Anda di halaman 1dari 13
Sintesis Senyawa Kompleks Ion Logam Mn(II) dengan Ligan 2-Feniletilamin Nourma Safarina*, Fahimah Martak 1 Jurusan
Sintesis Senyawa Kompleks Ion Logam Mn(II) dengan Ligan 2-Feniletilamin
Nourma Safarina*, Fahimah Martak 1
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
ABSTRAK
Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis senyawa kompleks ion logam Mn(II)
dengan ligan 2-feniletilamin. Proses sintesis diawali dengan penentuan panjang
gelombang maksimum senyawa kompleks dengan perbandingan mol logam dan ligan 1:1.
Panjang gelombang maksimum ini digunakan untuk metode variasi kontinu, dari metode
variasi kontinu akan diketahui rasio logam dan ligan yang digunakan untuk sintesis logam
Mn dan ligan 2-feniletilamin. Sintesis kompleks diawali dengan melarutkan MnCl 2 .2H 2 O
dan 2-feniletilamin dalam methanol, kedua larutan tersebut direaksikan dengan
mencampurkannya hingga terbentuk campuran yang homogen. Larutan ini ditutup dan
didiamkan dalam desikator hingga terbentuk kristal senyawa kompleks. Berdasarkan hasil
AAS, DTA/TGA, XRD, UV, FTIR, daya hantar listrik, mikrounsur C,H,N, dan suseptibilitas
magnetik menunjukkan bahwa hasil sintesis memiliki rumus molekul [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O dengan struktur oktahedral serta nilai momen magnet (μeff)
5,4 BM.
Kata Kunci: senyawa kompleks, ligan 2-feniletilamin, suseptibilitas magnetik
*Corresponding author Phone : +6285645144161
e-mail : imoutz_99@chem.its.ac.id
1 Alamat sekarang : Jur Kimia, Fak MIPA,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
I. PENDAHULUAN
Pentingnya material elektronik
dalam kehidupan sehari-hari
mengakibatkan banyak penelitian untuk
merancang material baru dengan sifat
yang lebih baik (Verdaguer, 2001)
material dengan sifat yang lebih unggul
dapat digunakan untuk display, memory
dan saklar molekular (Elmila, 2010).
Material elektronik dapat dibangun dari
senyawa kompleks. Senyawa kompleks
mononuklir umumnya bersifat
paramagnetik. Sifat magnetik senyawa
dapat ditingkatkan dengan pembentukan
kompleks polimer. Kompleks polimer
dihasilkan dari ligan multidentat yang
berikatan koordinasi dengan ion logam
sehingga terjadi interaksi ion logam dan
ligan.
Interaksi
antar
ion
logam
dan

ligan pada senyawa kompleks dapat menghasilkan senyawa yang bersifat

feromagnetik atau antiferomagnetik contoh senyawa kompleks yang bersifat feromagnetik adalah kompleks bimetalik oksalat [A][M II M III (C 2 O 4 ) 3 ] dengan A = tetrabutil fosfin (P(C 4 H 9 )), M II = Mn 2+ , Fe 2+ ,Co 2+ , Ni 2+ dan Cu 2+ sedangkan M III = Cr 3+ dan Fe 3+ (Martak, 2008) dan senyawa yang bersifat antiferomagnetik adalah Fe 2 (pm) dan Mn 2 (pm) dimana pm=pyromellitate (Kumagai, 2003). Pada kompleks [A][M II M III (C 2 O 4 ) 3 ] terjadi interaksi feromagnetik, namun transisi paramagnetik ke feromagnetik terjadi pada temperatur rendah yaitu 15 K (Martak, 2008) interaksi pada senyawa tersebut adalah interaksi intermolekular. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan interaksi pada senyawa adalah dengan pemilihan ligan yang dapat berinteraksi inter dan intramolekular. Interaksi ini dapat dihasilkan dengan pemilihan ligan yang tepat. Ligan yang digunakan

2-feniletilamin karena ligan 2-feniletilamin memiliki cincin fenil dan gugus amin. Gugus amin pada ligan tersebut
2-feniletilamin karena ligan 2-feniletilamin
memiliki cincin fenil dan gugus amin.
Gugus amin pada ligan tersebut dapat
diubah menjadi ammonium, sehingga
atom hidrogen yang terikat pada
ammonium dapat berikatan hidrogen
pada ligan yang terkoordinasi pada ion
logam. Hal tersebut menyebabkan
interaksi inter dan intramolekular
senyawa kompleks meningkat (Martak,
2010). Selain itu, gugus fenil pada ligan
2-feniletilamin menyebabkan ikatan
polimer yang membentuk lapisan-lapisan
kompleks polimer pada senyawa
kompleks. Ion logam yang digunakan
dalam penelitian ini adalah ion logam
Mn(II). Ion logam Mn(II) memiliki lima
elektron tidak berpasangan pada orbital
d. Jumlah elektron tidak berpasangan
lebih besar dapat meningkatkan sifat
magnetik senyawa.
mL
2.2 Sintesis Senyawa Kompleks [M(2-
fenil-etil ammonium) x ]MCl 2+x M=Mn 2+
Sejumlah 0,7299 gram
(0,0045mol) garam 2-fenil etil amin
hidroklorida dimasukkan ke dalam
beaker glass 100 mL kemudian
ditambahkan pelarut methanol, diaduk-
aduk sehingga 2-feniletilamin
hidroklorida tersebut larut. Mangan
klorida dihidrat sebanyak 0,7807 gram
(0,0045 mmol) juga dilarutkan dalam
methanol tetes demi tetes sampai
melarut ke dalam beaker glass 100 mL.
Kedua larutan (larutan mangan dihidrat
dan larutan ligan 2-feniletilamin
hidroklorida) tersebut dicampur.
Campuran ini diaduk apabila terjadi
endapan maka endapan tersebut
disaring, larutan filtratnya di letakkan
dalam desikator dan dibiarkan sampai
terbentuk Kristal. Kristal yang sudah
terbentuk karena penguapan pelarut
pada temperatur ruang akan disaring,
selanjutnya dianalisis formula dan
strukturnya dengan karakterisasi.
2.3 Karakterisasi Hasil Sintesis
O

