Anda di halaman 1dari 4

http://netbookloversweka23.blogspot.com/p/game-for-netbook_07.html http://al-miftahu.blogspot.com/2012/03/muhammad-taha-al-junayd-dewasa.

html

Teknologi iDSI
Teknologi intelligent Dual and Sequential Ignition (i-DSI)pertama kali dikenalkan oleh Honda lewat Honda City & Honda Fit/Jazz-nya. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara Honda Jazz i-DSI dan Honda Jazz VTEC, kecuali pada mesin yang disandangnya. Selintas kedua varian Jazz itu terlihat tsb sama, Namun walaupun sama-sama menggunakan mesin 1.5 Liter, 4 silinder segaris (inline), tetapi cara kerja mesin Honda Jazz i-DSI dan Honda Jazz VTEC berbeda. Seperti namanya, Honda Jazz i-DSI menggunakan mesin yang bekerja dengan teknologi intelligent Dual and Sequential Ignition (i-DSI), di mana setiap silinder dilengkapi dengan dua busi yang menyala secara berurutan. Sementara Honda Jazz VTEC menggunakan yang bekerja dengan teknologi variable valve timing and lift electronic control (VTEC), di mana lama (timing) dan besaran (lift) bukaan katup masuk (intake valve) disesuaikan dengan putaran mesin. Kedua mesin yang disandang Honda Jazz itu sama-sama irit dalam mengonsumsi bahan bakar dan mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Daya yang dihasilkan mesin i-DSI memang tidak sebesar yang dihasilkan VTEC, tetapi torsi maksimum sudah muncul pada putaran mesin rendah, yakni 2.700 putaran mesin per menit (rpm). Dengan demikian, mesin i-DSI terasa lebih bertenaga di putaran mesin rendah. Sedangkan mesin VTEC lebih bertenaga pada putaran mesin tinggi, mengingat torsi maksimum muncul pada 4.800 rpm. Dengan demikian, penggunaan mesin VTEC sangat cocok untuk melakukan kegiatan sport atau balap. Yang agak berbeda adalah pada Honda Jazz VTEC pengendara harus membiasakan diri untuk menginjak pedal gas agak dalam. Sesuatu hal yang tidak perlu dilakukan oleh pengendara Honda Jazz i-DSI. Mesin VTEC itu menghasilkan tenaga maksimum 108 PK pada 5.800 rpm dan torsi maksimum 143 Nm pada 4.800 rpm, lebih besar daripada mesin i-DSI yang menghasilkan tenaga maksimum 86 PK pada 5.500 rpm dan torsi maksimum 128 Nm pada 2.700 rpm. Sama seperti pada Honda Jazz i-DSI, tenaga dan torsi Honda Jazz VTEC itu juga diteruskan melalui persneling manual dengan 5 tingkat kecepatan atau melalui persneling otomatik dengan continuously variable transmission (CVT), yang dilengkapi dengan steermatic, yang memiliki 7 tingkat kecepatan. CVT menjamin akselerasi berlangsung secara halus tanpa terputus, sementara steermatic memungkinkan pengendara untuk menaikkan dan menurunkan gigi persneling secara

manual dengan menekan tombol plus dan minus yang terdapat di palang setir. Tenaga dan torsi besar yang dihasilkan mesin VTEC tentunya juga memerlukan usaha ekstra untuk memberhentikan mobil yang menyandang mesin tersebut. Itu sebabnya Honda Jazz VTEC menggunakan rem cakram (disc brake) di depan dan belakang. Pada Honda Jazz i-DSI hanya rem depan yang menggunakan rem cakram, sedangkan rem belakang menggunakan rem teromol.

Mesin i-DSI sebagai teknologi pintar yang dirancang khusus untuk mobil kompak, dengan 2 buah busi pada tiap silinder di dalam ruang pembakaran dan pengontrolan waktu pembakaran secara cerdas, dapat mencapai ultra-high fuel economy dengan pemakaian bahan bakar yang rendah dan ekonomis, sekaligus menghasilkan torsi maksimal pada putaran RPM rendah sampai menengah, sesuai kecepatan pada penggunaan sehari-hari. Mesin i-DSI melakukan pembakaran yang lebih efisien, sehingga menghasilkan tenaga mobil yang lebih responsif, pemakaian bahan bakar yang paling hemat di kelasnya, dan emisi gas buang yang lebih bersih. Bagaimana i-DSI bekerja? Mesin i-DSI mempunyai ruang pembakaran yang compact dan dua busi pada tiap silinder. Sistem dual & sequential ignition mengatur waktu urutan pengapian dari kedua busi, yaitu pada langkah hisap dan langkah buangnya, berdasarkan kecepatan dan beban kerja mesin.

Pengaturan ini memungkinkan pembakaran yang lebih cepat dan menyeluruh serta momen puntir yang besar pada kecepatan rendah-menengah. Sistem tersebut akhirnya menghasilkan keseimbangan tinggi antara pemakaian bahan bakar yang ekonomis dan tenaga yang responsif.

Pada post pertama kali ini saya pilih Honda jazz IDSI, mengapa.? Mobil city car hatchback produk dari Honda ini merupakan jawara di Indonesia untuk di kelasnya. Dengan kapasitas dapur pacu 1500cc mobil ini memiliki konsumsi bahan bakar yang irit apalagi dengan di tunjang teknoligi IDS-I (Intelligent Dual Sequential Ignition) yang mana di dalam satu silinder terdapat 2 busi. Ini menyebabkan pembakaran menjadi lebih efisien. Tetapi bukan berarti teknologi ini tanpa kelemahan. Dengan tersedianya 8 busi maka terdapat pula 8 buah koil yg menyangga di setiap businya. Nah jika koil ini yang bermasalah ketika mobil sudah di pakai oleh pengguna siap2 saja untuk merogoh kocek dalam2 untuk satu buah koil. Sebagai pengalaman pribadi saya pengguna mobil jazz idsi thun 2004. Pada awalnya mobil tidak ada masalah, pernah saya bawa dari cikarang (Jawa Barat) menuju Pekalongan (Jawa Tengah). Mobil berjalan mulus tanpa hambatan. Tetapi selang beberapa lama ketika saat itu mobil di bawa oleh adik saya dari Cikarang sampai Probolinggo (Jawa Timur) saya pun merasa mobil serasa ada yang tidak beres. Mobil tersendat-sendat ketika di bawa lari idle di putaran rendah, di kisaran 1500rpm dngn kecepatan 30 km/jam pada posisi gigi ke-2. Awal saya sangka mungkin sudah saatnya ganti busi, tetapi setelah saya ganti ke delapan busi mobil masih saja terasa tersendat-sendat walaupun tidak separah sebelumnya. Karena tidak puas dengan performa dari mobil saya langsung bawa ke dealer Honda untuk di cek lebih lanjut. Pada perbaikan tersebut di gantilah filter bensin dengan harga Rp.145.000. Tetapi setelah diganti pun performa mobil tidak ada bedanya. Sesaat sebelum pulang seorang CS berkata kalau mobil

masih bermasalah dan kemungkinan itu bisa berasal dari koil yang terdapat di setiap busi dan saya tanya berapa harga untuk tiap koilnya, dia menyebutkan Rp.800.000-an untuk tiap koilnya. Padahal dimesin idsi ini terdapat 8 busi jadi kalau koil itu rusak semua maka kita harus menyiapkan kocek Rp. 6.400.000 an. Mahal bukan. Itulah salah satu kelemahan dari teknologi idsi ini. Kita harus menyiapkan kocek yg lebih dalam untuk maintenancenya.