka anggap adalah hak mereka. Perseteruan antara ke dua belah pihak Negara ini pun semakin kerap terjadi. Secara kronologis perundingan Madrid dimulai dengan pembukaan dengan pidato 10 kali berturut turut. Dalam konferensi ini delegasi Israel bersilat lidah mengenai maslah Tepi Barat dan dan Jalur Gaza yang mereka duduki. Begitupun sebaliknya dengan delegasi Mesir, Syiria, Libanon dan delegasi gabungan antara Yordania dan Palestina. Dari beberapa delegasi 2 rombongan menjadi penentu bagi kesuksesan konferensi. Delegasi Israel dengan garis kerasnya, serta jago jago berunding Palestina. Dalam perundingan ini bangsa Arab merasa pesimistis yang didasari pada ketidak mungkinan Israel menyerahkan daerah yang mereka duduki. Perundingan ini sudah menaruh kecurigaan bagi kalangan bangsa Arab, yaitu dengan adanya penafsiran miring kedua resolusi badan dunia dengan miring demi kepentingan pihaknya. Israel diperkirakan akan ngotot dengan berpegang pada versi Perancis sedang pihak Arab berpegang pada versi Inggris. Kecurigaan lain Arab tentang tak mungkinya ada kompromi diperkuat dengan tampilnya Shamir sendiri sebagai delegasi. Konferensi Madrid ini merupakan tumpuan bagi Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan. Palestina menawarkan pada Israel pilihan untuk perdamaian dan keamanan untuk meninggalkan rasa takut dan curiga. Mereka berkeinginan agar Israel mendekatinya sebagai rekan yang sejajar serta untuk bekerja demi pembangunan keamanan wilayah bersama berdasarkan kerjasama saling menguntungkan.

Namun upaya ini terasa sia- sia karena adanya pernyataan dari Yitzak tentang otonomi Palestina yang tidak mungkin terjadi serta pembangunan pemukiman bagi Imigran Yahudi dari Uni Sovyet. Kelakuan Israel ini membuat kesal Palestina, karena bagi Palestina perdamaian tanpa pengembalian wilayah tidak mungkin terjadi. Sikap Israel membuat Palestina mengadakan konferensi konferensi Bilateral antar negara Arab. 2. Konferensi Washington Konferensi Washington membahas dua isu pokok pemberian otonomi pemerintahan sendiri yang terbatas dengan melibatkan Amerika Serikat dan Uni Sovyet sebagai sebagai sponsor. Serta Yordania Palestina, Lebanon, dan Suriah. Didalam konferensi terlihat jelas Israel kurang begitu serius mengikuti perundingan, yang dibuktikan dengan pendusiran dan pendeportasian pemuda Palestina menjelang perundingan. Dalam perundingan ini PBB memihak PLO dengan dikeluarkanya Resolusi melalui Dewan Keamanan yang menegaskan bahwa tindakan dari tentara Israel melanggar Konvensi Jenewa IV yang berisikan perlindungan atas warga sipil di daerah pendudukan. Ketua delegasi Palestina Hasnan Ashrawi mengatakan bahwa dengan peristiwa tersebut merupakan keuntungan bagi perjuangan rakyat Palestina sebab mendapat simpati dari dunia Internasional tetapi memojokan Israel. Pada kasus ini Amerika Serikat bahkan mengecam pendeportasian pemuda Palestina yang dituduh berada dalam organisasi kelompok islam Hamas, Front Rakyat Bagi Pembebasan Palestina, dan Front Demokratis Bagi Pembebasan Palestina. Setelah banyak terjadi polemic sebelum diadakanya konferensi akhirnya konferensi Washington berhasil dilaksanakan dengan membahas rencana pemberian otonomi kepada rakyat daerah pendudukan secara terbatas. Setelah mengalami perundingan sengit dan tidak tercapainya mufakat maka perundingan ini ditunda. Perundingan kembali dimulai pada tanggal 7 Januari 1992 tetapi Israel menolak menerapkan prinsip land for peace dan menunda kembali perundingan. Perundingan kembali dilakukan pada tanggal 24 Februari 4 Maret 1992, dengan focus utama tetap membahas otonomi bagi daerah pendudukan. Sikap Yitzak Shamir menekankan pada otonomi pemerintahan terbatas bagi penduduk jalur Gaza dan Tepi Barat dan menolak isu

