Anda di halaman 1dari 4

KASUS Tn JT berusia 45 tahun, menikah mempunyai dengan seorang anak yang berumur 10 tahun.

Bekerja sebagai manajer disebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Tn JT menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu. Mempunyai riwayat keluarga dengan

hipertensi dan riwayat merokok sejak SMA kelas satu dan senang mengkonsumsi makananmakanan berlemak. Saat ini Tn JT tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi secara teratur. Sampai saat ini masih sering mengkonsumsi makanan yang berlemak dan jarang mengkonsumsi buah-buahan. Kondisi lingkungan bekerja mempunyai tingkat stres yang tinggi. Tn JT senang berolahraga namun sangat jarang melakukan olah raga. Berat badan saat ini 95 kg dengan tinggi badan 179 cm. Tekanan darah saat ini 160/90 mmHg. Pemeriksaan lab menunjukkan triglyceride 200 mg/dl, kolesterol total 210 mg/dl dan LDL: 130 mg/dl.

Pembahasan Tn JT memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak 10 tahun yang lalu. Hal ini ditandai oleh tekanan darahnya yang melebihi tekanan darah normal, yaitu 160/90 mmHg. Berdasakan materi, jenis hipertensi yang dialami oleh Tn JT yaitu hipertensi primer atau esensial. Hipertensi jenis ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun diduga penyebab dari hipertensi primer berhubungan dengan beberapa sebab, yaitu obesitas, hiperkolesterolemia, aterosklerosis, diet tinggi garam, diabetes, stres, riwayat keluarga, merokok, dan kurang olahraga. Beberapa hal yang diduga berkaitan dengan hipertensi esensial atau primer diatas dialami oleh Tn JT, yaitu obesitas, kolesterol tinggi akibat makanan berlemak, stres, terdapat riwayat keluarga yang menderita hipertensi, merokok, dan kurang berolahraga. Hipertensi yang diderita oleh Tn. JT akan terus terjadi jika Tn. JT tidak merubah kebiasaan hidupnya. Dilihat dari kasus yang kami dapatkan, gaya hidup dan kondisi Tn JT saat ini sangatlah berisiko untuk memicu terjadinya kembali hipertensi. Gaya hidup yang pertama yaitu Tn JT masih sering mengkonsumsi makanan yang berlemak hingga saat ini. Makanan berlemak merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak yang berlebihan dapat menyebabkan beberapa akibat. Pertama berpengaruh terhadap berat badan seseorang. Lemak yang berlebihan membuat berat badan seseorang meningkat dan pada akhirnya menyebabkan seseorang mengalami obesitas atau berat badan berlebihan.

Selain menyebabkan obesitas, konsumsi lemak jenuh juga berpotensi menimbulkan plak dalam arteri (aterosklerosis). Akibat adanya plak tersebut, arteri akan menyempit dan sirkulasi darah pun terhalang. Darah akan memaksa melewati arteri tersebut dengan tekanan yang lebih besar. Faktor risiko ini dapat dicegah jika konsumsi makanan tinggi lemak dikurangi. Dengan begitu risiko terjadinya aterosklerosis pun berkurang dan tidak ada penyempitan pembuluh darah. Dengan kata lain, tekanan darah pun akan normal. Tn JT yang senang mengkonsumsi makanan berlemak juga dapat terlihat dari hasil pemeriksaan lab Tn JT. LDL (low density lipoprotein) Tn JT sebesar 130 mg/dl, melebihi batas normal. Nilai normal LDL yaitu 3840 mg/dL. Selain mengkonsumsi makanan berlemak, Tn JT juga jarang mengkonsumsi buahbuahan. Buah-buahan banyak mengandung Kalium yang merupakan ion utama dalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium adalah kebalikan dari Na. Konsumsi kalium yang banyak akan meningkatkan konsentrasinya di dalam cairan intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, buah-buahan juga banyak mengandung magnesium. Magnesium merupakan inhibitor yang kuat terhadap kontraksi vaskuler otot halus dan berperan sebagai vasodilator dalam regulasi tekanan darah. Buah-buahan yang banyak mengandung kalium dan magnesium dapat mengurangi risiko peningkatan tekanan darah. Maka dari itu, jika Tn JT dapat meningkatkan konsumsi buahbuahan, maka risiko terjadinya hipertensi akan berkurang. Kebiasaan lain yang dimiliki Tn JT yaitu jarang melakukan olah raga. Kegiatan olahraga yang teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang juga berdampak pada tekanan darah yang menurun. Olahraga yang tidak teratur dapat meningkatkan tahanan perifer dan berpengaruh terhadap tekanan darah yang akan meningkat. Kegiatan olahraga juga berhubungan dengan obesitas. Kurangnya olahraga dapat berakibat pada kelebihan berat badan seseorang atau obesitas yang berisiko terhadap hipertensi. Olahraga dinamis sedang yaitu selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi. Berat badan Tn JT juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya hipertensi. Berat badan Tn JT saat ini 95 kg dengan tinggi badan 179 cm. Dengan menghitung indeks massa tubuh, dapat diketahui apakah Tn JT mengalami kelebihan berat badan atau tidak. Cara menghitungnya yaitu: Indeks massa tubuh pasien = BB (Kg)/TB (m2) = 95/1,79 = 53,072

Berdasarkan penghitungan indeks massa tubuh tersebut didapatkan bahwa IMT Tn JT sebesar 53,072 yang artinya Tn JT mengalami kelebihan berat badan, yaitu masuk dalam klasifikasi obesitas tingkat III. Kelebihan berat badan atau obesitas sangat erat sekali kaitannya dengan hipertensi. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, namun seseorang dengan obesitas berisiko mengalami hipertensi. Seseorang yang mengalami obesitas memiliki curah jantung dan sirkulasi volume darah yang lebih tinggi dari seseorang yang tidak mengalami obesitas. Berat badan yang semakin tinggi meningkatkan konsumsi oksigen dan nutrisi. Berarti diperlukan pula aliran darah yang lebih banyak untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Pada obesitas tahanan perifer berkurang, dan aktivitas saraf simpatis juga akan meningkat. Dengan penambahan berat badan, aktivitas simpatis dianggap kompensasi yang penting untuk membakar lemak, tetapi aktifitas simpatik yang meningkat pada jaringan ginjal dapat menimbulkan hipertensi.