2.3.1 Penentuan Kadar Ion Logam Persiapan larutan standar untuk ion logam besi digunakan: larutan MnCl 2 .4H 2 O konsentrasi 1000 ppm. Larutan standar ini dibuat dari 0,7363

gram MnCl 2 .4H 2 O dalam labu takar 250

yang kemudian ditambah 2.5 mL HCl

5 M dan aquades hingga tanda batas. Larutan ini disebut larutan induk. Larutan Mn standar 100 ppm diperoleh dari 10 mL larutan induk dimasukkan dalam labu takar 100 mL selanjutnya ditambahkan aquades hingga volume 100 mL. Kemudian diambil 2, 4, 6, 8, dan 10 ml dari larutan standar 100 ppm, dimasukkan kedalam labu takar 100 mL, lalu pada masing-masing larutan ditambah 1 mL HCl 5 M dan ditambahkan aquades hingga tanda batas. Larutan-larutan tersebut memiliki konsentrasi Mn(II) masing-masing sebesar 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm. Setiap larutan standar tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang 278.5 nm. Data yang diperoleh dibuat kurva standar yaitu hubungan antara konsentrasi dengan serapan. Larutan sampel disiapkan dengan metoda sebagai berikut: sebanyak 0.08 gram kompleks dengan formula struktur sementara [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 dilarutkan dalam aquades dan 1 mL HCl 5 M dalam labu takar 100 mL, kemudian ditambahkan aquades lagi hingga tanda batas. Larutan dengan konsentrasi 100 ppm tersebut diambil 4 mL dan 6 mL dengan menggunakan pipet volume dan dimasukkan masing-masing dalam labu takar 100 mL, selanjutnya ditambahkan aquadest hingga tanda batas. Larutan sampel dengan konsentrasi 4 ppm dan 6

ppm di ukur dengan AAS, hasil absorbansinya akan dibandingkan dengan kurva standar yang telah di buat dan dilakukan analisis kandungan logam Mn dalam sampel sehingga nantinya akan diketahui berapa persen jumlah logam Mn dalam sampel.

2.2.2 Penentuan Kandungan C, H dan N dalam Senyawa Alat untuk analisis mikrounsur C, H, N, S distandarisasi dengan L-Cistina Standard (C 6 H 12 N 2 O 4 S 2 , C = 29,99 %, H = 5,03 %, N = 11,66 % S= 26,69 % dan

= 26,63 %) sebelum digunakan.

Sebanyak 2.83 mg sampel ditempatkan dalam alumunium foil, kemudian ditambahkan vanadium(V) oksida untuk

menyempurnakan reaksi oksidasi. Sampel tersebut dimasukkan dalam pelat berlubang untuk dilakukan pembakaran dengan gas
menyempurnakan reaksi oksidasi.
Sampel tersebut dimasukkan dalam pelat
berlubang untuk dilakukan pembakaran
dengan gas oksigen. Selanjutnya alat
mikrounsur dijalankan dan komposisi C,
H, N dan S yang terkandung pada
senyawa terbaca pada layar monitor
komputer.
2.2.3 Penentuan Gugus Fungsi dengan
Spektroskopi Inframerah
Karakteristik senyawa kompleks
yang telah disintesis dapat dilakukan
dengan mengamati gugus fungsi pada
spektrum inframerah. Bahan yang
digunakam berupa padatan kompleks.
Pengukuran dilakukan dengan
pembuatan pelet, 1 miligram sampel
dicampur dengan 20 miligram KBr,
kemudian dimasukkan dalam press
holder, ditekan beberapa saat hingga
ketebalan 0,01 mm – 0,05 mm.
Selanjutnya pelet tersebut diukur
spektranya pada bilangan gelombang
<400 - 4000 cm -1 .
2.2.4 Pengukuran Daya Hantar Listrik
Larutan
Analisis hantaran dilakukan
menggunakan instrumen daya hantar
listrik di laboratorium energi ITS. Larutan
sampel dibuat dengan konsentrasi 0,01
M dalam pelarut metanol. Larutan
standar dibuat pada konsentrasi yang
sama dengan larutan sampel.
Larutan sampel ditimbang
sebanyak 0.022 gram dan ditambahkan
metanol hingga tanda batas dalam labu
ukur 50 mL. Larutan yang digunakan
sebagai standar untuk muatan +1 adalah
KCl. Larutan KCl konsentrasi 0,01 M
dibuat dengan melarutkan 0,0745 gram
KCl dalam 100 mL metanol pada labu
takar 100 mL. Adapun larutan standar
muatan +2 menggunakan larutan
MgCl 2 .6H 2 O. Di dalam labu takar 100 mL
dimasukkan 0,118 gram MgCl 2 .6H 2 O dan
dilarutkan dalam 100 mL metanol
sehingga diperoleh larutan dengan
konsentrasi 0,01 M. Untuk larutan
standar muatan +3 digunakan larutan
FeCl 3 .6H 2 O sebanyak 0,2705 gram dan
dimasukkan dalam pelarut metanol 100

mL. Prosedur teknisnya akan dijelaskan dalam lampiran.

2.2.5. Penentuan Strukur dengan Difraksi Sinar-X Powder Produk hasil sintesis dikarakterisasi dengan menggunakan difraksi sinar-X powder yang terdapat di reasearch center ITS, dengan sumber radiasi Cu – Kα. Difraksi dilakukan pada sudut 2θ antara 5 o sampai 90 o (sudut panjang) dengan interval kenaikan sudut sebesar 0,02 o .

2.2.6 Pengukuran Suseptibilitas Magnetik Pada Suhu Kamar Penentuan sifat magnetik dilakukan dengan Magnetic Susceptibility Balance. Dari nilai kerentanan magnetik yang terukur dapat diketahui momen magnetik senyawa hasil sintesis pada temperatur ruang. Mula-mula ditimbang berat tabung kosong Magnetic Susceptibility Balance (m 0 ), lalu diukur kerentanan magnetiknya (R 0 ). Pada penelitian ini, massa tabung yang akan digunakan adalah 0,8019 gram dengan nilai R 0 = -35. Selanjutnya tabung kosong diisi sampel dan diukur tinggi sampel dalam tabung tersebut. Tabung yang berisi sampel ditimbang. Selanjutnya tiap tabung yang telah berisi sampel tersebut dimasukkan dalam alat Magnetic Susceptibility Balance untuk ditentukan nilai kerentanan magnetik (R). Dari data ini kemudian dilakukan perhitungan momen magnetik senyawa kompleks pada temperatur ruang. Alat MSB ditempatkan di atas permukaan datar dan penunjuk permukaan (water- pass) berada tepat ditengah lingkaran penunjuk. Kemudian alat dihidupkan dan dibiarkan selama beberapa menit. Ditimbang berat tabung kosong MSB (m 0 ), lalu diukur kerentanan magnetnya (R 0 ). Tabung kosong diisi sample sehingga ketinggian sampel melebihi 1.5 cm dan maksimal 2.5 cm (l). Tabung yang berisi sample ditimbang (m), selanjutnya dimasukkan dalam alat MSB untuk ditentukan nilai kerentanan magnet (R).

