Anda di halaman 1dari 103

RESUME BLOK 18 SKENARIO 1 BENCANA Oleh : Kelompok C 1. Putu Kristalina Witari 2. Ayu Budhi Trisna 3.

Riska Ratwita Wibawa 4. Alfa Miftahul Khoir 5. Yuyun Mawaddatur R. 6. R. Anggi Dwi Putra 7. M. H. Yuda Alhabsy 8. Anindita Novia Damayanti 9. Raras Silvia Gama 10. Anggun Puspita Dewi 11. Mekania Tamarizki 12. Achwana Sri Arundany 13. Ina Soraya 14. Wendy Yuhardika M. P. 082010101023 082010101026 082010101028 082010101033 082010101034 082010101035 082010101036 082010101037 082010101038 082010101040 082010101041 082010101043 082010101072 082010101077

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

SKENARIO 1 BENCANA SKENARIO 1:

Siang itu, sekelompok dokter dan paramedis siaga bencana tiba di pulau Masalembu, segera setelah gempa bumi berkekuatan 8,5 SR yang terjadi 6 jam lalu. Mereka langsung menuju rumah sakit di pulau itu yang kewalahan menampung korban bencana. Tim itu langsung membagi diri, berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat setempat untuk mengaktifkan SPGDT serta ambil bagian dalam evakuasi dan pertolongan gawat darurat korban bencana. Situasi di RS Masalembu tampak sangat sibuk, di ujung ruang tampak 15 orang kritis, diantara yang kritis 4 korban menderita fraktur di ekstremitas dan salah seorang korban berteriak mengancam akan menuntut bila tidak segera ditolong, 5 orang korban menderita trauma thorax dengan nafas yang tersengal-sengal dengan gerak salah satu hemithorax tertinggal, dan 3 orang didapatkan redup pada perkusi thorax sedang 2 orang lainnya didapatkan hipersonor pada 1 sisi hemithoraxnya. 4 orang korban terbaring lemah dengan perut distended serta didapatkan nadi yang lemah. 2 orang korban terbaring tidak sadar dengan luka berat di kepala. Tampak beberapa petugas IGD melakukan resusitasi pada seorang korban bencana, sementara di bagian lain beberapa petugas menyiapkan ruangan untuk korban dengan label hitam, biru, merah, dan kuning.

SISTEM PELAYANAN GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT) DAN SISTEM PELAYANAN GAWAT DARURAT BENCANA (SPGDB) Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT): Merupakan pendekatan sistematis dalam penanggulangan penderita gawat darurat (GD) di TKP (tempat kejadian perkara) dan membawanya ketempat pelayanan definitif/rumah sakit. Penanggulangan di TKP meliputi, cara meminta bantuan, mengontrol pendarahan, memasang balut atau bidai hingga korban dibawa ke rumah sakit dengan transportasi yang memadai dan aman 3 KOMPONEN DASAR

SPGDB

ESKALAS (LOGISTIK, PERSIAPAN)

SPGDT

SISTIM DASAR

SDM

LANDASAN UTAMA

Sumber Daya Manusia (SDM)

KERJASAMA LINTAS SEKTOR PEMADAM KEBAKARAN ABRI,POLRI HANSIP PMI PRAMUKA PKK ORARI

DEP.SOS DEP. PU

Komponen Pra Rumah Sakit (luar RS) : 1. Sub sistem ketenagaan (upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan orang awam dan petugas kesehatan) : a. Awam (biasa dan khusus). Awam biasa Dimana mereka adalah orang yang pertama yang menemukan orang yang sakit/mendapat musibah atau trauma : Pramuka Palang merah remaja Anak sekolah Guru

IRT Pengemudi Hansip Sekretaris Awam khusus Orang awam Khusus adalah orang awam ditambah dengan pengetahuan /keterampilan sesuai dengan bidangnya seperti pada polisi mis: biomedik KLL, Luka tembak / tusuk,persalinan,contoh orang awam khusus: Polisi Pemadam kebakaran Satpam SAR Ajudan b. c. 2. Perawat / paramedis. Medis / dokter umum.

Sub sistem transportasi (upaya pelayanan transportasi penderita gawat darurat) : a. Tujuan : memindahkan PGD dengan aman tanpa memperbarat keadaan penderita kesarana kesehatan yang memadai. b. c. Sarana transportasi : kendaraan, peralatan, SDM, obat dll. Persaratan diperjalanan. untuk transportasi : sebelum diangkat, selama

d. e. 3.

Jenis kendaraan pengangkut. Jenis ambulans.

Sub sistem komunikasi (upaya pelayanan komunikasi medik untuk penanggulangan PGD) : a. b. Komunikasi kesehatan. Komunikasi medis.

4.

Jenis komunikasi : a. b. Tradisional. Modern.

5.

Sarana komunikasi : a. b. Sentral komunikasi. Jaringan komunikasi.

Komponen Intra Rumah Sakit (dalam RS) : 1. Sub sistem pelayanan gawat darurat (upaya pelayanan PGD di UGD Rumah Sakit) : Misi UGD : Secara pasti memberikan perawatan yang berkualitas terhadap pasien dengan cara penggunaan sistem yang efektif serta menyeluruh dan terkoordinasi dalam : a. Perawatan pasien gawat darurat.

b. c.

Pencegahan cedera. Kesiagaan menghadapi bencana.

Menanggulangi pasien dengan cara aman dan terpercaya : a. b. c. Evaluasi pasien secara cepat dan tepat. Resusitasi dan stabilisasi sesuai prioritas. Menentukan apakah kebutuhan penderita melebihi kemampuan fasilitas. d. Mengatur sebaik mungkin rujukan antar RS (apa, siapa, kapan, bagaimana). e. Menjamin penanggulangan maksimum sudah diberikan sesuai kebutuhan pasien. Petugas medis harus mengetahui : a. b. c. d. 2. Konsep dan prinsip penilaian awal serta penilaian setelah resusitasi. Menentukan prioritas pengelolaan penderita. Memulai tindakan dalam periode emas. Pengelolaan ABCDE.

Unit Pelayanan Intensif : Filosofi : Intensive Medical Care (IMC) mendapatkan legitimasi bukan karena kompleksitas peralatan dan pemantauan pasien, tapi karena pasien

sakit kritis selalu berakhir pada suatu final common pathway dari kegagalan sistem organ, sehingga dibutuhkan bantuan terhadap organ vital baik tersendiri mauun terkombinasi. Aplikasi tidak terkoordinasi dari multi disipliner tidak hanya merugikan pasien, tetapi personil perawat dan tenaga profesi medis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. 3. Komponen Pembiayaan (sub sistem pembiayaan). Sumber bisa berasal dari pemerintah atau masyarakat : a. b. c. d. Pemerintah pusat / daerah. Jasa marga, askes, jasa raharja, astek. DUKM. Perusahaan berisiko terjadinya kecelakaan.

Rantai Bantuan Hidup Keadaan darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu dan di mana pun. Kondisi ini memerlukan bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar adalah usaha untuk mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami keadaan yang mengancam nyawa. Melakukan bantuan ini kita tidak mempergunakan cairan, obat ataupun terapi kejut listrik. Bantuan Hidup Dasar atau yang disingkat BHD ini harus dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan tidak terbatas kepada petugas paramedik atau tim medis. Ketika melaksanakan BHD ini kita berpacu dengan waktu, sebab korban yang akan

kita tolong dalam keadaan terancam nyawanya. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang dilakukan oleh penolong yang pertama kali melihat korban sangat dibutuhkan sebelum paramedis atau tim medis tiba di lapangan. Jadi, jangan lagi beranggapan bahwa dalam melakukan pertolongan kita berprinsip bagaimana caranya membawa korban segera ke RS, tetapi bagaimana caranya kita mempertahankan jiwa korban tersebut sampai bantuan lebih lanjut datang. Tujuan dariBHD ini adalah untuk: 1. Menyelamatkanjiwapenderita. 2. Mencegahcacat. 3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan. Waktu sangat penting dalam melakukan bantuan hidup dasar. Otak dan jantung bila tidak mendapat oksigen lebih dari 8 10 menit akan mengalami kematian, sehingga korban tersebut dapat mati. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis dan mati biologis. Mati klinis memiliki pengertian bahwa pada saat melakukan pemeriksaan penderita, penolong tidak menemukan adanya pernapasan dan denyut nadi yang berarti sistem pernapasan dan sistem peredaran darah berhenti. Pada beberapa keadaan, penanganan yang baik masih memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali. Penderita mengalami henti napas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam rantai penyelamatan dilakukan bersamaan. Rantai ini diperkenalkan oleh American Heart Association (AHA) yang mempunyai empat rantai sebagai berikut : 1. Kecepatan dalam permintaan bantuan. 2. Resusitasi Jantung Paru 3. Defibrilasi (dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan peralatan khusus) 4. Pertolongan hidup lanjut (di RS, seperti Advance Cardiac Life Support).

Bantuan Hidup Dasar merupakan beberapa cara sederhana yang dapat mempertahankan hidup seseorang untuk sementara. Intinya adalah bagaimana menguasai dan membebaskan jalan napas, bagaimana membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah terjadinya kematian sel otak. Untuk memudahkan mengingat, maka dibuatlah K:Keamanan R:Respons A:Airway(salurannapas) B:Breathing(pernapasan) C: Circulation Prinsip Dasar dan Langkah pada Penanggulangan Penderita Gawat Darurat dan Pengnggulangan Medik Korban Bencana Sistem penanggulangan penderita gawat darurat sehari-hari. Rangkaian upaya pelayanan gawat darurat yang saling terkait, yang dilaksanakan ditingkat pra rumah sakit, di unit gawat darurat rumah sakit dan antar unit gawat darurat rumah sakit dan terjalin dalam suatu sistem pelayanan gawat darurat terpadu. Meliputi berbagai rangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. Pra Rumah Sakit Pada fase ini keberhasilan penanggulangan ngawat darurat tergantungpada beberapa komponen : A. Komunikasi 1) Dalam komunikasi hubungan yang sangat diperlukan adalah:
Pusat komunikasi ambulan gawat d a r u r a t (contoh:118, pro Pusat emergency,dll)

suatu

akronim

C:

Pusat komunikasi ke rumah sakit Pusat komunikasi polisi(110) Pusat komunikasi pemadam kebakaran(contih:113)

2) Untuk komunikasi fasilitas pager,radio,telepon,telepon genggam 3) Tugas pusat komunikasi adalah:


Menerima permintaan penolong Mengirim ambulan terdekat Mengatur dan memonitor rujukan penderita gawaldarurat Monitor kesiapan rumah sakit yaitu terutama unit gawatdarurat dan icu

4) Pada dasarnya pelayanan komunikasi disektor kesehatanterdiri dari:


Komunikasi kesehatan System komunikasi ini digunakan untuk menunjuangpelayanan kesehatan dibidang administrative . Komunikasi medis System komunikasi ini digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan dibidang teknis medis. a ) T u j ua n Untuk mempermudah dan mempercepatmenyampaian dan penerimaan informasi datamenanggulangi penderita gawat darurat. b) Fungsi komunikasi medis dalam penanggulanganpenderita gawat darurat adlah: o o Untuk memudahkan masyarakat dalammeminta pertolongan kesararana kesehatan Untuk mengatur dan m e m b i m b i n g pertolongan medis yang diberikan ditempatk e j a d i a n d a n s e l a m a p e r j a l a n a n k e s a r a n a kesehatan yang lebih memadai o o Untuk mengatur dan memonitor rujukanpenderita gawat darurat dan puskesmas kerumah sakit atau antar rumah sakit Untuk mengkoordinir pelayanan medic korban bencana

5) Jenis komunikasi Tekhnologi komunikasi di indonesia telah berkembang pesat dans e m a k i n modern,namun demikian sarana komunikasi medis b e l u m sepenuhnya menjangkau dan dikembangkan diseluruh pelosok tanahair.Oleh karena itu,jenis komunikasi dalam penanganggulanganpenderita gawat darurat dapat berupa:
Komunikasi tradisional o o o o Kentongan Beduk Trompet Kurir/mulut ke mulut

Komunikasi modern o o o o o o Telepon/telepon genggam Radio komunikasi Teleks/telegram Faximile Computer Telemetri(EKG data Tranmision).