territorial, sebab isu territorial pendudukan adalah sebagai bagian dari status final wilayah. Dalam perundingan ini terdapat kemajuan bagi perjuangan rakyat Palestina dengan adanya kecaman keras terhadap tindakan militer Israel melakukan deportasi atas pemuda Palestina dan kesedianya mengikuti keinginan PLO agar penasehat politik PLO diijinkan tiba di Washington sebagai anggota perundingan, padahal Israel telah menyatakan keberatan. Dalam Konferensi Washington delegasi Israel justru membatalkan usulan penarikan pasukan, tidak menyebut-nyebut otoritas terpilih dan menuntut Israel sebagai satu satunya yang berhak mengurus keamanan dalam segala aspeknya, pemerintahan politik, social dab semua segi kehidupan maka tampak sekali Israel mengeraskan sikapnya menolak menyerahkan daerah pendudukan. 3. Perjanjian Oslo I (13 September 1993) Paska di keluarkannya resolusi PBB nomor 181 yang mengatur tenatng pembagian wilayah kekuasaan tanah Palestina kepada dua Negara yaitu Israel dan Palestina dimana Israel mendapatkan 56% wilayah dan 44% untuk Palestina maka ketegangan dan konflik yang terjadi antara ke dua Negara terebut semakin memanas, apalagi ketika pada tanggal 14 Mei 1948 di resmikannya 3ctor3 Israel. Berbagai upaya di lakukan oleh ke dua belah pihak Negara untuk mendapatkan hasil yang diharaphan. Ketika tidak adanya titik temu antara ke dua Negara tersebut maka Amerika sebuah Negara adikuasa itu menjadi mediator untuk menangani konflik yang sedang berlangsung di tanah 1001 malam itu. Terdapat perundingan bilateral lain antara kedua Negara Israel dan Palestina saat terjadinya perundingan oslo ini sendiri. Ketika itu terjadi Konfrensi Madrid yang di selenggarakan di Washington DC antara Israel dengan Palestina yang di wakili oleh staf pemerintahan masing-masing Negara. Keberlangsungan perundingan Oslo tidak di ketahui oleh pihak lain kecuali 3ctor-aktor yang mengikuti perundingan Oslo ini sendiri. Indikasi dan kecurigaan memang di rasakan oleh para petinggi lainnya seperti pertanyaan yang di ajukan oleh utusan khusus AS Denniss Ross kepada Hanan Ashrawi mengenai pertemuan rahasia yang terjadi antara Israel dan Palestina, namun karena memang Hanan Ashrai tidak mengetahui tentang masalah itu beliau pun tidak memberikan jawaban apapun.

Ketika Hanan Ashrawi memberi laporan kepada Yaser Arafat tentang telah di umuskannya projek Gaza- Jerico di Tunis, dengan tatapan dan senyum yang berbeda Yaser Arafat memberitahukan berita baik kepada Hanan Ashrawi bahwa Israel akan mundur total dari Gaza dan Jerico dan kita Palestina akan menegakkan kedaulatan disana. Meskipun demikian YaserArafat tetap belum memberitahukan kepada Hanan Ashrawi bahwa sebenarnya sedang terjadi sebuah perundingan antara Israel dan Palestina di OsloNorwegia. Di bagian belahan bumi yang lain yaitu di Oslo-Norwegia sebetulnya sedang terjadi perundingan antara Israel dan Paestina pada tanggal 13 September 1993. Israel yang di wakili oleh Yitzhak Rabin bernegosiasi dengan Palestina yang di wakili oleh orang- orang dari Palestine Liberation Organization (PLO). Bentuk dari perundingan ini sejatinya merupakan perundingan yang di dalangi atas inisiatif Amerika Serikat. Hal ini pun di tandai dengan tempat penandatanganan hasil perjanjian Oslo yang bertempat di halaman gedung Putih Amerika Serikat di Washington Dcdan di saksikan pula oleh Presiden amerika yang menjabat saat itu Bill Clinton pada tanggal 13 September 1993. Dalam perjanjian Oslo yang pertama ini menghasilkan poin poin penting bagi kedua belah pihak Negara. Di katakana bahwa: 1. Israel akan menyetujui pembentukan pemrintahaan otonomi (otoritas Paestina); 2. Wilayah pemerintahan yang di berikan hanya Gaza dan Jericho, dan; 3. secara bertahap Israel akan menarik mundur tentaranya dari Tepi Barat, namun Israel pun meminta imbalan yang sepadan atas hal- hal yang akan di lakukan oleh Israel sebagaimana yang telah di sebutkan di atas, yaotu Palestina harus dan mau melakukan; 1. Mengakui kedaulatan Israel; 2. Menjaga keamanan orang- orang Israel dari serangan teroris. Atas kesepakatan tersebut Israel pun segera merealisasikannya dengan memberikan kuasa atas wilayah Gaza, Jericho, Tepi Barat dan Tel Aviv kepada Palestina. Sayangnya penduduk yang mendiami wilayah itu tetap tidak tunduk kepada pemerintah otoritas palestina namun kepada pemerintah Israel. Persiapan akan penyelenggaraan pemilu Palestina untuk yang pertama kalinya pun di siapkan oleh aparat pemerintahan. Di samping itu paska di tanda tanganinya perjanjian Oslo ini jalan Palestina untuk menjadi sebuah Negara pun sudah mulai tampak, hal ini di tandai dengan di kibarkannya bendera Palestina dan di nyanyikannya lagu kebangsaan Palestian. Bukan hanya itu saja namun