Dari harga kerentanan magnet yang terukur, dihitung nilai susebtibilitas magnetik masssa, dengan persamaan : c
Dari harga kerentanan magnet
yang terukur, dihitung nilai susebtibilitas
magnetik masssa, dengan persamaan :
c l R  R
.
.(
0 )
(3.1)
g
(
m  m
0 ).10
9
Nilai susebtibilitas magnetik masssa
dikonversi menjadi susebptibilitas molar
( m ) menurut persamaan :
 m =g.Mr
(2.2)
Nilai suseptibilitas molar dikoreksi
dengan faktor koreksi diamagnetic,
sehingga diperoleh nilai suseptibilitas
molar terkoreksi ( A ) sebagai berikut :
 A = m - D
(2.3)
Nilai momen magnetik effektif ( eff ) dapat
dihitung dengan persamaan :
 eff =(8 A .T) ½
(2.4)
Nilai fraksi mol spin tinggi dapat
ditentukan berdasar nilai  A T atau  eff
dengan menggunakan persamaan :
 A T=X HS  HS +(1-X HS ) LS
(2.5)
Berdasarkan hubungan  terhadap  eff
yang ditunjukkan pada persamaan (3.4)
dan (III.5) dapat ditulis sebagai berikut :
( 2 ) T =X HS ( 2 HS )+(1-X HS )( 2 LS )
(2.6)
X HS adalah fraksi mol spin tinggi,  HS
adalah nilai momen magnet spin tinggi
besi(II) ditentukan sebesar 5.4 BM dan
 LS )adalah nilai magnet spin rendah
besi(II) sebesar 0.7 BM (Onggo, D. dan
Sugiharto, 2001).
1,483
B
1.6
1.4
1.2
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
-0.2
150
200
250
300
350
400
450
500
550
600
panjang gelombang
absorbansi

2.2.7. Pengukuran DTA/TGA Differential Thermal Analysis (DTA), prinsipnya adalah mengukur perbedaan temperature antara sampel dan materi pembanding inert sebagai fungsi temperatur, jika temperatur keduanya dinaikkan dengan kecepatan sama dan konstan. Proses yang terjadi dalam sampel adalah eksoterm dan endoterm, yang ditampilkan dalam bentuk termogram differensial (Skoog, 1998). Sedangkan Pada analisis termogravimetri, perubahan berat sampel diamati sebagai fungsi temperatur. Informasi yang diperoleh dari metode termografimetri terbatas pada

Gambar3.1 kurva panjang gelombang maksimum logam dan ligan dengan perbandingan 1:1

dekomposisi, reaksi oksidasi dan beberapa proses fisik seperti penguapan, sublimasi dan desorbsi (Skoog,1998). Pengukuran termogravimetri (TG) dilakukan di Laboratorium Energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, menggunakan mettler toledo TG/DTA. Sebanyak 5–10 mg sampel diletakkan pada cawan alumunium kemudian ditimbang massanya selama pemanasan. Pengukuran dilakukan pada rentang temperatur 20–600°C dengan laju pemanasan 10 °C/menit.

2.2.8 Karakterisasi dengan UV Spektrum UV/Vis sampel diukur menggunakan spektofotometer UV-Vis di research center ITS Surabaya pada daerah panjang gelombang 200–550 nm. Sampel dibuat dalam bentuk larutan 0,01 M dalam pelarut metanol. Lebar kuvet yang digunakan adalah 1 cm.

III. HASILPENELITIAN 3.1 Preparasi Sintesis Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan sebelum melakukan sintesis senyawa kompleks untuk mendapatkan rasio yang tepat antara logam dan ligan agar menghasilkan kristal senyawa kompleks yang optimal. Ligan 2-feniletilamin dan logam MnCl 2 .2H 2 O dilarutkan dalam pelarut methanol dengan perbandingan mol logam dan mol ligan yaitu 1:1. Serapan kompleks yang paling tinggi diperoleh dari perbandingan logam dan ligan 1:1 pada panjang gelombang maksimum 212 nm dengan absorbansi

Panjang gelombang maksimum tersebut digunakan untuk metode kontinu. Hasil dari metode kontinu menjadi acuan dalam
Panjang gelombang maksimum
tersebut digunakan untuk metode
kontinu. Hasil dari metode kontinu
menjadi acuan dalam sintesis senyawa
kompleks. Perbandingan mol logam dan
ligan yang diperoleh dari metode kontinu
adalah 5:5 atau 1:1 yang ditunjukkan
pada gambar 4.2. Panjang gelombang
senyawa kompleks disekitar 200-300nm
bisa disebabkan oleh warna logam
mangan hidrat yaitu merah muda agak
memudar, saat logam mangan dilarutkan
dengan methanol warnanya menjadi
jernih.
0.020
0.015
0.010
0.005
0.000
organik digunakan karena methanol
mudah menguap dan tidak ikut bereaksi
menjadi ligan. Pelarut tidak
menggunakan aquades dikhawatirkan
saat pelarutan aquades akan bereaksi
menjadi ligan.
Kedua larutan antara larutan
MnCl 2 .2H 2 O dan larutan 2-feniletilamin
hidroklorida direaksikan bersama dengan
cara diaduk-aduk menggunakan spatula.
Pengadukan dilakuka untuk
mempercepat reaksi supaya larutan larut
sempurna. Larutan yang sudah jadi
ditutup dengan alumunium foil dan
diletakkan dalam desikator yang tertutup.
Desikator mengandung silika yang
berfungsi untuk menyerap methanol atau
uap air sehingga kristal terbentuk dengan
baik. Kristal yang sudah terbentuk dalam
desikator juga terlindungi dari
kontaminasi udara.
Kristal senyawa kompleks yang
sudah terbentuk berwarna merah muda
ke oranye-oranyean. Warna ini
dihasilkan dari warna merah muda
MnCl 2 .2H 2 O yang bereaksi dengan
larutan ligan 2-feniletilamin.
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
fraksi mol
Persamaan antara logam mangan dan
ligan 2-feniletilamin
Gambar 3.2 kurva perbandingan logam dan
ligan terhadap absorbansi
NH 2
2
.HCl + MnCl 2 .2H 2 O
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O + 2HCl
Kurva pada gambar 4.2
menunjukkan perbandingan logam dan
ligan 5:5 atau 1:1, puncak paling tinggi
terletak pada angka 0,5 yang berarti
perbandingan logam dan ligan 5:5 atau
1:1. Kristal senyawa kompleks [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 bisa terbentuk
dengan maksimal pada panjang
gelombang tersebut. Untuk lebih jelasnya
bisa dilihat pada tabel 4.1.
Methanol
Terbentuknya Kristal dibutuhkan
waktu selama tujuh hari. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
kristal yaitu panjang gelombang senyawa
kompleks, pengadukan saat
mencampurkan larutan logam dan ligan,
kondisi udara disekitar larutan. Kristal
yang sudah terbentuk dilakukan
karakterisasi untuk mengetahui
komponen kristal senyawa kompleks
tersebut. Karakterisasi yang dilakukan
antara lain adalah analisis mikrounsur
C,H, N, analisis DTA/TGA, analisis AAS,
analisis FTIR, analisis XRD, analisis UV,
analisis daya hantar listrik, dan analisis
suseptibilitas magnetik.
absorbansi