6) Sarana KomunikasiYang dimaksud dengan sarana komunikasi adalah: 1. Sentral komunikasi(pusat komunikasi) Fungsi pusat komunikasi
o Mengkoordinir penanggulangan penderita gawat d a r u r a t m u l a i d a r i t e m a p a t k e j a d i a n s a m p a i k e sarana kesehatan yang sesuai (RS) yaitu dengan:

a. Menerima dan menganaliasa permintaanpertolongan


b. Mengatur ambulans terdekat ketempat kejadian

c. Menghubungi ke ruimah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yangh

tersedia( t e m p a t t i d u r k o s o n g ) p a d a s a a t i t u y a n g dapat diberikan untuk penderita gawatdarurat d. Mengatur /memonitor rujukan penderitagawat darurat
o Menjadi pusat komando dan mengkoordinasipenaggulangan medis korban bencana o B e r h u b u n g a n d e n g a n s e n t r a l k o m u n i k a s i m e d i s dari kota lain ,instansi lain dan kalau perlu denganNegara lain o Dapat diambil alih oleh perawat keamanan(ABRI) b i l a Negara berada dalam k e a d a a n darurat(perang)

2. Syarat syarat sentral komunikasi


o o o Harus mempunyai nomor telepon khusus(sebaiknya 3 digit) Mudah dihubungin dan memberikan pelayanan24 jam sehari D i l a y a n i o l e h t e n a g a m e d i s a t a u p a r a m e d i s perawatan yang terampil dan berpengalaman

3. Syarat alat sentral komunikasi


o o o o o o Telepon Radio komunikasi teleks /facsimile Komputer bila diperlukan Tenaga yang terampil dan komunikastif Konsulen medis yang menguasai masalah kedaruratan medis.

7) jaringan komunikasi Agar rahasia medis setiap penderita t e t a p t e r j a m i n , m a k a tenaga untuk keperluan komunikasi sebaiknya adalah tenagamedis atau para medis perawatan yangtelah di didik dalambidang penanggulangan penderita gawat darurat bidangkomunikasi. B. Pendidikan 1 . P a d a o r a n g a w a m Pada orang awam adalah orang pertama yang menemukank o r b a n a t a u p a s i e n y a n g m e n d a p a t m u s i b a h a t a u t r a u m a .Mereka adalah anggota pramuka,PMR,guru,ibi rumahtangga,pengemudi,hansip,dan petugas hotel atau restoran.Kemampuan yang harus dimiliki oleh orang awam adalah:
o Mengetahui cara minta tolong misalnya m e n g h u b u n g i melalui telepon ke 118 o o o o Mengetahui cara resusitasi jantung paru Mengetahui cara menghentikan perdarahan Mengetahui cara memasang pembalut atau bidai Mengetahui cara transportasi yang baik.

2. Pada orang awam khusus Yang termasuk disini adalah orang awam yang telahmendapatkan pengetahuan cara cara penanggulangan kasusg a w a t d a r u r a t s e b e l u m k o r b a n d i b a w a k e r u m a h s a k i t a t a u ambulan datang,mereka dating polisi,hansip,DLLAJR,search andrescue(SAR) Kemampuan yang harus dimiliki orang awam kusus adalahpaling sedikit seperti kemampuan orang awam ditambahdengan:
o Mengetahuio tanda tanda persalinan

o o o o

Mengetahui penyakit pefrsalinan Mengetahui penyakit jantuing Mengtahui penyakit persyarafan Mengetahui penyakit anak,dll

3 . P a d a p e r a w a t Perawat harus mampu menanggulangi p e n d e r i t a g a w a t darurat dengan gangguan: a. sistem pernapasan


o o o o Mengatasi obstruksi jualan nafas Membuka jalan napas Memberi napas buatan Melakukan resusitasi jantung paru(RJP)dengan didahuluipenilaian ABC

b. sistem sirkulasi
o o o o Mengenal aritmia dan infark jantung Pertolongan pertama pada henti jantung Melakukan EKG Mengenal syok dan sumber pertolongan pertama

c. sistem vaskuler
o o o Menghentikan perdarahan Memasang infus atau transfusi Merawat infuse

d. Sistem syaraf
o o Mengenal koma dan memberikan pertolongan pertama Memberikan pertolongan pertama pada trauma kepala

e. Sistem pencernaan
o o o Pertolongan pertama pada trauma abdomen danpengenalan tanda perdarahan intraabdomen Persiapan operasi segera(cito) Kumbah lambung pada pasien keracunan

f. System perkemihan

o o

Pertolongan pertama pada payah ginjal akut Pemasangan kateter

g. System integumen atau toksikologi


o o Pertolongan pertama pada luka bakar Pertolongan pertama pada gigitan binatang

h. Sytem endokrin
o o o o o Pertolongan pertama pada pasien hipo/hyperglikemia Pertolongan pertama pasien kritis tiroid Mengenal patah tulang dan dislokasi Memasang bidai Mentransportasikan pasien ke rumah sakit

i. System muskuluskeletal

j. System penginderaan
o o Pertolongan pertama pada pasien trauma mata tau telinga Melakukan irigasi matadan telinga

k. Pada anak
o o o Perolongan pertama pada anak dengan kejang Pertolongan pertama pada anak dengan asma Pertolongan pertama anak dengan diafre atau konstipasi

C. Transportasi i. Syarat transportasi penderita a) Penderita gawat darurat siap ditransportasi bila:
Gangguan pernapasan dan kardiovaskuler t e l a h ditanggulangi Perdarahan harus dihentikan Luka harus ditutup Patah tulang apakah memerlukan piksasi

b) Selama transportasi harus dimonitor


Kesadaran

Pernapasan Tekanan darah dan denyut nadi Daerah perlukaan

c) Syarat kendaraan
Penderita dapat terlentang Cukup luas untuk lebih dari dua pasien dan ;petugas dapatbergerak. Cukup tinggi sehinnga petugas dapat berdiri dan i n f u s lancar Dapat melakukan komunikasi ke sentral komunikasi dan rumah sakit Identitasw yang jelas sehinngga mudah dibedakan d a r i ambulan lain

d)Syarat alat yang harus ada adalah resusitasi ,oksigen,alathisap,obat obatan dan infuse,balut dan bidai,tandu,Ekgtransmitter,incubator(untuk bayi) dan alat alat persalinan. e) Syarat personal
Dua orang perawat yang mengemudi Telah mendapat pendidikan tambahan gawat darurat Sebaiknya diasramakan agar mudah dihubungi

f) Klasifikasi ambulans sesuai fungsinya sebagai berikut:


Ambulans transportasi Ambulans gawat darurat Ambulans rumah sakit lapangan Ambulans pelayanan medik bergerak Kereta jenazah

g) Alat pelindung diri Keamanan penolong merupakan hal yang sangatp e n t i n g , s e b a i k n y a d i l e n g k a p i d e n g a n p e r a l a t a n y a n g d i k e n a l sebagai APD antara lain:
Sarung tangan lateks

Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapatmenularkan penyakit Kaca mata pelindung Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya p e n y a k i t kedalam tubuh manusia Baju pelindung

Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya cairan tubuh melalui pakaian


Masker penolong Mencegah penularan penyakit melalui udara Masker Resusitasi Jantung Paru Masker yang dipergunakan untuk memberikan b a n t u a n napas Helm Siring resiko adanya benturan pada k e p a l a meningkat.Helm dapat mencegah terjadinya cedera padakepala saat melakukan pertolongan .Kewajiban pelaku pertolongan pertama,dalam menjalankantugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukakan: Menjaga keselamatan diri,anggota tim,penderita dan orang sekitarnya Dapat menjangkau penderita Dapat mengenali dan mengatasi masalah yangmengancam nyawa Meminta bantuan atau rujukan

Memberikan pertolongan dengan cepat dan t e p a t berdasarkan keadaan korban


Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya Ikut menjaga kerahasian medis penderita

Melakukan komunikasi dengan petugas lain y a n g telibat

Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi Kualifikasi pelaku pertolongan pertam,a Agar dapat menjalankan tugas seorang petugaspenolong harus memiliki kualifikasi sebagai berikut: Jujur dan bertanggung jawab Kematangan emosi Memiliki sikap profesional Kemampuan bersosialisasi Kemampuan nyata terukur sesuai sertifikasiPMI .Secara berkesinambungan mengikuti kursus penmyegaran. Selalu dalam keadaan siap,khususnya secara fisik Mempunyai rasa bangga
ii. Cara tyransportasi Tujuan memindahkan penderita dengan cepat t e t a p i selamat

Kendaraan penderita gawat darurat harus berjalanberhati hati dan menaati peraturan lalu lintas 2. Dalam Rumah Sakit a) Pertolongan di unit gawat darurat rumah sakit b) Pertolongan di kamar bedah (jika diperlukan) c) Pertolongan di ICU/ICCU 3. Antar Rumah Sakit a. Rujukan ke rumah sakit lain (jika diperlukan) b. Organisasi dan komunikasi untuk pelaksanaan langkah-langkah 1.I dengan 3 a

4. Kegiatan pendukung kelancaran A. Perencanaan, pelatihan dan evaluasi kegiatan 1 s/d 3 B. Penelitian segi medik dan segi organisasi pelayanan (Health Care Delivery Research) Penilaian awal Penilaian awal mencakup protokol persiapan, triase, survei primer, resusitasistabilisasi, survei sekunder dan tindakan definitif atau transfer ke RS sesuai. Diagnostik absolut tidak dibutuhkan untuk menindak keadaan klinis kritis yang diketakui pada awal proses. Bila tenaga terbatas jangan lakukan urutan langkahlangkah survei primer. Kondisi pengancam jiwa diutamakan.

Survei Primer.

Langkah-langkahnya sebagai ABCDE (airway and C-spine control, breathing, circulation and hemorrhage control, disability, exposure/environment).