layaknya Presiden foto Yaser Arafat terpasang di dinding- dinding gedung instansi pemerintahan dan di sekolah-sekolah. Disini Negara Palestina memang belum berdiri, namun rumusan dan identitas dirinya sudah mulai Nampak kuat. A. Perjanjian Oslo II (28 September 1995) Perjanjian Oslo ke dua hadir sebagai satu ekstensionisasi dari perjanjian Oslo yang kedua. Seperti perjanjian Oslo I dalam perjanjian Oslo II ini pun Amerika Serikat memiliki andil besar dalam tahap penyelenggaraannya. Kesepakatan oslo sendiri tercetus di Taba di tandatangani di Washington DC pada tanggal 28 September 1995. Tidak seperti perjanjian Oslo I, pada perjanjian Oslo II ini prosesnya lebih mudah karena selain di langsungkan secara terbuka namun dari pihak Palestina dan Israel sendiri pun memberi dukungan hal itu dapat di lihat dari peran aktif media masa yang selalu menyoroti hal ini. Koran harian terkemuka yang terdpat di Palestina Al fajar dan dari Israel AL Quds pun menyatakan bahwa sering membritakan tentang persatuan dari kedua beah pihak Negara dan se minimal mungin menggunakan kata- kata yang bersifat profokatif seperti revolusi. Pada perjanjian Oslo II ini terdapat poin utama yang berhasil di capai yaitu tentang pembagian wilayah Tepi Barat kepada tiga zona; A, B dan C.pada zona A yang hanya 3 % dari wilayah Tepi Barat secara penuh di bawah kontrol otoritas Palestina, Area C seluas 70% wilayah Tepi Barat berada dibawah kontrol militer Israel kemudian sisanya, area B (yang berada di sebagian Gaza, di sebut Yellow Area), yaitu wilayah yang di kontrol bersama oleh Israel dan Palestina. Dalam deklarasi tersebut juga di tegaskan bahwasanya Palestina harus menyelenggarakan pemilu yang terbuka, jujur dan adil sebagai langkah awal dari pencapaian hak- hak rakyat Palestina. Paska di sepakatinya perjanjian Oslo II maka serangkaian realisasi pun di laksanakan. Betlehem kota yang selalu di perebutkan oleh kedua belah pihak Negara ini akhirnya pada tanggal 21 Desember 1995 di kembalikan kepada pemerintah otonom Palestina oleh pemerintah Israel. Kejadian yang bersejarah pula terjadi paska penandatanganan perjanjian Oslo II ini bagi Palestina yaitu dengan di selenggarakannya Pemilihan Umum yang pertama di Palestina. Pemilihan umum yang pertama ini terjadi pada tanggal 20 Januari 1996. Tujuan dari di selenggarakannya pemilu ini tidak lain