3.2 Sintesis Senyawa [M(2-feniletilamin) x (H 2 O) y ]Cl z M = Mn 2+ Senyawa kompleks ion logam Mn (II) dengan ligand 2-feniletilamin disintesis dari reaksi senyawa mangan klorida dihidrat (MnCl 2 .2H 2 O) dengan 2- feniletilamin hidroklorida. Rasio antara kedua senyawa adalah 1:1 menggunakan rasio mol dalam pelarut methanol dari hasil metode kontinu. Methanol yang merupakan pelarut

Gambar 3.3 hasil sintesis logam Mn dengan ligan 2-feniletilamin
Gambar 3.3 hasil sintesis logam Mn dengan
ligan 2-feniletilamin

3.3 Analisa Unsur C, H, N Analisis ini digunakan untuk menentukan komposisi relatif atom karbon, hidrogen, nitrogen dan sulfur yang ada pada senyawa kompleks karena senyawa ini tidak mengandung sulfur maka peresentase sulfur tidak digunakan. Hasil dari analisis mikrounsur tersebut akan dibandingkan dengan perhitungan teoritis untuk mencari rumus molekul yang paling sesuai. Perhitungan teoritis ada di lampiran. Hasil pengukuran sampel dari eksperimen dibandingkan dengan perhitungan teoritis formula senyawa [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 lebih kecil kecuali untuk atom C. Hal ini bisa dikarenakan adanya atom tambahan dalam senyawa koordinasi, misalnya senyawa kompleks terikat dengan pelarut atau air kristal (hidrat). Penambahan inti atom Mn pada senyawa kompleks probabilitasnya sangat kecil karena Mn mempunyai massa atom relatif yang besar sekitar 12,5% dari massa atom relatif [Mn(2- feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 . Selain itu, klorin juga dapat mempengaruhi rumus molekul karena klorin terjadi karena hasil samping MnCl 2 .2H 2 O tetapi probabilitasnya kecil karena massa atom Cl 2 besar yaitu 16,13% dari massa atom relatif [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 . Air kristal atau air hidrat satu- satunya yang sesuai sebagai senyawa tambahan dalam senyawa koordinasi [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 . Air kristal bisa berasal dari hasil samping dari reaksi MnCl 2 .2H 2 O dan 2-feniletilamin. Sedangkan untuk pelarut methanol,

probabilitasnya kecil karena bila bertambahnya methanol maka akan meningkatkan prosentase C pada sampel hasil sintesis. Jumlah air kristal yang sesuai untuk perbedaan persentase karbon, hidrogen, dan nitrogen tidak lebih dari 1 molekul sehingga sementara rumus molekulnya [Mn(2- feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O. Karakterisasi yang lain masih diperlukan karena sangat menentukan rumus molekul sampel yang sebenarnya.

3.4 Analisis dengan DTA/TGA Analisis menggunakan termogravimetri berprinsip pada pengurangan berat sampel sebagai fungsi temperatur atau waktu ketika dilakukan pemanasan. Pada temperatur tertentu akan terjadi dekomposisi senyawa sampel. Berat sampet pada temperatur tersebut akan dibandingkan dengan berat senyawa awal, maka akan dapat diketahui spesi apa yang terdekomposisi maupun yang tersisa. Hasil analisis bisa diplot dalam kurva persen berat sebagai fungsi temperatur yang disebut termogram atau kurva dekomposisi termal. Biasanya disertakan pula kurva turunan pertama termogram terhadap waktu, bernama kurva DTG (Differential Termal Gravity) yang bertujuan untuk memudahkan penentuan temperatur dekomposisi. Sedangkan untuk DTA (Differential Termal Analysis),prinsipnya adalah mengukur perubahan temperatur antara senyawa sampel dengan standar (blanko) selama pemanasan. Kurva DTA dapat digunakan untuk menentukan apakah dekomposisi berlangsung eksotermik atau endotermik. Proses eksotermik akan menghasilkan puncak, sedangkan untuk proses endotermik akan menghasilkan lembah. Kurva pada gambar 3.3 menunjukkan, ketika pada temperatur 90 0 C berat sampel berkurang sebanyak 1,3669% atau 0,1072 mg dan pada temperatur 180 0 C terjadi pengurangan berat sampel sebanyak 1,1314% atau 88,727 x 10 -3 mg, pengurangan berat sampel pada temperatur 90 0 - 180 0 C tersebut bisa terjadi karena dekomposisi air sebagai air kristal. Pada temperatur

