Anda di halaman 1dari 3

Aplikasi Klinis 1. Peningkatan Fragilitas Eritrosit a. Leukemia Limfositik Kronik (CLL) I.

DEFINISI leukemia limfositik kronik adalah leukemia limfoid kronik yang paling sering dijumpai dan insidensi puncak terdapat pada usia 60-80 tahun. (Hoffbrand et al, 2005).

II.

ETIOLOGI Etiologinya belum diketahui. Beberapa temuan laboratorium pada kasus CLL ini adalah limfositosis, penentuan imunofenotipe limfosit menunjukan bahwa limfosit tersebut adalah sel B; anemia normokromatik normokrom terdapat padastadium lanjut karena infiltrasi sumsum tulang; trombositopenia;aspirasi sumsum tulang memperlihatkan adanya penggantian elemens umsum tulang oleh limfosit; kadar immunoglobulin serum yang menurun; kelainan-kelainan kromosom; dan gen VH sel B mengalami hipermutasi somatik di pusat-pusat germinal (Hoffbrand et al, 2005).

III.

HUBUNGANNYA DENGAN FRAGILITAS

Antara kadar glukosa dan pH, glukosa dengan fragilitas membran SDM dan pH dengan fragilitas membran SDM tampak adanya korelasi yang kuat. Hal ini menggambarkan bahwa selama penyimpanan glikolisis tetap berlangsung namun karena tidak ada glukosa tambahan dan suasana kantong yang asam menyebabkan glikolisis menurun juga. Akibat energi yang terbentuk menurun sehingga fragilitas membran SDM meningkat. (Price, 2006).

b. Anemia Hemolitik I. DEFINISI Anemia yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan destruksi eritrosit. (Hoffbrand et al, 2005).

II.

ETIOLOGI eritrosit intristik : defek membran, kelainan metabolisme eritrosit,

1.Defek

kelainansintesis hemoglobin herediter. 2.Perubahan lingkungan : transfusi darah tidak sesuai sistem ABO, obat (contoh :metildopa), infeksi (contoh : malaria), sekunder (contoh : penyakit hati dan ginjal). (Hoffbrand et al, 2005).

III.

HUBUNGANNYA DENGAN FRAGILITAS

Penurunan produksi sel darah merah yang normal dapat menyebabkan peningkatan fragilitas eritrosit. (Froom et al, 2005).

c. Sferosis I. DEFINISI

Sferositosis herediter (SH) merupakan salah satu jenis anemia hemolitik yang disebabkan defek molekular pada satu atau lebih protein sitoskleletal sel darah merah merahyang terdiri dari spektrin, ankirin, band 3 protein, dan protein . (Price, 2006).

II.

ETIOLOGI

Etiologi sferositosis pada Diagnosis SH cukup sulit untuk ditegakkan karena tidak ada tanda atau gejala patognomonik. Diagnosis sferositosis herediter ditegakkan berdasarkan adanya riwayat kuning saat neonatus, anemia, splenomegali, ditemukannya sferosit yang banyak pada pemeriksaan darah tepi, dan analisis protein membran eritrosit menunjukkan desiensi spektrin alfa.Pasien diberi asam folat dan transfusi darah. Splenektomi belum terindikasi karena anemia masih dapat dikompensasi oleh sumsum tulang. ( Sari,2009) III. HUBUNGANNYA DENGAN FRAGILITAS

Tes fragilitas osmotik mengalami lisis pada konsentrasi natrium yang lebih tinggi daripada eritrosit normal. . (Froom et al, 2005).

DAFTAR PUSTAKA Froom, Paul et al. 2005. Automatic Laboratory-Initiated Reflex Testing toIdentify Patients With Autoimmune Hemolytic Anemia. Medscape . Vol(1): 130. Hoffbrand, AV, Pettit JE, Moss PAH. 2002.Kapita selekta hematologi. Edisiempat. Jakarta: EGC. Hlm 15-17, 59, 177-179. Price, A Sylvia, dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-ProsesPenyakit. Vol 1. Edisi 6. Jakarta: EGC. 271 Sari, Teny Tjitra. Sferositosis Herediter. Pediatri 2009;11(4):298-304