Anda di halaman 1dari 7

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Metro Dinas Kesehatan Kota Metro terletak di jln.Jend A.Yani no 2 Kota Metro, dibawah administratif kecamatan Metro Pusat. Kecamatan Metro Pusat membawahi 5 kelurahan dengan tingkat kepadatan sebesar 3983,60 jiwa/km2, yang merupakan tingkat kepadatan tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lain. Dinas Kesehatan Kota Metro membawahi 11 puskesmas diantaranya Puskesmas Iringmulyo, Karangrejo, Yosomulyo, Bantul, Mulyojati, Ganjaragung, Metro, Banjarsari, Purwosari, Yosodadi dan Tejoagung. IV.2 Hasil Penelitian Data dari penelitian ini merupakan data primer dan sekunder yakni data rekam medik pasien TB paru yang terdaftar di Dinas Kesehatan Kota Metro dan data kuesioner dukungan keluarga. Pengambilan data di lakukan pada bulan Februari 2012 di 11 puskesmas yang ada di Kota Metro, dengan responden yang diambil dengan tekhnik sampel jenuh yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 34 responden. Berikut ini merupakan hasil penelitian yang di lakukan di Dinas Kesehatan Kota Metro. IV.2.1. Data Deskriptif IV.2.1.1.Gambaran Umum Jenis Kelamin PMO di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 5.Distribusi Frekuensi JenisKelaminPMO di Dinas KesehatanKota Metro
Jenis Kelamin PMO Laki-laki Perempuan Total n 9 25 34 Frekuensi % 26,5 73,5 100

29

30

Berdasarkan tabel 5. dapat dilihat bahwa dari 34 responden didapatkan distribusi frekuensi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak25 orang (73,5%). IV.2.1.2. Gambaran Umum Usia PMO di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 6. Distribusi Frekuensi Usia PMO di Dinas Kesehatan Kota Metro
Usia PMO < 30 tahun 30-40 tahun >40 tahun Total n 7 10 17 34 Frekuensi % 26,6 29,4 50 100

Berdasarkan tabel 6. Usia responden didominasi usia >40 tahun sebanyak 50% dari total responden IV.2.1.3. Gambaran Umum Pendidikan PMO di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 7.Distribusi Frekuensi Pendidikan PMO di Dinas Kesehatan Kota metro
Pendidikan PMO Frekuensi n Tidak Sekolah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Total 3 6 9 15 1 34 % 8,8 17,6 26,5 44,1 2,9 100

Pada tabel 7. Dapat peneliti deskripsikan bahwa 44,1% atau presentasi terbanyak responden berpendidikan terakhir SMA, dimana diharapkan telah memiliki pengetahuan yang cukup, sehingga dapat mempengaruhi program ini.

31

IV.2.1.4. Gambaran Umum Pekerjaan PMO di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 8.Distribusi Frekuensi Pekerjaan PMO di Dinas Kesehatan Kota metro
Pekerjaan PMO Tidak Bekerja Bekerja Total n 2 32 34 Frekuensi % 5,9 94,1 100

Dari tabel 8. Sebagian besar PMO memiliki pekerjaan, dengan frekuensi 94.1%. diharapkan agar pekerjaannya tidak mempengaruhi tugasnya sebagai PMO IV.2.1.5. Gambaran Umum Pendapatan PMO di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 9.Distribusi Frekuensi Pendapatan PMO di Dinas KesehatanKota metro
Pendapatan PMO Rendah Sedang Tinggi Total n 20 10 4 34 Frekuensi % 58,8 29,4 11,8 100

Berdasarkan tabel 9. Didapatkan bahwa pada distribusi frekuensi pendapatan responden lebih banyak responden yang berpendapatan rendah sejumlah 20 orang (58,8%), ini menerangkan bahwa walaupun responden sebagian besar telah

32

memiliki pekerjaan, tetapi jumlah pendapatan mereka sebagian besar >50% berada di taraf berpenghasilan kurang dr UMR IV.2.2. Analisis Univariat Analisis ini dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel-variabel yang akan diteliti, meliputi dukungan keluarga dan kesembuhan pasien TB paru di Dinas Kesehatan Kota Metro. Berikut penjabaran dari hasil analisis univariat:

IV.2.2.1. Gambaran Umum Dukungan Keluarga (PMO) di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 10.Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga (PMO) diDinas Kesehatan Kota metro
Dukungan Keluarga (PMO) Baik Sedang Kurang Total Frekuensi n 23 10 1 34 % 67,6 29,4 2,9 100

Berdasarkan

tabel

10.

67.6%

responden

memiliki

dukungan keluarga yang baik, angka ini sangat baik, diharapkan dukungan keluarga dapat membantu kesembuhan pasien itu sendiri. IV.2.2.2. Gambaran Umum Tingkat Kesembuhan Pasien TB paru di Dinas Kesehatan Kota Metro Tabel 11.Distribusi Frekuensi Kesembuhan Pasien TB Paru diDinas Kesehatan Kota metro
Kesembuhan Pasien TB Paru Tidak Sembuh Sembuh Total Frekuensi n 16 18 34 % 47,1 52,9 100

Berdasarkan tabel 11. Dapat diketahui bahwa lebih banyak responden yang sembuh sejumlah 18 orang ( 52,9%).