sekitar 240-320 0 C berat sampel berkurang sebanyak 40,6529% setara dengan 3,1882 mg sampel. Hal
sekitar 240-320 0 C berat sampel
berkurang sebanyak 40,6529% setara
dengan 3,1882 mg sampel. Hal ini terjadi
karena dekomposisi ligan atau
dekomposisi atom yang terikat pada
senyawa kompleks. Pengurangan berat
senyawa kompleks tersebut berasosiasi
dengan satu molekul klorin (Cl 2 ), 2
molekul air sebagai ligan dan satu gugus
fenil dalam ligan 2-feniletilamin.
Tabel 3.1 data hasil analisis termogravimetri
senyawa kompleks [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2
Suhu
% berat
%
dekom
teoritis
berat
Spesi
posisi
sisa
0
( C)
0
100
100
92,91
98,03
[Mn(L) 2 (H) 4 ]Cl
[Mn(L) 2 (H) 4 ]Cl
2 .H 2 O
2. 0,5H 2 O
98,6337
151,66
96,07
97,5017
2
283,37
55,89
56,8488
310,04
38,42
[Mn(L) 2 (H) 4 ]Cl
[Mn(C 10 H 16 N 2 )(H 2 O) 2 ]
[Mn(C 8 H 11 N)]
37,8546
Endotermis
-1,3669 %
-1,1314 %
-40,6529 %
-18,9442 %
Gambar 3.4 kurva DTA/TGA
Kurva pada gambar 3.4
menunjukkan garis yang menurun tajam
(garis berwarna hitam) sampai pada
temperatur 312 0 C. Penurunan garis
tersebut bisa disebabkan oleh
terdekomposisinya gugus amin dan sisa
ligan air (dua molekul air pada senyawa
kompleks), sehingga yang tersisa adalah
logam mangan dengan satu molekul
ligan 2-feniletilamin. Pada temperatur
320 0 C satu ligan 2-feniletilamin yang
masih terikat pada logam mangan
mengalami dekomposisi sehingga residu
yang tersisa adalah logam mangan
dalam bentuk oksida. Proses
melepasnya suatu senyawa atau atom
yang terikat pada senyawa kompleks
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 bisa dilihat
pada tabel 3.1
Pada gambar 3.4 kurva DTA yang
ditunjukkan pada garis yang berwarna
merah, garis tersebut terus menurun
sampai pada suhu 500 0 C sehingga
membentuk lembah. Hal ini menunjukkan
proses lepasnya hidrat atau air kristal,
ligan air maupun 2-feniletilamin dan atom
lain yang terikat pada senyawa kompleks
seperti Cl 2 adalah proses endotermis.
Kalor diperlukan untuk memutus ikatan
air Kristal, ikatan koordinasi ligan, Cl 2
dan mendekomposisinya. Kesimpulan
awal dari kurva DTA diatas menunjukkan
bahwa senyawa kompleks [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 mengalami
reaksi endotermis, hal ini sesuai dengan
grafik pada gambar 3.3 yang membentuk
lembah.
Hasil analisis termal TGA/DTA
bisa menunjukkan jumlah hidrat yang
terikat pada senyawa kompleks, pada
kasus ini dapat diketahui bahwa terdapat
satu molekul air hidrat dalam senyawa
kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2
dan proses pelepasan semua molekul
mengalami proses endotermis sehingga
rumus molekul sementara yang tepat
yaitu [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O.
Rumus molekul ini sama dengan hasil
perkiraan pengukuran analisis
mikrounsur C, H, N tetapi masih ada
karakterisasi lain yang harus dilakukan
untuk membuktikan apakah rumus
molekul sampel senyawa kompleks
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O
benar-benar tepat.

3.5 Analisis Daya Hantar Listrik Daya hantar listrik larutan umumnya menggunakan kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus

listrik. Faktor yang mempengruhi daya hantar listrik suatu larutan adalah jumlah, ukuran, dan muatan ion-ion
listrik. Faktor yang mempengruhi daya
hantar listrik suatu larutan adalah jumlah,
ukuran, dan muatan ion-ion yang
terdapat dalam larutan itu. Daya hantar
listrik berhubungan dengan pergerakan
suatu ion dalam larutan, ion mudah
bergerak berarti mempunyai daya hantar
listrik yang besar sehingga bisa diketahui
pergerakan ion senyawa kompleks
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O.
Pada tabel 3.3 menampilkan
hantaran molar senyawa kompleks
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O di
dalam pelarut methanol yang diukur
pada temperatur kamar. Seluruh larutan
baik larutan standar maupun larutan
sampel mempunyai konsentrasi 0,01 M
dan hantarannya diukur pada temperatur
kamar. Larutan standar yang digunakan
adalah KCl untuk muatan +1,
MgCl 2 .6H 2 O dengan muatan +2, dan
FeCl 3 .6H 2 O untuk muatan +3
Tabel 3.2 Data hantaran molar [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O)]Cl 2
Larutan Standar
Λ (S. cm 2 mol −
Perbandi
ngan
elektrolit
Methanol
KCl 0,01 M
MgCl 2 .6H 2 O 0,01 M
FeCl 3 .6H 2 O 0,01 M
Cuplikan
2,45 x 10 -7
1,702 x 10 -5
9,6 x 10 -5
6,13 x10 -5
1,004 x 10 -4
-
1:1
2:1
3:1
2:1

Hasil analisis hantaran [Mn(2- feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 dalam pelarut methanol menunjukkan senyawa ini termasuk larutan elektrolit dengan perbandingan 2:1 bisa dilihat pada tabel 3.2. Daya hantar listrik larutan elektrolit dapat dinyatakan sebagai daya hantar molar (Λm) yang didefinisikan sebagai daya hantar yang ditimbulkan oleh satu zat mol sesuai dengan persamaan 2.5. Senyawa [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 menunjukkan perbandingan besar muatan kation : anion = 2:1 yang berarti klorida dalam senyawa kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 berkedudukan sebagai anion dan 2- feniletilamin berperilaku sebagai ligan, dapat diketahui ligan 2-feniletilamin termasuk ligan unidentat karena ligan 2- feniletilamin hanya menyediakan satu pasangan elektron bebas pada gugus

amina. Struktur senyawa kompleksnya [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O.