Resusitasi dan Penilaian Komprehensif Fase resusitasi Sepanjang survei primer, saat menegakkan diagnosis dan melakukan intervensi, lanjutkan sampai kondisi pasien stabil, tindakan diagnosis sudah lengkap, dan prosedur resusitatif serta tindakan bedah sudah selesai. Usaha ini termasuk kedalamnya monitoring tanda vital, merawat jalan nafas serta bantuan pernafasan dan oksigenasi bila perlu, serta memberikan resusitasi cairan atau produk darah. Pasien dengan cedera multipel perlu beberapa liter kristaloid dalam 24 jam untuk mempertahankan volume intravaskuler, perfusi jaringan dan organ vital, serta keluaran urin. Berikan darah bila hipovolemia tidak terkontrol oleh cairan. Perdarahan yang tidak terkontrol dengan penekanan dan pemberian produk darah, operasi. Titik capai resusitasi adalah tanda vital normal, tidak ada lagi kehilangan darah, keluaran urin normal 0,5-1 cc/kg/jam, dan tidak ada bukti disfungsi end-organ. Parameter (kadar laktat darah, defisit basa pada gas darah arteri) bisa membantu. Survei sekunder Formalnya dimulai setelah melengkapi survei primer dan setelah memulai fase resusitasi. Pada saat ini kenali semua cedera dengan memeriksa dari kepala hingga jari kaki. Nilai lagi tanda vital, lakukan survei primer ulangan secara cepat untuk menilai respons atas resusitasi dan untuk mengetahui perburukan. Selanjutnya cari riwayat, termasuk laporan petugas pra RS, keluarga, atau korban lain. Bila pasien sadar, kumpulkan data penting termasuk masalah medis sebelumnya, alergi dan medikasi sebelumnya, status immunisasi tetanus, saat makan terakhir, kejadian sekitar kecelakaan. Data ini membantu mengarahkan survei sekunder

mengetahui mekanisme cedera, kemungkinan luka bakar atau cedera karena suhu dingin (cold injury), dan kondisi fisiologis pasien secara umum. Pemeriksaan Fisik Berurutan Diktum jari atau pipa dalam setiap lubang mengarahkan pemeriksaan. Periksa setiap bagian tubuh atas adanya cedera, instabilitas tulang, dan nyeri pada palpasi. Periksa lengkap dari kepala hingga jari kaki termasuk status neurologisnya.

PEMERIKSAAN PENCITRAAN DAN LABORATORIUM Pemeriksaan radiologis memberikan data diagnostik penting yang menuntun penilaian awal. Saat serta urutan pemeriksaan adalah penting namun tidak boleh mengganggu survei primer dan resusitasi. Pastikan hemodinamik cukup stabil saat membawa pasien keruang radiologi. Pemeriksaan Laboratorium saat penilaian awal Paling penting adalah jenis dan x-match darah yang harus selesai dalam 20 menit. Gas darah arterial juga penting namun kegunaannya dalam pemeriksaan serial digantikan oleh oksimeter denyut. Pemeriksaan Hb dan Ht berguna saat kedatangan, dengan pengertian bahwa dalam perdarahan akut, turunnya Ht mungkin tidak tampak hingga mobilisasi otogen cairan ekstravaskuler atau pemberian cairan resusitasi IV dimulai.Urinalisis dipstick untuk menyingkirkan hematuria tersembunyi. Skrining urin untuk penyalahguna obat dan alkohol, serta glukosa, untuk mengetahui penyebab penurunan kesadaran yang dapat diperbaiki. Pada kebanyakan trauma, elektrolit

serum, parameter koagulasi, hitung jenis darah, dan pemeriksaan laboratorium umum lainnya kurang berguna saat 1-2 jam pertama dibanding setelah stabilisasi dan resusitasi. PENUTUP. Indonesia adalah super market bencana. Semua petugas medis bisa terlibat dalam pengelolaan bencana. Semua petugas wajib melaksanakan Sistim Komando Bencana dan berpegang pada SPGDT-S/B pada semua keadaan gawat darurat medis baik dalam keadaan bencana atau sehari-hari. Semua petugas harus waspada dan memiliki pengetahuan sempurna dalam peran khusus dan pertanggung-jawabannya dalam usaha penyelamatan pasien.

TRIAGE Adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang tersedia. Terapi berdasarkan pada prioritas ABC (Airway, Braething, Circulation). Triage juga berlaku untuk pemilahan pendeita di lapangan atau pada keadaan bencana. Triage juga berguna untuk menentukan rumah sakit rujukan mana yang sesuai dengan kondisi penderita Tujuan dari triage adalah: 1. 2. Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera (perawatan di lapangan) Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan (life-saving surgery) Ada dua jenis keadaan yang mempengaruhi proses triase: 1. Multiple Casualties Musibah masal dengan junlah penderita dan beratnya perlukaan tidak melampaui kemampuan petugas dan peralatan. Dalam hal ini penderita dengan masalah yang mengancam jiwa dan multipel trauna akan dilayani terlebih dahulu 2. Mass Casualties Musibah masal dengan jumlah penderita dan beratnya luka melampaui kemampuan petugas dan peralatan. Dalam keadaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah penderita dengan kemungkinan hidup (survival) terbesar. serta membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga paling sedikit Prinsip seleksi korban , berdasarkan: 1. Ancaman jiwa yang dapat mematikan (dalam ukuran menit) 2. Dapat mematikan (dalam ukuran jam)

3. Rudapaksa ringan 4. Sudah meninggal Pedoman tim penolong: 1. Pemimpin triage hanya melakukan: Primary survey Menentukan prioritas penanganan dan pemindahan Menentukan pertolongan apa yang harus diberikan

2. Tanggung jawab tim triage: Tag triage Adalah label berwarna dengan form data pasien yang dipakaikan oleh petugas untuk mengidentifikasi dan mencatat kondisi dan tindakan medik terhadap korban yang terdiri dari warna hitam, merah, kuning, hijau, biru, dan putih Triage dan pengelompokan berdasarkan tagging: 1. Prioritas nol (Hitam) Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi. Seperti: Henti jantung yang kritis trauma kepala yang kritis Radiasi tinggi Mencegah kerusakan berlanjut/bertambah Memilah-milah korban Melindungi korban

2. Prioritas pertama (Merah) Pasien cedera berat yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan medik dan transport SEGERA untuk tetap hidup. Seperti: Sumbatan jalan napas atau distres nafas Luka tusuk dada Hipotensi/shock Perdarahan pembuluh nadi besar Problema kejiwaan yang serius Tangan/kaki yang terpotong dengan shock Combutio Tk II > 25% Combutio Tk III > 25%

3. Prioritas kedua (Kuning) Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera yang kurang berat dan dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. Pasien mungkin mengalami cedera dalam jenis cakupan yang luas. Penanganan dan pemindahan bersifat JANGAN TERLAMBAT. Seperti: Combutio Tk II/Tk III > 25% Patah tulang besar Trauma thorak/abdomen Laserasi luas Trauma bola mata

4. Prioritas ketiga (Hijau) Pasien degan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera, memerlukan bantuan pertama sederhana namun memerlukan penilaian ulang berkala. Penanganan dan pemindahan bersifat TERAKHIR. Seperti: Contusio dan laserasi otot ringan Combutio Tk II < 20% (kecuali daerah muka dan tangan)

5. Prioritas keempat (Biru) Kelompok korban dengan cedera atau penyaki kritis dan berpotensi fatal yang berarti tidak memerlukan tindakan dan transportasi 6. Prioritas kelima (Putih) Kelompok yang sudah pasti tewas

Saat ini tidak ada standard nasional baku untuk triase. Metode triase yang dianjurkan bisa secara METTAG (Triage tagging system) atau sistim triase Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid Transportation). 1. Triage Sistem METTAG Pendekatan yang dianjurkan untuk memprioritaskan tindakan atas korban. Resusitasi di tempat

2. Triage Sistem Penuntun lapangan START Berupa penilaian pasien 60 detik dengan mengamati ventilasi, perfusi, dan status mental (RPM : R= status Respirasi ; P = status Perfusi ; M = status Mental) untuk memastikan kelompok korban (lazimnya juga dengan tagging) yang memerlukan transport segera atau tidak, atau yang tidak mungkin diselamatkan atau mati. Ini memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan korban yang dengan risiko besar akan kematian segera atau apakah tidak memerlukan transport segera. Resusitasi diambulans.

Algoritma triage START

3. Kombinasi antara sistem METTAG dan START

PRIMARY SURVEY Adalah cepat dan koreksi segera terhadap kondisi fungsi organ vital yang terancam. Pada dasarnya Primary Survey adalah life support dan resusitasi segera terhadap kelainan yang mengancam jiwa. Dalam waktu kurang dari 2 menit dalam mengatasi kondisi pasien gawat penolong harus mampu menyimpulkan kondisi kegawatannya. Pasien kondisi gawat. Airway-nya? Breathing-nya? Circulation-nya? atau combined kedua atau ketiganya; dan segera bersikap untuk mengatasi kegawatan tersebut. Tindakan tersebut diharapkan akan memperbaiki, bukan memperburuk DDissability yang tidak lain adalah fungsi kesadaran atau brain dengan tidak mengesampingkan E-Environment untuk mencegah hipotermia atau hipertermia dan waspada akan adanya cidera tulang leher pada kasus trauma

Teknik pelaksanaan: Pertama kali harus diyakinkan bahwa kondisi pasien gawat dalam keadaan sadar atau tidak dengan cara memanggil nama atau bila tidak berespona dapat dilakukan dengan mencubit atau dengan rangsangan sakit. Memeriksa kondisi kesadaran pada tahap primary survey ini disebut AVPU. Tahap berikutnya adalah memeriksa dengan cepat fungsi vital dengan sistematika A-B-C EVAKUASIKORBAN Adalah salah satu tahapan dalam Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yng aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. PrinsipEvakuasi Dilakukan jika mutlak perlu Menggunakan teknik yang baik dan benar

Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian Alat Pengangutan Dalam melaksanakan proses evakusi korban ada beberapa cara atau alat bantu, namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi korban ketersediaan alat). Ada dua macam alat pengangkutan, yaitu: 1. Manusia Manusia sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pengangkut mempengaruhi cara angkut yang dilaksanakan.

Bila satu orang maka penderita dapat: Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu berat serta tidak patah tulang Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas Dipanggul/digendong Merayap posisi miring Bila dua orang maka penderita dapat: Maka pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diterapkan bila korban tak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang punggung. Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan Model membawa balok

Model membawa kereta 2. Alat bantu Tandu permanen Tandu darurat Kain keras/ponco/jaket lengan panjang Tali/webbing Persiapan Yang perlu diperhatikan: 1. Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak berdasarkan penilaian kondisi dari: keadaan respirasi, pendarahan, luka, patah tulang dan gangguan persendian 2. Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama proses evakuasi 3. Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan tempat akhir korban diangkut 4. Memilih alat 5. Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang berjuntai atau badan penderita yang tidak daolam posisi benar SECONDARY SURVEY Definisi: Mencari perubahan fisik anatomis yang dapat berkembang menjadi lebih gaawat dan dapat mengancam jiwa apabila tidak segera di atasi. Dilakukan ketika primary survey telah tuntas. Peralatan

Stetoskop Tensimeter Jam Lampu pemeriksaan Gunting Thermometer Catatan Alat tulis Pemeriksaan laboratorium lainnya (Hb, foto thorax, pemeriksaan penunjang lainnya)

Teknik pelaksanaan 1. Periksa kondisi umum menyeluruh (head to toe) a. Posisi saat ditemukan b. Tingkat kesadaran c. Sikap umum, keluhan d. Ruda paksa, kelainan e. Keadaan kulit 2. Periksa kepala dan leher a. Rambut dan kulit kepala

Perdarahan, pengelupasan, perlukaan, penekanan cedera tulang belakang b. Telinga Perlukaan, darah, cairan c. Mata Perlukaan, pembengkakan, perdarahan, reflex pupil, kondisi kelopak mata, kemerahan perdarahan sclera/alrian antrum anterior, benda asing, pergerakan abnormal d. Hidung Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping hidung kelainan anatomi karena ruda paksa e. Mulut Perlukaan, darah, muntahan, benda asing, gigi, bau, dapat buka mulut/tidak f. Bibir Perlukaan, perdarahan, cyanosis, kering g. Rahang Perlukaan, stabilitas, krepitasi h. Kulit Perlukaan, basah/kering, darah, warna goresan-goresan, suhu i. Leher

Perlukaan, bendungan vena, deviasi trakea, spasme otot, stoma, tag, stabilitas tulang leher 3. Periksa dada Flailchest, nafas diafragma, kelainan bentuk, tarikan antar iga, nyeri tekan, perlukaan, suara ketuk, suara nafas 4. Periksa perut Perlukaan, distensi, tegang, kendor, nyeri tekan, undulasi 5. Periksa tulang belakang Kelainan bentuk, nyeri tekan, spasme otot 6. Periksa pelvis/genitalia Perlukaan, nyeri, pembengkaan, krepitasi, priapismus, inkontinensia 7. Periksa ekstremitas atas dan bawah Perlukaan, angulasi, hambatan pergerakan gangguan rasa, bengkak, denyut nadi, warna luka

Catatan 1. Perhatikan tanda-tanda vital 2. Pada kasus trauma, pemeriksaan setiap tahap selalu dimulai dengan pertanyaan adakah : deformitas, ekskoriasi, kontusio, abrasi, penetrasi, bula/burn, laserasi, swelling/sembab. 3. Pada dugaan patah tulang, pemeriksaan setiap tahun selalu dimulai dengan pertanyaan: adakah nyeri, instabilitas, krepitasi.

Monitoring korban untuk mengetahui perubahan pada a. A-B-C b. D c. Tanda vital lainnya Perubahan prioritas yang dikarenakan berubahnya kondisi korban atau pasien

A-AIRWAY: JALAN NAFAS Adakah suara ngorok? Lihat, dengar, raba (look, listen, feel) Buka jalan nafas, yakinkan adekuat Atasi segera, bebaskan jalan nafas (Head Tilt, Chin Lift, Jaw Trust; hatihati pada trauma, perhatikan adanya tanda cidera tulang leher) Penghisapan sekret (Suctioning)

Pengertian Airway Management: tindakan yang dilakukan untuk membebaskan jalan napas dengan tetap memperhatikan kontrol servikal Tujuan : membebaskan jalan napas untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh Pemeriksaan Jalan Napas :

L = Look/Lihat gerakan nafas atau pengembangan dada, adanya retraksi sela iga, warna mukosa/kulit dan kesadaran L = Listen/Dengar aliran udara pernafasan F = Feel/Rasakan adanya aliran udara pernafasan dengan menggunakan pipi penolong

Gambar 1. Cara pemeriksaan Look-Listen-Feel (LLF) dilakukan secara simultan. Cara ini dilakukan untuk memeriksa jalan nafas dan pernafasan. Tindakan Membuka jalan nafas dengan proteksi cervikal

Chin Lift maneuver (tindakan mengangkat dagu) Jaw thrust maneuver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah) Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi)

Gambar dan penjelasan lihat dibawah. Ingat! Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya dilakukan maneuver jaw thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher.

Untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut, dapat dilakukan teknik Cross Finger yaitu dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah.

Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari. Kegagalan membuka nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu adanya sumbatan jalan nafas di daerah faring atau adanya henti nafas (apnea) Bila hal ini terjadi pada penderita tidak sadar, lakukan peniupan udara melalui mulut, bila dada tidak mengembang, maka kemungkinan ada sumbatan pada jalan nafas dan dilakukan maneuver Heimlich.

Gambar 2. Pemeriksaan sumbatan jalan nafas di daerah mulut dengan menggunakan teknik cross finger Tanda-tanda adanya sumbatan (ditandai adanya suara nafas tambahan) :

Mendengkur(snoring), berasal dari sumbatan pangkal lidah. Cara mengatasi : chin lift, jaw thrust, pemasangan pipa orofaring/nasofaring, pemasangan pipa endotrakeal.

Berkumur (gargling), penyebab : ada cairan di daerah hipofaring. Cara mengatasi : finger sweep, pengisapan/suction.

Stridor (crowing), sumbatan di plika vokalis. Cara mengatasi : cricotirotomi, trakeostomi.

2. Membersihkan jalan nafas Sapuan jari (finger sweep) Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing pada rongga mulut belakang atau hipofaring seperti gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya sehingga hembusan nafas hilang. Cara melakukannya :

Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher) kemudian buka mulut dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot rahang lemas (maneuver emaresi)

Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus dengan sarung tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan gerakan menyapu.

Gambar 3. Tehnik finger sweep 3. Mengatasi sumbatan nafas parsial

Dapat digunakan teknik manual thrust


Abdominal thrust Chest thrust Back blow

Gambar dan penjelasan lihat di bawah! Jika sumbatan tidak teratasi, maka penderita akan :

Gelisah oleh karena hipoksia Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga, tracheal tug) Gerak dada dan perut paradoksal Sianosis Kelelahan dan meninggal

Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS BEBAS!

Pasien sadar, ajak bicara. Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas Beri oksigen bila ada 6 liter/menit Jaga tulang leher : baringkan penderita di tempat datar, wajah ke depan, posisi leher netral Nilai apakah ada suara nafas tambahan.

Gambar4. Pasien tidak sadar dengan posisi terlentang, perhatikan jalan nafasnya! Pangkal lidah tampak menutupi jalan nafas Lakukan teknik chin lift atau jaw thrust untuk membuka jalan nafas. Ingat tempatkan korban pada tempat yang datar! Kepala dan leher korban jangan terganjal! Chin Lift Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien kemudian angkat. Head Tilt Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh dilakukan pada pasien dugaan fraktur servikal. Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah sehingga kepala menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun terangkat ke depan.

Gambar 5. tangan kanan melakukan Chin lift ( dagu diangkat). dan tangan kiri melakukan head tilt. Pangkal lidah tidak lagi menutupi jalan nafas. Jaw thrust Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas

Gambar 6 dan 7. manuver Jaw thrust dikerjakan oleh orang yang terlatih Mengatasi sumbatan parsial/sebagian. Digunakan untuk membebaskan sumbatan dari benda padat.

Gambar 8. Tampak ada orang yang tersedak atau tersumbat jalan nafasnya Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) Dapat dilakukan dalam posisi berdiri dan terlentang. Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati (daerah subdiafragma abdomen). Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk Caranya : penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari pinggang korban dengan kedua lengan penolong, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke atas. Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas. Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi tergeletak (tidak sadar) Caranya : korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka ke atas. Penolong berlutut di sisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan di atas tangan pertama. Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas.

Berdasarkan ILCOR yang terbaru, cara abdominal thrust pada posisi terbaring tidak dianjurkan, yang dianjurkan adalah langsung melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada yang dilakukan sendiri Pertolongan terhadap diri sendiri jika mengalami obstruksi jalan napas. Caranya : kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum, genggam kepala itu dengan kuat, beri tekanan ke atas kea rah diafragma dengan gerakan yang cepat, jika tidk berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi

Gambar 9. Abdominal Thrust dalam posisi berdiri Back Blow (untuk bayi) Bila penderita sadar dapat batuk keras, observasi ketat. Bila nafas tidak efektif atau berhenti, lakukan back blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban di titik silang garis antar belikat dengan tulang punggung/vertebrae)

Gambar 10. Back blow pada bayi Chest Thrust (untuk bayi, anak yang gemuk dan wanita hamil) Bila penderita sadar, lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari telunjuk atau jari tengah kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antara kedua putting susu pasien). Bila penderita sadar, tidurkan terlentang, lakukan chest thrust, tarik lidah apakah ada benda asing, beri nafas buatan

B-BREATHING: PERNAFASAN Apakah pertukaran hawa nafas adekuat? Tidak ada, lakukan resusitasi, bantuan nafas beri O2 Frekuensi Kualitas Teratur/tidak

Pengertian Breathing Management: Memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran gas CO2. Tujuan : Menjamin pertukaran udara di paru-paru secara normal.

Diagnosis : Ditegakkan bila pada pemeriksaan dengan menggunakan metode Look Listen Feel (lihat kembali pengelolaan jalan nafas) tidak ada pernafasan dan pengelolaan jalan nafas telah dilakukan (jalan nafas aman). Tindakan Tanpa Alat : Memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung sebanyak 2 (dua) kali tiupan awal dan diselingi ekshalasi. Dengan Alat : Memberikan pernafasan buatan dengan alat Ambu bag (self inflating bag) yang dapat pula ditambahkan oksigen. Dapat juga diberikan dengan menggunakan ventilator mekanik (ventilator/respirator) Pemeriksaan pernafasan : Look -Lihat - gerak dada - gerak cuping hidung (flaring nostril) - retraksi sela iga - gerak dada - gerak cuping hidung (flaring nostril) - retraksi sela iga Listen -Dengar - Suara nafas, suara tambahan

Feel -Rasakan - Udara nafas keluar hidung-mulut Palpasi -Raba - gerakan dada, simetris? Perkusi - Ketuk - Redup? Hipersonor? Simetris? Auskultasi (menggunakan stetoskop) - Suara nafas ada? Simetris? Ronki atau whezing? Rontgen dada kalau tersedia dan pasien sudah stabil Menilai pernafasan

Ada napas? Napas normal atau distres Ada luka dada terbuka atau menghisap? Ada Pneumothoraks tension? Ada Patah iga ganda (curiga Flail Chest) ? Ada Hemothoraks? Ada emfisema bawah kulit?

Tanda distres nafas


Nafas dangkal dan cepat Gerak cuping hidung (flaring nostril)

Tarikan sela iga (retraksi) Tarikan otot leher (tracheal tug) Nadi cepat Hipotensi Vena leher distensi Sianosis (tanda lambat)

Pemberian nafas buatan Diberikan sebanyak 12-20 kali/menit sampai dada nampak terangkat. Diberikan bila nafas abnormal, tidak usah menunggu sampai apnea dulu Berikan tambahan oksigen bila tersedia. Jika udara masuk ke dalam lambung, jangan dikeluarkan dengan menekan lambung karena akan berisiko aspirasi. Nafas buatan dilakukan dengan in-line immobilisation (fiksasi kepala-leher) agar tulang leher tidak banyak bergerak. Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut Gambar 1. pada orang dewasa

Untuk memberikan bantuan pernafasan mulut ke mulut, jalan nafas korban harus terbuka. Perhatikan kedua tangan penolong pada gambar masih tetap melakukan teknik membuka jalan nafas Chin lift. Hidung korban harus ditutup bisa dengan tangan atau dengan menekankan pipi penolong pada hidung korban. Mulut penolong mencakup seluruh mulut korban. Mata penolong melihat ke arah dada korban untuk melihat pengembangan dada. Pemberian pernafasan buatan secara efektif dapat diketahui dengan melihat pengembangan dada korban.Berikan 1 kali pernafasan selama 1 detik, berikan pernafasan biasa.kemudian berikan pernafasan kedua selama 1 detik. Berikan nafas secara biasa untuk mencegah penolong mengalami pusing atau berkunang-kunang. Untuk bayi dan anak, nafas buatan yang diberikan lebih sedikit dari orang dewasa, dengan tetap melihat pengembangan dada.Usahakan hindari pemberian pernafasan yang terlalu kuat dan terlalu banyak karena dapat menyebabkan kembung dan merusak paru-paru korban. Konsentrasi oksigen melalui udara ekspirasi mulut sekitar 17 %. Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke hidung Cara ini direkomendasikan jika pemberian nafas buatan melalui mulut korban tidak dapat dilakukan misalnya terdapat luka yang berat pada mulut korban, mulut tidak

dapat dibuka, korban di dalam air atau mulut penolong tidak dapat mencakup mulut korban. Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke stoma (lubang trakeostomi) Cara ini diberikan pada pasien trakeostomi. Caranya sama dengan mulut ke mulut hanya saja lubang tempat masuknya udara adalah lubang trakeostomi Pemberian nafas buatan dengan menggunakan alat Gambar 2. ambubag (bag-valve-masker)

Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udara bebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita. Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan tersendiri. Penolong seorang diri dalam menggunakan amb bag harus dapat mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah, menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memeras bagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiap pernafasan. Ambu bag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yang berpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkan sungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong harus memperhatikan pengembangan dada korban

Gambar 3. Cara menggunakan ambubag

Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambil memompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker. Pada Tangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang masker membentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah penderita sekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E. Konsentrasi oksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat ditingkatkan menjadi 100% dengan tambahan oksigen. Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafas dan henti jantung, dilakukan resusitasi jantung-paru-otak.

C-CIRCULATION Adakah perdarahan? Eksternal Hentikan segera: Dengan bebat tekan pada luka Elevasi

Kompres es Torniquet (hanya pada luka/trauma khusus)

Internal Segera kirim. Adakah shock? (paling sering adalah shock hipovolemik) Perfusi dingin, basah pucat Nadi cepat dan lemah Capillary Refill Time > 2 detik

Pengertian Circulatory Management: Tindakan yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi sirkulasi tubuh yang tadinya terhenti atau terganggu Tujuan : agar sirkulasi darah kembali berfungsi normal Diagnosis : Gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa terutama jika terjadi henti jantung dan syok

Diagnosis henti jantung ditegakkan dengan tidak adanya denyut nadi karotis dalam waktu 5 10 detik. Henti jantung dapat disebabkan kelainan jantung (primer) dan kelainan di luar jantung (sekunder) yang harus segera dikoreksi

Diagnosis syok secara cepat dapat ditegakkan dengan tidak teraba atau melemahnya nadi radialis/nadi karotis, pasien tampak pucat, ekstermitas teraba dingin,berkeringat dingin dan memanjangnya waktu pengisian kapiler (capilary refill time > 2 detik)

Cara meraba nadi carotis :

Nadi carotis dapat diraba dengan menggunakan 2 atau 3 jari menempel pada daerah kira-kira 2 cm dari garis tengah leher atau jakun pada sisi yang paling dekat dengan pemeriksa. Waktu yang tersedia untuk mengukur nadi carotis sekitar 5 10 detik. Tanda-tanda sirkulasi normal :

Perfusi perifer : teraba hangat, kering Warna akral : pink/merah muda Capillary refill time : < 2 detik Denyut nadi < 100 Tekanan darah sistole >90-100 Produksi urine 1 ml/kgBB/jam

Bantuan sirkulasi terdiri dari 2 tahap, yaitu 1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban. Ada tidaknya denyut jantung korban dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban, dengan 2 atau 3 jari tangan, raba dengan lembut kira-kira 5-10 detik.

Jika teraba denyut nadi, penolong harus kembali memeriksa pernafasan korban. Jika tidak bernafas, lakukan nafas buatan dan jika bernafas, maka pertahankan jalan nafanya.

2. Memberikan bantuan sirkulasi Jika tekah dipastikan tidak ada denyut jantung selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi (CPR) dengan teknik sebagai berikut: Letakkan keduan tangan tepat di sternum korban, dengan posisi tangan kanan dan kiri menumpuk. Posisi badan tegak lurus

CONTOH GANGGUAN CIRCULATION : 1.SHOCK (secara umum) Shock adalah ketidak normalan dari sistem peredaran darah yang

mengakibatkan perfusi organ dan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat. Stadium shock dan gejalanya 1. Stadium pre-shock Cairan darah yang hilang 10-15%, dengan gejala: Pusing Takikardi ringan Systole 90-100 mmHg Mengeluh kedinginan Kulit pucat Urin pekat

2. Stadium ringan Cairan darah yang hilang 20-25%, gejala: Gelisah Keringat dingin Haus Takikardi > 100 kali/menit

Systole 70-80 mmHg

3. Stadium berat Cairan darah yang hilang 30-50%, gejala: Pucat, dingin Hiperpneu Kencing kurang Nadi tidak teraba Systole 0-40 mmHg

Jenis-jenis syok :

1.Syok hipovolemik

Penyebab : muntah/diare yang sering; dehidrasi karena berbagai sebab seperti heat stroke, terkena radiasi; luka bakar grade II-III yang luas; trauma dengan perdarahan; perdarahan masif oleh sebab lain seperti perdarahan ante natal, perdarahan post partum, abortus, epistaksis, melena/hematemesis. Diagnosis : perubahan pada perfusi ekstremitas (dingin, basah, pucat), takikardi, pada keadaan lanjut : takipneu, penurunan tekanan darah, penurunan produksi urin, pucat, lemah dan apatis Tindakan : pemasangan 2 jalur intravena dengan jarum besar dan diberikan infus cairan kristaloid (Ringer Laktat/Ringer Asetat/NaCl 0,9 %) dengan jumlah cairan melebihi dari cairan yang hilang. Catatan : untuk perdarahan dengan syok kelas III-IV selain diberikan infus kritaloid sebaiknya disiapkan tranfusi darah segera setelah sumber perdarahan dihentikan. Syok hipovolemik karena dehidrasi

Klasifikasi Dehidrasi ringan : Kehilangan cairan tubuh sekitar 5 % BB Dehidrasi sedang : Kehilangan cairan tubuh sekitar 8 % BB Dehidrasi berat : 10 %

Penemuan Klinis Selaput lendir kering, nadi normal atau sedikit meningkat

Pengelolaan Pergantian volume cairan yang hilang dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau

RL) Selaput lendir sangat kering, Pergantian volume cairan lesu, nadi cepat, tekanan darah turun, oligouria yang hilang dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau

RL) Selaput lendir pecah-pecah, Pergantian volume cairan yang hilang dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) tekanan darah menurun, anuria

Kehilangan cairan tubuh > pasien dapat tidak sadar,

Syok hipovolemik karena perdarahan :

Menurut Advanced Trauma Life Support Klasifikasi Penemuan Klinis Kelas I : kehilangan volume Hanya takikardi minimal, darah < 15 % EBV Kelas II : kehilangan volume darah 15 30 % EBV Pengelolaan Tidak perlu penggantian

nadi < 100 kali/menit volume cairan secara IVFD Takikardi (>120 kali/menit), Pergantian volume darah takipnea (30-40 kali/menit), yang hilang dengan cairan penurunan pulse pressure, penurunan produksi urin kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) sejumlah 3 kali volume

Kelas III : kehilangan volume darah 30 - 40 % EBV

(20-30 cc/jam) darah yang hilang Takikardi (>120 kali/menit), Pergantian volume darah takipnea (30-40 kali/menit), yang hilang dengan cairan perubahan status mental (confused), penurunan kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) dan darah

Kelas IV : kehilangan

produksi urin (5-15 cc/jam) Takikardi (>140 kali/menit), Pergantian volume darah yang hilang dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) dan darah perubahan status mental (confused dan lethargic), Bila kehilangan volume darah > 50 % : pasien tidak sadar, tekanan sistolik sama dengan diastolik, produksi urin minimal atau tidak keluar

volume darah > 40 % EBV takipnea (35 kali/menit),

2.Syok kardiogenik Penyebab : dapat terjadi pada keadaan-keadaan antara lain kontusio jantung, tamponade jantung, tension pneumotoraks

Diagnosis : hipotensi disertai gangguan irama jantung (bisa berupa bradiaritmia seperti blok AV atau takiaritmia seperti SVT, VT), mungkin terdapat peninggian JVP, dapat disebabkan oleh tamponade jantung (bunyi jantung menjauh atau redup dan tension pneumotoraks (hipersonor dan pergeseran trakea) Tindakan : pemasangan jalur intravena dengan cairan kristaloid (batasi jumlah cairan), pada aritmia berikan obat-obatan inotropik, perikardiosintesis untuk tamponade jantung dengan monitoring EKG, pemasangan jarum torakosintesis pada ICS II untuk tension pneumotoraks. 3. Syok septik Penyebab : proses infeksi berlanjut Diagnosis : fase dini tanda klinis hangat, vasodilatasi; fase lanjut tanda klinis dingin, vasokontriksi. Tindakan :ditujukan agar tekanan sistolik > 90-100 mmHg (Mean Arterial Pressure 60 mmHg).

Tindakan awal : IVFD cairan kristaloid, beri antibiotika, singkirkan sumber infeksi Tindakan lanjut : penggunaan cairan koloid dikombinasi dengan vasopresor seperti dopamine

4. Syok anafilaksis Penyebab : reaksi anafilaksis berat Diagnosis : tanda-tanda syok dengan riwayat adanya alergi (makanan, sengatan binatang dan lain-lain) atau setelah pemberian obat. Tindakan : resusitasi cairan dan pemberian epinefrin subcutan Catatan : tidak semua kasus hipotensi adalah tanda-tanda syok, tapi denyut nadi abnormal, irama jantung abnormal dan bradikardia biasanya merupakan tanda hipotensi.

Penatalaksanaan shock secara umum: 1. Pemeriksaan jasmani a) Airway dan breathing Prioritas utama adalah menjamin airway tetap paten dengan cukupnya pertukaran ventilasi dan oksigenasi diberikan tambahan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen lebih dari 95%. b) Sirkulasi kontrol perdarahan Cara pertolongan pada perdarahan dapat ditekan langsung pada tempat perdarahan. PASG (pneumatic anti shock garment) dapat digunakan untuk mengendalikan perdarahan dari patah tulang pelvis atau ekstremitas bawah. c) Disability pemeriksaan neurologi Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan tingkat kesadaran, pergerakan mata, dan respon pupil, fungsi motorik dan sensorik. d) Exposure pemeriksaan lengkap e) Dilatasi lambung f) Pemasangan kateter urin 2. Terapi awal cairan Larutan ringer laktat adalah cairan pilihan pertama, sedangkan pilihan kedua adalah NaCl fisiologis. Dosis awal adalah 1-2 liter untuk dewasa dan 20 ML/kg pada anakanak. Tatalaksana mengatasi perdarahan : Airway (+ lindungi tulang servikal) Breathing (+ oksigen jika ada) Circulation + kendalikan perdarahan 1. Posisi syok

2. Cari dan hentikan perdarahan 3. Ganti volume kehilangan darah Posisi syok Angkat kedua tungkai dengan menggunakan papan setinggi 45o. 300 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral. Gambar 3. Posisi syok

2.Menghentikan perdarahan (prioritas utama)


Tekan sumber perdarahan Tekankan jari pada arteri proksimal dari luka Bebat tekan pada seluruh ekstremitas yang luka Pasang tampon sub fasia (gauza pack) Hindari tourniquet (torniquet = usaha terakhir)

Perdarahan permukaan tubuh ekstremitas lakukan penekanan, gunakan sarung tangan atau plastik sebagai pelindung !

Perdarahan dan cara menekan perdarahan

Perdarahan 20 cc/menit = 1200 cc / jam ! 3. Pemasangan infus dan pergantian volume darah dengan cairan/darah. 4. Cari sumber perdarahan yang tersembunyi

Rongga perut (hati, limpa, arteri), rongga pleura, panggul atau pelvis, tulang paha (femur), kulit kepala (anak)

5. Lokasi dan Estimasi perdarahan


Fraktur femur tertutup : 1,5-2 liter Fraktur tibia tertutup : 0,5 liter Fraktur pelvis : 3 liter Hemothorak : 2 liter Fraktur iga (tiap satu) : 150 cc Luka sekepal tangan : 500 cc Bekuan darah sekepal : 500 cc

Catatan : 1. Menilai respon pada penggantian volume adalah penting, bila respon mnmal kemungkinan adanya sumber perdarahan aktif yang harus dihentikan, segera lakukan pemeriksaan golongan darah dan cross matched, konsultasi dengan ahli bedah, hentikan perdarahan luar yang tampak (misalnya pada ekstremitas) 2. Penggantian darah dapat digunakan darah lengkap (WBC) atau komponen darah merah (PRC). Usahakan jangan memberikan tranfusi yang dingin karena dapat menyebabkan hipotermi.

ESTIMATED Based on (For a 70 kg man)


Class I Blood Loss (mL) Blood Loss (% Blood Vol) Pulse Rate Blood Pressure Pulse Pressure Respiratory Rate Urinary (ml/hr) Output Up to 750

FLUID Patients

AND

BLOOD Initial

LOSSES Presentation

Class II 750 1500 15 30 % > 100 Normal 20 30 20 30

Class III 1500 2000 30 40 % > 120 30 40 5 15 Anxious, confused Crystalloid blood

Class IV > 2000 > 40 % > 140 > 35 Negligible Confiused, lethargic andCrystalloid and blood

Up to 15% < 100 Normal Normal or 14 20 > 30

CNS / Mental Status Slightly anxious Mildly anxious Fluid Replacement

(3:1 Rule)

Crystalloid

Crystalloid

Pemantauan peredaran darah pada syok

Keterangan: Tekanan darah arteri (1), tekanan nadi (2), irama jantung (3), tekanan vena sentral (4), suhu dan tampilan Wit muka dan bagian akral (5), diuresis tiap jam (6), perkusi dan auskultasi paru (7). Tata laksana Tata laksana syok dimulai dengan tindakan umum untuk memulihkan perfusi jaringan dan oksigenasi sel. Tindakan ini tidak bergantung pada penyebab syok. Diagnosis harus juga segera dibuat sehingga dapat diberikan pengobatan kausal. Perfusi dan oksigenasi Untuk perfusi jaringan supaya kebutuhan metabolik dan zat asam jaringan dapat dipenuhi, diperlukan tekanan darah sekurang-kurangnya 70-80 mmHg. Tekanan darah ini dapat dicapai dengan memperhatikan prinsip resusitasi ABC. Jalan napas (A) harus bebas, kalau perlu, dengan intubasi. Pernapasan (B) harus terjamin, jika perlu, dengan ventilasi buatan dan pemberian oksigen 100%. Pada pasien syok yang menggunakan ventilasi mekanis, kebutuhan oksigen

dapat dipenuhi sebesar 20-25 persen. Defisit volume peredaran darah (C) pada syok hipovolemik sejati atau hipovolemik relatif (syok septik dan anafilaksis) dapat diatasi dengan pemberian cairan intravena dan mempertahankan fungsi jantung. Tindakan umum terdiri atas pemberian zat asam 100% untuk oksigenasi jaringan dan sel. Cairan intravena, seperti plasma atau pengganti plasma, berguna untuk meningkatkan tekanan osmotik intravaskuler. Selain itu, harus dipertimbangkan pemberian obat inotropik untuk merangsang miokard dan vasokonstriktor untuk mengatasi vasodilatasi perifer, kecuall jika ada syok kardiogenik. Diagnosis dan pemantauan Pada pemeriksaan fisik diperhatikan kemungkinan infeksi dan perdarahan. Tekanan vena yang tinggi menunjukkan gagal jantung dan gangguan jantung yang menyebabkan syok. Perkusi dan auskultasi dilakukan untuk mendiagnosis bendungan paru akibat gagal jantung kiri. EKG berguna untuk membedakan oklusi koroner dengan infark miokard atau embolus pulmoner yang besar. Pemantauan dilakukan terus-menerus terhadap suhu badan, denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, dan kesadaran. Pemantauan tekanan vena sentral diperlukan sebagai pegangan untuk mengatur pemberian cairan parenteral dan pengawasan jantung. Pemasangan kateter di buli-buli dibutuhkan untuk mengetahui diuresis setiap jam. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui kadar hemoglobin, hematokrit, ureum, elektrolit, kesimbangan asambasa, kadar gas darah, dan biakan darah. Tata laksana khusus Bila mekanisme kompensasi untuk mempertahankan tekanan darah, yaitu vaskonstriksi, mobilisasi cairan interstisial, dan oliguria tidak men cukupi lagi, terjadi syok. Kegagalan kompensasi terjadi bila kehilangan cairan intravaskuler mendekati 50 persen. Penderita dengan perdarahan kelas IV hampir selalu memerlukan transfusi darah dengan cepat serta tindak bedah darurat untuk menghentikan

perdarahan. Keputusan tersebut bergantung pada respons terhadap resusitasi cairan yang diberikan. Kehilangan darah lebih dari 50% volume darah mengakibatkan kehilangan kesadaran, hilangnya denyut nadi, dan turunnya tekanan darah. Keadaan ini dianggap sebagai keadaan praterminal, dan kalau tidak dilakukan tindakan yang agresif, penderita akan meningkat dalam beberapa menit. Jumlah cairan yang diberikan harus seimbang dengan jumlah cairan yang keluar. Pemberian dilakukan berdasarkan perkiraan banyaknya cairan yang hilang. Pemantauan tekanan vena sentral penting untuk mencegah pemberian cairan berlebihan, sedangkan diuresis diperlukan untuk mencegah pemberian yang kurang. Sedapat mungkin diberikan jenis cairan yang sama dengan yang keluar, darah pada perdarahan dan plasma pada luka bakar. Akan tetapi, penanggulangan segera dengan resusitasi dapat dimulai dengan cairan Ringer laktat atau kristaloid. Darah merupakan cairan resusitasi yang optimum bagi pasien trauma dengan syok bila cairan elektrolit tidak mampu memulihkan tekanan darah pasien. Bila perdarahan melebihi 25% volume darah dan hematokrit sekitar 40%, transfusi sel darah merah harus diberikan untuk mencegah hematokrit turun di bawah 30% ketika isovolume dicapai. Transfusi darah sebaiknya berupa darah segar yang sesuai dan yang masih mengandung semua komponen darah, tetapi pemeriksaan terhadap penyakit menular (seperti HIV, sifilis, dan lain-lain} mutlak dilakukan dulu. Untuk efisiensi dan ketepatan pemakaian darah, dapat diberikan transfusi komponen darah seperti packed red cell (PRC), plasma beku segar (fresh frozen plasma), trombosit, dan lain-lain. Akan tetapi, karena pertimbangan waktu, pada penderita syok hemoragik yang gawat sering terpaksa digunakan darah donor universal. Pada lelaki sebaiknya diberikan darah golongan O dengan Rh (+), yang mudah didapat, sedangkan pada perempuan usia subur, sebaiknya diberikan golongan O dengan Rh (-) untuk menghindari sensitisasi ketika wanita itu hamil kelak. Transfusi darah golongan O dalam jumlah kecil dapat ditoleransi dengan baik, sedangkan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan koagulopati, asidosis,

hipokalsemi, hipomagnesemia, dan hipotermi. Keadaan yang dapat memengaruhi syok pada pasien trauma antara lain defisiensi tiamin, alkoholisme, dan hipotermia. Tiamin merupakan vitamin penting yang bila terdapat dalam jumlah kurang, dapat menyebabkan disfungsi jantung maupun neurologi. Pasien dengan beri-beri dapat menderita penyakit biventricular myocardial failure dengan vasodilatasi perifer. Pada pasien dengan defisiensi tiamin dapat juga ditemukan takikardia, hipotensi, tekanan pengisian jantung yang tinggi, dan asidosis. Pada alkoholisme, keadaan mabuk dapat memper buruk syok hemoragik. Gejala putus alkohol seperti delirium tremens dengan hiperaktivitas autonomik dan dehidrasi dapat menyerupai syok. Hipotermia adalah rendahnya suhu tubuh sampai di bawah 35C. Tanpa disertai trauma lain, suhu 35-32C disebut hipotermia ringan, suhu 32-30C adalah hipotermia sedang, dan suhu di bawah 30C tergolong hipotermia berat. Penderita trauma rawan mengalami hipotermia dan setiap derajat dari hipotermia sistemik pada penderita trauma, akan diperberat oleh cederanya. Suhu inti di bawah 36C, pada pasien trauma sudah dianggap hipotermia dan suhu inti di bawah 32C merupakan hipotermia berat. Secara fisiologis tubuh melakukan respons kompensasi dengan menaikkan suhu tubuh, dan ini dapat mengganggu usaha resusitasi. Termogenesis dengan menggigil meningkatkan konsumsi oksigen. Sementara itu, asidosis metabolik dan syok hipovolemik dapat terjadi atau kambuh pada pasien yang suhu badannya kembali normal karena vasodilatasi. Selain dapat terjadi pada pasien cedera berat dengan syok hemoragik, hipotermia juga dapat terjadi secara cepat bila tubuh terendam di dalam air bersuhu di bawah titik beku, atau terjadi perlahan bila berada dalam lingkungan suhu dingin. Orang tua juga lebih rentan terhadap trauma dingin karena terganggunya kemampuan menghasilkan panas dan menekan kehilangan panas melalui vasokonstriksi, sedangkan anak-anak lebih rawan terhadap

trauma dingin karena luas permukaan tubuhnya yang relatif lebih besar dan juga sumber energinya yang terbatas. Pengukuran suhu inti dapat dilakukan di daerah esofagus dan rektosigmoid. Suhu end badan dapat juga diukur dengan electronic thermistor di a.pulmonalis dan di buli-buli. Suhu juga dapat diukur pada membran timpani menggunakan pengajuk (probe) inframerah. Hasil pengukuran ini 0,3-0,4 lebih tinggi dibandingkan dengan suhu inti badan. INDIKASI & KONTRAINDIKASI TRANSFUSI DARAH Transfusi darah adalah tindakan memasukkan darah atau komponennya ke dalam sistim pembuluh darah seseorang. Komponen darah yang biasa ditransfusikan ke dalam tubuh seseorang adalah sel darah merah, trombosit, plasma, sel darah putih. Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuan menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalam jumlah yang tidak mencukupi. Tentu saja transfusi darah hanya merupakan pengobatan simptomatik karena darah atau komponen darah yang ditransffusikan hanya dapat mengisi kebutuhan tubuh tersebut untuk jangka waktu tertentu tergantung pada umur fisiologi komponen yang ditransfusikan; walaupun umur eritrosit adalah 120 hari namun bila ditransfusikan pada orang lain maka kemampuan transfusi tadi mempertahankan kadar hemoglobin dalam tubuh resipien hanya rata-rata satu bulan. Indikasi transfusi darah dan komponen-konponennya adalah : (3,5,12) 1. Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume dengan cairan. 2. Anemia kronis jika Hb tidak dapat ditingkatkan dengan cara lain. 3. Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen. 4. Plasma loss atau hipoalbuminemia jika tidak dapat lagi diberikan plasma substitute atau larutan albumin. Dalam pedoman WHO (Sibinga, 1995) disebutkan :

1. Transfusi tidak boleh diberikan tanpa indikasi kuat. 2. Transfusi hanya diberikan berupa komponen darah pengganti yang hilang/kurang. Pada anemia, transfusi baru layak diberikan jika pasien menunjukkan tanda Oxigen Need yaitu rasa sesak, mata berkunang, berdebar (palpitasi), pusing, gelisah atau Hb <6 gr/dl.(12) Pemberian sel darah merah, sering digunakan apabila kadar Hb kurang dari 6 gr%, dan hampir tidak diperlukan bila Hb lebih dari 10 gr% dan kalau kadar Hb antara 6-10gr%, maka transfusi sel darah merah atas indikasi keadaan oksigenasi pasien. Pada pemberian satu unit PRC akan meningkatkan hematokrit 3-7%. Indikasinya adalah: 1. Kehilangan darah >20% dan volume darah lebih dari 1000 ml. 2. Hemoglobin <8gr/dl. 3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya empisema, atau penyakit jantung iskemik) 4. Hemoglobin <10 gr/dl dengan darah autolog. 5. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator. Dapat disebutkan bahwa : Hb sekitar 5 adalah CRITICAL Hb sekitar 8 adalah TOLERABLE Hb sekitar 10 adalah OPTIMAL Transfusi mulai diberikan pada saat Hb CRITICAL dan dihentikan setelah mencapai batas TOLERABLE atau OPTIMAL. Golongan Darah

Golongan darah manusia terdiri dari 4 macam, yaitu A, B, AB, dan O. Selain itu, darah juga digolongkan menjadi Rh-positif dan Rh-negatif. Jadi, jika seseorang bergolongan darah A, maka ia mungkin bergolongan darah A positif atau A negatif. Golongan darah yang ditransfusikan harus sesuai dengan golongan darah penerima. Jika tidak, antibodi yang terdapat pada tubuh penerima akan menyerang darah yang ditransfusikan. Golongan darah O aman ditransfusikan ke semua golongan darah. Sekitar 40 persen penduduk mempunyai golongan darah O. orang dengan golongan darah O disebut juga donor universal. Golongan darah O biasanya ditransfusikan pada kasus gawat darurat dimana tidak cukup waktu lagi untuk melakukan tes golongan darah bagi korban. Orang-orang dengan golongan darah AB disebut penerima universal (universal recipient). Artinya, mereka dapat menerima darah dari golongan mana saja. Jika seseorang mempunyai golongan darah Rh-positif, maka ia dapat menerima darah Rh-positif maupun negatif. Tetapi mereka yang bergolongan darah Rh-negatif, hanya dapat menerima darah Rh-negatif juga. Darah Rh-negatif biasanya digunakan dalam situasi emergensi jika tidak ada waktu lagi untuk melakukan tes golongan Rh korban.

D . DISABILITY Sadarkah? Adakah trauma kepala?

Pada trauma dengan kecurigaan cidera tulang leher pasang collar brace sebelum dirujuk

Pengertian Disability Management: Menilai adanya gangguan fungsi otak dan kesadaran (penurunan suplai oksigen ke otak) Tujuan : Untuk dapat mengetahui fungsi otak/ kesadaran dengan metode AVPU dan GCS Prosedur Metode AVPU : Penilaian sederhana ini dapat digunakan secara cepat A = Alert/Awake : sadar penuh V = Verbal stimulation :ada reaksi terhadap perintah P = Pain stimulation : ada reaksi terhadap nyeri U = Unresponsive : tidak bereaksi Dan penilaian ukuran serta reaksi pupil : Ukuran dalam millimeter Respon terhadap cahaya / reflek pupil : ada / tidak, cepat atau lambat Simetris / anisokor

Gambar 1. Menilai Reflek Pupil Metode Penilaian Derajat Skala Koma Glasgow GCS (Glasgow Coma ScaleScore) : Penilaian ini dipakai lebih lanjut. Respon yang diberikan pada penderita adalah respon nyeri berupa : E-SCORE (kemampuan membuka mata/eye opening responses) Nilai 4 : membuka mata spontan (normal) 3 : dengan kata-kata akan membuka mata bila diminta 2 : membuka mata bila diberikan rangsangan nyeri 1 : tidak membuka mata walaupun dirangsang nyeri V-SCORE (memberikan respon jawaban secara verbal/verbal responses) Nilai 5 : memiliki orientasi baik karena dapat memberi jawaban dengan baik dan benar pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan (nama, umur, dll) 4 : memberikan jawaban pada pertanyaan tetapi jawabannya seperti bingung (confused conservation)

3 : memberikan jawaban pada pertanyaan tetapi jawabannya hanya berupa kata-kata yang tidak jelas (inappropriate words) 2 : memberikan jawaban berupa suara yang tidak jelas bukan merupakan kata (incomprehensible sounds) 1 : tidak memberikan jawaban berupa suara apapun M-SCORE (menilai respon motorik ekstremitas/motor responses) Nilai 6 : dapat menggerakkan seluruh ekstremitas sesuai dengan permintaan 5 :dapat menggerakkan ekstremitas secara terbatas karena nyeri (localized pain) 4 : respon gerakan menjauhi rangsang nyeri (withdrawal) 3 : respons gerak abnormal berupa fleksi ekstremitas. 2 : respons gerak abnormal berupa gerak ekstensi 1 : tidak ada respons berupa gerak

Gambar 2. Memberikan rangsang nyeri

Jika ragu dalam menilai GCS, tetapkan suatu nilai yang jika salah tidak merugikan penderita - kalau GCS rendah yang berakibat kita harus melakukan tindakan, berikan nilai rendah. - kalau GCS tinggi membuat harapan yang lebih baik, berikan nilai tinggi agar upaya medik menjadi maksimal. Skor Verbal Anak Nilai 5 : bicara jelas atau tersenyum, menuruti perintah 4 : menangis tetapi bisa dibujuk 3 : menangis tidak bisa dibujuk 2 : Gelisah, agitasi 1 : Tidak ada respon Penilaian GCS pada trauma kapitis : GCS 15 = kesadaran compos mentis (normal) GCS 14 = cedera kepala/otak ringan GCS 9 s/d 13 = cedera kepala sedang GCS 4 s/d 8 = cedera kapala berat GCS 3 = koma

Tindakan :

Pada dasarnya ditujukan pada optimalisasi aliran darah sistemik dan aliran darah otak (perfusi otak) dengan cara mencegah hipotensi, hipoksia dan mencegah peningkatan tekanan intrakranial

Bila disebabkan oleh hipertermia, diberikan obat anti piretik dan pendinginan (cooling) Bila disebabkan oleh hipertensi ensefalopati (systole > 200 mmHg) diberikan obat anti hipertensi

E. ENVIRONMENT Pada pemeriksaan fisik, lepas semua baju dan celana dan segera selimut kembali untuk mencegah hipotermia. Apabila korban datang dalam keadaan kondisi basah, segera keringkan dan selimuti dengan selimut kering Tempat kejadian perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Dasar pemeriksaan TKP adalah menjawab 6 pertanyaan (heksameter) yaitu apa yang terjadi, siapa yang tersangkut, dimana dan kapan terjadi, bagaimana terjadinya, dan dengan apa melakukannya, serta mengapa terjadi peristiwa tersebut. Persiapan dokter sebelum ke TKP adalah: 1. Mendapat permintaan pemeriksaan TKP dan jelas akan hal-hal siapa yang memintanya dating ke TKP, bagaimana permintaan tersebut sampai ke tangan dokter, waktu permintaan tersebut dibuat, dan lokasi TKP. 2. Informasi tenyang kasus yang terjadi. 3. Perlengkapan yang sebaiknya dibawa :

a. Kamera b. Lampu kilat c. Film berwarna dan hitam putih (untuk ruang gelap) d. Lampu senter e. Lampu ultraviolet f. Thermometer rectal g. Thermometer ruangan h. Amplop i. Kantong plastic j. Pinset k. Scalpel l. Jarum m. Tang n. Kapas o. Kertas saring p. Kaca pembesar q. Label r. Alat tulis Tindakan yang dikerjakan dokter di TKP adalah: 1. Menentukan korban masih hidup atau sudah mati 2. Bila masih hidup maka tindakan yang pertama dan utama dokter adalah menyelamatkan jiwa korban. 3. Bila korban telah mati, maka tugas dokter menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan saat kematian, menemukan dan mengamankan benda bukti biologis dan medis. Saat kematian diperkirakan dari penurunan suhu tubuh, lebam mayat, kaku mayat, dan perubahan postmortal lain. Mayat yang ditemukan dibungkus dengan plastik atau kantung khusus mayat. 4. Menentukan identitas korban.

5. Membuat jenis luka dan jenis kekerasan serta perkiraan sebab kematian. 6. Membuat sketsa sederhana keadaan TKP. 7. Mencari dan mengumpulkan benda-benda bukti biologis. Benda bukti berupa pakaian, bercak mani, bercak darah, rambut, obat, anak peluru, selongsong peluru, senjata diamankan dengan dimasukkan ke dalam kantong plastic secara hati-hati tanpa meninggalkan jejak sidik jari yang baru. Benda bukti cair dimasukkan ke dalam tabung reaksi kering. Benda bukti berupa bercak kering di atas dasar keras harus dikerok dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantung plastik, bercak pada kain diambil seluruhnya atau bila sangat besar, benda tersebut digunting dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantung plastik. Semua benda bukti diberi label dengan keterangan tentang jenis benda, lokasi penemuan, saat penemuan, dan keterangan lain. Selanjutnya mayat dan benda bukti biologis dikirim ke instalasi kedokteran forensic atau ke rumah sakit umum setempat. Benda bukti bukan biologis dapat langsung dikirim ke laboratorium kriminil/forensic kepolisian daerah setempat. Hindari tindakan yang dapat mempersulit pemeriksaan atau penyelidikan seperti : Memegang benda di TKP tanpa sarung tangan Mengganggu bercak darah Membuat jejak baru Memeriksa sambil merokok

CARDIO PULMONARY RESUSCITATION (CPR) Teknik Resusitasi Jantung Paru 1. Tanpa alat 30:2 dalam 2 menit (5 siklus) 2 orang penolong: Memberikan pijat jantung luar dan pernapasan buatan yang dilakukan oleh masing-masing penolong secara bergantian dengan perbandingan sama dengan 2 penolong yaitu 30:2 dalam 2 menit (7-8 siklus) 2. Dengan alat Untuk mencapai hasil yang lebih baik, pijat jantung tanpa sela maka harus diusahakan sesegera mungkin pemasangan intubasi endotrakeal. 1 orang penolong: Memberikan pijat jantung luar dan pernapasan buatan dengan perbandingan

Adults BLS

Satu penolong

1. Pada korban tidak sadar (periksa dengan tegur sapa, menepuk bahu, lalu beri rangsang nyeri/cubit untuk memastikan).

2. Sekaligus atur posisi korban, telentangkan di atas alas keras dengan cara log roll (menggelindingkan). Hati-hati bila ada kecurigaan patah tulang belakang.

3. Berusaha memberikan pertolongan segera dan minta bantuan (berteriak, call for help, dsb) tanpa meninggalkan pasien. 4. Periksa apakah pasien bernapas/tidak. 5. Bila tidak bernapas, buka dan bebaskan jalan napas: Head tilt, Chin Lift, Jaw thrust.

Head tilt

Chin Lift

Jaw Thrust

6. Periksa kembali apakah pasien bernapas atau tidak. Dengan posisi look listen feel selama 3-5 detik, tentukan pasien bernapas atau tidak.

7. Bila tidak bernapas, berikan napas 2 kali, tidak perlu berlebihan asal membuat dada mengembang. 8. Raba denyut karotis 5-10 detik.