33

IV.2.3. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antar dua variabel, yakni variabel dependen dan independen penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis bivariat yang dilakukan dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 5% (<0,05). IV.2.3.1. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kesembuhan Pasien TB Paru Di Dinas Kesehatan Kota Metro Pada awalnya data yang diperoleh berbentuk BxK, namun karena tidak memenuhi syarat uji chi-squareyaitu masih ada sel yang memiliki nilai expected kurang dari lima. Maka dilakukan penggabungan sel untuk kembali di uji dengan chi-square. Peneliti memutuskan untuk menggabungkan subjek dengan dukungan keluarga sedang dan subjek dengan dukungan keluarga kurang, karena subjek yang dukungan keluarga kurang memiliki jumlah yang sedikit.Dengan begitu didapat data dengan tabel 2x2 untuk dilakukan uji chi-square kembali. Didapatkan hasil yaitu tidak ada sel yang memiliki nilai expected kurang dari lima, sehingga data ini layak untuk di uji Chi-Square. Pada hasil uji Chi-Square yang dipakai ialah nilai Pearson Chi-Square dengan faktor peluang kurang dari 5% (<0,05). Tabel 12.Hubungan Dukungan Keluarga Dengan KesembuhanPasien TB Paru Di Dinas Kesehatan Kota Metro
Dukungan Keluarga (PMO) Tidak Sembuh n % Baik Sedang + Kurang Total 7 9 16 21 26 47 Kesembuhan Sembuh n 16 2 18 % 47 6 53 n 23 11 34 Total % 68 32 100 P value .005

Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square yang dilakukan didapatkan nilai p = .005(p < ) dengan = 0,05 yang artinya tolak H0 terima Ha. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kesembuhan pasien TB paru di Dinas Kesehatan Kota Metro. IV.3 Pembahasan

34

Dari hasil pengolahan data yang dilakukan kepada 34 responden di Kota Metro, diketahui bahwa dukungan keluarga didominasi oleh dukungan baik dengan mayoritas pasien dinyatakan sembuh . Menurut Ryan & Austin dalam Friedman (2010), keberadaan dukungan sosial yang adekuat terbukti mampu menurunkan mortalitas, lebih mudah sembuh, fungsi kognitif, fisik dan kesehatan emosi. Selain itu, keterlibatan keluarga dalam tim perawatan kesehatan dan proses terapi total dapat menjadi sumber kesehatan primer dan efektif (Levine & Zuckerman 2000 dalam Friedman 2010) Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan lukman 2002 di Kab. Bandung mengenai strategi koping keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan kasus penyakit TB Paru, menyebutkan bahwa rata-rata keluarga memiliki dukungan baik terhadap kepatuhan pasien TB paru. Sedangkan untuk kesembuhan pasien TB paru di Kota Metro, menunjukan hasil yang sama dengan penelitian yang dilakuakan oleh Rizkiyani 2008 di Palmerah. Dari penelitian tersebut diketahui sebagian dinyatakan sembuh. Pasiendinilai sembuh apabila telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap dan melakukan pemeriksaan ulang dahak atau sputum paling sedikit dua kali berturutturut, pada akhir pengobatan atau sebulan sebelum akhir pengobatan dengan hasil BTA negatif ( Depkes, 2007). Berdasarkan uji statistik Chi-Square didapatkan hasil yaituterdapat hubungan bermakna antara dukungan keluarga terhadap kesembuhan pasien TB paru di Kota Metro dengan nilai p (.005) < (0,05). Hal ini mendukung beberapa teori yang menyebutkan bahwa salah satu komponen DOTS yakni PMO dalam hal ini Dukungan Keluarga memiliki peranan dalam proses kesembuhan dari pasien TB paru (DepKes RI, 2006). Penelitian ini menunjukan kesesuaian dengan hasil yang diperoleh Rizkiyani 2008 dari penelitian yang dilakukan di Puskesmas Palmerah Jakarta Barat bahwa kesembuhan pada penderita TB yang memiliki PMO lebih besar daripada penderita yang tidak memiliki PMO. Penderita TB paru yang PMO nya

35

berasal dari keluarga memiliki kesembuhan lebih tinggi daripada selain keluarga dalam hal ini petugas kesehatan. Penelitian Rachmawati 2006 yang menyebutkan bahwa dukungan sosial yang dilakukan oleh PMO dapat meningkatkan motivasi untuk sembuh penderita TB tetapi yang pengaruhnya paling bermakna adalah dukungan jaringan dan emosional memperkuat hasil dari penelitian yang dilakukan di Kota Metro. IV.4 Keterbatasan Penelitian Setiap penelitian tidak terlepas dari kemungkinan adanya keterbatasan yang dapat mempengaruhi kualitas hasil penelitian. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain seperti pengumpulan data menggunakan kuesioner yang bersifat subjektif sehingga kebenaran sangat tergantung pada kejujuran responden. Untuk mengantisipasinya maka sebelum mengisi kuesioner peneliti menjelaskan maksud dari pengambilan data, persetujuan dari responden untuk mengisi dan tidak ada unsur pemaksaan.