3.6 Analisis dengan AAS Prinsip instrumen AAS didasarkan pada penyerapan energi oleh atom dengan sumber energi berupa lampu katode berongga (Hollow Catode Lamp), serta nyala pembakar berguna untuk mengaktifkan atom-atom logam sebelum menyerap energi. Atom-atom tersebut akan mengalami transissi bila menyerap energi. Energi akan dipancarkan ketika atom tereksitasi kembali ke tingkat energi dasar. Detektor akan mendeteksi energi yang terpancar tersebut (Hendayana, 1996). Cuplikan yang diukur oleh AAS adalah berupa larutan yang jernih karena kekeruhan bisa menyumbat pipa kapiler, pada analisis menggunakan air sebagai pelarut. Larutan cuplikan mengalir ke dalam ruang pengkabutan, karena terisap oleh aliran gas bahan bakar dan oksigen yang cepat. Setiap pengukuran

dengan AAS harus menggunakan hollow katode lamp khusus. Hollow katode lamp

berfungsi untuk memancarkan energi radiasi, pemancaran energi radiasi disesuaikan dengan energi yang diperlukan untuk transisi elektron atom. Analisis AAS pada penelitian ini menggunakan HCl 5 M untuk menstabilkan dan memecah sampel agar memudahkan pengukuran dengan AAS. Hasil analisis menggunakan AAS ini menunjukkan kadar logam mangan pada sampel senyawa kompleks [Mn(2- feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 adalah sebanyak 11,75% untuk 5ppm sedangkan kandungan logam mangan sebanyak 12,15% untuk larutan sampel dengan konsentrasi 7ppm. Untuk lebih jelas dibuat tabel rumus molekul yang memungkinkan pada tabel 4.7. Berdasarkan perhitungan teoritis dan hasil pengukuran sampel ada tiga rumus molekul yang memiliki selisih tidak sampai 0,5%, maka karakterisasi DTA/TGA dan mikrounsur C, H, N sangat berpengaruh dalam menentukan rumus molekul yang tepat. Perhitungan secara teoritis untuk kandungan logam mangan dengan Mr

[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 adalah 12,5% hampir mirip dengan hasil eksperimen,
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 adalah
12,5% hampir mirip dengan hasil
eksperimen, tetapi ketika menggunakan
rumus molekul tersebut maka ada
perbedaan yang cukup besar pada
kandungan C dan H dari hasil analisis
mikrounsur C, H, N. Selain itu, pada
analisis TGA menunjukkan adanya
molekul hidrat atau air kristal yang
terdekomposisi pada suhu 90 0 C dan
190 0 C sehingga rumus molekul
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 masih
belum tepat.
Perhitungan teoritis untuk
kandungan mangan dalam larutan
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O
menunjukkan kemiripan yaitu 12% kadar
mangan sehingga rumus molekul
senyawa
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O
senyawa
sampel
adalah
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O untuk
sementara tepat. Data dari karakterisasi
sebelumnya yaitu mikrounsur C, H, N
dan karakterisasi DTA/TGA juga
mendukung rumus molekul
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O tepat.
Pada perhitungan teoritis rumus
molekul senyawa kompleks
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .1,5H 2 O
juga terdapat kandungan logam mangan
dengan konsentrasi yang hampir mirip
yaitu 11,78% tetapi berdasarkan hasil
analisis karakterisasi mikrounsur C, H, N
kandungan C untuk rumus molekul
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .1,5H 2 O
cukup jauh perbedaannya yaitu 41,11%
sedangkan hasil pengukuran mikrounsur
C, H, N 42,3287% dan kandungan N
pada rumus molekul [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .1,5H 2 O yaitu
5,99% sedangkan hasil pengukuran
mikrounsur C, H, N menunjukka
persentase N sebanyak 6,5521%.
Analisis DTA/TGA menunjukkan adanya
satu molekul hidrat yang terdekomposisi
pada suhu 90 0 C dan 180 0 C sehingga
rumus molekul tersebut belum bisa
menjadi rumus molekul yang tepat.
Tabel 3.3 rumus molekul dari analisa AAS
Komposisi senyawa kompleks
Mr
%Mn
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2
440
12,5
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O
458
12
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .1,5H 2 O
467
11,78
[Mn(2-feniletilamin) 4 (H 2 O) 2 ]Cl
[Mn(2-feniletilamin) 3 (H 2 O) 3 ]Cl
646
8,5
2
543
10,5
2

3.7 Analisis dengan Suseptibilitas Magnetik Pengukuran momen magnet dengan metode Guoy, yang dilakukan

pada penelitian ini berprinsip pada pengukuran perubahan berat sampel karena adanya tolakan diamagnetik dan tarikan paramagnetik tehadap medan magnet yang diberikan. Analisis suseptibilitas magnetik

kompleks

menunjukkan momen magnet sebesar 5,4 BM pada temperatur kamar (perhitungan ada di lampiran). Hal ini menunjukkan ion Mn (II) pada sampel

kompleks

[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O bersifat paramagnetik dan mempunyai spin tinggi. Apabila dibandingkan dengan perhitungan momen magnetik teoritisnya (μs) yaitu 5,9 BM untuk spin tinggi. Perbedaan momen magnet teori dan percobaan bisa disebabkan karena orbital contribution yaitu kontribusi momen magnet oleh bilangan kuantum magnet yang tidak di kompeser. Untuk orbital d harganya dapat +2, +1, 0, -1, -2 sehingga untuk ion d 5 ada tambahan momen magnet sebesar enam quanta. Dari momen magnetik bisa diketahui apakah ligan yang digunakan adalah ligan lemah atau ligan kuat, dalam penelitian ini dapat diketahui ligan 2- feniletilamin termasuk ligan lemah karena logam Mn pada senyawa kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O termasuk spin tinggi, ligan tidak bisa menggeser posisi elektron pada orbital d

mangan sehingga pasangan elektron bebas ligan mengisi orbital s, p dan d yang masih kosong.

3.8 Analisis dengan FTIR Analisis dengan FTIR digunakan untuk mendukung penentuan formula senyawa kompleks yang telah dihasilkan. Spektrum ini digunakan untuk mengkonfirmasi keberadaan gugus- gugus fungsi dalam senyawa [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O. Senyawa kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O

diukur pada bilangan gelombang 4000- 300 cm -1 . Puncak yang paling tinggi berada disekitar
diukur pada bilangan gelombang 4000-
300 cm -1 . Puncak yang paling tinggi
berada disekitar bilangan gelombang
3410,15cm -1 dan 3170,97 - 3116,97cm -1 .
Gambar 3.5 data dari pengukuran FTIR
Untuk bilangan gelombang
3410,15 cm -1 menandakan gugus O – H
yang berfungsi sebagai ligan dan terikat
pada logam Mn. Puncak yang sangat
kuat juga terdapat pada bilangan
gelombang 3170,97-3116,97 cm -1 ini
menunjukkan pada bilangan gelombang
tersebut terdapat =C – H sp 2 pada
benzene. Bilangan gelombang yang
menunjukkan adanya gugus amina
terdapat pada bilangan gelombang
1327,07 cm -1 dan 1257,59 cm -1 . Dalam
data inframerah tersebut juga
menunjukkan adanya gugus benzene
dengan substitusi mono pada panjang
gelombang 748,38 cm -1 dan 694,37 cm -1 .
Alkil halida juga terdapat pada bilangan
gelombang 594,08 cm -1 . Sedangkan
untuk ikatan logam mangan dengan ligan
ditunjukkan pada bilangan gelombang
493,78-324,04 cm -1 .
a
b

3.9 Analisis dengan XRD Hasil XRD menunjukkan senyawa [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O berbentuk kristal, hal ini dilihat dari puncak-puncak yang ada pada gambar 3.6. Data dari XRD diolah dengan software fullprof untuk mengetahui bentuk kristal, space group dan unit cellnya. Hasil dari pengolahan menggunakan software fullprof untuk [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O dapat diketahui bentuk kristalnya yaitu tetragonal dengan space group p4/mmm.

