Anda di halaman 1dari 2

Pseudoalteromonas sp.

merupakan jenis bakteri yang hidup di perairan laut sehingga memerlukan medium SWC untuk pembuatan kulturnya. Merujuk pada Garrity (2004) sampai saat ini genus Pseudoalteromonas diketahui beranggotakan 21 spesies. Pada umumnya hidup di air laut dan kebanyakan berupa bakteri gram negatif. Anggota genus ini menempati berbagai peran dalam ekosistem laut. Peran tersebut antara lain sebagai parasit obligat (patogen), probiotik, bahkan agen bioremediasi. TaksonomiPseudoalteromonas sp. menurut Garrity (2004) adalah sebagai berikut : Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Kelas : Gamma Proteobacteria Ordo : Alteromonadales Famili : Alteromonadaceae Genus : Pseudoalteromonas Spesies : Pseudoalteromonas sp. Sementara kondisi fisik dibutuhkan agar pertumbuhan dan perkembangan bakteri dapat terjadi secara optimum. Setiap bakteri menunjukkan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik. Artinya, setiap bakteri memiliki kondisi fisik optimum yang berbeda-beda. Beberapa parameter fisik yang paling mempengaruhi kehidupan bakteri diantaranya adalah suhu, komposisi gas, dan pH. Selain faktor tesebut terdapat pula beberapa faktor fisik lain yang cukup berpengaruh misalnya cahaya dan salinitas. Suhu optimum bagi pertumbuhan Pseudoalteromonas sp. sangat beragam dan tergantung kepada spesies. Mikhaloiv (2006) menyatakan bahwa semua spesies dalam genusPseudoalteromonas mampu tumbuh pada suhu 2025oC. Kebanyakan spesies mampu tumbuh pada suhu 4oC. Penelitian Bowman (1998) dalam Mikhaloiv (2006) memperlihatkan bahwa P. Prydzensis mampu hidup pada suhu 0 sampai 30oC. Metode hitungan cawan dilaksanakan dengan mengencerkan sampel suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. kedalam larutan garam fisiologi (NaCl) 0,85 %. Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz, 1993). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah meikrobia, dimana suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung (Waluyo, 2004). Larutan yang digunakan untuk pengenceran harus memilki sifat osmotik yang sama dengan keadaan lingkungan asal mikrobia untuk menghindari rusaknya sel, selain itu juga harus dijaga agar tidak terjadi perbanyakan sel selama pengenceran. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah kesalahan dalam prosedur pengenceran misalnya mengambil terlalu banyak atau terlalu sedikit bakteri dari larutan suspensi awal. Kesalahan lain yang mungkin terjadi adalah akibat larutan suspensi yang kurang homogen sehingga jumlah bakteri yang terambil tidak mewakili populasi bakteri yang ada. Selain dua faktor tersebut, faktor penyebab kegagalan secara umum dapat disebabkan oleh persyaratan tumbuh yang kurang cocok maupun akibat kontaminasi. Kontaminasi menyebabkan bakteri kultur tidak tumbuh secara optimum pada media Selain menggunakan larutan garam fisiologi (NaCl) 0,85 %, pengenceran juga dapat dilakukan dengan menggunakan larutan fosfat buffer, larutan Ringer, atau akuades. Namun penggunaan akuades sebaiknya dihindari karena dapat mengakibatkan rusaknya sel akibat perbedaan tekanan osmotik, karenanya pelaksanaan pengencerannya harus cepat. Kedalam larutan pengencer juga dapat ditambahkan butir-butir gelas (glass beads) atau pasir putih yang disterilisasi bersama dengan larutan tersebut untuk melarutkan bahan yang sukar larut. Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pengenceran desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan 10-5. Dan yang diplating dan diamati adalah pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5. Hal ini karena diperkirakan koloni yang terbentuk oleh Pseudoalteromonas sp. berada pada jumlah yang dapat dihitung pada pengenceran tersebut.

Selain itu, perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara decimal (Waluyo, 2004). Prinsip perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding terbalik dengan jumlah koloni bakteri. Berdasarkan hasil pengamatan perhitungan koloni bakteri Pseudoalteromonas sp dari kelompok XII hasil perhitungannya menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran semakin sedikit jumlah bakteri. Namun pada perhitungan koloni bakteri Pseudoalteromonas sp kelompok XII mengalami kegagalan, karena jumlah bakteri berbanding lurus dengan tingkat pengenceran. Hal ini disebabkan terjadinya kontaminan yang berasal dari alat yang digunakan, praktikan ataupun udara. Selain itu bisa juga disebabkan oleh kurangnya kecermatan dan ketelitian praktikan baik dalam proses praktikum ataupun perhitungan.