Head Tilt atau Chin Lift dan 3 jari meraba denyut karotis 9. Bila tidak teraba, lakukan pijat jantung dari luar 30 kali pada titik tumpu tekan jantung, tekan tulang dada sampai turun dengan kedalam menekan sternum 4-5 cm. lakukan dengan kecepatan minimal 100 kali per menit. Lanjutkan pemberian napas buatan tanpa alat/dengan alat 2 kali, tidak perlu berlebihan asal membuat dada mengembang.

Titik tumpu tekan jantung: di tengah-tengah sternum

Siap melakukan pijat jantung, jari-jari kedua tangan penolong saling mencengkeram (interlocking)

POSISI PENOLONG SAAT PIJAT JANTUNG

Kedua lutut penolong merapat, lutut menempel bahu korban

Kedua lengan tegak lurus, pijatan dengan cara menjatuhkan berat badan penolong ke sternum, titik tumpu pijat jantung sedalam 4-5 cm 10. Lengkapi tiap siklus dengan perbandingan 30 pijatan dan 2 kali napas. 11. Evaluasi denyut karotis tiap 2 menit. Untuk 1 penolong, evaluasi dilakukan tiap akhir siklus ke-5. 12. Bila denyut karotis belum teraba, lanjutkan hingga nadi karotis berdenyut.

Dua penolong 1. Langkah 1-10 di atas tetap dilakukan oleh penolong pertama hingga penolong kedua datang. 2. Saat penolong pertama memeriksa denyut nadi karotis, penolong kedua mengambil posisi untuk menggantikan pijat jantung. 3. Bila denyut nadi belum teraba, penolong kedua langsung melakukan pijatan. Penolong pertama tidak perlu mendahului pijatan jantung dengan melakukan 2 kali tiupan napas.

4. Lakukan siklus pertolongan dengan perbandingan 30 kali pijat jantung (oleh penolong kedua) dan 2 kali napas buatan (oleh penolong pertama). 5. Lakukan evaluasi denyut nadi karotis setiap 2 menit atau untuk 2 penolong, evaluasi dilakukan tiap akhir siklus ke-7 atau ke-8. PEDIATRIC BLS

CHILD BLS 1. Langkah 1-8 tetap dilakukan, rasio pijatan dan tiupan napas 30:2. 2. Pijat jantung dengan menggunakan satu tangan dengan bertumpu pada telapak tangan di atas tulang dada, di tengah sternum. 3. Penekanan dilakukan sampai turun 3-4 cm dengan frekuensi minimal 100 kali per menit

INFANT BLS 1. Langkah 1-8 tetap dilakukan, rasio pijatan dan tiupan napas 30:2. 2. Untuk pijat jantung, gunakan penekanan dengan 2 jari tengah dan jari manis di atas tulang dada, 1 jari di bawah garis imajinasi antara puting susu. 3. Tekan tulang dada sampai turun sepertiga diameter anteroposterior rongga dada bayi dengan frekuensi minimal 100 kali per menit

TAMBAHAN !

Obat Gawat Darurat (Drugs Management)


Tujuan : Untuk mengembalikan fungsi sirkulasi dan mengatasi keadaan gawat darurat lainnya dengan menggunakan obat-obatan Perhatian !

Pemberian obat-obatan adalah orang yang kompeten di bidangnya (dokter atau tenaga terlatih di bidang gawat darurat) Mengingat banyaknya jenis-jenis kegawatdaruratan, maka pemberian obat yang disebutkan di bawah ini untuk mengatasi kegawatdaruratan secara umum sedangkan dalam menghadapi pasien, kita harus melihat kasus per kasus.

Jenis-jenis obat : Epinephrin

Indikasi : henti jantung (VF, VT tanpa nadi, asistole, PEA) , bradikardi, reaksi atau syok anfilaktik, hipotensi. Dosis 1 mg iv bolus dapat diulang setiap 35 menit, dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 22,5 kali dosis intra vena. Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5 mg sc dapat diulang setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardi atau hipotensi dapat diberikan epinephrine perinfus dengan dosis 1mg (1 mg = 1 : 1000) dilarutka dalam 500 cc NaCl 0,9 %, dosis dewasa 1 g/mnt dititrasi sampai menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis dapat mencapai 2-10 g/mnt

Pemberian dimaksud untuk merangsang reseptor adrenergic dan meningkatkan aliran darah ke otak dan jantung

Lidokain (lignocaine, xylocaine)

Pemberian ini dimaksud untuk mengatasi gangguan irama antara lain VF, VT, Ventrikel Ekstra Sistol yang multipel, multifokal, konsekutif/salvo dan R on T Dosis 1 1,5 mg/kg BB bolus i.v dapat diulang dalam 3 5 menit sampai dosis total 3 mg/kg BB dalam 1 jam pertama kemudian dosis drip 2-4 mg/menit sampai 24 jam

dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 22,5 kali dosis intra vena Kontra indikasi : alergi, AV blok derajat 2 dan 3, sinus arrest dan irama idioventrikuler

Sulfas Atropin

Merupakan antikolinergik, bekerja menurunkan tonus vagal dan memperbaiki sistim konduksi AtrioVentrikuler Indikasi : asistole atau PEA lambat (kelas II B), bradikardi (kelas II A) selain AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III (hati-hati pemberian atropine pada bradikardi dengan iskemi atau infark miokard), keracunan organopospat (atropinisasi)

Kontra indikasi : bradikardi dengan irama EKG AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III. Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total 0,030,04 mg/kg BB, untuk bradikardi 0,5 mg IV bolus setiap 3-5 menit maksimal 3 mg.

dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 22,5 kali dosis intra vena diencerkan menjadi 10 cc

Dopamin

Untuk merangsang efek alfa dan beta adrenergic agar kontraktilitas miokard, curah jantung (cardiac output) dan tekanan darah meningkat Dosis 2-10 g/kgBB/menit dalam drip infuse. Atau untuk memudahkan 2 ampul dopamine dimasukkan ke 500 cc D5% drip 30 tetes mikro/menit untuk orang dewasa

Magnesium Sulfat

Direkomendasikan untuk pengobatan Torsades de pointes pada ventrikel takikardi, keracunan digitalis.Bisa juga untuk mengatasi preeklamsia Dosis untuk Torsades de pointes 1-2 gr dilarutkan dengan dektrose 5% diberikan selama 5-60 menit. Drip 0,5-1 gr/jam iv selama 24 jam

Morfin

Sebagai analgetik kuat, dapat digunakan untuk edema paru setelah cardiac arrest. Dosis 2-5 mg dapat diulang 5 30 menit

Kortikosteroid Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi dan untuk mengurangi edema cerebri Natrium bikarbonat Diberikan untuk dugaan hiperkalemia (kelas I), setelah sirkulasi spontan yang timbul pada henti jantung lama (kelas II B), asidosis metabolik karena hipoksia (kelas III) dan overdosis antidepresi trisiklik.

Dosis 1 meq/kg BB bolus dapat diulang dosis setengahnya. Jangan diberikan rutin pada pasien henti jantung. Kalsium gluconat/Kalsium klorida

Digunakan untuk perbaikan kontraksi otot jantung, stabilisasi membran sel otot jantung terhadap depolarisasi. Juga digunakan untuk mencegah transfusi masif atau efek transfusi akibat darah donor yang disimpan lama

Diberikan secara pelahan-lahan IV selama 10-20 menit atau dengan menggunakan drip Dosis 4-8 mg/Kg BB untuk kalsium glukonat dan 2-4 mg/Kg BB untuk Kalsium klorida. Dalam tranfusi, setiap 4 kantong darah yang masuk diberikan 1 ampul Kalsium gluconat

Furosemide

Digunakan untuk mengurangi edema paru dan edema otak Efek samping yang dapat terjadi karena diuresis yang berlebih adalah hipotensi, dehidrasi dan hipokalemia Dosis 20 40 mg intra vena

Diazepam

Digunakan untuk mengatasi kejang-kejang, eklamsia, gaduh gelisah dan tetanus Efek samping dapat menyebabkan depresi pernafasan Dosis dewasa 1 amp (10 mg) intra vena dapat diulangi setiap 15 menit.

Dosis pada anak-anak

Epinephrin

Dosis 0,01/Kg BB dapat diulang 3-5 menit dengan dosis 0,01 mg/KgBB iv (1:1000)

Atropin

Dosis 0,02 mg/KgBB iv (minimal 0,1 mg) dapat diulangi dengan dosis 2 kali maksimal 1mg

Lidokain Natrium Bikarbonat

Dosis 1 mg/KgBB iv Dosis 1 meq/KgBB iv

Kalsium Klorida Dosis 20-25 mg/KgBB iv pelan-pelan Kalsium Glukonat Diazepam Furosemide Dosis 0,3-0,5 mg/Kg BB iv bolus Dosis 0,5-1 mg/KgBB iv bolus Dosis 60100 mg/KgBB iv pelan-pelan

Terapi Oksigen
Pengertian : Memberikan tambahan oksigen kepada pasien agar kebutuhan oksigennya terpenuhi Tujuan : Agar oksigenasi seluruh tubuh pasien adekuat Indikasi :

Sumbatan jalan nafas Henti nafas Henti jantung Nyeri dada/angina pektoris Trauma thorak Tenggelam Hipoventilasi (respirasi < 10 kali/menit) Distress nafas Hipertemia Syok Stroke (Cerebro Vasculer Attack) Keracunan gas Pasien tidak sadar

Peralatan :

Oksigen medis (oksigen tabung) Flowmeter/regulator Humidifier Nasal kanul Face mask Partial rebreather mask Non rebreather mask Venture mask Bag valve mask (ambu bag)

Konsentrasi oksigen tergantung dari jenis alat dan flowrate (liter permenit) yang diberikan. Kondisi pasien menentukan keperluan alat dan konsentrasi oksigen yang diperlukan.

Tabel 1. Jenis Peralatan dan Konsentrasi Oksigen

JENIS ALAT

KONSENTRASI OKSIGEN

ALIRAN OKSIGEN

Nasal kanula Simple Face Mask Partial Rebreather Non Rebrether Venturi Bag-Valve-Mask (Ambubag) Tanpa oksigen Dengan oksigen Dengan reservoir Perhatian :

24-32% 35-60% 35-80% 50-95/100% 24-50%

2-4 LPM 6-8 LPM 8-12 LPM 8-12 LPM 4-10 LPM

21% (udara) 40-60% 100% 8-10 LPM 8-10 LPM

- pemberian oksigen atas indikasi yang tepat - Awas pasien muntah, siapkan penghisap - Pantau pernafasan dan aliran oksigen (LPM) Catatan : - Oksigen dapat menyebabkan mukosa kering

- Pergunakan hummidifier pada pemberian oksigen > 30 menit - Terangkan pada pasien tindakan apa yang akan dilakukan. Tabel 2. Tabung oksigen dengan 2000 PSI

Ukuran Kecil Sedang Besar Untuk keselamatan

Vol (Liter) 300 650 3000

Durasi/Kecepatan Aliran 29 menit 50 menit 4 jam 41 menit

Jangan menggunakan minyak/pelumas pada alat-alat oksigen (tabung, regulator, fitting, valve, kran) Dilarang merokok dan menyalakan api dekat area oksigen Jangan simpan oksigen pada suhu lebih dari 125oF Pergunakan sambungan-sambungan reguler/valve yang tepat Tutup rapat-rapat katup/kran bila tidak dipakai Jaga tabung agar tidak jatuh Pilih posisi yangt epat pada saat menghubungkan katup/kran Yakinkan oksigen selalu ada Periksa dan pelihara alat-alat Pakailah oksigen dengan benar