untuk menggangkt faraksi- fraksi yang mendukung persetujuan Oslo untuk menduduki parlemen. Hasilnya, sejumlah 88% dari kursi parlemen diduduki oleh anggota PLO yang menyetujuai atas hasil kesepakatan Oslo. B. Efisiensi Kerja Perjanjian Oslo Ketika melihat pada efisiensi kerja kesepakatan Oslo yang terjadi antara Israel dan Palestina maka yang akan menjadi sorotan utama adalah pemimpin yang mendalangi terjadinya kesepakatan ini.Yitzhak Rabin dan Yaser Arafat sangat memegang peran besar disini. Kesepakatan yang bisa di bilang hanya di ketahui oleh mereka berdua dan dengan tangan kanannya saja menimnulkan suatu dampah teriptanya Hukum yang harus di patuhi oleh seluruh warga Negara ke dua Negara tersebut. Kedua tokoh besar tersebut memiliki peran besar bagi upaya perdamaian kedua Negara ini pun tampak ketika mereka berdua mendapat penghargaan nobel atas upaya perdamaian dunia yang mereka tegakkan dan pelopori. Bagi Yitzhak Rabin keberhasilan ini harus di bayar dengan mahal yaitu dengan nyawanya. Yitzhak rabin di bunuh oleh orang yahudi dari garis keras yang merasa telah dikhianatai oleh beliau. Namun, berbalik dengan nasib yang di alami oleh yasir Arafat, beliau malah mendapat hasil yang menggembirakan bahkan hingga ketika beliau terpilih menjadi preseiden Palestina untuk yang pertama kalinya. C. Perjanjian Oslo Sebagai Kedok Israel Di dunia ini sejatinya hanya terdapat dua buah Negara yang mampu untuk melakukan kendali terhadap suatu Negara yaitu Amerika Serikat dan Israel. Di sini, kedua Negara tersebut bergabung untuk mendikte Palestina sebagai objeknya. Jika kita melihat pada kesepakatan pertama yang di sepakati pada perjanjian Oslo I maka Palestina yang di di wakili oleh PLO merupakan sarana Israel untuk melinduni diri dari serangan orang- orang Palestina yang mereka sebut dengan teroris. Janji Palestina yang di sebutkan akan menarik pasukan dari jalur Gaza hingga Jericho pun tidak segera di tepati. Pihak palestina sendiri pun sejatinya cukup kaget ketika mendengar kesepakatan ini. Hanan Anshari pun sempat bersi tegang engan Mahmood Abbas oleh karena kesepakatan Oslo I yang telah di tandatangani. Hanan Anshari memprotes kesepakatan tersebut karena pada kesepakatan tersebut tidak di jelaskan secara rinci tentang masalah Kota Jerusalem dan pemukiman Yahudi yang masihmenjadi milik Israel. Dalam

kesepakatan Oslo ini pun Nampak bahwa rakyat Israel belum sepenuhnya mau berdamai dengan Palestina, hal itu di buktikan dengan tregedi terbunuhnya Yitzhak Rabin. Pada perjanjian Oslo II semakin ambisi Israel akan wilayah kekuasaan yang dimiliki oleh Palestina. Pembagian wilayah Tepi Barat kepada tiga zona membawa Israel kepada otoritas yang semakin menjadi. Pada zona B yang merupakan wilayah dari kedua Negara tersebut bahkan masih di kuasai sepenuhnya oleh tentar Israel. Dalam pembagian kekuasaan wilayah pun warga Israel men]mbangun tembok- tembok besar yang memisahkan pemukiman oaring- orang Palestina dan Yahudi, walaupun pembagian itu melebihi batas aturan dan merugikan warga Palestina. Bisa juga di katakana bahwa dalam perjanjian Oslo II ini Israel semakin menghambat perjuangan Palestina, karena sejatinya perjuangan bangsa Palestina adalah untuk mengembalikan warganya ke tanah dan rumahnya masing- masing yang teahdi rampas oleh orang- orang Israel. Berbagai perundingan dan kesepakatan telah ditanda tangani, dari konferensi Madrid (1991), perjanjian Oslo I (1993), persetujuan Kairo (1994), perjanjian Oslo II (1995), persetujuan Hebron (1997), Memorendum Wye River (1998), Camp David II (2000), kesepakatan Sharm Seikh (2000), Tenet Plan (2001), keputusan PBB nomor 423 dan 322, dan tawaran KTT Liga Arab 2002. Peluncuran roadmap 14 Maret 2003 yang diprakarsai AS, Uni Eropa, Rusia dan PBB pun kandas. Semua kesepakatan, perjanjian dan eputusan PBB pada intinya menuntut kedua belah pihak menahan diri dari aksi kekerasan. Dan ebih khusus lagi meminta Israel untuk menarik diri dari wilayah Palestina yang idudukinya. Selain itu juga menuntut Israel menghentikan penyerangan warga sipil dan mengakui eksistensi Palestina. Namun semua kesepakatan dan resolusi itu tetap saja dilanggar oleh Israel. Pelanggaran itu disebabkan oleh beberapa persoalan prinsip kedua belah pihak berkaitan dengan kesepakatan perjanjian. Pertama, masalah Al-Quds. Keberadaan Al-Quds sebagai kota suci tiga agama besar yakni Islam, Kristen dan Yahudi, menjadikan masalah krusial dan vital dalam proses perdamaian Palestina-Israel. Bagi Palestina, Al-Quds adalah Ibukota Palestina merdeka masa depan, namun bagi Israel Quds tetap sebagai kota utuh, tidak terbagi-bagi dan dimasa depan menjadi ibukota Israel. Hingga kini, wilayah tersebut masih dikuasai militer Israel, meski belum jelas statusnya. AS memberikan dukungan cita-cita Israel tersebut dalam bentuk memindahkan kedubesnya ke Quds

(Jerusalem). Kedua,

masalah negara. Kesepakatan Oslo (1993) tidak jelas atau

menentukan hal yang menyangkut masalah negara Palestina. Sikap Israel adalah tidak melarang deklarasi resmi negara Palestina, sebab tidak bertentangan dengan upaya Israel. Namun diingatkan, deklarasi dari satu pihak saja akan berakibat serius bagi masa depan Palestina dan terancamnya perdamaian. Sebenarnya sikap Israel tersebut tidak menghendaki adanya negara Palestina merdeka dan independen. Ketiga, masalah penyerahan Tepi Barat. Kesepakatan Oslo menghendaki Israel harus melaksanakan tiga gelombang penarikan tentaranya dari Tepi Barat. Namun sikap keras dari para pemimpin Israel, hingga sekarang belum tercapai pelaksanaannya. Akibatnya, Palestina hingga kini hanya menguasai 40% dari Tepi Barat. Bahkan Israel terus membangun pemukiman di tepi Barat, sebagai pengingkaran kesepakatan. Keempat, masalah Pengungsi. Sejak berdirinya Israel 1948, hingga kini lebih dari 5 juta rakyat Palestina hidup sebagai pengungsi di berbagai negara. Kelima, masalah perbatasan. Kedua perbatasan telah diatur dalam perjanjian Oslo, yakni kawasan jajahan 1948, 78% adalah wilayah Palestina. Keenam, masalah air. Pada tahun 1996, Israel, Palestina dan Yordania menandatangani kesepakatan mengenai sumber-sumber air. D. Bukti Keberpihakan AS pada Israel Sebagai negara adidaya tunggal, mestinya AS bersikap adil dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Namun faktanya menunjukkan sebaliknya, dan sikap ini menjadi salah satu hambatan dalam penyelesaian konflik. Sikap wishy-washy AS dan keberpihakannya terhadap Israel tersebut justru melanggengkan konflik itu sendiri. Bagi AS, Isarel adalah satu-satunya sekutu strategis di kawasan Timur Tengah. Sikap tersebut karena para pengambil kebijakan AS didominasi kelompok Israel First dan menadopsi pandangan sayap kanan (Hawkish) serta kemampuan lobi politik Israel terutama melalui AIPAC. Keberhasilan lobi tersebut menurut Corbett disebabkan empat faktor yakni (1) orang Yahudi rata-rata memiliki pendapatan dan pendidikan yang sangat tinggi, serta menunjukkan kemampuan yang luar biasa; (2) orang Yahudi sangat aktif dalam perpolitikan AS di semua negara bagian; (3) konsentrasi orang Yahudi berada di New York; (4) Yahudi sangat aktif dan gigih mencari akses terhadap kongres dan Gedung Putih. (Utomo dan Sucipto, 2003:63).

Sementara itu, menurut Lipson dukungan dan keberpihakan AS terhadap Israel, didasarkan pada : pertama, kekuatan militer Israel yang dapat dikatakan terbesar di kawasan Timur Tengah dan kekuatan tersebut dapat diandalkan sebagai parter regional; kedua, penentangan yang kuat dari Israel terhadap negara-negara Arab radikal, yang dalam waktu panjang menjadi sekutu Soviet atau menggantikannya dan masih menjadi ancaman suplai minyak serta stabilitas politik sejumlah pemerintahan Arab sekutu AS. Ketiga, kesuksesan Israel sebagai negara demokrasi yang stabil, sehingga menarik AS untuk menjadikannya sebagai mitra di tengah wilayah yang selalu bergejolak. (Ibid.: 89). Kesamaan kepentingan politik, ekonomi dan adanya musuh bersama mendorong kedua negara dapat melakukan kerjasama untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Dan pengejaran kepentingan adalah sesuatu yang harus ditempatkan sebagai prioritas utama. (Soeprapto, 1997:28). Dalam setiap perundingan sangat terlihat jelas bahwa AS mendukung Israel, karena selain mewarisi semangat demokrasi liberal-sekuler, juga menjadi buffer state AS untuk menghadapi negara-negara Islam radikal. 1) Persetujuan 1917. 2) Keputusan senator dan kongres AS atas dukungan penuh berdirinya negara Israel di Palestina 11 September 1922. 3) Keputusan bersama untuk merubah Palestina menjadi negara Yahudi, dan jika mereka menolak maka harus diatasi dengan kekuatan militer pada 11 Mei 1942 4) Surat Presiden Roosevelt mendukung eksodus dan migrasi Yahudi ke Palestina dan mendirikan negara Yahudi di Palestina pada 16 Maret 1945 5) Surat Presiden Truman kepada PM Inggris Attlee menijinkan 100 ribu Yhudi segera dikirim ke Palestina pada 31 Agustus 1945 6) AS menekan secara intensif beberapa negara untuk mendukung voting pemecahan palestina menjadi 2 wilayah, Yahudi dan bangsa Arab pada 29 November 1947 dan dukungan AS terhadap Banyak bukti negara yang menunjukkan keberpihakan AS terhadap Israel, antara lain: (Safari, 2005) berdirinya komonolethYahudi Israel di Palestina pasca perjanjian Balfour 2 Februari

7) Presiden Trumen mengumumkan pengakuan berdirinya negara Israel dan langsung menekan membuka badan hubungan diplomatik untuk resmi sepuluh menit bantuan terbentuknya negara Israel 14 Mei 19488. Pada tanggal 12 Juni 1966 AS Keamanan PBB menghentikan kemanusiaan kepada pengungsi Palestina. 8) Pada tanggal 2 Agustus 1966 Presiden Johnson terus mendukung eksistensi Israel dan akan membantunya menjadi negara Super Power di timur Tengah. 9) Pada bulan Januari 1979 presiden AS tidak akan membuka peluang pembicaraan dengan PLO 10) Pada tanggal 12 Juni 1982 Menlu AS Alexander Heed menegaskan tidak akan menekan Israel keluar dari Libanon. 11) Pada tanggal 12 November 1983 Presiden Reagan menegaskan bahwa sikap Washington tetap konsisten menjaga keamanan Israel. 12) Pada 28 Oktober 1984 Presiden Reagan menegaskan bahwa Israel adalah negara koalisi strategis dan sahabat Amerika. 13) Pada tanggal 15 Mei 1985 Menlu AS menegaskan bahwa Washington akan menghalangi usaha sebagian kalangan untuk membentuk negara Palestina merdeka. 14) Pada tanggal tanggal 16 Februari 1988 Juru Bicara Gedung Putih menyatakan bahwa politik AS tetap pada persepsi lamanya tentang hakikat perdamaian di Timur Tengah yakni semua rakyat Palestina dan bangsa Arab dan muslim agar melepaskan tanah Palestina kepadaIsrael, dan kalu itu terpenuhi, maka berarti perdamaian di kawasan itu akan cepat terwujud. 15) Hingga tahun 2004, AS melakukan 79 kali veto terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang berkaitan dengan masalah-masalah sanksi terhadap Israel, mengutuk kekerasan Israel, dan resolusi yang dianggap merugikan Israel.

16) Pada bulan Juli 2006 Bush menyatakan kepada PM Inggris Tony Blair tentang sikapnya mendukung serangan Israel ke Libanon sebagai balasan atas penculikan tentara Israel.

Daftar Pustaka Rahman, Mustafa Abd. 2002. Jejak-Jejak Juang Palestina Dari Oslo hingga Intifadah Al aqsa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Sulaeman, Dina Y. 2008. Ahmadinejad on Palestine. Jakarta: Pustaka IIman. Jckson, Robert& Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yokyakarta: Pustaka Pelajar. Safari, et.al, Mengapa Mereka Mebunuh Syaik Ahmad Yasin. Bogor: Aufa Press, 2005 Sihbudi, Riza, Timur Tengah, Dunia Islam dan Hegemoni Amerika, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993 Suprapto, Hubungan Internasional: Sistem, Interaksi dan Perilaku. Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada, 1997 Utomo, Anif Punto dan Hery Sucipto, Irak Pasca Invasi: AS, Minyak dan Berakhirnya Pan Arab. Jakarta: Global Mahardika Netama, 2003.

ANALISIS KONFERENSI MADRID, WASHINGTON, DAN OSLO Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Asia Barat Daya II Dosen Pengampu : Isawati, S. Pd. M. Pd.

Disusun Oleh : Fitriyanto K4406023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010