Unit cell dari senyawa kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O adalah a = 4,905 b = 4,905 c = 19,6782 dan untuk α = 90 β = 90 γ= 90. Hasil uji difraksi sinar X menunjukkan bahwa senyawa kompleks berupa padatan kristalin. Ini tercermin dari tajamnya puncak-puncak difraksi yang muncul pada difraktogram. puncak yang paling tinggi muncu pada 2θ = 9,01145 ; 31,81440 ; 41,25341 dan 13,51574.

muncu pada 2θ = 9,01145 ; 31,81440 ; 41,25341 dan 13,51574. Gambar 3.6 a. Senyawa MnCl
muncu pada 2θ = 9,01145 ; 31,81440 ; 41,25341 dan 13,51574. Gambar 3.6 a. Senyawa MnCl

Gambar 3.6 a. Senyawa MnCl 2 2H 2 O. b Senyawa kompleks Mn(II) dan 2-feniletilamin

3.10.Analisis dengan UV Analisis menggunakan UV memperlihatkan spektrum [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O terdapat dua puncak serapan, masing- masing pada 212 dan 258 nm. Panjang gelombang 212nm menghasilkan puncak yang tinggi dengan absorbansi 2,797 dan untuk panjang gelombang 258nm menghasilkan puncak yang agak rendah dengan absorbansi 0,252. Puncak- puncak serapan tersebut hasil dari transisi intraligan 2-feniletilamin yang

terkoordinasi dengan atom pusat Mn(II). Puncak serapan pada panjang gelombang 212 berada di daerah UV
terkoordinasi dengan atom pusat Mn(II).
Puncak serapan pada panjang
gelombang 212 berada di daerah UV
disebabkan karena terjadinya transisi
elektron π π* sistem aromatik. Puncak
serapan sampel dengan pengukuran
panjang gelombang maksimum 1:1
adalah sama pada serapan 212 dan 258
Keterangan untuk gambar tiga dimensi:
Warna biru muda = karbon
Warna biru tua = Nitrogen
Warna merah = oksigen
Warna abu-abu = logam mangan
IV. KESIMPULAN
2,797
B
3.0
2.5
2.0
1.5
0,252
1.0
0.5
0.0
200
250
300
350
400
450
500
panjang gelombang
Gambar 3.7 spektra UV senyawa kompleks
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O
3.11 Prediksi Struktur
Berdasarkan dari seluruh
rangkaian analisis dan karakterisasi
sebelumnya, struktur senyawa koordinasi
[Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O bisa
dipastikan berbentuk oktahedral dan
ligan 2-feniletilamin berkoordinasi
unidentat. Medan ligan tergolong lemah
karena tidak bisa mendorong elektron
pada orbital d mangan sehingga
menyebabkan
[Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O mempunyai
spin tinggi dan bersifat feromagnetik.
Senyawa koordinasi [Mn(2-
feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O juga
mempunyai sifat magnetik yang tinggi
dan bisa digunakan untuk aplikasi
selanjutnya pada display atau memori.
Pada gambar tidak ditunjukkan atom
klorin dan air Kristal.
VI. DAFTAR PUSTAKA
NH
H O
OH
Batten,
R.
S.
Mn
H O
OH
H N
State
and
107-114.
Gambar 3.7 prediksi struktur senyawa
kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O) 4 ]Cl 2 .H 2 O
absorbansi

Senyawa kompleks dari ion logam Mn(II) dengan ligan 2-fenil etil amin telah berhasil disintesis. Sintesis

senyawa tersebut dengan perbandingan mol ion logam dan ligan sebesar 1:1 dihasilkan kompleks dengan formula [Mn(2-feniletilamin) 2 (H 2 O)]Cl 2 .2H 2 O. Karakterisasi dengan FTIR menunjukkan gugus O-H ligan H 2 O pada bilangan 3410 cm -1 , gugus fenil mono substitusi pada bilangan gelombang 748,36-694,37 cm -1 , gugus amina pada bilangan gelombang 1388,75-1327,02 cm -1 , gugus

C-H alifatik ditunjukkan pada bilangan gelombang 2947,43-2515,18 cm -1 . Hasil pengukuran DTA/TGA menunjukkan dua molekul air kristal terdekomposisi pada suhu 90-140 0 C. Pengukuran daya hantar listrik menunjukkan senyawa kompleks bermuatan +2. Analisis momen magnet menunjukkan bahwa senyawa koordinasi ini bersifat paramagnetik dengan nilai momen magnet 5,4 BM.

V. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Fahimah Martak atas bimbingannya sampai terselesainya penelitian ini. Orang tua yang tiada henti mendukung dan mendoakan anak- anaknya. Bu Yulfi Zetra selaku koordinator TA serta semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini

Basolo, F and R.C Johnson.,(1964), Coordination Chemistry The

Chemistry of Metal Complexes, W.A Benjamin Inch, California

(2001), Coodination

Polymer, Current Opinion in Solid

Material Science, 5,

Chang, Raymond, (2005), Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga, Jilid 2, Erlangga, Jakarta. 289 Coronado,
Chang, Raymond, (2005), Kimia Dasar
Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga,
Jilid 2, Erlangga, Jakarta.
289
Coronado, E. Galán Mascarós, J.R.,
Gómez Garzia, C. J. dan
Martinez Agudo, J.M. (2001),
Layered Molecule-Based
Magnets Formed by
Decamethylmetallcenium Cations
and Two-Dimensional Bimetallic
Complexes [M II Ru III (ox)] - (M II =
Mn, Fe, Co, Cu and Zn; ox =
oxalate), Journal of Solid State
Chemistry, 159, 391- 402.
Analitik
Instrumen.
Edisi
IKIP Semarang Press. Semarang.
Cotton, F.A. (1989), Kimia Anorganik
Dasar,
Universitas Indonesia – Press, Jakarta
Decurtins S., Pellaux R., Antorrena G.
dan Palacio F. (1999),
Multifunctional Coordination
Compounds: Design and
Properties, Coordination Chemistry
Reviews, 190-192, 841-854.
Douglas, Bodie., MC Daniel, Darl.,
Alexander, John. (1994), Concept
and Models of Inorganic Chemistry:
third edition, John Wiley & sons,
Inc, Singapore.
Elmila, Izzah, (2010), Peningkatan Sifat
Magnetik Kompleks Polimer
Oksalat [N(C 4 H 9 ) 4 ][MnCr(C 2 O 4 ) 3
dengan menggunakan kation
organic tetrabutil ammonium”.
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya.
Figgis,
B.N.,
Lewis,
J.,(1960),
The
Magnetochemistry
of
Complex
Compounds,
In
Modern
Coordination
Chemistry,
Interscience
Publisher
Inc.,
New
York, 400-454
Fischer,
(2010),
Transport
of
Phenylethylamine
at
Intestinal
Ephitelial
(Caco-2)
Cell:
Mechanism
and
Substrate
Specificity,
European
Journal
of
Pharmaceutics
and
5390.

Biopharmaceutic, Volume 74, 281-

Hendayana, S., Kadarohmah, A., Sumarna, A. A. dan Supriatna, A. 1994. Kimia

Keatu.

Huheey Y E., (1978), Inorganic Chemistry Principles of Structure and Reactivity, Second Edition, Harper International Edition, New York

Lee,J.D. 1994.Concise Inorganic Chemistry.4 th edition. Chapman and Hall. London.

Martak, F., Onggo, D, Ismunandar, Nugroho, A., A., Mufti, N., Yamin, B.M. (2009), Synthesis and Characterization of a Bimetallic Oxalate-Based Magnet:

[(C 4 H 9 ) 4 P][MCr(ox) 3 ] M = Mn, Fe, Co, Ni, Cu, Fahimah Martak, Djulia Onggo, Ismunandar, A. Agung Nugroho, Nandang Mufti, Bohari M. Yamin, Current Research In Chemistry, 1, 1-7.

Martak, F., Onggo, D., Ismunandar, Nugroho, A.A., Meetsma, A. (2009), Study Structural Polymeric Complex [Ni(bpy) 3 ][MnMn(ox) 3 ], Proceeding Seminar ITB-UKM.

Mathoniere, C., Nurtall, C.,J., Carling, S., G., Day, P. (1996), Ferrimagnetic Mixed-Valency and Mixed Metal Tris(oxalate)iron(III) Compounds:

Synthesis, Structure and Magnetism, Inorganic Chemistry, 35, 1201-1206.

Ohba, M., Tamaki H., Matsumoto N. dan Okawa H. (1993), Oxalate-Bridge Dinuclear Cr(III)-M(II) (M=Cu, Ni, Co, Fe, Mn) Complexes: Synthesis, Structure, and Magnetism, Inorganic Chemistry, 32, 5385-

Characterization and Spectroscopic Studies of a New Ligand [N’-(2- methoxybenzoyl)hydrazinecarbodit hioate] ethyl ester and its Mn(II) and Cd(II) complexes: X-ray structural study of Mn(II) complex. Polyhedron. 107-112.

Onggo, D., Sugiyarto, K.H., (2001), Transisi Spin pada Senyawa Kompleks Besi(II) dengan Ligan Bidentat Beratom
Onggo, D., Sugiyarto, K.H., (2001),
Transisi Spin pada Senyawa
Kompleks Besi(II) dengan Ligan
Bidentat Beratom Donor Nitrogen,
Jurnal Pendidikan Matematika dan
Sains, VI, 43-49
Ovanesyan, N.S., Shilov, G.V., Pyalling,
A. A., Train C., Gredin, P.,
Skoog,
A.
Gruselle, M., Kiss, L.F. dan
Bottyan, L. (2004), Structural and
Magnetic Properties of Two- and
Three-dimensional molecule-based
magnets (cat) + [M II M III (C 2 O 4 ) 3 ] - ,
College Publishing, USA
Journal of Magnetism and Magnetic
Materials, 272-276, 1089-1090.
Pitoyo, (2009), Sintesis dan Karakterisasi
Kompleks Krom (III) dan Mangan
(II) dengan 8-Hidroksikuinolin
Pointilart, F., Train, C., Gruselle, M.,
Villain, F., Schmale, H.W., Talbot,
D., Gredin, P., Decurtins S. dan
Verdaguer, M. (2004), Chiral
Templating Activity of
Tris(bipyridine) ruthenium(II) Cation
in Design of Three-Dimensional
(3D) Optically Active Oxalate-
Bridged [Ru(bpy) 3 ][Cu 2x Ni 2(1-
x) (C 2 O 4 ) 3 ] (0 ≤ x ≤ 1; bpy = 2,2’-
bipyridine): Structural, Optical, and
Magnetic Studies, Chemical
Materials, 16, 832-841.
Rahadjeng
S.,(1987), senyawa
Koordinasi Struktur, Teori dan
Reaksi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Airlangga, Surabaya
Rao,
C.N.R.,
Natarajan,
S.
dan
Vaidhyanathan, R. (2004), Metal
Carboxylates
with
Open
Architectures, Angew. Chem. Int.
Ed., 43, 1466-1496.
Sibilia, P.,(1996), Guide to Material
Characterization ang Chemical
Analysis, 2 th Edition, John Wiley-
VCH, New York.

Singh, M., Aggarwal, V., Sing, U. P. and Singh, N. K. 2009. Synthesis,

Douglas., (1996),

Fundamental of Analytical Chemistry, Edisi ke tujuh, Sounders

Susnandar, Djaka, (2008), Sintesis dan Karakaterisasi Senyawa Koordinasi Besi (II) dengan Ligan Basa Schiff

N,N’-bis-(2-asetilpirida)etlendiimino

dan Tiosianat, Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Vogel (1990), Buku Teks Analisa Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, terjemahan oleh Setiono, L., Pudjaatmaka, A.H., edisi ke lima, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta